• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

2.1 Konsep Dasar Kompetensi

Pergerakan menuju adopsi pendekatan kompetensi telah dihubungkan dengan perubahan dalam berbagai bidang dalam tingkatan global. Mertens secara khusus mengasosiasikan kompetensi dengan strategi untuk membangkitkan daya saing, strategi, produktifitas dan manajemen sumber daya manusia. Secara cepat, perusahaan-perusahaan telah memahami kebutuhan ini untuk menghasilkan daya saing; yang bagi Mertens masalah itu dapat disimpulkan dalam pertanyaan berikut: bagaimana suatu perusahaan dapat membedakan dirinya dalam pasar yang cenderung bergerak ke arah globalisasi yang memudahkan perkembangan praktek organisasi dan inovasi teknologi yang tersebar secara cepat dan meluas (Mertens, Leonard.

Competencia laboral: sistemas, surgimiento y modelos. Cinterfor/ILO.

Montevideo. 1997).

Salah satu komponen kunci dalam perkembangan arsitektur ini adalah faktor manusia dengan kontribusi yang diberikan seseorang untuk membantu tujuan perusahaan. Karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa munculnya pendekatan kompetensi sangat berhubungan dengan strategi kompetitif, disebabkan kebutuhan perusahaan untuk membedakan dirinya di pasar, yang dimulai dari pengembangan sumber daya manusia.

(2)

2.1.1 Definisi Kompetensi

Ada banyak definisi atas kompetensi. Secara umum, konsep atas kompetensi ini diterima sebagai suatu kemampuan efektif untuk dapat menyelesaikan dengan baik suatu aktivitas pekerjaan. Kompetensi bukanlah kemungkinan keberhasilan untuk melakukan suatu pekerjaan, melainkan kemampuan yang nyata dan ditunjukkan.

Menurut Prof. Radha R. Sharma Ph.D (360 Feedback, Competency

Mapping & Assesment Centres, 2002, p.140), kompetensi dapat didefinisikan

sebagai: “Suatu kombinasi dari ilmu pengetahuan, keahlian, sikap dan kepribadian yang terdapat dalam diri seseorang yang diterapkan pada fungsi dan pekerjaannya dalam konteks lingkungan untuk saat ini dan di masa depan yang dapat menopang dan mendukung keberhasilan perusahaan.” Dengan demikian, kompetensi itu sendiri merupakan bentuk kombinasi atas 4 faktor karakteristik, potensi dan kemampuan manusia yang diterapkan ke dunia nyata yang dalam hal ini termasuk dalam kerangka dasar kinerja organisasi dan perusahaan.

0

Selain definisi di atas, International Labour Organization dalam salah satu publikasinya, “40 most frequently asked question about competence”, mencantumkan beberapa definisi dibawah ini:

CONOCER: Kapasitas produktif atas seorang individu, yang dijelaskan dan diukur dalam konteks kinerja dalam pekerjaan, dan tidak hanya mencakup pengetahuan, kemampuan, keahlian, dan sikap; hal-hal ini diperlukan tetapi tidak memadai untuk kinerja yang efektif.

(3)

Spain’s National Institute of Employment – Instituto Nacional de

Empleo (INEM): Kompetensi profesional menjelaskan kemampuan efektif

yang diperlukan untuk kinerja atas suatu pekerjaan, dengan memperhatikan juga tingkatan yang diperlukan untuk jabatan tersebut. Ini lebih dari pengetahuan teknis yang mengacu pada pengetahuan informasi dan kebiasaan.

POLFORM/ILO: Kompetensi adalah konstruksi sosial yang signifikan dan pelajaran yang bermanfaat untuk mencapai kinerja yang produktif dalam suatu situasi pekerjaan yang nyata, yang dicapai tidak hanya melalui instruksi, tetapi juga melalui belajar dari pengalaman dalam situasi pekerjaan tertentu.

Provinsi Quebec: Kompetensi adalah rangkaian perilaku, psikologis, sensorial dan kemampuan bergerak yang memampukan seseorang untuk melaksanakan suatu tugas dengan baik.

Federal Advisory on Culture and Education: Serangkaian sikap, nilai,

pengetahuan dan keahlian yang dapat diidentifikasi dan dievaluasi yang menghasilkan kinerja yang memuaskan dalam situasi pekerjaan sesungguhnya, menurut standar yang digunakan dalam area pekerjaan.

Australia: Kompetensi adalah suatu struktur kompleks yang terdiri dari sifat-sifat yang diperlukan dalam melakukan suatu pekerjaan di situasi yang spesifik. Ini merupakan kombinasi sifat yang kompleks (pengetahuan, sifat, nilai, dan keahlian) dan tugas yang telah ditentukan untuk dilakukan.

Jerman: Orang yang memiliki profesional kompetensi mempunyai pengetahuan, keahlian, dan sikap yang diperlukan untuk melakukan suatu

(4)

pekerjaan, juga dapat memecahkan masalah secara mandiri dan fleksibel, serta dapat mengkolaborasikan dalam lingkungan kerjanya.

ILO sendiri telah mendefinisikan konsep “professional competence” sebagai bakat untuk menjalankan suatu tugas atau jabatan secara efektif, dengan memiliki kualifikasi yang diperlukan. Dengan demikian, konsep akan kompetensi dan kualifikasi sangatlah erat diasosiasikan, dengan melihat bagaimana kualifikasi dianggap sebagai kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan suatu pekerjaan.

Sementara itu, Prof. Raymond J. Stone MA, B.Com (Human

Resources Management, 1998, p. 140-141) menyebutkan bahwa kompetensi

adalah salah satu atribut model dari Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia yang memiliki 3 elemen kunci, yaitu:

a . Underlying Characteristics

Kompetensi merupakan bagian yang terintegrasi dari kepribadian seorang individu.

b . Causality

Penyebab kompetensi atau kemungkinan tindakan dan kinerja. c . Performance

Kompetensi pada kenyataannya meramalkan tingkat efektifitas dan kinerja optimal yang dapat dicapai oleh seseorang di posisi dan jenis pekerjaan tertentu. Tingkat efektifitas dan kinerja tersebut didapat melalui metode pengukuran & penilaian khusus yang tentunya menggunakan kriteria dan standar tertentu yang telah ditetapkan.

(5)

Menurut Schoonover Associates, kompetensi dijelaskan sebagai perilaku atau set perilaku yang menggambarkan kesempurnaan kinerja dalam konteks kerja tertentu (sebagai contoh: jabatan, tugas, fungsi, atau seluruh organisasi). Dan kompetensi model adalah set faktor sukses, sering disebut sebagai kompetensi yang mencakup perilaku kunci yang diperlukan untuk kesempurnaan kinerja dalam jabatan tertentu.

Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya kompetensi itu sendiri adalah serangkaian pengetahuan, nilai, sifat dan keahlian yang dimiliki oleh seorang individu untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Dengan demikian, kompetensi merupakan suatu modal dasar yang penting untuk dikembangkan oleh perusahaan mengingat kompetensi sendiri berkaitan erat dengan sumber daya manusia yang terdapat di dalamnya. Dan sumber daya manusia inilah yang menjadi motor penggerak utama kinerja perusahaan.

Kompetensi ini berbeda dengan keahlian dan pengetahuan, karena kompetensi hanya mencakup perilaku yang memperlihatkan kinerja terbaik. Karena itu, tidak mencakup pengetahuan, tetapi mencakup pengetahuan “terapan” atau applikasi perilaku dari pengetahuan yang menghasilkan kesuksesan. Sebagai tambahan, kompetensi mencakup keahlian, tetapi hanya manifestasi dari keahlian yang menghasilkan kesuksesan. Terakhir, kompetensi bukanlah motif kerja, tetapi mencakup perilaku yang dapat diamati yang berhubungan dengan motif.

(6)

Gambar 2.1 Skill, Knowledge, Motives & Competency

Skill

Set up new project introduction

Competency

Position a new project introduction so that it is clearly differentiated in the market. Competency Knowledge Understands market pricing dynamics Competency Competency Uses understanding of market pricing dynamics to develop pricing models.

Motives/Attitude

Achievements-want to do an excellent job

Meets all commitments in a timely manner.

Model kompetensi sendiri adalah suatu upaya untuk menciptakan suatu standar sebagai representasi kompetensi yang diperlukan dalam suatu perusahaan agar masing-masing karyawannya dapat meningkatkan kompetensi masing-masing sesuai dengan job dan role masing-masing.

Model kompetensi penting karena menyediakan “road map” untuk suatu range perilaku yang menghasilkan kinerja terbaik. Model kompetensi membantu:

1. Meningkatkan level perusahaan atas ekspetasi kinerja.

2. Tim dan individual untuk menyamakan perilaku mereka dengan strategi kunci organisasi.

(7)

3. Setiap karyawan memahami bagaimana mencapai standar kinerja yang diharapkan.

2.1.2 Macam Kompetensi

Pada dasarnya, kompetensi dapat dibagi ke dalam tiga kategori:

1. Organizational Competencies

Faktor-faktor unik yang membuat suatu organisasi kompetitif. Menurut Prahalad dan Hamel, organizational competencies (a) menyediakan potential akses ke berbagai jenis pasar, (b) memberikan kontribusi yang signifikan kepada customer atas produk akhir yang dihasilkan, dan (c) sulit ditiru oleh kompetitor (Harvard Business Review, 1990, p. 93-94).

2. Job/Role Competencies

Job/role competency adalah “sesuatu” yang harus diperlihatkan oleh

individu agar dapat efektif dalam pekerjaan, peran, fungsi, tugas, kewajiban individu tersebut dalam tingkatan organisasi atau keseluruhan organisasi.

3. Personal competencies

Aspek-aspek dari seseorang yang mencakup tingkat keahlian dan pencapaian. Secara definisi, competencies mengacu pada keahlian atau kemampuan yang dimiliki oleh individu pada tingkat yang memuaskan.

(8)

Umumnya, organisasi memfokuskan dirinya pada kompetensi yang secara umum disebut “core competencies”. Kompetensi ini adalah yang bersifat umum pada semua jabatan dalam suatu organisasi. “Specific

competencies” berhubungan dengan jabatan yang lebih spesifik lagi, yang

memerlukan kemampuan lebih jauh lagi, dan umumnya sangat penting dalam proses seleksi atau promosi.

Tabel 2.1 menunjukkan hubungan yang bersifat umum antara keperluan organisasi dan fokus atas kompetensi. Banyak organisasi menggunakan “core competencies” (yang diterapkan pada seluruh organisasi) dan “specific competencies” (yang diterapkan pada jabatan tertentu). Dengan penggunaan keduanya menghasilkan suatu penjabaran yang lengkap atas persyaratan suatu jabatan tertentu.

Tabel 2.1 Core and Specific Competencies

Organization Need Dimension Competency Focus

Name

Career planning,

organizational planning, compensation, kinerja appraisal, talent allocation to teams, temporary

assignments.

Several job levels, a broad band of jobs, the entire

organization.

Selection, promotion, training, kinerja appraisal, development systems for a specific job or role.

Role, job, job level.

Core competencies

Specific competencies

(9)

Gambar 2.2 menunjukkan hubungan dalam suatu organisasi antara

core competencies dan kompetensi yang khusus dalam suatu jabatan.

Gambar 2.1

Gambar 2.2 Core Competency and Job Competency

Job/Role A Job-specific competency Job/Role C Job-specific competency Job/Role D Job-specific competency Job-specific competency Job/Role E Job-specific competency Job/Role F Core Competencies Job/Role B Job-specific competency

2.2 Manfaat Model Kompetensi

Model kompetensi dapat digunakan untuk memilih orang-orang yang tepat dan sesuai dengan kemampuan dan potensi individualnya untuk menjabat posisi-posisi tertentu dalam suatu organisasi atau perusahaan. Sehingga sumber daya manusia yang dimiliki dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap kinerja dan daya saing perusahaan.

Manfaat dari penerapan model kompetensi ! Bagi Perusahaan

(10)

• Membangun ekspetasi atas kinerja yang sempurna, menghasilkan pendekatan sistematis atas pengembangan professional, meningkatkan kepuasan kerja, dan retensi karyawan.

• Meningkatkan keefektifan dari program pelatihan dan pengembangan professional dengan menghubungkannya ke kriteria-kriteria kesuksesan.

• Menyediakan data atas kebutuhan pengembangan yang muncul dari grup dan atau gabungan organisasi sebagai hasil dari multi-rater

assessments.

• Menyediakan kerangka kerja dan bahasa yang umum untuk mendiskusikan bagaimana menerapkan dan mengkomunikasikan strategi-strategi kunci.

• Menyediakan pemahaman umum atas ruang lingkup dan persyaratan jabatan tertentu.

• Menyediakan standar organisasi yang umum bagi tingkatan karir yang memampukan karyawan untuk bergerak melewati batasan perusahaan. ! Bagi Manager

• Mengindentifikasikan kriteria kinerja untuk meningkatkan akurasi dan kemudahan di dalam proses penerimaan dan seleksi.

• Menyediakan standar kinerja yang lebih objektif.

• Mengklarifikasikan standar kesempurnaan yang memudahkan komunikasi atas ekspektasi kinerja sebagai hasil langsung.

(11)

• Menyediakan pondasi yang jelas untuk dialog yang terjadi antara manajer dan bawahan mengenai kinerja, pengembangan, dan karir. ! Bagi Pekerja.

• Mengidentifikasikan kriteria sukses yang diperlukan agar bisa sukses dalam pekerjaannya.

• Menyediakan assessment yang lebih spesifik dan objektif atas kelebihan mereka dan menentukan area-area target untuk pengembangan professional.

• Menyediakan sarana dan metode pengembangan untuk meningkatkan keahlian mereka.

• Menyediakan dasar untuk dialog yang lebih objektif dengan manager mereka atau team mengenai kinerja, pengembangan, dan karir.

2.3 Karakteristik

Kompetensi

L. M. Spencer (Human Capabilities & Competencies, 1998, p.11), menyebutkan bahwa kompetensi memiliki 5 karakteristik, yaitu:

1 . Motives

Adalah yang mengendalikan dan mengarahkan perilaku menuju aksi atau tujuan tertentu dan berbeda dari yang lainnya.

2 . Traits

Karakteristik fisik dan respon yang konsisten terhadap situasi atau informasi.

3 . Self Concept

(12)

4 . Knowledge

Seseorang harus memiliki pengetahuan khusus yang spesifik di suatu bidang tertentu.

5 . Skill

Merupakan tingkat kemampuan individu dalam mengerjakan sesuatu.

The Iceberg model

Visible

Hidden Self Concept Trait Motive

Skill Knowledge

Gambar 2.3 Iceberg Model (Human Capabilities & Competencies, L.M Spencer & S. M Spencer, 1993, p. 11)

(13)

Surface:

Most easily Developed

Core Personality: Most Difficult to Develop

Knowledge

Attitudes

Values

Motive

Trait

Self-Concept

Skill

Gambar 2.4 Central and Surface Competencies (Human Capabilities & Competencies, L.M Spencer & S. M Spencer, 1993, p. 11)

2.4 Siklus

Kompetensi

Siklus kompetensi mengarah pada pengembangan individu yang berkesinambungan dan kompetensi organisasi yang didasarkan pada 4 tingkatan yang spesifik.

1 . Mapping

Identifikasi terhadap kompetensi dapat meningkatkan daya saing perusahaan dan level kecakapan yang diperlukan oleh setiap jenis pekerjaan. Pemetaan kompetensi dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

(14)

• Single-Job-Approach

Model kompetensi di terapkan pada satu jenis pekerjaan. • One-Size-Fits-All

Model kompetensi yang dapat diterapkan pada semua jenis pekerjaan (Pendekatan pertama melalui metode Top-Down dan pendekatan kedua melalui metode Bottom-Up).

2 . Diagnosis

Atau disebut juga evaluasi atau penilaian. Merupakan hasil investigasi level kecakapan dan kemampuan yang dimiliki oleh setiap orang/karyawan serta definisi dari perbedaan keahlian (skill gap). Diagnosis dapat dilakukan dengan :

• Tutor Assessment

Penilaian yang dilakukan langsung oleh atasan karyawan yang bersangkutan (Direct Superior)

• Self Assessment

Penilaian yang dilakukan oleh karyawan itu sendiri. • Test Assessment

Penilaian yang dilakukan melalui tes atau uji kemampuan. 3 . Development

Merupakan inisiatif perencanaan yang ditujukan untuk meningkatkan level kemampuan individu karyawan.

(15)

4 . Monitoring

Pemantauan yang berkesinambungan terhadap proses Development.

2.5 Sumber Kompetensi Model

Oleh SRW & Co, sebuah perusahaan people management consulting, ada beberapa sumber yang memberikan kontribusi untuk suatu kompetensi model. Sumber-sumber itu dapat dilihat di gambar berikut.

Company Vision, Mission, Value, Strategies Organization Capabilities Company Competency Model Market Practices/ Research Competency-based interviews Current model in the organization

Gambar 2.5 Sumber kontribusi kompetensi model

Dari gambar di atas dapat kita lihat bahwa Company Competency

Model berasal dari kemampuan perusahaan yang merupakan penjabaran dari

Company Vision, Mission, Values, dan Strategies. Selain itu Company

(16)

praktek pasar. Company Competency Model ini juga didapatkan dari kondisi yang terjadi saat ini di perusahaan.

2.6 Penggunaan Model Kompetensi

• Selection

Selection adalah proses mencocokkan individu dan pekerjaan, baik

individu itu adalah orang di luar perusahaan (dalam proses rekrutmen baru) atau di dalam perusahaan (mutasi dan promosi). Penggunaan model kompetensi dalam proses seleksi berdasar pada hipotesa bahwa semakin cocok persyaratan suatu jabatan dengan kompetensi pemegang jabatan, semakin tinggi kinerja atas jabatan tersebut.

• Performance Management/Evaluation

Suatu performance management meliputi beberapa hal yang dilakukan oleh manajer dengan bawahannya, yaitu:

- Plan performance: Mendefinisikan tanggung jawab dan ekspektasi atas suatu pekerjaan, dan menentukan tujuan untuk suatu periode penilaian.

- Coach/Manage: Memberikan masukan, dukungan, dan pengembangan selama periode penilaian.

- Appraise performance: Secara formal mengevaluasi kinerja pada akhir periode penilaian.

(17)

Performance appraisal itu sendiri menyediakan informasi untuk:

- Kompensasi: Menentukan sistem upah yang tetap atau berdasarkan

performance.

- Perencanaan suksesi: Mengidentifikasi calon untuk menggantikan posisi yang lebih tinggi.

- Disiplin: Tindakan percobaan atau teguran.

- Pengembangan: Training, penugasan, atau pengajaran yang meningkatkan kompetensi karyawan.

- Career path: Merencanakan penugasan ke depan yang dirancang untuk diberikan kepada karyawan dengan pengalaman atau kompetensi tertentu.

Tabel di bawah ini menunjukkan bagaimana performance dan kompetensi dibaurkan dalam satu model.

Tabel 2.2 Performance and Competencies

PERFORMANCE (“pay for

results”) COMPETENCIES (“pay for skill”)

“What” of performance “How” of performance Quantitative: Tied to unit goals More qualitative Short time frame: One year, past

performance

Longer time frame: Future performance in present and future jobs

Reward oriented Development (behavior change) oriented

(18)

• Succession Planning

Succession planning adalah suatu sistem yang telah berjalan atas

memilih karyawan yang kompeten dan siap untuk naik ke jabatan yang lebih tinggi lagi dalam perusahaan ketika jabatan tersebut kosong. Kecocokan jabatan ini dibuat berdasarkan karyawan yang tepat dan jabatan ke depan yang mungkin tersebut. Penggunaan model kompetensi dalam sistem ini mengidentifikasikan persyaratan kompetensi untuk jabatan tertentu, menguji kompetensi calon, dan mengevaluasi kemungkinan kecocokan antara individu dan jabatan.

• Training & Development

Kompetensi dapat diajarkan. Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa bahkan core motive competencies seperti

achievement orientation dan sikap seperti percaya diri dapat ditingkatkan.

• Compensation & Benefit

Sistem kompensasi mengacu pada metode yang digunakan untuk menetapkan upah fixed dan variable untuk suatu jabatan dalam perusahaan. Penggunaan sistem kompensasi ini dengan kompetensi adalah kompensasi didasarkan pada karakteristik individu yang berhak upah yang lebih tinggi atas suatu kompetensi. Permasalahan dengan konsep ini mencakup kesetaraan internal dan potensi disalahgunakan.

Gambar

Gambar 2.1 Skill, Knowledge, Motives & Competency
Tabel 2.1 menunjukkan hubungan yang bersifat umum antara  keperluan organisasi dan fokus atas kompetensi
Gambar 2.2 menunjukkan hubungan dalam suatu organisasi antara  core competencies dan kompetensi yang khusus dalam suatu jabatan
Gambar 2.3 Iceberg Model (Human Capabilities & Competencies, L.M Spencer & S.
+4

Referensi

Dokumen terkait

Skenario pengujian juga digunakan sebagai dasar pengetahuan selama proses pengujian yang nantinya akan diterapkan pada pengujian secara otomatis dengan menggunakan metode regresi

Berdasarkan fungsi motivasi diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi motivasi adalah memberikan arah dalam meraih apa yang diinginkan, menentukan sikap atau tingkah laku yang

Definisi ergonomi menurut (Tarwaka, 2016), Ergonomi adalah seni, ilmu dan teknologi yang diterapkan untuk menyerasikan atau menyeimbangkan antara semua fasilitas

Dari banyak definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa kompetensi adalah pengetahuan, keahlian dan karakteristik pribadi yang dapat diteliti dan diukur yang dibutuhkan untuk

Berdasar DSM-IV-TR dalam Sadock dan Sadock (2010), kriteria untuk menegakkan diagnosis gangguan kepribadian sosial adalah terdapat tiga (atau lebih) pola pervasive

Fungsi Online Advertising adalah untuk membangun Brand Awareness, citra positif, menghilangkan sikap negatif terhadap produk atau jasa perusahaan, memberi informasi,

yaitu adanya sikap terhadap perilaku, sebagai contoh variabel harga merupakan sebuah cerminan sikap pada perilaku seseorang, karena pada harga terdapat suatu sikap

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang fenomena alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan