BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Pengertian Peran
Teori peran (role theory) adalah teori yang merupakan perpaduan berbagai teori, orientasi, maupun disiplin ilmu. Selain dari psikolog, teori peran berawal dari dan masih tetap digunakan dalam sosiologi dan antropologi. Dalam ketiga bidang ilmu tersebut, istilah “peran” diambil dari dunia teater. Dalam teater, seorang aktor harus bercermin sebagai seorang tokoh tertentu dan dalam posisinya sebagai tokoh itu ia diharapkan untuk berperilaku secara tertentu (Sarwono, 2013: 215).
Menurut Biddle dan Thomas dalam Sarwono (2013: 215), membagi peristilahan teori peran dalam empat golongan yaitu mengangkut:
a. Orang-orang yang mengambil bagian dalam interaksi sosial; b. Perilaku yang muncul dalam interaksi tersebut;
c. Kedudukan orang-orang dalam berperilaku; d. Kaitan antar orang dan perilaku.
Soekanto (2007: 213), mengungkapkan bahwa peran merupakan aspek dinamis kedudukan (status), apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka ia menjalankan suatu peranan. Sedangkan menurut Biddle dan Thomas dalam Suwarno (2013: 224), menyatakan bahwa peran adalah serangkaian rumusan yang membatasi perilaku-perilaku yang diharapkan dari pemegang kedudukan tertentu. Hal ini senada dengan Suhardono (1994: 15), mendefinisikan bahwa peran merupakan seperangkat patokan, yang membatasi apa perilaku yang mesti dilakukan oleh seseorang yang menduduki suatu
posisi. Konsep tentang peran (role) menurut Komarudin (1994: 768) sebagai berikut :
1) Bagian dari tugas utama yang harus dilakukan oleh manajemen. 2) Pola perilaku yang diharapkan dapat menyertai suatu status. 3) Bagian suatu fungsi seseorang dalam kelompok atau pranata.
4) Fungsi yang diharapkan dari seseorang atau menjadi karakteristik yang ada padanya.
5) Fungsi setiap variabel dalam hubungan sebab akibat.
Suhardono dalam Patoni (2007: 40), mengungkapkan bahwa peran dapat dijelaskan dengan beberapa cara yaitu: pertama, penjelasan historis: konsep peran pada awalnya dipinjam dari kalangan yang memiliki hubungan erat dengan drama dan teater yang hidup subur pada zaman Yunani Kuno atau Romawi. Dalam hal ini, peran berarti karakter yang disandang atau dibawakan seseorang aktor dalam sebuah pentas dengan lakon tertentu. Kedua, pengertian peran menurut ilmu sosial, peran dalam ilmu sosial berarti suatu fungsi yang dibawakan seseorang ketika menduduki suatu posisi dalam struktur sosial tertentu. Dengan menduduki jabatan tertentu, seseorang dapat memainkan fungsinya karena posisi yang didudukinya tersebut.
Dalam ilmu sosiologi ditemukan dua istilah yang akan selalu berkaitan, yakni status (kedudukan) dan peran sosial dalam masyarakat. Status biasanya didefinisikan sebagai suatu peringkat kelompok dalam hubungannya dengan kelompok lain. Adapun peran merupakan sebuah perilaku yang diharapkan dari seseorang yang memiliki suatu status tertentu tersebut (Mahmud, 2012: 109).
Adapun pembagian peran menurut Soekanto (2001: 242), peran dibagi menjadi tiga yaitu sebagai berikut:
a) Peran Aktif
Peran aktif adalah peran yang diberikan oleh anggota kelompok karena kedudukannya di dalam kelompok sebagai aktifitas kelompok, seperti pengurus, pejabat, dan lain sebagainya.
b) Peran Partisipasif
Peran partisipasif adalah peran yang diberikan oleh anggota kelompok kepada kelompoknya yang memberikan sumbangan yang sangat berguna bagi kelompok itu sendiri.
c) Peran Pasif
Peran pasif adalah sumbangan anggota kelompok yang bersifat pasif, dimana anggota kelompok menahan diri agar memberikan kesempatan kepada fungsi-fungsi lain dalam kelompok sehingga berjalan dengan baik.
Berdasarkan pemaparan di atas dapat dijelaskan bahwa peran merupakan seperangkat perilaku atau tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya serta tindakan tersebut sangat diharapkan oleh orang lain.
Hakekatnya peran juga dapat dirumuskan sebgai suatu rangkaian perilaku tertentu yang ditimbulkan oleh suatu jabatan tertentu. Kepribadian seseorang juga mempengaruhi bagaimana peran itu harus dijalankan.
Dari pengertian diatas, penulis menyebutkan bahwa peran adalah suatu sikap atau perilaku yang diharapkan individu atau sekelompok individu terhadap seseorang yang memiliki status atau kedudukan tertentu. Berdasarkan hal-hal diatas dapat diartikan bahwa apabila dihubungkan dengan peran keluarga dan masyarakat, peran diartikan sebagai hak dan kewajiban orangtua untuk memberikan pendidikan yang baik.
2. Pengertian Lingkungan
Lingkungan adalah suatu media di mana makhluk hidup tinggal, mencari, dan memiliki karakter serta fungsi yang khas yang mana terkait secara timbal balik dengan keberadaan makhluk hidup yang menempatinya, terutama manusia yang memiliki peranan yang lebih kompleks dan riil (Winarno, 2014: 173).
Lingkungan dapat pula berbentuk lingkungan fisik dan nonfisik. Lingkungan alam dan buatan adalah lingkungan fisik. Sedangkan
lingkungan nonfisik adalah lingkungan sosial budaya dimana manusia itu berada. Lingkungan sosial adalah wilayah tempat berlangsungnya berbagai kegiatan, yaitu interaksi sosial antara berbagai kelompok beserta pranatanya dengan simbol dan nilai, serta terkait dengan ekosistem (sebagai komponen lingkungan alam) dan tata ruang atau peruntukan ruang (sebagai bagian dari lingkungan binaan/buatan).
Lingkungan amat penting bagi kehidupan manusia. Segala yang ada pada lingkungan dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk mencukupi kebutuhan hidup manusia, karena lingkungan memiliki daya dukung, yaitu kemampuan lingkungan untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Arti penting lingkungan bagi manusia adalah sebagai berikut.
a. Lingkungan merupakan tempat hidup manusia. Manusia hidup, berada, tumbuh, dan berkembang diatas bumi sebagai lingkungan. b. Lingkungan membero sumber-sumber penghidupan manusia.
c. Lingkungan memengaruhi sifat, karakter, dan perilaku manusia yang mendiaminya.
d. Lingkungan memberi tantangan bagi kemajuan peradaban manusia. e. Manusia memperbaiki, mengubah, bahkan menciptakan lingkungan
untuk kebutuhan dan kebahagiaan hidup (Winarno, 2014: 174). Lingkungan yang baru atau situasi yang baru sering berpengaruh terhadap seseorang mungkin saja bagi salah satu anggota lingkungan atau situasi yang baru membuat nyaman tetapi tidak bagi anggota lainnya. Misalnya, seorang ayah (suami) yang tugasnya berpindah-pindah daerah atau negara membuat istri dan anknya juga harus mengikutinya. Mereka harus sering menghadapi lingkungan yang selalu baru baik dari bahasa, gaya hidup, budaya, sampai nilai-nilai yang diyakininya dan tentu saja tidak semua lingkungan yang baru tersebut cocok dengan dirinya. Demikian pula dengan anaknya, anak harus berpindah-pindah sekolah yang tentunya setiap sekolah memiliki karakteristik atau standar yang
berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Situasi ini jelas dapat menimbulkan konflk dalam keluarga (Helmawati, 2014: 149).
Manusia memiliki sejumlah kemampuan yang dapat dikembangkan melalui pengalaman. Pengalaman itu terjadi karena interaksi manusia dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial manusia secara efisien dan efektif itulah yang disebut dengan pendidikan. Dan latar tempat berlangsungnya pendidikan itu di sebut lingkungan pendidikan, khususnya pada dua lingkungan utama pendidikan yakni keluarga dan masyarakat (Umar Tirtaraharja et.al, 1990: 40).
a. Pengertian Keluarga
Keluarga merupakan institusi yang paling penting pengaruhunya terhadap proses sosialisasi. Hal ini dimungkinkan sebab berbagai kondisi keluarga; pertama, keluarga merupakan kelompok primer yang selalu bertatap muka di antara anggota, sehingga dapat selalu mengikuti perkembangan anggota-anggotanya. Kedua, orang tua memiliki kondisi yang tinggi untuk mendidik anak-anaknya sehingga menimbulkan hubungan emosional yang hubungan ini sangat memerlukan proses sosialisasi. Ketiga, adanya hubungan sosial yang tetap, maka dengan sendirinya orang tua memiliki peranan yang penting terhadap proses sosialisasi kepada anak (Setiadi, 2011:176).
Keluarga merupakan lingkungan pertama anak dalam mendapatkan pendidikan, oleh karena itu, keluarga memiliki peranan yang penting dalam perkembangan anak, keluarga yang baik akan berpengaruh positif terhadap perkembangan anak, sedangkan keluarga yang jelek akan berpengaruh negatif (Sudarsono,2006: 125). Mendidik anak bagi orangtua merupakan tugas dan tanggung jawab yang tidak dapat ditawar-tawar, karena tanggung jawab ini sangat penting dalam rangka mengembangkan anak secara utuh dan sempurna, sehingga nantinya anak dapat menjadi manusia dewasa yang dapat mengemban kewajiban, menjalankan risalah dan menjalankan tanggung jawabnya, baik secara pribadi, sebagai anggota keluarga, anggota masyarakat,
sebagai warga Negara, sebagai warga dunia maupun sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa (Taqiyuddin, 2008: 109).
Sebelum anak mengenal lingkungan sekolah dan masyarakat, keluargalah yang pertama dijumpainya. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang paling berpengaruh dibandingkan yang lain, karena seorang anak yang lahir sejak awal kehidupannya, dan dalam keluargalah ditanamkan benih-benih pendidikan (Dimyati dkk, 2002: 16).
Kartono (1995: 16) bahwa lingkungan keluarga meliputi unit sosial terkecil yang memberikan pondasi primer bagi perkembangan anak, karena itu baik buruknya struktur keluarga dan masyarakat sekitar memberikan pengaruh baik atau buruknya pertumbuhan kepribadian anak.
Masyarakat dan keluarga adalah tempat anak-anak belajar tumbuh dan berkembang menuju kedewasaan. Disamping itu keluarga merupakan lembaga pertama dimana anak mengenal lingkungan masyarakatnya dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Di dalam keluarga kepribadian anak akan terbentuk karena daya interaksi yang intim antara anggota keluarga terutama orang tua (ayah dan ibu).
Lingkungan keluarga yang mempengaruhi perkembangan anak yaitu perhatian dan kasih sayang dari orangtua, figur keteladanan orangtua bagi anak, dan keharmonisan keluarga (Gerungan, 2002: 185). Peran lingkungan keluarga terhadap perkembangan anak meliputi: status sosial ekonomi, keutuhan keluarga, sikap, dan kebiasaan orangtua dan status anak. Lingkungan keluarga merupakan media pertama dan utama yang secara langsung atau tidak langsung dapat berpengaruh terhadap kepribadian dan perilaku sosial dalam perkembangan anak. Pendidikan keluarga adalah fundamen atau dasar dari pendidikan anak selanjutnya. Hasil-hasil pendidikan yang diperoleh anak dalam keluarga menentukan pendidikan anak itu selanjutnya, baik di sekolah maupun masyarakat.
Dalam proses sosialisasi di dalam lingkungan keluarga tertuju pada keinginan orang tua untuk memotivasi pada anak agar mempelajari pola perilaku yang diajarkan keluarganya. Adapun bentuk motivasi sendiri apakah
bersifat coersive atau participative tergantung pada tipe keluarga tersebut, mengingat model yang digunakan oleh masing-masing keluarga didalam melakukan sosialisasi ada yang bertipe otoriter dan ada yang bertipe demokratis (Setiadi, 2011:177).
Menurut Baharudin dan Nurwahyuni (2010:27) lingkungan sosial keluarga sangat mempengaruhi lingkungan belajar. Ketegangan keluarga, sifat-sifat orang tua, demografi keluarga (letak rumah), pengelolaan keluarga, semuanya dapat memberi dampak terhadap anak. Hubungan antara anggota keluarga, orang tua, anak, kakak, atau adik yang harmonis akan membantu anak melakukan aktifitas yang baik.
Sosialisasi diakukan berdasarkan pola keluarga yang dimiliki. Bernstein menemukan dua tipe ideal dari pola keluarga, yaitu keluarga yang berorientasi kepada posisi dan pribadi. Keluarga posisional seperti dikutip oleh Robinson (1986:81-82), merupakan keluarga dimana terjadi pemisahan peran yang jelas diantara para anggotanya, sebagai ayah, ibu, anak, atau pada usia tertentu sebagai kakek atau nenek. Sosialisasi anak dalam keluarga seperti ini terjadi dalam suatu kerangka yang jelas.dalam kaitannya dengan sosialisasi dalam keluarga posisional, anak yang mengalami sosialisasi akan sangat memerhatikan posisi mereka dalam huungan dengan orang lain.
Adapun keluarga yang terpusat pada pribadi merupakan keluarga dimana anak dipandang dalam rangka karakteristik unik yang dimilikinya sebagai pribadi. Dalam keluarga yang bertipe ini, sejak si anak masih kecil, telah peka dan secara aktif dirangsang perkembangan bahasanya, agar dapat dikontrol sesuai cara mereka sendiri. Mereka yang disosialisasikan melalui keluarga yang terpusat pada pribadi yang akan dididik, dipuji, dan dikembangkan sesuai dengan format keluarga. Dengan kata lain, bakat, potensi, dan kompetensi yang dimilikinya dikembangkan tidak jauh dari apa yang dimiliki oleh keluarga (Damsar, 2011:70-71)
Dapat disimpulkan bahwa lingkungan keluarga merupakan kesatuan-kesatuan kemasyarakatan yang paling kecil sebagai suatu kesatuan-kesatuan melalui ikatan didasarkan perkawinan, dimana tiap-tiap anggota mengabdikan kepada
kepentingan dan tujuan keluarga dengan rasa kasih dan tanggung jawab. Jadi keluarga merupakan lingkungan pertama anak memperoleh pendidikan dan terbentuknya kepribadian anak dapat terlihat dari cara orangtua mendidik anaknya, setiap anak pasti memiliki kepribadian yang berbeda karena berasal dari keluarga yang berbeda pula. Perilaku orang tua sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian anak seperti pola asuh, kelekatan anak dan orangtuanya, serta pemberian perlakuan yang tidak tepat terhadap anak.
Pembentukan anak bermula atau berawal dari keluarga. Pola asuh orang tua terhadap anak-anaknya sangat menentukan dan memengaruhi kepribadian (sifat) serta perilaku anak. Anak menjadi baik atau buruk semua tergantung dari pola asuh orangtua dalam keluarga. Berikut ini diuraikan macam-macam pola asuh orangtua terhadap anak.
1) Pola Asuh Otoriter (Parent Oriented)
Pola asuh otoriter pada umumnya menggunakan pola komunikasi satu arah (one way communication). Ciri-ciri pola asuh ini menekankan bahwa segala aturan orangtua harus ditaati oleh anaknya. Inilah yang dinamakan win-lose solution. Orangtua memaksakan pendapat atau keinginan pada anaknya dan bertindak semena-mena (semuanya kepada anak), tanpa dapat dikritik oleh anak. Anak harus menurut dan tidak boleh membantah terhadap apa-apa yang diperintahkan atau dikehendaki oleh orangtua. Anak tidak diberi kesempatan menyampaikan apa yang dipikirkan, diinginkan, atau dirasakannya (Helmawati, 2014: 138).
Segi positif dari pola asuh ini yaitu anak menjadi penurut dan cenderung akan menjadi disiplin yakni menaati peraturan yang ditetapkan orangtua. Namun, mungkin saja anak tersebut hanya mau menunjukkan disiplinnya di hadapan orangtua, padahal di dalam hatinya anak membangkang sehingga ketika berada di belakang orangtua anak akan bertindak lain. Jika ini terjadi, maka perilaku yang dilakukannya hanya untuk menyenangkan hati orangtua atau untuk menghindari dirinya dari hukuman (Helmawati, 2014: 138).
2) Pola Asuh Permisif (Children Centered)
Pada umumnya pola asuh permisif ini menggunakan komunikasi satu arah (one way communication) karena meskipun orangtua memiliki kekuasaan penuh dalam keluarga terutama terhadap anak, tetapi anak memutuskan apa-apa yang diinginkannya sendiri baik orangtua setuju ataupun tidak. Pola ini bersifat children centered maksudnya adalah bahwa segala aturan dan ketetapan keluarga berada di tangan anak.
Anak cenderung bertindak semena-mena, ia bebas melakukan apa saja yang diinginkannya tanpa memandang bahwa itu sesuai dengan nilai-nilai atau norma yang berlaku atau tidak. Sisi negatif dari pola asuh ini adalah anak kurang disiplin dengan aturan-aturan sosial yang berlaku. Namun sisi positifnya, jika anak menggunakannya dengan tanggung jawab maka anak tersebut akan menjadi seorang yang mandiri, kreatif, inisiatif, dan mampu mewujudkan aktualisasi dirinya di masyarakat (Helmawati, 2014: 139).
3) Pola Asus Demokratis
Pola asus demokratis menggunakan komunikasi dua arah (two ways communication). Kedudukan antara orangtua dan anak dalam berkomunikasi sejajar. Suatu keputusan diambil bersama dengan mempertimbangkan (keuntungan) kedua belah pihak (win-win solution). Anak diberi kebebasan yang bertanggung jawab. Artinya, apa yang dilakukan anak tetap harus ada di bawah pengawasan orangtua dan dapat dipertanggung jawabkan secara moral.
Orangtua dan anak tidak dapat berbuat semena-mena pada salah satu pihak; atau kedua belah pihak tidak dapat memaksakan suatu tanpa berkomunikasi terlebih dahu dan keputusan akhir di setujui oleh keduanya tanpa merasa tertekan. Sisi positif dari komunikasi ini adalah anak akan cenderung merongrong kewibawaan otoritas orangtua, kalau segala sesuatu harus dipertimbangkan antara orangtua dengan anak.
4) Pola Asus Situasional
Dalam kenyataannya setiap pola asuh tidak di terapkan secara kaku dalam keluarga. Maksudnya, orangtua tidak menetapkan salah satu tipe saja dalam mendidik anak. Orangtua dapat menggunakan satu atau dua (campuran pola asuh) dalam situasi tertentu. Untuk membentuk anak agar menjadi anak yang berani menyampaikan pendapat sehingga dapat memiliki ide-ide yang kreatif, berani dan juga orangtua dapat menggunakan pola asus demokratis, tetapi pada situasi yang sama jika ingin memperlihatkan kewibawaannya, orangtua dapat memperlihatkan pola asus parent oriented (Helmawati, 2014: 139).
Peran keluarga memiliki nilai utama dalam menentukan keberhasilan nilai yang telah ditanamkan oleh keluarga terutama orangtua, karena penanaman nilai merupakan bagian terpenting dari pembentukan karakter anak. Keluarga mempunyai peran yang sangat penting dalam perkembangan kepribadian anak yang dipengaruhi beberapa faktor, sehingga interaksi orangtua dan anak berlangsung secara tepat (Hawari, 1993: 31).
Analisis dari paparan diatas, bahwa peran keluarga merupakan suatu tingkah laku yang diharapkan dan dimiliki oleh orang yang mempunyai kedudukan di masyarakat dalam memberikan ilmu pengetahuan kepada anak yang di didik. Di dalam keluarga orangtua memiliki peran yang sangat penting bagi seorang anak dengan peran yang dimiliki akan mempengaruhi perilaku anak, ketika seorang anak ingin berperilaku, maka anak dapat menyesuaikan perilkunya. Jika orang tua dapat menjalankan peran dengan baik seperti memberi contoh perilaku yang benar.
Peranan keadaan keluarga dalam perkembangan sosial anak bukan hanya sebatas situasi sosial dan ekonomi saja melainkan pada interaksinya begitu juga cara dan sikap dalam pergaulan yang memegang peranan cukup penting (Gerungan, 1988: 189).
b. Pengertian Masyarakat
Masyarakat merupakan kelompok orang yang memiliki hubungan antar individu melalui hubungan yang tetap, atau kelompok sosial yang besar yang berbagi wilayah dan subjek yang sama kepada otoritas dan budaya yang sama (http://id.m.wikipedia.org/wiki/masyarakat)
Lingkungan masyarakat adalah tempat atau suasana dimana sekelompok orang merasa sebagai anggotanya, seperti lingkungan kerja, lingkungan RT, dan sebagainya. Di lingkungan mana pun seseorang pasti akan tersosialisasi dengan tata aturan yang berlaku di lingkungan tersebut (Setiadi, 2011:181).
Lembaga dan organisasi yang ada di lingkungan masyarakat adalah sebagai berikut :
1) Masjid
Sebagai lingkungan pendidikan, masjid mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi edukatif dan fungsi sosial. Fungsi edukatif adalah masjid berfungsi sebagai markas pendidikan. Fungsi sosial adalah masjid dijadikan tempat musyawarah umat, di masjid kaum muslimin telah menjalin silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah sehingga mereka menjadi suatu masyarakat yang kuat yang dapat berperan serta dalam mendidik, membangkitkan serta menghidupkan generasi umat.
1) Asrama
Kehidupan asrama berbeda dengan kehidupan di lingkungan keluarga. Pada umumnya penghuni asrama terdiri atas anak-anak yang sebaya atau hampir sama. Suasana kehidupan di asrama banyak diwarnai oleh pemimpin dan pendidik yang mengolahnya. Bervariasinya anggota asrama juga ikut mewarnai suasana kehidupan asrama. Demikian pula tatanan dan cara hidup kebersamaan serta jenis kelamin dari penghuninya turut membentuk suasana asrama yang bersangkutan.
2) Perkumpulan Remaja
Remaja biasanya membutuhkan suatu tempat untuk berkumpul dengan tujuan saling tukar pikiran atau hanya sekedar ngobrol atau curhat. Dalam melaksanakan semua aktivitas dalam perkumpulan mereka
memerlukan bantuan dan bimbingan dari semua pihak, seperti orang tua, bimbingan guru-guru serta pengarahan para ulama (Masdudi, 2014:28-29).
Lingkungan masyarakat secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian anak setelah keluarga. Lingkungan masyarakat merupakan tempat untuk bersosialisasi, jadi peran masyarakat sangat penting dalam mendidik dan mengarahkan anak untuk menjadi pribadi yang lebih baik dimana faktor lingkungan ini sangat berperan terhadap pembentukan kepribadian anak seperti faktor dari teman sebaya, tetangga, lingkungan kondisi tempat tinggal dan lain sebagainya.
Yang termasuk dalam lingkungan sosial anak adalah masyarakat. Masyarakat terdiri dari keluarga-keluarga. Jika keluarga-keluarga dalam masyarakat itu baik, anak-anak mendapat kontribusi yang juga baik dalam proses interaksinya. Namun sebaliknya, jika lingkungan dalam masyarakat itu buruk, anak cenderung akan terpengaruh menjadi negatif (Helmawati, 2014: 203).
3. Kepribadian
Menurut asal katanya, kepribadian atau personality berasal dari bahasa latin personare, yang berarti mengeluarkan suara (to sound trought). Istilah ini digunakan untuk menunjukan suara dari percakapan seorang pemain sandiwara melalui topeng (masker) yang dipakainya. Pada mulanya istilah persona berarti topeng yang dipakai oleh pemain sandiwara, dimana suara pemain sandiwara itu diproyeksikan. Kemudian kata persona itu berarti pemain sandiwara itu sendiri (Purwanto,1990: 154).
Kepribadian adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil, dan juga bawaan seseorang sejak lahir (Sjarkawi, 2006:11). Selanjutnya, Koswara
menegaskan bahwa definisi kepribadian dapat dikategorikan menjadi dua pengertian, yaitu sebagai baerikut:
a. Menurut pengertian sehari-hari
Dalam kehidupan sehari-hari, kata kepribadian digunakan untuk menggambarkan : (1) identitas diri, jati diri seseorang, seperti: “saya seseorang yang terbuka” atau “saya seorang pendiam”, (2) kesan umum seseorang tentang diri anda atau orang lain, seperti “dia agresif” atau “dia jujur”, dan (3) fungsi-fungsi kepribadian yang sehat atau bermasalah, seperti: “dia baik” atau “dia pendendam” (Yusuf, 2011: 3).
b. Menurut pengertian psikologi (Sjarkawi, 2006: 17)
1) George Kelly (2005) menyatakan bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya.
2) Gordon Allport (2005) menyatakan bahwa kepribadian merupakan suatu organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara khas.
3) Sigmund Freud (2005) menyatakan bahwa kepribadian merupakan suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem, yakni id, ego, dan super ego, sedangkan tingkah laku tidak lain merupakan hasil dari konflik dan rekonsiliasi ketiga unsur dalam sistem kepribadian tersebut.
4) Schaefer dan Lamm (1998: 97) menyatakan kepribadian adalah keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciri khas, dan perilaku seseorang. Berdasarkan pendapat tersebut, kepribadian secara sederhana dapat diartikan sebagai ciri atau karakteristik atau sifat-sifat khas suatu individu yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterimanya sebagai hasil proses sosialisasi terhadap lingkungan di sekitarnya, misalnya keluarga, teman bermain, dan sebagainya (Wardiyatmoko, 2009: 70).
c. Aspek-aspek Kepribadian
Telah dikatakan bahwa kepribadian itu mengandung pengertian yang kompleks. Ia terdiri dari bermacam-macam aspek, baik fisik maupun psikis. Meskipun telah banyak disinggung dalam uraian-uraian terdahulu, secara lebih terperinci ada baiknya kita uraikan beberapa aspek kepribadian yang penting berhubungan dengan pendidikan, dalam rangka pembentukan pribadi anak-anak didik (Purwanto,1990: 156).
Sifat-sifat kepribadian (personality traits). Seperti telah dikemukakan dalam pasal-pasal yang lalu, yaitu sifat-sifat yang ada pada individu seperti antara lain : penakut, pemarah, suka bergaul, peramah, suka menyendiri, sombong, dan lain-lain. Pendekatannya sifat-sifat yang merupakan kecenderungan-kecenderungan umum pada seorang individu untuk menilai situasi-situasi dengan cara-cara tertentu dan bertindak sesuai dengan penilaian itu (Purwanto,1990: 157)
Menurut Gunadi pada umumnya terdapat lima penggolongan kepribadian yang sering dikenal dalam sehari-hari, yaitu sebagai berikut.
1). Tipe Sanguin
Seseorang yang termasuk tipe ini memiliki ciri-ciri antara lain : memiliki banyak kekuatan, bersemangat, mempunyai gairah hidup, dapat membuat lingkungannya gembira dan senang. Akan tetapi, tipe ini pun memiliki kelemahan, antara lain : cenderung impulsif, bertindak sesuai emosinya atau keinginannya.
2). Tipe Flegmatik
Seseorang yang termasuk tipe ini memiliki ciri antara lain : cenderung tenang gejolak emosinya tidak tampak, misalnya dalam kondisi sedih atau senang, sehingga turun naik emosinya tidak terlihat jelas.
3). Tipe Melankolik
Seseorang yang termasuk tipe ini memiliki ciri antara lain: terobsesi dengan karyanya yang paling bagus atau paling sempurna,
mengerti estetika keindahan hidup, perasaannya sangat kuat, dan sangat sensitif.
4). Tipe Kolerik
Seseorang yang termasuk tipe ini memiliki ciri antara lain: cenderung berorientasi pada pekerjaan dan tugas, mempunyai disiplin kerja yang sangat tinggi, mampu melaksanakan tugas dengan setia dan bertanggung jawab atas tugas yang diembannya.
5). Tipe Asertif
Seseorang yang termasuk tipe ini memiliki ciri antara lain: mampu menyatakan pendapat, ide, dan gagasannya secara tegas, kritis, tetapi perasaannya halus sehingga tidak menyakiti orang lain. Kepribadian merupakan kesatuan baru keseluruhan tingkah laku jiwa dan raga seseorang. Baik dan buruk gerak tingkah laku tersebut terlihat dari sifat dan sikap seseorang. Menurut Purwanto (1990 : 140) menyebutkan bahwa kepribadian sangat erat hubungannya dengan sikap, sifat, temperamen dan watak yang kesemuanya itu merupakan ciri-ciri kepribadian.
Sifat, adalah ciri-ciri tingkah laku yang tetap pada seseorang atau perbuatan yang banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor dari dirinya sendiri, seperti pembawaan, minat, keadaan tubuh, cenderung bersifat tetap. Sikap, adalah suatu cara untuk bereaksi terhadap suatu rangsangan, cenderung untuk bereaksi dengan cara-cara (Sjarkawi, 2006:12).
Beberapa indikator yang digunakan sebagai bentuk manifestasi dari aspek-aspek kepribadian yang nampak dalam interkasi lingkungan antara lain::
a). Konsekuen atau tidaknya aturan etika.
b). Teguh atau tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.
c). Konsisten atau tidaknya dalam menghadapi situasi lingkungan yang serupa atau berbeda-beda (karakter).
e). Positif atau negatifnya sambutannya obyek-obyek (orang, benda, peristiwa, norma, sistem nilai etika atau estetika-sikap atau attitude). f). Mudah atau tidaknya tersinggung/marah, menangis, putus asa,stabilitas
emosional.
g). Menerima atau melarikan diri dari resiko atas tindakan dan perbuatannya (tanggung jawab/responsbility).
h). Keterbukaan atau ketertutupan dirinya serta kemampuannya berkomunikasi dengan orang tuanya (sosiobilitas).
(http://e-medis.blogspot.com/2013/12/pengertian-kepribadian-dan-indikator.html?m=1).
d. Faktor Yang Memengaruhi Kepribadian
Menurut Yusuf (2004: 128-129) menyatakan bahwa kepribadian dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik hereditas (pembawaan) maupun lingkungan (seperti fisik, sosial, kebudayaan, spiritual).
Faktor-faktor yang dapat memengaruhi kepribadian seseorang dapat dikelompokkan dalam dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal.
1) Faktor internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri orang itu sendri. Faktor internal ini biasanya merupakan faktor genetis atau bawaan. Faktor genetis maksudnya adalah faktor yang berupa bawaan sejak lahir dan merupakan pengaruh keturunan dari salah satu sifat yang dimiliki salah satu dari kedua orang tuanya atau bisa jadi kombinasi dari sifat kedua orang tuanya.
2) Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar orang tersebut. Faktor eksternal biasanya merupakan pengaruh yang berasal dari lingkungan seseorang mulai dari lingkungan terkecilnya, yakni keluarga, teman, tetangga, sampai dengan pengaruh dari berbagai media audiovisual seperti TV dan VCD, atau media cetak seperti koran, majalah, dan lain sebagainya (Sjarkawi, 2006: 19).
Model kepribadian seseorang itu pada umumnya ditentukan oleh kualitas kebudayaan yang melingkunginya. Maka kepribadian merupakan aspek subyektif dari satu kebudayaan. Masuknya pengaruh kebudayaan pada diri anak berusia 0-5 tahun, disebut sebagai masa pembentukan primer, yang ditranformasikan oleh orang tua/keluarganya. Perbedaan-perbedaan individual sekalipun mereka dibesarkan dalam lingkungan kebudayaan yang sama pertama-tama disebabkan oleh perbedaan cara membentuk, mengasuh dan mendidik oleh setiap keluarga atau orang tua anak (Desmita, 2009: 56)
e. Keragaman Individual dalam Kepribadian
1). Kalau kecakapan hanya mewujudkan kualifikasi inteligensinya dari perilaku individu, kepribadian menunjukan kepada kualitas total perilaku individu yang tampak dalam melakukan penyesuaian dirinya terhadap lingkungan secara unik.
2). Yang dimaksudkan dengan kata unik disini ialah menjelaskan bahwa kualitas perilaku itu bersifat khas sehingga dapat dibedakan individu yang satu dari yang lainnya. Keunikannya itu didukung oleh struktur organisasi ciri-ciri jiwa raganya (psychophysical system) yang terbentuk secara dinamis.
Ciri-ciri jiwa raga (misalnya, konstitusi dan kondisi fisik, tampang dan penampilan, proporsi dan kondisi hormon, darah dan cairan tubuh lainnya, segi-segi kognitif, afektif, dan konatif) tersebut saling berhubungan dan berpengaruh atau interdependensi satu sama lain sehingga mewujudkan suatu sistem yang kesemuanya itu akan mewarnai dan menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan, seperti yang tampak dalam interaksinya dengan lingkungannya, antara lain:
a) Konsekuen tindakannya dalam mematuhi aturan etika perilaku, atau teguh tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat, konsisten tidaknya tindakannya dalam menghadapi situasi lingkungan yang serupa atau berbeda-beda, yang lazim kita kenal sebagai karakter.
b) Cepat atau lambatnya mereaksi (response, bukan masalah penyelesaian tugas pekerjaan saja) terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungannya (sensitivity and responsiveness) yang lazim dikenal sebagai temperamen.
c) Positif atau negatif atau ambivalensi sambutannya terhadap objek-objek (orang, benda, peristiwa, norma atau nilai etis, estetis, dan sebagainya) yang lazim kita kenal sebagai sikap (attitude)
d) Mudah tidaknya tersinggung, atau marah atau menangis atau putus asa, yang kita sebut stabilitas emosional (emotional stability)
e) Menerima atau cuci tangan atau melahirkan diri dari risiko, atas tindakan dan perbuatannya, yang kita kenal sebagai tanggung jawab (responbility)
f) Keterbukaan atau ketertutupan dirinya serta kemampuannya berkomunikasi dengan orang lain, yang kita kenal sebagai sosialibitas (socialibility), dan sebagainya (Makmun, 2009:79). Secara sosiologis, kepribadian terbentuk melalui proses sosialisasi yang dimulai sejak seseorang dilahirkan sampai menjelang akhir hayatnya sehingga melalui proses sosialisasi seorang individu mendapatkan pembentukan sikap dan perilaku yang sesuai dengan perilaku kelompoknya.
4. Perilaku Sosial
Paradigma perilaku sosial memusatkan perhatiannya kepada hubungan antara individu dengan lingkungan yang terdiri atas bermacam-macam objek sosial dan non sosial. Singkatnya, pokok persoalan dari perilaku sosial ini adalah tingkah laku individu yang berlangsung dalam hubungannya dengan faktor lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam faktor lingkungan yang akan menimbulkan perubahan terhadap tingkah laku dengan perubahan yang terjadi dalam lingkungan aktor (Anwar: 2013: 74).
Manusia mempunyai naluri untuk hidup berteman dan hidup bersama dengan orang lain. Karena manusia merupakan makhluk sosial yang tidak
bisa hidup sendiri. Manusia perlu makan, pakaian, tempat tinggal, berkeluarga, bergerak secara aman, dan sebagainya. Untuk mencapai hal tersebut, ia memerlukan hubungan atau kerja sama dengan orang lain (Rahmawati, 2017: 9).
Perilaku sosial akan muncul saat seseorang melakukan interaksi atau berhadapan dengan orang lain dalam rangka melakukan hubungan kerja sama dengan orang lain serta perilakunya itu memberi suatu nilai terhadap orang tersebut (Rahmawati. 2017: 9).
Menurut George Ritzer (1992: 84) perilaku sosial adalah tingkah laku individu yang berlangsung dalam hubungannya dengan faktor lingkungan yang menimbulkan perubahan tingkah laku.
Dengan demikian menurut pendapat saya dapat diuraikan bahwa perilaku sosial merupakan tindakan yang ditunjukan oleh orang atau individu dalam masyarakat yang pada dasarnya sebagai respon dari hubungan timbal balik (interaksi) antar pribadi dan lingkungan.
Perilaku sosial menunjukkan kemampuan untuk menjadi orang yang bermasyarakat. Perilaku sosial adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku umum yang ditunjukan oleh individu dalam masyarakat, yang pada dasarnya sebagai respons terhadap apa yang dianggap dapat diterima atau tidak diterima oleh kelompok sebaya seseorang (Hurlock, 2003:261).
Perilaku sosial merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang negatif ataupun positif yang dimiliki dalam diri manusia yang timbul sebab adanya dorongan untuk melakukan sesuatu. Manusia memiliki sikap, sikap dapat pula dibedakan atas:
Sikap positif: sikap yang menunjukan atau memperhatikan, menerima, mengakui, menyetujui, serta melaksanakan norma-norma yang berlaku dimana individu itu berada.
Sikap negatif: penolakan atau tidak menyetujui terhadap norma yang berlaku dimana individu itu berada (Ahmad, 1990: 166).
Perilaku sosial dapat dilihat dari perilaku kesehariannya seperti pada saat bersosialisasi dan berinteraksi dalam masyarakat. Pembentukan perilaku sosial seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor baik internal maupun eksternal.
a. Teori perilaku sosial
Perilaku manusia tidak dapat lepas dari individu itu sendiri dan lingkungan dimana individu itu berada. Perilaku manusia didapatkan oleh motif tertentu sebagai manusia berperilaku. Teori-teori yang mendukung hal tersebut diantaranya yaitu teori insting, teori dorongan, dan teori kognitif (Walgito, 2003: 20).
1) Teori Insting
Teori ini dikembangkan oleh McDougall yang menyatakan bahwa perilaku itu disebabkan karena insting. Insting adalah perilaku yang innate atau bawaan, yang akan mengalami perubahan disebabkan oleh pengalaman.
2) Teori dorongan
Teori ini bertitik tolak dengan pandangan bahwa perilaku organisme itu mempunyai dorongan-dorongan atau drive yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan organisme yang mendorong organisme berperilaku (Silastuti, 2016: 20).
3) Teori insentif
Teori ini bertitik tolak pada pendapatnya bahwa perilaku organisme itu disebabkan oleh adanya insentif yang mendorong organisme berperilaku. Insentif atau disebut juga reinforcemen ada yang positif berupa hadiah yang dapat mendorong organisme dalam berbuat dan ada juga yang negatif berupa hukuman yang dapat menghambat organisme dalam berperilaku. Artinya perilaku timbul disebabkan adanya intensif atau reinforcemen (Silastuti, 2016: 21).
b. Faktor-faktor Pembentuk Perilaku Sosial
Baron dan Byrne berpendapat bahwa ada empat kategori utama yang dapat membentuk perilaku sosial seseorang, yaitu :
1) Perilaku dan karakteristik orang lain
Jika seseorang sering bergaul dengan orang-orang yang memiliki karakter santun, kemungkinan besar seseorang tersebut akan berperilaku seperti kebanyakan orang-orang berkarakter santun dalam lingkungan pergaulannya. Sebaliknya, jika bergaul dengan orang-orang berkarakter sombong, maka akan terpengaruh oleh perilaku seperti itu.
2) Proses kognitif
Ingatan dan pikiran yang memuat ide-ide, keyakinan dan pertimbangan yang menjadi dasar kesadaran sosial seseorang akan berpengaruh terhadap perilaku sosialnya. Misalnya seorang calon pelatih yang akan terus berpikir agar kelak dikemudian hari menjadi pelatih yang baik, menjadi idola bagi atletnya dan orang lain akan terus berupaya dan berproses mengembangkan dan memperbaiki dirinya dalam perilaku sosialnya.
3) Faktor lingkungan
Lingkungan alam terkadang dapat mempengaruhi perilaku sosial seorang. Misalnya, seorang yang tinggal di pesisir pantai akan memiliki perilaku yang berbeda dengan orang yang tinggal di pegunungan.
4) Budaya sebagai tempat perilaku dan pemikiran sosial itu terjadi Misalnya, seseorang yang berasal dari etnis budaya tertentu mungkin akan terasa berperilaku sosial aneh ketika berada dalam lingkungan masyarakat yang beretnis budaya lain atau berbeda. Perilaku seseorang bukan dari bawaan sejak lahir namun sebuah perilaku merupakan sebuah hasil dari pembentukan, seperti perilaku remaja selaku individu manusia sebagaian besar perilakunya berupa perilaku yang dibentuk.
Bino Wagito (1990: 18-19) mengemukakan bahwa pembentukan perilaku dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain:
a) Pembentukan perilaku dengan kondisioning atau kebiasaan, yaitu dengan cara membiasakan diri untuk berperilaku sesuai tertentu yang diharapkan.
b) Pembentukan perilaku dengan pengertian, yaitu dengan cara sesuai dengan teori belajar kognitif, bahwa belajar dengan disertai adanya pengertian.
c) Pembentukan perilaku dengan menggunakan model atau contoh, yaitu pembentukan perilaku dengan cara didasarkan pada model atau contoh.
c. Bentuk dan Indikator Perilaku Sosial
Fuad Nashori (2008: 38) mengemukakan bahwa, ciri-ciri perilaku sosial yang dilakukan anak remaja adalah sebagai berikut: 1) Menolong, yaitu membantu orang lain dengan cara
meringankan beban fisik atau psikologis.
2) Berbagi rasa, yaitu kesediaan untuk ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain.
3) Kerjasama, yaitu melakukan pekerjaan atau kegiatan secara bersama-sama berdasarkan kesepakatan untuk mencapai tujuan bersama pula.
4) Menyumbang, yaitu berlaku murah hati kepada orang lain. 5) Memperhatikan kesejahteraan orang lain, yaitu peduli terhadap
permasalahan orang lain.
Bentuk dan perilaku sosial seseorang dapat pula ditunjukan oleh sikap sosialnya. Sikap menurut Akyas Azhari (2004: 161) adalah “suatu cara terhadap suatu perangsang tertentu”. Bentuk perilaku sosial seseorang pada dasarnya merupakan karakter kepribadian yang dapat teramati ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain, seperti dalam kehidupan berkelompok, kecenderungan perilaku sosial seseorang yang
menjadi anggota kelompok akan terlihat jelas diantara anggota kelompok lainnya.
Indikator perilaku sosial dapat dilihat melalui sifat-sifat dan pola respon antar pribadi, yaitu:
1) Kecenderungan Perilaku Peran
a) Sifat pemberani dan pengecut secara sosial
Orang yang memiliki sifat pemberani, biasanya akan suka mempertahankan dan membela haknya, tidak malu-malu atau tidak segan melakukan sesuatu perbuatan yang sesuai norma di masyarakat dalam mengedepankan kepentingan diri sendiri sekuat tenaga. Sedangkan sifat pengecut menunjukan perilaku atau keadaan sebaliknya.
b) Sifat berkuasa dan sifat patuh
Orang yang memiliki sifat berkuasa dalam perilaku sosial biasanya ditunjukan oleh perilaku seperti bertindak tegas, berorientasi kepada kekuatan, percaya diri, berkemauan keras, suka memberi perintah dan memimpin langsung. Sedangkan sifat yang patuh atau penyerah menunjukan perilaku sosial yang sebaliknya c) Sifat inisiatif secara sosial dan pasif
Orang yang memiliki sifat inisiatif biasanya suka mengorganisasi kelompok, tidak suka mempersoalkan latar belakang, suka memberi masukan atau saran dalam berbagai pertemuan, dan biasanya suka mengambil alih kepemimpinan. Sedangkan sifat orang yang pasif secara sosial ditunjukan oleh pelaku yang bertentangan dengan sifat orang yang aktif.
d) Sifat mandiri dan tergantung
Orang yang memiliki sifat mandiri biasanya membuat segala sesuatunya dilakukan oleh diri sendiri, seperti membuat rencana sendiri, melakukan sesuatu dengan cara sendiri, tidak suka berusaha mencari nasihat atau dukungan dari orang lain, dan secara emosional
cukup stabil. Sedangkan sifat orang yang ketergantungan cenderung menunjukkan perilaku sebaliknya.
2) Kecenderungan perilaku dalam berhubungan a) Dapat diterima atau ditolak oleh orang lain
Orang yang memiliki sifat dapat diterima oleh orang lain biasanya tidak berprasangka buruk terhadap orang lain, loyal, dipercaya, pemaaf dan tulus mengahargai kelebihan orang lain. Sementara sifat orang yang ditolak biasanya suka mencari kesalahan dan tidak mengakui kelebihan orang lain.
b) Suka bergaul dan tidak suka bergaul
Orang yang suka bergaul biasanya memiliki hubungan sosial yang baik, senang bersama dengan yang lain dan senang berpergian. Sedangkan orang yang tidak suka bergaul menunjukkan sifat dan perilaku yang sebaliknya.
c) Sifat ramah dan tidak ramah
Orang yang ramah biasanya periang, hangat, terbuka, mudah didekati orang, dan suka bersosialisasi. Sedangkan orang yang tidak ramah cenderung bersifat sebaliknya.
d) Simpatik dan tidak simpatik
Orang yang memiliki sifat simpatik biasanya peduli terhadap perasaan orang lain, murah hati dan suka membela orang tertindas. Sedangkan orang yang tidak simpatik menunjukan sifat sebaliknya. 3) Kecenderungan perilaku ekspresif
a) Sifat suka bersaing (tidak kooperatif) dan tidak suka bersaing (suka bekerja sama).
Orang yang suka bersaing biasanya menganggap hubungan sosial sebagai perlombaan, lawan adalah saingan yang harus dikalahkan, memperkaya diri sendiri. Sedangkan orang yang tidak suka bersaing menunjukan sifat sebaliknya.
Orang yang agresif biasanya suka menyerang orang lain baik langsung, ataupu tidak langsung, pendendam, menentang atau tidak patuh pada penguasa, suka bertengkar dan suka menyangkal. Sifat orang yang tidak agresif menunjukan perilaku sebaliknya.
c) Sifat kalem atau tenang secara sosial
Orang yang kalem biasanya tidak nyaman jika berbeda dengan orang lain, mengalami kegugupan, malu, ragu-ragu, dan merasa terganggu jika ditonton orang.
d) Sifat suka pamer atau menonjolkan diri
Orang yang suka pamer biasanya berlebihan, suka mencari pengakuan berperilaku aneh untuk mencari perhatian orang lain. d. Jenis-jenis Perilaku Sosial
Perilaku sosial seseorang dapat ditunjukan oleh sikap sosialnya. Sikap adalah suatu cara reaksi terhadap suatu perangan tertentu. Sedangkan sikap sosial dinyatakan oleh cara-cara kegiatan yang sama dan berulang-ulang terhadap salah satu obyek sosial (Nina Winangsih, 2012: 69).
Menurut Soejono Sukanto dalam bukunya (2012: 64-75) jenis perilaku sosial seseorang pada dasaranya merupakan karakter atau ciri kepribadian yang dapat teramati ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain. Misalnya dalam kehidupan berkelompok, kecenderungan berperilaku sosial seseorang dalam berkelompok akan terlihat jelas antara anggota kelompok yang lainnya.
Menurut Nina Winangsih (2012: 109) perilaku sosial terbagi menjadi dua jenis, antara lain:
1) Kehendak
Menurut Thomas seorang sosiolog dan psikolog sosial Amerika, yang mengemukakan suatu tipe kelompok yang disebutnya empat kehendak. Kalau objek yang ingin diteliti seluk beluk suatu kelompok tertentu, maka yang diselidiki tidak hanya aktivitas dan
penyesuainnya, tetapi juga perubahan yang terjadi pada kehidupan batiniahnya, baik sikap, kehendak, maupun perasaannya. Dengan demikian, diperlukan suatu klasifikasi kemana orang-orang akan dimasukan, apakah pada satu tipe atau berbagai tipe. Thomas mengakui bahwa kehendak manusia sangat bervariasi bentuknya, namun ia mencoba untuk mengklasifikasinya, yaitu:
a) Kehendak untuk memiliki pengalaman baru
Menurut Thomas pengalaman menjadi ciri kehidupan awal manusia. Dalam keadaan itu terjadi transformasi yang lambat dari taraf asli ke taraf yang rumit. Keadaan demikian disebut pola mengajar kepentingan.
b) Kehendak akan keamanan
Kehendak ini didasarkan pada rasa takut akan kemungkinan terjadinya cidera atau kematian yang terwujud dalam rasa malu atau keinginan untuk melarikan diri. Individu yang dikuasai kehendak akan keamanan, biasanya bersikap hati-hati, cenderung pada keadaan yang umum, pekerjaan sistematis. c) Kehendak untuk ditanggapi
Kehendak ini timbul dari kecenderungan mencintai, menghendaki penghargaan, dan memberikan apresiasi. Perwujudannya seperti kasih sayang ibu terhadap anak dan tanggapan anak terhadap kasih sayang.
d) Kehendak untuk diakui
Kehendak ini terwujud dalam perjuangan untuk mendapatkan kedudukan yang berpengaruh dalam kelompok sosial. Itu disebut sebagai keinginan pada kedudukan sosial. Seseorang akan berusaha untuk mendapatkan tanggapan dan pengakuan dengan cara berpura-pura sakit dan sebagainya. Motif-motif yang dikaitkan dengan keinginan untuk diakui melalui kepentingan yang terpusatkan pada diri sendiri yang disebut kesombongan.
2) Kepentingan
Kepentingan dalam arti luas merupakan pasangan sikap. Menurut Maclever dalam bukunya yang berjudul Society: A textbook of sociology (1937) sikap merupakan keadaan subjektif jiwa yang menyangkut kecenderungan untuk bertindak dengan cara tertentu apabila ada stimulus. Sikap-sikap tersebut adalah rasa iri, kebencian, pengalaman, pemujaan, kepercayaan, ketidakpercayaan, dan sebagainya. Semua sikap berisikan objek sikap tersebut, namun yang diberi arti sikap bukanlah obbjeknya, melainkan keadaan jiwa. Jika pusat perhatian dialihkan dari subjek ke objek, maka yang dibicarakan merupakan suatu objek kepentingan banyak orang.
Menurut Arifin, (2015: 28) jenis perilaku sosial dapat dilihat melalui sifat-sifat dan pola respons antar pribadi berikut :
a) Kecenderungan perilaku peran
1) Sifat pemberani dan pengecut secara sosial 2) Sifat berkuasa dan sifat patuh
3) Sifat inisiatif secara sosial dan pasif 4) Sifat mandiri dan bergantung
b) Kecenderungan perilaku dalam hubungan sosial 1) Dapat diterima atau ditolak oleh orang lain 2) Suka bergaul dan tidak suka bergaul 3) Sikap ramah dan tidak ramah
4) Simpatik dan tidak simpatik c) Kecenderungan perilaku ekspresif
1) Sifat suka bersaing dan sifat tidak suka bersaing 2) Sifat agresif atau tenang secara sosial
3) Sifat kalem atau tenang secara sosial 4) Sikap suka pamer atau menonjolkan diri
5. Wilayah Pesisir
Kata “pesisir” dalam tulisan ini digunakan untuk dua maksud yang berlainan. Pertama, masyarakat pesisir, dimana istilah ini sebutan yang diatribusikan kepada kelompok masyarakat yang bertempat tinggal di tepi pantai, atau berdekatan dengan laut (Aminah, 2000:19). Masyarakat pesisir (coastal community) juga diterjemahkan dengan ciri-ciri utama tidak memproduksi barang ataupun jasa tertentu, mengandalkan penghidupan dari sumber daya laut (Aritonang, 2001:12)
Masyarakat pesisir adalah sekumpulan masyarakat yang hidup bersama-sama mendiami wilayah pesisir membentuk dan memiliki kebudayaan yang khas terkait dengan ketergantungannya pada pemanfaatan sumber daya pesisir (Satria, 2015:10).
Secara teoritis, masyarakat pesisir merupakan masyarakat yang tinggal dan melakukan aktifitas sosial ekonomi yang terkait dengan sumberdaya wilayah pesisir dan lautan. Secara sempit masyarakat pesisir memiliki ketergantungan yang cukup tinggi dengan potensi dan kondisi sumberdaya pesisir dan lautan. Namun demikian, secara luas masyarakat pesisir dapat pula didefinisikan sebagai masyarakat yang tinggal secara spasial di wilayah pesisir tanpa mempertimbangkan apakah mereka memiliki aktifitas sosial ekonomi yang terkait dengan potensi dan kondisi sumberdaya pesisir dan lautan (Hendry, 1999:56).
Masyarakat pesisir termasuk masyarakat yang masih terbelakang dan berada dalam posisi marginal. Selain itu, banyak dimensi kehidupan yang tidak diketahui oleh orang luar tentang karakteristik masyarakat pesisir. Masyarakat pesisir mempunyai cara berbeda dalam aspek pengetahuan, kepercayaan, peranan sosial, dan struktur sosialnya. Sementara itu, dibalik kemarginalannya, masyarakat pesisir tidak mempunyai banyak cara dalam mengatasi masalah yang hadir (http://iswanlasiki.student.ung.ac.id).
Masyarakat pesisir memiliki kepribadian yang berbeda dengan masyarakat lainnya, dimana masyarakat pesisir ini cenderung berperilaku keras dan tegas. Kondisi ekonomi masyarakat pesisir juga menengah kebawah. Hal tersebut
dapat berdampak pada kepribadian anak, seperti kondisi ekonomi yang rendah atau lingkungan yang kumuh para orang tua atau masyarakat dapat menerapkan aturan-aturan yang sangat tegas mengenai aktivitas-aktivitas anaknya serta mengajak anak bertukar pikiran mengenai peraturan-peraturan yang ada dan memberi contoh yang baik terhadap anak.
B. Kajian Penelitian Yang Relevan
Penelitian yang relevan adalah kajian penelitian terdahulu sebagai bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan kajian penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya yaitu:
1. Peran Masyarakat Pesisir dalam Pembentukan Kepribadian Muslim di Madrasah Ibtidaiyah As-Sabirin Bubaa
Berdasarkan kajian penelitian relevan dari penulis Asri Polutu dengan judul “Peran Masyarakat Pesisir dalam Pembentukan Kepribadian Muslim di Madrasah Ibtidaiyah As-Sabirin Bubaa”. 2008 IAIN Sultan Amai Gorontalo. Dan hasil dari penelitiannya menyimpulkan bahwa peran masyarakat pesisir belum efektif dalam pembentukan kepribadian siswa khususnya mengenai sarana prasarana masyarakat pesisir belum memiliki fasilitas listrik yang menyebabkan siswa sulit belajar dan sebagian besar masyarakat pesisir berprofesi sebagai nelayan apabila dalam mengikuti pengajian kadangkala siswa kebanyakan tidak mengikuti kegiatan tersebut tetapi ikut melaut dengan orang tuanya. Hal ini menunjukan bahwa peran masyarakat pesisir sangat berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian muslim siswa.
Persamaan penelitian yang akan dilakukan dengan skripsi ini adalah mengkaji tentang upaya masyarakat pesisir dalam pembentukan kepribadian. Perbedaannya adalah terletak pada bentuk kepribadian yang akan dikajinya. Kelebihan penelitian dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Asri Polutu yaitu terletak pada objek penelitiannya. Peneliti sebelumnya hanya meneliti tentang kepribadian muslim
sedangkan penelitian yang akan peneliti lakukan meneliti tentang kepribadian dan perilaku sosial anak.
2. Kultur Masyarakat Nelayan dan Pendidikan Formal Anak
Berdasarkan kajian penelitian yang relevan dari penulis Akhmad Nuryanto dengan judul “Kultur Masyarakat Nelayan dan Pendidikan Formal anak” (Studi Sosiologis Di Desa Kluwut Kecamatan Bulak kamba Kabupaten Brebes). 2006. IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Dan hasil dari penelitiannya menyimpulkan bahwa penerapan kultur masyarakat nelayan di desa kluwut kecamatan bulak kamba kabupaten brebes yang dilakukan secara turun temurun sebanyak 66,8 % yang termasuk dalam kategori cukup. Beserta anak-anak dari keluarga nelayan tidak melanjutkan pendidikan formal sebanyak 50,2 % yang termasuk dapat dikategorikan kurang baik. Dan hubungan antara penerapan kultul masyarakat nelayan dengan pendidikan formal anak di desa kluwut kecamatan buluk kamba kabupaten brebes menunjukan korelasi yang kurang signifikan karena mencapai interpretasi nilai (0,414). Hal ini menunjukan bahwa penerapan kultur masyarakat nelayan mempunyai pengaruh terhadap kelangsungan pendidikan formal anak nelayan.
Persamaan penelitian yang akan dilakukan dengan skripsi ini adalah mengkaji tentang kondisi masyarakat pesisir. Perbedaannya adalah terletak pada objeknya yakni dalam skripsi ini lebih mengkaji tentang pendidikan formal anak. Kelebihan penelitian dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Akhmad Nuryanto yaitu terletak pada objek penelitiannya. Peneliti sebelumnya hanya meneliti tentang pendidikan formal sedangkan penelitian yang akan peneliti lakukan meneliti lebih mendalam tentang pembentukan anak seperti kepribadian dan perilaku sosialnya.
3. Peran Keluarga Terhadap Pembentukan Kepribadian Islam Bagi Remaja
Berdasarkan kajian penelitian relevan dari penulis Fatmawati dengan judul “Peran Keluarga Terhadap Pembentukan Kepribadian
Islam Bagi Remaja”. 2016 UIN Suska Riau. Dan hasil dari penelitiannya menyimpulkan bahwa peran keluarga tidak sepenuhnya memberikan bimbingan pada remaja maka kepribadian yang baik tidak tercermin nilai-nilai kepribadian Islam dalam diri remaja. Berarti apabila keluarga dapat menjalankan fungsi dan peranan dalam membentuk kepribadian Islam bagi remaja maka akan terbentuk kepribadian Islam dalam diri remaja.
Persamaan penelitian yang akan dilakukan dengan skripsi ini adalah mengkaji tentang upaya keluarga dalam pembentukan kepribadian. Perbedaannya adalah skripsi ini hanya meneliti tentang kepribadian saja tetapi penelitian yang akan peneliti lakukan yaitu mengkaji tentang perilaku sosial juga. Kelebihan penelitian dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Asri Polutu yaitu terletak pada objek penelitiannya. Peneliti sebelumnya hanya meneliti tentang kepribadian muslim sedangkan penelitian yang akan peneliti lakukan meneliti tentang kepribadian dan perilaku sosial anak.
C. Kerangka Pikir
Keluarga merupakan pendidikan pertama yang anak peroleh sejak dilahirkan hingga tumbuh dewasa, sehingga pembentukan kepribadian anak tergantung bagaimana keluarga dalam mendidiknya. Masyarakat juga sangat berperan dalam membentuk kepribadian dimana masyarakat adalah lingkungan anak dalam bersosialisasi dengan teman sebayanya yang dapat memunculkan perilaku sosial anak di masyarakat tertentu.
Kepribadian adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil, dan juga bawaan seseorang sejak lahir (Sjarkawi, 2006:11).
Perilaku sosial seseorang dapat ditunjukan oleh sikap sosialnya. Sikap adalah suatu cara reaksi terhadap suatu perangan tertentu. Sedangkan sikap sosial dinyatakan oleh cara-cara kegiatan yang sama
dan berulang-ulang terhadap salah satu obyek sosial (Nina Winangsih, 2012: 69).
Dalam proses sosialisasi anak di kehidupan masyarakat yang bertempat tinggal di daerah pesisir ditemukan permasalahan yang bersangkutan dengan kepribadian dan perilaku sosial anak, dimana keluarga merupakan peran utama yang sangat berperan terhadap pembentukan kepribadian anak serta lingkungan masyarakat dimana anak tersebut bersosialisasi dengan teman sebaya, tetangga serta masyarakat lainnya, disini juga peran masyarakat dibutuhkan dalam pembentukan kepribadian anak dan perilaku sosialnya.
Perilaku Sosial Kepribadian
Pembentukan Kepribadian dan perilaku sosial anak di
wilayah pesisir