• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATEKISMUS: PERANGKAT PEMBELAJARAN AGAMA KRISTEN YANG TERLUPAKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KATEKISMUS: PERANGKAT PEMBELAJARAN AGAMA KRISTEN YANG TERLUPAKAN"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

1

KATEKISMUS:

PERANGKAT PEMBELAJARAN AGAMA KRISTEN YANG

TERLUPAKAN

Ferdinand Willy Sualang SMP Negeri 8 Touluaan [email protected]

ABSTRACT

The Catechism is a simple learning tool in the form of questions and answers regarding Christian teaching and doctrine derived from the Bible. Christian education using catechisms has been very popular since the post-church reform era. However, with the times, catechisms began to be abandoned. The purpose of this study is to explain the definition of learning tools, the definition of catechism, the history of catechism development, and the appropriateness of catechisms when used in contemporary learning. This study uses a qualitative method. The results of this study are in the form of an explanation that the catechism format formed by the question and answer model is still quite feasible for contemporary learning. Therefore, it would be better if a PAK & Budi Pekerti learning model was developed using the catechism format. The teacher can form a list of questions and answers in a learning module. The list of questions and answers is of course sourced from the PAK & Budi Pekerti book, Kurikulum 2013 Kemdikbud RI and the Bible, and still refers to the Core Competencies.

Keywords: catechism, learning tool, education, christian

ABSTRAK

Katekismus merupakan sebuah perangkat pembelajaran sederhana yang berupa pertanyaan dan jawaban mengenai pengajaran Kristen maupun doktrin yang bersumber dari Alkitab. Pendidikan Kristen dengan menggunakan katekismus sangat popular sejak masa pasca reformasi gereja. Namun, seiring perkembangan zaman, katekismus mulai ditinggalkan. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan hakikat perangkat pembelajaran, hakikat katekismus, sejarah perkembangan katekismus, dan layak tidaknya katekismus jika digunakan pada pembelajaran masa kini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian ini berupa penjelasan bahwa format katekismus yang dibentuk dengan model pertanyaan dan jawaban ternyata masih cukup layak pada pembelajaran masa kini. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika dikembangkan sebuah model pembelajaran PAK dan Budi Pekerti dengan menggunakan format katekismus. Guru bisa membentuk daftar pertanyaan beserta jawaban dalam sebuah modul pembelajaran. Daftar pertanyaan dan jawaban tentunya bersumber dari buku PAK dan Budi Pekerti, Kurikulum 2013 Kemdikbud RI dan Alkitab, serta tetap mengacu pada Kompetensi Inti.

(2)

2

PENDAHULUAN

Tak dapat kita pungkiri bahwa pendidikan merupakan salah satu kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan umat manusia. Dengan terlaksananya pendidikan yang baik akan mampu meningkatkan taraf hidup manusia serta mengubah kehidupan manusia menjadi lebih baik. Pada pelaksanaan kegiatan pendidikan tentunya seorang guru diharapkan mampu memberdayakan peserta didik menjadi insan yang bijak, cerdas, serta memiliki karakter yang baik. Dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 ayat 1).

Pelaksanaan pendidikan seperti yang tertuang dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional diharapkan dapat mendorong peningkatan kualitas pribadi peserta didik sebagai generasi penerus bangsa di masa depan, yang diyakini akan menjadi faktor penting bagi perkembangan bangsa dan negara Indonesia di masa yang akan datang. Oleh sebab itu, pendidikan nasional harus dikelola secara optimal sebagai sarana utama dalam pembangunan bangsa tanpa mengabaikan aspek karakter dari peserta didik. Agar hal ini bisa terwujud, yang dibutuhkan bukan hanya usaha melainkan juga berbagai rencana yang disusun dalam suatu strategi, metode, serta dibutuhkan juga dana, beserta alat-alat penunjang dalam dunia pendidikan.

Sama seperti pendidikan pada umumnya, pendidikan agama Kristen juga membutuhkan usaha, strategi, metode, dana, serta alat-alat penunjang. Semuanya ini dibutuhkan sekaligus agar kegiatan pendidikan dapat berlangsung dengan baik. Metode dan strategi biasanya berupa cara-cara terstruktur yang bertujuan memudahkan kegiatan pendidikan. Dana biasanya dalam bentuk uang untuk membeli berbagai kebutuhan dalam dunia pendidikan. Alat-alat penunjang dalam pendidikan dibutuhkan agar strategi dan metode yang telah dirancang dapat terlaksana dengan baik sehingga guru memperoleh hasil yang optimal. Alat-alat penunjang dalam dunia pendidikan ini biasanya disebut dengan perangkat pembelajaran.

Menurut Peraturan Mendiknas RI Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Proses pembelajaran perlu direncanakan, dilaksanakan, dinilai, dan diawasi agar terlaksana secara efektif dan efisien. Proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan dasar dan menengah harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Oleh karena itu, setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun perangkat pembelajaran secara lengkap dan sistematis. Berdasarkan hal tersebut, maka

(3)

3

seorang guru agama Kristen juga harus mampu menyusun perangkat pembelajaran yang baik. Perangkat pembelajaran biasanya meliputi: silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), bahan ajar seperti handout atau modul, media, dan lembar kerja siswa (LKS). Semua ini adalah perlengkapan yang sangat penting dan harus disiapkan serta diperhatikan oleh guru tidak terkecuali guru agama Kristen, karena akan memberikan pengaruh yang penting bagi suksesnya kegiatan pembelajaran.

Pendidikan menjadi salah satu kebutuhan yang penting bagi kehidupan manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tantangan dan persoalan yang mungkin dihadapi pada masa yang akan datang dapat menjadi semakin sulit tanpa adanya bekal ilmu bagi generasi penerus. Kegiatan pendidikan diharapkan harus mampu membekali peserta didik dengan kemampuan yang meliputi aspek meliputi sikap, pengetahuan dan keterampilan, agar peserta didik memiliki kecakapan yang berimbang dalam hidupnya serta mampu menjawab tantangan yang nanti akan dihadapi. Pada masa globalisasi seperti sekarang ini, terjadi banyak perubahan dalam segala bidang kehidupan manusia, termasuk juga dalam bidang pendidikan. Kemajuan teknologi yang semakin canggih berjalan dengan tempo yang sangat cepat. Hal ini memberikan dampak juga bagi perkembangan di bidang pendidikan. Perangkat pembelajaran seperti handout dan modul, serta media pendidikan harus ikut menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. Perangkat pembelajaran yang tidak menyesuaikan dengan perkembangan teknologi akan ditinggalkan bahkan sudah mulai dilupakan.

Sama seperti bidang pendidikan pada umumnya, pendidikan agama Kristen juga membutuhkan perangkat pembelajaran agar mempermudah kegiatan pembelajaran. Bahkan jika kita melihat sejarah perkembangan pendidikan Kristen, ada sebuah perangkat pembelajaran yang menjadi ciri khas pendidikan Kristen. Nama perangkat pembelajaran itu adalah katekismus. Katekismus merupakan sebuah perangkat pembelajaran sederhana yang berupa tanya-jawab mengenai pengajaran Kristen maupun doktrin yang bersumber dari Alkitab. Pendidikan Kristen dengan menggunakan katekismus sangat popular sejak masa pasca reformasi gereja. Namun, seiring perkembangan zaman, katekismus mulai ditinggalkan.

Fokus penelitian ini adalah pembahasan tentang katekismus yang di pandang sebagai perangkat pembelajaran agama Kristen yang terlupakan. Dalam artikel ini akan dibahas mengenai hakikat perangkat pembelajaran, hakikat katekismus, sejarah perkembangan katekismus, serta layak atau tidaknya katekismus jika digunakan pada pembelajaran masa kini.

METODE

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Secara harfiah, penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur kuantifikasi, perhitungan statistik, atau cara-cara lainnya yang menggunakan angka-angka. Kualitatif berarti sesuatu yang berkaitan dengan aspek kualitas, nilai atau makna yang terdapat dibalik fakta. Kualitas, nilai atau makna hanya dapat diungkapkan dan dijelaskan melalui linguistik, bahasa, atau kata-kata.1 Metode kualitatif merupakan prosedur yang

1 Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif: Teori dan Praktik, (Jakarta: Bumi Aksara, 2016),

(4)

4

menggunakan data-data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.2 Penelitian dilakukan dengan tujuan ingin mengeksplor fenomena-fenomena yang tidak dapat dikuantifikasikan, yang bersifat deskriptis seperti proses suatu langkah kerja, formula suatu resep, pengertian-pengertian tentang suatu konsep yang beragam, dan lain sebagainya.3

Penelitian kualitatif yang besifat deskriptif ini bertujuan untuk mendeskripsikan suatu objek, fenomena, atau setting sosial yang terejawantah dalam suatu tulisan yang bersifat naratif. Artinya, data dan fakta yang dihimpun berbentuk kata atau gambar daripada angka-angka. Mendeskripsikan sesuatu berarti menggambarkan apa, mengapa dan bagaimana suatu kejadian terjadi.4 Metode deskriptif sendiri berarti suatu metode penelitian yang ditunjukkan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung pada saat ini atau saat yang lampau.5 Dengan metode kualitatif deskriptif ini, peneliti akan ini akan mendeskripsikan mengenai hakikat perangkat pembelajaran, hakikat katekismus, sejarah perkembangan katekismus, serta layak atau tidaknya katekismus jika digunakan pada pembelajaran masa kini.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sejarah mencatat bahwa kekristenan memliliki sebuah perangkat pembelajaran yang menjadi ciri khas pendidikan Kristen. Perangkat pembelajaran tersebut adalah katekismus. Katekismus sendiri merupakan sebuah perangkat pembelajaran sederhana yang berupa tanya-jawab mengenai pengajaran Kristen maupun doktrin yang bersumber dari Alkitab. Katekismus sebenarnya sangat popular sejak masa pasca reformasi gereja dan digunakan dalam pendidikan Kristen baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman dan teknologi membuat katekismus mulai ditinggalkan bahkan cenderung dilupakan. Padalah, kita perlu mengkaji apakah katekismus masih cocok dengan pembelajaran masa kini atau atau tidak. Jika masih cocok, kita bisa mengembangkan sebuah model pembelajaran dengan menggunakan katekismus yang dapat digunakan bagi pendidikan Kristen, baik di gereja maupun di sekolah.

Hakikat Perangkat Pembelajaran

Perangkat pembelajaran adalah sekumpulan sumber belajar yang memungkinkan guru dan siswa melakukan kegiatan pembelajaran. Dalam Permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standard Proses Pendidikan Dasar dan Menengah disebutkan bahwa penyusunan perangkat pembelajaran merupakan bagian dari perencanaan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran dirancang dalam bentuk silabus dan RPP yang mengacu pada standar isi. Selain itu, dalam perencanaan pembelajaran juga dilakukan penyiapan media dan sumber belajar, perangkat penilaian dan skenario pembelajaran. Perangkat pembelajaran merupakan sejumlah bahan, alat, media, petunjuk dan pedoman yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Perangkat pembelajaran yang diperlukan

2 Lexi J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya. 2000), h. 3. 3 Satori, D. & Komariah, A. Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2017), h. 23 4 Ibid, h.28

5 Nana S. Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2017),

(5)

5

dalam mengelola proses belajar mengajar dapat berupa: silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar kegiatan siswa (LKS), dan modul.

Perangkat pembelajaran merupakan suatu perencanaan yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun perangkat pembelajaran yang lengkap, sistematis agar pembelajaran dapat berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpatisipasi aktif.6 Perangkat pembelajaran memiliki peranan penting bagi seorang guru sebelum memulai kegiatan pembelajaran. Dengan adanya perangkat pembelajaran, kegiatan pembelajaran akan lebih terstruktur, sistematis, efektif, aktif, dan menyenangkan. Oleh karena itu, seorang guru harus mampu menyusun dan mengembangkan perangkat pembelajaran.

Dari berbagai penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran adalah gabungan dari berbagai sumber belajar beserta alat pendukung pembelajaran yang akan digunakan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Dengan menggunakan perangkat pembelajaran, seorang guru akan lebih mudah melaksanakan kegiatan pembelajaran sehingga kegiatan menjadi lebih terstruktur, sistematis, efektif, aktif, dan menyenangkan. Hasilnya diharapkan dapat meningkatkan minat siswa untuk belajar sehingga terjadi peningkatan pada ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.

Hakikat Katekismus

Istilah katekismus berkaitan dengan kata kerja Yunani katekhein, yang berarti ‘memberitahukan dari atas (panggung, mimbar) ke bawah', juga dapat berarti 'mengajarkan'. Katekhein ini menjadi istilah baku yang mengacu ke kegiatan membimbing masuk anggota baru ke dalam iman Kristen, apakah mereka orang dewasa yang baru menjadi percaya, atau anak-anak yang telah dibaptis tetapi masih perlu menerima pengajaran. Seiring perkembangannya, Yohanes Calvin menjelaskan bahwa katekismus merupakan rumus untuk mengajarkan agama Kristen kepada anak-anak, yang disusun dengan memakai pola dialog: pelayan mengajukan pertanyaan, dan anak menjawab.7 Katekismus adalah suatu ringkasan atau uraian dari doktrin yang umum digunakan dalam pengajaran agama Kristen (katekisasi), baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Katekismus adalah petunjuk doktrin yang sering kali berbentuk tanya-jawab untuk dihafalkan; sebuah format yang digunakan pula dalam konteks non-keagamaan atau sekular misalnya

frequently asked questions yang biasa disingkat dengan FAQ.8

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa katekismus adalah panduan pengajaran Kristen yang disusun dalam bentuk pertanyaan dan jawaban. Biasanya pertanyaan dan jawaban ini menjadi hafalan dalam kegiatan pengajaran Kristen bagi anak-anak maupun orang dewasa. Akan tetapi format katekismus yang berupa pertanyaan dan jawaban ini digunakan pula dalam konteks non keagamaan atau

6 Kunandar, Penilaian Autentik: Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum

2013, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014), h. 6.

7 (Katekismus Jenewa, https://reformed.sabda.org/katekismus_jenewa_1542)

(6)

6

sekular. Hal ini dapat dilihat pada frequently asked questions (FAQ) yang memiliki format pertanyaan dan jawaban.

Sejarah Perkembangan Katekismus

Katekismus pada dasarnya berbentuk daftar pertanyaan dan jawaban yang digunakan dalam pengajaran Kristen. Pengajaran itu biasanya diberikan secara lisan. Memang ada pembimbing tertulis (kitab 'Didache', yang ditulis sekitar tahun 100, dan 'pengajaran pertama kepada para calon anggota Gereja' karangan Augustinus), tetapi tulisan itu tidak mendapat status resmi. Luther yang pertama kali menerbitkan katekismus dalam arti buku pelajaran yang membahas pokok-pokok iman Kristen yang dengan sistematis, dan yang umum dipakai sebagai pedoman dalam pengajaran iman. Katekismus Besar dan Kecil karangan Luther menjadi buku katekisasi di seluruh Gereja Lutheran. Akan tetapi, karena Reformasi beraneka ragam, dan menekankan pemakaian bahasa nasional, maka muncullah sejumlah besar katekismus lain. Katekismus Jenewa (Katekismus Calvin, 1573/1542) diterima umum di gereja-gereja Calvinis berbahasa Perancis. Katekismus Anglikan (1549) ditujukan kepada Gereja Nasional Kerajaan Inggris. Katekismus Heidelberg (1563) menjadi pedoman pengajaran agama dan kitab pengakuan iman dalam gereja-gereja Calvinis berbahasa Jerman dan Belanda. Dan Katekismus Westminster, yang Besar dan yang Kecil (1647), sampai sekarang berwibawa besar dalam Gereja-gereja Calvinis berbahasa Inggris. Gereja Katolik Roma pun pada zaman itu menerbitkan katekismus resmi sendiri, yaitu Catechismus Romanus (1566), yang merupakan buku pedoman untuk kaum klerus.

Katekismus Jenewa (1542)9

Katekismus Jenewa merupakan karya Yohanes Calvin. Pada tahun 1541 Calvin dipanggil pulang dari kota Straatsburg ke Jenewa. Pemerintah kota telah mengusir dia tiga tahun sebelumnya, karena perselisihan paham mengenai cara melaksanakan reformasi agama di kota itu. Setibanya di Jenewa Calvin cepat-cepat menyusun tiga dokumen pokok, yakni tata gereja, tata kebaktian (lihat di depan, no. 12 dan 15), dan kitab katekismus. Calvin hanya bersedia kembali mengemban pelayanan pendeta di 'kota seram' itu kalau tata gereja dan katekismus itu ditandatangani oleh pemerintah kota. Memang itulah yang terjadi. Sementara ia menulisnya, pesuruh percetakan sudah datang mengambil lembar-lembarnya satu-satu. Meskipun Katekismus Jenewa disusun tergesa-gesa. Calvin tidak sempat merevisi naskahnya. Maka naskah di bawah ini merupakan terjemahan katekismus yang ditulis Calvin pada bulan Desember 1541/Januari 1542 itu. Hanya, dalam edisi asli pertanyaan/jawaban belum memakai nomor urutan; nomor itu baru disisipkan dalam edisi tahun 1551.

Di Jenewa, Katekismus Calvin merupakan bahan pelajaran dalam kegiatan katekisasi yang berlangsung tiap-tiap hari Minggu pukul 12 dalam gedung-gedung gereja. Isinya diperkenalkan kepada anak-anak berumur 10 sampai 15 tahun, sebagai persiapan upacara sidi (lihat Tata Gereja Jenewa, pasal 40 dan 141, di depan no. 9). Pada saat melakukan sidi, anak-anak harus melafalkan isi pokoknya.

(7)

7

Di samping pemakaiannya sebagai bahan katekisasi, Katekismus Jenewa berfungsi juga sebagai semacam pengakuan iman atau rumus keesaan. Sebab, pasal 7 Tata Gereja Jenewa menetapkan, 'untuk menghindari seluruh bahaya kalau-kalau orang [yaitu pendeta] yang mau diterima memegang pendapat yang salah, wajiblah ia menyatakan berpegang pada ajaran yang telah diterima resmi dalam Gereja, terutama sesuai dengan isi Katekismus'. Dengan perkataan lain, para pendeta wajib menandatangani Katekismus Calvin.

Tiga tahun kemudian (1545), Calvin menerbitkan terjemahan katekismusnya ke dalam bahasa Latin. Dengan demikian, isinya bisa juga digunakan oleh kaum teolog yang tidak menguasai bahasa Perancis. Tidak lama kemudian menyusullah edisi-edisi dalam bahasa Yunani dan Ibrani (terjemahan ke dalam bahasa Ibrani dibuat oleh seorang Kristen asal Yahudi bernama Immanuel Tremellius), Italia dan Spanyol, Inggris dan Jerman.

Katekismus Gereja Jenewa, artinya rumus untuk mengajarkan agama Kristen kepada anak-anak, yang disusun dengan memakai pola dialog: Pelayan mengajukan pertanyaan, dan anak menjawab. Oleh Yohanes Calvin. Contoh formatnya:

1. Pelayan: Apa tujuan utama kehidupan manusia? Anak: Tujuannya yang utama ialah mengenai Allah. 2. P. Mengapa engkau berkata demikian?

1. Sebab Dia telah menciptakan kita dan menempatkan kita dalam dunia ini dengan maksud supaya Dia dimuliakan di dalam kita. Memang wajarlah kita mengarahkan hidup kita ke kemuliaan-Nya, sebab Dia awal mulanya.

Katekismus Heidelberg10

Katekismus Heidelberg disusun oleh panitia yang diangkat oleh Friedrich III, Raja Kurpfalz, salah satu daerah otonorn di bagian barat kekaisaran Jerman, dengan ibukota Heidelberg. Raja Friedrich ingin melanjutkan reformasi gereja di daerahnya, yang telah dimulai oleh raja terdahulu. Pada tahun 1562 dua teolog muda anggota panitia, yaitu Zacharius Ursinus dan Caspar Olevianus, menyusun rancangan, yang pada awal 1563 disahkan oleh Sinode Gereja daerah Pfalz. Pada tahun itu juga terbit edisi kedua dan ketiga. Dalam cetakan ketiga disisipkan kalimat yang dengan kata-kata tajam menolak ajaran transsubstansiasi, yang telah dijadikan ajaran resmi Gereja Katolik Roma pada tahun 1215 dan yang ditegaskan lagi oleh Konsili Trente pada tahun 1562, disertai ucapan kutuk atas semua orang yang menganut pandangan Protestan (lihat nr. 80).

Kebetulan, pada masa terbitnya Katekismus Heidelberg, di daerah Pfalz tinggal sejumlah pengungsi dari Negeri Belanda. Di negeri sendiri aliran Protestan masih tertindas, tetapi mereka disambut hangat oleh Raja Pfalz. Salah seorang pendeta Belanda segera menerjemahkan Katekismus ke dalam bahasa Belanda. Beberapa tahun kemudian, Sinode-sinode Gereja Belanda menerima edisi Belanda itu menjadi kitab katekisasi yang resmi, dan mewajibkan semua pelayan gereja menyatakan persetujuan mereka dengan menandatangani kitab itu. Dengan demikian, Katekismus Heidelberg menjadi salah satu karangan pengakuan iman Gereja Belanda, di samping Pengakuan Iman Belanda (1561) dan Kelima Pasal Melawan

(8)

8 Orang Remonstran (1619). Isinya tidak hanya diajarkan kepada anak-anak (di sekolah), tetapi dijadikan juga bahan khotbah dalam kebaktian sore.

Ketika orang Belanda datang ke Indonesia, mereka membawa serta kitab katekismus mereka. Pada tahun 1623, kitab itu pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh pdt. Seb. Danckaerts.' Tetapi Katekismus itu agak panjang. Maka, sama seperti di Negeri Belanda sendiri, beredar juga versi lebih singkat ('Tiksar'). Dalam abad ke-19 dan ke-20 sebagian kecil para utusan Injil Belanda dan para pendeta Gereja Protestan tetap memakai Katekismus Heidelberg sebagai pedoman katekisasi. Tetapi biasanya mereka memakai bahan lain, yaitu terjemahan kitab katekisasi yang baru dari Negeri Belanda atau karangan yang mereka susun sendiri. Yang tetap memakai Katekismus Heidelberg terutama Zending Gereformeerde Kerken di Jawa Tengah dan Sumba, dan badan-badan serumpun di beberapa daerah lain, a.1. di Sulawesi Selatan dan di pedalaman Irian Jaya. Namun, sejumlah besar gereja Indonesia menyebut Katekismus Heidelberg dalam tata gereja mereka sebagai salah satu karangan teladan dalam upaya merumuskan iman Kristen.

Katekismus Heidelberg di awali dengan kalimat Katekismus atau Pengajaran Kristen Sebagaimana Diberikan dalam Gereja dan Sekolah di Negeri Belanda. Contoh formatnya seperti berikut ini:

Minggu ke-1

1. Pert. Apakah satu-satunya penghiburan Saudara, baik pada masa hidup maupun pada waktu mati?

Jaw. Bahwa aku, dengan tubuh dan jiwaku, baik pada masa hidup maupun pada waktu mati (a), bukan milikku (b), melainkan milik Yesus Kristus, Juruselamatku yang setia (c). Dengan darah-Nya yang tak ternilai harganya Dia telah melunasi seluruh utang dosaku (d) dan melepaskan aku dari segala kuasa iblis (e). Dia juga memelihara aku (f), sehingga tidak sehelai rambut pun jatuh dari kepalaku di luar kehendak Bapa yang ada di sorga (g), bahkan segala sesuatu harus berguna untuk keselamatanku (h). Karena itu juga, oleh Roh-Nya yang Kudus, Dia memberiku kepastian mengenai hidup yang kekal (i), dan menjadikan aku sungguh-sungguh rela dan siap untuk selanjutnya mengabdi kepada-Nya (j).

(a) Rom 14:7-8. (b) 1Ko 6:19. (c) 1Ko 3:23. (d) 1Pe 1:18- 19. (e) 1Yo 3:8b. (f) Yoh 6:39. (g) Mat 10:30. (h) Rom 8:28. (i) 2Ko 1:22. (j) Rom 8:14.

2. Pert. Berapa pokok yang perlu Saudara ketahui, supaya dengan penghiburan ini Saudara hidup dan mati dengan bahagia?

Jaw. Tiga pokok (a). Pertama. betapa besarnya dosa dan sengsaraku (b). Kedua, bagaimana aku mendapat kelepasan dari semua dosa dan sengsaraku (c). Ketiga, bagaimana aku harus bersyukur kepada Allah atas kelepasan yang demikian itu (d).

(a) Maz 130:3-4. (b) Rom 7:24-25. (c) Mat 11:28. (d) Kol 1:12. Ikhtisar Agama Kristen (1607)11

Ikhtisar Agama Kristen ini disusun pada tahun 1607 oleh seorang pendeta Belanda bernama Herman Faukelius, dan pada dasarnya merupakan ikhtisar

(9)

9 Katekismus Heidelberg. Majelis Gereja di kota Middelburg (Belanda) menerimanya sebagai pedoman untuk memeriksa orang yang mohon diterima pada Perjamuan Kudus.

Sinode Nasional di Dordrecht (1618-1619) menganjurkan supaya kitab katekismus yang singkat ini dipakai sebagai pedoman bagi orang yang tidak sanggup memahami isi Katekismus Heidelberg. Maka sejak tahun 1637 karangan ini dimuat dalam Buku Gereja bersama Katekismus Heidelberg. Namun, statusnya tidak sama dengan Katekismus itu, sebab Sinode tidak mengakuinya sebagai karangan pengakuan iman yang resmi. Ikhtisar Agama Kristen dipergunakan secara khusus untuk mengajar orang-orang dewasa yang ingin menjadi anggota gereja.

Di Indonesia pada abad ke-17 dan ke-18 dipakai terjemahan Ikhtisar ini ke dalam bahasa Melayu, yang sekitar tahun 1680 disusun oleh Pdt. Melchior Leydecker. Di samping itu dalam abad ke-17 dipakai juga kitab katekismus sederhana yang lain, yang dikarang oleh seorang bangsawan yang bukan teolog profesional, yaitu Marnix van Sint-Aldegonde. Karangan itu diterjemahkan pada tahun 1602 oleh seorang pegawai VOC, dan selama beberapa waktu dipakai a.1. di Ambon.2

Contoh formatnya sebagai berikut:

67. Pert. Pertobatan manusia mencakup bagian-bagian apa?

Jaw. Pertobatan mencakup: penyesalan (a) yang ikhlas karena dosa dan usaha menjauhkan diri darinya (b), kesukaan yang sungguh (c) akan segala perbuatan baik (d), dan pelaksanaan dari perbuatan itu.

(a) Yer 31:19. (b) Rom 6:13. (c) Rom 7:22. (d) Gal 5:25. 68. Pert. Apa itu perbuatan baik?

Jaw. Hanya perbuatan yang dilakukan berdasarkan iman yang sejati (a), sesuai dengan hukum Allah (b) dan hanya demi kemuliaan-Nya (c), bukan yang berdasarkan aturan manusia (d) atau kemauan kita sendiri (e).

(a) Rom 14:23. (b) Yeh 36:27. (c) 1Ko 10:31. (d) Mat 15:9. (e) Kol 2:23. Katekismus Kecil Westminster (1647)12

Katekismus ini dipersiapkan oleh Sinode Westminster, yang terkumpul di kota London pada tahun 1647, setelah Parlemen Presbiterian berhasil mengalahkan Raja Charles I. Hampir semua gereja dari rumpun Presbiterian (Gereja Calvinis berbahasa Inggris) dan Kongregasionalis menerimanya menjadi buku Katekimus mereka, sehingga 'Westminster Shorter Catechism' ini merupakan kitab katekisasi yang paling luas dipakai dalam lingkungan Gereja-gereja Protestan di samping Katekismus Kecil karangan Luther dan Katekismus Heidelberg.

Contoh formatnya adalah sebagai berikut: 1. Pert. Apa tujuan umat manusia?

Jaw. Tujuan utama manusia ialah memuliakan Allah," dan bersukacita di dalam Dia untuk selama-lamanya.

a. 1Ko 10:31; Rom 11:36. b.Maz 73:25-28.

12 (Katekismus Kecil Westimenster,

(10)

10 2. Pert. Apa pedoman yang Allah berikan kepada kita untuk menunjukkan

kepada kita cara memulihkan Dia dan bersukcita di dalam Dia?

Jaw. Firman Allah, yang tercantum dalam Kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, adalah pedoman satu-satunya yang menunjukkan kepada kita cara memuliakan Dia dan bersukacita di dalam Dia.

a. 2Ti 3:16; Efe 2:20. b. 1Yo 1:3-4

Katekismus Besar Westminster (1647)13

Selain pengakuan iman, Sinode Westminster menghasilkan juga tata kebaktian, tata gereja, dan dua kitab katekismus. Katekismus Besar selesai dalam bulan Oktober 1647, Katekismus Kecil menyusul satu bulan kemudian. Keduanya diterima secara resmi oleh Gereja Skotlandia dalam tahun 1648.

Contoh formatnya adalah sebagai berikut:

4. Pert. Bagaimana ternyata Alkitab itu Firman Allah?

Jaw. Alkitab menunjukkan dirinya adalah Firman Allah melalui keluhuran dan kemurniannya,[b] melalui keselarasan semua bagiannya[c] dan tujuan keseluruhannya (yakni memberi segala kemuliaan kepada Allah[d]), serta melalui cahaya terangnya dan kekuatannya dalam hal meyakinkan orang-orang berdosa dan membuat mereka bertobat, serta menghibur dan membangun orang-orang percaya demi keselamatan.[e] Akan tetapi, hanya Roh Allah, yang melalui dan bersama Alkitab memberi kesaksian tentangnya dalam hati manusia, dapat meyakinkannya sepenuhnya bahwa Alkitab itu adalah Firman Allah sendiri.[f]

a. Hos 8:12; 1Ko 2:6-7,13; Maz 119:18,129. b. Maz 12:6; 119:140. c. Kis 10:43; 26:22. d. Rom 3:19,27. e. Kis 18:28; Yak 1:18; Maz 19:7-9; Rom 15:4; Kis 20:32. f. Yoh 16:13-14; 20:31; 1Yo 2:20,27; Yoh 20:31.

5. Pert. Apa yang terutama diajarkan oleh Kitab-kitab Suci?

Jaw. Alkitab terutama mengajarkan dua hal, yaitu apa yang seharusnya manusia percayai tentang Allah, dan apa tugas kewajiban yang pelaksanaannya Allah tuntut dari manusia.[a]

a. 2Ti 1:13.

Jika kita mengamati beberapa format katekismus di atas, maka kita dapat melihat bahwa pada umumnya katekismus memiliki format berupa daftar pertanyaan dan jawaban. Pada bagian akhir biasanya disematkan ayat Alkitab yang berisi penjelasan mengenai jawaban atas pertanyaan yang tertulis. Format katekismus yang berupa pertanyaan dan jawaban ini, layak dicoba untuk diterapkan dalam pendidikan Kristen pada masa kini.

Format Katekismus (berupa pertanyaan dan jawaban) pada Masa Kini

Dari berberapa contoh di atas, jelas terlihat bahwa katekismus merupakan buku yang berisi pertanyaan dan jawaban. Memang pada awalnya katekismus

13 (Katekismus Besar Wesrimenster,

(11)

11

hanya digunakan pada pembelajaran Kristen. Namun, format katekismus ini telah diadopsi dalam berbagai bidang. Contoh format dari katekismus ini dapat kita lihat pada frequently asked questions (FAQ) atau Questions and Answers (Q&A).

Soal sering ditanya atau pertanyaan umum (bahasa Inggris: frequently asked

questions (FAQ) atau Questions and Answers (Q&A) adalah daftar pertanyaan dan jawaban yang sering ditanyakan dalam suatu konteks dan tentang topik tertentu. Format soal sering ditanya ini sering kali digunakan pada milis atau forum daring lainnya, di mana pertanyaan sering diajukan. Milis adalah grup diskusi di Internet di mana setiap orang bisa berlangganan dan ikut serta di dalamnya. Anggota milis dapat membaca surat dari orang lain dan kemudian mengirimkan balasannya. Dalam beberapa kasus tertentu, walaupun berkas soal sering ditanya tidak disusun seperti biasanya (daftar pertanyaan-jawaban), tetap disebut soal sering ditanya (FAQ). Contohnya di permainan video, di mana soal sering ditanya berisikan keterangan mendetail tentang peraturan permainan, tip dan trik, rahasia, dan panduan dari awal sampai akhir.14

Dari uraian ini kita bisa melihat bahwa ternyata format katekismus (dalam bentuk pertanyaan dan jawaban) dapat digunakan dalam berbagai bidang. Format katekismus pada masa kini dibuat dalam bentuk frequently asked questions (FAQ) atau Questions and Answers (Q&A). Tujuannya untuk mempermudah penggunaan perangkat serta memahami teknis pelaksanaan suatu kegiatan.

Apakah format katekismus masih layak pada pembelajaran masa kini?

Pada hakikatnya pembelajaran merupakan suatu proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran atau media tertentu ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran atau media, dan penerima pesan adalah komponen-komponen proses komunikasi. Pesan yang akan dikomunikasikan adalah isi ajaran ataupun didikan yang terdapat dalam kurikulum, sumber pesannya adalah guru, siswa, orang lain, penulis buku, salurannya adalah media pembelajaran, dan penerima pesan adalah pebelajar.15 Dalam menerapkan format katekismus pada pembelajaran masa kini, tentunya guru memerlukan media pembelajaran dan metode yang tepat.

Media pembelajaran adalah alat, sarana, perantara, dan penghubung untuk menyebar, membawa atau menyampaikan sesuatu pesan (message) dan gagasan, sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perbuatan, minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi pada diri siswa.16 Media sebagai suatu komponen sistem pembelajaran, mempunyai fungsi dan peran yang sangat vital bagi kelangsungan pembelajaran. Itu berarti bahwa media memiliki posisi yang strategis sebagai bagian integral dari pembelajaran. Integral dalam konteks ini mengandung pengertian bahwa media itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembelajaran. Tanpa adanya media, maka pembelajaran tidak akan

14 (FAQ, https://id.wikipedia.org/wiki/Soal_sering_ditanya, Wikipedia).

15 Evi Fatimatur Rusidiyah, Media Pembelajaran: Implementasi untuk Anak di Madrasah

Ibtidaiyah, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel, 2017), h. 11.

16 Ani Cahyadi, Pengembangan Media dan Sumber Belajar: Teori dan Prosedur, (Serang:

(12)

12

pernah terjadi. Jenis-jenis media menurut Rudy Brets dalam Cahyadi17 yaitu: 1) Media audio visual diam, seperti: slide. 2) Audio semi gerak, seperti: tulisan bergerak bersuara. 3) Media visual bergerak, seperti: Film bisu. 4) Media visual diam, seperti: slide bisu, halaman cetak, foto. 5) Media audio, seperti: radio, telephon, pita audio. 6) Media cetak, seperti: buku, modul. Dengan begitu banyaknya media pembelajaran yang ada, guru bisa mengemas pembelajaran dengan katekismus menggunakan media cetak seperti buku maupun modul, bahkan bisa mengemas katekismus dalam bentuk video pembelajaran. Seiring berkembangnya teknologi, ada juga media baru yang semakin populer seperti hypermedia. Hypermedia adalah sistem pengambilan informasi berbasis komputer yang tidak hanya menggunakan teks sebagai penghubung ke dokumen lain, tetapi juga bisa melibatkan gambar suara dan bahkan video.18 Guru dapat mengemas katekismus dengan menggunakan hypermedia. Contoh hypermedia yang menggunakan prinsip katekismus yaitu aplikasi Brainly.

Metode pembelajaran adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.19 Metode pembelajaran merupakan prosedur, urutan, langkah-langkah, dan cara yang digunakan guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran.20 Karena format katekismus berupa pertanyaan dan jawaban, maka metode pembelajaran yang paling cocok dipadukan dengan katekismus yaitu metode tanya jawab. Metode tanya jawab adalah suatu cara penyampaian pelajaran oleh guru dengan jalan mengajukan pertanyaan dan murid menjawab. Metode ini dimaksudkan untuk menjajaki sejauh mana siswa telah memiliki pengetahuan dasar mengenai materi yang akan dipelajari, memusatkan perhatian siswa serta melihat sejauh mana kemajuan yang telah dicapai oleh siswa. Metode ini juga dimaksudkan untuk merangsang perhatian siswa. Dengan demikian, metode ini dapat digunakan sebagai apersepsi, pemusatan perhatian, dan evaluasi.21

Menurut Zuhairini dalam Helmiati22, penggunaan metode tanya jawab dapat dinilai sebagai metode yang cukup wajar dan tepat, apabila penggunaannya dipergunakan untuk:

1) Merangsang agar perhatian anak terarah pada suatu bahan pelajaran yang sedang dibicarakan.

2) Mengarahkan proses berfikir dan pengamatan anak didik.

3) Meninjau atau melihat penguasaan anak didik terhadap materi/bahan yang telah diajarkan sebagai bahan pertimbangan untuk melanjutkan materi berikutnya

4) Melaksanakan ulangan, evaluasi dan memberikan selingan dalam ceramah Metode tanya jawab mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan metode lainnya di samping terdapat kelemahan-kelemahannya. Kelebihan metode tanya jawab terletak pada: Suasana kelas lebih hidup karena murid-murid berpikir

17 Ibid, h. 46.

18 Ani Cahyadi, Pengembangan Media dan Sumber Belajar: Teori dan Prosedur, (Serang:

Laksita Indonesia, 2019), h. 124.

19 S. B. Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: Rineka Cipta, 2008), h. 46. 20 Helmiati, Model Pembelajaran, (Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2012), h. 57. 21 Ibid, h. 70.

(13)

13

aktif. Sangat positif untuk melatih anak untuk berani mengemukakan pendapat secara lisan dan teratur. Siswa yang biasanya malas memperhatikan menjadi lebih hati-hati dan sungguh-sungguh mengikuti pelajaran. Walaupun pelajaran berjalan agak lambat tetapi guru dapat melakukan control terhadap pemahaman murid. Sedangkan kelemahan metode tanya jawab terdapat apabila terjadi perbedaan pendapat/jawaban maka akan terjadi perdebatan sengit sehingga memakan waktu banyak untuk menyelesaikan, terkadang murid mengalahkan pendapat guru. Kemungkinan timbul penyimpangan dari pokok persoalan. Memakan waktu yang lama untuk merangkum bahan pelajaran. Namun jika metode tanya jawab ini dipadukan dengan katekismus yang memiliki penjelasan yang rinci serta sumber yang kredibel, perbedaan pendapat akan dapat terhindarkan.

Katekismus Pendidikan Kristen: Pemanfaatan Format Katekismus dalam Pembelajaran PAK pada Masa Kini

Format katekismus yang dibentuk dengan model pertanyaan dan jawaban ternyata masih cukup layak digunakan pada pembelajaran masa kini. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika dikembangkan sebuah model pembelajaran PAK dengan menggunakan format katekismus yang bisa kita sebut sebagai Katekismus Pendidikan Kristen. Guru bisa membentuk daftar pertanyaan beserta jawaban dalam sebuah modul pembelajaran. Daftar pertanyaan dan jawaban tentunya bersumber dari buku PAK dan Budi Pekerti Kurikulum 2013 Kemdikbud RI, Alkitab dan berbagai sumber lainnya, serta tetap mengacu pada Kompetensi Inti yakni: KI1: Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya. KI2: Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, santun, percaya diri, peduli, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, dan kawasan regional. KI3: Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat teknis dan spesifik sederhana berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, dan kenegaraan terkait fenomena dan kejadian tampak mata. KI4: Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, dan komunikatif, dalam ranah konkret dan ranah abstrak sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang teori.

Dalam penyusunan modul dengan bentuk Katekismus Pendidikan Kristen, guru sebaiknya tetap memperhatikann cakupan kompetensi dalam Kurikulum 2013 yang meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Tiga aspek cakupan kompetensi dirumuskan dan dipilah secara eksplisit, baik pada standar kompetensi lulusan (SKL), Kompetensi Inti (KI), maupun kompetensi dasar (KD). SKL telah dirumuskan menurut aspek sikap (attitude), keterampilan (skills), dan pengetahuan (knowledge). Pada setiap materi pokok tertentu terdapat rumusan KD untuk setiap aspek KI. Jadi, untuk suatu materi pokok tertentu, muncul empat KD sebagai berikut: KD pada KI I, meliputi aspek sikap terhadap Tuhan. KD pada KI II, meliputi aspek sikap terhadap diri sendiri dan lingkungannya. KD pada KI III, meliputi aspek pengetahuan KD pada KI IV, meliputi aspek keterampilan.

(14)

14

Selain mengembangkan modul yang perdasarkan prinsip katekismus, guru juga bisa memanfaatkan media pembelajaran audio visual yang berupa video. Video pembelajaran memuat daftar pertanyaan dan jawaban yang bersumber dari buku PAK & Budi Pekerti serta Alkitab harus dikemas secara menarik. Bahkan guru juga bisa memanfaatkan aplikasi tik-tok untuk membuat video pendek berisi pertanyaan dan jawaban seputar materi pembelajaran yang dapat dikirim kepada siswa. Untuk daerah yang memiliki jaringan internet, dapat memanfaatkan aplikasi Brainly sebagai media pembelajaran dan aplikasi Quiziz untuk melakukan evaluasi.

Dengan melakukan pembelajaran menggunakan Katekismus Pendidikan Kristen, diharapkan juga dapat terjadi pembentukan karakter terhadap siswa. Beberapa pendekatan yang dapat dikembangkan menurut Linda & Lyre, dalam Sijabat, di antaranya adalah pemberian pujian dan ingatan. Pemberian pujian dilakukan dengan memberikan pujian dan dukungan kepada anak yang mampu menjawab pertanyaan, bercerita, serta berperilaku baik. Ingatan yaitu menghafalkan kata-kata mutiara atau pernyataan orang-orang terkenal.23 Dalam hal memberikan pujian, ketika anak melakukan tugasnya dengan baik, orangtua di rumah patut memberikan pujian untuk menguatakan pemahaman, sikap dan perbuatan itu. Hal serupa dapat dilakukan guru di sekolah, ketika mendengar anak menyampaikan pendapat dengan baik dan benar. Berhungungan dengan ingatan, prinsip ini dapat diterapkan dalam menghafalkan ayat-ayat firman Tuhan (Alkitab), karena Firman Tuhan berkuasa mengubah sikap dan perilaku (2 Tim. 3:16). Di sekolah, anak didik dapat dimotivasi untuk menuliskan atau bahkan menciptakan kata-kata bijak kemudian dibagikan kepada teman-teman di kelas (Ilat &Lumi, 2020: 30).24

Dari pendekatan di atas maka dalam pembelajaran menggunakan Katekismus Pendidikan Kristen, guru harus memberikan pujian kepada siswa yang mampu menjawab pertanyaan dengan baik. Selain itu, sangat penting bagi guru agama Kristen untuk menyematkan ayat Alkitab yang sesuai dengan materi pembelajaran, untuk dijadikan ayat hafalan. Dengan ayat hafalan ini, diharapkan dapat merubah perilaku siswa menjadi lebih baik.

Kesimpulan

Katekismus adalah suatu ringkasan atau uraian dari doktrin yang umum digunakan dalam pengajaran agama Kristen (katekisasi), baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Katekismus juga merupakan petunjuk doktrin yang sering kali berbentuk tanya-jawab untuk dihafalkan Format atau prinsip katekismus yang dalam bentuk pertanyaan dan jawaban digunakan pula dalam konteks non-keagamaan atau sekular.

Format katekismus (dalam bentuk pertanyaan dan jawaban) dapat digunakan dalam berbagai bidang. Pada masa kini, format katekismus ini ada yang dibuat dalam bentuk frequently asked questions (FAQ) atau Questions and Answers (Q&A). Tujuannya untuk mempermudah penggunaan perangkat serta memahami teknis pelaksanaan suatu kegiatan.

23 B.S. Sidjabat, Membangun Pribadi Unggul, (Yogyakarta: Andi, 2011).

24 P. I. Ilat, & D. R. N. Lumi, Pembentukkan Karakter Remaja Kristen Melalui Pembelajaran

Daring Pada Mata Pelajaran PAK di SMP Kristen Eben Haezar 2 Manado. Jurnal Didaskalia Prodi

(15)

15

Format katekismus yang dibentuk dengan model pertanyaan dan jawaban ternyata masih cukup layak digunakan pada pembelajaran masa kini. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika dikembangkan sebuah model pembelajaran PAK dengan menggunakan format katekismus. Guru bisa membentuk daftar pertanyaan beserta jawaban dalam sebuah modul pembelajaran. Daftar pertanyaan dan jawaban tentunya bersumber dari buku PAK dan Budi Pekerti Kurikulum 2013 Kemdikbud RI dan Alkitab, serta tetap mengacu pada Kompetensi Inti. Selain mengembangkan modul yang perdasarkan prinsip katekismus, guru juga bisa memanfaatkan media pembelajaran audio visual yang berupa video maupun media berbasis internet. Saran

Penelitian ini sebaiknya dilanjutkan dengan melakukan penelitian pengembangan untuk mengembangkan modul pembelajaran berdasarkan katekismus pendidikan Kristen yang bersumber dari buku PAK dan Budi Pekerti Kurikulum 2013 Kemdikbud RI dan Alkitab. Bisa juga dilakukan pengembangan media pembelajaran audio visual dengan memuat isi katekismus pendidikan Kristen. Setelah dihasilkan produk berupa modul pembelajaran PAK atau media pembelajaran PAK, bisa juga dilanjutkan dengan penelitian tindakan kelas (PTK) untuk menguji efektivitas dari modul atau media bagi perkembangan siswa.

Daftar Pustaka

Cahyadi, Ani. (2019). Pengembangan Media dan Sumber Belajar: Teori dan

Prosedur. Serang: Laksita Indonesia

Depdiknas. (2007). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia

Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta.

Djamarah, S. B. (2008). Strategi belajar Mengajar. Bandung: Rineka Cipta. Gunawan, Imam. (2016). Metode Penelitian Kualitatif: Teori dan Praktik.

Jakarta: Bumi Aksara

Helmiati. (2012). Model Pembelajaran. Yogyakarta: Aswaja Pressindo

Ilat, P. I. & Lumi, D. R. N. (2020). Pembentukkan Karakter Remaja Kristen Melalui Pembelajaran Daring Pada Mata Pelajaran PAK di SMP Kristen Eben Haezar 2 Manado. Jurnal Didaskalia Prodi PAK. 01 (02): Minahasa: Institut Agama Kristen Negeri Manado.

Kemdikbud. (2013). Permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standard

Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta.

Kunandar. (2014). Penilaian Autentik: Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik

Berdasarkan Kurikulum 2013. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Moleong, Lexy J. (2000). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Rusydiyah, Evi Fatimatur. (2017). Media Pembelajaran: Implementasi untuk

Anak di Madrasah Ibtidaiyah. Buku Perkuliahan Program S-1 Jurusan

Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Sunan Ampel Surabaya. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Satori, D. & Komariah, A. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:

Alfabeta

(16)

16

Sukmadinata, Nana S. (2017). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Undang-undang R!. (2003). Undang-undang Republik Indonesia nomor 20

tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta.

Sumber Lainnya

Ikhtisar Agama Kristen,

https://reformed.sabda.org/ikhtisar_agama_kristen_1607. SOTERI.

Diakses 21 Maret 2021.

Katekismus. https://id.wikipedia.org/wiki/Katekismus#Katekismus_sekular. Wikipedia. Diakses 20 Maret 2021.

Katekismus Besar Westimenster.

https://reformed.sabda.org/katekismus_besar_westminster_1647, SOTERI. Diakses 21 Maret 2021.

Katekismus Heidelberg,

https://reformed.sabda.org/katekismus_heidelberg_1563. SOTERI.

Diakses 21 Maret 2021.

Katekismus Jenewa, https://reformed.sabda.org/katekismus_jenewa_1542. SOTERI. Diakses 21 Maret 2021.

Katekismus Kecil Westimenster,

https://reformed.sabda.org/katekismus_kecil_westminster_1647. SOTERI,

FAQ. https://id.wikipedia.org/wiki/Soal_sering_ditanya. Wikipedia. Diakses 22 Maret 2021.

Referensi

Dokumen terkait

Penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) tahun 2015 sesuai dengan amanah Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang pelaksanaan Peraturan Pemerintah No

Hasil terbaik dari Delignifikasi pulping kulit buah kakao adalah α -Sellulosa tertinggi sebesar 52,78 %, % yield tertinggi sebesar 69,82 % dan % air terendah. sebesar 30,18 %

Pemeliharaan pencegahan adalah kegiatan pemeliharaan atau perawatan yang dilakukan untuk mencegah timbulnya kerusakan-kerusakan yang tidak terduga dan menentukan kondisi

Pada pengujian 5C4 dapat disimpulkan bahwa rata-rata akurasi tertinggi pengujian 4 parameter atau 5C4 adalah 78,75% pada kombinasi parameter A,B,C,D dengan rata-rata waktu

MENINGKATKAN KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA MELALUI PENERAPAN MODEL ADVANCE ORGANIZER. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |

Koefisien Korelasi (R) antara Variabel Bebas Panjang Lengan (X1) terhadap Variabel Terikat Servis Bawah Bola Voli(Y) .... Koefisien Korelasi (R) antara Variabel Bebas Power

Raja, seperti yang kita lihat seiringan rombongan Bapak Raja yang datang dari kota Medan ke Takengon ini mudah-mudahan tidak ada halangan, dapat dikatakan sudah

Penggunaan sistem operasi Microsoft windows xp banyak dipakai oleh setiap orang, hal ini disebabkan karena kemudahan dan penggunaanya yang begitu mudah dipelajari oleh orang