BAB II KAJIAN PUSTAKA. Ada beberapa hal yang akan diuraikan dalam hal ini, yaitu:

Teks penuh

(1)

13

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pembahasan Metode Ummi 1. Pengertian metode Ummi

Ada beberapa hal yang akan diuraikan dalam hal ini, yaitu: a. Pengertian Metode

Metode pembelajaran adalah “cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran.”15 Metode berasal dari bahasa Yunani yaitu kata “meta” dan “hodos” berarti cara atau rencana untuk melakukan sesuatu. Metode adalah cara yang teratur dan berpikir untuk mencapai suatu maksud.16 Sedangkan dalam bahasa arab metode dikenal sebagai istilah thariq yang berarti jalan atau cara. Bila metode dihubungkan dengan pendidikan, maka metode ini harus diwujudkan dalam rangka mengembangkan sikap mental dan kepribadian agar peserta didik menerima pelajaran dengan mudah, efektif, dan dapat dicerna dengan baik.17

Sedangkan bila ditinjau dari segi istilah metode telah banyak dikemukakan oleh pakar pendidikan sebagaimana telah dipaparkan berikut ini:

15 Nana Sudjana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.(Bandung: Remaja

Rosdakarya, 2005). Hal. 76

16 Anika Erlina Arindawati, dan Hasbullah Huda, Beberapa Alternatif Pembelajaran di Sekolah Dasar,

(Malang: Banyu Publishing , 2004), hal. 39

(2)

14

1) Menurut Hamdani, metode merupakan cara yang dipergunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. 18

2) Menurut departemen nasional metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan sewaktu kegiatan guna mencapai tujuan yang di tentukan.19

3) Menurut Ngalimun metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran.20

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian metode secara terminologis adalah suatu cara, jalan dan tehnik yang digunakan pendidik untuk menyampaikan materi pada peserta didik agar dapat mencapai tujuan pembelajaran, sehingga memperoleh hasil yang efektif dan efisien.

b. Pengertian Ummi

Metode ummi merupakan metode yang di gunakan dalam pembelajaran membaca al-Qur’an. Metode ummi di sini untuk anak pra sekolah, yaitu metode yaitu metode yang di analogikan kepada ibu (umi), artinya metode ini merupakan metode belajar membaca yang mengikuti kata-kata ibu misalnya belajar membaca kata “sajada”, maka dalam mengejanya adalah langsung per suku kata (sa-ja-da). Anak tidak di kenalkan dengan mengeja perhuruf (s-a-j-a- d-a).21

Metode Ummi adalah salah satu metode membaca Al-Qur’an yang langsung memasukkan dan mempraktekkan bacaan tartil

18 Hamdani, Strategi Belajar Mengajar, Bandung: CV Pustaka Setia, 2011), hal. 80 19 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai

Pustaka, 2003), hal. 740

20 Ngalimun, Strategi dan Model Pembelajaran. (Yogyakarta: Aswaja Pressindo,2014),hal.

14

21 Dari Artikel dalam Internet: Ummi Malang. Membangun Generasi Qur’ani. Lihat di

file:///D:/seputar%20ummi/Apa%20itu%20metode%20Ummi%20%20%E2%80%93%20 Ummi%

(3)

15

sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Tujuan metode Ummi adalah untuk memenuhi kebutuhan bagi sekolah-sekolah atau lembaga dalam pengelolaan sistem pembelajaran Al-Qur’an yang secara menejemen mampu memberikan jaminan bahwa setiap siswa yang lulus sekolah mereka dipastikan dapat membaca Al-Qur’an dengan tartil.22

Sedangkan pendapat lainnya yaitu, metode ummi berasal dari dua kata metode dan ummi, metode bermakna cara atau teknik untuk mencapai tujuan. Sedangkan Ummi berasal dari bahasa arab dari jata ‘Ummun’ yang bermakna ibu. Kata Ummi yang ada tambahannya ya’ mutakalliim sehingga bermakna ibuku. Jadi meode Ummi artinya cara atau teknik untuk mencapai tujuan seperti cara seorang ibu mengajarkan kepada anaknya. Dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an metode Ummi menggunakan sebuah pendekatan, yaitu:

1. Metode langsung

Langsung tanpa dieja/di urai atau tidak banyak penjelasan atau dengan kata lain learning by doing, belajar dengan melakukan secara langsung.

2. Diulang-ulang

Bacaan al-Qur’an semakin kelihatan indah ketika kita mengulang-ulang ayat atau surah dalam al-Qur’an, begitu pula seorang ibu dalam

mengajarkan bahasa terhadap anaknya, keindahan dan

22 Afdal, “Implementasi Metode Ummi dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an Siswa Kelas III B Ibnu Khaldun SD Al-Firdaus Islamic SchoolSamarinda Tahun Pembelajaran 2015/2016” Vol. 1 (1). 1-9. Juni 2016, dalam http://www.academia.edu, diakses, 09

(4)

16

kemudahannya karna selalu mengulang-ulang kata-kata atau kalimat dalam situasi atau kondisi yang berbeda-beda.

3. Kasih sayang yang tulus

Kekuatan cinta dan kasih sayang seorang ibu serta kesabaran merupakan kunci sukses dalam mendidik anak, begitu pula guru al-Qur’an metode Ummi jika ingin sukses maka diharuskan untuk meneladani seirang ibu karena guru diharapkan untuk menyentuh hati pesrta didik. 23

Sehingga dapat kita fahami bahwa pembelajaran Al-Qur’an dengan menggunakan metode Ummi adalah salah satu pembelajaran yang mengkhususkan pada pengkajian terhadap materi-materi sekaligus pengaplikasian cara baca Al-Qu’an sesuai dengan ilmu tajwid, ilmu fasohah, dan juga ilmu lagu/irama untuk menyiapkan peserta didik dalam membaca Al-Qur’an malalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat akan pentingnya kemampuan membaca Al-Qur’an untuk dapat meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan Al-Qur’an sebagai kitab suci agama Islam dengan baik dan benar.

c. Motto, Visi, Misi dan Tujuan Metode Ummi 1) Motto Metode Ummi

a) Mudah, metode Ummi didesain untuk mudah dipelajari bagi siswa, mudah diajarkan bagi guru dan mudah diimplementasikan dalam pembelajaran di sekolah formal maupun non formal.

b) Menyenangkan, metode Ummi dilaksanakan melalui proses pembelajaran yang menarik dan menggunakan pendekatan

(5)

17

yang menggembirakan sehingga menghapus kesan tertekan dan rasa takut dalam belajar Al-Qur’an.

c) Menyentuh hati, para guru yang mengajarkan metode Ummi tidak sekedar memberikan pembelajaran Al-Qur’an secara material teoritik, tetapi juga menyampaikan subtansi akhlaq-akhlaq Al-Qur’an yang diimplementasikan dalam sikap-sikap pada saat proses pembelajaran berlangsung.

2) Visi metode Ummi adalah menjadilembaga terdepan dalam melahirkan generasi Qur’ani. Metode Ummi bercita-cita menjadi percontohan bagi lembaga-lembaga yang mempunyai visi sama dalam mengembangkan pembelajaran Al-Qur’an yang mengedepankan pada kualitas dan kekuatan sistem.

3) Misi metode Ummi:

a) Mewujudkan lembaga profesional dalam pengajaran Al-Qur’an yang berbasis sosial dan dakwah.

b) Membangun sistem manajemen pembelajaran Al-Qur’an yang berbasis pada mutu.

c) Menjadi pusat pengembangan pembelajaran dan dakwah Al-Qur’an pada masyarakat.

4) Tujuan metode Ummi: untuk memenuhi kebutuhan bagi sekolah-sekolah atau lembaga dalam pengelolaan sistem pembelajaran Al-Qur’an yang secara menejemen mampu memberikan jaminan bahwa setiap siswa yang lulus dari sekolah mereka dipastikan dapat membaca Al-Qur’an dengan tartil.

24

B. Pembelajaran Al-Qur’an

Ada beberapa hal yang akan dibahas dalam bagian ini, yaitu: 1. Pengertian Pembelajaran Al-Quran

Kata pembelajaran, sebelumnya dikenal dengan istilah pengajaran. Dalam bahasa arab di istilahkan “talim” dalam kamus inggris Elies dan Elies diartikan “to teach; to intruct; to train” yaitu mengajar, mendidik, atau melatih. Pengertian tersebut sejalan dengan ungkapan yang

(6)

18

dikemukakan Syah, yaitu “allamal ilma”. Yang berarti to teach atau to

intruct (mengajar atau membelajarkan).25

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kata pembelajaran berasal dari kata ajar yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui atau diturut, sedangkan pembelajaran berarti proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup.26

Al-Qur’an merupakan sumber hukum yang paling utama bagi kaum muslim yang di dalamnya berisi berbagai petunjuk kepada jalan yang sebaik-baiknya.27Al-Qur’an bukan sekedar memuat petunjuk tentang hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan alam sekitarnya.28 Membaca merupakan langkah awal untuk mengenal lebih jauh mengenai Al-Qur’an.

Dengan adanya pembelajaran Al-Qur’an diharapkan dapat membantu peserta didik yang belum atau kurang dalam penguasaan membaca dan menulis Qur’an agar dapat membaca dan menulis Al-Qur’an menjadi lebih baik serta menghilangkan kesenjangan diantara peserta didik dalam hal penguasaan membaca Al-Qur’an.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa antara pembelajaran Al -Qur’an dalam peningkatan kemampuan membaca Al-Qur’an terdapat hubungan yang sangat erat dan apa yang menjadi tujuan dari lembaga tersebut bisa tercapai dengan baik.

25 Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rajawali Press, 2006), hal. 20 26 Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: Balai Pustaka,2007). Hal. 17 27 M. Qurais Shihab, Membumikan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1992), hal. 33

28 Abdul Halim, Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, (Jakarta: Ciputat Pers,

(7)

19

2. Tujuan pembelajaran Al-Qur’an

Tujuan pembelajaran al-Quran adalah untuk meningkatkan dan mempersiapkan sumber daya manusia sejak dini mulai kecakapan dalam membaca Al-Qur’an yang nantinya diharapkan nilai-nilai Al-Qur’an akan menjadi landasan moral, etika dan spiritual yang kokoh bagi pelaksanaan pembangunan nasional.

Disamping itu manfaat pembelajaran Al-Qur’an di sekolah diantaranya sebagai berikut:

1) Meningkatkan kualitas membaca Al-Qur’an 2) Meningkatkan semangat ibadah

3) Membentuk akhlaqul karimah

4) Meningkatkan lulusan yang berkualitas

5) Meningkatkan pemahaman dan pengalaman terhadap Al-Qur’an Adapun fungsi pembelajaran Al-Qur’an adalah sebagai salah satu sarana untuk mencetak generasi qur’ani yang beriman, bertaqwa dan berakqlak mulia demi menyongsong masa depan yang gemilan

C. Pembelajaran Al-Qur’an melalui Metode Ummi

Ada beberapa hal yangakan di uraikan pada bagian ini, yaitu: 1. Penerapan metode Ummi dalam pembelajaran al-Quran

a. Metode Penyampaian Pengajaran Metode Ummi

Metode penyampaian pengajaran metode Ummi dibagi menjadi 4 yaitu:

(8)

20

1) Privat/individual

Metode pembelajaran Al-Qur’an yang dijalankan dengan cara murid dipanggil atau diajar satu persatu sementara anak yang lain diberi tugas membaca sendiri atau menulis buku Ummi. Metode ini digunakan jika :

a) Jumlah muridnya banyak (bervariasi) sementara gurunya hanya satu.

b) Jika jilid dan halamannya berbeda (campur) c) Biasanya dipakai untuk jilid-jilid rendah. d) Banyak dipakai unutk anak usia TK. 2) Klasikal Individual

Metode pembelajaran Al-Qur’an yang dijalankan dengan cara membaca bersama-sama halaman yang ditentukan oleh guru, selanjutnya setelah tuntas oleh guru, pembelajaran dilanjutkan dengan individual. Metode ini digunakan jika:

a. Digunakan jika dalam satu kelompok jilidnya sama, halaman berbeda.

b. Biasanya dipakai untuk jilid 2 atau 3 ke atas. 3) Klasikal Baca Simak

Metode pembelajaran Al-Qur’an yang dijalankan dengan cara bersama-sama halaman yang ditentukan oleh guru, selanjutnya setelah dianggap tuntas oleh guru, pembelajaran dilanjutkan dengan pola baca simak, yaitu anak membaca sementara lainnya menyimak halaman yang dibaca oleh temannya, hal ini dilakukan walaupun

(9)

21

halaman baca anak yang satu dengan yang lainnya berbeda. Metode ini digunakan jika:

a. Dalam satu kelompok jilidnya sama, halaman berbeda.

b. Biasanya banyak dipakai untuk jilid 3 ke atas atau pengajaran kelas Al-Qur’an.

4) Klasikal Baca Simak Murni

Metode pembelajaran Al-Qur’an baca simak murni sama dengan metode klasikal baca simak, perbedaanya klasikal baca simak murni jilid dan halaman anak dalam satu kelompok sama. 29

2. Pendukung dan penghambat Metode Ummi

Dalam suatu metode pembelajaran al-Qur’an pasti ada namanya faktor pendukung dan penghambat dari masing-masing metode, berikut ini akan dipaparkan dalam bagian ini, yaitu:

1) Faktor Pendukung metode ummi a. Menggunakan pendekatan ibu.

Metode ummi adalah salah satu metode al-Qur’an yang menggunakan filosofi dari kata ibu yang dalam bahasa Arab adalah Ummi maksud dari kata ummi ini adalah metode ini menggunakan pendekatan ibu yang mana pengajar memerangkan dirinya sebagai ibu, ibu yang kasih sayangnya mengajari anak dengan kesabarannya mengajarkan hal-hal yang baik kepada anak.

(10)

22

b. Goodwill Menejemen

Institusi pembelajaran al-Qur’an hampir dapat dipastikan bahwa pengelolaannya memiliki perhatian terhadap pembelajaran al-Qur’an sehingga dapat meningkatkan prestasi secara optimal.

c. Sertifikasi Guru/ Mutu Guru

Sertifikasi guru adalah proses pertama dan utama untuk menjamin mutu sebuah hasil. Sertifikasi guru merupakan proses standarisasi mutu pada setiap guru yang akan mengajarkan atau menggunakan metode Ummi. Adapun kualifikasi guru dalam metode Ummi yaitu; tartil dalam membaca al-Qur’an, menguasai Ghorib dan tajwid dasar, terbiasa membaca al-Qur’an setiap hari, menguasai metodologi Ummi, berjiwa da’i dan murobbi, disiplin waktu, dan komitmen pada mutu.

d. Sistem berbasis Mutu

Sistem Berbasis Mutu adalah sistem yang berorientasi untuk menghasilkan produk yang bermutu tinggi dengan menetapkan sejumlah proses yang harus ada dan bisa mencapai suatu mutu yang bagus dan berkualitas sehingga dicapai mutu yang lebih baik.

2) Faktor Penghambat metode Ummi

a. Buku pegangan /buku jilid yang terlalu banyak

Kekurangan yang pertama yakni halaman pada buku jilid Ummi ini terlalu banyak, sampai 40 halaman. Padahal biasanya buku-buku jilid lainnya itu hanya berkisar 20-25 halaman.

(11)

23

b. Target Waktu

Setiap metode pembelajaran al-Qur’an memiliki target waktu agar santri mampu mmbaca al-Qur’an dengan baik dan benar. Dengan terlalu banyaknya jumlah buku dan jumlah halaman pada metode Ummi, maka target pencapaianpun semakin lama. 30

D. Siswa Level Sedang

Berdasarkan UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional), peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Setelah melakukan daftar ulang di lembaga pendidikan yang dikehendaki, peserta didik perlu dikelompok-kelompokkan atau diklasifikasikan. Secara umum pengelompokan sering dikenal dengan grouping. Pengelompokan peserta didik ini tidak dimaksudkan untuk membeda-bedakan peserta didik berdasarkan keahlian dan tingkat kepandaiannya, melainkan maksud pengelompokan ini untuk membantu dalam proses belajar mengajar demi keberhasilan peserta didik. Dengan kata lain, pengelompokan peserta didik bermaksud untuk membantu peserta didik mengembangkan kemampuannya seoptimal mungkin sehingga pengelompokan tidak boleh diartikan lain kecuali untuk proses pengembangan peserta didik tersebut.

Menurut Imron, pengelompokan atau grouping adalah penggolongan peserta didik berdasarkan karakteristik-karakteristiknya. Karakteristik demikian perlu digolongkan, agar mereka berada dalam kondisi yang sama. Adanya kondisi

(12)

24

yang sama ini bisa memudahkan pemberian layanan yang sama. Oleh karena itu, pengelompokan ini lazim juga dikenal dengan istilah pengklasifikasian (classification).31

Ada banyak jenis pengelompokan peserta didik yang dikemukakan oleh para ahli. Ali Imron, mengemukakan dua jenis pengelompokan peserta didik. Yang pertama, ia namai dengan ability grouping, sedangkan yang kedua ia namai dengan

sub-grouping with in the class. Yang dimaksud ability grouping adalah

pengelompokan berdasarkan kemampuan di dalam setting sekolah. Sedangkan sub-

grouping with in the class adalah pengelompokan dalam setting kelas.32

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, dalam menentukan beberapa kelompok kelas dilakukan prinsip yaitu semakin kecil kelas semakin baik. Karena, dengan demikian guru akan bisa lebih memperhatikan peserta didiknya secara teliti. Contohnya: sebagai perumpamaan siswa bernama Amir, untuk pelajaran Bahasa Arab termasuk kelompok cepat. Untuk pelajaran al-quran bisa masuk kelompok sedang, dan mata pelajaran lain untuk matapelajaran lain. Namun, status kelompok ini sifatnya tidak permanen. Seorang yang termasuk kelompok sedang, suatu saat karena prestasinya naik bisa dipindahkan ke kelompok cepat begitu sebaliknya.

31 Ali Imron. Pembinaan Guru di Indonesia. (Jakarta: Pustaka Jaya, 2015). Hal. 97 32 Ali Imron. Pembinaan Guru di Indonesia. (Jakarta: Pustaka Jaya, 1995). Hal. 74

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :