BAB II
LANDASAN TEORI
II.1 Salon
Istilah salon diadaptasi dari bahasa Inggris yang bermakna ruangan atau ruang besar. Terdapat pula pengertian lain berdasar kamus saku Oxford Learner's Pocket Dictionary, yaitu tempat di mana penata rambut dan penata kecantikan bekerja.
Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian salon adalah ruang (kamar) yang diatur dan dihias dengan baik (untuk menerima tamu dsb). Secara umum, salon dapat dibagi menjadi dua bagian, yakni beauty salon (salon kecantikan, wajah atau tubuh) dan hair salon (salon rambut). Tetapi pemakaian kata salon saja sudah dapat mewakili keduanya. Salon merupakan tujuan masyarakat ketika hendak mempercantik diri. Oleh karena itu, ada pula istilah salon kecantikan, yaitu tempat (gedung dsb) orang merawat kecantikan (merias muka, menata rambut, dsb).
II.2 Simulator
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, simulasi memiliki pengertian metode pelatihan yang meragakan sesuatu di bentuk tiruan (imakan) yang mirip dengan keadaan yang sesungguhnya, atau bisa juga berarti penggambaran suatu sistem atau proses dengan peragaan berupa model statistik atau pemeranan.
Sedangkan simulator berarti program yang berfungsi untuk menyimulasikan suatu peralatan, tetapi kerjanya agak lambat daripada keadaan yang sebenarnya. Selain itu, simulator memiliki arti yang lain, yakni alat untuk melakukan simulasi, atau alat yang dapat menyimulasikan.
II.3 Hair Simulator
Hair simulator adalah sebuah program/aplikasi yang memungkinkan
penggunanya untuk mengetes/mencoba berbagai jenis potongan rambut. Dengan hair
simulator, pengguna memasukkan foto wajahnya dan dapat mencoba menerapkan
berbagai jenis potongan rambut sehingga bisa memilih mana yang cocok dan mana yang tidak.
II.4 Jenis-jenis Salon
Secara teknis, salon dapat dibagi menjadi bermacam-macam jenis, yaitu: 1. Salon umum
Salon umum merupakan jenis salon yang banyak dijumpai saat ini, dengan menawarkan pelayanan mulai dari perawatan rambut hingga perawatan kulit dan kecantikan.
2. Salon untuk wanita muslim
Salon pada umumnya menyatukan semua pelayan dan tamu di satu tempat, tidak ada pemisahan ruangan khusus untuk pria dan wanita. Hal ini
membuat wanita merasa risih, terutama yang mengenakan jilbab. Dengan adanya salon khusus ini, wanita muslim memiliki solusi salon yang ditujukan hanya untuk wanita.
3. Salon untuk anak-anak
Salon identik dengan tempat untuk orang dewasa. Oleh karena itu, sekarang telah banyak bertebaran salon yang dikhususkan untuk anak-anak. Salon tersebut didesain sedemikian rupa sehingga menarik untuk anak-anak, dan juga disediakan berbagai hiburan agar anak-anak betah selama berada di salon.
II.5 The 9 Building Blocks
Berdasarkan buku Business Model Generation yang ditulis oleh Alexander Osterwalder & Yves Pigneur, dalam membuat bisnis model sebaiknya didahului oleh
9 basic building blocks. Dengan membuat 9 Building blocks, akan diperoleh
gambaran yang lebih jelas mengenai strategi yang cocok diterapkan dalam bisnis yang akan dilakukan. 9 Building blocks terdiri dari: customer segments, value
propositions, channels, customer relationships, revenue streams, key resources, key activities, key partnerships, dan cost structure.
Sumber: Osterwalder dan Pigneur (2010) Gambar II.01. The Nine Building Blocks
II.5.1 Customer Segments
Berdasarkan Osterwalder dan Pigneur (2010), pasar merupakan sekumpulan pelanggan (customer) yang memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini tentunya dapat menyulitkan perusahaan untuk memenuhi semua keinginan pelanggan.
Kotler dan Keller (2011) memiliki pandangan bahwa segmentasi pasar adalah sebuah proses pembagian pasar menjadi beberapa segmen yang memiliki karakteristik sejenis berdasarkan kriteria tertentu seperti geografis, demografis, psikografis, dan perilaku.
Dengan membagi pasar menjadi segmen-segmen maka perusahaan dapat memilah konsumen dan mencermati segmen manakah yang berpotensi untuk dikembangkan. Maka dari itu proses dari segmentasi tersebut akan membantu perusahaan guna membuat value proposition yang sesuai dengan preferensi konsumen sehingga jasa yang ditawarkan akan lebih mudah diterima.
II.5.2 Value Propositions
Value proposition menurut Osterwalder dan Pigneur (2010) adalah suatu
faktor yang membedakan perusahaan satu dengan yang lainnya melalui produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan tersebut kepada konsumen. Value proposition dapat mengubah preferensi konsumen untuk berpindah dari perusahaan satu ke perusahaan lainnya. Value proposition tersebut dapat memberikan kepuasan atau menyelesaikan kesulitan konsumen.
Value proposition ada yang bersifat memberikan penawaran baru atau
inovatif, dan ada juga berupa produk yang telah ada namun diberikan fitur atau nilai tambahan. Beberapa contoh value proposition lainnya adalah peningkatan performa, produk yang bisa dikostumisasi, desain, merk, harga yang murah, penurunan biaya bagi konsumen, dll.
Berdasarkan Finkelstein, Harvey, dan Lawton (2007, p.183), terdapat enam pilar utama dari value proposition, yaitu hal-hal yang dipertimbangkan oleh kustomer dalam memilih barang atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan. Keenam pilar
value proposition tersebut adalah harga, fitur, kualitas, support/dukungan,
ketersediaan, dan reputasi. Pengaturan keenam pilar inilah yang membedakan suatu perusahaan dari kompetitornya. Dari keenam pilar ini, perusahaan dapat menerapkan strategi cocok untuk menjual produk atau jasa yang dapat dilihat sebagai berikut: Tabel II.01. Enam Pilar Utama Value Proposition
Price Features Quality Support Availability Reputation 1. Premium 1. Original 1. Excellent 1. Comprehensive 1. Restricted 1. Prestigious 2. Premium / 2. Original / 2. Excellent / 2. Comprehensive / 2. Restricted / 2. Prestigious / Competitive Customized Average Standard Selective Respected
3. Competitive 3. Customized 3. Average 3. Standard 3. Selective 3. Respected
4. Competitive / 4. Customized / 4. Average / 4. Standard / 4. Selective / 4. Respected /
Leader Basic Acceptable Minimal Universal Functional
5. Leader 5. Basic 5. Acceptable 5. Minimal 5. Universal 5. Functional
Sumber: Finkelstein, dkk, 2007
II.5.3 Channels
Menurut Osterwalder dan Pigneur (2010), channels merupakan media di mana perusahaan dapat menyalurkan produknya (value proposition) kepada konsumen (customer segments). Terdapat lima fase channel, yaitu awareness, evaluation,
purchase, delivery, dan after sales.
1. Awareness
Awareness channel bertujuan untuk meningkatkan awareness
konsumen terhadap perusahaan dan pelayanan yang ditawarkan. Dengan konsep awareness yang digunakan adalah viral marketing, maka penggunaan sosial media sebagai channel utama.
2. Evaluation
Evaluation channel bertujuan untuk memberikan bantuan kepada
konsumen di mana mereka dapat menyampaikan tanggapan mengenai layanan yang diberikan. Forum online dan customer service merupakan evaluation
channel yang dapat diterapkan.
3. Purchase
Purchase channel merupakan cara pembayaran yang dapat dilakukan
oleh konsumen atau siapa saja yang menggunakan jasa pelayanan yang terdapat pada perusahaan tersebut.
4. Delivery
Delivery channel adalah channel yang dipergunakan untuk
menyampaikan value preposition yang ditawarkan oleh perusahaan kepada konsumer. Layanan perusahaan di bidang jasa menjadikan delivery channel penting untuk diperhatikan serta dikembangkan.
5. After sales
After sales channel adalah channel yang dipergunakan oleh
perusahaan untuk memberikan bantuan kepada para konsumen yang telah membeli produk atau jasa dari perusahaan tersebut.
II.5.4 Customer Relationships
Customer relationships menjelaskan tipe hubungan yang dibangun oleh
perusahaan dengan masing-masing customer segments. Customer relationships bertujuan untuk memperoleh konsumen baru, repeat buying oleh konsumen, dan menambah penjualan. Terdapat 6 jenis hubungan yang dapat terjadi antara perusahaan dengan customer segments jika merujuk pada Osterwalder dan Pigneur (2010), yaitu:
Personal assistance, Dedicated personal assistance, Self-service, Automated services, Communities, dan Co-Creation.
II.5.5 Revenue Streams
Berdasarkan Osterwalder dan Pigneur (2010), revenue streams
menggambarkan jumlah pendapatan yang diperoleh perusahaan dari masing-masing
customer segment.
Dalam bisnis model, terdapat dua jenis revenue streams (Osterwalder dan Pigneur, 2010), yaitu:
1. Pendapatan transaksi yang berasal dari pembayaran konsumen biasa.
2. Pendapatan berulang (recurring) yang berasal dari pembayaran konsumen langganan, atau layanan pasca-pembelian untuk konsumen.
Terdapat beberapa cara untuk memperoleh revenue streams, yakni penjualan aset, penggunaan jasa oleh konsumen, biaya berlangganan, biaya penyewaan, lisensi, biaya perantara (antar dua pihak), dan periklanan.
Masing-masing revenue stream memiliki mekanisme harga yang berbeda. Mekanisme harga yang dipilih akan berpengaruh terhadap pendapatan yang diperoleh perusahaan. Terdapat dua macam mekanisme harga menurut Osterwalder dan Pigneur (2010), yakni:
1. Fixed menu pricing, di mana harga ditentukan berdasarkan variabel statis. 2. Dynamic pricing, di mana harga dapat berubah, ditentukan dengan
menyesuaikan kondisi pasar.
Perusahaan menentukan harga dengan juga mempertimbangkan harga produk kompetitor, atau harga barang substitusi. Menurut Kotler dan Keller (2012), terdapat enam metode yang dapat digunakan untuk menentukan harga, yaitu:
1. Mark-up pricing, merupakan metode penentuan harga yang paling sederhana, dengan menaikkan harga dari biaya pembuatan produk.
2. Target-return pricing, merupakan metode penentuan harga untuk dapat mencapai target tingkat pengembalian investasi (return of investment).
3. Perceived-value pricing, merupakan metode penentuan harga dengan berdasarkan pada harga yang dirasakan pantas oleh konsumen.
4. Value pricing, merupakan metode penentuan harga produk yang lebih murah (di bawah standar) dengan kualitas tinggi, untuk memperoleh loyalitas konsumen.
5. Going-rate pricing, merupakan metode penentuan harga berdasarkan pada harga yang ditentukan oleh kompetitor.
II.5.6 Key Resources
Menurut Osterwalder dan Pigneur (2010), setiap bisnis model membutuhkan
key resources, yaitu faktor-faktor penting yang dibutuhkan perusahaan dalam
menjalankan bisnis agar dapat berjalan dengan sukses. Key resources yang dibutuhkan tiap perusahaan berbeda-beda tergantung oleh bidang bisnis mereka. Key
resources dapat dikategorikan menjadi fisik contohnya bangunan, kendaraan, mesin,
jaringan distribusi; intelektual contohnya merk, pengetahuan, hak paten dan copyright, kemitraan; sumber daya manusia, dan finansial contohnya kas dan stok saham.
II.5.7 Key Activities
Key activities adalah kegiatan-kegiatan penting dalam operasional yang
dilakukan oleh perusahaan untuk menjalankan bisnis (Osterwalder dan Pigneur, 2010). Seperti key resources, key activities bertujuan untuk menghasilkan value
proposition, dikenal pasar, menjaga customer relationships, dan memperoleh revenue.
Key activities tiap perusahaan berbeda-beda bergantung oleh jenis usaha
perusahaan itu sendiri. Key activities dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu proses produksi, problem solving, dan platform/network. Perusahaan dengan key activities produksi bekerja dalam mendesain, membuat, dan mengantar produk mereka. Perusahaan dengan key activities problem solving bekerja untuk menemukan solusi bagi tiap permasalahan konsumer. Sedangkan perusahaan dengan key activities
II.5.8 Key Partnerships
Key partnerships menggambarkan hubungan antara partner atau supplier dan buyer guna menjaga keberlangsungan bisnis tersebut (Osterwalder dan Pigneur,
2010). Terdapat empat tipe partnership, yaitu: 1. Aliansi antara perusahaan non-kompetitor 2. Coopetition: partnership antara kompetitor 3. Joint ventures untuk membuat bisnis baru
4. Hubungan buyer-supplier untuk menjamin ketersediaan supply.
Osterwalder dan Pigneur (2010) menjabarkan tiga alasan perusahaan menjalin kemitraan, yakni:
1. Optimalisasi dan skala ekonomi
Relasi yang terjalin antara buyer dan supplier bertujuan untuk menciptakan pengalokasian sumber daya dan juga aktifitas yang ada seoptimal mungkin. Selain itu, optimalisasi dan skala ekonomi biasa juga berlanjut hingga adanya pengurangan atau penurunan biaya dan sering juga memiliki infrasuktur yang digunakan bersamaan.
2. Mengurangi resiko dan ketidakpastian
Kemitraan dapat mengurangi resiko dalam lingkungan persaingan yang identik dengan ketidakpastian.
3. Mengakuisisi sumber daya tertentu
Kemitraan bisa juga dimotivasi guna mengakuisisi suatu sumber daya tertentu daripada mereka harus membuat atau meriset sendiri, yang tentunya memakan waktu dan biaya.
II.5.9 Cost Structure
Menurut Osterwalder dan Pigneur (2010), cost structure memperkirakan jumlah biaya yang dibutuhkan perusahaan untuk menghasilkan produk atau jasa. Biaya ini dapat dihitung setelah menentukan Key Resources, Key Activities, dan Key
Partnerships.
Terdapat dua jenis cost structure bisnis model, yakni cost-driven yang fokus meminimalkan biaya sebisa mungkin, dan value-driven yang fokus menciptakan
value produk.
Beberapa karakteristik cost structure berdasarkan Osterwalder dan Pigneur (2010) adalah:
1. Fixed costs
Fixed cost atau biaya tetap merupakan biaya yang tidak berubah,
berapapun jumlah produk atau jasa yang dihasilkan. Contohnya adalah gaji, biaya sewa, fasilitas pabrik, dll.
2. Variable costs
Variable cost atau biaya tidak tetap merupakan biaya yang
berubah-ubah bergantung oleh jumlah produk atau jasa yang dihasilkan.
3. Economies of scale
Economies of scale atau skala ekonomi merupakan penurunan biaya
yang digunakan sebagai akibat meningkatnya hasil produksi.
4. Economies of scope
Economies of scope merupakan penurunan biaya yang digunakan