• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANCANGAN BPF CAUER-CHEBYSHEV PITA SEMPIT UNTUK APLIKASI SAR BERBASIS FMCW

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERANCANGAN BPF CAUER-CHEBYSHEV PITA SEMPIT UNTUK APLIKASI SAR BERBASIS FMCW"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Prosiding SENTIA 2016 – Politeknik Negeri Malang

Volume 8 – ISSN: 2085-2347

PERANCANGAN BPF CAUER-CHEBYSHEV PITA SEMPIT UNTUK

APLIKASI SAR BERBASIS FMCW

Zainal Abidin1, Achmad Munir2

Laboratorium Telekomunikasi Radio dan Gelombang Mikro Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung

1[email protected], 2[email protected]

Abstract

It is known that synthetic aperture radar (SAR) was commonly used to obtain a high image resolution of radar detection. Therefore, supporting devices for SAR are almost required. This research is proposed to design bandpass filter (BPF) Cauer-Chebyshev for SAR application. Signal types and techniques of signal generation are important things in the design of the filter. Here, frequency modulated continuous wave (FMCW) method with narrowband response is used as a modulation technique for SAR. Whilst, wideband response was rarely used due to a great attenuation affected by atmosphere. In the design, it shows that the filter is made from lumped elements with Cauer-Chebyshev type of order 5 with the passband area of 25-35MHz. The result demonsrates that the filter has the minimum S11value of -0.274dB at the passband area of of 25-35MHz and the maximum S21 value with ripple

of -12.141dB at the passband area of of 25-35MHz. It indicates that the value of S21 at the passband area of of

25-35MHz is almost constant. In adiition, it shows that the filter has a transition area quite narrow but with high complexity on its circuitry.

Keyword : BPF, Cauer-Chebyshev, FMCW, synthetic aperture radar, lumped element. 1. Pendahuluan

Bandpass filter (BPF) merupakan salah satu

komponen penting dalam dunia aplikasi gelombang mikro, radar, dan perangkat RF lainnya. Salah satu fungsi utama dari filter adalah melakukan peredaman sinyal pada daerah stopband dan mentransmisikan sinyal secara sempurna pada daerah passband sehingga keluaran dari filter merupakan sinyal dengan frekuensi pada daerah yang diinginkan (Steven). Berdasarkan fungsi transfernya, secara umum terdapat beberapa jenis filter analog yang

umum digunakan, diantaranya adalah filter

Butterworth yang memberikan respon cenderung

konstan pada daerah passband, dan filter Chebyshev yang memberikan ripple pada daerah passband (Collin, E. Robert). Fungsi transfer tersebut kemudian dikembangkan ke berbagai macam bentuk dan metode, salah satunya adalah Cauer-Chebyshev.

Beberapa sumber menyebutkan filter Cauer-Chebyshev ini sebagai filter elliptic. Jika dibandingkan dengan filter Chebyshev, filter ini memiliki tingkat respon yang lebih curam pada daerah transisinya namun lebih kompleks dalam implementasi rangkaiannya (Zverev, A.I.). Sifat lain dari filter Cauer-Chebyshev ini adalah memiliki

ripple baik di daerah stopband maupun daerah passband. Hal tersebut berbeda dengan filter

Chebyshev yang hanya meiliki ripple di salah satunya saja (Nugroho dan Widi).

Salah satu parameter yang dapat dijadikan acuan untuk menunjukkan suatu performansi filter adalah parameter-S (scattering parameter). Secara umum, parameter-S didefinisikan oleh gelombang

datang dan gelombang pantul. Prinsipnya

menggunakan analisis rangkaian 2 port dengan beberapa istilah diantaranya S11 dan S22 (koefisien

refleksi), S12 (isolation), dan S21 (insertion loss).

Indeks angka pada istilah tersebut menunjukkan penomoran port yang diamati dimana penomoran pertama merupakan port keluaran dan penomoran kedua merupakan port masukan. Sehingga S11

menunjukkan perbandingan antara gelombang pantul pada port 1 dengan gelombang datang pada port 1, begitu juga dengan S22, S12, dan S21. Suatu filter

disebut mempunyai respon yang baik jika

mempunyai nilai S11 dan S22 yang maksimum pada

daerah passband, serta nilai S12 dan S21 yang

minimum pada daerah stopband (Misra, K. D). Sebagai komponen penting dalam radar, filter dalam hal ini BPF mempunyai peranan yang besar dalam proses pencitraan (imaging). Pada dasarnya, terdapat 2 jenis sensor yang sering digunakan dalam teknik pencitraan yaitu sensor optik dan sensor radar. Sensor radar yang lebih dikenal dengan synthetic aperture radar (SAR), memiliki kelebihan dapat

(2)

Prosiding SENTIA 2016 – Politeknik Negeri Malang

Volume 8 – ISSN: 2085-2347

mendeteksi ketinggian gedung, bentuk atap, material bangunan dan lain sebagainya. Beberapa kelebihan tersebut menjadi sorotan pada SAR sebagai teknik pencitraan yang lebih handal dibandingkan dengan sensor optik (Tao dkk).

SAR pada umumnya bekerja dengan ukuran antena yang relatif kecil, namun tetap mampu mendapatkan hasil citra yang relatif besar. Konsep dasar dari SAR adalah dengan memanfaatkan frekuensi dari sinyal radar sepanjang jalur spektrum untuk membedakan dua penyebaran pada pancaran antenna(Goodman dkk). Salah satu teknik modulasi pada SAR dan juga radar lainnya adalah

frequency-modulated continous-wave (FMCW). Dalam teknik

modulasi ini, bentuk gelombang yang umum digunakan adalah bentuk chirp, dimana bentuk gelombang ini mampu mendeteksi objek yang bergerak, yang mana gelombang pantul yang

dihasilkan oleh target yang bergerak akan

menghasilkan pergeseran frekuensi akibat efek Doppler. Teknik FMCW menggunakan perbandingan frekuensi kirim dan frekuensi terima dari sistem untuk mendapatkan informasi jarak (Edward dan Munir, A.).

Berbeda dengan radar pulsa, radar berbasis FMCW menggunakan perbedaan frekuensi kirim

dengan frekuensi terima untuk mendapatkan

informasi dari objek. Radar FMCW pada dasarnya mengirim dan menerima sinyal termodulasi dengan 100% duty cycle. Dengan teknik tersebut, SAR

cakupan yang lebar (Liu dkk). Gambar 1 menunjukkan blok diagram dari sistem SAR berbasis

FMCW. Terlihat dari gambar tersebur bahwa

keluaran DDS yang berperan sebagai signal

generator adalah blok BPF. Hal ini sesuai dengan

prinsip pengolahan sinyal pada FMCW yaitu membangkitkan sinyal kirim yang berubah terhadap

waktu yang kemudian diolah dengan

membandingkan sinyal kirim dan sinyal terima dengan skema de-chirping (Stringham, dkk).

Pada umunya, proses pendeteksian pada SAR berbasis FCMW menggunakan pita frekuensi yang sempit. Hal tersebut disebabkan karena pita frekuensi yang lebar menimbulkan noise yang besar dari lingkungan dan atenuasi dari atmosfir (Syrovatka, Bretislav). Dalam penelitian ini, rentang frekuensi

baseband dari SAR FMCW yang digunakan, yaitu

pada daerah passband 25-35MHz, merupakan hasil perhitungan dan pertimbangan dari beberapa aspek. Oleh karena itu, sinyal sumber harus sesuai dengan sinyal yang diinginkan. Sehingga akan diperlukan BPF yang bekerja pada rentang frekuensi 25-35MHz yang akan meredam sinyal di luar frekuensi yang tidak diinginkan dari keluaran DDS yang berperan sebagai signal generator dengan daerah transisi yang sempit (C. Stringham, dkk). Dari penjelasan tersebut, dapat diketahui bahwa penelitian ini memiliki tujuan untuk merancang BPF Cauer-Chebyshev yang memiliki daerah transisi yang cukup sempit untuk diaplikasikan pada sistem SAR berbasis FMCW.

2. Perancangan BPF Cauer-Chebyshev Gambar 1. Blok diagram SAR berbasis FMCW

(3)

Prosiding SENTIA 2016 – Politeknik Negeri Malang

Volume 8 – ISSN: 2085-2347

2,032mm x 0,127mm. Tabel 1, Tabel 2 dan Tabel 3 menunjukkan nilai-nilai ternormalisasi dari rangkaian LPF orde 5 (Zverev, A. I.). Langkah selanjutnya adalah melakukan transformasi nilai dari LPF ke BPF. Untuk pengambilan nilai yang yang diinginkan, dilakukan simulasi untuk nilai-nilai lainnya, kemudian hasil-hasil simulasi tersebut dibandingkan satu sama lain. Hasil simulasi yang dibandingkan adalah nilai S11 dan S21. Dari hasil perbandingan,

digunakan nilai yang ditunjukkan oleh blok warna pada tabel-tabel tersebut.

Pada rangkaian BPF Cauer-Chebyshev, seperti diperlihatkan pada Gambar 2, rangkaian LPF disusun oleh kapasitor yang diparalel dengan kapasitor lain. Selain itu, terdapat rangkaian yang disusun seri terhadap impedansi keluaran berupa kapasitor dan induktor yang diparalel. Tranformasi BPF didapatkan dengan menggantikan kapasitor bernomor ganjil yang disusun paralel, dengan induktor dan kapasitor baru yang disusun paralel serta mengubah kapasitor dan induktor yang bernomor genap dengan 2 pasang kapasitor dan induktor baru yag disusun seri. Hasil tranformasi dari LPF ke BPF dapat dilihat pada Gambar 3. Terlihat bahwa bentuk rangkaian BPF Cauer-Chebyshev lebih kompleks dibandingkan dengan BPF Chebyshev.

Gambar 2. Rangkaian dasar LPF Cauer-Chebyshev

orde 5

Tabel 1. Nilai ternormalisasi rangkaian LPF

Cauer-Chebyshev orde 5 untuk = 0,08

 K Amin 2 4 C

2,0 28,6537 171,96 48,7389 301,274 3,0 19,1073 154,34 32,4927 20,0893 4,0 14,3356 141,84 24,3697 15,0716 5,0 11,4737 132,14 19,4959 12,0620

Tabel 2. Nilai komponen rangkaian LPF

Cauer-Chebyshev orde 5 untuk = 0,08 (L2, C1 - C3 )

K2=1,0 C1 C2 L2 C3 0,8973 0,0000 1,3590 1,7170 0,8970 0,0003 1,3589 1,7257 0,8967 0,0007 1,3584 1,7248 0,8962 0,0012 1,3578 1,7235 0,8957 0,0019 1,3570 1,7218

Tabel 3. Nilai komponen rangkaian LPF orde 5

untuk = 0,08 (C4 – C5 ) K2=1.0 C4 L4 C5 0,0000 1,3590 0,8973 0,0008 1,3581 0,8965 0,0018 1,3566 0,8965 0,0032 1,3546 0,8942 0,0050 1,3520 0,8925

Gambar 3 merupakan gambar rangkaian yang telah didenormalisasi sesuai dengan frekuensi kerja dan spesifikasi lainnya yang diinginkan. Rangkaian hasil transformasi untuk nilai yang dinormalisasi memiliki bentuk rangkaian yang berbeda dengan rangkaian realisasi Dengan frekuensi 25-35MHz, impedansi masukan serta keluaran sebesar 50, dan nilai ternormalisasi dari Tabel 1, Tabel 2, dan Tabel 3, maka didapatkan nilai masing-masing komponen untuk Gambar 3 seperti diperlihatkan pada Tabel 4. Terlihat bahwa kapasitor bernomor ganjil pada Gambar 2 digantikan dengan induktor dan kapasitor baru yang disusun paralel. Sedangkan komponen bernomor genap berupa kapasitor dan induktor yang disusun paralel, diubah menjadi 2 pasang kapasitor dan induktor baru yang disusun paralel.

(4)

Prosiding SENTIA 2016 – Politeknik Negeri Malang

Volume 8 – ISSN: 2085-2347

Gambar 3. Hasil transformasi BPF

Cauer-Chebyshev orde 5

Tabel 4. Hasil tranformasi LPF-BPF

Cauer-Chebyshev orde 5 Kapasitor Induktor C1 289,57 pF L1 99,97 nH C2- 25,85 pF L2- 292,76 H C2+ 97,21 fF L2+ 1100,84 nH C3 557,1 pF L3 51,96 nH C4- 26,82 pF L4- 113,82 H C4+ 260,77 pF L4+ 1106,73 nH C5 289,41 pF L5 100,03 nH

Tahap selanjutnya adalah penyesuaian

komponen yang dibutuhkan dengan komponen yang tersedia. Hal ini disebabkan karena tidak semua nilai komponen dari hasil perhitungan, tersedia untuk direalisasikan. Setelah dilakukan penyesuaian, dengan mempertahankan beberapa kondisi yang diperlukan seperti S11 dan S21 pada daerah passsband

dan stopband, maka diperoleh nilai komponen untuk direalisasi pada Tabel 5.

Tabel 5. Hasil tranformasi LPF-BPF

Cauer-Chebyshev orde 5 melalui pendekatan komponen

Kapasitor Induktor C1 283 pF L1 100 nH C2- 25 pF L2- 300 H C2+ 97,22 fF L2+ 1150 nH C3 560 pF L3 51,2 nH C4- 27 pF L4- 115 H C4+ 200 fF L4+ 1100 nH

3. Simulasi dan Diskusi

Tujuan utama simulasi adalah melihat respon

S11 dan S21 dari filter yang telah dirancang pada

perhitungan sebelumnya. Beberapa aspek penting dalam simulasi yang perlu diperhatikan adalah pada saat dalam mengubah nilai komponen seperti S21

supaya minimum pada daerah passband dan S11

supaya maksimum pada daerah stopband. Gambar 4 menunjukkan hasil simulasi respon BPF Cauer-Chebyshev orde 5 dengan nilai komponen yang diperoleh dari hasil perhitungan. Hasil simulasi tersebut menunjukkan bahwa nilai S21 pada daerah

passband 25-35MHz cenderung memiliki nilai

konstan di atas -0,274dB sedangkan nila S11 pada

daerah passband 25-35MHz memiliki ripple dengan

nilai maksimum -12,141dB. Hasil simulasi

menujukkan baik S11 maupun S12 memiliki daerah

transisi yang cukup sempit.

Gambar 4. Hasil simulasi BPF Cauer-Chebyshev

orde 5 dengan nilai komponen hasil perhitungan. Gambar 5 merupakan hasil simulasi respon BPF Cauer-Chebyshev orde 5 dengan nilai pendekatan komponen. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, hasil perhitungan diubah kembali dengan mempertahankan beberapa aspek seperti S11

dan S21 karena terdapat penyesuaian nilai hasil

perhitungan dengan komponen yang tersedia. Simulasi dilakukan berulang kali dengan nilai yang berbeda-beda untuk mengetahui perbedaan dan fungsi tiap komponen. Dari hasil simulasi didapatkan bahwa komponen C1 dan L1 berbanding lurus dengan

nilai S21. Semakin besar nilai C1 atau L1 maka akan

didapatkan nilai S21 yang semakin besar. Namun nilai

S21 berbanding terbalik dengan nilai C5 dan L5.

Sedangkan simulasi dengan nilai C3 dan L3 yang

(5)

Prosiding SENTIA 2016 – Politeknik Negeri Malang

Volume 8 – ISSN: 2085-2347

Gambar 5. Hasil simulasi BPF Cauer-Chebyshev

orde 5 dengan pendekatan komponen Komponen dengan urutan bernomor genap lebih berfungsi sebagai pembentuk nilai S11 dan S21,

dimana memperbesar induktor pada N- (baik itu 4

atau 2) atau memperkecil kapasitor pada N+

cenderung tidak merubah hasil simulasi, bahkan menunjukkan bentuk dan frekuensi kerja yang sama. Namun perubahan akan berpengaruh besar pada nilai

S11 dan S21 ketika memperkecil induktor pada N- atau

memperbesar kapasitor pada N+. Untuk induktor pada

N+ atau kapasitor pada N- tidak diperoleh sifat

linieritas dari nilai komponen terhadap nilai S11 dan

S21. Dapat diketahui bahwa induktor pada N+ atau

kapasitor pada N- lebih bersifat penyeimbang.

4. Kesimpulan

Perancangan BPF Cauer-Chebyshev orde 5 telah berhasil dilakukan sesuai dengan ketentuan yang diinginkan. Dari hasil yang diperoleh, respon BPF Cauer-Chebyshev yang dirancang dengan nilai komponen hasil perhitungan dan dengan pendekatan menunjukkan kesamaan karakteristik pada daerah

passband 25-35MHz. Terlihat bahwa BPF

Cauer-Chebyshev memiliki beberapa kelebihan salah satunya adalah daerah transisi filter pada S11 maupun

S21 yang sempit. Namun BPF Cauer-Chebyshev

memiliki rangkaian yang lebih kompleks

dibandingkan rangkaian BPF Chebyshev biasa. Oleh karena itu, BPF Cauer-Chebysev sangat banyak membantu dalam beberapa aplikasi seperti SAR berbasis FCMW yang membutuhkan daerah transisi filter yang cukup sempit.

Daftar Pustaka:

Collin, E. Robert (2001): Foundations for Microwave

Engineering, New Jersey, John Wiley & Sons,

Inc., Second Edition.

Stringham, C., Long, D. G., Wicks, B., and Ramsey, G.(2010): Digital Receiver Design for an Offset

IF LFM-CW SAR, Utah and New York, BYU

Microwave Earth Remote Sensing Laboratory and ARTEMIS Inc., pp. 960.

Edwar & Munir, A. (2015): Developent of SAR

Transmitter for Nanosatellite-based Remote Sensing Application, Proc. of 5th ICEE, Bali,

Indonesia, August 2015, pp. 1.

Goodman, A. N., Lin, C. S. Rajakhrisna, D., Stiles, M.J. (2002): Processing of Multiple-Receiver

Spaceborne Arrays for Wide-Area SAR, IEEE

Transactions on Geoscience and Remote Sensing, Kansas, The University of Kansas, Vol. 40, No.4. Liu, Y., Deng, K. Y., Wang, R., and Loffeld, O. (2013): Bistatic FMCW SAR Signal Model and

Imaging Approach, IEEE Transactions on

Aerospace and Electronic Systems, Vol. 49, No.3. Misra, K. D. (2001): Radio Frequency and

Microwave Communication Circuits, New

Jersey, John Wiley & Sons, Inc.

Nugroho & Widi, A. K. (2010): Studi Perbandingan

Chebyshev Filter, Cauer Filter dan Bessel-Thomson Filter yang Direalisasikan Menggunakan Operasional Amplifier dan Field Progamable Analog Array FPPA, Surabaya, ITS.

Steven (1997): The Scientist and Engineer’s Guide to

Digital Signal Processing, California, California

Technical.

Syrovatka, Bretislav (1995): Narrowband Tracking

Filters in FMCW Radar Sensors, Czech

Republic, Department of RadioElectronics. Tao, J., Palubinskas, G., Reinartz, P., and Auer,

S.(2011): Interpretation of SAR Images in Urban

Areas Using Simulated Optical and Radar Images, IEEE Joint Urban Remote Sensing

Event, Munich, Germany, April 11-13.

Zverev, A. I. (1967): Handbook of Filter Synthesis, New York, USA, John Wiley & Sons, Inc.

Gambar

Tabel 1. Nilai ternormalisasi rangkaian LPF Cauer- Cauer-Chebyshev orde 5 untuk   = 0,08
Tabel 5. Hasil tranformasi LPF-BPF Cauer- Cauer-Chebyshev orde 5 melalui pendekatan komponen
Gambar 5. Hasil simulasi BPF Cauer-Chebyshev  orde 5 dengan pendekatan komponen  Komponen  dengan  urutan  bernomor  genap  lebih berfungsi sebagai pembentuk nilai  S 11  dan S 21 ,  dimana  memperbesar  induktor  pada  N -   (baik  itu  4  atau  2)  atau

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian ini penulis melakukan beberapa referensi dari beberapa sumber yang membahas mengenai algoritma metode pengurutan diantaranya adalah Sonita [5] yang

Transparansi merupakan suatu pengungkapan informasi kepada semua pihak yang berkepentingan untuk mengetahui dengan pasti apa yang telah dan akan terjadi dalam

Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis semua makhluk hidup mulai

Ob- jek kajian dalam penelitian ini adalah karya seni rupa Indonesia periode 2000-2011, yang dibatasi pada karya-karya dua dimensi dengan medium konvensional seni lukis dari

Perancangan Karakter dalam Tokoh Alkitab Raja Salomo dan Raja Daud dalam Motion Comic dengan ini menyatakan bahwa, laporan dan karya Tugas Akhir ini adalah asli dan belum

Tahap 4 merupakan tahap tidur terdalam, sangat sulit untuk membangunkan orang yang tidur, jika terjadi kurang tidur maka orang yang tidur akan menghabiskan porsi malam yang

Dalam proses perancangan, metode yang digunakan adalah metode VDI 2221 yang terdiri dari penjarbaran tugas dengan membuat daftar checklist, perancangan konsep dengan

giberelin diaplikasikan pada tanaman rosette dalam kondisi non induktif untuk berbunga akan mampu membuat tanaman tersebut bolting dan berbunga, namun bila konsentrasinya