• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISSN : X Jurnal Riset dan Praktik Pendidikan Kimia Vol. 1 No. 1 Mei 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ISSN : X Jurnal Riset dan Praktik Pendidikan Kimia Vol. 1 No. 1 Mei 2013"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

DESAIN PEMBELAJARAN ELEKTROKIMIA

MENGGUNAKAN KONTEKS KERIS SEBAGAI KEARIFAN LOKAL INDONESIA UNTUK MENINGKATKAN LITERASI SAINS SISWA SMA

Oleh :

Suci Rizki NA1, Ahmad Mudzakir2, Hernani3

Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA UPI – email : [email protected]

Jurusan Pendidikan kimia FPMIPA UPI Bandung. – email : [email protected]

Jurusan Pendidikan kimia FPMIPA UPI – email : [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh desain pembelajaran meliputi Desain Didaktis (DD) dan Antisipasi Didaktis Pedagogis (ADP). DD dan ADP dituangkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), multimedia pembelajaran, dan alat ukur penilaian untuk meningkatkan literasi sains siswa. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif. Karakteristik desain pembelajaran yang dikembangkan nampak pada konten pembelajaran yang mengkaitkan pembelajaran elektrokimia dengan konteks keris sebagai kearifan lokal Indonesia. Desain pembelajaran sesuai dengan aspek kompetensi yang dikembangkan oleh PISA (2009) dan sikap serta nilai budaya dan karakter bangsa yang dikembangkan oleh Puskur (2010). Tanggapan guru kimia terhadap desain yang dikembangkan diperoleh dari angket rating scale. Tanggapan terhadap RPP Topik 1 (Sel Volta) dan perangkatnya berdasarkan komponen penilaian adalah sangat baik dengan perolehan persentase 77,38%, sedangkan terhadap RPP Topik 2 (Elektrolisis dan Hukum Faraday) dan perangkatnya adalah juga sangat baik dengan perolehan persentase 72,62%. Desain pembelajaran yang telah dikembangkan dapat dikategorikan sangat baik dan layak untuk diimplementasikan.

Kata kunci : Literasi sains, kearifan lokal, keris, elektrokimia.

DESIGN OF ELECTROCHEMISTRY TEACHING MODEL USING INDONESIAN CREESE AS LOCAL WISDOM TO INCREASE HIGH SCHOOL STUDENT

SCIENCE LITERACY

Abstract

The objective od this research is to develop teaching model covering Didactic Design (DD) and Anticipation Didactic Paedagogic (ADP) which was adopted into Lesson Plan (LP), Student Work Sheets (LKS), teaching multimedia and evaluation instruments to increase student science literacy. Research methode used is descriptive. Teaching design of electrochemistry was developed by linking into Indonesian local wisdom such as creese. The competition aspect model was designed base on PISA (2009), while attitude, character and nation culture was adopted from Puskur (2010). Teacher respond into the model was obtained from rating scale questioners. Teacher respond into first Lesson Plan model unit of Volta Cell topic was very good by 77.38%, also into second lesson plan of Electrolysis and Faraday’s Law was very good 72.62%. The category of this develepoved teaching model was very good and suitable to class implementations.

Key words: Science Literacy, Local wisdom, creese, electrochemistry.

PENDAHULUAN

Kimia merupakan bagian dari rumpun sains, karena itu pembelajaran

kimia juga merupakan bagian dari pembelajaran sains. Pembelajaran sains diharapkan dapat menjadi wahana bagi

DO NOT COPY

(2)

peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari[1]. Pembelajaran sains

menekankan pada pemberian pengalam-an pembelajarpengalam-an secara lpengalam-angsung atau pengembangan kompetensi, agar siswa mampu memahami alam sekitar secara ilmiah.

Siswa sering beranggapan bahwa pembelajaran sains yang diterapkan di sekolah selama ini merupakan pelajaran yang terpisah dari dunia tempat mereka berada. Hal tersebut menyebabkan siswa

tidak mampu mengaitkan dan

menggunakan konsep-konsep sains yang dipelajarinya untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari, karena siswa tidak memperoleh pengalaman belajar untuk mengaitkan konsep-konsep sains dengan fenomena-fenomena yang ada di lingkungan mereka.

Sains pada hakikatnya terdiri atas empat aspek yaitu konten/konsep sains, kompetensi (proses) sains, konteks aplikasi sains, dan sikap sains[2].

Kemampuan penguasaan terhadap empat aspek sains yaitu konten/konsep sains, kompetensi sains, konteks aplikasi sains, dan sikap sains (literasi sains) siswa SMA di Indonesia masih di bawah rata-rata. Hasil studi komparatif internasional

PISA (Programme for International Student

Assesment) yang diselenggarakan OECD

(Organization for Economic Cooperation and

Development) tahun 2009 menunjukkan

bahwa:

1. Tidak ada siswa Indonesia yang mencapai level level 5 dan level 6. 2. Capaian Indonesia untuk level 4 adalah

0,5 %.

3. Capaian Indonesia untuk level 3 adalah 6,9 %.

4. Capaian Indonesia untuk level 2 adalah 27,0 %.

5. Capaian Indonesia untuk level 1 adalah 41,0 %.

6. Sebanyak 6,9% siswa Indonesia berada di bawah level 1.

Berdasarkan data tersebut, terlihat dengan jelas bahwa siswa di Indonesia memiliki literasi sains yang masih di bawah rata-rata dan secara umum kemampuan siswa Indonesia berada pada tahapan terendah skala pengukuran PISA, yaitu hanya dapat menjelaskan konsep sederhana. Oleh karena itu, diperlukan suatu wahana agar siswa mendapatkan kesempatan untuk mengaitkan pengetahuan sains yang dipelajarinya dengan fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar mereka.

Selain kompetensi yang sifatnya global, pendidikan dalam perspektif literasi juga harus menimbang kearifan lokal[3]. Suatu bangsa dapat maju jika

masyarakatnya menjunjung tinggi kearifan lokalnya[4]. Kearifan lokal perlu dikaitkan

dalam pembelajaran sains/kimia dengan harapan siswa akan lebih mengerti konsep-konsep kimia apabila berangkat dan dikaitkan dengan kearifan lokalnya masing-masing. Nilai-nilai yang terkandung dalam kearifan lokal merupakan salah satu nilai yang perlu ditanamkan kepada siswa sebagai wahana pendidikan karakter bangsa.

Indonesia adalah suatu bangsa yang syarat dengan kearifan lokal. Salah satu dari sekian banyak kearifan lokal Indonesia adalah keris. Keris adalah khasanah budaya asli warisan nenek moyang bangsa Indonesia, berasal dari pulau Jawa yaitu dari Kerajaan Mataram Hindu[5]. Pada 25 November 2005, keris

telah ditetapkan sebagai karya agung milik bangsa Indonesia oleh UNESCO.

Khususnya di pulau Jawa ada tradisi jamasan atau mencuci keris setahun sekali pada bulan-bulan tertentu. Sebenarnya hal tersebut secara ilmiah dapat dihubungkan dengan sifat dari material utama keris yaitu besi. Sifat besi yang korosif membuat

DO NOT COPY

(3)

tradisi tahunan ini perlu dilakukan. Berdasarkan standar isi mata pelajaran kimia, salah satu materi pokok dalam mata pelajaran kimia adalah elektrokimia. Konten elektrokimia sangat berhubungan dengan konteks keris serta tradisi penjamasannya.

Berdasarkan hal di atas, maka penulis melakukan penelitian mengenai “desain pembelajaran elektrokimia menggunakan konteks keris sebagai kearifan lokal Indonesia untuk meningkatkan literasi sains siswa”.

Adapun permasalahan utama dalam penelitian ini adalah “bagaimana desain pembelajaran elektrokimia menggunakan konteks keris sebagai kearifan lokal Indonesia yang dapat meningkatkan literasi sains siswa SMA?” Permasalahan tersebut diuraikan menjadi sub-sub masalah berikut:

1. Bagaimana langkah-langkah pengem-bangan desain pembelajaran elektro-kimia menggunakan konteks keris untuk meningkatkan literasi sains siswa SMA?

2. Bagaimana karakteristik desain pembelajaran yang dikembangkan? 3. Bagaimana penilaian guru kimia

terhadap desain pembelajaran yang dikembangkan berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan perangkatnya?

Tujuan utama penelitian ini adalah diperolehnya:

1. Desain pembelajaran meliputi desain didaktis dan antisipasi didaktis pedagogis yang dituangkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), multimedia pembelajaran, dan alat ukur penilaian.

2. Informasi tentang tanggapan guru kimia terhadap program yang dikembangkan.

METODE PENELITIAN

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deskriptif yang memuat aspek kualitatif juga kuantitatif. Data kualitatif berupa karakteristik desain yang dikembangkan dan data kuantitatif berupa persentase penilaian ahli berdasarkan angket rating scale.

Penelitian deskriptif meliputi penelitian yang diarahkan pada penelitian kualitatif atau kuantitatif[6]. Namun

penelitian deskriptif dalam bidang pendidikan dapat berupa perpaduan penelitian kualitatif dan kuantitatif[7].

Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan maka diperlukan alur penelitian.

1. Menganalisis standar kompetensi dan kompetensi dasar pada submateri pokok elektrokimia dalam Standar Isi mata pelajaran kimia SMA.

2. Telaah buku teks kimia Sunarya dan Setiabudi (2009).

3. Telaah kepustakaan pembelajaran literasi sains dan kepustakaan pembelajaran berbasis kearifan lokal keris.

4. Perumusan, validasi, dan revisi indikator dan tujuan pembelajaran aspek kognitif disesuaikan dengan kompetensi PISA 2009.

5. Perumusan, validasi, dan revisi indikator dan tujuan pembelajaran aspek sikap disesuaikan dengan PISA 2009 (sikap terhadap sains) dan Pusat Kurikulum 2010 (nilai budaya dan karakter bangsa).

6. Melakukan analisis dan

pemproduksian wacana materi pokok elektrokimia menggunakan konteks keris. Wacana yang dianalisis berupa wacana konten dan wacana konteks. 7. Penyusunan lesson sequence map

elektrokimia konteks keris berdasarkan tujuan dan wacana pembelajaran materi pokok elektrokimia konteks keris.

(4)

8. Perumusan desain didaktis dan antisipasi didaktis pedagogis materi pokok elektrokimia konteks keris sebagai kerangka awal desain pembelajaran. Urutan pembelajaran pada desain didaktis dan antisipasi didaktis pedagogis disesuaikan dengan

lesson sequence map yang telah disusun.

9. Perumusan RPP dan perangkat pendukung RPP.

10. Validasi RPP dan perangkat pendukung RPP oleh pakar pendidikan.

11. Revisi urutan lesson sequence map, desain didaktis dan antisipasi didaktis pedagogis.

12. Revisi RPP dan perangkat pendukung RPP.

13. Penyebaran angket pada guru kimia untuk mengetahui tanggapan guru kimia sebagai praktisi pendidikan terhadap desain pembelajaran yang telah dikembangkan. Format penilaian desain pembelajaran mengadaptasi format penilaian lesson plan menurut WOGI (2010).

Instrumen-instrumen Penelitian yang digunakan antara lain:

1. Instrumen penelitian yang disusun untuk menjawab rumusan masalah satu dan dua terdiri atas:

a. Tabel validasi kesesuaian indikator dan tujuan pembelajaran aspek kognitif dengan SK, KD, konteks, konten dan kompetensi pisa 2009. b. Tabel validasi kesesuaian indikator

dan tujuan pembelajaran aspek sikap dengan SK, KD, konten, serta aspek sikap PISA 2009 (sikap terhadap sains) dan Pusat Kurikulum 2010 (nilai budaya dan karakter bangsa).

c. Desain didaktis.

d. Antisipasi didaktis pedagogis.

e. Tabel validasi kesesuaian langkah-langkah pembelajaran RPP, media

pembelajaran dengan tujuan pembelajaran.

f. Tabel validasi kesesuaian komponen LKS pembelajaran dengan tujuan pembelajaran.

g. Tabel validasi kesesuaian alat ukur penilaian dengan indikator pembelajaran.

h. Format validasi media pendukung desain pembelajaran elektrokimia konteks keris.

2. Instrumen penelitian yang disusun untuk menjawab rumusan masalah tiga yaitu angket tanggapan guru kimia terhadap desain pembelajaran yang dikembangkan.

Menganalisis data penelitian yang dihasilkan dari instrumen-instrumen penelitian 1 dilakukan untuk menghasilkan deskripsi langkah-langkah pengembangan desain pembelajaran elektrokimia konteks keris. Selain itu, hal ini juga dilakukan untuk menentukan karakteristik desain pembelajaran yang telah dikembangkan.

Data angket yang diperoleh diolah dengan rating scale. Menggunakan rating

scale, data mentah yang diperoleh

berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif[8]. Penyusun

instrumen rating scale harus dapat mengartikan setiap angka yang diberikan pada alternatif jawaban pada setiap item instrumen[8].

Berdasarkan instrumen yang diberikan kepada responden sejumlah p, jumlah item sebanyak q, dan skor tertinggi adalah 3, maka jumlah skor kriterium (bila setiap butir mendapat skor tertinggi) = p × q × 3. Sehingga, bila instrumen diberikan kepada 12 responden, maka sebelum dianalisis, data harus ditabulasikan.

Untuk skor tertinggi tiap butir = 3, jumlah butir = 7 dan jumlah responden = 12, maka jumlah skor kriterium adalah

DO NOT COPY

(5)

= 3 × 7 × 12 = 252. Secara kontinum dapat dibuat tiga kategori, yaitu 87(kurang baik), 168(baik), 252 (sangat baik)[8].

HASIL DAN PEMBAHASAN

Langkah - Langkah Pengembangan Desain Pembelajaran

Desain pembelajaran elektrokimia yang dikembangkan dan diwujudkan dengan rancangan RPP. RPP terdiri atas sejumlah komponen yaitu identitas mata pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, model, pendekatan dan metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar[9].

Komponen-komponen RPP selain identitas mata pelajaran, SK dan KD dapat terwujud melalui pengembangan desain pembelajaran sebagai bentuk perencanaan pembelajaran. Desain pembelajaran adalah rancangan pembelajaran berupa suatu rangkaian situasi didaktis (hubungan siswa dengan materi) beserta antisipasi didaktis pedagogis (tindakan yang akan dilakukan guru berdasarkan prediksi respon siswa terhadap situasi didaktis yang tercipta) untuk mencapai kompetensi yang diharapkan[10]. Untuk menghasilkan

desain tersebut dilakukan melalui sejumlah langkah- langkah pengembang-an. Langkah-langkah pengembangan desain tersebut terdiri atas:

1. Perumusan, validasi dan revisi indikator pembelajaran aspek kognitif dan sikap

2. Perumusan, validasi dan revisi tujuan pembelajaran aspek kognitif dan sikap. 3. Pemproduksian wacana.

4. Penyusunan lesson squence map.

5. Perumusan desain didaktis dan antisipasi didaktis pedagogis.

6. Perancangan dan validasi RPP dan perangkat penunjang RPP.

7. Revisi urutan lesson squence map, desain didaktis, dan antisipasi didaktis pedagogis.

8. Revisi RPP dan perangkat penunjang RPP.

Karakteristik Desain Pembelajaran yang Dikembangkan

Indikator terdiri atas indikator aspek kognitif dan indikator aspek sikap. Validasi indikator kognitif disesuaikan dengan SK dan KD, konten, dan aspek kompetensi PISA 2009, sehingga yang menjadi ciri khas indikator kognitif pada desain adalah terdapatnya aspek kompetensi ilmiah PISA 2009. Validasi indikator aspek sikap disesuaikan dengan SK dan KD, konten, dan aspek sikap PISA 2009, aspek nilai budaya dan karakter bangsa Puskur 2010. Indikator aspek sikap memiliki ciri khas yang sesuai dengan aspek sikap PISA 2009, aspek nilai budaya dan karakter bangsa Puskur 2010.

Langkah-langkah pembelajaran yang disusun sesuai dengan pembelajaran STL yang mengadopsi tahap-tahap pembelajaran berdasarkan proyek chemie

in context dalam Nentwig et al. (2002) dan

penyisipan langkah seperti yang disarankan oleh Holbrook (2005). Strategi pembelajaran yang digunakan disesuaikan pula dengan pembelajaran STL yang menyisipkan isu sosio-ilmiah pada tahapannya. Isu tersebut sebenarnya tercakup pada materi pembelajaran yang dikembangkan.

Materi pembelajaran dikembangkan terdiri atas konten dan konteks. Konteks yang dipilih sesuai dengan isu sosio-ilmiah yang diangkat pada pembelajaran. Isu tersebut dimunculkan sebagai pertanyaan pada tahap kuriositi kemudian dituntut untuk dijawab pada tahap decission making berdasarkan konsep yang dikaji pada tahap elaborasi. Alat ukur disusun

DO NOT COPY

(6)

berdasarkan indikator dan penyusunan sumber dan media dilakukan berdasarkan analisis tujuan pembelajaran. Alat ukur dan sumber belajar tentunya memuat aspek kognitif sesuai dengan aspek kompetensi ilmiah PISA 2009 serta aspek sikap sesuai dengan PISA 2009 dan Puskur 2010.

Tanggapan Guru Kimia terhadap Desain Pembelajaran yang Dikembangkan

Instrumen yang digunakan untuk mengetahui tanggapan guru kimia yaitu berupa angket tanggapan guru kimia terhadap desain serta perangkatnya. Angket disebarkan kepada dua belas orang guru kimia yang merupakan lulusan dari LPTK negeri. Guru kimia terbagi ke dalam tiga kualifikasi, yaitu guru kimia pemula, medium, dan profesional. Dua belas orang guru kimia menanggapi desain pembelajaran beserta perangkatnya, yang terdiri atas Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), multimedia pembelajaran, dan alat ukur literasi sains.

RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD[9]. Untuk

mencapai KD, kegiatan pembelajaran pada RPP ditunjang oleh perangkat penunjang berupa bahan ajar dan alat ukur. Perangkat penunjang yang digunakan pada desain pembelajaran elektrokimia yang dikembangkan yaitu LKS, multimedia pembelajaran, dan alat ukur literasi sains.

Angket yang berupa format tanggapan terhadap RPP dan penunjangnya memuat penilaian seluruh komponen tersebut. Adapun komponen yang ditanggapi oleh guru, yaitu tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, prosedur pembelajaran, komunikasi kelas, tugas kimia (LKS dan tugas terstruktur), penggunaan multimedia, penilaian.

Guru kimia diminta untuk menanggapi desain pembelajaran yang telah dikembangkan dan diminta pula komentar dan saran guru kimia terhadap desain yang dikembangkan. Penilaian guru terhadap komponen-komponen desain menggunakan tiga skala penilaian, yaitu sangat baik (3 poin), baik (2 poin), dan tidak baik (1 poin)[11].

1. Penilaian Terhadap Desain Pembelajaran

Berdasarkan tanggapan dua belas guru kimia berupa penilaian terhadap desain pembelajaran yang dikembangkan dengan skala yang telah ditentukan, maka diperoleh data angket berupa angka yang diolah berdasarkan rating scale. Angka yang diperoleh dari angket diolah menjadi nilai kualitatif, pengolahan data terdapat pada lampiran 10.

Berdasarkan pengolahan data angket tanggapan guru kimia, desain pembelajaran elektrokimia yang dikembangkan dapat dikualifikasikan sangat baik. Jumlah skor kriterium (bila setiap butir mendapatkan skor tertinggi) untuk skor tertinggi tiap butir =3, jumlah butir = 7, dan responden =12 yaitu 3 x 7 x 12 = 252. Adapun jumlah skor hasil pengumpulan data adalah 195 untuk RPP 1 dan 183 untuk RPP 2. Dengan demikian kualitas desain pembelajaran elektrokimia yang dikembangkan menurut persepsi 12 responden itu untuk RPP 1 adalah 195 : 252 = 77,38 % dan untuk RPP 2 adalah 183 : 252 = 72,62 %.

Nilai 195 dan 183 termasuk dalam kategori interval “baik dan sangat baik”. Tetapi lebih mendekati sangat baik. Sehingga desain pembelajaran yang telah dikembangkan dapat dikategorikan sangat baik dan layak untuk diimplementasikan. Adapun komentar dan saran guru kimia terhadap desain pembelajaran dipaparkan kemudian.

(7)

2. Komentar dan Saran Guru Kimia Terhadap Desain Pembelajaran

Selain memberikan penilaian terhadap komponen-komponen desain pembelajaran yang dikembangkan, guru kimia memberikan juga saran dan komentar terhadap desain pembelajaran yang dikembangkan. Pada umumnya seluruh guru menyatakan komentar yang baik terhadap desain pembelajaran yang dikembangkan, para guru setuju dengan pengembangan desain pembelajaran dengan menggunakan konteks budaya Indonesia sebagai kearifan lokal Indonesia. Semua guru tertarik dengan penyisipan nilai budaya pada pembelajaran sains di sekolah, namun 25% guru menyatakan keberatan apabila konten korosi logam disampaikan sejak awal pembelajaran. Keberatan tersebut disebabkan materi terkait reaksi redoks yang terjadi pada peristiwa tersebut memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi sehingga materi tentang reaksi redoks pada proses korosi lebih cocok disampaikan pada akhir subbab sel volta, setelah siswa memahami reaksi-reaksi sederhana yang dapat terjadi pada beberapa sel volta. Selain itu, 33,3 % guru kimia merasa kesulitan untuk dapat menilai desain pembelajaran yang dikembangkan karena tidak melihat langsung pelaksanaan proses pembelajaran

Adapun saran perbaikan yang disampaikan oleh seluruh guru kimia dikategorikan menjadi beberapa bagian, yaitu saran perbaikan untuk materi pembelajaran, saran perbaikan untuk prosedur pembelajaran, saran perbaikan untuk tugas kimia, dan saran perbaikan untuk penilaian.

1) Materi Pembelajaran

16,67 % responden menyatakan bahwa materi pembelajaran harus ditinjau ulang, PW menyarankan agar peneliti dapat menyiapkan materi yang lebih penting untuk bekal siswa agar dapat menyelesaikan soal-soal seleksi yang memiliki tingkat kesukaran tinggi dan tingkat penguasaan pengetahuan yang

dalam. Selain itu, PW menyarankan agar pembahasan korosi tidak hanya korosi besi saja, disampaikan pula aplikasi korosi pada contoh logam lain. Kemudian YL menyarankan agar konteks pembelajaran tidak terbatas konteks keris untuk keseluruhan materi pokok elektrokimia. YL juga menyarankan agar memperbanyak konteks berupa contoh-contoh sel elektrokimia yang lebih mutakhir dan komersil, seperti macam-macam baterai atau sel bahan bakar terbarukan yang menggunakan konsep sel elektrokimia.

2) Prosedur pembelajaran

25 % guru kimia menyarankan agar prosedur pembelajaran dapat diperbaiki. YL menyarankan agar memperbanyak metode praktikum pada pembelajaran KD. 2.2, seperti memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk dapat melakukan elektrolisis menggunakan berbagai elektroda inert/tak inert, kemudian untuk hukum Faraday dapat diterapkan pembelajaran praktikum pelapisan logam. YL dan YR menyarankan agar pembelajaran korosi disampaikan diakhir pembelajaran sel volta. Selain itu, YL dan YR menyarankan agar menambah jumlah alokasi waktu pertemuan untuk pembahasan materi elektrokimia ini karena berdasarkan pengalaman, pembelajaran materi elektrokimia biasanya minimal dilakukan selama 16 jam pelajaran.

3) Tugas kimia

33,33 % guru kimia menyarankan agar peneliti memperbaiki tugas kimia. Tugas kimia terdiri atas tugas yang menuntut siswa untuk mengkonstruk pengetahuannya yaitu tugas berupa LKS dan tugas rumah yang akan merefleksi hasil pembelajaran di kelas. AM dan YR menyarankan untuk memperbaiki bahan-bahan dan prosedur pengamatan pada LKS praktikum. DA, YL dan YR menyarankan untuk memperbanyak soal

DO NOT COPY

(8)

latihan pada setiap akhir pembelajaran sebagai pengayaan untuk belajar siswa di rumah.

4) Penilaian

16,67% guru kimia menyarankan alat ukur dapat diperbaiki, YR menyarankan agar pada alat ukur ditambahkan soal pilihan ganda. PW menyarankan agar menambahkan soal-soal subbab potensial sel.

KESIMPULAN

1. Langkah-langkah pengembangan desain pembelajaran elektrokimia konteks keris, terdiri atas :

a. Perumusan, validasi dan revisi indikator pembelajaran aspek kognitif dan sikap Perumusan, validasi dan revisi tujuan pembelajaran aspek kognitif dan sikap.

b. Pemproduksian wacana. c. Penyusunan lesson squence map.

d. Perumusan desain didaktis dan antisipasi didaktis pedagogis.

e. Perancangan serta validasi RPP dan perangkat penunjang RPP.

f. Revisi urutan lesson squence map, desain didaktis, dan antisipasi didaktis pedagogis.

g. Revisi RPP dan perangkat penunjang RPP.

2. Desain pembelajaran yang dikembangkan terdiri atas desain didaktis dan antisipasi didaktis pedagogis yang dituangkan dalam RPP dan perangkatnya. Karakteristik desain pembelajaran yang dikembangkan sesuai dengan aspek kompetensi dan aspek sikap serta aspek nilai budaya dan karakter bangsa, dan model pembelajaran STL yang mengadopsi tahap-tahap pembelajaran berdasarkan proyek Chemie im Kontext

dengan menambahkan tahap

pengambilan keputusan.

3. Desain pembelajaran telah

diklasifikasikan sangat baik oleh guru-guru kimia, sehingga desain pembelajaran yang telah dikembangkan layak untuk diimplementasikan.

REFERENSI

Alwasilah, C., Karim S., Tri K. (2009). Etnopedagogi: Landasan Praktik Pendidikan Guru. Bandung: PT Kiblat Buku Utama

BSNP. (2007). Standar Proses. Jakarta: BSNP

Depdiknas. (2008). Konsep Dasar Pendidikan Berbasis Keunggulan dan Kearifan Lokal. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Menengah Umum.

Harsrinuksmo, B.(2003). Ensiklopedia Keris. Jakarta: Gramedia.

Hayat, B dan Suhendra Y.(2010). Mutu Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Niaz, M. (1997). Can We Intregrate Qualitative and Quantitative Research In Science Education?. Netherland : Cluwer Academic Publisher.

OECD (2009). PISA 2009 Assessment Framework Key competencies in reading, mathematics and science.

[online]. Tersedia : http:// www.oecd.org/dataoecd/11/40/44455820.pdf [10 September

2010]

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sukmadinata, N.S. (2010). Metode Penelitian dan Pendidikan. Bandung: PT.Remaja Rosda Karya. Suryadi, D. (2010). “Metapedadidaktik dan Didactical Desain Research (DDR): Sintesis Hasil Pemikiran

Berdasarkan Leson Study”, dalam Teori, Paradigma, Prinsip, dan Pendekatan Pembelajaran MIPA

dalam Konteks Indonesia.Bandung: FPMIPA UPI.

WOGI.(________).Rubric for Lesson Plan Evaluation. (online). tersedia:

http://www.unfwogi.com/images/Rubric%20for%20Lesson%20Plan%20Evaluation.pdf [24 Mei 2011]

Referensi

Dokumen terkait

Iklan yang diberikan kepada pemirsa harus dapat menimbulkan perasaan ingin tahu dari konsumen untuk mengetahui merek yang diiklankan lebih mendalam, dan biasanya

Sistem rekrutmen termasuk seleksi calon dosen harus seragam untuk semua fakultas. Untuk itu perlu adanya pedoman tertulis yang lengkap mengenai bagaimana fakultas

Disamping kegiatan belajar harus diusahakan terus menerus, apa yang dipelajari haruslah yang mengandung ‘good value’ (Tee, 2005). Jika sebagai pendidik, atau dalam

Ada empat permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini, yaitu : (1) Bagaimana ciri-ciri anxiev disorder remaj a di desa Randengan kelurahan Kedundung kecamatan

Seperti uji fungsi, uji fungsi merupakan tindakan pengujian terhadap bagian mesin yang sudah diperbaiki utuk melihat apakah perbaikan yang dilakukan terhadap mesin

Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk memahami peran public relations pada divisi Marcomm Binus dalam memelihara citra positif, dan untuk memahami kendala

Berdasarkan hasil pengujian statistik dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat ditarik simpulan sebagai berikut: (1) Ada pengaruh yang positif dan signifikan

waktu transpor selama 1 jam untuk pH fasa sumber 3 - 6, pH optimum iodin untuk proses transpor melalui difusi reaksi diatas masuk ke membran diperoleh pada pH fasa sumber 4 dimana