1 A. Latar Belakang
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bertujuan untuk mengembangkan seluruh aspek yang dimiliki oleh anak. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Republik Indonesia Nomor 146 Tahun 2014 Tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menjelaskan bahwa aspek-aspek yang harus dikembangkan pada anak usia dini mencakup aspek nilai agama dan moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial emosi, dan seni yang tercermin dalam keseimbangan kompetensi sikap, pengetahun, dan keterampilan. Lebih lanjut dalam Kurikulum 2013 dijelaskan bahwa perkembangan aspek anak usia dini bertujuan untuk mendorong berkembangnya potensi anak agar memiliki kesiapan untuk menempuh pendidikan selanjutnya. Perkembangan aspek pada anak usia dini berlangsung secara berkesinambungan artinya tingkat perkembangan yang dicapai pada suatu tahap akan berpengaruh pada tahapan selanjutnya.
Salah satu aspek yang penting untuk dikembangkan pada anak usia dini adalah aspek bahasa. Bahasa merupakan salah satu alat komunikasi dengan orang lain, baik dalam wujud bahasa verbal maupun nonverbal. Anak usia dini selalu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Anak dapat mengekspresikan pikiran maupun perasaanya dengan menggunakan bahasa untuk memperlancar proses komunikasi. Penggunaan bahasa dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu berbicara dan menulis (Nurgiyantoro, 2001). Kegiatan berbicara pada umumnya merupakan aktivitas memberi dan menerima bahasa serta menyampaikan gagasan-gagasan kepada lawan bicara. Berbicara dapat dikatakan sebagai aktivitas yang mempunyai komunikasi timbal balik.
Belajar berbicara mencakup tiga proses terpisah tetapi saling berhubungan satu sama lain, yaitu belajar mengucapkan kata, membangun kosakata, dan membentuk kalimat (Hurlock, 1991). Hal tersebut sesuai dengan simpulan
Wehrabian (dalam Hurlock, 1991) yang mengungkapkan bahwa pada waktu anak berusia 4 tahun, kalimat mereka hampir lengkap, dan setahun kemudian kalimatnya sudah lengkap berisi semua unsur kalimat. Pada usia 5 tahun anak sudah bisa menggunakan semua unsur yang terdapat dalam kalimat. Kalimat yang lebih lengkap tersebut dapat digunakan sebagai langkah awal anak untuk memulai bercerita.
Nurgiyantoro (2001) menyatakan ada beberapa bentuk tugas kemampuan berbicara salah satunya adalah bercerita. Terdapat dua hal yang harus dikuasai siswa dalam kegiatan bercerita, yaitu unsur linguistik dan isi cerita. Melalui bercerita anak mampu mengungkapkan segala sesuatu yang ada dalam pikirannya maupun segala sesuatu yang ada di hadapannya. Kegiatan bercerita dalam pembelajaran anak usia dini merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan. Bercerita dapat membangkitkan semangat siswa untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Bercerita merupakan proses kreatif anak-anak (Rahayu, 2013). Pada saat anak bercerita anak akan merasa bahwa imajinasi dan kreativitasnya dapat tersalurkan melalui alur jalannya cerita yang disampaikan. Bercerita juga dapat membangkitkan suasana pembelajaran yang asyik dan tidak membosankan. Suasana pembelajaran akan terlihat lebih menyenangkan apabila anak dapat turut serta untuk menyampaikan pikirannya ke dalam alur cerita.
Rahayu (2013) juga menambahkan bahwa bercerita mampu menumbuhkan kepercayaan diri pada anak. Kegiatan bercerita memiliki hubungan timbal balik antara guru dengan anak. Anak mampu meningkatkan keberaniannya untuk melanjutkan cerita dari guru dengan tampil di depan kelas. Bercerita akan lebih menarik dengan kepercayaan diri yang timbul dari diri anak-anak. Bercerita juga dapat memberikan peran positif bagi anak usia dni berupa pengetahuan nilai sosial, nilai-nilai moral, dan keagamaan (Moeslichatoen, 2004).
Permendikbud RI Nomor 146 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini telah menyebutkan salah satu tingkat pencapaian perkembangan anak usia 5-6 tahun dalam lingkup bahasa adalah anak sudah mampu menceritakan kembali apa yang didengar dengan kosakata yang lebih. Silva, Strasser, & Cain (2014) menyimpulkan pada usia 6 tahun anak sudah mampu menciptakan sebuah cerita secara urut dan tepat serta terorganisir. Sejalan dengan pendapat Mönks, Knoers, & Haditono (2004) apabila pada usia 5-6 tahun anak belum bisa bercerita, maka anak akan merasa tidak berhasil karena belum mampu menyelesaikan tugas perkembangan. Perkembangan aspek bahasa anak akan menurun, yang berakibat pada penurunan jumlah penguasaan kosakata serta anak kurang mampu menyampaikan ide-ide secara runtut. Keberanian anak juga kurang terlatih karena belum mampu bercerita di depan umum (Rahayu, 2013)
Beberapa model pembelajaran yang dapat mempengaruhi kemampuan bercerita anak usia dini antara lain pembelajaran menggunakan media gambar seri, media audio visual, media boneka tangan, media wayang, model pembelajaran kooperatif tipe picture and picture,dll. Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan, berbagai media dan model pembelajaran tersebut terbukti dapat berpengaruh terhadap kemampuan bercerita anak usia dini.
Rusman (2011) menjelaskan dalam pembelajaran kooperatif akan tercipta sebuah interaksi dan komunikasi yang dilakukan antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan siswa dengan guru (multi way traffic communication). Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran multiarah, yang mempunyai risiko kecil terhadap pembelajaran satu arah. Pembelajaran kooperatif juga dapat meningkatkan prestasi akademik siswa, meningkatkan ingatan siswa juga menghargai proses komunikasi antarteman sebaya.
Karyana (2013) mengungkapkan talking chips atau yang lebih dikenal dengan istilah kancing gemrincing merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif. Talking chips merupakan pembelajaran dengan sistem
berkelompok, satu kelompok beranggotakan 4-5 orang dengan kedudukan yang sama. Pembelajaran menggunakan talking chips dapat menumbuhkan 2 proses penting, yaitu proses sosial dan penguasaan materi (Wahab, 2013). Proses sosial berperan penting dalam talking chips sebab menuntut siswa untuk dapat bekerjasama dalam kelompoknya, sehingga para siswa dapat membangun pengetahuan mereka di dalam suatu bingkai sosial yaitu pada kelompoknya. Talking chips juga menuntut siswa untuk menguasai materi dalam wujud siswa belajar untuk berdiskusi, meringkas, memperjelas suatu gagasan, dan konsep materi yang mereka pelajari, serta dapat memecahkan masalah-masalah.
Talking chips dalam kegiatan bercerita mempunyai banyak peran dalam proses penguasaan materi. Talking chips merupakan model pembelajaran berkelompok, setiap anggota kelompok berhak memberikan kontribusi (suara) untuk keberlangsungan proses pembelajaran. Talking chips merupakan model pembelajaran dengan sistem yang mempunyai kartu berhak berbicara. Berbicara yang dimaksud dapat berupa bercerita. Anak dapat melanjutkan cerita yang telah dibacakan oleh guru sesuai dengan keratifitas dan imajinasinya. Pada saat bercerita anak mampu menyalurkan ekspresi dalam bingkai kegiatan yang menyenangkan. Talking chips dapat menghindarkan rasa malu anak untuk menyampaikan gagasan berupa cerita di depan kelas.
Penerapan model pembelajaran talking chips dapat memberi motivasi positif bagi siswa dan juga memberi pengalaman yang berkesan. Pembelajaran menggunakan talking chips akan berpusat pada siswa (student centered) yang akan membuat siswa lebih aktif mengikuti kegiatan pembelajaran maupun menyalurkan pendapat mengenai materi yang sedang dipelajari. Siswa akan merasakan secara langsung proses penyampaian isi cerita. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan oleh Wahab (2013), maka peneliti berasumsi akan melakukan uji coba penerapan model pembelajaran kooperatif tipe talking chips terhadap kemampuan bercerita anak usia dini.
Uji coba penerapan model pembelajaran kooperatif tipe talking chips akan dilakukan di TKIT Amanah Ummah. Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti pada tanggal 11 Januari 2016, guru kelas masih menggunakan kegiatan satu arah pada saat bercerita. Siswa terlihat kurang konsentrasi terhadap apa yang diceritakan oleh guru karena yang mengakibatkan siswa kurang berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Siswa sering malu apabila diminta ke depan untuk melanjutkan cerita. Pada saat bercerita, anak didik sering mengantuk karena kegiatan bercerita yang digunakan guru tidak menarik. Siswa sering tidak bisa memberikan umpan balik ataupun menjawab pertanyaan dari guru mengenai isi cerita yang telah dibacakan.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui apakah talking chips dapat berpengaruh terhadap kemampuan bercerita pada anak usia dini. Oleh karena itu, peneliti ingin mengadakan penelitian yang berjudul “Pengaruh Talking Chips terhadap Kemampuan Bercerita pada Anak Usia 5-6 Tahun TKIT Amanah Ummah Wonosari”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka masalah yang dapat di identifikasi adalah sebagai berikut:
1. Guru masih menggunakan kegiatan satu arah pada saat bercerita.
2. Sebagian siswa masih belum terlibat aktif pada saat kegiatan bercerita berlangsung.
3. Siswa masih sulit untuk berkonsentrasi dan mendengarkan mengenai cerita apa yang sedang dibacakan oleh guru.
4. Kegiatan bercerita masih satu arah, siswa sering tidak bisa memberikan umpan balik berupa jawaban dari pertanyaan yang diberikan oleh guru mengenai isi cerita.
6. Siswa masih terlihat malu untuk maju ke depan apabila diminta guru untuk melanjutkan sebagian cerita.
C. Pembatasan Masalah
Agar permasalahan dapat dikaji secara terarah maka perlu adanya pembatasan masalah. Batasan masalah dalam penelitian ini penerapan talking chips terhadap kemampuan bercerita di TKIT Amanah Ummah.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Adakah pengaruh talking chips terhadap kemampuan bercerita pada anak usia 5-6 tahun di TKIT Amanah Ummah?”
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh talking chips terhadap kemampuan bercerita pada anak usia 5-6 tahun di TKIT Amanah Ummah.
F. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini ditinjau dari manfaat teoritis dan manfaat praktis yaitu:
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai rujukan terhadap penelitian penerapan model pembelajaran kooperatif tipe talking chips terhadap kemampuan bercerita anak usia dini.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Anak
1) Siswa terlihat lebih aktif untuk menyampaikan cerita.
b. Bagi Guru dan Sekolah
1) Guru memperoleh model pembelajaran kooperatif tipe talking chips. 2) Sekolah termotivasi untuk menggunakan model-model pembelajaran