2016
“Menjadi Referensi dan
Mitra yang Andal dalam
Studi Reformasi Administrasi
di Indonesia”
ANNUAL REPORT 2016
PUSAT KAJIAN REFORMASI
ADMINISTRASI
DEPUTI BIDANG KAJIAN KEBIJAKAN
LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA
KATA PENGANTAR
Saat ini Indonesia dihadapkan dengan berbagai tantangan, baik dari dalam maupun luar negeri. Berbagai tantangan ini tentu perlu disikapi dengan optimalisasi kinerja pemerintahan yang profesional dan responsif.
Pusat Kajian Reformasi Administrasi (PRAKSIS) sebagai salah satu Pusat di Deputi Bidang Kajian Kebijakan Lembaga Administrasi Negara, sesuai amanat Undang-Undang ASN, perlu turut serta menyukseskan pelaksanaan pengkajian terkait dengan kebijakan dan manajemen ASN, serta reformasi birokrasi demi terwujudnya visi Pemerintahan Berkelas Dunia
(World Class Government) tahun 2025.
Dalam mewujudkan kontribusinya, PRAKSIS berupaya mengakselerasi diri melakukan terobosan-terobosan dalam bidang kajian kebijakan, kerjasama dan konsultansi. Pada tahun 2016 PRAKSIS melakukan dua kegiatan utama, yaitu 1) Penyusunan Pedoman Pengembangan Kompetensi ASN dengan fokus pada pengembangan kompetensi PNS; dan 2) Kajian Pengukuran Indeks Kompleksitas dalam Pelayanan Publik.
Selain itu, PRAKSIS senantiasa melakukan pengembangan jejaring kerja dengan Mitra Pembangunan dan kerjasama dengan Kementerian, Lembaga dan Pemerintah Daerah melalui kegiatan fasilitasi di bidang pengembangan kapasitas aparatur, manajemen ASN serta organisasi.
Dokumen Annual Report ini hadir sebagai bentuk akuntabilitas PRAKSIS atas pelaksanaan kegiatan yang telah dilakukan selama tahun 2016 yang mencakup antara lain kilas balik kegiatan tahun 2016, capaian Indikator Kinerja Utama, Kemitraan dan Statistik.
Atas nama tim, PRAKSIS mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak, khususnya kepada Pimpinan, para Narasumber, yang telah membantu dalam menyukseskan berbagai kegiatan yang dilakukan selama tahun 2016. Semoga kinerja PRAKSIS dapat memberi manfaat dalam rangka meningkatkan kinerja dan akselerasi pembangunan khususnya dalam bidang reformasi administrasi.
Jakarta, Desember 2016
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
KALEIDOSKOP ... 1
HIGHLIGHT KEGIATAN ... 10
A. Kajian Pengukuran Indeks Kompleksitas dalam Pelayanan Publik ... 10
B. Penyusunan Pedoman Pengembangan Kompetensi ASN ... 16
CAPAIAN INDIKATOR KINERJA UTAMA ... 21
KEMITRAAN ... 25
STATISTIK ... 30
A. Pelaksanaan Reformasi Birokrasi ... 30
B. Profil ASN Indonesia... 36
C. Pelaksanaan Seleksi Terbuka JPT ASN... 39
KALEIDOSKOP
Pusat Kajian Reformasi Administrasi (PRAKSIS) yang berkedudukan di bawah Deputi Bidang Kajian Kebijakan pada sepanjang tahun 2016 telah melakukan berbagai kegiatan yang terkait dengan tugas dan fungsinya.
Beberapa Dokumentasi Kegiatan PRAKSIS pada tahun 2016 adalah sebagai berikut:
PRAKSIS melakukan Benchmark terkait pelayanan administrasi perizinan di Georgia dengan Narasumber Vera Kobalia (Mantan Menteri Keuangan dan Ekonomi Pembangunan Republik Georgia/ International Adviser for Ease of Doing Business Indonesia) yang dilaksanakan tanggal 8 April 2016 di Kantor LAN Jakarta.
PRAKSIS melakukan FGD Sharing Pengalaman Pengembangan Kompetensi Pegawai di Sektor Pemerintah dan Non Pemerintah pada tanggal 22 April 2016 di Kantor LAN Jakarta.
PRAKSIS mengadakan pertemuan dengan Forum Komunikasi Kelitbangan (FKK) terkait strategi penguatan kelitbangan dalam pengkajian kebijakan yang dilaksanakan pada tanggal 29 April 2016 di Kantor LAN Jakarta.
PRAKSIS mengadakan Seminar “Revolusi Mental: Creating Shared Value in Public Sector for Innovation and Sustainability” yang diaksanakan tanggal 1 Juni 2016 di Aula LAN Jakarta.
PRAKSIS mengikuti lokakarya model kompetensi JPT ASN yang diadakan oleh BKN dan GIZ pada tanggal 16 Juni 2016 di Hotel Sultan Jakarta.
PRAKSIS melakukan Focus Group Discussion dengan OECD terkait Strategic Human Resources Management pada tanggal 17 Juni 2016 di Kantor LAN Jakarta.
PRAKSIS mengadakan Workshop Teknik Statistik Penyusunan Indeks dengan Narasumber dari BPS dan AIPEG-AUSaid yang dilaksanakan tanggal 18-20 Juli 2016 di Kantor LAN Jakarta.
PRAKSIS melakukan studi lapangan terkait kajian pengukuran indeks kompleksitas dalam pelayanan publik yang salah satu lokusnya di Dinas Perizinan Kota Yogyakarta pada tanggal 25 Juli 2016.
PRAKSIS menjadi salah satu insiator Seminar HUT LAN yang ke-59 dengan tema“Membangun Budaya Unggul Lembaga Administrasi Negara dalam Mendukung Revolusi Mental ASN” diselenggarakan tanggal 3 Agustus 2016 di Aula LAN Jakarta.
PRAKSIS melakukan uji publik Pedoman Pengembangan Kompetensi ASN pada tanggal 30 Agustus 2016 di PKP2A II Makassar.
PRAKSIS melakukan uji publik Pedoman Pengembangan Kompetensi ASN pada tanggal 30 Agustus 2016 di PKP2A IV Aceh.
Ekspose hasil kajian PRAKSIS yang dilaksanakan tanggal 13 Desember 2016 di Ruang Auditorium LAN Jakarta.
PRAKSIS menyelenggarakan Seminar Nasional “Quo Vadis KORPRI: Tantangan dan Arah Transformasi KORPRI sebagai Organisasi Profesi” yang diaksanakan tanggal 16 Desember 2016 di Aula LAN Jakarta.
Staff Appreciation. Perayaan keberhasilan salah satu Kru
PRAKSIS atas teraihnya gelar Doktoral.
Staff Appreciation. Perayaan ulang tahun salah satu Kru
HIGHLIGHT KEGIATAN
Pusat Kajian Reformasi Administrasi (PRAKSIS) pada tahun 2016 mempunyai dua kegiatan, yaitu penyusunan Pedoman Pengembangan Kompetensi ASN dengan fokus pada pengembangan kompetensi PNS dan Kajian Pengukuran Indeks Kompleksitas dalam Pelayanan Publik dengan fokus pada penyusunan instrumen pengukuran indeks kompleksitas pelayanan administrasi perizinan memulai usaha bagi usaha kecil dan menengah di daerah. Output dari kegiatan pertama adalah pedoman sedangkan output dari kegiatan kedua adalah laporan kajian. Kegiatan pertama merupakan program prioritas nasional sebagai kelanjutan dari kegiatan tahun 2015 mengenai
Grand Design Pengembangan Kompetensi ASN.
Kajian Pengukuran Indeks Kompleksitas dalam
Pelayanan Publik
Peningkatan kualitas pelayanan publik di Indonesia merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan oleh pemerintah. Sehingga peningkatan kualitas pelayanan publik
menjadi salah satu agenda prioritas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 bidang pelayanan publik yang harus dicapai oleh Kementerian, Lembaga, dan Pemerintah Daerah.
Sampai saat ini pelayanan publik di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah belum terpenuhinya kualitas layanan yang diharapkan. Hal tersebut tak terkecuali dengan pelayanan perizinan usaha. Pada kenyataannya, proses pelayanan perizinan usaha dan investasi Indonesia masih sangat rumit. Padahal kondisi iklim investasi dan berusaha merupakan hal yang krusial karena akan berpengaruh terhadap banyaknya jumlah investor yang akan berinvestasi di Indonesia.
Kerumitan pelayanan perizinan usaha di Indonesia ditunjukkan salah satunya dengan laporan Ease of Doing Business (EoDB) yang dikeluarkan oleh The World Bank, di mana pada tahun 2017 Indonesia masih menempati peringkat ke 91 dari 190 negara. Dari sepuluh indikator EoDB, indikator Starting a Business (memulai usaha) di
Indonesia merupakan indikator yang berada di peringkat bawah yaitu peringkat ke 151 pada tahun 2017.
Pemerintah sudah berupaya untuk meningkatkan kemudahan berusaha di Indonesia, salah satunya dengan mengeluarkan 13 Paket Kebijakan Ekonomi. Tetapi upaya tersebut belum memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan kemudahan berusaha di Indonesia. Berdasarkan fakta-fakta yang sudah disebutkan di atas, Pusat Kajian Reformasi Administrasi – Lembaga Administrasi Negara (PRAKSIS-LAN) pada tahun anggaran 2016 melakukan kajian terkait hal tersebut dalam upaya mengidentifikasi kompleksitas dalam perizinan usaha yang menghambat kemudahan berusaha di Indonesia pada umumnya, dan di daerah pada khususnya. Ruang lingkup kajian ini adalah kompleksitas pelayanan administrasi perizinan memulai usaha bagi usaha kecil dan menengah sektor perdagangan di daerah. Tujuan dalam kajian ini adalah 1) Menyusun desain instrumen pengukuran indeks kompleksitas pelayanan administrasi perizinan dalam
memulai usaha kecil dan menengah sektor perdagangan di daerah; dan 2) Menyusun strategi simplifikasi administrasi perizinan dalam memulai usaha kecil dan menengah sektor perdagangan di daerah.
Untuk mencapai tujuan kajian tersebut, kajian ini menggunakan metode mixed method yakni statistik deskriptif melalui pembentukan indeks komposit. Sedangkan dalam perumusan strategi penyederhanaan administrasi perizinan dalam memulai usaha digunakan metode penelitian kualitatif melalui analisis komparasi benchmark
kebijakan dengan implementasi pelayanan perizinan dalam memulai usaha di lokus penelitian. Adapun lokus dalam kajian ini adalah: (1) Provinsi DKI Jakarta; (2) Kabupaten Karimun; (3) Kota Bandung; (4) Kota Yogyakarta; (5) Kota Tangerang Selatan; dan 6) Kota Serang.
Dalam menyusun instrumen pengukuran indeks kompleksitas pelayanan administrasi perizinan memulai usaha bagi usaha kecil dan menengah di daerah, kajian ini merujuk kepada kajian yang dilakukan oleh The World Bank
(Ease of Doing Business) dan The Asia Foundation (Mengukur Kinerja Pelayanan Terpadu untuk Perizinan Usaha di Indonesia).
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka instrumen yang disusun dalam kajian ini menggunakan sebelas dimensi kompleksitas pelayanan perizinan yang terdiri dari: (1) Pendaftaran nama perusahaan; (2) Pembuatan akta pendirian perusahaan; (3) Pengesahan status badan hukum; (4) Pembayaran Penerimaan Bukan Pajak (PNBP); (5) Pendaftaran dan Pengumuman Perseroan Terbatas Dalam Berita Negara; (6) Pendaftaran NPWP; (7) Pendaftaran nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak; (8) Pengurusan Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP); (9) Pengurusan Tanda Daftar Perusahaan (TDP); (10) Pendaftaran Wajib Lapor Ketenagakerjaan di Perusahaan; dan (11) Pendaftaran BPJS Ketenagakerjaan. Kesebelas dimensi kompleksitas tersebut akan diukur menggunakan indikator sebagai berikut: (1) prosedur; (2) waktu; (3) biaya; dan (4) instansi yang terlibat.
Dengan melakukan pengukuran kompleksitas pelayanan administrasi perizinan dalam memulai usaha, maka suatu daerah akan mampu menilai atau memberikan gambaran tentang sejauhman kompleksitas pelayanan perizinan di daerahnya. Jika hasil pengukuran menunjukkan sebuah daerah memiliki kompleksitas yang tinggi, maka diperlukan kebijakan dan strategi simplifikasi pelayanan perizinan. Dalam kajian ini juga telah disusun rekomendasi kebijakan dan strategi simplifikasi pelayanan administrasi perizinan dalam memulai usaha yang dimulai dari diagnosis kompleksitas dan upaya penanggulangan kompleksitas yang dilihat dari aspek kebijakan, strategi sampai langkah-langkahnya.
Dengan adanya instrumen pengukuran indeks kompleksitas pelayanan administrasi perizinan memulai usaha bagi usaha kecil dan menengah di daerah serta rekomendasi kebijakan dan strategi simplifikasi pelayanan administrasi perizinan dalam memulai usaha bagi usaha kecil dan menengah di daerah yang sudah disusun PRAKSIS-LAN, diharapkan dapat
berkontribusi untuk daerah dalam memperbaiki pelayanan administrasi perizinan memulai usaha.
Penyusunan Pedoman Pengembangan Kompetensi ASN
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara menyebutkan bahwa setiap Pegawai ASN memiliki hak dan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi. Pengembangan kompetensi yang dimaksud antara lain melalui pendidikan dan pelatihan, seminar, kursus, dan penataran. Dalam mengembangkan kompetensi, setiap Instansi Pemerintah wajib menyusun rencana pengembangan kompetensi tahunan yang tertuang dalam rencana kerja anggaran tahunan instansi masing-masing.
Pengembangan kompetensi PNS sebagaimana diamanatkan Undang-undang ASN seperti tersebut di atas memiliki peran yang sangat strategis di mana setiap PNS memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk
diikutsertakan dalam pengembangan kompetensi dengan memperhatikan hasil penilaian kinerja dan penilaian kompetensi yang bersangkutan. Disamping itu, pengembangan kompetensi bagi setiap PNS dilakukan paling sedikit 40 (empat puluh) Jam Pelajaran dalam 1 (satu) tahun.
Tantangan pengembangan kompetensi PNS kedepan semakin kompleks, yang menuntut adanya PNS berwawasan global, penguasaan bahasa asing, penguasaan teknologi Informasi serta pentingnya membangun jaringan dan kolaborasi tingkat tinggi. Oleh karena itu pengembangan kompetensi setiap Kementerian, Lembaga dan Pemerintah Daerah perlu menyelaraskan antara tugas fungsi organisasi dengan tuntutan lingkungan strategis Pemerintah (Renstra, RPJMN/D).
Berdasarkan mandat kebijakan dan pentingnya pengembangan kompetensi PNS, maka diperlukan adanya pedoman pengembangan kompetensi Pegawai Negeri Sipil (PNS), sebagai pedoman umum dalam penyusunan
pengembangan kompetensi PNS secara nasional dan instansional yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Pedoman ini bertujuan untuk menjadi panduan umum dalam 1) Menyusun perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pengembangan kompetensi PNS yang meliputi kompetensi manajerial, sosial kultural dan teknis secara instansional di Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah; dan 2) Menyusun instrumen dalam pembinaan sumber daya manusia aparatur berbasis kompetensi.
Pedoman pengembangan kompetensi PNS terdiri dari 4 (empat) tahapan yaitu pemetaan kebutuhan kompetensi PNS, perencanaan pengembangan kompetensi PNS, pelaksanaan serta evaluasi. Tahap pemetaan kebutuhan
kompetensi PNS pada hakikatnya merupakan proses
inventarisasi prioritas kebutuhan kompetensi selama 5 (lima) tahun. Artinya, melalui tahapan ini diketahui kompetensi-kompetensi yang menjadi prioritas untuk dikembangkan dalam priode lima tahun bagi PNS di
Kementerian, Lembaga, dan Pemerintah Daerah. Tahap
perencanaan pengembangan kompetensi PNS terdiri dari
dua kegiatan utama yaitu: pertama, penyusunan rencana strategis pengembangan kompetensi PNS, serta kedua, penyusunan rencana pengembangan kompetensi PNS tahunan. Tahap pelaksanaan terdiri dari dua kegiatan utama yaitu; pertama, realisasi program pengembangan kompetensi PNS berdasarkan dokumen perencanaan yang telah disusun baik yang bersifat pendidikan maupun pelatihan. Kedua, konversi program pengembangan kompetensi PNS yang merupakan proses mengubah atau mengolah kegiatan pengembangan kompetensi sehingga bisa dihitung secara kuantitatif. Tahap evaluasi merupakan tahapan akhir dari siklus program pengembangan kompetensi PNS. Pelaksanaan evaluasi bersifat nasional serta instansional.
CAPAIAN INDIKATOR KINERJA UTAMA
N O INDIKATOR KINERJA UTAMATARGET CAPAIAN STATUS
1 Jumlah rekomendasi kebijakan di bidang reformasi administrasi yang menjadi wacana publik 2 1. Rekomendasi kebijakan melalui Kajian Pengukuran Indeks Kompleksitas dalam Pelayanan Publik 2. Rekomendasi kebijakan melalui Pedoman Pengembangan Kompetensi ASN Tercapai 2 Jumlah policy brief di bidang reformasi administrasi yang didiseminasika n kepada stakeholders
2 1. Policy Brief Evaluasi Pelaksanaan Seleksi Terbuka Bagi JPT ASN 2. Policy Brief
Membebaskan Guru dari Belenggu SPJ 3. Policy Brief Strategi
Simplifikasi Pelayanan Perizinan Memulai Usaha
4. Policy Brief Urgensi Pengukuran
Kompleksitas Pelayanan
Melebihi Target
Perizinan Memulai Usaha di Daerah 3 Jumlah pelaksanaan konsultasi, advokasi, fasilitasi dan/atau asistensi di bidang reformasi administrasi 3 1. Fasilitasi Penyusunan Manpower Planning Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi 2. Fasilitasi Penyusunan
SOP Pegawai Berprestasi Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi 3. Fasilitasi Penyusunan
Roadmap Inovasi Pelayanan Publik Kabupaten Bintan Tahun 2017-2021
4. Fasilitasi Penyusunan Modul Diklat
Pengelolaan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Badiklat Provinsi Banten
5. Fasilitasi Penyusunan Modul Diklat
Peningkatan Daya Saing Daerah Badiklat Provinsi Banten Melebihi Target 4 Jumlah pelaksanaan kegiatan pengembangan
2 1. Pelatihan Bahasa Inggris 2. Workshop Teknik
Penyusunan Indeks
kapasitas pegawai 5 Jumlah kegiatan pengembangan inovasi di bidang reformasi administrasi 2 1. Lingkar Kajian Kebijakan 2. RB Learning Box 3. Pengembangan Kapasitas SDM Melebihi Target
KEMITRAAN
Kemitraan yang dibangun oleh PRAKSIS selama tahun 2016 adalah dalam dua bentuk baik yang dalam pengembangan jejaring kerja sama maupun melalui kegiatan fasilitasi dengan Kementerian dan Pemerintah Daerah.
Kemitraan yang terkait jejaring kerja sama dilakukan dengan Mitra Pembangunan seperti AIPEG AUSAID dalam hal penguatan kapasitas peneliti dalam metode kuantitatif. Sedangkan jejaring kerja sama dengan think tank internasional dilakukan dengan OECD Paris, OECD Korea Policy Center, Korea Development Institute (KDI), Korea Development School of Public Policy (KDI School), maupun dengan Kementerian/Lembaga yang mengelola Kepegawaian Negeri dan Kebijakan Publik di ASEAN seperti Office of Public Sector Division (OPDC) Thailand, JPA Malaysia, National Productivity Agency Malaysia maupun Kedutaan Besar Jerman di Jakarta dan Federal Foreign Service Office di Jerman.
PRAKSIS mengirimkan delegasinya mengikuti Asean International Conference and South East Asia at a Glance Initiative-OECD di Bangkok pada tanggal 17 sd 19 Oktober 2016.
Keikutsertaan salah satu kru PRAKSIS dalam Trust in Government Workshop: OECD, ASEAN, KDI, KDI School di
Keikutsertaan salah satu kru PRAKSIS dalam Steering Committe for South East Asia at a Glance di Bangkok Thailand pada tanggal 19 Mei 2016.
Selanjutnya, Kemitraan yang dibangun PRAKSIS dengan Kementerian dan Pemerintah Daerah dilakukan dalam kegiatan fasilitasi bidang penguatan kapasitas SDM dan Organisasi. Beberapa kegiatan fasilitasi yang dilakukan PRAKSIS pada tahun 2016 antara lain:
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal
dan Transmigrasi
Penyusunan Manpower Planning
Badan Diklat Provinsi Banten
Penyusunan Modul Diklat Pengelolaan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
Penyusunan Modul Diklat Peningkatan Daya Saing Daerah
Pemerintah Kabuaten Bintan
Penyusunan Roadmap Inovasi Pelayanan Publik Kabupaten Bintan Tahun 2017-2021
STATISTIK
Pelaksanaan Reformasi Birokrasi
Penerapan Reformasi Birokrasi di Kementerian/ Lembaga dan Pemerintah Daerah (Telah Megisi PMPRB Online Pertanggal 21
Desember 2015)
Kementerian/ Lembaga (Tahap 1, tahap 2 dan tahap 3) 1. Kementerian Sekretariat
Negara
2. Setjen KOMNAS HAM 3. Badan Intelijen Negara 4. Badan Pengawas Pemilihan
Umum
5. Kementerian Agama 6. Setjen Komisi Pemilihan
Umum
7. Lembaga Ketahanan Nasional RI
8. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
9. Kementerian Dalam Negeri 10. Sekretariat Jenderal MPR 11. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah 12. Kementerian Perindustrian 13. Setjen WANTANNAS 14. Kementerian Perhubungan 15. Badan Nasional Penanggulangan Bencana 16. Kementerian Riset, Teknologi
dan Pendidikan Tinggi 17. Setjen Dewan Perwakilan
Daerah
18. Kementerian Lingkungan Hidup
19. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi 20. Perpustakaan Nasional RI 21. Kementerian Sekretariat
Negara
22. Setjen KOMNAS HAM 23. Badan Intelijen Negara 24. Badan Pengawas Pemilihan
Umum
25. Kementerian Agama 26. Setjen Komisi Pemilihan
Umum
27. Kementerian Sekretariat Negara
28. Setjen KOMNAS HAM 29. Badan Intelijen Negara 30. Badan Pengawas Pemilihan
Umum
31. Kementerian Sekretariat Negara
32. Setjen KOMNAS HAM 33. Badan Intelijen Negara 34. Badan Pengawas Pemilihan
Umum
35. Kementerian Sekretariat Negara
36. Setjen KOMNAS HAM 37. Badan Intelijen Negara 38. Badan Pengawas Pemilihan
Umum
39. Kementerian Agama 40. Setjen Komisi Pemilihan
Umum
41. Lembaga Ketahanan Nasional RI
42. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
43. Kementerian Dalam Negeri 44. Sekretariat Jenderal MPR 45. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah 46. Kementerian Perindustrian 47. Setjen WANTANNAS 48. Kementerian Perhubungan 49. Badan Nasional Penanggulangan Bencana 50. Kementerian Riset, Teknologi
dan Pendidikan Tinggi 51. Setjen Dewan Perwakilan
Daerah
52. Kementerian Lingkungan Hidup
53. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi 54. Perpustakaan Nasional RI 55. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas 56. Kepolisian Negara 57. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi 58. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 59. Kementerian Kesehatan 60. Kementerian Pertahanan 61. Badan Nasional Penempatan
Perlindungan TKI 62. Kementerian Pertanian 63. Kementerian Koperasi dan
Usaha Kecil dan Menengah 64. Kementerian Energi dan
65. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan
66. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
67. Badan Narkotika Nasional 68. Sekretariat Kabinet 69. Kementerian Pemuda
Olahraga
70. Kementerian Kehutanan 71. Kementerian Hukum dan Hak
Asasi Manusia
72. Kementerian Perdagangan 73. Kementerian Koordinator
Bidang Perekonomian 74. Sekretariat Jenderal Komisi
Yudisial
75. Badan Koordinasi Penanaman Modal 76. Badan Tenaga Nuklir
Nasional
77. Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan
78. Kepaniteraan dan Sekretariat Jenderal Mahkamah
Konstitusi RI
79. Kementerian Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat 80. Ombudsman Republik
Indonesia
81. Badan Kependudukan dan KB Nasional
82. Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan 83. Badan Standardisasi Nasional 84. MABES TNI
85. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional-Badan Informasi Geospasial 86. Kementerian Luar Negeri 87. Badan Kepegawaian Negara 88. Sekretariat Jenderal DPR RI 89. Lembaga Sandi Negara 90. Kementerian Agraria dan
Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional 91. Badan Pemeriksa Keuangan 92. Lembaga Administrasi
Negara
93. Badan Nasional
Penanggulangan Terorisme 94. Badan Pengawasan
Keuangan dan Pembangu-nan
95. Kementerian Kelautan dan Perikanan
96. Kementerian Komunikasi dan Informatika
Pemerintah Provinsi (Tahap 1, tahap 2 dan tahap 3) 1. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
2. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah 3. Pemerintah Provinsi Jambi
4. Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara 5. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara 6. Pemerintah Provinsi Kep. Bangka Belitung 7. Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat 8. Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau 9. Pemerintah Provinsi Lampung 10. Pemerintah Provinsi Gorontalo
11. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan
12. Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13. Pemerintah Daerah D I Yogyakarta
14. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat 15. Pemerintah Aceh
16. Pemerintah Provinsi Jawa Barat 17. Pemerintah Provinsi Bengkulu
18. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan Sumber: Kementerian PAN dan RB, 2015.
Pemerintah Kabupaten/ Kota (Tahap 1, tahap 2 dan tahap 3) 1. Pemerintah Kab. Pekalongan 2. Pemerintah Kab. Simeulue 3. Pemerintah Kota Pekanbaru 4. Pemerintah Kab. Lahat 5. Pemerintah Kota Bandar Lampung 6. Pemerintah Kab. Bangka Tengah 7. Pemerintah Kab. Sinjai 8. Pemerintah Kota Ambon 9. Pemerintah Kab. Timor Tengah Selatan 10. Pemerintah Kab. Polewali Mandar 11. Pemerintah Kab. Kapuas Hulu 12. Pemerintah Kota Samarinda
13. Pemerintah Kota Denpasar 14. Pemerintah Kab. Aceh Jaya 15. Pemerintah Kab. Kutai Kartanegara 16. Pemerintah Kab. Bogor 17. Pemerintah Kota Manado 18. Pemerintah Kota Bima 19. Pemerintah Kota Balikpapan 20. Pemerintah Kab. Magelang 21. Pemerintah Kota Sukabumi 22. Pemerintah Kota Tanjungpinang 23. Pemerintah Kab. Deli Serdang 24. Pemerintah Kab. Gunung Kidul 25. Pemerintah Kab. Banyuwangi 26. Pemerintah Kota Singkawang 27. Pemerintah Kab. Mesuji 28. Pemerintah Kab. Banjar 29. Pemerintah Kab. Bengkulu Utara 30. Pemerintah Kab. Maluku Tengah 31. Pemerintah Kab. Pakpak Bharat 32. Pemerintah Kab. Lombok Barat 33. Pemerintah Kota Kupang 34. Pemerintah Kab. Sumbawa Barat 35. Pemerintah Kab. Muara Enim 36. Pemerintah Kota Banjarmasin 37. Pemerintah Kab. Kulon Progo 38. Pemerintah Kota Jambi 39. Pemerintah Kab. Maluku Tenggara 40. Pemerintah Kab. Aceh Tengah 41. Pemerintah Kab. Blora 42. Pemerintah Kota Gorontalo 43. Pemerintah Kab. Dharmasraya 44. Pemerintah Kota Solok 45. Pemerintah Kab. Landak 46. Pemerintah Kota Sungai Penuh 47. Pemerintah Kota Magelang 48. Pemerintah Kab. Sumedang 49. Pemerintah Kab. Bangka Barat 50. Pemerintah Kab. Pacitan 51. Pemerintah Kab. Kudus 52. Pemerintah Kota Padang 53. Pemerintah Kab. Takalar 54. Pemerintah Kota Makassar 55. Pemerintah Kab. Grobogan 56. Pemerintah Kab. Hulu Sungai Selatan 57. Pemerintah Kab. Purbalingga
58. Pemerintah Kab. Luwu 59. Pemerintah Kab. Pati 60. Pemerintah Kota Bengkulu 61. Pemerintah Kota Bontang 62. Pemerintah Kab. Banjarnegara 63. Pemerintah Kab. Madiun 64. Pemerintah Kab. Sukoharjo 65. Pemerintah Kab. Penajam Paser Utara 66. Pemerintah Kota Banda Aceh 67. Pemerintah Kota Palembang 68. Pemerintah Kab. Kampar 69. Pemerintah Kab. Dairi 70. Pemerintah Kota Semarang 71. Pemerintah Kab. Subang 72. Pemerintah Kota Blitar 73. Pemerintah Kota Kendari 74. Pemerintah Kota Bandung 75. Pemerintah Kota Pangkal Pinang 76. Pemerintah Kab. Trenggalek 77. Pemerintah Kab. Bantul 78. Pemerintah Kab. Pohuwato 79. Pemerintah Kab. Gunung Mas 80. Pemerintah Kab. Tanah Datar 81. Pemerintah Kab. Temanggung 82. Pemerintah Kab. Pinrang 83. Pemerintah Kota Yogyakarta 84. Pemerintah Kota Surakarta 85. Pemerintah Kab. Mempawah 86. Pemerintah Kab. Bulukumba 87. Pemerintah Kab. Kendal 88. Pemerintah Kab. Lampung Selatan 89. Pemerintah Kab. Sambas 90. Pemerintah Kota Padang Panjang 91. Pemerintah Kab. Siak 92. Pemerintah Kota Pontianak 93. Pemerintah Kab. Solok 94. Pemerintah Kab. Sleman
Profil Aparatur Sipil Negara Indonesia
Jumlah PNS: 4.475.997 (Pusat 21,06% dan Daerah: 78,94%) Rata-rata pertumbuhan pertahun PNS 2010-2015: -0,312% Persentase PNS terhadap Angkatan Kerja (118,19 juta): 3,89%
Pegawai ASN berdasarkan Pendidikan
Komposisi ASN
Sumber: BKN, 2016
Pengangkatan Cpns Nasional
Tenaga Honorer Vs Pelamar Umum (2005-2014)
Asal Jumlah Pengangkatan Persentase (%) RasioTerhadap thd Total PNS Tenaga Honorer 1.103.861* 58.8% 24.6% Pelamar Umum 775.884 41.2% 17.3% Sumber: BKN, *Oktober 2016
Pelaksanaan Seleksi Terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi
ASN
Rekomendasi Yang Diterbitkan KASN
Atas Pengisian Jpt Melalui Seleksi Terbuka Tahun 2015
No Instansi Jml Perset ujuan Perbaik an Pencabutan/ Pembatalan/ Penundaan 1 Kementerian/ Lembaga 181 117 64 - 2 Pemerintah Provinsi 53 34 17 2 3 Pemerintah Kabupaten/K ota 365 233 108 24 Jumlah 599 384 189 26 Sumber: KASN, 2016.
Rekapitulasi Rekomendasi KASN
Atas Pengisian Jpt Melalui Seleksi Terbuka Tahun 2016 (Status 31 Oktober 2016)
No. Instansi Jml Perset ujuan Perbaik an Pencabutan/ Pembatalan/ Penundaan 1 Kementerian/ Lembaga 195 127 64 4 2 Pemerintah Provinsi 54 39 11 4
3 Pemerintah Kabupaten/K ota 482 355 79 48 Jumlah 731 521 154 56 Sumber: KASN, 2016.
Status Pelaksanaan Seleksi Terbuka pada Instansi Pemerintah Sampai Dengan 31 Oktober Tahun 2016
No Status Kement erian LPNK Provinsi Kabupaten/ Kota 1 Selesai 32 22 20 165 2 Proses 2 10 13 106 3 Konsultasi 0 7 0 121 4 Belum 0 0 1 116 Sumber: KASN, 2016
Pagu dan Realisasi Anggaran N o Kegiatan/ Pekerjaan/ Output Pagu Optimalisasi Realisasi % 1 Laporan Kajian Pengukuran Indeks Kompleksitas dalam Pelayanan Publik Rp. 567.459.000 Rp. 562.191.700 99.07 2 Penyusunan Pedoman Pengembang an Kompetensi ASN Rp. 497.326.000 Rp. 491.103.900 98.75 Total Rp. 1.064.785.000 Rp. 1.053.295.600 98.92
www.dkk.lan.go.id
[email protected] @DeputiKajianLAN