20
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian
Daerah penelitian ditentukan secara purposive, dengan tujuan sesuai dengan alasan pertimbangan jumlah populasi yang ada dan lokasi yang dianggap peneliti memiliki akses yang cukup mudah dijangkau. Penelitian dilakukan di kopdit / CU Merdeka Desa Sempajaya Kecamatan Berastagi Kabupaten Karo. Unit CU ini dipilih karena memiliki populasi petani yang merupakan anggota CU terbanyak diantara Unit unit lainnya disekitarnya dengan jumlah asset yang cukup banyak. Selain itu, untuk skala CU Merdeka secara keseluruhan dari tahun ketahun tetap mengalami peningkatan jumlah anggota. Berikut data perkembangan anggota CU:
Tabel 2. Pertambahan Anggota CU Merdeka
PERIODE JUMLAH
Tabel 3. Jumlah Anggota CU Merdeka Berdasarkan Unit Pada Tahun 2014
Sumber: Laporan Pertanggungjawaban Dewan Pimpinan Kopdit Merdeka 2014
3.2 Metode Pengambilan Sampel
22
penentuan yang menggunakan analisis statistik ukuran responden minimal adalah 30 sampel (Hasan, 2002).
Ada beberapa alasan sehingga peneliti harus menggunakan sampe, diantaranya:
1. Jumlah populasi sangat banyak sehingga membutuhkan biaya, waktu dan tenaga yang sangat banyak pula.
2. Kendala waktu, dana, dan sumber daya lain yang terbatas jumlahnya. Penggunaan sampel akan menghemat sumber daya tersebut
3. Pengambilan sampel merupakan satu satunya cara yang harus dipilih (tidak mungkin untuk mempelajari seluruh populasi) (Anonymous2, 2011).
3.3 Metode Pengumpulan data
Data yang digunakan dalam penelitian adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dan hasil pengumpulan data secara langsung kepada tiap petani dan beberapa lembaga terkait di desa Sempajaya dan kantor CU Merdeka menggunakan kuesioner. Sedangkan data sekunder merupakan data pelengkap yang diperoleh melalui instansi atau dinas terkait dengan penelitian ini, hasil studi pustaka baik berupa buku ataupun data statistic yang terkait dengan penelitian yang dilakukan.
3.4 Metode Analisis Data
menjawab identifikasi masalah 3 digunakan Regresi Linier Berganda dan uji statistic.
3.4.1 Analisis Regresi Linier Berganda
Menurut Sarwono (2006) analisis regresi linear berganda mengestimasikan besarnya koefisien-koefisien yang dihasilkanoleh yang bersifat linear yang melibatkan dua variabel bebas untuk digunakan sebagai alat prediksi besarnya nilai variabel tergantung. Analisis regresi berganda merupakan analisis data kuantitatif yang digunakan untuk mencari besar hubungan secara linear antara dua atau lebih variabel independen (X1, X2,….Xn) dengan variabel dependen (Y). Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen (X1,X2….Xn) secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (Y).
Persamaan regresi berganda sebagai berikut:
Y = a + b1X1+ b2X2 + b3X3+ b4X4+ b5X5+b6X6 Keterangan:
Y : frekuensi peminjaman
X1 : usia petani
X2 : tingkat pendidikan
X3 : jumlah tanggungan
X4 : lamanya menjadi anggota
X5 : modal
X6 : pendapatan
a : Konstanta
24
3.4.2 Uji Statistik 1. Uji F
Uji statistik F menunjukkan apakah semua variable independe yang dimasukkan dalam model memliki pengaruh secara bersama sama terhadap variabel independen (Ghozali, 2005). Pada uji F jika tingkat signifikansi <5% (< 0,05) maka dapat dinyatakan bahwa variabel indenpenden secara simultan atau bersama sama mempengaruhi variabel dependen, maka variabel independen secara serempak berpengaruh terhadap variabel dependen. Sedangkan bila probabilitas >5% (>0,05) maka variabel independen secara serempak ridak berpengaruh terhadap variabel dependen.
Perumusannya adalah sebagai berikut :
H0 : seluruh variabel indenpenden tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen
H1 : seluruh variabel indenpenden berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen
2. Uji T
H0 : Variabel variabel bebas tidak mempunyai pengatuh signifikan terhadap variabel terikat
H1 : Variabel variabel bebas mempunyai pengatuh signifikan terhadap variabel terikat
3.4.3 Uji Beda Rata Rata
Uji hipotesis dua rata-rata digunakan untuk mengetahui ada atau tidak adanya perbedaan (kesamaan) rata antara dua buah data. Salah satu teknik analisis statistik untuk menguji hipotesis dua rata-rata. Pengujian ini merupakan uji statistik parametrik yang tentu saja harrus memenuhi asumsi.
1. Data berdistribusi normal 2. Data diplih secara acak
3. Data yang digunakan merupakan dat numerik (skala & interval)
Berikut uji t yang digunakan:
�= �1− �2
Namun dalam pelaksanaan penelitian ini dilakukan pengujian perbedaan pendapatan petani pengguna CU dan bukan pengguna CU menggunakan bantuan tools spss.
26
untuk membandingkan dua kelompok mean dari dua sampel yang berbeda (independent), yang bertujuan untuk mengetahui apakah Ada Perbedaan pendapatan petani pengguna CU dan bukan pengguna CU.
Kriteria uji :
H0 diterima bila sig. t > α0,05 H1 diterima bila sig. t < α 0,05
3.4.4 Analisis Risiko
1. Standar Deviasi (simpangan baku)
Risiko dapat diukur dengan menentukan kerapatan distribusi propabilitas. Salah satu ukurannya adalah dengan menggunakan standar deviasi. Semakin kecil deviasi standar, semakin rapat distribusi propabilitas dan dengan demikian semakin rendah risikonya (Pappas, 2005).
Menurut Hermanto (1993) untuk mengukur risiko secara statistic dipakai ukuran ragam (variance) atau simpangan baku (standard deviation). Ragam dapat dihitung dengan rumus:
��2 =∑(� − ��)2
� −1
Keterangan :
Va2 : ragam (variance)
Q : pendapatan petani pengguna CU dan bukan Qi : pendapatan rata rata petani pengguna CU n : jumlah sampel petani
��= ���2
Semakin tinggi ragam (Va2) dan simpangan baku (Va), maka semakin tinggi tingkat risiko.
2. Koefisien Variasi
Menurut Hermanto (1993), koefisien Variasi merupakan rasio dari risiko yang harus ditanggung dengan besarnya pendapatan. Merupakan ukuran risiko yang dapat membandingkan dengan satuan yang sama dengan mempertimbangkan risiko yang dihadapi untuk setiap return yang diperoleh baik berupa pendapatan, produksi atau harga.
��= ��
��
Atau
Va = KV x Qi
Keterangan:
KV : Koefisien Variasi
Va : simpangan baku (standard deviation) Qi : pendapatan petani pengguna CU dan bukan
Semakin tinggi nilai KV maka dapat ditarik kesimpulan bahwa nila Va atau nilai Risiko tinggi. Kriteria yang dipakai adalah apabila nilai KV < 1 maka usatani yang dianalisis memiliki risiko kecil dan sebaliknya jika KV > 1 maka ushatani yang dianalisi memiliki risiko yang besar.
28
1. Bila Va2 dan Va petani pengguna CU > Va2 dan Va petani bukan pengguna CU. Maka risiko pendapatan dari petani pengguna CU lebih tinggi dibanding yang bukan.
2. Bila Va2 dan Va petani pengguna CU < Va2 dan Va petani bukan pengguna CU. Maka risiko pendapatan dari petani pengguna CU lebih rendah disbanding yang bukan.
3.5 Definisi dan Batasan Operasional
3.5.1 Definisi
Definisi dalam penelitian ini untuk menghindari kesalahpahaman dalam penafsiran dan pengertian dari beberapa istilah yang dipakau dalam penelitian. Berikut definisi dari istilah yang digunakan dalam operasional penelitian ini : 1. Credit Union (CU) atau koperasi kredit adalah koperasi yang didirikan untuk
memberikan kesempatan kepada anggota anggotanya memperoleh pinjaman dengan mudah dan dengan ongkos yang ringan
2. Kredit adalah sistem keuangan untuk memudahkan pemindahan modal dari pemilik kepada pemakai dengan mengharapkan memperoleh keuntungan, kredit diberikan berdasarkan kepercayaan orang yang memberikan terhadap kecakapan dan kejujuran si peminjam (Rp).
3. Petani adalah seseorang yang mengusahakan tanaman sebagai pekerjaan utamanya (Orang).
5. Faktor yang mempengaruhi petani menggunakan CU adalah faktor penyebab petani tetap bertahan menggunakan dana dari CU dinyatakan dalam tahun. 6. Faktor faktor yang mempengaruhi lamanya petani dalam menggunakan kredit
adalah umur, pendidikan, pendapatan, jumlah tanggungan.
7. Umur adalah lamanya petani hidup mulai dari lahir sampai penelitian dilakukan (tahun).
8. Pendidikan adalah lamanya petani mengenyam pendidikan di bangku sekolah (tahun)
9. Pendapatan adalah jumlah yang didapat petani dari hasil usahataninya dikurangi biaya biaya usahatani (Rp).
10. Jumlah tangggungan adalah jumlah orang yang ditanggung hidupnya oleh seorang kepala rumah tangga tani (Orang).
11. Risiko adalah suatu kondisi tidak pasti dengan peluang kejadian tertentu yang menimbulkan konsekuensi yang tidak menguntungkan atau mengalami krugian pada pengambilan keputusan yang dapat dihitung perbedaan risiko produksi, harga, penerimaan dan pendapatan yang diterima petani pengguna CU dan yang bukan. Yang dalam penelitian ini dilakukan penghitungan risiko pendapatan saja.
3.5.2 Batasan Operasional
1. Penelitian ini dilakukan di CU / Kopdit Merdeka Desa Sempajaya Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara
2. Sampel dalam penlitian ini adalah petani pengguna CU di Desa Sempajaya Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo dan yang bukan
30
BAB IV
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN
4.1 Letak Geografis, Batas, dan Luas Wilayah Desa Penelitian
Desa Sempajaya di Kecamatan Berastagi Kabupaten Karo Propinsi Sumatera Utara
berada pada ketinggian 1100 meter di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata
20º C. Luas wilayah Desa Sempajaya 703 ha dengan luas dataran 633 ha dan
perbukitan/pegunungan 70 ha dan berjarak ±15 Km dari kantor Bupati.
Gambaran batas wilayah daerah penelitian dapat dilihat di bawah ini :
Sebelah Utara : Hutan Negara
Sebelah Selatan : Desa Rumah Berastagi
Sebelah Barat : Kelurahan Gundaling
Sebelah Timur : Desa Dolat Rakyat
4.2 Keadaan penduduk
4.2.1 Komposisi Penduduk Menurut Umur
Jumlah penduduk di Desa Sempajaya tahun 2012 adalah 8097 jiwa dengan rincian
laki-laki 3965 jiwa (49%) dan perempuan 4132 jiwa (51%). Data ini diperoleh dari
Data Monografi Desa Sempajaya Tahun 2011. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 5 di
Tabel 4 Komposisi Penduduk Berdasarkan Umur
No Golongan Umur (Tahun) Jumlah (jiwa) Persentase (%)
1 0-6 1083 13,4
Sumber : Data Monografi Desa 2010
Tabel 3 menunjukkan bahwa jumlah penduduk paling banyak terdapat pada golongan umur 26-45 tahun yaitu sebesar 2.065 jiwa (25,50%), dan jumlah golongan paling sedikit adalah pada golongan umur ≥76 tahun yaitu sebesar 353 jiwa (4,35%). Hal ini menunjukkan bahwa penduduk di daerah penelitian dominan berada pada usia produktif.
4.2.2 Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Penduduk Desa Sempajaya berjumlah 8097 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 1830 KK. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini :
Tabel 5 Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Jumlah (jiwa) Persentase (%)
1 Laki-laki 3965 48,9
2 Perempuan 4132 51,1
Jumlah 8097 100
Sumber : Data Monografi Desa 2010
32
4.2.3 Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana yang tersedia di Desa Sempajaya tersedia dengan baik, seperti sarana pendidikan sebanyak 6 unit, sarana kesehatan sebanyak 6 unit, dan sarana peribadatan sebanyak 13 unit. Kondisi jalan yang ada di Desa Sempajaya cukup baik sehingga memudahkan masyarakat dalam melaksanakan kegiatan sehari-harinya.
4.3 Credit Union (CU) Merdeka
4.3.1 Profil Credit Union (CU) Merdeka
Salah satu CU yang ada di Sumut adalah CU Merdeka. CU Merdeka berdiri atas inspirasi gereja Katolik Merdeka dan petani-petani yang ada di desa Merdeka. Mereka membutuhkan modal untuk keberlangsungan usahatani. CU Merdeka terbentuk pada tanggal 27 Juli 1989 dengan alamat Kantor Pusat CU Merdeka, Desa Merdeka, Kecamatan Merdeka, Kabupaten Karo. CU Merdeka sudah memiliki Badan Hukum No. 129/BH/KDK/2.2/XII/2002.
Selain itu CU Merdeka memiliki motto yang diberikan kepada seluruh anggota CU yaitu “CU hadir dari kita dan untuk kita bersatu dalam keberagaman”. Artinya CU terlahir dari anggota dari anggota dan dikelola oleh anggota (SDM) yang handal dan hasilnya untuk anggota serta komunitas anggotanya bersatu dalam keberagaman. Berdasarkan visi dan misi tersebut, CU Merdeka telah mempunyai tujuan yang jelas khususnya di bidang kredit yaitu sebagai penyedia kredit bagi anggota yang merupakan masyarakat kalangan menengah kebawah. CU Merdeka menjalin hubungan yang erat dengan anggota sehingga tercipta kerjasama yang saling menguntungkan.
4.3.2 Perkembangan dari CU Merdeka
Pengembangan pelayanan CU Merdeka kepada masyarakat diwujudkan dengan membuka Tempat Pelayanan Kopdit (TPK) atau dapat juga disebut Unit unit diluar desa merdeka itu sendiri termasuk di desa Sempajaya dengan tujuan untuk mengembangkan, meningkatkan serta mendekatkan pelayanan Kopdit CU Merdekaa kepada anggota.
4.3.3 Susunan Kepengurusan Kopdit CU Merdeka
34
Struktur organisasi CU Merdeka adalah berbentuk garis dimana dewan pimpinan dan badan pengawas memiliki jenjang atau kedudukan sederajat. Kemudian dibawah ketua terdapat wakil ketua, sekretaris, bendahara dan lini di bawahnya. Dalam kegiatan operasional CU sehari-hari dipimpin oleh manager operasional yang dibantu oleh lima orang yaitu bendahara harian, administrasi, teller dan karyawan harian.
Gambar 3. Susunan Kepengurusan Kopdit CU Merdeka Dewan Pimpinan
Ketua Wakil
Manajer
Rapat Anggota Tahunan (RAT)
Anggota
Sekretaris Bendahara Ketua Wakil Sekretaris
Panitia Kredit Panitia
Bendahara Karyawan Teller
4.3.4 Kegiatan Operasional CU Merdeka
Secara umum kegiatan operasional CU Merdeka meliputi dua kegiatan yaitu kegiatan mengumpulkan dana dari anggota dalam bentuk simpanan dan menyalurkan dana ke anggota dalam bentuk kredit.
Jenis kredit yang pada umumnya digunakan oleh anggota CU Merdeka adalah kredit produktif. Kredit produktif tersebut digunakan untuk biaya usahatani seperti pembelian pupuk, penyewaan lahan, biaya tenaga kerja, pembukaan lahan baru dan biaya usahatani lainnya. Seiring bertambahnya anggota, wilayah kerja CU Merdeka juga bertambah. Pada saat ini, CU Merdeka telah memiliki 17 unit yaitu Merdeka, Sada Perarih, Surbakti, Sukandebi, Gurusinga, Doulu, Sempajaya, Naman Teran, Perteguhen, Simacem, Kuta Mbelin, Beganding, Sukatepu, Kuta Rayat Umum, Kutarayat Stasi, Lingga Julu, Ujung Teran, Cinta Rakyat, Payung dan Gajah.
Seiring bertambahnya anggota, tetap saja ada anggota yang keluar dari CU Merdeka. Hal yang menyebabkan anggota keluar adalah anggota pindah ke daerah lain, anggota tidak sanggup membayar kredit dan bunganya sehingga memilih keluar dari CU Merdeka. Pada umumnya anggota keluar karena pindah ke daerah lain yang tidak terjangkau oleh CU Merdeka. Anggota CU Merdeka bekerja sebagai petani karena faktor keturunan.
36
terdapat berbagai jenis tanaman. Modal untuk pertanian ini sangat tinggi sehingga modal dari keluarga tidak mencukupi dan anggota pada saat ini mengalami masalah dalam pemasaran produk pertanian mereka. Hal ini terjadi karena tanaman pertanian mereka memiliki harga yang tidak stabil dan terjadi penumpukan produk dipasaran. Pemasaran produk pertanian mereka yaitu di wilayah Kabupaten Karo, Medan, Dumai, Kisaran, Pekan Baru, Aceh dan daerah Sumatera Utara. Oleh karena itu CU Merdeka sangat membantu mereka dalam penyediaan modal pertanian.
37
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Analisis Risiko Pendapatan Petani Pengguna CU dan tidak Pengguna CU
Pengukuran risiko pendapatan yang dilakukan pada usahatani Petani pengguna CU dan bukan pengguna CU. Pengukuran risiko pendapatan dilakukan pada usahatani di desa Sempajaya yang menggunakan CU dan yang tidak menggunakan CU. Risiko pendapatan dapat dihitung menggunakan variance, standard deviation, coefficient variation.
Menurut Elton dan Gruber (1995), terdapat beberapa ukuran risiko diantaranya adalah nilai varian (variance), standar deviasi (standard deviation) dan koefisien variasi (coefficient variation). Ketiga ukuran tersebut berkaitan satu sama lain dan nilai variance sebagai penentu ukuran yang lainnya.
Menurut Situmeang (2011), untuk melihat hasil pengukuran risiko yang tepat adalah dengan menggunakan koefisien variasi. Dengan ukuran coefficient variation, hasil penilaian risiko produksi budidaya usahatani petani hortikultura
petani yang menggunakan CU dan yang tidak dapat dilihat pada Tabel 8 dan untuk perhitungannya dapat dilihat pada Lampiran 5 dan 6.
Tabel 6. Hasil Analisis Risiko Pendapatan Petani Pengguna CU Dan Yang Tidak Menggunakan CU
Pengguna CU Bukan Pengguna CU
Rataan 5.389.747 10.146.421
Ragam (V2) 10.419.166.673.346 39.479.770.822.178
Simpangan Baku (V) 3.227.873 6.283.292
Koefisien Variasi (KV) 0,598891 0,619262
38
Risiko usahatani petani pengguna CU dan yang tidak menggunakan CU ditinjau dari segi pendapatan sebagai berikut :
1. Nilai ragam (V2) pendapatan petani non CU lebih tinggi daripada petani CU (39.479.770.822.178> 10.419.166.673.34), sehingga risiko pendapatan usahatani petani non CU lebih tinggi daripada petani CU.
2. Nilai simpangan baku (V) petani non CU lebih tinggi lebih tinggi daripada petani CU (6.283.292 > 3.227.873), sehingga risiko pendapatan usahatani padi non organik lebih tinggi daripada padi organik.
Hasil perhitungan pada Tabel 8 menunjukkan koefisien variasi (KV) risiko pendapatan pada usahatani petani yang tidak menggunakan CU lebih besar dibandingkan usahatani yang menggunakan CU (0,61 > 0,59) yang berarti bahwa pendapatan usahatani petani tidak pengguna CU lebih bervariasi atau berfluktuatif.
Menurut teori Pappas (2005) risiko dapat diukur dengan menentukan kerapatan distribusi propabilitas. Salah satu ukurannya adalah dengan menggunakan standar deviasi. Semakin kecil deviasi standar, semakin rapat distribusi propabilitas dan dengan demikian semakin rendah risikonya. Namun dalam penggunaanna terdapat beberapa masalah ketika stndar deviasi digunakan sebagai ukuran risiko. Misalnya jika usaha tani memiliki biaya lebih besar, usahatani tersebut dapat secara normal memiliki standar deviasi yang lebih besar tanpa perlu menjadi berisiko. Untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menghitung ukuran risiko relative dengan membagi standar deviasi dengan nilai rata ratanya.
koefisien variasi sebesar 0,59 dan 0,61. Berdasarkan kiriteria yang telah ditetapkan apabila nilai KV < 1 maka usahatani yang diteliti memiliki risiko yang kecil baik dari segi petani pengguna CU dan yang bukan. Angka 0,59yang artinya untuk setiap satu satuan hasil yang diperoleh dari usahatani petani pengguna CU, maka risiko yang dihadapi adalah sebesar 0,59. Dapat juga diartikan jika setiap Rp. 1.000.000 pendapatan makan akan terjadi kehilangan atau penyimpangan pendapatan sebesar Rp. 590.000.
Dengan demikian hipotesis 1 yang menyatakan risiko pendapatan petani pengguna kredit CU lebih besar daripada yang tidak menggunakan kredit CU ditolak.
Menurut hasil penelitian, petani yang tidak menggunakan CU memiliki risiko pendapatan yang lebih besar karena pada petani yang tidak menggunakan CU tidak memiliki tempat untuk mendapatkan bantuan dana. Semua kebutuhan biaya harus dapat dipenuhi dari usahatani saja.
5.2 Perbedaan Pendapatan Petani Pennguna CU dan Yang Bukan Pengguna CU
Selanjutnya hasil analisis uji beda rata-rata independen (independent sample t-test) pada pendapatan Petani Pengguna CU dan Petani bukan pengguna CUdapat
dilihat pada Tabel 5.3 berikut.
Tabel 7 Uji Beda Rata-Rata Pendapatan Usahatani Petani Pengguna CU dengan Usahatani Non CU
No. Uraian Pendapatan
Rata – Rata Thitung Ttabel Sig. Kesimpulan
1. Petani
Pengguna CU 5.38E7
3,466 2,000 .001 H1 diterima 2. Petani bukan
40
Dari Tabel terlihat bahwa pendapatan rata - rata dari Petani pengguna CU lebih tinggi yakni sebesar Rp 10.1 juta sedangkan pendapatan rata - rata dari Petani bukan pengguna CU adalah Rp 5.38 juta dengan signifikansi 0,001. Karena nilai
signifikansi 0,001 < 0,05 dan nilai Thitung > Ttabel (3,466 > 2,000) maka H0 ditolak dan H1 diterima pada tingkat kepercayaan 95%. Artinya ada perbedaan
pendapatan antara Petani pengguna CU Petani bukan pengguna CU. Dengan demikian, hipotesis ada perbedaan pendapatan antara Petani pengguna CU Petani bukan pengguna CU diterima.
5.3 Alasan Petani dalam pengambilan keputusan menggunakan CU
Dasar pengambilan keputusan itu bermacam macam tergantung dari permasalahannnya. Keputusan dapat diambil berdasarkan perasaan semata, dalam prakteknya, pengambilan keputusan itu sangat tergantung dari jenis permasalahan yang dihadapi, namun juga sangan tergantung pada individu yang membuat keputusan.
Petani di desa Sempajaya pada umumnya menanam lebih dari satu jenis komoditi hortikultura (tumpang sari). Hal ini lah yang membuat modal yang dibutuhkan menjadi lebih besar dibanding menanam hanya 1 jenis tanaman saja.
Tabel 8. Alasan Petani Memilih Menggunakan Kredit Dari CU
No. Alasan Petani Jumlah
responden (Jiwa) Persentase
1 saran teman / keluarga 14 46,6
2 kemudahan memperoleh
pinjaman 8 26,6
3 pelayanan yang memuaskan 2 6.6
4 hubungan baik dengan pengelola 2 6,6
5 kerahasiaan lebih terjamin 0 0
6 kemudahan dalam membayar
cicilan 4 13.3
Total 30 100
Sumber : data diolah dari lempiran 7.
Alasan yang paling banyak muncul ketika dihadapkan pada pilihan untuk menggunakan dana dari CU adalah saran teman / keluarga yaitu sebanyak 46,6 %. Hal ini sesuai dengan penelitian Aritonang (2009) yang menemukan fakta bahwa alasan saran teman / keluarga lah yang menempati posisi pertama yaitu sebesar 43,24% sebagai alasan petani menggunakan dana CU. Menurut Terry dalam Syamsi (1989), keputusan ini diambil berdasarkan pengalaman orang lain. Keputusan yang berdasarkan pengalaman sangat bermanfaat bagi pengetahuan praktis.
42
Alasan yang kedua adalah kemudahan memperoleh pinjaman yaitu sebanyak 26,6 %. Menurut Terry dalam Syamsi (1989), keputusan diambil berdasarkan rasional. Keputusan rasional banyak berkaitan dengan pertimbangan dari segi daya guna, yaitu perbandingan antara hasil yang diperoleh dengan pengorbanan yang harus diberikan. Keputusan yang dibuat berdasarkan rasionalotas itu lebih bersifat objektif. Salah seorang responden yang memilih CU karena kemudahan memperoleh pinjaman dilihat dari penyelesaian administrasi, yaitu melapor dengan pihak CU, mengisi formulir peminjaman, membawa Kartu Kelurga dan KTP suami dan istri, membawa buku anggota CU. Lama pencairan pinjaman adalah 1 minggu hingga 2 minggu tergantung keadaan kas unit CU, tapi bila ada kebutuhan sangat mendesak dana dapat dijeput sendiri oleh anggota ke kantor pusat CU Merdeka yang ada di Kecamatan Merdeka setelah syarat syarat dipenuhi oleh anggota. Hal ini berbeda dengan lembaga lainnya seperti bank yang mewajibkan adanya jaminan.
Alasan ketiga yang muncul adalah kemudahan dalam membayar cicilan yaitu sebesar 13,3% yang memilih alasan ini. Pembayaran cicilan yang tetap dilakukan dapat dilakukan per minggu atau pun perbulan asalkan nominal cicilan pinjaman dan bunganya terpenuhi. Meskipun dalam kebutuhan mendesak namun kas di unit sedang tidak mencukupi anggota dapat mengambil di kantor pusat, tapi berbeda halnya dengan pembayaran cicilannya. Setiap anggota hanya perlu membayarkan cicilannya di unit yang berada di desa Sempajaya pada hari minggu sore.
bergabung dengan CU yang pengelolanya adalah kerabat dekat responden. Pengaruh kekeluargaan inilah yang menjadi alasan responden bergabung. Alasan pelayanan yang memuaskan juga memiliki persentase sebesar 6,6 %. Dari petani diperoleh pelayanan yang memuaskan mencakup pemberian pinjaman yang cepat dimana paling singkat dalan satu atau dua hari dapat memperoleh pinjaman, tepat jumlahnya dan tepat waktunya, mudah yaitu administrasi yang tidak berbelit belit atau tidak perlu meohon pengurus untuk mendapatkan pinjaman, hanya dilihat dari riwayat kerajinan anggota menabung.
5.4 Alasan Petani tidak menggunakan CU
Dalam bagian hipotesis penulis mengangkat bahwa alasan petani tidak menggunakan CU adalah kurangnya informasi, tidak ada jaminan, serta bunga besar. Namun dalam perjalanan penelitian ini, setelah mewawancarai responden di daerah penelitian ternyata bukan lah itu yang menjadi alasan petani di daerah penelitian.
Kurangnya informasi tidak mungkin menjadi alasan yang pilih karena lokasi unit CU yang berada sangat berdekatan dengan kegiatan para petani di daerah penelitian. Maka tidak mungkin berita tentang apa apa yang menyangkut informasi tentang CU sampai ke setiap orang mengingat eratnya budaya bergaul di daerah penelitian.
44
petani dalam memilih CU karean mereka semua telah mengetahui bahwa CU mematok besaran bunga yang kecil bagi para anggota.
Selama masa penelitian penulis menemukan bahwa 23 (76%) orang petani yang tidak menggunakan CU merasa belum perlu dana tambahan yang menjadi alasan petani responden yang sampai saat ini belum bergabung dengan CU. Para responden tidak mau mengambil resiko dengan membebani usahatani dengan biaya untuk membayar ke CU disamping biaya usahatani yang sudak cukup besar di bidang pupuk dan pestisida. Sedangkan 7 orang petani memiliki alasan yaitu kekhawatiran tidak akan mampu membayar cicilan pinjaman dengan mengingat harga komoditi yang diproduksi mereka selalu berfluktuasi. Sebagian besar responden ini adalah petani berusia muda yang baru terjun dalam usahatani karena merasa modal yang dimiliki yang tidak lain adalah modal yang berasal dari orang tua masih cukup untuk menjalankan usahatani, ditambah lagi tidak adanya tanggunan yang harus dibiayai hidupnya karena petani responden tersebut belum berumahtangga.
5.5 Pengaruh Karakteristik Sosial Ekonomi Petani Pengguna CU Terhadap Frekuensi Peminjaman Kredit
Hasil analisis pengaruh karakteristik umur, jumlah tanggungan, tingkat pendidikan, pendapatan, modal dan lamanya menjadi anggota terhadap petani pengguna CU :
Tabel 9. Pengaruh Karakterisktik Sosial Ekonomi Petani Pengguna CU
F Sig. R R Square
Regression 5,179 ,002 ,758 ,575
Sumber: Lampiran 8
Dari Tabel 5 di atas diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,002 (<0,05) menunjukkan bahwa variabel bebas variabel umur, jumlah tanggungan, tingkat pendidikan, pendapatan, modal dan lamanya menjadi anggota secara serempak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat frekuensi peminjaman kredit. Nilai Rsquare sebesar 0.575 artinya variabel umur, jumlah tanggungan, tingkat pendidikan, pendapatan, modal dan lamanya menjadi anggota dapat menjelaskan variabel frekuensi peminjaman kredit sebesar 57%. Untuk 43% sisanya masih dipengaruhi dari variabel lain yang belum diteliti.
Tabel 10. Pengaruh Karakterisktik Sosial Ekonomi Petani Pengguna CU Unstandardized Coefficients t Sig.
B Std. Error
46
menjadi anggota signifikan secara parsial berpengaruh nyata terhadap frekuensi peminjaman. Hal ini dikarena pada komunitas desa sangat diutamakan hubungan kekeluargaan dan rasa saling percaya. Umur berpengaruh karena pergaulan dalam anggota CU rata rata adalah orang orang yang sebaya. Maka pada akhirnya semakin bertambahnya umur makan akan semakin lama seseorang bergabung dalam CU. Semakin lama bergabung, berkumpul dan bergaul di sana membuat rasa percaya semakin terpupuk dan membuat seseorang lebih sering menggunakan fasilitas CU yaitu peminjaman dana.
47
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Risiko usahatani petani bukan pengguna CU ditinjau dari segi pendapatan lebih tinggi dibandingkam dengan yang menggunakan CU.
2. Ada perbedaan pendapatan antara Petani pengguna CU Petani bukan pengguna CU
3. Variabel bebas umur, jumlah tanggungan, tingkat pendidikan, pendapatan, modal dan lamanya menjadi anggota secara serempak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat frekuensi peminjaman kredit. Dan variabel bebas umur dan lamanya menjadi anggota signifikan secara parsial berpengaruh nyata terhadap frekuensi peminjaman. Sedangkan variabel bebas juga jumlah tanggungan, tingkat pendidikan, pendapatan, dan modal signifikan secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap frekuensi peminjaman.
4. Alasan pertama yang paling banyak muncul yang menyebabkan petani memilih CU adalah saran teman / keluarga yaitu sebanyak 46,6 %. Alasan kedua adalah kemudahan memperoleh pinjaman yaitu sebanyak 26,6 %. 5. Sebanyak 23 dari 30 petani yang tidak menggunakan CU karena
48
6.2 Saran
1. Kepada Petani pengguna CU
Diharapkan lebih bijak memanfaatkan dana pinjaman dari CU untuk kebutuhan usahatani.
2. Kepada Petani yang bukan pengguna CU
Diharapkan agar ikut bergabung dengan lembaga keuangan (CU) karena dapat membantu penurunan risiko pendapatan.
3. Kepada Credit Union
Sebaiknya meningkatkan pelayanan dari segi konsultasi. Serta dapat memberikan motivasi kepada petani yang belum bergabung agar ikut bergabung dikemudian hari. Metode pemasaran yang sangat baik dalam mempromosikan CU di desa Sempajaya adalah dengan cara dari mulut ke mulut dengan cerita cerita kesuksesan.
4. Kepada Peneliti Selanjutnya