DLH Prov. Sumbar
DLH Prov. Sumbar
Visi DLH
“Menjadi lembaga pengelola lingkungan hidup yang handal
dan proaktif dalam mewujudkan kualitas lingkungan hidup
yang baik
“
Mewujudkan penurunan beban pencemaran dan
pengendalian kerusakan lingkungan hidup;
Mewujudkan Penaatan Hukum Lingkungan;
Mewujudkan tata kelola sumber daya alam yang berwawasan
lingkungan;
Meningkatkan pengelolaan sampah dan limbah B3;
Mengembangkan kapasitas lingkungan hidup dan peran serta
stakeholder dalam pengelolaan lingkungan hidup.
Perkembangan
Pengusulan/Pembentukan
Unit Pelaksana Teknis
Dinas (UPTD)
Untuk UPTD saat ini masih dalam tahap
pembahasan oleh tim penataan
kelembagaan/Biro Organisasi Setda
Provinsi Sumatera Barat.
UPTD yang direncanakan: UPTD TPA
Sampah Regional dan UPTD
Laboratorium Lingkungan
UPTD TPA Sampah Regional saat ini
masih berada di Dinas Perumahan dan
Pemukiman
UPTD Laboratorium Lingkungan
masih dalam tahap proses
pembangunan fisik gedung
laboratorium, direncanakan selesai
100% di tahun 2018
Pergub tentang tupoksi dinas (termasuk
No Sasaran Strategis Indikator Kinerja
Target Kinerja
2016
Realisasi 2016
% Capaian
1 2 3 4 5 6
1. Meningkatnya kualitas lingkungan hidup
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH)
70,88 70,18 99,01%
Target dan Realisasi Indikator Kinerja Utama
SKPD Tahun 2016 dan Target Tahun 2017
Sasaran 1 (SS1)
Terkendalinya beban pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup dari usaha/kegiatan
INDIKATOR KINERJA KINERJA 2016TARGET KINERJA 2016REALISASI TARGET 2017
Indeks Kualitas Air (IKA) 58 < IKA < 66 65,40 58 < IKA < 66 Indeks Kualitas Udara (IKU) 82 < IKU < 90 82,90 82 < IKU < 90
Sasaran 2 (SS2)
Ditaatinya mekanisme, implementasi izin lingkungan dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis
INDIKATOR KINERJA KINERJA 2016TARGET KINERJA 2016REALISASI TARGET 2017
Persentase Komisi Penilai AMDAL (KPA) kab/kota yang telah
mengimplementasikan Standar Operating Procedure (SOP) sesuai peraturan perundang-undangan
70% 100% 75%
Persentase usaha dan/atau kegiatan yang menaati peraturan perundang-undangan lingkungan hidup
50% 48,31% 60%
Persentase dokumen perencanaan provinsi dan/atau kabupaten/kota yang dilengkapi Kajian Lingkungan Hidup Strategis
Sasaran 3 (SS3)
Meningkatnya efektifitas penanganan kasus lingkungan hidup dan penaatan hukum lingkungan hidup di Provinsi Sumatera Barat
INDIKATOR KINERJA KINERJA 2016TARGET KINERJA 2016REALISASI TARGET 2017
Persentase kasus lingkungan hidup yang dapat diselesaikan
85% 98,21% 85%
Sasaran 4 (SS4)
Meningkatnya peran serta stakeholder dalam pengelolaan lingkungan hidup
INDIKATOR KINERJA KINERJA 2016TARGET KINERJA 2016REALISASI TARGET 2017
Persentase jumlah titik pantau yang memenuhi passing grade Adipura dan Gerakan Sumbar Bersih
Persentase peningkatan keikutsertaan dalam kegiatan penghargaan lingkungan (Adiwiyata dan Kalpataru)
Usaha/kegiatan peringkat biru PROPER yang mengalokasikan CSR untuk
pengelolaan lingkungan hidup
Rancangan Indikator Kinerja Utama (IKU)
Dinas LH Tahun 2018 – 2021
No. Tujuan Sasaran Strategis Indikator Kinerja Sasaran Strategis
1. Terwujudnya kualitas lingkungan hidup yang baik
Terkendalinya beban pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup dari usaha/kegiatan
Indeks Kualitas Air (IKA) Indeks Kualitas Udara (IKU) 2. Terwujudnya tertib hukum
lingkungan
Meningkatnya efektifitas penanganan kasus lingkungan hidup dan penaatan hukum lingkungan hidup
Persentase usaha dan/atau kegiatan yang menaati peraturan perundang-undangan lingkungan hidup
Persentase kasus lingkungan hidup yang dapat diselesaikan sesuai SOP
3. Terwujudnya tata lingkungan dan konservasi sumber daya alam
Terwujudnya pencegahan dampak lingkungan dan konservasi sumber daya alam sesuai daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup
Persentase Komisi Penilai AMDAL (KPA) dan/atau instansi lingkungan hidup
kabupaten/kota yang mengimplementasikan SOP penilaian AMDAL dan UKL/UPL sesuai peraturan perundang-undangan Persentase provinsi dan kabupaten/kota yang melakukan penyusunan RPPLH berbasis daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup
4. Terwujudnya
Pengelolaan sampah dan limbah B3
Penurunan dampak lingkungan akibat
timbulan sampah dan limbah B3 Persentase jumlah titik pantau yang memenuhi passing grade Adipura dan Gerakan Sumber Bersih.
Persentase penurunan volume sampah melalui implementasi 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
No. Tujuan Sasaran Strategis Indikator Kinerja Sasaran Strategis
5. Terwujudnya peningkatan kapasitas lingkungan dan peran serta
stakeholder dalam pengelolaan lingkungan hidup
Mewujudkan peran aktif masyarakat dan stakeholder dalam pengelolaan lingkungan hidup
Jumlah keikutsertaan stakeholder dalam pengelolaan lingkungan hidup
Program/Kegiatan Pendukung Indikator Kinerja Utama (IKU)
No IKU Program Kegiatan
1 Indeks Kualitas Air (IKA) Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup
1. Pemantauan Kualitas Sumber Air Skala Provinsi 2. Pengawasan Pengendalian Terhadap Pengelolaan
Lingkungan Usaha/Kegiatan
3. Pengkajian Penetapan Status Mutu Air Sungai Lintas Kabupaten/Kota
4. Penilaian Kinerja Pengelolaan Lingkungan Usaha dan/atau Kegiatan (PROPER Daerah)
5. Penanggulangan dan Pemulihan Pencemaran Media Lingkungan Hidup
6. Penetapan dan evaluasi Baku Mutu Limbah Cair kegiatan
7. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) 8. Peningkatan Pengembangan Laboratorium
Lingkungan
9. Pengembangan Laboratorium Lingkungan 10. Monitoring dan Evaluasi Program/Kegiatan
Pengelolaan Lingkungan Hidup
11. Pengembangan teknologi pengelolaan lingkungan hidup
Program Tata Lingkungan, Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam
1. Peningkatan Pembinaan Konservasi Wilayah Pesisir Laut
2. Peningkatan Konservasi Kualitas air danau di Provinsi Sumatera Barat
Program Peningkatan Kualitas Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup
No IKU Program Kegiatan
2 Indeks Kualitas Udara (IKU) Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup
1. Pemantauan Kualitas Udara Ambien
3 Persentase usaha dan/atau kegiatan yang menaati peraturan perundang-undangan lingkungan hidup
Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup
1. Pengawasan dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan
2. Penanggulangan dan Pemulihan Kerusakan lingkungan
Program Penaatan dan Penegakan Hukum Lingkungan
1. Pembinaan Hukum Lingkungan dan Perizinan 2. Pemutakhiran data pemilik kegiatan dan/atau usaha
yang memiliki Izin Lingkungan
3. Penyelenggaraan Penyusunan Produk Hukum dan Finalisasi Draft Produk Hukum
4 Persentase kasus lingkungan hidup yang dapat
diselesaikan sesuai SOP
Program Penaatan dan Penegakan Hukum Lingkungan
1. Penaatan Hukum Lingkungan
5 Persentase Komisi Penilai AMDAL (KPA) dan/atau instansi lingkungan hidup kabupaten/kota yang
mengimplementasikan SOP penilaian AMDAL dan UKL/UPL sesuai peraturan perundang-undangan.
Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup
1. Pembinaan dan Evaluasi Kinerja Penatalaksanaan Penilaian/Pemeriksaan Dokumen Lingkungan Hidup
No IKU Program Kegiatan
6 Persentase provinsi dan kabupaten/kota yang melakukan penyusunan RPPLH berbasis daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup
Program Tata Lingkungan, Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam
1. Penyusunan 1 (satu) paket dokumen Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Berbasis daya dukung daya tampung lingkungan Propinsi Sumatera Barat
2. Bimtek penyusunan RPPLH berbasis dokumen daya dukung daya tampung lingkungan
Kab/Kota
3. Pembinaan dan evaluasi penyusunan RPPLH berbasis daya dukung dan daya tampung lingkungan
4. Penyusunan Ranperda RPPLH
5. Sosialisasi Dokumen RPPLH kepada pemangku Kepentingan
6. Penyusunan Pedoman Instrumen ekonomi lingkungan melalui Insentif, disinsentif dan pendanaan lingkungan
7. Pembinaan KLHS Terhadap Dokumen Perencanaan
7 Persentase jumlah titik pantau yang memenuhi passing grade Adipura dan Gerakan Sumber Bersih.
Program pengembangan kinerja pengelolaan persampahan
1. Peningkatan Pemulihan Kualitas Lingkungan Hidup Perkotaan (Adipura)
2. Peningkatan Implementasi Gerakan Sumbar Bersih
No IKU Program Kegiatan
8 Persentase penurunan volume sampah melalui implementasi 3R (Reduce, Reuse, Recycle)
Program pengembangan kinerja pengelolaan persampahan
1. Peningkatan implementasi 3R 2. Pilot Projek Peningkatan Peran Serta
Masyarakat dalam Pengelolaan Persampahan 3. Penyusunan Ranperda Pengelolaan Sampah
Provinsi Sumatera Barat
4. Penyusunan Perda Pengelolaan Sampah Provinsi Sumatera Barat
5. Pembinaan Pengelolaan Sampah kab/kota
9 Persentase peningkatan limbah B3 yang terkelola sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup
1. Pembinaan, pemantauan dan pengawasan kegiatan/Usaha penghasil limbah B3 2. Pembinaan, pemantauan dan pengawasan
usaha/kegiatan pengelola limbah B3 medis 3. Pembinaan, pemantauan dan pengawasan
usaha/kegiatan pengelola limbah B3 medis 4. Monitoring dan evaluasi kegiatan pengangkut
dan pengumpul limbah B3
5. Penyusunan Ranperda Pengelolaan Limbah B3 Provinsi Sumatera Barat
6. Penyusunan Perda Pengelolaan Limbah B3 Provinsi Sumatera Barat
7. Feasibility Study Pembentukan Klaster Pengelolaan Limbah B3 Medis
lanjutan
No IKU Program Kegiatan
10 Jumlah keikutsertaan stakeholder dalam pengelolaan lingkungan hidup
Program Peningkatan Kualitas Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup
1. Peningkatan Edukasi dan Komunikasi Masyarakat di Bidang Lingkungan
2. Penyusunan Buku Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) Propinsi Sumatera Barat
3. Pembinaan dan Penilaian Peranserta Masyarakat dan Kelompok Peduli Lingkungan Hidup
(Kalpataru)
4. Penguatan Nagari/Kelurahan dalam Pembangunan Berwawasan Lingkungan 5. Pembinaan Penerapan Sistim Manajemen
Lingkungan (Penerapan CSR Bidang Lingkungan)
6. Inventarisas, Fasilitasi, Peningkatan Kapasitas dan Pembinaan Masyarakat Hukum Adat (MHA) Lintas Kab/Kota yang terkait dengan PPLH
7. Pelatihan dan Penyuluhan Lingkungan Hidup dalam rangka Peningkatan Kapasitas Lembaga Kemasyarakatan daerah tingkat propinsi
8. Peningkatan Pengembangan Kelembagaan Kelompok Masyarakat Peduli Lingkugan Hidup 9. Peningkatan Kapasitas Kelembagaan
No IKU Program Kegiatan
11 Jumlah usulan PROKLIM
ke tingkat Nasional Program Tata Lingkungan, Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam
1. Peningkatan Perlindungan Lapisan Ozon dan Pengendalian Dampak Perubahan Iklim 2. Pembinaan Adaptasi dan Mitigasi Perubahan
Iklim (Program Kampung Iklim)
3. Implementasi Rencana Aksi dalam upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim
4. Monitoring Evaluasi dan Pelaporan Gas Rumah Kaca
Program Tata Lingkungan, Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam
Peningkatan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati di Sumatera Barat
PEMBINAAN PENGENDALIAN
PEMBINAAN
KAB/KOTA PENGENDALIAN PENCEMARAN, KERUSAKAN LINGKUNGAN DAN PENTAATAN HUKUM LINGKUNGAN Rapat Koordinasi Rapat Koordinasi Surat Edaran/ Follow Up Surat Edaran/ Follow Up Sosialisasi Sosialisasi Penyertaan Dalam Tim Penyertaan Dalam Tim Pengawasan & Pemantauan bersama sebagai Tim Pendamping Pengawasan & Pemantauan bersama sebagai Tim Pendamping PENATAAN LINGKUNGAN PENGELOLAAN SAMPAH, B3 DAN LB3SERTA PENINGKATAN KAPASITAS
PENGAWASAN
PENGAWASAN
(
Pasal 112
–
pejabat tidak
melaksanakan
pengawasan)
LANGSUNG
PENGAWASAN KE OBJEK OLEH DLH PROVINSI
PENGAWASAN
PROVINSI PADA
OBJEK
ATAS USULAN OLEH KABUPATEN/KOTA
DISAMPAIKAN OLEH DLH PROVINSI
Objek Uji Petik:
Izin Lingkungan
diterbitkan di Provinsi.
Dampak ke media
lingkungan lintas Kabupaten/Kota.
Munculnya sebagai
isu media massa.
Objek percontohan
dan objek kajian.
Objek Uji Petik:
Izin Lingkungan diterbitkan di Provinsi. Dampak ke media lingkungan lintas Kabupaten/Kota.
Munculnya sebagai isu media massa.
PEMULIHAN LAHAN
•
Kawasan Hutan
Dinas Kehutanan
•
Lahan Yang Berizin
Penanggung jawab
Usaha/Kegiatan
I. KERJASAMA ANTAR DAERAH DALAM PEMULIHAN
LAHAN AKSES TERBUKA
Kondisi saat ini :
Kegiatan pertambangan illegal (emas dan batuan) baik yang
masih aktif maupun yang sudah ditinggalkan, di sungai maupun lahan produktif, berada di berada di Aplikasi Penggunaan Lain (APL) maupun kawasan Kawasan Hutan.
Dampak yang ditimbulkan :
1. Gerakan tanah (longsor) dan banjir
2. Membahayakan keselamatan penambang dan pengguna jalan;
3. Kerusakan sempadan sungai;
4. Kerusakan fasilitas umum seperti jalan dan jembatan;
Fokus Kegiatan Pemulihan Lahan Akses Terbuka 2017 dan Kedepan :
1. Inventarisasi Lahan Akses Terbuka (lahan bekas kegiatan penambangan illegal yang telah ditinggalkan);
2. Pemulihan Lahan Akses Terbuka :
Tahapan :
a.Data Pendukung :
1) Status lahan (Negara, ulayat/masyarakat, pribadi yang diikat dalam kelompok);
2) Status kawasan ( diluar kawasan hutan);
b. Pemetaan Sosial :
1) Keinginan masyarakat dan komitmen daerah;
2) Pola pengelolaan;
3) Jaminan keberlangsungan project (tidak akan merubah dalam dalam waktu sekian tahun sesuai komitmen awal)
.
c. Penyusunan Studi Kelayakan dan DED
d. Pengkajian Teknis Pemulihan
e. Pemulihan
1) Fisik (penataan lahan dan revegetasi);
2) Kelembagaan Masyarakat;
3) Replikasi;
4) Sumber pendanaan;
5) Dokumen Lingkungan.
Inventarisasi Lahan Akses Terbuka Tahun 2017:
1. Kab. Dharmasraya; 2. Kab. Solok Selatan;
3. Kab. Padang Pariaman; 4. Kab. Psisir Selatan;
5. Kota Padang;
6. Kab. Limapuluh Kota; 7. Kab. Solok;
8. Kota Sawahlunto
a. Lokasi 8 (delapan) kab/kota :
1. Kejelasan lokasi meliputi letak administratif, luasan dan koordinat geografis;
2. Kepemilikan lahan dan apakah keberadaan dalam WPR;
3. Status kawasan.
Permasalahan Yang Dihadapi :
1.
Dari data yang dimiliki KLHK bahwa terdapat 217
titik lokasi kegiatan penambangan dengan luas area
6.630,53 Ha, tetapi yang baru dilakukan verifikasi
lapangan oleh Dinas Lingkungan Hidup Provinsi
Sumbar sebanyak 17 lokasi.
2.
Sebagian besar instansi lingkungan hidup kab/kota
tidak memiliki kegiatan berkaitan dengan kerusakan
(Lahan Akses Terbuka);
3.
Data yang ada tidak/belum bisa menggambarkan
Lanjutan ………
4. Sulitnya mengendalikan kegiatan penambangan illegal karena berhadapan langsung dengan masyarakat dan belum ada solusi untuk pengalihan mata pencaharian;
Tindak lanjut dan Dukungan dari Pemkab/Kota
dan stake holder terkait :
1. Instansi lingkungan hidup kab/kota agar memiliki kegiatan yang berkaitan inventarisasi dengan kerusakan Lahan Akses Terbuka ;
2. Melengkapi data sumber kegiatan (kegiatan apa saja baik yang legal maupun illegal, luasan, kepemilikan, status lahan);
Lanjutan ………..
4. Untuk kegiatan pemulihan lahan akses terbuka
kab/kota langkah awal agar :
a.
Membuat proposal;
b.
Memfasilitasi dukungan Bupati/Walikota dan
komitmen masyarakat.
5.
Pendanaan jangan menjadi masalah yang diperlukan
MODEL KERJASAMA ANTAR
DAERAH PENURUNAN BEBAN
PENCEMARAN SUNGAI
Pengendalian sumber pencemar limbah padat
dan cair domestik, pasar, hotel, restoran, dan
RPH;
Pemulihan kualitas air Sungai;
Pengamanan sempadan Sungai; dan
Pelibatan partisipasi masyarakat, stakeholders
dan organisasi masyarakat/LSM dalam
II. Kerjasama Antar Daerah Dalam Pemulihan Kualitas Air Sungai :
Batang Agam
Data Series 5 tahun
Pembuatan MOU antar Pemerintah Provinsi dengan Kab/Kota
Penyusunan Perjanjian Kerjasama (memuat Hak, Tanggung Jawab
dan Pendanaan
Pembuatan Rencana Teknis dan memasukkan dalam Rensta OPD
Terkait
Pelaksanaan Rencana Teknis oleh OPD terkait yang dikoordinasi
Perkembangan Model Penurunan
Beban Pencemaran Sungai
•
MOU sudah ditandatangani 2016 oleh Gub
dan Walikota/Bupati Bukittinggi, Payakumbuh,
50 Kota dan Agam
•
Fasilitasi pembentukan cluster pengelolaan
Target 2017
- Penyusunan Perjanjian Kerjasama dan Rencana Teknis
- Pemasangan Digester Biogas pada Septik Tank Komunal (segmen Bukittinggi);
Pemasangan jaring besi sampah pada Sungai Batang Agam (segmen Bukittinggi
dan Agam); dan
Bantuan pembangunan bank sampah dan taman sempadan sungai (segmen
Bukittinggi).
Pengembangan Bank Sampah menjadi Bank Sampah Induk (segmen
Bukittinggi).
Target 2018:
Payakumbuh, Agam, 50 Kota dan Bukittinggi.
Pengelolaan sampah, kajian limbah cair industri kecil, RS dan Hotel Restauran
KENDALA
DLH sudah menganggarkan kegiatan fisik tapi
tidak bisa direalisasikan (kena bintang) karena
tidak ada proposal dari Kab/Kota
Draf Rencana Teknis belum disampaikan dan
TINDAK LANJUT
Draft Penyusunan Perjanjian Kerjasama (PKS) dan Rencana Teknis
Penurunan Beban Pencemaran Sungai Provinsi
Akhir Maret
2017
Koordinasi usulan Perjanjian dan Program dan Kegiatan dari
Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota yang akan
diakomendir dalam PKS dan Rencana Teknis melalui Rapat Teknis
Tim Provinsi dan Kab/Kota terkait
Maret s/d April 2017
PERMASALAHAN LIMBAH B3
•
Rumah Sakit tidak mau mengambil limbah B3 dari Puskesmas,
karena RS juga belum mempunyai izin incenerator.
•
Rumah sakit harus melakukan revisi dokumen (UKL/UPL) agar dapat
membantu mengolah limbah B3 yang berasal dari Puskesmas.
•
Biaya yang dianggarkan Puskesmas untuk mengolah limbah B3 sangat
kecil dibandingkan biaya operasional yang dikeluarkan pihak rumah
sakit untuk mengolah limbah B3 yang berasal dari puskesmas.
•
Emisi Limbah B3 tidak pernah memenuhi baku mutu Limbah B3,
karena mekanisme pembakaran yang tidak sempurna (disebabkan
kondisi limbah yang masih belum memenuhi jumlah minimum
pengolahan limbah di incenerator).
•
Pendirian incenerator belum memenuhi persyaratan yang
PEMBINAAN, PENGAWASAN, DAN
PENGELOLAAN
KAB/KOTA PROVINSI
1. Melakukan pembinaan, pengawasan dan
pengelolaan dengan cara melakukan sosialisasi tentang SOP pengangkutan dan penyimpanan limbah B3 kepada pihak terkait, seperti Rumah Sakit, Puskesmas atau pihak ketiga yang diberi wewenang untuk melalukan pengangkutan, penimbunan atau penyimpanan.
2. Dalam pemakaian atau pemanfaatan
incenerator Rumah Sakit, harus dibuatkan MoU antara RS dengan Puskesmas, dengan diketahui oleh instansi terkait, yaitu Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan.
3. Jika penyimpanan dan pengangkutan serta pemusnahan/pengelolaan lebih lanjut
dilakukan oleh pihak ketiga, maka harus ada MoU antara RS dengan pihak ketiga, agar kerjasama langsung (pastikan legalitasnya)
1. Provinsi berkewajiban melakukan pembinaan, pengawasan Limbah B3 ke Dinas Lingkungan Hidup
Kab/Kota dengan melakukan uji petik terhadap beberapa objek kegiatan terkait
pengelolaan limbah B3.
2. Akan menyurati KLHK untuk beberapa pengecualian dapat diakomendir dalam surat edaran :
- Adeddum Izin (revisi dokumen)
RENCANA CLUSTER PENGELOLAAN
LIMBAH RS
•
Minimal Satu Pusat Pengelolaan Limbah B-3
di Sumatera Barat (sebagai percontohan)
Apa yang harus dilakukan oleh
calon Obyek
•
Revisi Tata Ruang
•
Addendum Izin Lingkungan (yang UKL/UPL
menjadi AMDAL dan mencakup limbah B-3)
•
Pengelolaan
komersil atau tidak komersil
Dokumen lingkungan bagi
USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG SUDAH BERJALAN (OPERASIONAL /
KONSTRUKSI)
Kebijakan Pemerintah Berupa:
•
Surat
MENLHK
No.
S.541/MENLHK/
SETJEN/PLA.4/12/2016 tanggal 28 Desember
2016 untuk Kegiatan Pemerintah
MUATAN Surat MENLHK No. S.541/menlhk/setjen/pla.4/12/2016
DAN surat edaran menlhk no. Se.7/menlhk/setjen/pla.4/2016 TANGGAL 28
DESEMBER 2016
1. Target Usaha dan/atau kegiatan yang sudah berjalan atau yang sudah memiliki izin usaha namun tidak memiliki dokumen lingkungan hidup dan Izin Lingkungan
2. Kebijakan a. Bentuk kebijakan:
Kegiatan pemerintah : Perintah berupa surat untuk melengkapi kegiatan
dengan dokumen lingkungan dan Izin Lingkungan
Orang Perseorangan atau Badan Usaha (Swasta) : Sanksi Administrasi
berupa Paksaan Pemerintah (Surat Keputusan)
b. Pelaksana Kebijakan: MENLHK/Gubernur/Bupati/Walikota sesuai kewenangannya
3. Jenis
Dokumen a. DELH untuk Usaha dan/atau Kegiatan b. DPLH untuk Usaha dan/atau Kegiatan Wajib AmdalWajib UKL- UPL
Aturan terkait penyusunan DELH
atau DPLH
Pedoman penyusunan:
PermenLHK No. P.102/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2016 tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Yang Telah Memiliki Izin Usaha dan/atau
Kegiatan Tetapi Belum Memiliki Dokumen Lingkungan Hidup
Penentuan jenis dokumen dan kewenangan penilaian dokumen:
Mengacu pada pengaturan jenis usaha dan/atau kegiatan wajib Amdal atau UKL-UPL (PermenLH No. 5 Tahun 2012 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, PermenLH No. 08 Tahun 2013 tentang Tata
Laksana Penilaian dan Pemeriksaan Dokumen Lingkungan Hidup Serta Penerbitan Izin Lingkungan dan Pergub/Pergub/Perwako/peraturan terkait lainnnya)
SK Paksaan Pemerintah dan pendelegasian wewenang:
PermenLH No. 02 Tahun 2013 tentang Pedoman Penerapan Sanksi Administratif di Bidang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
•Pemberian Denda atas Keterlambatan Pelaksanaan Paksaan Pemerintah:
PermenLHK yang mengatur tentang Pemberian Denda atas Keterlambatan Pelaksanaan Paksaan Pemerintah
MUATAN SURAT PEMENUHAN KEWAJIBAN
DELH ATAU DPLH UNTUK KEGIATAN
Muatan PENERAPAN sanksi
administratif berupa paksaan
PERSYARATAN Penyusun delh atau
dplh
Penyusun DELH
• Memiliki sertifikat kompetensi
auditor lingkungan;
• Memiliki sertifikat kompetensi
penyusun dokumen Amdal;
• Memiliki sertifikat kelulusan
pelatihan penyusun Amdal; dan/atau
• Memiliki sertifikat kelulusan
pelatihan Auditor Lingkungan Hidup.
Catt. Boleh salah satu atau semuanya
Penyusun DPLH
•
Pemrakarsa
Tindak lanjut oleh Dinas lingkungan Hidup provinsi
Sumatera Barat
•
Surat
Gubernur
Sumatera
Barat
No.
660/201/TL/DLH-2017 tanggal 8 Februari 2017
kepada Bupati/Walikota
•
Surat
Gubernur
Sumatera
Barat
No.
660/201/TL/DLH-2017 tanggal 8 Februari 2017
tanggal 8 Februari 2017 kepada OPD terkait
Provinsi.
•
Rapat Koordinasi dengan Instansi Lingkungan Hidup
SUBSTANSI MUATAN SURAT GUBERNUR
a) Mempelajari dan mendalami surat MENLHK dan
PermenLHK mengenai DELH atau DPLH
b) Melakukan inventarisasi usaha dan/atau kegiatan yang
sudah berjalan atau telah memiliki izin usaha dan/atau
kegiatan namun belum memiliki dokumen lingkungan dan
Izin lingkungan
c) Melaporkan dan mengkoordinasikan hasil inventarisasi ke
instansi LH sesuai kewenangan untuk dapat
ditindaklanjuti
TARGET PERCEPATAN PENGEMBANGAN ADIWIYATA DI
SUMATERA BARAT TAHUN 2017
•
Percepatan pengembangan Sekolah Adiwiyata di seluruh
Kab/Kota dalam rangka penyebarluasan dan pemerataan
pendidikan lingkungan terutama di beberapa Kab/Kota yang
masih rendah keikutsertaannya dalam program Aadiwiyata.
•
SK atau Surat Edaran dari Bupati/Walikota untuk penegasan
keikutsertaan sekolah dalam Program Adiwiyata.
•
Diharapkan kerjasama Kabupaten/Kota untuk menyampaikan
Laboratorium Kab/Kota Yang
Dibina Tahun 2016 :
1. Laboratorium DAK-LH Kota Padang 2. Laboratorium DAK-LH Kota Pariaman
3. Laboratorium DAK-LH Kota Padang Panjang 4. Laboratorium DAK-LH Kota Payakumbuh
5. Laboratorium DAK-LH Kabupaten Solok Selatan 6. Laboratorium DAK-LH Kabupaten Pesisir Selatan 7. Laboratorium DAK-LH Kabupaten Dharmasraya 8. Laboratorium DAK-LH Kota Bukittinggi
9. Laboratorium DAK-LH Kabupaten Pasaman
10. Laboratorium DAK-LH Kabupaten Limapuluh Kota 11. Laboratorium DAK-LH Kota Solok
Rencana Pembinaan Laboratorium
Kab/Kota Tahun 2017 :
1. Laboratorium DAK-LH Kab. Pasaman Barat 2. Laboratorium DAK-LH Kab. Pasaman
3. Laboratorium DAK-LH Kab. Dharmasraya 4. Laboratorium DAK-LH Kota Pariaman 5. Laboratorium DAK-LH Kota Sawahlunto 6. Laboratorium DAK-LH Kab. Sijunjung 7. Laboratorium DAK-LH Kab. Solok Selatan 8. Laboratorium DAK-LH Kab. Tanah Datar 9. Laboratorium DAK-LH Kota Solok
10. Laboratorium DAK-LH Kab. Agam
11. Laboratorium DAK-LH Kab. Pesisir Selatan 12. Laboratorium DAK-LH Kota Payakumbuh
Langkah-langkah yang perlu dilakukan
Kabupaten/Kota
terkait Laboratorium DAK Kabupaten/Kota
•
Percepatan Pemanfaatan Laboratorium DAK kab/kota terutama
Optimalisasi Pendayagunaan peralatan.
•
Persiapan Kelembagaan Labotarorium DAK Kab/Kota sesuai kobutuhan
daerah Kabupaten/Kota (UPTD)
•
Persiapan Struktur Kelembagaan Laboratorium sesuai dengan Permen
LH Nomor 6 tahun 2009 tentang laboratorium Lingkungan
•
Penyediaan tenaga Laboratorium yang kompeten untuk operasionalisasi
Laboratorium DAK Kab/Kota
•
Dukungan dana untuk oprasional Laboratorium Kab/Kota
•
Pembinaan Laboratorium DAK Kab/Kota oleh DLH Propinsi akan
PERMASALAHAN SAMPAH SAAT INI
1. Jumlah Sampah meningkat akibat pertumbuhan jumlah penduduk
2. Jenis sampah semakin beragam karena pola konsumsi masyarakat
yang beragam
3. Sistem dan infrastruktur pengelolaan sampah belum memadai
4. Kesadaran dan kepedulian masyarakat masih relatif rendah
5. Disiplin masyarakat yang kurang
6. Penegakan hukum yang belum berjalan
•
Pemanfatan sampah sebagai sumber daya belum
optimal
•
Pengelolaan masih bertumpu pada final disposal
•
Pemanfatan sampah sebagai sumber daya belum
optimal
TANGGUNG JAWAB PENGELOLAAN SAMPAH
UNDANG UNDANG NOMOR 18 TAHUN 2008 TENTANG
PENGELOLAAN SAMPAH
“Pemerintah dan Pemerintah Daerah bertugas
menjamin terselenggaranya pengelolaan sampah
yang baik dan berwawasan lingkungan”
PENGURANGAN (30%)
1.PEMBATASAN TIMBULAN SAMPAH
2.PENGGUNAAN ULANG 3.DAUR ULANG
PENANGANAN (70%)
1.PEMILAHAN 2.PENGUMPULAN 3.PENGANGKUTAN 4.PENGOLAHAN
5.PEMROSESAN AKHIR
•
Pengurangan sampah sebesar 30% tahun 2025
TUGAS DAN WEWENANG (UU 18 TAHUN 2008)
Tugas Pemerintah dan Pemerintah Daerah:
1.Menumbuhkembangkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah
2.Melakukan penelitian, pengembangan teknologi, pengurangan dan penanganan sampah
3.Memfasilitasi, mengembangkan, dan melaksanakan upaya pengurangan, penanganan, dan pemanfaatan sampah
4.Melaksanakan pengelolaan sampah dan memfasilitasi pengelolaan sampah
5.Mendorong dan memfasilitasi pengembangan pemanfaatan hasil pengolahan sampah
6.Memfasilitasi penerapan teknologi spesifik lokal yang berkembang pada masyarakat setempat untuk mengurangi dan menangani sampah; dan
7.Melakukan koordinasi antar lembaga Pemerintah,
masyarakat, dan dunia usaha agar terdapat keterpaduan dalam pengelolaan sampah
Tugas dan Wewenang UU 18/2008
dan UU 23/2014
UU No 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah
PP No. 18/2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah
Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga
Kewenangan
Pengelolaan Sampah di daerah: Kab/Kota
UU No. 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah
PP No. 18/2016 tentang Perangkat Daerah
Pengelolaan Sampah Urusan Pemerintahan Bidang Lingkungan Hidup
Dinas LH Provinsi Dinas Lingkungan Hidup
Kabupaten/Kota Per 1 Januari 2017
PermenLHK No. P.74/2016 tentang Pedoman Nomenklatur Perangkat Daerah Provinsi dan
Kabupaten/Kota yang Melaksanakan Urusan Pemerintahan Bidang
Acuan Kinerja Pengelolaan Sampah Nasional
DAK Penugasan LHK Tahun 2018
DAK
FISI
K
Penugasan
LHK
4 KegiatanTerfokus: Dukungan Proyek Nasional
Lokasi Priioritas (Integratif, Holistik)
Prioritas Nasional
1. IPAL Usaha Skala
Kecil Peningkatan Ketahanan Sumber Daya Air Domestik (Prioritas Nasional Permukiman)
15 DAS dan 15 Danau Prioritas Nasional
2. Bank Sampah
Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup Sehat (PN. Kesehatan) – (Prioritas Nasional Pariwisata)
1. 15 DAS dan 15 Danau Prioritas Nasional 2. 3 Destinasi Wisata
Nasional (Borobudur, Toba, Mandalika)
3. Vol. timbulan sampah tinggi dan ada Renc. Induk Sampah
3. TPST 3R
4. Peralatan portable pemantauan dan pengawasan kualitas air
Peningkatan
Ketahanan Sumber Daya Air Domestik (Prioritas Nasional Permukiman)
Pertimbangan dalam Penetapan Kab/Kota
Penerima DAK Penugasan KLHK 2018
1. Masuk ke dalam definisi daerah prioritas berdasarkan
kebijakan pemerintah (mis. Daerah perbatasan, daerah
prioritas pariwisata, jumlah penduduk tinggi);
2. Kapasitas keuangan daerah terbatas;
3. Sudah memiliki Perda Pengelolaan Sampah;
4. Sudah memiliki Rencana Induk Pengelolaan Sampah;
5. Fungsi pengelolaan sampah pada Perangkat Daerah yang
melaksanakan urusan pemerintah bidang lingkungan
hidup;
Arah Kebijakan Provinsi Bidang
Persampahan 2018
•
Penyusunan Ranperda Pengelolaan Sampah Provinsi;
•
Penyusunan JAKSTRADA (Kebijakan dan Strategi Daerah) Sampah
Provinsi (setelah dikeluarkannya Jakstranas);
•
Penyusunan Pergub Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik;
•
Menetapkan target penurunan volume sampah Provinsi Tahun
2018-2025;
•
Pengembangan database sampah provinsi;
•
Fasilitasi pembentukan Bank Sampah Induk di daerah;
•
Pilot Projek Penanganan Sampah melalui 3R;
•
Menjajaki kerjasama dengan Dinas Koperasi dan UKM untuk
pengembangan Bank Sampah;
Urgensi Penyusunan Daya Dukung dan Daya
Tampung Lingkungan Hidup (DDDTLH)
• Sesuai UU 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup dalam pasal 9 s/d Pasal 12 mengamanatkan bahwa pemerintah
berkewajiban menetapkan Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan Hidup sesuai dengan kewenangannya dan Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan Hidup
dijadikan dasar dalam penyusunan Rencana Perlindungan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
• Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup ditetapkan melalui
Peraturan Daerah sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 10 UU 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelelolaan Lingkungan Hidup.
• UU 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Rencana Perlindungan dan
Pengelolaan Lungkungan Hidup merupakan urusan Pemerintah Bidang Lingkungan Hidup pada subid Perencanaan Bidang Lingkungan Hidup.
• Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menjadi dasar
penyusunan dan dimuat dalam rencana pembangunan jangka panjang dan
Kondisi/Permasalahan Penyusunan
DDDTLH
•
Tahun 2017 DLH Prov. Sumbar sedang
menyusun DDDTLH berbasis jasa
ekosistem yang direncanakan selesai semester I
dan dilanjutkan
semester II
penyusunan draf Rencana Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup
(RPPLH) berbasis DDDTLH
•
Tahun 2016 terdapat 1 kab/kota yaitu Kab. Agam yang telah menyusun
DDDTLH berbasis jasa ekosistem
•
Hasil inventarisasi pada saat
Sosialisasi DDDTLH yang dilaksanakan pada
tanggal 21 Februari 2017 terdapat 8 kab/kota yang sedang proses
penyusunan yaitu Kab. Pasaman Barat, Kab. Pasaman, Kab. Solok, Kab.
Limapuluh Kota, Kab. Padang Pariaman Kota Padang Panjang, Kota Solok
dan Kota Bukittinggi.
•
Kab/Kota yang belum menanggaran penyusunan DDDTLH
sebanyak 10
Sinkronisasi dengan Kab/Kota
•
Penyusunan DDDTLH Kab/Kota mengacu kepada dokumen
DDDTLH Provinsi.
•
Diperlukan Singkronisasi/harmonisasi antara Dokumen DDDTLH
Kab Agam dengan DDDTLH Provinsi
•
Penyusunan DDDTLH Provinsi akan terintegrasi dengan 8 Kab/Kota
yang sedang proses penyusunan pada tahun 2017.
•
Penyusunan DDDTLH Kab/Kota perlu dilakukan pendampingi oleh
Provinsi dan P3E Sumatera
(Untuk 8 kab/kota yang sedang proses penyusunan DDDTLH
direncanakan akan melaksanakan penyusunan peta DDDTLH
Program Kampung Iklim (ProKlim)
di Provinsi Sumatera Barat
Cakupan Kegiatan ProKlim
Kegiatan Adaptasi
•
•
•
Pengendalian kekeringan, banjir, dan longsor
Peningkatan Ketahanan pangan
Penanganan/antisipasi kenaikan muka
intrusi/abrasi air laut, gelombang tinggi
Pengendalian penyakit terkait iklim
laut, rob
dan
•
Kegiatan Mitigasi • • • • • •Pengelolaan sampah dan limbah padat Pengolahan dan pemanfaatan limbah cair Penggunaan energi
Pengurangan emisi dari kegiatan pertanian Konservasi hutan
KRITERIA AWAL SELEKSI
PENGUSULAN PROKLIM
wilayah administrasi lokasi yang diusulkan
(Dusun/Dukuh/RW atau Desa/Kelurahan).
Kegiatan adaptasi dan mitigasi telah
berjalan selama lebih dari 2 tahun.
Keberadaan
kelompok
masyarakat
Pengusul ProKlim
• Lokasi ProKlim dapat diusulkan oleh semua pihak yang memiliki
informasi bahwa di suatu lokasi telah dilaksakan kegiatan mitigasi
adaptasi perubahan iklim, antara lain:
Lembaga formal masyarakat yang memiliki landasan hukum dan
struktur organisasi yang jelas, seperti Karang Taruna, Koperasi, lembaga
keagamaan, Kelompok Usaha Tani;
dan
•
• Lembaga swadaya masyarakat atau NGOs maupun
community-based
organizations
(CBOs);
Dunia usaha melalui program
Corporate Social Responsibility
(CSR)
dan atau
Community Development
(CD).
•
BEBERAPA CONTOH KEGIATAN PROKLIM
Pemanfaatan Pekarangan
Perlindungan Mata Air
PERLINDUNGAN SUMBER MATA AIR
-Lubuk larangan/ikan larangan (nilai2 tradisional)
-Tarkim/PSDA terkait pengamanan sempadan
- Perusahaan
PEMANFAATAN AREAL PERKARANGAN
Melalui PKK
Tarkim
Developer/pengembang perumahan
AREAL PEMBIBITAN
-Bank Pohon di Sekolah
maupun Kelompok Tani
-Perusahaan /CSR
Sumber Air Bersih
Contoh kegiatan
ProKlim di
terpisah
beberapa lokasi
Fasilitas pengolahan sampah
Penanaman mangrove dan peternakan kepiting
Desain rumah panggung
Konstruksi antisipasi abrasi air laut
Biogas terbuat dari fiber
kont parit / kolam
Sistem pengelolaan air (subak) dan pertanian organik
1. Tampunga n
air atau bak penampun g air bak rol 5 0 sedimen
c sedimen mmengend ap di bagian 2-10 m tergantu ng jenis dan lapisan tanah
bpaawsaan
hgan batu koson dan ijuk
Lubang Resapan Biopori
. Sumur Resapan
a b
. .
c d
Strategi pelaksanaan ProKlim Kedepan
Penjaringan oleh Kabupaten/Kota, dengan melibatkan pihak terkait
seperti Dunia Usaha, Kelompok Masyarakat, Perguruan Tinggi, serta
instansi lainnya.
Penguatan kapasitas instansi LH melalui sosialisasi dan bimbingan
teknis.
Pengusulan lokasi ProKlim yang telah memenuhi kriteria
(unggulan), untuk lokasi yang masih belum memenuhi tapi
berpotensi dilakukan pembinaan untuk diusulkan kedepannya.
TARGET PROKLIM KE DEPAN
•
Peningkatan kegiatan terkait pengusulan lokasi kampung iklim
maupun peningkatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim
ditingkat tapak serta
membuat tim koordinasi proklim baik di
provinsi maupun kab/kota.
•
Lebih
mengintensifkan pembinaan dan sosialisasi
terkait
kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di Kab/Kota,
penerapannya dapat dilakukan di daerah.
•
Melakukan
pencarian lokasi
yang tepat terhadap daerah yang
PERIZINAN DI BIDANG
LINGKUNGAN HIDUP DAN
•
Kondisi saat ini :
1.
Ketidaksesuaian antara Izin Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup yang dibutuhkan
oleh pemilik usaha dan/atau kegiatan yang
tertuang dalam
dokumen lingkungan dengan
kondisi real dilapangan.
2.
Muatan/substansi
Izin
Perlindungan
dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup yang belum
mengakomendir substansial
3.
Masih
terdapat
ketidaksesuaian
dalam
mengimplementasikan pada beberapa dokumen
lingkungan hidup oleh pemilik usaha dan/atau
kegiatan
dengan
pelaksaan
pengelolaan
Lanjutan ………
4. Perubahan/penambahan kegiatan yang tidak
tercantum dalam dokumen lingkungan hidup
tanpa melalui mekanisme perubahan izin
lingkungan.
5. Pengawasan sebagian besar Izin Lingkungan
dan Izin Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup merupakan
kewenangan
Kab/kota, provinsi hanya bersifat
uji petik
dalam
melakukan
pembinaan
dan/atau
pengawasan implementasi Izin Lingkungan.
6. Masih kurang tenaga pengawas yang telah
Upaya yang Telah Dilakukan
DLH Provinsi :
1. Melaksanakan
pembinaan
hukum
dan
perizinan
lingkungan
terhadap
instansi
lingkungan hidup kab/kota dan objek kegiatan
yang ada di Sumbar.
2. Mempersiapkan
Juknis
dalam
proses
penerbitan
Izin
Lingkungan
dan
Izin
Perlindungan dan Pengelolan Lingkungan
Hidup.
3. Melaksanakan
pengawasan
implementasi
Harapan untuk Dinas Lingkungan Hidup
Kab/Kota
1.Mengevaluasi
perizinan
yang
telah
diterbitkan.
Objek dan Lokasi Implementasi AMDAL :
SPAM : Rencana Pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Batng Karimo Ibukota Kecamatan (IKK) Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung;
Jaringan Transmisi Listrik
:
Pembangunan Jaringan Transmisi T/L 275 kV Kiliranjao- Payakumbuh dan Gardu Induk (GI) PT.PLN (Persero) Pikitring Sumatera Selatan, Jambi, Lampung, Bengkulu, Bangka Belitung dan Sumatera Barat.
Kegiatan Pelayanan Jasa
:
Kesehatan : Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Padang, RSUD Kota Solok, RSU Madina, RS Yos Sudarso, RS Stroke
Nasional.
Jasa Hotel : hotel rocky Bukittinggi, Nuansa Maninjau Resort Agam, Pusako Bukittinggi, Pangeran Beach Padang, Basco Premier Hotel Padang, The Hills Hotel Bukittinggi, Inna Muara Padang
Objek dan Lokasi Implementasi AMDAL :
Jalan : Jalan Provinsi Panti- Simpang empat Kab. Pasaman dan Kab. Pasaman Barat.
Ruas jalan Ranjau Batu (Batas Provinsi Sumatera Utara) – Batas Kota Solok – ruas jalan Batas Kota Sawahlunto- batas Provinsi Jambi, rusa jalan Batas Kota Padang Panjang.
Ruas Jalan Bedeng Rapat (Batas Provinsi Sumatera Utara)- ruas jalan Lubuk Alung- Batas Kota
Padang-(Simpang Talang Duku), Ruas Jalan Sutan Syahrir (Padang-Bukit Putus) – Batas Provinsi Bengkulu dan Ruas Jalan
Batas Kota Solok – Lubuk Selasih – Batas Kota Padang – Jalan Simpang Haru;
Rencana Pembangunan Jalan Tol Padang - SIcincin
IRIGASI : Rencana Pembangunan Irigasi Batang Tarusan Kab. Pesisir Selatan
Pembangunan Daerah Irigasi Bt. Sinamar di Kab. Tanah Datar dan Kab. Sijunjung
TPA : Rencana pembangunan TPA sampah dan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja di Kab. Pasaman
• Jumlah Sekolah Adiwiyata per kab/kota s/d tahun 2016 per jenjang pendidikan
No Kab/Kota
Sekolah Adiwiyata
Jumlah
Mandiri Nasional Provinsi
SD SLTP SLTA SD SLTP SLTA SD SLTP SLTA
1 Kota Padang 7 9 6 7 4 5 10 4 7 59
2 Kota Pariaman 1 0 0 3 4 2 5 1 3 19
3 Kota Padang Panjang 0 0 0 1 1 0 2 0 1 5
4 Kota Payakumbuh 0 0 1 4 0 1 6 1 1 14
5 Kota Sawahlunto 1 0 0 4 0 0 3 0 0 8
6 Kota Bukittinggi 1 0 0 8 2 3 2 3 1 20
7 Kota Solok 1 0 0 5 0 1 5 2 0 14
8 Kab. Padang Pariaman 1 0 1 2 1 1 1 4 2 13
9 Kab. Agam 1 1 1 2 3 2 4 4 1 19
10 Kab. Pasaman Barat 0 0 0 0 0 0 2 0 0 2
11 Kab. 50 Kota 0 0 0 0 0 1 2 2 1 6
12 Kab. Solok 0 0 0 0 2 0 1 2 1 6
13 Kab. Sijunjung 0 0 0 1 2 0 1 1 0 5
14 Kab. Pasaman 1 0 0 4 0 1 3 2 0 11
15 Kab. Tanah Datar 0 0 0 0 0 3 1 2 0 6
16 Kab. Pesisir Selatan 0 0 0 1 1 0 4 2 0 8
17 Kab. Solok Selatan 0 0 0 0 0 0 1 2 1 4
18 Kab. Dharmasraya 0 0 0 1 1 0 1 1 0 4
19 Kab. Kep. Mentawai 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1
GRAFIK JUMLAH SEKOLAH ADIWIYATA TK.PROPINSI, NASIONAL DAN
MANDIRI
P R O K L I M
PROGRAM KAMPUNG IKLIM (ProKlim)
PERMEN LHK NO.P.84/Menlhk-Setjen/Kum.1/11/2016
PROGRAM KAMPUNG IKLIM (ProKlim)
PERMEN LHK NO.P.84/Menlhk-Setjen/Kum.1/11/2016
Maksud
Latar Belakang Pengembangan Proklim
• Masyarakat teridenfikasi telah melakukan upaya adaptasi-mitigasi perubahan iklim;
Data tersebar dan belum dipahami sebagai upaya
mitigasi adaptasi Perubahan Iklim
• Telah banyak inisiatif lokal yang dapat diarahkan untuk memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim dan mengurangi emisi GRK
upaya sendiri (baik berdasarkan kearifan tradisional
maupun program lokal berdasarkan inisiatif
masyarakat setempat)
kerjasama dengan LSM,
program-program kegiatan pemerintah daerah,
program-program CD ataupun CSR dari perusahaan;
P R O K L I M
Pengertian Adaptasi Perubahan Iklim:
Suatu proses untuk memperkuat dan membangun strategi antisipasi dampak keragaman dan perubahan iklim serta melaksanakannya sehingga mampu mengurangi dampak negatif dan mengambil manfaat positifnya.
(MENYESUAIKAN PERUBAHAN)
Pengertian Mitigasi Perubahan Iklim:
Aspek Kelompok Masyarakat dan
Dukungan Keberlanjutan
• Pengakuan Kelompok Mayarakat
• Dukungan Kebijakan
• Dinamika Kemasyarakatan
• Kapasitas Masyarakat
• Keterlibatan pemerintah
• Keterlibatan swasta/LSM/ perguruan tinggi
• Pengembangan kegiatan
Keterkaitan
Program
ProKlim dengan
Lain di KLHK
PROPER
Proklim
P R O K L I M
Tahun 2013
•
Jumlah usulan
:
24 lokasi
(21 di Kab. Padang
Pariaman, 2 di Kab. Solok Selatan dan 1 di Kab. Solok)
•
Lolos verifikasi lapangan
:
14 lokasi
(11 di Kab. Padang
Pariaman, 2 di Kab. Solok Selatan dan 1 di Kab. Solok)
•
Penerima Penghargaan
:
1 lokasi
yaitu Nagari Sarik
P R O K L I M
Tahun 2014
•
Jumlah usulan : 1 lokasi (Jorong Kampung
Hangus, Kab. Pasaman)
•
Jorong Kampung Hangus lulus untuk diverifikasi
lapangan
•
Namun belum berhasil meraih penghargaan
P R O K L I M
Tahun 2015
Jumlah usulan : 6 lokasi (Jorong Guguak Korong Kandang
Ampek dan Korong Pintir Kayu Nagari Sunur Kecamatan Nan Sabaris Kab. Padang Pariaman, Jorong Pincuran Tujuh Bangun Rejo dan Jorong Simancung Kab. Solok Selatan, Jorong Bulan Sariak Jambak Ulu, Nagari Pariangan dan Jorong Koto Nyiur Nagari Tanjung Bonai Kab. Tanah Datar)
1 (satu) lokasi ProKlim berhasil memperoleh Tropy ProKlim
P R O K L I M
Tahun 2016
Jumlah usulan : 10 lokasi (Jorong Guguak Korong Kandang
Ampek dan Korong Pintir Kayu Nagari Sunur Kecamatan Nan Sabaris Kab. Padang Pariaman, Jorong Pincuran Tujuh Bangun Rejo dan Jorong Simancung Kab. Solok Selatan, Jorong Bulan Sariak Jambak Ulu, Nagari Pariangan dan Jorong Koto Nyiur Nagari Tanjung Bonai Kab. Tanah Datar)
4 (Empat) lokasi ProKlim berhasil memperoleh Tropy yaitu Jorong Piruko Utara dan Jorong Padang Sidondang Nagari Sitiung Kab. Dharmasraya, Jorong Kampung Hangus Nagari Koto Kaciak Kab. Pasaman, Jorong Ladang Laweh Nagari Sicincin Kab. Padang Pariaman.
Tahun Kabupaten/Kota ∑ Lokasi yang Diusulkan
∑ Lokasi yang Dipertimbang
kan Diverifikasi
Penghargaan
2013 Kab. Padang Pariaman 24 14
Kab. Solok
Selatan 2 2
Kab. Solok 1 1 Sertifikat
2014 Kab. Pasaman 1 1
-2015 Kab. Padang Pariaman 2 2 Trophy dan Sertifikat
Kab. Tanah Datar 2 2
Kab. Solok
Selatan 2 2 Sertifikat (1)
Kab. Pasaman 1
ProKlim Sumatera Barat Tahun
2016
Tahun Kabupaten/Kota ∑ Lokasi yang Diusulkan
∑ Lokasi yang Dipertimbangk
an Diverifikasi Penghargaan
2016 DharmasrayaKab. 2 2 tropy
Kab. Pesisir
Selatan 2 2 sertifikat
Kab. Padang
Pariaman 2 1 Tropy, 1 Sertifikat
Kab. Pasaman 1 1 Tropy
Kab. 50 Kota 1
-Kab. Tanah
-Kendala Pelaksanaan ProKlim
Masih banyak Instansi LH Kabupaten/Kota yang belum
begitu memahami bentuk kegiatan ProKlim, seperti
komponen penilaian serta tata cara pengusulan
Proklim yang menggunakan lembaran isian.
Masyarakat masih belum memahami apa itu ProKlim,
sehingga
kemampuan
masyarakat
untuk
mempersiapkan komponen penilaian Proklim masih
kurang.
ProKlim belum sepenuhnya melibatkan seluruh unsur