Catatan Camtesol 2015: Bahasa Inggris untuk Mobilitas Internasional Oleh Rudi Haryono,S.S., M.Pd *
Tulisan singkat ini merupakan sebuah catatan refleksi penulis yang tahun 2015 ini mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan research paper pada kegiatan “ The 11th Annual Camtesol Conference on English Language Teaching,” pada sesi “ Camtesol and UECA Regional ELT Research Symposium,” yang diselenggarakan dari 27 Februari-1 Maret 2015 di Phnom Penh, Kamboja. Camtesol atau Cambodian-Teachers of Englih to Speakers of Other Languages adalah kegiatan tahunan untuk membahas perkembangan isu, trend, dan inovasi dalam pengajaran bahasa Inggris (English Language Teaching). Kegiatan ini diselenggarakan oleh IDP Kamboja bekerjasama dengan IDP Australia (sebuah organisasi pendidikan dan pengembangan bahasa Inggris yang berpusat di Australia) dalam bentuk simposium dan konferensi ilmiah tahunan para profesional (tenaga pengajar, peneliti, praktisi, akademisi, trainer dan staf sekolah dan perguruan tinggi, individu, perwakilan dan lembaga serta utusan kementerian pendidikan, peneliti dan para pakar bahasa asing yang bertujuan membangun jaringan komunitas ELT di Asia khususnya.
Isu penting yang diangkat pada kegiatan konferensi tersebut adalah “English: Building Skills for Regional Cooperation and Mobility “, yang lebih menegaskan terkait dengan peranan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi regional ASEAN yang digunakan oleh negara-negara anggota ASEAN dalam konteks menyongsong integrasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
Bahasa Inggris dan Kapasitas Mobilitas Internasional
Tabel Report Card EF 2014 (EF English Proficiency Index)
5 very high Denmark, Netherlands, Finlandia
4 high Germany, Malaysia, Singapore
3 moderate Japan, Taiwan, South Korea
2 low Cambodia, Indonesia…
1 very low Other expanding countries
Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa Indonesia bersama Kamboja menempati level rendah dengan bobot 2 dari proficiency range 1-5., sedangkan tingkat kemahiran yang paling tinggi adalah Denmark, Belanda, dan Finlandia. Gradasi skor kemahiran di atas diperoleh dari online test dan MCQ Test (Grammar, Vocabulary, Listening). Dalam konteks regional ASEAN , secara objektif peran dan fungsi bahasa Inggris di masing-masing negara berbeda. Sebagai komparasi spesifik saja, di Kamboja bahasa Inggris adalah bahasa kedua (second language) yang digunakan untuk komunikasi resmi harian di pemerintahan, birokrasi, pendidikan, dan forum resmi. Namun cukup banyak juga masyarakat yang menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi terutama dengan para visitors dan tourist. Adapun dalam konteks domestik, masyarakatnya menggunakan bahasa Kamboja atau Khmer. Dalam konteks Indonesia, penggunan bahasa Inggris adalah bukan bahasa kedua tapi sebagai bahasa asing (foreign language), hal ini juga didukung oleh eksistensi bahasa ibu atau bahasa daerah yang jumlahnya mencapai ratusan. Sehingga bukanlah sebuah hal yang inferior ketika masih berada pada level yang rendah dalam konteks kemahiran berbahasa Inggris. Mengingat keragaman budaya bahasa yang kaya dan kebijakan pemerintah yang menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa asing, bukan sebagai bahasa kedua.
mobilitas internasional yang cepat dan mudah bagi mereka yang mahir berbahasa Inggris untuk pergi ke negara mana pun, baik untuk tujuan akademik maupun non-akademik.
Indonesia diprediksi akan menjadi salah satu negara pengendali perekonomian di Asia bersama China dan India. Indonesia memiliki populasi penduduk yang besar dan merupakan market besar dunia, selain juga memiliki sumber daya alam luar biasa. Tak heran, perusahaan-perusahaan ternama dunia berbondong-bondong masuk ke Indonesia untuk berinvestasi. Namun demikian, dalam hal sumber daya manusia, Indonesia masih harus mengejar ketertinggalannya dalam hal teknologi dan juga kemampuan berkomunikasi. Sebagai negara yang ingin terus maju, tidak ada pilihan lain bagi Indonesia untuk sesegera mungkin memperbaiki kemampuan mereka untuk bisa berkomunikasi dengan bangsa lain. Dalam keterkaitan konteks Indonesia dengan tema mobilitas internasional pada Camtesol 2015 tersebut , maka implikasi dari masih “rendah”-nya mutu atau kemampuan berbahasa Inggris berdasarkan data Global Proficiency Data 2014 yang dirilis oleh EF English Proficiency Index Tahun 2014 antara lain: bagi mereka yang mampu berbahasa Inggris dengan fasih (fluent) akan sangat terbuka untuk mendapatkan peluang dan akses mobilitas internasional yang cepat dan mudah baik untuk kepentingan akademik seperti beasiswa ataupun tujuan karir. Kemahiran berbahasa Inggri yang lebih tinggi sangat adalah pra-syarat untuk semakin meningkatnya kualitas SDM Indonesia di kancah internasional terutama sekali yang berkaitan dengan pencapaian akademik seperti publikasi internasional, diplomasi dan negosiasi internasional,dan kerjamasa internasional lintas sektoral. Ada sebuah quote dari John Portelli (Professor University of Torronto, Kanada), “ The world is a village and English is the lingua franca. “ Dunia ini adalah sebuah kampung, dan bahasa Inggris adalah bahasa utama komunikasinya). Maka siapapun kita sebagai penduduk kampung dunia ini, kemahiran berbahasa Inggris adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari, terutama bagi mereka yang bertujuan mendapatkan akses mudah untuk mobilitas internasional dalam rangka meningkatkan kapasitas diri, karir, dan kehidupan yang lebih baik dan well-established.