BAB I PENDAHULUAN I.1. LatarBelakang
Dalam kegiatan sehari – hari baik secara disadari atau tidak setiap orang pasti mengalami sebuah kegiatan yaitu belajar. Belajar secara teori maupun praktek dari lingkungan sekitar. Belajar mengerti arti kehidupan dan belajar menjadi semakin baik. Anak – anak kecil pun belajar bagaimana cara mereka berjalan dan berkomunikasi dengan baik. Sebagai calon pendidik kita juga dituntut untuk mengetahui tentang arti penting belajar. Karena belajar merupakan masalah yang pasti dihadapi setiap orang. Oleh karena itu di sini kita akan mengupas lebih dalam tentang arti dari kata belajar itu sendiri. Yang diharapkan nantinya akan berguna bagi kita para calon pendidik untuk lebih memahami kegiatan belajar mengajar ini dan mampu.
I.2. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dan konsep belajar ?
2. Apa saja yang termasuk perkembangan dalam belajar? 3. Apa saja tahap-tahap dalam perkembangan belajar ? I.3. Tujuan Penulisan
1. Mengerti berbagai definisi dan konsep tentang belajar . 2. Memahami berbagai perkembangan dalam belajar
3. Mengerti berbagai tahap-tahap dalam perkembangan belajar I.4. Manfaat Penulisan
1. Sebagai tambahan sumber keilmuwan yang kita punya khususnya dalam bidang ilmu psikologi pendidikan
2. Sebagai bahan acuan untuk semakin meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dan menerapkannya dalam kehidupan sehari – hari bagi peserta didik.
PEMBAHASAN II.1. Definisi Belajar Menurut Ahli
Menurut Winkel, Belajar adalah semua aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengelolaan pemahaman.
Sedangkan Pengertian Belajar menurut Gagne dalam bukunya The Conditions of Learning 1977, belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah.
Moh. Surya (1981:32), definisi belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Kesimpulan yang bisa diambil dari kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri seseorang.
Dari beberapa pengertian belajar di atas maka dapat disimpulkan bahwa semua aktivitas mental atau psikis yang dilakukan oleh seseorang sehingga menimbulkan perubahan tingkah laku yang berbeda antara sesudah belajar dan sebelum belajar.
II.2. Konsep Belajar
Ibaratnya jembatan antara pengetahuan yang satu dengan pengetahuan lain yang sudah tersambung.
a. Belajar Vs Kematangan.
Berbagai perubahan terjadi pada diri individu selama rentang kehidupannya. Namun tidak semua perubahan ini disebabkan proses belajar, melainkan ada juga yang disebabkan kematangan (maturation). Proses belajar akan memberikan hasil yang optimum jika berlangsung dalam kondisi kematangan tertentu.
Ilustrasi tentang adanya hubungan antara kematangan dengan proses belajar dari pengalaman ataupun belajar pada institusi pendidikan menunjukkan adanya hubungan yang erat antara belajar dengan perkembangan. Sehingga dapat dikatakan perkembangan dan belajar merupakan proses yang saling mendukung dalam kehidupan manusia. Proses perkembangan di dalam diri individu paada hakikatnya menyatu, namun secara konsep ada ahli yang mengelompokkan atas dimensi fisik, kognitif, bahasa, pribadi, sosial dan moral. Dalam kondisi demikian, proses belajar juga menyatu dalam semua perkembangan, meskipun secara konsep para ahli menekankan teorinya pada satu atau beberapa dimensi tertentu.
b. Otak Belajar
Bagian-bagian otak yaitu belahan otak kanan, belahan otak kiri, dan belahan otak tengah. Belahan-belahan tersebut mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Pada belahan otak kiri manusia dirancang untuk memproses bagian-bagian (secara berurutan), bagian otak kanan memproses keseluruhan (secara acak) dan pada bagian otak tengah merupakan penyumbang sekitar 20% dari seluruh volume otak, bertanggungjawab atas tidur, emosi, atensi, pengaturan bagian tubuh, hormon, seksualitas, penciuman, dan produksi kimiawi otak.
pada saat yang sama di bagian paling jauh di bagian otak yang lain. (Jerry Levy, Ph.D., (1983, 1985) : University of Chicago).
Disaat otak kiri bekerja menghafal rumus, berpikir kritis, dan otak kanan tidak bisa bekerja, maka otak kanan akan mengganggu kerja otak kiri. Otak kanan akan bekerja saat ada music klasik, gambar-gambar yang menarik, dan sebagainya. Intinya seorang guru harus mampu memberikan pengajaran yang menyeimbangkan kerja otak. Sedangkan otak depan merupakan sumber rasio yang terdiri dari pusat-pusat yang memahami apa yang diamati. Amygda adalah tempat menyimpan memori emosi yang mempunyai peran penting dalam emosional. Amyda memungkinkan adanya respon sebelum berfikir. Sebaiknya dalam memberikan pelajaran diawali dengan pemanasan otak, agar individu mempersiapkan otaknya sehingga tercapai hasil belajar yang optimal.Singkatnya semua belahan otak digunakan semua pada hampir setiap waktu dan tidak dapat dihentikan dalah satunya sama sekali. Otak bekerja begitu banyak di luar kesadaran manusia.
Anak didik sebagai salah satu individu dalam pembelajaran dan merupakan suatu pribadi yang berbeda satu sama lain. Pribadi yang berbeda itu lahir dari kebiasaan belajar yang berbeda. Sesungguhnya, anak belajar dimana saja dan kapan saja, tidak hanya disekolah tapi juga dirumah atau keluarga, lingkungan bermain, lingkungan masyarakat.Kebiasaan yang diberikan kepada anak akan membentuk kepribadiannya sejak dini. Untuk membentuk kepribadian anak, langkah pertama adalah membuat dia merasa diterima semua orang sehingga dia mampu menerima dirinya sendiri. Perhatian kepadanya juga penting dan diperlukan sejak dia belum mampu berbicara sekalipun. Anak harus sering diberikan pertanyaan-pertanyaan yang memancing tumbuhnya kepribadian dan kenyamanan diri, dimulai dari anak yang baru bisa berbicara.
2% dari berat badan. Tidak ada hubungan langsung antara berat otak dan besarnya kepala dengan tingkat kecerdasan. Otak bertambah besar, namun tetap berada dalam tengkorak sehingga semakin dalam lekukan pertanda semakin banyak informasi yang disimpan, dan semakin cerdaslah pemiliknya.
Secara antomis, bongkahan otak dapat dibagi menjadi otak besar (cerebrum), otak kecil (cerebellum), dan batang otak (brain stem). Pembelajaran sangat berhubungan dengan otak besar, sedangkan otak kecil lebih bertanggung jawab dalam proses koordinasi dan keseimbangan, dan batang otak mengatur denyut jantung serta proses pernafasan yang sangat penting bagi kehidupan. Dalam rangka mengkaji sistem pendidikan, otak besar akan lebih banyak dieksplorasi. Di dasar lekukan ada sekumpulan serat yang menghubungkan kedua belahan otak yang disebut dengan corpus callosum. Apabila otak dibelah secara vertikal, akan terlihat otak bagian luar (cortex cerebrib) yang berwarna abu-abu dan otak bagian dalam yang berwarna putih.
Masukan informasi dari luar ditangkap melalui panca indra baik pengelihatan, pendengaran, penciuman, peradaban, maupun pengecapan. Contohnya apabila telinga menerima masukan suaramaka akan dibawa oleh saraf pendengaran kepusatnya di cortex bagian samping. Selanjutnya masukan dikirim kedaerah asosiasi untuk dicocokan makna katanya. Akhirnya dikirim kepusat bicara di cortex depan untuk kemudian diperintahkan lidah dan telinga dan tangan agar bertindak sebagai reaksinya. Semua proses tersebut disimpan digudang memori dalam cortex untuk sewaktu-waktu dapat dipanggil kembali. Kejadian puluhan tahun yang lalu yang diturunkan dari generasi ke generasi. Hal inilah yang kemmudian membentuk insting dan reaksi tak terduga dari manusia jika berhadapan dengan hal yang dahulu pernah dihadapi oleh nenek moyangnya. (Goleman, 1997).
segera berkembang membentuk hubungan-hubungan baru. Semakin banyak jalinan saraf terbentuk, semakin lama dan kuat informasi itu disimpan.
II.3. Perkembangan dan Belajar a. Perkembangan Kognitif dan Belajar
Piaget berpendapat bahwa belajar merupakan proses penyesuaian, pengembangan dan pengintegrasian pengetahuan baru ke dalam struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang sebelumnya. Inilah yang disebut dengan konsepschema/skema (jamak = schemata/schemata). Sehingga hasil belajar/ struktur kognitif yang baru tersebut akan menjadi dasar untuk kegiatan belajar berikutnya. Proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui oleh siswa yang terbagi kedalam empat tahap, yaitu :
1. Tahap sensori motorik(anak usia lahir – 2 tahun)
Sensori motor berarti koordinasi antar aktivitas sensori (melihat, meraba,merasa, mencium dan mendengar) dengan persepsi anak terhadap gerak fisik.Gerakan refleks yang dilakukan anak sejak ia lahir merupakan fase awal dimulainya fase sensori motorik. Kemudian fase ini berakhir pada usia 2 tahun. Padafase ini, melalui kegiatan sensorimotor (menggenggam, mengisap, melihat,melempar), anak belajar mengkonstruksi pemahamannya tentang lingkungannya,dan ia pun mulai belajar bahwa benda itu memiliki sifat khusus.Keadaan ini berarti, anak telah mulai membangun pemahamannya terhadap aspek yang berkaitan dengan hubungan bentuk, dan ukuran,sebagai hasil pemahamannya terhadap sensori motorik yang dilakukannya. Pada akhir usia 2 tahun, anak sudah menguasai pola- pola sensori motorik yang bersifat kompleks, seperti bagaimana cara anak agar dapat memperoleh apa yang diinginkannya (menarik, menggenggam, atau meminta).
Pada fase praoperasional, anak mulai menyadari bahwa pemahamannya tentang benda di sekitarnya tidak hanya dapat dilakukan melalui sensori motorik saja, akan tetapi dapat juga dilakukan melalui kegiatan yang bersifatsimbolis. Contoh kegiatan simolis ini misalnya dengan bermain memanfaatkan telepon mainan, yaitu anak melakukan percakapan melalui telepon mainan, atau pura menjadi bapak atau ibu, dan kegiatan simbolis lainnya. Fase inimemberikan andil besar dalam perkembangan kognitif anak, Karena fase ini merupakan masa awal bagi anak untuk mengkonstruksi kemampuan menyusun pemikirannya. Oleh karena itu, pola pikir anak pada masa ini belum stabil dan tidak terorganisasi secara baik.
3. Fase Operasi Konkret (usia 7 - 12 tahun)
Pada fase operasi konkret,kemampuan berpikir logis pada anak sudah berkembang, dengan syarat, obyek yang menjadi sumber berpikir logis tersebuthadir secara konkret. Kemampuan mengklasifikasikan obyek sesuai dengan klasifikasinya, mengurutkan benda sesuai dengan urutannya, dan kemampuan memahami cara pandang orang lain, dan kemampuan berpikir secara deduktif merupakan wujud dari kemampuan berpikir logis.
4. Fase Operasional Formal (12 tahun sampai usia dewasa)
Perpindahan cara berpikir konkret ke cara berpikir abstrak merupakan ciri dari fase Operasi Formal. Kemampuan berpikir abstrak dapat dilihat dari kemampuan anak dalam mengemukakan pendapat atau ide, memprediksi kejadian yang akan terjadi, dan melakukan proses berpikir ilmiah.
juga mengemukakan bahwa proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui siswa. Proses belajar yang dialami seorang anak berbeda pada tahap-tahap lainnya. Oleh karena itu guru seharusnya memahami tahap-tahap perkembangan kognitif anak didiknya serta memberikan isi, metode, media pembelajaran yang sesuai dengan tahapannya.
b. Perkembangan Bahasa dan Belajar
Pemerolehan bahasa anak tidak secara tiba-tiba atau sekaligus, melainkan bertahap. Kemajuan berbahasa anak berjalan seiring dengan perkembangan fisik, mental, kecerdasan,dan sosialnya. Oleh karena itu, perkembangan bahasa anak ditandai oleh keseimbangan dinamis atau suatu rangkaian kesatuan yang bergerak dari bunyi-bunyi atau ungkapan yang sederhana menuju tuturan yang lebih kompl eks.
Tangisan merupakan bunyi-bunyi atau ucapan yang sederhana tak bermakna, dan celotehan bayi merupakan jalan perkembangan anak kemampuan berbahasa yang lebih sempurna. Bagi anak, celotehan merupakan semacam latihan untuk menguasai gerak artikulatoris (alat ucap) yang lama kelamaan dikaitkan dengan kebermaknaan bentuk bunyi yang diucapkan.Keterampilan berp ikir diperlukan agar semua aspek keterampilan berbahasa dapat berkembang dengan maksimal.
Pikiran dan bahasa memilki hubungan, tetapi mereka berbeda dalam hal berhubungan. Vygotsky yakin bahwa bahasa merupakan dasar bagipembentukan konsep dan pemikiran. Dia menegaskan bahwa bahasa diperlukan untuk setiap jenis kegiatan belajar. Berbeda dengan Vygotsky, Piaget yang mengatakan bahwa bahasa itu penting untuk beberapa jenis kegiatan belajar tetapi tidak untuk semua kegiatan belajar. Piaget yakin bahwa perkembangan kognitif anak mendahului perkembangan bahasanya.
Teori ekologi telah diperkembangkan oleh Urie Bronfenbrenner (1917). Teori Ekologi Bronfenbrenner (1979,1989) menjelaskan bahwa perkembangan ka nak- kanak adalah sebagai hasil interaksi antara alam persekitaran dengan kanak-kanak tersebut. Dalam konteks ini, interaksi antara kanak-kanak-kanak-kanak dengan persekitaran kanak-kanak itu dipercayai boleh mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan kanak-kanak. Merujuk kepada konsep di dalam teori ini, sama ada kita menyedarinya atau tidak kanak-kanak yang merupakan individu yang berada dalam ruang lingkup mikro. Dalam teori ini menyatakan bahawa proses perkembangan dan pertumbuhan yang terangkum dalam sistem persekitaran itu mementingkan interaksi antara satu sama lain. Menurut Bronfenbrenner terdapat 5 sistem yang mempengaruhi perkembangan kanak-kanak. Yaitu mikrosistem, mesosistem, eksosistem, makrosistem dan kronosistem. Kelima-lima sistem persekitaran tersebut memberikan implikasi kepada guru dalam menyediak an diri dengan selengkapnya semasa proses pengajaran dan pembelajaran di dalam kelas.Tugas guru bukan saja mengajar semata-mata, namun berperanan sebagai pembimbing kepada murid-murid semasa di sekolah. Murid-murid banyak menghabiskan masa bersama guru semasa di sekolah. Jadi guru bertindak sebagai pembimbing dan penasihat kepada murid-murid.
d. Perkembangan Diri
Konsep diri merupakan salah satu aspek perkembangan psikologi peserta didik yang penting yang dialami oleh seorang guru. Karena merupakan salah satu variabel yang menentukan dalam proses pendidikan. Rendahnya prestasi siswa dan motivasi belajar siswa serta terjadinya penyimpangan-penyimpangan perilaku siswa dikelas banyak disebabkan oleh persepsi dan sikap negatif siswa terhadap diri sendiri. Sama hal nya terhadap siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar banyak disebabkan oleh sikap siswa yang memandang dirinya tidak mampu melaksanakan tugas-tugas di sekolah.
melainkan melalui proses interaksi secara berkesinambungan. Menurut Burns konsep diri berkembang terus sepanjang hidup manusia, namun pada tahap tertentu, perkembangan konsep diri mulai berjalan dalam tempo yang lebih lambat. Secara bertahap individu akan mengalami sensasi dari badannya dan lingkungannya, dan individu akan mulai dapat membedakan keduanya.
Atwater (1987) menyebutkan bahwa konsep diri adalah keseluruhan konsep diri, yang meliputi persepsi seseorang tentang diri, perasaan, keyakinan, dan nilai-nilai yang berhubungan dengan dirnya. Atwater mengidentifikasi konsep diri atas tiga bentuk :
1. Body image , kesadaran tentang tubuhnya, yakni bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri.
2. Ideal self, yatu bagaimana cita-cita dan harapan-harapan seseorang mengenai dirinya.
3. Social self, yaitu bagaimana orang lain melihat dirinya.
Menurut Burn (1985), konsep diri adalah hubungan antara sikap dan keyakinan tentang diri kita sendiri. Sedangkan Pemily (dalam Atwater 1984), mendefinisikan konsep diri sebagai sistem yang dinamis dan kompleks dari keyakinan yang dimiliki seseorang tenang dirinya, termasuk sikap, perasaan, persepsi, nilai-nilai dan tingkah laku yang unik dari individu tersebut.
sebagai pelaku. Individu mulai belajar untuk bisa mengatasi berbagai macam masalah secara rasional.
Menurut Fuhrman, Pada masa remaja, individu mulai menilai kembali berbagai kategori yang telah terbentuk sebelumnya dan konsep dirinya menjadi semakin abstrak. Penilaian kembali pandangan dan nilai-nilai ini sesuai dengan dengan tahap perkembangan kognitif yang sedang remaja, dari pemikiran yang bersifat konkrit menjadi lebih abstrak dan subjektif. Piaget mengatakan bahwa remaja sedang berada pada tahap formal operasional, individu belajar untuk berpikir abstrak, menyusun hipotesis, mempertimbangkan alternatif, konsekuensi, dan instropeksi. Masa remaja merupakan masa terpenting bagi seseorang untuk menemukan dirinya. Mereka harus menemukan nilai-nilai yang berlaku dan yang akan mereka capai di dalamnya. Individu harus mulai belajar untuk mengatasi masalah-masalah, merencanakan masa depan, dan khususnya mulai memilih jenis pekerjaan yang akan digeluti secara rasional.
e. Perkembangan Moral
Mengembangkan teori dari Piaget, Lawrence Kohlberg membagi perkembangan moral menjadi tiga tingkatan, yaitu tingkat prekonvensional, tingkat konvensional, dantingkat postkonvensional (Slavin, 2006:54). Menurut pandangan Kohlberg dari tiga tingkatan tersebut, anak harus melewati enam tahap dalam dirinya. Setiap tahap memberikan jalan untuk menuju ke tahap selanjutnya ketika anak mampu menemukan ‘aturan’ pada tahap itu, kemudian anak harus meninggalkan penalaran moral dari tahap awal menuju ke tahap berikutnya.
Tahapan-tahapan perkembangan moral yang dikemukakan Kohlberg jauh lebih kompleks dibanding dengan tahapan-tahapan perkembangan moral dalam teori Piaget. Berikut ini adalah tiga tingkat perkembangan moral menurut Kohlberg (dalam Cahyono danSuparyo, 1985:37-45), di mana masing-masing tingkat memuat dua tahap perkembangan moral :
1. Tingkat Prekonvensional
dihadapi atas tindakan yang dilakukan. Anak juga menilai norma-norma tersebut berdasarkan kekuatan fisik dariyang menerapkan norma-norma tersebut.Pada tingkat prekonvensional ini dibagi menjadi dua tahap yaitu:
a. Tahap Punishment and Obedience Orientation
Pada tahap ini, secara umum anak menganggap bahwa konsekuensi yang ditimbulkandari suatu tindakan sangat menentukan baik-buruknya suatu tindakan yang dilakukan, tanpamelihat sisi manusianya. Tindakan-tindakan yang tidak diikuti dengan konsekuensi dariTindakan-tindakan tersebut, tidak dianggap sesuatu hal yang buruk.
b. Tahap Instrumental-Relativist Orientation atau Hedonistic Orientation Pada tahap ini, suatu tindakan dikatakan benar apabila tindakan tersebut mampumemenuhi kebutuhan untuk diri sendiri maupun orang lain. Pada tahap ini hubungan antar manusia digambarkan sebagaimana hubungan yang berlangsung di pusat perbelanjaan, di mana terdapat timbal balik dan sikap terus terang yangmenempati kedudukan yang cukup penting.
2. Tingkat Konvensional
Pada tingkat perkembangan moral konvensional, memenuhi harapan keluarga,kelompok, masyarakat, maupun bangsanya merupakan suatu tindakan yang terpuji. Tindakantersebut dilakukan tanpa harus mengaitkan dengan konsekuensi yang muncul, namundibutuhkan sikap dan loyalitas yang sesuai dengan harapan-harapan pribadi dan tertib sosialyang berlaku.Pada tingkat ini, usaha seseorang untuk memperoleh, mendukung, dan mengakuikeabsahan tertib sosial sangat ditekankan, serta usaha aktif untuk menjalin hubungan positifantara diri dengan orang lain maupun dengan kelompok di sekitarnya. Pada tingkatkonvensional ini dibagi menjadi dua tahap yaitu:
a. Tahap Interpersonal Concordance atau Good-Boy/Good-Girl Orientation Pandangan anak pada tahap ini, tindakan yang bermoral adalah tindakan yangmenyenangkan, membantu, atau tindakan yang diakui dan diterima oleh orang lain.
Pada tahap ini, pandangan anak selalu mengarah pada otoritas, pemenuhan aturan-aturan, dan juga upaya untuk memelihara tertib sosial. Tindakan bermoral dianggap sebagaitindakan yang mengarah pada pemenuhan kewajiban, penghormatan terhadap suatu otoritas,dan pemeliharaan tertib sosial yang diakui sebagai satu-satunya tertib sosial yang ada.
3. Tingkat Postkonvensional
Pada tingkat ketiga ini, terdapat usaha dalam diri anak untuk menentukan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral yang memiliki validitas yang diwujudkan tanpa harus mengaitkandengan otoritas kelompok maupun individu dan terlepas dari hubungan seseorang dengankelompok. Pada tingkat ketiga ini, di dalamnya mencakup dua tahap perkembangan moral,yaitu:
a. Tahap Social-Contract, Legalistic Orientation
Tahap ini merupakan tahap kematangan moral yang cukup tinggi. Pada tahap initindakan yang dianggap bermoral merupakan tindakan-tindakan yang mampu merefleksikanhak-hak individu dan memenuhi ukuran-ukuran yang telah diuji secara kritis dan telahdisepakati oleh masyarakat luas. Seseorang yang berada pada tahap ini menyadari perbedaanindividu dan pendapat. Oleh karena itu, tahap ini dianggap tahap yang memungkinkantercapainya musyawarah mufakat. Tahap ini sangat memungkinkan seseorang melihat benardan salah sebagai suatu hal yang berkaitan dengan nilai-nilai dan pendapat pribadi seseorang.Pada tahap ini, hukum atau aturan juga dapat dirubah jika dipandang hal tersebut lebih baik bagi masyarakat.
b. Tahap Orientation of Universal Ethical Principles
BAB III PENUTUP III.1. Kesimpulan
stimulasi oleh faktor belajar dan sebaliknya belajar tidak efektif jika diberikan tak sesuai dengan kematangan yang di perlukan untuk mempelajari sesuatu.
Pada perkembangannya, Perkembangan bahasa anak tidak berlangsung secara sekaligus. Bahasa anak berkembang secara berproses atau terlebih dahulu melalui beberapa tahapan.Tahapan-tahapan perkembangan anak di tiap fase dan subfase memilki karakteristik yang berbeda-beda. Tiap masa perkembangan memiliki rentang waktu yang berbeda. Perkembangan bahasa anak bersifat dinamis dan kemungkinan cenderung menetap.
III.2. Saran
Belajar merupakan suatu kunci yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan. Belajar juga merupakan proses bagi manusia untuk menguasai berbagai kompetensi, ketrampilan dan sikap. Karena itu belajar sangat penting bagi kehidupan manusia. Salah satunya yaitu dengan belajar manusia dapat mengelola informasi dengan cara berpikir.
Belajar juga sangat erat kaitannya dengan proses belajar . Terjadinya proses belajar dilandasi dengan adanya teori belajar. Untuk itu kita perlu memahami teori belajar yang tepat demi tercapainya suatu pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Melfayeti, Sri, Dkk. 2015. Psikologi Pendidikan. Medan: Pascasarjana Unimed Burhanuddin, Afid. “Implementasi Teori Belajar Kerja Otak Dalam
Pembelajaran”. 31 Mei 2014.
Hami, Wafa. “Teori Pembelajaran Kognitif”. 18 April 2013.
http://alfallahu.blogspot.co.id/2013/04/teori-pembelajaran-kognitif.html Hami, Wafa, “ Teori Ekologi Bronfenbenner”.
https://www.academia.edu/3548155/Teori_Ekologi_Bronfenbrenner
Khunhasnah, Keynah.” Perkembangan Konsep Diri”. 1 Juni 2013.
http://keynahkhunhasna.blogspot.co.id/2013/06/perkembangan-konsep-diri_1.html
Mahardika, Nadia. “Analisis Perkembangan Moral Menurut Piaget, Kohlberg, Dan Islam.