BAB.I . PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Permasalahan bidang Ketenagakerjaan, Ketransmigrasian dan Kependudukan merupakan permasalahan yang tak akan pernah tuntas. Penanganan permasalahan inipun tidak akan mampu diselesaikan secara sektoral maupun regional, tetapi harus dilakukan secara komprehesif koordinatif, serentak dan sinergis baik lintas sektoral maupun lintas wilayah (teritorial), serta bersifat terus menerus, mengingat pertumbuhan penduduk yang merupakan generasi angkatan kerja baru selalu muncul dan tidak akan pernah berhenti. Terlambat dalam mempersiapkan penanganan dapat berakibat fatal bagi upaya pembangunan Kota Semarang.
Tingginya angka pengangguran dan kemiskinan akan menimbulkan dampak yang sangat luas, baik dibidang ekonomi, politik, Sosial budaya, hukum bahkan sampai pada bidang pertahanan dan keamanan.
Permasalahan penting yang selalu mewarnai bidang ketenagakerjaan, ketransmigrasian dan kependudukan adalah tingginya angka penganggguran, rendahnya kualitas dan produktivitas tenaga kerja atau pekerja, kesempatan kerja yang ada tidak sesuai dengan kompetensi pencari kerja, masih sering terjadinya gejolak ketenagakerjaan berupa unjuk rasa dan mogok kerja, tingkat kesejahteraan pekerja yang masih jauh dari harapan, lemahnya perlindungan tenaga kerja, pekerja anak, perdagangan anak dan perempuan, serta pertumbuhan dan penyebaran penduduk secara proporsional kurang merata.
1.2 Landasan Hukum
1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah beberapa kali terakhir dengan Nomor 12 Tahun 2007 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
3. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah;
4. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja / Serikat Buruh;
5. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;
6. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial;
7. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025;
8. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota;
9. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Stuktur Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah;
10. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah;
11. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Stuktur;
15. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Jangka Panjang Menengah Nasional Tahun 2005 - 2009;
16. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;
17. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor : 09 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Pekerja Anak;
18. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 3 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2005-2025;
19. Peraturan Gubernur No. 94 Tahun 2006 tentang Komite Aksi Provinsi Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk Anak;
20. Peraturan Gubernur No. 23 Tahun 2008 tentang Rencana Aksi Provinsi Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk Anak;
1.2. Maksud dan Tujuan. Maksud
Infrastruktur, Peningkatan Pelayanan Publik , Kesetaraan Gender, Kesehatan serta Pendidikan yang diharapkan dapat mendukung pembangunan nasional.
Tujuan :
a. Mewujudkan keterpaduan perencanaan Program dan mempertajam prioritas pembangunan.
b. Tercapainya hasil-hasil pembangunan bidang Ketenagakerjaan, Ketransmigrasian secara optimal bagi kesejahteraan masyarakat.
1.3. Sistimatika Penulisan
Rencana Strategis Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi Kota Semarang Tahun 2010-2015 disusun dengan sistematika sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan
Didalamnya memuat tentang latar belakang penyusunan Renstra ditinjau dari aspek keterkaitan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Semarang Tahun 2010-2015 dan memuat secara ringkas tentang Sistematika penyusunan. Bab II : Gambaran Pelayanan Dinas Tenaga Kerja,
Transmigrasi Kota Semarang.
Secara substansi bab ini membahas tentang Struktur Organisasi, Susunan Kepegawaian dan Perlengkapan, Tugas dan Fungsi.
Kondisi yang ada sekarang, Kondisi yang diinginkan, dan Rencana Proyeksi ke depan tentang Ketenagakerjaan, Ketransmigrasian, termasuk didalamnya tentang Standar Pelayanan Minimum dan Hasil Capaian Kinerja yang ada sekarang, dan apa yang diharapkan ke depan.
Bab III : Isu-isu Strategis Berdasarkan Tugas Pokok Dan Fungsi Bab V : Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran, Strategi Dan
Dalam bab ini dimaksudkan sebagai acuan penyusunan dan pelaksanaan program – program pembangunan untuk kurun waktu 5 (lima) tahun, yaitu tahun 2010 -2015.
Bab VI : Rencana Program dan Kegiatan, Indikator Kinerja Kelompok Sasaran dan Pendanaan Indikatif .
Berisi tentang penjelasan prioritas-prioritas program dan kegiatan serta indikasi pendanaan dan sumber dananya baik yang berasal dari APBD Kota, APBD Provinsi, APBN dan Sumber pendanaan lainnya dalam periode lima tahun dan tahunan. Indikator Kinerja adalah refleksi capaian prioritas program dan kegiatan yang telah direncanakan dan terukur, sedangkan indikator kinerja selain dengan prosentase juga penjelasan naratif.
Bab VII : Penutup
BAB.II
GAMBARAN PELAYANAN SKPD
2.1. Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi SKPD
A. TUGAS
Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor : 12 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kota Semarang , Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah dibidang tenaga kerja dan transmigrasi berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan.
B. FUNGSI
Untuk melaksanakan tugas di atas Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasii Kota Semarang mempunyai fungsi :
1. Perumusan kebijaksanaan teknis di bidang Pelatihan Tenaga Kerja, Bidang Penempatan dan Transmigrasi, Bidang Hubungan Industrial serta Bidang Pengawasan Ketenagakerjaan.
2. Penyusunan rencana program dan rencana anggaran Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
3. Pengkoordinasian peleksanaan tugas Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
4. Pelaksanaan kebijakan operasional dan penyelenggaraan kajian tknis pemberian perijinan dan / atau mau perijinan di bidang Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian.
5. Pembinaan ,pelaksanaan, pengendalian dan pengawasan di bidang Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian.
7. Pelaksanaan pembinan, pemantauan,pengawasan dan pengendalian serta monitoring, evaluasi dan pelaporan terhadap UPTD.
8. Penyelenggaraan kesekretariatan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
9. Pelaksanaan pembinaan , pemantauan, pengawasan dan pengendalian serta monitoring evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
10. Penyelenggaraan tugas lain yang diberikan oleh Walikota sesuai dengan bidang tugasnya.
2.2. Sumber Daya SKPD
Secara organisatoris Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Semarang berada dibawah Pemerintah Kota Semarang. Sedangkan tugasnya melaksanakan tugas pemerintahan Kota Semarang di bidang Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian. Susunan Organisasi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi terdiri dari :
1. Kepala Dinas 2. Sekretaris
3. Bidang Pelatihan
4. Bidang Penempatan Tenaga Kerja 5. Bidang Hubungan Industrial 6. Bidang Pengawasan
7. Unit Pelaksana Teknis Dinas 8. Kelompok Jabatan Fungsional
Jumlah karyawan / karyawati Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Semarang tercatat sebanyak 97 orang PNS , dengan perincian sebagai berikut : a. Menurut jenis kelamin
Laki – laki : 52 orang
Perempuan : 45 orang
b. Menurut tingkat pendidikan
Pasca Sarjana (S2) : 9 orang
Sarjana (S1) : 48 orang
Sarjana Muda (D-3) : 5 orang
SLTA : 31 orang
SLTP : 1 orang
SD : 3 orang
c. Menurut golongan
Golongan IV : 11 orang
Golongan III : 75 orang
Golongan II : 10 orang
d. Pejabat struktural
Eselon II B : 1 orang
Eselon III A : 1 orang
Eselon III B : 4 orang
Eselon IV A : 16 orang
Eselon IV B : 1 orang e. Pejabat fungsional
Laki – laki : 7 orang
Perempuan : 9 orang
Guna menunjang kelancaran pelaksanaan operasional Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Semarang di dukung dengan dengan sarana kendaraan dinas berupa :
a. Kendaraan roda 4 (empat) : 2 buah b. Kendaraan roda 2 (dua) : 15 buah c. Komputer : 53 buah
d. Lap Top : 15 buah
e. LCD : 3 buah
f. Scener : 1 buah
g. Foto Digital :` 3 buah h. Printer : 64 buah
2.3. Kinerja Pelayanan SKPD
Kinerja Pelayanan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Semarang dapat digambarkan sebagai berikut :
Jumlah Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada tahun 2005 sebesar 63,45
%, dengan angkatan kerja sebanyak 699.016 0rang , pada tahun 2006 TPAK
sebesar 65,78 % dengan angkatan kerja 702.118 0rang , pada tahun 2007 TPAK
sebesar 62,52 % sedangkan pada tahun 2008 sebesar 64,27 % .dengan angkatan
kerja 744.439 0rang , pada tahun 2009 TPAK sebesar 64,75 % dengan angkatan
Pembangunan di bidang pelayanan system antar kerja menunjukkan
adanya peningkatan bahwa pada tahun 2005 jumlah pencari kerja sebesar 16.444
Orang, tahun 2006 sebesar 23.292 0rang, tahun 2007 sebesar 24.525 0rang dan
tahun 2008 sebesar 24.378 0rang sedangkan pada tahun 2009 sebesar
21.951.Orang., sehingga total pencari kerja yang terdatar pada disnakertrans
selama kurun waktu 5 (lima ) tahun sebesar 86.212 0rang
Jumlah Lowongan Pekerjaan pada tahun 2005 sebesar 4.470.lowongan,
tahun 2006 sebesar 14.359 lowongan , tahun 2007 sebesar 23.095 lowongan ,
tahun 2008 sebesar 20.878 lowongan sedangkan pada tahun 2009 sebesar 12.525
lowongan , sehingga total lowongan yang tersedia selama kurun waktu 5 (lima)
tahun sebanyak 75.327 lowongan.
Jumlah Penempatan Tenaga Kerja pada tahun 2005 sebesar 4.470 0rang,
tahun 2006 sebesar 5.352 0rang, tahun 2007 sebesar 7.311 0rang , tahun 2008
sebesar 8.975 0rang sedangkan pada tahun 2009 sebesbesaar 8.449 Orang.
Sehingga total penempatan tenaga kerja selama kurun waktu 5 (lima) tahun
sebesar 34.557 0rang.
Jumlah Penempatan Transmigrasi tahun 2005 sebanyak 10.KK, tahun
2006 sebesar 15 KK, tahun 2007 sebesar 5 KK , tahun 2008 sebesar 12 KK pada
tahun 2009 sebanyak 9 KK. Sehingga total penempatan transmigrasi selama
kurun waktu 5 (lima) tahun sebanyak 51 KK
Disamping hal tersebut juga terbentuk Wira Usaha Baru (WUB) tahun
2006 sebanyak 1 kelompok / 20 Orang, tahun 2007 sebanyak 23 kelompok / 345
0rang, tahun 2008 sebanyak 42 kelompok / 630 0rang , tahun 2009 sebanyak 21
kelompok / 315 0rang dan 20 0rang TKM ( Tenaga Kerja Mandiri ) sehingga total
WUB selama kurun waktu 5 ( lima ) tahun sebanyak 87 kelompok / 1.310 0rang
serta Tenaga Kerja Mandiri sebanyak 20 Orang .
Pembangunan di bidang hubungan industrial mengalami perbaikan, dimana setiap menentukan Upah Minimum Kota tidak banyak menimbulkan gejolak. Upah Minimum Kota mengalami peningkatan dimana pada tahun 2005 UMK sebesar Rp 473.600 pada tahun 2006 sebesar Rp.586.000,- Tahun 2007 sebesar Rp.650.000,-. Tahun 2008 sebesar Rp.715.700,- sedangkan pada tahun 2009 sebesar Rp. 838.500,-( 100 % KHL) perlu diketahui bahwa UMK mulai tahun 2008 sudah menunjukkan angka 100 % dari Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Hal ini dapat meredam gejolak para pekerja / Serikat Pekerja / Serikat Buruh di Kota Semarang. Jumlah kasus hubungan industrial ( PHI/PHK ) pada tahun 2005 sebanyak 315 kasus dimana PHI sebanyak 52 kasus dan PHK
sebanyak 263 kasus, pada tahun 2006 sebanyak 218 kasus terdiri PHI sebanyak 38 kasus dan PHK sebanyak 180 kasus, pada tahun 2007 jumlah kasus sebanyak 258 kasus terdiri PHI sebanyak 54 kasus dan PHK sebanyak 204 kasus , pada tahun 2008 sebanyak 286 kasus terdiri PHI sebanyak 63 kasus dan PHK sebanyak 221 kasus , pada tahun 2009 jumlah kasus sebanyak 256 kasus terdiri PHI sebanyak 48 kasus dan PHK sebanyak 208 kasus , sedangkan kasus unjuk rasa pada tahun 2005 sebanyak 8 kasus, pada tahun 2006 sebanyak 7 kasus, pada tahun 2007 sebanyak 2 kasus, pada tahun 2008 sebanyak 9 kasus dan pada tahun 2009 sebanyak 8 kasus.
Penyelesaian kasus hubungan industrial antara pekerja / buruh atau serikat pekerja / serikat buruh dengan pengusaha / organisasi pengusaha mengalami penurunan dan dapat di selesaikan sesuai dengan peraturan perundang undangan yang berlaku, demikian juga mogok kerja atau unjuk rasa mengalami penurunan.
Pembangunan di bidang Pengawasan Ketenagakerjaan dilakukan dengan
baik hal ini dapat dilihat jumlah kecelakaan kerja pada tahun 2005 sebanyak 429
kecelakaan dengan rincian meninggal 38 0rang , Cacat/luka berat 96 Orang, luka
ringan 295 0rang , dengan kejadian kecelakaan sebagai berikut kecelakaan di
tempat kerja 229 0rang kekecelekaan lalulintas /menuju tempat kerja 200 0rang ,
pada tahun 2006 sebanyak 461 0rang dengan rincian meninggal 7 0rang, luka
berat 34 0rang , luka ringan 420 0rang dengan kejadian kecelakaan sebagai
tempat kerja 312 0rang , padna tahun 2007 sebanyak 306 kecelakaan dengan
rincian meninggal 7 0rang, cacat/luka berat 11 0rang, luka ringan 288 0rang
dengan kejadian kecelakaan sebagai berikut , kecelakaan ditempat kerja 184
0rang kecelakaan lalulintas /menuju tempat kerja 122 0rang, pada tahun 2008
sebanyak 405 kecelakaan dengan rincian meninggal 11 0r ang , cacat / luka berat
9 0rang , luka ringan 385 0rang , dengan kejadian kecelakaan sebagai berikut
kecelakaan ditempat kerja 241 0rang , kecelakaan lalulintas / menuju tempat kerja
182 0rang sedangkan pada tahun 2009 sebanyak 372 kecelakaan. Dengan rincian
meninggal 4 0rang , cacat/luka berat 5 0rang , luka ringan 363 0rang dengan
kejadian kecelakaan sebagai berikut, kecelakaan ditempat kerja 218. 0rang ,
kecelakaan lalulintas / menuju tempat kerja 154 0rang . Dengan total kecelakaan
selama kurun waktu 5 ( lima ) tahun sebanyak 2.090 0rang
2.4. Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan SKPD
Berdasarkan tugas pokok dan fungsi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Semarang dimaksud, maka pelayanan Dinas dapat digambarkan sebagai berikut :
A. Bidang Ketenagakerjaan :
a. Penurunan prosentase jumlah pengangguran di kota semarang sebesar : 1. Tahun 2011 : 14,26 %
2. Tahun 2012 : 13,84`% 3. Tahun 2013 : 13,33 % 5. Tahun 2014 : 12,73 % 6 Tahun 2015 : 12,07 %
b. Peningkatan jumlah penempatan tenaga kerja di kota Semarang sebesar : 1 Tahun 2011 : 8.900 0rang
c. Perluasan dan penciptaan lapangan kerja untuk mengurangi jumlah penganggur.
d. Pengembangan bursa tenaga kerja terpadu bagi tenaga kerja terlatih untuk untuk memenuhi permintaan pasar
e. Pemberdayaan dan peningkatan kompetensi dan profesionalisme tenaga kerja bagi penganggur dan setengah penganggur.
f. Peningkatan ketrampilan bagi pencari kerja
g. Memasyarakatkan pelaksanaan uji kompetensi dan sertifikasi tenaga kerja h. Pemberdayaan kelembagaan Bipartit serta peningkatan pemahaman dan
kesadaran berbagai pihak untuk mengupayakan kesejahteraan dan perlindungan pekerja.
i. Peningkatan pengupahan tenaga kerja
j. Peningkatan tingkat kesejahteraan tenaga kerja
k. Lebih terjaminnya perlindungan tenaga kerja terhadap kesehatan dan keselamatan kerja, serta penyakit akibat kerja.
l. Peningkatan proses penyelesaian kasus PHI/PHK tenaga kerja
B. Bidang Ketransmigrasian :
a. Meningkatkan dan memantapkan fasilitasi / mediasi kerjasama bidang ketransmigrasian dengan Provinsi / Kab.Kota Penempatan transmigrasi. b. Peningkatan kualitas penyelenggaraan transmigrasi
c. Meningkat kembangan sistem informasi ketransmigrasian agar alebih diketahui masyarakat.
d. Mengembangkan pola apengerahan melelui forum-forum komunikasi,informasi dan edukasi ( KIE)
e. Meningkatkan kualitas dan produktivitas SDM calon transmigran asal kota semarang dengan meningkatkan sumberdaya pelatihan transmigrasi
BAB.III.
ISU – ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI.
3.1. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi.
Isu – isu Strategis baik internal maupun external merupakan faktor – faktor yang menyebabkan timbulnya permasalahan serta akan berpengaruh dan mewarnai pembangunan ketenagakerjaan dan ketransmigrasian di Kota Semarang pata tahun 2010 – 2015.
Permasalahan pokok yang dihadapi dalam pembangunan ketenagakerjaan dan ketransmigrasian adalah :
1. Sempitnya kesempatan kerja yang disebabkan oleh :
a. Ketidak seimbangnya antara kesempatan kerja yang ada dan
dengan kebutuhan masyarakat akan pekerjaan.
b. Penyerapan angkatan kerja yang tidak sebanding dengan
pertumbuhan angkatan kerja sehingga jumlah pengangguran
bertambah
c. Lowongan kerja yang ada tidak mampu diserap oleh pencari
kerja, dikarenakan keterbatasan tingkat kompetensi
ketrampilan yang dimiliki.
2. Rendahnya kualitas dan produktivitas tenaga kerja yang disebabkan oleh :
a. Rendahnya ketrampilan tenaga kerja b. Rendahnya kompetensi tenaga kerja
c. Ketidak sesuaian antara kualifikasi jabatan yang dibutuhkan oleh pasar kerja dengan kompetensi yang dimiliki oleh tenaga kerja.
3. Belum optimalnya perlindungan tenaga kerja dan pengembangan lembaga tenaga kerja yang disebabkan oleh :
b. Belum optimalnya fungsi PPTKIS ( Pelaksana Penempatan
Tenaga Kerja Indonesia Swasta ) dalam memberikan
perlindungan kepada TKI ( Tenaga Kerja Indonesia )
c. Rendahnya kesadaran pengusaha untuk melaksanakan segala ketentuan yang berlaku dibidang ketenatenaga kerjaan
d. Kurangnya kesadaran pengusaha dalam pelaksnaan peraturan
perundangan ketenagakerjaan.
e. Lemahnya penegakan hukum dibidang ketenagakerjaan
f. Rendahnya tingkat kesejahteraan pekerja / buruh disebabkan banyak pengusaha yang menjadikan upah minimum Kota
( UMK ) merupakan upah standart.
3. Belum optimalnya sarana – sarana hubungan industrial. 4. Terbatasnya alokasi target penempatan transmigrasi
3.2. Telaahan Visi , Misi dan Program Kepala daerah dan Wakil kepala daerah dan wakil kepala daerah Terpilih.
Visi adalah kondisi yang diinginkan pada akhir perencanaan m – program yang direpresentasikan dalam sejumlah sasaran hasil pembangunan yang dicapai melalui program – program pembangunan dalam bentuk rencana kerja.
Visi Kota Semarang adalah ” TERWUJUDNYA SEMARANG KOTA PERDAGANGAN DAN JASA, YANG BERBUDAYA MENUJU MASYARAKAT SEJAHTERA ” Visi tersebut memiliki empat kunci pokok yakni Kota Perdagangan, Kota Jasa, Kota Berbudaya dan Masyarakat yang Sejahtera.
fungsi jasa yang menjadi tulang punggung pembangunan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat dengan tidak meninggalkan potensi lainya..Pengembangan kota Perdagangan diarahkan pada upaya untuk lebih ,meningkatkan produktivitas, sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kota secara keseluruhan.
Kota Jasa, sebutan sebagai kota jasa sebenarnya tidak lepas dari status kota perdagangan, akrena perdagangan akan selalalu terkait dengan persoalan perniagaan atau proses transaksi dan distribusi barang dan jasa. Kota Jasa lebih menekankan pada fungsi kota dalam pelayanan publik di berbagai bidang.
Kota Berbudaya, mengandung arti bahwa penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan senantiasa dilandasi seluruh aspek kebudayaan yang terdiri dari cipta, rasa dan karsa yang telah tumbuh menjadi kearifan masyarakat seperti pelaksanaan pelaksanaan nilai religiusitas , kemanusiaan,kebersamaan, persaudaraan, ketertiban dan sikap ketauladanan lainya dalam lingkungan budaya masyarakat, sehingga menghasilkan pembangunan karakter yang mengedepankan kehalusan budi dan perasaan, manusiawi dan penghormatan terhadap hak azazi manusia.
visi ini, mengarah pada tujuan terlayani dan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup dan rasa aman dan tentram serta adil dalam segala bidang.
Dalam mewujudkan Visi ” Terwujudnya Semarang Kota Perdagangan dan Jasa, yang Berbudaya Menuju Masyarakat Sejahtera ” di tempuh melalui 5 ( lima ) misi pembangunan daerah yaitu :
a. Mewujudkan sumberdaya manusia dan masyarakat Kota Semarang yang berkualitas.
b. Mewujudkan pemerintahan kota yang efektif dan efisien, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta menjunjung tinggi supermasi hukum.
c. Meujudkan kemandirian dan dya saing daerah.
d. Mewujudkan tata ruang wilayah dan infrastruktur yang berkelanjutan.
e. Mewujudkan kesejahteraan sosial masyarakat.
Terkait dengan misi Kota Semarang Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Semarang melaksanakan Misi yang Pertama yaitu Mewujudkan sumberdaya manusia dan masyarakat
Kota Semarang yang berkualitas.Untuk mencapai misi rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah tersebut maka
dirumuskan tujuan dan sasaran misi yang terkait dengan Disnakertrans sebagai berikut :
Fasilitasi pengembangan kesempatan kerja / berusaha, kesejahteraan dan perlindungan tenaga kerja, serta kualitas tenaga kerja yang mampu bersaing di era global, dengan sasaran pembangunan difokuskan pada :
a. Prosentase Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja mencapai 66,71 %.
c. Prosentase Perlindungan dan Jaminan kesejahteraan tenaga kerja mencapai 50 %
d. Prosentase penyelenggaraan dan sistem informasi pasar kerja yang mudah diakses oleh masyarakat mencapai 100 %.
e. Prosentase fasilitasi penyelesaian masalah hubungan industrial mencapai 10 %
Kebijakan pada urusan ketenagakerjaan diarahkan pada upaya pengurangan pengangguran melalui penciptaan dan perluasan kesempatan kerja dan kesejahteraan tenaga kerja melalui :
a. Peningkatan kualitas tenaga kerja.
b. Peningkatan peran lembaga pelatihan / ketrampilan dan penyalur tenaga kerja.
c. Meningkatkan informasi bursa kerja baik dalam negeri maupun luar negeri.
d. Fasilitasi hubungan industrial dan perlindungan tenaga kerja.
Program – program pembangunan pada urusan ketenagakerjaan yang dilaksanakan adalah :
a. program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja.
b. Program Peningkatan Kesempatan Kerja.
c. Program Perlindungan Pengembangan Lembaga Ketenagakerjaan.
3.3. Telaahan Renstra K/L dan Renstra Provinsi / Kabupaten / Kota
3.3.1. Telaahan Renstra K/L.
tahun kedepan adalah ” TERWUJUDNYA TENAGA KERJA DAN MASYARAKAT TRANSMIGRASI YANG PRODUKTIF, BERDAYA SING, MANDIRI DAN SEJAHTERA”
Upaya untuk pencapaian visi tersebut diimplementasikan melalui misi sebagai berikut :
1. Meningkatkan kompetensi dan produktivitas tenaga kerja dan masyarakat transmigrasi.
2. Memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan pelayanan penempatan dan perlindungan tenaga kerja di dalam dan diluar negeri.
3. Meningkatkan pembinaan hubungan industrial dan jaminan sosial tenaga kerja.
4. Meningkatkan perlindungan tenaga kerja.
5. Membangun kawasan serta memfasilitasi perpindahan dan penempatan transmigrasi.
6. Mengembangkan kapasitas masyarakat transmigrasi dan kawasan transmigrasi.
7. Menerapkan organisasi yang efisien, tatalaksana yang efektif dan terpadu dengan prinsip tata kelola kepemerintahan yang baik ( good govermance ), meningkatkan efektivitas pengawasan kinerja,dan melaksanakan penelitian, pengembangan serta pengelolaan data dan informasi yang efektif.
Tujuan yang ingin dicapai dalam pembangunan bidang ketenagakerjaan dan ketransmigrasian adalah :
1. Menyediakan tenaga kerja yang kompeten, produktif dan berdaya saing yang sesuai dengan perkembangan pasar kerja serta menciptakan wirausaha baru.
3. Menciptakan hubungan industrial yang harmonis dan meningkatnya peran kelembagaan hubungan industrial.
4. Menciptakan pengawasan ketenagakerjaan secara mandiri ( independent ) tidak memihak ( fair treatment), profesional dan seragam di seluruh Indonesia.
5. Mengembangkan kawasan transmigrasi menjadi tempat tinggal dan usaha yang layak.
6. Mengembangkan masyarakat transmigrasi yang mandiri dan kawasan transmigrasi sebagai sebagai pusat pertumbuhan baru.
7. Mewujudkan good govermance di lingkungan Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, efektivitas pengawasan kinerja, memanfaatkan hasil penelitian dan pengembangan, serta menyediakan data dan informasi untuk kebijakan/manajemen dan informtasi publik.
Sasaran Strategis dibidang ketenagakerjaan dan ketransmigrasian antara lain :
1. Terlaksananya pelatihan berbasis kompetensi dan berbasis masyarakat sebanyak 700.000 0rang.
2. Terciptanya pelayanan penempatan tenaga kerja ( bursa kerja) di 551 Kab/Kota dan fasilitasi penempatan tenaga kerja sebanyak 8.000.000 0rang
3. Terbentuknya Lembaga Kerja Sama ( LKS ) Bipartit di 20.000 perusahaan serta LKS Tripartitdi 33 provinsi dan 400 kab/kota.
4. Terselenggaranya pembinaan dan pengawasan dalam rangka peningkatan penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja ( SMK3 ) di 300.000 perusahaan.
serta terfasilitasinya perpindahan dan penempatan 44.233 keluarga transmigran
6. Terpenuhinya kebutuhan dasar dan meningkatnya kapasitas sumberdaya manusia dan kelembagaan masyarakat transmigrasi untuk 86.200 keluarga kawasan transmigrasi ( 344.800 jiwa) di 478 permukiman transmigrasi serta berkembangnya 18 kawasan transmigrasi sebagai embrio pusat pertumbuhan baru.
7. Terciptanya tata kelola organisasi yang efektif, transparan, akuntabel dan bersih dari KKN serta meningkatnya pemanfaatan hasil penelitian sebagai acuan perumusan kebijakan, serta meningkatnya ketersediaan data dan informasi untuk kebijakan dn pelayanan informasi.
Kebijakan untuk melaksanakan Visi dan Misi supaya pencapaian sasaran strategis Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi adalah :
1. Peningkatan kompetensi dan kualitas produktivitas tenaga kerja untuk mencetak tenaga kerja dan wirausaha baru yang berdaya saing.
2. Perluasan penciptaan kesempatan kerja dan penempatan tenaga kerja, baik dalam maupun di luar negeri.
3. Pengelolaan iklim kerja yang kondusif melalui hubungan industrial yang harmonis.
4. Peningkatan intensitas dan kualitas pengawasan ketenagkerjaan, keselamatan kerja dan kesehatan kerja serta penegakan hukum.
kebutuhan sumberdaya manusia dan memberikan peluang usaha dikawasan transmigrasi.
6. Pembinaan dan pemberdayaan masyarakat transmigrasi dan pengembangan kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan baru dalam mendukung pengembangan perdesaan dan ekonomi lokal dan daerah untuk mewujudkan kemandirian masyarakat dan daya saing kawasan transmigrasi.
7. Peningkatan fungsi pembinaan manajemen, dukungan administratif, pengawasan fungsional, sumberdaya, serta peningkatan fungsi penelitian, pengembangan dan pengelolaan data dan informasi.
3.3.2. Telaahan Renstra Provinsi.
Visi Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah adalah :
TERWUJUDNYA TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRAN YANG MANDIRI BERDAYA SAING DAN SEJAHTERA SERTA TERTIB ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN.
Berdasarkan Visi tersebut, maka Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah mempunyai Misi sebagai berikut :
1. Menyusun kebijakan teknis di bidang ketenagakerjaan dan ketransmigrasian sesuai kebijakan Gubernur serta mengembangkan kerjasama di bidang ketenagakerjaan dan ketransmigrasian antar daerah dan negara maupun lintas sektor.
meningkatkan kualitas pelayanan informasi ketenagakerjaan dan ketransmigrasian.
3. Membina tenaga kerja dan transmigran melalui pelatihan dan pengembangan produktifitas tenaga kerja.
4. Menetapkan Upah minimum, pedoman jaminan kesejahteraan purna kerja, pengawasan pelaksanaan upah minimum, hubungan industrial, dan syarat kerja.
5. Menetapkan kebijaksanaan dan mengawasi pelaksanaan per Undang – undangan dibidang Norma Kerja dan Jamsostek, Penempatan Tenaga Kerja Dalam Negeri (AKAD), Luar Negeri (AKAN), Penyandang Cacat (Penca), Tenaga Kerja Warga Negara Asing Pendatang (TKWNAP), Keselamatan dan Kesehatan Kerja, hygiene perusahaan dan lingkungan kerja dan ergonomi.
6. mengembangkan dan meningkatkan sumber daya aparatur yang beretos kerja tinggi dan profesional, sarana dan prasarana perkantoran serta pelatihan dan pengujian yang memadai.
Tujuan yang ingin dicapai selama 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) tahun yang akan datang dengan mengacu pada visi, misi, dan obsesi Gubernur Jawa Tengah “ BALI DESO BANGUN DESO “ serta isu – isu dan analisa strategi. Tujuan yang ingin dicapai Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan Kesempatan Kerja didalam dan diluar Negeri serta Kesempatan Berusaha disektor Informal
3. Mengurangi jumlah penganggur dan setengah penganggur melalui peningkatan kualitas kemandirian dan daya saing 4. Mencegah dan menyelesaikan kasus-kasus penempatan
tenaga kerja dalam dan luar negeri.
5. Meningkatan kuantitas dan kualitas program transmigrasi. 6. Meningkatan kualitas dan kemandirian lembaga pelatihan
kerja dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar kerja dan penciptaan lapangan kerja.
7. Mewujudkan hubungan industrial yang harmonis.dan Meningkatkan Pelayanan Penyelesaian Kasus PHI/PHK. 8. Meningkatkan perlindungan tenaga kerja dan peningkatan
keselamatan dan kesehatan kerja.
9. Meningkatkan kualitas SDM aparatur, serta kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana perkantoran, serta pelatihan dan pengujian.
10. Menciptakan kesempatan kerja dan berusaha melalui penciptaan wirausaha baru dengan diversifikasi usaha di pedesaan.
11. Meningkatkan ketertiban dalam penempatan tenaga kerja dalam negeri (AKAD), luar negeri (AKAN), Penyandang Cacat (Penca), Tenaga Kerja Warga Negara Asing Pendatang (TKWNAP).
Sasaran yang yang ingin dicapai Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah adalah sebagai berikut :
1. Terwujudnya pengembangan dan penambahan jaringan Sistim Informasi Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian 2. Terselenggaranya kerjasama Ketenagakerjaan dan
3. Terwujudnya peningkatan Kesempatan kerja di dalam dan di luar Negeri serta kesempatan berusaha di sektor informal 4. Terwujudnya akses pasar kerja melalui simnakertrans
5. Terwujudnya peningkatan Kualitas dan Kuantitas Program Transmigrasi
6. Terwujudnya peningkatan kualitas kemandirian dan daya saing melalui pelatihan
7. Terwujudnya peningkatan relevansi lulusan pelatihan dengan kebutuhan pasar di dalam dan di luar negeri
8. Terwujudnya peningkatan kualitas, produktifitas dan kemandirian lembaga pelatihan tenaga kerja dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar kerja dan penciptaan lapangan kerja .
9. Terwujudnya proses penyelesaian kasus PHI/PHK tingkat Provinsi diluar PHI (Pengadilan Hubungan Industrial) Hubungan industrial yang harmonis dan berkurangnya kasus PHI/ PHK
10. Terwujudnya peningkatan peran dan fungsi lembaga ketenagakerjaan dengan Indikator
11. Terwujudnya peningkatan perlindungan tenaga kerja, meningkatkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
12. Terwujudnya peningkatan kualitas SDM aparatur yang beretos kerja tinggi
13. Terkuranginya kasus-kasus penempatan tenaga kerja dalam dan luar negeri
Strategi untuk mencapai Misi :
a. Meningkatkan kerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam penyerapan tenaga kerja, baik regional, nasional maupun internasional.
b. Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya pelatihan dan produktivitas.
c. Meningkatkan koordinasi dan kerjasama dalam penyelenggaraan bursa kerja dan optimalisasi sistem informasi bursa kerja yang mudah diakses oleh masyarakat. d. Meningkatkan pengawasan dan perlindungan tenaga kerja
sesuai norma hukum yang berlaku, serta meningkatkan peran lembaga ketenagakerjaan.
e. Peningkatan pengakuan kompetensi dan profesionalisme tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan pasar.
f. Peningkatan kualitas dan optimalisasi kelembagaan pelatihan serta pengembangan Net Working pelatihan dan produktivitas.
g. Peningkatan kompetensi dan profesionalisme Sumber Daya Manusia pelatihan.
h. Peningkatan sarana dan prasarana pelatihan.
i. Peningkatan penerapan program Trhree in One di lembaga pelatihan kerja.
j. Pengupahan dan kesejahteraan tenaga kerja yang layak. k. Peningkatan perlindungan dan kebebasan berserikat.
l. Meningkatkan fungsi pengawasan ketenagakerjaan untuk memberikan perlindungan hak-hak normatif tenaga kerja. m. Peningkatan kelembagaan aparatur pengawasan
n. Peningkatan Hubungan Industrial yang harmonis, dinamis dan berkeadilan.
o. Peningkatan penyelesaian kasus-kasus ketenagakerjaan secara cepat, mudah dan bermartabat.
p. Mengembangkan kerjasama dan koordinasi antar daerah serta pelibatan pihak-pihak terkait dalam penyelenggaraan transmigrasi.
q. Mengoptimalkan media informasi untuk menyampaikan pesan program transmigrasi.
r. Meningkatkan kemampuan aparat dalam penyelenggaraan transmigrasi.
s. Meningkatkan ketrampilan calon transmigran sesuai dengan kondisi dan potensi SDA di lokasi tujuan.
t. Meningkatkan kualitas SDM yang profesional dan disiplin aparatur untuk pelayanan bagi masyarakat.
u. Meningkatnya kualitas sarana dan prasarana perkantoran dan pelatihan.
Kebijakan pembangunan ketenagakerjaan Provinsi Jawa Tengah diarahkan pada :
a. Peningkatan dan perluasan lapangan pekerjaan di berbagai sektor.
b. Peningkatan kompetensi dan produktivitas tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
c. Penegakan hukum dan perlindungan tenaga kerja. d. Peningkatan kesejahteraan tenaga kerja
e. Memantapkan hubungan industrial yang harmonis.
g. Peningkatan media komunikasi,informasi dan edukasi ketransmigrasian untuk menumbuhkan minat masyarakat. h. Peningkatan calon transmigran melalui pelatihan.
3.4. Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup Strategi.
Angkatan Kerja Kota Semarang berdasar Kecamatan tahun 2009 berdasarkan hasil Survey dapat dilihat dalam tabel berikut:
No Kecamatan
Angkatan Kerja
Jumlah
Bekerja Mencari Pekerjaan Jumlah
L P L P L P
Dari Tabel tersebut diatas Jumlah Angkatan Kerja khususnya tenaga kerja yang masih mencari pekerjaan sebanyak 107.333 0rang di arahkan untuk mendukung kawasan kawasan industri antara lain :
f. Kawasan Industri Pergudangan Tanjung Emas
Dengan banyak tenaga kerja yang terserap di wilayah kawasan Industri tersebut maka akan meningkatan tingkat kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah kawasan industri.
3.5. Penentuan Isu – isu Strategis.
1. Berdasarkan hasil survey penganggur tahun 2009 jumlah penduduk usia 10 tahun
keatas sebanyak 1.296.304 0rang (85,77% ) dari jumlah penduduk total,
sedangkan jumlah penduduk usia kerja 15 – 59 tahun sebanyak .1.106.911.0rang.
Usia produktif terjadi pada struktur usia antara 15 – 44 tahun sebesar 875.764 0rang ( 79,11 %) dari usia kerja dan lebih spesifik lagi pada usia 15 – 19 tahun sebanyak 138.584. 0rang ( .12,51.%) dari usia kerja.
2. Jumlah angkatan kerja tahun 2009 sebanyak 709.464. 0rang terdiri dari bekerja
sebanyak 602.131 0rang (84,87.%) dan pencari kerja sebanyak .107.333.0rang
( 15,12.%).
3. Jumlah bukan angkatan kerja ( sekolah,mengurus rumah tangga dan lain – lain ) sebanyak 586.840 .0rang terdiri dari sekolah sebanyak 277.129 .0rang ( 47,22.%)
, mengurus rumah tangga sebanyak 213.297.0rang ( 36,34.%) serta lain – lain 96.414.0rang ( 16,42.%).
4. Berdasarkan tingkat pendidikan penduduk yang bekerja tahun 2009 untuk SD
sebanyak 85.247 0rang ( 14,15.% ), SLTP sebanyak 132.298 .0rang ( 21,97.%)
dan SLTA sebanyak 195.101.0rang ( 32,40.%) ,Sarjana muda 85.094..0rang
(14,13.%) dan sarjana sebanyak 63,169.0rang (10,49.%) .
5. Jumlah pencari kerja tahun 2009 yang berpendidikan SD sebanyak 332. 0rang
(0,56.%) ,SLTP sebanyak 1.034.0rang ( 1,76.%) ,SLTA sebanyak 16.569 .0rang
( 28,28.%) Sarjana Muda 12,064 .0rang ( 20,59.%) dan Sarjana 28.583 .0rang
(.48,79.%) . Ada kecenderungan kenaikan pencari kerja terdidik.
6. Kesempatan kerja yang ada dalam negeri tidak sebanding dengan pencari kerja
yang ada hal ini terbukti pada tahun 2009 jum lah pencari kerja yang terdaftar
sedangkan yang dapat ditempatkan hanya sebanyak 8.449 0rang ( 48,03.%) dari
jumlah lowongan kerja, sedangkan tingkat penyerapan pencari kerja sebanyak
14,42. % dari jumlah pencarai kerja yang ada.
7. Lembaga latihan kerja yang dikelola Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Semarang dalam bentuk Unit Pelaksanan Tehnis Daerah ( UPTD) yaitu Balai Latihan Kerja.
8. Rendahnya relevansi dan daya saing kompetensi lulusan pelatihan di lembaga kerja ( LPK ) dengan kebutuhan pasar.
9. Rendahnya tingkat produktivitas tenaga kerja , sehingga perlu peningkatan pelatihan dan pengukuran untuk antara lain Pelatihan Motivasi Kerja, Total Quality Control ( TQC), Total Quality Manajement ( TQM) , Manajemen Usaha,Pengendalian Mutu Terpadu, Produktivitas Tenaga Kerja serta Pelatihan 5 S.
10.Hak dan kewajiban antara pekerja dan pengusaha diatur dengan Peraturan Perusahaan (PP ) sebanyak 559 dan Perjanjian Kerja Bersama ( PKB ) sebanyak 71.
11.Rendahnya tingkat kesejahteraan pekerja / buruh dapat dilihat dari indikasi besaranya upah minimum karena adanya peningkatan biaya hidup.Upah Minimum kota / regional tahun 2009 sebesar Rp.838.500 sudah mencapai 100 % KHL, namun demikian masih ada sebagian pengusaha yang belum melaksanakan ketentuan yang menyangkut hak dasar pekerja seperti misalnya upah minimum, upah lembur, cutti tahunan maupun cuti haid bagi pekerja wanita , kebebasan berserikat bagi para pekerja / buruhnya.
12.Belum efektifnya ( baik kualitas maupun kuantitas ) lembaga ketenagakerjaan/sarana Hubungan Industrial, hal ini ditunjukan pada Peraturan Perusahaan ( PP ) yang ada 559 (37,19.% ) dari 1.503.perusahaan wajib PP, Perjanjian Kerja Bersama ( PKB ) yang ada 71 ( 12,86 %) dari Perserikatan Unit Kerja ( PUK ) SP/SB yang berjumlah 552, Lembaga Kerja ( LK) Bipartit
13.Masih banyaknya kasus norma Kecelakaan kerja, dari 2.154 perusahaan dengan
jumlah tenaga kerja 170.327 0rang terjadi 372 kasus akibat kecelakaan kerja
dengan rincian luka ringan 363 kasus, cacat 5 kasus dan mati 4 kasus.
14.Kurangnya komitmen perusahaan terhadap pelaksanaan keselamatan dan
kesehatan kerja kerja ( K3 ) yang di tandai :
a. Baru ada 79 poliklinik dari 558 perusahaan wajib.
b. Hanya terdapat 5 perusahaan yang telah memiliki sertifikasi Sistem
Manajemen K3 ( SMK3) dari 558 yang wajib menyelenggarakan.
c. Baru ada 237 perushaan yang telah terbentuk Pantia Pembina
Keselamatan dan Kesehatan Kerja ( P2K3) dari 905 perushaan yang wajib
P2K3.
15.Terdapat beberapa obyek K3 yang belum mendapatkan pengesahan / perijinan,
yaitu :
a. Pesawat uap sebanyak 380 yang memiliki ijin 371, operator pesawat uap
70 0rang ,yang memiliki sertifikat sebanyak 70 0rang.
b. Pesawat angkat angkut sebanyak 400 buah yang memiliki pengesahan
sebanyak 390 buah
c. Instalasi listrik sebanyak 1.010 perusahaan yang memiliki pengesahan
sebanyak 137 perusahaan.
d. Pesawat lift sebanyak 430 buah yang memiliki pengesahan sebanyak 406
buah
e. Instalasi penyalur petir sebanyak 500 buah yang memiliki pengesahan
sebanyak 404 buah.
f. Perusahaan jasa boga yang melayani tenaga kerja sebanyak 80 perushaan
BAB.IV.
VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN 4.1. Visi dan Misi SKPD
A. Visi.
Visi merupakan pandangan jauh ke Depan, kemana dan bagaimana instansi pemerintah harus dibawa dan berkarya agar tetap konsisten dan eksis, antipatif, inovatif, inovatif serta produktif.
Visi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Semarang adalah :
TERWUJUDNYA IKLIM KETENAGAKERJAAN DAN
KETRANSMIGRASIAN YANG KONDUSIF DAN BERKUALITAS MENUJU MASYARAKAT SEJAHTERA.
B. Misi
Berdasarkan Visi tersebut, maka Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Semarang mempunyai Misi sebagai berikut :
a. Meningkatkan ketrampilan tenaga kerja.
b. Meningkatkan perluasan kesempatan kerja dan penempatan
transmigrasi.
c. Meningkatkan pembinaan hubungan industrial d. Meningkatkan perlindungan tenaga kerja
e. Meningkatkan sarana pelayanan ketenagakerjaan dan ketransnmigrasian
4.2. Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah SKPD A. Tujuan
Tujuan adalah sesuatu yang ingin dicapai selama 1 ( satu ) sampai dengan 5 ( lima ) tahun yang akan datang dengan mengacu pada visi,misi serta isu isu dan analisa strategi. Tujuan yang ingin dicapai Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Semarang adalah sebagai berikut :
2. Meningkatkan Kesempatan Kerja serta Kesempatan Berusaha
disektor informal.
3. Mengurangi jumlah penganggur dan setengah penganggur melalui
peningkatan kualitas kemandirian dan daya saing.
4. Menciptakan kesempatan kerja dan berusaha melalui penciptaan
wirausaha baru dengan disverifikasi usaha.
5. Mewujudkan hubungan industrial yang harmonis, dinamis , berkeadilan serta meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan pelayanan penyelesaian kasus PHI / PHK
6. Meningkatkan perlindungan tenaga kerja dan peningkatan
keselamatan dan kesehatan kerja.
7. Meningkatkan kualitas SDM aparatur, serta kuantitas dan kualitas
sarana dan prasarana perkantoran.
B. Sasaran
1. Terwujudnya / Tersedianya tenaga kerja trampil dan tenaga kepelatihan yang profesional dengan indikator :
a. Terwujudnya peningkatan profesionalisme tenaga kepelatihan sebanyak 670 0rang
b. Terwujudnya peningkatan produktivitas tenaga kerja sebanyak 330 0rang
c. Terwujudnya peningkatan pelatihan berbasis pemagangan sebanyak 415 0rang
d. Terwujudnya ketrampilan bagi pncari kerja sebanyak 2.310 0rang
e. Meningkatnya kompetensi tenaga kepelatihan 25 %
2. Terwujudnya peningkatan Kesempatan Kerja serta kesempatan
berusaha di sektor informal dengan indikator :
a. Menurunya jumlah pengangguran sebesar 2,5 %
b. Meningkatnya partisipasi angkatan kerja sebesar 66,71 %
d. Tingkat mendapatkan kesempatan Kerja(TKSP )sebanyak
1.050. 0rang
e. Tingkat mendapatkan kesempatan berusaha di sektor inf
Ormal ( padat karya produktif ) sebanyak 1.980 0rang
c. Penempatan calon transmigran sebanyak 75 0rang
3. Terwujudnya akses pasar kerja melalui Simnakertrans dengan
indikator :
a. Terwujudnya pelayanan bursa Kerja On line dan Job Fair
sebanyak 10 kali
b. Menempatkan tenaga kerja sebanyak 49.050 0rang
4. Terwujudnya peningkatan kualitas kemandirian dan daya saing
melalui pelatihan dengan indikator :.
a. Terwujudnya kemandirian tenaga kerja melalui pelatihan
wirausaha baru sebanyak 2.970. 0rang dan Tenaga kerja
Mandiri sebanyak 1.250 0rang.
5. Meningkatkan efektifitas lembaga-lembaga ketenagakerjaan dan sarana – sarana hubungan industrial dengan indikator:
a. Adanya rekomendasi LKS Tripartit di bidang ketenagakerjaan sebanyak 10 rekom.
b. Pendataan / pencatatan SP/SB sebayak 100 SP/SB c. Terbentuknya LKS Bipartit sebanyak 75 LKS
6. Meningkatkan syarat – syarat kerja ( PP,PKB) dan kesejahteraan pekerja / buruh dengan indikator :
a. Terbentuknya koperasi karyawan sebanyak 180 koperasi b. Terbentuknya PP/PKB yang berkualitas sebanyak 240
PP/PKB.
c. Tersedianya angka KHL sebanyak 60 KHL d. Tersedianya usulan UMK sebanyak 5 UMK
a. Menurunya angka perselisihan hubungan industrial PHI / PHK / Unjuk Rasa 2 % pertahun.
b. Terselesaikannya kasus hubungan industrial sebanyak 1.000 kasus.
c. Terselesaiakanya pencegahan keresahan sebanyak 50 perusahaan.
d. Terselesaikanya stiap unjuk rasa / mogok sebanyak 25 perusahaan.
8. Terwujudnya peningkatan perlindungan tenaga kerja,
meningkatkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan indikator:
a. Meningkatnya jumlah perusahaan yang menerapkan K3
/Keselamatan dan kesehatan kerja sebanyak 570
perusahaan ( 45,8 % )
9. Terwujudnya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia aparatur
yang beretos kerja tinggi dengan indikator :
a. Terwujudnya pola kerja yang lancar dan nyaman dalam
penyelesaian tugas
4.3. Strategi dan Kebijakan
Untuk dapat mewujudkan Visi ” TERWUJUDNYA IKLIM KETENAGAKERJAAN DAN KETRANSMIGRASIAN YANG KONDUSIF DAN BERKUALITAS MENUJU MASYARAKAT SEJAHTERA. ” tersebut Strategi dan Kebijakan dalam pelaksanaan misi Renstra Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Semarang sebagai berikut :
4.3.1. Meningkatkan ketrampilan tenaga kerja
Strategi untuk mencapai Misi Pertama sebagai berikut ;
b. Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya pelatihan dan produktivitas.
d. Peningkatan kompetensi dan profesionalisme Sumber Daya Manusia Pelatihan.
e. Peningkatan Penerapan Program Tree In One di Lembaga Pelatihan Kerja.
f. Peningkatan Sarana dan Prasarana Pelatihan.
Sedangkan kebijakan dari Strategi untuk mencapai sasaran Misi Pertama sebagai berikut:
a. Peningkatan kompetensi dan produktivitas tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
b. Meningkatkan koordinasi fungsional antar instansi / lembaga untuk lebih mengefektifkan program – program pendidikan dan pelatihan tenaga kerja.
4.3.2. Meningkatkan perluasan kesempatan kerja dan penempatan
transmigrasi
Strategi untuk mencapai Misi Kedua sebagai berikut ;
b. Meningkatkan kerja sama dengan pihak – pihak terkait dalam penyerapan tenaga kerja, baik regional, nasional maupun
internasional.
c. Meningkatkan koordinasi dan kerjasama dalam penyelenggaraan
bursa kerja dan optimalisasi sistem informasi bursa kerja yang
mudah diakses oleh masyarakat.
d. Memperluas dan menciptakan lapangan kerja untuk mengurangi
jumlah penganggur dengan mendorong tumbuh kembangkannya
berusaha di sektor informal / usaha mandiri atau pada perusahaan
padat karya.
e. Peningkatan system informasi pasar kerja , pengaturan dan
penempatan tenaga kerja melalui mekanisme Antar Kerja Lokal
( AKL ), Antar Kerja Daerah ( AKAD ), Antar Kerja Antar Negara
Sedangkan kebijakan dari Strategi untuk mencapai sasaran Misi Kedua
sebagai berikut:
a. Peningkatan dan perluasan lapangan pekerjan di berbagai sektor.
b. Perluasan kesempatan perlu lebih dimantapkan melalui
usaha-usaha dan langkah - langkah menyeluruh dan terpadu.
c. Pemanfaatnan jumlah angkat kerja yang besar sebagi kekuatan
pembangunan perlu dilakukan dengan peningkatan usaha – usaha pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia.
4.3.3. Meningkatkan pembinaan hubungan industrial
Strategi untuk mencapai Misi Ketiga sebagai berikut ;
a. Fasilitasi penyelesaian prosedur penyelesaian perselesihan hubungan industrial.
b. Fasilitasi penyelesaian, perlindungan hukum dan jaminan sosial. c. Sosialisasi berbagai peraturan Pelaksanaan tentang
ketenagakerjaan.
Sedangkan kebijakan dari Strategi untuk mencapai sasaran Misi Ketiga sebagai berikut:
a. Memantapkan ketenangan bekerja dan berusaha. b. Meningkatkan kesejahteraan pekerja dan buruh. c. Mencegah terjadinya keresahan hubungan industrial.
4.3.4. Meningkatkan perlindungan tenaga kerja
Strategi untuk mencapai Misi Keempat sebagai berikut ;
a. Meningkatkan pengawasan dan perlindungan tenaga kerja sesuai
norma hukum yang berlaku,serta meningkatkan peran lembaga
ketenagakerjaan.
b. Meningkatkan fungsi pengawasan ketenagakerjan untuk
Sedangkan kebijakan dari Strategi untuk mencapai sasaran Misi Keempat
sebagai berikut:
a. Penegakan hukum dan perlindungan tenaga kerja.
b. Peningkatan pelaksanaan pengawasan norma kerja ,norma
perempuan dan anak
4.3.5. Meningkatkan sarana pelayanan ketenagakerjaan dan
ketransnmigrasian
Strategi untuk mencapai Misi Kelima sebagai berikut ;
a. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang profesional dan disiplin aparatur untuk pelayanan bagi masyarakat.
b. Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana perkantoran
Sedangkan kebijakan dari Strategi untuk mencapai sasaran Misi Kelima sebagai berikut:
a. Mengembangkan kemampuan kualitas dan kuantitas layanan sumber daya manusia di bidang ketenagakerjaan dan ketransmigrasian.
BAB.V.
RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN, DAN PENDANAAN INDIKATIF
Perencanaan Program Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian Tahun 2010 – 2015 meliputi Program kewenangan urusan wajib, program urusan pilihan ,pelaksanaan tugas Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan, serta pelaksanaan tugas umum pemerintahan. 1. Kewenangan Urusan Wajib Ketenagakerjaan.
a. Program dan kegiatan yang akan dilaksanakan tahun 2010 – 2015 adalah sebagai berikut :
1. Program Administrasi Perkantoran dengan Kegiatan :
a. Penyediaan Jasa Komunikasi, Sumber daya air dan listrik. b. Penyediaan Jasa kebersihan kantor.
c. Penyediaan jasa perbaikan peralatan kerja. d. Penyediaan alat tulis kantor.
e. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan.. f. Penyediaan makanan dan minuman
g. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke Luar Daerah. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur dengan
Kegiatan :
a. Pengadaan perlengkapan gedungkantor. b. Pengadaan peralatan gedung kantor. c. Pengadaan Mebelair
d. Pemeliharaan rutin / berkala gedung kantor.
e. Pemeliharaan rutin / berkala kendaraan dinas / operasional. f. Pemeliharaan rutin / berkala perlengkapan gedung kantor. g. Pemeliharaan rutin / berkala peralatan gedung kantor. h. Pemeliharaan rutin / berkala mebeleair.
a. Sosialisasi peraturan perundang undangan.
4. Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja Keuangan dengan kegiatan :
a. Penyusunan laporan capaian kinerja dan ikhtisar realisasi kinerja SKPD.
b. Penunjang Kinerja PA,PPK, Bendahara dan Pembantu. c. Penyusunan Lakip ( Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah )
d. Penyusunan LKPJ ( Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban )
e. Penyusunan Renja ( Rencana Kerja Tahunan ) f. Penyusunan Program Kerja SKPD
g. Penyusunan Profil SKPD
h. Penyusunan RKA dan DPA Murni serta Perubahan. i. Penyusunan Buku Data Base
j. Penyusunan Buku Informasi Ketenagakerjaan k. Penyusunan Buku Saku.
5. Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja. Dengan Kegiatan :
a. Peningkatan profesionalisme tenaga kepelatihan dan instruktur BLK.
b. Pendidikan dan pelatihan ketrampilan bagi pencari kerja. c. Peningkatan produktivitas tenaga kerja.
d. Pemagangan.
6. Program Peningkatan Kesempatan Kerja.dengan Kegiatan : a. Penyusunan informasi bursa tenaga kerja.
d. Pengembangan kelembagaan produktivitas dan pelatihan kewirausahaan..
e. Pemberian fasilitas dan mendorong sistem pendanaan pelatihan berbasis masyarakat.
f. Penempatan Transmigrasi. g. Padat karya produktif.
7. Program Perlindungan Pengembangan Lembaga Ketenagakerjaan dengan Kegiatan :
a. Fasilitasi penyelesaian prosedur penyelesaian perselisihan hubungan industrial.
b. Fasilitasi penyelesaian prosedur pemberian perlindungan hukum dan jaminan sosial ketenagakerjaan.
c. Sosialisasi berbagai peraturan pelaksanaan tentang ketenagakerjaan.
d. Peningkatan pengawasan , perlindungan dan penegakan hukum terhadap keselamatan dan kesehatan kerja.
b. Sasaran :
1. Tersedianya tenaga kerja dan tenaga kepelatihan yang profesional dengan indikator :
a. Peningkatan profesionalisme tenaga kepelatihan sebanyak 670 0rang
b. Peningkatan produktivitas tenaga kerja sebanyak 330 0rang c. Peningkatan pelatihan berbasis pemagangan sebanyak 415
0rang
d. Peningkatan ketrampilan bagi pencari kerja sebanyak 2.310 0rang
e. Meningkatnya kompetensi tenaga kepelatihan 25 %.
2. Meningkatnya Angka Partisipasi Angkatan Kerja sebesar 63,51 %
dengan indikator :
3. Meningkatnya Tingkat partisipasi angkatan kerja sebesar 66,71 %
dengan indikator :
a. Tingkat partisipasi angkatan kerja sebesar 66,71 %
4. Meningkatnya pencari yang ditempatkan sebesar 25 % dengan
indikator :
a. Penempatan pencari kerja sebanyak 49.050 0rang
5. Menurunya tingkat pengangguran terbuka sebesar 2,5 % dengan
indikator :
a. Menurunya jumlah pengangguran sebesar 0,5% per tahun.
6. Terwujudnya peningkatan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha
disektor informal sebanyak 3.105 0rang dengan indikator :
a. Tingkat mendapatkan kesempatan kerja, kesempatan berusaha
disektor informal sebanyak 3.105 0rang.
7. Terwujudnya akses pasar kerja melalui sistem informasi
ketenagakerjaan ( siketan ) sebanyak 49.050 0rang dengan indikator :
a. Pelayanan bursa kerja online dan job fair sebanyak 10 kali
b. Penempatan tenaga kerja sebanyak 49.050 0rang.
8. Terwujudnya peningkatan kualitas kemandirian dan daya saing
melalui pelatihan wirausaha sebanyak 4.220 0rang dengan indikator :
a. Kemandirian tenaga kerja melalui pelatihan wirausaha
rsebanyak 4.220 0rang
9. Menurunya angka sengketa pengusaha dan pekerja sebesar 10 % dengan indikator :
a. Menurunya perselisihan hubungan industrial ( PHI,PHK, Unjuk rasa/Mogok ) 2 % per tahun.
10.Meningkatkan efektifitas lembaga – lembaga ketenagakerjaan dan sarana-sarana hubungan industrial dengan indikator :
a. Adanya rekomendasi LKS tripartit sebanyak 10 tripartit.
11.Meningkatkan syarat-sayarat ( PP/PKB) dan kesejahteraan pekerja / buruh dengan indikator :
a. Terbentuknya koperasi karyawan sebanyak 180 koperasi. b. Terbentuknya PP/PKB sebanyak 240 PP/PKB
c. Tersedianya angka KHL sebanyak 60 KHl d. Tersedianya usulan UMK sebanyak 5 UMK
12.Meningkatkan pelayanan penyelesaian perselisihan dan unjuk rasa / mogok kerja dengan indikator :
a. Terselesaikanya 1.000 kasus hubungan industrial.
b. Terlaksananya pencegahan keresahan sebanyak 50 perusahaan
c. Terselesaikanya 25 kasus mogok kerja
13.Meningkatkan perlindungan tenaga kerja dan peningkatan
keselamatan dan kesehatan kerja dengan indikator :
a. Meningkatkanya jumlah perusahaan yang menerapkan K3
/Keselamatan dan kesehatan kerja terhadap 570 perusahaan.
( 45,8 % )
b. Penyuluhan K3 sebanyak 290 perusahaan
c. Pemeriksaan ketenagakerjaan 3.401 perusahaan
14.Terwujudnya peningkatan kualitas sumber daya manusia ( SDM ) aparatur yang beretos kerja tinggi. Dengan indikator :
a. Terwujudnya pola kerja yang lancar dan nyaman dalam menyelesaikan tugas
2. Kewenangan Urusan Pilihan Transmigrasi.
Untuk urusan pilihan transmigrasi tidak melaksanakan di karenakan kegiatan penempatan transmigrasi sudah dimasukan dalam program peningkatan kesepatan kerja .
BAB.VI.
INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN RPJMD
No Indikator
d. Fasilitasi pelatihan tenaga kerja
- 60 60 60 60 60 300
e. Akreditasi LPK
- 0 5 5 5 5 20
f. Identifikasi pelatihan tenaga kerja
- 0 0 0 0 0 0
g. Jejaring pelatihan
- 0 0 0 0 0 0
h. Pelatihan berbasis kompetensi
16 0 0 0 0 0 0
I Pembinaan LPK
40 0 0 0 0 0 0
2. Produktivitas Tenaga Kerja
a. Pelatihan Peningkatan produktivitas
40 60 65 65 70 70 330
b. Identifikasi dan pengukuran
- 0 0 0 0 0 0
c. Produktivitas tenaga kerja
b. Sosialisasi ke instansi
- 0 0 0 0 0 0
c. Pelatihan berbasis pemagangan
II
Tingkat partisipasi angkatan kerja ( 66,71%
) 64,75% 65,40% 65,73% 66,05% 66,38% 66,71% 66,71%
4
Pencari kerja yang ditempatkan 49.050 0rg ( 25 %)
e Penyiapan tenaga kerja siap pakai
100 100 225 250 175 300
1.050
f Pelatihan wirausaha baru
h Pelatihan wirausaha baru DBHCHT
240 240 240 260 280 300
1.320
i Tenaga kerja mandiri ( TKM)DBHCHT
- 125 125 150 150 200
750
j Padat karya produktif
nan Angka KHL 60 kali
j Sosialisasi UMK 5 kali 0 1 1 1 1 1 5
k Sosialisasi Peraturan Perundangan 40 80 80 80 80 80 400
tentang ketenagakerjaan 400 persh
2
Meningkatnya jumlah perusahaan yang menerapkan K3 /Keselamatan dan
perlindungan sebanyak 570 persh ( 45,8%) 237 persh 329 382 439 502 570 570
a Terbentuknya kelembagaan K3 48 53 57 63 68 289
(P2K3) di Perusahaan sebanyak 570 persh
b Penyuluhan K3 30 50 55 55 65 65 290
BAB.VII. PENUTUP
Penyusunan Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Semarang digunakan sebagai acuan, pedoman, arahan, dan tolok ukur dalam melaksanakan kegiatan pembangunan di Bidang Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian selama kurun waktu 2010 - 2015, agar dapat terlaksana secara efektif dan efisien.
Rencana Strategis yang telah dirumuskan berdasarkan tugas pokok dan fungsi serta dokumen perencanaan jangka menengah daerah akan dapat berhasil dengan asumsi adanya dukungan alokasi dana serta komitmen penuh dan dukungan sepenuhnya oleh berbagai pihak yang terkait
Koordinasi merupakan prinsip yang paling penting dalam melaksanakan perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi hingga pelaporan hasil-hasil pelaksanaan kegiatan.
Semarang, 14 Pebruari 2011 KEPALA DINAS TENAGA KERJA DAN
TRANSMIGRASI KOTA SEMARANG
GUNAWAN SAPTOGIRI, SH., MM. Pembina Tk. I