Kejelasan dan Penegakan Hukum Terhadap Hak Asasi Wanita
Persamaan sangat mendasar bagi setiap masyarakat demokratis yang bertekad kuat melaksanakan keadilan dan hak asasi manusia. Setia lapisan masyarakat serta setiap bagian dari dunia ini menegakkan hak atas dasar persamaan, terlebih lagi bagi para perempuan. Perempuan sampai saat ini masih menjadi objek diskriminasi. Diskriminasi ini terjadi di berbagai belahan dunia. Wanita masih dianngap sebelah mata kehadirannya. Menurut data laporan dari
Perserikatan bangsa–bangsa atau biasa yang disebut dengan PBB per tahunnya ada sekitar satu juta bayi yang meninggal, dan kebanyakan dari itu merupakan bayi berjenis kelamin perempuan. Diskriminasi terhadap perempuan masih banyak yang berkaitan dengan ikatan tradisi. Tidak bisa di pungkiri walaupun sekarang zaman sudah semakin maju, tetapi terkadang segala perbuatan, tindakan serta keputusan masih terikat dan masih tergantung pada beberapa tradisi. Perempuan merupakan mayoritas orang misik serta orang kelaparan di dunia. Di beberapa negara
terbelakang seperti Ethiopia, Zimbabwe, dan beberapa negara lain di benua afrika, perempuan bekerja 13 jam lebih lama dibandingkan pria. Namun upah yang diterima sekitar 30% sampai 40% lebih kecil dibandingkan pria. Bahkan sudah tidak asing lagi kalau mendengar banyak pekerja wanita yang tidak diberi upah atas hasil kerjanya.
Perempuan sangat menderita dalam administrasi peradilan. Di banyak negara perempuan tidak memiliki hak hukum yang sama dengan laki–laki. Ketika ditahan atau dipenjarakan
perempuan akan lebih rentan mendapatkan perlakuan tak senonoh khususnya serangan dalam bentuk seksual. Wanita masih sering menjadi alat atau boneka yang digunakan untuk
menjalankan suatu kejahatan. Hal ini dilakukan atas asumsi bahwa wanita itu lemah polos sehingga akan menimbulkan kecurigaan serta tidak begitu banyak memancing perhatian. Contoh kasus, masih banyak barang selundupan berupa narkoba dan barang curian yang menggunakan wanita sebagai alat transaksi atau pindah memindah barang. Di bandara sering tertangkap seorang wanita atau lebih menyimpan berbagai barang terlarang di daerah intim atau di daerah kewanitaannya untuk meminimalisir kecurigaan. Sejujurnya dibalik itu wanita hanya sebagai korban dan kelinci percobaan. Perempuan masih menjadi objek pembunuhan dan kekerasan sebagian besar. Dan mereka para perempuan, masih menjadi bagian terbesar pengungsi dan orang–orang terlantar diseluruh dunia.
Kemanakah hukum–hukum itu berada saat diperlukan ? Piagam Perserikatan Bangsa– Bangsa adalah instrumen hukum Internasional pertama yang dengan tegas menegaskan
Namun sayangnya diskriminasi terhadap jenis kelamin masih terjadi hingga saat ini. Di Jepang, perempuan tidak diperbolehkan sama sekali duduk dalam pemerintahan, apalagi menjadi pemimpin negara. Walaupun dibeberapa negara, keberadaan perempuan sudah mulai diakui serta derajat serta kedudukunnya sudah disamakan oleh laki–laki. Indonesia serta Korea Selatan merupakan bentuk dari berbagai negara yang pernah mempunyai seorang pemimpin(presiden) dalam masa pemerintahannya. Di beberapa negara maju perempuan sudah diberi kebebasan dalam partisipasi politik, sosial maupun budaya. Tetapi disis lain di beberapa negara berkembang keberadaan serta keamanan wanita masih sangat kurang mendapat perhatian. Tiap tahunnya tingkat kekerasan serta pelecehan seksual terhadap wanita semakin meningkat. Saat terjadinya suatu konflik ataupun penyerangan di suatu daerah maupun negara, kebenyakan wanita yang akan menjadi korban. Disaat–saat seperti ini tidak ada hukum pasti yang ditegakkan atas perlindungan wanita. Walaupun dibeberapa keadaan wanita dan anak–anak dibawah perlindungan tapi tetap saja masih banyak korban yang berjatuhan. Mereka masih menjadi sasaran utama penyerangan karena kelemahan serta ketidakberdayaan mereka.
Perdagangan wanita, pelecehan secara seksual, serta kekerasan masih menjadi kasusu yang sering terjadi. Wanita masih sering dipekerjakan secara paksa, tidak diberi upah dan bahkan yang lebih parahnya lagi ditambah dengan tindak kekerasan serta pelecehan seksual. Para TKW Indonesia yang bekerja di berbagai negara tidak mempunyai hukum perlindungan yang kuat mendampingi mereka. Akibatnya jika sesuatu yang buruk terhadap mereka, berbagai tuntutan– tuntutan hanya akan mengambang begitu saja tanpa menemui titik solusi. Traffiking merupakan perdagangan manusia maupun perdagangan organg yang mana sebagian besar objek yang digunakan adalah wanita. Wanita diperjual belikan secara bebas tanpa ada hukum yang sesius untuk memereantas kasus ini. Pelecehan secara seksual bagi pelaku dikenakan beberapa sanksi tertentu. Tapi dibalik pengenaan sanksi terhadap pelaku tersebut, perempuan sebagai korban memiliki traumatic besar yang akan susah untuk dilupakan untuk seumur hidupnya. Terlihat belum ada hukum yang benar–benar bisa memastikan perlindungan serta memperjuangkan hak untuk wanita.