KONGRES INTERNASIONAL
BA
A-B
A
D E
H
SULAWE SI
TENGGARA
BAV B
18--2 0 JULI 2010
EDITOR
ciR,osIIrwg
KONGRES INTERNASIONAL
BAHASA-BAHASA DAERAH SULAWESI TENGGARA
TAHUN 2010
KOTA BAUBAU, 18-20 JULI 2010
PERPUSTAKAAN
PUSAT BAHASA
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
EDITOR
Prof. Dr. H. Hanna, M.Pd.
Firman A.D., S.S., M.Si.
Sandra Safitri, S.S., M.A.
El
KANTOR BAHASA PRO VINSI SULAWESI TENGGARA
PUSAT BAHASA
KI&S-i
~
fike3iLtp3j
CIA
Prosiding Kongres Internasional Bahasa-bahasa Daerah Sulawesi Tenggara Tahun 2010
ISBN
978-979-069-055-4Diterbitkan oleh
Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara
Kementerian Pendidikan Nasional
Jalan Haluoleo, Kompleks Bumi Praja, Anduonohu, Kendari.
Editor
: Prof. Dr. H. Hanna, M.Pd., Firman A.D., S.S., M.Si., Sandra Safitri, S.S., M.A.
Penata Letak : Firman A.D. dan Harry
Pewajah Kulit Harry
HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG
Dilarang memperbanyak isi buku
mi,
baik sebagian maupun seluruhnya, dalam bentuk apapun tanpa
izin tertulis dari penerbit., kecuali dalam hal pengutipan untuk keperluan penutisan artikel atau
karangan itmiab.
Hak
cipta pada Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara
Katalog Dalam Terbitan (KDT)
406.2
PRO Prosidmg
p
Prosiding Kongres Internsional Bahasa-bahasa Daerah Sulawesi Tenggara Tahun 2010.
--Kendari:
Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara, 2010, 440 hal., 19 cm 28 cm.
DAFTAR 1St
Halaman Sampul
Kata Pengantar Kepala Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara Daftar Isi
Sambutan Kepala Pusat Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional Sambutan Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara
Laporan Pelaksanaan Kongres
Bahasa Daerah Sebagai Sarana Pencerdasan Bangsa Indonesia
Mansyur Ramly (Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan
Nasional) ... Peranan Bahasa Daerah Sebagal Wahana Peningkatan Daya Apresiasi Budaya Daerah
Sugiyono dan Azhari Dasman Darnis (Pusat Bahasa, Jakarta) ...7 Dialektika dan Kebijakan Keberaksaraan di Kota Baubau
ML Amirul Tamim (Wall Kota Baubau) ...11
- Pelestarian Bahasa Daerah di Kabupaten Buton
Ir. L.M. Syafei Kahar (Bupati Buton) ...17 Kebijakan Pemerintah dalam Upaya Pemertahanan dan Pelestarian Bahasa Moronene di
Kabupaten Bombana
Atikurahman(Bupati Bombana) ...23 Kebijakan Pemerintah dalam Upaya Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Kulisusu
Harmin Han (Wakil Bupati Buton Utara) ...27 Bahasa Daerah di Era Globalisasi
Laode Ida (DPD Republik Indonesia) ... 32_ Kaitan Pemetaan Bahasa dengan Potensi Bahasa Daerah
Multamia R.M.T. Lauder (Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya,
UniversitasIndonesia) ...36 The Writing System of The Ciacia Language
Ho-Young Lee (Seoul National University), Tai Hyun Chun (Hankuk University of Foreign
Studies), and Hyosung Hwang (Seoul National University) ...51 Pembelajaran Bahasa Daerah Muna dalam Konteks Muatan Lokal
La Ode Sidu Marafad (Universitas Haluoleo) ... 54
Ajaran Martabat Tujuh dan Pengaruhnya di Nusantara
Abdul Hadi W. M. (Universitas Paramadina) ... 59
Peran Bahasa Daerah Sebagai Sarana Pembangunan Berwawasan Kerakyatan dan Penawar Dampak Negatif Globalisasi
Mashadi Said, Farid Thalib, dan A. Banri, E. (Universitas Gunadarma) ...66 Pengembangan Kecerdasan dan Integritas Berdasarkan Teori Neurology
Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Tenggara dalam Kaitannya dengan Genealogi
Masao Yamaguchi (Universitas Setsunan, Osaka, Jepang) ... 74
Peran Media Massa dalam Pelestarian dan Pembinaan Bahasa dan Sastra Daerah:
Surat Kabar Bahasa Daerah Sebagai Strategi untuk Mempertahankan Bahasa dan Sastra Daerah
Timothy Friberg (Amerika Serikat) ... 91 /
Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Daerah
Mahsun (Universitas Negeri Mataram) ... 100
Sejarah Kebudayaan Buton: Suatu Penelurusan ke Arah Rekonstruksi
Susanto Zuhdi (Universitas Indonesia) ... 108
Bahasa Daerah Sebagai Sarana Pencerdasan dan Pengembangan Potensis Daerah Sulawesi Tenggara pada Era Globaksasi: Pelestarian dan Pembinaan Bahasa dan Sastra Daerah dalam Era Globalisasi
Barbara Friberg (Amerika Serikat) ... 118
Penerapan Kaidah Algontma Genetik dalam Pemulihan Bahasa Daerah dari Degradasi
Farid Thalib dan Mashadi Said (Universitas Gunadarma) ... ... 125
Relasi Kekerabatan Antarbahasa dalam Subkelompok Muna-Buton-Wakatobi, di Kepulauan Lepas Pantai Provinsi Sulawesi Tenggara: Kajian Linguistik Diakronis
Inyo Yos Fernandez (Universitas Gadjah Mada) ... 133
Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Moronene
T. David Andersen (Summer Institute of Linguistics) ... 139
Revitalisasi Peran Bahasa Ibu dalam Menangkal Arus Globalisasi
7
Lukman (Universitas Hasanuddin) ... 148Revitalisasi Bahasa Daerah dalam Konteks Sosial Indonesia
Amrin Saragih (Balai Bahasa Medan) ... 154
Quo Vadis Bahasa Minoritas: Tantangan dan Solusinya
Hamzah Machmoed (Universitas Hasanuddin) ... 161
Melindungi Bahasa dan Identitas Lokal
Lalu Abd. Khalik (Universitas 45 Makassar) ... ... 165
Perilaku Sintaksis Adjektiva Bahasa Muna Dialek Gu-Mawasangka
Zalili Sailán (Universitas Negeri Jakarta) ... 170
Dun Pucuk Surat Kerajaan Buton dari Abad Ke-17: Kandungan Isi, Bahasa, dan Konteks Sosio-Historis
Suryadi (Universitas Leiden, Betanda) ... 179
Menyinergikan Pengajaran Bahasa Asing, Pengembangan Bahasa Nasionat, dan Pemertahanan Bahasa Daerah
Muhammad Amin Rasyid (Universitas Negeri Makassar) ... 193
Upaya Pelestarian Bahasa Daerah di Sulawesi Tenggara Melalui Kajian Kekerabatan Antara Bahasa-Bahasa Buton, Muna, dan Tolaki
Ikhwan M. Said (Universitas Hasanuddin) ... 198
Cerita Bergambar Bersumber dari Cerita Rakyat Nusantara: Antara Jembatan Pemahaman Budaya dan Upaya Peningkatan Minat Baca
B. Trisman (Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan) ... 204
Larangan Inses datam Mitos "Koloimba": Menengok Jendela Budaya Masyarakat Tolaki
Jejak Bahasa Melayu (Indonesia) dalam Bahasa Muna
Nurhayati (Universitas Hasanuddin) ... 217
Menggali Nilai-Nilai Budaya Melalui Kesantunan Berbahasa
Artanti(Pusat Bahasa) ... 224
Pemertahanan Bahasa Muna di Daerah Rantau Sulawesi Tengah
Siti Fatinah (Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah) ... 228
Perbedaan Ejaan Latin Antara Bahasa Malaysia dan Bahasa Indonesia dalam Pengaruh Skrip Arab
Cho Tae Young (Universitas Hasanuddin) ... 236
Pembelajaran Bahasa dan Sastra Daerah Berbasis Multikultural dalam Mewujudkan Pendidikan yang Berkarakter di Era Globalisasi
Edliy Rustan (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Palopo) ... 247
Binongko: Bahasa, Besi, clan Tukang Besi
Laila Kurniawaty (Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara) ... 250
Pemberdayaan Bahasa Daerah Sebagai Alat Komunikasi Berbasis Kearifan Lokal
Anang Santoso (Universitas Negeri Malang) ... 254
Analisis Akustik Konsonan /-h/dalam Kata Terbitan Berimbuhan (-an) /-an/
Hirobumi Sato (Brunei Darussalam) ... 260
Pemberdayaan Bahasa clan Sastra Daerah Sebagai Upaya Pelestarian Bahasa clan Kearifan Lokal
Sahian(Universitas Haluoleo) ... 272
Buton, Feminisme, clan Wa Ode Wulan Ratna
Syaifuddin (Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara) ... 278
Bahasa Wolio di Kerajaan Buton (Satu Kajian Berdasarkan Naskah Kuno)
La Niampe (Universitas Haluoleo) ... 288
Seni Pertunjukan Kaöanli: Soal Pewarisan Budaya dan Kebijakan Pemerintah
Asrif (Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara) ... 293
Sintaksis Bahasa Kodeoha (Suatu Kajian Transformasi Generatif)
Mantasiah R. (Universitas Negeri Makassar) ... 302
Nilai Etika dan Kesantunan dalam Berbahasa Daerah
Hilaluddin Hanafi (Universitas Haluoleo) ... 309
Perubahan Makna Pungutan Kata Bahasa Arab dalam Bahasa Wolio
Firman A.D. (Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara) ... 312
Pelestarian Bahasa Daerah Moronene Sebagai Kekayaan Budaya Daerah Sulawesi Tenggara
Anton Ferdinan (Forum Ilmiah Guru Kabupaten Bombana) ... 318
Sastra Lisan Kabanli Sebagai Ruang Rekulturasi Budaya Buton
SumimanUdu (Universitas Haluoleo) ... 324
Pelestarian Bahasa Melalui Penetusuran Kekerabatan Bahasa-Bahasa dalam Wilayah Administratif yang Berbeda (Tinjauan terhadap Isolek Bonerate di Lepns Pantai Setatan Pulau Sulawesi)
Sandra Safitri (Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara) ... ... 332
Nilai-Nilai Demokrasi dalam Sastra Wollo
Bahasa Clacia dalani Peradaban di Llngkungannya
La Ode Alirinan (Tokoh Masyarakat Baton) ... 343
Makna Superioritas Tokoh Adik dalam Cerita Rakyat Moronene
Heksa Biopsi P.11. (Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara) ... 350
Kognat Bahasa Wollo-Jawa
Sry Satriya Tjatur Wisnu Sasangka (Pusat Bahasa) ... 354
Relasi Bahasa Laiyolo don Selayar di Pulau Selayar Sulawesi Selatan dengan Wollo di Sulawesi Tenggara (Kajian Lingustik Historis Komparatif)
Rahmawatl (Universitas Gadjah Mada) ... 361
Pemertahanan don Pergeseran Bahasa Ibu di Poleang Kabupaten Bombana: Suatu Pengamatan Awal
Asri (Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara) ... 367
Fenomena Sastracyber: Santo Upaya Penibelajaran Sastra secara Independen
Hasnarianti (Universitas Muhainmadiyah Makassar) ... 371
Gaya Bahasa dalam Cents Rakyat Tolaki: Upaya Menggali Potensi Lokal Sebagai Pemerkaya Budaya Bangsa
Herlanah (Balal Bahasa Ujung Pandang) ... 376
Peranan Sastra dalam Peniertahanan Nilal-Nilal Budaya Lokal Sebagal Pemerkukuh Identitas dan Ketahanan Bangsa dalaun Era Globatisasi
Rosida Tiurma Manurung (U.K Maranatba Bandung) ... 383
Modalitas dalam Ungkapan Tradisional Muss: Analisis Wacana Kritis
Ramlab Mappau (Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara) ... 387
Nftai-NHai Sastra Lisan Kabhweci Ciacis dalam Membangun Kebudayaan Masyarakat di Era Globalisasi
La Jarubi (Guru dl Kota Baubau) dan Edhy Rustan (Dosen STAIN Palopo) ... 392
Strategi Pemertahanan Bahasa dan Sastra Daerah di Era Globalisasi
Muh. Alamsab (Universitas Muhammadiyah Kendarl) ... 401
Komunikasi Lisan datsun Kinoko Sara: Puisi Totaki
Zaklyah M. Husba (Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara) ...406
Budaya yang Tercermin/Terungkap dalam Kato don Kate yang Mencerminkan Budaya: Desknlpsl Mengenal Budaya dan Bahasa Jawa
Tri Saptarini (Batal Bahasa Bandung) ... 412
Upaya Pelestarian Dan Pemertahanan Bahasa Dl Daerah Pluralis
La Ode Mane Mbeu (Kepala SMA Negenl 1 Konda, Konawe Selatan) ... 415
Tema Ketldakadilan Gender dalam Cerlta Rakyat Mons "Wa Ode Ginunduni" don Cenita Rakyat Bali "Tuung Kuning" (Kajian Sastra Bandingan)
Rabmawati (Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara) ... 419
Kondisi Bahasa Daerah Sebagai Aset Budays di Era Globalisasi (Studi Bahasa Daerah Bugis-Makassar dl Sulawesi Selatan)
Syamsut Bahnl (Balal Penelitlan Sejarah dan Nilal Tradisional Makassar) ... 426
Sistein Aliksasi Nomina datsun Bahasa Mona Dialek Mawasangka
AjiPrasetyo (Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara) ... 431
Varlasi Penggunaan Majas Perbandingan dalam Antologi Pais! Baubau Seribu Bulan
PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA DAERAH
BERBASIS MULTIKULTURAL DALAM MEWUJUDKAN PENDIDIKAN YANG BERKARAKTER DI ERA GLOBALISASI
Edhy Rustan
(Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Palopo)
1. Pengantar
Bangsa Indonesia terdiri atas berbagai macam suku, budaya, dan bahasa daerah. Realitas tersebut secara positif menggambarkan kekayaan masyarakat yang bertipe pluralis. Adanya suku bangsa yang berbeda-beda latar belakang kehidupannya turut memberikan corak kebudayaan tersendiri bagi hidup dan kehidupan masyarakatnya.
Adanya potensi daerah, budaya dan bahasa yang beragam sering menjadi pemicu lahirnya suatu masalah pada suatu daerah. Setiap etnik atau ras cenderung mempunyai semangat dan ideologi yang etnosentris, yang menyatakan bahwa kelompoknya lebih superior daripada kelompok etnik atau ras lain. Kondisi tersebut disebabkan oleh masyarakat yang tidak merasa nyaman karena tidak saling mengenal identitas budaya orang lain. Salah satu penyebabnya adalah ketidakpahaman dengan nilai-nilai budaya yang dikomunikasikan melalui bahasa daerah setiap etnik. Adanya pengetahuan yang minim tentang budaya-budaya yang ada, mendorong meningkatnya prasangka terhadap orang lain, bahkan berujung sikap antipati yang didasarkan path kesalahan generalisasi.
Selain masalah di atas, masalah lain yang sangat mengancam adalah memudarnya rasa memiliki generasi muda terhadap peninggalan budaya dalam bentuk bahasa dan sastra daerah sebagai akibat Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi pada era globalisasi liii yang telah mampu meniadakan batasan-batasan negara dan waktu. Adanya pandangan generasi mudah sekarang, bahwa mempelajari bahasa dan sastra daerah menipakan hal yang kolot dan tidak modern. Pemikiran seperti itu han's secepatnya dikurangi karena dapat berpengaruh pada punahnya potensi lokal yang memiliki nilai-nilai yang sangat tinggi yang sekaligus merupakan karakter bangsa sendiri.
Salah satu solusi yang ditawarkan untuk mengantisipasi terjadinya masalah tersebut adalah melakukan pembelajaran dengan berbasis multikultural yang mengedepankan potensi lokal di sekolah dalam membentuk generasi muda yang berkarakter dan tetap maju. Selain hal tersebut, kesadaran diri siswa terhadap nilai-nilai keberbedaan dan keberagaman yang melekat dapat dijadikan sebagai potensi dalain membangun can' pandang generasi muda yang berwawasan nasionalis di era globalisasi
mi.
2. Pembelajaran Berbasis Multikultural
Secara etiinologi, multikulturalisme berasal dari kata "multi" yang berarti plural, dan "kultural" yang berarti budaya, sedangkan "isme" berarti paham atau aliran. Jadi multikulturalisme secara sederhana adalah paham atau aliran tentang budaya yang plural. Dalam pengertian yang lebih mendalam, istilah multikulturalisme bukan hanya sekadar pengakuan terhadap buthya yang beragam, melainkan pengakuan yang memiliki implikasi-implikasi politis, ekonomi, dan sosial. Dalam perkembangannya, gagasan mulikulturalisme
mi
menjadi sebuah gagasan yang dipandang perlu untuk dipromosikan sehingga menjadi bagian yang melekat path diri masyarakat global, di mana setiap masyarakat pasti memilild perbedaan dengan yang lainnya.Gagasan multikultural iiii muncul path tahun 1960-an, pertama kali di Amerika dan negara-negara Eropa Barat, melalui gerakan yang menuntut diperhatikannya hak-hak sipil (civil right movement). Tujuan utama dari gerakan
mi
adalah mengurangi praktik-praktik diskriminasi di tempat publik, rumah, tempat kerja, dan lembaga pendidikan yang dilakukan oleh kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas. Selanjutnya gagasan multikulturalisme pun berkembang ke arah dunia pendidikan dan dikenal dengan pembelajaran multikulturalisme.Pembelajaran multikulturalisme adalah kebijakan dalam praktik pendidikan dalam mengakui, menerima, dan menegaskan perbedaan dan persamaan manusia yang dikaitkan dengan budaya, gender, ras, dan kelas sosial. Pembelajaran multikultunal
mi
diterapkan di lingkungan sekolah untuk memberikan pemahaman kepath siswa tentang keberagaman. Melalui pembelajaran berbasis multikultural, sikap dan pemikiran (mindset)siswa akan lebih terbuka untuk memahami dan menghargai keberagaman.
Pendidikan multikultunal sangat penting diterapkan guna meminimalisasi dan mencegah terjadinya pengotak-ngotakan pada diii siswa. Melalui pendidikan berbasis multikultural, sikap dan pemikinan siswa akan lebih terbuka untuk memahami dan menghargai keberagaman thlam hal ini adalah keberagaman buthya yang tertuang dalam kesusatraan setiap etnik. "Dengan pengembangan model pendidikan berbasis multikultunal diharapkan mampu menjadi salah satu metode pembelajaran yang thpat mempersatukan bangsa yang meiniliki
budaya, bahasa, dan adat istiadat yang berbeda-beda. Selain itu, pendidikan multikultural dapat menanamkan sekaligus mengubah pemikiran peserta didik untuk benar-benar tulus menghargai keberagaman, etnis, dan agama (Samion dalam Yohanes Supriadi, 2009:1).
Pengenalan model pendidikan multikultural dapat diLakukan dengan menggunakan wadah sastra daerah yang sekaligus merupakn aset budaya lokal. Pembelajaran
mi
dikemas dengan menghadirkan sastra tiap-tiap daerah ke dalam kelas tanpa ada yang dikecualikan. Berdasarkan penerapan pembelajaran seperti inilah naantinya yang diharpakan untuk menumbuhkan rasa merniliki siswa terhadap budaya yang lain, sehingga kebersamaan dengan sendirinya akan tercipta. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Atok (dalam Yohanes Supriadi, 2009:1) yang menjelaskan bahwa, melalui model pembelajaran berbasis multikultural, siswa diperkenalkan dan diajak megembangkan nilai-nilai dan sikap toleransi, solidaritas, empati, musyawarah, dan egaliter. "Dengan begini, siswa juga memahami kearifan lokal yang merupakan bagian dari budaya bangsa mi. Hal mi bisa mencegah terjadinya pengotak-ngotakan dan pendiskriminasian suatu etnik tertentu".3. Pendidikan yang Berkarakter pada Era Globahsasi
Doni Koesoema A (2007:80) memahami bahwa karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai "ciii, atau karakteristik, atau gaya, atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dan bentukan-bentukan yang diterima dari Iingkungan, misalnya Iingkungan keluarga path masa kecil dan juga bawaan seseorang sejak lahir." Lebih lanjut Dodi Koesoema, A. (2007) mengatakan bahwa, karakter merupakan struktur antropologis manusia. Pendidikan karakter akan memberikan bantuan sosial agar individu dapat tumbuh dalani menghayati kebebasannya dalam hidup bersama dengan orang lain di sekitarnya maupun di dunia. Pendidikan karakter di Indonesia telah lama berakar dalam tradisi pendidikan. Namun, saat sekarang mi perlu lebih digalakkan dalam rangka menjaga pudarnya jati diii bangsa pada era globalisasi mi. Ki Hadjar Dewantara, Soekarno, dan Hatta, telah mencoba menerapkan semangat pendidikan karakter sebagal pembentuk kepribadian dan identitas bangsa sesuai dengan konteks dan situasinya.
Untuk itu, pendidikan di Indonesia diarahkan untuk mampu membentuk insan yang berkarakter dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa path era globalisasi. Adapun perekat pendidikan yang dipakal ialah pembangunan karakter dan semangat kebangsaan atau nation and character building (NCB). Dalam hat liii, karakter kebangsaan merupakan pengembangan jati diii bangsa Indonesia yang pernah dikenal sebagai bangsa yang memiliki nilai-nilai luhur berbudaya yang tertuang dalam bahasa dan sastra daerah masing-masing etnik. Sedangkan semangat kebangsaan adalah keinginan yang amat mendasar dari setiap komponen masyarakat untuk berbangsa. Karakier dan semangat seperti itu akan berkembang, balk secara natural maupun kultural, manuju tercapamnya persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai NKRI.
4. Manfaat Pembelajaran Herbasis Multikultural yang Berkarakter
Manfaat yang dapat diperoleh dari penerapan metode pembelajaran bahasa dan sastra daerah, di antaranya memberikan pemahaman kepada pengajar maupun peserta didik akan perlunya pengertian dan wawasan akan kebudayaan tempat berada. Melalui pembelajaran bahasa dan sastra daerah berbasis multikultural, secara otomatis akan diberikan suatu pelajaran tentang budaya pada tempat yang bersangkutan. Berdasankan pemahaman yang telah ditanamkan tersebut, peserta didik diharapkan mampu beradaptasi-dengan keadaan di sekitar.
Keadaan yang saat liii terlihat athlah adanya sekat-sekat antarsiswa. Sekat-sekat tersebut cenderung disebabkan adanya perbedaan asal siswa. Dengan adanya pembelajanan multikultural diharapkan dapat menghilangkan prasangka siswa dengan siswa lain yang berasal dani budaya yang berbeda. Prasangka budaya tersebut disebabkan kurangnya pengetahuan dan pengertian akan keberadaan budaya lain. Prasangka tersebut juga disebabkan karena adanya sikap antipati terhadap buthya tertentu.
Pembelajaran multikultural diharapkan mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang berwawasan nasional tanpa meninggalkan karakter lokal. Pembelajaran multikultural ini merupakan salah satu media untuk menumbuhkan wawasan sosial yang tentunya sangat diperlukan bagi integritas bangsa ke depannya.
Adanya pemahaman siswa tentang persamaan yang tertanam melalui pembelajaran multikultural, juga dapat menumbuhkan semangat berkompetisi. Semangat berkompetisi liii meliputi suatu keadaan di mana setiap siswa memiliki keinginan, semangat, serta kepercayaan did akan kemampuan yang dimiliki. Dalam hal
mi,
aspek yang masih belum dimiliki oteh sebagian siswa. Kekurangan selama mi terjadi akibat kurang percaya dirinya siswa karena tidak memahami orang lain, sehingga merasa tidak mampu bersaing dengan orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda dengannya.Melihat kondisi tersebut, yang di kaitkan dengan kota Baubau yang didiami oleh masyarakat dan berbagai suku dan etnis sangat cocok menerapkan pembelajaran bahasa dan sastra daerah berbasis multikultural. Selain bermanfaat untuk melestarikan budaya setempat, juga turut menyukseskan program pendidikan nasional dalain menciptakan generasi yang berkarakter.
5. Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah Berbasis Multikultural dalam Membangun Generasi yang Berkarakter
Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah berbasis multikultural dapat dipahami sebagai suatu motede pendidikan yang memandang siswa memiliki keberagaman budaya dan salah satu di antaranya adalah bahasa dan sastra daerah. Melalui bahasa clan sastra tersebut siswa diajak untuk menyatukan cara pandangnya dan memberikan pemahaman lintas etnik dalam berbagai kebudayaan yang berbeda-beda pada suatu masyarakat di sekitarnya.
Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam membentuk pendidikan yang berkarakter di tengah masyarakat yang beragani adalah mengkaji secara bersama-sama, bahasa dan sastra daerah yang ada pada kelompok-kelompok masyarakat sebagai kekayaan nasional. Metode pendidikan seperti
mi
akan mendorong siswa mengakui keberadaan budaya yang beragam, membantu siswa dalam mengembangkan kebanggaan terhadap warisan budaya mereka, menyadarkan siswa bahwa konflik nilai sering menjadi penyebab konflik antarketompok masyarakat, dan melahirkan generasi yang memiliki cam pandang nasionalis. Selain hal tersebut, melalui pengetahuan awal bahasa daerah yang beragam, menjadi modal utama siswa dalam mempelajari budaya lainnya.Selain hal tersebut, dalam konteks pendidikan multikultural yang berkarakter, pengajar han's marnpu memberikan contoh-contoh pengaplikasian nilai dalam tmgkah laku kesehariannya. Hat
mi
akan mengilhami siswa untuk membentuk karakternya sesuai dengan kompetensi yang diinginkan. Karakter yang terbentuk akan tercermin path karya dan ide kreatif inovatif siswa sehingga siswa akan mampu untuk meningkatkan dirinya thiam berkompetisi di tingkat dunia tanpa kehilangan jati dirinya.6. Penutup
Berdasarkan pembahasan makalah
mi
dapat disimpulkan bahwa pembelajaran bahasa dan sastra daerah berbasis multikultural dapat meningkatkan kesadaran diii siswa terhadap nilai-nilai keberbedaan clan keberagaman yang melekat path kehidupan lokal, sebagai faktor yang sangat potensial dalam membangun cam pandang generasi muda yang berwawasan nasionalis path era globalisasimi.
Pembelajaran bahasa clan sastra daerah berbasis multikultural sangat bersinergi dengan pembangunan bangsa yang berkarakter. Melihat potensi yang dimiliki kota Baubau secara khusus dan Indonesa pada umumnya, sangat berpotensi dilaksanakan pembelajaran berbasis multikultura!, karena Kota Baubau didiami oleh masyarakat dari berbagai suku dan etnis. Kemajemukan masyarakat Kota Baubau dengan kekayaan bahasa daerahnya merupakan suatu karakter tersendiri yang hams dijaga dan dilestarikan.
Daftar Pustaka
Ainul, Yaqin. 2005. Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pilar Media.
Anonim. 2007. Pembelajaran Berbasis Multikultural dalam http://hibisgrafura.wordpress.com/ pembelajaran-berbasis-multikultural diunduh hari Kamis, 13 Mei 2010, pukul 23: 00 WITA
Koesoema, A. D., 2007. Pendidikan Karakier Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Mahfud Choerul. 2006. Pendidikan MultikulturaL Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Putero, Susetyo Hario. Dkk., 2008. Pendidikan Karakter bagi Sumber Daya Manusia dàlam Bidang Teknologi Nuklir. Makalah Disajikan dalani Seminar Nasionat IV SDM Teknologi Nuktir. Yogyakarta: 25-26 Agustus 2008
Rustan, Edhy. 2010. Buthya Leluhur Dalam Memperkukuh Tatanan Masyarakat di Era Globalisasi. Makalah. Disajikan thlam Seminar Internasional Bahasa dan Sastra Pemertahanan Identitas Masyarakat Mu!tikultura! di Era Global: 23-24 Juni 2010.
Yohanes Supriyadi. 2009. Pentingnya Pendidikan Berbasis Multikultural Rabu, 29 Juli 2009 09:20. diunduh han Kamis, 13 Mei 2010, pukul 22: 16 WITA