• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MODEL COOPERATIVE LEARNING TEAMS GAMES TURNAMENT DAN TACTICAL GAMES TERHADAP HASIL BELAJAR SEPAKBOLA | Abdillah | Jurnal Terapan Ilmu Keolahragaan 7999 16146 2 PB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH MODEL COOPERATIVE LEARNING TEAMS GAMES TURNAMENT DAN TACTICAL GAMES TERHADAP HASIL BELAJAR SEPAKBOLA | Abdillah | Jurnal Terapan Ilmu Keolahragaan 7999 16146 2 PB"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MODEL

COOPERATIVE LEARNING TEAMS

GAMES TURNAMENT

DAN

TACTICAL GAMES

TERHADAP

HASIL BELAJAR SEPAKBOLA

Habibi Abdillah, Mohammad Zaky, Adang Suherman

Universitas Pendidikan Indonesia, Jl. Setiabudhi No. 229, Bandung 40154, Jawa

Barat, Indonesia

[email protected]

ABSTRAK

Model cooperative learning teams games tournament merupakan salah satu model yang dibuat untuk meningkatkan kualitas social individu terutama kerjasama, sedangkan tactical games

yaitu aktivitas simulasi (bentuk-bentuk permainan) perlu mencerminkan keutuhan permainan dan menggugah situasi untuk terfokus pada pengembangan keterampilan taktikal. Latar belakang masalah dari hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti adalah banyaknya model yang belum diterapkan oleh guru sehingga berpengaruh pada hasil belajar sepak bola dalam pembelajaran penjas. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 3 Kota Bandung dengan populasi yang berjumlah sebanyak 139 siswa.Dari populasi tersebut akan dijadikan sampel sebanyak 50 siswa dengan menggunakan teknik random sampling. Kelompok eksperimen A terdiri dari 25 siswa dan kelompok eksperimen B terdiri dari 25 siswa. Analisis statistik yang digunakan adalah analisis uji t.Hasil perolehan nilai rata-rata pre test kelompok eksperimen A memperoleh nilai 61,56 dan kelompok eksperimen B memperoleh nilai 61,44. Setelah diterapkan model cooperative learning teams games tournament pada kelompok eksperimen A nilai rata-rata post test kelompok eksperimen A yaitu 88,88 dannilai rata-rata post test kelompok eksperimen B setelah diterapkan pendekatan tactical games memperoleh nilai 84,24. Berdasarkan hasil penelitian tersebut bahwa hipotesis diterima yaitu modelcooperative learning teams games tournament berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar sepakbola. Kata Kunci : cooperative learning teams games tournament, tactical games, hasil belajar sepak bola.

(2)

Menurut Juliantine (2013, hlm. 1) Pendidikan jasmani merupakan suatu proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan dalam rangka memperoleh kemampuan dan keterampilan jasmani, pertumbuhan, kecerdasan, emosional, dan pembentukan watak.

Untuk mengatasi berbagai masalah dalam pelaksanaan pembelajaran, tentu diperlukan model-model mengajar yang dipandang mampu mengatasi kesulitan guru dalam melaksanakan tugas mengajar pada peserta didik. Dalam kaitan permainan sepakbola dengan dunia pendidikan hendaknya permainan ini terus dikembangkan melalui pembelajaran yang terarah dan terencana melalui beberapa model pembelajaran yang sesuai dan alat yang tepat dengan karakteristik bahan pelajaran serta kondisi peserta didik. Untuk menyikapi permasalahan sesuai dengan kondisi yang ada tersebut, maka diperlukan suatu pola atau model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam melaksanakan tugas gerak. Penulis mencoba untuk menyikapi permasalahan tersebut dengan menggunakan dua model pembelajaran yaitu model pembelajaran kooperatif teams games tournament dan tactical game.

Dalam penelitian sebelumnya yang berjudul Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Tgt Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Passing Bola Voli oleh I Kd Suadnyana (2014), menunjukan adanya peningkatan hasil belajar melalui model pembelajaran kooperatif tipe TGT

Menurut Slavin (2008, hlm. 167) model pembelajaran kooperatif tipe TGT yang mempunyai ciri khas games dan tournament ini menciptakan warna yang positif didalam kelas karena kesenangan para siswa terhadap permainan tersebut.

Menurut Slavin pembelajaran kooperatif tipe TGT terdiri dari lima langkah tahapan, yaitu tahapan penyajian kelas (class precentation), belajar dalam kelompok (teams), permainan (games), pertandingan (tournaments), dan penghargaan kelompok (team recognition). Berdasarkan apa yang diungkapkan oleh Slavin, maka model pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki ciri-ciri, yaitu (a) Siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil. (b) Games Tournament. (c) Penghargaan kelompok.

Salah satu keutamaan model pembelajaran kooperatif tipe TGT, siswa menjadi lebih bebas leluasa mengekspresikan diri dalam bentuk permainan sepak bola tanpa harus terikat terlalu ketat dengan guru. Karema model pembelajaran ini member kebebasan anak untuk mencari sendiri informasi atau keterampilan yang mereka butuhkan dan membaginya dengan teman yang lain (peer tutoring). Hal ini akan membuat anak lebih interaktif dengan teman yang lain dalam pemberian materi, motivasi ataupun penghargaan. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam kooperatif tipe TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.

Griffin, Mitchael, dan Oslin (1997) yang dikutip oleh Metzler (2000, hlm. 350)

menjelaskan bahwa: “Pendekatan taktis

adalah suatu proses yang terencana untuk menyempurnakan penampilan permainan yang di dalamnya terkandung penggabungan unsur kesadaran taktis dan pelaksanaan

keahlian.” Sedangkan Ma’mun dan Subroto

(2010, hlm. 4) dijelaskan bahwa: “Pendekatan taktis adalah suatu cara untuk meningkatkan kesadaran siswa tentang konsep bermain melalui penerapan teknik yang tepat sesuai

(3)

METODE

Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitian menurut Arikunto (2006, hlm. 151). Metode yang digunakan penulis untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah metode eksperimen.

Penelitian eksperimen merupakan penelitian dengan tujuan untuk menentukan apakah ada atau tidak hubungan sebab akibat dari variable-variabel yang akan diteliti.Dalam penelitian ini peneliti ingin meneliti ada tidaknya pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe teams games tournament dan pendekatan bermain terhadap hasil pembelajaran keterampilan bermain sepakbola.

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA 3 Bandung yang berjumlah 139 siswa. Sampel untuk penelitian ditentukan menggunakan teknik simple random sampling (sampel acak).

Adapun penjelasan mengenai simple random sampling (sampel acak) menurut Sugiyono (2012, hlm. 120) adalah

“dikatakan simple karena sederhana, karena

pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Cara demikian dilakukan bila

anggota populasi dianggap

homogen.”Sampel yang diambil dalam

penelitian ini adalahsiswakelas XI SMA 3 Bandung.

Populasi yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 3 Bandung yang sedang mengikuti pembelajaran penjas yang berjumlah 139 orang dari populasi tersebut akan dijadikan sampel sebanyak 50 siswa dengan perhitungn 36% dari seluruh populasi yang ada. Sampel

POPULASI SAMPEL PROSENTASE

Siswa SMA Negeri 3 Bandung yang mengikuti pembelajaran penjas (sebanyak 139 orang)

50 orang 36 %

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes dalam penampilan bermain sepakbola dengan menggunakan GPAI (Game Performance Assessment Instrument).

Teknik analisis data maksudnya adalah mengolah data hasil eksperimen. Selanjutnya diolah dan dianalisis untuk menguji hipotesis penelitian ini. Tujuan analisis data ini adalah untuk

(4)

HASIL DAN PEMBAHASAN

HasilPerhitungan Rata-rata danSimpangan Baku

Table 1.2

Hasil Perhitungan Rata-Rata dan Simpangan Baku

Kelompok Variabel Pre test Post test

�̅ �̅ S Varians

Kelompok Eksperimen A (Model

Cooperatif Learning Tipe TGT) 61,56 88,88 4,371 19,11

Kelompok Eksperimen B (Pendekatan

Taktis) 61,44 84,24 5,840 34,11

Berdasarkan tabel di atas nilai rata-rata (mean) untuk seluruh siswa pada kelompok eksperimen A yang diberikan perlakuan dengan model cooperative learning tipe TGT adalah 88,88, sedangkan untuk seluruh siswa pada kelompok eksperimen B yang diberikan perlakuan dengan pendekatan taktis adalah 84,24. Adapun untuk nilai simpangan baku (Std. Deviation) untuk seluruh siswa pada kelompok eksperimen A yang diberikan perlakuan dengan model cooperatif learning tipe Teams Game

Turnament adalah 4,371, sedangkan untuk seluruh siswa pada kelompok eksperimen B yang diberikan perlakuan dengan pendekatan taktis adalah 5,840.

Hasil Uji Normalitas

Uji normalitas yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah uji kenormalan

Lilliefors. Hasil pengolahan uji normalitas

dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 1.3

Hasil Uji Normalitas Postest

Kelompok Variabel Lo Lt Ket

Kelompok Eksperimen A (Model

Cooperative Learning tipe TGT) 0,1726 0,1730 NORMAL

Kelompok Eksperimen B

(Pendekatan Taktis) 0,1725

0,1730 NORMAL

Kriteria pengujian uji normalitas liliefors adalah :

a. Hipotesis ditolak apabila Lo ≥ L(tabel). Kesimpulan adalah sampel berdistribusi tidak

normal.

b. Hipotesis diterima apabila Lo ≤ L(tabel). Kesimpulan adalah sampel berdistribusi

normal.

Setelah dihitung dapat diketahui berdasarkan tabel 1.3 bahwa hasil L (hitung) tes akhir model cooperatif learning tipe Teams Game Turnament (kelompok eksperimen A) 0,1726 lebih kecil dari L (tabel) 0,1730. Kemudian hasil L (hitung) tes akhir pendekatan taktis (kelompok

(5)

Hasil Uji Homogenitas

Pada uji homogenitas dalam penelitian ini menggunakan uji homogenitas dua varians.

Hasil pengujian ini akan diketahui apakah kedua kelompok sampel tersebut homogen atau tidak homogen. Hasil dari pengujian tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 1.4

Hasil Uji Homogenitas Post test

Dalam uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui homogen atau tidaknya data dari dua varians diatas. Varians disini merupakan ukuran penyebaran suatu sampel. Maksudnya adalah untuk mengetahui homogen tidaknya penyebaran skor kedua sampel. Berdasarkan tabel 1.4 di atas dapat

d diketahui bahwa hasil Fhitung tes akhir adalah0,560 dan hasil Ftabel adalah 1,98 pada dk = (24,24) dengan taraf nyata = 0,05. Maka dapat djelaskan bahwa F hitung lebih kecil dari Ftabel. Dengan demikian kesimpulan dari hasil pengujian kesamaan dua variansi di atas adalah kedua kelompok homogen.

Hasil Pengujian Uji Satu pihak

Langkah selanjutnya adalah mengujian satu pihak. Hasil pengujian tersebut dapat dilihat pada table berikut :

Tabel 1.5 Uji Satu Pihak Eksperimen A (model

kooperatif tipe TGT)

Pretest Posttest Eksperimen B (tactical game)

Pretest posttest

Mean 61,56 88,98 Mean 61,44 84,24

Varians 17.09 17,79 Varians 12,34 34,11

Simpangan baku 14,443 14,443 Simpangan baku 12,464 12,464

t hiting 6,727 t hitung 6,487

a. Eksperimen A (Model Kooperatif Teams Games Tournament)

Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 1,5 diperoleh bahwa hasil dari Ekperimen A terdapat pengaruh yang signifikan model pembelajaran kooperatif Teams Games

Tournament terhadap hasil belajar sepakbola,

bahwat hitung 6,727 lebih besar dari t1- α (2,010).

b. Eksperimen B Tactical Game (Pendekatan Taktis)

Eksperimen B terdapat pengaruh yang signifikan pendekatan taktis terhadap hasil belajar sepakbola, dengan t hitung 6,487 lebih besar dari t1- α (2,010).

Dengan demikian dapat diartikan bahwa model pembelajaran kooperatif Teams

Games Tournament (Kelompok Eksperimen

Kelompok Variabel

Kelompok Eksperimen A (Model

Cooperative Learning Tipe TGT) 19,11

0,560 1,98

HOMOGEN

Kelompok Eksperimen B

(6)

A) dan pendekatan taktis (Kelompok Eksperimen B) berpengaruh dalam hasil belajar dalam pembelajaran permainan

sepakbola melalui pembelajaran penjas di SMA NEGERI 3 Bandung.

Hasil Pengujian Uji Kesamaan Dua Rata-Rata

langkah selanjutnya adalah pengujian kesamaan dua rata-rata. Hasil pengujian tersebut dapat dilihat pada tabel 1.6 berikut:

Tabel 1.6

Uji Kesamaan Dua Rata-Rata

Kelompok Variabel �̅ �̅ Thitung Ttabel Uji Hipotesis

Kelompok Eksperimen A (Model Cooperative Learning

Tipe TGT)

61,56 88,88 6,727 2,010 SIGNIFIKAN

KelompokEksperimen B

(PendekatanTaktis) 61,34 84,24 6,487 2,010 SIGNIFIKAN

a. Pengujian perbandingan antara

Teams Games Tournament dan

Pendekatan Taktis.

Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 1,6 diperoleh bahwa t hitung 6,727 lebih besar dari t1- α (2,010). Kriteria pengujian adalah tolak Ho jika t > t1 –α

pada taraf nyata α = 0,05 dengan (dk) =

48.Dalam hal ini t hitung berada pada daerah penolakan Ho, jadi Ho ditolak dan H1 diterima yang artinya model

cooperative learning tipe TGT

berpengaruh terhadap hasil belajar dalam pembelajaran permainan sepak bola. Dengan demikian dapat diartikan bahwa model cooperative learning tipe TGT (Kelompok Eksperimen A) lebih signifikan pengaruhnya dibandingkan dengan pendekatan taktis (Kelompok Eksperimen B) dalam hasil belajar dalam pembelajaran permainan sepak bola melalui pembelajaran penjas di SMA NEGERI 3 Bandung.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengolahan dan analisi data, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Model pembelajaran kooperatif Teams

Games Tournament memberikan pengaruh terhadap hasil belajar dalam pembelajaran permainan sepak bola dengan ditunjukan pada peningkatan keterampilan bermain sepak bola dalam pembelajaran penjas. Dalam proses pembelajaran penjas dengan menggunakan Model pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament terjalin interaksi positif di dalam sebuah kelompok dan kemampuan berkompetisi dengan grup lain.

2. Tactical Game memberikan pengaruh terhadap hasil belajar sepakbola dalam pembelajaran penjas. Dalam proses pembelajaran penjas pendekatan taktis mendorong siswa untuk memecahkan masalah taktik dalam permainan, sehingga semakin memahami kaitannya antara teknikdan taktik permainan yang sebenarnya.

3. Pada penerapan model kooperatif Teams Games Tournament danTactical Game, ternyata model kooperatif Teams Games Tournament lebih berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar

sepakbola disbandingkan

(7)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi . (2006) Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta : PT Rineka Cipta.

Juliantine, dkk. (2013). Model-model Pembelajaran Pendidikan Jasmani.

Metzler, (2000). Instructional Model For Physical Education.

Slavin, Robert E. (2008) Cooperatif Learning Teori, Riset, Dan, Praktik. Bandung. Nusa Media

Suadnyana, (2014). Jurnal Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Passing Bola Voli.Vol 2. No 1 (2014). Tersedia :

https://ejournal.undikasha.ac.id/

Subroto, T. (2010). Modul Mata Kuliah (Dualmodes/PJJ) Didaktik Metodik Pembelajaran Olahraga Permainan. Bandung : FPOK Universitas Pendidikan Indonesia.

Gambar

Tabel 1.3 Hasil Uji Normalitas Postest
Tabel 1.4

Referensi

Dokumen terkait

siswa dalam mengikuti pembelajaran. Namun sebaliknya, proses pembelajaran tidak akan berjalan lancar apabila tidak didukung dengan sarana prasarana, metode belajar yang

MESKI TELAH SELESAI DALAM TAHAP PEMBANGUNANNYA /RUSUNAWA JUMINAHAN HINGGA KINI /BELUM TERLIHAT PENGHUNINYA // KEPALA DINAS KIMPRASWIL /EKO SURYO MENYAMPAIKAN BAHWA OPERASIONAL

Seri Panduan Pemrograman Microsoft Visual Basic 6.0.. Aplikasi Basis Data dengan Visual Basic

Skills Needed at Different Managerial Levels Human Skills Conceptu al Skills Technical Skills Top Managers Middle Managers Low-Level Managers. *Dark color = necessary to

10 tahun 2009, Daya Tarik Wisata dijelaskan sebagai segala sesuatu yang memiliki keunikan, kemudahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan

Skim pembiayaan murabahah merupakan skim yang muncul karena bank tidak memiliki barang yang diinginkan oleh pembeli, sehingga bank harus melakukan transaksi

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai Pegawai di Lingkungan Kementerian Pertanian yang tidak diberikan Tunjangan Kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan

Seluruh aliran permukaan akan terkonsentrasi di wilayah tersebut, sehingga wilayah-wilayah ini berpotensi banjir pada saat jumlah limpasan permukaan yang terjadi