• Tidak ada hasil yang ditemukan

Geliat Media Massa dan Partai Politik Me

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Geliat Media Massa dan Partai Politik Me"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Geliat Media Massa dan Partai Politik Menuju Pemilu 2014

Tema: Media dan Pemilu Oleh: Vinna Waty Sutanto

Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Surya [email protected],[email protected]

Kebebasan pers di Era Reformasi memberikan angin segar bagi para pemodal untuk mendirikan media baru dan memberikan kebebasan bagi insan pers untuk menjalankan aspirasinya. Demokrasi pers menjadi euforia bagi para pemodal, insan pers, dan pemangku kepentingan lainnya. Namun kebebasan pers tidak disertai dengan kebebasan isi pemberitaan. Para pemilik media banyak yang menjadi kerabat bahkan memiliki jabatan tertentu di partai politik dan hubungan ini pada akhirnya dapat mempengaruhi kerja dan isi pemberitaan media.

Pergeseran penempatan ideologi partai politik telah berada pada titik tengah yang mengarah pada pengaruh opini seiring perjalanan politik di Indonesia dengan semakin banyaknya swing voters. Dinamika tersebut membuat banyak partai politik yang akan melaju pada pemilu 2014 menggunakan media massa sebagai alat untuk menggiring opini publik.

Penelitian ini membahas mengenai analisa dinamika perjalanan politik di Indonesia yang sebelumnya menempatkan ideologi politik partai kepada masyarakat telah bergeser pada penempatan pengaruh opini. Pergeseran ini, membuat semakin banyak partai politik menggunakan media massa sebagai roda berpolitiknya. Untuk itu, peneliti menelaah tentang ideologi media untuk kepentingan politik dan menelaah media massa dalam melihat realitas politik di Indonesia khususnya pemberitaan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden menjelang pemilu 2014 dengan menggunakan analisis framing Zhong Dang Pan dan Gerald M Kosicki. Media yang diteliti adalah media online Okezone.com, Vivanews.com, Detik.com, dan Kompas.com.

(2)

1.Pendahuluan

Perkembangan media massa di Indonesia pada era Reformasi telah sampai pada euforia kebebasan media setelah dihapusnya Peraturan menteri Penerangan

No 1/1984 yang selama ini dijadikan alat legalisasi pemberedelan.1 Kemudian, digantinya UU Pokok Pers No. 21 tahun 1882 dengan UU Pokok Pers No. 40 tahun

1999 yang salah satunya berisi tentang penerbitan dan pengelolaan yang dapat dilakukan oleh setiap insan. Pada pasal 6 UU Pokok Pers No. 40 tahun 1999, Pers

memiliki kewenangan yang sangat besar diantaranya pers nasional berperan dalam melaksanakan pemenuhan hak masyarakat untuk mengetahui; menegakkan

nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supermasi hukum, hak asasi manusia, dan kebinekaaan; mengembangkan pendapat umum berdasarkan

informasi yang tepat, akurat, dan benar; melakukan pengawasan, mengkritis, mengoreksi, dan menyarankan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum; serta memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Kebebasan pers telah

terwujud baik dari sisi penerbitan dan pengelolaan oleh masyarakat serta wewenang pers yang mengarah pada kebebasan isi pemberitaan.2

Pada lima tahun pertama era Reformasi jumlah perusahaan penerbitan pers

sangat pesat. Pada tahun 1998-2003 tumbuh 600 perusahaan pers yang baru 2

dengan gaya pemberitaan dan cara-cara memperoleh informasi yang lebih bebas

dan beragam. Namun pada kenyataannya, kebebasan pers pada isi media terbelenggu. Menurut Setiawan Santana, banyak pemilik media lama maupun media baru yang menjadi kawan bahkan kader politisi dan kekuasaan, sehingga kinerja

redaksi dikooptasi dengan unsur politik.3 Isi media menjadi tidak bebas dan

mengikuti alur dari keinginan partai politik sebagai alat mobilisasi partai.

Seiring dengan perjalanan politik di Indonesia dan pemanfaatan

media massa oleh partai politik yang disebabkan oleh semakin banyaknya swing voters membuat banyak partai politik menggunakan media massa untuk mengiring opini publik. Media tidak hanya sebagai alat pewarta dalam demokrasi melainkan

sebagai ruang untuk menanamkan pengaruh dan kekuasaan itu sendiri. Neralitas media menjadi ilusi belaka. Bagdikian dalam gagasannya yang dikutip dari Nugroho

1

Suranto dkk, 1999, ix 2

Sumadiria, 2011, 25-26 3

(3)

mengungkapkan kekinian dan relevansi politik adalah kekinian dan relevansi media.

Kuasa semakin ditentukan oleh corak penguasaan terhadap media. 4

Tingginya pengaruh media massa dalam menggiring opini publik

mengakibatkan ideologi politik bukan lagi menjadi kekuatan yang dapat menarik para pemilih terutama ketika pemilik media sebagai praktisi politik maka penggiringan

opini melalui media massa menjadi kekuatan baru. Media massa menjadi alat sebagai ajang pencitraan publik, meruntuhkan popularitas lawan politik, dan alat

untuk menyerang balik kepada serangan-serangan politis. 5

2. Rumusan Masalah

Perjalanan politik di Indonesia telah mengalami pegolakan dan perubahan,

sebelumnya partai politik menempatkan ideologi politik partai kepada masyarakat, kini partai politik menempatkannya pada pengaruh opini dengan memanfaatkan

media massa. Untuk itu peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:

• Analisis mengenai pergerseran penempatan ideologi partai politik ke arah penempatan pengaruh opini.

• Analisis tentang Ideologi media untuk kepentingan politik

• Konstruksi realitas oleh media massa berdasarkan analisis framing terhadap pemberitaan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden menjelang Pemilu 2014.

3. Tinjauan Pustaka

3.1 Ideologi partai Politik di Indonesia

Pada setiap era kemimpinan akan terlihat pergolakan dan pergolakan dalam sistem partai politik. Di Indonesia, pada tahun 1950-an, masa orde lama, bermunculan banyak partai politik setelah dikeluarkannya Dekrit yang dibuat oleh

Wakil Presiden Mohammad Hatta pada bulan November 1945. Dekrit tersebut mendorong para pemimpin politik untuk membentuk partai politik. Pada tahun 1951

dan 1955, partai politik digolongkan dalam tiga kelompok ideologis utama diantaranya nasionalis, keagamaan, dan marxis. Partai utama pada masa itu

diantaranya PNI, Masjumi, dan PKI. Dilihat dari postur ideologis terlihat dua bentuk pertentangan politik saat itu diantaranya partai pesar PNI dan Masjumi memobilisasi pengikutnya berdasarkan garis vertikal dengan memilah masyarakat dalam kategori

4

Kompas, 2014, 155

5

(4)

berbasis budaya dan agama sedangkan PKI melambangkan politik kelas yang

berusaha memobilisasi secara horisontal berdasarkan pada perbedaan kelas.6

Awal Orde baru, pemerintah menjalankan banyak kebijakan dan terus

menerus mengkampanyenya tentang dibutuhkannya aristektur politik baru yang lebih sesuai dengan Indonesia. Pemerintah mendirikan partai baru melalui partai

Golkar. Pada tahun 1974, kontrol yang relatif menyeluruh atas partai politik memuncak, banyak partai lama yang dipaksa bergabung dalam dua partai baru yaitu

Partai Persatuan Pembangunan untuk partai-partai Islam dan Partai Demokrasi Indonesia untuk partai-partai nasionalis dan Kristen. Pemerintah mengeluarkan

Undang-Undang Kepartaian dan Pemilu yang berisikan partai politik tidak diperbolehkan mendirikan cabang partai di tingkat kecamatan ke bawah kecuali

Golkar. Pemerintah mewajibkan seluruh pegawai negeri memilih Golkar. Saat itu, politik berada di tangan segelintir elite yang terdiri dari militer dan kaum birokrat.

Maka dapat diduga Golkar selalu menang dalam setiap Pemilu pada masa kepemimpinan Orde Baru. Pemerintah menggunakan secara berlebihan Pancasila (ideologi negara) untuk membungkam oposisi. Menurut pemerintah, Pancasila tidak

toleran terhadap ekster kanan yaitu Islam sebagai suatu ideologi dan ekstrem kiri

yaitu komunis.6

Pasca Orde Baru, semua kekekangan politik dihapuskan dan partai

politik kembali mendapatkan kebebasannya untuk memobilisasi pemilih. Salah satu dampak kebebasan berpolitik adalah dengan lahirnya banyak partai politik baru.

Memasuki pemilu tahun 1999 di era Reformasi, muncul persaingan antar partai di Indonesia. Partai-partai tersebut memperlihatkan persaingan berdasarkan ideologi di arena Pemilu. Pada pemilu tahun 1999 isu pokok yang memecah partai terdapat

dalam dua kubu yaitu kubu ideologis Islam dan sekuler. Ideologi-ideologi partai

peserta pemilu 1999 diantaranya PDIP dengan ideologi sekuler dan nasionalis, Golkar dengan ideologi sekuler dan nasionalis, PPP dengan ideologi Partai Islam,

PKB dengan ideologi partai pluralis dan berbasis muslim, PK dengan ideologi Partai Islam, PAN dengan ideologi puralis berbasis muslim, serta PBB dengan ideologi partai Islam. Pada Pemilu 2004, kembali partai-partai yang berbasis ideologis Islam

dan sekuler menegaskan kembali ideologi mereka. Partai Demokrat dan PKPI merupakan partai yang sekuler, PBB dan PSK berideologi Islam. Pada koalisi partai,

hampir tidak ada koalisi yang murni berbasis ideologi melainkan pasangan Capres dan Cawapres merupakan kombinasi yang mewakili kedua spektrum ideologis yaitu

sekuler atau nasionalis dan Islam.6

6

(5)

3.2 Swing Voter

Fenomena yang terjadi sejak era Reformasi tepatnya berawal dari Pemilu

1999 hingga 2009 adalah munculnya swing voter. Menurut Irvani, peneliti di SMRC,

Swing Voter adalah perilaku pemilih yang berubah pilihannya dari satu pemilu ke pemilu berikutnya. Kemunculan swing voter disebabkan oleh tingkat loyalitas pemilih dengan partai sangat rendah dan hampir semua pemilih ternyata tidak memiliki

identitas partai sehingga mudah pindah ke lain hati. Tiga kali pemilu (1999, 2004, dan 2009) menghasilkan tiga partai yang berbeda sebagai pemenang suara

terbanyak. Hal ini mengindikasikan besarnya swing voter dari satu pemilu ke pemilu selanjutnya.7

3.3 Agenda Setting

Pemberitaan media merupakan cerminan dari kepentingan publik. Sebagai cermin publik media menyajikan pemberitaan berdasarkan agenda seputar peristiwa-perisitwa di masyarakat yang dipertimbangkan sebagai peristiwa yang penting.

Agenda yang dibuat oleh media disebut agenda setting. Menurut Bryant dan Thompson agenda setting merupakan hubungan yang erat antara berita sebagai imajinasi, proyek kontruksi yang belum selesai, isu publik yang memiliki arti penting, atau pentingnya ditempatkannya pada isu-isu tertentu, menggambarkan sebuah tipe

dari efek komunikasi. Fungsi dari agenda setting menjadi jelas ketika berita membawakan isu-isu penting yang belum diketahui oleh publik. Dalam membuat keputusan, media mengatur agenda dalam hal berita yang akan disajikan kepada

khalayak. Media mengukur nilai berita berdasarkan persepsi mereka tentang pentingnya sebuah berita untuk diberitakan kepada khalayak. Tahap awal untuk

meneliti agenda yang dibutuhkan oleh publik adalah dengan mengeksplorasi agenda publik. 8

Dalam pembuatan agenda media akan dikendalikan oleh gatekeeper. Berita yang masuk ke ruang redaksi media profesional akan disaring dan disunting oleh

gatekeeper.8 Berita-berita seputar politik menjadi berita yang dibutuhkan oleh masyakaran karena menurut McComb dan Shaw kebanyakan orang menginginkan bantuan ketika berusaha memahami dan mengevaluasi politik dan kenyataan politik

dan mereka mendapatkannya melalui pemberitaan.3 Dalam membangun agenda setting tentang pemberitaan politik, Kurt dan Gladys Engel Lang melihat bahwa kekuatan media massa terletak pada posisinya yang selalu memperhatikan isu-isu

7

Detik.com, 2012 8

(6)

tertentu. Media massa dapat membangun pencitraan terhadap tokoh-tokoh politik

dan mereka akan secara terus-menerus menyajikan objek tentang individu sehingga kahalayak dapat berfikir, mengetahui, dan memiliki perasaan dengan individu

tersebut.8

3.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Isi Media

Dalam mencari, mengolah, dan melaporkan berita, menurut Shoemaker dan Rees, isi pemberitaan dipengaruhi oleh lima faktor seperti yang tergambar pada

diagram di bawah ini:

Diagram 3.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Isi Media 8

Faktor yang mempengaruhi isi media pada tingkat individu diantaranya latar

belakang dan karakteristik (jenis kelamin, etnis, orientsi seksual, kalangan tertentu, jenjang karier, latar belakang pendidikan), tingkah laku, nilai dan kepercayaan individu ( perilaku politik dan orientasi agama secara personal), aturan profesional

dan etika. Kemudian pada tingkat rutinitas media, isi pemberitaan dipengaruhi oleh penonton sebagai konsumen, organisasi media sebagai produser (penjaga gawang,

rutinitas berorganisasi), sumber di luar media sebagai pemasok (rutinitas saluran, sumber resmi, para ahli, pemerintah, beradaptasi dengan birokrasi sumber). Pada

tingkat organisasi diantaranya tujuan dari organisasi serta peraturan dan struktur organisasi. Tingkat keempat adalah level ekstramedia yaitu isi media dipengaruhi

oleh pemasang iklan, kontrol pemerintah, permintaan pasar, khalayak, dan teknologi. Tingkat yang teratas adalah ideologi yang meliputi paradigma dan hegemoni media.9

9

Shoemaker dan Reese, 1996, 60

Level Ideologi 

Level Ekstramedia 

Level Organisasi 

Level  Rutinitas 

Media 

(7)

3.5 Ideologi media

Menurut Destutt de Tracy yang dikutip dari Dijk, ideologi merupakan ide-ide umum. Memahami ideologi berarti memahami tentang bagaimana kita berfikir,

berbicara, dan berdebat. Pada ilmu sosial, ideologi merupakan prinsip dasar kepercayaan dari sebuah kelompok dan anggotanya.10 Media memiliki ideologi.

Fungsi pertama ideologi media adalah media sebagai integrasi sosial. Media akan menjaga nilai-nilai kelompok dan mengontrol bagaimana nilai-nilai kelompok tersebut

dijalankan. Media dapat mendefinisikan nilai dan perilaku yang sesuai dengan nilai kelompok dan perilaku atau nilai apa yang dipandang menyimpang. Semua nilai dan

pandangan tersebut tidak terjadi dengan sendirinya melainkan melalui proses konstruksi. Pada peta ideologi akan digambarkan bagaimana peristiwa dilihat dan

diletakkan dalam tempat-tempat tertentu. Berita tidak dibentuk dalam ruang hampa dan berita diproduksi dari ideologi dominan dalam suatu wilayah dengan kompetensi

tertentu. Ideologi pada media tidak hanya dikaitkan dengan ide-ide besar melainkan juga dapat bermakna politik penandaan atau pemaknaan. Dalam arti luas ideologi dapat dipahami pada saat kita melihat peristiwa dengan kacamata dan pandangan

tertentu. Proses kerja pembentukan dan produksi berita tidaklah netral karena ada bias ideologi yang secara sadar dan tidak sadar yang dipraktkan oleh para pekerja

media. Kelompok elit yang diidentifikasi sebagai sumber yang dapat dipercaya tidak

hanya sebatas sumber melainkan dapat menjadi pendefinisi utama dari realitas.11

Seseorang yang memiliki kekuasaan akan menggunakan kekuasaan dan otoritasnya

untuk mempengaruhi orang lain agar orang-orang tersebut mengikuti keinginannya.

4. Metode penelitian

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif analisis isi

dengan metode analisis framing. Pendekatan framing digunakan untuk melihat cara pandang, konstruksi realitas jurnalis dalam pemberitaan (pembingkaian berita).

Pemaknaan pada suatu peristiwa oleh sang jurnalis terhadap suatu peristiwa dapat mempengaruhi pemberitaaan, apakah ada bagian yang ditonjolkan atau dihilangkan. Menurut Eriyanto ada dua esensi dari framing diantaranya bagaimana peristiwa dimaknai dan bagaimana fakta itu ditulis. Hal ini akan berhubungan dengan pemakaian kata, kalimat, dan gambar dalam mendukung gagasan.11

Pada penelitian ini, peneliti akan menggunakan model analisis framing

Zongdang Pan dan Gerald M. Kosicki yang dibagi atas empat struktur besar

diantaranya:

10

Djik, 2004, 6 11

(8)

Tabel 1. Skema Zongdang Pan dan Gerald M. Kosicki

SINTAKSIS 1. Skema berita Headline, lead, latar

informasi,

Cara wartawan menyusun fakta kutipan, sumber,

pernyataan,

Penutup

SKRIP 2. Kelengkapan berita

Cara wartawan mengisahkan fakta 5 W + 1 H

TEMATIK 3. Detail Paragraf, proposisi, kalimat

Cara wartawan menulis fakta 4. Koherensi hubungan antarkalimat

5. Bentuk kalimat

6. Kata Ganti

RETORIS 7. Leksikon Kata, idiom, gambar/foto,

Cara wartawan menekankan fakta 8. Grafis grafik

9. Metafora

Sumber: Eriyanto, 2012 : 295

Pada pengertian umum sintaksis merupakan susunan kata atau frase dalam kalimat yang menunjuk pada pengertian susunan dan bagian berita (skema berita)

diantaranya headline, lead, latar informasi, sumber, dan penutup dalam satu kesatuan teks berita. Skrip merupakan laporan berita yang disusun sebagai suatu

cerita dengan bentuk umum dari struktur skrip diantaranya pola 5 W dan 1 H. Struktur tematik menganalisa cara wartawan menulis fakta. Elemen struktur tematik

diantaranya detail, koherensi, bentuk kalimat, dan kata ganti, yang diamati adalah paragraf, proposisi, kalimat, dan hubungan antarkalimat. Struktur yang terakhir

adalah struktur retoris dari wacana berita yang menggambarkan pilihan gaya atau kata oleh jurnalis untuk menekankan arti yang ingin ditonjolkan. Elemen struktur

retoris diantaranya leksikon, pemilihan, dan metarora dan unit yang diamati adalah kata, idiom, gambar/foto, dan grafik.

Pada penelitian ini, menggunakan metode purposive sampling. Peneliti akan menganalisa isi media pada pemberitaan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) menjelang Pemilu tahun 2014 dengan masa pemberitaan dari

bulan November hingga Desember 2013 dari empat media online diantaranya

Kompas.com, Detik.com, Okezone.com, dan Vivanews.com. Peneliti mengambil

(9)

sampling sebanyak sepuluh pemberitaan seputar Capres dan atau Cawapres dari masing-masing media online yang menjadi objek penelitian.

5. Hasil dan Pembahasan

Fenomena yang terjadi pada pemilihan umum pasca Orde Baru pada pemilih

adalah munculnya swing voter. Buruknya citra partai di mata pemilih dan pemilih merasa masih memiliki harapan sehingga memilih untuk swing dibandingkan tidak memilih sama sekali (Golput). Dengan banyaknya swing voter menuntut partai politik untuk bekerja sangat keras meyakinkan mereka untuk memilih partainya. Pada

Pemilu 1999 dan 2004, kekuatan swing voter sangat besar yaitu sekitar 47 persen dari total pemilih. Berdasarkan survei LSI pada tahun 2008 ditemukan swing voter

pada dua pemilu dari tujuh partai besar cukup besar yaitu sekitar 37 persen. Swing voter membuat partai yang tidak ada menjadi ada dan yang ada menjadi melemah, atau menguat secara signifikan. Pada hasil pemilu 2004, kecenderungan swing voter

bersifat negatif terjadi pada semua partai besar kecuali Partai Demokrat kala itu.12 Pada Pemilu 2009, berdasarkan surveli LSI, swing voter cenderung tinggi mencapai 34 persen. Presentase pemilih yang merasa dekat dengan partai politik hanya 15 persen dan sisanya merasa tidak dekat dengan partai. Partai Demokrat

dan Partai Gerindra pada Pemilu 2004 mampu menarik swing voter karena berani melakukan kampanye secara masif melalui media massa. 13

Menjelang Pemilu 2014, berdasarkan Survei Indonesia Indicator tercatat sebanyak 253.718 pemberitaan tentang berita politik dari 2.027.311 berita yang dipublikasikan oleh seluruh media online di Indonesia. Berita politik sebanyak 12,5 persen dari 272 media online di Indonesia dan menempati posisi pertama dibandingkan tema lainnya. Pemberitaan politik didominasi oleh kasus korupsi,

sengketa pilkada, politik berbiaya tinggi, partai politik, calon legislatif, bahkan persoalan teknis DPT. Menurut Rustika Herlambang, Direktur Komunikasi Indonesia

Indicator, keterkaitan politik dengan korupsi menimbulkan opini terhadap sejumlah

figur atau tokoh politik.15 Berdasarkan hasil survei Saiful Mujani Research and

Consulting, swing voter dapat mencapai 50 persen dari total pemilih dan dapat merombak peta kekuatan pada tahun 2014. 14

Peran media massa menjadi begitu dominan dibandingkan dengan

komunikasi yang bersifat orasi. Pada era Orde Lama dan Orde Baru parta politik berkampanye dengan menempatkan ideologi partai politik (positioning ideologi)

12

Lsi.or.id, 2008, 2-12 13

Republika, 2008 14

(10)

dengan berorasi namun kini kecenderungan partai politik menggunakan media

massa untuk mempengaruhi opini dengan melakukan pencitraan.

Sebanyak 2 persen dari total 2.027.311 berita yang dipublikasikan oleh 272

media online memberitakan tentang Calon Presiden.15 Berdasarkan analisa peneliti, media Okezone.com memberikan porsi lebih kepada pemberitaan Calon Presiden Wiranto dan Calon Wakil Presiden Hary Tanoesoedibjo dari partai Hanura. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan sebanyak 29 berita pasangan Wiranto dan

Hary Tanoesoedibjo dipublikasikan selama periode November-Desember 2013 dengan frekuensi kemunculan yang berdekatan waktunya diantaranya 1, 7, 8,9, 10,

16, 19, 21, 22 (dua berita), 26, 27, 28 November 2013 kemudian 2, 4, 7, 10, 13 (tiga berita), 16, 23, 25, 27, dan 30 Desember 2013 (dua berita).

Porsi lebih juga diberikan kepada Calon Presiden Aburizal Bakrie yang diusung oleh Partai Golkar oleh Media online Vivanews.com. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan sebanyak 38 berita tentang Aburizal Bakrie dengan frekuensi publikasi yang berdekatan waktunya yaitu berita tanggal 4 (dua berita), 5 (tiga berita), 12, 20, 7 (dua berita), 8, 9 (dua berita), 12, 13 (dua berita), 14, 15, 17, 20

(dua berita), 22 (dua berita), 23 (dua berita), 23 (tiga berita), 24 November 2013, kemudian 9, 11, 13, 15, 16, 18, 19, 20, 21, 27 Desember 2013. Jumlah frekuensi

kemunculan yang berdekatan dari hari ke hari merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan popularitas dari Capres dan Cawapres dan menggiring opini publik

untuk memilih mereka.

Berikut tabel hasil analisa perbandingan pembingkaian mengenai pemberitaan Calon Presiden dan Wakil Presiden menjelang Pemilu tahun 2014 pada

empat media online periode November – Desember 2013:

Tabel 2. Perbandingan pembingkaian berita Capres dan Cawapres menjelang Pemilu 2014 pada empat media online periode November-Desember 2013

Elemen Kompas.com Detik.com Okezone.com Vivanews.com

Frame Geliat tokoh politik menjelang Pemilu 2014

Skrip Upaya-upaya yang Upaya-upaya yang Pandangan positif terhadap Upaya-upaya yang

15

(11)

dilakukan tokoh politik untuk menarik perhatian dan mengiring opini positif calon pemilih.

dilakukan partai

Tematik 1. Duet pasangan Jusuf kala dan mahfud MD

2. Prabowo terlihat emosi pada saat memberikan 4. Jusuf Kala berpotensi

untuk membela suara

6. Capres Wiranto berorasi tentang kebutuhan

8. Pesimistis jika Hidayat Nur Wahid menjadi Calon Presiden dari PKS.

(12)

APBD.

wakil presiden (cawapres) berlomba-lomba berupaya untuk mendapatkan perhatian dan berupaya untuk mengiring opini positif dari calon pemilih. Setelah dianalisa

terhadap empat media online yaitu Kompas.com, Detik.com, Okezone.com, dan Vivanews.com terlihat para capres dan cawapres berupaya membangun citra positf terhadap diri mereka dengan melakukan banyak kegiatan yang berhubungan dengan kepentingan publik. Partai politik mengambil peran yang sangat aktif dalam mendukung capres dan cawapres yang diusungnya.

Bagi para pemilik media yang juga menjadi capres dan cawapres ternyata

berperan penting dalam isi media. Ideologi media yang diusung berunsur politik untuk memuluskan langkah mereka. Para pemilik media menggunakan media dalam

menggerakan roda politiknya dengan membingkai informasi untuk mempengaruhi opini calon pemilih. Berdasarkan dari hasil penelitian pada Okezone.com yang dimiliki oleh cawapres dari partai Hanura, Hary Tanoesoedibjo ditemukan pencitraan

untuk mendukung sang pemimpin media dengan pasangannya Wiranto. Agenda media yang terlihat adalah pandangan positif yang dikonstruksikan oleh media akan

layaknya dipilih pasangan Wiranto dengan Hary Tanoesoedibjo pada tema berita sedangkan pada tema berita tentang lawan politik mereka, Okezone.com cenderung membingkai pemberitaan yang terkesan negatif. Pendapat dari pakar politik digunakan untuk menguatkan pandangan redaksi.

Sedikit berbeda dengan Vivanews.com yang cenderung membingkai pemberitaan dengan menonjolkan kegiatan dan program yang merakyat yang dilakukan oleh Aburizal Bakrie tanpa membingkai secara negatif akan lawan politik

dari sang pemilik Vivanews.com, Aburizal Bakrie.

6. Kesimpulan

(13)

media yang menjadi capres dan cawapres menggunakan media massa yang

dimilikinya untuk membangun popularitas serta mengiring opini tentang dirinya dan lawan politik. Ideologi media yang diusung menjadi berunsur politik demi

kepentingan pemilik media.

Keberadaan swing voter dan tingginya pengaruh media massa dalam mengiring opini publik membuat ideologi partai politik bukan lagi menjadi suatu kekuatan yang mampu menarik para pemilih. Partai politik bersama dengan capres

dan cawapres yang diusungnya menempatkan pengaruh opini untuk memenangkan petarungan pada Pemilu 2014. Media massa menjadi alat untuk mencitrakan diri

bahkan untuk menjatuhkan lawan politik.

Daftar Pustaka

Ambardi, Kuskridho (2009). Mengungkap Politik Kartel: Studi tentang Sistem Kepartaian di Indonesia Era Reformasi. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Antaranews. ”Berita Politik Warnai Sepanjang 2013.” Diambil dari

http://www.antaranews.com/berita/411766/survei-253718-berita-politik-warnai-sepanjang-2013; Internet 7 Febuari 2013.

Bryant, Jennings dan Susan Thompson (2002). Fundamental of Media Effects. New York: McGraw-Hill.

Detik.com. “SMRC: Swing Voter Berpotensi Ubah Peta Politik Pemilu 2014.” Diambil dari

http://news.detik.com/read/2012/10/14/171433/2062200/10/smrc-swing-voter-berpotensi-ubah-peta-politik-pemilu-2014; Internet diakses 7 Febuari 2013.

Dijk, Teun A. van. “Ideology and Discourse: A Multidisciplinary Introduction.” Diambil dari www.discourses.org/…/Ideologi; Internet diakses 6 Febuari 2013.

Eriyanto (2012). Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LKiS.

Kompas (2014). Menatap Indonesia 2014: Tantangan, Prospek Politik, dan Ekonomi Indonesia. Jakarta: Kompas Media Nusantara.

LSI. ”Kecenderungan Swing Voter Menjelang Pemilu Legislatif 2009: Trend Opini Publik.” Diambil dari www.lsi.or.id/file_download/61; Internet diakses 6 Febuari 2013.

Republika. ”Swing Voter Pemilu 2009 Tinggi.” Diambil dari

http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/08/11/17/14294-lsi-swing-voter-pemilu-2009-tinggi; Internet diakses 4 Febuari 2013

Shoemaker, Pamela J, Stephen D Reese (1996). Mediating The Message: Second Edition. New York: Longman Publisher.

(14)

Suranto, Hanif, Hawe Setiawan, dan Ging Ginanjar (1999). Pers Indonesia Pasca Soeharto: Setelah Tekanan Penguasa Melemah. Jakarta: Lembaga Studi Pers dan Pembangunan.

Tjumano, Datuak Alat. ”Mereka-Reka Peta Politik Menjelang Pemilu 2014.” Diambil dari http://news.detik.com/read/2013/12/12/140127/2440108/103/4/mereka-reka-peta-politik-menjelang-pemilu-2014; Internet diakses 17 januari 2013.

Tribunnews. ”Jumlah Swing Voter Lebih Tinggi Ketimbang Parpol.” Diambil dari http://www.tribunnews.com/nasional/2012/10/14/jumlah-swing-voter-lebih-tinggi-ketimbang-parpol; Internet diakses 4 Febuari 2013.

Gambar

tabel hasil

Referensi

Dokumen terkait

Kepentingan pemilik media inilah yang menjadikan media massa seperti TV One dan Metro TV tidak bisa independen dan objektif dalam pemberitaan pilpres 2014, sehingga masyarakat juga

Melihat fenomena ini, berbagai upaya pun dilakukan untuk melindungi hak anak korban kekerasan seksual dari pemberitaan media massa yang seringkali menyudutkan dan

Serta, memberikan wacana baru mengenai pemberitaan pada media massa dan menunjukkan kepada khalayak tentang konstruksi realitas sosial yang dilancarkan oleh media massa, agar

Oleh sebab itu, Amin perlu memobilisasi massa, mendirikan partai idea-nya, merumuskan ideologi partai politik berdasar pemahaman Hizbullah yang ia pahami, serta menegaskan

Sejak saat itu, para media massa telah melihat bahwa dengan adanya pemberitaan terkait dengan isu terorisme, maka akan memberikan keuntungan tersendiri bagi media massa tersebut

Hal ini dikarenakan segala bentuk informasi dan pemberitaan di media massa, memiliki peranan penting dalam membentuk persepsi masyarakat tentang suatu partai

Uraian di atas muncul keterkaitan me- dia massa dengan komunikasi politik inter- nasional, yaitu: Satu, bahwa media massa lahir dari rahim politik nasional, sehingga

Keberpihakkan media massa pada ideologi dominan merupakan hal yang tidak bisa dihindari. Hal ini karena pada masa industrialisasi, media massa dituntut untuk mampu