• Tidak ada hasil yang ditemukan

Motivasi Ibu Rumah Tangga dalam Berwirau

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Motivasi Ibu Rumah Tangga dalam Berwirau"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Trias Setiawati dan Anggia Paramitha, Jurusan Manajemen FE UII Yogyakarta Page 1 Motivasi Ibu Rumah Tangga dalam Berwirausaha

(Studi Kasus Tiga Wirausaha Handicraft di Yogyakarta)1

Trias Setiawati dan Anggia Paramitha2

ABSTRACT

Woman entrepreneur is not a minority profession anymore within the business realm. Almost one-third of entrepreneurs are women. Woman entrepreneur from different backgrounds appear to enliven the competition under the business setting. Even women who previously took a role as housewives are now participating in the competition. Many housewives try their luck with business. This phenomenon is currently called momtrepreneur. Since many housewives have now become woman entrepreneur, it is necessary to do a research on what motivates the housewives to be woman entrepreneur. The research was conducted with qualitative approach and in-depth interview technique. The objects of the research were three woman entrepreneurs who have been involved in handcraft business. Since they were women, the research also aimed at finding out the issues of gender inequality associated with woman entrepreneur both within their individual life, within business setting, and within the society.

The findings of the research show that the underlying reason that motivates the women to be woman entrepreneur includes economic condition. In addition, motivation for achievement plays a crucial role in the course of their performance as woman entrepreneur. Motivation for achievement generally appears when they have been involved in the business. Such spirit encourages the women to develop their business in a better way with an expectation that they could run the business in a smooth and stable way. However, the study indicates that there are some kinds of gender equality associated with woman entrepreneur, both intentionally and unintentionally. Such gender equality is related to tradition, custom, and personal and societal perception on the working women.

Keywords: Woman entrepreneur, housewives, motivation

KONTEKS PENELITIAN

Perempuan dan bisnis adalah dua kata yang berbeda sifat, kata perempuan sangat feminin sedangkan kata bisnis cenderung lebih mengarah kepada pekerjaan yang maskulin. Tak dapat dipungkiri permasalah seputar gender juga terjadi di dalam dunia bisnis, hal ini tercermin pada anggapan bahwa dunia bisnis adalah dunia laki-laki. Meskipun dalam kenyataannya, dunia internasional telah menjamin persamaan hak antara laki-laki dan perempuan sebagai bagian dari hak asasi manusia, namun pada kenyataannya, kaum perempuan masih terus menghadapi kesenjangan dalam masyarakat baik secara legal maupun secara de facto. Kesenjangan-kesenjangan ini muncul akibat dari adanya persepsi stereotip terhadap peran laki-laki dan perempuan atau gender. Perempuan sering kali menghadapi akses yang terbatas terhadap pendidikan, kepemilikan properti, keuangan, pekerjaan dan keikutsertaan dalam kegiatan ekonomi. (Muller, 2006)

1

Paper dipresentasikan dalam Seminar Bersama antara Prodi Manajemen FE UII dan Graduate School pf Business (GSB) Fakulti Ekonomi dan Perniagaan Univversiti Kebangsaan Malaysia 22 Nopember 2011 di Yogyakarta. 2

(2)

Trias Setiawati dan Anggia Paramitha, Jurusan Manajemen FE UII Yogyakarta Page 2 Semakin berkembangnya permasalah gender dan peluang untuk melakukan kegiatan usaha dengan berbagai motivasi dan harapan, maka munculah banyak wirausaha perempuan. Semakin banyak perempuan yang mulai menyadari bahwa menjadi wirausaha merupakan cara terbaik untuk membantu ekonomi keluarga, karier bisnis, dan aktualisasi diri. Sekarang, kata perempuan dan bisnis dapat berjalan beriringan, karena kini telah terbukti banyak perempuan yang terbukti sukses dalam menjalankan bisnis (Danarti, 2008, hlm 3). Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan mencatat dari 46 juta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang diketahui, sekitar 60 persen pengelolanya adalah kaum perempuan. (Anonim, 2009). Dengan jumlah yang cukup banyak itu, peran wirausaha perempuan menjadi cukup besar bagi ketahanan ekonomi, karena mampu menciptakan lapangan kerja, serta mengatasi masalah kemiskinan.

Perempuan memiliki gaya bisnis yang berbeda dengan kaum pria. Perempuan lebih memilih jenis bisnis yang masih berada dalam lingkup keseharian, serta menggunakan gaya bisnis dari hati ke hati dengan konsumennya. Perasaan yang cenderung personal, mengenal pelanggan secara mendalam, dan pendekatan yang melibatkan emosi, merupakan kekuatan bisnis para perempuan (Danarti, 2008, hlm 4). Banyak perempuan yang berbisnis bukan untuk memperkaya diri. Dalam perjalan bisnis mereka, baik secara alami dan dengan kesadaran penuh, berbagi, mencurahkan perhatian untuk sosial, maupun kemanusiaan, dan lingkungan. Sebagian besar perempuan pengusaha memulai bisnis mereka dengan hati, berdasarkan kesenangan atau minat pribadi (Anonim,2009)

Perempuan yang sukses menjadi seorang wirausaha bisa berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang berpendidikan tinggi, memiliki pekerjaan tetap, mempunyai karier yang bagus di kantor dan mempunyai usaha sampingan di rumah. Ada juga yang hanya memiliki pendidikan yang rendah, tapi berhasil membesarkan usaha. Bahkan banyak pula ibu rumah tangga yang akhirnya sukses berbisnis. Ibu rumah tangga adalah perempuan yang dapat menjalankan fungsi ganda di dalam hidupnya. Tak dapat dipungkiri seorang ibu rumah tangga memegang posisi yang sangat penting dalam keluarga. Ibu rumah tangga harus mengerjakan segala tugas rumah tangga, memastikan segala kebutuhan keluarga terpenuhi, mengurus anak dan suami, memperhatikan tumbuh kembang anak-anak, serta mendidik anak-anaknya untuk menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan agamanya. Tugas rutin sebagai seorang ibu rumah tangga sejatinya sudah cukup menguras energi dan tenaga.

Jadi dapat dimaklumi jika seorang ibu rumah tangga tidak memikirkan lagi urusan ekonomi keluarga, dan menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga kepada suami. Tetapi, jika ada seorang ibu rumah tangga yang masih mempunyai energi dan semangat untuk menjalankan bisnis disela-sela rutinitasnya mengurus segala kebutuhan keluarga, hal ini perlu mendapatkan apresiasi. Mompreneur adalah istilah yang digunakan oleh Majalan Entrepreneur dari Amerika Serikat untuk menggambarkan bisnis yang dilakoni oleh para ibu di negeri tersebut. Tak ubahnya seperti entrepreneur yang berarti wirausaha (Danarti, 2008, hlm 7). Yang membedakan adalah mompreneur adalah bisnis yang dilakukan oleh para ibu dengan berkantor di rumah. Mereka melakukan aktivitas bisnis disela-sela kesibukan mengasuh anak, merawat rumah, mengerjakan tugas rumah tangga dan mengurus suami. Mereka bisa mempunyai usaha mereka sendiri dengan tetap tidak melupakan status mereka sebagai ibu rumah tangga.

(3)

Trias Setiawati dan Anggia Paramitha, Jurusan Manajemen FE UII Yogyakarta Page 3 Oleh karena itu, ibu rumah tangga yang juga sukses menjadi wirausaha adalah objek yang menarik untuk diteliti. Hal yang menarik untuk diteliti mengenai momprenur ini adalah, apa motivasi yang melatar belakangi seorang ibu rumah tangga memutuskan untuk menjadi seorang mompreneur.

Ada berbagai macam latar belakang seorang ibu akhirnya terIbu Ak untuk menjadi pengusaha. Ada yang motivasinya untuk menambah uang belanja untuk membantu pemenuhan kebutuhan ekomoni keluarga, ada yang hanya sekedar mengisi waktu luang, menyalukan hobi, atau membunuh kebosanan. Atau bahkan lebih dari pada itu, seorang ibu memutuskan untuk terjun ke dalam dunia usaha karena dimotivasi akan keinginannya untuk berprestasi, seperti yang dikemukakan oleh David McClelland dalam McClelland’s Need For Motivation Achievement

Theory (Winardi, 2002, hlm 81). Selain motivasi awal yang melatar belakangi seorang ibu rumah

tangga menjadi pengusaha perempuan, juga dapat diidentifikasi motivasi lain seperti motivasi berprestasi, motivasi untuk memperoleh kekuasaan dan motivasi untuk berafiliasi yang timbul setelah mompreneur tersebut menjalankan usahanya dalam dunia bisnis. Jika bicara tentang pengusaha perempuan, maka tidak akan lepas dari pembahasan seputar permasalahan gender. Melalui penelitian ini juga akan dieksplorasi permasalahn mengenai masalah ketidakadilan gender yang mungkin pernah dialami oleh pengusaha perempuan dalam baik dalam kehidupan pribadi, maupun dalam perjalanan bisnisnya.

Dalam penelitian, ini dipilih tiga orang wirausaha perempuan yang bergerak dalam bidang usaha kerajinan handicraf sebagai objek penelitian. Usaha kerajinan handicraft dipilih karena dianggap merupakan salah satu usaha yang dekat dengan wirausaha perempuan. Usaha kerajinan handicraft adalah salah satu produk home industry yang kepemilikannya dan pengelolaannya kebanyakan dijalankan oleh kaum perempuan. Kerajinan handicraft juga merupakan usaha yang sarat akan pengembangan talenta, ide, dan kreativitas sehingga memungkinkan adanya banyak motivasi yang melatar belakangi keputusan untuk mendalami usaha ini. Sementara itu pemilihan tiga orang ibu rumah tangga yang juga menjadi pengusaha perempuan ini. Pemilihan ketiga objek ini adalah berdasarkan atas keunikan dan pengalaman masing-masing individu dalam menjalankan usahanya di bidang kerajinan handicraft.

Fokus Penelitian: (1) objek penelitian terfokus pada pengusaha perempuan yang merupakan seorang ibu rumah tangga yang menjalankan usahanya di rumah.(2) Jenis usaha difokuskan pada usaha kerajinan handicraft. (3) Permasalahan difokuskan kepada motivasi yang mendorong seorang ibu rumah tangga menjadi seorang wirausaha dan permasalahan gender yang dialami.

Permasalahan Penelitian: (1) Bagaimana gambaran peran dari motivasi berwirausaha dalam mendorong seorang ibu rumah tangga menjadi seorang pengusaha perempuan ? (2) Bagaimana gambaran peran dari motivasi berprestasi dalam mendorong seorang ibu rumah tangga menjadi seorang pengusaha perempuan? (3) Bagaimana gambaran permasalah gender yang dihadapi seorang ibu rumah tangga yang menjadi pengusaha perempuan?

Tujuan Penelitian: (1) Memberikan gambaran tentang peran motivasi berwirausaha yang mendorong seorang ibu rumah tangga untuk menjadi seorang pengusaha perempuan. (2) Memberikan gambaran tentang peran motivasi berprestasi dalam mendorong seorang ibu rumah tangga menjadi seorang pengusaha perempuan. (3) Mengeksplorasi tentang permasalahan gender yang dihadapi seorang ibu rumah tangga yang menjadi pengusaha perempuan.

(4)

Trias Setiawati dan Anggia Paramitha, Jurusan Manajemen FE UII Yogyakarta Page 4 untuk bersemangat dalam berkarya dengan menyimak life story perjalanan tiga orang pengusaha perempuan yang menjadi subyek dalam penelitian ini.

KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI Kajian Pustaka

Penelitian yang berjudul Achievement Motivation Women Entrepreneur yang dilakukan oleh Janis Langan-Fox dan Susana Roth dalam Journal of Occupational and Organizational

Psychology (1995), The British Psychological Society University of Melbourne, Australia.

Tinjauan studi penelitian mengenai profil psikologis para pengusaha menunjukkan bahwa belum ada penelitian yang dilaksanakan untuk meneliti pengusaha perempuan. Sebagian besar penelitian dilaksanakan pada laki-laki saja. Dalam studi ini, digunakan kerangka teoritis tradisional David McClelland. Variabel yang mempengaruhi motivasi pengusaha, biasanya berhubungan dengan eksplorasi diri, perlunya kekuatan dan pengaruh atau kemampuan untuk mempengaruhi dan memiliki kuasa, perlawanan terhadap subordinasi, lokus internal kontrol, kepuasan kerja, dan nilai-nilai prestasi.

Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk menyelidiki atribut psikologis dan motivasi para pengusaha perempuan, termasuk gagasan eksplorasi relevansi yang dikemukakan oleh McClelland tentang prestasi tertentu (kewirausahaan). Penelitian dilakuakan kepada 60 pengusaha perempuan yang ada di Australia. Analisis psikologis mengungkapkan bahwa variabel yang mendorong seorang pengusaha perempuan adalah : kebutuhan untuk menjadi pengusaha sukses. Kewirausahaan telah menjadi pilihan karir bagi perempuan. Ada 255.500 orang perempuan dalam bisnis di Australia, atau sekitar 31,5 persen dari populasi perempuan sebagai pemilik usaha kecil. Dari 60 orang pengusaha perempuan yang dijadikan sampel, dapat dilihat bahwa 66,7 persen dari sampel adalah pemilik bisnis; 70 persen mendirikan bisnis mereka sendiri; 86,7 persen punya karyawan, dengan 26,7 persen memiliki lebih dari 10 karyawan; 68,3 persen memperoleh penghasilan lebih dari $ 40 000 per tahun dari bisnis mereka (di atas rata-rata nasional sebesar $ 32 297; Biro Statistik Australia, 1992 ); 18,3 persen dimiliki lebih dari satu bisnis dan 68,3 persen dalam bisnis lebih dari lima tahun. Sebagian besar pengusaha perempuan berada pada dalam rentang usia 36-55; 61 persen sudah menikah dan 26 persen sudah bercerai; 31 persen tidak mempunyai anak.

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan cara survei kuesioner dan wawancara individual. Survei kuesioner terdiri dari permintaan untuk informasi biografi. Langkah-langkah yang akan digunakan dalam teknik analitik. Ini adalah: Achievement

Motivation Skala yang digunakan mengukur pencapaian nilai-nilai. Berdasarkan hasil dari data

yang telah dikumpulkan maka dapat disimpulan bahwa pengusaha perempuan tidak termotivasi oleh imbalan intrinsik kewirausahaan. Analisis MDS, menunjukkan bahwa kelompok-kelompok perempuan ini tampaknya didorong oleh keprihatinan keluarga, kesempatan untuk melanjutkan bisnis untuk anak-anaknya dan berharap untuk mendapat lebih banyak uang dalam kegiatan kewirausahaannya. Alasan ekonomi keluarga merupakan alasan utama mereka untuk menjadi seorang pengusaha perempuan.

(5)

Trias Setiawati dan Anggia Paramitha, Jurusan Manajemen FE UII Yogyakarta Page 5 mengalami masa sulit setelah ayahnya wafat. Ketika itu usia beliau masih sangat mudah tetapi sudah berusaha untuk membuka toko yang menjual barang kebutuhan sehari-hari yang diberi nama Toko Flora. Setelah mendirikan Toko Flora ibu Pamella mulai belajar untuk berdagang demi mempertahankan usaha kecil-kecilannya.

Setelah menikah dengan suaminya Bapak H. Sunardi Dahuri, ibu Pamella tidak berhenti menjalankan bisnis, karena sebelum menikah sarat yang diajukan oleh bapak Sunardi adalah setelah menikah ibu Pamella juga harus ikut mencari nafkah bagi keluarga. Persyaratan inilah yang juga memotivasi ibu Pamella untuk mendirikan toko yang menjual kebutuhan sehari-hari, dibantu sang suami ibu Pamela lalu mengembangkan usahanya di dalam bidang ritel tersebut. Akhirnya semakin lama toko mereka semakin berkembang hingga kini menjadi Pamella Swalayan yang kini sudah memiliki enam cabang di Yogyakarta.

Selain motivasi awal yang melatar belakangi kariernya sebagai seorang pengusaha perempuan, ibu Pamela juga mempunyai motivasi-motivasi lain yang muncul seiring dengan berjalannya kariernya dibidang bisnis ritel ini, ibu Pamella ingin memberikan contoh bagaimana cara mewujudkan bisnis yang Barokah. Hal ini salah satunya diwujudkan dengan cara menjadikan usahanya sebagi media untuk berdakwah. Ibu Pamella ingin menerapkan etika bisnis islam dalam menjalankan usahanya dan mendidik karyawannya untuk selalu menjalankan syariat-syariat Islam, yang salah satunya tercermin dalam menjalankan usahanya. Ibu Pamella menilai keluarga mempunyai peranan yang besar dalam kesuksesan usahanya, dukungan penuh dari keluarga, terutama dari sang suami yang ikut terjun langsung membantu ibu Pamella merupkan salah satu kunci kesuksesannya ditambah lagi dengan kerja keras untuk terus mengembangkan usaha dan kemauan untuk terus belajar.

Landasan teori

Pengertian Kewirausahaan

Berikut ini merupakan beberapa definisi kewirausahaan menurut beberapa ahli (Kristanto, 2009, hlm 1-2), yaitu: (1) Kewirausahaan menurut Stevenson adalah suatu pola tingkah laku manajerial yang terpadu. Kewirausahaan adalah suatu pemanfaatan peluang-peluang yang tersedia, tanpa mengabaikan sumber daya yang dimilikinya. (2) Kewirausahaan menurut Hisrich adalah mengenai proses penciptaan sesuatu yang berbeda, yang memiliki nilai tambah melalui pengorbanan waktu dan tenaga dengan berbagai resiko sosial , dan mendapatkan penghargaan akan suatu keuntungan yang diperoleh beserta dengan timbulnya kepuasan pribadi terdapat hasil yang diperoleh. (3) Peter Ducker berpendapat bahwa entrepreneurship adalah sebuah cara menciptakan sumber daya baru yang mendayagunakan sumber daya yang ada untuk menghasilkan kekayaan. Proses kewirausahaan secara tipikal sama dengan proses manajemen strategi. (4) Sedangkan menurut Heru Kristanto, kewirausahaan adalah ilmu, seni maupun prilaku, sifat, ciri, dan watak seseorang yang memiliki kemampuan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif. Berpikir sesuatu yang baru dan bertindak melakukakan sesuatu yang baru, guna menciptakan nilai tambah agar mampu bersaing, dengan tujuan menciptakan kemakmuran individu dalam masyarakat.

Pengertian Wirausaha dan Karakteristik Wirausaha

(6)

Trias Setiawati dan Anggia Paramitha, Jurusan Manajemen FE UII Yogyakarta Page 6 Sikap dan perilaku sangat dipengaruhi oleh sifat dan watak yang dimiliki oleh seseorang. Sifat dan watak yang baik, berorientasi pada kemajuan dan positif merupakan sifat dan watak yang dibutuhkan oleh seorang wirausaha agar wirausaha tersebut dapat maju dan sukses. Zimmerer dan Scarborough, mengemukakan 14 karakteristik yang melekat pada diri seorang wirausaha, yaitu: (Kristanto, 2009, hlm 8-11). (1) Desire of (2) Tolerance of ambiguity. (3)

Vision. (4) Tolerance of failure (5) Internal locus of control .(5) Continuos improvement (6)

Preference for moderate risk. (7) Confidence in their ability to success (8) Desire for immediate

feedback (9) High energy level. (10) Future orientation. (11) Skill at organization. (12) High

commitment. (13) Flexibility

Motivasi

Motivasi Kewirausahaan. Motivasi adalah suatu faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu perbuatan atau kegiatan tersebut, sehingga motivasi dapat diartikan sebagai pendorong perilaku seseorang. Motivasi seseorang untuk melakukan bisnis sering kali berbeda. Keanekaragaman ini menyebabkan perbedaan dalam prilaku yang berkaitan dengan kebutuhan dan tujuan. Seorang wirausaha termotivasi untuk melakukan kegiatan usaha dengan berbagai alasan, yaitu independensi, pengembangan diri, alternatif unggul terhadap pekerjaan yang tidak memuaskan, penghasilan, dan keamanan (Kristanto, 2009, hlm 13). Selain itu, menurut Ivanchevich dan Mattenson mangatakan bahwa para wirausaha cenderung memiliki keinginan untuk berprestasi yang lebih tinggi. Kebutuhan untuk berprestasi adalah salah satu motif yang penting yang dimiliki oleh para entrepreneur sukses. Orang dengan tingkat keinginan berprestasi tinggi mendapatkan kepuasan dari kesuksesan mereka mengerjakan tugas yang menantang, mencapai standard of excellence, dan mampu mengembangkan jalan yang lebih baik dalam melakukan sesuatu. (Kristanto, 2009, hlm 14)

Motivasi Berprestasi. Terdapat beberapa karakteristik dari orang yang menurut McClelland sebagai berprestasi tinggi (Winardi, 2002, hlm 85), antara lain: (1) Suka mengambil resiko yang

moderat (moderate risk). (2) Memerlukan umpan balik yang segera. (3) Memperhitungkan

keberhasilan. (4) Menyatu dengan tugas.

Konsep Gender dan Ketidakadilan Gender

Konsep gender merupakan suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun kaum perempuan yang meliputi semua hal yang dapat dipertukarkan antara sifat laki-laki dan sifat perempuan, yang bisa berubah dari waktu ke waktu serta berbeda dari suatu tempat ke tempat yang lainnya, maupun berbeda dari suatu kelas ke kelas lainnya. Itulah yang dikenal dengan konsep gender.

Ketidakadilan gender tersebut kemudian termanifestasikan dalan berbagai bentuk ketidakadilan (Fakih, 2008, hlm 14-23), yakni: (1) Marginalisasi, pemiskinan ekonomi terhadap kaum perempuan; (2) Subordinasi, anggapan tidak penting dalam keputusan politik pada salah satu jenis kelamin, umumnya kepada kaum perempuan; anggapan bahwa perempuan itu irrasional dan emosional sehingga perempuan tidak bisa tampil memimpin, yang berakibat munculnya sikap yang menempatkan perempuan ke pada posisi yang tidak penting; (3) Pembentukan Strereotip, pelabelan negatif terhadap jenis kelamin tertentu; (4) Kekerasan (violence) terhadap jenis kelamin kaum perempuan, karena perbedaan gender; (5) Beban Kerja Domestik yang Lebih Panjang dan Lebih Banyak (Burden). (Lies Marcoes: 2001, halm.14-15).

(7)

Trias Setiawati dan Anggia Paramitha, Jurusan Manajemen FE UII Yogyakarta Page 7 Pendekatan Penelitian. Pendekatan dalam penelitian kali ini adalah kualitatif (Komariah: 2009:219); dan strategi studi kasus (Yin, dalam Bungin, 2008:18), dan tipe life story; dengan tiga kasus pelaku, dengan demikian disebut multicase (Bungin, 2008:18).

Subyek Penelitian: Penelitian ini mengambil 3 orang wirausaha perempuan di bidang handicraft di daerah Kabupaten Sleman dan Bantul. DI Yogyakarta.

Lokasi Penelitian.Peneliti mengambil lokasi penelitian di rumah yang juga berfungsi sebagai

workshop dari tiga objek penelitian peneliti, yaitu: Sedayu Bantul (narasumber 1), Sindoharjo

Sleman (narasumber 2), dan Sabodadi Bantul (narasumber 3).

Jenis Data dan Analisis Penelitian. Jenis Data: Perilaku subjek yang diamati di lapangan juga menjadi data dalam pengumpulan hasil penelitian ini. Adapun jenis data yang dikumpulkan adalah: catatan lapangan, rekaman audio, dokumentasi tertulis, dan foto.

Konsep Penelitian: Adapun konsep yang diteliti adalah: (1) data diri dan profil usaha, (2) motivasi menjadi wirausaha perempuan, (2) ketidakadilan gender dalam praktik wirausaha perempuan.

Cara dan Instrumen Pengumpulan Data: Wawancara mendalam dengan narasumber, dengan instrument daftar pertanyaan wawancara (pertanyaan terbuka); dan observasi terus terang, dengan instrument daftar periksa (checklist) observasi usaha.

Cara Analisis Data: Hasil yang didapatkan, kemudian dicatat secara lengkap komprehensif. Lalu dilakukan proses análisis berupa: data reducsion, data display, dan conclution

drawing/verification (Sugiyono: 2009:92). Untuk memastikan kebenaran penelitian, dilakukan uji

Uji Kredibilitas instrumen, berupa triangulasi sumber, teknik, dan waktu; dan member check. Sedangkan untuk validitas eksternal dilakukan Uji Transferability (Sugiyono, 2009:130).

HASIL DAN PEMBAHASAN Profil Pengusaha

Profil 1: Ibu A, menjalani usaha di bidang kerajinan handicraft yang memproduksi barang-barang kerajinan seperti tas, hiasan meja dan berbagai wadah untuk menyimpan alat-alat rumah tangga yang terbuat dari bahan-bahan alami seperti bambu, serat nenas dan eceng gondok, selain itu usaha kerajinan ini juga melakukan inovasi dengan menggunakan bahan daur ulang sebagai bahan baku kerajinannya, seperti kertas koran dan majalah bekas. Ibu Ibu A memiliki 50 karyawan yang ikut mendukung usahanya. Sebagian besar karyawannya adalah merupakan tetangga yang tinggal di sekitar rumahnya di daerah Sedayu. Produk kerajinan dari Aji Handicraft saat ini sudah mulai merambah pasar ekspor.

Profil 2: Ibu B, merupakan pemilik dari Heraton Handicraft yang sudah lama malang melintang di dunia kerjinan Handicraft. Produk utama dari Heraton Handicraft adalah produk tas perempuan yang terbuat dari bahan alami. Produk-produk dari Heraton Handicraft sudah memasuki pasar ekspor dan sering mengikuti pameran produk handicraft baik yang berskala daerah, nasional maupun internasional.

Profil 3: Ibu C, merupakan salah satu pengerajin tas kulit di desa Wisata Kerajinan Kulit Manding. Namun, karena persaingan yang cukup ketat dengan sesema pengerajin kuli dan juga permintaan pasar yang semakin berkurang, ibu C lebih memfokuskan usahanya dalam bidang pembuatan handicraft. Usaha pembuatan tas kulit tetap beliau tekuni, jika ada pesanan saja. Jenis

handicraft yang difokuskan oleh ibu C adalah kerajinan handicraft yang digunakan untuk

(8)

Trias Setiawati dan Anggia Paramitha, Jurusan Manajemen FE UII Yogyakarta Page 8 Motivasi Menjadi Wirausaha Perempuan

Profil 1: Ibu A: Dengan Berwirausaha, Keluarga Menjadi Lebih Baik

Ibu A memulai merintis usahanya di bidang kerajinan handicraft pada tahun 2004. Selama kurun waktu tiga tahun pertama pernikahannya, Ibu A hanya menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, setelah di PHK, suaminya tak kunjung mendapatkan pekerjaan tetap sementara anak mereka semakin besar semakin betambah kebutuhannya. Akhirnya Ibu A memutuskan untuk bekerja membantu suaminya. Ibu A ingin melakukan pekerjaan yang bisa ia kerjakan di rumah, karena setelah punya anak ia merasa tidak bisa bekerja kantoran lagi seperti saat sebelum

menikah. “Setelah punya anak, saya nggak bisa kalau full day satu hari penuh diluar. Saya

pikir-pikir sudahlah di rumah saja, apa saja saya kerjakan.” (Ibu A, 09/04/10, 16.20)

Banyak saudaranya menyarankan agar membuat usaha sendiri saja dibidang kerajinan. Toh ada saudara yang juga bergerak dalam bidang yang sama, jadi tidak ada salahnya untuk mencoba. Membuka usaha sendiri juga banyak manfaatnya bagi Ibu A yang juga seorang ibu rumah tangga. Ia tidak akan terikat oleh waktu seperti orang kantoran. Keluargapun siap untuk membantu memberikan modal kepada Ibu A, jika ia benar-benar serius ingin membuka usaha. Dengan dukungan yang besar dari pihak keluarga inilah akhirnya Ibu A dan suami memberanikan diri untuk memulai usaha mereka pada tahun 2004. Bersama suami, Ibu A mencoba untuk memdesain barang-barang kerajinan yang terbuat dari bambu dan enceng. Ia mencoba untuk menyesuaikan produknya dengan selera pasar. Sebagai target, Ibu A mencoba untuk membidik pasar ekspor, karena pasar ekspor dianggapnya lebih menjanjikan untuk memasarkan produk-produk kerajinan dari bahan-bahan alami.

Sebagai promosi awal, ia mencoba untuk menawarkan sampel produknya ke perusahaan-perusahaan ekspor yang bertindak sebagai supplier produk kerajinan yang berada di Yogyakarta. Mengenai harga, diawal usahanya ia tidak mematok harga yang tinggi untuk barang kerajinannya. Karena yang ia butuhkan di awal adalah kepercayaan dan hubungan bisnis yang baik, mengenai harga bisa dirundingkan kembali dengan pihak supplier.Untuk dapat masuk dan bersaing dalam dunia usaha, khususnya pada dunia usaha handicraft, diperlukan kesungguhan, dan keuletan. Seorang pengusaha harus memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi agar pelanggan bisa menaruh kepercayaan kepadanya. Prinsip inilah yang selalu ia pegang dalam menjalankan usahanya. “Kalau ada pesanan apa saya kerjakan sungguh-sungguh. Sesudah itu akhirnya banyak yang percaya karena saya tanggung jawab, sesuai dengan target. Lama kelamaan banyak yang

nyari”. (Ibu A, 09/04/10, 16.20).

Walaupun baru enam tahun menjalankan usaha ternyata banyak permasalahan-permasalahan yang telah menghadang usahanya, mulai dari masalah teknis produksi yang belum baik, yang mengakibatkan adanya masalah pembatalan produk oleh pihak supplier. Ibu A juga beberapa kali ditipu oleh rekan bisnis yang tidak membayar hasil kerjanya yang sudah terlanjur diekspor ke luar negeri. Untuk menghadapi semua masalah yang pernah singgah dalam usahanya yang bisa Ibu A lakukan adalah bersabar dan kembali bangkit untuk berkarya lagi agar tetap bisa bertahan dengan usaha yang sedang dijalankannya, dan menjadikan setiap pengalaman pahit sebagai pelajaran agar kedepan lebih berhati-hati lagi dalam menjalin kerjasama, selalu menjaga dan memperhatikan kualitas produk itulah prinsipnya dalam menjalankan usaha. “Cuma bisa berdoalah, cuma bisa nguatin Allah. Supaya kita bisa kuat lagi kerja lagi. Insya Allah dikasi rezeki seperti semula.” ujar Ibu A (Ibu A, 14/04/10, 10.15)

(9)

Trias Setiawati dan Anggia Paramitha, Jurusan Manajemen FE UII Yogyakarta Page 9 mengatur sendiri waktu sehingga perannya sebagai ibu rumah tangga pun tidak terabaikan. Selain itu dengan menjadi pengusaha perempuan, Ibu A juga bisa membantu tetangga-tetangga yang ada di sekitar rumahnya dengan menjadikan mereka sebagai karyawan dalam usahanya, sebagaimana yang diutarakan oleh Ibu A, “Saya senang, soalnya saya juga momong dirumah. Bisa lihat anak seharian. Terus bisa bantu tetangga-tetangganya juga. Senang rasanya ada kepuasan bisa ngasi

kerjaan sama orang lain” (Ibu A, 14/04/10, 10.15)

Ptofil 2: Ibu B, Handicaft Ini Usaha Primer Keluarga Kami

Ibu B memulai usahanya di bidang kerajinan tas pada tahun 1982. Dunia usaha memang bukanlah hal yang baru dalam kehidupan Ibu B. Orang tuanya mempunyai usaha dagang barang-barang kelontong dan usaha kulakan barang-barang kerajinan patung dari Bali. Ibu B sebenarnya mewarisi satu buah toko kelontong milik orang tuanya, namun iya merasa bahwa meneruskan usaha orang tuanya bukanlah pilihan hidupnya, toko itupun akhirnya diserahkan pengelolaannya kepada salah satu saudaranya. Ibu B lebih merasa tertantang untuk membuka usaha sendiri, yang tidak hanya sekedar menjual barang dari orang lain tetapi juga memproduksi barang kerajinan sendiri. Ide untuk terjun dalam dunia kerajinan tas berawal dari perhatiannya kepada kegiatan para petani yang ada di sekitar rumahnya. Ibu B sering memperhatikan para petani tembakau menganyam keranjang. Ibu B melihat bahwa kegiatan menganyam ini bisa dijadikan sebagai sebuah ladang usaha baginya, karena menurut pengalamannya saat menjaga kios orang tuanya dulu di Borobudur, banyak wisatawaan asing yang terIbu Ak dengan tas dan kerajinan tangan yang terbuat dari bahan-bahan alami khas Indonesia.

Melihat peluang ini Ibu B lalu mencoba untuk membuat dan menganyam tas sendiri. Setelah merasa yakin mampu untuk menghasilkan produk anyaman tas yang baik, dan didukung oleh ketersediaan bahan baku dan sumber daya manusia Ibu B memberanikan diri untuk masuk dalam dunia kerajinan tas, dengan spesifikasi kerajinan tas handmade dari bahan alami. Bermodalkan sedikit tabungan dan bantuan dana dari keluarganya Ibu B memulai langkahnya. Ia mulai merancang akan dibawa kemana usaha mereka nantinya. Diperlukan perencanaan yang matang untuk menjalankan usahanya ini, mengingat usaha ini ada usaha utama bagi perekonomian keluarga Ibu B. “Ekonomi bisa dibilang tujuan dasar, karena ini bukan usaha sampingan. Ini usaha pokok kita karena kita bukan karyawan, kita bukan pegawai negeri, kita

bukan statusnya orang yang bekerja untuk orang lain, jadi memang ini usaha pokok kita” (Ibu B, 22/04/10, 10.00)

Diawal usaha untuk memasarkan produk kerajinan tas handmade buatannya, Ibu B mendatangan Restoran Sintawang yang saat itu terkenal sering dikunjungi oleh wisatawan asing, kebetulan disalah satu pojok restaurant terdapat showroom kecil yang menjual aneka kerajinan dari Yogyakarta. Ibu B mencoba memasukkan produk-produknya ke showroom tersebut. Dari sinilah akhirnya ada beberapa supplier asing yang melirik produk handmade-nya dan terIbu Ak untuk menjalin kerja sama untuk memasarkan produk kerajinan Ibu B ke pasar ekspor di Amerika dan Eropa. Ibu B mengakui bahwa ia bisa berhasil menjalankan usahanya karena ia selalu berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik. Selain itu komunikasi yang baik antara ia dan para supplier terkait masalah harga dan kualitas barang juga harus diperhatikan,

“Untuk harga sendiri, kita harus bisa fleksibel dan Ibu tarik ulur, dengan maunya supplier” (Ibu B, 15/04/10, 14.00)

(10)

Trias Setiawati dan Anggia Paramitha, Jurusan Manajemen FE UII Yogyakarta Page 10 dari pasar ekspor dan dan memilih untuk bermain di pasar lokal yang menurutnya menjanjikan kondisi yang cukup stabil bagi usahanya, walaupun ia juga harus kembali menyesuaikan produnya dari segi kualitas model dan harga.

“Harga yang kita tawarkan selam ini harga yang masuk akal, kita nggak ngambil untung banyak. Kita sekarang ini ngejar quantity. Jadi biarpun untung nggak banyak asalkan pesanan bisa banyak. Karena kalau ngejar kualitas tidak akan bisa menyentuh semua kalangan. Karena kalau kualitas otomatis harga yang kita tawarkan tinggi, jadi

kalangan bawah keberatan untuk membeli.” (Ibu B, 22/04/10, 10.00)

Kendala lain yang juga dialami Ibu B adalah persaingan yang semakin lama semakin ketat, dimana semakin banyak bermunculan para pengusaha dan pengerajin tas handmade yang lebih muda, dan lebih kreatif. Agar tidak kalah saing dengan para pengerajin muda tersebut, Ibu B harus selalu mengikuti mode yang berkembang dan selalu menciptakan inovasi dan kreasi baru pada produknya. Selain itu, untuk dapat bertahan dalam dunia kerajianan selama 28 tahun diperlukan mental yang kuat, suka akan tantangan dan yang terpenting memiliki daya inovasi dan kreasi terhadapa produk-produnya, seperti yang diutarakan oleh Ibu B: ” Jadi pengusaha itu pertama harus punya mental yang kuat, yang kedua nggak gampang menyerah, yang ketiga harus mempunyai ide-ide yang kreatif dan menarik, terus yang ke empat suka tantanggan” (Ibu B, 22/04/10, 10.00)

Hal-hal inilah yang menurut Ibu B harus dimiliki oleh setiap orang yang ingin menjadi seorang wirausahawan. Ibu B juga mengatakan ia sangat menikmati pekerjaannya di bidang kerajinan tas ini, baginya kerajinan tas sudah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupannya. Selain itu, menjadi seorang wirausaha perempuan pun juga membawa manfaat yang banyak baginya.

“Kalau saya sebagai ibu rumah tangga, justru pekerjaan yang paling memungkinkan

bagi saya untuk bisa mengurus rumah tangga sekaligus menghasilkan penghasilan tambahan ya dengan menjadi pengusaha kecil-kecilan seperti sekarang ini. Jadi kan kalau saya ikut kerja sama orang lain otomatis waktunya nggak bisa fleksibel ya. Ini kan punya saya sendiri jadi saya bisa ngaturwaktu luang saya seefisien mungkin”

(Ibu B, 22/04/10, 10.00)

Ibu B tidak pernah menyesal dengan keputusannya untuk menjadi seorang pengusaha perempuan, karena dengan menjadi seorang pengusaha perempuan ia bisa menjadi lebih mandiri, apalagi semenjak perceraiannya dengan sang suami di tahun 1997 otomatis beban ekonomi keluarga berada di pundaknya, dan ia harus dapat menjalankan roda usahanya sendiri tanpa dukungan orang terdekat yang pernah mendampinginaya selama kurang lebih 14 tahun. Selain itu dengan menjadi pengusaha ia juga bisa membantu pemerintah untuk mengurangi penangguran, karena kini ia sudah bisa mempekerjakan sekitar 35 orang karyawan.

Profil 3: Ibu C: Membesarkan Putra-putri dari Kerajinan Kulit

(11)

Trias Setiawati dan Anggia Paramitha, Jurusan Manajemen FE UII Yogyakarta Page 11 membantu usaha saudara, ditambah dengan kemampuannya menjahit, ibu C memberanikan diri untuk mencoba masuk ke dunia kerajinan kulit.

Dengan pengalamannya membantu keluarga dan tetangga yang bergerak dalam bisnis kerajinan yang sama, ibu C lalu mencoba untuk mengolah kulit menjadi sebuah tas. Ia potong kulit sesuai pola yang sudah dibuat, lalu dijahit dan dikresikannya sesuai model yang sedang

trend saat itu. Untuk memasarkan tas kulit buatannya, ibu C mencoba untuk membuka kios di

daerah Pasar Kembang. Dengan sedikit modal dari orang tuanya, ibu C lalu mendirikan kios kecil-kecilan. Di kiosnya, ia menjual tas kulit hasil produksinya sendiri, ditambah dengan barang-barang kerajinan yang ia pasok dari pengeraji lain. Usaha tas kulit ibu C memperlihatkan hasil yang cukup positif, saat itu juga belum banyak saingan, terlebih ibu C tidak mematok harga yang tinggi untuk kerajinan. Selain itu, banyak juga supplier kerajinan kulit yang mau menjalin kerja sama dengannya. Ada supplier lokal ada pula supplier yang mau mengekspor barang kerajinan kulit bu C ke luar negeri. Ibu C sangat senang dengan kemajuan usahanya itu, ia semakin giat bekerja dan berusaha untuk mengerjakan sebaik mungkin pesanan yang datang kepadanya.

Usaha ibu C juga menemui banyak sekali kendala, selama hampir 35 tahun bergelut dalam dunia kerajinan ibu C sudah banyak mengalami pahit manisnya kehidupan sebagai seorang pengerajin dan pengusaha. Usaha ibu C pernah terkena imbas dari dampak pengembangan wilayah Malioboro sebagai sentra wisata belanja, karena kondisi tersebut ibu C akhirnya memilih untuk menutup toko di pasar kembang dan beralih untuk sepenuhnya melayani orderan dari para

supplier lokal maupun ekspor saja. Pengalaman ditipu oleh supplier yang nakal hingga

mengalami kerugian yang cukup besar pun pernah beberapa kali dialami oleh ibu C, namun ia berhasil untuk keluar dari masa-masa sulit tersebut dengan tetap terus berusaha dan pantang menyerah dengan keadaan yang sedang dihadapinya, jatuh bangun dalam usahanya dianggap ibu C sebagai sebuah seni kehidupan yang harus ia jalani. Ibu C mempunyai banyak cara untuk dapat keluar dari masalah bisnis yang menimpanya, dari mengajukan pinjaman sampai menjual rumah pernah ibu C lakukan untuk tetap meneruskan usahanya.Sepuluh tahun terakhir, dikala industri kerajinan kulit sudah mulai lesu, ibu C memilih untuk beralih pada kerajinan souvenir dari kain perca batik yang dianggapnya tidak terlalu memiliki resiko yang besar dan relatif lebih mudah untuk ia kerjakan, mengingat kini usianya sudah tidak muda lagi, kondisi fisik pun tidak sekuat dulu lagi ketika masih aktif di bisnis kerajinan kulit.

Diakui oleh ibu C, seorang perempuan harus bisa mempunyai pendapatan sendiri yang bisa ia gunakan untuk membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga atau paling tidak bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadinya sendiri, ”Bisa untuk biaya hidup, untuk nambah-nambah, bantu-bantu suami, terus kalau punya uang sendiri kan beli apa aja bisa” (Ibu C, 14/04/10, 11.00). Menjadi seorang pengerajin merupakan pekerjaan yang ia senangi mengingat ia lahir dan dibesarkan di lingkungan para pengerajin, sehingga dapat dikatakan dunia pengerajin

adalah hidupnya. “Saya senangnya bikin itu, kalau usaha lainnya saya nggak senang” (Ibu C, 14/04/10, 11.00). Sementara itu untuk bisa membesarkan usahanya, bu C mengatakan diperlukan

kerja keras dan kegigihan dan ketekunan untuk mencapainya. “Harus terus usaha, usaha keras” (Ibu C, 23/04/10, 14.30). Selain itu sikap tidak mudah menyerah jika menghadapi cobaan dan segera bangkit saat usahanya jatuh adalah resep rahasinya untuk dapat bertahan sampai sekarang.

(12)

hal-Trias Setiawati dan Anggia Paramitha, Jurusan Manajemen FE UII Yogyakarta Page 12 hal lain yang melatar belakangi keinginan untuk berwirausaha itu, yakni latar belakang keluarga dan dukungan penuh dari orang-orang terdekat juga turut memantapkan langkah ketiganya untuk menjadi seorang pengusaha perempuan.

Ketidakadilan Gender dalam Dunia Wirausaha Perempuan Marginalisasi: Birokrasi Yang Masih Menganut Marginalisasi

Dalam birokrasi perbankan, perempuan yang ingin mengajukan kredit pinjaman usaha harus mengantongi tanda tangan dari suami terlebih dahulu, untuk bisa mendapatkan pinjaman. Demikian pula halnya dalam dunia usaha dimana perempuan yang mengelola usaha tertentu tidak bisa mendapatkan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) dan ijin usaha yang diperlukan untuk

perluasan skala usaha tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari suami sebagai „penanggung jawab‟ keluarga. Perangkat kebijakan pemerintahan kita jelas belum adil gender karena perempuan menjadi semakin termarginalkan.

Bentuk-bentuk marginalisasi tersebut juga penah dirasakan oleh ibu A saat hendak mengajukan kredit untuk mengembangkan usaha kerajinan handicraft-nya. Untuk mengajukan kredit, ibu A harus memenuhi segala macam persyaratan yang diajukan termasuk tanda tangan suami. Namun karena usaha tersebut dijalankan oleh ia dan suami hal tersebut tidaklah menjadi suatu permasalahan yang besar baginya, karena suaminya juga tidak mempersulit ia untuk melakukan peminjaman uang di bank. Dalam aspek kehidupan yang lain seperti di lingkungan keluarga dan masyarakat ibu Ibu A tidak merasa mendapatkan perlakuan marginalisasi yang dapat merugikan dirinya sebagai seorang perempuan. Dalam memberikan pekerjaan kepada karyawannya ia tidak pernah membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan. Asalkan ia sebagai pemilik usaha memiliki kesanggupan untuk menambah jumlah karyawan dan calon karyawan dinilainya memiliki kesungguhan dan mau belajar, ia mau untuk menerima menjadi karyawannya.

Sedikit berbeda dengan kedua objek lainnya. Ibu C pernah mengalami marginalisasi dalam menjalankan usahanya. Namun tidak dalam bentuk kesulitan administrasi, seperti yang dialami oleh ibu Ibu A. Ibu C merasa mengalami marginalisasi karena ia merasa dipelakukan tidak adil dalam masalah pembagian bantuan yang pernah diberikan oleh pemerintah kepada pengerajin yang ada di desa Manding. Ia tidak mendapatkan bantuan dana maupun alat yang diberikan oleh pemda setempat kepada para pengerajin yang berda di Manding. Setelah ditanyakan kepada ketua yang memiliki wewenang untuk mendistribusikan dana bantuan, jawabanya yang diberikan tidaklah memuaskan ibu C. Sang ketua hanya mengatakan bahwa ia lupa untuk mendata ibu C sebagi salah satu pengerajin yang menerima bantuan, dan alasan tersebut sama sekali tidak memuaskan bagi bu C. Namun ibu C tidak mau mempermasalahkan hal tersebut terlalu jauh, dan menerima saja ketidakadilan dalam hal pemberian bantuan tersebut.

Selain itu di dalam keluarga ibu C juga pernah mengalami marginalisasi dalam hal pendidikan, Ada tradisi dalam keluarga anak perempuan tidak diwajibkan untuk menempuh pendidikan yang tinggi. Anak perempuan biasanya akan menikah pada usia yang masih mudah dan menjadi ibu rumah tangga. Ibu C menganggap hal tersebut sudah menjadi semacam tradisi. Zaman dulu anak perempuan yang umurnya sudah menginjak 20 tahun belum menikah malah akan menjadi pergunjingan orang-orang.

(13)

Trias Setiawati dan Anggia Paramitha, Jurusan Manajemen FE UII Yogyakarta Page 13 marginalisasi, yang berpengaruh terhadap pengambilan keputusan yang memarginalisasikan pihak tertentu, seperti yang dialami oleh ibu C. Namun tidak semua instansi melakukan marginalisasi terhadap pemberian batuan dan peminjaman dana kepada pengusaha perempuan. Hal ini terbukti pada kasus Ibu B dimana merasa mendapatkan kemudahan untuk mendapatkan pinjaman dana dari mitra binaannya. Pemasalahan lain yang sangat memungkinkan terjadinya marginalisasi terhadap ketiga pengusaha perempuan ini adalah adanya pelanggaran hak kekayaan intelektual, dimana ketiga objek penelitian pernah mengalami peniruan terhdap produk yang mereka buat. Namun hal tersebut tidak bisa mereka hindari karena kurangnya pengetahuan dan kesadaran untuk mematenkan karya mereka, sehingga kejadian penjiplakan terhadap karya meraka tidak bisa diperkarakan.

Subordinasi: Karena Kebiasaan dan Tradisi Dalam Keluarga

Pada objek pertama, yaitu ibu A. Meskipun keadaaan ekonomi keluarganya dulu tidak begitu baik, namun tidak pernah ada desakan dari keluarga, baik dari orang tua, sesama saudara ataupun dari pihak keluarga yang lain yang menuntut bahwa anak perempuan dalam keluarga tidak usah sekolah yang tinggi . Ibu Ibu A bahkan bisa menamatkan pendidikan sampai sampai sekolah menegah atas karena dibantu oleh saudara-saudaranya yang telah bekerja. Selain itu di dalam keluarga ibu Ibu A sudah terbiasa dengan keadaan dimana semua orang yang ada di rumah bekerja. Pendapatan yang diperoleh oleh perempuan dalam keluarganya pun tidak pernah dianggap sebelah mata oleh yang lain, contohnya Ibunya yang awalnya merupakan seorang ibu rumah tangga pun akhirnya membuka usaha jahit, dan pendapatkan yang ia peroleh sangat besar artinya untuk kehidupan ekonomi keluarga mereka. Oleh sebab itu, perempuan dalam keluarganya tidak penah dinomor duakan. Dalam keluarga kecilnya kini pun. Semua keputusan

yang menyangkut persoalan rumah tangga, anak, maupun bisnis ia putuskan bersama suami “ Kita

saling melengkapi, kalau ada apa-apa yang dibicarakan sama-sama” ujar ibu Ibu A.

Demikian juga halnya dengan pihak mitra bisnisnya, segala keputusan menyangkut waktu, kualitas dan desain dari produk yang akan diorder disepakati bersama oleh kedua belah pihak. Ibu Ibu A tidak pernah merasa dipandang sebelah mata oleh rekan bisnisnya. Diakuinya pihak rekan bisnis banyak memberikan masukan terhadap kualitas dan model produk yang dibuat, tapi tak jarang pula pihak ibu Ibu A juga memberikan masukan terkait teknis pembuatan barang-barang kerajinan. Semuanya bisa diselesaikan dengan baik, dan sejauh tujuh tahun berjalannya usaha,

belum ada kendala yang berarti terkait dengan masalah kerja sama dengan mitra bisnisnya.“

Kalau ada pesanan dari PT sering ngasi masukkan ke kita, soal desain pokoknya macam-macam, tapi mereka juga mau kita kasih masukan, biasanya soal teknis produksi . Sama-samalah biar sama-sama enak” (Tar, 22/04/10, 17.10)

Pada objek kedua, yaitu Ibu B. Dalam keluarga besarnya tidak pernah terjadi permasalahan subordinasi. Mereka terbiasa untuk terbuka satu sama lain. Karena dari kecil ia dan saudaranya sudah didik untuk menjadi pengusaha, mereka terbiasa untuk selalu mengemukakan pendapat, dan orang tua merekapun selalu menghargai. Dalam hal pendidikan pun orang tua memberikan kesempatan yang sama, namun diakui Ibu B memang ia dan kedua saudaranya yang lain memang tidak ada yang sampai ke tingkat universitas, namun hal tersebut bukanlah karena faktor larangan dari orang tua. Hal itu murni muncul dari keingin pribadi untuk bisa bekerja setelah lepas dari bangku sekolah menengah atas.

(14)

Trias Setiawati dan Anggia Paramitha, Jurusan Manajemen FE UII Yogyakarta Page 14 keputusan dalam keluarga maupun pengambilan keputusan dalam bisnis kerajinan mereka tekuni. Keputusan mengenai berbagai hal seolah berada ditangan sang istri. Hal inilah yang akhirnya menyebabkan perceraian diantara keduanya. Meskipun diakui oleh Ibu B bahwa perceraiannya murnia akibat perbedaan prinsip dalam bisnis, tetapi pendapat lain muncul dari salah satu adik dari mantan suaminya yang menyatakan bahwa saat berumah tangga sang kakak sering merasa

tidak dihargai oleh istrinya, karena pendapatnya sering tidak didengarkan. “Ibunya Era itu kan

keras, terus bisa dibilang lebih lah dari suaminya, jadi istilahnya nggak mau dengerin suaminya. Sebagai suami kan juga inginnya dihargai , lama-lama mungkin sudah nggak tahan akhirnya

pisah” (Astuti, 01/05/10, 19.30)

Sama halnya seperti di dalam keluarga. Ibu B terbias menjadi seorang single fighter dimana segala keputusan berada ditangannya dan orang-orang yang ada di bawah hanya tinggal menjalankan saja apa yang telah ia putuskan. Rekan bisnis pun juga dirasakannya sangat menghargai pendapat Ibu B disetiap kesepakatan bisnis yang ia buat dengan berbagai mitra bisnis yang menjadi langganan usahanya. Berbeda lagi dengan pengalaman yang pernah dialami oleh ibu C . Ia mengaku bahwa keluarga anak perempuan tidak diwajibkan untuk menempuh pendidikan yang tinggi. Mereka lebih banyak menerima pendidikan informal seperti keterampilan dalam hal kerajinan yang memang menjadi makanan mereka sehari-hari. Namun karena sudah terbiasa untuk melakukannya, ibu C merasa hal tersebut tidaklah menjadi masalah baginya.

Selain itu saat sudah berkeluarga ibu C merupakan orang yang patuh pada suami, namun bukan dalam artian beliau diperlakukan tidak adil oleh suaminya. Mereka menjalankan kehidupan berumah tangga sebagaimana wajarnya, saling tukar pikiran merupakan hal yang biasa terjadi. Saling mengisi baik dalam pendapatan maupun dalam hal yang lainnya. Rumah tangganya memang pernah sekali gagal, namun hal itu menurutnya terjadi karena ia dan suami terdahulu masih sama-sama muda. Setelah itu pernikahan kedua dan ketiganya langgeng sampai suaminya meninggal. Hal itu dapat terjadi karena antara ibu C dan suaminya bisa saling menghormati dan mengisi kekurangan masing-masing. Dalam menjalankan usaha. Ibu C berusaha untuk menghargai dan menghormati setiap pendapat kritik dan saran orang lain baik itu karyawan maupun rekan bisnis kepadanya. Hal ini dilakukannya agar orang lain juga bisa berlaku sama kepadanya. Tak heran saat berada di kerajinan kulit ibu C menjadi orang yang disegani oleh banyak orang. Hanya saja setelah usahanya bangkrut dan banting stir ke kerajinan souvenir, ia pernah merasa tidak dihargai keberadaannya sebagai seorang pengerajin kecil. Hal itu terkait dengan maslah marginalisasi yang pernah dialami olehnya.

(15)

Trias Setiawati dan Anggia Paramitha, Jurusan Manajemen FE UII Yogyakarta Page 15 kepada suaminya, karena segala keputusan ada ditangan Ibu B dan pendapat suami cenderung diabaikan, sehingga mengakibatkan perceraian diantara keduanya

Stereotip: Secara Tidak Sadar Sering Dilakukan

Keluarga ibu Ibu A termasuk keluarga yang mampu memberikan perlakuan yang sama kepada anak-anaknya. Sebelum jadi petani, dulu ayah ibu Ibu A pernah mendapatkan pendidikan militer. Jadi tak heran ia menerapkan tingkat disiplin yang tinggi kepada anak-anaknya. Tidak perduli laki-laki atau perempuan. Anak perempuan dalam keluarga didik untuk menjadi anak yang berani sama seperti anak laki-laki. Tidak ada tuntutan anak perempuan harus menjadi perempuan yang feminim dan harus tinggal di rumah. Orang tua Ibu Ibu A pun memberi kebebasan penuh kepada setiap anaknya untuk memilih apa yang mereka inginkan, termasuk member izin ketika ibu Ibu A sebagai anak perempuan terkecil memutuskan untuk merantau ke Jakarta mencari pekerjaan.

Masalah stereotip yang dialami oleh tiga objek penelitian sangat kental kaitannya dengan adat kebiasaan dan pandangan yang berlaku pada keluarga dan masyarakat. Seperti yang dialami oleh ibu C, sekali lagi karena hidup dalam kondisi keluarga yang sangat tradisional, pelabelan terhadap gender tertentu memang kerap dialami. Selain stereotip juga dilakukan dalam hal pembagian tugas pada para pekerja, seperti yang dilakukan ibu Ibu A. Tanpa disadari secara tidak langsung, ibu Ibu A telah melakukan stereotip terhadap para karyawannya mengenai pembagian pekerjaan. Namun hal itu tidak berlaku bagi Ibu B, karena Ibu B bisa membuktikan bahwa pelabelan sebagai orang yang rapi, telaten dan lebih terampil tidak hanya milih perempuan saja, terbukti dengan karyawan yang semuanya laki-laki Ibu B bisa menghasilkan produk kerajinan tas perempuan yang cantik dan menarik.

Kekerasan: Kekerasan Non Fisik Lebih Rentan Terjadi

Dalam kehidupan ibu Puji LesIbu A memang tidak ditemukan kekerasan secara fisik, walaupun dididik dengan disiplin oleh ayahnya, ia sama sekali tidak pernah mendapatkan kekerasan fisik sebagai sebagai bentuk sanksi dari kesalahan yang diperbuat. Bagi keluarganya kekerasan merupakan sebuah tindakan yang harus dihindari. Dalam berumah tangga pun ibu Ibu A juga tidak pernah mengalami kekerasan fisik baik pada pernikahan pertama maupun pernikah keduanya. Namun kekerasan psikis pernah ia alami pada masa-masa pernikahan keduanya. Mekipun ibu Ibu A mengakui pernikahan keduanya baik-baik saja, namun seperti yang diceritakan oleh ibu Dyah, ternyata diwal penikahannya bersama pak Sunarto, ibu Ibu A banyak mengalami tekanan secara mental yang berdampak ia mengalami keguguran sebanyak dua kali. Seperti yang diceritakan oleh salah seorang kerabat ibu Ibu A, yang bernama ibu Dyah

Dari pengalaman yang dialami oleh ketiga objek dapat dilihat bahwa kekerasan yang lebih dialami keduanya adalah kekerasan dalam bentuk non fisik yang secara implisit terjadi dalam diri mereka yaitu dalam bentuk-bentuk tekanan, pekataan, maupun perbuatan yang secara tidak langsung berpengaruh pada kondisi psikologis mereka, seperti yang dialami oleh ibu Ibu A dan ibu C.

Beban Ganda: Ibu Tetaplah Seorang Ibu

(16)

Trias Setiawati dan Anggia Paramitha, Jurusan Manajemen FE UII Yogyakarta Page 16 sering timbul dari anaknya yang masih duduk di kelas 4 SD. Anaknya sering menuntut ibunya memberikan perhatian yang lebih dan waktu yang lebih banyak kepadanya, dan cenderung tidak mau kompromi dengan pekerjaan ibunya. Ibu Ibu A dapat memaklumi tuntutan yang datang dari anaknya

Dari penuturan ketiga objek penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa beban ganda dalam hal ini beban sebagai seorang ibu rumah tangga dan juga pengusaha perempuan memang dialami oleh ketiga objek. Dimana sebagai seorang pengusaha perempuan, mereka dituntut untuk profesional dan menjalankan semua pekerjaaan dengan baik, sementara itu, disis lain mereka juga dituntut untuk mengabaikan peran meraka sebagai seorang ibu rumah tang. Namun diakui oleh ketiganya, masalah beban ganda tersebut tidaklah menjadi masalah bagi ketiganya karena, mereka juga sadar betul akan peran utama mereka sebagai ibu rumah tangga yang tidak bisa diabaikan begitu saja, walaupun sudah ada pembagian tugas dengan suami maupun pembantu.

Dari kelima bentuk ketidakadilan gender tersebut, dapat dilihat bahwa beberapa bentuk ketidakadilan gender pernah dialami oleh ketiga objek penelitian. Seperti marginalisasi dalam hal peminjaman modal. Subordinasi dalam pendidikan dan pengambilan keputusan, Stereotip dalam hal pembagian pekerjaan yang didasari pada pelabelan pada gender tertentu. Kekerasan juga masih dialami oleh ketiga objek, dalam hal ini kekerasan yang dialami adalah kekerasan non fisik. Beban ganda sebagi seorang pengusaha perempuan dan juga ibu rumah tangga juga masih dialami oleh ketiganya, dimana mereka tetap dituntut untuk menjalan kan dua peran secara bersamaan. Selain itu ada bentuk ketidakadilan gender yang secara tidak sadar dialami oleh ketiga objek penelitian, hal tersebut berkaitan dengan masalah tradisi, anggapan serta kebiasaan yang berkembang dalam diri pribadi maupun dalam masyarakat.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Motivasi awal yang muncul pada diri seorang ibu rumah tangga untuk menjadi seorang pengusaha perempuan adalah karena alasan keuangan keluarga. Selain itu ditemukan juga motivasi lain yang melatar belakangi keinginan untuk berwirausaha yakni adanya latar belakang keluarga yang bergerak dalam bidang yang sama, adanya kegemaran pribadi dalam bidang kerajinan dan kondisi pasar yang mendukung kegiatan usaha.

Sementara itu peranan motivasi berprestasi yang dikemukakan oleh David McClelland juga sangat besar pengaruhnya pada diri pengusaha perempuan. Motivasi berusaha bukanlah merupakan motivasi awal yang membuat ketiga objek penelitian memutuskan untuk menjadi pengusaha perempuan, namun seiring dengan berjalannya usaha, motivasi berprestasi muncul dalam diri ketiganya. Dengan motivasi untuk berprestasi, para pengusaha perempuan tersebut terpacu untuk bisa selalu memperbaiki usahanya.

(17)

Trias Setiawati dan Anggia Paramitha, Jurusan Manajemen FE UII Yogyakarta Page 17 DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Syafaruddin. (2008), Manajemen Sumber Daya Manusia Strategi Keunggulan Kompetitif, Yogyakarta: BPFE Yogyakata.

Basrowi dan Suwandi. (2008), Memahami Penelitian Kualitatif, Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.

Bungin, Burhan. (2008), Analisis Data Penelitian Kualitatif Pemahaman Filosofis dan

Metodologi ke Arah Penguasaan Model Aplikasi, Jakarta: Rajawali Press

Daniarti, Dessy dan Suryo Sukendo. (2008), Mompreneurship 160 Ide Bisnis Paling Laris. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Dessler, Garry. (2008), Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: PT. Indeks.

Erwin. (2009), Tentang Wirausaha Perempuan, diakses 20 Maret 2010, pukul 15.05di

http://mybusinessblogging.com/entrepreneur/2009/01/27/tentang-wirausaha- perempuan

Fakih, Mansour. (2008), Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Yogyakarta: Insist Press.

Handayani dan Sugiarti. (2006), Konsep dan Teknis Penelitian Gender, Malang: UMM Press

Kompas. (2009), Pebisnis Perempuan Sukses Karena Hati, diakses 20 Maret 2010 pukul 20.05 di http://bisniskeuangankompas.com

Kristanto, Heru. (2009), Kewirausahaan Pendekatan Manajemen dan Praktik, Yogyakarta: Graha Ilmu.

Liando, Antonius. (2006), Konsep kesetaraan gender dalam program siaran Lipstik di Radio

Kosmonita Surabaya, diakses 28 Maret 2010, pukul 14.50 di

http://dewey.petra.ac.id/jiunkpe_dg_3859.html.

Gianina, Claresta. (2010), Perempuan-perempuan Inspirasi Bisnis Dunia. diakses 28 Maret, pukul 19.15 di (http://yea.co.id/perempuan-perempuan-inspirasi-bisnis-dunia.html.

Muller, Claudia. (2006), Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perempuan Pengusaha dalam

Mendirikandan Mengembangkan Usahanya di Propinsi NAD, diakses 29 Maret 2010,

pukul 08.12 di (http://www.ilo.org/public/ indonesia/region/asro/ jakarta /download/jenderaceh.pdf,)

Portal HR. (2007), Wirausaha Perempuan Terus Meningkat, diakses 20 Maret 2010 pukul 16.20 di (http://prodsumen.com/beritahr/seputarhr/1id584.html

(18)

Trias Setiawati dan Anggia Paramitha, Jurusan Manajemen FE UII Yogyakarta Page 18 S, Ade. (2009), Hakikat dan Konsep Kewirausahaan diakses, 28 Maret, pukul 19.00). di

(http://adesyams.blogspot.com/200906/hakikat-dan-konsep-dasar kewirausahaan.html.

Satori, Djam‟an dan Aan Komariah. (2009), Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta

Siagian, Sondang P .(2004), Teori Motivasi dan Aplikasinya, Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.

Sugiyono. (2009), Memahami Penelitian Kualitati, Bandung: Alfabeta.

Uno, Hamzah B. (2009), Teori Motivasi dan Pengukurannya, Jakarta: Bumi Aksara.

Winardi, J. (2005), Entrepreneur dan Entrepreneurship, Jakarta: Kencana Predana Media Group.

Referensi

Dokumen terkait

Komponen yang terdapat dalam kandungan ekstrak daun dan buah kersen dianalisis golongan senyawa nya dengan tes uji warna dengan beberapa pereaksi untuk golongan

Akankah esok kembali ,aku masih kau beri kehidupan yang berarti?. Wahai dunia dan

menggunakan cara tertentu. 49 Menurut sugiono sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut, maka penelitian.. bisa menggunakan sampel

Hasil penelitian menunjukkan karakter tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, umur berbunga, umur panen, panjang malai, jumlah gabah isi, jumlah gabah hampa,

Pada pengujian calon induk dari 24 famili yang dihasilkan secara komunal diperoleh keragaan pertumbuhan terbaik pada populasi persilangan antara betina GIMacro dengan jantan Musi

(3) Dalam menjalankan kewenangannya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Ketua dibantu pengelola keuangan Sekolah Tinggi wajib menatausahakan dan mempertanggungjawabkan

Acara ini didukung oleh Stikes Pemkab Jombang, Poltekkes RS dr Soepraoen Malang, Stikes Hang Tuah Surabaya, Stikes Kendedes Malang, Universitas Muhammadiyah

Oleh sebab itu aplikasi sistem pakar ini dibuat untuk membantu pengguna komputer dalam melakukan diagnosis a wal terhadap suatu kerusakan hardware komputer yang