ANALISIS DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA PADA ODHA DI UPIPI RSUD DR SOETOMO SURABAYA
Nuzulul Zulkarnain Haq
Program Studi Pendidikan Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Kampus C Mulyorejo Surabaya 60115 Telp(031)5913752 ,5913754 ,Fax. (031)5913257
Email: [email protected]
ABSTRACT
HIV was a disease that poses a complex problem. HIV patients require the presence of family at his side. Family social support and the attention of others can make decrease his stress problem. The purpose of this research was to identify family social support to HIV patient in UPIPI RSUD Dr. Soetomo.
This research use descriptive analysis design. The population of patient with HIV was patients in UPIPI RSUD Dr. Soetomo Surabaya. The sample were taken by purposive way and there were 10 respondents that appropriate with inclusion and exclusion sampling criteria. This research consist of research’s variable that is social support domain. Data were taken by giving questionnaire to respondents.
The result showed that all four variables of family support are emotional suport , esteem support, instrumental support and informative support have varying levels.
The conclusion is the social support giving and respon to HIV patient vary depending on the demographics of each respondent. The level of provision of family social support and the respon have sufficient and good value.
Keyword : family social support, HIV
PENDAHULUAN
Penyakit Human
Immunodeficiency Virus (HIV) dan
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah salah satu penyakit menular seksual yang menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Selain terserang dari segi fisik penderita juga sering mengalami masalah psikologis, terutama kecemasan, depresi, rasa bersalah (akibat perilaku seks dan penyalahgunaan obat), marah bahkan sampai timbul dorongan untuk bunuh diri (Hutapea, 2003). Penderita juga mengalamai kesulitan dalam penyesuaian dirinya terkait dengan status barunya ini. Dalam kondisi seperti ini ODHA membutuhkan dukungan sosial. Keberadaan keluarga sebagai orang terdekat penderita akan sangat dibutuhkan. Keluarga diharapkan
menjadi sumber dukungan utama bagi penderita karena keluarga yang senantiasa bisa di andalkan. Keluarga diharapkan mampu untuk memberikan dukungan-dukungan tersebut secara menyeluruh, sehingga perlu untuk diteliti apakah dukungan sosial ini sudah terpenuhi.
yang diberikan oleh keluarga dapat memberikan semangat bagi ODHA untuk terus melanjutkan hidupnya. Harapan dan kepercayaan ODHA akan terbangun jika dukungan sosial diberikan oleh orang lain kepadanya bukan justru memberikan stigma yang negatif terhadap mereka. Kecenderungan ODHA untuk menutup diri dari pergaulan di masyarakat menyebabkan memburuknya kondisi fisik, psikososial dan emosional. Penderita sehari hari harus menanggung beban yang sangat berat berkaitan dengan proses penyakit dan proses keperawatannya, setiap hari harus mengkonsumsi obat antiretroviral (ARV) secara rutin dan menanggung efek samping dari ARV. Oleh karena itu dukungan sosial dari pasangan, teman dan keluarga sangat dibutuhkan agar ODHA tetap patuh dalam menjalani pengobatan dalam jangka waktu yang lama.
Berdasarkan penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa dukungan sosial dari keluarga mempunyai peran yang sangat penting. Dukungan sosial yang diberikan kepada ODHA akan dapat menstabilkan respon emosional, menurunkan tingkat kecemasan dan meningkatkan interaksi sosial ODHA (Iyw, 2005). Selain itu dalam penelitian yang lain juga disebutkan bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diterima ODHA kecenderungan kebermaknaan hidup ODHA juga semakin tinggi (Astuti & Budiyani, 2010). Hasil studi pendahuluan yang peneliti lakukan dengan wawancara kepada ODHA juga telah menunjukkan kondisi yang serupa. ODHA merasa dukungan dari keluarga selama ini masih minim. Menurut mereka stigma negatif dari keluarga terhadap ODHA sangat mereka rasakan. Dari hasil observasi di Ruang UPIPI RSUD Dr Soetomo pada tanggal 6 Mei 2013, terdapat 10 pasien ODHA. Pasien yang ditunggu oleh keluarga sebanyak 5 pasien dan 5 pasien sisanya tidak ditunggu oleh
keluarga. Salah seorang pasien mengeluh keluarganya kecewa dan malu.
Saat ini Indonesia telah menjadi salah satu dari negara berkembang di wilayah Asia yang telah digolongkan menjadi negara dengan tingkat epidemi yang terkonsentrasi atau concentrated
level epidemic karena di Indonesia sudah
terdapat wilayah-wilayah epidemi dengan angka prevalensi yang sangat besar yakni lebih dari 5% pada subpopulasi yang beresiko terinfeksi HIV seperti pekerja seks komersial, narapidana, pengguna narkoba jarum suntik, darah donor dan ibu hamil (Setyoadi & Triyanto, 2012). Laporan perkembangan HIV AIDS di Indonesia Triwulan I tahun 2012 oleh Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa dari Januari sampai dengan Maret 2012 jumlah kasus baru HIV yang dilaporkan sebanyak 5991 kasus dan HIV sebanyak 551 kasus. Jumlah AIDS tertinggi dilaporkan dari Propinsi Bali (154), Jawa Barat (104), Jawa Timur (65) dan Sulawesi Selatan (56). Secara komulatif kasus AIDS mulai tahun 1987 sampai dengan Maret 2012 ketiga terbanyak yaitu DKI Jakarta (5118), Jawa Timur (4663), dan Papua (4469). Jawa Timur menduduki rangking kedua tertinggi jumlah kasus AIDS di Indonesia. Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1987 sampai dengan Maret 2012 kasus HIV/AIDS sudah tersebar di 368 (73,9%) dari 498 kabupaten/kota di seluruh 33 propinsi di Indonesia (Kemenkes, 2012). Jika tidak ditanggulangi dapat menyebabkan peningkatan kasus secara besar.
merasa malu untuk berkumpul. Padahal sejatinya ODHA sangat membutuhkan perhatian dan dukungan yang sangat besar dari orang-orang di sekitarnya. Dukungan sosial yang diberikan oleh keluarga, teman , saudara walaupun kecil akan dapat membantu mengembalikan kepercayaan diri dan harapan. Saat ini sudah banyak fasilitas layanan HIV AIDS yang sudah disediakan oleh pemerintah. Namun, jika sikap dan perilaku masyarakat masih mengucilkan ODHA maka mereka akan bersembunyi dan enggan untuk melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan. Dukungan sosial yang dapat diberikan terutama adalah dukungan emosional berupa kasih sayang dan perhatian kepada ODHA. Diharapkan dengan dukungan sosial dapat mengurangi beban beban masalah yang dihadapi oleh ODHA dan juga membantu ODHA melakukan mekanisme koping yang adaptif terkait dengan penyakitnya.
METODE
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan desain penelitian survei, yaitu penelitian dengan melakukan pengumpulan data yang relatif terbatas dari kasus-kasus yang relatif besar jumlahnya, penelitian ini bertujuan mengumpulkan informasi tentang variabel. Populasi pada penelitian ini adalah pasien ODHA baik yang sedang menjalani rawat inap maupun rawat jalan dan keluarga di UPIPI Rumah Sakit Dr Soetomo Surabaya. Perkiraan jumlah rata-rata pasien ODHA/bulan adalah 30 pasien.
Pada penelitian ini peneliti menggunakan teknik nonprobability
sampling dengan teknik purposive
sampling. Teknik ini merupakan teknik
penetapan sample dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki peneliti. Jumlah sample ditetapkan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Peneliti menetapkan kriteria sampel sebagai berikut:
1. Kriteria Pasien
1) Kriteria inklusi pasien :
1) Pasien yang masih tinggal bersama keluarga.
2) Pasien yang bersedia menjadi responden dalam penelitian. 3) Anggota keluarga yang tidak
bersedia menjadi responden 2) Kriteria eksklusi
1) Pasien yang tidak sadar. 2. Kriteria Keluarga
1) Kriteria inklusi keluarga :
1) Anggota keluarga yang merawat pasien selama dirawat di Rumah Sakit
2) Bersedia menjadi responden dalam penelitian.
2) Kriteria eksklusi keluarga :
1) Anggota keluarga yang tidak bersedia menja di responden. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 10 ODHA dan keluarganya.
Pada penelitian deskriptif dengan desain penelitian survei ini memiliki satu variabel yaitu dukungan sosial yang terdiri dari empat sub variabel yaitu dimensi dukungan sosial yang terdiri dari dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental, dan dukungan informasi. Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2014 dengan instrument berupa kuesioner tertutup.
HASIL
Tabel 1. Perbandingan interpretasi pada responden 1A dan 1B
Dimensi Keluarga ODHA Emosional Baik Baik Penghargaan Cukup Cukup Instrumental Cukup Baik Informasi Cukup Cukup
Tabel 2. Perbandingan interpretasi pada responden 2A dan 2B
Tabel 3. Perbandingan interpretasi pada responden 3A dan 3B
Dimensi Keluarga ODHA Emosional Cukup Baik Penghargaan Cukup Cukup Instrumental Baik Baik Informasi Cukup Cukup
Tabel 4. Perbandingan interpretasi pada responden 6A dan 6B
Dimensi Keluarga ODHA Emosional Baik Baik Penghargaan Baik Baik Instrumental Baik Baik Informasi Baik Baik
Tabel 5. Perbandingan interpretasi pada responden 7A dan 7B
Dimensi Keluarga ODHA Emosional Baik Baik Penghargaan Cukup Cukup Instrumental Cukup Cukup Informasi Cukup Cukup
Tabel 6. Perbandingan interpretasi pada responden 8A dan 8B
Dimensi Keluarga ODHA Emosional Baik Baik Penghargaan Baik Baik Instrumental Baik Baik Informasi Baik Baik
Tabel 7. Perbandingan interpretasi pada responden 9A dan 9B
Dimensi Keluarga ODHA Emosional Baik Baik Penghargaan Baik Baik Instrumental Baik Baik Informasi Baik Baik
Tabel 8. Perbandingan interpretasi pada responden 10A dan 10B
Dimensi Keluarga ODHA Emosional Baik Cukup Penghargaan Baik Cukup Instrumental Baik Baik Informasi Baik Baik
Tabel 9. Perbandingan interpretasi pada responden 11A dan 11B
Dimensi Keluarga ODHA Emosional Baik Cukup Penghargaan Kurang Kurang Instrumental Baik Baik Informasi Cukup Cukup
Tabel 10. Perbandingan interpretasi pada responden 12A dan 12B
Dimensi Keluarga ODHA Emosional Baik Baik Penghargaan Baik Baik Instrumental Baik Baik Informasi Baik Baik
PEMBAHASAN
Interpretasi pada responden 1A dan 1B menunjukkan keempat domain dukungan sosial berada pada kategori baik dan cukup. Pada perbandingan keduanya ditemukan perbedaan persepsi. Perbedaan ditemukan pada domain instrumental dimana keluarga persepsinya cukup sedangkan ODHA persepsinya baik karena ODHA adalah ibu rumah tangga yang tidak bekerja sehingga dukungan instrumental yang diberikan oleh keluarga sangat berarti bagi ODHA.
Pada responden 2A dan 2B sebagian besar interpretasi dukungan sosial pada keduanya adalah baik. Namun pada perbandingan keduanya ditemukan perbedaan pada domain informasi dimana pada dukungan sosial oleh keluarga persepsinya baik sedangkan untuk respon ODHA persepsinya masih kurang karena usia ODHA yang sudah tua sehingga daya ingat tentang informasi yang diterimanya menurun.
emosional sekecil apapun sangat berarti baginya.
Pada responden 6A dan 6B seluruh domain dukungan sosialnya baik. Perbandingan keduanya juga tidak ditemukan perbedaan persepsi antara keluarga dengan ODHA. Hal ini menunjukkan dukungan sosial pada pasangan 6A dan 6B yang maksimal.
Pada responden 7A dan 7B tidak terdapat perbedaan persepsi pada perbandingan keduanya. Sebagian besar dalam kategori cukup yaitu pada domain penghargaan , instrumental dan informasi. Sedangkan untuk domain emosional interpretasinya baik. Pada responden 8A dan 8B juga tidak ditemukan perbedaan persepsi. Semua domain dukungan sosial pada kategori baik. Pada responden 9A dan 9B semua domain juga pada kategori baik. Perbandingan keduanya juga tidak ditemukan perbedaan persepsi.
Pada responden 10A dan 10B sebagian besar domain dukungan sosial dalam kategori baik. Perbandingan keduanya menunjukkan perbedaan pada domain emosional dan penghargaan. Pada kedua domain ini dukungan dari keluarga persepsinya sudah baik sedangkan persepsi dari ODHA adalah cukup karena pendidikan ODHA yang lebih tinggi dari keluarga sehingga menilai kepedulian dari keluarga sudah cukup.
Pada responden 11A dan 11B ditemukan domain yang masuk kategori kurang yaitu pada domain penghargaan baik persepsi keluarga maupun persepsi ODHA. Perbandingan pada pasangan ini ditemukan perbedaan persepsi pada domain emosional. Pada keluarga persepsinya baik sedangakan respon ODHA persepsinya cukup.Pada responden 12A dan 12B semua domain berada pada kategori baik. Tidak ditemukan perbedaan persepsi pada perbandingan keduanya.
Berdasarkan data secara umum didapatkan tingkat pemberian dukungan
sosial oleh keluarga kepada ODHA cukup dan baik. Interpretasi kurang hanya terdapat 1 saja lebih sedikit dibandingkan dengan cukup dan baik. Sedangkan untuk respon penilaian dukungan sosial oleh ODHA secara umum juga didapatkan interpretasi cukup dan baik.
Pemberian dukungan sosial yang baik kepada pasien HIV/AIDS mempunyai peran yang sangat penting. Dukungan sosial yang baik dapat membantu mengurangi stress pasien. Dukungan sosial yang diberikan kepada ODHA akan dapat menstabilkan respon emosional, menurunkan tingkat kecemasan, dan meningkatkan interaksi sosial ODHA (Iyw, 2005).
Pada saat penelitian berlangsung, peneliti melihat beberapa diantara ODHA ditunggui oleh beberapa keluarganya. Hal ini dapat meningkatkan dukungan sosial yang diaraskan oleh ODHA di UPIPI RSUD Dr. Soetomo. Dukungan dari keluarga sebagai orang terdekat pasien akan mampu memberikan dorongan semangat positif bagi si ODHA.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
1. Tingkat pemberian dukungan sosial oleh keluarga kepada ODHA di Ruang UPIPI RSUD Dr. Soetomo secara umum terdapat 2 interpretasi yaitu cukup dan baik dimana sebagian besar adalah baik. Keluarga ODHA sebagain besar mendampingi pasien selama perawatan.
2. Respon penilaian dukungan sosial oleh ODHA di Ruang UPIPI RSUD Dr. Soetomo secara umum terdapat 2 interpretasi yaitu cukup dan baik dimana sebagian besar adalah baik. Respon penilaian yang baik menunjukkan dukungan sosial dari keluarga yang efektif.
Domain emosional dan instrumental memiliki interpretasi baik dibandingkan dengan domain penghargaan dan informasi.
Saran
1. Keluarga yang mendampingi ODHA di Ruang UPIPI RSUD Dr. Soetomo diharapkan dapat peka terhadap respon penilaian ODHA terhadap dukungan sosial yang diberikan oleh keluraga sehingga perbedaan persepsi dapat diminimalkan.
2. Perawat di Ruang UPIPI RSUD Dr. Soetomo diharapakan dapat memberikan edukasi kepada keluarga pasien tentang pentingnya dukungan sosial dari keluarga dan dapat memberikan tindakan terhadap perbedaan persepsi ODHA dan keluarga.
3. Peneliti selanjutnya diharapkan untuk dapat mengembangkan penelitian dengan jumlah responden yang lebih besar untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal mengenai perbedaan persepsi antara ODHA dengan keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Z., 2006. Pengantar Keperawatan
Keluarga. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Arikunto, S., 2006. Prosedur Penelitian:
Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: PT Rineka Cipta. Astuti, A. & Budiyani, K., 2010.
Hubungan Antara Dukungan Sosial Yang Diterima Dengan Kebermaknaan Hidup Pada ODHA. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana. Ditjen PP & PL Kemenkes RI, 2012.
Statistik HIV/ AIDS di
Indonesia. spiritia.or.id.
Friedman, M.M., Bowden, V.R. & Jones, E.G., 2010. Buku ajar keperawatan keluarga : riset,
teori & praktik. 5th ed.
Jakarta: EGC.
Gallant, J., 2010. 100 Tanya Jawab
Mengenai HIV dan AIDS.
Jakarta Barat: PT Indeks. Hidayat, A.A.A., 2010. Metode
Penelitian Kesehatan. 1st ed.
Surabaya: Health Book Publishing.
Hutapea, R., 2003. AIDS & PMS dan
Pemerkosaan. Jakarta: PT
RINEKA CIPTA.
Iyw, 2005. Pengaruh Dukungan
Keluarga Terhadap
Perubahan Respon
Sosial-Emosional Pasien HIV-AIDS.
Skripsi. Surabaya: Universitas Airlangga.
Kemenkes, 2012. Laporan
Perkembangan HIV-AIDS
Triwulan I Tahun 2012.
Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Nursalam, 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika.
Nursalam & Kurniawati, N.D., 2007. Asuhan Keperawatan Pada
Pasien Terinfeksi HIV AIDS.
Jakarta: Salemba Medika. Nursalam & Kurniawati, N.D., 2011.
Asuhan Keperawatan Pada
Pasien Terinfeksi HIV/ AIDS.
Jakarta: Salemba Medika. Riduwan, 2010. Skala Pengukuran
Variabel-variabel Penelitian.
1st ed. Bandung: ALFABETA.
Setyoadi & Triyanto, E., 2012. Strategi Pelayanan Keperawatan Bagi
Penderita AIDS. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Soedarto, 2010. Virologi Klinik. Jakarta: Sagung Seto.
Videbeck, S.L., 2008. Buku Ajar
Keperawatan Jiwa. I ed.
Widoyono, 2011. Penyakit Tropis
Epidemiologi, Penularan,
Pencegahan dan
Pemberantasannya. Jakarta: