• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi Mahasisiwa terhadap Lingkungan. docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Persepsi Mahasisiwa terhadap Lingkungan. docx"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP SUASANA BELAJAR DENGAN METODE DUNDEE READY EDUCATION ENVIRONMENT MEASURE (DREEM).

Pendahuluan

Prestasi akademik merupakan salah satu indikator utama keberhasilan proses pendidikan di perguruan tinggi. Nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebagai bentuk penilaian dari prestasi akademik berkaitan dengan tingginya peningkatan angka pengangguran dari tahun ke tahun karena IPK menjadi syarat penerimaan pekerjaan (Esen, 2010). Jumlah angka pengangguran terdidik di Indonesia adalah masing tinggi dan meningkat dari tahun 2009 hingga 2011 dan sedikit menurun hingga akhir 2013 (BPS, 2013). Kondisi ini salah satunya disebabkan oleh nilai IPK. Tingginya nilai IPK sangat berhubungan dengan kesuksesan karir yang memengaruhi keberlanjutan pendidikan berikutnya dan penghasilan. Hal ini akan bermakna untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas hidup suatu bangsa (Deliens, et al, 2013).

Lulusan Pendidikan Dokter selain dituntut menguasai keterampilan klinik juga harus memiliki prestasi akademik yang tinggi. Indikator kemampuan ini dapat dinilai dari Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Tinggi rendahnya IPK berkorelasi dengan kelukusan mahasiswa

dalam Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) dan berperan dalam keberlanjutan pendidiakan baik jenjang spesialis maupun magister yang menetapkan IP 2,75 sebagai batasan minimal untuk kelulusan. Hampir seluruh Program Studi Pendidikan Dokter di berbagai universitas negeri maupun swasta di Indonesia menetapkan IPK sebagai standar kelulusan seorang sarjana kedokteran dan dokter. Begitu pula Program Studi Kedokteran di FKK UMJ menetapkan IPK 2,50 sebagai syarat untuk menjadi sarjana kedokteran dan IPK 3,00 sebagai syarat menjadi dokter. Berdasarkan laporan akademik FKK UMJ, meneybutkan bahwa rata-rata IPK lulusan PSPD sudah di atas 2,75. Namun dari tahun 2009-2011 perlahan menunjukkan angka yang menurun yaitu 3,06 pada tahun 2009, tahun 2010 rata-rata IPK 2,98 dan menurun lagi menjadi 2,95 pada tahun 2011. Hal ini berhubungan dengan mmasih rendahnya jumlah lulusan dokter FKK UMJ yang meneruskan pendidikan ke jenjang spesialis maupun magister.

(2)

Faktor eksternal meliputi kondisi sosio demografi seperti umur, jenis kelamin, asal daerah, asal sekolah, nilai total Ujian Akhir Nasional (UAN), beasiswa, jalur masuk, organisasi, budaya belajar masyarakat, iklim, suasana lingkungan, keluarga, waktu istirahat dan rekreasi serta peran institusi yaitu sarana dan fasilitas belajar, sistem akademik, tempat belajar, materi pembelajaran, dan dosen (Purwanto, 2004; Anni 2004; Greenberger, et al, 2008; Hartwig, 2011).

Persepsi mahasiswa terhadap suasana belajar dapat diukur dengan metode Dundee Ready Education Environment Measure (DREEM). Penilaian persepsi mahasiswa dengan metode ini mencakup lima unsur yaitu persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran, persepsi mahasiswa terhadap dosen, persepsi akademik terhadap diri mahasiswa, persepsi mahasiswa terhadap atmosfir (perkuliahan/pembelajaran), dan persepsi diri sosial mahasiswa. Roff (2005) menjelaskan bahwa metode DREEM memiliki peran penting untuk menghasilkan deskripsi kekuatan dan kelemahan suatu institusi pendidikan, menganalisis persepsi mahasiswa terhadap lingkungan pendidikan baik secara komparatif di dalam institusi dan antara institusi atau antara kohort yang berbeda, menilai hubungan persepsi mahasiswa

dengan nilai rata-rata akademik, serta membantu memprediksi untuk mengetahui mahsiswa yang cenderung berprestasi baik dan berprestasi akademik buruk dalam sebuah instansi.

(3)

(perkuliahan/pembelajaran), dan persepsi diri sosial mahasiswa. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebagai indikator prestasi akademik yang dicapai oleh mahasiswa selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi dipengaruhi oleh berbagai faktor yang secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal (Anni, 2004; Purwanto, 2004). Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari personal mahasiswa yang mencakup aspek fisik seperti kesehatan organ tubuh, aspek psikis yaitu mencakup kecerdasan, emosional, motivasi, juga kemampuan bersosialiasi dengan lingkungan (Anni, 2004). Rahayu (2006) menguaraikan bahwa persepsi mahasiswa terhadap suasana belajar juga merupakan salah satu faktor internal yang berkorelasi dengan IPK. Persepsi mahasiswa terhadap suasana belajar dapat diukur dengan metode Dundee Ready Education Environment Measure.

Purwanto (2004) menguraikan bahwa faktor eksternal yang dapat memengaruhi hasil belajar adalah kurikulum, tenagan pengajar, sarana dan fasilitas serta manajemen suatu institusi pendidikan. Faktor lingkungan akademik terutama transfer ilmu yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswa juga memengaruhi kompetensi ilmu yang dimiliki oleh mahasiswa. Mayer (2001)

memaparkan perlunya kemampuan dosen untuk mempertimbangkan agar mahasiswa terlibat dalam interaksi baik secara tatap mukan maupun tidak melalui tatap muka. Metode pembelajaran yang baik juga misalnya dengan Student Centered Learning (SCL) membantu mahasiswa menganalisis dan menyelesaikan suatu kasus medis secara komprehensif.

(4)

Penelitian ini menggunakan dua tahapan analisis yaitu pertama adalah menganalisis perbedan skor persepsi suasana belajar yang terdiri dari skor persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran, dosen, diri mahasiswa, atmosfir pembelajaran, dan sosial antara kampus Cempaka Putih dan Cirendeu dengan analisis MANOVA.. Tahap kedua adalah analisis multiple regresi linier yaitu untuk mengatehuai faktor dominan yang memengaruhi IPK sebagai variabel depnden dengan variabel independen adalah skor persepsi suasana belajar, nilai raport dan lokasi kampus. Persepsi mahasiswa terhadap suasana belajar dinilai dengan kuesioner DREEM. Nilai IPK dan variabel independen lainnya serta data demografi mahasiswa diukur dengan alat kuesioner dan data sekunder berasal dari database mahasiswa di bagian akademik Prodi Kedokteran. Sampel penelitian adalah seluruh mahasiswa angkatan 2010 (mahasiswa semester 7), dikarenakan sudah mengikuti seluruh pembelajaran akademik. Sampel sebanyak 167 orang yang terdiri dari 33 orang dari Kampus Cempaka Putih dan dan 134 orang dari Kampus Cirendeu, berasal dari seluruh mahasiswa kedokteran tahun akademik 2010/2011 yang aktif terdaftar sebagai mahasiswa yaitu dengan total jumlah mahasiswa 180 orang. Jumlah sampe minimal dihitung menggunakan rumus uji hipotesis beda

mean untuk 1 populasi berasal dari populasi. Instrumen penelitian untuk IPK serta sosio demografi merupakan data sekunder yang diambil dari dokumen bagian akademik PSPD FKK UMJ. Sedangkan data mengenai persepsi mahasiswa terhadap suasana belajar diukur menggunakan instrumen kuesioner metode DREEM (kuesioner pada Lampiran 2.). Hasil kuesioner tersebut dapat dinilai dengan skor berikut:

Tabel 4.1 Skor Persepsi Mahasiswa terhadap Suasana Belajar (Skor DREEM) a. Persepsi Suasana Pembelajaran

Mahasiswa

Skor Persepsi Suasana Pembelajaran Mahasiswa

0-50 Sangat buruk 51-100 Cukup masalah

101-150 Lebih banyak positif dari pada negatif 151-200 Excellent

b. Persepsi Mahasiswa Terhadap Pembelajaran

Skor Persepsi Mahasiswa Terhadap Pembelajaran

0-12 Proses pembelajaran yang tidak baik

13-24 Proses pembelajaran yang kurang baik 25-36 Proses pembelajaran yang baik

37-48 Proses pembelajaran yang menginspirasi

c. Persepsi Mahasiswa Terhadap Dosen

Skor Persepsi Mahasiswa Terhadap Dosen

0-11 Abysmal (Dosen tidak mempunyai kemampuan dan keahlian) 12-22 Membutuhkan sebuah training

23-33 Sesuai dengan tujuan pembelajaran 34-44 Model perkuliahan terorganisir

d. Persepsi Akademik Terhadap Diri Sosial Mahasiswa

Skor Persepsi Akademik Terhadap Diri Sosial Mahasiswa 0-8 Merasakan kegagalan total

9-16 Kebanyakan aspek negative

17-24 Cenderung lebih banyak berperan positif 25-32 Confident (percaya diri dan nyaman)

e. Persepsi Mahasiswa Terhadap Atmosfer Pembelajaran

Skor Persepsi Mahasiswa Terhadap Atmosfer Pembelajaran

0-12 Lingkungan yang tidak nyaman 13-24 Banyak masalah yang perlu diperbaiki 25-36 Sebuah sikap yang lebih positif 37-48 Perasaan baik secara keseluruhan

f. Persepsi Diri Sosial Mahasiswa

Skor Persepsi Diri Sosial Mahasiswa

(5)

Sumber: Penilaian kuesioner Dundee Ready Education Envoronment Measure (Roof, et, al, 2005).

Hasil. Analisis Deskriptif Indeks Prestasi Kumulatif Responden, bahwa nilai terendah IPK mahasiswa kedokteran FKK UMJ pada saat penelitian dilakukan (semester 6) yaitu 1.69 dimana nilai IPK ini

terdapat pada mahasiswa yang berlokasi di kampus Cirendeu. Begitupun nilai IPK tertinggi yaitu 3.33 terdapat pada mahasiswa di kampus Cirendeu. Nilai IPK pada mahasiswa kedokteran di kampus Cirendeu terdistribusi secara normal dengan nilai uji Kolmogorov smirnov >0.05, dengan nilai mean IPK yaitu sebesar 2.73±0.27 Standar Deviasi. Sedangkan nilai IPK pada mahasiswa kedokteran di Cempaka Putih tidak terdistribusi secara normal, dengan nilai median IPK adalah 2.77. Menunjukkan bahwa nilai terendah IPK mahasiswa kedokteran FKK UMJ pada saat penelitian dilakukan (semester 6) yaitu 1.69 dimana nilai IPK ini terdapat pada mahasiswa yang berlokasi di kampus Cirendeu. Begitupun nilai IPK tertinggi yaitu 3.33 terdapat pada mahasiswa di kampus Cirendeu. Nilai IPK pada mahasiswa kedokteran di kampus Cirendeu. diketahui nahwa nilai p=0.000. Nilai ini menunjukkan bahwa perbedaan rata-rata skor persepsi mahasiswa pada mahasiswa di kedua kampus (Cirendeu dan Cempaka Putih), dengan perbedaan rata-rata skor

perespsi mahasiswa terhadap suasana belajar yaitu sebesar 20.5% (nilai yang tertera pada partial eta squared). Selanjutnya adalah menilai varian pada setiap unsur persepsi mahasiswa terhadap suasana belajar, yaitu dengan melihat Tabel Levene Test of Quality of Error Variances

Secara umum dapat

(6)

Analisis regresi logistik ganda dilakukan terhadap 9 variabel yaitu lokasi kampus, persepsi mahasiswa terhadap suasana belajar, rata-rata raport SMA, jenis kelamin, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, penghasilan keluarga, asal SMA, asal wilayah tinggal untuk diketahui faktor apakah yang paling dominan memengaruhi nilai IPK mahasiswa kedokteran. Dalam tahap seleksi kandidat, terdapat hanya 3 variabel yang memiliki nilai p<0,25 yaitu skor persepsi mahasiswa terhadap suasana belajar, rata-rata nilai raport SMA untuk pelajaran eksakta, dan pekerjaan ibu. Pembahasan

Rata-rata nilai IPK yaitu dilihat IPK semester 6 rata-rata sebesar 2,75 ±0,3 SD, dengan nilai minimum 1,69 dan maksiumu 3,33. Nilai skor tiap komponen bervariasi berkisar antara 0-48. Dari 5 komponen, total skor perespsi mahasiswa terhadap suasana belajar rata-rata sebesar 125 ± 15 SD dimana skor minimum sebesar 75 dan maksimum 185. Berdasarkan kriteria DREEM, skor 125 menunjukkan bahwa mahasiswa umumnya (86%) memiliki persepsi positif terhadap suasana belajar. Dari 5 (lima) komponen yang membentuk skor suasana belajar, hanya terdapat 2 mean skor yang berbeda bermakna yaitu mean skor persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran dan mean skor atmosfir pembelajaran. Mean skor pembelajaran pada mahasiswa di

Kampus Cempaka Putih lebih tinggi (30,121) dibandingkan dengan Cirendeu (27,291). Sedangkan mean skor atmosfir pembelajaran lebih tinggi pada mahsiswa di Kampus Cirendeu yaitu 31,955 dibandingkan dengan Cempaka Putih (28,364) dengan perbedaan mean diatara kedua kampus sebesar 20,5%. Efek size untuk mean skor pembelajaran sebesar 5,2% sedangkan untuk mean skor atmosfir pembelajaran sebesar 5,4%. Suasana Pendidikan sendiri diartikan sebagai

kondisi yang dapat

menumbuhkembangkan semangat peningkatan mutu pendidikan, interaksi di antara dosen dan mahasiswa, kuantitas dan kualitas kegiatan akademik, mendorong pengembangan profesionalisme, kebebasan akademik, serta penghormatan kepada kebenaran dan semangat belajar yang tidak kunjung padam (Depdiknas, 2011). . Mahasiswa menghabiskan waktu seluruh kelas membangun pemahaman baru tentang materi yang dipelajari dengan cara proaktif. Berbagai kegiatan yang diberikan dalam rangka untuk mempromosikan pembelajaran yang sukses. Namun, gaya belajar khas didorong dalam kelas yang berpusat pada mahasiswa, dan menyediakan mahasiswa dengan alat bervariasi, seperti tugas dan metodologi pembelajaran, menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi mahasiswa untuk belajar (Mustakim, 2009).

(7)

Suasana Belajar adalah pokok utama untuk terciptanya suatu chemistry atau keinginan dalam belajar. Suasana yang kondusif dalam belajar dapat meningkatkan prestasi dalam pembelajaran. Tidak hanya suasana belajar saja melainkan faktor strategi pembelajaran, model dan metode dosen mengajar, dan teknik pembelajaran yang disampaikan oleh pendidik yang dapat meningkatkan prestasi belajar. Suasana belajar dapat dinilai dengan metode yang dapat mengukur secara sensitif dan tepat untu mengetahui kondisi yang real terjadi pada mahasiswa, salah satunya dalah dengan metode DREEM Persepsi mahasiswa terhadap suasana belajar antara responden yang kuliah di Cempaka Putih dan Cirendeu memiliki perbedaan skor pada komponen perspsi mahasiswa terhadap pembelajaran dimana skor responden yang kuliah di Kampus Cempaka Putih lebih tinggi dibandingkan Kampus Cirendeu. Selain itu juga skor menunjukkan perbedaan pada komponen persepsi mahasiswa terhadap atmosfir pembelajaran, dengan skor mean untuk persepsi ini lebih tinggi pada responden yang kuliah di Kampus Cirendeu dibandingkan dengan mahasiswa yang kuliah di Kampus Cempaka Putih.

Daftar Pustaka

Abdillah, Achlish. 2011, Hubungan

Kemampuan Metakognitif dan

Lingkungan Belajar Rumah Sakit Dengan Kemampuan Pemecahan Masalah Asuhan Keperawatan Pada Mahasiswa, Tesis Hal.40 .UNS

Anni, Catharina Tri.2004. Psikologi Belajar. Semarang. Unnes Press

Deliens et al, 2013. Weight, socio-demographics, and health behaviour related correlates of academic performance in first year university students. Nutrition Journal 2013, 12:162. http://www.nutritionj.com/content/12/1/16 2. [Diakses 02 Januari 2014]

Dent, J. A. 2009. A Practical Guide for Medical Student. London New York: Churchill Livingstone Elsevier.

Esen, Uyyup, 2010. Academic Achievement of Turkish and American Students. Human Architecture: Journal of The Sociology of Self-Knowledge. Ahead Publishing House (imprint: Okcir Press) and authors. [Diakses 16 Januari 2014] Genn JM (2001). Curriculum, Environment, Climate Quality and Change in Medical Education – a unifying perspective. Med. Teach. 23(5): 445-454

Greenberger, Ellen, et al, 2008. Self-Entitled College Students: Contributions of Personality, Parenting, and Motivational Factors. J Youth Adolescence (2008) 37:1193–1204

(8)

online: 15 November 2011. Psychonomic Society, Inc.

Hastono, S P. 2007. Analisis Data Kesehatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Depok.

Lokuhett, Menaka DS. 2010. Students’ perception of the educational environment in a Medical Faculty with an Innovative Curriculum in Sri Lank. South‐East Asian Journal of Medical Education 9 Vol. 4 no. 1, 2010

Mayer, R. E. 2001. Multimedia Learning. In W. S. Rosch, Enabling, Facilitating, and inhibiting (pp. 47 - 58). Santa Barbara: Cambridge University Press.

Maramis, WF. 2006. Ilmu Perilaku dalam Pelayanan Kesehatan. Surabaya : Airlangga University Press.

Mustakim, Zaenal. 2009. Strategi dan Metode Pembelajaran Buku 2. Cetakan I. Pekalongan : STAIN Press.

Rahayu, G. R. 2006. Educatonal Climate at Nursing Study Program Gadjah Mada University as Measured Using DREEM. Jurnal Pendidikan Kesehatan dan Profesi Kesehatan Indonesia , 23-30.

Richardson M, Abraham C, Bond R.2012. Psychological correlates of University Students’ Academic Performance: A Aystematic Review and Meta-Analysis. Psychol Bull 2012, 138:353–387

Roff, Et all, 2005. The Dundee Ready

Educational Environment

Measure(DREEM) - A Generic Instrument for Measuring Students’ Perceptions of Undergraduate Health Professions Curricula, Medical Teacher. Vol. 27, No. 4, 2005, pp. 322-325

Romeo, M. Elizabeth. 2013.The Predictive Ability of Critical Thinking, Nursing GPA, and SAT Scores on First-Time NCLEX-RN Performance. Nursing Eduvation Perspecvtive.

Siagian P. 2004. Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Soekamto dan Winataputra. 1997, Teori Belajar dan Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Ditjen Dikti Depdikbud.

Sujarwo. 2012. Model-model

Pembelajaran: suatu strategi mengajar. Yogyakarta

Syska Widyawati, 2013. Persepsi Mahasiswa Tahap Klinik FKUI terhadap Self Directed Learnig DAN

Peraturan Menteri No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses

Gambar

Tabel 4.1 Skor Persepsi Mahasiswa

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan data tanggal lahir dan informasi lainnya yang ada di dalam database setiap warga, sistem komputer akan dengan mudah memilih warga yang sudah

Brez dvoma je elaborat Komisije pri Izvršnem svetu LR Slovenije, ki je preu č evala socialno-ekonomski položaj in demografsko podobo italijanske manjšine na obmo č ju Okraja Koper,

Juga dalam hal pelaksanaan hukuman mati, jika di dalam hukum Islam, pelaksanaan hukuman mati dilaksanakan di tempat ramai yang bisa dilihat oleh khayalak umum, yang bertujuan agar

Sebelum dilakukan pengaplikasian tepung ikan pada pembuatan biskuit, dilakukan uji bahan baku tepung ikan yang meliputi rendemen, kadar air, kadar protein, kadar

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai infromasi kepada masyarakat mengenai pengaruh lama perendaman asap cair sekam padi terhadap kandungan gizi ikan lele

Peranan mulsa dalam konservasi tanah dan air adalah: (a) melindungi tanah dari butir-butir hujan sehingga erosi dapat dikurangi dan tanah tidak mudah menjadi

Laporan ini merupakan pertanggungjawaban Kepala LPMP ProvinsiKepulauan Bangka Belitung atas pelaksanaan tugas dan fungsinya dalammenopang tugasKementerian Pendidikan dan

konsep dan penalaran matematis siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah peningkatan kemampuan pemahaman konsep dan penalaran matematis siswa dengan menggunakan