• Tidak ada hasil yang ditemukan

LEGIBILITY RUANG TERBUKA DI KOTA MEDAN A

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LEGIBILITY RUANG TERBUKA DI KOTA MEDAN A"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

LEGIBILITY

RUANG TERBUKA DI KOTA MEDAN, ADAKAH

PENGARUHNYA TERHADAP TINGKAT

LIVABLE CITY

KOTA INI?

Studi Kasus : Lapangan Merdeka, Medan, Indonesia

Shasya Agita Elizabetha, Hilma Tamiami F.b

Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara email: a[email protected]; b[email protected]

ABSTRACT

An urban design quality takes role in influencing a livable city. One of urban design elements is open space (Shirvani, 1985). As one of open spaces in Medan City, researcher choose Lapangan Merdeka as the case study area. This research aims to analyze the impact of open space’s legibility for Medan as a livable city. Using quantitative method, researcher distributed 100 questionairres in Merdeka Square randomly. Based on Lynch (1960) theory about legibility, Shirvani (1985) and Nasution & Zahrah (2012) about open space and also urban planner association standard about livable city, data were analyzed and SPSS are used to find out correlation of both variables. The findings in this research is correlation about legibility and livable city is low according through respondents perception.

Keywords: Legibility, Open Space, Livable City, Lapangan Merdeka, Medan

PENDAHULUAN

Sebuah kawasan atau kota akan semakin berkembang seiring berjalannya waktu. Seiring dengan perkembangan tersebut, yang diindikasikan sebagai dampak peningkatan jumlah penduduk, turut pula menimbulkan masalah-masalah baru di perkotaan. Kawasan yang tidak terencana dengan baik akan menyebabkan kualitas kota menurun baik dari segi nilai sosial maupun ekonomi kawasan tersebut (MLCI, 2009). Salah satu elemen dalam perkotaan sebagaimana dinyatakan Shirvani (1985) adalah ruang terbuka (open space). Ruang terbuka merupakan ruang yang bisa di akses masyarakat dalam kurun waktu tertentu, baik secara langsung mauun tidak langsung. UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mewajibkan penyediaan ruang terbuka minimal

sebesar 30% dari luas wilayah kota. Padahal menurut data Dinas Pertamanan (2007) dalam Aryatnie (2014), ruang terbuka hijau (RTH) kota ini hanya 0,37% dari luas Kota Medan.

(2)

perjalannanya, kawasan ini beberapa kali mengalami pergantian nama, yakni Esplanade

oleh Belanda pada tahun 1885, Fukuraidu oleh Jepang pada tahun 1943 hingga akhirnya nama Lapangan Merdeka digunakan sejak 17 Agustus 1945 (Aryatnie, 2014).

Ruang terbuka dapat mempengaruhi karakter masyarakat kota. Ketidaktersediaan ruang terbuka yang mencukupi di wilayah kota dapat menciptakan masyarakat-masyarakat yang individualis atau antisosial, yang tidak mampu berinteraksi bahkan bekerjasama satu sama lain Maka dari itu seharusnya rancangan ruang terbuka dibuat sedemikian agar dapat memfasilitasi dan mendukung aktivitas manusia di dalamnya.

Permasalahan dalam studi ini, yaitu “Apakah legibilty berpengaruh terhadap tingkat

livable city pada kawasan Lapangan Merdeka di Kota Medan?” Tujuan studi ini yaitu menemukan hubungan keterkaitan antara

legibility terhadap tingkat livable city pada kawasan Lapangan Merdeka di Kota Medan. Studi ini kiranya bermanfaat untuk mengembangkan bidang ilmu terkait topik kajian serta menjadi rekomendasi dalam meningkatkan kualitas dan konsep rancang ruang terbuka hijau sehingga turut meningkatkan kualitas kehidupan di Kota Medan sebagai livable city.

KAJIAN PUSTAKA

Legibility merupakan kejelasan emosional yang dapat dirasakan masyarakat di sebuah kota lewat distriknya, landmarknya, jalur sirkulasinya maupun dari pola secara ruang terbuka privat (dapat di akses dalam batas waktu tertentu dan milik pribadi, contoh halaman rrumah tinggal); ruang terbuka semi privat (ruang publik milik pribadi namun dapat diakses oleh masyarakat umum, contoh berhasil, yakni apabila mampu mendorong rasa aman dan nyaman bagi para pengunjungnya (Danisworo, 1989, dalam Nasution & Zahrah, 2012). Hal itu ditandai dengan adanya pola pergerakan yang jelas dan mudah, melaui penciptaan linkage yang menghubungkan jalur satu dengan jalur lainnya, mengintegrasikan moda transportasi dan tata guna lahan, keberadaan landmark sebagai orientasi dalam ruang terbuka, menggunakan skala manusia dan diperkaya dengan tampilan arsitektur yang baik, serta fasad bangunan yang menarik (Nasution & Zahrah, 2012). Apabila sebuah ruang terbuka dapat memenuhi kebutuhan pengunjungnya, itu meruoakan indikator keberhasilan ruang terbuka tersebut, yang mana turut serta data meningkatkan kualitas hidup masyarakat kota dan menjadikan kota tersebut menjadi sebuah

livable city.

Dyment et al. (2008) juga menyatakan bahwa lingkungan fisik yang terdapat hamparan tumbuhan hijau dapat memberi kesan teduh dan nyaman. Selain elemen vegetasi, ruang terbuka juga memiliki elemen pendukung seperti tempat sampah, tempat duduk, dan toilet umum. Dalam ruang publik, kenyamanan berarti terhindar dari sinar matahari yang berlebihan, tersedianya tempat duduk yang nyaman secara fisik dan psikologis, kemudahan tempat sampah, toilet umum, serta sistem informasi yang teratur dan baik secara visual (Ginting, 2014).

Livable city adalah suatu kondisi dimana sebuah lingkungan dan suasana kota yang ekonomi, dll) (Indonesia MLCI, 2009).

(3)

budaya serta sanitasi lingkungan yang baik dan keindahan lingkungan fisik kota tersebut (Indonesia MLCI, 2009).

Symposioum Ikatan Ahli Perencana (2008) merumuskan kriteria livable city ke dalam delapan variabel dengan berbagai detail kriterianya. Adapun kedelapa variabel tersebut antara lain adalah fisik kota, kualitas lingkungan, transportasi - aksesibilitas, fasilitas, utilitas, ekonomi, sosial, serta birokrasi dan pemerintahan. Diantara delapan variabel tersebut, yang berkaitan dengan topik kajian penelitian ini, legibility ruang terbuka, yaitu variabel fisik kota, dengan indikator RTH.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Peneliti menyebarkan 100 kuisioner secara random kepada responden yang terdiri dari pengunjung kawasan Lapangan Merdeka tersebut.

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah legibility dan livable city. Pada variabel legibility, indikator yang digunakan adalah kejelasan gambaran kawasan serta legibility Lapangan Merdeka. Kemudian pada variabel livable city, indikator yang digunakan adalah kualitas RTH di kawasan kajian.

Data yang dikumpulkan kemudian dianalisa dengan regresi linier berganda dengan SPSS versi 22 yang selanjutnya disajikan dalam tabel dan gambar dengan Microsoft Word dan Microsoft Excel.

Lokasi penelitian ini yakni di Lapangan Merdeka yang terletak di pusat Kota Medan, diantara 4 ruas jalan utama, Jl. Balai Kota, Jl. Stasiun, Jl. Bukit Barisan dan Jl. Pulau Pinang (Gambar 1.1).

Keyplan

Gambar 1. Peta Kawasan Kajian Adapun kawasan Lapangan Merdeka ini menjadi salah satu node di Kota Medan, dimana cukup banyak orang-orang yang dating kesini dengan berbagai tujuan. Pada lapangan sendiri, masyarakat dari berbagai usia biasanya datang berolahraga pada pagi dan sore hari. Pada waktu siang hari, kegiatan yang bisa ditemui di kawasan ini adalah kelompok / komunitas yang melaksanakan kegiatannya seperti senam, menari,dll. Pada waktu-waktu tertentu, pemerintah / swasata pun ada yang mengadakan kegiatan sosial di kawasan ini. Masih dalam lingkungan Lapangan Merdeka pun terdapat satu spot yang menjadi salah satu pusat kuliner kota ini, yaitu Merdeka Walk.

HASIL DAN PEMBAHASAN

(4)

responden dan korelasi legibility ruang terbuka dan tingkat livable city Kota Medan.

A. Profil Responden Zahrah, 2012). Mayoritas responden merupakan kaum muda usia 19-29 tahun (64%). Sisanya, pengunjung yang berusia ≤18 tahun (13%), 50-59 tahun (11%), 40-49 tahun (7%), 30-39 tahun (4%), dan lansia >60 tahun hanya 1 %.

Sejalan dengan dominasi usia responden, pengunjung terbanyak di kawasan Lapangan Merdeka ini merupakan mahasiswa (54%), diikuti oleh pegawai swasta dan wiraswasta (sama 14%). Sisanya, PNS (7%), ibu rumah tangga (5%), pekerja jasa dan TNI (sama 3%).

Latar belakang pendidikan para responden ini merupakan tamatan SMA dan S1 (50% dan 39%). Adapun yang mencapai tahap S2 hanya 2% dan sisanya tamatan SMP (2%) serta SD (1%). Hal ini sejalan dengan temuan Nasution & Zahrah (2012) dalam penelitian 7% lainnya adalah pengunjung yang berasal dari luar kota.

Intensitas kunjungan ke Lapangan Merdeka ini pun tergolong tidak terlalu sering. Terbukti dari hasil kuisioner, 35% pengunjung mengunjungi kawasan ini hanya 1 kali sebulan, disusul 25% responden yang menyatakan bahwa mereka datang ke Lapangan Merdeka 2-3 kali sebulan. Pengunjung yang mengunjungi kawasan ini 4-5 kali bahkan lebih dari 5 kali setiap bulannya yaitu 16% dan 24%.

Sebuah ruang terbuka yang berhasil adalah ruang terbuka yang menjadi bisa menjadi tempat yang kondusif bagi seseorang untuk berinteraksi sosial, menarik banyak pengunjung untuk melakukan ragam aktivitasnya, serta

mendukung kegiatan rekreatif (Danisworo, 1989 dalam Nasution & Zahrah, 2012). Ketika ditanyakan tujuan kunjungannya ke kawasan kajian, terdapat persentase yang hampir sama, yakni responden yang menjawab hanya melintas (25%) dengan responden yang sengaja datang untuk berekreasi (24%) dan olahraga (24%), untuk belanja atau makan 16% dan yang memang bekerja di kawasan ini ada 9%). Mengacu pada teori yang ada, dapat dikatakan bahwa Lapangan Merdeka sebagai sebuah ruang terbuka publik sudah berhasil.

B. Korelasi legibility ruang terbuka dan tingkat livable city Kota Medan

Dari hasil penyebaran kuisioner untuk mengetahui persepsi masyarakat mengenai

legibility kawasan kajian, ditanyakan dua hal keseluruhan. Disusul oleh 18% dan 13% yang menyatakan sangat setuju dan tidak pasti. Sisanya, 3% yang meyatakan tidak setuju dan 1% sangat tidak setuju bahwa mereka dapat membayangkan kawasan secara keseluruhan saat disebutkan kawasan Lapangan Merdeka. Pertanyaan kedua yaitu legibility Lapangan Merdeka, hasilnya adalah 61% masyarakat menyatakan setuju bahwa Lapangan Merdeka mudah dilihat dan dikenali. Secara berurutan, 27%, 7% dan 5% responden yang menyatakan sangat setuju, tidak pasti dan tidak setuju untuk pernyataan tersebut.

Tabel 1.Legibility Kawasan Kajian

(N=100)

Sangat Tidak Setuju 1 0

(5)

kuisioner peneliti menanyakan persepsi masyarakat mengenai kondisi RTH di kawasan kajian (Tabel 2). 54% responden menyatakan setuju dengan pernyataan RTH di kawasan kajian baik. Dengan persentase yang hampir imbang, yakni 18%, 15% dan 12%, responden menyatakan sangat setuju, tidak pasti dan tidak setuju terhadap pernyataan tersebut. Kemudian 1% sisanya menyatakan sangat tidak setuju bahwa kawasan ini memiliki RTH yang baik.

Tabel 2.Livable City Kawasan Kajian

(N=100) RTH di Kawasan Baik

Sangat Tidak Setuju 1 diolah dengan SPSS untuk mengetahui korelasi kedua variabel tersebut. Hasilnya, nilai rata-rata untuk variabel livable city dengan indikator RTH baik adalah 3.71, sedangkan untuk variabel

legibility dengan indikator kejelasan gambaran kawasan kajian, rata-ratanya 3.97 dan indikator

legibility Lapangan Merdeka adalah 4.08 (Tabel 3).

Tabel 3.

Descriptive Statistics

Mean Std.

Deviation

N

RTH baik 3.71 .946 100

Kejelasan indikator dalam setiap variabelnya. Diketahui hubungan atau korelasi antar kedua variabel ini tergolong rendah atau lemah, yakni nilai 0.251 untuk hubungan antara RTH baik dan kejelasan gambaran kawasan; nilai 0.243 untuk RTH baikdan

legibility Lapangan Merdeka.

Tabel 4.Correlations

(1-tailed) RTHbaik . .006 .007 Kejelas

Nilai korelasi antar variabel ini adalah 0.295, yang artinya rendah (Tabel 5). Ternyata terjadi korelasi lemah antara livable city dan

legibility secara keseluruhan, yaitu hanya 29,5% tingkat pengaruh variabel legibility terhadap

livable city.

Tabel 5. Model Summary

Mode

(6)

e Square Estimate

1 .295 .087 .068 .913

Diperoleh nilai signifikansi hitung sebesar 0.012 untuk simbol alpha 0.05 (Tabel 6). Hal ini menunjukkan bahwa variabel bebas dan variabel terikat mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap variabel terikat.

Tabel 6. ANOVAa

Model Sum of Square

s

df Mean Squar

e

F Sig.

Regressio n

Residual Total

7.73 2 3.86 4.63 3

. 012b

80.87 9

7 .83

88.59 9 9

Nilai koefisien atar variabel livable city

dan kejelasan gambaran kawasan adalah 1.730. Kemudian nilai koefisien atar variabel livable city dan legibility Lapangan Merdeka adalah 1.604 (Tabel 7). Dari hasil analisa ini diketahui bahwa kedua independen bebas, yakni kejelasan gambaran kawasan (0.087) dan legibility

Lapangan Merdeka (0.112) tidak mempengaruhi variabel livable city, karena nilai signifikansi keduanya melebihi standar yang ada, yakni 0.05

(http://www.stat.vcu.edu/help/SPSS/SPSS.Regre ssion.PC.pdf, diakses pada 22 Januari pukul 16.55 WIB). Hasil ini bertolak belakang dengan teori yang ada, yaitu legibility dan livable city

saling berkaitan satu sama lain (Nasution & Zahrah, 2012).

Tabel 7. Coefficientsa

Model t Sig.

(Constant) 3.354 .001

Kejelasan gambaran kawasan 1.730 .087

Legibility LM

1.604

.112

KESIMPULAN

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa masyarakat memiliki persepsi positif mengenai legibility dan tingkat livable city di kawasan kajian.

Tidak sejalan dengan persepsi positif responden tersebut, hasil analisa SPSS justru menunjukkan bahwa korelasi antara variabel

livable city dan legibility adalah lemah. Artinya

legibility pada Lapangan Merdeka tidak mempengaruhi tingkat livable city pada kota Medan.

SARAN

Sebagai saran, seharusnya livable city

dan legibility seiring jalannya dan saling mempengaruhi. Untuk itu, peraturan pemerintah kota pun sebaiknya turut mendukung dalam meningkatkan kualitas desain kota khususnya

legibility open space dalam hal ini Lapangan Merdeka Medan. Peran serta masyarakat dan pengunjung pun harus turut serta dalam proses peningkatan legibility kawasan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Aryatnie, Y.E. 2014. Studi Persepsi Remaja Terhadap Fungsi dan Aktivitas di Ruang Terbuka Publik, Studi Kasus : Lapangan Merdeka, Medan. Jurnal Arsitektur dan Perkotaan “KORIDOR” 5(2). 13-23. Ginting, N. 2014. Disertasi Identiti Tempat dan

Pengaruhnya Terhadap Pelancongan Warisan, Kajian Kes Bandar Medan Indonesia. USM Penang.

Indonesia Most Livable City Index. 2009. Lynch, K. 1960. The image of the City. The MIT

Press,Cambridge.

Nasution, A. D. dan Zahrah, Wahyuni, 2012. Public Open Space’s Contribution To Quality Of Life : Does Privatization Matters? Asian Journal of Environment-Behaviour Studies. 3(9). 59-74.

Shirvani, H. 1985. The Urban Design Process.

New York. Van Nostrand Reinhold Company.

UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Internet:

Gambar

Gambar 1. Peta Kawasan Kajian
Tabel 4. Correlations
Tabel 6. ANOVAa

Referensi

Dokumen terkait

Dalam struktur ruang kampung pusat kegiatan yaitu pusat permukiman (sa’o ) sebagai wujud dunia tengah dan masa kini, dimana manusia tinggal dan beraktivitas; pusat budaya ( loka

(sesuai kemampuan perusahaan tersebut) sebagai bantuk tanggungjawab mereka terhadap sosial atau lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada. Misalnya

Kota Pematangsiantar merupakan Kota yang akan terus berkembang. Keradaan ruang terbuka hijau sangan diperlukan diperkotaan agar tercipta lingkungan yang nyaman dan

Pada umumnya, manusia senang dengan suasana yang asri, sejuk, aman, nyaman, dan memiliki vista (visualisasi yang indah). RT 01/08 memiliki potensi untuk itu jika berbagai macam

Lingkungan adalah tempat dimana seorang tinggal. Lingkungan dapat mempengaruhi seseorang sehingga dapat termotivasi untuk melakukan sesuatu. Selain keluarga, lingkungan

keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup. Green city sebagai model pengembangan perkotaan baru telah diterapkan dibeberapa benua. Green city merupakan bentuk

Pemilihan pemukiman atau perumahan pun menjadi suatu faktor masyarakat untuk memilih tempat tinggal yang nyaman untuk ditempati.Termasuk fasilitas yang ada pada

Sudah tersedia fasilitas dan pengelolaan yang memperhatikan estetika dan tata kelola yang baik Keamanan Kondisi keamanan dalam beraktivitas di lapang merdeka Ketersediaan sarana dan