PENGANTAR FILSAFAT & DASAR-DASAR
LOGIKA
Disusun oleh:
Asmaul Husnah (09311351650215)
FAKULTAS ILMU SOSIAL & ILMU POLITIK
UNIVERSITAS NASIONAL
JAKARTA
Kebebasan Berpikir dan Masalah Eksistensi Manusia
Berpikir adalah suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Pada dasarnya manusia selalu berpikir, hanya saja kerap kali manusia membatasi pikiran mereka terhadap ide atau pandangan tertentu. Hal ini menjadikan manusia dibedakan menjadi 2 kelompok, manusia yang berpikir dan manusia yang bebas berpikir. Perbedaan dari kedua kelompok tersebut adalah manusia yang berpikir adalah manusia yang hanya berpikir mengenai hal-hal atau permasalahan yang dikehendaki atau diinginkan, misalnya manusia berpikir bagaimana cara mendapatkan uang untuk membeli makanan. Sementara manusia yang bebas berpikir adalah manusia yang memiliki kebebasan dalam berpikir dan menuntut kebenaran atas ide-ide atau permasalahan yang ada, misalnya berpikir mengapa manusia bisa sering merasa tidak puas, bahkan berpikir tentang ide ketuhanan.
Apakah Tuhan memang ada? Bagi manusia yang bebas berpikir, akan banyak pikiran atau pertanyaan yang menuntut kebenaran atas ide ketuhanan, misalnya bagaimana wujud Tuhan? Atau dimanakah Tuhan berada? Tapi, bagi manusia yang berpikir, ide ketuhanan merupakan buah dari keyakinan yang mereka dapatkan dari ajaran baik agama maupun orang tua.
cepat. Kemajuan tersebut tidak akan mungkin ada apabila tidak ada manusia yang berpikir bahwa ponsel dengan layar sentuh pasti akan lebih mudah digunakan dan menarik, atau pasti ada cara agar akses informasi dan berkomunikasi dengan orang lain di belahan dunia yang lain menjadi lebih cepat tanpa harus membeli buku atau media cetak dan bepergian dengan alat transportasi.
Namun demikian, kebebasan dalam berpikir tetap harus terikat dengan norma yang ada. Hal ini agar hasil dari kebebasan berpikir manusia tidak merugikan atau membawa dampak yang buruk, karena kebebasan berpikir tidak hanya mempengaruhi berbagai aspek kehidupan melainkan juga eksistensi manusia dalam kehidupannya. Mengapa demikian? Menjadi suatu kebutuhan dasar manusia untuk mempertahankan eksistensinya. Masalah eksistensi manusia bukan hanya sekedar jati diri, tapi juga bagaimana ia harus memenuhi kebutuhan hidup, bertahan hidup, dan berhubungan dengan orang lain.
Manusia hidup sebagai makhluk sosial, dan hal ini menjadi salah satu alasan mengapa manusia harus memiliki eksistensi. Saat ia berpikir ia dapat bertahan hidup hanya dengan bergantung pada alam, seperti memperoleh makanan saat lapar, mendapat minum saat haus, dan berlindung di suatu tempat tertentu dari panas dan hujan, maka ia belum sepenuhnya memikirkan eksistensi dirinya. Mengapa? Karena, akan ada musim dari cuaca yang membawa manusia pada kesulitan untuk bertani atau berkebun sehingga tidak ada tanaman pangan yang dapat tumbuh. Akan ada cuaca ekstrim yang mungkin dapat menghancurkan tempat tinggalnya. Akan ada musim dimana sungai tempat ia mendapatkan air mengering.
pertukaran atau dikenal dengan sebutan barter. Saat A memiliki banyak karung yang berisi beras, ia bersepakat dengan B untuk bertukar dengan sejumlah sayur-sayuran. Pada masa sekarang, hal tersebut dapat dimulai dengan hidup bertetangga, atau dapat juga dilihat dari hubungan erat antara produsen makanan dengan masyarakat konsumen. Hubungan saling membutuhkan ini menunjukkan bahwa manusia dapat bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya untuk mengisi eksistensinya.
Eksistensi manusia juga terkait dengan jati diri. Dalam bermasyarakat, manusia membutuhkan identitas untuk memulai eksistensinya. Identitas dapat berupa status pernikahan, pekerjaan, kewarganegaraan, suku, maupun agama. Hasil kebebasan berpikir manusia terkait jati diri ini adalah adanya golongan sosial, atau di masa lalu dikenal sebagai kasta sosial, yakni golongan bangsawan, golongan pengusaha, golongan cendikiawan, hingga golongan miskin. Indikator dari golongan tersebut cenderung pada jumlah harta kekayaan mereka. Hal ini bertahan hingga saat ini. Contohnya, saat ini pengusaha besar di beberapa negara seperti Korea dan Cina kerap kali melakukan pernikahan politik demi mempertahankan atau meningkatkan eksistensinya. Pekerjaan juga dapat mempengaruhi eksistensi manusia. Umumnya, semakin bagus dan tinggi jabatan seseorang, semakin baik pula sikap dan pandangan orang lain.