BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
dalam pembentukan hukum dan pengambilan kebijakan dalam penyelenggaraan negara, akan tetapi secara formal juga tercermin dalam struktur dan organisasi pemegang kekuasaan penyelenggaraan negara. Faham kedaulatan rakyat yang dalam sejarah sangat mengenal doktrin Trias Politika dari Montesqieu, menekankan diperlukannya penyusunan kekuasaan negara dengan tidak memusatkan kekuasaan negara dalam satu tangan atau badan saja, untuk menjamin perlindungan kebebasan warga negara. Trias politika tersebut didasarkan pada pemisahan kekuasaan negara yang lazim dikenal dengan separation of powers, tetapi beberapa sarjana menyebut bahwa karena tidak terdapat pemisahan kekuasaan secara absolut, maka yang terjadi sesungguhnya adalah pembagian kekuasaan (division of powers).
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Lembaga Negara ?
2. Bagaimana kedudukan dan kewenangan Lembaga-lembaga Negara di Indonesia ?
3. Apa yang menyebabkan sengketa kewenangan antarlembaga negara dapat terjadi ?
4. Berikanlah contoh sengketa kewenangan antarlembaga negara yang pernah terjadi di Indonesia ?
BAB II PEMBAHASAN
1. Lembaga Negara
Lembaga Negara/ organ Negara/ alat-alat perlengkapan Megara menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan keberadaan Negara. Pembentukan lembaga Negara akan selalu terkait dengan system penyelenggaraan Negara, yang di dalamnya termuat antara lain fungsi setiap organ yang dibentuk dan hubungan-hubungan yang dijalankan. Dalam konteks itu, paling popular dan banyak diadopsi berbagai Negara adalah konsep triaspolitika.1
Lembaga Negara adalah lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945.2
Lembaga Negara bukan konsep yang secara terminologis memiliki istilah tunggal dan seragam. Di dalam kepustakaan Inggris, untuk menyebut lembaga negara digunakan istilah political institution, sedangkan dalam terminology bahasa Belanda terdapat istilah staat organen. Sementara itu, bahasa Indonesia menggunakan lembaga negara, badan negara, atau organ negara.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (1997:979-58), kata “lembaga” antara lain diartikan sebagai (1) ‘asal mula (yang akan menjadi sesuatu); bakal (binatang, manusia, dan tumbuhan)’; (2) ‘bentuk (rupa, wujud) yang asli’; (3)
1 Firmansyah Arifin dkk, Lembaga Negara Dan Sengketa Kewenangan Antar lembaga Negara, Jakarta: Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN) cet 1, 2005, hal 13-14
‘acuan; ikatan (tentang mata cincin dsb)’; (4) ‘badan (organisasi) yang tujuannya melakukan suatu penyelidikan keilmuan atau melakukan suatu penyelidikan keilmuan atau melakukan suatu usaha’; dan (5) ‘pola perilaku manusia yang mapan, terdiri atas interaksi sosial berstruktur di suatu kerangka nilai yang relevan’. Kamus tersebut juga member contoh frasa yang menggunakan kata lembaga, yaitu lembaga pemerintahan yang diartikan ‘badan-badan pemerintahan dalam lingkungan eksekutif’. Kalau kata pemerintahan diganti dengan kata Negara, diartikan ‘badan-badan Negara di semua lingkungan eksekutif, yudikatif, dan legislatif).’3
2. Kedudukan dan Wewenang Lembaga-lembaga Negara
Kewenangan konstitusional lembaga negara adalah kewenangan yang dapat berupa wewenang/hak dan tugas/kewajiban lembaga negara yang diberikan oleh UUD 1945.4
Lembaga negara berdasarkan UUD 1945, paling tidak ada 14 jenis lembaga negara yang dibentuk berdasarkan UUD 1945, yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Presiden, Mahkamah Agung, Badan Pemeriksaan Keuangan, pemerintah-(an) daerah (Gubernur, DPRD tingkat Provinsi, Walikota/Bupati, dan DPRD tingkat kabupaten/kota), Komisi Pemilihan Umum, Komisi Yudisial, Mahkamah Konstitusi, bank sentral, Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan Dewan Pertimbangan Presiden.5
3 Firmansyah Arifin dkk, Lembaga Negara Dan Sengketa Kewenangan Antar lembaga Negara, Jakarta: Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN) cet 1, 2005, hal 29-30
4 Peraturan Mahkamah Konstitusi No. 08/PMK/2006 tentang Pedoman Beracara dalam Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga Negara.
1. MPR : anggota-angota Majelis terdiri atas anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat ditambah dengan utusan-utusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan menurut aturan yang ditetapkan dengan undang-undang.6 Wewenang MPR terdapat
pada pasal 3 UUD yang berbunyi,(1) MPR berwenang mengubah dan menetapkan UUD, (2) MPR melantik Presiden dan/atau Wakil Presiden, dan (3) MPR hanya dapat memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya menurut UUD.7
2. DPR : mengawasi tindakan-tindakan Presiden dan jika Dewan menganggap bahwa Presiden sungguh-sungguh melanggar haluan Negara yang telah ditetapkan oleh MPR. Untuk pengawasan tersebut maka DPR mempunyai beberapa wewenang yaitu: a. Menurut UUD 1945: (a) hak budged, yaitu hak untuk menyusun rancangan Anggaran Belannja dan Pendapatan Negara (Pasal 23 ayat 1) dan (b) hak inisiatip, yaitu hak untuk mengusulkan Rancangan Undang-Undang (Pasal 21 ayat 1). b. Menurut UU No. 10 Tahun 1966, pasal 6 dan Keputusan DPR No. 7/DPR/III/71,72: (c) hak amandemen (mengadakan perubahan), (d) hak interpelasi (meminta keterangan), (e) hak bertanya, dan (f) hak angket (mengadakan penyelidikan).8
3. DPD : kedudukan DPD sejajar dengan kedudukan DPR dalam struktur ketatanegaraan kita, kewenangannya-baik kewenangan bidang legislasi maupun bidang pengawasan-sangat terbatas.9Pasal 22D dan 23F UUD Negara Republik
Indonesia mengatur wewenang DPD.10
4. PRESIDEN & WAPRES : sebagaimana ditegaskan dalam UUD Negara Republik Indonesia, kewenangannya meliputi memegang kekuasaan pemerintahan menurut UUD (pasal 4 ayat (1)); mengajukan RUU kepada DPR (pasal 5 ayat (1));
6 Prof. Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta: PT Gramedia, Nopember 1981, hal 200 7 Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945
8Drs. Kaelan, M.S., Pancasila Yuridis Kenegaraan, Yogyakarta: Paradigma,1993, hal.145-146
9 Firmansyah Arifin dkk, Lembaga Negara Dan Sengketa Kewenangan Antar lembaga Negara, Jakarta: Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN) cet 1, 2005, hal 75-76
menetapkan peraturan pemerintah (Pasal 5 ayat (2)); memegang kekuasaan yang tertinggi atas D, AL, dan AU (Pasal 10),dll.11
5. MA : pasal 24 A ayat 1, MA berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh UU.12
6. MK : lembaga ini berwenang menguji UU terhadap UUD, memutus sengketa antarlembaga negara yang kewenangannya diatur di dalam UUD, memutus sengketa hasil pemilu, dan memutus pembubaran parpol. Sejak keluarnya UU No. 12 Tahun 2008 yang merupakan perubahan atas UU No. 32 Tahun 2004 kewenangan MK ditambah satu lagi yakni memeriksa dan memutus sengketa hasil pemilihan kepala daerah (pilkada) yang sebelumnya menjadi kompetensi MA.13
7. BPK : meriksa semua pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. BPK menilai dan meneliti kemanfaatan/penggunaan serta sahnya penggunaan uang negara.14
8. KPU : adapun tugas dan wewenang KPU seperti tertuang dalam ketentuan Pasal 25 UU No. 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD. 9. KOMISI YUDISIAL : memiliki dua kewenangan, yaitu mengusulkan pengangkatan
calon hakim agung di Mahkamah Agung dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim, baik di lingkungan Mahkamah Agung beserta peradilan di bawahnya maupun hakim di Mahkamah Kontitusi.
10. BANK SENTRAL : ketentuan mengenai Bank Sentral diatur lebih lanjut melalui UU No. 23/1999 tentang Bank Indonesia. Bank Indonesia memiliki tugas (a) menetapkan
11Firmansyah Arifin dkk, Lembaga Negara Dan Sengketa Kewenangan Antar lembaga Negara, Jakarta: Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN) cet 1, 2005, hal 78
12Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945
13Moh. Mahfud MD, Konstitusi dan Hukum dalam Kontroversi Isu, Jakarta: Rajawali Pers cet.2, Januari 2010, hal. 273
dan melaksankan kebijakan moneter, (b) mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, dan (c) mengatur dan mengawasi bank.
11. TENTARA NASIONAL INDONESIA : sebagai alat negara yang bertugas mempertankan, melindungi, dan memelihara keutuhan dan kedaulatan negara (pasal 30 ayat (3) UUUD 1945).
12. KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA : adapun tugas dari Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat, serta menegakkan hukum (Pasal 30 ayat(4))
13. DEWAN PERTIMBANGAN PRESIDEN : Pasal 16 UUD 1945, bertugas memberikan nasihat dan perrtimbangan kepada presiden, yang selanjutnya diatur dalam Undang-undang. Meskipun ada ketentuan bahwa lembaga ini akan diatur melalui UU, yaitu memberi nasihat dan pertimbangan.15
14. PEMERINTAH(-AN) DAERAH : masing-masing kelembagaan ditentukan dalam konstitusi mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan; menjalankan otonomi dengan seluas-luasnya kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat; menetapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan (pasal 18 ayat (2),(5),dan (6) UUD 1945).
3. Perihal Terjadinya Sengketa Kewenangan Lembaga Negara
Konsekuensi logis dari pilihan suatu system dengan menerapkan prinsip checks ang balances adalah timbulnya sengketa atau pertentangan antarorgan kelembagaan Negara yang diletakkan secara sederajat dan saling control. Lahirnya
sengketa tidak lain karena adanya persinggungan kepentingan yang tidak dapat dikompromikan. Dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan timbulnya sengketa bisa disebabkan beberapa kemungkinan, di antaranya kurang memadainya system yang mengatur dan mewadahi hubungan antarorgan yang ada sehingga menimbulkan perbedaan interpretasi. Perbedaan interpretasi terhadap suatu ketentuan yang menjadi bingkai bagi penyelenggaraan Negara seringkali menyulut sengketa. Ada banyak penafsiran yang sering digunakan untuk menilai atau memahami suatu konteks permasalahan, diantaranya adalah penafsiran oleh lembaga pengadilan dan penafsiran konstitusional. Terkait dengan sengketa kewenagan, salah penafsiran yang dapat digunakan adalah penafsiran konstitusional.16
Tidak mungkin sebuah konstitusi dapat lahir tanpa perdebatan gan kontroversi, kecuali dalam keadaan tidak normal di mana sebuah konstitusi ditetapkan secara sepihak oleh suatu kekuatan penguasa. Mutu sebuah konstitusi justru menjadi tinggi jika proses pembuatannya melalui perdebatan-perdebatan yang tajam. Hanya saja yang perlu ditekankan di sini, kita harus mempunyai sikap konstitusional, yakni sikap untuk tunduk dan melaksanakan konstitusi dengan sebaik-baiknya jika sebuah resultante atau pilihan politik telah disepakati melalui prosedur yang sah.
Harus diingat bahwa tidak ada di dunia ini konstitusi yang sempurna dan dapat disetujui seluruh isinya oleh semua orang. Di dalam Negara demokrasi perbedaan kontroversi adalah keniscayaan, sekurang-kurangnya hamper dapat dipastikan adanya pendangan yang berbeda; namun memang perbedaan-perbedaan pandangan itulah demokrasi menjadi penyaring untuk mencapai resultante melalui prosedur hukum yang sah.17
16 Firmansyah Arifin dkk, Lembaga Negara Dan Sengketa Kewenangan Antar lembaga Negara, Jakarta: Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN) cet 1, 2005, hal 22-23
4. Sengketa Kewenangan antarlembaga negara di Indonesia
Sengketa adalah perselisihan atau perbedaan pendapat yang berkaitan dengan pelaksanaan kewenangan antara dua atau lebih lembaga negara.18
Untuk melihat potensi sengketa antarlembaga Negara, perlu diuraikan terlebih dahulu beberapa sengketa yang pernah dan sempat muncul, baik sengketa tersebut dapat diselesaikan maupun tidak. Sengketa-sengketa yang pernah terjadi sebagaimana akan diulas dalam pembahasan berikut.
DPR dengan Presiden:
Pembentukan UU
Potensi konflik antara DPR dan Presiden dapat saja terjadi dalam proses pembentukan undang-undang. Pasal 20 ayat (2) dan ayat (3) UUD 1945 menyatakan UU dapat berlaku jika ada persetujuan bersama antara DPR dan Presiden. Dalam hal.ini, secara formal, Presiden mempunyai hak untuk menolak sebuah RUU walaupun hingga saat ini tidak pernah ada preseden Presiden melakukannya. Dalam periode kepemimpinan Megawati terdapat sejumlah UU yang tidak ia tanda tangani. Sikap Presiden Megawati Soekarnoputri yang tidak mau menandatangani sejumlah undang-undang ini, menurut Sekretaris Negara Bambang Kesowo, disebabkan Presiden tak mau bertanggung jawab secara moral isi UU tersebut.
Kasus pembelian Sukhoi
Kasus pembelian Sukhoi pada dasarnya menunjukkan adanya ketegangan antara Presiden dan DPR. Karenanya, tidak berlebihan jika komentator menyatakan kasus semacam itu dapat dipolitisasi menjurus ke konflik Presiden versus DPR.
Pemerintah membeli empat jet tempur Sukhoi Rusia dan dua helicopter MI-35 senilai tidak kurang US$200 juta dengan cara imbal dagang (counter trade). Kontrak pembelian ditandatangani oleh Kabulog bertindak sebagai pembeli, Panglima TNI sebagai pengguna, dan Rosoboronexport sebagai pihak penjual, dengan tembusan untuk Dirjen Ranahan dan Rensihan Dephan.
Panja DPR menyatakan pembelian yang dilakukan pemerintah salah prosedur.Wakil Ketua Panja DPR Effendy Choirie sempat merekomendasikan agar DPR menjatuhkan sanksi anggaran kepada pemerintah bila pembelian empat pesawat tempur dilakukan. Effendi menyatakan pemerintah telah melanggar UU dalam pembelian Sukhoi karena tidak melalui APBN dengan persetujuan DPR. Anggota DPR lainnya, Alvin Lie, menyatakan pembelian pesawat jet itu tidak pernah dilakukan melalui proses RAPBN yang benar. Lie menyatakan kejanggalan dalam melibatkan Bulog dalam proses pembelian, bahkan berani meminjam uang dari bank dengan jaminan APBN. Sebaliknya anggota Panja dari F-PDIP Permadi dan Sekretaris F-PDIP Tjahjo Kumoho meminta Panja Sukhoi dibubarkan atau ditinjau ulang karena digunakan sebagai alat untuk menggencet Presiden Megawati menjelang Sidang Tahunan MPR 2003.
Kontroversi tersebut ditutup dengan rekomendasi Panja agar pemerintah tidak mengulangi lagi mekanisme pembelian seperti terjadi dalam kasus Sukhoi. Pihak DPR kemudian ‘menyetujui’ pembelian pesawat dan helicopter Rusia tersebut.19
5. Penyelesaian Sengketa Kewenangan Lembaga Negara
Pada masa lalu, tidak ada mekanisme yang dapat digunakan untuk menyelesaikan sengketa lembaga Negara. Akibatnya, setiap sengketa selalu diselesaikan melalui pendekatan politik sehingga kebenaran dari sengketa bergantung
pada kekuatan dan hitung-hitungan politik. Karena itu, mekanisme hukum diperlukan untuk menyelesaikan sengketa lembaga Negara sehingga keputusan yang dihasilkan memiliki sandaran yuridis yang dapat dipertanggungjawabkan. Pilihan mekanisme yang paling tepat untuk menafsirkan kewenangan konstitusional adalah melalui mekanisme yudisial. Maka itu, dibentuklah MK yang salah satu wewenangnya menyelesaikan sengketa kewenangan antarlembaga Negara.
Hampir semua Negara mempunyai mekanisme penyelesaian sengketa antarlembaga Negara. Namun, setiap Negara memiliki mekanisme berbeda, disesuaikan dengan system dan karekteristik Negara yang bersangkutan.20
Berkaitan dengan sengketa yang dapat diajukan ke MK, UUD telah mengatur dan member batas secara tegas; yaitu, pertama, menyangkut sengketa kewenangan. Pokok sengketa yang dapat diajukan ke MK adalah sengketa kewenangan bukan sengketa yang lain. Adapun sumber kewenangan yang disengketakan bisa saja diperoleh baik dari UUD maupun dari peraturan perundang-undangan lain. Kedua, yang bersengketa adalah lembaga Negara dan lembaga Negara yang dimaksud hanyalah lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD. Dengan demikian, lembaga Negara yang memperoleh kewenangan dari selain UUD tidak dapat mengajukan permohonan sengketa kewenangan antarlembaga Negara di MK.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa MK berkewengan untuk memutus sengketa antarlembaga Negara.
Banyak potensi sengketa yang dapat terjadi dan memerluka perhatian. Adapun potensi-potensi sengketa itu disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, ketidakjelasan peraturan perundang-undangan yang mengatur fungsi/tugas/wewenang suatu lembaga. Kedua, disebabkan menculnya beragam penafsiran karena ketidakjelasan peraturan perundang-undangan di atas.
UU MK memberi batasan bahwa MA tidak dapat menjadi pihak di MK dalam sengketa kewenangan antarlembaga Negara. Terkait dengan perihal terakhir, bahwa MA tidak dapat menjadi pihak, dapat dinyatakan ketentuan tersebut tidak memiliki landasan konsep dan hukum yang kuat. Secara yuridis formal jelas MA adalah lembaga Negara yang kewenagannya diberikan oleh UUD dan secara factual terdapat potensi sengketa lembaga Negara oleh MA dengan lembaga Negara yang lain. Pembatasan tersebut patut dipertanyakan, bahkan dipertanyakan bahwa yang membatasi MA untuk menjadi pihak di MK bertentangan dengan UUD karena mereduksi kewenangan MK untuk memutus sengketa antarlembaga negar yang kewenangannya diberikan oleh UUD. Dengan demikian lembaga-lembaga yang dapat menjadi pihak sengketa di MK ada 16 ; yaitu MPR,DPR, DPD,KPU, DPRD Provinsi, DPRD kabupaten, MA, KY, MK, BPK, Presiden, Kementrian Negara, Dewan Pertimbangan Presiden, pemerintah daerah provinsi, pemerintah daerah kabupaten dan kota, Tentara Nasional Indonesia, dan Kepolisian Negara Republik Indonesia.
B. Kritik dan saran
yang salah maupun penulisan yang salah kami para penulis meminta maaf sebesar – besarnya.
Karya tulis ini merupakan hasil maksimal dari kami, dan kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna dan harapan. Karena itu, saran dan masukan dari pembaca sangat kami harapkan dalam menyempurnakan makalah ini. Semoga dapat bermanfaat bagi kita sebagai penulis maupun pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Undang-Undang Negara Republik Indonesia 1945.pdf
Peraturan Mahkamah Konstitusi No. 08/PMK/2006 tentang Pedoman Beracara dalam Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga Negara.pdf
Arifin, Firmansyahdkk. Lembaga Negara Dan Sengketa Kewenangan Antar lembaga Negara. Jakarta: Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN). 2005
Drs. Kaelan, M.S., Pancasila Yuridis Kenegaraan, Yogyakarta: Paradigma,1993
Prof. Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta: PT Gramedia, Nopember 1981