• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN TURKI MEMUTUS KERJASAMA MILITE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KEBIJAKAN TURKI MEMUTUS KERJASAMA MILITE"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

KEBIJAKAN TURKI MEMUTUS KERJASAMA MILITER DENGAN

Dinamika kebijakan Politik Luar Negeri Turki terhadap Israel berimplikasi pada pemutusan kerjasama militer diantaranya penghentian suplai senjata militer, pembatalan pelatihan militer, penghentian informasi intelijen, dan larangan penerbangan terhadap militer Israel. Pemutusan kebijakan tersebut didasari oleh perubahan aktor politik Turki sejak AKP berkuasa pada era Erdogan sebagai Perdana Menteri dan Ahmed sebagai Menteri Luar Negeri lebih mempunyai power untuk melakukan perlawanan terhadap kebijakan Israel yang memang bersebrangan dengan kepentingan Turki. Pada tanggal 31 Mei 2010, angkatan laut Israel menyerang kapal konvoi Mavi Marmara untuk menembus blokade Israel atas Gaza. Serangan tersebut menewaskan 19 orang, 10 diantaranya merupakan warga negara Turki dan melukai puluhan orang lainnya. Serta menawan lebih dari 700 orang yang berada diatas kapal tersebut. Israel juga membongkar seluruh muatan kapal di pelabuhan Asdot Israel dan mengeluarkan semua barang barang yang dibawanya.1 Pemerintah Turki menuntut agar Israel segera meminta maaf dan minta mahkamah Internasional segera melakukan penyelidikan terhadap insiden tersebut. Namun seiring berlalunya waktu, Israel tak juga bertindak seperti yang diinginkan Turki sehingga pemerintah Turki memutuskan kebijakan tentang kerjasama militernya dengan Israel. Di sisi lain, pemerintah Turki memanfaatkan peluang untuk tetap memenuhi kebutuhan militer dan lainnya dengan membuka kerjasama dengan Iran, Rusia, Brazil, dan China.

Kata kunci : AKP Turki, Israel, Pemutusan Kerjasama Militer

1 Bilal, “mengenang 2 tahun tragedy Mavi Marmara” diakses dari

(2)

A. Latar Belakang Masalah

Kebijakan luar negeri merupakan bagian yang integral dari kebijakan

pemerintah dalam rangka mencapai tujuan-tujuan Nasional. Kebijakan luar negeri

yang ideal selalu memperttimbangkan kepentingan domestik dan menyesuaikan

perkembangan yang terjadi di lingkungan internasional sehingga tidak merugikan

kepentingan nasional. Dalam perpektif realis negara merupakan aktor rasional

dalam pengambilan sebuah kebijakan luar negeri, dimana kebijakan tersebut

sangat berkaitan erat dengan kepentingan nasional negara yang bersangkutan.2

Dalam tulisannya, Donald. E. Nuchterlain membagi kepentingan nasional atas

empat poin,3 yaitu defence interst, economic interest, world oerder interest dan

ideological interest.

Kebijakan luar negeri Turki pada tahun 2010 yang memutuskan hubungan

kerjasama militer dengan Israel merupakan salah satu faktor dari defence interest,

dimana negara yang diperankan oleh pemerintah pada konteks ini harus mampu

melindungi kedaulatan dan rakyatnya dari ancaman pihak lain. Pasca penyerangan

militer Israel terhadap kapal Mavi Marmara yang mengangkut relawan dan

bantuan untuk dibawa kepada pengungsi Palestina, pemerintah Turki menuntut

pihak Israel untuk segera bertanggung jawab atas penyerangan yang menewaskan

10 orang warga negara Turki.4 Pemerintah Turki menuntut agar Israel segera

meminta maaf dan minta mahkamah Internasional segera melakukan penyelidikan

terhadap insiden tersebut. Selain kepada Mahkamah Internasional, Turki pun

2 Viotti, paul. R. dan Mark V. Kauppi, 1999, International Relations Teory: Realism, Pluralism, Globalism and Beyond, Allyn and Bacon, Boston, hal 5.

(3)

mengirimkan surat resmi kepada PBB dan melaporkan Israel atas tindakan

kejahatan Internasional.

Perbedaan pandangan terhadap masalah Palestina antara Turki dan Israel

sudah mulai Nampak semenjak AKP berkuasa di Turki menjadi partai tunggal.

Terlebih ketika Erdogan terpilih menjadi perdana menteri. Dengan kebijakan

strategic depth nya, Turki menjadikan isu sekuritisasi Palestina untuk merangkul dan mencari simpati negara-negara Arab. Selama periode 2003 hingga 2013, Turki

dan Israel banyak terlibat dalam konflik. Kedua negara yang pernah dekat

tersebut, kini perlahan semakin terlihat perbedaan sudut pandangnya dalam

kebijakan luar negeri. Keberpihakan Turki terhadap Palestina dalam konflik yang

melibatkan Israel dan Palestina di wilayah Gaza, membuat hubungan kedua

negara yang bersahabat tersebut semakin merenggang. Ketegangan antara kedua

negara tersebut mencapai puncaknya ketika Israel menyerang kapal relawan Turki

dalam misi mengirimkan bantuan ke perbatasan Palestina. Pasca pencabutan

kerjasama militer, konflik kedua negara tersebut semakin memanas ketika Turki

menarik duta besarnya di Israel dan menurunkan status hubungan diplomatiknya

menjadi sekertaris dua.5 Keadaan tersebut membuat hubungan antara Turki dan

Israel semakain merenggang, walaupun Turki dan Israel masih sama-sama

berstatus sebagai anggota NATO.

Turki dan Israel merupakan dua negara yang sudah mempunyai hubungan

baik pasca berakhirnya perang dingin. Turki merupakan negara berpenduduk

Islam mayoritas pertama yang mengakui negara Israel. Hingga pada era 90an

(4)

Turki dan Israel menjalin kerjasama di berbagai bidang. Salah satu bentuk

kerjasama Turki dengan Israel adalah di bidang Militer dan perdagangan. Pada

bidang militer, Turki melakukan beberapa kesepakatan dengan Israel, ada

beberapa kerjasama yang telah disepakati antara pemerintah Turki dengan Israel,

diantaranya kerjasama keamanan dan kerahasiaan pada tahun 1994, kerjasama

pelatihan pilot pada tahun 1996 dan pelatihan militer bersama pada tahun 1996.6

Kerjasama ini terus berlanjut hingga Erdogan telah terpilih menjadi perdana

menteri Turki.

Seperti yang selama ini terjadi bahwa sebagian besar peralatan militer

Turki masih bergantung pada Industri militer milik Israel. Kerjasama di bidang

pelatihan militer (MTCA) merupakan awal mula hubungan Turki dan Israel

menjadi mitra strategis. Kesepakatan tersebut berisi tentang adanya pelatihan

militer secara bersama dan pelatihan terbang sebanyak empat kali dalam setahun

di wilayah udara Turki.7 Kesepakatan tersebut berkembang menjadi kesepakatan

industri pertahanan yang ditandai dengan penandatanganan kesepakatan

kerjasama industri pertahanan defence industry cooperation agreement (DICA). Bentuk kerjasama industri pertahanan tersebut diantaranya adalah kesepakatan

senilai $650 juta terkait upgrade lima puluh pesawat tempur F-4 Phantom.8 Pembelian Airborne Rescue Systems helikopter senilai $15 juta, Rudal udara

6 Amalia Putri H, Kebijakan Turki Memutuskan Kerjasama Militer Dengan Israel Tahun 2010. Jurnal Transnasional, Vol 3. No. 2. Februari 2012. Hal 2

7 Ibid.

(5)

Popey II senilai $100 juta pembelian Tank Merkava senilai $3 juta, dan Upgrade

pesawat tempur F-5 senilai $75 juta.9

Pada tahun 2010 pemerintah Turki memutuskan untuk mengakhiri

kerjasama tersebut pasca insiden Mavi Marmara. Pemutusan kerjasama tersebut

merupakan reaksi atas insiden yang menewaskan 10 orang warga negara Turki

dalam misi kemanusiaan menuju Gaza. Turki menganggap bahwa Israel telah

melakukan kejahatan Internasional dan mengganggu keamanan atas warga

negaranya.

Pemutusan kerjasama militer dengan Israel, tentu secara langsung akan

mempengaruhi kekuatan militer Turki. Karena selama ini, Israel merupakan

pemasok peralatan militer terbesar bagi Turki. Hal tersebut membuat Turki

terutama militernya berada pada posisi dilema. Pada satu sisi, serangan kapal mavi

marmara tersebut telah menelan korban bagi warga negara Turki dan merupakan

sebuah ancaman kedaulatan bagi Turki. Namun disisi lain, selama ini Israel

menjadi pemasok terbesar persenjataan Turki. Tekanan dari masyarakat Turki agar

pemerintah mengambil tindakan tegas terkait insiden tersebut, membuat Erdogan

menggambil keputusan atas tanggapan penolakan Israel untuk meminta maaf atas

insiden Mavi Marmara, yaitu membatalkan beberapa klausul kontrak kerjasama

perdagangan dan pembekuan kerjasama industri militer.

Dari latar belakang tersebut, maka penulis akan menganalisa perubahan

kebijakan Turki dalam memutus hubungan militer dengan Israel. Dengan

kebijakan tersebut, hal ini mengindikasikan adanya perubahan orientasi Turki dari

(6)

Barat ke Timur Tengah. Penulis akan menjelaskan proses kebijakan tersebut

dengan menggunakan sudut pandang Rational Model.

B. Rumusan Masalah

Mengingat dalam judul yang sudah di kemukakan di atas mencakup

berbagai aspek dengan kompleksitas masalah maka dalam hal ini , penulis perlu

membatasi yaitu hanya berkisar kepada bagaimana proses kebijakan Turki dalam

memutuskan kerjasama militernya dengan Israel. Dari pembatasan tersebut, maka penulis merumuskannya ke dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut :

Mengapa Turki Memutuskan Hubungan Kerjasama Militer Dengan

Israel Pasca Penyerangan Mavi Marmara?

C. Kerangka Konseptual

Dalam penelitian ini penulis menggunakan salah satu model dari teori milik

Graham T. Allison. Dalam tulisannya konseptual models and the Cuban missile crisis Allison menjelaskan bahwa terdapat 3 model dalam pembuatan kebijakan luar negeri yaitu Rational Model, Organization Model dan Bureaucratic Model.

Namun, penulis hanya menggunakan Rational Model sebagai pisau analisa.

Rational Model

Dalam model ini negara merupakan aktor tunggal dalam pembuatan

kebijakan, menentukan tujuan dan mengambil pilihan. Pembuatan kebijakan

melalui rasional model dibuat sebagai respon dari masalah-masalah penting yang

sedang dihadapi oleh negara. negara mengambil tindakan atas ancaman dan

(7)

terdapat dalam pengambilan keputusan melalui rasional model yakni tujuan,

pilihan dan konsekuensi. Dalam rational model, faktor ekonomi politik dan isu kebijakan luar negeri mempengaruhi proses terjadinya pengambilan kebijakan

suatu negara10 Terdapat 3 kriteria dalam suatu keputusan bisa dianggap sebagai

keputusan rasional,

a. Tindakan yang diambil oleh aktor merupakan tindakan yang

didasarkan pada tujuan bukan berdasarkan kebiasaan ataupun harapan.

Pembuat kebijakan harus dapat mengidentifikasi tujuan dan memiliki

keinginan untuk mencapai tujuan tersebut.

b. Pembuat kebijakan harus dapat menunjukan pilihan yang konsisten

sebagai bukti dari kemampuannya untuk memilih dari pilihan-pilihan

yang ada. Pemilihan tersebut didasarkan pada perhitungan keuntungan

yang lebih besar.

c. Kemampuan untuk memaksimalkan pilihan yang dipilih sehingga

dapat mengidentifikasi masalah dan keuntungan yang mungkin di

dapat.

Kebijakan yang dihasilkan melalui rational model ini direfleksikan sebagai sebuah national choice suatu negara. Analisis dengan menggunakan

rational model bertujuan untuk melihat hubungan antara tujuan yang hendak dicapai dengan pilihan kebijakan yang diambil. Bila pilihan kebijakan yang

diambil membuat negara tersebut dapat mencapai tujuan nasionalnya, maka

kebijakan tersebut dapat dinilai sebagai pilihan kebijakan yang rasional.

Suatu negara menggunakan mekanisme rational model ketika negara tersebut tidak bisa mengetahui dan memperkirakan situasi dan kondisi domestik di

(8)

Negara sebagai aktor tunggal

Mengidentifikasi masalah secara jelas

Menentukan goal yang hendak dicapai

Menentukan alternatif pilihan kebijakan

Menganalisis cost & benefit dari

masing-masing alternatif pilihan kebijakan

Menentukan pilihan kebijakan

yang memiliki cost paling sedikit

negara lain sehingga pilihan yang mungkin dilakukan yakni dengan mengambil

kebijakan yang paling rasional. Dengan mengetahui tujuan nasional suatu negara,

maka negara lain diharapkan dapat memperkirakan kebijakan yang mungkin

diambil oleh negara lain. Selain itu, pilihan kebijakan juga didasarkan pada

(9)

Bagan 1: The Rational Model of Decision Making

Sumber: Karen A. Mingst. 2003. Essentials of International Relations. Second Edition. New York: W.W. Norton & Company, Inc. Hlm 120.

Untuk lebih mempermudah dalam menganilasa kasus, penulis

menggunakan pisau analisa Rational Model, namun penulis menggunakan model milik Charles William Kegley dan Shannon Lindsey Blanton untuk dapat

menjelaskan proses dalam pengambilan kebijakan. konsep ini merupakan

penerjemahan yang lebih sederhana dari Rational Model milik Graham Alisson

yang lebih mudah dipahami dan lebih terstruktur. model yang ditawarkan Kegley

ini merupakan sebuah strategi berupa tahapan dalam pembuatan suatu kebijakan.

Dengan konsep rangkaian tahapan ini, seorang yang akan mengambil keputusan

dapat memasukan indikator dan variabel sebagai bahan petimbangan untuk

mencari pilihan terbaik dalm sebuah pengambilan kebijakan. Kegley

mendefinisikan Rational Model sebagai prosedur pengambilan keputusan yang dipandu oleh pendefinisan yang hati-hati dari sebuah situasi, menimbang tujuan,

mempertimbangkan semua alternatif, dan pemilihan opsi yang paling

menguntungkan dan memungkinkan untuk mencapai tujuan tertinggi.11

Meskipun pengambilan kebijakan berdasarkan unsur rasional, Kegley

tetap memberikan penjelasan dalam tahapan pengambilan kebijakan tersebut.

Dalam pengambilan keputusan, aktor harus memenuhi langkah-langkah

intelektual, diantaranya Problem recognition and definition, Goal selection, Identification of alternatives, Choice.

(10)

Bagan 2. Kerangka Pemikiran

D. Metode Penelitian

Penulis menggunakan jenis penelitian eksplanatif analisis. Dimana

penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan memberikan gambaran rangkaiam

proses mengenai perubahan orientasi kebijakan luar negeri Turki pada era

Erdogan. melalui pencarian hubungan di antara indikator-indikator yang ada,

dapat diketahui penjelasan mengenai sebab-akibat dari permasalahan yang

(11)

Penelitian ini menggunakan jenis data sekunder maka teknik pengumpulan

data dilakukan melalui kegiatan studi kepustakaan baik dari buku, jurnal, surat

kabar, dokumen resmi maupun internet. (Sumardi Suryabrata,1997). Teknik

pengumpulan data dilakukan secara sistematis diawali dengan pengumpulan data

sebanyak mungkin. Setelah dikumpulkan, data diseleksi dan dikelompokkan ke

dalam beberapa bab pembahasan yang disesuaikan dengan sistematika penulisan.

E. Pembahasan

Pada era sebelum Erdogan, Turki merupakan negara sekuler yang orientesi

kebijakannya cenderung mengarah pada negara Barat. Hal tersebut merupakan

doktrin Kemalisme yang ingin melakukan modernisasi pada Turki. Modernisasi

yang dimaksud adalah Taking place in the civilization of Europe.12Western civilization sering kali merujuk pada Eropa bagian Barat, terutama Inggris dan Prancis. Turki menjadikan negara Barat sebagai referensi bahkan aliansi pada saat

itu. Dua orientasi yang paling utama dalam setiap kebijakan Luar negeri Turki.

Yang pertama adalah menjaga eksistensi negara sesuai kedaulatnnya dan

membangun kembali fondasi-fondasi berbangsa dan bernegara, yang kedua adalah

merealisasikan formasi kebijakan luar negeri western oriented dengan mengalihkan konsentrasi ke Barat.13

Hingga pasca perang dunia 2 berakhir, Turki masih menjadi bagian Barat

yang terus menjalin kerjasama. Hingga pada tahun 1952 Turki akhirnya

bergabung dengan pakta pertahanan Atlantik Utara, atau biasa disebut NATO.

12 Heri Cahyadi, “agresivitasi Turki middle eastern regional secusity complex periode AKP 2002-2011: tantangan Turki terhadap konsep insulator, (Tesis magister, jurusan HUbungan Internasional universitas Indonesia,Jakarta) hal. 30.

(12)

Turki mempunyai peran untuk menjaga persebaran komunisme di kawasn Eropa

Timur pada saat itu. Berbagai bantuan militer dan ekonomi diberikan kepada

Turki oleh Amerika dengan tujuan agar Turki menjadi negara yang kuat dalam

militer dan stabil dalam ekonomi. Kedekatan Turki dengan Barat terjadi hingga

awal tahun 2000. Termasuk kedekatan Turki dengan sekutu Amerika di Timur

Tengah lainnya yaitu Israel. Turki melakukan kerjasama Militer dan industri

keamanan dalam skala besar pada periode 1990 sampai tahun 2000 dengan Israel.

Hingga pada tahun 2002, terjadi perubahan peta politik dalam negeri

Turki. Dimana pada saat itu pemilu Turki dimenangkan oleh partai AKP yang

berhaluan Islam dibawah komando Recep Tayyip Erdogan. Selepas menangnya

partai AKP Turki yang berhaluan Islam moderat, dan terpilihnya Erdogan sebagai

perdana menteri, secara perlahan kebijakan luar negeri Turki berubah orientasi.

Ada peran yang tak biasa dimainkan oleh Turki pada pemerintahan Erdogan.

Turki secara perlahan menarik kedekatannya dengan Barat. Terbukti dalam

beberapa kebijakan, Turki lebih merapat kepada negara-negara Timur Tengah,

terutama negara Islam. beberapa diantaranya adalah, kebijakann Turki menolak

manjadikan wilayahnya sebagai pangkalan militer NATO untuk melakukan invasi

ke Libya. Turki pun lagi lagi menolak permintaan Amerika untuk menjadikan

wilayahnya sebagai pangalan militer dalam agenda invasi ke Irak.

Pandangan politik luar negeri Turki di Timur Tengah berubah saat dibawah

kepemimpinan Erdogan. Turki melalui Ahmed Davutoglo selaku menteri luar

negeri mencetuskan strategi yang dikenal sebagai Al-Amq Al-Istratijii (strategi politik intensif).14 Dimana politik ini menekankan kepada politik yang berpijak

(13)

dari kondisi geostrategis Turki dan sejarahnya yang panjang serta kebudayaan

yang mendorong Turki menempati posisi strategis dalam panggung politik

internasional, terutama di Timur Tengah. Dengan demikian, itulah strategi politik

Turki yang baru, yaitu menjamin keselamatan dan keamanan nasional Turki tanpa

melalui pembatasan dan pengisolasian diri, melainkan keterbukaan dan

menerapkan politik soft power kepada negara tetangga.

Perubahan orientasi kebijakan Luar Negeri Turki pada Barat mulai terlihat

ketika beberapa kali Turki terlibat konflik dengan salah satu sekutu Barat yang

berada di Timur Tengah, yaitu Israel. Negara Israel yang notabenenya adalah

mitra Turki di Timur Tengah mulai terganggu kepentingannya ketika Turki ikut

campur dalam konflik Palestina-Israel.

Turki sangat aktif dalam membantu untuk memediasi negara-negara Timur

Tengah yang sedang berkonflik.15 Turki turut andil dalam mediasi yang dilakukan

antara Suriah dan Israel, konflik program nulir antara Iran dan Israel. Dan yang

paling terbaru adalah turki membantu penyelesaian konflik antara Palestina dan

Israel.

Ada sebuah hal yang menarik dibalik keputusan Turki yang memutuskan

kerjasama militernya dengan Israel. Turki yang selama ini merupakan bagian

penting dari Israel di Timur Tengah, kini Turki cenderung lebih bersebrangan

dengan Israel. Merupakan sebuah hal yang wajar jika Turki memutuskan beberapa

kerjasamanya dengan Israel pasca insiden Mavi Marmara yang menewaskan 10

orang warga negara Turki. Namun yang menjadi pertanyaan besar saat ini adalah

mengapa Turki harus memutuskan kerjasama industri militernya dengan Israel,

(14)

sementara disisi lain Israel merupakan negara pemasok peralatan militer Turki

terbesar hingga mengantarkan militer Turki terkuat no 7 di dunia menurut Global

Fire Power.16 Keberanian pemerintah Turki pada pemerintahan Erdogan dalam

memutuskan kerjasama militer dengan Israel merupakan sebuah keputusan yang

akan berdampak pada hubungan bilteralnya dengan Israel. Disisi lain jika suplai

peralatan militer Turki terhenti, hal tersebut akan berdampak pada kekuatan

militer Turki itu sendiri. Seperti yang selama ini terjadi, kekuatan militer Turki

kerap menjadi ancaman terhadap pemerintahan. Jika suplai peralatan militer

terhenti, secara otomatis hal tersebut akan mengganggu kepentingan militer turki

secara nasional. Dampaknya adalah pemerintahan Erdogan yang mengambil

keputusan pemutusan hubungan industri militer tersebut akan penggulingannya

pemerintah Turki sebelumnya.

(15)

AIR POWER

Helicopters 418

Total Strength 115

NAVAL POWER

Frigates 16

Corvettes 8

Subarines 14

Coastal Craft 50

Mine Warfare 19

Sumber: Global Fire Power17

Selama ini dalam sepanjang pemerintahan Republik Turki, sering terjadi konflik

kepentingan antara pihak militer dengan pemerintahan sipil. Konflik tersebt

mengakibatkan banyaknya intervensi militer dalam keputusan politik yang

diambil oleh pihak pemerintahan sipil.18 Dari sepuluh presiden semenjak republik

Turki berdiri pada tahun 1923, enam diantaranya menduduki jabatan tinggi

militer. Dan sejak tahun 1960 Turki sudah mengalami sejumlah peristiwa kudeta

yang sukses menurunkan pemerintahan terpilih akibat perbedaan kebijakan

dengan militer. Melihat dari pengalaman kudeta pemerintahan tersebut, kebijakan

yang diambil oleh pemerintahan Erdogan merupakan kebijakan yang sangat besar

konsekuensinya jika pemerintahan Erdogan tidak dapat merepresentasikan

kepentingan militer Turki dalam kebijakan luar negerinya. Sementara dipihak lain,

warga Turki menuntut agar pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap

tindakan militer Israel yang telah menewaskan 10 orang warga Turki dalam

insiden Mavi Marmara.19

17 Ibid

18 Roger P. Nye,”Civil Military Confrontation in Turkey: The 1973 Presidential Election”,

International Jurnal of Middle East Studies, Vol 8 No. 2, April 1997, hal. 220

(16)

Hubungan Turki – Israel Satu Dekade Terakhir

Kebijakan turki semenjak dipimpin olah partai tunggal AKP, memang

secara perlahan banyak terjadi perubahan, baik itu kebijakan dalam maupun luar

negerinya. Menurut Huge Pop dalam tulisannya yang berjudul pax ottoman,

kebijakan luar negeri Turki saat ini lebih terlihat menjauh dari Barat dan negara

Islam wahabi,20 disisi lain Turki juga ingin membuat kekuatan baru yang dibangun

dari ekonominya yang cukup kuat, salah satunya dengan membuka komunikasi

dengan negara besar lainnya, salah satunya Rusia dan China.21 Jika dilihat dari

kebijakan luar negerinya, Turki pada era pemerintahan Erdogan terlihat ingin

mengembalikan semangat Ottoman yang mempunyai pengaruh diantara

negara-negara kawasan timur tengah. Seperti apa yang dikatakan Thomas Friedman,

permohonan Turki untuk menjadi anggota Uni Eropa adalah salah satu bentuk

kamuflase untuk meningkatkan nilai tawar Turki diantara negara Timur Tengah,22

agar Turki menjadi negara yang mempunyai pengaruh dikawasan itu, namun disisi

lain, Amerika dan Eropa masih menjadi tumpuan Turki dalam membuka

kerjasama luar negerinya.

Turki pun mengambil kebijakan yang cukup dalam terkait permasalahan

yang ada di Palestina. Turki memberikan dukungan secara langsung agar Palestina

menjadi negara yang merdeka. kebijakan tersebut secara otomatis akan

mengganggu hubungan Turki dengan Israel. dengan kebijakan sekuritisasinya

20 Hugh Pope. 2010. Pax Ottomana The Mixed Succes of Turkeys New Foreign Policy. Journal vol 89 No. 6. Council on foreign relation. Hal 161

(17)

terhadap Palestina, kebijakan tersebut menghantarkan hubungan antara Turki dan

Israel pada titik paling rendah selama dua puluh tahun terakhir. Kebijakan

sekuritisasi terhadap Palestina merupakan salah satu langkah strategis yang

merupakan turunan dari doktrin kebijakan luar negeri Turki yang bernama

strategic depth. Doktrin tersebut diperkenalkan oleh menteri luar negeri Turki, Ahmed Dovutoglu. Dimana doktrin ini menekankan pada 4 isu sentral,

diantaranya adalah stabilitas kawasan yang berdasarkan kesepahaman isu

kawasan, proaktif terlibat dalam suasana politik yang dialogis, menumbuhkan

interdepndensi ekonomi regional dan mempromosikan perdamian multikultural,

multisekterian dan harmonisasi.23 Sehingga beberapa perang yang terjadi di

wilyah Timur Tengah, salah satunya perang Lebanon (2006) dan perang Gaza

(2008) membuat Turki menjadikan alasan untuk sedikit menjauh dari Israel.

sekuritisasi Turki terhadap Palestina semakin Nampak ketika Turki mebantu

supervisi dalam pembukaan jalur Gaza sebagai kompensasi normalisasi hubungan

Turki dan Israel.24 banyak pengamat mengatakan bahwa Turki sedang mencari

simpati Timur Tengah dan ingin menjadi kekuatan berpengaruh di kawasan

dengan mengubah pola enmity dan amity dalam hal ini isu Palestina. Terlepas dari itu semua, Turki sedang bergeliat menjadi pembela keras Palestina seperti apa

yang dikatakan Erdogan.25 Setelah serangan yang dilakukan Israel terhadap Mavi

Marmara, Erdogan kembali menegaskan bahwa Israel adalah ancaman keamanan

23 SEESOX (South East Europeans Studies at Oxford), “Turkey’s Foreign Policy in a Changing World: Old Alignments and New Neighbourhoods”, International Conference, Oxford, 30 April-2 Mei 2010) hal 9-10

24 “Palestinians welcome Tukey Involvement in Gaza, Fayyad says”,

http://ww1.hareetz.com/news/diplomacy-defence/palestinians-welcome -turkey-involvement-in-gazza-fayyad-says-1.295714, 12 Jini 2010, diakses pada 12 Juni 2014

(18)

bagi Timur Tengah.26 Erdogan pun mengatakan bahwa untuk melawan Israel di

ranah legal, Turki membuka arsip lama terkait legitimasi Ottoman terhadap tanah

Palestina . Turki juga membuka komunikasi dengan pemerintah Hamas di Gaza

dan mengakuinya memiliki otoritas sejak 2006. Secara resmi, Turki mengundang

pimpinan Hamas yang berbasis di Damaskus, khaled Mishal, untuk datang ke

Ankara pada 2006.27

Kebijakan Keamanan dan Pertahanan

Perubahan aktor politik yang terjadi dalam sebuah negara, secara tidak

langsung akan berdampak pada kebijakan negara tersebut, baik kebijakan dalam

dan luar negerinya. Karena aktor tersebut secara politik bertindak atas nama

negara dalam merumuskan sebuah kebijakan.28 Salah satu kebijakan luar negeri

Turki yang jelas berbeda dengan pemerintah sebelumnya adalah terkait kerjasama

keamanan dengan Israel. Dimana Turki pada era Erdogan lebih mempunyai power

untuk melakukan perlawanan terhadap kebijakan Israel yang memang

bersebrangan dengan kepentingan Turki. Salah satu contohnya adalah perseteruan

yang terjadi antara Turki dan Israel yang dikarenkan masalah keamanan di

Palestina.

Dalam menjalankan politik luar negerinya Turki pada era pemerintahan

Erdogan lebih mengedepankan politik Zero Problem with Neightbors dimana Turki lebih menggunakan pendekatan dipomatis jika terjadi permasalahan pada

26 “Turkish PM: Israel is the main therat to mideast pace”,

http://www.haaretz.com/news/turkish-pm-israel-is-the-main-threat-to-mideast-peace-1.901 , 7 April 2010, diakses pada 12 Juni 2014

27 Transatlantic Academy, Getting to Zero: Turkey, Its Neighbours and the West, Policy Report, (2010), hal. 14

(19)

tataran internasional. Karena Turki lebih mengedepankan nilai-nilai kebersamaan

dalam menjalankan system internasional. Namun dalam kebijakan pemutusan

hubungan militer ini, Turki mengesampingkan aspek kebersamaan dengan Israel.

Dimana pada kondisi itu, Turki menilai bahwa Israel sudah mengganggu

kepentingan nasional Turki atas pembunuhan 10 warga negara Turki dalam misi

kemanusiaan menuju perbatasan Gaza.

Kebijakan tersebut sejalan seperti apa yang dikatan oleh menteri luar

negeri Turki bahwa Turki akan terus melanjutkan kerjasama dengan Barat dan

sekutunya selama itu tidak mengganggu kepentingan negara kami dan tidak

mengganggu hubungan kami dengan negara tetangga kami.29 Oleh karena itu,

Turki pada era pemerintahan Erdogan berani menindak tegas atas

kebijakan-kebijakan Israel yang bersinggungan dengan pelanggaran HAM. Terlihat dalam

beberapa Tahun terakhir, Turki selalu mengambil sikap yang bersebrangan dengan

Israel yang berujung pada konflik antar kedua negara tersebut. Beberapa kali

hubungan Turki dan Israel sempat memanas atas perbedaan pandangan yang

terjadi terhadap konflik di Palestina.

Tabel 1. Kronologi Hubungan Turki – Israel pada era Erdogan.

Waktu Kronologi

28 September 2001

Serangan militer Israel terhadap pengungsi Palestina di wilayah Gaza.

22 Maret 2004 Erdogan Mengecama Israel atas pembunuhan yang dilakukan terhadap pemimpin politik Palestina.

29 Dovutoglu, Ahmed. 2012. Principles of Turkish Foreign Policy and Regional PoliticalStructuring.

(20)

April 2004 Erdogan menolak kunjungan Perdana Menteri Ariel Sharon ke Turki karena pembantaian yang dilakukan Israel terhadap Palestina.

2005 Erdogan mengajukan diri sebagai mediator perdamaian antara Palestina dan Israel, namun ditolak oleh perdana menteri Israel saat itu, Ariel Sharon.

2008 Turki meminta militer Israel untuk tidak ikut dalam latihan militer yang diberi judul Elang Anatoli. Latihan ini diikuti oleh anggota NATO.

30 Januari 2009 Erdogan mengundurkan diri dari konferensi ekonomi di Davos, atas pelecehan yang dilakukan oleh perdana menteri Israel terhadap Palestina.

29 Mei 2010 Israel menyerang kapal bantuan Mavi Marmara, dan menewaskan 10 orang warga negara Turki.

18 Juni 2010 Turki menghentikan kerjasama militer dengan Israel. 2 September

yang memuat warga dari 23 negara merupakan sebuah pelanggaran HAM. “Apa

yang dilakukan Israel merupakan tindakan biadab tidak bisa diterima. Itulah

negara teroris yang fanatik dan negara anarkis”. Itulah perkataan Erdogan yang

diungkapkan pada pidato resminya menanggapi insiden Mavi Marmara.30

Pada tanggal 31 Mei 2010, angkatan laut Israel menyerang kapal konvoi

Mavi Marmara untuk menembus blokade Israel atas Gaza. Serangan tersebut

menewaskan 19 orang, 10 diantaranya merupakan warga negara Turki dan

melukai puluhan orang lainnya. Serta menawan lebih dari 700 orang yang berada

(21)

diatas kapal tersebut. Israel juga membongkar seluruh muatan kapal di pelabuhan

Asdot Israel dan mengeluarkan semua barang barang yang dibawanya.31

Sehari setelah serangan itu, Erdogan melakukan pidato untuk

menyampaikan pesannya dihadapan anggota parlemen Turki. Erdogan menyeru

untuk dijatuhkannya sanksi terhadap Israel atas pembunuhan 19 orang yang

berada di dalam kapal kemanusiaan Mavi Marmara. Erdogan menolak tuduhan

Israel mengenai alsan penyerangan karena adanya kelompok bersenjata diats

kapal Mavi Marmara tersebut. Erdogan mengatakan bahwa negara-negara yang

mengirimkan bantuannya telah memerika sebelum keberangkatan dan memastikan

bahwa tidak adanya barang bersenjata. Tidak ada bukti apapun yang mendukung

pernyataan dari Israel tersebut.

Setelah peristiwa penyerangan tersebut, Erdogan meminta Israel untuk

segera bertanggung jawab. Erdogan menuntut Israel untuk meminta maaf atas

kejadian tersebut dan memberikan ganti rugi kepada para korban yang tewas

dalam penyerangan Mavi Marmara. Perselisihan kedua negara tersebut semakin

meningkat ketika keluarnya pengumuman resmi dari PBB yang menyatakan

bahwa PBB mengecam atas tindakan Israel yang berlebihan, namun PBB

membenarkan Embargo yang dilakukan Israel terhadap Gaza.32 Pemerintah Turki

menolak laporan dari PBB tersebut dan tetap meminta Israel untuk meminta maaf

dan mengganti rugi atas korban yang tewas dalam insiden tersebut. Hingga batas

waktu yang diberikan, pemerintah Israel tak kunjung menyampaikan permintaan

31 Bilal, “mengenang 2 tahun tragedy Mavi Marmara” diakses dari

http://www.arrahmah.com/read/2012/06/01/20626-mengenang-dua-tahun-tragedi-mavi-marmara-kispa-tuntut-adili-pelaku-penyerangan.html diakses pada tanggal 21 April 2014 32 Anonim, “Turki Tangguhkan Hubungan Pertahanan Dengan Israel” diakses dari

(22)

maaf dang ganti rugi terhadap keluarga korban. Hingga akhirnya sampai pada

peristiwa puncaknya dimana pemerintah Turki menangguhkan beberapa

kerjasama yang dilakukan dengan Israel. Diantaranya kerjasama pelatihan militer

dan Industri militer.33 Dalam berita yang dilaporkan oleh BBC news, Turki

melalui perdana menterinya mengatakan bahwa Turki telah memutus kerjasama

pertahanan dengan Israel dan akan mengambil langkah yang lebih tegas lagi

dengan membawa persoalan tersebut pada mahkamah internasional.34

Penghentian Suplai Persenjataan Militer

Turki, ada beberapa kerjasama yang memang diputus secara sepihak oleh

Turki pasca penolakan Israel untuk bertanggung jawab atas insiden Mavi

Marmara.

a) Penghentian Suplai Persenjataan Militer

Pasca kesepakatan kerjasama pelatihan militer (MTCA) pada tahun 1996,

beberapa perusahaan industry militer Israel banyak memenangkan tender

penjualan senjata kepada Turki. Perusahaan Israel telah menjadi distributor tetap

dalam persenjataan militer yang dimiliki oleh Turki sejak tahun 1996 hingga

tahun 2010. Sehingga kerjasama tersebut merupakan salah satu pemasukan yang

cukup besar untuk Israel di bidang ekonomi. Beberapa ahli pertahanan

memperkirakan bahwa pembelian peralatan militer Israel oleh Turki telah mengisi

kurang lebih sekita 69% volume perdagangan senilai $2,6 miliar.35

33 Ibid. 34 Ibid.

35 Turkish defence sector's exports reach 780 million dollars in the first half-Hürriyet

(23)

Turki dan Israel telah sepakat untuk melakukan kerjasama senilai $650

juta terkait upgrade lima puluh pesawat tempur F-4 Phantom.36 Pembelian

Airborne Rescue Systems helikopter senilai $15 juta, Rudal udara Popey II senilai $100 juta pembelian Tank Merkava senilai $3 juta, dan Upgrade pesawat tempur F-5 senilai $75 juta.37 Pada periode ini merupakan hubungan paling erat antara

pemerintah Turki dan Israel. Israel menginginkan kerjasama tersebut berkembang

tidak hanya sekedar kerjasama militer, namun juga berkembang pada kerjasama di

bidang yag lainnya, termasuk dalam hubungan diplomatik. Kerjasama industri

militer tersebut memperkuat hubungan antar kedua negara di kawasan Timur

Tengah.

Tabel 2. Kerjasama Militer antara Turki dan Israel38

Waktu Kerjasama Nilai

(24)

Mei 1997 Produksi Rudal Udara

Pembekuan terhadap kontrak jual beli senjata militer dilakukan oleh Turki

setelah pemerintah Israel menolak untuk bertanggung jawab atas insiden mavi

marmara yang menewaskan 20 orang, 10 orang diantaranya adalah warga negara

Turki. Perkonomian Israel mengalami penurunan pasca putusnya kontrak

kerjasama Turki dengan Israel di bidang industri militer. Menurut sejumlah pakar,

kementerian keungan Israel kehilangan hampir setengah miliar dollar AS atas

ditutupnya kerjasama jual beli persenjataan dengan Turki.39 Turki dan Israel

adalah mitra strategis di kawasan Timur Tengah. Semenjak kecaman Erdogan

pada Israel atas penyerangan dan blokade di wilayah Gaza, hubungan Turki dan

Israel semakin mencapai titik terendah. Hingga munculah ancaman yang

dikeluarkan oleh menteri luar negeri Turki untuk memutuskan hubungan

diplomatik dengan Israel.40 Serangan tentara Israel yang menembus blokade di

39 Suara media, Penutupan Pasar Turki Guncang Perekonomian Israel diakses dari http://www.suaramedia.com/timur-tengah/2010/06/29/penutupan-pasar-turki-guncang-perekonomian-israel pada tanggal 21 April 2014. Pukul 18. 30

40 Anonim, Turki Usir Semua Diplomat Senior Israel, diunduh dari

(25)

jalur Gaza merupakan peristiwa penting yang menjadi awal berakhirnya kemitraan

strategis antara Turki dan Israel.

Kebijakan Turki memutuskan kerjasama militer dengan Israel

mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit. Pada dasarnya, kedua negara

sema-sama mengalami kerugian akibat penerapan kebijakan tersebut, namun pihak yang

paling dirugikan kali ini adalah Israel. Dari segi militer, Israel kehilangan

konsumen peralatan militer, kehilangan sekutu intelejen, kehilangan tempat

latihan militer. Dari segi ekonomi, Israel kehilangan hampir setengah miliar dollar

AS atas ditutupnya kerjasama jual beli persenjataan dengan Turki.

b) Pembatalan Pelatihan Militer

Pada tahun 1996, Turki dan Israel melakukan penandatanganan kerjasama

militer. Dimana kesepakatan tersebut bertujuan untuk latihan koordinasi dalam

situasi darurat, terutama latihan gabungan militer udara. Dimana latihan gabungan

tersebut bertempat di wilayah territorial Turki. Pada tangal 11 Agustus 2009,

militer Israel mengumumkan akan melakukan latihan militer gabungan yang

berkode Reliant Mermaid x bersama Turki dan AS di kawasan Mediterania.41 Latihan tersebut bertujuan untuk persiapan koordinasi saat operasi pencarian dan

penyelamatan dalam situasi darurat.

Setelah serangan Israel terhadap kapal Mavi Marmara, Deputi Perdana

Turki Bulent Arinc mentakan bahwa pemerintah Turki telah memutuskan untuk

membatalkan latihan militer gabungan dengan Israel dan AS.42 Keputusan

41 Antara, Turki Batalkan Latihan Militer Dengan Israel diunduh dari

(26)

tersesebut merupakan sebuah protes atas penyerangan yang terjadi terhadap kapal

kemanusiaan Mavi Marmara.

Kedua negara tersebut telah melakukan latihan militer gabungan sejak

penandatanganan awal tahun 1996. Turki dan Israel merupakan negara yang

mepunyai pengaruh dalm segi kekuatan militer di kawasan Timur Tengah. Oleh

karena itu, kerjasama kedua negara tersebut bertahan lama hingga terjadinya

insiden Mavi Marmara.

c) Penghentian Informasi Intelijen

Turki dan Israel kerap mengadakan pertukaran informasi intelejen.

Pertukaran informasi tersebut merupakan pertukaran informasi penting tentang

militer . jika salah satu pihak membutuhkan informasi penting, pihak lain maka

pihak yang bersangkutan tersebut akan bertukar informasi dengan pihak yang

membutuhkan informasi tersebut.sejak terjadinya penyerangan Mavi Marmara,

Turki meninjau kembali kerjasama pertukaran informasi intelejen tersebut. Pasca

penghentian kerjasama peralatam militer, pemberhentian kerjasama pertukaran

informasi intelejen pun diterapkan.43 Pihak Turki tidak terima atas penyerangan

tersebut dan menganggap perbuatan tersebut merupakan sebuah kejahatan

internasional.

d) Larangan Penerbangan Terhadap Militer Israel

Perseteruan antara Turki dan Israel semakin berlanjut. Turki telah dua kali

menolak pesawat militer Israel untuk melintasi wilyah udara Turki. Salah satu

(27)

diantaranya adalah penolakan pesawat militer Israel saat membawa 100 perwira

untuk milntasi wilyah Turki. Pesawat tersebut sedang dalam perjalanan menuju

Polandi untuk mengunjungi camp-camp yahudi yang ada di Polandia.44

Penerbangan tersebut tidak hanya ke Polandia, tapi juga menuju Jerman.

Penurunan hubungan Israel-Turki kini mencapai puncaknya menyusul

sikap Turki yang mencegah pesawat militer Israel menuju Polandia menggunakan

wilayah Turki. Larangan tersebut tidak berlaku untuk seluruh penerbangan, untuk

penerbangan sipil, Turki tetap mengizinkan penerbangannya. Penerbangan sipil

dari Israel dengan Tujuan Turki atau hanya melintasi diperbolehkan lewat.

Kebijakan sipil sama sekali tidak dilarang dalam kebijakan larangan penerbangan

yang diterapkan pemerintah Turki pasca tragedi Mavi Marmara.

Kebijakan Pemutusan Kerjasama Militer Turki Dengan Israel

Kebijakan luar negeri Turki pada tahun 2010 yang memutuskan hubungan

kerjasama militer dengan Israel merupakan salah satu faktor dari defence interest,

dimana negara yang diperankan oleh pemerintah pada konteks ini harus mampu

melindungi kedaulatan dan rakyatnya dari ancaman pihak lain. Pasca penyerangan

militer Israel terhadap kapal Mavi Marmara yang mengangkut relawan dan

bantuan untuk dibawa kepada pengungsi Palestina, pemerintah Turki menuntut

pihak Israel untuk segera bertanggung jawab atas penyerangan yang menewaskan

10 orang warga negara Turki. Pemerintah Turki menuntut agar Israel segera

meminta maaf dan minta mahkamah Internasional segera melakukan penyelidikan

44 Egidius, Turki Larang Pesawat Militer Israel Melintas Wilayah Mereka, diakses dari

(28)

terhadap insiden tersebut. Selain kepada Mahkamah Internasional, Turki pun

mengirimkan surat resmi kepada PBB dan melaporkan Israel atas tindakan

kejahatan Internasional.

Erdogan mengatakan, salah satu latar belakang pemutusan kerjasama

tersebut berkaitan dengan aspek keamanan.45 Merupakan sebuah hal yang wajar

jika Turki bereakasi keras atas insiden Mavi Marmara tersebut, selain merupakan

sebuah bentuk pelanggaran internasioanal, insiden tersebut juga merupakan

bagian dari ancaman yang membahayakan warga negara Turki. Kebijakan luar

negeri Turki pada tahun 2010 yang memutuskan hubungan kerjasama militer

dengan Israel merupakan salah satu faktor dari defence interest, dimana negara yang diperankan oleh pemerintah pada konteks ini harus mampu melindungi

kedaulatan dan rakyatnya dari ancaman pihak lain. Pasca penyerangan militer

Israel terhadap kapal Mavi Marmara yang mengangkut relawan dan bantuan untuk

dibawa kepada pengungsi Palestina, pemerintah Turki menuntut pihak Israel

untuk segera bertanggung jawab atas penyerangan yang menewaskan 10 orang

warga negara Turki. Pemerintah Turki menuntut agar Israel segera meminta maaf

dan minta mahkamah Internasional segera melakukan penyelidikan terhadap

insiden tersebut. Selain kepada Mahkamah Internasional, Turki pun mengirimkan

surat resmi kepada PBB dan melaporkan Israel atas tindakan kejahatan

Internasional.

45 Anonim, “Turki Putuskan Kerjasama Pertahanan Dengan Israel” diakses dari

(29)

Erdogan mengatakan, salah satu latar belakang pemutusan kerjasama

tersebut berkaitan dengan aspek keamanan.46 Merupakan sebuah hal yang wajar

jika Turki bereakasi keras atas insiden Mavi Marmara tersebut, selain merupakan

sebuah bentuk pelanggaran internasioanal, insiden tersebut juga merupakan

bagian dari ancaman yang membahayakan warga negara Turki. Sebagaimana yang

dikatakan Buzan dalam tulisannya, isu-isu yang mengancam kelangsungan hidup

suatu unit kolektif atau prinsip-prinsip yang dimiliki oleh unit-unit kolektif

tertentu akan dianggap sebagai ancaman yang ekstensial.47 Menurutnya, suatu

negara akan merasakan tidak aman (Insecurity) karena adanya ancaman (Threat) dan Kerawanan (Vulnerability). Kerawanan berkaitan dengan kelemahan negara dan kelemahan kekuatan baik di bidang sosial, politik ekonomi dan militer.

Problem Recognition and Definition

Turki mendefinisikan penyerangan kepada kapal Mavi marmara sebagai

sebuah permasalahan keamanan yang harus segera diselisaikan. Karena

penyerangan tersebut menyangkut keamanan warga negaranya. Pasca insiden

Mavi Marmara, Turki mengancam Israel untuk memutus kerjasama militer jika

pemerintah Israel tidak meminta maaf secara resmi kepada Turki atas insiden

Mavi Marmara. Namun setelah ditunggu pada batas waktu yang ditentukan, pihak

46 Anonim, “Turki Putuskan Kerjasama Pertahanan Dengan Israel” diakses dari

http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2011/09/110906_turkeyisrael.shtml , dikases pada tanggal 19 Februari 2014. Pukul 13.09

(30)

Israel tidak kunjung mengeluarkan statement permintaan maaf atas insiden Mavi

Marmara.

Penyerangan Mavi Marmara merupakan alasan Turki memutuskan

hubungan kerjasama militernya dengan Israel. Kebijakan tersebut dapat

memberikan dampak yang cukup signifikan bagi kedua negara. Bagi Turki,

kebijakan pemutusan tersebut dapat menaikkan citra dan harga diri bangsa Turki

sebagai sebuah negara yang berdaulat yang berusaha menjaga keamanan dan

ketahanan nasionalnya. Turki berani mengambil keputusan untuk mengeluarkan

kebijakan pemutusan kerjasama militer dengan Israel demi menjaga ketahanan

dan keamanan nasionalnya. Namun disisi lain Turki harus kehilangan pasokan

peralatan senjata militer yang selama ini berasal dari industri militer Israel.

Pemerintah Turki pun harus siap mencari sumber lain untuk dapat memenuhi

kebutuhan peralatan militer Turki. Jika hal tersebut tidak dapat dipenuhi oleh

pemerintah, maka pemerintah Turki yang dikomandoi oleh Erdogan akan

mendapatkan ancaman dari militer karena tidak dapat merepresentasikan

kepentingannya.

Goal Selection

Selain faktor keamanan, salah satu faktor pendukung yang menyebabkan

Turki berani memutuskan kerjasama militernya adalah untuk menaikan citra

negara Turki di kawasan Timur Tengah. Sejalan dengan prinsip luar negeri Turki

yang pernah disampaikan oleh Ahmed Dovutoglu dalam tulisannya selaku menteri

(31)

“As its region experiences democratization Turkey will continue its quest to maintain a balance between promoting democratic values and defending national interest”48

Dari prinsip tersebut, dapat disimpulkan bahwa Turki akan tetap

memperjuangankan nilai-nilai demokrasi, namun disisi lain Turki tidak akan

mengesampingkan agenda kepentingan nasionalnya. Turki dengan startegi Zero Problem with Neighbors nya akan tetap menjalin kerjasama dengan negara manapun, selama itu tidak mengganggu kepentingan nasionalnya.

(32)

Indetification of Alternatives

Turki mempunyai tujuan dan kepentingan untuk mengamankan

kepentingan nasionalnya dari aspek kepentingan pertahanan. Turki yang sudah

berkomitmen dalam menanamkan nilai-nilai kebebasan dalam politik

internasionalnya merasa kecewa atas peristiwa Mavi Marmara yang menewaskan

10 warganya. Dalam konteks pemutusan kerjasama militer ini, ada beberapa

pilihan yang memungkinkan untuk diambil oleh pemerintah Turki diantaranya:

a) Membuka kerjasama dengan Iran

Semenjak AKP berkuasa di Turki, ada perubahan cara pandang terhadap

penanganan kasus kurdi di daerah perbatasan antara Iran dan Suriah. Turki

relative lebih lunak terhadap Iran dan Suriah, terutama ketika kedua negara

tersebut sedang dalam tekanan dan perhatian komunitas internasional. Para

akademisi sepakat bahwa perubahan kebijakan yang terjadi terhadap Iran dan

Suriah dilatarbelakangi kehadiran AKP di pemerintahan berkuasa. Erdogan selaku

perdana menteri Turki mengatakn bahwa selama ini ada pendekatan negara yang

salah dalam menyikapi suku Kurdi, yang tentunya dapat mengganggu stabilitas

hubungannya dengan negara tetangga.

Selama ini, aktor militer Turki selalu menaruh kecurigaan terhadap gerak

politik yang dilakukan oleh pemrintah Iran. Politik luar negeri Iran dianggap dapat

mengancam stabilitas keamanan di Turki. Dimana gerakan politik Iran

mempunyai potensi mengekspor gerakan revolusi Islam masuk dalam tatanan

pemerintahan Turki. 49 namun secara pelahan, persepsi miring terkait politik Islam

(33)

yang dilakukan oleh Iran perlahan mulai diperlunak. Hal tersebut ditandai dengan

keberpihakan Turki pada Iran dalam isu nuklir. Turki mendukung penuh atas

program yang dilakukan oleh Iran. Pada tahun 2009 Erdogan mengunjungi Turki

untuk membahas kerjasama kedua belah negara, termasuk memberikan

pernyataan dukungan terhadap program nuklir Iran.50

b) Membuka Kerjasama Dengan Rusia

Setelah beberapa periode kepemimpinan sebelum terpilihnya Erdogan

sebagai perdana menteri, Turki merupakan anak emas Amerika yang berada di

kawasan Timur Tengah. Turki merupakan anggota strategis NATO, yang selalu

menjaga jarak dengan Rusia. Beberapa permasalahan dengan Rusia terkait selat

Bhosporus beberapa saat yang lalu sudah dapat diredam oleh kedua negara

tersebut. Rusia yang selam ini dipojokan oleh Barat, sempat menghentikan bahan

bakar alami untuk Turki.51 Namun seiring berubahnya strategi kebijakan luar

negerinya, Turki kembali membuka komunikasi dengan Rusia. Bahkan Turki

mengusulkan untuk membuka kerjasama regional yang dilakukan oleh 5 negara

terkait dengan distribusi minyak bumi, yaitu Rusia, Armenia, Georgia, Azerbaijan,

dan Turki.52 Saat ini hubungan dagang Turki dengan Rusia telah mencapai puncak

kerjasama di tingkat bilateral. Karena saat ini, rusia tercatat sebagai negara yang

berada di peringkat ke lima sebagai mitra dagang Turki.53

50 “Turkey disengages from Iran”.

http://www.todayszaman.com/columnistDetail_getNewsById.action?newsId=279020, 14 April 2012, diakses pada 12 Juni 2014

51 Rayyan al Shawaf”Konflik Rusia-Georgia mempengaruhi Timur Tengah”,

http://www.commongroundnews.org/article.php?id=23949&lan=ba&sp=0 diakses pada tanggal 12 Juni 2014

52 ibid

53 Global Future institute “Turki kembali ke pangkuan dunia Islam” diakses dari

(34)

Status Turki yang merupakan bagian dari negara pendukung Amerika

disaat perang dingin, tidak menghalangi kedua negara tersebut untuk melkukan

kerjasama yang lebih besar lagi. Rusia melihat pelung yang berada pada Turki

untuk dapat mendekat kepada negara Timur. Walaupun saat ini, Turki masih

terikat kerjasamanya dengan beberapa negara Eropa Barat. Pada sebuah

konferensi pers bersama di Ankara, Presiden Turki Abdullah Gul mengatakan

bahwa Turki dan Rusia telah bersepakat untuk membangun instalasi pembangkit

tenaga nuklir di wilayah dekat mediterania.54

Tanda-tanda terpenting dari kedekatan hubungan tersebut sebagaimana

diperlihatkan pemerintah Turki-Rusia adalah kompetensi dan kecermatan yang

luar biasa dalam memainkan permainan geopolitik untuk dapat mengusai daerah

kawasan. Sebagaimana Turki berhasil menempatkan negaranya dalam posisi

strategisnya dengan mencermati perkembangan geopolitiknya tanpa harus

bersinggungan dengan ideologi negara, baik yang bersumber dari sekular

Eropanya, Keterikatan dengan NATO ataupun dengan semangat keislamannya.

Sama halnya dengan Rusia, yang juga mampu kembali menempati posisi

strategisnya dengan mencermati geopolitiknya tanpa bersinggungan dengan

Ideologi imperiumnya baik kekaisaran maupun komunisme yang membentuk

memori rakyat Rusia.

c) Membuka Kerjasama Dengan Brazil

Selain Argentina dan Chili yang sudah menjalin hubungan diplomatik

dengan Turki, Brazil menjadi negara yang sangat potensial untuk dapat menjadi

(35)

negara mitra baik dalam hubungan diplomatik, maupun hubungan bilateral. Turki

dan brazil merupakan negara berkembang yang saat ini secara perekonomiannya

sedang melaju pesat. Brazil merupakan negara yang mempunyai kekuatan

ekonomi terkuat kedua setelah AS di kawasan benua Amerika dan terkuat nomor

sepuluh di dunia, sedangkan Turki merupakan negara yang mempunyai kekuatan

ekonomi terkuat peringkat tujuh belas di dunia.55 Jika dilihat dari kesamaan secara

aspek ekonomi tersebut, Turki dan Brazil berpeluang untuk membuka kerjasama

lebih banyak lagi. Dengan kerjasama tersebut, Turki dan Brazil dapat menjadi

kekuatan baru diantara negara-negara berkembang yang lainnya.

Kedua negara juga menerapkan kebijakan politik yang lebih independen

dan semakin menjauh dari pengaruh kekuatan negar-negara besar. Sehingga kedua

negara ini mempunyai kebebasan dalam kebijakan luar negerinya dan tidak terikat

dengan salah satu pihak manapun. Faktor tersebut membuat negara Turki dan

Brazil mengambil peran secara mandiri dan berbeda dari komunitasnya dan juga

peran-peran bersama di berbagai masalah politik dunia. Hal tersebut tercermin

dari penyikapan program nuklir yang dikeluarkan iran, kedua negara tersebut

sepakat tidak akan mencampuri kebijakan Iran terkait program nuklir yang telah

dicanangkan.56

Selain kesamaan pandangan terkai program nuklir Iran, Turki dan Brazil

dapat menjalin kerjasama di sektor militer. Dimana diantara kedua belah pihak,

sudah saling membuka komunikasi tentang masa depan kerjasama dalam sektor

55 Syarif, Taghian. Op. Cit. hal 413

(36)

kekuatan militer, baik dari segi persenjataan maupun teknologi militer. Seperti

yang pernah diberitakan sebelumnya, menteri pertahanan Brazil Celso Amorim

dan menteri pertahanan Turki Ismet Yilmaz telah intens melakukan komunikasi.

Dalam sebuah pertemuan di Sao Paulo, Menteri Pertahanan Brasil, Celso

Amorim, dan Menteri Pertahanan Turki, Ismet Yilmaz, yang sedang berkunjung,

menandatangani letter of intent (LoI) yang meresmikan sebuah langkah untuk

"mengembangkan kerja sama antara industri pertahanan kedua negara, termasuk

transfer teknologi dan proyek bersama.57 Demi menjadi kekuatan internasional

baru.

d) Membuka Kerjasama Dengan China

Jika dilihat secara historis Turki dan China tidak terlalu mempunyai

hubungan yang baik. Hubungan kedua negara ini sudah terjalin semenjak

berdirinya republik Turki dibawah komando Mustafa Kemal Attaturk. Turki

menjadi negara model untuk reformasi di Cina.58 Namun hubungan kedua negara

tersebut mulai berjarak sejak perang dingin terjadi. Turki dengan ideology yang

pro Barat pada saat ini lebih memilih berpihak kepada Amerika dan Sekutu.

Sementara, China dengan dengan ideologi komunisnya, lebih berpihak pada Uni

Soviet. Perbedaan pandangan yang terjadi pada Turki dan China terlihat jelas pada

kebijakan terhadap perang Korea, para elit politik Turki tetap bertahan pada

wacana anti komunis.59 Sementara disisi lain, Cina tetap bertahan pada prinsip

57 Egdius, Pagnistik. Turki dan Brazil Tingkatkan Kerjasama Militer” diakses dari

http://internasional.kompas.com/read/2012/05/08/10190450/Brasil.dan.Turki.Tingkatkan.Kerja.S ama.Militer pada tanggal 24 April 2014

58 Selçuk Çolakoğlu and Arzu Güler, “Turkey and Taiwan: The Relationship Seeking Its Ground,”

USAK Policy Brief, No. 2, August 2011.

(37)

mereka pada saat itu untuk anti terhadap Amerika dan sekutu. Seiring perdamaian

yang terjadi antara Amerika dan Cina, akhirnya pada tahun 1971 Turki dan Cina

resmi menandatangani hubungan diplomatik.60 Namun, setelah peresmian

hubungan diplomatik antara Turki dan Cina tersebut, hubungan keduanya masih

tetap dangkal. Dilihat dari intensitas kerjasamanya di berbagai bidang, dilihat dari

aspek ekonomi, baik Turki maupun Cina tidak melakukan investasi yang cukup

besar. Nilai tukar perdagangan antara kedua negara tersebut sekitar $10 miliar

pada tahun 2008.61 Sehingga jika dilihat dari aspek kerjasama ekonominya, faktor

ekonomi tidak mungkin menjadi kartu penting untuk lebih mempererat hubungan

militer kedua negara tersebut.

Hubungan antara Turki dan china mulai menanjak pada tahap yang lebih

penting ketika Erdogan membalas kunjungan wakil presiden Cina Xin Jin Ping ke

Ankara. Erdogan melakuak lawatan untuk lebih mempererat kerjasama ekonomi

dan politik.62

Menurut pakar politik Colakoglu, Turki dan Cina memiliki perbedaan

pandangan dalam perkembangan terakhir di Timur Tengah dan Afrika, tapi

perbedaan ini bukannya tidak dapat diselesaikan.63 Sebelum revolusi di dunia

Arab, Turki dan Cina memiliki haluan senada. Mereka mendukung upaya

perdamaian dan diplomatik untuk menyelesaikan masalah-masalah di kawasan itu.

60 “China, Turkey to Establish Strategic Cooperative Relationship,”China Daily, diakses dari

http://www.chinadaily.com.cn/china/2010-10/08/content_11386689.htm. pada tanggal 25 April 2014.

61 Syarif, Taghian. Op. Cit hal 411

62 Vidi, Legowo.”Kunjungan Erdogan ke Cina”. Diakses dari http://www.dw.de/kunjungan-erdogan-ke-cina/a-15860732 pada tanggal 24 April 2014

(38)

Tapi setelah musim semi Arab, terlihat perbedaan yang jelas. Turki mendukung

upaya rakyat menentang rezim otoriternya. Di sisi lain Cina, menentang campur

tangan asing berdasarkan prinsip bahwa intervensi asing ini tidak akan membawa

solusi.64

Dengan startegi diplomasi multidimensi yang diterapkan oleh Turki saat

ini, Cina dan Turki bisa saja melakukan kerjasama keamanan yang lebih intens.

Kerjasama tersebut sudah mulai terlihat dari pembelian rudal udara yang dibeli

Turki dari Cina untuk memperkuat pertahanan udaranya senilai $4 miliar.65

Walaupun kebijakan tersebut membuat NATO merasa terganggu, Turki tetap

melanjutkan kerjasamanya dengan Cina. Jika Cina ingin membuka diri terkait

dengan politik luar negerinya dengan Turki, maka bukan tidak mungkin kerjasama

dalam sektor keamanan akan terjalin lebih erat lagi.

Kerjasama antara Turki dan China akan terus berkembang jika kedua

negara tersebut saling memberikan toleransi dan menyatukan pandangan terkait

dengan konfli yang terjadi di wilyah Cina, Uighur. Turki merasakan

kekhawatirannya terhadap konflik yang melubatkan suku Uighur dan pemerintah

Cina. Munculnya isu pembantaian dan pelanggaran HAM terhadap penduduk

Uighur yang sebagian besarnya beraga Islam membuat Turki memberikan

perhatian lebih terhadap Cina. Permerintah Turki, melalui Erdogan menyerukan

kepada negara anggota OKI untuk dapat melindungi warga Uighur di Cina.66

64 Ibid.

65 Tao, Zan. ”An Alternative partner to the West? Terkey’s Growing Relation With China”. Peking University. Diakses dari http://www.mei.edu/content/alternative-partner-west-turkey

%E2%80%99s-growing-relations-china pada tanggal 26 April 2014

(39)

Selain mendapat tekanan dari elit politik Turki, pemerintah Cina pun mendapat

desakan keras dari warga Turki untuk dapat memeberikan hak yang sama dengan

warga Cina yang lainnya.67

Dengan memanfaatkan kerjasama ekonomi yang semakin meningkat

antara Turki dan Cina, kedua negara tersebut dapat memperluas kerjasamanya di

bidang militer. Selai itu, dengan kemampuan Turki yang menjadi aktor di

regionalnya, Cina dapat memanfaatkan peluang tersebut untuk melebarkan sayap

perekonomiannya di wilayah Timur Tengah yang selama ini masih sulit untuk

dijangkau.

Selain melihat faktor ekonomi, tantangan yang harus dihadapi oleh Turki

dan China untuk dapat meredam isu Uighur yang terjadi di wilayah Xinjiang.

Turki haus melakukan pendekatan yang lebih halus terhadap Cina untuk dapat

membantu menyelesaikan konfli Uighur. Turki mempunyai kepentingan membela

identitas Islam di Uighur. Dengan kesepahaman pandangan politik luar negeri

kedua negara tersebut, bukan tidak mungkin permasalaha Uighur di Cina dapat

teratasi dan kerjasama kedua negara tersebut tetap berlanjut hingga menjadikan

kekuatan baru di wilayah Timur Tengah dan Asia Bagian Timur.

Choice

(40)

Dengan pemutusan kerjasama militer tersebut, pemerintah Turki

menunjukan bahwa kebijakan tersebut merupakan salah satu faktor untuk

tercapainya National Interest. Dimana salah satu aspek dari National Interest

menurut Donald E. Nuchterlain adalah tentang defence Interest atau kepentingan pertahanan dari suatu negara. sehingga Defence Interest menjadi salah satu faktor ats kebijakan luar negeri Turki yang telah diambil setalah penolakan Israel untuk

bertanggung jawab atas insiden Mavi Marmara yang menewaskan 10 orang arga

negara Turki.

Dengan kebijakan Tersebut pemerintah Turki akan mendapatkan beberapa

keuntungan skaligus, yaitu :

a) Mendapat Dukungan Dari Rakyat

Setelah insiden Mavi Marmara, pemerintah Turki mendapatkan tekanan

dari warga negaranya agar Turki mengambil tindakan yang tegas terhadap Israel

atas insiden yang telah menewaskan 10 orang warga negara Turki dan merupakan

sebuah pelanggaran HAM.68 Keinginan rakyat Turki memang tak sejalan dengan

kepentingan militer. Jika dilihat dari dampaknya, pemutusan kerjasam tersebut

akan mengganggu pasokan senjata militer Turki yang selama ini sebagian besar

berasal dari Israel. Namun, kemampuan Erdogan dalam merepresentasikan kedua

pihak tersebut membuat keputusan pemutusan kerjasama militer tersebut tidak

terlalu berdampak besar bagi militer Turki. Erdogan pun mencoba membuka

peluang kerjasama dengan pihak lain, salah satunya dengan China. Turki

membuka kerjasama pertahanan udara dan sistem pertahanan jarak jauh dengan

68 Anonim,”Ribuan Orang Demo kenang insiden Mavi Marmara” diakses dari

(41)

China. Perusahaan China memenangkan beberapa tender atas pemebilan

peralatan militer.69 Kebijakan Turki untuk memesan peralatan militer dari China

mendapat kecaman dari Amerika selaku sesame anggota NATO bersama Turki.

The decision is likely to deepen concerns that Turkey under Prime Minister Recep Tayyip Erdogan is distancing itself from the West in order to pursue a more independent foreign policy. Some U.S. analysts and former policymakers, including Vali Nasr, who served in the State Department during Obama’s first term, have expressed concerns about Turkey’s expanding ties with China in particular.70

Jika dinilai dari statement diatas, keputusan kerjasama tersebut dinilai sebagai langkah pemerintah Turki untuk tidak terlalu terikat dengan Barat dan

lebih mengedepankan pertimbangan yang Independen. Hal tersebut dibuktikan

atas kinjungan pimpinan China, Xhi Jin Ping ke Ankara, lalu beberapa bulan

kemudian erdogan membalas kunjungan tersebut. Para analis Amerika menilai

bahwa kunjungan tersebut menandakan akan adanya hubungan yang lebih lanjut

antara Ankara dan Beijing.71

b) Apresiasi Negara Tetangga dan Meningkatkan Nilai Tawar Turki di Kawasan

Presiden Rusia Demetri Medvedev mengatakan bahwa serangan Israel

terhadap kapal Mavi Marmara merupakan tindakan yang tidak bisa dibenarkan.

Medvedev mengatakan hal tersebut dalam jumpa pers diakhir acara pertemuan

Rusia dan Eropa.72 Korban tewas akibat operasi militer Israel tidak dapat

69 Keck, Zachary. “why Turkey’s Buying Chinese Misile Systems” diakses dari

http://thediplomat.com/2013/09/why-turkeys-buying-chinese-missile-systems/ diakses pada tanggal 21 April 2014

70 Ibid 71 Ibid.

(42)

dibenarkan dan merupakan sebuah kerugian besar yang tidak dapat diganti.73

Selain mendapat dukungan dari presiden Rusia, Turki pun mendapat dukungan

dari Presiden Uni Eropa Herman Van Rompuy yang menginstruksikan Uni Eropa

melakukan investigasi yang netral dan menyeluruh dalam operasi militer Israel.74

Keputusan Turki untuk mengambil tindakan tegas terhadap Israel secara

tidak langsung akan mempengaruhi posisi Turki di kawasan Internasional,

terutama di kawasan Timur Tengah. Keberanian Turki untuk melepaskan diri dari

keterikatannya dengan Israel mendapat Apresiasi dari Sekjen Liga Arab Amru

Musa, beliau mengatakan bahwa Turki telah kembali kepada pangkuan negara

Arab dan Amru Musa berterima kasih kepada Turki atas upaya kemanusiaannya

untuk menolong rakyat palestina yang di blokade.75 Organisasi konferensi Islam

dalam pertemuan luar biasa dewan eksekutif di tingkat menteri lur negeri negara

anggota OKI meminta agar negara-negara anggotanya mengoreksi kembali

hubungan diplomatiknya dengan Israel termasuk membentuk komisi internasional

independen untuk melakukan investigasi total terhadap militer Israel. Hal tersebut

membuat Turki berposisi sebagai negara yang menggerakan negara-negara Islam

lainnya untuk bersatu dalam isu HAM yang sering terjadi di kawasan Timur

Tengah.76

"Kami menyarankan agar negara Islam yang mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel untuk memutuskan hubungan atau sementara menarik pulang duta besar mereka untuk menunjukkan bahwa kami serius dan tidak omong kosong,"77

73 Ibid. 74 ibid

75 Ibid .hal. 490

76 Heru.”OKI Sepekat Putuskan Hubungan Dengan Israel” diakses dari

http://www.antaranews.com/berita/54136/anggota-oki-sepakat-putuskan-hubungan-dengan-israel pada tanggal 21 April 2014

(43)

Statement tersebut disampaikan oleh Sayed Hamid yang merupakan

perwakilan dari Malaysia dan selaku pempinan negara yang tergabung dalam

OKI. Selain mendapatkan keuntungan yang positif dari kebijakan Pemutusan

kerjsama tersebut, tentu ada aspek negatif yang harus diterima oleh pemeritah

Turki. Pemerintah Turki pun harus siap menanggung kemungkinan-kemungkinan

buruk yang akan terjadi jika pemutusan hubungan militer akan terus dilanjutkan.

Yaitu berkaitan dengan ancaman kudeta militer jika pemerintah sipil tidak mampu

untuk segera mengakomodir kepentingan militer, salah satunya adal berkaitan

dengan pasokan senjata setelah terhentinya suplai dari Israel.

F. Kesimpulan

Pemutusan Kerjasama militer yang telah diambil oleh Turki pasca insiden

Mavi Marmara sebagai kebijakan luar negerinya telah melalui empat tahapan

yang ada pada Rational Model. Turki menetapkan Penyerangan Mavi Marmara sebagai Problem Recognition, Defence Interest sebagai Goal Selection, pemutusan kerjasama atau melanjutkan kerjasama militer sebagai Identification of Alternatife dan pemutusan kerjasama militer sebagai Choice.

Setelah menimbang dari beberapa aspek, Turki sepakat untuk mengakhiri

kerjasamanya terhadap Israel. salah satu latar belakangnya adalah terkait dengan

kebijakan defence interest yang dilakukan Turki pasca penyerangan kapal Mavi Marmara yang menewaskan sepuh orang warga negara Turki. Dalam konteks ini,

Turki harus mampu melindungan keselamatan warga negaranya dari berbagai

Gambar

Tabel 2. Kerjasama Militer antara Turki dan Israel38

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan pemikiran politik yang dia miliki, Sjahrir dengan kedudukannya sebagai Perdana Menteri pada masa awal kemerdekaan Indonesia, melakukan berbagai macam

15 Oktober 1950 (sampai dengan meninggal dunia), Era Kabinet Perdana Menteri Muhammad Natsir jilid 2 ia diangkat menjadi Duta Besar Luar Biasa berkuasa penuh pada

Sebagai bentuk keseriusan kedua negara telah berdamai, pada 11 September 2018, bertepatan dengan perayaan nasional tahun baru Ethiopia, Perdana Menteri Abiy Ahmed Ali

Maka merespon isu Israel dan Palestina secara aktif adalah hal yang wajar.Jika dikaitkan dengan identitas budayanya, Turki berada dibawah pimpinan Presiden Erdogan kembali

pergeseran simbolis radikal dari Australia Putih ke Australia sebagai 'bangsa multikultural di Asia' (menggunakan ungkapan terkenal mantan Perdana Menteri Paul Keating, salah

Penulis telah mengajukan argumentasi sementara bahwa kebijakan luar negeri Pemerintah Belanda berupa menolak Menteri Turki untuk memasuki wilayah Belanda disebabkan oleh adanya

Menjadi sangat kontradiktif di akhir kepemerintahannya, Perdana Menteri Ariel Sharon yang dikenal sebagai ketua Partai Likud, partai konservatif yang menekankan

Berdasarkan pemikiran politik yang dia miliki, Sjahrir dengan kedudukannya sebagai Perdana Menteri pada masa awal kemerdekaan Indonesia, melakukan berbagai macam