BAB I PENDAHULUAN
A. HUBUNGAN AGAMA DAN PEMERINTAHAN DI INDONESIA
1. Zaman Kerajaan/Kesultanan
Dalam struktur pemerintahan zaman raja-raja dan kesultanan di Indonesia, urusan agama menjadi bagian yang tak terpisahakan dari peran raja/sultan dan pejabat pemerintah lainnya. Sementara di itngkat kabupaten sampai tingkat desa terdapat jabatan mufti, qodhi, penghulu, modin (lebai,kayim) dan jabatan agama lainnya. Jelaslah bahwa instansi agama sejak pemerintahan para raja/sultan telah berakar dalam budaya bangsa kita.
2. Zaman Hindia Belanda
Pemerintah Hindia Belanda secara normative bersifat netral menghadapi urusan keagamaan, yakni sebatas menyangkut kepentingan undang-undang dan ketertiban umum meski kenyataannya selalu berkaitan kepentingannya sebagai penjajah. Semua urusan dan kepentingan agama khususnya Islam menjadi wewenang berbagai instansi. Dengan kata lain dipisah-pisah dalam pelbagai instansi sesuai dengan kepentingan politik penjajahan. Urusan Haji, Perkawinan, Pengajaran Agama, Zakat Fitrah, urusan Masjid, Pengangkatan Penghulu, dan lain-lain, menjadi wewenang Departemen Van Binnenlandsche Zaken, Mahkamah Islam Tinggi, Raad Agama (Pengadilan Agama) serta penasehat-penasehat Pengadilan Negeri oleh Departemen Van Justitie. Pergerakan organisasi keagamaan oleh Kantoor Der Adviseur Voor Inlandsche En Mohhammedadnsche Zaken, dan urusan Peribadatan diurus oleh Departement Van Onderwijs En Eredienst, terutama untuk umat Nasrani. Khusus pengesahan suatu organisasi gereja (Kagernoot Schap) merupakan wewenang langsung Gubernur Jenderal.
3. Zaman Jepang
Di zaman pendudukan Jepang, pada umumnya aturan-aturan yang berhubungan dengan urusan keagamaan tidak banyak mengalami perubahan, kecuali penghapusan Kantor Der Adviseur Voor Inlandsche En Mohammedadnsche Zaken. Sebagai gantinya didirikan Shumubu (Kantor Urusan Agama) yang menjadi bagian dari Gunseikanbu. Sedangkan di daerah-daerah diadakan Shumuka (Kantor Agama Daerah) sebagai bagian dari Pemerintah Karesidenan (Shu).
Shumubu memiliki fungsi sama seperti sbelemnya, yaitu :
a. Memberikan advis-advis (nasehat atau pertimbangan) dalam soal ke-islaman.
b. Menjalankan penyelidikan dan pengawasan terhadap kegiatan-kegiatan politik pergerakan Islam1.
4. Zaman Indonesia Merdeka (Lahirnya Departemen Agama) UUD 1945 yang lahir sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 mengamanatkan dalam Bab XI tentang agama pada Pasal 29 ayat 1 dan 2 bahwa :
a. Negara berdasarkan atas Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.
b. Negara Menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu2.
Pokok pikiran dua hal di atas, terdapat pada Pembukaan yang merumuskan Pancasila sebagai dasar Negara, falsafah hidup, dasar hokum, dan sumber hokum bernegara dan bermasyarakat. Walaupun demikian Negara Indonesia bukanlah Negara berdasarkan satu agama, juga bukan Negara sekuler. Dalam suatu Negara agama, sumber hokum adalah kitab suci. Sedangkan dalam Negara sekuler, agama dipisahkan sama sekali dengan urusan Negara. Kalau pada zaman Hindia Belanda dan pada zaman Jepang umat Kristen merasa tertekan dan Pastur serta para Domine banyak mendapat perlakuan tidak wajar, maka di zaman Indonesia Merdeka, semua pemeluk agama diperlakukan sama. Pemerintah memberikan pelayanan dan bimbingan kepada semua masyarakat beragama dalam rangka membina keutuhan dan persatuan bangsa.
Pada tanggal 03 Januari 1946 lahirlah Departemen Agama yang awalnya bernama Kementrian Agama, sebagai salah satu bagian dari aparatur pemerintah Republik Idonesia. Dalam kementrian Agama kewenangan yang menyangkut bidang kehidupan beragama, yang semula tepencar-pencar, ditempatkan dalam satu wadah. Lahirnya Departemen Agama tersebut adalah hasil keputusan aklamasi anggota Badan pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP) berdasarkan usul dalam siding Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) tanggal 11 Nopember 1945 yang bunyinya sebagai berikut :
“ Mengusulkan supaya dalam Negara Indonesia yang sudah merdeka ini
janganlah hendaknya urusan agama hanya disambilkan kepada Kementrian Agama yang khusus dan tersendiri3.
Tokoh-tokoh yang menyampaikan usul tersebut adalah KH. Abu Dardiri (Banyumas, Jawa Tengah), M. Saleh Suaidi dan M. Sukoso Wirjosaputro yang kemudian didukung oleh Moh. Natsir, Dr. Mawardi, Dr. Marzuki Mahdi dan N. Kartosudarmo, dan lain-lain.
Menurut informasi lisan dari salah seorang ex anggota BPKNIP, usul itu diterima dengan aklamasi oleh semua anggota. Dan dengan demikian pada saat itu tidak ada satu suarapun yang menolak pembentukan Departemen Agama. Bahkan menurut sumber informasi tersebut, pada waktu itu antara KNIP sebagai lembaga legislative dengan cabinet sebagai lembaga eksekutif tidak Nampak perbedaan yang tegas. Sebab, semuanya sama-sama berpikir untuk mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan Indonesia.
perhatian pemerintah itu, dikeluarkan Penetapan Pemerintah Nomor1/SD tanggal 03 Januari 1946, yang diantaranya berbunyi : Presiden Republik Indonesia mengingat usul Perdana Menteri dan Badan Pekerja komite Nasional
Indonesia Pusat, memutuskan : “Mengadakan Kementrian Agama”.
Dengan lahirnya Departemen Agama, mungkin ada golongan yang menganggap bahwa kehadiran Departemen Agama itu dirasakan sebagai konsesi yang terlalu besar bagi mereka yang menikmati hak-hak istimewa sebelum kemerdekaan Indonesia. Namun hendaknya disadari, bahwa consensus untuk mempertahankan bentukan bangsa ini telah diusahakan oleh para pendiri Negara melalui pertuakran pikiran dan proses historis, sehingga kita tiba pada kenyataan yang kita terima dewasa ini.Selanjutnya bila ada pikiran-pikiran untuk merubah consensus nasional itu, dikhawatirkan bahwa consensus yang telah dicapai sejak dari Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia hingga dewasa ini, semuanya akan menjadi mentah kembali, yang akan mengakibatkan goyahnya persatuan dan kesatuan bangsa.
Mungkin pula ada yang merasa bahwa kehadiran Departemen Agama dalam struktur organisasi Pemerintah sebenarny masih kurang dibandingkan dengan rumusan piagam Jakarta. Namun mereka perlu menyadari pula, bahwa Piagam Jakarta walaupun mengalami pencoretan tujuh kata, buknlah dicoret seluruhnya, bahkan Piagam Jakarta telah menjadi Pembukaan UUD tahun 1945 minus tujuh kata dan dengan pencoretan kata itu, kewajiban menjalankan
syari‟at agama bukan lagi diwajibkan oleh pemerintah, tetapi merupakan
kewajiban yang diterima langsung dari Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan ajaran agama masing-masing. Dan selanjutnya kehadiran Departemen Agama di Negara Republik Indonesia tercinta ini, merupakan jaminan atas terlaksananya Bab Agama dari UUD tahun 1945, yang memberikan jaminan terhadap kebebasan untuk menganut agama masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu.
Sebagai tindak lanjut terbentuknya Kementrian Agama dikeluarkan Maklumat Kementerian Agama nomor 2 tanggal 23 April 1946 yang menetapkan bahwa :
1. Shumuka yang dalam zaman Jepang termasuk kekuasaan Presiden berubah nama menjadi Jawatan Agama Daerah di bawah kementerian Agama.
2. Hak Mengangkat Penghulu Landraat(sekarang bernama Pengadilan Negeri). Ketua dan Anggota Landraat Agama diserahkan kepada Kementerian Agama 3. Hak untuk mengangkat Penghulu Masjid yang dahulu ada dalam tangan bupati, diserahkan kepada Kementerian Agama.
Sebelum keluarnya Maklumat Kementerian Agama tersebut diatas, Menteri Agama yang pertama, H. Rasyidi, BA pada konferensi Jawatan Agama seluruh Jawa dan Madura di Surakarta tanggal 17 s/d 18 maret 1946 menyatakan sebagai berikut :
Untuk memenuhi kewajiban Pemerintah terhadap UUUD BAB XI pasal 29
yang menerangkan, bahwa ”Negara berdasarkan atas Ke-Tuhanan Yang Maha
Esa”. Dan “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk
Maka dikeluarkanlah Peraturan Pemerintah NOmor 33 Tahun 1948, jo Nomor 8 Tahun 1950 yang isinya menetapkan tugas-tugas kewajiban Departemen Agama sebagai berikut :
a. Melaksanakan azas Ketuhanan Yang Maha Esa dengan sebaik-baiknya; b. Menjaga bahwa tiap-tiap penduduk mempunyai kemerdekaan untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya;
c. Membimbing, menyokong, memelihara dan mengembangkan aliran-aliran agama yang sehat;
d. Menyelenggarakan, memimpin, dan mengawasi pendidikan agama di sekolah-sekolah negeri;
e. Menjalankan, memimpin, menyokong serta mengamat-amati pendidikan dan pengajaran di madrasah-madrasah dan perguruan agama lainnya;
f. Menyelenggarakan segala sesuatu yang bersangkut paut dengan pelayanan rohani kepada anggota-anggota tentara, asrama, rumah-rumah penjara dan tempat-tempat lain yang dipandang perlu;
g. Mengatur, mengerjakan dan mengamat-amati segala hal yang bersangkutan dengan pencatatan pernikahan, rujuk dan talak orang islam;
h. Memberikan bantuan materiil untuk perbaikan dan pemeliharaan tempat-tempat peribadatan, masjid-masjid, gereja-gereja, dan lain-lain;
i. Menyelenggarakan, mengurus dan mengawasi segala sesuatu yang bersangkut paut dengan pengadilan agama dan Mahkamah Islam Tinggi;
j. Menyelidiki, menentukan, mendaftar dan mengawasi pemeliharaanwakaf-wakaf;
k. Mempertinggi kecerdasan umum dalam kehidupan bermusyawarah dan hidup beragama.
Dengan ketentuan seperti termaktub dalam Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1949 tersebut Nampak bahwa tugas Departemen Agama dalam Pemerintahan Republik Indonesia ini ialah sebagai pendukung dan pelaksana utama daripada azas Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai Sila Pertama dalam
falsafah Negara “Pancasila‟. Disamping itu, dari formulasi ke 12 pasal dalam
Peraturan Pemerintah tersebut Nampak bahwa Pemerintah secara serius merasa wajib memaji8kan perkembangan rakyat, baik rohani maupun jasmani. Tegasnya Negara berjanji akan memelihara kerohanian rakyat sebagai manifestasi dari segala persoalan yang bertalian dengan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, yang pada hakekatnya merupakan janji membantu perkembangan kerohanian rakyat, yang dalam pelaksanaannya diserahkan kepada Kementrian Agama, atas dasar penghormatan yang sama terhadap keyakinan agama setiap rakyat Indonesia.
PP Nomor 33/1948 jo Nomot 8/1950 dipertegas lagi berdasarkan Keppres Nomor 45 Tahun 1974, lampiran 14, Bab 1 Pasal 2 yang berbunyi :
“Tugas pokok Departemen Agama adalah menyelenggarakan sebagian dari
tugas umum pemerintah dan pembangunan di bidang agama”.
sisi mata uang yang berbeda maka tegaknya Negara Republik Indonesia, eksisnya Departemen Agama, Hapusnya Departemen Agama berarti Runtuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
B. SEKILAS LAHIRNYA PROPINSI JAWA TENGAH
Dalam sejarah Nasional Indonesia, Jawa Tengah sebagai suatu propinsi sudah dikenal sejak jaman Penjajahan Belanda.
Pengertian propinsi didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku saat itu, yang mengalami perubahan dan perkembangan hingga pengertian Propinsi Jawa Tengah yang sekarang ini.
Untuk memperoleh gambaran yang agak jelas tentang terbentuknya Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah perlu kiranya melihat secara singkat perkembangan dari awal yaitu sejak penjajahan Belanda sampai sekarang.
1. Jaman Penjajahan Belanda
BAB III
PERKEMBANGAN KANTOR AGAMA PROPINSI JAWA TENGAH PERIODE K.H. SAIFUDIN ZUHRI (1948 - 1954)
Pada awal tahun 1949 terjadilah pergantian Kepala Kantor Urusan Agama Propinsi Jawa Tengah dari Bapak R. Oesman Pudjotomo kepada Bapak K.H. Saifudin Zuhri, yang sebelumnya sebagai Penghulu Sokaraja Banyumas sedangkan sebagai Pemimpin Sekretariat adalah R. Abdullah Muhammad Dirjo. K.H. Syaifudin Zuhri dilahirkan pada tanggal 1 Oktober 1919 di sebuah Kawedanan Sokaraja,Purwokerto, Banyumas. Ketika revolusi kemerdekaan, ia menjabat sebagai Komandan Divisi Hisbullah Jawa Tengah di Magelang, tetapi untuk selanjutnya beliau tidak meneruskan kariernya di militer.
Pada pertengahan Januari 1949, di usia 30 tahun, K.H. Syaefudin Zuhri telah memangku jabatan sebagai Kepala Kantor Agama Propinsi Jawa Tengah, menggantikan Bapak R. Oesman Pudjotomo. Mula-mula beliau menolaknya dengan alasan sudah menempuh bermacam-macam jabatan di daerah yang serba sulit, tetapi atas desakan para ulama, akhirnya jabatan Kepala Kantor Agama Jawa Tengah beliau terima.
Pada usia 35 tahun, beliau menjabat sebagai Sekretaris Jenderal NU merangkap pimpinan redaksi Duta Masyarakat dan pada usia 39 tahun menjadi pertimbangan Dewan Pertimbangan Agung RI serta pada usia 43 tahun beliau memangku jabatan sebagai Menteri Agama RI.
Saat menjabat sebagai Kepala Kantor Agama Jawa Tengah, beliau bertempat di JI. Maluku III/1 Semarang (milik BKM) dan menjadi Ketua Da'wah Pengurus Besar NU.
Tahun 1949 disebut tahun restorasi yaitu penyusunan kernbali organisasi, baik di pusat maupun di daerah Jawa Tengah, setelah mengalami kesusahan dan kemusnahan akibat aksi militer Belanda tanggal 19 Desember 1948. Pada masa itu sebagian besar arsip-arsip dokumentasi serta perlengkapan kantor rusak/hilang, dan boleh dikatakan bahwa pada tahun 1949/1950, Kementerian Agama menyusun kembali organisasi personalia dan perlengkapan, termasuk di Kantor Agama Propinsi Jawa Tengah.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1949 tanggal 25 Desember 1949 tentang lapangan pekerjaan, susunan, pimpinan dan tugas kewajiban Kementerian Agama (Propinsi) adalah sebagai berikut
Susunan:
a. Kantor Agama Propinsi.
b. Kantor Agama Daerah Karesidenan. c. Kantor Kepenghuluan Kabupaten. d. Kantor Kenaiban Distrik.
e. Kantor Kenaiban Kecamatan.
f. Kantor Pengadilan Agama Kabupaten. g. Kantor Mahkamah.
h. Kantor Inspeksi Pendidikan Agama Karesidenan. i. Kantor Pemeriksaan Pendidikan Agama Karesidenan. j. Kantor Penilik Pendidikan Agama Kabupaten.
Berdasarkan pasal 4.11, Kantor Agama Propinsi, rnemiliki lapangan pekerjaan sebagai berikut :
menjaga agar supaya tidak ada salah paham.
b. Bersama-sama dengan Kantor-kantor Agama Daerah di daerahnya c. masing-masing memusatkan perhatian terhadap masyarakat Agama. d. Memimpin Kantor-kantor Agama daerah dalam propinsi masing-masing. e. Menilik serta mengamati jalannya pekerjaan Kantor-kantor Agama
Daerah serta menilik apakah instruksi-instruksi dari Kementerian Agama f. dijalankan dengan semestinya.
g. Menjalankan semua instruksi dari Kementerian Agama.
Berdasarkan pasal 4.11, Inspeksi Pendidikan Agama Propinsi memiliki lapangan pekerjaan :
Mengerjakan inspeksi, memberi pimpinan dan pengarahan dan penyelenggaraan pengajaran Agama di sekolah-sekolah negeri, asrama-asrama, rumah-rumah penjara, rumah-rumah miskin, rumah-rumah anak piatu, dll.
Menyelenggarakan, mengerjakan inspeksi, memberi pimpinan dan pengarahan pengajaran di madrasah-madrasah dan perguruan-perguruan agama lainnya a dan b yang mengenai daerahnya masing-masing.
Memberikan laporan-laporan hal sesuatu yang berhubungan dengan Ayat a dan b pada Kementrian Agama.
Berdasarkan Penetapan Menteri Agama Nomor 1/3/1950 lahirlah Biro
Peradilan Agama, Jawatan Pendidikan Agama, Jawatan Penerangan Agama dan Jawatan Agama yang sudah ada menjadi Jawatan Urusan Agama.
Berdasarkan PMA Nomor 10 Tahun 1952 (untuk daerah) terdiri dari : a. Kantor Uruan Agama.
b. Kantor Pendidikan Agama. c. Kantor Penerangan Agama. d. Mahkamah Islam Tinggi.
Terlihat disini bahwa Urusan Agama, Pendidikan Agama, dan Penerangan Agama merupakan unit organisasi tertua di Departemen Agama, sedang Urusan Haji, walaupun kegiatannya sudah ada, tetapi baru ada pada tahun 1952 berdasarkan KMA Nomor 9 Tahun 1952. Demikian juga Bagian Hindu Bali baru dimulai dengan PMA Nomor 2 Tahun 1958.
Walaupun telah terbit Peraturan Menteri Agama RI tanggal 14 Agustus 1950 tentang pembentukan Jawatan-Jawatan, namun pembentukan itu belum
dilaksanakan karena satu dan lain hal. Baru setelah terbentuknya Negara
Kesatuan kembali, maka dengan Peraturan Menteri Agama nomor 2 Tahun 1951 tanggal 12 Januari 1951, maka secara resmi Jawatan Pendidikan Agama lahir, setelah sebelumnya berada di bawah Bagian Pendidikan Kementerian Agama.
Pembentukan Jawatan Pendidikan Agama itu didasarkan pada alasan alasan berikut :
1. Luasnya lapangan pekerjaan tidak dapat lagi dikerjakan oleh satu bagian saja, tetapi tiap-tiap lapangan pekerjaan daiam Jawatan itu harus diurus oleh satu bagian dalam Jawatan itu, sehingga Jawatan itu terdiri atas beberapa bagian. 2. Tenaga-tenaga ahli dalam perbagai lapangan karena pembentukan bagian itu
Peraturan Menteri Agama Nomor 2 tanggal 12 Januari 1951, yang dijadikan dasar dalam penyelesaian pembentukan Jawatan Pendidikan Agama dalam Bab III pasal 6 menyatakan lapangan pekerjaan Jawatan yang pokok-pokok isinya untuk mefaksanakan azas Ketuhanan Yang Maha Esa dan diuraikan sebagai berikut : 1. Menyelenggarakan, memimpin dan mengawasi pendidikan agama di
sekolah-sekolah negeri dan partikelir.
2. Memimpin, menyokong serta mengamat-amati pendidikan dan pengajaran di madrasah-madrasah dan perguruan-perguruan agama.
3. Menyelenggarakan, memimpin dan mengawasi pendidikan guru-guru dan hakim agama.
4. Menyelenggarakan segala sesuatu yang bersangkut-paut dengan pendidikan rohani kepada anggota-anggota angkatan perang, kepolisian, asrama-asrama, rumah-rumah penjara dan tempat-tempat lain yang dipandang perlu.
5. Berusaha mengadakan kitab-kitab, majalah-majalah dan lain-lain yang berfaedah untuk pendidikan dan pengajaran agama dengan jalan mengarang, menterjemahkan atau mendatangkan buku-buku dari luar negeri.
6. Menyelidiki dan memecahkan soal-soal yang berhubungan dengan pendidikan dan pengajaran agama.
7. Berdaya upaya untuk mengembangkan dan memajukan kebudayaan yang berdasarkan agama.4
Adapun susunan Jawatan Pendidikan Agama sesuai Peraturan Menteri Agama Nomor 2 adalah sebagai berikut :
1. Kantor Pusat.
2. Kantor Pendidikan Agama Propinsi.
3. Kantor Pendidikan Agama Kota Praja Jakarta. 4. Kantor Pendidikan Agama Daerah Istimewa. 5. Kantor Pendidikan Agama Kabupaten.
Kantor Pusat terdiri atas bagian-bagian berikut : Bagian Umum
Bagian Penyelenggara Bagian Inspeksi
Bagian Kebudayaan dan Perpustakaan
Bagian Lembaga Pendidikan Agama dan Sidang Pengarang Bagian Urusan Pegawai
Bagian Urusan Keuangan5
Pengajaran Pendidikan Agama pada Sekolah Negeri diatur dalam
UUDS RI pasal 41 ayat 1 dan 3 dan dalam Undang-undang Pokok Pendidikan nomor 4 Tahun 1950 .pasal 20. Sedangkan pelaksanaannya didasarkan pada peraturan Bersama Menteri PP dan K dengan Menteri Agama Nomor 1142 Bhg A tanggal 2 Desember 1946 -1285/K7 tanggal 12 Desember 1946 yang diubah dengan Peraturan Bersama nomor 1432/Kab tanggal 20 Januari 1951 - K 1/651 tanggal 20 Januari 1951 yang kemudian diubah lagi menjadi peraturan Bersama nomor 17678/Kab tanggal 16 Juli 1951 – K/l/9180 tanggal 16 Juli 1951.
Kementerian PP dan K atas usul instansi yang berkepentingan.
Sedangkan kepada madrasah. Jawatan Pendidikan Agama hanya membantu dan mangawasi, serta tidak sampai mencampuri sedalam-dalamnya kepada madrasah yang bersangkutan, sesuai Peraturan Menteri Agama Nomor tahun 1946 tanggal 19 Desember 1946.
Berdasarkan hasil rapat tanggal 7 s/d 14 Januari 1953, yang dihadiri Sdr. HAMKA, H.Dahlan,M, Sunarya dan H. Adnan, cs maka rapat mengambil keputusan :
1. Madrasah Permulaan (Ibtidaiyah) adalah tempat pendidikan agama beserta pelajaran umum dengan syarat yang setarap dengan kewajiban belajar.
2. Madrasah Tsanawiyah adalah tempat pendidikan dan pengajaran agama beserta pengajaran umum dengan syarat yang setarap dengan kewajiban belajar, pada sekolah lanjutan.
3. Pendidikan Guru Agama (PGA) adalah suatu madrasah lanjutan tempat membentuk guru-guru dan pendidik.
Adapun mengenai keadaan Pendidikan Agama di Jawa Tengah dapat dikemukakan sebagai berikut :
1. Jumlah Sekolah Rakyat (SR) 2.694 buah, dengan rincian 280 buah sudah menerima pengajaran agama, 2.414 buah belum menerima pengajaran agama, memiliki guru agama sebanyak 232 orang dan masih terdapat kekurangan sekitar 1.500 orang guru agama.
2. Jumlah Sekolah Lanjutan sebanyak 73 buah, 11 buah sudah menerima pengajaran agama, 62 buah belum menerima pelajaran agama, memiliki guru agama sebanyak 11 orang dan terdapat kekurangan sekitar 60 orang.
3. Jumlah Madrasah sebanyak 1.727 buah dengan rincian 1.452 sudah mendapat bantuan, 275 belum mendapat bantuan, dengan jumlah guru yang ada 6.776 orang dan jumlah murid 260.540 orang.
4. Jumlah Pengajian (termasuk Pondok, Pesantren) sebanyak 7.400 buah yang kesemuanya belum mendapat bantuan, jumlah guru sebanyak 7.329 dan jumlah murid 211.219 orang.
5. Sedangkan untukjumlah murid-murid PGA di Jawa Tengah adalah
a. Magelang : 124 orang
b. Salatiga : 166 orang
c. Kudus : 80 orang
d. Pekalongan (gemengd) : 181 orang e. Purbalingga : 215 orang f. Surakarta Daerah : 242 orang g. Surakarta Kota : 169 orang
Dalam Konperensi Dinas ke II di Malang tanggal 15 s/d 20 Nopember 1951, Jawa Tengah membawa 4 orang dari undangan yang sebenarnya hanya 3 orang. Hal ini disebabkan karena perintahnya semula supaya membawa 2 orang,
kemudian disusul perintah ke dua supaya membawa 3 orang ditambah lagi 1 orang inspektur. Jawa tengah yang mula-mula memakai nama Jawatan
Karena itu kekuasaan yang sudah diberikan untuk mengangkat pegawai-pegawai dipergunakan dengan baik. Alhasil 32 kantor diseluruh Propinsi Jawa
Tengah sudah selesai dikerjakan penyusunannya dan pengangkatan-pengangkatan pegawai sudah dilaksanakan. Kesulitan-kesulitan yang dialami adalah :
a. Pusat memerintahkan supaya di Kabupaten-kabupaten diadakan satu Penilik, tetapi Jogja memerintahkan 2 Penilik, ini mana yang betul ?
b. 40 orang keluarga Kantor Pendidikan Agama Solo terlantar karena belum diangkat maka diharap beslitnya segera diselesaikan.
Tahun 1951, pembentukan KUA-KUA di kota-kota besar meskipun telah disetujui tetapi belum bisa dilaksanakan, karena hal itu tidak mempunyai dasar. Pendirian KUA-KUA di Kota Besar sebagaimana disiapkan dalam
Intellingsbesluit Nomor 13/1951, baru pada tahun 1952 dapat dilaksanakan. Sebenarnya pada tahun 1951 pembentukan KUA-KUA tersebut sudah dipersiapkan berdasarkan surat kawat yang dikirimkan ke Propinsi Jawa Tengah, dan diharapkan agar pada permulaan tahun 1952 KUA-KUA tersebut sudah dapat diselenggarakan.
Disamping adanya kesulitan-kesulitan membentuk KUA-KUA kecamatan di Jawa Tengah ini, ada lagi kesulitan lain, yaitu dalam memperoleh tenaga administrasi. Jikalau instansi pemerintah yang lain seperti Pamong Praja saja daerah itu masih kekurangan tenaga administrasi, maka KUA sebagai instansi termuda lebih merasa kesulitan lagi untuk memperoleh tenaga. Hal ini disebabkan karena pendidikan rakyat pada umumnya tidak mendapat perhatian yang layak dari pemerintah Hindia Belanda dahulu. Sekolah Lanjutan Pemerintah baru saja berdiri, sedangkan madrasah hanya mempunyai sifat pendidikan yang menuju kepada penyiaran agama saja. Diharapkan KUA-KUA itu nantinya dapat diisi oleh tenaga-tenaga dari daerah itu sendiri, untuk menjaga perasaan kedaerahan. Untuk menjaga jangan sampai apa yang sudah dikerjakan itu berjalan, maka perlu segera diadakan pengangkatan pegawai terutama pimpinannya.
KUA mempunyai hubungan vertikal hierarkis dengan instansi lainnya, karena itu KUA-KUA hanya bertanggung jawab kepada KUA-KUA di atasnya. Sedangkan untuk hubungan dengan instansi lain, misalnya masalah keamanan, keagamaan dan sebagainya, KUA tidak perlu menunggu perintah dari atasannya atau sampai diminta bantuannya oleh instansi lain. KUA agar berinisiatif langsung mengambil langkah-langkah yang perlu.
Berdasarkan Penetapan Menteri Agama Nomor 38 Tahun 1952 tentang rincian tugas.dan pembagian pekerjaan dalam bagian-bagian dari Kantor Pusat Jawatan Urusan Agama Islam dan dari Kantor cabangnya di daerah, maka dalam pasal 2 nya ditentukan bahwa Kantor Urusan Agama Propinsi terdiri dari:
1. Bagian Sekretariat (Seksi Sekretariat, Arsip, TikcreylExpedisi, Subbag 2. Keuangan dan Kepegawaian).
3. Bagian Kepenghuluan (Seksi Umum, NTR, Organisasi dan Hubungan Masyarakat).
4. Bagian Kemasjidan (Seksi Umum, Bangunan/ Pemeliharaan, Kas Masjid dan Pengurusan).
7. Bagian Roma Katholik.
Pada tanggal 14 s/d 18 April 1950 di Yogyakarta diadakan Konperensi Jawatan Agama se-Indonesia. Konperensi itu mempunyai maksud dan tujuan untuk mendapatkan bahan yang selengkapnya guna pedoman, langkah dan tindakan Kementerian Agama R.I.S dan R.I Yogya yang kini lapangan pekerjaannya meliputi seluruh Indonesia.
Adapun utusan dari Kantor Agama Jawa Tengah sebanyak 7 orang, Yaitu :
1. K. H. Saefudin Zuhri 2. KRH.Iskandar 3. J. Wijo Kisworo 4. Wahyono 5. Wardoyo 6. Abdul Jalil (Pati)
7. H. Munawar Cholil (Semarang)
Utusan tersebut menyampaikan laporan sebagai berikut :
1. Mengenai keadaan daerah Jawa Tengah sebagai RECOMBA, hanya beberapa daerah dari tiga buah Karesidenan : Banyumas, Pekalongan dan Semarang. Djawatan Agama RECOMBA tidak ada. Hanya ada seorang adviseur dan tidak mengatur urusan agama sampai ke Kabupaten-kabupaten. Soal agama di Kabupaten-kabupaten diurus oleh Bupati-Bupati seperti jaman dahulu, Penghulu tidak dapat mengurus banyak-banyak soal-soal, sedikit urusan hanya sekitar NTR saja, tentang Pengadilan Agama tidak ada sama sekali.
2. Tentang penyiaran radio, Kementerian Agama agar campur tangan dalam pemanfaatan radio.
3. Kementerian Agama agar mengontrol yang lebih luas, seperti pembacaan ayat AI Qur'an, seolah-olah tidak ada ahli pembaca AI Qur'an di negeri kita, agar dapat mengimbangi siaran-siaran gereja. Dalam hari-hari besar Masehi, semua pemancar radio menyiarkan pidato-pidato gereja, sehingga suasana hari itu terlihat tampak sekali suasana kegerejaan.
Kantor Jawatan Agama Propinsi Jawa Tengah ditekankan sebagai berikut : Politik Agama.
Mempersatukan kembali umat !slam yang telah dipecah-pecah oleh pihak imperialis, karena kita berkeyakinan bahwa umat Islam tak dapat dipisah-pisahkan. Karena perbedaan CO dan NO yang berakibat melemahkan kekuatan umat Islam.
Mempererat hubungan umat Islam dengan pemerintah, terutama kyai dan pimpinan tentara yang tadinya tampak ada tanda-tanda yang tegang, mungkin akan menimbulkan kejadian-kejadian separatis di daerah-daerah tingkat Il se-Jawa Tengah.
Kepenghuluan
Sekitar lapangan kepenghuluan hanya terdapat beberapa kesukaran di suatu daerah tentang dwipraja.
Penerangan
Pendidikan
Dasar lahirnya Undang-undang Nomor 4 Tahun 1950 tentang Pokok-pokok Pendidikan, adanya tanda-tanda bahwa dari pihak yang tidak menyukai pelajaran agama di sekolah negeri, maka dengan tegas telah kita umumkan dalam pers tentang pelajaran agama yang segera kita adakan di sekoiah-sekolah negeri (kecuali kepada anak-anak/murid-murid pegawai agama bukan Islam dan pernyataan orang tua murid yang tiada menghendakinya).
5. Masalah Haji
Sejak tahun 1942 bangsa kita, terutama penduduk daerah Tk II se-Jawa Tengah tidak mempunyai kesempatan yang leluasa untuk menunaikan ibadah haji. Hal ini berdasarkan Maklumat Kementerian Agama nomor 4 Tahun 1947, pada prinsipnya Kementerian Agama akan mengangkut jamaah haji, tetapi berhubung suasana setiap hari bertambah genting, maka pemerintah menghentikan penyelenggaraan haji, setelah mendengarkan fatwa ulama NU yang memutuskan haram naik haji, sebab kaum muslimin harus mempertahankan keamanan negaranya dan ibadah haji bisa diundur.
Dan kemudian berdasarkan surat Kementerian Agama Nomor 79/A/B.2 tanggal 09 Pebruari 1950 umat Islam dapat menunaikan ibadah Haji.
Bapak K.H. Syaifudin Zuhri selaku Kepala Jawatan Agama Propinsi Jawa Tengah menegaskan :
“Sesuai informasi dari J.M. Haji Rosyidi di Cairo, yang baru-baru ini datang ke Djogdja, ada anggapan bangsa Arab terhadap bangsa Indonesia pada waktu ini, sama dengan anggapan kita dahulu terhadap bangsa Jepang, ketika Jepang dapat mengalahkan bangsa Rusia. Anggapan itu memberi kewajiban terhadap kita yang amat berat, kita harus dapat menempatkan diri jika kita tidak ingin merosot derajat kita di mata mereka. Oleh karena itu, kita lebih baik mengirim sedikit orang-orang naik haji, tetapi terhormat dari pada kita mengirim banyak orang-orang ke tanah suci, tetapi diperlakukan sebagai kambing dan banyak yang terlantar".
Adapun penetapan kuotum/kuota untuk Jawa Tengah dan DIY pada tahun 1950 adalah :
1. Semarang : 350 orang 2. Pati : 250 orang 3. Surakarta : 250 orang 4. Kedu : 250 orang 5. Pekalongan : 300 orang 6. Banyumas : 250 orang 7. DIY : 250 orang Jumlah : 1.900 orang
Sedangkan sarana transportasi pada waktu menggunakan kapal laut melalui pelabuhan Semarang yang memakan waktu selama 2,5 bulan
dengan tarip perongkosan sebagai berikut : Kelas DEK : Rp 3.395,14
Pada Konperensi Penerangan Agama Di Yogyakarta pada tanggal 5-9 Agustus 1950 yang menjadi utusan dari Jawatan Agama Propinsi Jawa Tengah adalah : 1. S. Syaifudin (Propinsi Jawa Tengah)
2. Moh. Ridwan (Propinsi Jawa Tengah) 3. Moh. Nasturi (Pekalongan)
4. KH. Munawar Cholil (Semarang) 5. Suhudi ( Surakarta Kota)
6. Moh. Asror (Surakarta)
7. Moh. Amir Thoha (Surakarta) 8. Siswosudarmo (Surakarta) 9. S. Sagaf AI Djufry (Kedu) 10. Adnan Harun (Kedu) 11. Sidiq Junaidi (Pati)
12. Moh. Ahrom Mustofa (Pati) 13. Karim (Rembang)
14. Masyhud (Kudus) 15. Fadhlan (Jepara) 16. Iskak Munawar (Blora) 17. Abdul Hamid (Blora) 18. Asmuni Cholil (Pati)
Negara Kesatuan Republik Indonesia secara formal terbentuk pada tanggal 17 Agustus 1950, dan secaraa politis, semua bagian dari Kementerian Agama dianggap sudah bersatu. Namun dalam prakteknya baru dapat dilaksanakan beberapa bulan setelah tanggal 17 Agustus 1951. Untuk mempersatukan itu perlu diadakan persetujuan antara Menteri Agama R.I. (Yogya) dan Menteri Agama R.I.S. yang memuat pokok-pokok :
1. Tentang pembagian pekerjaan antara Jogjakarta dan Jakarta.
2. Pembagian pekerjaan sementara antar bagian-bagian di Jogjakarta dan Jakarta (Maklumat Menteri Nomor 1 Tahun 1950).
Berdasarkan Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 1951 ada tiga Jawatan, yaitu :
1. Jawatan Penerangan Agama. 2. Jawatan Urusan Agama. 3. Jawatan Pendidikan Agama.
Karena pusat Kementerian Agama sudah ada 3 Jawatan, maka di Propinsi Jawa Tengah terdapat 3 instansi dari Kementerian Agama, yaitu :
1. Kantor Urusan Agama Propinsi. 2. Kantor Penerangan Agama Propinsi. 3. Kantor Pendidikan Agama Propinsi.
Ketiga kantor tersebut mempunyai sangkut paut yang erat antara satu dengan lainnya yang ditetapkan oleh Kepala Kantor Agama Propinsi Jawa Tengah sebagai Koordinator.
Kantor Agama Propinsi Jawa Tengah menempati/mempunyai kantor bersama dengan kantor Gubernur Jawa Tengah di Jalan Pemuda Nomor 38 Semarang (Sekarang Kantor Dirjen Anggaran Semarang). Pada waktu itu yang menjabat sebagai gubernur Jawa Tengah adalah Bapak R. Budiono.
Hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan atau Bagian C di Kantor Agama Propinsi Jawa Tengah mulai tariggal 1 Januari 1951 sudah tidak ada lagi, dan menjadi Kantor Pendidikan Propinsi. Sedang Kepala Bagian C untuk sementara menjadi pemangku jabatan Kepala Kantor Pendidikan Agama Propinsi.
Dengan perubahan struktur tersebut, mempengaruhi formasi pegawai sebagai berikut :
1. Kantor Pusat Jawatan Agama 100 orang pegawai. 2. Kantor Urusan Agama Propinsi 40 orang pegawai.
Koordinator Agama Propinsi 6 orang pegawai.
3. Kantor Pendidikan Agama Propinsi 64 orang pegawai.
4. Kantor Penerangan Agama Propinsi 21 orang pegawai (termasuk Propinsi Jawa Tengah).
Berdasarkan Ketetapan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 1951 yang diberi hak untuk mengangkat pegawai adalah Kepala Kantor Urusan, Pendidikan dan Penerangan; terbatas pada pegawai golongan III ke bawah. Dan mulai tanggal 1 Januari 1951 Kantor Karesidenan tidak berhak mengangkat pegawai dan semuanya ditarik ke Kantor Propinsi.
Berdasarkan Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 1952, susunan Jawatan Urusan Agama terdiri dari
1. Kantor Pusat Jawatan.
2. Kantor Urusan Agama Propinsi.
3. Kantor Urusan Agama Kotapraja Jakarta. 4. Kantor Urusan Agama Dl Yogyakarta.
5. Kantor Urusan Agama Daerah, Kabupaten dan Kecamatan.
Karena hanya Jawatan Urusan Agama yang mempunyai susunan lengkap sampai kecamatan, maka status Kantor Urusan Agama menjadi Koordinator.
Untuk kedudukan Jawatan Pendidikan Agama sangat penting sekali.
karena lapangan pekerjaannya belum pernah diselenggarakan oleh pemerintah Hindia Belanda dahulu. Jadi Jawatan Pendidikan Agama mengadakan yang sebelumnya tidak ada.
Adapun Jawatan Penerangan adalah sebagai kelanjutan dari
perkernbangan Bagian Penyiaran dan Penerangan Kementerian Agarna yang dibentuk pada permulaan bulan September 1946. Dan tahun 1948 dibentuk Seksi Penerangan Daerah yang mempunyai tugas melaksanakan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa sebaik-baiknya dalam masyarakat. Sesuai dengan Penetapan Menteri Agama nomor 3 Tahun 1950, tugas Penerangan adalah:
1. Mempertinggi kesadaran ummat dalam hidup bernegara, bermasyarakat dan hidup beragama.
2. Memberi penerangan dan penyiaran ajaran-ajaran agama guna mempertinggi budi pekerti masyarakat berdasarkan ajaran-ajaran agama.
lain bahwa Bagian Kristen akan dipindah ke Jakarta dan diberi nama dengan huruf menjadi Bagian D.I nama yang belum dipakai di daerah Karesidenan/Kotapraja. Setelah Menteri Agama pertama Negara Kesatuan yang sekarang ini,Bagian Kristen menjadi D dan sebagian sampai ke daerah (seperti daerah Surakarta). Ketika itu pembentukan Bagian Kristen di Kantor Propinsi masih dalam permulaan. Dasar pembentukannya adalah :
1. Adalah suatu kenyataan bahaw Indonesia ini kedapatan berbagai aliran dan golongan gereja yang cukup.
2. Masalah yang timbul berkenaan dengan agama Kristen yang dihadapkan kepada pemerintah harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya.
3. Adanya Bagian Kristen dalam susunan Kementerian Agama itu secara politis dapat menguatkan kedudukan negara dan pemerintah kita.
Masalah yang berkaitan dengan haji, Menteri Agama R.I.S. dengan suratnya nomor A.III/11164 telah menunjuk PHI sebagai satu-satunya badan sah untuk bekerja membantu instansi pemerintah menguruskan segala sesuatu yang berhubungari dengan Urusan naik haji dan bertanggung jawab kepada Kementerian Agama.
Di samping itu mengenai Peradilan Agama dan Jawatan Urusan Agama di Propinsi dan daerah pada prinsipnya dalam masalah hukum tidak dapat dicampuri. Yang boleh dicampuri hanyalah mengenai administrasinya saja.
Perlu diketahui, pada akhir tahun 1953 Kantor Urusan Agama Propinsi. Jawa Tengah yang berada dengan satu lokasi Kantor Gubernur Jawa Tengah di Gedung Papak, Jl. Pemuda No. 38 Semarang mengalami kebakaran. Semua arsip tidak dapat diselamatkan. KUA Propinsi pindah di Hotel Djogdja, JI. Patimura Nomor 7 dan PHI JI. Kranggan Barat Nomor 169 Semarang dan Kantor Jawatan Pendidikan berkantor di JI. Dr. Cipto Semarang (di depan Kantor Departemen Agama Kotamadya Semarang).
Keberhasilan-keberhasilan di bidang penerangan pada periode ini, antara lain : 1. Penerangan radio sebanyak 450 kali atau rata-rat tiap tahunnya sebanyak 90
kali.
2. Membuat WARNA WARTA AGAMA.
3. Menerbitkan serie pers mengenai agama dan kebudayaan.
4. Bibliotheek dengan 478 buku bahan melaksanakan ceramah kewanitaan. 5. Terbentuknya Penyuluh Masyarakat pada tanggal 1 Nopember 1952.
Melaksanakan ujian penghulu pada akhir tahun 1953 oleh MIT. Keberhasilan lain K. H. Syaifudin Zuhri yang menonjol adalah :
1. Mengusulkan dan menempati Kantor Urusan Agama Propinsi Jawa Tengah di Gedung Papak Nomor 38 bergabung dengan Kantor Gubernur Jawa Tengah.
2. Membeli sebidang tanah dan rumah di Jl. Maluku II/1 Semarang (sekarang menjadi Wisma AI Ikhlas Medoho).
BAB IV
PERKEMBANGAN KANTOR URUSAN AGAMA PROPINSI JAWA
TENGAH PERIODE K.H. MUSLICH (1954- 1956)
K.H. Muslich yang lahir pada hari Minggu Wage, bulan Nopember 1910 di Desa Tambak Negara, Rawalo,Banyumas, merupakan salah satu tokoh aparat Kementerian Agama sejak tahun 1946. Beliau memulai kariernya sebagai Penghulu pertama yang berkantor di Cilacap, kemudian dipindahkan ke karesidenan Madiun. Sebagai Mayor Penghubung Komandan Divisi Brawijaya yang dijabat Kolonel Sungkono. Beliau merangkap sebagai Wakil Kepala Kantor Urusan Agama Propinsi (KUAP) Jawa Tengah dan pada tahun 1949 diangkat sebagai Kepala KUAP Jawa Tengah. Tahun 1950 dipindahkan ke Divisi Diponegoro Semarang, dan tahun 1951 pindah ke Kementerian Agama. Kemudian pada tahun 1953 Beliau pindah lagi ke Sumatra Tengah sebagai Kepala KUAP Sumatra Tengah dan pada tahun 1954 Beliau diangkat sebagai Kepala KUAP Propinsi Jawa Tengah menggantikan K.H. Syaifudin Zuhri.
Karena adanya peristiwa kebakaran pada akhir tahun 1953, Kantor Uru san Agama Propinsi Jawa Tengah yang semula berkantor di Gedung Papak, Jl. Pemuda 38 maka kantor tersebut dipindah ke Hotel Djogdja, JI. Patimura Nomor 7 dan gedung PHI, JI. Kranggan Barat Nomor 196 Semarang.
Pada tahun 1955, K.H. Muslich berusaha membangun kantor yang baru. Maka dibangunlah Kantor Agama Propinsi Jawa Tengah di JI. Patimura Nomor 5 Semarang, dengan biaya yang berasal dari NTR (Nikah, Talak dan Rujuk). Karena menggunakan/memanfaatkan uang NTR untuk pembangunan gedung Kantor Agama Propinsi Jawa Tengah tanpa meminta ijin ke Kas Keuangan (tidak setor ke kas negara), maka Beliau terpaksa berurusan dengan pihak yang berwajib.
K.H. Muslich dibantu oleh R.D. Danuwiyoto sebagai pimpinan Sekretariat. Pada tahun tersebut, keluarlah Undang-undang Nomor 32 Tahun 1954 yang memberlakukan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1946 tentang pencatatan Nikah, Talak dan Rujuk (NTR) untuk seluruh wilayah Indonesia. Untuk wilayah Propinsi Jawa Tengah pencatatan NTR tersebut berjalan dengan lancar dan tertib. .
Semarang, maka mulai tahun 1955 berlaku rencana pembangunan lima tahun.
Adapun mengenai struktur organisasi Kantor Agama Propinsi Jawa Tengah pada waktu itu, tidak mengalami perubahan, sedang lapangan pekerjaannya tetap mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1952 jo Peraturan Menteri Agama Nomor 9, 10, 31 dan 39 Tahun 1952 dengan skala prioritas ikut membantu dan menyukseskan Pemilu tahun 1955 dan membangun kantor-kantor yang representatif di samping mengusahakan terlaksananya program-program sebagai berikut
Bidang pendidikan, dengan melaksanakan kebijakan Menteri Agama mengenai masalah pendidikan, di antaranya :
Perubahan masa belajar PGA menjadi 6 tahun yang dibagi dua : Bagian pertama, dari kelas I s/d IV = 4 tahun.
Bagian Atas,dari kelas V dan VI = 2 tahun.
Berkenaan dengan berlakunya Undang-undang Nomor 12 Tahun 1954, maka diusahakan di Propinsi Jawa Tengah :
Usaha persiapan pelaksanaan kewajiban belajar di lingkungan Jawatan Agama.
Melaksanakan pengajaran agama pada sekolah umum. Menjadikan pondok pesantren sebagai sasaran pendidikan.
Bidang perkawinan, dengan mengadakan P3NTR (Pembantu Pegawai Pencatat Nikah, Talak dan Rujuk) di desa-desa seluruh Jawa Tengah.
Mengikuti Konperensi Kementerian Agama ke VI di Tretes Malang, tanggal 25 s/d 30 Juni 1955.
Melaksanakan pencatatan perwakafan.
Mensosialisasikan Penetapan Menteri Agama Nomor 6 Tahun 1956 tentang hari didirikannya Kementerian Agama RI adalah pada hari Kamis tanggal 03 Januari 1946 bertepatan dengan tanggal 29 Muharram 1364 H.
Berdasarkan Penetapan Menteri Agama Nomor 14 Tahun 1956, mulai 01 Agustus 1956 tempat kedudukan inspeksi Agama Wilayah VI dipindahkan Jari Yogyakarta ke Semarang, dengan demikian tugas Inspeksi Pendidikan mulai efektif.
Memberangkatkan Majelis Pimpinan Haji Jari Jawa tengah sebanyak 2 or ang, yaitu Sulaiman (PHI Kendal) dan H. Zein (PHI Rembang). Di samping itu, juga mengirimkan seorang petugas di Arab Saudi Hejaz atas nama Ayub Hasan dari PHI Jawa Tengah, sesuai dengan PMA Nomor 11 Tahun 1956. Dan sesuai KMA Nomor 4 Tahun 1955 memberangkatkan haji, antara lain :
K.H. Muslich (PMPH) H.M. Saleh (Kudos MPH)
Mustani Rushi (Semarang MPH)
Abdul Kadir Zaenal (Tegal, sebagai petugas MPHI di Jeddah).
Berdasarkan KMA Nomor 3 Tahun 1955, K.H. Muslich sebagai Wakil ketua merangkap anggota merencanakan konsepsi keamanan daerah Aceh untuk bulan Ramadhan.
1. Memelihara koordinasi dan menjaga kekuasaan di antara kantor-kantor instansi di dalam Kementerian Agama di daerah masing-masing.
2. Menyeragamkan KUA di daerahnya.
Sedangkan Kantor Urusan Agama Propinsi adalah : 1. Sebagai lnspektorat Pusat Kementerian Agama.
2. Menjelaskan koordinasi, antara semua Kantor Cabang dan semua Jawatan. 3. Menjalankan tugas dan lapangan pekerjaan Jawatan Urusan Agama dalam
daerah yuridiksinya
4. Mengurusi soal-soal uang mengenai agama Masehi, Urusan Haji, perkumpulan agama, dan aliran-aliran keagamaan serta kebatinan lainnya, yang tidak termasuk agama Islam atau Masehi menurut petunjuk dari Pusat Kementerian Agama.
5. Memimpin Koordinator Urusan Agama Daerah yang termasuk wilayahnya, Kantor urusan Kabupaten/ Kotamadya dan Kecamatan.
Selama kepemimpinan Bapak K.H. Muslich, pada Jawatan Urusan Agama Propinsi Jawa Tengah menemui berbagai masalah, di antaranya :
1. Kitab Pedoman Munakahat.
2. Peraturan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 1952 tentang Wali Hakim, supaya ditinjau kembali.
3. Masih ada daerah yang tidak mempunyai Naib.
4. Undang-undang perkawinan campuran perlu disempurnakan, karena masih ada kesulitan di lapangan.
5. Administrasi kantor hendaknya diseragamkan dengan contoh-contoh tertentu. 6. Soal bedolan belum ada ketegasan dari Jawatan Urusan Agama Pusat.
7. Tentang pengangkatan penghulu belum ada lizen tertentu tentang pendidikan. 8. Balai perkawinan di Kecamatan belum lengkap peralatannya.
9. Badan Pengawas Kas Masjid belum ada SK Pengangkatannya.
10. PMA Nomor 3 Tahun 1953 tentang PKM, mengenai soal pengangkatan PKM supaya ditinjau kembali.
11. Masalah perbatasan umur perkawinan dan berkaitan dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1953 tentang Pemilihan Umum.
12. Masalah pegawai msih kurang dan pegawai harian/bulanan belum diangkat.
Pada tahun 1955, Propinsi Jawa Tengah menerima bantuan dari kas masjid untuk dipergunakan
1. Memperbaiki makam Sunan Kudus Rp 6.666,66. 2. Memperbaiki makam Sunan Muria Rp 6.666,66. 3. Memperbaiki makam Sunan Kalijaga Rp 6.666,66.
Sedangkan pada tahun 1956, 3 makam tersebut mendapatkan bantuan lagi sebanyan masing-masing Rp 5.555,50.
Berkenaan bengan berlakunya Undang-undang Nomor 12 Tahun 1954 tentang pendidikan maka diperlakukan :
1. Usaha persiapan pelaksanaan kewajiban bekerja di lingkungan masing-masing 2. Pelaksanaan pengajaran Agama di sekolah-sekolah umum berdasarkan
Keputusan Menteri PP dan K dan Menteri Agama.
Sedangkan keberhasilan yang sangat menonjol adalah dibangunnya gedung Kantor Urusan Agama Propinsi Jawa Tengah yang sangat megah pada waktu itu, di Jalan Patimura Nomor 5 Semarang (melalui Keputusan Menteri Agama ditetapkan menjadi gedung MAN 2 Semarang, sedang gedung MAN 2 Semarang yang semula gedung PGAN Semarang di Jalan Sisingamangaraja Nomor 5 Semarang, menjadi gedung Kanwil Dep. Agama Propinsi Jawa Tengah pada periode H. Halimi AR)
BAB V
PERKEMBANGAN KANTOR URUSAN AGAMA PROPINSI JAWA TENGAH PERIODE K.H. A. ZABIDI (1956 - 1957)
K.H. Zabidi yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Mahkamah Islam Tinggi di Solo diangkat sebagai kepala Kantor Urusan Agama Propinsi Jawa Tengah menggantikan K.H. Muslich, yang dipromosikan ke Jakarta. Pada periode ini yang menjabat sebagai Pimpinan Sekretariat adalah R. Hadi Suyanto.
Pada waktu ini Rancangan Pembangunan Lima Tahun di Kementerian Agama tahun 1955 - 1959 dalam pelaksanaan. Kantor Urusan Agama Propinsi Jawa Tengah pada periode ini telah mempunyai kantor yang besar\megah meskipun belum sempurna. Karena situasi yang kurang mendukung yang disebabkan antara lain
adanya Mu‟tmar Alim Ulama di Palembang, maka penyempurnaannya belum dapat
dilaksanakan.
Adapun kegiatan yang telah dilakukan antara lain:
Koordinasi/kerja sama dengan pihak-pihak sipil, militer dan instansi lainnya, memberikan bantuan ke masjid-masjid dan gereja yang membawa efek dan kesan positif bagi umat beragama di Propinsi Jawa Tengah meskipun bantuan itu belum sesuai dengan yang diharapkan umat beragama, sedangkan zakat, wakaf dan baitul mal berjalan dengan baik.
2. Melaksanakan pembinaan/bimbingan kepala aliran-aliran kepercayaan yang ada di Jawa Tengah.
3. Di bidang kepegawaian, formasi yang sudah ditetapkan untuk KUAP Jawa Tengah hampir 80 % sudah dapat diisi dengan tenaga dari daerah dan pusat, antara lain dari lulusan Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN). Umumnya tenaga dari daerah dari golongan C ke atas datang dari pegawai instansi lain memohon untuk overgang bekerja ke kantor KUAP Jawa Tengah karena sesuai dengan cita-citanya.
4. Kondisi keamanan di Propinsi Jawa Tengah pada umumnya dalam kondisi aman, tetapi masih ada sedikit gangguan yang dapat diatasi berkat kerja sama dann koordinasi dengan instansi terkait serta semangat masyarakat dalam bergotong royong.
5. Dalam biang pendidikan, pada umumnya menunjukkan kenaikan, tetapi masih ada kendala, yaitu kurangnya alat, lokal dan, tenaga.
6. Melaksanakan kursus-kursus naib sesuai dengan PMA Nomor 10 Tahun 1957 tentang kursus nikah.
7. Menyampaikan perubahan Kota Besar di Jawa Tengah, dirubah menjadi Kotapraja sesuai PMA Nomor 57 Tahun 1957.
8. Sesuai KMA Nomor 5 Tahun 1957, Kantor Urusan Agama Propinsi Jawa Tengah telah memberangkatkan Sdr. M. Muchsin menjadi anggota Majelis Penasehat Haji (MPH) tahun 1957.
9. Melaksanakan INMA Nomor 3 Tahun 1957 tentang keadaan darurat perang untuk seluruh wilayah Indonesia.
10. Melaksanakan INMA Nomor 8 Tahun 1957 tentang tugas penerangan Kementerian Agama. Ini untuk menangkal hash Mu'tamar Alim Ulama di Palembang yang isi maklumat tersebut antara lain menyatakan bahwa orang Islam penganut faham komunis adalah kafir. Untuk mengingatkan bahwa keputusan-keputusan Mu'tamar Alim Ulama itu bukanlah merupakan keputusan pemerintah Cq. Kementerian Agama, dan untuk menghindarkan segala ketegangan-ketegangan yang mungkin timbul di kalangan masyarakat. maka semua pegawai di jajaran Kantor Agarna Propinsi Jawa Tengah tidak dibenarkan turut serta menyiarkan hash Mu'tamar Alim Utama di Palembang dan tetap berpedoman pada peraturan yang berlaku di lingkungan Kementerian Agama.
11. Situasi pada awal tahun 1957 agak kurang kondusif, disebabkan lahirnya Keppres. Nomor 40 Tahun 1957 tentang keadaan darurat perang untuk seluruh wilayah Republik Indonesia. Berkaitan dengan hat tersebut, lahirlah INMA Nomor 3 Tahun 1957, yang antara lain berbunyi „……. agar dipelihara kebijaksanaan-kebijaksanaan Kementerian Agama dalam soal menjamin prinsip kebebasan agama dan dalam memegang teguh cara-cara
hendaknya diusahakan tetap utuhnya susunan dan organisasi
Kementerian Agama …..”
BAB VI
PERKEMBANGAN KANTOR URUSAN AGAMA PROPINSI JAWA TENGAH PERIODE K.H. ZUBAIR (1957 -1962)
Dalam masa sesudah Konperensi Tretes sampai saat ini, pimpinan kantor telah berganti dari Sdr. K.H.Syaifudin Zuhri, K.H. Muslich, K.H. A. Zabidi dan K.H. Zubair. Mula-mula Kantor Urusan Agama Propinsi Jawa Tengah berkantor bersama-sama dengan Kantor Gubernur di Gedung Papak. Setelah terjadi kebakaran Gedung Papak pada akhir tahun 1953, kantor terpaksa dipindah-pindah dari
Hotel Djogdja Jl. Pattimura Nomor 7, Gedung PHI, Jl. Kranggan Bart Nomor 169 dan akhirnya pindah di kantor baru di Jl. Patimura Nomor 5 Semarang. Kantor Urusan Agarna Propinsi Jawa Tengah berkumpul menjadi satu dengan Kantor Pendidikan Agama Daerah Tk. I dan Inspenda Wilayah VII.
Tengah, dan instansi-instansi niveau Propinsi Jawa Tengah terutama dengan Dinas-dinas Mental.
Panglima aktif memimpin rapat-rapat koordinsi yang merundingkan soal-soal keamanan daerah dan aliran-aliran kepercayaan yang tidak sehat. Dalam hal ini kepala KUAD Tingkat I Jawa Tengah menjadi anggota aktif Badan Koordinasi Keamanan Daerah Darurat Perang/Daerah Perang. Di samping itu menjadi pula anggota aktif badan-badan koordinasi kesejahteraan sosial, badan koordinasi kesejahteraan kanak-kanak, dan badan koordinasi pemberantasan buta huruf.
Dalam penyelenggaraan hari-hari besar Islam kita selalu kerja sama erat dengan bagian Rohani Islam Kodam VII dan Rohani Islam Korem Semarang.Tiap-tiap penyelenggaraan perayaan hari besar Islam selalu kita undang Panglima, Gubernur\KDH Jawa Tengah, dan para Kepala-kepala Jawatan niveau Propinsi, serta mendapat perhatian baik sekali.
Dalam menghadapi aliran-aliran kepercayaan tidak sehat yang banyak terdapat di Jawa Tengah, kita mendapat bantuan pengawasan dari Kejaksaan Jawa Tengah, Kodam VII, CPM, Polisi, dan Pamong Praja.
Menghadapi pembangunan semesta menurut pola Manipol/Usdek, terutama menghadapi pembangunan masyarakat desa, KUAD Tingkat I Jawa Tengah turut aktif duduk sebagai anggota Badan Koordinasi PMD di Propinsi. Hanya sayang pada tahun-tahun yang lalu kita selalu mengalami kesulitan dalam pembiayaan proyek-proyek yang telah ditetapkan bersama, mengingat untuk keperluan tersebut tidak tersedia biaya dari Departemen Agama, padahal dari departemen-departemen lainnya selalu tersedia biaya-biaya mengenai proyek-proyek dalam bidangnya masing-masing. Hal ini perlu kiranya mendapat perhatian lebih balk di hari-hari mendatang.
Juga pimpinan Sekretariat dalam masa seperti tersebut di atas mengalami beberapa pergantian. Pertama-tama dipegang oleh Saudara. R. Abdullali Muhammad Dirdjo, berturur-turut berganti kepala Saudara R. D. Danuwiyoto, Saudara R.Hadisoejanto dan kini berada ditangan Saudara R.S. Adiwarjona. Dalam pembagian tugas Kepala Sekretariat mewakili Kepala Kantor sewaktu-waktu Kepala berhalangan, dan mempunyai tugas rutin memimpin teknis dan administrasi kantor, sehari-hari dan mengawasi jalannya tata usaha Kaud-kaud tingkat II dan penguad dalam daerahnya.
Kantor-kantor di Jawa Tengah, pada umumnya tata usaha berjalan baik, hanya akhir-akhir ini terdapat keseretan berhubung kenaikan harga alat-alat kantor yang membubung tinggi. Guna kelancaran jalannya roda jawatan, anggaran belanja ongkos kantor perlu disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan alat yang sangat diperlukan sehari-hari.
lancar, pula akan mengakibatkan banyak terjadi kecurangan-kecurangan mengenai keuangan N.T.R. dan uang ongkos kantor.
Laporan-laporan yang berbentuk buku dan banyak berisi laporan yang bersifat pidato dirasakan kurang manfaatnya oleh daerah-daerah. Lagi pula hal ini akan memakan biaya tidak sedikit, padahal keadaan ongkos kantor guna mencukupi kebutuhan-kebutuhan rutin setiap hari saja sudah berat sekali.
Laporan-laporan akan lebih praktis jika disusun secara daftar dan berisi angka-angka yang dibicarakan, yang oleh pusat akan lebih mudah disusun menj adi statistic/grafik. Laporan-laporan yang berbentuk cerita dan penjelasan-penjelasan oleh daerah selalu dikirim jika terjadi hal-hal yang menyangkut soal keamanan, politik, aliran kepercayaan tidak sehat, sengketa kepegawaian dan kecurangan keuangan. Dan dari laporan-laporan khusus ini pusat lebih mudah menyusun instruksi/peraturan-peraturan guna memprbaiki keadaan dan menyelesaikan persoalannya secara islah.
Di daerah Jawa Tengah terdapat banyak aliran kepercayaan tidak sehat, yang pada umumnya tidak melanggar hukum negara dan tidak pula mengganggu keamanan daerah. Hanya beberapa dari organisasi tersebut yang mendapat pengawasan khusus dari KUAD Tingkat I Jawa Tengah dan menjadi perhatian juga dari pengawasan Kejaksaan Jawa Tengah, Kodam VII, Gubernur KDH Jawa Tengah dan Komandan CPM Jawa Tengah, ialah :
1. Sapta Dharma, yang mempunyai anggota yang dalam melakukan praktekpengobatan mengadakan pembedahan dengan alat senjata tajam sangatsederhana (bendo/clurit), sehingga mengakibatkan si sakit meninggal dunia. Yang menarik perhatian alat-alat negara adalah bahwa akhir-akhir ini keanggotaan Sapta Dharma itu banyak menarik alat-alat negara yangbersenjata, polisi dan tentara.
2. KWN, yang banyak terdapat di daerah Banyumas, juga telah menjadi perhatian istimewa dari Ketentaraan dan PP, karena mereka telah mendirikan balai pernikahan di Desa Mandiraja (Kab. Banjarnegara). Persoalan ini sampai saat ini masih berada di tangan pihak berwajib di Banjarnegara.
3. ADARI, di daerah Surakarta yang juga mengadakan pernikahan di kalangan para anggotanya, dan akhir-akhir ini oleh jaksa setempat diajukan di muka hakim dengan tuduhan karena uang pendapatan pernikahan tersebut tidak disetor ke kas negara. Perkaranya sampai saat ini belum tuntas.
Timur. Alangkah baiknya bila dalam konperensi dinas ini dapat diperoleh rumusan bersama untuk menghadapi aliran Darul Hadist yang dalam prakteknya bersifat memecah belah.
Sub Bagian Keuangan dalam pengalaman mengadakan inspeksi ke daerah-daerah mendapat kenyataan bahwa di daerah-daerah terdapat banyak petugas-petugas dari Sub Bagian Keuangan yang mempunyai kecakapan kurang, sehingga menyebabkan kurang lancarnya pengusutan administrasi keuangan. Guna kelancaran pengusutan/pengawasan keuangan perlu diadakan pendidikan khusus petugas-petugas inspeksi keuangan dan administrasi keuangan.
Sub Bagian Keuangan yang tadinya dapat menjalankan tugas sehari-hari dengan normal, sekarang menghadapi banyak sekali kesulitan akibat meningkatnya harga kebutuhan alat-alat kantor, sedangkan anggaran belanja tidak mendapatkan tambahan, malahan rnengalami penghematan. Hai ini betul-betul menyulitkan penyelenggaraan tugas dinas di daerah. Kadang-kadang hal ini malah sampai hampir memacetkan tata usahanya, kalau para bendaharawan tidak memberanikan dini menempuh jalan pinjam ke pihak ketiga. Dan hal inipun selanjutnya menambah kesulitan administrasi lagi, dengan timbulnya sisa kurang yang selalu memusingkan para bendahara. Patut kiranya oleh pusat diperjuangkan tambahan anggaran belanja ongkos kantor yang sesuai dengan kebutuhan.
Keadaan perlengkapan kantor KUA Kecamatan dalam daerah Jawa Tengah adalah sangat menyedihkan. Kebanyakan dari perlengkapan kantor itu merupakan barang pinjaman atau barang sewaan. Tambahan pula arsip-arsip penting mengenai NTCR yang seharusnya disimpan bertahun-tahun, sekarang terpaksa disimpan secara tidak teratur dan sangat membutuhkan lemari-lemari yang layak. Ini semua perlu mendapat perhatian dari pusat.
KUA Kecamatan dalam daerah Jawa Tengah hampir seluruhnya masih menempati perumahan-perumahan partikelir. Keadaannya jauh dari pada layak suatu kantor pemerintah. Hanya di beberapa daerah antara lain Kendal, Grobogan, Jepara dan beberapa daerah lainnya keadaan gedung KUA kecamatan agak lumayan, karena menyewa rumah-rumah yang dibangun oleh PKM setempat. Untuk selanjutnya memerlukan rencana pembangunan kongkrit mengenai Kantor-kantor Agama Kecamatan dan juga KUAD-KUAD Tingkat II pada umumnya masih menempati rumah partikelir yang tidak sesuai. Diantara yang memerlukan perhatian istimewa adalah KUAD Tk. II Temanggung, Wonosobo, Sukoharjo, Karanganyar dan PENGUAD Surakarta.
Kendaran dinas di KUAD Tingkat II sangat dibutuhkan mengingat tugas Kepala-kepala KUAD Tingkat ll selain mengadakan inspeksi dan pengawasan ke KUA Kecamatan dalam daerahnya, juga harus kerap kali mengikuti perjalanan Kepala Daerah setempat mengadakan inspeksi daerah. Dapat digambarkan bagaimana sulitnya harus menjalankan tugas dinas yang kerap kali harus menggunakan kendaraan bermotor, tetapi kendaraan tidak tersedia.
masing-masing kendaraannya. Dapat dibayangkan bagaimana perasaan seorang Kepala Jawatan Niveau Propinsi melihat Panglima, Gubernur KDH, Kepala Polisi dan Kepala-kepala Jawatan lainnya mendapat jemputan kendaraan yang cukup baik, sedangkan KUAD Tk. I terpaksa harus pulang dengan kendaraan jeep atau otto sedan yang sudah tua/fakir. Soalnya bukan mewah-mewahan, tetapi kiranya bukan maksud pemerintah yang menurut peraturan-peraturan yang berlaku memberikan tugas dinas dan tanggung jawab yang hampir sama beratnya kepada petugas di Propinsi, tetapi di samping itu memberi alat dinas (dalam hal ini kendaraan) yang jauh berbeda. Kiranya hal ini dapat dipahami oleh pusat.
Keadaan sosial para pegawai pada masa ini berhubung dengan meningkatnya harga kebutuhan hidup sehari-hari, perlu mendapat perhatian dari pusat. Antara lain untuk meringankan beban tersebut di atas. Dapat kiranya diusahakan pemberian bantuan kepada para pegawai negeri berupa distribusi barang-barang kebutuhan hidup sehari-hari dengan harga murah dan dalam jumlah yang mencukupi, misalnya beras, gula pasir, bahan pakaian, sabun cuci, minyak tanah, dsb.
Sub. Bagian Kepegawaian dalam melayani bidang kepegawaian KUAD Tingkat I sebagai alat pemerintah yang sedang tumbuh sesuai dengan perkembangan pemerintah pusat akhir-akhir ini mendapat banyak kesulitan dikarenakan perubahan formasi di daerah-daerah yang menurun (Pn. PMA Nomor 39 Tahun 1958). Ini mendapat perhatian pusat, karena tidak mungkin pekerjaan dinas berjalan lancar, lapangan-lapangan pekerjaan ditambah, tetapi tenaga-tenaga yang menjalankan tugas tersebut, formasinya dikurangi. Guna kelancaran dinas perlu diadakan tambahan formasi dari KUAD Tingkat I di KUA Kecamatan.
Formasi Bagian Kristen dan Roma Katholik yang sampai sekarang tergantung pada kebijaksanaan Kepala KUAD Tingkat I, Kepala Bagian Kristen/R.K, dan Kepala Bagian Kepegawaian Dagri juga menimbulkan kesulitan tidak sedikit pada Kepala KUAD Tingkat I. Alangkah baiknya jika hal ini diperoleh penyelesaian dalam konperensi dengan jalan menentukan formasi untuk bagian-bagian tersebut di daerah-daerah.
Dalam rangka penertiban dalam bidang kepegawaian, salah satu penghambatnya adalah belum adanya daftar ranglijst yang tersusun rapi di pusat maupun di daerah. Tanpa ranglijst yang tersusun rapi, maka mudah timbul mutasi-mutasi dan kenaikan pangkat yang bersimpang siur dan mudah menimbulkan rasa iri hati di antara para pegawai, sehingga sangat diperlukan tersusunnya ranglijst yang rapi. Menghadapi peremajaan dan pengangkatan pegawai baru terjadi pula hal-hal yang perlu diterbitkan, sehingga peremajaan tidak akan berarti penggantian tenaga-tenaga tua berpengalaman dengan tenaga-tenaga-tenaga-tenaga muda yang sama sekali tidak mempunyai pengalaman/kecakapan bekerja. Harus diusahakan pengangkatan tenaga-tenaga muda yang cakap dan jujur serta mempunyai bakat bekerja secara baik dan berdisiplin.
Guna tata tertib penyelesaian soal-soal kepegawaian perlu sekali dipegang teguh hierarki yang telah ditentukan. Penyimpangan akan menimbulkan simpang siur dan surat-menyurat yang memberatkan pengeluaran alat kantor dan tenaga.
Dalam daerah Jawa Tengah banyak terdapat tempat-tempat di mana dulu berstatus asistenan, tetapi karena suatu hal sekarang hanya dikepalai oleh seorang Mantri Polisi, dan daerahnya berstatus seperti asistenan penuh. Bagi daerah-daerah semacam hal yang telah diusulkan penentuan formasi cabang KUA Kecamatan yang sampai kini belum ada keputusan, dapat diselesaikan dalam konperensi ini. Idem formasi untuk kota-kota cabang KUA Kecamatan bentukan baru disebabkan karena keamanan/kesulitan daerah.
Terhadap para pegawai/keluarganya yang menderita sakit dan harus mendapat perawatan/pengobatan perlu sekali diadakan bantuan berwujud persediaan uang biaya pengobatan di KUAD Tingkat I dan II. Pembayaran restitusi yang harus menunggu keluarnya otorisasi dari Dagri memakan waktu terlalu lama, sehingga mengakibatkan para pegawai yang sedang mengalami kesusahan itu terpaksa harus menambah lagi kesulitan dengan pinjam uang dari pihak ketiga guna membiayai perawatan/pengobatan.
Dalam menghadapi pertumbuhan jawatan, antara lain adanya tugas tambahan dari para petugas di KUA Kecamatan mengenai penerangan yang berhubungan dengan PMD dan Haji, perlu diadakan tambahan formasi di KUA Kecamatan.
Belakangan ini berdasarkan laporan yang masuk, banyak terjadi penyelewengan mengenai pengurusan/penyetoran uang NTR yang antara lain sebabnya adalah terlambat diterima blanko-blanko NTR yang berakibat banyak NTR yang tidak mendapat surat NTR karena kehabisan blanko.
Maka guna menjaga kelancaran pencetakan/pengiriman blanko-blanko NTR dimaksud sebaiknya pencetakan blanko-blanko itu diserahkan kepada KUAD Tingkat I.
Dan beberapa orgaisasi kebatinan di Jawa Tengah, ada yang menjalankan perkawinan bagi para anggotanya dengan mengeluarkan blanko surat nikah. Hal ini, kecuali perlu ditertibkan mengenai hukum perkawinannya, banyak menimbulkan kesulitan mengenai pendaftaran anak, jika yang bersangkutan itu pegawai negeri. Seperti halnya dengan peraturan biaya sumpah, maka biaya bedolan yang berlaku mulai tahun 1956 itu perlu disesuaikan dengan keadaan sekarang. Disamping kita harus mengeluarkan peraturan-peraturan pelaksanaan mengenai bedolan yang dirasakan agak berat, supaya lambat laun pelaksanaan NTR melulu diadakan di balai pernikahan.
Akibat peremajaan pegawai banyak terdapat pegawai PPN baru yang perlu diuj i kecakapannya tentang hukum agama dan hukum munakahat, guna menjaga supaya jangan sampai terjadi kesalahan-kesalahan pelaksanaan NTR. Untuk itu perlu kiranya disusun oleh pusat bahan-bahan testing yang menguji mereka yang akan diangkat menjadi naib, dan sebagainya.
Dalam menghadapi soal-soal kemasjidan terdapat peraturan-peraturan dari pusat yang pelakanaannya kadang-kadang mengalami kesulitan karena tidak sesuai dengan keadaan setempat. Untuk selanjutnya baik kiranya sebelum dikeluarkan satu peraturan terlebih dahulu dimintakan bahan-bahan dari daerah.
lapangan agama, kerohaniari dan kebudayaan, kita merencanakan ada tiap obyek PMD didirikan masjid dan madrasah di samping bangunan-bangunan lainnya, mohon perhatian pusat tentang biayanya.
Dalam melayani bantuan-bantuan masjid banyak terjadi pengiriman bantuan langsung dari Jawatan Urusan Agama/Departemen Agama RI kepada panitia yang bersangkutan. Hal ini menyulitkan KUAD Tingkat I dan II dalam pengawasan penggunaan uang bantuan tersebut. Seyogyanya pengiriman bantuan masjid selalu lewat KUAD Tingkat I dan II.
Tanah-tanah wakaf yang hasilnya digunakan buat kemakmuran masjid mengalami banyak kesulitan, dan perlu sekali mendapat penyelesaian secara cepat. Untuk keperluan ini mohon dikirim utusan khusus Dari Jaura/Dagri guna menyelesaikan tanah-tanah wakaf dengan pemerintahsetempat. Jika penyelesaian mengenai hal tersebut tidak dapat dilaksanakan dengan cepat, kita khawatirkan tanah wakaf akan terkena landreform
Urusan Haji yang menurut Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 1960 dan Bersama Menteri Agama, Dalam Negeri, Kesehatan, Keamanan Nasional dan Veteran Nomor 8 Tahun 1960 tanggal 03 Oktober 1960 adalah merupakan tugas berat dan meliputi bidang yang luas. Berat karena langsung melayani kebutuhan puluhan ribu umat Islam dalam menunaikan peribadatannya karena pekerjaannya meliputi juga bidang-bidang luar negeri,kesehatan, imigrasi, douane, perkapalan, pergudangan dan angkutan. Oleh karena itu perlu sekali diberi status yang kuat dan organisasi yang sehat dan untuk keperluan tersebut di pusat perlu dibentuk suatu Jawatan atau Biro Urusan Haji, sedang di daerah dibentuk Bagian Urusan Haji. Guna menyusun organisasi yang sehat dan baik, diperlukan tenaga-tenaga yang jujur, mempunyai bakat dan kecakapan soal tata usaha/administrasi, mempunyai cukup inisiatif dalam menjalankan tugasnya dan supel/bijaksana dalam melayani para jamaah.
Hal tersebut di atas dapat terlaksana dengan mengadakan pendidikan khusus mengenai urusan haji kepada para petugas yang mencukukupi syarat-syarat.
Pengalaman kerja sama dengan PHI pada penyelenggaraan haji tahun 1960 membuktikan kepada kami, bahwa kerja sama tersebut tidak menghasilkan kelancaran seperti yang diharapkan, tetapi sebaliknya malahan mengakibatkan keseretan-keseretan dalam penyelenggaraan. Karena itu perlu dipertimbangkan apakah dalam penyelenggaraan urusan haji tahun 1961 masih juga akan diadakan kerja sama dengan PHI. Kami berpendapat tidak ada alasan untuk itu Andaikata masih diperlukan perlengkapan-perlengkapan yang terdapat pada PHI. Hal ini dapat diatur dengan cara menyewa (asrama, alat pemeriksaan di gudang, dan sebagainya). Sedangkan penyelenggaraan dan pimpinan seluruhnya berada di tangan KUAD Tingkat I/KUAD Pelabuhan.
Penyelenggaraan embarkasi/debarksi dalam kompleks pelabuhan(sewa gedung, perlengkapan gudang guna pemeriksaan, pengeras suara, penerangan. tenaga kuli, dsb) sebaiknya diserahkan kepada PELNI dan Agen Perkapalan beserta biayanya, karena mereka lebih ahli daiam hal tersebut. Idem mengenai biaya-biaya ekstra buat petugas-petugas dari douane.
(terutama almari untuk menyimpan surat-surat urusan haji yang penting dan berharga).
Biaya penyelenggaraan perlu diadakan rincian yang jelas sesuai dengan urgensi dan ketentuan harga pada saat ini, berpedoman pada Keputusan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 1960 tanggal 03 pebruari 1960.
Guna menjaga kelancaran, mencegah dualisme dan mengurangi pekerjaan dobel, baik kiranya untuk tahun 1962 pendaftaran pelamaran haji penyelenggaraannya diserahkan kepada Kantor-kantor Agama. Parnong Praja. dalam hal ini hanya berkewajiban memberi surat keterangan penduduk kepada calon yang akan mendaftar haji. Begitu juga mengenai pembagian kotum
Penunjukan guru-guru manasik haji ofeh KUAD Tingkat II beserta penetapan biaya Rp 10,- untuk tiap-tiap kotum menimbulkan kesulitan psikologis bagi para guru manasik dan dapat dirasakan sebagai penghargaan yang tidak seimbang, apalagi jika di ingat ada kalanya satu Kabupaten hanya mendapat kotum 3 - 5, malahan ada yang hanya mendapat 1 kotum.
Pada masa K.H. Zubair, sebelum didirikannya BP4, pada tanggal 3 Januari 1960 oleh H.S.M Nasirudin Latif, Propinsi Jawa Tengah telah ada organisasi lokal. Kemudian dikukuhkan oleh Keputusan Menteri Agama Nomor 30 Tahun 1977 dan akhirnya menjadi badan semi resmi, dengan tujuan untuk mempertinggi nilai perkawinan dan terwujudnya rumah tangga sejahtera bahagia menurut tuntunan Islam.
Sebagai usaha menuju tercapainya tujuan tersebut adalah :
1. Memberikan nasehat dan penerangan tentang NTCR kepada yang akan melakukan perkawinan serta kepada khayalak ramai.
2. Mengurusi terjadinya perceraian dan poligami.
3. Memberikan bantuan dalam menyelesaikan kesulitan-kesulitan perkawinan dan perselisihan rumah tangga menurut hukum agama.
4. Menerbitkan buku/brosur dan menyelenggarakah kursus-kursus, penataran, diskusi, seminar, dan lain-lain.
BAB VII
PERKEMBANGAN KANTOR PERWAKILAN AGAMA PROPINSI JAWA TENGAH PERIODE K.H. M. ALI MASJHAR (1962 - 1969)
Dalam periode K.H.M. Ali Masyhar yang menggantikan K.H. Zubair, sebelumnya sebagai Pengawas Urusan Agama di Kediri, ditandai setelah adanya Dekrit Presiden/Panglima Tertinggi angkatan Bersenjata pada tanggal 5 Juli 1959, yang merupakan sumber hukum yang berlaku dalam Negara Republik Indonesia, tentang kembalinya UUD 1945. Nomenklatur Kementrian Agama berubah lagi menjadi Departemen Agama atas dasar Peraturan Menteri Agama Nomor 14 Tahun 1960.
Pada saat itu, Indonesia merasakan alam demokrasi, dan pada saat ini Kantor Urusan Agama Propinsi Jawa Tengah mendapat tugas yang amat berat, karena meningkatkan program-program yang belum dilaksanakan pada periode K.H. Zubair, dengan tujuan mewujudkan masyarakat dan bangsa yang berKetuhanan Yang Maha Esa sesuai dengan UUD 1945. Dan program yang diprioritaskan adalah tiga program, yaitu :
1. Menanamkan jiwa agama pada masyarakat dan aparat pemerintah. 2. Mengikis habis ajaran-ajaran komunisme/marxisme/leninisme. 3. Meningkatkan, membina dan mengembangkan pendidikan Agama.
Pada tanggal 13 September 1967 dikeluarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 91 Tahun 1967 tentang Struktur Organisasi, Tugas dan Wewenang Instansi Departemen Agama di daerah, yang pada Bab II Pasal 2 adalah :
Perwakilan Departemen Agama Propinsi (Jawa Tengah) mengkoordinasikan : 1. Jawatan Urusan Agama
2. Jawatan Pendidikan Agama 3. Jawatan Penerangan Agama 4. Jawatan Peradilan Agama
5. Jawatan Perguruan Tinggi Agama/Penyuluhan Hukum 6. Jawatan Urusan Haji
7. JawatanAgama Kristen 8. Jawatan Agama Katholik 9. Jawatan Nindu/Budha