• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kedudukan Pengadilan Pajak Terkait Eksis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kedudukan Pengadilan Pajak Terkait Eksis"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

KEDUDUKAN PENGADILAN PAJAK TERKAIT

EKSISTENSINYA SEBAGAI LEMBAGA YUDISIAL

DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pajak merupakan salah satu sumber pemasukan kas negara yang sangat potensial untuk pembiayaan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan, pertahanan dan pembangunan nasional dengan tujuan akhir kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Oleh karena itu, sektor pajak memegang peranan penting dalam perkembangan kesejahteraan bangsa.

Penting dan strategisnya peran sektor perpajakan dalam penyelenggaraan pemerintah dapat dilihat pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Rancangan APBN setiap tahun yang disampaikan pemerintah, yaitu terjadinya peningkatan persentase sumbangan perolehan pajak bagi APBN dari tahun ke tahun.1

Agar negara dapat mengenakan pajak kepada warganya atau kepada orang pribadi atau badan lain yang bukan warganya, tetapi mempunyai keterkaitan dengan negara tersebut, tentu saja harus ada ketentuan-ketentuan yang mengaturnya. Sebagai contoh di Indonesia, secara tegas dinyatakan dalam Pasal 23 ayat (2) UUD 1945 bahwa, “Segala pajak untuk keuangan negara ditetapkan berdasarkan undang-undang”. Untuk dapat menyusun suatu undang-undang perpajakan, diperlukan asas-asas atau dasar-dasar yang akan dijadikan landasan oleh negara untuk mengenakan pajak.

(2)

Adam Smith (1723-1790) dalam bukunya Wealth of Nations mengemukakan 4 (empat) asas pemungutan pajak yang lazim dikenal dengan “four canons taxation” atau sering disebut “The Four Maxim” dengan uraian sebagai berikut:2

1. Equality (asas persamaan)

Asas ini menekankan bahwa pada warga negara atau wajib pajak tiap negara seharusnya memberikan sumbangannya kepada negara, sebanding dengan kemampuan mereka masing-masing, yaitu sehubungan dengan keuntungan yang mereka terima di bawah perlindugan negara. Yang dimaksud dengan “keuntungan” di sini adalah besar kecilnya pendapatan yang diperoleh di bawah perlindunga negara. Dalam asas equality ini tidak diperbolehkan suatu negara mengadakan diskriminasi di antara wajib pajak.

2. Certainty (asas kepastian)

Asas ini menekankan bahwa bagi wajib pajak, harus jelas dan pasti tentang waktu, jumlah, dan cara pembayaran pajak. Dalam asas ini kepastian hukum sangat dipentingkan terutama mengenai subjek dan objek pajak.

3. Conveniency of Payment (asas menyenangkan)

Pajak seharusnya dipungut pada waktu dengan cara yang paling menyenangkan bagi wajib pajak, misalnya : pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan terhadap para petani, sebaiknya dipungut pada saat mereka memperoleh uang, yaitu pada saat panen.

4. Low Cost of Collection (asas efisiensi)

Asas ini menekankan bahwa biaya pemungutan pajak tidak boleh lebih dari hasil pajak yang akan diterima. Pemungutan pajak disesuaikan dengan kebutuhan Anggaran Belanja Negara.

Walaupun pajak dipungut oleh negara berdasarkan asas equality (asas keseimbangan dengan kemampuan atau asas keadilan), pada kenyataannya sering kali masih terjadi sengketa pajak. Terjadinya

(3)

Sengketa Pajak atau Bea dan Cukai diawali dengan adanya ketidaksamaan persepsi atau perbedaan pendapat antara :3

1. Wajib Pajak dengan Direktur Jenderal Pajak (aparat Direktoral Jenderal Pajak) atas penetapan Pajak terutang untuk Pajak-Pajak Pusat yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Pajak; atau

2. Wajib Pajak dengan Kepala Daerah/Kepala Dinas Pendapatan Daerah (aparat Dinas Pendapatan Daerah) setempat (Propinsi/Kabupaten/Kota) atas penetapan Pajak terutang untuk Pajak-Pajak daerah; atau

3. Orang (perseorangan atau Badan Hukum)/Wajib Pajak dengan Direktur Jenderal Bea dan Cukai (aparat Direktoral Jenderal Bea dan Cukai) atas penetapan bea masuk, cukai, dan sanksi administrasinya, serta Pajak Penghasilan Pasal 22 Impor, Pajak Pertambahan Nilai Impor, dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah Impor.

Prinsip pemungutan perpajakan yang dianut Indonesia adalah self assessment, yaitu suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang, kepercayaan, tanggungjawab kepada wajib pajak untuk menghitung, membayar dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang harus dibayar. Prinsip ini memberikan kepercayaan penuh kepada wajib pajak untuk melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya. Pelaksanaan kewajiban perpajakan oleh wajib pajak dituangkan dalam bentuk pengisian Surat Pemberitahuan (SPT) di bidang pajak. Surat Pemberitahuan Tahunan dibuat pada setiap akhir masa pajak atau akhir tahun pajak, secara periodik. Atas dasar prinsip self assessment tersebut petugas pajak mempunyai wewenang untuk meneliti dan memeriksa kebenaran pemberitahuan yang disampaikan oleh wajib pajak, seperti ditentukan dalam pasal 17 dan pasal 17A UU KUP. Adapun hasil dari penelitian atau pemeriksaan yang bersifat administratif, dapat diterbitkan

(4)

Ketetapan/Keputusan dalam bentuk Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), dan Surat Tagihan Pajak (STP).4

Penerimaan negara dari sektor perpajakan merupakan salah satu penerimaan negara yang perlu ditingkatkan dan dikelola secara bijak dan adil, agar tercapai kemandirian pembiayaan bernegara dan melepaskan diri dari keterikatan utang luar negeri. Akan tetapi, pada kenyataannya upaya meningkatkan penerimaan negara dari sektor perpajakan lebih mudah untuk dilaksanakan dibandingkan dengan upaya meningkatkan keadilannya. Masyarakat selaku Wajib Pajak seringkali merasakan bahwa peningkatan kewajiban perpajakan tidak memenuhi asas keadilan, sehingga menimbulkan berbagai sengketa antara pemerintah (instansi perpajakan) dengan pihak Wajib Pajak.

Perpajakan erat kaitannya dengan proses pembuatan keputusan, yang mempunyai beberapa kemungkinan dan perkiraan/prediksi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang mempunyai banyak cabang. Hal ini disebut sebagai evaluasi dan merupakan proses yang lebih kompleks. Pembentukan suatu sistem peradilan pajak yang berkaitan dengan sengketa/perselisihan (contentieus), akan didahului oleh penciptaan sistem, paradigma atau proses desain sistem. Pada kenyataannya, terdapat suatu perbedaan yang signifikan antara teori sistem dan aplikasinya. Untuk menjembatani, diperlukan suatu pendekatan sistem yang dapat digunakan sebagai alat dan teknik untuk mencapai tujuan tersebut. Teori sistem berangkat dari pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan struktur, proses, perilaku, interaksi, fungsi dan lainnya dari institusi.5

Namun, sebesar apapun usaha pemerintah untuk menyelaraskan beban pajak yang harus dipikul oleh Wajib Pajak dengan keadilannya, tetap saja terjadi sengketa di antara pemerintah (instansi perpajakan)

4 Ibid., hal. 20-21.

5 Luthan, Fred, Organisational Behavior, McGrawiHill Inc. New York, 7th Edition, 1998,

(5)

dengan Wajib Pajak. Untuk itu, diperlukan adanya suatu lembaga penyelesaian perselisihan pajak di Indonesia.

Saat ini, penyelesaian permasalahan sengketa di bidang perpajakan telah memiliki sarana dengan adanya Pengadilan Pajak. Sebelum Pengadilan Pajak berdiri, media yang digunakan untuk menyelesaikan masalah sengketa pajak adalah Majelis Pertimbangan Pajak yang kemudian berkembang menjadi Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP). Hadirnya Pengadilan Pajak menimbulkan kerancuan mengingat obyek sengketa pajak adalah Surat Ketetapan Pajak (SKP) yang masih merupakan lingkup obyek Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN).

Lahirnya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak memang terkesan memunculkan dualisme bahwa seolah-olah Pengadilan Pajak, yang hanya berkedudukan di Jakarta, itu berada di luar kekuasaan kehakiman yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman baru yang telah mencabut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman lama.

Dalam pasal 18 UU No. 48 Tahun 2009, disebutkan bahwa Kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. Artinya, pengadilan pajak merupakan bagian dari kekuasaan kehakiman dan berada di bawah Mahkamah Agung karena menjalankan fungsi yudisial.

(6)

Kemudian Pasal 21 UU No. 48 Tahun 2009 menegaskan bahwa : (1) Organisasi, administrasi, dan finansial Mahkamah Agung dan

badan peradilan yang berada di bawahnya berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung.

(2) Ketentuan mengenai organisasi, administrasi, dan finansial badan peradilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk masing-masing lingkungan peradilan diatur dalam undang-undang sesuai dengan kekhususan lingkungan peradilan masing-masing.

Sedangkan dalam pasal 5 ayat (1) UU Nomor 14 tahun 2002 menjelaskan bahwa “Pembinaan teknis peradilan bagi Pengadilan Pajak dilakukan oleh Mahkamah Agung”. Selanjutnya ayat 2 menyebutkan Pembinaan organisasi, administrasi, dan keuangan bagi Pengadilan Pajak dilakukan oleh Departemen Keuangan. Dengan demikian, Pengadilan Pajak memiliki dua Pembina yakni Mahkamah Agung dan Departemen Keuangan. Artinya, terdapat perbedaan pengaturan pembinaan antara norma yang dimaksud dalam UU No. 48 Tahun 2009 dengan UU No. 14 Tahun 2002.

Penempatan pembinaan di dua lingkungan institusi yang berbeda tersebut menimbulkan perdebatan secara konseptual dan independensi pengadilan dipertanyakan. Hal ini juga menimbulkan keraguan terhadap independensi hakim di lingkungan pengadilan pajak.

Sistem pembinaan yang mendua seperti itu kiranya patut dicermati karena meskipun menurut sementara tidak mengurangi kemandirian hakim dalam menjalankan fungsi peradilan, namun menurut Yahya Harahap pendapat tersebut mengandung kekeliruan dan ketidakbenaran dengan alasan:6

1. Menempatkan badan peradilan di bawah eksekutif – dalam hal ini departemen – meskipun yang ditempatkan di bawahnya hanya organisatoris, administratif dan finansial, sistem seperti ini baik

(7)

langsung atau tidak langsung merupakan simbol pengakuan yurdis bahwa badan peradilan berada di bawah departemen yang bersangkutan. Lebih lanjut, simbol tersebut memberi aba-aba peringatan kepada para hakim mengenai batas otonomi kebebasan mereka, bahwa dalam menjalankan fungsi dan kewenangan peradilan mereka berada di bawah kontrol pihak departemen. Oleh karena itu, meskipun secara teoritis yang dibina dan diawasi departemen hanya administratif, personal dan finansial, namun daya pengaruh simbol yang terkandung di dalamnya menimbulkan efek politik dan psikologis yang sangat luas terhadap otonomi kemandirian kebebasan hakim, dan juga berdampak luas terhadap nilai “loyalitas” para hakim itu sendiri, dalam bentuk kebimbangan, apakah harus loyal kepada fungsi dan kewenangan kekuasaan kehakiman atau mesti loyal kepada kebijaksanaan departemen yang bersangkutan.

2. Sistem dualisme yang ada sekarang ini menimbulkan kesulitan dan hambatan terhadap upaya sumbangan konsep dan program pengawasan dan pembinaan yang komprehensif dan integratif.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah implikasi perbedaan pengaturan pembinaan Pengadilan Pajak yang berada di lingkungan Mahkamah Agung dan di lingkungan Kementerian Keuangan?

2. Bagaimana independensi Pengadilan Pajak dengan perbedaan pembinaan yang berada di lingkungan Mahkamah Agung dan di lingkungan Kementerian Keuangan?

C. Kerangka Teori

(8)

independence. Hal ini untuk melihat letak secara konseptual dari pengadilan pajak dan efek yang terjadi pada organisasi dan kinerjanya.

Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 menentukan, “Negara Indonesia ialah negara hukum.” Konsepsi negara hukum atau rechtssaat, diidealkan bahwa yang harus dijadikan panglima dalam dinamika kehidupan kenegaraan adalah hukum, bukan politik ataupun ekonomi. Karena itu, jargon yang biasa digunakan dalam bahasa Inggris untuk menyebut prinsip negara hukum adalah “the rule of law, not of man”.7

Menurut Julius Stahl, konsep negara hukum yang disebut dengan istilah rechtsstaat itu mencakup empat elemen penting, yaitu :8

1) Perlindungan hak asasi manusia; 2) Pembagian kekuasaan;

3) Pemerintahan berdasarkan undang-undang; 4) Peradilan tata usaha negara.

Sedangkan menurut Jimly Asshiddiqie, terdapat 13 pokok negara hukum (rechtsstaat) yang berlaku di zaman modern sekarang, sebagai pilar-pilar utama yang menyangga berdiri tegaknya satu negara modern sehingga dapat disebut sebagai negara hukum (the rule of law, ataupun rechtsstaat) dalam arti yang sebenarnya, yaitu :9

1) Supremasi hukum (supremacy of law);

2) Persamaan dalam hukum (equality before the law); 3) Asas legalitas (due process of law);

4) Adanya pembatasan kekuasaan berdasarkan undang-undang dasar;

5) Berfungsinya organ-organ negara yang independen dan saling mengendalikan;

6) Prinsip peradilan bebas dan tidak memihak; 7) Tersedianya upaya peradilan Tata Usaha Negara;

7 Jimly Asshiddiqie, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi, (Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer, 2007), hal. 297.

8 Ibid., hal. 304.

(9)

8) Tersedianya upaya peradilan tata usaha negara (constitutional adjudication);

9) Adanya jaminan perlindungan hak asasi manusia;

10)Bersifat demokratis (democratic rule of law atau democratische rechsstaat) sehingga pembentukan hukum yang bersifat demokratis dan partisipatoris dapat terjamin;

11)Berfungsi sebagai sarana mewujudkan tujuan bernegara (welfare rechsstaat);

12)Adanya pers yang bebas dan prinsip pengelolaan kekuasaan negara yang transparan dan akuntabel dengan efektifnya mekanisme kontrol sosial yang terbuka;

13)Ber-Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dalam konsep bernegara yang berdasarkan hukum (rechtsstaat), erat kaitannya dengan pembahasan mengenai prinsip pemisahan negara (separation of power). Seperti yang ditulis dan dikembangkan oleh Montesquieu yang dikenal dengan Teori Trias Politica dalam buku The Spirit of the Laws yang merupakan penyempurnaan dari ajaran John Locke dengan bukunya L’espirit de droit atau kalau diterjemahkan menjadi “jiwa undang-undang”.10

Untuk menghindari tindakan sewenang-wenang penguasa, kekuasaan negara menurut Montesquieu dipisahkan dalam tiga kekuasaan, yaitu :11

1. Kekuasaan Legislatif, yaitu pembuat undang-undang (La puissance leglistative);

2. Kekuasaan Eksekutif, yaitu kekuasaan untuk melaksanakan pemerintahan (La puissance executive);

3. Kekuasaan peradilan (La puissance de juge), kekuasaan mempertahankan keadilan berdasarkan undang-undang.

10 Rukiah Komariah dan Ali Purwito, Pengadilan Pajak (Proses Banding Sengketa Pajak, Pabean, dan Cukai), (Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2006) hal. 5.

(10)

Dalam prinsip ini terdapat pemisahan kekuasaan yang sangat ketat dan tegas yang menyebabkan masing-masing pusat kekuasaan tersebut menjadi dominan akan teritorial kekuasaannya. Sehingga muncul perkembangan terhadap prinsip ini yang terjadi di Amerika Serikat yaitu, check and balances.

Menurut Charles O. Jones, sistem pemisahan kekuasaan dengan prinsip checks and balances menggambarkan kenyataan yakni, setiap kekuasaan saling mengontrol dan mengimbangi satu sama lain.12

Jadi, prinsip pemisahan kekuasaan dengan ‘checks and balances dimaksudkan sebagai prinsip-prinsip yang dapat mencegah konsentrasi kekuasaan di bawah satu tangan atau organ dan mencegah adanya campur tangan antara badan/organ negara, sehingga masing-masing dapat menjalankan tugas fungsinya sebagaimana yang diatur dalam konstitusi negara yang bersangkutan.13 Setelah perubahan pertama

sampai dengan keempat, UUD 1945 telah resmi dan tegas menganut prinsip pemisahan kekuasaan dengan checks and balances.

Pemisahan kekuasaan juga terkait dengan independensi peradilan. Prinsip pemisahan kekuasaan (separation of powers) itu menghendaki bahwa para hakim dapat bekerja secara independen dari pengaruh kekuasaan eksekutif dan legislatif. Bahkan, dalam memahami dan menafsirkan undang-undang dasar dan undang-undang, hakim harus independen dari pendapat dan bahkan dari kehendak politik para perumus undang-undang dasar dan undang-undang itu sendiri ketika perumusan dilakukan. Meskipun anggota parlemen dan presiden yang dipilih secara langsung oleh rakyat mencerminkan kedaulatan rakyat dalam menentukan kebijakan kenegaraan, tetapi kata akhir dalam memahaminya tetap berada di tangan para hakim.14

12Lihat Jimly Asshiddiqie, op.,cit, hal.317.

13 Zainal Arifin Hoesein, Judicial Review Di Mahkamah Agung Republik Indonesia (Tiga Dekade Pengujian Peraturan Perundang-undangan), (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2009), hal. 72.

(11)

Secara umum dapat dikemukakan ada dua prinsip yang biasa dipandang sangat pokok dalam sistem peradilan (judicial system), yaitu : (i) the principle of judicial independence, dan (ii) the principle of judicial impartiality. Kedua prinsip ini diakui sebagai prasyarat pokok sistem di semua negara yang disebut hukum modern atau “modern constitutional state”.15

Prinsip independensi itu sendiri antara lain harus diwujudkan dalam sikap para hakim dalam memeriksa dan memutus perkara yang dihadapinya. Di samping itu, independensi juga tercermin dalam berbagai pengaturan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pengangkatan, masa kerja, pengembangan karir, sistem penggajian, dan pemberhentian para hakim.16

BAB II PEMBAHASAN

15 Ibid., hal. 530.

(12)

A. Sejarah institusi Peradilan Pajak

Sejarah institusi atau lembaga yang berfungsi menyelesaikan sengketa perpajakan dimulai dari Majelis Pertimbangan Pajak (selanjutnya disebut MPP), Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (selanjutnya disebut BPSP) hingga ke Pengadilan Pajak.

Majelis Petimbangan Pajak (MPP) telah hadir sejak adanya Staatsblad Nomor 707 tanggal 11 Desember 1915 tetapi masih belum dapat dikatakan sebagai badan peradilan yang independen karena berkedudukan langsung dibawah Gouverneur General di mana ketuanya adalah Directeur van Financien (sama dengan Menteri Keuangan). Demi terciptanya proses peradilan yang independen dalam menyelesaikan sengketa perpajakan, maka pada tahun 1927 di adakanlah perombakan dan penyempurnaan ordonansi sehingga lahirlah Ordonnantietot Regeling van het Beroep in Belastingzaken, Stbld. No. 29 Tahun 1927 dengan nama Raad van Beroep Voor Belastingzaken atau biasa disebut Raad van Beroep. MPP adalah sebuah badan peradilan administrasi bidang perpajakan, oleh karenanya pengambilan sumpah oleh badan eksekutif dinilai tidak sesuai, sehingga ordonansi mengenai pendirian MPP perlu diubah dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 1959 (L.N No. 13 Tahun 1959) khususnya pasal 4 di mana kata-kata “Gouverneur der Provincie West Java” diganti dengan kata-kata “Ketua Mahkamah Agung”.17

MPP diberikan wewenang untuk memeriksa dan memutus permohonan banding atas keberatan yang diajukan oleh wajib pajak. Penyelesaian sengketa pajak ini meliputi selain pajak-pajak negara (pemerintah pusat), juga pajak-pajak daerah. Struktur organisasi MPP, telah memenuhi sebagai suatu organisasi, yaitu dengan dibantu oleh Sekretariat yang mengepalai kesekretariatan dan kegiatan administrasi yuridis dan umum, seperti diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 20 Tahun 1986. Dengan adanya majelis tersebut, banyak sengketa pajak yang telah dapat diselesaikan, sehingga kebenaran, keadilan dan

(13)

pengakan hukum di bidan perpajakan mulai dirasakan oleh masyarakat, khususnya para pelaku bisnis.18

Untuk memberikan warna yang lebih jelas bagi institusi penyelesaian sengketa pajak, melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1997, dibentuk suatu badan semacam peradilan yakni Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP). Badan ini mempunyai kewenangan yang lebih luas dan dimaksudkan menggantikan kedudukan Majelis Pertimbangan Pajak yakni selain memeriksa dan memutus masalah sengketa pajak, juga pabean dan cukai. Meskipun bukan berbentuk pengadilan, tetapi forum pemeriksaan dan pemutus sengketa, terdiri atas Ketua dan anggota (berjumlah tiga orang), bertindak sebagai hakim. Putusannya berbentuk putusan Ketua Badan Penyelesaian Sengketa Pajak atau BPSP. Dengan adanya perluasan peradilan termaksud. Anggota-anggota BPSP selain berasal dari pajak, para ahli perpajakan (konsultan, anggota Dewan Perwakilan Rakyat), pengusaha, juga ahli-ahli di bidang kepabeanan dan cukai. Hal ini dilakukan sehubungan telah diundangkannya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan dan Undang-Undang Nomor 11 tentang Cukai. Bidang sengketa di bidang pabean dan cukai selama ini diselesaikan melalui dan oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Keputusannya bersifat final dan segera dapat dilaksanakan. Sedangkan upaya hukum ke tingka yang lebih tinggi, tidak dimungkinkan, sehingga dirasakan bahwa kekuasaan birokrasi terlalu luas dan orang yang melakukan kegiatan kepabeanan tidak mempunyai hak untuk membela diri. Guna mendukung dan mengantisipasi timbulnya sengketa di bidang ini, unsur kepabeanan dan cukai mulai dimasukkan dalam peradilan pajak. Tentang kedudukan BPSP saat itu, ada yang mengusulkan untuk disubordinasikan kepada Mahkamah Agung, disebabkan BPSP sebagai lembaga peradilan, belum berpuncak kepada Mahkamah Agung. Atas usulan ini, muncul pemikiran untuk memisahkan antara putusan-putusan yang bersifat umum dan yang bersifat khusus atau teknis tertentu. Masalah sengketa pajak yang

(14)

mempunyai corak, sifat, dan karakteristik sendiri dapat diserahkan kepada suatu peradilan khusus. Sedangkan sengketa atas keputusan dalam lingkup administrasi negara yang lain tetap diperiksa dan diputus oleh Pengadilan Tata Usaha Negara. Setelah melalui perbincangan dan perdebatan yang sangat ketat baik di masyarakat, antara para pakar maupun para wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat, akhirnya pada tahun 2002 Undang-Undang tentang Pengadilan Pajak dimuat dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4189 Tahun 2002.19

B. Pemikiran pembentukan Pengadilan Pajak

Adanya kebebasan bagi wajib pajak untuk melaksanakan hak dan kewajibannya dan Peradilan Pajak merupakan suatu sarana atas kemungkinan penyelesaian sengketa pajak yang adil berdasarkan kebenaran dengan prosedur yang cepat, murah, dan sederhana.20

Pendekatan sistim dari perundang-undangan yang ada, seperti sistim kenegaraan, administrasi negara (termasuk tata usaha negara), Mahkamah Agung, serta kekuasaan kehakiman dan lainnya, akan merupakan dasar filosofis dari sistim manajemen Pengadilan Pajak Nasional, yang diharapkan akan dapat mengelola dengan baik masalah-masalah yang ada dan pada akhirnya menghasilkan solusi-solusi yang diperlukan.21

Idealnya sebuah Pengadilan Pajak memiliki visi penegak keadilan berdasarkan Undang-undang. Karenanya ia sewajarnya mempunyai misi menyelamatkan pungutan pajak yang diperintahkan Undang-undang dan sebaliknya membersihkan kas negara pajak dari pungutan yang tidak diperintahkan atau berdasarkan Undang-undang, singkatnya Pengadilan Pajak itu sewajarnya memiliki misi to save the only legal tax artinya hanya menyematkan pemungutan atau penerimaan pajak sebagaimana yang

19Ibid., hal. 38-41.

20 Ibid., hal. 16.

(15)

diatur dengan Undang-undang dengan perkataan lain tidak menolelir ada perampokan oleh Negara (robbery by the state).

Kekhususan dan karakteristik tersendiri dari pajak, menyebabkan pemerintah berusaha memisahkan antara Kekuasaan Peradilan Tata Usaha Negara dengan Peradilan khusus perpajakan yang berfungsi untuk menjembatani hubungan antara publik (kebanyakan dari dunia usaha) dan aparat perpajakan. Badan ini akan merupakan tempat dimana para wajib pajak dapat memperoleh hak-haknya kembali dan mendapatkan kebenaran dan keadilan. Sebagai realisasi dari wacana tersebut, dibentuk suatu peradilan yang bertujuan untuk menyelesaikan sengketa pajak yang terjadi dalam masyarakat dalam lingkup pengadilan tata usaha negara.22

Pola dasar pemikiran atas pembentukan Pengadilan pajak disusun berlandaskan :23

a. Karakterisitik perpajakan, perpajakan mempunyai ciri dan corak tersendiri dan berbeda dengan kasus-kasus dalam pengadilan lainnya. Penekanan dalam pengadilan pajak adalah pada kepatuhan dan keadilan bagi wajib pajak dalam mempertahankan apa yang menjadi hak-haknya;

b. Pandangan mikro, permasalahan pajak merupakan suatu hal yang sifatnya mikro dan khusus/tertentu serta mempunyai bidang tersendiri dalam suatu lingkup yang lebih besar (makro), yaitu keuangan negara;

c. Interdependensi, artinya terjadi keterkaitan dan ketergantungan, yaitu antara pemungutan pajak yang merupakan perwujudan pengabdian masyarakat dan tidak terlepas dari peran serta wajib pajak di satu pihak. Di lain pihak, tanpa adanya wajib pajak dan peran serta mereka untuk membayar pajak, pemungutan pajak tidak akan terlaksana. Sifat interdependensi ini diwujudkan di dalam sistem pengadilan pajak nasional yang bersifat pengabdian

22 Ibid., hal. 7.

(16)

dan pengawasan atas pelaksanaan keputusan yang diambil oleh birokrat/eksekutif, dan berdasarkan keadilan dan kebenaran.

Dengan dibentuknya Pengadilan Pajak telah terjadi perubahan mendasar dalam penyelesaian Sengketa Pajak dan merupakan babak baru hukum positif di Indonesia yang melandasi keberadaan lembaga/badan Peradilan Pajak di Indonesia. Babak baru tersebut bukan semata-mata penggantian istilah lembaga Peradilan Pajak menjadi Pengadilan Pajak, namun hal yang mendasar yaitu menyangkut acara penyelenggaraan persidangan sengketa perpajakan yang merupakan kekhususan dari Pengadilan Pajak, yaitu :

1. Penyelesaian sengketa perpajakan memerlukan tenaga-tenaga Hakim khusus yang mempunyai keahlian di bidang perpajakan dan berijazah Sarjana Hukum atau sarjana lain;

2. Sengketa yang diproses dalam Pengadilan Pajak khusus menyangkut sengketa perpajakan;

3. Putusan Pengadilan Pajak memuat penetapan besarnya Pajak Terutang dari Wajib Pajak, berupa hitungan secara teknis perpajakan, sehingga Wajib Pajak langsung memperoleh kepastian hukum tentang besarnya Pajak Terutang yang dikenakan kepadanya. Sebagai akibatnya jenis putusan Pengadilan Pajak, di samping jenis-jenis putusan yang umum diterapkan pada peradilan umum, juga berupa mengabulkan sebagian, mengabulkan seluruhnya, atau menambah jumlah pajak yang masih harus dibayar.

Di samping itu, terdapat beberapa faktor lain yang merupakan kekhususan dari Pengadilan Pajak, antara lain sebagai berikut :

1. Pengadilan Pajak berkedudukan di Ibukota Negara;

(17)

3. Proses penyelesaian Sengketa Pajak melalui Pengadilan Pajak dalam acara pemeriksaannya hanya mewajibkan kehadiran Terbanding atau Tergugat, sedangkan Pemohon Banding atau Penggugat dapat menghadiri persidangan atas kehendaknya sendiri, kecuali apabila dipanggil oleh Hakim atas dasar alasan yang cukup jelas;

4. Proses seleksi penerimaan Hakim dilaksanakan oleh Departemen Keuangan dengan melibatkan Mahkamah Agung;

5. Pengadilan Pajak selain menjadi bagian integral dari kekuasaan kehakiman juga merupakan bagian integral dari proses penerimaan negara yang bermuara di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN);

6. Pengadilan Pajak merupakan pengadilan tingkat pertama dan terakhir dalam memeriksa dan memutus Sengketa Pajak;

7. Putusan Pengadilan Pajak merupakan putusan akhir dan mempunyai kekuatan hukum tetap.

Pembentukan Pengadilan Pajak tunduk kepada Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002, dengan pertimbangan, antara lain disebutkan bahwa :24

 Peningkatan jumlah wajib pajak diimbangi dengan pemahaman

para wajib pajak akan hak dan kewajibannya dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan perpajakan. Kesadaran dan pemahaman ini menyebabkan tidak dapat dihindarkan timbulnya sengketa pajak. Sebaliknya aparat fiskus yang semakin sadar akan pelaksanaan pemerintahan yang baik dan bersih, teliti dan hati-hati (good governance) dalam menjalankan tugasnya.

 Sengketa pajak memerlukan suatu penyelesaian yang adil dengan

prosedur dan proses yang cepat, murah dan sederhana, oleh karena itu memerlukan wadah untuk memfasilitasi sengketa yang terjadi.

(18)

 BPSP, meskipun sudah komprehensif dan mempunyai cakupan

lebih luas, tetapi belum menunjukkan sebagai suatu badan peradilan yang dapat memeriksa dan memutus sengketa yang mempunyai kekuatan hukum tetap.

Mengingat hal-hal di atas, dipandang perlu untuk membentuk suatu pengadilan pajak yang selaras dengan sistem kekuasaan kehakiman di Indonesia dan mampu menciptakan keadilan dan kepastian hukum dalam penyelesaian sengketa pajak. Sebagai negara berdasarkan atas hukum, prinsip penting yang harus dilaksanakan secara murni dan konsekuen ialah penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang bebas dan merdeka. Dibutuhkan suatu pengadilan yang sesuai dengan sistem kekuasaan kehakiman Indonesia.

Maka pada tahun 2002 lahirlah Undang-Undang 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak. Undang-undang ini lah yang menjadi dasar dari penyelesaian sengketa pajak melalui mekanisme pengadilan.

Pada Pasal 2 Undang-undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak dimuat pengertian mengenai Pengadilan Pajak, yaitu: “Pengadilan Pajak adalah badan peradilan yang melaksanakan kekuasaan kehakiman bagi Wajib Pajak atau Penanggung Pajak yang mencari keadilan terhadap sengketa Pajak”.

Dalam pengertian di atas terdapat unsur-unsur sebagai berikut : (1) Pengadilan Pajak adalah suatu badan peradilan khusus, di mana

kekhususan ini ditunjukkan dengan bidang yang menjadi kewenangan untuk meemriksa dan memutuskan, yakni mengenai sengketa perpajakan saja;

(2) Melaksanakan kekuasaan kehakiman, berarti setaraf dengan badan peradilan lainnya yang telah ditentukan, sesuai dengan peraturan perundang-unangan yang ada;

(19)

demikian Pengadilan Pajak masih dalam lingkup Pengadilan Tata Usaha Negara.

C. Implikasi perbedaan pengaturan pembinaan Pengadilan Pajak yang berada di lingkungan Mahkamah Agung dan di lingkungan Kementerian Keuangan

Seiring adanya perubahan dalam ketatanegaraan yaitu diamandemennya UUD 1945, tepatnya sejak amandemen pertama, UUD 1945 telah secara resmi dan tegas menganut prinsip pemisahan kekuasaan, sehingga tidak ada lagi lembaga negara yang superior, tetapi justru semua lembaga negara kedudukannya sederajat dan dibedakan pada fungsi dan tugas sebagaimana diatur dalam UUD 1945. Prinsip pemisahan kekuasaan dimaksudkan untuk mencegah jangan sampai suatu kekuasaan yang dijalankan memiliki kekuasaan yang melebihi badan (organ) lainnya, tetapi harus seimbang dan saling mengawasi, jadi dapat dibuat kerjasama antar lembaga kekuasaan negara, misalnya antara parlemen dengan pemerintah (Presiden) dalam pembuatan suatu undang-undang.

Berdasarkan Undang-Undang No. 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak, pembinaan teknisnya berada di bawah Mahkamah Agung sedangkan pembinaan organisasi, administrasi, dan keuangannya menjadi tanggung jawab Kementerian Keuangan.

(20)

Perbedaan penempatan pembinaan ke dalam kedua institusi sebagaimana disebutkan di atas, hendaknya perlu ditinjau dari beberapan peraturan yang berkaitan dengan hal tersebut, beberapa peraturan tersebut antara lain, UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, UU tentang Mahkamah Agung.

Kemudian dalam pasal 21 UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman disebutkan bahwa :

(1)Organisasi,  administrasi,  dan  finansial  Mahkamah  Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung. 

(2)Ketentuan mengenai organisasi, administrasi, dan finansial badan   peradilan   sebagaimana   dimaksud   pada   ayat   (1) untuk   masing­masing   lingkungan   peradilan   diatur   dalam undang­undang   sesuai   dengan   kekhususan   lingkungan peradilan masing­masing.

Pasal 32 UU No. 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung disebutkan bahwa :

(1) Mahkamah Agung melakukan pengawasan tertinggi terhadap penyelenggaraan peradilan pada semua badan peradilan yang

Mahkamah

Agung

Kementrian

Keuangan

(21)

berada di bawahnya dalam menyelenggarakan kekuasaan kehakiman.

(2) Selain pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Mahkamah Agung melakukan pengawasan tertinggi terhadap pelaksanaan tugas administrasi dan keuangan.

(3) Mahkamah Agung berwenang untuk meminta keterangan tentang hal-hal yang bersangkutan dengan teknis peradilan dari semua badan peradilan yang berada di bawahnya.

(4) Mahkamah Agung berwenang memberi petunjuk, teguran, atau peringatan kepada pengadilan di semua badan peradilan yang berada di bawahnya.

Dari beberapa peraturan di atas jelas terlihat terdapat perbedaan pengaturan antara pasal 21 UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Pasal 32 UU No. 3 Tahun 2009 tentang Mahkamah Agung dengan UU No. 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak. Bahwa UU Kekuasaan Kehakiman dan UU Mahkamah Agung menyebutkan

organisasi,   administrasi,   dan   finansial   Mahkamah   Agung   dan badan   peradilan   yang   berada   di   bawahnya   berada   di   bawah kekuasaan   Mahkamah   Agung   sedangkan   UU   Pengadilan   Pajak

menyebutkan berbeda bahwa pembinaan organisasi, administrasi, dan keuangan bagi Pengadilan Pajak dilakukan oleh Departemen Keuangan (sekarang disebut kementerian keuangan).

Perbedaan pengaturan oleh kedua peraturan di atas menunjukkan adanya ketidakselarasan untuk pengaturan hal yang sama, dengan kata lain memunculkan suatu konflik norma.25 Baik UU Kekuasan Kehakiman

dan UU Mahkamah Agung (perubahan II) merupakan hasil produk undang-undang terbaru yang menggantikan undang-undang yang lama

(22)

atau dibandingkan dengan UU Pengadilan pajak yang belum direvisi kedua undang-undang tersebut muncul belakangan. Kondisi inilah menurut penulis yang memungkinkan adanya perbedaan pengaturan atau perbedaan makna yang terdapat dalam kedua peraturan yang berbeda namun mengatur hal yang sama. Baik UU Kekuasan Kehakiman, UU Mahkamah Agung, maupun UU Pengadilan Pajak berdasarkan hirarki peraturan perundang-undangan berada dalam strata yang sama atau setara kedudukannya, namun bila dilihat dari karakteristik dari undang-undang ini menunjukkan perbedaan yang jelas, bahwa UU Kekuasaan Kehakiman secara muatan dan tujuan pengaturannya menjadi lebih tinggi dari UU Pengadilan Pajak karena pengadilan pajak merupakan bagian dari penyelenggara kekuasaan kehakiman. Dengan demikian, dari kontruksi di atas menunjukkan telah terjadi konflik norma yaitu, antara norma umum dengan norma khusus.

Pada prinsipnya seluruh peraturan mulai dari peraturan yang paling tinggi sampai peraturan yang terendah, antar peraturan yang setara atau sederajat sekalipun merupakan satu kesatuan integral yang saling mengisi dan tidak boleh bertentangan satu sama lain atau bersifat hirarki komplementer.

Terkait bahwa pengadilan pajak merupakan penyelenggara kekuasaan kehakiman, perlu melihatnya juga dari berbagai peraturan yang ada, yaitu :

Pasal 24 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 amandemen IV, yang berbunyi : Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan Peradilan Umum, lingkungan Peradilan Agama, lingkungan Peradilan Militer, lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.

(23)

peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.

Kemudian dalam Pasal   25   ayat   (1)   nya,   bahwa   Badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung meliputi badan peradilan   dalam   lingkungan   peradilan   umum,   peradilan   agama, peradilan militer, dan peradilan tata usaha negara.

Pasal 1 angka 8 nya juga menyebutkan bahwa Pengadilan Khusus adalah pengadilan yang mempunyai kewenangan untuk memeriksa, mengadili dan memutus perkara tertentu yang hanya dapat dibentuk dalam salah satu lingkungan badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung yang diatur dalam undang-undang.

Selanjutnya dalam Pasal 27 nya disebutkan bahwa :

(1) Pengadilan khusus hanya dapat dibentuk dalam salah satu lingkungan   peradilan   yang   berada   di   bawah   Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. 

(2) Ketentuan   mengenai   pembentukan   pengadilan   khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam undang­ undang. 

Dalam   penjelasan   ayat   (1)   Pasal   ini   menyatakan   bahwa yang   dimaksud   dengan   “pengadilan   khusus”   antara   lain   adalah pengadilan anak, pengadilan niaga, pengadilan hak asasi manusia, pengadilan   tindak   pidana   korupsi,   pengadilan   hubungan industrial  dan   pengadilan   perikanan   yang   berada  di   lingkungan peradilan   umum,   serta  pengadilan   pajak  yang   berada   di lingkungan peradilan tata usaha negara.

(24)

sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pasal 2 UU No. 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak menyatakan, bahwa : Pengadilan Pajak adalah badan peradilan yang melaksanakan kekuasaan kehakiman bagi Wajib Pajak atau Penanggung Pajak yang mencari keadilan terhadap Sengketa Pajak.

Selain itu, Pasal 9A Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, menyebutkan “Di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara dapat diadakan pengkhususan yang diatur dengan undang-undang”. Dalam penjelasannya dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan “pengkhususan” adalah diferensiasi atau spesialisasi di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara, misalnya Pengadilan Pajak. Kemudian dalam Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan menyatakan bahwa “Putusan Pengadilan Pajak merupakan putusan pengadilan khusus di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara”. Dengan demikian sangat jelas bahwa ketiga undang-undang itu memasukan Pengadilan Pajak dalam lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara.

Dari   beberapa   peraturan   di   atas   jelas   terlihat   bahwa pengadilan   pajak   merupakan   bagian   dari   penyelenggaraan kekuasaan   kehakiman,   juga   berada   di   bawah   lingkungan Mahkamah Agung karena salah satu badan peradilan yang berada di bawah lingkungan Mahkamah Agung adalah Peradilan Tata Usaha Negara.

(25)

masing-masing dapat menjalankan tugas fungsinya sebagaimana yang diatur dalam konstitusi negara yang bersangkutan. Pemisahan kekuasaan ini dibagi ke dalam tiga, yaitu: kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Mahkamah Agung merupakan lembaga yudikatif sedangkan kementrian keuangan merupakan lembaga eksekutif. Dilihat dari fungsinya, UU Pengadilan Pajak merupakan penyelenggara kekuasaan kehakiman. Kekuasaan kehakiman merupakan ranah atau wilayah kekuasaan yudikatif. Artinya, secara konseptual pembinaan yang ditempatkan di satu sisi di Mahkamah Agung sebagai lembaga yudikatif dan di sisi lain pembinaan ditempatkan di Kementerian Keuangan sebagai lembaga eksekutif tidak konsisten atau menciptakan kontradiksi. Seharusnya berdasarkan prinsip pemisahan kekuasaan terdapat pemisahan yang tegas antara lembaga yudikatif dan eksekutif, dengan kata lain untuk seluruh pembinaan di pengadilan pajak menjadi satu atap atau dilaksanakan oleh satu intitusi saja dalam hal ini Mahkamah Agung.

Indonesia sebagai negara hukum atau rechsstaat, terdapat pemisahan kekuasaan yang tegas dan menjalankan hukum secara konsekuen. Namun, dengan adanya pengaturan yang berbeda atas penempatan pembinaan pengadilan pajak ke dalam dua institusi perspektif tertentu, hal ini dapat dianggap inkonstitusional sehingga membuka peluang untuk melakukan judicial review26 di Mahkamah

Konstitusi dan jika dinyatakan bertentangan dengan undang-undang yang lebih tinggi dalam hal ini Undang-Undangan Dasar 1945 akan menghasilkan konsekuensi yuridis timbulnya ketidakpastian hukum yang tentu saja merugikan masyarakat banyak serta legalitas Pengadilan Pajak kemudian akan dipertanyakan keabsahannya. Dampak selanjutnya adalah sengketa pajak menjadi terbengkalai.

(26)

D. Independensi Pengadilan Pajak dengan perbedaan pembinaan yang berada di lingkungan Mahkamah Agung dan di lingkungan Kementerian Keuangan

Sebagai sebuah lembaga peradilan, yang tujuannya adalah menegakkan keadilan berdasarkan rule of law, sehingga perlu adanya kemandirian dan ketidakberpihakan dalam memutus suatu perkara. Namun, Pengadilan Pajak struktur dan kedudukannya dinilai tidak independen.

Kekuasaan kehakiman dan peradilan dalam pandangan Moh. Mahfud M.D adalah Kekuasaan untuk memeriksa dan mengadili serta memberikan putusan atas perkara-perkara yang diserahkan kepadanya untuk menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan perundang-undangan. Badan ini harus dapat bekerja dengan baik dalam tugas-tugasnya, sehingga dihasilkan putusan-putusan yang objektif dan tidak memihak dengan senantiasa menjunjung tinggi hukum dan keadilan. Oleh karena itu, badan ini harus bebas dari pengaruh kekuasaan lain atau kekuasaan pemerintah.27

Pengadilan pajak sebagai penyelenggara kekuasaan kehakiman seharusnya kaidah-kaidahnya menyesuaikan dengan UU Kekuasaan Kehakiman.

Undang­Undang  Dasar  Negara  Republik  Indonesia  Tahun 1945 menegaskan bahwa Indonesia adalah negara hukum. Sejalan dengan   ketentuan   tersebut   maka   salah   satu   prinsip   penting negara   hukum   adalah   adanya   jaminan   penyelenggaraan kekuasaan   kehakiman   yang   merdeka,   bebas   dari   pengaruh

(27)

kekuasaan   lainnya   untuk   menyelenggarakan   peradilan   guna menegakkan hukum dan keadilan. 

Hal ini termuat dalam Pasal 24 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 amandemen IV, yang berbunyi : Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.

Berdasarkan   Pasal   1   UU   No.   48   Tahun   2009   tentang Kekuasaan Kehakiman menyatakan bahwa Kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan   guna   menegakkan   hukum   dan   keadilan   berdasarkan Pancasila dan Undang­Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun   1945,   demi   terselenggaranya   Negara   Hukum   Republik Indonesia.

Lahirnya   Undang­Undang   Nomor   4   Tahun   2004   tentang Kekuasaan   Kehakiman   merupakan   sebagai   upaya   untuk memperkuat   penyelenggaraan   kekuasaan   kehakiman   dan mewujudkan sistem peradilan terpadu (integrated justice system).28

Yang   dimaksudkan   disini   juga   terkait   segala   urusan   mengenai peradilan baik yang menyangkut teknis yudisial maupun urusan organisasi, administrasi, dan finansial berada di bawah satu atap yaitu Mahkamah Agung. 

Prof.   Jimly   Asshiddiqie   menyebutkan   bahwa   kekuasaan kehakiman yang merdeka harus dipahami sebagai terbebas dari pengaruh   kekuasaan   lain   yakni,   eksekutif   dan   legislatif,   untuk menyelenggarakan   peradilan   guna   menegakkan   hukum   dan keadilan.   Hal   ini   sebagai   perwujudan   dari   prinsip   pemisahan kekuasaan yang dianut oleh negara hukum.29 

Pengadilan Pajak “dua atap” berimplikasi pada kinerja Pengadilan Pajak itu sendiri dan menimbulkan beberapa permasalahan terkait

28 Ketentuan Umum Penjelasan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, LN Tahun 2009 Nomor 157, TLN 5076.

(28)

rekrutmen hakim, pengawasan dan pembinaan hakim dan sumber daya pendukungnya, serta pengejawantahan prinsip transparansi dan keterbukaan informasi publik. Dengan demikian, Pengadilan Pajak seharusnya diperbaharui untuk menjadi institusi “satu atap” dan mutlak sebagai lembaga peradilan yang independen, dimana pembinaan teknis peradilan sekaligus organisasi, administrasi, dan keuangan menjadi tanggung jawab Mahkamah Agung. Konstruksi Pengadilan Pajak sebagai “satu atap” merujuk pada sebuah perancangan tersendiri Pengadilan Pajak di bawah lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara sebagai pengadilan khusus.

Peran pengawasan yang tumpang tindih antara Kementerian Keuangan, Mahkamah Agung, dan Komisi Yudisial, berpotensi menimbulkan penolakan pengawasan pada setiap instansi yang akan mengawasi atas dasar kewenangan instansi pengawasan.

Dengan beradanya pembinaan di satu sisi di Mahkamah Agung (sebagai lembaga yudikatif) dan di sisi lain di Kementerian Keuangan (sebagai lembaga eksekutif) akan mempengaruhi independen pengadilan pajak karena di wilayah tersebut menimbulkan kotradiksi yakni, Kementerian Keuangan yang menjalankan fungsi eksekutif dan ketika terjadi sengketa pajak menjalankan fungsi yudikatif. Padahal kedua lembaga tersebut seharusnya terpisah untuk menjalankan fungsi saling mengontrol atau mengawasi. Dalam keadaan yang demikian memunculkan kondisi untuk mengawasi institusi sendiri.

(29)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Pada prinsipnya seluruh peraturan mulai dari peraturan yang paling tinggi sampai peraturan yang terendah, antar peraturan yang setara atau sederajat sekalipun merupakan satu kesatuan integral yang saling mengisi dan tidak boleh bertentangan satu sama lain atau bersifat hirarki komplementer. Perbedaan pengaturan antara pasal 21 UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Pasal 32 UU No. 3 Tahun 2009 tentang Mahkamah Agung yang menyebutkan bahwa organisasi,   administrasi,   dan   finansial   Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung dengan UU No. 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak yang menyebutkan berbeda bahwa pembinaan organisasi, administrasi, dan keuangan bagi Pengadilan Pajak dilakukan oleh Kementerian Keuangan menunjukkan adanya ketidakselarasan untuk pengaturan hal yang sama, dengan kata lain memunculkan suatu konflik norma.

(30)

berdasarkan prinsip pemisahan kekuasaan terdapat pemisahan yang tegas antara lembaga yudikatif dan eksekutif, dengan kata lain untuk seluruh pembinaan di pengadilan pajak menjadi satu atap atau dilaksanakan oleh satu intitusi saja dalam hal ini Mahkamah Agung.

2. Pengadilan Pajak struktur dan kedudukannya dinilai tidak independen. Pengadilan Pajak “dua atap” berimplikasi pada kinerja Pengadilan Pajak itu sendiri dan menimbulkan beberapa permasalahan terkait rekrutmen hakim, pengawasan dan pembinaan hakim dan sumber daya pendukungnya, serta pengejawantahan prinsip transparansi dan keterbukaan informasi publik. Dengan demikian, Pengadilan Pajak seharusnya diperbaharui untuk menjadi institusi “satu atap” dan mutlak sebagai lembaga peradilan yang independen, dimana pembinaan teknis peradilan sekaligus organisasi, administrasi, dan keuangan menjadi tanggung jawab Mahkamah Agung.

B. Saran

(31)

Daftar Pustaka

A. Buku

Atep Adya Barata. Memahami Prosedur Beracara Di Pengadilan Pajak. Jakarta: Sociadana, LP3AB-IBTA 2002.

H. Bohari. Pengantar Hukum Pajak. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010.

Hadi Buana. Peradilan Pajak Sebagai Sistem Penyelesaian Sengketa Pajak Di Indonesia. Jakarta: IND HILL CO, 2012.

Iriyanto A. Baso Ence. Negara Hukum dan Hak Uji Konstitusionalitas Mahkamah Konstitusi, Telaah Terhadap Kewenangan Mahkamah Konstitusi. Bandung: P.T. Alumni, 2008.

Jimly Asshiddiqie. Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer, 2007.

M. Yahya Harahap. Beberapa Tinjauan mengenai Sistem Peradilan dan Penyelesaian Sengketa. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1997.

Mahfud MD, Politik Hukum Di Indonesia. Jakarta : Rajawali Pers, Ed. Revisi, Cet. III. 2010.

Rukiah Komariah dan Ali Purwito. Pengadilan Pajak (Proses Banding Sengketa Pajak, Pabean, dan Cukai). Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2006.

(32)

Wirawan B. Ilyas dan Richard Burton. Hukum Pajak. Jakarta: Salemba Empat, 2008.

Zainal Arifin Hoesein. Judicial Review Di Mahkamah Agung Republik Indonesia (Tiga Dekade Pengujian Peraturan Perundang-undangan). Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2009.

B. Peraturan Perundang-Undangan

Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, LN Tahun 2009 Nomor 157, TLN 5076.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, LN Tahun 1985 Nomor 73, TLN No. 3316.

Undang Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, LN Tahun 2004 Nomor 9, TLN Nomor 4359

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, LN Tahun 2009 Nomor 3, TLN Nomor 4958.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak, LN Tahun 2002 Nomor 27, TLN Nomor 4189.

Referensi

Dokumen terkait

Saat ini kami sedang melakukan penelitian yang berjudul Hubungan antara Paparan Asap dengan Erosi Gigi (Studi pada Pekerja Pengasapan Ikan di Desa Bandarharjo,

khondroitin sulfat C dan isolat murni dari lambung, usus, daging, dan insang ikan pari (Trygon sephen) dapat dilihat pada Gambar 13. Tampak bahwa semua noda

Contoh kayu eboni yang diambil dari daerah Sindue menunjukkan bahwa kayu eboni dari daerah ini memiliki strip yang relatif teratur, strip hitam agak tipis dan

Bergerak dalam bidang jasa konstruksi dan jasa konstruksi dan jasa desain yang meliputi: usaha dan jasa konsultasi bidang rancang bangun dan perekayasaan (umumnya

Perubahan sudut polarisasi cahaya cenderung meningkat dan linier terhadap kenaikan konsentrasi larutan naftalena, sedangkan untuk antrasena tidak linier.. Hasil ini

Menurut Notaris-PPAT Paramita Rukmi (Wawancara tanggal 3 Agustus 2015), Notaris-PPAT Njoman Sutjining (wawancara tanggal 4 Agustus 2015) dan Notaris-PPAT Lumasia (Wawancara

Hasil dari peningkatan aktivitas integrasi pasokan logistik PT Astra Otoparts Divisi Adiwira Plastik (AWP) tidak hanya mempengaruhi kinerja kompetitif perusahaan

Kualitas mengajar guru Bahasa Indonesia dapat diukur dari kecakapan mereka dalam menguasai materi, termasuk pengembangannya, dan kemampuan dalam memiliki metode penyampaian,