• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERLINDUNGAN HUKUM DAN TANGGUNG JAWAB TE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERLINDUNGAN HUKUM DAN TANGGUNG JAWAB TE"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1 A. Latar Belakang

Kepulauan Spratly merupakan sebuah kumpulan kepulauan yang terdiri

daripada

kawasan tanah di dalam kawasan laut yang luasnya lebih daripada 425,000

kilometer persegi. Kepulauan Spratly adalah salah satu daripada tiga kepulauan di

Oleh itu, ia menyebabkan banyak kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan

territorial dan ekonomi di kawasan itu.

Kira-kira 45 pulau diduduki oleh bilangan yang agak kecil angkatan

tentara da

dan

bagian

kepulauan kecil di atas minimal ketinggian air (di

Kepulauan ini menjadi puncak sengketa yang terbaru antara negara-negara

yang bertetanggaan dan yang wilayahnya dekat dengan kepulauan spratly.

(2)

merupakan sebuah kata yang sangat sensitif terdengar dalam wilayah hukum

Internasional. Wilayah negara merupakan sesuatu yang paling urgen dan sangat

dipertahankan oleh semua negara bahkan hingga harus mengorbankan nyawa.

Dapat dikatakan bahwa diantara semua unsur negara, teritorial merupakan harga

diri dari sebuah negara sehingga harus dipertahankan meskipun harus dengan

berperang.

Hal ini yang kemudian banyak menimbulkan permasalahan di kalangan

Internasional. Sebut saja kasus antara Negara Indonesia dengan Negara Malaysia

mengenai sengketa pulau sipadan dan ligitan yang kemudian dibawa ke

Mahkamah Internasional. Hal ini membuat hubungan antara Negara Indonesia dan

Negara Malaysia sebagai negara tetangga makin menegang dan memanas,

walaupun setelah itu Malaysia dinyatakan sebagai pemenang sengketa tersebut.

Sebenarnya sudah sejak Indonesia merdeka perseteruan ini muncul, dan hanya

disebabkan oleh wilayah negara. Ini merupakan salah satu bukti bahwa wilayah

kedaulatan menjadi salah satu unsur yang sangat dipertahankan oleh negara.

Ada pula kasus yang cukup rumit yang terjadi belakangan ini mengenai

wilayah negara yaitu sengketa kepulauan Spratly. Lain halnya dengan kasus

diatas, sengketa kepulauan Spratly ini mempunyai cerita panjang yang

melatarbelakangi sengketa tersebut. Sengketa ini melibatkan banyak negara

sehingga penyelesaiannya yang sangat rumit dan berlarut-larut. Sengketa ini juga

mempunyai latar belakang yang cukup rumit sehingga belum terjadi kesepakatan

(3)

Rumitnya medan wilayah persengketaan menambah semakin sulitnya

penyelesaian diantara semua pihak. Kepulauan Spratly berada diantara beberapa

negara yaitu, Indonesia, Malaysia, Vietnam, Brunei Darussalam, Cina, Taiwan,

dan Filipina. Kepulauan Spratly pada awalnya tidak berpenghuni. Hal ini

disebabkan kebanyakan pulau ini berupa gugusan karang. Namun klaim terhadap

kepulauan Spratly dilancarkan karena kepulauan Spratly mempunyai banyak

kelebihan misalnya kekayaan kandungan minyak dan letaknya yang strategis.

Kawasan Laut Cina Selatan bila dilihat dalam tata Lautan Internasional,

merupakan kawasan yang memiliki nilai ekonomis, politis, dan strategis.

Sehingga menjadikan kawasan ini mengandung potensi konflik serkaligus potensi

kerja sama. Dengan kata lain, kawasan Laut Cina Selatan yang memiliki

kandungan minyak bumi dan gas alam yang terdapat didalamnya, serta

peranannya yang sangat penting sebagai jalur perdagangan dan distribusi minyak

dunia, menjadikan kawasan Laut Cina Selatan sebagai objek perdebatan regional

selama bertahun-tahun.

Sengketa wilayah dan penguasaan kepulauan di Laut China selatan, di awali oleh

tuntutan China atas kepemilikan seluruh pulau-pulau yang ada di Laut China

Selatan termasuk di dalamnya adalah Kepulauan Spratly. China mengakui

kedaulatan di Laut China Selatan berdasarkan sejarah serta dokumen-dokumen

kuno. Menurut China sejak 2000 tahun yang lalu, perairan ini telah menjadi jalur

transportasinya. Namun di lain pihak yaitu Vietnam membantah serta tidak

mengakui klaim kepemilikan wilayah terhadap Kepulauan Spratly. Bahkan,

(4)

negaranya. Vietnam mengakui wilayah Kepulauan Spratly dan sekitarnya

merupakan bagian dari teritorinya sejak abad ke-17. Akibat perebutan pengakuan

wilayah atas Kepulauan Spratly antara China dan Vietnam, pada tahun 1988

terjadi insiden antara Angkatan Laut China dan Angkatan Laut Vietnam. Insiden

ini terjadi dimana kapal Angkatan Laut Vietnam yang sedang berlayar di Laut

China Selatan dicegat oleh kapal perang Angkatan Laut China, sehingga

bentrokan tidak dapat dihindari. Dalam bentrokan ini Angkatan Laut Vietnam

kehilangan 74 prajuritya. Akibat dari insiden ini, Vietnam memutuskan hubungan

diplomatik dengan China, walaupun beberapa tahun kemudian hubungan

diplomatik kedua negara berlangsung normal kembali.

Dalam perkembangannya, selain China dan Vietnam, Filipina pun

mengakui kedaulatannya atas wilayah Kepulauan Spratly. Filipina yang menyebut

Kepulauan Spratly dengan nama Kalayaan. Adapun alasan Filipina mengakui

serta menduduki Kepulauan Spratly bagian timur, karena kawasan tersebut tidak

bertuan atau kosong. Filipina juga menunjukkan Perjanjian Perdamaian San

Fransisco 1951, dimana dalam perjanjian tersebut Jepang melepaskan

kedaulatannya atas Kepulauan Spratly, tapi tidak disebutkan diserahkan kepada

negara manapun. Filipina mulai membuka pengeboran gas serta eksploitasi

perikanan di sekitar Kepulauan Spratly bagian timur. Bahkan, kehadiran Flipina di

Kepulauan Spratly bagian timur dipertegas dengan mendirikan pos pasukan

marinir di sebagian gugus pulau itu. Tumpang tindih pengakuan kedaulatan

Kepulauan Spratly oleh Filipina, telah menimbulkan beberapa insiden seperti

(5)

Ketegangan pun berlanjut ketika China merespon sengketa itu dengan mengirim

kapal perang ke Kepulauan Spratly. Di lain pihak pasukan militer Filipina

menangkapi nelayan China yang beroperasi di sekitar Kepulauan Spratly Timur.

Tetapi konflik China-Filipina atas klaim wilayah Kepulauan Spratly tidak segawat

antara China dengan Vietnam. Konflik ini untuk sementara dapat diredam lewat

jalur diplomatik antar kedua negara.

Belakangan, Malaysia, Taiwan dan Brunei ikut menyatakan Kepulauan

Spratly di Laut China Selatan merupakan bagian dari wilayah negara mereka.

Malaysia ikut menegaskan bahwa sebagian dari Kepulauan Spratly adalah bagian

dari wilayahnya. Malaysia menyebut Kepulauan Spratly dengan nama Terumbu

Layang. Menurut Malaysia, langkah ini diambil berdasarkan Peta Landas

Kontinen Malaysia Tahun 1979, yang mencakup sebagain dari wilayah Kepulauan

Spratly. Malaysia bahkan membangun mercusuar di salah satu wilayah di

Kepulauan Spratly. Malaysia yang bersama Filipina dan Brunei merupakan

sesama anggota Asean, dengan adanya sengketa atas wilayah Kepulauan Spratly

khusus untuk Malaysia-Filipina semakin menambah rumit hubungan diantara

kedua negara. Hubungan antara Malaysia dengan Filipina yang selama ini agak

kurang harmonis karena masalah tenaga kerja, kini masalah semakin kompleks

dengan munculnya sengketa klaim wilayah Spratly antara kedua negara.

Taiwan sebagai salah satu negara yang mengakui kedaulatan atas

Kepulauan Spratly, juga mengalami ketegangan hubungan dengan Flipina. Klaim

atas kepemilikan Kepulauan Spratly memunculkan potensi konflik yang cukup

(6)

dengan menempatkan pasukannya secara permanen serta membangun landasan

pesawat dan instalasi militer lainnya di Pulau Itu Abaa. Di Kepulauan Kalayaan,

yang merupakan wilayah gugus Kepulauan Spratly timur mengalami tumpang

tindih kepemilikan antara Filipina dan Taiwan. Wilayah yang paling

dipertentangkan adalah Pulau Itu Abaa, yang oleh Filipina disebut Pulau Ligaw.

Pada tahun 1988 Angkatan Laut China menahan 4 buah kapal nelayan Taiwan

yang dituduh telah memasuki wilayah perairan Filipina di Kalayaan. Disamping

konflik antara Taiwan-Filipina, konflik juga terjadi antara Taiwan-China

mengenai klaim kedaulatan Kepulauan Spratly di Laut China Selatan. Konflik

Taiwan-China atas Kepulauan Spartly merupakan konflik historis antara kedua

negara. Dimana kita tahu pada tahun 1949 telah terjadi perang sipil antara kaum

Komunis dan Nasionalis yang melahirkan dua negara yaitu Republik Rakyat

China dan Taiwan. Klaim Taiwan terhadap Kepulauan Spratly sama dengan klaim

yang dilakukan China yaitu klaim berdasarkan sejarah masa lalu dari jaman kuno.

Brunei merupakan satu-satunya negara yang tidak mengklaim pulau atau

daratan di wilayah Kepulauan Spratly. Brunei hanya mengklaim atas batas

kontinen perairan di Laut China Selatan. Brunei ingin ketegasan mengenai

masalah tapal batas kontinen perairan negaranya yang meliputi wilayah di sekitar

perairan Kepulauan Spratly. Walaupun demikian tetap saja menimbulkan konflik

dengan Malaysia, yaitu sengketa mengenai sebuah karang di sebelah selatan Laut

China Selatan yang sewaktu air pasang berada di bawah permukaan laut. Brunei

mengakui gugusan karang dan landasan kontinen di sekitarnya merupakan bagian

(7)

tersebut bahkan mendudukinya. Akan tetapi sengketa antara Brunei-Malysia

mengenai klaim kedaulatan di sekitar Kepulauan Spartly relatif tenang, belum

sampai menimbulkan konflik terbuka kearah peperangan antar kedua negara.

Namun demikian, tetap saja masalah tumpang tindih pengakuan kepemilikan

terhadap Kepulauan Spratly sewaktu-waktu bisa meletus kearah konflik terbuka

antara Malaysia-Brunei.

Faktor itulah yang menambah mengapa isu klaim atas Kepulauan Spratly

begitu rumit dan berlangsung lama.

Kenyataannya terjadi perang klaim dan upaya-upaya penguasaan atas kawasan

Laut Cina Selatan. Kepemilikan sejumlah pulau-pulau kecil di Laut Cina Selatan

memperbesar masalah ini sehingga menimbulkan ketegangan tentang hak atas

Laut Teritorial atau Landasan Kontinen. Persoalannya menjadi semakin kursial

karena klaim-klaim tersebut saling tumpang tindih yang disebabkan karena

masing-masing negara mengklaim kepemilikannya yang berdasarkan versinya

sendiri, baik secara historis maupun secara legal formal (tertulis), demi

kepentingan masing-masing negara.

Kasus ini memang sangat menarik untuk dibahas. Selain untuk menambah ilmu

pengetahuanyang lebih dalam mengenai hal kepulauan spratly, juga sekaligus

dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran terutama ilmu yang berkaitan

(8)

untuk menguraikan bagaimana sebenarnya sengketa yang terjadi di wilayah

kepulauan Spratly.

B. Perumusan Masalah

1. Bagaimana Pengaturan/ Penyelesaian sengketa pulau/ kepulauan menurut

Hukum Internasional?

2. Bagaimana permasalahan sengketa Spratly Islands?

3. Bagaimana penyelesaian sengketa Spratly islands menurut Hukum

(9)

B. Tujuan dan Manfaat Penulisan

Adapun dalam rangka penyusunan skripsi ini mempunyai tujuan yang

hendak dicapai, sehingga penulisannya akan lebih terarah serta dapat mengenai

sasarannya. Adapun tujuan dari penulisan ini adalah :

1. Untuk mengetahui dan memahami bagaimana permasalahan yang terdapat

pada sengketa daerah territorial diatur dalam hukum Internasional yang

khususnya diatur oleh hukum laut Internasional.

2. Untuk mengetahui bagaimana upaya penyelesaiaan hukum terhadap

permasalahan sengketa internasional tentang penentuan daerah territorial

yang diatur di dalam hukum Internasional yang khususnya diatur oleh

Hukum Laut Internasional.

3. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai penyelesaian sengketa kepulauan

Spratly tersebut menurut peraturan peraturan yang diatur dalam hukum

internasional yang mengatur mengenai hukum laut internasional.

Adapun pembahasan skripsi ini, diharapkan juga dapat memberikan

manfaat sebagai berikut :

1. Manfaat secara teoretis

Skripsi ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi ilmu pengetahuan,

masukan atau tambahan dokumentasi karya tulis dalam bidang Hukum

Laut Internasional.

2. Manfaat secara praktis

Bagi penulis secara pribadi, hal ini merupakan salah satu bentuk latihan

(10)

ini ditujukan kepada kalangan penegak hukum dan masyarakat untuk lebih

mengetahui bagaimanakah Penegakan Hukum Internasional terhadap

permasalahan yang sangat sensitive mengenai daerah territorial setiap

negara yang bersengketa.

C. Keaslian Penulisan

Sehubungan dengan keaslian judul skripsi ini pada dasarnya penulis

melakukan pemeriksaan pada Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas

Sumatera Utara untuk membuktikan bahwa judul skripsi ini belum pernah ditulis

sebagai skripsi sebelumnya oleh pihak lain. Dengan demikian, skripsi ini masih

asli serta dapat dipertanggungjawabkan penulis baik secara moral maupun secara

akademik karena diperoleh melalui pemikiran, referensi buku-buku, dan

perundang-undangan yang berlaku.

D. Tinjauan Kepustakaan

Dalam menentukan status Hukum Laut territorial, ruang udara di atas laut

dan dasar laut serta tanah dibawahnya yang terdapat pada laut china selatan yang

khususnya membahas tentang Kepulauan Spratly diatur didalam Konvesi

Perserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Hukum Laut yang ditanda tangani pada

tanggal 10 Desember 1982 yang bertempat pada montego bay Jamaica yang

merupakan Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut yang

ketiga (UNCLOS III ) yang berlangsung dari tahun 1973 sampai dengan tahun

1982, mendefinisikan mengenai hak dan tanggung jawab Negara-Negara dalam

penggunaaan laut di dunia serta menetapkan pedoman untuk bisnis, lingkungan,

(11)

E. Metode Penelitian

Penelitian merupakan suatu sarana pokok dalam mengembangkan ilmu

pengetahuan maupun teknologi. Hal ini disebabkan oleh karena penelitian

bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran secara sistematis, metedologis, dan

konsisten. Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan

pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu dengan jalan menganalisanya.

Suatu metode merupakan cara kerja atau tata kerja untuk dapat memahami objek

yang menjadi sasaran dari ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Dengan

demikian metode penelitian adalah upaya ilmiah untuk memahami dan

memecahkan suatu permasalahan berdasarkan metode tertentu.

Metode penelitian hukum ini terdiri dari dua macam yaitu :

1. Metode yuridis normatif yaitu penelitian yang dilakukan atas noma-norma

hukum yang berlaku, yang norma-norma tersebut berasal dari peraturan

hukum yang diundangkan maupun hukum yang diakui.

2. Metode studi kepustakaan (Library Research) yaitu Penelitian yang

dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka.

Penulisan skripsi ini menggunakan metode penelitian hukum normatif

karena dalam penelitian ini penulis memperoleh data dengan membaca,

mempelajari, mentransfer dari buku-buku, konvensi-konvensi dan sebagainya

yang menurut penulis ada hubungannya dengan Penyelesaiaan Konflik Spratly

Island Dari Sudut Pandang Hukum Laut Internasional (UNCLOS).

Adapun bahan yang penulis gunakan sesuai dengan ketentuan

(12)

1. Bahan hukum Primer yaitu perjanjian internasional yang dihasilkan dari

Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut yang ketiga

(UNCLOS III ) yang ditanda tangan pada 10 desember 1982 di Montego

Bay, Jamaica. Berlaku pada 16 November 1994.

2. Bahan hukum skunder yaitu berupa tulisan-tulisan, pendapat sarjana, dan

pendapat para ahli yang memberikan penjelasan terhadap bahan hukum

primer.

3. Bahan hukum tersier yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan

terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum skunder, seperti

kamus-kamus hukum.

F. Sistematika Penulisan

Dalam skripsi ini, penulis membuat suatu sistematika penulisan mengenai

ruang lingkup permasalahan yang ada. Hal tersebut bertujuan untuk mendapatkan

suatu bentuk susunan skripsi yang beraturan. Maka dari itu, perlulah dalam

pembahasannya dan penyajian skripsi ini dibagi atas beberapa Hal ini

dimaksudkan untuk mempermudah pemahaman dan pengertian pembaca. Adapun

sistematika dari skripsi ini adalah sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Merupakan pendahuluan yang terdiri dari sub bab yaitu latar

belakang, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan,

(13)

yang penulis gunakan dalam membahas skripsi dan pada akhir

bab ini adalah sistematika penulisan.

BAB II : PENGATURAN DAN PENYELESAIAN SENGKETA

PULAU/ KEPULAUAN MENURUT KONFERENSI

PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA TENTANG HUKUM

LAUT

Merupakan pembahasan mengenai pengaturan-pengaturan yang

merupakan perjanjian Hukum Laut Internasional yang

dihasilkan oleh Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa

Tentang Hukum Laut Ketiga (UNCLOS III) yang

mendefinisikan mengenai hak dan tanggung jawab dari setiap

Negara-Negara dalam mengelola sumber daya alam yang

terdapat di dalam laut, dan juga mendefinisikan mengenai

penentuan terhadap batas laut teritorial, lebar laut teritorial dan

menyertakan status hukum laut teritorial, ruang udara di atas

laut teritorial dan dasar laut serta tanah dibawahnya.

BAB III : GAMBARAN SEJARAH KONFLIK KEPULAUAN

SPRATLY

Merupakan pembahasan sejarah mengenai asal mulanya terjadi

konflik yang terjadi di Kepulauan Spratly ini, Faktor-faktor

(14)

berobsesi dan memanas untuk mempertahankan daerah

territorial kepulauan spratly tersebut.

BAB IV : PENGATURAN HUKUM INTERNASIONAL DAN UPAYA

ORGANISASI INTERNASIONAL DALAM

PENYELESAIAN SENGKETA KEPULAUAN SPRATLY

Merupakan pembahasan mengenai pengaturan-pengaturan dari

Hukum Internasional dan upaya-upaya yang telah dilakukan

oleh Organisasi-Organisasi internasional yang dimana didalam

tubuh organisasi internasional itu terdapat Negara-Negara yang

bersengketa dalam sengketa Kepulauan Spratly tersebut,

sehingga tidak menimbulkan dampak-dampak yang bisa

merugikan baik bagi masing-masing negara atau bagi organisasi

internasional yang anggotanya terlibat didalam sengketa

tersebut.

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

Merupakan kesimpulan dan saran sebagai bab terakhir yang

penulis isi dengan kesimpulan dari hasil pembahasan yang

penulis anggap penting dan selanjutnya diberikan saran yang

Referensi

Dokumen terkait

f. Kesalahan siswa yang tidak bisa membagi waktu dalam menyelesaiakan soal Dari table di atas dapat di simpulkan macam-macam kesalahan yang dilakukan siswa sebagai

Berdasarkan hasil pengujian alat dapat dikatakan bekerja dengan baik, hal ini ditunjukan variabel yang diukur (tegangan analog 0-5 volt) dapat dikonversi menjadi

Dengan demikian, usaha intelektual utama yang harus dipresentasikan ke dalam pemikiran tentang Islam atau tentang agama lainnya pada saat ini, adalah ditujukan untuk

Jika tidak ada pembangunan apartemen d i kota terpilih , digantikan dengan sam pel developer rumah.. Ta r get sam pel untuk tiap-tiap kota: 3 sam pel untuk developer rumah dan 2 sam

Cikal bakal kerjasama ekonomi negara- negara Asia Tenggara diawali dengan kesepakatan pembentukan kawasan perdagangan bebas ASEAN (ASEAN Free Trade Area/AFTA) pada

bawha perubahan fungsi dan intensitas lahan yang ada pada hypermarket dengan klasifikasi jumlah pengunjung sedang dan luas area penjualan sedang di perkotaan

Sehubungan dengan kesimpulan hasil penelitian ini, maka implikasi dalam hasil penelitian ini bahwa ada hubungan positif antara minat melanjutkan studi siswa di

Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis di BRI Syariah KCP Purwodadi dapat disimpulkan bahwa dalam pengelolaan manajemen risiko layanan BRIS Online,