Contoh Kasus Hukum Perdata yang saya amb

24 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Contoh Kasus Hukum Perdata yang saya ambil adalah tentang Perceraian Farhat Abbas dan Nia

Proses perceraian Farhat Abbas dengan penyanyi Nia Daniati mengalami ganjalan, karena belum menemukan titik penyelesaian masalah pembagian harta gono gini. Kedua pihak, dalam sidang Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Rabu siang, 12 Maret 2014, sepakat untuk bercerai, dan belum menemukan kesepakatan mengenai harta gono gini dan jaminan nafkah.

“Dalam kasus ini ada dua masalah yang ingin diselesaikan. Cerai dan harta gono gini. Ada dua minggu berbicara tentang gono gini, yang belum berhasil,” kata Abdul pengacara Nia Daniati di PA Jakarta Selatan, Rabu siang.Menurut Abdul, selama dua minggu ini ia dan klienya menunggu jawaban dari pihak Farhat untuk masalah gono gini tersebut. “Selama dua minggu ini menunggu dari pihak Farhat dan lawyer-nya,” kata Abdul. “Rupanya beliau mempersiapkan jawaban untuk hari ini,” lanjutnya.Abdul mengatakan pula, Nia memiliki alasan kuat untuk menuntut pembagian harta yang dimilikinya bersama Farhat selama dua belas tahun berumah tangga.

“Dalam perkawinnan memang itu harta bersama,” kata Abdul lagi.Miftaahu Jannah, pengacara Farhat Abbas, mengungkapkan kliennya tidak mampu membiayai Nia Daniati Rp 100 juta per bulan. Yang mampu diberikan Farhat adalah Rp tujuh juta per bulan. “Dia yang buat dia yang tanda tangan. Seharusnya komit dengan omongan janjinya apalagi itu semua tertulis,” katanya Nia Daniati yang datang dengan baju warna kuning bunga-bunga dan sedikit “nge=jreng” di Pengadilan Agama Jakarta Selatan.Saat ditanya lebih lanjut tentang apa yang sebenarnya menyebabkan Farhat tidak mampu memberikan nafkah Rp 100 juta kepada Nia, ia pun enggan menanggapinya. Padahal saat sang juru bicara Farhat berulang tahun, pengacara kontroversial itu memberikan sebuah mobil Vellfire.

“Pembagian harta, rumah atas nama Nia, rumah itu atas nama dia, dan ada juga mobil. Kemarin belum ada titik temu itu. Farhat ingin membagi dua kalau masalah rumah,” jelas Abdul.“Kecuali mobil, mobil semuanya ke Nia, hanya rumah yang dimusyawarahkan,” lanjutnya.Sebelum mendapatkan harta gono gini berupa rumah, Nia, dikatakan oleh Abdul, tak akan pergi dari kediamannya di Jakarta, yang telah dihuninya sejak 2002 itu. “Selama belum dibagi, Nia tetap tinggal di rumah itu. Farhat minta dijual dan dibagi dua, tapi Nia memertahankan rumah itu,” terang Abdul.

Tekad artis Nia Daniati mengakhiri hidup berumah tangga dengan Farhat Abas sudah bulat. Tak cuma itu saja, pelantun Gelas Gelas Kaca tersebut juga keukeuh menuntut janji uang nafkah untuk anak mereka Rp 100 juta per bulan.

Hal tersebut diungkapkan kuasa Hukum Nia, Abdul Rahim Hasibuan selepas persidangan di Pengadilan Agama (PA) Jakarta Selatan, Rabu (7/5/2014). Dalam persidangan dengan agenda kesimpulan itu, Nia dan Farhat berhalangan hadir dan diwakili kuasa hukumnya masing-masing.

“Sidang hari dengan agenda kesimpulan dari masing-masing pihak. Dari kami sendiri Nia Daniati tetap pada keputusan untuk bercerai dan menuntut nafkah 100 juta rupiah per bulan untuk anaknya,” kata Abdul Rahim Hasibuan.

Abdul Rahim mengatakan, pihaknya akan memperjuangkan uang nafkah Rp 100 juta per bulan untuk Angga yang berusia 10 tahun seperti yang pernah dijanjikan Farhat pada Nia. “Kalau hanya cuma minta cerai hari ini bisa diputus, tapi kan kami menuntut apa yang pernah dijanjikan Farhat sebelumnya, karena dalam persidangan Farhat hanya menyanggupi Rp 7 juta per bulan. Masa cuma segitu? Uang Rp 7 juta buat jajan anak saya aja nggak cukup,” katanya.

Belum adanya kesepakatan soal uang nafkah anak dan hal-hal terkait soal perceraian mereka, maka majelis hakim memberi waktu untuk membahas hal tersebut. Sidang kembali akan dilanjutkan pada tanggal 4 Juni 2014.”Jadi majelis memberi waktu, siapa tahu di antara mereka ada kesepakatan lain. Dan sidang tanggal 4 Juni nanti pembacaan putusan sidang,” kata Abdul Rahim

Penyelesaiannya

Di pengadilan agama sesuai dengan pasal 31 PP No 9/1975, Pasal 130 HIR yang berisi tuntutan yang diminta oleh istri di kabulkan oleh hakim, sebelum putusan akhir dijatuhkan hakim, dapat diajukan pula gugatan provisional di Pengadilan Agama untuk masalah yang perlu kepastian segera( Gugatan Provisional (pasal 77 dan 78 UU No.7/89)) sehubungan dengan permaslahan perceraian Farhat Abbas yang menyangkut biaya hidup/nafkah isrtri dan anaknya yang sudah seharusnya diberikan oleh suami.

(2)

Contoh kasus dari seorang istri yang hendak mengajukan gugatan cerai pada suaminya di Pengadilan Agama ( PA ), adapaun data/identitasnya adalah sebagai berikut :Nama : SusanUmur : 32 tahunAgama : IslamPekerjaan : Pegawai

SwastaStatus : MenikahAnak : 1 anak laki-laki, umur 4 tahunCerita Permasalahan / Kronologis

Susan menikah di Jakarta dengan suaminya 6 tahun yang lalu (th 2001). Dikaruniai 1 orang putra berumur 4 tahun. Sudah lama sebenarnya Susan

mengalami kekerasan dalam rumah tangga, Suaminya adalah mantan anak orang kaya yang tidak jelas kerjanya apa dan sering berprilaku sangat kasar pada

Susan, seperti membentak, berkata kotor, melecehkan dan yang terparah adalah sering memukul. Sehingga akhirnya Susan sering tidak tahan sampai berpikir untuk bercerai saja. Adanya musyawarah dan pertemuan keluarga sudah diadakan beberapa kali tapi tetap tidak merubah prilaku suaminya tersebut. Bahkan sedimikian parahnya dimana si suami melepas tanggung-jawabnya sebagai seorang suami dan ayah karena sudah 2 tahun ini si suami tidak

memberikan nafkah lahir untuk sang Istri dan anaknya. Sampai akhirnya, Susan merasa terncam jiwanya dimana terjadi kejadian pada bulan April 2007, Susan dipukul / ditonjok matanya sampai biru yang berujung pada kekerasan terhadap anak semata wayangnya juga. Setelah kejadian itu Susan memutuskan untuk bercerai saja.

1. Kasus Perseteruan Julia Perez dan Dewi Persik

JAKARTA, RIMANEWS- Perseteruan antara Julia Perez dengan Dewi Perssik semakin memanas. Setelah melaporkan artis yang akrab disapa Jupe itu ke polisi, Dewi juga menuntut artis itu secara perdata. Ia menggugat Jupe sebesar Rp1,7 miliar.

Menurut pengacara Dewi, Angga Brata Rosihan, kliennya itu merasa sudah dirugikan secara materiil dan immateriil atas pertengkarannya dengan kekasih Gaston Castano tersebut. Dan tak hanya itu, Dewi merasa Jupe telah merusak wajahnya yang merupakan asetnya sebagai seorang artis.

"Pastinya, kami punya bukti kwitansi atas perawatan mukanya dia. Bahwa ini benar untuk pengobatan, untuk mereparasi wajahnya. Itukan aset Mbak Dewi," kata Angga

Tuntutan tersebut telah diajukan pihak pemilik goyang gergaji itu ke Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada Senin, 31 Januari kemarin. Tuntutan itu tercatat dengan nomor 41/PDP/2011 di PN Timur.

2. Kasus Prita Mulyasari

Prita Mulyasari, ibu dua anak, mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang, Banten. Prita dijebloskan ke penjara karena alasan pencemaran nama baik. Tali yang dipakai untuk menjerat Prita adalah Pasal 27 ayat 3 UU ITE. Isinya “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik“. Prita terancam hukuman penjara maksimal enam tahun dan atau denda maksimal Rp 1 miliar.

(3)

Itu merupakan salah satu contoh dari hukum perdata. Suatu komentar atas pengeluhan yang dilakukan oleh seorang pasien terhadap suatu pelayanan dari sebuah Rumah Sakit berbuntut panjang. Masalah individu ini merebak ke public, setelah pasien menulis tentang keluhanya itu diblog. Pasal yang dijerat merupakan pasal mengenai UU ITE, yang menguat tidak bolehnya melakukan penghinaan di suatu media elektronik.

Chika Waode Lega Sudah Bercerai

Liputan6.com, Jakarta Majelis Hakim Pengadilan Agama Jakarta Barat telah menetapkan Chika Waode dan Fajri Fauzi bercerai, Kamis (4/5/2017). Meski tak lagi berstatus sebagai istri Fajri, Chika Waode mengaku lega.

"Bagi seorang penggugat, setelah gugatannya dikabulkan itu pasti perasaannya lega," ujar kuasa hukum Chika Waode, La Ode Kudus, saat ditemui di kawasan Kembangan, Jakarta Barat, Jumat (5/5/2017).

Sejak melayangkan gugatan cerai, Chika Waode berharap perceraiannya berjalan cepat. Dan beruntungnya, apa yang ia inginkan cepat terkabul.

"Setelah putusan dia bersyukur. Sebenarnya dia ingin cepat cerai makanya dia mengajukan gugatan dan akhirnya terwujud," kata La Ode Kudus.

Dalam perceraian tersebut, Chika Waode hanya meminta bercerai dari Fajri. Sedangkan masalah lainnya seperti harta gini tak diikutsertakan. "Enggak ada gugatan harta gono-gini, cuma cerai saja," kata La Ode Kudus.

Seperti diketahui, Chika Waode menikah dengan Fajri Fauzi pada 11 Mei 2016. Dalam pernikahan itu, Fajri memberikan maskawin kepada Chika Waode berupa 20 boga yang merupakan tradisi Sulawesi Tenggara. Chika menggugat Fajri pada 3 Maret 2017 di Pengadilan Agama Jakarta Barat.

(4)

mengalami masalah ekonomi sehingga hilang kepemilikan tempat tinggal sebelumnya. Bapak Suherman memiliki teman akrab bernama Bapak Jali yang berperan sebagai pihak kedua dalam kejadian ini. Bapak Jali bersedia membantu keluarga Bapak Suherman dengan beberapa ketentuan yang harus dipenuhi oleh pak Suherman dan keluarganya.

Bahwa keluarga Pak Suherman bisa menempati salah satu dari rumah yang dimiliki oleh pak Jali, tetapi Pak Suherman harus mampu membayar uang sewa rumah tersebut sebesar Rp.500.000/bulan tepat setiap tanggal 25. Apabila terjadi tunggakan/penundaan pembayaran sewa rumah tersebut berdasarkan waktu yang telah ditetapkan, maka Bapak Jali berhak mengusir keluarga Pak Suherman dari rumahnya.

Hingga pada bulan ketiga Bapak Suherman menempati rumah tersebut, ia dan keluarganya belum juga mampu membayar sewa rumah sesuai kesepakatan dengan pak Jali. Pak Jali pun menderita kerugian dengan kejadian ini. Sehingga beliau dengan terpaksa harus mengusir keluarga pak Suherman setelah memberikan beberapa dispensasi sebagai seorang teman seperti memaklumi penundaan pembayaran selama 3 bulan lamanya dan tidak menuntut ganti rugi bayaran selama 3 bulan tersebut.

Analisa:

· Jenis perbuatan : Wanprestasi/Cidera Janji

· Subyek hukum : Bapak Suherman dan Bapak Jali

· Peristiwa hukum adalah Segala kejadian kemasyarakatan yang akibatnya

diatur oleh hukum.

Perjanjian sewa-menyewa diatur di dalam babVII Buku III KUH Perdata yang berjudul “Tentang Sewa-Menyewa” yang meliputi pasal 1548 sampai dengan pasal 1600 KUH Perdata. Definisi perjanjian sewa-menyewa menurut Pasal 1548 KUH Perdata menyebutkan bahwa: “ Perjanjian sewa-menyewa adalah suatu perjanjian, dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk memberikan kepada pihak yang lainya kenikmatan dari suatu barang, selama waktu tertentu dan dengan pembayaran suatu harga, yang oleh pihak tersebut belakangan telah disanggupi pembayaranya.”

Alasan :

Menurut J Satrio: “Suatu keadaan di mana debitur tidak memenuhi janjinya atau tidak memenuhi sebagaimana mestinya dan kesemuanya itu dapat dipersalahkan kepadanya”.

Bentuk-bentuk Wanprestasi :

1. Tidak melaksanakan prestasi sama sekali;

2. Melaksanakan tetapi tidak tepat waktu (terlambat);

(5)

4. Debitur melaksanakan yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan.

Dalam kejadian diatas termasuk bentuk wanprestasi yang pertama, dimana bapak Suherman tidak melaksanakan janji yang telah disepakati sama sekali. Ia lalai untuk melaksanakan kewajibannya sebagai pihak yang menyewa rumah.

Siti Rukoyah (83) digugat oleh anak dan menantunya sendiri, Yani Suryani dan Handoyo Adianto. Tidak tanggung-tanggung, nilai gugatan yang dilayangkan mencapai Rp 1,8 miliar, terdiri dari tuntutan kerugian materiil sebesar Rp 640 juta dan kerugian immateriil senilai Rp 1,2 miliar.

Gugatan tersebut berawal dari utang piutang yang terjadi di antara Yani dan Handoyo dengan Asep Ruhendi, kakak Yani.

Asep diceritakan meminjam uang sekitar Rp 41 juta kepada Handoyo pada 2001. Handoyo memberi uang pinjaman kepada Asep melalui dua cara, diberikan langsung dan via transfer. Perjanjian utang-piutang pun ditandatangani di mana terdapat klausul di dalamnya yang berisi bahwa Asep bisa membayar utang dengan cara bekerja pada Handoyo dan Sertifikat Hak Milik (SHM) tanah milik Siti Rukoyah menjadi jaminan.

Asep sempat bekerja pada Handoyo sejak Maret-Agustus 2001. Setelah itu, soal utang piutang tidak lagi pernah dibicarakan.

(Baca: Kronologi Utang yang Berujung Anak Menggugat Ibunya Rp 1,8 Miliar) Baru pada Oktober 2016, persoalan itu kembali menyeruak. Handoyo meminta Asep menandatangani pengakuan berutang senilai Rp 40 juta, sementara Asep merasa utangnya tersisa Rp 20 juta.

Sementara Yani, diceritakan, meminta bantuan saudara agar Siti Rukoyah, sang ibu, mau menandatangani bukti surat utang. Jika tidak ditandatangani, Yani takut akan diceraikan oleh suaminya, Handoyo.

Sebelum kasus antara Yani dan Handoyo dengan Siti Rukoyah, banyak peristiwa lain di mana anak menuntut orang tuanya sendiri baik soal utang piutang ataupun warisan dan sebagainya. Bagaimana aturannya dalam hukum?

Menurut Imam Hadi, mantan redaktur hukumonline.com yang kini menjadi pengacara, pada prinsipnya semua anak yang sudah dewasa (di atas 18 tahun) adalah subjek hukum yang bebas melakukan perbuatan hukum dengan siapapun, termasuk orang tuanya.

"Harus dilihat dulu hubungannya bagaimana. Apakah si ibu memang benar menyatakan diri sebagai penjamin personal atau bukan," jelas Imam kepada kumparan (kumparan.com) pada Minggu, (26/3).

Selain itu, Imam menegaskan bahwa berkas gugatannya harus juga dilihat untuk memastikan apakah sang ibu menjadi satu-satunya Tergugat atau hanya Turut Tergugat. Sedangkan Tergugat sebenarnya adalah saudaranya.

"Karena dalam hukum acara perdata, ada asas hukum yang bilang mendingan kelebihan pihak yang digugat, ketimbang kekurangan pihak. Dalam kasus di Garut ini, bisa jadi si ibu

dijadikan turut tergugat karena sertifikat tanah yang jadi jaminan masih atas nama ibu," ujar Imam selanjutnya.

Dalam pasal 1820 Kitab Undang-undang Hukum Perdata disebutkan Penanggungan adalah suatu perjanjian dengan mana seorang pihak ketiga, guna kepentingan si berpiutang, mengikatkan diri untuk memenuhi perkataan si berutang manakala orang ini sendiri tidak memenuhinya.

(6)

Yani sendiri mengatakan bahwa ini semua bukan dimaksudkan untuk mencelakakan ibunya. Kepada kumparan (kumparan.com), Sabtu (25/3) Yani mengutarakan secara gamblang niatan dia melakukan gugatan.

"Saya itu ingin membela ibu saya," jelas Yani lewat sambungan telepon.

Yani menjelaskan, apa yang dia lakukan sebagai pelajaran. Selama ini dia menilai ibunya dimanfaatkan oleh saudara-saudaranya. Salah satunya untuk meminjam uang ke bank dengan memakai sertifikat atas nama ibunya.

Kasus ini diunduh pada tanggal 20 Desember di Ma’had Sunan Ampel Al-‘Ali melalui website

http://putusan.mahkamahagung.go.id/putusan/2dfeb75eb8059a61457704f 082b9f9bc Penggugat mempunyai sebidang tanah pekarangan dengan status Hak Milik seluas 2.455 M2 atas nama ASRI SUMARDJONO (Ibu Penggugat) yang terletak di Jl.Timoho No.30 RT.81 RW.19 Baciro Gondokusuman, Yogyakarta sebagaimana tersebut dalam daftar Sertifikat Tanah Hak Milik No.01583/Baciro, Surat Ukur No.1 Tanggal 14-01-1998 yang diterbitkan oleh Kantor Pertanahan Kota Yogyakarta pada tanggal 14 Januari 1998 No.Sertifikat 13.05.03.04.1.91583; Tanah Pekarangan milik Penggugat tersebut diatas, diatasnya berdiri 3 (tiga) Bangunan rumah milik Penggugat yang terpisah, yakni Bangunan I seluas kurang lebih 150 M2, Bangunan II seluas 20 M2 dan Bangunan III seluas 100 M2, yang ketiga bangunan milik Penggugat tersebut terletak pada sisi bagian barat dari posisi tanah Pekarangan milik Penggugat tersebut, dan bangunan-bangunan tersebut saat ini ditempati oleh Penggugat.

Pada tahun 2007, Tergugat I mendatangi Penggugat dengan maksud untuk bekerja sama membuat usaha dan mendirikan Rumah Toko (Ruko) yang rencananya akan dibangun Ruko diatas tanah milik Penggugat tersebut diatas (posita No.1 diatas) pada bagian depan/sisi timur dari tanah milik Penggugat, dengan rencana kesepakatan pada waktu itu, Tergugat I akan membangunkan ruko kemudian disewakan kepada pihak ketiga dengan pembagian

keuntungan, Penggugat mendapatkan 20% dari harga sewa selama 10 tahun, setelah jangka waktu 10 tahun bangunan Ruko tersebut menjadi hak milik Penggugat dan pengurusan Izin Mendirikan Bangunan (IMBB) adalah tanggung jawab Pihak Tergugat I.

(7)

Pada waktu itu masih dalam tahun 2007 dengan adanya kekhawatiran dari Penggugatt akan timbul permasalahan dikemudian hari, maka Penggugat menawarkan kepada Tergugat I untuk dibuatkan secara formal Akta Perjanjian Kerja Sama melalui Notaris, sehingga

disepakati membuat Akta Perjanjian Kerjasama melalui Notaris yang ditunjuk yakni Notaris Tri Agus Heryono, SH, ternyata setelah konsep Perjanjian Kerjasama itu sudah selesai didraf, tinggal akan dilakukan penandatanganan Perjanjian, dengan Itikad Tidak Baik dari Tergugat I sampai saat ini Surat Perjanjian Kerjasama tersebut belum ditandatangani dan difinalkan oleh Tergugat I, padahal pada waktu itu Bangunan Ruko sudah jadi, malahan oleh Tergugat I telah Menyewakan kepada Tergugat III dan Tergugat IV; Bangunan Ruko tersebut menjadi 3 (tiga) bagian bangunan yang masing-masing bagian dengan ukuran dan luas kurang lebih 27 M2 yang luas keseluruhan Bangunan Ruko tersebut seluas 81 M2, setelah Penggugat mengetahui bahwa dari ketiga bagian bangunan Ruko tersebut telah disewakan kepada pihak Tergugat III dan Tergugat IV, maka Penggugat mendesak kepada Tergugat I untuk segera mengurus Izin Mendirikan Bangunan (IMBB) dimaksud dan segera memformalkan kesepakatan Kerjasama tersebut melalui Notaris, ternyata oleh Tergugat I mengatakan pada waktu itu bahwa yang membuka usaha itu adalah anaknnya yang bernama Windarto (Tergugat II) sehingga meminta tanda tangan Penggugat dalam rangka pengurusan Izin Mendirikan Bangunan (IMBB) pada Pemerintah Kota Yogyakarta.

Pada tahun 2008, Penggugat baru mengetahui bahwa Permohonan Izin Mendirikan Bangunan (IMBB) yang dimohonkan oleh Tergugat II yakni anak dari Tergugat I Ditolak oleh Pemerintah Kota Yogyakarta berdasarkan Surat Dinas Perizinan Pemerintah Kota Yogyakarta Nomor: 640/7949 tanggal 6 September 2007 dengan dasar alasan bahwa diatas bangunan berdiri didalam Garis Sempadan Bangunan (GSB) atau melanggar 100%, sehingga

Permohonan IMBB tidak dapat diproses/ditolak. Setelah Penggugat mengetahui ditolaknya Permohonan IMBB tersebut, Penggugat mendesak kepada Para Tergugat-I dan II untuk Segera Membongkar Bangunan Ruko Tersebut, namun Tergugat-I dan II tidak mau membongkarnya, malahan terus menerus menyewakan ruko tersebut yang dibangun diatas tanah milik

Penggugat, maka Penggugat berusaha membuat surat kepada Pemerintah Kota Yogyakarta agar melalui Pemerintah Kota Yogyakarta yang membongkar paksa bangunan ruko tersebut, berdasarkan Surat Penggugat berturut-turut tertanggal 12 Maret 2008, tanggal 15 Desember 2008, tanggal 27 Mei 2010 dan tanggal 3 September 2010, malahan telah berulangkali

difasilitasi oleh Pemerintah Kelurahan Baciro untuk menyelesaikan kasus ini, namun oleh para Tergugat-I dan II sampai saat ini Tidak Mau Untuk Membongkar Bangunan Ruko tersebut.

Disamping Tergugat I dan Tergugat II dihukum untuk membongkar bangunan Ruko tersebut, juga Tergugat I dan Tergugat II dihukum untuk menutup/menyegel bangunan ruko tersebut dan atau tidak ada bentuk usaha apapun yang dilakukan oleh pihak manapun sebelum adanya Putusan Akhir atas Gugatan ini, guna menghindari kerugian yang lebih banyak lagi yang diderita oleh Penggugat, Hingga Penggugat memanggil Para Tergugat-I dan II melalui Kuasa Hukum Penggugat, yakni pada tanggal 28 Februari 2011 untuk mencari solusi

(8)

terus-terusan menyewakan Bangunan Ruko tersebut kepada Pihak Tergugat III dan Tergugat IV, sehingga Penggugat Sangat Dirugikan atas Perbuatan Tergugat I dan Tergugat II karena Tanpa Hak Dan Melawan Hukum telah mengambil keuntungan dari Sewa Bangunan Ruko tersebut yang didirikan diatas Tanah Milik Penggugat Tanpa Hak dan Melawan Hukum.

Disamping Para Tergugat-I dan II menguasai Tanah milik Penggugat secara melawan Hukum dan Tanpa Hak, juga Para Tergugat-I dan II telah wanprestasi atas kesanggupannya guna mengurus IMBB dan telah Beritikad Tidak Baik tidak berkehendak untuk membuat kesepakatan Perjanjian Kerjasama, padahal dapat diketahui bahwa sejak tahun 2007 sampai gugatan ini didaftarkan kepada Pengadilan, para Tergugat-I dan II telah mengambil

keuntungan atas sewa bangunan ruko tersebut dari Tergugat-III dan IV, sehingga Penggugat dirugikan secara meteriil dan immaterial; sehubungan dengan Pembangunan Bangunan Ruko tersebut yang dilakukan oleh Para Tergugat-I dan II diatas Tanah Milik Penggugat Melawan Hukum dan Tanpa Hak, maka dihukum kepada Para Tergugat-I dan II untuk membongkar dan Mengosongkan Bangunan diatas tanah milik Penggugat tersebut, jika perlu dengan bantuan Pihak Aparat Kepolisian; sehubungan dengan Penguasaan Tanah milik Penggugat itu dilakukan oleh Tergugat-I dan II secara Melawan Hukum dan Tanpa Hak, maka hubungan hukum dalam bentuk sewa-menyewa antara para Tergugat-I dan II dengan pihak Tergugat III dan IV, dinyatakan TIDAK SAH, karena pihak yang menyewakan yang dalam hal ini Para Tergugat-I dan II adalah pihak yang tidak berhak dan pihak yang beretikad tidak baik. Sehingga Para Tergugat-III dan IV dihukum harus mengosongkan dan pindah dari Tanah millik Penggugat tersebut; sehubungan Tergugat-I dan II telah menguasai Tanah Milik Penggugat tersebut secara melawan hukum dan tanpa hak sejak Tahun 2007.

3. Analisis Kasus

Dari kasus diatas dapat diambil kesimpulan bahwa tergugat I melakukan pelanggaran menggunakan tanah yang bukan hak miliknya, beritikad tidak baik dengan menolak penandatanganan akta perjanjian di notaris dan melakukan wanprestasi.

Menggunakan tanah yang bukan hak miliknya dalah pelanggaran hukum, maka Tergugat I dikaitkan dengan Pasal 1365 KUHPerdata yang berbunyi “Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya

menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.

Berdasarkan pasal 579 KUHPerdata yang berbunyi “Tiap-tiap

pemegang kedudukan berkuasa dengan itikad buruk, berkewajiban sebagai berikut :

1. Dalam mengembalikan kebendaan itu kepada si pemilik, ia harus

(9)

diantaranya, yang mana kendati sebenarnya tidak dinikmati olehnya, namun yang sedianya dapatlah si pemilik menikmatinya.

2. Ia harus mengganti segala biaya, rugi dan bunga.

Wanprestasi, sebagaimana dikatakan Subekti, berarti kelalaian atau kealpaan seorang debitur, kelalaian itu berupa :

1. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukan.

2. Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimna yang dijanjikan.

3. Melakukan apa yang dijanjikan akan tetapi terlambat.

4. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjin tidak boleh dilakukannya.

Dalam kasus Tergugat I, wanprestasi yang dilakukannya sesuai dengan pernyataan pertama diatas itu tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukan, dengan tidak memenuhi kesanggupannya mengurus Izin mendirikan bangunan (IMBB).

Akibat hukum bagi debitur yang telah melakukan wanprestasi adalah hukuman atau sanksi sebagai berikut :

1. Debitur diwajibkan membayar kerugian yang diderita kreditur (Pasal 1243 KUHPerdata).

2. Apabila perikatan itu timbale balik, kreditur dapat menuntut pemutusan atau pembatalan perikatan melalui hakim (pasal 1266 KUHPerdata). 3. Dalam perikatan untuk meberikan sesuatu, resiko beralih pada debitur

sejak terjadi wanprestasi (pasal 1237 ayat 2 KUHPerdata).

4. Debitur diwajibkan memenuhi perikatan jika masih dapat dilakukan atau pembayaran disertai pembayaran ganti kerugian (pasal 1267 KUHPerdata). 5. Debitur wajib membayar biaya perkara jika perkara diperkarakan di muka

pengadilan.

Saat ini terjadi sengketa pemilikan bekas tanah perkebunan Belanda (Perkebunan Kakao) antara warga Damakradenan kecamatan Ajibarang Banyumas dengan PT. Rumpun Sari Antan selaku pemegang HGU. Adapaun riwayat tanahnya sebagai berikut:

(10)

2. Menurut catatan kantor Pertanahan Kabupaten Banyumas, tanah tersebut semula berstatus Gouvernmentsgrond (tanah negara). Pada tahun 1892 diberikan hak erfpracht selama 75 tahun pada pengusaha Belanda Jan Albertus Van Der Roeft. Terjadi beberapa kali peralihan sampai hak itu dikonversi menjadi HGU. Sejak tahun 1967 menjadi tanah negara. Pada tahun 1971 pemerintah memberikan HGU kepada PT. Rumpun Damakradenan. Pada tahun 1994 HGU menjadi atas nama PT. Rumpun Sari Antan.

ANALISIS KASUS

Dalam kasus sengketa tanah ini awalnya warga Damakradenan menganggap bahwa tanah itu adalah milik masyarakat setempat, karena pada saat itu berlaku hukum adat sehingga kepemilikan tanah tersebut atas dasar hak ulayat.

Namun penyewaan tanah kepada pihak asing itu tidak sepenuhya salah, sebab hak ulayat itu juga dipengaruhi oleh pemerintah belanda. Hal ini bisa dilihat pada pernyataan 1 hukum Agraris Wet pasal 51 ayat 8 IS bahwa “persewaan tanah oleh orang pribumi kepada bukan pribumi ditetapkan menurut ordonansi.” Dari ketentuan tersebut mungkin warga damakradenan dapat menyewakan tanah tersebut kepada pihak asing. Atau mungkin warga demakradenan tidak dapat membuktikan bukti pemilikan tanah tersebut. Dan hal itu sesuai dengan Pasal 1 Agrarische Besluit (Domen Verklaring) bahwa “semua tanah dimana pihak lain tidak dapat membuktikan sebagai eigendomnya adalah milik negara.”

Karena beberapa dasar itulah yang menjadi pertimbangan pemerintah memberikan hak erfpach kepada pengusaha Belanda yaitu Jan Albertus Vander Roeft yang menurut AW 1870, pasal 51 ayat 4 dapat dilakukan selama dalam kurung waktu tidak lebih 75 tahun dan jika sudah 75 tahun maka tanah kembali menjadi hak milik negara. Pada tahun 1960 terjadi beberapa peralihan sehingga hak itu dikonversi menjadi Hak Guna Usaha (HGU), hal tersebut lahir setelah berlakunya Undang Undang Pokok Agraria.

Sehingga pada tahun 1967 tanah itu kembali menjadi milik negara.

Pada tahun 1971 pemerintah memberikan Hak Guna Usaha kepada PT. Rumpun Damakradenan. Hak Guna Usaha yang diberikan pemerintah ini berdasarkan UUPA BAB II Bagian IV pasal 28 ayat (3) yang mengatakan bahwa “Hak Guna Usaha dapat beralih dan dialihkan kepada pihak lain.”

Hal ini juga ada pada pasal 4 ayat 1 UUPA. Disebutkan bahwa pemerintah memiliki hak utk memberikan HGU pada PT. Rumpun Damakradenan , dalam hal pemberian hak untuk mengelola perkebunan yang merupakan tanah miliki negara.

Tapi pada tahu 1994 HGU yang semula milik PT. Rumpun Damakradenan menjadi atas nama PT. Rumpun Sari Antan. Hal ini diatur dalam ketentuan UUPA pasal 29 ayat (1), (2), (3) diatur batasan-batasan waktu dalam pemberian HGU dan syarat/ketentuan tertentu jika akan dilakukan perpanjangan kepemilikan hak guna usaha tersebut.

KESIMPULAN KASUS

(11)

pemerintah setempat berdasarkan hukum adat tersebut tidak mempuyai kekuatan hukum yang kuat.karena sertifikat tanah tersebut berada di tangan PT.Rumpun Sari Antan.

Sehingga berdasarkan peraturan hukum yang ada tanah tersebut milik PT Rumpun Sari Antan.Sehingga inilah yang menyebabkan permasalahan antara kedua belah pihak di mana warga merasa kalo tanah itu milik mereka berdasarkan hukum adat tetapi menurut hukum tanah berdasarkan pemerintahan,tanah tersebut milik perkebunan PT Rumpun Sari Antan. Sebaiknya pemerintah harus bener-bener melihat permasalahan ini dan harus bisa menjadi penengah permasalahan ini.pemerintah bener-bener adil bukan hanya melihat dari kepemilikan tanah tersebut dari segi kepastian hukum.dan harus melihat dari perkembangaan di dalam masyarakat jadi kedua belah pihak yang bersangkutan tidak ada yang di rugikan dan permasalahan ini harus diadakan pertemuan antara warga dengan PT Rumpun Sari Antan untuk membuat perjajian diatas kertas dan kesepakat kedua belah.sehingga masalah ini dapat terselesai dengan baik dan tidak ada lagi permasalahan antar warga dengan PT Rumpun Sari Antan.

Pernikahan Syeh Puji dengan Ulfa

Memori kita tentu masih ingat dengan kasus pernikahan seorang Kiai kaya asal Semarang yaitu Pujiono Cahyo Widianto atau lebih dikenal dengan sebutan Syeh Puji yang menikahi seorang bocah perempuan bernama Lutfiana Ulfa berumur 12 tahun. Kasus ini begitu

menyedot perhatian semua kalangan, sebab pernikahan tersebut sempat membuat heboh jagat hukum nasional. Hampir semua media cetak dan elektronik mengulas pernikahan tidak lazim tersebut. Tentu saja, ada yang pro dan tak jarang pula yang kontra. Pernikahan kontroversial ini menjadi pernikahan yang sangat bersentuhan dengan akibat pernikahan dini yang dijalani oleh si anak wanita.

Tanpa memedulikan akibat pernikahan dini tersebut, alasan Syeh Puji menikahi bocah di atas adalah untuk membantu kehidupan ekonomi keluarga si bocah, sedangkan si bocah sendiri mengatakan bahwa ia tidak terpaksa dinikahi Kiai tersebut yang lebih pantas menjadi ayahnya. Ulfa berkata: “Saya menikah dengan Syeh bukan atas paksaan siapa pun, saya menikah dengan Syeh karna cinta.” Seperti itulah pernyataan si bocah pada salah satu kesempatan.

Cinta? Tahu apa bocah berusia 12 tahun tentang cinta? Alasan klise. Rumr pernikahan Syeh Puji yang ditumpangi isu penjualan bocah oleh orang tuanya semakin merebak sehingga Kak Seto Mulyadi selaku ketua Komnasham turun tangan.

Kak Seto menemui Ulfa dan Syeh Puji agar perkawinan itu dihentikan “sementara”. Dlam arti, Syeh Puji dilarang memberikan nafkah batin kepada Ulfa. Sebab disini Ulfa dianggap masih terlalu kecil untuk melakukan kewajiban sebagai istri. Kak Seto pun meminta mereka tinggal terpisah hingga Ulfa benar-benar matang. Akibat pernikahan dini sangat buruk bagi

(12)

Kasus di atas menimbulkan pertanyaan dimasyarakat, bagaimana pandangan hukum Islam tentang pernikahan Syekh Puji dengan Ulfa tersebut? Sah atau tidak? Silang pendapat pun muncul. Sebagian menjawab sah, sebagian yang lain tidak.

Yang menjawab sah, argumentasi hukumnya karena rukun dan syarat nikah telah terpenuhi sehingga sesuai dengan pasal 2 ayat (1) UU No 1 Tahun 1974 tentang perkawinan dan pasal 4 Kompilasi Hukum Islam (KHI). Wali, saksi, mahar dan akad (ijab dan qabul) ada. Soal umur yang masih 12 tahun tidak masalah dengan alasan pernikahan Nabi Muhammad dengan Aisyah. Adagium yang sering dipakai adalah sahha diyanatan wa la yasihhu qadla’an; pernikahan itu sah secara agama cuma belum sah secara negara.

Sebaliknya, yang menjawab tidak sah dan bisa dibatalkan karena pernikahan tersebut melanggar ketentuan pasal 2 dan 7 UU Nomor 1 tahun 1974 dan pasal 5 dan 15 KHI.

Ketentuan tersebut mengatur bahwa setiap pernikahan harus sesuai dengan hukum agama dan dicatat oleh Pegawai Pencatat Nikah serta calon isteri minimal berusia 16 tahun, jika belum mencapai umur tersebut harus mengajukan dispensasi kawin ke Pengadilan Agama.

Analisis Studi Kasus

Perkawinan Syekh Puji dengan Ulfa dilakukan secara siri, mengingat usia Ulfa masih di bawah batas usia perkawinan yang telah diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, sehingga tidak dapat didaftarkan di kantor catatan sipil dan bagi petugas agama yang melangsungkan upacara perkawinan tersebut, dapat diberi hukuman pidana. Hal ini sesuai dengan pasal 530 KUHP yang berisi: mengancam pidana bagi petugas agama yang melangsungkan upacara perkawinan sebelum dinyatakan kepadanya bahwa telah dilangsungkan lebih dulu upacara perkawinan di catatan sipil. Dalam penulisan menggunakan metode penelitian hukum normatif, didukung dengan dilakukannya wawancara dengan Kak Seto sebagai Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak dan H. Umar Shihab sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia. Dapat ditarik kesimpulan bahwa adanya pelanggaran terhadap pasal-pasal yang mengatur tentang hak anak dalam Pasal 4, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, dan Pasal 11 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang

Perlindungan Anak, khususnya pada Pasal 26 ayat (1) huruf (c), yaitu orang tua berkewajiban dan bertanggungjawab mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak. Dengan adanya beberapa bentuk pelanggaran, maka sebaiknya perkawinan antara Pujiono Cahyo Widianto alias Syekh Puji dengan Lutfiana Ulfa dibatalkan atau dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Perkawinan dini berdampak pada kesehatan reproduksi anak perempuan. Pada masa remaja ini alat reproduksi belum matang melakukan fungsinya. Rahim atau uterus baru siap melakukan fungsinya setelah umur 20 tahun, karena masa ini fungsi hormonal melewati masa maksimal. Pada usia 14-18 tahun, perkembangan otot-otot rahim belum cukup baik kekuatan dan kontraksinya sehingga jika terjadi kehamilan rahim dapat rupture atau robek. Selain itu, pada usia 14-19 tahun sistem hormonal belum stabil, kehamilan menjadi tak stabil mudah terjadi pendarahan dan terjadilah abortus atau kematian janin. Usia kehamilan terlalu dini dari persalinan memperpanjang rentang usia reproduktif aktif. Sedangkan jika dilihat dari segi fisik, remaja itu belum kuat, tulang panggulnya masih terlalu kecil sehingga bisa

membahayakan proses persalinan. Hal ini dapat mengakibatkan resiko kanker leher rahim di kemudian hari. Tidak hanya itu anak perempuan berusia 10-14 memiliki kemungkinan meninggal lima kali lebih besar, selama kehamilan atau melahirkan, di bandingkan dengan perempuan berusia 20-25 tahun sementara itu anak perempuan berusia 15-19 tahun memiliki kemungkinan dua kali lebih besar.

(13)

pubertas, kadar kedua hormon tersebut meningkat, sehingga merangsang pembentukan hormon seksual. Peningkatan kadar hormon menyebabkan pematangan payudara, ovarium, rahim dan vagina, dimulainya siklus menstruasi serta timbulnya ciri-ciri seksual sekunder (misalnya rambut kemaluan dan rambut ketiak). Perubahan tersebut terjadi secara berurutan selama masa pubertas sampai kematangan seksual. Selain itu kami juga dapat memaparkan bahwa Ulfa mengalami Pedophilia heteroseksual, yaitu sebagai objek seksual seorang anak perempuan di bawah umur. Dalam kasus pernikahan dini yang dijalani, Ulfa dapat mengalami hambatan dalam perkembangan psikologis yang menyebabkan ketidakmampuan menjalin relasi heterososial dan homososial yang wajar, kecenderungan kepribadian anti sosial yang ditandai dengan hambatan perkembangan pola seksual yang matang disertai oleh hambatan perkembangan moral, muncul kombinasi regresi, ketakutan impoten, serta rendahnya tatanan etika dan moral. Perilaku yang dilakukan Syeh Puji ini merupakan perilaku seksual yang menyimpang (defisiasi) karena melibatkan seorang gadis di bawah umur.

Disini, kita sebagai calon SKM (Sarjana Kesehatan Masyarakat) dengan adanya kasus seperti yang telah dipaparkan di atas sudah seharusnya mulai berusaha dengan memberikan

penyuluhan mengenai hak dan kewajiban anak dalam menjaga kesehatan organ reproduksi, mengharapkan peran pemerintah dalam menyelenggarakan perlindungan anak sesuai dengan peraturan yang berkaitan dengan anak, dan mengusahakan tetap eksisnya Lembaga Swadaya Masyarakat seperti Komisi Nasional Perlindungan Anak. Sebab jika tetap terjadi pernikahan dini, akan menimbulkan berbagai macam masalah atau mengakibatkan munculnya dampak biologis (fisik) dan dampak psikologis (psikis) yang tidak baik bagi tumbuh kembang kesehatan si bocah.

 Dampak Biologis (Fisik) akibat Pernikahan Dini

Tampak jelas bahwa akibat pertama yang menonjol dari pernikahan dini adalah akibat pada fisik. Secara usia, organ intim atau alat reproduksi anak di bawah umur belum siap untuk melakukan hubungan seks. Kalaupun hal ini dipaksakan, anak tersebut akan merasa kesakitan, sehingga berdampak pada kesehatan dan menimbulkan perasaan trauma berhubungan seks berkepanjangan. Apalagi, jika si anak perempuan sampai hamil dan bahkan melahirkan di usia muda.

Perobekan besar pada organ intim akibat pemaksaan hubungan seks akan mengakibatkan infeksi dan bukan tidak mungkin dapat membahayakan jiwa si anak. Terlebih lagi, jika hubungan seks tersebut didasari dengan kekerasan, bukan atas dasar suka sama suka. Akibat pernikahan dini yang berkenaan dengan kondisi fisik pelakunya benar-benar membahayakan kesehatan anak.

 Dampak Psikologis (Psikis) akibat Pernikahan Dini

Anak di bawah umur belum paham benar mengenai hubungan seks dan tujuannya. Mereka hanya melakukan apa yang diharuskan pasangan terhadapnya tanpa memikirkan hal yang melatarbelakanginya melakukan itu. Jika sudah demikian, anak akan merasakan penyesalan mendalam dalam hidupnya. Akibat pernikahan dini ini akan mengganggu kondisi kejiwaan si anak sebagai pelaku pernikahan dini. Akibatnya ia sering murung dan tidak bersemangat. Bahkan ia pun akan merasa minder untuk bergaul dengan anak-anak seusianya mengingat statusnya sebagai istri. Selain itu, akibat pernikahan dini ini juga mengena pada perenggutan hak anak umtuk meraih pendidikan wajib minimal 12 tahun. Oleh sebab itu, para orang tua harus berhati-hati mengambil keputusan untuk menikahkan anak di usia dini dengan alasan apa pun. Setiap anak berhak mendapatkan dan menentukan jalan hidupnya di luar titah yang “menjerumuskan” para orang tua.

(14)

Demikian penjelasan akibat pernikahan dini. Semoga informasi yang telah kami sampaikan dapat bermanfaat dan memberi tambahan wawasan bagi kita semua untuk tidak melakukan pernikahan di usia dini.

. Kasus Anak ‘SR’ dan Gugatan Kepolisian

Tindakan sewenang-wenang berujung penganiayaan aparat kepolisian saat menangani perkara anak usia 15 tahun, ‘SR’ alias Koko cukup mencuri perhatian publik. Sekira 8 Juni 2009 silam, Koko ditangkap aparat dari Polsek Sektor Bojong Gede dan dituduh mencuri perangkat elektronik. Koko bukanlah pelaku yang sebenarnya lantaran beberapa hari setelah penangkapan itu, pelaku sebenarnya telah tertangkap dan menyatakan bahwa Koko tidak terlibat sama sekali.

Beruntung, Putusan PN Cibinong No.2101/Pid.B/2009/PN.CBN pada 10 Agustus 2009 membebaskan Koko dari segala tuntutan jaksa dan meminta agar

memulihkan hak-hak terdakwa secara kedudukan, harkat, serta martabat.

Putusan itu sempat mendapat perlawan dari Kejari Cibinong dengan mengajukan kasasi. Hasilnya, 20 Januari 2010 hakim agung menolak kasasi tersebut. Koko dan keluarganya tidak tinggal diam atas apa yang terjadi.

Melalui LBH Jakarta, pada 29 februari 2012 keluarga Koko menggugat secara perdata ke PN Cibinong. Sebagai catatan, gugatan perdata kepada pihak

kepolisian merupakan yang pertama kali. Sayangnya, PN Cibinong lewat putusan No. 36/Pdt.G/2012/PN.Cbn menolak gugatan tersebut. Namun, langkah berani dan pertama tersebut menjadi preseden ketika Kepolisian melakukan tindakan

sewenang-wenang saat menangani perkara. Buktinya, gugatan perdata serupa di Padang, berhasil dikabulkan dan pihak Kepolisian mesti membayar ganti rugi Rp 100.700

4. Kasus Antasari Azhar

Mantan Ketua KPK, Antasari Azhar divonis oleh hakim selama 18 tahun lantaran terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuhan berencana

terhadap bos PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnain pada 14 Maret 2009. Kasus ini menjadi perhatian banyak kalangan selain karena Antasari merupakan pimpinan lembaga yang sedang dinanti-nantikan kinerjanya, sekaligus adanya dugaan rekayasa kasus untuk menjegal karier Antasari.

(15)

Perebutan HAK ASUH ANAK ANTARA MAIA EISTIANTY dan AHMAD

DHANI

Perebutan anak antara

Maia Estianty

dan

Ahmad Dhani

nampaknya belum

juga usai. Walaupun pengadilan telah memutuskan hak asuh ketiga anak

mereka, Al, El, dan Dul, jatuh ke tangan

Maia

, namun Sesuai keputusan

Mahkamah Agung, Maia Estianty memenangkan hak asuh anak. Tetapi,

sampai saat ini ketiga putranya masih berada di bawah pengasuhan Ahmad

Dhani.

Maia Estianty akhirnya bisa tersenyum lebar. Pasalnya, hak asuh anak

setelah perceriannya dengan Ahmad Dhani kini jatuh ke tangan Maia

setelah menerima keputusan dari Mahkamah Agung (MA) pada 12 Januari

lalu. Maia didampingi kuasa hukumnya, Sheila Salomo mengatakan bahwa

hasil dari putusan MA menguatkan hak asuh anak.

Maya berharap Dhani berbesar hati untuk segera menyerahkan hak asuh

kepada dirinya.

Maia mengatakan sampai sejauh ini ia belum terpikir untuk melakukan

eksekusi mengambil ketiga anaknya dari tangan Dhani.

Perceraian Maia dengan Dhani memang berjalan alot. Keduanya

sama-sama ingin mendapatkan hak asuh ketiga putra mereka, Al, El dan Dul.

Pengadilan Agama Jakarta Selatan memutuskan hak asuh anak berada di

tangan Maia.

Dhani tak terima begitu saja. Dhani itu pun mengajukan banding. Namun,

karena belum memenuhi syarat banding, maka bandingnya dibatalkan. Tak

berhenti di situ, Dhani mengajukan kasasi. Dan akhirnya pada Januari lalu,

Mahkamah Agung memutuskan jika hak asuh anak jatuh ke tangan Maia.

Dhani dikabarakan mengajukan PK sekitar satu bulan yang lalu. Dan

Dhani sangat antusias dengan PK yang diajukan tersebut.

Dhani diminta untuk mengajukan PK. Karena memang harapannya

Dhani ingin mendapatkan hak asuh anak-anaknya

Dhani mengetahui dengan baik apa yang dilakukannya. Ia sangat berharap

bisa mendapatkan hak asuh ketiga putranya. Meski hak asuh anak berada

di tangan Maia, sampai saat ini, Al, El dan Dul berada dalam pengawasan

Dhani.

Perceraian Dhani dan Maia memang menjadi sorotan. Maia menggugat

cerai Dhani ke Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Proses perceraian

pasangan ini berlangsung lama karena keduanya tetap bersikeras dengan

pendapatnya masing-masing. Selama proses perceraian, pasangan ini saling

melemparkan tuduhan.

(16)

kepada Maia. Tak terima keputusan tersebut, Dhani diwakili pengacaranya

mengajukan banding.

Namun, banding tersebut ditolak. Tak patah semangat, bos Republik Cinta

Manajemen ini memutuskan mengajukan kasasi. Lagi-lagi, kasasinya

ditolak. Dhani pun akhirnya memutuskan mengajukan PK.

Sesuai keputusan hakim pada 23 September 2008, seharusnya hak asuh

anak jatuh ke tangan Maia. Hasil putusan Mahkamah Agung pada 12

Januari 2011 juga menguatkan hak asuh anak untuk Maia.

Namun, Dhani tak mau menyerahkan anak-anak kepada Maia. Sempat

terjadi pergolakan hubungan Dhani-Maia karena berebut hak asuh anak.

Kini, hubungan Dhani dan Maia tak lagi seperti anjing dan kucing.

namun kini , Al, El dan Dul sekarang sering berkunjung dan menginap ke

rumah Maia. Dari Dhani sendiri yang mengizinkan. Bahkan, Al sudah

tinggal serumah dengan Maia sekarang. Sudah sekira satu bulan lebih

perasaan Maia akhirnya bisa berkumpul dengan ketiga darah dagingnya?

Tentu saja bahagia. Tak sia-sia Maia membangun rumah mewah lengkap

dengan kolam renang dan kamar tidur bagi ketiga anaknya di kawasan

Pejaten, Jakarta Selatan.

“Saya sedang bahagia. Kemarin bantuin anak-anak bikin tugas.

Alhamdulillah, sekarang sudah mulai bisa bertemu anak-anak. Hubungan

dengan anak-anak mulai lancar karena anak-anak sudah mulai tidur di

rumah saya,” ujar Maia di Studio RCTI, Jakarta Barat, 30 Mei 2011.

Dhani juga pernah mengakui, tak mau memaksakan kehendak kepada Al,

El, Dul harus tinggal bersamanya. Apalagi, anak-anak sudah beranjak

dewasa sehingga sudah bisa mengerti pembagian waktu yang dirasa tepat.

“Ya sesuka-suka dia saja. Kadang di rumah temannya. Kalau saya sih

terserah dia. Kan memang dari awal saya demokratis dengan hal ini. Saya

rasa saya sudah cukup memberikan jiwa kelaki-lakian kepada mereka,

sehingga saya tidak terlalu ngotot Al harus tinggal di rumah saya atau

bundanya. Saya berikan pilihan kepada anak saya,” ujar Dhani di Studio

RCTI, Jakarta Barat, 26 Mei 2011.

Analisis kasus :

1. Kompetensi relatifnya dimana ?

Kekuasaan untuk mengadili adalah di Pengadilan Agama Jakarta Selatan, hal ini didasarkan pada pasal 118 ayat (1) HIR, yang berwenang mengadili suatu perkara perdata adalah Pengadilan Negeri (PN) yang wilayah hukumnya meliputi tempat tinggal tergugat .

tetapi , kasus Ahmad Dhani dan Maya Estianty ini sudah mencapai pada tingkat Mahkamah Agung .

1. Apa bisa pakai jalur non-litigasi ?

Tidak bisa

(17)

Masalah hak asuh anak antara Ahmad Dhani dan Maia Estianty sebenarnya sudah jelas. Pada 12 Januari lalu, Mahkamah Agung (MA) mengeluarkan putusan bahwa Maia berhak mendapatkan hak asuh atas tiga anaknya, yaitu, Al, El, dan Dul. Namun, putusan tersebut belum bisa membuat Maia berkumpul dengan anak-anaknya.

menentukan hak asuh anak setelah perceraian dalam undang – undang No. 1

tentang Perkawinan pun tak dijelaskan secara khusus . Bahkan seorang ibu sangat mungkin akan

kehilangan hak asuh terhadap anaknya yang masih berusia dibawah 12 tahun, dimana masih membutuhkan

kasih sayang ibunya

jika merujuk pada konsepsi kompilasi Hukum Islam (KHI) sendiri

misalnya, disebutkan bahwa dalam pasal 105 huruf a , anak korban

perceraian orang tua yang masih berusia dibawah 12 tahun seharusnya berada pada kasih sayang ibunya

daripada ayahnya

Namun dijelaskan , pada pasal 156 huruf c bahwa seseorang ibu dapat kehilangan

hak asuh anaknya (sekalipun masih berusia dibawah usia 12 tahun)

ketika si ibu dianggap tak akan mampu melindunggi keselamatan jasmani si anak

sehingga menyerahkan hak asuhnya khawatir malah akan menimbulkan mudharat

Sesuai keputusan hakim pada 23 September 2008, seharusnya hak asuh anak jatuh ke tangan Maia. Hasil putusan Mahkamah Agung pada 12 Januari 2011 juga menguatkan hak asuh anak ke tangan Maia.

Sementara dalam kontruksi hukum positif negara bias saja hak asuh

berpindah dari ibunya kepada bapaknya atau sebaliknya, melalui proses pengadilan yang sah .

sebagaimana yang terkandung dalam UU No. 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan bahwa hak asuh anak pada intinya hanya bisa diberikan kepada ibu dan bapaknya.

Dalam kasus maya dan dhani ini seharusnya memang hak asuh anak diberikan kepada maya dikarenakan sesuai dengan bahwa dalam pasal 105 huruf a , anak korban

(18)

Sidang Rebutan Warisan Adi Firansyah

indosiar.com, Jakarta - Kasus rebutan warisan almarhum Adi Firansyah akhirnya bergulis ke Pengadilan. Sidang pertama perkara ini telah digelar Kamis (12/04) kemarin di Pengadilan Agama Bekasi. Warisan pesinetron muda yang meninggal akibat kecelakaan sepeda motor ini, menjadi sengketa antara Ibunda almarhum dengan Nielsa Lubis, mantan istri Adi.

Nielsa menuntut agar harta peninggalan Adi segera dibagi. Nielsa beralasan Ia hanya memperjuangkan hak Chavia, putri hasil perkawinannya dengan Adi. Sementara Ibunda Adi mengatakan pada dasarnya pihaknya tidak keberatan dengan pembagian harta almarhum anaknya. Namun mengenai rumah yang berada di Cikunir Bekasi, pihaknya berkeras tidak akan menjual, menunggu Chavia besar.

Menurut Nielsa Lubis, Mantan Istri Alm Adi Firansyah, "Saya menginginkan

penyelesaiannya secara damai dan untuk pembagian warisan toh nantinya juga buat Chavia. Kita sudah coba secara kekeluargaan tapi tidak ada solusinya."

Menurut Ny Jenny Nuraeni, Ibunda Alm Adi Firansyah, "Kalau pembagian pasti juga dikasih untuk Nielsa dan Chavia. Pembagian untuk Chavia 50% dan di notaris harus ada tulisan untuk saya, Nielsa dan Chavia. Rumah itu tidak akan dijual menunggu Chavia kalau sudah besar."

Terlepas dari memperjuangkan hak, namun mencuatnya masalah ini mengundang keprihatinan. Karena ribut-ribut mengenai harta warisan rasanya memalukan. Selain itu, sangat di sayangkan jika gara-gara persoalan ini hubungan keluarga almarhum dengan Nielsa jadi tambang meruncing.

Sebelum ini pun mereka sudah tidak terjalin komunikasi. Semestinya hubungan baik harus terus dijaga, sekalipun Adi dan Nielsa sudah bercerai, karena hal ini dapat berpengaruh pada perkembangan psikologis Chavia.

"Saya tidak pernah komunikasi semenjak cerai dan mertua saya tidak pernah berkomunikasi dengan Chavia (jaranglah)", ujar Nielsa Lubis.

"Bagaimana juga saya khan masih mertuanya dan saya kecewa berat dengan dia. Saya siap akan mengasih untuk haknya Chavia", ujar Ny Jenny Nuraeni.

Ustaz Ahmad Alhabsyi 7 Tahun Poligami

Tanpa Sepengetahuan Istri?

(19)

Pengacara Putri Aisah Aminah, Vidi Galenso Syarief menuturkan bahwa poligami tersebut dilakukan Ustaz Ahmad Alhabsyi sejak tujuh tahun lalu.

"Masalahnya sudah dari tujuh tahun lalu. Problemnya baru belakangan ini," kata Vidi Galenso Syarief saat dihubungi, Selasa (14/3/2017).

Akibatnya, Putri Aisah Aminah merasa kecewa dengan keputusan Ustaz Ahmad Alhabsyi yang melakukan poligami tanpa sepengetahuannya. Alhasil, ibu tiga anak itu pun memutuskan untuk menggugat cerai ke pengadilan.

"Menurut Putri ini sudah yang terakhir. Artinya (masalah) sudah berkali-kali dan mulainya kan bukan tahun lalu. Akhirnya Putri melangkah ke hukum karena September lalu masalah belum selesai," ujar Vidi Galenso Syarief.

Proses mediasi pun kembali dilanjutkan pada 27 Maret 2017 mendatang. "Batas berpikirnya 27 Maret mendatang. Di situ harus ada keputusan mau bersama atau berpisah, dalam artian mediasinya berhasil atau gagal," tuturnya.

PEREBUTAN HAK ASUH ANAK ANTARA ANGELINA JANUARDY DAN

ERICK GONDOMULIA

Jakarta, HanTer - Kasus persidangan pengalihan hak asuh anak antara Angelina Januardy dan Erick Gondomulia sudah memasuki babak akhir atau putusan, Senin (15/5/2017) lusa. Namun hingga kini sangat sulit bagi Erick Gondomulia untuk menemui kedua anaknya. Bahkan pihak Angelina tidak membalas surat elektronik (email) yang dikirimkam Erick Gondomulia.

"Terakhir kali saya email dia untuk mengajak anak-anak, gak dibalas. Itu sudah saya email 2 kali bahkan tidak ada balasan. Mungkin takut kalau anak-anak gak saya pulangin," Kata Erick di Jakarta, Jumat (12/5/2017).

Menurut Erick, saat ini dirinya benar-benar tidak lagi diperbolehkan untuk menemui kedua anaknya yakni Tarra dan Narra yang usianya 12 dan 5 tahun itu. Angelina diduga ingin mengusai hak asuh anaknya tanpa mempertimbangkan psikologi anak-anaknya dalam hal menemuin ayahnya.

"Padahal Tarra dan Narra itu adalah anak saya juga, masa iya saya mau ketemu dan ingin membahagiakan anak-anak gak boleh. Padahal anak-anak tentunya juga mengharapkan kasih sayang seorang ayah," ungkap Erick.

Dalam persidangan nanti diharapkan pihak Pengadilan memberikan putusan yang seadil-adilnya kepada Erick. Erick berharap pengadilan memutuskan pihaknya dapat menemui anak-anaknya tanpa harus mendapatkan kesulitan seperti yang sekarang ini.

(20)

pengadilanpun sudah menyidangkannya. Tentu saja sebagai seorang ayah yang ingin menemui anak-anaknya diperbolehkan bukan malah dipersulit," pungkasnya.

1. Samuel Rizal dan Stevianne Agnecya

Mengawali tahun 2016, perceraian datang dari Samuel Rizal dan Stevianne Agnecya. Hanya sekitar empat tahun rumah tangga keduanya mampu bertahan. Setelah menikah pada 12 Februari 2012 lalu, mereka memutuskan untuk berpisah. Gugatan cerai Stevianne dikabulkan oleh majelis hakim pada 2 Februari 2016. Dari pernikahan itu keduanya telah dikaruniai satu orang putri yang diberi nama Drucilla Kalea Arifin. Stevianne pun kini sudah mulai terbuka mengumbar kedekatannya dengan pria lain. Bintang film “Eiffel I’m in Love” itu juga sempat dikabarkan menjalin hubungan dengan Nikita Mirzani. Namun hubungan mereka pun kandas. Pasca putus dari Nikita, Samuel juga sempat disebut-sebut mulai mendekati Runner Up Puteri Indonesia, Felice Hwang. Namun hingga saat ini masih belum ada kelanjutan tentang status hubungan mereka.

Kasus Pelanggaran Hak Cipta Inul Vizta

PT. Vizta Pratama, perusahaan pemegang franchise rumah bernyanyi (karaoke) Inul Vizta, menjadi tersangka atas kasus pelanggaran hak cipta. Nagaswara selaku penggugat menganggap Inul Vizta melanggar hak cipta dengan mengedarkan dan menyalin lagu tanpa membayar royalti untuk produser dan pencipta lagu. Direktur Utama Nagaswara, Rahayu Kertawiguna, yang turut hadir, menjelaskan bahwa sudah terdapat pemanggilan kepada pihak terkait, namun Kim Sung Ku selaku direktur utama Inul Vizta saat ini masih berada di Korea.

Sebelumnya, Nagaswara yang turut merasa dirugikan oleh Inul Vizta melapor ke Mabes Polri pada Jumat, 8 Agustus 2014. Pihak Nagaswara telah melakukan gugatan kepada PT Vizta Pratama, dalam hal ini Inul Vizta dianggap telah menggunakan video klip bajakan dalam lagu-lagu milik Nagaswara di rumah karaokenya. PT Nagaswara memperkarakan Inul Vizta karena menampilkan video klip Bara Bere yang dinyanyikan Siti Badriah dan lagu Satu Jam Saja yang

dipopulerkan oleh Zaskia Gotik, tanpa izin terlebih dahulu kepada Nagaswara.

(21)

Nagaswara, dalam hal ini sebagai penggugat, melalui Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) seperti WAMI (Wahana Musik Indonesia). Inul Vizta sudah meminta izin kepada WAMI untuk menaruh lagu-lagu milik Nagaswara di rumah karaokenya. Namun WAMI tidak memberikan video klip asli seperti yang sedang dipermasalahkan oleh Nagaswara. "Karena tidak diberikan oleh WAMI, kita jadi asal mengambil, tapi yang penting kan sudah bayar," papar Otto.

Pemegang saham terbesar Inul Vizta, pedangdut Inul Daratista, belum berkomentar atas kasus dugaan pelanggaran hak cipta yang dilayangkan Nagaswara tersebut. Sebetulnya, ini bukan kali pertama karaoke Inul Vizta tersandung masalah. Pada 2009, Andar Situmorang pernah mengajukan gugatan kepada Inul Daratista sebagai pemegang saham terbesar PT Vizta Pratama yang menaungi outlet karaoke Inul Vizta. Andar mengajukan gugatan materi Rp5,5 triliun karena 171 lagu ciptaan komponis nasional, (alm) Guru Nahum Situmorang berada di 20 outlet Inul Vizta tanpa izin. Gugatan yang diproses di Pengadilan Negeri Tata Niaga Jakarta Pusat akhirnya dimenangkan Inul.

Pada 2012, Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI) mengadukan Inul Vizta ke

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terkait lisensi penggunaan lagu. Namun, oleh pihak pengadilan, gugatan tersebut ditolak karena salah konsep. Pada akhirnya, KCI dan Inul sepakat berdamai.

Pada Januari 2014, band Radja melaporkan Inul Vizta ke Mabes Polri karena dianggap menggunakan lagu "Parah" tanpa izin. Inul terancam hukuman 7 tahun penjara dan denda Rp5 miliar karena diduga melanggar UU No. 19 th 2002 tentang Hak Cipta.

Pendapat : Menurut saya hal seperti ini bisa diselesaikan dengan cara musyawarah oleh kedua pihak. Karena kesalahan-kesalahan seperti ini menurut saya tidak

sepenuhnya salah dari pihak Inul Vizta

Analisa Hukum

Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk

mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku, hal ini merupakan bunyi Pasal 1 ayat 1 Undang-undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002. Pencipta memiliki hak eksklusif yang dilindungi oleh

undang-undang dan perlindungan itu dimaksudkan agar pencipta tidak kehilangan haknya secara ekonomis atas karya-karya yang timbul dan lahir dari kemampuan intelektualitasnya.

Perkembangan musik yang sangat pesat dapat melahirkan persaingan dalam industri musik. Pembajakan merupakan momok yang menakutkan bagi para penggiat musik, khususnya pencipta dan produser musik itu sendiri. Minimnya pemahaman akan Hak Cipta dikalangan masyarakat indonesia, hal ini menyebabkan semakin banyak orang mencari lagu dengan kata kunci free download musik indonesia dari ilegal website. Tingginya kata pencarian ini menjadi sebuah inspirasi bagi para pencari uang di internet dengan membuat situs-situs lagu yang mengandung pelanggaran hak cipta. Sehingga banyak bermunculan website-website yang menyediakan sejumlah link download lagu ilegal.

Dalam kasus Inul Vizta dan Nagaswara ini, penggunaan video klip tanpa seizin produsen dan menyiarkannya untuk kepentingan komersial oleh karaoke Inul Vista dapat dikatagorikan sebagai bentuk kegiatan mengumumkan dan mempublikasikan suatu ciptaan dan dilakukan untuk keperluan komersial, yang sudah pasti akan mendatangkan keuntungan bagi pemilik karaoke, namun di sisi lain akan merugikan pemilik dan pencipta lagu terlebih lagi lagu tersebut belum dirilis secara resmi.

(22)

pengedaran atau penyebaran suatu Ciptaan dengan menggunakan alat apapun, termasuk media internet, atau melakukan dengan cara apapun sehingga suatu

Ciptaan dapat dibaca, didengar, atau dilihat orang lain.". Tindakan pengumuman yang dilakukan di Inul Vizta, merupakan tindakan yang masuk didalam lingkup Hak Cipta itu sendiri.

Berdasarkan undang-undang Hak Cipta semua pihak yang menggunakan karya cipta berupa lagu milik orang lain maka orang tersebut berkewajiban untuk terlebih dahulu meminta ijin dari si pemegang hak cipta lagu tersebut dan harus membayar royalti apabila digunakan untuk keperluan komersial. Segala Bentuk pengumuman suatu karya cipta untuk kepentingan komersial harus dengan izin pencipta dan membayar royalti. Namun pihak Inul Vizta mengaku telah membayar royalti setiap tahun kepada Nagaswara, dalam hal ini sebagai penggugat, melalui Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) seperti WAMI (Wahana Musik Indonesia). Royalti adalah pembayaran yang diberikan pada pemilik hak cipta atas karya cipta miliknya yang telah dipergunakan.

Sayangnya, yang dipermasalahkan pihak Nagaswara yaitu video klip dari artis-artis mereka yang ditayangkan di tempat Karaoke Inul Vizta, bukan merupakan video klip asli. Video klip tersebut diambil oleh pihak Inul Vizta dari situs Youtube.com karena tidak mendapatkan izin dari pihak WAMI.

Bahwa dalam Pasal 113 ayat 3 Undang-undang Hak Cipta No. 28 Tahun 2014 yang berbunyi: "Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4

(empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)".

Pihak Inul dapat memastikan apakah izin yang telah didapatkan telah sesuai dengan penggunaannya begitupun dengan pihak WAMI. Keterangan Pihak Inul yag telah membayar royalti setiap tahun kepada Nagaswara melalui Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) seperti WAMI (Wahana Musik Indonesia) dan Inul Vizta sudah meminta izin kepada WAMI untuk menaruh lagu-lagu milik Nagaswara di rumah karaokenya namun Karena video klip tidak diberikan oleh WAMI, maka pihak Inul Vizta asal mengambil klip yang tidak asli. Dalam hal ini masalah royalty yang

dibayarkan harus diperjelas apakah sebatas penggunaan lagu atau keseluruhan lagu beserta video klipnya. Seharusnya dalam meminta izin juga sudah jelas kalau lagu yang akan digunakan untuk tempat karoke adalah lagu berserta video klipnya, sehingga tidak terjadi permasalahan di kemudian hari yang dapat merugikan kedua belah pihak.

Terkait dengan telah dilindunginya hak-hak pencipta dalam Undang-undang, maka seharusnya tidak ada lagi pelanggaran dalam industri musik Indonesia dapat dan diharapkan para penegak hukum dapat bertindak tegas dalam menangani kasus-kasus pelanggaran hak cipta.

(23)

Bintang.com, Jakarta Nama Deddy Corbuzier akhirnya ikut terseret dalam kisruh

antara Mario Teguh dan Kiswinar. Deddy membenarkan dirinya mendapatkan somasi dari pihak Mario Teguh dan sudah menerima surat somasi tersebut.

"Saya sih baru dapat hari ini, karena kirimnya ke studio," tutur Deddy Corbuzier di kawasan Kapten Tendean, Jakarta Selatan, Senin (19/9/2016).

Namun setelah membaca somasinya, pria berkepala plontos tersebut menilai ada kejanggalan terhadap surat somasi yang ditujukan pada dirinya. Bahkan Deddy Corbuzier mengatakan pihak Mario Teguh, dalam hal ini pengacaranya, Vidi Galenso Syarif membuat blunder atas somasi yang disampaikannya.

"Saya juga nggak ngerti, dalam artian di situ tertulis bahwa saya mengundang seseorang dengan nama Kiswinar tanpa sepengetahuan bapak Mario Teguh. Ada beberapa hal yang menurut saya blunder. Pertama yang mengundang itu bukan saya, yang ngundang itu stasiun tv. Saya nggak tahu beliau ngerti apa nggak hal ini, harusnya sih beliau ngerti kan dia juga punya acara tv. Yang ngundang itu stasiun tv ke acara yang dibawakan oleh saya, yang ngundang tv di acara saya," jelasnya.

Tidak sampai di situ, blunder lain yang dinilai bapak satu orang anak tersebut adalah kalimat yang ada dalam surat somasinya yang seolah-olah menggambarkan jika ingin mengundang Kiswinar harus dengan sepengetahuan Mario Teguh. Deddy lantas mempertanyakan kapasitas Mario Teguh atas hak bicara Kiswinar yang dikatakan bukan anak kandungnya.

"Kedua, kalimat 'tanpa sepengetahuan Mario Teguh'. ini (Kiswinar) anaknya bukan? Saya bingung. Haknya kan nggak ada untuk ngelarang orang berbicara. Jadi menurut saya ini blunder. Katanya bukan anaknya dan mas Kis udah tua, kalo udah tua kan harusnya nggak perlu seizin bapaknya lagi," tambah Deddy.

Yang terakhir, yang membuat Deddy Corbuzier tidak habis pikir soal somasi yang dilayangkan padanya adalah kapasitas dirinya yang hanya sebatas pembawa acara. Dirinya mengaku tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang diungkapkan Kiswinar dalam acaranya tersebut.

"Yang parahnya lagi kan mas Kis yang bilang dia anaknya Mario Teguh, itu kata-kata dia, bukan kata-kata saya. Saya kan disini bertindak sebagai media, saya di sini bekerja sebagai host. Saya merasa hal ini sudah tersebar kemana-mana dan saya tidak akan mengundang jika hal ini tidak jadi berita, dan yang ngundang bukan saya, pihak stasiun tv dalam hal ini talent dan kreatif," tegasnya.

Memang, kisruh antara Mario Teguh dengan Kiswinar bermula saat beberapa fakta terungkap di sosial media tentang beberapa bukti yang menunjukan jika Kiswinar merupakan anak dari Mario Teguh. Tidak berselang lama, Kiswinar pun memberikan keterangan di depan publik dalam acara yang dipandu oleh Deddy Corbuzier yang akhirnya membuat permasalahan semakin meluas.

PEMBAHASAN A. Pengertian Poligami

(24)

Sedangkan pengertian poligami menurut Kamus Bahasa Indonesia, adalah ikatan perkawinan yang salah satu pihak memiliki/mengawini beberapa lawan jenisnya di waktu yang bersamaan.

Para ahli membedakan istilah bagi seorang laki-laki yang beristri lebih dari seorang dengan istilah poligini yang berasal dari kata polus yang berarti banyak dan gune yang berarti perempuan. Sedangkan bagi seorang istri yang mempunyai lebih dari seorang suami disebut poliandri yang berasal dari kata polus yang berarti banyak dan andros berarti lak-laki.

Jadi, kata yang tepat bagi seorang laki-laki yang mempunyai istri lebih dari seorang dalam waktu yang bersamaan adalah poligini bukan poligami. Sedangkan dalam bahasa arab poligami disebut ta’addud az-zaujat. Bagi kaum pria, pembahasan tentang poligami acap kali menjadi bunga hati.

B. Poligami Menurut Syari’at Islam

Poligami adalah syariat Islam yang merupakan sunnah Rasulallah SAW. Dalilnya surah An-Nisa: 3, artinya:

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”(QS An-Nisa, ayat ke-3).

Kasus KDRT, Andika Kangen Band Nangis

Saat Ditangkap Polisi

Laporan wartawan Tribun Lampung, Bayu Saputra

SURYAMALANG.COM - Maesa Andika Setiawan, vokalis Kangen Band, kembali harus merasakan pengapnya tinggal di balik jeruji besi.

Andika dijebloskan ke sel tahanan Polresta Bandar Lampung seusai menjalani pemeriksaan sebagai tersangka dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), Sabtu (25/2/2017).

Andika Kangen Band yang mengenakan kemeja hijau gelap dengan celana jins biru datang ke Mapolresta Bandar Lampung, sekitar pukul 09.30 WIB.

Ia diperiksa di ruang Pemeriksaan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Bandar Lampung.

Selama pemeriksaan, Andika kerap menundukkan kepalanya. Beberapa kali ia terlihat mengusapkan air matanya saat dicecar pertanyaan seputar KDRT oleh penyidik.

Beberapa kali pula pemeriksaan terhenti karena Andika meminta izin untuk ke toilet.

Setelah diperiksa selama lima jam, penyidik akhirnya memutuskan untuk melakukan penahanan terhadap pelantun "Bintang 14 Hari".

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...