Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Sejarah Kesenian Barongan di Desa Kunden Kecamatan Blora T1 152010012 BAB IV

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Desa Kunden di Kabupaten Blora

1. Letak Geografis

Desa Kunden adalah suatu kelurahan yang berada di kabupaten Blora. Letak yang strategis dekat dengan alun-alun Blora, pasar, masjid, dan rumah Bupati, membuat Desa Kunden semakin ramai oleh lalu lalang kendaraan seperti halnya angkutan umum dan ojek yang setiap harinya beroperasi. Transportasi menuju Desa Kunden sangat lancar, karena berbagai transportasi dalam berbagai jenis dapat diakses.

Ada pun desa-desa yang berbatasan dengan desa Kunden, antara lain yaitu:

Arah Desa

Utara Desa Temurejo

Selatan Kelurahan Mlangsen/ Jetis

Barat Kelurahan Kauman

Timur Kelurahan Tempelan

Tanah di Desa Kunden adalah tanah subur, terbukti dengan warna tanah yang coklat kehitaman dan air tidak pernah kering serta merupakan daerah persawahan. Penghasilan masyarakat mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani.

(2)

a. 42, 24 hektar merupakan lahan persawahan. b. 18, 08 hektar merupakan tegalan.

c. 41, 03 hektar merupakan lahan pemukiman. d. 18, 40 hektar lain-lain

2. Kependudukan

Berdasarkan letak geografisnya Desa Kunden memiliki luas daerah 130,03 HA, jumlah penduduk 4217 jiwa, terdiri dari 2054 laki-laki dan 2163 perempuan, yang memiliki ketinggian dari permukaan laut sekitar 30/ 250 M. Berikut keterangan desa menurut kelompok umur:

Tabel 1 Jumlah Penduduk

No Usia Penduduk Jumlah

1 00 – 15 thn 1718

2 15 – 65 thn 2419

3 65 ke-atas 80

Jumlah pendidikan penduduk Desa Kunden tergolong tinggi, hal ini terlihat karena banyak warga lulusan sarjana atau perguruan tinggi.

Tabel II Taraf Pendidikan

No Sekolah Jumlah

1 TK -

2 SD 475

3 SMP/ SLTP 204

4 SMA/ SLTA 1112

(3)

6 Sarjana 772

7 Pascasarjana 15

8 Pondok pesantren -

9 Pendidikan Agama -

10 Sekolah Luar Biasa -

11 Kursus Ketrampilan -

Lembaga Pendidikan di Desa Kunden terdapat 3 SD/MI, 1 SLTP/MTS dan 2 SLTA/MAN namun untuk pendidikan TK di Desa Kunden tidak tersedia, sehingga untuk pendidikan TK warga Kunden harus pergi keluar desa misalnya Desa Karang Jati, Jetis dan sebagainya untuk menyekolahkan putra-putrinya.

Geografis Desa Kunden yang merupakan daerah persawahan menjadikan sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai petani. Mata pencaharian penduduk tampak dalam tabel berikut:

Tabel III Mata Pencaharian

No Jenis Pekerjaan Jumlah

1 Petani 132

2 Buruh tani 18

3 Buruh industri -

4 Buruh bangunan 215

5 Pedagang 540

6 PNS 325

7 ABRI 25

(4)

9 Pensiunan 217

10 Nelayan -

11 Jasa 10

3. Sistem mata pencaharian dan ekonomi

Mata pencaharian pokok masyarakat kelurahan Kunden adalah swasta. Selain itu ada juga yang bermata pencaharian sebagai Pegawai Negri, anggota ABRI, pensiunan, petani, buruh bangunan, pedagang dan lain sebagainya. Namun ada juga yang bekerja merangkap, misalnya disamping bekerja sebagai Pegawai Negri juga bekerja sebagai petani. Keadaan ini berkaitan dengan letak tempat tinggal mereka.

Penduduk masyarakat kelurahan kunden paling banyak berkerja pada bidang swasta, PNS dan ABRI karena tingkat pendidikan masyarakat Kunden tergolong tinggi sehingga banyak masyarakat berkerja di perusahaan dan instansi pemerintah. Mata pencarian berikutnya adalah petani, buruh tani, dan pedagang yang ada di Desa Kunden karena keadaan geografis Desa Kunden yang mendukung seperti tanah subur, terbukti dengan warna tanah yang coklat kehitaman dan air tidak pernah kering serta merupakan daerah persawahan serta lahan pertanian dan perkebunan yang luas.

B. Kesenian Barongan

1. Sejarah Umum Kesenian Barongan

(5)

sosok sakti yang bernama Gembong Amijoyo dan Joko Lodro. Cerita yang diangkat dalam Barongan menjadi ciri khas dari Barongan Blora .

Gembong Amijoyo merupakan sosok sakti yang dapat merubah diri menjadi harimau raksasa, di dalam cerita Barongan sering disebut Barongan. Gembong Amijoyo bertugas menjaga alas jati wengker. Menurut para pengamat kesenian, Alas Jati Wengker terletak di Blora, karena pengertian dari Alas jati wengker adalah hutan jati terbaik di dunia. Blora adalah daerah yang memiliki kekayaan alam berupa hutan jati terbaik di dunia, maka dari pengamatan ahli kesenian tersebut dapat disimpulkan bahwa Alas jati wengker adalah hutan jati yang berada di Blora yang sudah ada sebelum Kota Blora terbentuk. Hasil pengamatan tentang Alas jati wengker dapat menjadi bukti bahwa kesenian Barongan merupakan kesenian asli yang sudah terjadi sebelum kota Blora terbentuk dan diwujudkan menjadi suatu bentuk kesenian oleh masyarakat Blora sebagai ciri khas kota Blora.

Joko Lodro adalah orang sakti yang bisa merubah wujud diri menjadi sosok raksasa, didalam cerita Barongan sering disebut Gendruwon. Joko Lodro ditugaskan menjaga kerajaan Janggala yang berada Kediri dan dipimpin seorang raja yaitu Panji Asmara Bangun.

Gembong Amijoyo memiliki prinsip ”aku bakalan njogo alas wengker sak

isine” (saya akan menjaga seluruh isi hutan jati wengker). Gembong Amijoyo

(6)

alas jati wengker, kemudian Panji mengutus Patih Pujangga Anom yang dalam cerita Barongan menjadi Bujangganong berserta pasukan berkuda yang dalam cerita Barongan digambarkan menjadi Jaranan. Pasukan berkuda membawa pengikut yang di dalam cerita Barongan disebut Nayantaka dan Gainah, kemudian Bujangganong dengan pengawalan pasukan berkuda yang diikuti Nayantaka dan Gainah dalam cerita Barongan diwujudkan sebagai Pentulan pergi memasuki alas jati wengker. Setelah memasuki alas jati wengker, Bujangganong dan pasukan berkuda bertemu dengan Gembong Amijoyo, sesuai dengan sumpah tugasnya Gembong Amijoyo melarang Bujangganong berserta pengawalnya untuk memasuki alas jati wengker, karena apabila Bujangganong berserta pengawalnya melewati alas jati wengker, maka kekayaan alam berserta alas jati wengker akan habis. Karena tidak diperbolehkan Gembong Amijoyo untuk melewati alas jati wengker , kemudian terjadilah perkelahian antara Gembong Amijoyo dengan Bujangganong. Dalam perkelahian tersebut, Bujanggangong mengalami kekalahan. Nayantoko dan Gainah mengingatkan Gembong Amijoyo bahwa ia memiliki kakak seperguruan yang bertugas di kerajaan Janggala bernama Joko Lodro.

(7)

Setibanya di alas jati wengker , Joko Lodro dan Gembong Amijoyo bertemu. Kedua bersaudara tersebut memiliki tugas masing-masing, Joko Lodro bertugas untuk kerajaan Janggala sedangkan Gembong Amijoyo bertugas menjaga alas jati wengker. Pertikaian antara kakak adik tidak dapat dihindari, karena mereka bertanggung jawab atas tugas masing-masing. Dalam pertikaian tersebut, Gembong Amijoyo mengalami kekalahan, berkat kesaktian yang ia miliki Gembong Amijoyo tetap bertahan hidup. Gembong Amijoyo berbicara dengan Joko Lodro, “ Mas, yen ono sing isa ngalahke aku, rombonganmu iso nglewati

alas iki kanggo nglamar Dewi Sekartaji, nanging alas iki bakal rusak” ( Mas, apabila ada yang bisa mengalahkan aku, rombonganmu dapat melewati hutan ini untuk melamar Dewi Sekartaji, tetapi hutan ini akan mengalami kerusakan).

Perkataan Gembong Amijoyo kepada Joko Lodro terbukti. Pada saat ini, Hutan jati yang berada di Blora mengalami kepunahan karena kayu jati digunakan untuk memenuhi kebutuhan pihak dari luar Blora, seperti pembuatan perabotan rumah tangga. Jika melihat cerita Gembong Amijoyo dan Joko Lodro, mereka berdua bersaudara dan mengalami pertikaian karena Joko Lodro memilih berpihak kepada kerajaan Jenggala, Panji Asmara Bangun daripada saudara seperguruan Joko Lodro, yaitu Gembong Amijoyo.

(8)

Amijoyo, Bujangganong dan Joko Lodro yang diceritakan dalam cerita Panji. Tarian yang diciptakan masyarakat berdasarkan urut-urutan kejadian pertikaian, yang dimulai dengan perkenalan tokoh Gembong Amijoyo dan Joko Lodro, pertemuan dan pertikaian antara Gembong Amijoyo dengan Bujangganong, kembalinya pengawal Bujangganong (Jaranan dan Penthul) ke kerajaan, dan pertikaian antara Gembong Amijoyo dengan Joko Lodro yang berakhir dengan kekalahan yang dialami Gembong Amijoyo.

Gerak tari Barongan cenderung gerakan yang bersemangat, tidak terikat dengan iringan musik karena menggambarkan pertikaian yang bersifat spontanitas. Pesan moral yang disampaikan Gembong Amijoyo “ apabila ada yang bisa mengalahkan aku (Gembong Amijoyo), rombonganmu dapat melewati hutan ini, tetapi hutan ini akan mengalami kerusakan.”. Joko Lodro membawa

rombongan yang berasal dari luar daerah alas jati wengker. Pesan tersebut dapat diartikan bahwa diperlukanya generasi penerus yang berasal dari Blora untuk menjaga dan merawat kekayaan alam yang dimiliki Blora sehingga kelestarian hutan jati Blora dapat terjaga. Dewasa ini, perkataan yang diucapkan Gembong Amijoyo terwujud, karena kualitas kayu jati Blora sangat baik, mengakibatkan masyarakat menjual kayu jati kepada pembeli yang berasal dari daerah lain sehingga hutan jati mulai kehilangan kekayaanya.

(9)

dari Desa Kunden, mengharuskan keterlibatan barongan karena masyarakat menganggap Singo Barong sebagai pengusir tolak bala.

Dengan demikian, kesenian Barongan adalah kesenian yang sangat populer dan sangat lekat dengan kehidupan masyarakat pedesaan di Blora. Masyarakat beranggapan bahwa Barongan adalah kesenian yang mewakili sifat-sifat kerakyatan masyarakat Blora, seperti kekeluargaan, kesederhanaan, tegas, kekompakan, dan keberanian yang didasarkan pada kebenaran.

2. Sejarah Khusus Grup Barongan Guntur Seto

Kesenian Barongan merupakan kesenian asli kota Blora, sehingga kesenian Barongan sangat populer di kalangan masyarakat Blora, terutama masyarakat desa Kunden. Desa Kunden memiliki dua kelompok kesenian Barongan yaitu kelompok Barongan Sekarjoyo dan Kelompok Barongan Guntur Seto. Akan tetapi, kelompok Barongan Sekarjoyo mengalami kepunahan karena pertunjukan yang kurang menarik, serta pemimpin kelompok yang sudah lanjut usia dan tidak ada penerus yang bersedia melanjutkan kelompok kesenian Barongan Sekarjoyo tersebut.

Saat ini desa Kunden hanya memiliki kelompok kesenian Barongan yang tetap bertahan menghadapi perkembangan jaman. Kelompok kesenian tersebut adalah Barongan Guntur Seto yang dipimpin oleh Adi Wibowo atau sering disapa Didik.

(10)

Surabaya, di sana ia banyak berkenalan dengan pekerja buruh (proyek) yang ternyata tidak sedikit diantaranya merupakan seniman Reog. Ia pun kemudian berpikir, “Kenapa Barongan Blora tidak bisa sebesar Reog?". Pertemuan

dengan para pekerja buruh itu selalu mengusik pikirannya. Ia pun memiliki keinginan dan impian bahwa suatu saat akan membawa Barongan Blora pentas di Ponorogo di “negeri” para seniman Reog. (Sumber :Hasil wawancara Adi Wibowo)

Sepulang dari Surabaya, selepas lulus kuliah pada tahun 1999, Didik mendirikan group Barongan di Kunden dengan mendapatkan dorongan dari sang Ibu yang memberikan dukungan sejak awal. Namun demikian, perjuangan Didik dalam mewujudkan keinginan untuk mengembangkan grup Barongannya mengalami hambatan dalam merekrut pemain Barongan, tetapi tidak menghalangi semangatnya dalam mencari pemain dengan mendatangi setiap rumah yang ada di sekitar tempat tinggalnya untuk mengajak bergabung menjadi pemain di grup Barongannya. Ada beberapa macam tanggapan keluarga yang diajak bergabung, baik pendapat yang bersifat positif dan negative. Tetapi, Didik pada saat itu mendapatkan banyak pendapat negatif dari keluarga yang akan diajak bergabung, antara lain penolakan keluarga melihat anaknya ikut Barongan karena keluarga menganggap Barongan salah satu kesenian tidak mendidik dan di dalam atraksi Barongan mengandung unsur kekerasan dan tidak masuk akal. (Sumber : hasil wawancara Adi Wibowo)

(11)

mendatangkan teman-teman dari akademik yang berprofesi sebagai dosen di STSI Surakarta yang berasal dari Blora. Disitulah Didik mendapatkan pembekalan dan wawasan agar dapat mengembangkan kesenian Barongan, cara yang ditempuh oleh Didik yaitu dengan mengikuti even-even dengan biaya sendiri, setiap ada even mendaftarkan grup Barongannya di perlombaan-perlombaan di Solo dan Jogjakarta dengan tujuan agar Barongannya mempunyai pengalaman. Zaman dulu sumber daya manusia masih sangat rendah, ketika Didik kerjasama dengan ISI Surakarta akhirnya Didik ditawarkan untuk merekrut mahasiswi ISI Surakarta yang asli Blora untuk masuk dalam grup Barongannya. Dari hasil wawancara, disaat itulah orang-orang berpendapat bahwa “kok mau wanita-wanita cantik ikut jaranan dalam Barongan”, sehingga animo masyarakat Blora bertambah saat pementasan

Barongan. (Sumber :Hasil Wawancara Adi Wibowo)

(12)

Kesenian tradisional Barongan di Desa Kunden dapat bertahan di tengah perkembangan kesenian modern karena mempunyai beberapa faktor pendukung dalam upaya pelestariannya. Para seniman dalam upaya pelestarian kesenian Barongan di Desa Kunden melakukan peningkatan kualitas penampilan, meningkatkan sumber daya manusia, menyuguhkan atraksi-atraksi baru, menambahkan alat-alat musik modern dan lagu-lagu baru yang sesuai dengan permintaan penonton tanpa mengurangi unsur tradisional di dalamnya. Para seniman tersebut juga menambah frekuensi pertunjukan, menjaga kondisi dan kestabilan para pemain, mendisiplinkan anggota-anggota kelompok Barongan dan memperluas jangkauan wilayah pertunjukan. (Sumber : Hasil wawancara Adi Wibowo)

Pemerintah Kabupaten Blora memberikan perhatian khusus dalam upaya pelestarian kesenian Barongan dengan mengadakan deklarasi kesenian Barongan ke dalam Parade seni budaya Jawa Tengah. Masyarakat yang menjadi pendukung dalam upaya pelestarian kesenian Barongan juga menunjukkan peranannya dengan mengedarkan rekaman pertunjukan berupa kaset CD yang dijual dilapak-lapak pasar. (Sumber : Hasil wawancara)

(13)

kalah populernya dengan kesenian modern. (Sumber : Hasil Wawancara Adi Wibowo)

3. Bentuk Kesenian Barongan

Bentuk kesenian Barongan merupakan bentuk dari seni tari. Seni tari menghasilkan bentuk getaran-getaran yang indah, apabila anggota tubuh seperti tangan, kaki, kepala, badan dan anggota tubuh lainnya yang ditata dan dirangkai menjadi satu kesatuan gerak yang utuh dan harmonis. Gerak pada pertunjukan Barongan merupakan gerak yang sederhana, maksud dari sederhana dalam kesenian ini adalah gerakan spontanitas dari pembarong atau penari Barongan sesuai dengan iringan tanpa ada patokan gerakanya namun mengandung kedinamisan. (Kussunartini,dkk.2009:113)

Dahulu pertunjukan Barongan diikuti oleh penari laki-laki saja, tetapi seiring berjalannya waktu penari barongan diikuti oleh penari laki-laki dan perempuan yang berusia antara lima belas sampai empat puluh lima tahun. Adapun jumlah penari Barongan adalah tiga belas penari yang dibagi menjadi beberapa peran dalam pertunjukan Barongan. Peran dalam pertunjukan Barongan tersebut adalah peran sebagai Barongan yang dimainkan dua penari laki-laki, Bujangganong dimainkan satu penari laki-laki, Jaranan dimainkan enam penari perempuan, Gendruwon dimainkan oleh satu penari laki-laki, Joko Lodro dimainkan oleh satu penari laki-laki, Ngayantoko dan Untub dimainkan oleh dua orang penari laki-laki.

(14)

a. Gerak Tari

Seni tari menghasilkan bentuk getaran-getaran yang indah, apabila anggota tubuh seperti tangan, kaki, kepala, badan dan lain sebagainya ditata dirangkaikan menjadi satu kesatuan gerak yang utuh dan harmonis. Bertalian dengan uraian di atas, berikut ini dijelaskan secara teoritis dengan unsur-unsur sikap dan gerak, serta pengorganisasian gerak secara hirarkis guna memahami bentuk penyajian tari.

Tubuh sebagai instrumen menghasilkan gerak dimana unsur gerak tersebut merupakan elemen dasar dari tari dan berfungsi sebagai penunjang dalam menghasilkan motif yaitu suatu satuan terkecil dari tari. Untuk mempermudah dalam menganalisis maka tubuh sebagai instrumen dari gerak tari, dipilih menjadi tiga bagian. Adapun unsur gerak yang dimaksud adalah (1.) Gerak Kepala, (2.) Gerak Tangan, (3.) Gerak Badan. Seni tari sebagai bagian dari seni apabila dianalisis secara teliti akan tampak di dalamnya elemen-elemen yang sangat penting, yaitu gerakan dan ritme ( Soedarsono, 1999:18). Namun di dalam penyajian suatu tari, tidak cukup hanya gerak dan ritme saja, melainkan masih banyak unsur-unsur yang harus dipertimbangkan agar suatu tarian dapat menarik. Unsur-unsur tersebut antara lain: gerak, musik iringan, tata pentas, tata rias, tata busana.

(15)

Gerak dalam kesenian Barongan tidak menggunakan patokan-patokan yang baku, para penari melakukan gerak yang sederhana yaitu gerakan kepala dengan menoleh ke kanan dan ke kiri ( yaitu kepala bergerak ke samping kanan dan kiri yang digerakan oleh kedua/ tangan pemain bagian kepala), mengangguk yaitu kepala bergerak ke atas dan ke bawah yang digerakan oleh kedua tangan pemain bagian kepala ke arah atas dan bawah. Gerak kakinya berjalan yaitu gerakan kedua kaki melangkah secara bergantian, kaki pemain depan berjalan diikuti oleh pemain belakang kemudian gerak kuda-kuda yaitu gerakan kaki merendah dengan posisi mengangkang atau kaki membuka. Gerakan badan, rebahan yaitu gerakan tubuh merendah atau merebahkan diri hinga menyentuh tanah yang dilakukan oleh kedua pemain dari jongkok hingga duduk secara bersama-sama, kemudian gerakan belok yaitu tubuh meliuk ke kanan atau ke kiri yang dilakukan oleh pemain bagian kepala yang bergerak dengan kedua kakinya ke kanan dan kiri kemudian diikuti oleh pemain bagian ekor secara bergantian. sedangkan Joko Lodro/ Gendruwon dan penthul hanya bergerak seperti orang ngibing yaitu mengangkat kedua tngan sebahu dan digerakkan secara improvisasi oleh penari sedangkan kaki hanya diangkat kemudian menapak secara bergantian seperti orang berjalan. (Kussunartini,dkk.2009:125)

b. Iringan

(16)

hidup, karena iringan musik barongan mudah sekali dikenal oleh masyarakat, hal ini karena notasinya berpola ritme yang diulang-ulang secara teratur.(Kussunartini,dkk.2009:127)

Pada umumnya kesenian tradisional kerakyatan mempunyai iringan yang sederhana. Demikian pula pada seni pertunjukan Barongan, di dalam pertunjukannya menggunakan beberapa instrumen gamelan walaupun hanya sedikit, seperti kendang, gedhuk, bonang, saron, demung dan kempul dan penambahan instrumen modern yaitu berupa drum, terompet, kendang besar dan keyboard serta gendhing-gendhing Jawa.

Mengenai alat pengiring tersebut dijelaskan sebagai berikut:

1. Kendang alat musik yang terbuat dari kayu bulat diberi lubang dan dtutupi dengan kulit binatang pada ujungnya, berfungsi sebagai variasi nuansa irama serta pengatur irama lagu.

2. Kempul laras slendro (bernada lima) yaitu jenis instrument musik yang terbuat dari besi berbentuk bulat menonjol pada bagian tengahnya, membunyikan dengan cara memukul bagian tengahnya yang menonjol, berfungsi sebagai variasi gendhing atau lagu.

3. Bonang baring laras slendro (5 dan 6) adalah alat musik tetabuhan keras terbuat dari besi / perunggu, teknik memukulnya dengan memukul bagian tengahnya yang menonjol dengan alat pemukul khusus.

(17)

5. Terompet alat yang terbuat dari kayu/bambu dan tempurung.

6. Saron alat yang terbuat dari besi/perunggu dan rancaknya dari kayu. 7. Gedhuk alat ini terbuat dari kayu dan kulit.

Adakalanya dalam beberapa pementasan dipadukan dengan alat musik modern yaitu keyboard dan Drum.

c. Tata Rias

Unsur ketiga dari pertunjukan adalah tata rias. Tata rias dilakukan terhadap penari untuk mengubah, melengkapi, atau membentuk suatu penampilan dengan segala sesuatu yang dipakai mulai rambut sampai ujung kaki. Tata rias meliputi rias wajah, rias rambut, dan rias pakaian atau busana. Tata rias baik wajah, rambut, pakaian atau busana dengan membentuk wajah, rambut dan penampilan dengan menggunakan pakaian sebagaimana karakter tari.

Kostum kesenian tradisional memang harus dipertahankan. Namun demikian, apabila terdapat bagian yang kurang menguntungkan dari segi pertunjukan, dapat dihilangkan sehingga enak dipakai dan sedap dilihat penonton. Pada kostum tarian tradisional yang harus dipertahankan adalah keluhuran dan warna simbolik ( Soedarsono, 1999 : 56).

d. Busana

(18)

1. Pawang

Busana pawang dalam kesenian Barongan terdiri dari ikat kepala, celana panjang berwarna hitam, kaos lengan panjang, rompi berwarna hitam dengan dilengkapi kain yang diikatkan pada pinggang serta membawa pecut.

2. Barongan ( Singa Barong)

Memakai properti topeng kepala yang terbuat dari kayu pada bagian luarnya dilapisi dengan kulit harimau dan pada bagian kepalanya diberi rambut dari ijuk yang ditata dengan maksud supaya lebih menyeramkan sebagai badan atau tubuh terbuat dari kain kadut yang kuat dan tebal, pada bagian ujung kain dikaitkan erat-erat dengan topeng kepala Barongan, sedangkan ekornya terbuat dari ekor sapi yang sudah dikeringkan dan digulung dengan kain dan diikat pada badan tubuh Barongan bagian belakang.

3. Joko Lodro ( Gendruwon )

Topeng Joko Lodro berwarna hitam dan bagian kepala berambut yang terbuat dari ijuk menjuntai ke belakang menutupi kepala penari yang memerankan. Topeng yang berwarna hitam dengan bagian mata topeng berwarna putih dan rambut terbuat dari ijuk membuat Joko Lodro terlihat menyeramkan.

4. Bujangganong/ Pujangga Anom

(19)

Topeng dengan warna merah menggambarkan muka yang menyeramkan.

5. Nayantaka dan Untub ( Penthul )

Nayantaka memakai topeng warna hitam mata sipit, bergigi dua dan sebatas pada bibir atas, sedangkan Untub memakai topeng berwarna separo merah separo putih, bergigi dua juga sebatas pada bibir atas. Nayantaka dengan topeng warna hitam mata sipit, bergigi dua menggambarkan seorang perampok yang kejam dan menyeramkan tetapi juga lucu dan agak bodoh, sedangkan Untub dengan topeng berwarna separo merah separo putih bergigi dua menggambarkan seorang perampok yang mempunyai muka dua yaitu terkadang terlihat kejam/ menyeramkan dan terkadang terlihat bodoh dan lucu.

6. Jaranan

Penari Jaranan memakai pakaian penari yang terdiri dari kaos berwarna putih,celana pendek selutut dengan dihiasi kain jarit, iket, stagen (untuk mengencangkan perut), slemar (slendang), roket (hiasan yang melekat di leher), dan kepala di ikat dengan kain berwarna hitam. e. Tata Letak Pertunjukan

(20)

Barongan juga bisa berada di tempat yang luas supaya penari bisa bergerak leluasa.

4. Prosesi Seni Pertunjukan Barongan

Kesenian Barongan memiliki urutan penyajian, namun sebelum kesenian Barongan dipentaskan, terlebih dahulu dilaksanakan ritual upacara. Tujuan diadakan upacara yaitu untuk meminta ijin atau meminta perlindungan kepada Tuhan dan Dayang daerah tersebut agar pelaksanaan kesenian Barongan ini dapat berjalan lancar tanpa ada ganguan roh jahat. (Sumber: wawancara)

Urutan pertunjukan kesenian Barongan sejak awal pelaksanaan upacara adat sampai pementasan kesenian Barongan adalah sebagai berikut:

a. Upacara Ritual

Tujuan dari upacara yaitu untuk meminta izin atau meminta perlindungan kepada Tuhan dan untuk memanggil Dayang daerah tersebut agar pelaksanaan kesenian Barongan ini dapat berjalan lancar tanpa ada gangguan roh-roh jahat. Sebab dalam pertunjukan Barongan ini menggunakan alat-alat musik tradisional dan alat musik modern dimana dalam membunyikan alat-alat musik ini merupakan hal yang sangat sakral karena memanggil roh-roh jadi jika kita membunyikan alat musik tersebut harus bertutur sapa untuk meminta ijin dan meminta keselamatan agar tidak diganggu. Komunikasi dengan Dayang senantiasa memerlukan sarana perantara yang disebut Pawang.

(21)

makanan, seperti dupa, kelapa hijau, kembang macan kerah, dawet, dan tumpeng. Sesaji tersebut diletakan di arena pertunjukkan.

Seluruh pemain yang terlibat dalam kesenian Barongan juga ikut berdoa yang dipimpin oleh pawang, suasana pada saat pembacaan doa terasa hening. Berikut doa yang dibacakan oleh pawang ( pemimpin doa) yaitu “Nini Durgo

Manik Maya ratu pengayotan sing nunggoni anak putumu kabeh paringana slamet”.

Artinya, “Nini Durgo Manik Maya ratu pengayotan yang menjaga anak cucumu semua berikan keslametan”. Seusai doa, Pawang memercikkan air

kelapa yang sudah didoakan kepada pemain dan penonton agar pemain dan penontonnya diberi keslametan.

b. Lambang dan Makna Sesaji

1. Dupa, untuk memanggil Dayang 2. Kelapa hijau, agar pemainnya selamat 3. Kembang macan kerah,

4. Dawet, agar pemain dengan masyarakat semakin rekat dan tanggapannya semakin banyak

5. Tumpeng, melambangkan permohonan ijin akan diadakan pesta yang besar. Permohonan ini ditujukan kepada para penguasa dunia roh. 6. Ayam panggang, tingkah laku manusia dibatasi dengan norma yang

(22)

c. Urut-urutan Seni Pertunjukan

Urut-urutan pertunjukan seni Barongan sesuai dengan cerita Gembong Amijoyo dengan Joko Lodro yang ada didalam cerita Panji Asmara Bangun dalam melamar Dewi Sekartaji. Dalam pertunjukan Barongan, pertama yang ditampilkan adalah Barongan. Barongan ini memperkenalkan Gembong Amijoyo yang menjaga alas jati wengker. Dalam tari Barongan dilakukan oleh satu atau dua orang dalam sebuah kostum Barongan. Kostum Barongan merupakan sebuah boneka replica dari sosok harimau yang terbuat dari kayu ello yang merupakan kayu khas Blora yang kuat dan kokoh.

Setelah ditampilkan tarian Barongan, selanjutnya yang dipertunjukan adalah tarian Bujangganong. Tarian Bujangganong ini menggambarkan perjalananan Patih Pujangga Anom yang diutus Panji Asmara Bangun untuk menemui Gembong Amijoyo di alas jati wengker. Tarian Bujangganong adalah sebuah tarian yang dilakukan penari laki-laki yang memerankan Patih Pujangga Anom yang merupakan sosok ksatria yang lincah, sakti, jenaka, trampil , cerdas dan ramah. Bujangganong menjadi pelengkap dan sebagai sosok jenaka yang menghibur penonton, bertingkah kocak dan ditambahkan gerakan akrobatik.

(23)

Nayantaka dan Gainah pada kesenian Barongan digambarkan sebagai Penthul. Penthul dalam pertunjukan Barongan muncul dalam Guyon Maton yang dimainkan pada akhir pertunjukan sebagai penyegar acara yang biasanya membuat gerakan-gerakan lucu atau adegan lelucon.

d. Waktu Pertunjukan

Tidak ada aturan yang baku mengenai waktu pertunjukan, dalam hal ini semua tergantung kepada orang yang mengundang tampilnya kesenian Barongan dengan pimpinan dari kelompok Barongan. Biasanya pertunjukan kesenian Barongan dipentaskan pada saat acara hajatan sunatan, acara perkawinan, festival, acara hari jadi kota Blora.

(24)

5. Nilai Positif Kesenian Barongan

Kesenian Barongan di Desa Kunden mempunyai nilai positif terhadap masyarakat desa Kunden. Nilai- nilai tersebut antara lain :

a. Nilai Moral

Dalam seni Barongan tercermin sifat-sifat kerakyatan masyarakat yaitu seperti sifat kekeluargaan, kesederhanaan, kompak, dan keberanian yang dilandasi kebenaran. Contoh yang terdapat di masyarakat Kunden adalah kebiasaan masyarakat yang saling membantu antar warga lain yang membutuhkan pertolongan tanpa ada perintah sebelumnya. Contoh lainnya adalah sikap tegas dalam menghadapi permasalahan, warga Kunden tidak mudah mempercayai perkataan orang lain sebelum mereka mengetahui kebenaran dari perkatan tersebut.

b. Nilai Estetika

Sarana mengekspresikan kemampuan dalam bidang kesenian tradisional yaitu kesenian Barongan. . Gerak tari yang terkandung dalam tarian Barongan tidak hanya menampilkan suatu gerakan yang energik saja, tapi juga mempunyai makna-makna yang positif lainnya seperti bertanggung jawab kepada tugas yang diberikan, seperti Gembong Amijoyo dan Joko Lodro yang bersaudara bersedia terlibat pertikaian demi tanggung jawab pada tugas yang diberikan kepadanya.

c. Nilai Budaya

(25)

seiring perkembangan zaman. Masyarakat Kunden tetap melestarikan dan mengembangkan kesenian Barongan yang menjadi kesenian khas kota mereka. Kesenian Barongan dikembangkan sesuai perubahan jaman supaya tidak hilang seiring perkembangan jaman. Seperti Kelompok kesenian Barongan Guntur Seto yang mengembangkan kesenian Barongan sehingga bisa mendapatkan juara dan tampil di luar daerah bahkan mendapatkan juara dalam International Etnic Culture Ferstival.

d. Nilai Pendidikan atau Edukasi

Figur

Tabel II Taraf Pendidikan

Tabel II

Taraf Pendidikan p.2

Referensi

Memperbarui...