PENDAHULUAN
Keberadaan gereja dan orang Kristen di Asia benar-benar unik. Keunikan itu nyata dalam penegasan Alysius Pieres berikut: “Asia adalah bunda yang dari rahimnya lahir semua agama berkitab suci di dunia.”1 Agama Kristen termasuk juga agama yang lahir dari rahim bunda Asia. Segera setelah dilahirkan agama Kristen dijadikan anak angkat dari bunda Eropa. Ia dibawa pergi meninggalkan Asia berabad-abad lamanya. Selama lebih dari 1700 – 1800 tahun dibesarkan dalam rumah bunda angkat, kekristenan telah kehilangan suasana ke-Asia-annya. Ia menjadi sangat kebarat-baratan.
Memasuki abad ke-17 dan 18 agama Kristen menemukan jalan untuk kembali ke Asia, ke rumah bunda yang mengandung dan melahirkannya. Perjalanan balik kekristenan ini pun terjadi melalui penyusupan. Ia datang beriringan dengan kolonialisasi. Ia kembali ke haribaan bundanya laksana seorang asing, kebarat-baratan. Ya, sebagai anak yang telah kehilangan karakter ke-Asia-annya.
Karakter atau cita rasa Asia atau yang oleh Pieris disebut Asian sense berhubungan dengan fakta
1 Aloysius Pieris. “Menuju Teologi Pembebasan Asia:
bahwa Kristus tidak hanya terdapat dan giat di dalam gereja tetapi juga dalam sejarah kosmik. Artinya Kristus sudah hadir dalam sejarah, budaya dan agama-agama Asia (bukan hanya agama-agama Kristen) jauh hari sebelum kekristenan itu sendiri datang ke Asia.2 Cita rasa Asia yang melekat dalam agama Kristen adalah kesediaannya untuk diludahi orang, tetapi kekristenan yang dibawa kembali ke Asia dari Eropa adalah kekristenan yang suka meludahi orang.
Kekristenan yang baru menemukan kembali jalan ke Asia sekitar abad ke-18 dan 19 dianggap telah kehilangan cita-rasa Asia karena ia datang dengan pretensi memperkenalkan Kristus kepada orang-orang Asia dan meminta mereka meninggalkan agamanya karena di dalam agama itu tidak ada Kristus. Dan yang paling mendukakan Asia, Kristus yang diperkenalkan oleh kekristenan adalah Kristus yang berwajah Eropa, berpakaian Eropa, berbau Eropa. Kristus ini menolak dan mengutuk semua warisan budaya, agama dan pola hidup Asia. Ia menjadi serupa dengan pepatah rakyat: “Kacang lupa Kulit.”
Apa akibatnya? Setelah lebih dari empat abad upaya pekabaran injil di Asia, jumlah umat Kristen Asia masih merupakan minoritas yang tidak signifikan,
2 A.A. Yewangoe. “Kecenderungan-Kecenderungan Dalam
yakni hanya 2 persen dari seluruh penduduk Asia. Kekristenan menjadi orang asing di tanah kelahirannya sendiri. Ini berbeda dengan kekristenan di Benua Amerika yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Dalam posisi sebagai minoritas sekaligus yang telah kehilangan cita-rasa Asia (Asian sense) Kekristenan harus tetap mengerjakan tugas misi atau pekabaran Injil, yang dalam teologi klasik dipahami bukan sekedar memuridkan manusia pada Kristus tetapi juga kristenisasi, yakni meminta orang-orang yang percaya kepada Kristus beralih ke agama Kristen.
Menjadi persoalan adalah apakah kesaksian Kristen di Asia kepada saudara-saudarinya yang non-kristen harus bermuara pada terjadinya konversi agama. Haruskah seseorang yang menerima Yesus Kristus dan mengimaninya sebagai Tuhan karena kesaksian gereja meninggalkan agamanya dan beralih ke agama Kristen?
Buku ini kami rancang untuk membicarakan wujud bergereja secara baru di Asia sebagaimana dipikirkan para pemimpin kekristenan Asia baik protestan maupun katholik3 yang dikonstruksi
3 Di kalangan gereja Katholik persoalan ini digumuli dalam
berdasarkan pengalaman Asia yang dicirikan oleh kemiskinan dan kepelbagaian agama. Pokok permasalahan yang menjadi pergumulan kita dirumuskan dalam pertanyaan berikut: “Apakah menjadi murid berarti seseorang mesti menjadi pemeluk agama kristen? Tidak dapatkah seseorang itu adalah murid, tetapi tetap berada dalam agamanya sendiri?
Pandangan Klasik Tentang Gereja
Gereja menurut pengertian kata dalam bahasa aslinya: ekklesia artinya persekutuan orang-orang yang karena percaya kepada Kristus bergerak keluar dari kenyamanan hidupnya untuk berada dalam perarakan mengikuti Kristus yang berada di kepala perarakan menuju kepada satu kenhidupan yang baru. Gereja menunjuk kepada manusia atau orang-orang yang berjalan mengikuti Yesus Kristus.
menjadi teman seperjalananNya Yesus terus-menerus minta agar mereka meneladani cara hidupNya.4
Yesus seperti yang diperkenalkan kepada kita dalam kitab-kitab Injil adalah orang yang selalu pergi mendapati manusia-manusia. Yesus tidak meminta orang-orang yang Dia temui untuk meninggalkan agamanya dan beralih ke agama baru. Tidak! Yesus justru mengajarkan mereka hal-hal terpenting dalam agama mereka (agama Yahudi) dan meminta mereka menerapkan inti ajaran agama itu secara benar.
Kalau gereja kita pahami sebagai persekutuan orang-orang yang mengikut Yesus Kristus, itu berarti gereja harus juga pergi mendapatkan orang-orang di dalam agama masing-masing dan mengajarkan atau mendorong mereka untuk menjalankan ajaran agamanya secara benar dan konsekwen. Tetapi dalam pengertian popular telah terjadi pergeseran makna atau paham. Gereja memang pergi mendapati orang-orang. Tetapi orang-orang yang ditemuinya tidak diminta untuk menetap dalam agamanya. Yang terjadi, justru orang-orang itu diminta untuk meninggalkan agamamnya yang lama untuk bergabung dengan agama yang baru. Inilah yang kami maksudkan dengan
4 Simon Schoon. De weg van Jezus. Een christologische
terjadinya pergeseran makna. Pergeseran itu terlihat jelas dalam contoh berikut ini.5
Khalil, pemuda Mesir berusia sekitar 30 tahun, dari latar belakang kelompok muslim garis keras mengalami perjumpaan dengan Yesus pada waktu ia ditugaskan oleh pemimpin kelompoknya untuk membaca Alkitab demi membuktikan kepalsuan firman Allah di dalam kitab itu. Dengan hati yang penuh sukacita Khalil menghubungi beberapa orang Kristen di Kairo. Ia minta untuk diajak menghadiri ibadah jemaat supaya dia menceritakan tentang pertobatannya.
Tanggapan orang-orang Kristen yang dijumpainya itu campur aduk. Mereka senang tetapi juga curiga. Apakah ia betul-betul mau menjadi Kristen atau hanya berpura-pura. Tapi mereka toh mengajak Khalil ke ibadah jemaat. Seusai khotbah, Khalil diberi kesempatan untuk berbicara. Semua orang mendengarkan dia dengan tenang sambil batin mereka bergolak: Apakah teman-teman yang mengundangnya tidak tertipu dan terlalu dini mempercayainya?
Melihat semua orang mendengarkan dia, Khalil makin semangat berbicara. Ia mulai menyerang
5 Contoh ini kami sarikan dari sebuah film berjudul: “More
Islam, mencemooh Al-Quran dan Muhammad. Melihat semua pendengar tertawa dan bertepuk tangan mendengar gurauannya, Khalil makin semangat berbicara merasa mendapatkan dukungan. Banyak orang bangkit dan menjabat tangan Khalil setelah ia selesai berbicara dan beranjak ke tempat duduk. Usai kebaktian, semua yang hadir dalam ibadah menyalami Khalil. Ia disambut sebagai seorang pahlawan.
Sekembalinya di rumah masing-masing beberapa orang bapa memperingatkan anak perempuan mereka untuk tidak cepat-cepat percaya pada Khalil sebelum ia menunjukkan bukti yang jelas bahwa ia benar-benar menjadi seorang Kristen sejati, yang ditandai dengan meninggalkan semua hal pada dirinya yang berbau muslim, seperti memberi diri dibaptis, mengganti nama dan tidak lagi menggunakan “Assalamu’alaikum” jika menyapa sesamanya.
Menjadi pengikut Kristus, sebagaimana yang kita pahami dan tetapkan sebagai ketentuan normatif selama berabad-abad, bukan sekedar mengaku Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat. Lebih dari itu pengikut Kristus tadi harus meninggalkan semua yang pernah menjadi bagian hidupnya di masa lalu. Pengikut Kristus tadi harus mengucapkan selamat tinggal bukan hanya kepada kebiasaan hidupnya yang lama, tetapi juga kepada orang-orang yang dikenal dan dicintainya. Ia harus meninggalkan agamanya dan bergabung dalam kekristenan.
Kita menuntut orang-orang yang mau menjadi pengikut Kristus untuk lebih taat pada agenda kekristenan dari pada agenda Kristus. Kita baru mengakui seseorang sebagai pengikut Kristus jika dia mau menjalani hidup dalam format dan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan orang Kristen. Pengikut Kristus itu harus menjadi murid Yesus di dalam tas punggung agama Kristen yang kita ciptakan. Demikian ungkapan yang dipakai oleh Paul Borthwick.6 Kalau dia mengaku diri pengikut Kristus tetapi menolak untuk masuk dalam tas punggung kekristenan kita, kita meragukan identitasnya sebagai murid Tuhan.
C.S. Song meringkas semua yang kita katakan di atas dengan komentar singkat berikut ini: “Menanamkan Kerajaan Allah di bagian-bagian lain
6 Paul Borthwick. Six Dangerous Questions To Transform
dunia diartikan sebagai perluasan kekristenan.”7 Sadar atau tidak, kita seringkali menjadikan agama Kristen sebagai sebuah kotak ethnosentrisme. Percaya kepada Yesus sama dengan harus masuk ke dalam kotak itu. Yesus Kristus dimasukkan dalam kotak agama Kristen.
Pengikut Kristus dalam kotak atau ransel agama Kristen. Itulah model pengikut Kristus ideal yang kita tetapkan. George Hunter mengindikasikan model berpikir seperti ini sebagai sebuah pergeseran dari menjadi penjala manusia kepada penjaga aquarium.8 Kita mendirikan sekolah-sekolah Kristen, membangun radio Kristen, membentuk partai Kristen… dst. Semua ini kita buat untuk melindungi kekristenan dari aspek-aspek negatif budaya sekaligus menjaga kemurnian kemuridan.
Tentu saja usaha-usaha ini mulia dan patut diberi jempol. Tetapi bukankah di dalamnya ada bahaya yang tidak kita sadari? Paul Borthwick mencatat bahaya itu dalam kalimat berikut:9
Media, musik dan lembaga-lembaga yang bernafaskan kekristenan berguna sebagai
7 Choan-seng Song. “Misi Ilahi Penciptaan.” Dalam: Douglas
J. Elwood. Teologi Kristen Asia. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2006. hlm. 187.
8 Dikuitp dari Paul Borthwick. Six Dangerous Questions…
hlm. 90.
9 Dikuitp dari Paul Borthwick. Six Dangerous Questions…
instrument untuk memperlengkapi umat Allah secara lebih baik, tetapi semua itu juga mengandaikan pergeseran ke arah privatisasi iman dan irrelevant Christianity jika kita melupakan tujuan utama, memperlengkapi orang-orang kudus sehingga mereka kembali ke dalam dunia sebagai garam dan terang atau menurut penegasan Rasul Paulus, supaya mereka menyebarkan bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah kaum yang diselamatkan dan di antara kaum yang binasa (2 Kor. 2:15).
Beralih ke dalam kekristenan adalah perlu dan wajib, jika seseorang benar-benar mau menjadi pengikut Kristus. Pikiran yang melatar-belakangi keharusan ini adalah karena kekristenan dianggap sebagai agama yang sempurna. Gereja yang merupakan bagian integral dari kekristenan adalah institusi keselamatan, semacam produsen sekaligus distributor keselamatan bagi manusia. Kita menjadi teringat akan pandangan klasik extra ecclesia nulla salus (di luar gereja tidak ada keselamatan).
tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Lk. 14:26).
Orang yang mau mengikut Yesus harus melepaskan semua yang menjadi bagian dari masa lalunya. Ia tidak boleh memikirkan atau mengingat lagi masa lalunya itu. Ia bahkan dilarang untuk kembali menguburkan ayahnya dan ibunya, atau berpamitan dengan mereka (Lk. 9:59-61). Hal-hal yang adalah masa lalu orang itu diidentikan dengan kematian. Ia tidak boleh lagi mengingat dan memiliki semua itu.
Paulus, rasul Kristus yang termasyur itu juga menegaskan hal serupa. Ia memotivasi pengikut Kristus di Filipi untuk mengikuti teladan hidupnya. Paulus menulis begini: “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian” (Fil. 3:13-15).
rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Fil. 3:7-8).
Harus ada pemutusan hubungan yang radikal dan total dengan semua yang menjadi bagian dari masa lalu jika seseorang menjadi murid atau pengikut Kristus. Seorang pengikut Kristus harus hidup dalam penyangkalan diri yang utuh. Itu adalah salib yang harus dia pikul. Oh… betapa radikalnya tuntutan kehidupan seorang murid Kristus. Atas dasar referensi-referensi tadi kita mengembangkan eklesiologi yang anti agama-agama lain. Kekristenan kita jadikan sebagai agama yang unggul, superior dan final.
Seseorang harus menjadi Kristen - masuk dalam ransel agama Kristen - untuk benar-benar ada sebagai murid Kristus. Tuntutan ini tidak bisa kita remehkan apalagi kita sangkali. Meskipun begitu tetap saja kita harus melontarkan pertanyaan kritis: “Apakah hanya itu isi pengajaran Alkitab? Apakah Yesus memang menuntut seseorang untuk memutuskan hubungan dengan keluarganya, sanak-saudaranya, agamanya untuk dapat bergabung dalam barisan para pengikut Kristus? Apakah ini agenda yang ditetapkan Yesus ataukah itu agenda yang digariskan agama Kristen? Haruskah seorang Muslim disuruh membenci saudara-saudaranya dan juga ayah dan ibunya untuk dapat menjadi pengikut Kristus? Mungkinkah seorang yang percaya kepada Kristus dari latar belakang agama lain tetap tinggal dalam agamanya itu?
ditetapkan gereja bagi orang-orang di luar kekristenan yang mau menjadi pengikut Kristus adalah berpindah agama. Ayo! Masuklah dalam kotak agama Kristen barulah kemuridanmu pada Kristus dianggap sahih.
Tidak sedikit orang non Kristen yang setuju. Mereka melakukan konversi, berpindah dari agamanya dan menjadi pemeluk agama Kristen. Kita tidak tahu apakah mereka lakukan itu dengan sungguh-sungguh ataukah hanya sekedar sebuah penampakan conversi eksternal. Tetapi banyak juga orang-orang non-kristen yang mempertanyakan hukum terutama ini. Mereka merasa berat melakukan pemutusan hubungan yang radikal tadi. Ahmad, seorang muslim dari Mesir menyuarakan kegelisahannya dalam kata-kata berikut:10
Bagaimana mungkin saya membuang nama saya, Ahmad, yang diberikan kepada saya ketika saya lahir dan yang telah dikenal oleh seluruh teman saya, lalu mulai dipanggil dengan nama Steve atau Peter? Jika saya menjadi orang Kristen, sistem pendukung hidup saya akan hancur. Kalau memang demikian, saya akan tidak punya rumah dan tak punya keluarga. Bagaimana saya bisa hidup. Bisakah anda menyediakan bagi saya sistem pendukung hidup yang baru, yakni: pekerjaan yang memberikan saya gaji tetap,
10 Kami menyarikan ini dari Nabeel T. Jabbour. Memandang
keluarga saya yang saya miliki dan yang memberi saya akar, identitas dan otentisitas, bahasa religius muslim saya yang sudah sangat terbiasa di telinga saya, juga seni, puisi dan musik bernafaskan islam yang sangat saya hargai? Dengan meminta saya menjadi Kristen, anda sedang meminta saya untuk melakukan pengkhianatan yang sangat berat.
Orang Kristen menuntut seseorang yang mau menjadi pengikut Kristus melakukan pemutusan hubungan yang total, definitif dan radikal dari masa lalunya, termasuk agama, keluarga dan orang tuanya. Ini dirasakan oleh banyak saudara di agama seberang sebagai sebuah penghianatan yang teramat besar. Tidak sedikit orang non-kristen yang merasa tidak terlalu kuat untuk melakukan pengkhianatan ini, yakni mereka harus memutuskan hubungan dengan teman-teman, keluarga dan orang tuanya demi menjadi pengikut Kristus. Bagaimana hal ini harus disikapi?
Suara-Suara Kritis dari Saudara-Saudara Sendiri
Pertama, Stephen Kim, seorang kardinal berbangsa Korea. Ia percaya bahwa berita Kristen akan tetap menjadi sebuah pesan yang asing bagi ranah budaya Asia selama Gereja belum mengakui dan mengintegrasikan “berita itu” dalam warisan budaya dan agama Asia.11
Konsili Vatikan II, kata Stephen Kim mengajarkan bahwa karya keselamatan Kristus yang bersifat universal tidak dibatasi hanya dalam kesatuan yang kelihatan dari gereja. Ia melampaui batas-batas yang kita sebut gereja yang kelihatan. Keselamatan itu menyerobot masuk sampai ke dalam nilai-nilai spiritualitas Confusianisme, Budhisme dan agama-agama lain. Karena itu mereka yang menjadi percaya kepada Kristus tidak harus diminta untuk menanggalkan kehidupan masa lalu mereka (no longer be told that they must repudiate their past lives). Mereka yang sudah menemukan Kristus, mereka sudah menemukan wajah Allah yang benar yang mereka cari dan sembah sesuai dengan terang kesadaran mereka. Perpindahan agama tidak harus dipahami sebagai pemutusan relasi, tetapi sebagai satu langkah ke dalam kematangan; pemenuhan aspirasi yang membatin dalam manusia.12
11 Stephen Kim. Evangelization in the Asian Contex. Dalam:
Mission Trends. No. 2. Evangelization. New York/ Grand Rapids: Wm.B. Eerdmans Publishing 1978. hlm.190.
Kedua,Choan-seng Song, seorang teolog sekaligus juru bicara dari Asia mengajukan pertanyaan dan pernyataan yang sangat menantang berikut ini: “Apakah Allah menghendaki kita menjadi tabula rasa, sebelum ia mengungkapkan rahasia itu kepada kita? Apakah Allah menyuruh kita melompat keluar kulit kita sebelum Ia memulai sesuatu dengan kita. Saya tidak percaya Allah mencantumkan syarat demikian rupa pada penyataan… Saya kira para teolog harus lebih bijaksana. Allah tampaknya adalah Allah yang bijaksana, yang tahu bahwa kita tidak berkuasa menolak keberadaan kita sebagai manusia dengan seluruh kepribadian, budaya, sejarah dan lapisan keagamaan kita.… Teologi Asia harus menjadi teologi yang bijaksana. Bagaimana lagi kita dapat mengikuti dan mengalami Allah yang bijaksana di tengah-tengah darah dan daging Asia?”13
Ketiga, Alister McGrath menegaskan: “Ingatlah bahwa Anda adalah seorang Kristen di hadapan teman anda. Jadi, kalau cara anda berbicara di hadapan mereka tidak bijaksana, hal itu dapat menjadi penghalang bagi mereka untuk berkenalan dengan iman Kristen. Untuk memutuskan menjadi orang Kristen itu cukup sulit; maka dari itu, cara dan sikap anda menjelaskan kepercayaan Kristen kepada orang-orang non Kristen janganlah mempersulit mereka untuk memahaminya. Usahakan demikian rupa agar
13 C.S. Song. Sebutkanlah Nama-Nama Kami. Teologi Cerita
mereka mudah berpaling kepada Yesus dan Injil-Nya.”14
Rekonstruksi Eklesiologi
Suara-suara kritis yang kita dengar, baik dari saudara-saudara dari agama seberang maupun dari saudara-saudara dalam agama sendiri patut kita pertimbangkan dengan saksama. Seruan-seruan ini harus kita terima sebagai bahan baku untuk melakukan rekonstruksi pemahaman bergereja. Itu penting agar Injil benar-benar dirasakan sebagai kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani (Rm. 1:16). Dengan kata lain, seruan-seruan tadi patut kita responi sebagai undangan untuk kita memikirkan ulang pendapat klasik yang mewajibkan seseorang untuk meninggalkan agamanya dan melakukan pemutusan hubungan yang radikal dengan segala hal yang memberi dia akar, identitas dan otentisitas.
Merancang sebuah eklesiologi baru adalah hal yang mendesak untuk kita lakukan. Eklesiologi atau pemahaman baru tentang Gereja, khususnya di Asia harus menjadi eklesiologi yang bijaksana. Choan-seng Song memberi satu petunjuk ke arah itu. Pertanyaan dan pernyataannya yang menantang tadi memberi
14 Alister McGrath. Bersaksi Tanpa Kehilangan Teman.
kesan bahwa kita tidak selalu harus menolak keberadaan kita sebagai manusia dengan seluruh kepribadian, budaya, sejarah dan lapisan keagamaan kita kalau kita menjadi pengikut Kristus. Stephen Kim juga menunjukan jalan ke arah eklesiologi yang bijaksana itu. Betapapun karya keselamatan Kristus tidak dibatasi dalam kesatuan yang kelihatan dari gereja, tetapi itu tidak boleh melemahkan kegairahan evangelisasi. Sebaliknya itu justru membawa kita kepada medan-medan penginjilan yang baru untuk kita melihat adanya homogenitas yang bersifat berlanjut dari sejarah keselamatan dalam agama-agama.15
Seperti apakah isi dari rekonstruksi eklesiologi yang bijaksana yang di dalamnya kita menemukan adanya homogenitas yang bersifat berlanjut dari sejarah keselamatan dalam agama-agama?
Hipotesa Kerja Eklesiologi Baru
Kita tidak selalu harus menolak seluruh kepribadian, budaya, sejarah dan lapisan keagamaan kita kalau kita menjadi pengikut Kristus. Ini merupakan hipotesa kerja yang menjadi titik tolak penelusuran kita dalam bab yang sedang kita hadapi. Hipotesa ini dibangun dari penalaran teologis berikut. Allah yang disaksikan Alkitab adalah Allah yang berwarna. Ia berkulit putih. Betul. Tetapi putih bukan
satu-satunya warna kulit Allah. Allah juga berkulit hitam dan bahkan kuning.
Karena Allah adalah pribadi yang berwarna, maka paham tentang gereja juga haruslah berwarna. Eklesiologi haruslah berani memperlihatkan kekayaan cara Allah berelasi dengan manusia dalam rangka menanamkan keselamatan di dalam hati manusia masing-masing sesuai dengan warna diri, corak budaya dan ragam keagamaan mereka. Allah adalah Tuhan yang berwarna dan bukan buta warna. Ia juga tidak kehabisan metode dalam mendekati manusia untuk menuntunnya kepada keselamatan.
Dengan demikian kita juga tidak boleh menyeragamkan cara pandang kita tentang gereja. Eklesiologi harus mampu menyelam sampai ke dalam
kekayaan rahmat keselamatan Allah dan
terhadap berbagai dinamika perubahan sosial kemasyarakatan sehingga dapat masuk ke dalam setiap dinamika itu untuk mengarami dan meneranginya. Bukankah dalam credo kita mengaku bahwa gereja adalah am, sebuah realita yang serba hadir?
Hipotesa kerja ini juga memiliki dasar pada sikap Yesus. Perhatikanlah dengan saksama Markus 5:18-20: “Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia. Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!"
Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah. Inilah menurut kami alasan mengapa Yesus tidak memperkenankan orang yang dirasuk setan itu mengikuti Dia. Yesus sebaliknya memerintahkan dia untuk kembali ke rumah dan ke kampungnya untuk memberitahukan saudara-saudaranya hal-hal yang sudah diperbuat Tuhan atasnya.
Tetapi di Gerasa Yesus menyuruh orang yang mau mengikuti Dia untuk pulang kepada keluarganya. Betapa kontrasnya permintaan Yesus ini yang terakhir ini dengan tuntutan yang Yesus ajukan kepada murid-muridNya. Yesus justru menyuruh dia untuk pulang. Yesus tidak mengijinkan orang itu mengikuti Dia. Dia disuruh pulang untuk memberitahukan kepada saudara-saudaranya segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan kepadanya.
Ahhhh… ternyata Yesus tidak menerapkan metode yang kaku dan mengembangkan eklesiologi yang seragam. Berkali-kali Yesus mengungkapkan kekagumannya terhadap imam orang-orang non-Yahudi. Ia terpesona pada iman perempuan Siro-fenesia. Yesus dibuat heran oleh iman yang dimiliki perwira Roma (Mat. 8:5-10). Pemuda Gerasa ini pun tidak kurang membuat Yesus tersentak karena imannya. Biasanya, kita langsung merespons orang-orang seperti itu dengan meminta mereka segera memutuskan hubungan orang tua, saudara-saudara, kampungnya dan juga agamanya. Orang-orang seperti itu kita ajak menjadi Kristen supaya imannya menjadi murni.
basis hidup mereka agar di situ mereka menjadi pemberita kebaikan dan cinta kasih Allah. Kalau terhadap orang-orang Yahudi, Yesus berkata: “Ikutlah Aku!” Tetapi terhadap orang non-Yahudi yang percaya kepadaNya, Yesus tidak pernah meminta mereka untuk meninggalkan agamanya. Kepada pemuda Gerasa itu Yesus menyuruh pulang ke rumah, kepada orang-orang sekampung untuk beritahukan kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atas dia dan bagaimana Tuhan telah mengasihani dia (Mk. 5:19).
Dasar terdalam dari sikap Yesus ini, menurut pendapat kami adalah karena Yesus datang ke bumi bukan untuk mendirikan agama baru, sehingga semua orang yang menjadi pengikutNya harus masuk ke dalam agama baru itu. Tidak. Yesus datang untuk membawa setiap agama dunia kepada pemenuhannya. Dengan demikian bukanlah sebuah keharusan bagi seseorang untuk meninggalkan agamanya semula dan menjadi pemeluk agama Kristen. Bertemu Yesus tidak dengan sendirinya seseorang harus meninggalkan agamanya, melainkan ia dapat tetap hidup dalam agamanya semula demi memperlihatkan Kristus sebagai pemenuhan dari agama itu.
metode pemberitaan Kristus yang diterapkan Paulus sebagaimana dia tegaskan dalam I Korintus 9:20-22.
Kami juga menemukan keyakinan iman serupa ditegaskan oleh East Asia Christian Conference di bawah ini:16
Ini berarti bahwa untuk memberitakan Injil Allah di dalam Yesus Kristus kepada manusia sama dengan memperhadapkan mereka dengan keprihatinan kasih Allah terhadap semua agama, termasuk agama Kristen sebagaimana yang terkandung di dalam Injil. Tanpa itu, kehidupan baru yang ditawarkan kepada manusia di dalam Yesus Kristus akan tetap tinggal sebagai misteri. Benarlah, tidak akan pernah ada percakapan yang serius tentang Injil jika mereka yang terlibat dalam percakapan itu, orang Kristen atau non-kristen, beragama atau tidak, mengakui bahwa Injil dialamatkan kepada mereka dalam situasi hidupnya, untuk menunjukkan kepadanya kondisinya sebagai yang terasing dari Allah, dan Injil juga datang kepada mereka sebagai undangan untuk hidup dalam anugerah pengampunan Allah melalui Yesus Kristus, Tuhan yang bangkit dari kematian karena mereka. Yesus Kristuslah yang harus ditemui manusia. Kepedulian seorang Kristen bukanlah untuk mempertemukan manusia dengan agama Kristen, tetapi dengan peristiwa dan pribadi Kristus.
16 CCA Statement. “Christian Encounter with Men of Other
Dalam pernyataan iman ini jelas tersurat bahwa yang penting adalah perjumpaan dengan Yesus, bukan perjumpaan dengan agama Kristen. Inilah hipotesa kerja yang menjadi titik tolak penulisan ini. Hipotesa itu adalah sebagai berikut: “Dalam mengikut Yesus tidak selalu seseorang harus melakukan pemutusan yang radikal, total dan menyeluruh dengan keberadaannya sebagai manusia dengan seluruh kepribadian, budaya, sejarah dan lapisan keagamaannya. Seseorang dapat menjadi pengikut Kristus sambil tetap tinggal dalam budaya, sejarah dan lapisan keagamaannya. Memeluk agama Kristen bukan syarat mutlak bagi seorang pengikut Kristus. Mengikut Yesus tidak selalu jatuh sama dengan memeluk agama Kristen. Bukankah yang Yesus minta adalah mengikut Dia dan bukan menjadi Kristen? Selain itu, nama Kristen juga baru muncul kemudian. Nama itu menunjuk kepada orang-orang yang mengikuti jalan Tuhan (Kis. 9:2) sebuah penamaan yang mengandung konotasi arti dinamis dan fleksibel.”17
Dalam rangka menguji hipotesa ini kita akan mendalami pemikiran beberapa teolog Asia, antara lain: Nabeel T. Jabbour, Choan-seng Song, Andreas Yewangoe, Gerrit Singgih dan Raimundo Panikkar. Alasan pemilihan kami terhadap tokoh-tokoh ini akan kami jelaskan di bagian awal pembahasan pemikiran masing-masing tokoh.
Sistematika pembahasan
Pembahasan kita tentang dalam rangkaian penelitian ini akan kita bingkai dalam sistematika berikut.
Pendahuluan. Di sini kami memaparkan pentingnya pokok yang sedang jadi fokus diskusi. Setelah kami mengajukan berbagai tanggapan dari saudara-saudara dari agama seberang terhadap pelaksanaan misi atau pekabaran injil sekaligus juga pertimbangan kritis dari beberapa pemikir Kristen mengenai pokok ini dalam bagian ini kami juga mengajukan hipotesa yang menjadi a priori dari penelitian ini.
Bab satu sampai bab lima akan berisi investigasi yang mendalam terhadap pemikiran berbagai tokoh atau pemikiran Kristen terhadap hipotesa yang kami ajukan. Maksud pemaparan pikiran-pikiran mereka adalah untuk menguji seberapa penting dan urgen hipotesa kami sebagai satu pokok dalam diskursus teologi, secara khusus pemahaman tentang misi atau pekabaran injil dalam konteks masyarakat multi agama. Dalam in depth study terhadap pemikiran para tokoh tadi kami juga akan memberi perhatian pada rancang-bagun eklesiologi baru yang diajukan oleh tiap-tiap tokoh dimaksud.
analisa itu adalah apakah kekuatan dan kelemahan dari rekonstruksi eklesiologi yang ditawarkan oleh para tokoh itu. Untuk maksud itu kami akan mendengarkan pertimbangan dari para pakar teologi sesuai dengan pokok yang sedang dalam pembahasan.