• Tidak ada hasil yang ditemukan

Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

NGELMU BASA

Oleh

(2)

PENGERTIAN LINGUISTIK

Alat yang sistematis untuk menyampaikan gagasan/

perasaan dengan memakai tanda-tanda, bunyi-bunyi , gestur,/ tanda-tanda yang disepakati yang

mengandung makna yang dapat dipahami

International

Dictionary of

the English

Language

Sistem simbol vokal yang arbitrar yang

memungkinkan semua orang dalam suatu kebudayaan tertentu/ orang lain yang mempelajari sistem

kebudayaan iitu berkomunikasi/ berinteraksi

Finochiaro

Sistem lambang bunyi yang arbitrar yang

dipergunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan

mengidentifikasikan diri

Kridalaksana

Sistem bunyi dan dan urutan bunyi vokal yang

terstruktur yang digunakan dalam komunikasi

(3)

SIFAT BAHASA

bukan sejumlah unsur yang terkumpul secara

acak/ tidak beraturan. Unsur-unsur bahasa

tersusun secara teratur sebagai pola-pola yang berulang, bersifat komplementer

Bahasa

sebuah

sistem

bersifat teratur dan dapat diuraikan atas

satuan-satuan terbatas yang berkombinasi dengan kaidah-kaidah yang dapat diramalkan

Bahasa

sistematis

bukan sistem yang bersifat tunggal, melainkan

terdiri dari beberapa subsistem, misalnya subsistem fonologi, gramatikal, dan leksikon

Bahasa

sistemis

tidak ada hubungan wajib antara satuan-satuan

bahasa dengan yang dilambangkannya

Bahasa

arbitrar

Bahasa sebagai sistem lambang bunyi bahasa

harus dipelajari dan disepakati

Bahasa

bersifat

konvensiona

(4)

LANJUTAN

sebagai sistem dari unsur-unsur yang bersifat

terbatas dapat dipakai secara tidak terbatas oleh pemakainya

Bahasa

bersifat

produktif

tiap bahasa mempunyai sistem yang khas yang

membedakan antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain walaupun ada sejumlah yang bersifat universal

Bahasa

bersifat unik

karena bahasa digunakan oleh kelompok

manusia yang berbeda-beda, untuk keperluan beda, dalam bidang yang berbeda-beda, maka bahasa itu bervariasi

Bahasa

bersifat

variatif

bahasa lambang sosial budaya masyarakat

pemakainya. Melalui bahasa sekelompok manusia yang berada dalam sistem sosial

budaya tertentu itu mengidentifikasikan diri dan membentuk komunitas, serta bersesama

Bahasa

menunjukka

(5)

Fungsi Bahasa

Fungsi khusus

Finochiaro (1977) 1) personal, 2)

interpersonal, 3) direktif,4) referensial, 5) imajinatif Halliday (1973) 1) instrumental, 2) regulatori, 3) representasional 4) interaksional, 5) personal, 6) huristik, 7) imajinatif Blundell (1987): 1) informasional, atitudinal, dan aktif, 2) formula sosial, 3) pelumas komunikasi, 4) informasi kebahasaan

Brown dan Yule 1985): a. Transaksional: berkenaan dengan ekspresi isi b. Interaksional: ekspresi relasi sosial dan sikap

(6)

Fungsi

personal:

bahasa

merupakan

alat

untuk

menyampaikan diri, menyatakan pribadi, ukurannya

apakah yang dinyatakan berasal dari dirinya atau bukan

(terkait dengan perasaan dan pikiran)

Fungsi interpersonal: menyangkut hubungan antar

penutur/ antar persona, diarahkan untuk membina/

menjalin hubungan sosial (penutur harus mengetahui

dan memahami nilai-nilai dan karakteristik budaya yang

berlaku dalam bahasa yang bersangkutan)

Fungsi direktif: untuk mengatur orang lain yang

diharapkan adalah dampak tindakan orang lain yang

diharapkan (penutur harus menganalisis situasi,

menginterpretasi dan memprediksi konteks sosial dan

budaya yangberlaku)

(7)

Fungsi Imajinatif: untuk menciptakan sesuatu dengan berimajinasi

Fungsi instrumental: untuk mengatur lingkungan/ untuk

menciptakan situasi/ peristiwa tertentu

Fungsi representasional: untuk perujukan fakta keduniaan dan khasanah pengetahuan

Fungsi huristik: untuk memperoleh ilmu pengetahuan, dalam karya ilmiah nampak pada perumusan masalah

Fungsi regulatori: bertugas untuk memelihara/ mengontrol keadaan/ peristiwa

Fungsi informasional, attitudinal, dan aktif: fungsi bahasa yang didasarkan pada kenyataan bahwa sikap (attitude) terhadap sesuatu (perasaan/pendapat/penilaian) baru dapat ditentukan setelah seseorang mendapatkan informasi terlebih dahulu

Fungsi formula sosial/ fungsi basa-basi: dimaksudkan untuk sekedar memantapkan hubungan sosial/ tidak mengandung makna dan maksud yang sebenarnya

(8)

Fungsi informasi kebahasaan: untuk mengungkapkan bahasa itu sendiri Fungsi transaksional: fungsi bahasa yang paling penting adalah

komunikasi, informasi; bahasa yang digunakan untuk menyampaikan informasi proposional/ informasi faktual disebut bahasa transaksional utama

Fungsi interaksional: untuk memantapkan dan memelihara hubungan sosial

Fungsi kebudayaan, bahasa berfungsi sebagai: a, sarana perkembangan kebudayaan

b. Jalur penerus kebudayaan

c. Inventaris ciri-ciri kebudayaan

Fungsi kemasyarakatan: ada dua golongan;

a. Fungsi berdasarkan ruang lingkup: nasional dan daerah

nasional: 1) lambang kebanggaan bangsa, 2) lambang identitas bangsa, 3) alat pemersatu aneka suku, 4) alat perhubngan antar daerah dan antar budaya

(9)

b. Fungsi berdasarkan ruang lingkup pemakaian: suatu bahasa

akan digunakan sebagai alat komunikasi yang lebih luas jika memegang kunci bagi bangsa lain.

Fungsi perorangan: 1) fungsi instrumental, 2) fungsi menyuruh, 3) fungsi interaksional, 4) fungsi representasional/ kepribadian, 5) fungsi huristik/pemecahan masalah, dan 7) fungsi informatif

Fungsi pendidikan: 1) fungsi integratif, 2) fungsi instrumental, 3) fungsi kultural, 4) fungsi penalaran

Fuingsi integratif: sebagai alat yang membuat anak didik memiliki

kesanggupan menjadi anggota masyarakat/ berfungsi

mengintegrasikan diri dalam masyarakat

Fungsi instrumental: untuk mendapatkan keuntungan material, memperoleh pekerjaan, ilmu pengetahuan, mendapatkan peluang-peluang ekonomi

Fungsi kultural: untuk mengenal, mempelajari, mengapresiasi dan menghargai nilai-nilai budaya yang berwahanakan bahasa itu Fungsi penalaran: penekanan pada penggunaan bahasa sebagai

(10)

SATUAN BAHASA

Fon dan fonem: fon merupakan satuan bahasa yang dapat diucapkan dan didengar. Fonem bersifat abstrak yang direalisasikan menjadi fon dan mampu menunjukkan kontras makna

Morf dan morfem: morf bentuk yang bersifat konkret dalam pelaksanaan bahasa dapat diidentifikasikan, diucapkan, dan dapat didengar. Morfem merupakan unsur pembentuk

kata

Kata: merupakan satuan bahasa yang terbentuk dari satu morfem/lebih, atau satuan gramatikal terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas

Frasa: satuan gramatikal yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak terdiiri dari subjek dan predikat

Kalimat: ujaran yang berisi pikiran lengkap yang tersusun dari subjek dan predikat

Klausa: merupakan satuan gramatikal unsur pembentuk kalimat yang berstruktur predikatif

Gugus kalimat: satuan-satuan bahasa yang lebih kecil dari paragraf karena gugus kalimat berada dalam paragraf

Paragraf: sejumlah kalimat yang mengandung satu keutuhan isi sebagai bagian isi wacana

(11)

Linguistik: ilmu bahasa yang

memenuhi syarat-syarat

keilmuan

Eksplisit secara konsisiten telah memenuhi kejelasan kriteria yang mendasari suatu penelitian dan penyusunan peristilahan Sistematis

Telah memenuhi dan menerapkan secara

konsisten prosedur standar dalam penelitian

Telah menentukan kerangka deskriptif yang

digunakan untuk menyesuaikan

pandangan tentang data, dan

Telah melakukan pengujian secara ketat

terhadap hipotesa, perkiraan, atau pandangan tentang

bahasa

Objektif

Memiliki sikap terbuka dalam analisis

Memiliki sikap kritis dan mencurigai setiap hipotesa sampai dapat dibuktikan kebenarannya

Berhati-hati terhadap prasangka-prasangka Berusaha sejauh mungkin

memakai prosedur standar yang telah

(12)

TEORI-TEORI HASIL LINGUISTIK TELAH

MEMENUHI ADANYA TIGA PRINSIP

Tuntas

artinya

dapat

mencakup

semua

fakta

Konsisten

artinya

tidak

mengandun

g

pernyataan

-pernyataan

yang saling

bertentang

an

Sederhana

artinya

disampaika

n dalam

pernyataan

-pernyataan

yang lugas

dan

(13)

Sikap linguistik sebagai

ilmu

Bersifat deskriptif dan bukan

preskriptif (normatif: bersangkutan dengan adanya

standar mutlak mengenai betul salah dalam bahasa

dan bahwa tujuan analisis bahasa ialah menyusun

norma-norma pemakaian bahasa

Merumuskan kaidah bahasa berdasarkan ciri

atau sifat bahasa itu sendiri dan bukan bahasa

yang lain

Memperlakuk an bahasa

sebagai sistem

Memperlakukan bahasa sebagai

(14)

bahasa dalam

pengertian harafiah,

bahasa ujaran

bahasa yang

dihasilkan oleh alat

ucap manusia yang

digunakan untuk

berkomunikasi

secara wajar

Objek

kajian

linguis

(15)

OBJEK KAJIAN LINGUISTIK

Langage

sistem bahasa

pada umumnya,

sistem bahasa

manusia pada

umumnya yang

terdiri atas

langue dan

parole

Langue

sistem bahasa

yang ada di

dalam akal budi

pemakai bahasa

dalam kelompok

sosial. Jadi

merupakan

totalitas fakta

suatu bahasa

Parole

(16)

LINGUISTI

K

LINGUISTIK MIKRO LINGUISTIK MAKRO

Bidang Teoritis

A. Umum

1. Teori Linguistik 2. Linguistik

Deskriptif

3. Linguistik Historis Komparatif

B. Bahasa Tertentu

1. Linguistik Deskriptif

2. Linguistik Historis Komparatif

Bidang Interdisipliner 1. Fonetik

2. Filsafat Bahasa 3. Psikolinguistik 4. Etnolinguistik 5. Sosiolinguistik 6. Dsb/

Bidang Terapan

7. Pengajaran Bahasa 8. Penerjemahan

9. Leksikografi

10.Fonetik Terapan 11.Sosiolinguistik

Terapan

12.Pembinaan Bahasa 13.Grafologi

(17)

Catatan:

1.

Morfologi dan sintaksis sering disatubidangkan

disebut dengan tatabahasa

2.

Di samping itu ada cabang linguistik yang disebut

morfofonologi dan morfosintaksis

LINGUISTIK

LINGUISTIK MIKRO

LINGUISTIK TEORITIS

LEKSIKOLOGI

MORFOLOGI FONOLOGI

(18)

Pengertian Fonologi/

Widyaswara/ Phonology

Cabang linguistik yang

mempelajari sistem bunyi

bahasa

Bunyi bahasa/ ujaran

ada yang dapat

membedakan makna

disebut fonem:maujud

abstrak yang

direalisasikan menjadi

fon merupakan aspek

langue yang diwadahi

dalam subdisiplin

fonemik

Bunyi bahasa/ ujaran

ada yang tidak

membedakan makna

disebut fon bunyi

konkret yang

diartikulasikan terjadi

pada aspek parole yang

(19)

PROSES MORFOLOGI

Input Proses Output

ater-ater (anuswara, a-, ka- ke-, sa-, dll) Imbuhan sisipan (-um-, -in-, -er-, dan –el-)

panambang (-a, -i, -e, - en, -an, -na, -ana, -ane)

wuwuhan bebarengan (rumaket/ tanrumaket: N- -i, N- -ake, d- -i, di- -ake) dwi purwa

Pengulangan/ rangkep dwilingga dwiwasana

Pemajemukan:wutuh/ tugel

Afiksasi bentuk dasar +

imbuhan

bentuk dasar

bentuk dasar +bentuk dasar

Kata Jadian

Kata ulang

Kata majemuk Pengulanga

n

(20)

JINISING TEMBUNG

•mratelakaken namaning barang/ kang kaanggep barang. Titikanipun: sumambung tembung dudu,/ sanes, ana/ wonten, boten saged sumambung tembung ora/ boten

Tembung

aran

•mratelakaken solah bawa/ tandang damel.

• Titikanipun: sumambung tembung ora/ boten, anggenipun

Tembung

kriya

•mratelakaken kaanan/ kawontenan/ watak satunggaling barang/bab.

•Titikanipun: sumambung tembung langkung/ luwih, rada/ radi, paling, sanget

Tembung

sifat

•suka katrangan tembung sanesipun (aran, kriya, sifat, wilangan). Tuladha: badhe, boten, sampun, kantun, kemawon, pancen, saweg, saged, radi

Tembung

katrangan

•dipunginakaken minangka sesulihing tiyang, barang, ingkang kaanggep barang

•Tembung sesulih wonten kalih ; panuduh saha purus wonten tigaa. Purusa; utama purusa, madyama purusa , saha pratama purusa

(21)

JINISING TEMBUNG

mratelakaken gunggunging barang

Tembung

wilangan

Kaginakaken kangge ngggandheng

tembunngsetunggal kaliyan tembunng sanesipun, utawi klausa / ukara setunggla kaliyan klausa/ukara sanesipun

Tembung

panggandheng

kangge ngancer-anceri papan/ ngancer-anceri

tembung aran. Tuladha: kaliyan, dening, marang, kagem

Tembung

ancer-ancer

kaginakaken nyilahaken/ mligekaken satunggaling

patrap, barang/ salah satunggaling bab. Tuladha: si, sang, sri, ingkang, sing, para

Tembung

panyilah

saged nggambaraken wedharing raos remen, kaget,

kuciwa, kagelan, sisah, gumun

(22)

Widya ukara/

sintaksis

(23)

Frasa pamoring tembung kang

ngemu titikan

Kadadosan kalih tembung utawi

langkung

Drajatipun ing antawisipun tembung saha

klausa/ dumunung ing

sanginggiling tembung nanging

ing

sangandhaping klausa

Urut-urutaning tembung bpten

kenging nglangkungi

wasesa

Limrahipun kadadosan saking kalih perangan; inti (ingkang

dipun-terangaken) kaliyan perangan atribut (perangan

(24)

Frasa

Jinising perangan baku

Frasa aran

Frasa kriya

Frasa kaanan

Frasa wilangan

Frasa katranga

n

Frasa sesulih

Frasa ancer-ancer

peranganing

endosentri

(25)

Klausa

rerangkening

tembung

ingkang

sampun

ngudhar

satunggaling

gagasan/

bab

Ing basa

lisan

saboten-botenipun

wonten

wasesa/

predikat

Ing basa

sinerat

saboten-botenipun

kadadosan

jejer/ subjek

saha

wasesa/

predikat

(26)

Ukara

rerangkening tembung ingkang saged ngandaharaken

satunggaling kekajengan

jangkep satunggal bab

Saged madeg piyambak

Kadadosan saking

satunggal utawi langkung

Ing basa sinerat kawiwitan aksara murda

kapungkasan tandha titik,

koma, titik koma, tandha

seru, utawi tanda pitaken

(27)

RANGKANING UKARA/ STRUKTUR KALIMAT BASA JAWA

Anak kula nangis.

J W

J – W

Pak Parman maos koran.

J W L

J - W – L

Mbak Tutik pindhah omah.

J W Gg

J – W – Gg

Bu Darma maringi putrane kembang gula.

J W L Gg

J – W – L –

Gg

Buku menika kaserat nalika wonten Sala.

J W P

(28)
(29)

Kaidah Umum

Hubungan antara tanda (kata/leksem)dengan referen bersifat arbitrer/ tidak ada hubungan

wajib

Secara sinkronik makna sebuah kata /leksem tidak berubah , secara diakronik kemungkinan

berubah ada

Bentuk-bentuk yang berbeda akan berbeda maknanya

Setiap bahasa memiliki sistem semantik yang berbeda dengan sistem semantik bahasa yang

lain

Makna setiap kata dalam suatu bahasa dipengaruhi oleh pandangan hidup dan sikap

anggota masyarakat

Luasnya makna yang dikandung sebuah bentuk gramatikal berbanding terbalik dengan luasnya

(30)

Relasi makna

Dalam setiap bahasa kita temukan kosa kata yang

maknanya berhubungan dengan makna kosa kata

yang lain. Hubungan makna ini mungkin

menyangkut

kesamaan

makna

(sinonimi),

kebalikan makna (antonimi), ketercakupan makna,

atau bisa hubungan yang lain.

Sinonimi

Secara etimologi kata sinonimi berasal dari bahasa

Yunani Kuno , yaitu syn ‘dengan’ dan anoma

‘nama’. Sinonimi berarti nama lai untuk benda

yang sama atau hal yang sama.

(31)

Lambang/ kata adalah nama atau label dari sesuatu

yang dilambangkannya. Penamaan: pemberian

nama/ label terhadap sesuatu yang bersifat arbitrer

dan konvensional

Proses pemberian nama:

1.

Peniruan bunyi; penamaan berdasarkan bunyi dari

benda / sesuatu tersebut

2.

Penyebutan

bagian;

penamaan

sesuatu

berdasarkan bagian dari sesuatu tersebut, ada dua

macam pars pro toto (penyebutan bagian untuk

keseluruhan: minta kopi di rumah makan) dan

totem pro parte (penyebutan keseluruhan untuk

bagian: HIJAU nganakake pentas wayang kulit)

(32)

4. Penemu dan pembuat; penamaan berdasarkan pembuat/

penemu ( appelativa) misal: mujair (petani bernama Mujair di Kediri), Volt (Volta/ sarjana fisika Italia), kodak / diesel/ciba/ aspirin – (pabrik dan merek dagang = nama benda)

5. Tempat asal; penamaan bedasarkan asal benda tersebut, misalnya: kenari (pulau Kenari di Afrika), sarden (pulau Sardenia di Italia), soto Kudus, nasi Padang

6. Bahan; penamaan berdasarkan nama bahan pokok benda itu, misalnya kaca mata, kaca spion, kaca jendela, bambu runcing 7. Keserupaan; penamaan berdasarkan kesamaan sifat atau ciri

dari makna leksikal kata itu, misalnya sikil meja, sikil kursi, kepala kantor, kepala surat, kepala paku

8. Pemendekan; penamaan berdasarkan hasil penggabungan unsur-unsur dari beberapa kata, ABRI, KONI, rudal, pemda 9. Penamaan baru; nama/ istilah baru diadakan untuk

(33)

Antonimi dan Oposisi

Kata antonimi berasal dari anti ‘melawan’ dan onoma

‘nama’ (bahasa Yunani kuna). Secara harafiah

antonim berarti nama lain untuk benda yang lain

pula. Secara semantik antonim berarti ungkapan

yang maknanya dianggap kebalikan dari makna

ungkapan lain, biasanya disebut lawan kata

sebetulnya yang berkebalikan itu maknanya.

Antonim tidak bersifat mutlak melainkan beroposisi,

oposisi tercakup konsep betul-betul berlawanan

sampai yang hanya bersifat kontras, sehingga oposisi

maknanya dapat dibedakan menjadi oposisi mutlak,

oposisi kutub, oposisi hubungan, oposisi hierarkial,

oposisi majemuk

Oposisi mutlak , dalam antonim yang mengandung

(34)

Oposisi kutub, kata yang mempunyai oposisi makna kutub pertentangan maknanya tidak mutlak melainkan bersifat gradasi

kutub A (sugih, panas, seneng, adoh)

batas

kutub B (mlarat, adhem, susah, cedhak)

Kata-kata yang beroposisi kutub umumnya adalah kata-kata dari kelas adjektif.

(35)

Oposisi hubungan dapat terjadi pada keta kerja

dan dapat pula terjadi pada kata benda;

maju-mundur, menehi-nampa, guru-murid,

dokter-pasien

Oposisi Hierarkial; makna satuan lingual yang

beroposisi hierarkial ini menyatakan suatu deret

jenjang atau tingkatan.

Kosa kata yang mempunyai oposisi hierarkial ini

biasanya berupa nama satuan ukuran (berat,

panjang, isi) nama satuan hitungan, nama

jenjang kepangkatan

Misalnya: senti – meter, gram – ons

Oposisi

majemuk,

satuan

lingual

yang

mempunyai oposisi makna lebih dari satu

satuan lingual

(36)

Homonimi, homofoni, homografi

Homonimi berasal dari kata homo ‘sama’ dan onoma

‘nama’, homonimi: nama sama untuk benda atau hal

lain

Homonimi sebagai ungkapan yang bentuknya sama

dengan ungkapan lain yang maknanya tidak sama

Misalnya, bisa dalam bahasa Indonesia

Kemungkinan penyebab adanya homonimi

1.

Bentuk-bentuk yang berhomonimi itu berasal dari

bahasa/ dialek yang berbeda . Misalnya, bisa

(racun/ Indonesia) bisa (dapat / Jawa)

2.

Bentuk-bentuk yang berhomonimi itu terjadi

sebagai hasil proses morfologi. Misalnya, mengukur

( ukur, kukur)

(37)

LINGUISTIK KOMPARATIF ----KOMPARATIF

MENUNJUKKAN PEMAKAIAN METODE/ TEKNIK YANG

DIGUNAKAN DALAM KAJIANNYA

 Cabang linguistik yang menggunakan metode komparatif:

 Tipologi bahasa: kajian secara struktural, dimensi sinkronis, tujuan

klasifikasi bahasa secara tipologi

 Linguistik kontrastif: kajian bahasa secara struktural, dimensi

sinkronis, tujuan didaktis/ pengajaran bahasa

 Linguistik komparatif: kajian perubahan bahasa, dimensi diakronis,

tujuan pengelompokkan bahasa berkerabat Metode komparatif dalam LHK;

 Identifikasi bentuk persamaan dan perbedaan

 Dasar korespondensi bunyi dan makna, dituntut penguasaan fonologi

secara general dan fonologi khusus bahasa yang diteliti

 Merekonstruksi tahap awal perkembangan dasar bentuk yang

diturunkan

 Menggunakan tiga /3 kriteria, yaitu non arbritrary/ tidak bebas/ tidak

(38)

LINGUISTIK ; SINKRONIS DAN DIAKRONIS Linguistik Sinkronis:

 Adalah linguistik yang memfokuskan kajian pada satu bahasa

pada waktu tertentu dan mengabaikan aspek perubahan bahasa dari waktu ke waktu. Kajian sinkronis bisa juga dilakukan untuk suatau bahasa pada waktu terkini atau bisa juga untuk suatu bahasa pada waktu lampau

 Linguistik Sinkronis juga disebut Linguistik Deskriptif

Linguistik Diakronis:

 Adalah linguistik yang memfokuskan kajian pada

PERKEMBANGAN suatu bahasa dari waktu ke waktu. Jadi, studi diakronis bisa disamakan dengan studi sejarah (historis)

 Linguistik Diakronis juga disebut Linguistik Historis Komparatif

 Linguistik Diakronis dalam prosedur penelitiannya semestinya

Referensi

Dokumen terkait

masyarakat, yang didalamnya terjadi hubungan antara interaksi sosial dengan

masyarakat, yang didalamnya terjadi hubungan antara interaksi sosial dengan

Makna idiomatik ; idiom adalah satuan-satuan bahasa (kata, frasa, atau kalimat) yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna unsur- unsurnya maupun makna

dilakukan dengan berbagai pertimbangan yaitu. 1) Kajian teori yang dijadikan referen harus terkait dengan unsur topik (judul) penelitian. Kesesuaian teori menjadi pondasi

Menentukan hubungan antara arus yang lewat pada resistor dengan beda potensial antara ujung- ujung resistor tersebut..

Data berskala ordinal adalah data yang dipeoleh dengan cara kategorisasi atau klasifikasi, tetapi di antara data tersebut terdapat hubungan CIRI : posisi data tidak setara. tidak

Data berskala ordinal adalah data yang dipeoleh dengan cara kategorisasi atau klasifikasi, tetapi di antara data tersebut terdapat hubungan CIRI : posisi data tidak setara..

Perbedaan Denyut Jantung antara yang terlatih dengan tidak terlatih.. Perbedaan Cardiac Output antara yang terlatih dengan