NGELMU BASA
Oleh
PENGERTIAN LINGUISTIK
• Alat yang sistematis untuk menyampaikan gagasan/
perasaan dengan memakai tanda-tanda, bunyi-bunyi , gestur,/ tanda-tanda yang disepakati yang
mengandung makna yang dapat dipahami
International
Dictionary of
the English
Language
• Sistem simbol vokal yang arbitrar yang
memungkinkan semua orang dalam suatu kebudayaan tertentu/ orang lain yang mempelajari sistem
kebudayaan iitu berkomunikasi/ berinteraksi
Finochiaro
• Sistem lambang bunyi yang arbitrar yang
dipergunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan
mengidentifikasikan diri
Kridalaksana
• Sistem bunyi dan dan urutan bunyi vokal yang
terstruktur yang digunakan dalam komunikasi
SIFAT BAHASA
• bukan sejumlah unsur yang terkumpul secara
acak/ tidak beraturan. Unsur-unsur bahasa
tersusun secara teratur sebagai pola-pola yang berulang, bersifat komplementer
Bahasa
sebuah
sistem
• bersifat teratur dan dapat diuraikan atas
satuan-satuan terbatas yang berkombinasi dengan kaidah-kaidah yang dapat diramalkan
Bahasa
sistematis
• bukan sistem yang bersifat tunggal, melainkan
terdiri dari beberapa subsistem, misalnya subsistem fonologi, gramatikal, dan leksikon
Bahasa
sistemis
• tidak ada hubungan wajib antara satuan-satuan
bahasa dengan yang dilambangkannya
Bahasa
arbitrar
• Bahasa sebagai sistem lambang bunyi bahasa
harus dipelajari dan disepakati
Bahasa
bersifat
konvensiona
LANJUTAN
• sebagai sistem dari unsur-unsur yang bersifat
terbatas dapat dipakai secara tidak terbatas oleh pemakainya
Bahasa
bersifat
produktif
• tiap bahasa mempunyai sistem yang khas yang
membedakan antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain walaupun ada sejumlah yang bersifat universal
Bahasa
bersifat unik
• karena bahasa digunakan oleh kelompok
manusia yang berbeda-beda, untuk keperluan beda, dalam bidang yang berbeda-beda, maka bahasa itu bervariasi
Bahasa
bersifat
variatif
• bahasa lambang sosial budaya masyarakat
pemakainya. Melalui bahasa sekelompok manusia yang berada dalam sistem sosial
budaya tertentu itu mengidentifikasikan diri dan membentuk komunitas, serta bersesama
Bahasa
menunjukka
Fungsi Bahasa
Fungsi khusus
Finochiaro (1977) 1) personal, 2)
interpersonal, 3) direktif,4) referensial, 5) imajinatif Halliday (1973) 1) instrumental, 2) regulatori, 3) representasional 4) interaksional, 5) personal, 6) huristik, 7) imajinatif Blundell (1987): 1) informasional, atitudinal, dan aktif, 2) formula sosial, 3) pelumas komunikasi, 4) informasi kebahasaan
Brown dan Yule 1985): a. Transaksional: berkenaan dengan ekspresi isi b. Interaksional: ekspresi relasi sosial dan sikap
Fungsi
personal:
bahasa
merupakan
alat
untuk
menyampaikan diri, menyatakan pribadi, ukurannya
apakah yang dinyatakan berasal dari dirinya atau bukan
(terkait dengan perasaan dan pikiran)
Fungsi interpersonal: menyangkut hubungan antar
penutur/ antar persona, diarahkan untuk membina/
menjalin hubungan sosial (penutur harus mengetahui
dan memahami nilai-nilai dan karakteristik budaya yang
berlaku dalam bahasa yang bersangkutan)
Fungsi direktif: untuk mengatur orang lain yang
diharapkan adalah dampak tindakan orang lain yang
diharapkan (penutur harus menganalisis situasi,
menginterpretasi dan memprediksi konteks sosial dan
budaya yangberlaku)
Fungsi Imajinatif: untuk menciptakan sesuatu dengan berimajinasi
Fungsi instrumental: untuk mengatur lingkungan/ untuk
menciptakan situasi/ peristiwa tertentu
Fungsi representasional: untuk perujukan fakta keduniaan dan khasanah pengetahuan
Fungsi huristik: untuk memperoleh ilmu pengetahuan, dalam karya ilmiah nampak pada perumusan masalah
Fungsi regulatori: bertugas untuk memelihara/ mengontrol keadaan/ peristiwa
Fungsi informasional, attitudinal, dan aktif: fungsi bahasa yang didasarkan pada kenyataan bahwa sikap (attitude) terhadap sesuatu (perasaan/pendapat/penilaian) baru dapat ditentukan setelah seseorang mendapatkan informasi terlebih dahulu
Fungsi formula sosial/ fungsi basa-basi: dimaksudkan untuk sekedar memantapkan hubungan sosial/ tidak mengandung makna dan maksud yang sebenarnya
Fungsi informasi kebahasaan: untuk mengungkapkan bahasa itu sendiri Fungsi transaksional: fungsi bahasa yang paling penting adalah
komunikasi, informasi; bahasa yang digunakan untuk menyampaikan informasi proposional/ informasi faktual disebut bahasa transaksional utama
Fungsi interaksional: untuk memantapkan dan memelihara hubungan sosial
Fungsi kebudayaan, bahasa berfungsi sebagai: a, sarana perkembangan kebudayaan
b. Jalur penerus kebudayaan
c. Inventaris ciri-ciri kebudayaan
Fungsi kemasyarakatan: ada dua golongan;
a. Fungsi berdasarkan ruang lingkup: nasional dan daerah
nasional: 1) lambang kebanggaan bangsa, 2) lambang identitas bangsa, 3) alat pemersatu aneka suku, 4) alat perhubngan antar daerah dan antar budaya
b. Fungsi berdasarkan ruang lingkup pemakaian: suatu bahasa
akan digunakan sebagai alat komunikasi yang lebih luas jika memegang kunci bagi bangsa lain.
Fungsi perorangan: 1) fungsi instrumental, 2) fungsi menyuruh, 3) fungsi interaksional, 4) fungsi representasional/ kepribadian, 5) fungsi huristik/pemecahan masalah, dan 7) fungsi informatif
Fungsi pendidikan: 1) fungsi integratif, 2) fungsi instrumental, 3) fungsi kultural, 4) fungsi penalaran
Fuingsi integratif: sebagai alat yang membuat anak didik memiliki
kesanggupan menjadi anggota masyarakat/ berfungsi
mengintegrasikan diri dalam masyarakat
Fungsi instrumental: untuk mendapatkan keuntungan material, memperoleh pekerjaan, ilmu pengetahuan, mendapatkan peluang-peluang ekonomi
Fungsi kultural: untuk mengenal, mempelajari, mengapresiasi dan menghargai nilai-nilai budaya yang berwahanakan bahasa itu Fungsi penalaran: penekanan pada penggunaan bahasa sebagai
SATUAN BAHASA
Fon dan fonem: fon merupakan satuan bahasa yang dapat diucapkan dan didengar. Fonem bersifat abstrak yang direalisasikan menjadi fon dan mampu menunjukkan kontras makna
Morf dan morfem: morf bentuk yang bersifat konkret dalam pelaksanaan bahasa dapat diidentifikasikan, diucapkan, dan dapat didengar. Morfem merupakan unsur pembentuk
kata
Kata: merupakan satuan bahasa yang terbentuk dari satu morfem/lebih, atau satuan gramatikal terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas
Frasa: satuan gramatikal yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak terdiiri dari subjek dan predikat
Kalimat: ujaran yang berisi pikiran lengkap yang tersusun dari subjek dan predikat
Klausa: merupakan satuan gramatikal unsur pembentuk kalimat yang berstruktur predikatif
Gugus kalimat: satuan-satuan bahasa yang lebih kecil dari paragraf karena gugus kalimat berada dalam paragraf
Paragraf: sejumlah kalimat yang mengandung satu keutuhan isi sebagai bagian isi wacana
Linguistik: ilmu bahasa yang
memenuhi syarat-syarat
keilmuan
Eksplisit secara konsisiten telah memenuhi kejelasan kriteria yang mendasari suatu penelitian dan penyusunan peristilahan SistematisTelah memenuhi dan menerapkan secara
konsisten prosedur standar dalam penelitian
Telah menentukan kerangka deskriptif yang
digunakan untuk menyesuaikan
pandangan tentang data, dan
Telah melakukan pengujian secara ketat
terhadap hipotesa, perkiraan, atau pandangan tentang
bahasa
Objektif
Memiliki sikap terbuka dalam analisis
Memiliki sikap kritis dan mencurigai setiap hipotesa sampai dapat dibuktikan kebenarannya
Berhati-hati terhadap prasangka-prasangka Berusaha sejauh mungkin
memakai prosedur standar yang telah
TEORI-TEORI HASIL LINGUISTIK TELAH
MEMENUHI ADANYA TIGA PRINSIP
Tuntas
•
artinya
dapat
mencakup
semua
fakta
Konsisten
•
artinya
tidak
mengandun
g
pernyataan
-pernyataan
yang saling
bertentang
an
Sederhana
•
artinya
disampaika
n dalam
pernyataan
-pernyataan
yang lugas
dan
Sikap linguistik sebagai
ilmu
Bersifat deskriptif dan bukan
preskriptif (normatif: bersangkutan dengan adanya
standar mutlak mengenai betul salah dalam bahasa
dan bahwa tujuan analisis bahasa ialah menyusun
norma-norma pemakaian bahasa
Merumuskan kaidah bahasa berdasarkan ciri
atau sifat bahasa itu sendiri dan bukan bahasa
yang lain
Memperlakuk an bahasa
sebagai sistem
Memperlakukan bahasa sebagai
•
bahasa dalam
pengertian harafiah,
bahasa ujaran
•
bahasa yang
dihasilkan oleh alat
ucap manusia yang
digunakan untuk
berkomunikasi
secara wajar
Objek
kajian
linguis
OBJEK KAJIAN LINGUISTIK
Langage
sistem bahasa
pada umumnya,
sistem bahasa
manusia pada
umumnya yang
terdiri atas
langue dan
parole
Langue
sistem bahasa
yang ada di
dalam akal budi
pemakai bahasa
dalam kelompok
sosial. Jadi
merupakan
totalitas fakta
suatu bahasa
Parole
LINGUISTI
K
LINGUISTIK MIKRO LINGUISTIK MAKRO
Bidang Teoritis
A. Umum
1. Teori Linguistik 2. Linguistik
Deskriptif
3. Linguistik Historis Komparatif
B. Bahasa Tertentu
1. Linguistik Deskriptif
2. Linguistik Historis Komparatif
Bidang Interdisipliner 1. Fonetik
2. Filsafat Bahasa 3. Psikolinguistik 4. Etnolinguistik 5. Sosiolinguistik 6. Dsb/
Bidang Terapan
7. Pengajaran Bahasa 8. Penerjemahan
9. Leksikografi
10.Fonetik Terapan 11.Sosiolinguistik
Terapan
12.Pembinaan Bahasa 13.Grafologi
Catatan:
1.
Morfologi dan sintaksis sering disatubidangkan
disebut dengan tatabahasa
2.
Di samping itu ada cabang linguistik yang disebut
morfofonologi dan morfosintaksis
LINGUISTIK
LINGUISTIK MIKRO
LINGUISTIK TEORITIS
LEKSIKOLOGI
MORFOLOGI FONOLOGI
Pengertian Fonologi/
Widyaswara/ Phonology
Cabang linguistik yang
mempelajari sistem bunyi
bahasa
Bunyi bahasa/ ujaran
ada yang dapat
membedakan makna
disebut fonem:maujud
abstrak yang
direalisasikan menjadi
fon merupakan aspek
langue yang diwadahi
dalam subdisiplin
fonemik
Bunyi bahasa/ ujaran
ada yang tidak
membedakan makna
disebut fon bunyi
konkret yang
diartikulasikan terjadi
pada aspek parole yang
PROSES MORFOLOGI
Input Proses Output
ater-ater (anuswara, a-, ka- ke-, sa-, dll) Imbuhan sisipan (-um-, -in-, -er-, dan –el-)
panambang (-a, -i, -e, - en, -an, -na, -ana, -ane)
wuwuhan bebarengan (rumaket/ tanrumaket: N- -i, N- -ake, d- -i, di- -ake) dwi purwa
Pengulangan/ rangkep dwilingga dwiwasana
Pemajemukan:wutuh/ tugel
Afiksasi bentuk dasar +
imbuhan
bentuk dasar
bentuk dasar +bentuk dasar
Kata Jadian
Kata ulang
Kata majemuk Pengulanga
n
JINISING TEMBUNG
•mratelakaken namaning barang/ kang kaanggep barang. Titikanipun: sumambung tembung dudu,/ sanes, ana/ wonten, boten saged sumambung tembung ora/ boten
Tembung
aran
•mratelakaken solah bawa/ tandang damel.
• Titikanipun: sumambung tembung ora/ boten, anggenipun
Tembung
kriya
•mratelakaken kaanan/ kawontenan/ watak satunggaling barang/bab.
•Titikanipun: sumambung tembung langkung/ luwih, rada/ radi, paling, sanget
Tembung
sifat
•suka katrangan tembung sanesipun (aran, kriya, sifat, wilangan). Tuladha: badhe, boten, sampun, kantun, kemawon, pancen, saweg, saged, radi
Tembung
katrangan
•dipunginakaken minangka sesulihing tiyang, barang, ingkang kaanggep barang
•Tembung sesulih wonten kalih ; panuduh saha purus wonten tigaa. Purusa; utama purusa, madyama purusa , saha pratama purusa
JINISING TEMBUNG
• mratelakaken gunggunging barang
Tembung
wilangan
• Kaginakaken kangge ngggandheng
tembunngsetunggal kaliyan tembunng sanesipun, utawi klausa / ukara setunggla kaliyan klausa/ukara sanesipun
Tembung
panggandheng
• kangge ngancer-anceri papan/ ngancer-anceri
tembung aran. Tuladha: kaliyan, dening, marang, kagem
Tembung
ancer-ancer
• kaginakaken nyilahaken/ mligekaken satunggaling
patrap, barang/ salah satunggaling bab. Tuladha: si, sang, sri, ingkang, sing, para
Tembung
panyilah
• saged nggambaraken wedharing raos remen, kaget,
kuciwa, kagelan, sisah, gumun
Widya ukara/
sintaksis
Frasa pamoring tembung kang
ngemu titikan
Kadadosan kalih tembung utawi
langkung
Drajatipun ing antawisipun tembung saha
klausa/ dumunung ing
sanginggiling tembung nanging
ing
sangandhaping klausa
Urut-urutaning tembung bpten
kenging nglangkungi
wasesa
Limrahipun kadadosan saking kalih perangan; inti (ingkang
dipun-terangaken) kaliyan perangan atribut (perangan
Frasa
Jinising perangan baku
Frasa aran
Frasa kriya
Frasa kaanan
Frasa wilangan
Frasa katranga
n
Frasa sesulih
Frasa ancer-ancer
peranganing
endosentri
Klausa
rerangkening
tembung
ingkang
sampun
ngudhar
satunggaling
gagasan/
bab
Ing basa
lisan
saboten-botenipun
wonten
wasesa/
predikat
Ing basa
sinerat
saboten-botenipun
kadadosan
jejer/ subjek
saha
wasesa/
predikat
Ukara
rerangkening tembung ingkang saged ngandaharaken
satunggaling kekajengan
jangkep satunggal bab
Saged madeg piyambak
Kadadosan saking
satunggal utawi langkung
Ing basa sinerat kawiwitan aksara murda
kapungkasan tandha titik,
koma, titik koma, tandha
seru, utawi tanda pitaken
RANGKANING UKARA/ STRUKTUR KALIMAT BASA JAWA
•
Anak kula nangis.
•
J W
J – W
•
Pak Parman maos koran.
•
J W L
J - W – L
•
Mbak Tutik pindhah omah.
•
J W Gg
J – W – Gg
•
Bu Darma maringi putrane kembang gula.
•
J W L Gg
J – W – L –
Gg
•
Buku menika kaserat nalika wonten Sala.
•
J W P
Kaidah Umum
Hubungan antara tanda (kata/leksem)dengan referen bersifat arbitrer/ tidak ada hubungan
wajib
Secara sinkronik makna sebuah kata /leksem tidak berubah , secara diakronik kemungkinan
berubah ada
Bentuk-bentuk yang berbeda akan berbeda maknanya
Setiap bahasa memiliki sistem semantik yang berbeda dengan sistem semantik bahasa yang
lain
Makna setiap kata dalam suatu bahasa dipengaruhi oleh pandangan hidup dan sikap
anggota masyarakat
Luasnya makna yang dikandung sebuah bentuk gramatikal berbanding terbalik dengan luasnya
Relasi makna
Dalam setiap bahasa kita temukan kosa kata yang
maknanya berhubungan dengan makna kosa kata
yang lain. Hubungan makna ini mungkin
menyangkut
kesamaan
makna
(sinonimi),
kebalikan makna (antonimi), ketercakupan makna,
atau bisa hubungan yang lain.
Sinonimi
Secara etimologi kata sinonimi berasal dari bahasa
Yunani Kuno , yaitu syn ‘dengan’ dan anoma
‘nama’. Sinonimi berarti nama lai untuk benda
yang sama atau hal yang sama.
Lambang/ kata adalah nama atau label dari sesuatu
yang dilambangkannya. Penamaan: pemberian
nama/ label terhadap sesuatu yang bersifat arbitrer
dan konvensional
Proses pemberian nama:
1.
Peniruan bunyi; penamaan berdasarkan bunyi dari
benda / sesuatu tersebut
2.
Penyebutan
bagian;
penamaan
sesuatu
berdasarkan bagian dari sesuatu tersebut, ada dua
macam pars pro toto (penyebutan bagian untuk
keseluruhan: minta kopi di rumah makan) dan
totem pro parte (penyebutan keseluruhan untuk
bagian: HIJAU nganakake pentas wayang kulit)
4. Penemu dan pembuat; penamaan berdasarkan pembuat/
penemu ( appelativa) misal: mujair (petani bernama Mujair di Kediri), Volt (Volta/ sarjana fisika Italia), kodak / diesel/ciba/ aspirin – (pabrik dan merek dagang = nama benda)
5. Tempat asal; penamaan bedasarkan asal benda tersebut, misalnya: kenari (pulau Kenari di Afrika), sarden (pulau Sardenia di Italia), soto Kudus, nasi Padang
6. Bahan; penamaan berdasarkan nama bahan pokok benda itu, misalnya kaca mata, kaca spion, kaca jendela, bambu runcing 7. Keserupaan; penamaan berdasarkan kesamaan sifat atau ciri
dari makna leksikal kata itu, misalnya sikil meja, sikil kursi, kepala kantor, kepala surat, kepala paku
8. Pemendekan; penamaan berdasarkan hasil penggabungan unsur-unsur dari beberapa kata, ABRI, KONI, rudal, pemda 9. Penamaan baru; nama/ istilah baru diadakan untuk
Antonimi dan Oposisi
Kata antonimi berasal dari anti ‘melawan’ dan onoma
‘nama’ (bahasa Yunani kuna). Secara harafiah
antonim berarti nama lain untuk benda yang lain
pula. Secara semantik antonim berarti ungkapan
yang maknanya dianggap kebalikan dari makna
ungkapan lain, biasanya disebut lawan kata
sebetulnya yang berkebalikan itu maknanya.
Antonim tidak bersifat mutlak melainkan beroposisi,
oposisi tercakup konsep betul-betul berlawanan
sampai yang hanya bersifat kontras, sehingga oposisi
maknanya dapat dibedakan menjadi oposisi mutlak,
oposisi kutub, oposisi hubungan, oposisi hierarkial,
oposisi majemuk
Oposisi mutlak , dalam antonim yang mengandung
Oposisi kutub, kata yang mempunyai oposisi makna kutub pertentangan maknanya tidak mutlak melainkan bersifat gradasi
kutub A (sugih, panas, seneng, adoh)
batas
kutub B (mlarat, adhem, susah, cedhak)
Kata-kata yang beroposisi kutub umumnya adalah kata-kata dari kelas adjektif.
Oposisi hubungan dapat terjadi pada keta kerja
dan dapat pula terjadi pada kata benda;
maju-mundur, menehi-nampa, guru-murid,
dokter-pasien
Oposisi Hierarkial; makna satuan lingual yang
beroposisi hierarkial ini menyatakan suatu deret
jenjang atau tingkatan.
Kosa kata yang mempunyai oposisi hierarkial ini
biasanya berupa nama satuan ukuran (berat,
panjang, isi) nama satuan hitungan, nama
jenjang kepangkatan
Misalnya: senti – meter, gram – ons
Oposisi
majemuk,
satuan
lingual
yang
mempunyai oposisi makna lebih dari satu
satuan lingual
Homonimi, homofoni, homografi
Homonimi berasal dari kata homo ‘sama’ dan onoma
‘nama’, homonimi: nama sama untuk benda atau hal
lain
Homonimi sebagai ungkapan yang bentuknya sama
dengan ungkapan lain yang maknanya tidak sama
Misalnya, bisa dalam bahasa Indonesia
Kemungkinan penyebab adanya homonimi
1.
Bentuk-bentuk yang berhomonimi itu berasal dari
bahasa/ dialek yang berbeda . Misalnya, bisa
(racun/ Indonesia) bisa (dapat / Jawa)
2.
Bentuk-bentuk yang berhomonimi itu terjadi
sebagai hasil proses morfologi. Misalnya, mengukur
( ukur, kukur)
LINGUISTIK KOMPARATIF ----KOMPARATIF
MENUNJUKKAN PEMAKAIAN METODE/ TEKNIK YANG
DIGUNAKAN DALAM KAJIANNYA
Cabang linguistik yang menggunakan metode komparatif:
Tipologi bahasa: kajian secara struktural, dimensi sinkronis, tujuan
klasifikasi bahasa secara tipologi
Linguistik kontrastif: kajian bahasa secara struktural, dimensi
sinkronis, tujuan didaktis/ pengajaran bahasa
Linguistik komparatif: kajian perubahan bahasa, dimensi diakronis,
tujuan pengelompokkan bahasa berkerabat Metode komparatif dalam LHK;
Identifikasi bentuk persamaan dan perbedaan
Dasar korespondensi bunyi dan makna, dituntut penguasaan fonologi
secara general dan fonologi khusus bahasa yang diteliti
Merekonstruksi tahap awal perkembangan dasar bentuk yang
diturunkan
Menggunakan tiga /3 kriteria, yaitu non arbritrary/ tidak bebas/ tidak
LINGUISTIK ; SINKRONIS DAN DIAKRONIS Linguistik Sinkronis:
Adalah linguistik yang memfokuskan kajian pada satu bahasa
pada waktu tertentu dan mengabaikan aspek perubahan bahasa dari waktu ke waktu. Kajian sinkronis bisa juga dilakukan untuk suatau bahasa pada waktu terkini atau bisa juga untuk suatu bahasa pada waktu lampau
Linguistik Sinkronis juga disebut Linguistik Deskriptif
Linguistik Diakronis:
Adalah linguistik yang memfokuskan kajian pada
PERKEMBANGAN suatu bahasa dari waktu ke waktu. Jadi, studi diakronis bisa disamakan dengan studi sejarah (historis)
Linguistik Diakronis juga disebut Linguistik Historis Komparatif
Linguistik Diakronis dalam prosedur penelitiannya semestinya