KAWASA
DI
BALAI PENGKA
BADAN PENEL
LAPORAN AKHI R
PENDAMPI NGAN
SAN RUMAH PANGAN LEST
DI PROVI NSI BENGKULU
SI SWANI DWI DALI ANI
KAJI AN TEKNOLOGI PERTANI AN B
ELI TI AN DAN PENGEMBANGAN PE
2015
No. Kode :
STARI
U
LAPORAN AKHI R
PENDAMPI NGAN
KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI
DI PROVI NSI BENGKULU
Sisw ani Dw i Daliani
Umi Pudji Astuti
Wahyuni Amelia Wulandari
Taufik Hidayat
Erpan Ramon
Robiyanto
BALAI PENGKAJI AN TEKNOLOGI PERTANI AN BENGKULU
BADAN PENELI TI AN DAN PENGEMBANGAN PERTANI AN
KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah kami sampaikan kehadirat Allah Tuhan Yang Maha
Esa, atas rahmat dan karunia-Nya Laporan Akhir Tahun Kegiatan Pendampingan
Kawasan Rumah Pangan Lestari (P-KRPL) tahun 2015 dapat diselesaikan tepat
waktu. Kegiatan pendampingan bertujuan mewujudkan KRPL untuk memenuhi
kebutuhan, ketahanan, kemandirian pangan dan pendapatan keluarga dengan :
mengoptimalkan pemanfaatan pekarangan untuk lestari; meningkatkan
kemampuan keluarga dalam pengelolaan pekarangan; mendampingi pengelolaan
KBD untuk kelestariannya, dan menumbuhkan kegiatan ekonomi produktif
keluarga dalam upaya mewujudkan kesejahteraan keluarga dan menciptakan
lingkungan hijau bersih dan sehat secara mandiri.
Laporan akhir tahun ini berisi tentang progres pelaksanaan kegiatan
pendampingan kawasan rumah pangan lestari tahun 2015 di provinsi Bengkulu.
Pendampingan yang dilakukan adalah dalam bentuk pendampingan teknologi
melalui berbagai macam chanel diantaranya penyampaian media informasi dalam
bentuk leafleat, narasumber pelatihan, demonstrasi dan penguatan demplot.
Laporan ini dibuat sebagai pertanggungjawaban atas penggunaan anggaran
melalui DI PA BPTP Bengkulu tahun 2015.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Kepala BPTP Bengkulu atas
bimbingan dan arahannya dalam pelaksanaan kegiatan ini serta pihak-pihak yang
turut membantu mulai dari pelaksanaan hingga tersusunnya laporan ini dengan
baik. Semoga laporan tengah tahun ini dapat bermanfaat.
Bengkulu, Desember 2015 Penanggung Jawab Kegiatan
I r.Siswani Dwi Daliani
LEMBAR PENGESAHAN
1. JudulRDHP : Pendampingan Kawasan Rumah Pangan Lestari di Provinsi Bengkulu
2. Unit Kerja : BPTP Bengkulu
3. Alamat Unit Kerja : JL. I rian Km 6,5 Bengkulu 38119 4. Sumber Dana : DI PA BPTP Bengkulu TA. 2015 5. Status Penelitian (L/ B) : (L) Lanjutan
6. Penanggung Jawab :
a. Nama : I r. Siswani Dwi Daliani b. Pangkat / Golongan : Penata Tk. I / I I I d c. Jabatan : Penyuluh Muda
7. Lokasi : Provinsi Bengkulu
8. Agroekosistem : Lahan kering dataran rendahdan dataran tinggi (pekarangan)
9. Tahun Mulai : 2013
10. Tahun Selesai : 2015
11. Output Tahunan : 1. Meningkatnya produktivitas lahan dengan pemanfaatn lahan pekarangan
2. Meningkatnya kesejahteraan melalui peningkatan pendapatan petani dan mengurangi pengeluaran rumah tangga 3. Peningkatan gizi keluarga melalui
percepatan penganekaragaman konsumsi pangan (pola pangan harapan)
12. Output Akhir : 1. Terdampinginya kawasan rumah pangan lestari di provinsi Bengkulu melalui penyebaran bahan informasi, penguatan kebun bibit inti (KBI ) untuk memproduksi benih unggul, penguatan kebun bibit desa (KBD), pelatihan dan menjadi narasumber.
13. Biaya : Rp.155.050.000,-(Seratus lima puluh lima juta lima puluh ribu Rupiah)
Koordinator Program, Penanggung Jawab Kegiatan,
Dr. Wahyu Wibawa, MP I r. Siswani Dwi Daliani NI P.19690427 199803 1 001 NI P. 19600730 198903 2 001
Mengetahui:
Kepala BBP2TP, Kepala BPTP Bengkulu
DAFTAR I SI
Halaman
KATA PENGANTAR ... ii
LEMBAR PENGESAHAN... iii
DAFTAR I SI ... v
DAFTAR TABEL... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
RI NGKASAN ... viii
SUMMARY ... x
I . PENDAHULUAN ... ... 1
1.1. Latar Belakang ... 3
1.2. Dasar Pertimbangan ... 3
1.3. Tujuan ... 4
1.4. Keluaran yang Diharapkan ... 4
1.5. Perkiraan manfaat dan dampak... 5
I I . TI NJAUAN PUSTAKA ... ... 6
I I I . PROSEDUR ... ... 10
3.1. Pendekatan Konsep ... 10
3.2. Ruang Lingkup dan Tahapan Pendampingan ... 11
3.3. Sasaran Pendampingan ... 11
3.4. Bahan dan Prosedur Pelaksanaan ... 11
3.5. Tahapan Pelaksanaan ... 11
3.6. Rancangan dan Metode Analisis ... 12
I V. HASI L DAN PEMBAHASAN ... 13
4.1. Koordinasi I nternal dan antar institusi... 13
4.2. Kebun Bibit I nti (KBI ) ... 14
4.3. Kebun Bibit Desa (KBD) ... 15
4.4. Pendampingan I novasi Teknologi ... 17
4.5. Pendampingan kawasan yang dibangunpemerintah daerah melalui APBN dan APBD... 18
V. KESI MPULAN ... 26
KI NERJA HASI L PENGKAJI AN... 27
DAFTAR PUSTAKA ... 28
ANALI SI S RI SI KO ... 29
JADWAL PELAKSANAAN ... 30
PEMBI AYAAN ... 31
TENAGA DAN ORGANI SASI PELAKSANA ... 33
DAFTAR TABEL
Halaman
1. Produksi benih unggul Kebun Bibit I nti (KBI ) ... 15
2. KBD yang ditumbuhkan sampai dengan tahun 2013 melalui kegiatan m -KRPL ... 16
3. KBD yang masih eksis sampai dengan awal tahun 2015 dan perlu di suport ... 16
4. Bahan informasi inovasi teknologi yang disebarkan dalam bentuk leaflet ... 17
5. Penerima Manfaat Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan tahun 2014 ... 19
6. Penerima Manfaat Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan tahun 2015 ... 19
7. Karakteristik lokasi dan koopeartor KRPL di Provinsi Bengkulu ... 21
8. Data Base KRPL di Provinsi Bengkulu ... 22
9. Penghematan pengeluaran rumah tangga dan pendapatan tambahan melalui KRPL komoditas sayuran di provinsi Bengkulu ... 23
10. Peningkatan pola pangan masyarakat di lokasi pendampingan KRPL ... 25
DAFTAR LAMPI RAN
Halaman
1. K ondisi KBD yang masih eksis dan berlanjut ... 34 2. Kondisi Pekarangan yang masih eksis dan berlanjut ... 35 3. Penyampaian inovasi teknologi melalui praktek dan menjadi
narasumber ... 36
4. Kerjasama dengan KKP Bengkulu Selatan dalam pendampingan
RI NGKASAN
1 Judul : Pendampingan Kawasan Rumah Pangan Lestari di provinsi Bengkulu.
2 Unit kerja : BPTP Bengkulu
3 Lokasi : 10 Kabupaten dan Kota
4 Agroekosistem : Lahan kering dataran rendah dan dataran tinggi (pekarangan)
5 Status (L/ B) : L (Lanjutan)
6 Tujuan : 1. Meningkatkan produktivitas lahan dengan pemanfaatan lahan pekarangan
2. Meningkatkan kesejahteraan melalui peningkatan pendapatan petani dan mengurangi pengeluaran rumah tangga 3. Peningkatan gizi keluarga melalui percepatan
penganekaragaman konsumsi pangan (pola pangan harapan)
7 Keluaran : 4. Meningkatknya produktivitas lahan dengan pemanfaatn lahan pekarangan
5. Meningkatnya kesejahteraan melalui peningkatan pendapatan petani dan mengurangi pengeluaran rumah tangga 6. Peningkatan gizi keluarga melalui percepatan
penganekaragaman konsumsi pangan (pola pangan harapan)
8 Prakiraan Manfaat : 1. Tumbuhnya tanaman yang subur di setiap keluarga dan KBD.
2. Berkembangnya tanaman pekarangan sebagai sumber pangan keluarga di setiap Kabupaten dan Kota.
3. Meningkatnyakualitas konsumsi keluarga dan pendapatan keluarga.
9 Prakiraan Dampak : 1. Terciptanya lingkungan hijau, bersih dan konsumsi sehat bagi masyarakat.
2. Peningkatan kesejahteraan masyarakat . 3. Terciptanya pelaku bisnis pembibitan sayuran
dan buah-buahan di perdesaan dan perkotaan.
11 Metodologi : Pendampingan program KRPL dilaksanakan di 10 kabupaten/ kota di Provinsi Bengkulu.
Ruang lingkup kegiatan meliputi :
a. Pendampingan teknologi oleh petugas BPTP di setiap Kabupaten/ Kota (penguatan KBD, pemilihan benih yang sesuai).
b. Gelar teknologi di KBD M-KRPL.
c. Sosialisasi, apresiasi dan petalihan petani. d. Nara sumber dalam pelatihan penyuluh
pendamping.
f. Membangun display di BPTP sebagai wahana praktek belajar-mengajar bagi petani, penyuluh dan stakeholders sebagai mitra kerja BPTP.
g. Pemberdayaan KBI sebagai sumber benih KBD.
h. Pengumpulan data dari petani pelaksana melalui pre test dan post tes, pengisian questioner tentang minat dan persepsi petani terhadap teknologi yang didiseminasikan serta metode penyebarannya.
Analisis data dilakukan dengan pembobotan, skala linkert.
12 Jangka Waktu : 3 (tiga) tahun (2013 s/ d 2015)
SUMMARY
1 Title : KRPL ‘s Assistance in Bengkulu province 2 Unit of Work : AI AT (BPTP)Bengkulu
3 Location : Bengkulu Province
4 Agroecosystems : Soil dry lowlands and highlands (the yard) 5 Status (C/ N) : C (Continouse)
6 Purposes : 1. To increase the productivity of land with land uses yard
2. I mproving the welfare through increased incomes and reduce house hold spending 3. I mproved nutrition through accelerated
diversification of food consumption (food patterns expectations)
7 Output : 1. The increasing of the productivity of land with land uses yard
2. I mproving the welfare through increased incomes and reduce house hold spending 3. I mproved nutrition through accelerated
diversification of food consumption (food patterns expectations)
8 Benefitsforecast : 1. The growth of lush plantsineachfamilyand KBD.
2. The development of plants as family food sources in every districts and city.
3. The increasing of family consumption quality and family income
9 I mpact forec : 1. The creation of a green, clean environment and healthy for consumption society
2. The improvement of public welfare
3. The creation of vegetables and fruits nursery businesses in rural and urban
10 Methodology : 1. Assist KRPL program the implemented in 10 districts/ city in Bengkulu Province.
2. The scope of activities includes:
a. Technology assistance by officials of BPTP in each district / city (KBD reinforcement, the selection of appropriate seed).
b. Technology degree in M-KRPL’s KBD c. Socialization, appreciation and farmers’
training.
d. Resource persons in extensionist training e. Publishing printed and electronic media f. Build a display in BPTP as a vehicle for
teaching and learning practices of farmers, extensionist, and stakeholders as BPTP partners.
g. KBI empowerment as a source of KBD seed.
pre-test and post-pre-test, about the interest and perception of farmers to technologies that are disseminated and the method of dissemination.
3. Data was analyzed by weighting, linkert scale.
11 Period : 3 (three) years (2013 up to 2015)
I . PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pelaksanaan kegiatan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan
(P2KP) merupakan implementasi dari Rencana Strategis Kementerian Pertanian
yang tertuang dalam Empat Sukses Kementerian Pertanian, salah satu
diantaranya mengenai Peningkatan Diversifikasi Pangan, yang merupakan salah
satu kontrak kerja antara Menteri Pertanian dengan Presiden Republik I ndonesia
pada tahun 2009-2015, dengan tujuan untuk meningkatkan keanekaragaman
pangan sesuai dengan karakteristik wilayah. Kontrak kerja ini merupakan tindak
lanjut dari Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan
Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal.
Hal ini kemudian ditindaklanjuti oleh Peraturan Menteri Pertanian Nomor
43/ Permentan/ OT.140/ 10/ 2009 tentang Gerakan Percepatan Penganekaragaman
Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal. Peraturan tersebut kini menjadi
acuan untuk mendorong upaya penganekaragaman konsumsi pangan dengan
cepat melalui basis kearifan lokal serta kerja sama terintegerasi antara
pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat.Di tingkat provinsi,
kebijakan tersebut telah ditindaklanjuti melalui surat edaran atau Peraturan
Gubernur (Pergub), dan di tingkat kabupaten/ kota ditindaklanjuti dengan surat
edaran atau Peraturan Bupati/ Walikota (Perbup/ Perwalikota).Gerakan P2KP
sangat jelas di lapangan, terutama pada tingkat provinsidan kabupaten/ kota,
baik itu melalui integrasi berbagai kegiatan dalam mewujudkan pengembangan
ekonomi daerah, maupun dari segi pelaksanaan dan pembiayaannya. Selain itu,
Gubernur dan bupati/ walikota sebagai integrator utama memiliki peranan penting
dalammengoordinasikan gerakan P2KP, khususnya terhadap Satuan
KerjaPerangkat Daerah (SKPD) sebagai agen pembawa perubahan (agent of change).
Arahan Presiden RI pada acara Konferensi Dewan Ketahanan Pangan
pada bulan Oktober 2010 di Jakarta tentang ketahanan dan kemandirian pangan
nasional harus dimulai dari rumah tangga. Terkait denganhal ini, pemanfaatan
lahan pekarangan untuk pengembangan pangan rumah tangga merupakan salah
satu alternatif untuk mewujudkan kemandirian pangan.Pemanfaatan lahan
masyarakat sejak lama dan terus berlangsung hingga sekarang namun belum
dirancang dengan baik dan sistematis pengembangannya terutama dalam
menjaga kelestarian sumberdaya. Olehkarena itu, komitmen pemerintah untuk
melibatkan rumah tangga dalam mewujudkan kemandirian pangan melalui
diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal, dan konservasi tanaman pangan
untuk masa depan perlu diaktualisasikan dalam menggerakkan kembali budaya
menanam di lahanpekarangan, baik di perkotaan maupun di perdesaan.
Pada tahun 2011, Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian
meluncurkan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (m-KRPL). Di provinsi
Bengkulu kegiatan ini diawali dengan pembentukan m-KRPL di Kabupaten
Bengkulu Tengah yaitu di desa Harapan Makmur. Sementara di Kota Bengkulu
dilaksanakan di RT 9 Kelurahan Semarang Kota Bengkulu. Pemerintah provinsi
Bengkulu melalui Badan Ketahan Pangan Provinsi dan kabupaten/ kota
mengimplementasikan arahan presiden tersebut dengan mencanangkan program
Pemanfaatan Pekarangan Terpadu di 10 kabupaten/ kota se-provinsi Bengkulu.
Kegiatan ini pertama kali diresmikan pada tahun 2012 di desa Bukit Peninjauan I
kecamatan Sukaraja oleh Gubernur Bengkulu yang didampingi oleh Bupati
Kabupaten Seluma. Dan secara maraton terus dilakukan sampai ke 10
kabupaten/ kota sampai dengan tahun 2014 yang ditandai dengan lounching
pasar KRPL di Desa Sulau Kabupaten Bengkulu Selatan.
Dalam upaya mendukung program pemerintah provinsi tersebut, Badan
Litbang Pertanian melalui BPTP Bengkulu di tahun 2012 melakukan
Pendampingan Kawasan Rumah Pangan Lestari (P-KRPL). Pendampingan
merupakan salah satu bentuk implementasi dalam upaya menjaga keberlanjutan
program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) Berbasis
Sumber Daya Lokal. Kegiatan pendampingan ini pertama kali dilakukan di
kabupaten Bengkulu Tengah dan Kota Bengkulu.
Pada tahun 2013, Program P2KP diimplementasikan melalui kegiatan: (1)
Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan melalui konsep Kawasan Rumah Pangan
Lestari (KRPL), (2) Model Pengembangan Pangan Pokok Lokal (MP3L), serta (3)
Sosialisasi dan Promosi P2KP. Tahun 2013, kegiatan sudah meluas ke 10
kabupaten/ kota dan ditandai dengan telah dilounchingkannya kegiatan
pemanfaatan pekarangan terpadu oleh Gubenrnur Bengkulu dan Bupati
Mengingat laju pembangunan pertanian yang semakin dinamis menuntut
percepatan adopsi teknologi oleh pelaku utama maupun pelaku usaha di sektor
pertanian. Dalam merespon tuntutan tersebut dipanddang perlu dilakukannya
pendampingan berkelanjutan. Pendampingan merupakan salah satu aspek
penting dalam mensukseskan program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL).
Pendampingan yang holistik, bersinergi, terkoordinir, terfokus dan terukur sangat
diharapkan oleh semua pihak dalam mengakselerasi pencapaian dari sasaran
yang telah ditetapkan secara berkesinambungan
1.2. Dasar Pertimbangan
Kegiatan optimalisasi pemanfaatan pekarangan melalui konsep KRPL, selain
bertujuan untuk peningkatan pengetahuan teknis budidaya tanaman pekarangan juga
diarahkan untuk pemberdayaan kemampuan kelompok wanita membudayakan pola
konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman (B2SA), serta peningkatan
ketrampilan dalam pengolahan pangan rumah tangga.
Optimalisasi pemanfaatan pekarangan dilakukan melalui upaya pemberdayaan
wanita untuk mengoptimalkan manfaat pekarangan sebagai sumber pangan keluarga.
Upaya ini dilakukan dengan membudidayakan berbagai jenis tanaman sesuai kebutuhan
keluarga seperti aneka umbi, sayuran, buah, serta budidaya ternak dan ikan sebagai
tambahan untuk ketersediaan sumber karbohidrat, vitamin, mineral, dan protein bagi
keluarga pada suatu lokasi kawasan perumahan/ warga yang saling berdekatan. Dengan
demikian akan dapat terbentuk sebuah kawasan yang kaya akan sumber pangan yang
diproduksi sendiri dalam kawasan tersebut dari optimalisasi pekarangan. Pendekatan
pengembangan ini dilakukan dengan mengembangkan pertanian berkelanjutan
(sustainable agriculture), antara lain dengan membangun kebun bibit dan mengutamakan sumber daya lokal disertai dengan pemanfaatan pengetahuan lokal (local wisdom) sehingga kelestarian alam pun tetap terjaga
Kegiatan KRPL yang dilaksanakan oleh P2KP di Bengkulu tahun 2014
telah dilaksanakan di 10 Kabupaten dan Kota. Perkembangan KRPL yang telah
dibangun sebagian besar hanya berjalan 1 musim tanam, pada musim tanam
berikutnya sebagian besar kawasan tidak terbentuk lagi yang tersisa adalah
rumah tangga (RPL) yang merasakan manfaat dan mau melanjutkan
kegiatannya.
Permasalahan yang timbul mengapa kawasan yang ditumbuhkan tidak
telah selesai dan tidak membeli bibit lagi, terbatasnya pendampingan teknologi
dari sumber teknologi, keberlanjutan pendampingan kurang berjalan. Minimnya
pengetahuan petani tentang teknis budidaya serta pengolahan hasil memerlukan
dukungan dan pendampingan yang berkelanjutan. Hasil kegiatan M-KRPL yang
dilaksanakan oleh BPTP menunjukkan bahwa pengetahuan petani tentang
teknologi budidaya tanaman di pekarangan masih rendah, minat petani untuk
memilih jenis sayuran yang akan ditanam beralasan bahwa komoditas tersebut
setiap hari dikonsumsi (Cabe), laku dijual, dapat diolah menjadi bahan olahan
(Kripik bayam, pisang, manisan terung, tomat, dll)
Tingkat adopsi teknologi pemanfataatan pekarangan di Provinsi Bengkulu
relatif masih rendah yang diindikasikan oleh masih kurangnya pemanfaatan
pekarangan. Tingkat pemahaman masyarakat dan penyuluh dalam pemanfaatan
pekarangan dalam upaya peningkatan ketahanan pangan masih rendah dan
perlu ditingkatkan.Melalui Pendampingan KRPL dalam bentuk kegiatan sosialisasi,
apresiasi, pelatihan-pelatihan dan gelar teknologi serta penyebaran bahan
informasi diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dan pengetahuan petani
serta keberlanjutan kegiatan KRPL di Provinsi Bengkulu.
1.3. Tujuan
Secara umum pendampingan KRPL bertujuan untuk mendampingi
kegiatan KRPL di Provinsi Bengkulu yang dilaksanakan oleh Badan Ketahanan
Pangan Provinsi Bengkulu dan P2KP kabupaten/ kota di Provinsi Bengkulu. Secara
khusus tujuan pendampingan KRPL di tahun 2015 adalah :
1. Meningkatkan produktivitas lahan dengan pemanfat an lahan pekarangan
2. Meningkatkan kesejahteraan melalui peningkatan pendapatan petani dan
mengurangi pengeluaran rumah tangga
3. Peningkatan gizi keluarga melalui percepatan penganekaragaman konsumsi pangan
(pola pangan harapan)
1.4. Keluaran yang Diharapkan
Secara umum keluaran yang diharapkan adalah terdampinginya Kegiatan
KRPL di Provinsi Bengkulu yang dilaksanakan oleh Badan Ketahanan Pangan
Provinsi Bengkulu dan P2KP kabupaten / kota di Provinsi Bengkulu. Keluaran
1. Meningkatnya produktivitas lahan dengan pemanfaat an lahan pekarangan
2. Meningkatnya kesejahteraan melalui peningkatan pendapatan petani dan
mengurangi pengeluaran rumah tangga
3. Peningkatan gizi keluarga melalui percepatan penganekaragaman konsumsi pangan
(pola pangan harapan)
1.5. Perkiraan Manfaat dan Dampak Manfaat
1. Tersedianya sumber pangan yang sehat dengan memanfaatkan pekarangan.
2. Berkembangnya KBD dengan pengelolaan yang mandiri serta terjaganya
kontinyuitas ketersediaan bibit.
3. Terbentuknya industri rumah tangga yang bergerak dibidang pengolahan
hasil pekarangan
4. Meningkatnyakualitas konsumsi keluarga dan pendapatan keluarga
Dampak
1. Terciptanya lingkungan hijau, bersih dan konsumsi yang sehat bagi
masyarakat
2. Terciptanya pelaku bisnis pembibitan sayuran dan buah-buahan di
perdesaan dan perkotaan
I I . TI NJAUAN PUSTAKA
Lahan pekarangan memiliki fungsi multiguna, karena dari lahan yang relatif sempit ini, bisa
menghasilkan bahan pangan seperti umbi-umbian, sayuran, buah-buahan; bahan tanaman
rempah dan obat, bahan kerajinan tangan; serta bahan pangan hewani yang berasal dari unggas,
ternak kecil maupun ikan. Manfaat yang akan diperoleh dari pengelolaan pekarangan antara lain
dapat : memenuhi kebutuhan konsumsi dan gizi keluarga, menghemat pengeluaran, dan juga
dapat memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga.
Rumah Pangan Lestari merupakan rumah yang memanfaatkan pekarangan
secara intensif melalui pengelolaan sumberdaya alam lokal secara bijaksana,
yang menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan
meningkatkan kualitas, nilai dan keanekaragamannya. Penataan pekarangan
ditujukan untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya melalui
pengelolaan lahan pekarangan secara intensif dengan tata letak sesuai dengan
pemilihan komoditas.
Pengelompokan lahan pekarangan dibedakan atas pekarangan perkotaan
dan perdesaan,masing-masing memiliki spesifikasi baik untuk menetapkan
komoditas yang akan ditanam,besarnya skala usaha pekarangan, maupun cara
menata tanaman, ternak, dan ikan.
a. Pekarangan Perkotaan :Pekarangan perkotaan dikelompokkan menjadi 4, yaitu: (1) Perumahan Tipe 21, dengan total luas lahan sekitar 36 m2; (2) Perumahan Tipe 36,
luas lahan sekitar 72 m2; (3) Perumahan Tipe 45, luas lahan sekitar 90 m2; dan (4)
Perumahan Tipe 54 atau 60, luas lahan sekitar 120 m2.
b. Pekarangan Perdesaan: Pekarangan perdesaandikelompkkan menjadi 4, yaitu (1)
pekarangan sangat sempit (tanpa halaman), (2) pekarangan sempit (< 120 m2), (3)
pekarangan sedang (120-400 m2), dan (4) pekarangan luas (> 400 m2).
Pemilihan komoditas ditentukan dengan mempertimbangkan pemenuhan
kebutuhan pangan dan gizi keluarga serta kemungkinan pengembangannya secara
komersial berbasis kawasan. Komoditas untuk pekarangan antara lain: sayuran, tanaman
rempah dan obat, serta buah (pepaya, jeruk kalamansi,mangga Bengkulu, sirsak). Pada
pekarangan yang lebih luas dapat ditambahkan kolam ikan dan ternak. Model Kawasan
Rumah Pangan Lestari (Model KRPL), diwujudkan dalam satu dusun (kampung) yang
telah menerapkan prinsip RPL dengan menambahkan intensifikasi pemanfaatan pagar
hidup, jalan desa, dan fasilitas umum lainnya (sekolah, rumah ibadah, dll), lahan terbuka
menentukan komoditas pilihan yang dapat dikembangkan secara komersial, dilengkapi
dengan kebun bibit.
Berbagai jenis tanaman pangan seperti padi-padian, umbi-umbian, kacang-kacangan,
sayur, buah, dan pangan dari hewani banyak kita jumpai.Demikian pula berbagai jenis tanaman
rempah dan obat-obatan dapat tumbuh dan berkembang dengan mudah di wilayah kita
ini.Namun demikian realisasi konsumsi masyarakat masih dibawah anjuran pemenuhan gizi.Oleh
karena itu salah satu upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga dan gizi masyarakat
harus diawali dari pemanfaatan sumberdaya yang tersedia maupun yang dapat disediakan di
lingkungannya.Upaya tersebut ialah memanfaatkan pekarangan yang dikelola oleh
keluarga.Manfaat yang akan diperoleh dari pengelolaan pekarangan antara lain dapat: memenuhi
kebutuhan konsumsi dan gizi keluarga, menghemat pengeluaran, dan juga dapat memberikan
tambahan pendapatan bagi keluarga. Potensi lahan pekarangan sebagai salah satu pilar
yang dapat diupayakan untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga, baik bagi rumah
tangga di pedesaan maupun di perkotaan.
I novasi teknologi berpeluang untuk diadopsi oleh petani apabila t eknologi
yang diintroduksikan memiliki sifat -sifat sebagai berikut:
1. Bermanfaat bagi petani secara nyata.
2. Lebih unggul dibandingkan dengan teknologi yang telah ada.
3. Bahan, sarana, alat mesin, modal dan tenaga untuk mengadopsi teknologi
tersedia.
4. Memberikan nilai tambah dan keuntungan ekonomi.
5. Meningkatkan efisiensi dalam berproduksi.
6. Bersifat ramah lingkungan dan menjamin keberlanjutan usaha pertanian
(Kartono, 2009).
Dari sisi petaninya sendiri, mereka juga mempertimbangkan beberapa faktor
sebelum mengadopsi teknologi. Faktor-faktor yang dipertimbangkan oleh petani
diantaranya adalah:
1. Ketersediaan pasar hasil panen dengan harga pasar yang layak serta
keuntungan yang baik.
2. Kepastian diperolehnya hasil dengan resiko kegagalan yang minimal.
3. Penerapan teknologi tidak sulit bagi petani.
4. Petani mampu menyediakan modal untuk mengadopsi teknologi.
Dalam proses adopsi inovasi teknologi kepada pengguna, akan mengalami
proses dan tahapan yaitu kesadaran (awareness), tumbuhnya minat (interest), evaluasi (evaluation), mencoba (trial) dan adopsi (adoption) (Rogers, 1983).
Pada dasarnya pendampingan merupakan bagian dari kegiatan
diseminasi. Diseminasi teknologi merupakan proses timbal balik, para pelaku
menyediakan, menerima informasi dan teknologi sehingga diperoleh
kesepahaman dan kesepakatan bersama. Kegiatan diseminasi dalam pendekatan
Spectrum Diseminasi Multi Chanels (SDMC), dilakukan dengan memanfaatkan
berbagai jalur komunikasi dan pemangku kepentingan (stakeholders) terkait. I lustrasi pada Gambar 1 menunjukkan pola-pola yang merupakan spectrum
diseminasi beserta beragam channelyang dapat digunakan dalam proses distribusi informasi inovasi teknologi tersebut.
Gambar 1. Spektrum Diseminasi Multi Channel (SDMC). Sumber: Badan Litbang Pertanian (2011)
Masyarakat akan menerima dan mengadopsi inovasi teknologi dengan syarat
teknologi yang diintroduksikan secara ekonomis menguntungkan dan secara teknis dapat
dilaksanakan serta tidak bertentangan dengan sosial budaya masyarakat setempat.
Proses pembelajaran bagi masyarakat haruslah dilakukan secara sistematis, lengkap,
sederhana/ aplikatif, dan partisipatif dengan mengoptimalkan kinerja dari panca indra.
Learning by doing secara partisipatif merupakan metode pem belajaran yang tepat, karena petani tidak hanya mendengar ataupun melihat, tetapi lebih ditekankan untuk
pilihan, mengadopsi, dan mendifusikan teknologi yang spesifik lokasi. Dengan cara ini
diharapkan petani lebih kreatif dan inovatif yang dapat berperan seperti halnya seorang
I I I . PROSEDUR
3.1. Pendekatan Konsep dan Tahapan Pendampingan KRPL
Ketahanan pangan menjadi isu global dan telah ditindaklanjuti oleh
presiden RI pada pada konfrensi Dewan Ketahanan Pangan pada bulan oktober
2010 di Jakarta dengan ketahanan pangan dan kemandirian pangan nasional
harus dimulai dari rumah tangga dengan pemanfaatan pekarangan. Hal ini telah
ditindaklanjuti kementerian pertanian dengan kegiatan m-KRPL dan dikabupaten
kota di provinsi Bengkulu melalui Badan ketahanan Pangan dengan pemanfaatan
pekarangan terpadu. Program ini sangat lambat terealisasi dan untuk
mempercepat proses diseminasi dianggap perlunya ada pendampingan dalam
bentuk sosialisasi, apresiasi, gelar teknologi serta pelatihan-pelatihan agar tejadi
akselerasi program tersebut sesuai dengan yang diharapkan pemerintah.
Dengan adanya pendampingan ini diharapkan akan terbentuk kawasan-kawasan
RPL yang mampu meningkatkan ketahanan pangan nasional.
Gambar 2. Diagram Pendekatan Konsep dan Tahapan Pendampingan KRPL Balitsa ketrampilan, dan minat petani pelaksana P2KP dalam pelaksanaan teknologi penanaman tanaman di pekarangan
2. Terdiseminasinya paket teknologi pemanfaatan pekarangan melalui media komunikasi langsung (sosialisasi, gelar teknologi, dan
pelatihan-pelatihan), dan komunikasi tidak langsung (tercetak, elektronik) di 10 kabupaten kota di provinsi Bengkulu 3. Rumusan metode penyabaran media
3.2. Ruang Lingkup Pendampingan
Pendampingan dilakukan di 10 kabupaten/ kota di Provinsi Bengkulu. Kegiatan
dilaksanakan mulai dari bulan Januari sampai dengan Desember 2015. Lingkup Kegiatan
Pendampingan KRPL tahun 2015 akan diprioritaskan pada :
a. Penyampaian materi melalui media tercetak (leaflet, buku petunjuk teknis) .
b. Pelatihan teknis dan kelembagaan KBD bagi petani dan penyuluh pendamping .
c. Apresiasi/ temu lapang: penjaringan umpan balik khususnya dari petani,penyuluh
pertanian lapangan (PPL) dan stakeholdersdi tingkat provinsi dan kabupaten/ kota. d. Melakukan penguatan kembali demplot (lokasi m -KRPL 2012 dan 2013) di Kabupaten
terpilih.
e. I mplementasi display di BPTP sebagai wahana kunjungan tamu dan pembelajaran
bagi siswa, petani, penyuluh dan stakeholder lainnya.
f. Penguatan KBI untuk memenuhi benih KBD.
3.3. Sasaran Pendampingan
Sasaran Pendampingan KRPL adalah Kelompok P2KP, dan penyuluh pendamping di
10 Kabupaten dan Kota.
3.4. Bahan dan Prosedur Pelaksanaan Kegiatan
Bahan yang digunakan dalam kegiatan ini antara lain adalah bahan berupa
operasionalisisasi kegiatan dalam bentuk ATK, dan bahan diseminasi berupa Brosur,
leafleat, bibit unggul tananaman pekarangan dan bahan untuk display KBD dan KBI .
3.5. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan 3.5.1 Persiapan
Penyusunan RODHP
RODHP disusun sebagai penjabaran dan perincian dari RDHP. RODHP
lebih rinci dan operasional baik dari aspek administrasi/ keuangan dan
kegiatan yang akan dilaksanakan. RODHP selanjutnya diturunkan dan
dirincikan lagi menjadi juklak kegiatan diseminasi.
Koordinasi dengan stakeholder/ instansi terkait di lokasi pendampingan
Menggali informasi yang menjadi pokok permasalahan dalam
Pendampingan sebelumnya
Mencari solusi dalam upaya penyelesaian permasalahan yang ada.
I mplementasi inovasi teknologi dalam bentuk display, KBD, KBI dan
penyiapan bahan diseminasi dalam bentuk juknis, leaflet, brosur yang
dibutuhkan
Pelatihan-pelatihan
3.5.2 Pelaksanaan kegiatan
Koordinasi intern dilaksanakan secara rutin dalam bentuk pertemuan di
BPTP Bengkulu. Pertemuan direncanakan dilaksanakan 1-2 kali dalam sebulan.
Dalam pertemuan ini akan dibahas tetang persiapan dan pelaksanaan sosialisasi,
apresiasi, pelatihan-pelatihan, gelar teknologi/ temu lapang dan pelaporan.
Koordinasi ekstern dilakukan dengan stakeholder dan kooperator dalam
pelaksanaan kegiatan dan kemajuan perkembangan kegiatan.
Setelah dilakukan koordinasi intern dan ekstern, selanjutnya dilakukan
identifikasi kebutuhan pendampingan program KRPL. Setelah diketahui
kebutuhan pendampingan maka selanjutnya dibuat petunjuk teknis (juknis) dan
petunjuk pelaksanaan (juklak) dan ditindak lanjuti dengan pelaksanaan kegiatan
berupa sosialisasi, apresiasi, pelatihan-pelatihan dan gelar teknologi sesuai
dengan yang dibutuhkan, disamping itu dilakukan pula kegiatan penyiapan bahan
penyuluhan berupa juklak/ juknis leaflet, display lapangan, KBD dan KBI .
3.6. Rancangan dan Metode Analisis Data
Dalam upaya mencapai tujuan yang diharapkan diantaranya adalah untuk
meningkatkan produktivitas lahan dengan pemanfaatan lahan pekarangan,
meningkatkan kesejahteraan melalui peningkatan pendapatan petani dan
mengurangi pengeluaran rumah tangga dan peningkatan gizi keluarga melalui
percepatan penganekaragaman konsumsi pangan (pola pangan harapan)
dilakukan pengambilan data melalui quisioner before-after dan wawancara. Hasil
I V. HASI L DAN PEMBAHASAN
Perkembangan implementasi KRPL di setiap provinsi menunjukkan
peningkatan, baik secara kuantitas yang direflikasikan dengan peningkatan
jumlah KRPL termasuk RPL, maupun peningkatan kualitas konsumsi masyarakat
yang ditunjukkan dengan perubahan pola konsumsi pangan keluarga dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat yang ditunjukkan dengan penghematan
biaya belanja rumah tangga
Kegiatan pendampingan kawasan rumah pangan lestari tahun 2015 di
provinsi Bengkulu diarahkan pada pendampingan teknologi tepat guna spesifik
lokasi. Pendampingan teknologi yang diberikan antara lain adalah dalam bentuk
bahan informasi, penguatan kebun bibit inti (KBI ) untuk memproduksi benih
unggul, penguatan kebun bibit desa (KBD) sebagai demplot yang telah dibangun
melalui kegiatan m-KRPL yang masih eksist, pelatihan dan menjadi narasumber.
Pendampingan juga dilakukan terhadap reflikasi KRPL di tahun 2015 oleh Badan
Ketahanan Pangan (BKP) dan pemangku kepentingan (stakeholders) atau mitra
lainnya.
Adapun peran pendampingan yang dilakukan oleh BPTP Bengkulu dalam
pengembangan KRPL di provinsi Bengkulu meliputi :
1. Pelatihan teknologi
Peran BPTP Bengkulu adalah sebagai narasumber, baik dalam pertemuan dikelas
(pemaparan konsep dan penerapan KRPL) maupun praktek di lapangan atau
kunjungan ( field trip) ke lokasi m-KRPL yang telah berhasil dan lestari
2. Penyiapan bahan/ materi penyuluhan
Materi penyuluhan dapat berupa barang cetakan (buku petunjuk pelaksanaan atau
petunjuk teknis, folder, dsb), maupun berupa bahan tayang (CD/ DVD, dsb).
3. Tatap muka di ruang/ lapang
Tatap muka dilakukan dalam upaya untuk menggali informasi dan kebutuhan serta
kendala yang dihadapi berupa konsultasi ataupun advokasi.
4. Akses informasi teknologi
Memberikan informasi tentang jenis teknologi tepat guna spesifik lokasi, cara
4.1. Koordinasi internal dan antar institusi
Koordinasi internal telah dilaksanakan secara rutin dalam bentuk
pertemuan tim dalam rencana pelaksanaan kegiatan pendampingan KRPL di
provinsi Bengkulu tahun 2015. Pertemuan dilaksanakan setiap bulan. Dalam
pertemuan ini dievaluasi kemajuan kegiatan, hambatan dan kendala, tingkat
serapan dana, pencapaian dan rencana tindak lanjut kegiatan pendampingan
KRPL.
Koordinasi antar institusi di tingkat regional (stakeholders di provinsi dan
Kabupaten), khususnya ditingkat kabupaten dilaksanakan dalam bentuk
kunjungan dan pemaparan kegiatan kepada stakeholders ( Badan Ketahanan
Pangan Provinsi Bengkulu, Badan Ketahanan Pangan Kabupaten/ Kota, Balai
Penyluhan Pertanian). Koordinasi dengan institusi di tingkat provinsi dan
kabupaten, khususnya dengan pihak BKP provinsi maupun BKP, KKP dan BKP3
kabupaten/ kota dilakukan dalam rangka terlaksananya kegiatan pengawalan dan
pendampingan yang telah ditumbuhkan ditahun sebelumnya dan yang akan
ditumbuhkan di tahun 2015.
Koordinasi di tingkat nasional telah dilakukan melalui workshop sinergi
KRPL dengan taman agroinovasi dan agroinovasi mart di BPTP Jawa Timur pada
tanggal 18 Maret sampai dengan 21 Maret 2015.
4.2. Kebun Bibit I nti ( KBI )
Penguatan kebun bibit/ benih induk (KBI ) dilakukan dalam upaya untuk
membangun sistem delivery benih, yaitu suatu proses mengalirnya benih yang
berasal dari suatu unit sumber benih sampai ke tangan anggota KRPL untuk
selanjutnya dibudidayakan. Konsep ini seharusnya berjalan secara simultan dan
kontinyu sehingga pihak anggota KRPL tidak mengalami hambatan atau
keterlambatan baik terhadap jenis tanaman, jumlah dan waktu yang dibutuhkan.
Adapun aspek yang perlu diperhatikan agar delivery benih tersebut
berjalan simultan dan kontinyu adalah sebagai berikut:
1. Membuat perencanaan dan rotasi tanam
2. Memetakan jenis, jumlah dan waktu
3. Aspek komersial KBD
4. Nilai ekonomi, tingkat preferensi konsumen dan kesulitan budidaya
Di tahun 2015, selain membangun display pekarangan dan penyedian
bibit siap tanam, kebun bibit inti (KBI ) telah memproduksi benih pepaya
kalifornia, kacang panjang, pare, tomat, cabe dan ayam KUB. Produksi benih ini
bertujuan untuk menyediakan benih unggul spesifik lokasi yang akan disebarkan
ke KBD-KBD di daerah. Jumlah produksi benih sampai dengan bulan Juni 2015
dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Produksi benih unggul Kebun Bibit I nti (KBI )
No Nama Benih Jumlah (gr)
1. Pepaya Kalifornia 400
2. Kacang panjang 400
3. Pare 100
4. Tomat 80
5. Cabe 100
6. Ayam KUB
Ketersedian lahan dan sarana produksi benih dalam upaya
memperbanyak dan memproduksi benih menjadi kendala utama di kebun
bibit/ benih induk (KBI ) BPTP Bengkulu, sehingga dalam pemenuhan kebutuhan
benih/ bibit yang dibutuhkan oleh KBD dan anggota KRPL harus menghubungi
UPBS Balit Komoditas dan alternatif lain mencari benih dari pihak swasta.
4.3. Penguatan Kebun Bibit Desa ( KBD)
Kebun Bibit Desa (KBD) dibangun bertujuan untuk melayani kebutuhan
benih/ bibit secara tepat varietas, mutu, jumlah dan waktu kepada Rumah Pangan Lestari
(RPL) dalam mengelola pekarangan.
Upaya untuk menjaga keberlangsungan kegiatan KRPL di provinsi Bengkulu,
eksistensi KBD sangat dibutuhkan dalam menyediakan bibit bagi anggota. Oleh karena
itu, KBD-KBD yang telah dibangun BPTP Bengkulu melalui kegiatan m -KRPL sampai
dengan tahun 2013 harus tetap di suport secara njutan. Bentuk suport yang dapat
diberikan adalah dalam bentuk bantuan saprodi dan benih serta UHL bagi pengelol a KBD.
Penguatan kelembagaan KBD dilakukan dalam upaya untuk menjaga
ketersediaan benih/ bibit agara kawasan rumah pangan lestari tetap hijau dan
berkesinambungan serta untuk menjaga eksistensi fingsi dari KBD itu sendiri yakni fungsi
produksi dan distribusi, fungsi keberagaman, fungsi estetika, fungsi lingkungan, fungsi
Bantuan diberikan kepada pengelola KBD yang masih eksis dalam mengelola KBD
dan pekarangan nya. Hasil survey di awal tahun 2015 didapat beberapa KBD yang telah
dibangun mati suri dan musnah. Hanya sebagian kecil saja yang masih tetap eksis.
Tabel 2. KBD yang ditumbuhkan sampai dengan tahun 2013 melalui kegiatan m -KRPL
No Kabupaten/ Kota Desa/ Kelurahan 1 Kota Semarang, Lempuing, Sumber Jaya 2 Seluma Sido Luhur, Sukaraja, Suka Maju
3 Bengkulu Selatan Air Sulau RT 6, Air Sulau RT 8, Desa Batu Kuning 4 Kaur Padang Panjang, Bandar
5 Mukomuko Pondok Kandang, Tirta Mulya
6 Bengkulu Utara Tebing Kaning, Tanjung Raman, Padang Jaya, Talang Rendah
7 Bengkulu Tengah Harapan Makmur, Sri Katon, Arga I ndah I I , Jaya karta, Lagan
8 Kepahiang Tebat Monok, Air Sempiang 9 Rejang Lebong Air Bang, Air Meles Bawah 10 Lebong Karang Dapo, Daneu
Hasil identifikasi dan survey lokasi untuk kegiatan pendampingan KRPL
diawal tahun 2015 yang telah dilakukan, dari 28 KBD yang telah ditumbuhkan
melalui kegiatan m-KRPL, hanya 9 KBD saja yang masih tetap eksis sampai
dengan awal tahun 2015. KBD tersebut disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. KBD yang masih eksis sampai dengan awal tahun 2015
No Nama KBD Lokasi Nama Pengelola
1. KBD Tebat Monok Ds. Tebat Monok Kab. Kepahiang Rohijah 2. KBD Jayakarta Ds. Jayakarta Kab. Bengkulu Tengah Joko 3. KBD Sukaraja Ds. Sukaraja Kab. Seluma Elly 4. KBD Suka Maju Ds. Suka Maju, Sukaraja Kab. Seluma Dewi 5. KBD Lubuk Gilang Ds. Lubuk Gilang, Air Priukan Kab.
Seluma
6. KBD Air Sulau Ds. Air Sulau Kab. Bengkulu Selatan Supini 7. KBD Tebing Kaning Ds. Tebing Kaning Kab. Bengkulu
Utara
Tukini
8. KBD Padang Jaya Ds. Padang Jaya Kab. Bengkulu Utara
Muryono
9. KBD Tirta Mulya Ds. Tirta Mulya Kab. Muko-muko Subar
Pendampingan terhadap pengelola KBD juga dilakukan dalam upaya agar
pengelola memahami prinsip pengelolaan KBD baik dari aspek sosial yakni,
dibangun dari, oleh, dan untuk kepentingan masyarakat dalam kawasan
tertentusesuai dengan kesepakatankomunitas/ kelompok serta dikelola secara
mufakat. Aspek teknis dengan menerapkan teknologi terbaru yang efektif dan
efisien dengan bimbingan petugas serta memaksimalkan bahan baku lokal,
memperhatikan kelestarian lingkungan dengan semaksimal mungkin
menggunakan bahan baku ramah lingkungan. Aspek ekonomi agar supaya
pengelola KBD harus berorientasi bisnis dan menjadi sumber penghasil.
4.4. I mplementasi Pendampingan I novasi Teknologi
Pendampingan inovasi teknologi dilakukan melalui penyebaran media
informasi dalam bentuk folder, brosur, pelatihan dan menjadi narasumber. Bahan
informasi yang telah disebarkan disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Bahan informasi inovasi teknologi yang disebarkan dalam bentuk leaflet
No Judul Jumlah (eks) Penerima
1. Brosur teknologi pembuatan kompos 50 BPPK dan KWT 2. Brosur budidaya tomat di pekarangan 50 BPPK dan KWT
3. Folder budidaya tomat 120 BPPK dan KWT
4. Folder budidaya bayam 120 BPPK dan KWT
5. Folder budidaya kol bunga 1200 BPPK dan KWT
6. Folder budadaya kangkung darat 120 BPPK dan KWT
7. Folder budidaya cabe 120 BPPK dan KWT
8. Folder pemeliharaan ternak kambing 120 BPPK dan KWT
Selain dalam bentuk penyebaran media informasi, pendampingan juga
dilakukan melalui pelatihan dan menjadi narasumber. Pelatihan dan narasumber
yang telah dilakukan dalam pendampingan KRPL tahun 2015 adalah sebanyak
lima kali diantaranya adalah di desa Air Periukan kabupaten Seluma, BKP
kabupaten Kaur, BKP Provinsi, desa Tebing Kaning kabupaten Bengkulu Utara
dan Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Bengkulu Selatan. Materi inovasi
teknologi yang disampaikan dalam pelatihan tersebut diantaranya adalah :
1. Pengelolaan KBD dan pemeliharaan pekarangan
2. Penyiapan media semai dan media tanam
3. Pemeliharaan ayam (Kampung Unggul Balitbangtan) KUB
4. Pengendalian hama secara hayati
5. Demo pengolahan pangan lokal
Beberapa kegiatan yang dilakukan bekerjasama dengan BKP baik di
provinsi kabupaten/ kota dan permintaan sebagai narasumber pada kegiatan
pelatihan di Kelompok Wanita Tani (KWT) Mulyo Asri desa Lubuk Gilang
adalah; Pengelolaan KBD, pemanfaatan lahan pekarangan dan budiadaya ayam
KUB. Kegiatan dilaksanakan di rumah ketua KWT Mulyo Asri pada tanggal 2
Maret 2015.
Bentuk kerjasama dengan BKP Provinsi menjadi narasumber dan memberi
pelatihan pengolahan pangan lokal pada kegiatan Apresiasi Pendamping dan
Evaluasi Pelaksanaan P2KP tahun 2015. Materi yang disampaikan antara lain
adalah teknologi budidaya ikan dan ternak, praktek pembuatan dan budidaya
tanaman vertiminaponik, pengolahan pascapanen hasil tanaman pekarangan
dengan berbagai jajanan (kudapan) seperti cake casablangka, pudding jagung,
cendol ganyong, kroket sukun, mash up cassava, dll. Kegiatan dilaksanakan pada
tanggal 27-28 Mei 2015 di kantor BKP Provinsi Bengkulu jalan Basuki Rahmat.
BKP kabupaten Kaur juga telah bekerjasama dengan BPTP Bengkulu
dalam pelatihan bagi petugas pendamping P2KP dengan materi yang
disampaikan antara lain adalah teknis pemeliharaan tanaman pekarangan dan
pengendalian hama secara hayati yang dilaksanakan di kabupaten Kaur pada
tanggal 23 April 2015.
4.5. Pendampingan kaw asan yang dibangun pemerintah daerah melalui dana APBN dan APBD
Sejak tahun 2012, pemerintah provinsi Bengkulu melalui Badan
Ketahanan Pangan Provinsi, kabupaten/ kota telah menumbuhkan kawasan
rumah pangan lestari yang disebut dengan istilah pemanfaatan pekarangan
terpadu. Kegiatan pemanfataan pekarangan terpadu ini merupakan adopsi dan
reflikasi dari model kawasan rumah pangan lestari (m-KRPL) yang diluncurkan
Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian sejak tahun 2011.
Penumbuhan kelompok pemanfataan pekarangan ini sudah tersebar di 10
kabupaten/ kota di provinsi Bengkulu. Penumbuhan kawasan pada tahun 2014
dilakukan di 3 kabupaten dengan jumlah kaasan sebanyak 16 kawasan dan
Tabel 5. Penerima Manfaat Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan tahun 2014
No Kabupaten Kecamatan Desa/ Kelurahan Nama Kelompok Nama Ketua
1. Bengkulu 2. Kepahiang Ujan Mas
Tebat karai
Mengingat telah dirasakan manfaat yang sangat besar dari m-KRPL di
beberapa lokasi yang telah dibangun, maka pemerintah provinsi Bengkulu masih
terus mereflikasikan program pemanfaatan pekarangan tersebut melalui Badan
Ketahan Pangan Provinsi dan kabupaten/ kota. Reflikasi dimaksudkan untuk
memperluas kawasan dan pengembangan kawasan yang telah terbentuk. Di
tahun 2015 dibangun 63 kawasan rumah pangan lestari baru yang tersebar luas
di 10 kabupaten/ kota diprovinsi Bengkulu sebagai contoh untuk masyarakat yang
lebih luas agar dapat menjadi motivasi dan pembelajaran dalam pengelolaan
lingkungan yang sehat, bermanfaat dan lestari.
Tabel 6. Penerima Manfaat Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan tahun 2015
No Kabupaten Kecamatan Desa/ Kelurahan Nama Kelompok Nama Ketua 1. Kepahiang Ujan mas
Kepahiang 2. Mukomuko Lubuk Pinang
XI V Koto
4. Seluma Air Periukan Lubuk Gilang Dermayu
Ditinjau dari sebaran reflikasi inovasi teknologi pemanfaatan pekarangan
Tabel 7. Karakteristik lokasi dan kooperator KRPL di Provinsi Bengkulu
Kabupaten/ Kota Kecamatan Karakteristik Sumberdaya I mplementasi Alam Manusia
Rejang Lebong Curup Timur Curup Selatan Bengkulu Tengah Pd. Kubang
Pd. Kelapo
Bengkulu Selatan Pino Raya Pino
Jenis komoditas yang ditanam di pekarangan sangat beraneka ragam
mulai dari tanaman pangan seperti ubi jalar, ubi kayu, ganyong dan garut.
Tanaman hortikultura seperti buah naga di kabupaten kepahiang dan kabupaten
Bengkulu Selatan, pepaya merah delima di kabupaten Bengkulu Utara,
Mukomuko, Kepahiang dan Rejang Lebong, mangga dan rambutan di kabupaten
Bengkulu Utara dan Bengkulu Tengah. Komoditas sayuran seperti cabe, tomat,
terong, sawi, slada, kangkung darat dll. Dibeberapa lokasi kawasan yang
dibentuk juga sebagian ada yang mengandalkan bidang peikanan dan
peternakan seperti kolam lele dan ternak ayam KUB disamping tananaman
pekarangan yang lestari.
Diinisiasi pada tahun 2011 dengan membuat model Kawasan Rumah
Pangan Lestari yang hanya 2 kawasan dan sampai dengan tahun 2013 menjadi
28 kawasan model sebagai demplot percontohan serta tempat kunjungan/ studi
banding. Sampai tahun 2015 telah direflikasi oleh pemerintah daerah melalui
Badan Ketahanan Pangan Provinsi Bengkulu mencapai lebih dari 164 kawasan.
Tabel 8. Data Base KRPL di Provinsi Bengkulu
Kab/ Kota
Jumlah Unit (kawasan)
m-KRPL Reflikasi
2011 2012 2013 2012 2013 2014 2015
Kota Bengkulu 1 - 2 - 6 4 4
Bengkulu Utara - 1 2 8 6 - 6
Bengkulu Tengah 1 3 2 6 6 - 6
Bengkulu Selatan - - 3 - 6 6 6
Kepahiang - - 2 - 6 6 6
Rejang Lebong - - 2 - 6 - 6
Lebong - - 2 - 6 - 6
Mukomuko - 1 1 - 6 - 11
Seluma - 1 2 8 6 - 6
Kaur - 1 1 - 6 - 6
Total 2 7 19 22 63 16 63
Data diolah dari berbagai sumber
Dengan semakin banyaknya reflikasi dan adopsi m-KRPL di provinsi
Bengkulu, indikator keberhasilan program tersebut mulai terlihat dengan
meningkatnya jumlah KRPL, meningkatnya jumlah rumah tangga yang
mengadopsi prinsip-prinsip rumah pangan lestari (RPL), meningkatnya jumlah
desa, kecamatan, yang mengadopsi prinsip-prinsip RPL maupun KRPL, tumbuh
benih/ bibit bagi RPL-RPL, adanya local champion sebagai pengelola KRPL,
menurunnya belanja pengeluaran kebutuhan pangan harian rumah tangga,
meningkatnya pemanfaatan dan pemasaran produk oleh karena kelimpahan hasil
KRPL dan tumbuh dan berkembangnya dukungan stakeholder.
Dengan semakin banyaknya kawasan rumah pangan lestari ini maka
secara otomatis lahan pekarangan yang sebelumnya sama sekali tidak
termanfaatkan atau hanya ditanam tanaman hias seadanya telah berubah
menjadi sumber pangan seperti sayuran, umbi-umbian, kolam ikan, ternak ayam
dan bio farmaka.
Hasil survey yang dilakukan pada kelompok wanita tani penumbuhan
baru di beberapa kabupaten terhadap komoditas utama yang memberikan
dampak langsung terhadap penghematan belanja kebutuhan sehari-hari rumah
tangga tani. Salah satunya di di desa Lubuk Gilang kecamatan Air Priukan
kabupaten Seluma dari tanaman sayuran dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Penghematan pengeluaran rumah tangga dan pendapatan tambahan melalui KRPL komoditas sayuran di Provinsi Bengkulu tahun 2015
No Komoditas Harga satuan (RP/ Kg)
Penghematan per bulan (Rp)
Pendapatan per bulan (Rp)
1 Cabe Keriting 40.000,- 100.000,-
166.000,-2 Tomat 12.000,- 40.000,-
150.000,-3 Terung 8.000,- 42.000,-
191.000,-4 Cabe Rawit 70.000,- 20.000,-
150.000,-5 Sawi 8.000,- 25.000,-
196.000,-6 Daun Bawang 25.000,- 15.000,-
8.500,-7 Kangkung 18.000,- 35.000,-
329.000,-8 Bayam 20.000,- 35.000,-
200.000,-9 Kol Bunga 24.000,- 25.000,-
75.000,-10 Kunyit 40.000,- 20.000,-
50.000,-Total 357.000,-
1.515.500,-Data menunjukkan terdapat 10 komoditas sayuran yang memberikan
kontribusi dalam penghematan biaya konsumsi sayuran rumah tangga.
Komoditas sayuran yang memberikan kontribusi terbesar terhadap penghematan
biaya belanja sayuran sehari-hari rumah tangga adalah tanaman cabe, terung
dan tomat. Hal ini dikarenakan komoditas tersebut selalu di gunakan dan
sebelum adanya kegiatan KRPL semua komoditas tersebut mereka beli. Dengan
keluarkan bisa berkurang dan atau dialihkan untuk keperluan lain seperti dalam
hal penganekaragaman konsumsi pangan lainnya seperti telur, daging, susu, dan
lain-lain.
Rata-rata penghematan pengeluaran rumah tangga sebesar Rp.
357.000,-Sementara hasil survey terhadap beberapa rumah tangga yang telah menjual
hasil pekarangan mereka memberikan penambahan pendapatan rata-rata
Rp.1.515.500,-/ bulan sesuai dengan komoditas tanaman yang mereka tanam di
pekarangan. Komoditas tanaman yang memberikan kontribusi terbesar terhadap
peningkatan pendapatan rumah tangga adalah kangkung, bayam dan terung. Hal
ini dikarenakan oleh permintaan pasar komoditas tersebut cukup tinggi dan
mudah dibudidayakan.
Selain komoditas tanaman sayuran, beberapa rumah tangga juga
membudidayakan ikan dengan membuat kolam terpal dan beternak ayam. Hal ini
secara tidak langsung dapat memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga
berupa protein, vitamin, karbohidrat dll.
Meningkatnya keberagaman jenis dan jumlah tanaman pekarangan
sebagai pangan lokal, meningkatnya kualitas konsumsi pangan keluarga yang
ditunjukkan oleh meningkatnya skor PPH. Skor Pola Pangan Harapan (PPH)
Provinsi Bengkulu Tahun 2010 73,2 sementara standar nasional 95 perlu
dinaikkan melalui konsumsi daging dan sayur-sayuran pada tingkat rumah
tangga. Tingkat komsumsi sebagian masyarakat Bengkulu masih dibawah
anjuran gizi, untuk itu perlu meningkatkan ketahanan pangan dan gizi keluarga
dengan optimalisasi pemanfaatan pekarangan melalui sumberdaya lokal
dilingkungannya (BKP Provinsi Bengkulu 2011).
Hasil survey juga menunjukkan bahwa terjadi perubahan pola konsumsi
masyarakat yang sebelumnya hanya mengkonsumsi komoditas yang hampir
sama setiap harinya, dengan pemanfaatan pekarangan menu rumah tangga lebih
bervariasi dan lebih komplit.
Tabel 10 menunjukkan bahwa dengan KRPL, telah terjadi perubahan pola
pangan masyarakat yang terus meningkat seiring dengan adanya sumber pangan
di pekarangan dan telah terj adi pergeseran pola konsumsi yang sebelumnya
dipergunakan untuk membeli sayuran beralih protein dan buah-buahan serta
susu. Skor PPH yang ideal menurut badan ketahanan pangan kementerian
Tabel 10. Peningkatan pola pangan masyarakat di lokasi pendampingan KRPL
No Pola Konsumsi Sebelum KRPL Rata-rata sebelum (hari/ bulan)
Tabel 11. Pola Pangan Harapan (PPH) yang ideal
No Kelompok Pangan PPH I deal
V. KESI MPULAN
1. Kegiatan pendampingan KRPL di Provinsi Bengkulu dilakukan dengan penyampaian
inovasi teknologi pemanfaatan pekarangan dalam bentuk bahan informasi,
demontrasi, pelatihan, penguatan Kebun Bibit I nti (KBI ) di BPTP Bengkulu dan
Penguatan Kebun Bibit Desa (KBD), menjadi narasumber dan lain-lain dalam upaya
meningkatkan produktivitas lahan dengan pemanfatan lahan pekarangan yang
diawali dengan pembangunan model dan sampai dengan ahhir tahun 2015 telah
direflikasi oleh pemerintah provinsi Bengkulu menj adi lebih dari 164 kawasan yang
tersebar di seluruh kabupaten/ kota.
2. Perkembangan implementasi KRPL di provinsi Bengkulu menunjukkan peningkatan,
baik secara kuantitas yang direflikasikan dengan peningkatan jumlah KRPL termasuk
RPL peningkatan kesejahteraan masyarakat yang ditunjukkan dengan penghematan
biaya belanja rumah tangga dari perhitungan yang mencakup seluruh strata berkisar
antara Rp. 357.000,- dan dapat menambah pendapatan sampai dengan Rp.
1.515.500,-/ bulan
3. Melalui pemanfaatan pekarangan dengan membudidayakan tananaman pangan,
hortikultura, sayuran, perikanan dan peternakan berdampak secara langsung
terhadap kecukupan gizi keluarga melalui percepatan penganekaragaman konsumsi
pangan (pola pangan harapan) . Peningkatan kualitas konsumsi masyarakat yang
ditunjukkan dengan peningkatan rutinitas konsumsi yang lebih sering dalam
mengkonsumsi sayuran, daging, ikan, buah-buahan dan susu. I ni terjadi karena
cukupnya ketersediaan gizi yang dibutuhkan dari sekitar pekarangan serta mulai
dilakukannya diversifikasi hasil pekarangan yang dapat memenuhi kebutuhan
kelompok pangan (padi-padian, aneka umbi, pangan hewani, minyak dan lemak,
buah/ biji berminyak, kacang-kacangan, gula, sayur dan buah, dan lainnya) bagi
keluarga
4. Upaya menjaga keberlanjutan kegiatan maka dilakukan penguatan KBD melalui
pemberian bantuan benih, saprodi, informasi teknologi dan pelatihan-pelatihan baik
KI NERJA HASI L PENGKAJI AN
Kegiatan Pendampingan KRPL di provinsi Bengkulu yang dilaksanakan di
10 Kabupaten/ kota di provinsi Bengkulu dimulai dengan koordinasi, I dentifikasi
dan survey lokasi, penetapan lokasi pendampingan. Hasil identifikasi lokasi,
penguatan KBD dilakukan di 6 Kabupaten yakni kabupaten Bengkulu Selatan,
Seluma, Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, Kepahiang dan Mukomuko. Selain itu
pendampingan KRPL juga dilakukan terhadap reflikasi yang dibangun oleh
pemerintah provinsi Bengkulu melalui Badan Ketahanan Pangan tahun 2014 dan
2015 di 10 Kabupaten/ kota se provinsi Bengkulu. Pendampingan yang dilakukan
dalam bentuk penguatan kelembagaan KRPL dan KBD, peningkatan kualitas SDM
pengelola dan pendamping KRPL melalui pelatihan, apresiasi, penyebaran media
informasi dalam bentuk leaflet dan brosur. Pendampingan juga dilakukan dengan
menjadi narasumber di BKP Provinsi maupun kabupaten/ kota serta demonstrasi
pengolahan hasil pekarangan guna diversifikasi pangan serta peningkatan nilai
tambah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga. Sejak
diluncurkannya model KRPL tahun 2015 telah direflikasi lebih dari 164 kawasan
rumah pangan lestari di provinsi Bengkulu sampai dengan tahun 2015, dan telah
terjadi penghematan belanja rumah tangga dan penambahan pendapatan
keluarga yang diiringi dengan terjadi perubahan pola konsumsi pangan keluarga
dimana sebelum pelaksanaan kegiatan tahun 2010 skor PPH rumah tangga
rata-rata 73,2 meningkat dengan terjadinya peningkatan jumlah hari dalam
mengkonsumsi baik sayuran, daging, ikan buah dan susu.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Litbang Pertanian, 1999. Panduan Umum Pelaksanaan Penelitian, Pengkajian dan Diseminasi Teknologi Pertanian. Badan Litbang Pertanian.
BBPPTP Bogor. 2009. Petunjuk Pelaksanaan pendampingan Pencapaian Swasembada Daging sapi (PSDS). Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Badan Litbang Pertanian Bogor.
BPTP Jawa Tengah.2008. Penyuluhan dan Penyebaran I nformasi Pertanian pada daerah P4MI . Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Jawa Tengah.
Departemen Pertanian. 1996. Pedoman Penelitian Metode Penyuluhan Pertanian. Departeman Pertanian Pusat Penyuluhan Pertanian., Jakarta
Dinas Peternakan Propinsi Bengkulu.2009. Laporan Tahunan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Bengkulu. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Bengkulu.
Fauzia, S. 2002. Revitalisasi Fungsi I nformasi dan Komunikasi serta diseminasi luaran BPTP. Makalah disampaikan pada ekspose dan seminar teknologi pertanian spesifik lokasi, 14-15 Agustus 2002 di Jakarta. Pusat penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi. Bogor.
I sbagio Paransih, 1998. Kebijaksanaan Komunikasi Penelitian Pertanian dan Peranan AARDNET dalam Menopang Penelitian , Disampaikan pada Pengolahan Teknis Jaringan I nformasi Ciawi Bogor.
Marsyid, Usman dan Jakoni (2011), makalah Seminar : Karakterisasi Pola Pendampingan I novasi SL-PTT Padi Di Provinsi Riau, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Riau
Suharno, Rusdin, Dan Arnold C Turang (2010), makalah Seminar : Keragaan Dan Efektifitas Pendampingan Slptt Padi Di Sulawesi Tenggara, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tenggara
ANALI SI S RI SI KO
Analisis risiko diperlukan untuk mengetahui berbagai risiko yang
mungkin dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan diseminasi/ pendampingan.
Dengan mengenal risiko, penyebab, dan dampaknya maka akan dapat disusun
strategi ataupun cara penanganan risiko baik secara antisipatif maupun responsif
(Tabel 9 dan 10).
Tabel 9. Daftar risiko pelaksanaan pendampingan KRPL tahun 2015.
No. Resiko Penyebab Dampak
1. Koordinasi antar pelaksana KRPL di daerah kurang lancar
- Masing-masing SKPD menjalankan tupoksinya sendiri dan belum terintegrasi
- Peningkatan
produksi dan produktivitas
(kinerja bersama) tidak tercapai
Tabel 10. Daftar penanganan risiko dalam pelaksanaan pendampingan KRPL tahun 2015.
NO. RI SI KO PENYEBAB PENANGANAN
1. Koordinasi antar pelaksana KRPL di daerah kurang lancar
- Masing-masing SKPD menjalankan tupoksinya sendiri dan belum terintegrasi
- Dilakukan sosialisasi - Meningkatkan
JADWAL KERJA
No Uraian Bulan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Penyusunan RDHP 2 Penyusunan/ pembahasan
perbaikan RODHP 3 Koordinasi
PEMBI AYAAN
A. Rencana Anggaran Biaya
No Uraian Volume Satuan
(Rp)
Jumlah (Rp)
1 Belanja Bahan 54.250.000
o Bahan saprodi dan pendukung lainnya KBI
1 Paket 10.000.000 10.000.000
o Bahan dan pendukung lainnya KBD 10 Unit 1.500.000 15.000.000
o Konsumsi 100 OK 40.000 4.000.000
o Bahan informasi, papan merk, CD, penyiaran radio/ TV, sinar tani
1 Paket 8.000.000 8.000.000
o Bahan pendampingan (ATK, komputer suplies, penggandaan dan pendukung lainnya)
1 Paket 17.250.000 17.250.000
2 Honor Output Kegiatan 35.800.000
o Honor petugas lapang KBD 144 OH 100.000 14.400.000 o Honor petugas lapang KBI 144 OH 100.000 14.400.000 o UHL petani kooperator dan pengelola
KBD
200 OH 35.000 7.000.000
3 Belanja Jasa Profesi 5.000.000
o Narasumber, pengarah, evaluator 10 OJ 500.000 5.000.000 4 Belanja perjalanan biasa 50.000.000
o Perjalanan dalam rangka pelaksanaan kegiatan (berkisar antara Rp.
365.000,- s/ d Rp. 5.000.000)
10 OP 5.000.000 50.000.000
5 Belanja Perjalanan Dinas dalam Kota 5.000.000
o Perjalanan dalam rangka pelaksanaan kegiatan
50 OH 100.000 5.000.000
6 Belanja Perjalanan Dinas Paket Meeting Luar Kota 5.000.000
o Uang harian dan transport perjalanan ke luar propinsi/ pusat dalam rangka pelaksanaan kegiatan
1 OH 2.900.000 2.900.000
o Penginapan perjalanan ke luar propinsi/ pusat dalam rangka pelaksanaan kegiatan
3 OP 700.000 2.100.000
B. Realisasi Anggaran
1 Belanja Bahan 54.250.000 99,41% 0,49%
o Bahan saprodi dan pendukung lainnya KBI
10.000.000 10.000.000 0
o Bahan dan pendukung lainnya KBD 15.000.000 14.807.000 193.000 o Konsumsi 4.000.000 3.950.000 50.000 o Bahan informasi, papan merk, CD,
penyiaran radio/ TV, sinar tani
8.000.000 8.000.000 0
o Bahan pendampingan (ATK, komputer suplies, penggandaan dan pendukung lainnya)
17.250.000 17.292.275 20.725
2 Honor Output Kegiatan 35.800.000 99,41% 0,59%
o Honor petugas lapang KBD 14.400.000 14.400.000 0 o Honor petugas lapang KBI 14.400.000 14.400.000 0 o UHL petani kooperator dan
pengelola KBD
7.000.000 6.790.000 210.000
3 Belanja Jasa Profesi 5.000.000 88% 12%
o Narasumber, pengarah, evaluator 5.000.000 4.400.000 600.000 4 Belanja perjalanan biasa 50.000.000 99,69% 0,31%
o Perjalanan dalam rangka pelaksanaan kegiatan (berkisar antara Rp. 365.000,- s/ d Rp. 5.000.000)
50.000.000 49.845.950 154.050
5 Belanja Perjalanan Dinas Dalam Kota 5.000.000 94% 6%
o Perjalanan dalam rangka pelaksanaan kegiatan
5.000.000 4.700.000 300.000
6 Belanja Perjalanan Dinas Paket Meeting Luar Kota
5.000.000 99,78% 0,22%
o Uang harian dan transport perjalanan ke luar propinsi/ pusat dalam rangka pelaksanaan kegiatan
2.900.000 11000
o Penginapan perjalanan ke luar propinsi/ pusat dalam rangka pelaksanaan kegiatan
2.100.000
TENAGA DAN ORGANI SASI PELAKSANA
NO NAMA/ NI P JABATAN DALAM KEGI ATAN
URAI AN TUGAS ALOKASI WAKTU pelaksanaan gelar teknologi, temu lapang, sosialisasi, pelatihan, penerbitan media)kegiatan teknis, pelatihan, sosialisasi, Gelar Teknologi, pengumpulan data, analisis dan pelaporan kegiatan
40
2 Dr. Umi Pudji Astuti, MP
Anggota Membantu dalam pelaksanaan kegiatan teknis, pelatihan, sosialisasi, Gelar Teknologi, pengumpulan data, analisis )
20
3 Wahyuni Amelia Wulandari, S.Pt, MSi
Anggota Membantu melaksanakan kegiatan teknis, pelatihan, sosialisasi, Gelar Teknologi, pengumpulan data, analisis dan pelaporan kegiatan
20
4 Taufik Hidayat, S.TP
Anggota Membantu melaksanakan kegiatan teknis, pelatihan, sosialisasi, Gelar Teknologi, pengumpulan data, analisis dan pelaporan kegiatan
20
5. Erpan Ramon, S.Pt
Anggota Membantu melaksanakan kegiatan teknis, pelatihan, sosialisasi, Gelar Teknologi, pengumpulan data, analisis dan pelaporan kegiatan
20
6. Robiyanto Anggota Membantu melaksanakan kegiatan teknis, pelatihan, sosialisasi, Gelar Teknologi, pengumpulan data, analisis dan pelaporan kegiatan