Volume 4 | Nomor 1 | Juni 2017
1. Pengaruh Terapi Psikoreligi Murottal Al-Quran terhadap Tekanan Darah padaKlien dengan Hipertensi
Oop Ropei, Muhammad Luthfi
2. Gambaran Resiliensi pada Remaja
Fauziah Dyan Ayu K.W, Nur Oktavia Hidayati, Ai Mardhiyah
3. Harga Diri Orangtua yang Mempunyai Anak dengan Terpasang Kantong Stoma
Iyep Dede Supriyatna
4. Analisis Faktor Dominan yang Memengaruhi Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2
Atikah Fatmawati, Mustin
5. Hubungan Tingkat Stres dengan Kejadian Hipertensi pada Penderita Hipertensi
Hasbi Taobah Ramdani, Eldessa Vava Rilla, Wini Yuningsih
6. Tingkat Kecemasan Klien Gagal Ginjal Terminal pada Tindakan Hemodialisis
Abay Taryana, Aan Nur’aeni, Atlastieka Praptiwi
7. Transadaptasi dan Analisis Psikometrik Skala Religiusitas Muslim Berdasarkan the Muslim Piety Questionnaire
Angga Wilandika
8. Perilaku Bullying pada Siswa SMP
Nita Prawitasari, Efri Widianti, Nita Fitria
9. Pengalaman Orang Tua Merawat Anak dengan Tuna Rungu Usia Sekolah Dasar
Sri Yekti Widadi, Rakhmi Anggita Januarity
10. Kualitas Hidup Penderita Kanker Serviks
Tri Panji Setyo, Atun Raudotul Ma’rifah, Rahmaya Nova Handayani
Alamat Redaksi:
STIKes ‘Aisyiyah Bandung
Jl. KH. Ahmad Dahlan Dalam No. 6 Bandung 40264 Telp. (022) 7305269, 7312423 - Fax. (022) 7305269
JURNAL KEPERAWATAN ‘AISYIYAH (JKA)
Volume 4 | Nomor 1 | Juni 2017
Pelindung:
Ketua STIKes ‘Aisyiyah Bandung
Penanggung Jawab:
Santy Sanusi, S.Kep.Ners., M.Kep.
Ketua:
Sajodin, S.Kep., M.Kes., AIFO.
Sekretaris/Setting/Layout:
Aef Herosandiana, S.T., M.Kom.
Bendahara:
Riza Garini, A.Md. Penyunting/Editor : Perla Yualita, S.Pd., M.Pd. Triana Dewi S, S.Kp., M.Kep. Pemasaran dan Sirkulasi :
Nandang JN., S.Kp., M.Kep.,Ns., Sp.Kep., Kom. Mitra Bestari :
Dewi Irawati, MA., Ph.D. Suryani, S.Kp., MHSc., Ph.D. DR. Kusnanto, S.Kp., M.Kes. Iyus Yosep, S.Kp., M.Si., MN. Irna Nursanti, M.Kep., Sp. Mat.
Erna Rochmawati, SKp., MNSc., M.Med.Ed. PhD. Mohammad Afandi, S.Kep., Ns., MAN.
Alamat Redaksi:
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ‘Aisyiyah
Jl. KH. Ahmad Dahlan Dalam No. 6, Bandung Telp. (022) 7305269, 7312423 - Fax. (022) 7305269
e-mail: [email protected]
DEWAN REDAKSI
DAFTAR ISI
1. Pengaruh Terapi Psikoreligi Murottal Al-Quran terhadap Tekanan Darah pada Klien dengan Hipertensi
Oop Ropei, Muhammad Luthfi ... 1 - 12
2. Gambaran Resiliensi pada Remaja
Fauziah Dyan Ayu K.W, Nur Oktavia Hidayati, Ai Mardhiyah ... 13 - 21
3. Harga Diri Orangtua yang Mempunyai Anak dengan Terpasang Kantong Stoma
Iyep Dede Supriyatna ... 23 - 28
4. Analisis Faktor Dominan yang Memengaruhi Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2
Atikah Fatmawati, Mustin ... 29 - 35
5. Hubungan Tingkat Stres dengan Kejadian Hipertensi pada Penderita Hipertensi
Hasbi Taobah Ramdani, Eldessa Vava Rilla, Wini Yuningsih ... 37 - 45
6. Tingkat Kecemasan Klien Gagal Ginjal Terminal pada Tindakan Hemodialisis
Abay Taryana, Aan Nur’aeni, Atlastieka Praptiwi ... 47 - 56
7. Transadaptasi dan Analisis Psikometrik Skala Religiusitas Muslim Berdasarkan the Muslim Piety Questionnaire
Angga Wilandika ... 57 - 67
8. Perilaku Bullying pada Siswa SMP
Nita Prawitasari, Efri Widianti, Nita Fitria ... 69 - 79
9. Pengalaman Orang Tua Merawat Anak dengan Tuna Rungu Usia Sekolah Dasar
Sri Yekti Widadi, Rakhmi Anggita Januarity ... 81 - 87
10. Kualitas Hidup Penderita Kanker Serviks
47
ARTIKEL PENELITIAN
JKA.2017;4(1):47-56
TINGKAT KECEMASAN KLIEN GAGAL GINJAL TERMINAL PADA TINDAKAN HEMODIALISIS
Abay Taryana1, Aan Nur’aeni1, Atlastieka Praptiwi1
ABSTRAK
Tindakan hemodialisis (HD) pada klien gagal ginjal terminal dianggap sebagai sumber stressor sehingga rentan menimbulkan kecemasan yang dapat menurunkan adekuasi HD. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi tingkat kecemasan di setiap tahapan tindakan HD yaitu sebelum, intra dan setelah HD di Rumah Sakit Al Islam Bandung. Metode penelitian deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidental sampling selama 6 hari dan didapatkan 119 responden. Pengumpulan data menggunakan State Trait Anxiety Inventory (STAI) for Adult Form Y. Data hasil penelitian dianalisis dengan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat state anxiety sebagian besar klien HD termasuk dalam kategori cemas ringan. Skor mean state anxiety untuk setiap tahapan tindakan HD adalah sebelum HD mean(SD)=37,7(11,2), intra HD mean(SD)= 35,2(9,4) dan post HD mean(SD)= 36,3(10,7)]. Sedangkan tingkat trait anxiety sebagian besar klien dalam kategori cemas sedang. Skor mean trait anxiety untuk setiap tahapan tindakan HD adalah sebelum HD mean(SD)=42,1(9,3), intra HD mean(SD)=41,6(9,5) dan setelah HD mean(SD)=40,9(9,9). Berdasarkan penelitian ini skor tertinggi untuk state anxiety dan trait anxiety ditemukan pada tahap sebelum HD, sehingga diperlukan penatalaksanaan yang tepat misalnya dengan memodifikasi ruang HD untuk meningkatkan kenyamanan klien, penggunaan teknik relaksasi dan distraksi sebelum dan saat pelaksanaan tindakan akses vaskuler untuk mengurangi dan mencegah kecemasan klien HD.
Kata kunci : Cemas, Gagal Ginjal Terminal, Tahapan Tindakan Hemodialisis ABSTRACT
Hemodialysis (HD) is considered as a source of stressor for end stage renal disease clients leading to anxiety hence reduce the adequacy of HD. This study identified the level of anxiety in 3 stages of HD (pre, intra and post HD) at Al Islam Hospital Bandung. This research was descriptive quantitative involving accidental sampling technique for 6 days (n=119). Data were Collected using the State Trait Anxiety Inventory (STAI) for Adult Form Y. Data were analyzed using quantitative descriptive analysis. The results showed that the majority clients had mild level of state anxiety. Mean scores of state anxiety obtained pre, intra and post HD were mean(SD)=37.7(11.2), mean(SD)=35.2(9.4), mean(SD)=36.3(10.7) respectively clients. On the other hand, most of the clients experienced moderate level of trait anxiety. Mean scores of trait anxiety obtained pre, intra and post HD were mean(SD)=42.1(9.3), mean(SD)=41.6(9.5), and mean(SD)=40.9(9.9). Based on to the result, in general the highest mean scores of the level of anxiety, either state anxiety and trait anxiety were obtained at pre HD stage. Accordingly appropriate management of the HD unit setting to create environment more comfortable needed. Besides, the use relaxation and distraction techniques before and during vascular access procedure can be beneficial for reducing and preventing anxiety in HD clients
Keywords: Anxiety, End Stage Renal Disease, Stage of Hemodialysis 1Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran Universitas Padjadjaran
48 Jurnal Keperawatan ‘Aisyiyah
JKA | Volume 4 | Nomor 1 | Juni 2017
LATAR BELAKANG
Angka kejadian Gagal Ginjal Terminal (GGT) yang menjalani HD dari tahun ke tahun semakin meningkat. Berdasarkan studi epidemiologi klinik di Indonesia GGT menempati urutan pertama dari semua penyakit ginjal (Sukandar, 2013). Menurut National Kidney Foundation Dialysis Outcome Quality Initiative (NKF-DOQI) (2006) gagal ginjal terminal adalah penyakit gagal ginjal kronik tahap akhir atau derajat 5 dengan sisa Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) 15 ml/menit/1,73 m². Menurut Acute Dialysis Quality Initiative (2002) GGT terjadi jika penurunan fungsi ginjal menetap selama lebih dari 3 bulan (Sinto & Nainggolan, 2010). Pada GGT ginjal sudah tidak mampu mempertahankan fungsi fisiologisnya sehingga akan terjadi penumpukan sampah metabolit dalam darah atau uremia. Kondisi uremia akan mempengaruhi sistem tubuh. Semakin banyak produk sisa metabolit menumpuk maka gejala akan semakin berat. Untuk memperbaiki kondisi uremia pada gagal ginjal terminal penatalaksanaannya menurut Sudoyo et al (2006) adalah dengan memberikan Terapi Ginjal Pengganti (TGP). Tujuan dari tindakan TGP adalah sebagai usaha untuk mengambil alih fungsi ginjal yang telah menurun. Jenis dari TPG adalah berupa transplatasi ginjal dan dialisis. Dialisis terdiri dari dua jenis, yaitu : hemodialisis dan peritoneal dialisis (PD). Tindakan HD masih merupakan pilihan TPG yang paling banyak di pilih. Berdasarkan data IRR tahun 2014 jumlah klien yang menjalani TGP sebanyak 84% menggunakan HD, hal ini disebabkan karena proses HD yang lebih singkat dan efisien.
HD merupakan proses mengalirkan darah kedalam suatu tabung ginjal buatan (dialyzer) yang terdiri dari dua kompartemen atau ruang yang terpisah yang memungkinkan terjadinya proses perpindahan zat terlarut dan air melalui proses difusi, konveksi dan tekanan hidrostatik atau ultrafiltrasi. Durasi HD berdasarkan konsensus
pusat dialisis di Eropa yaitu 12-15 jam perminggu yang terbagi 3 sesi dengan 4-5 jam per sesi dianggap sebagai Gold Standard untuk menjamin HD yang adekuat (Sukandar, 2013). Menurut National Kidney Foundation Dialysis Outcome Quality Initiative (NKF-DOQI) (2006) kecukupan dosis HD yang diberikan diukur dengan istilah adekuasi hemodialisis, yaitu dosis yang direkomendasikan untuk mendapatkan hasil yang adekuat sebagai manfaat dari proses HD yang dijalankan oleh klien gagal ginjal. Keberhasilan HD berhubungan dengan adekuasinya. HD dikatakan adekuat bila terdapat kadar ureum darah menurun setelah HD melalui perhitungan Ureum Reduction Ratio dan Kt/V. Urea reduction ratio (URR) atau Rasio Reduksi Urea (RRU) merupakan pedoman yang sederhana dan praktis untuk menilai adekuasi HD yaitu dengan menghitung persentase jumlah urea darah setelah HD dibandingkan dengan sebelum HD. Sedangkan Kt/V adalah tingkat pengurangan urea dari tiap volume cairan tubuh klien selama HD dan digunakan untuk merencanakan persiapan HD.
Klien GGT memerlukan terapi HD untuk mempertahankan hidupnya dan mengendalikan gejala uremia (Smeltzer & Bare, 2012). Tindakan HD pada klien GGT tidak menyembuhkan atau memulihkan penyakit ginjal dan tidak mampu menggantikan fungsi metabolik atau endokrin dari ginjal tetapi hanya menggantikan fungsi ginjal untuk mengeluarkan produk sisa metabolisme dan pengaturan cairan elektrolit. Sehingga klien GGT harus menjalani tindakan HD seumur hidup atau sampai mendapat ginjal baru melalui operasi pencangkokan yang berhasil (Sukandar, 2013). Kondisi ini sering menimbulkan gangguan atau menjadi stressor pada klien HD akibat penyakit GGT dan ketergantungan terhadap tindakan HD (Smeltzer & Bare, 2012).
Faktor-faktor yang sering menjadi stressor pada klien yang menjalani HD adalah
Tingkat Kecemasan Klien Gagal Ginjal Terminal pada Tindakan Hemodialisis 49
JKA | Volume 4 | Nomor 1 | Juni 2017 pengalaman nyeri pada daerah penusukan fistula
saat memulai HD, komplikasi HD, ketergantungan pada mesin dan orang lain, finansial, ketakutan akan kematian, perubahan konsep diri, perubahan peran serta perubahan interaksi sosial, pembatasan cairan, pembatasan aktivitas fisik, panjang pengobatan, perubahan seksual, gangguan tidur dan pembatasan makanan (Leghari et al, 2015; Smeltzer dan Bare, 2012; John & Thomas, 2013). Stressor-stressor tersebut akan menyebabkan perubahan psikologis pada klien HD berupa depresi, demensia dan delirium, psikosis, gangguan kecemasan dan personalitas (Dougirdas, Blake, & Ing, 2007).
Kecemasan merupakan gangguan psikososial yang umum terjadi pada klien yang menjalani tindakan HD (Feroze, Martin, Patton, Zadeh, & Kopple, 2010; Turkistani, et al., 2015; Cohen, Cukor, & Kimmel, 2016). Cemas merupakan suatu reaksi emosional yang timbul oleh penyebab yang tidak pasti dan tidak spesifik yang dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman dan merasa terancam yang ditandai oleh perasaan ketakutan disertai tanda somatik pertanda sistem saraf otonom yang hiperaktif (Stuart, 2016) dan pengalaman subjektif sebagai tekanan, ketakutan dan kegelisahan (Spielberger,1972). Menurut FE, Hall dan IJ (2007) berdasarkan review dari 55 penelitian ditemukan bahwa prevalensi kecemasan pada klien HD berkisar antara 12% sampai 52%, perbedaan angka persentase ini disebabkan karena adanya perbedaan populasi dan sampel serta metode penelitian yang digunakan.
Sumber stressor kecemasan saat tindakan HD dibagi berdasarkan tahapan pelaksanaan tindakan HD. Setiap tahapan memiliki karakteristik dan kondisi serta sumber stresor kecemasan yang berbeda-beda. Menurut Kallenbach (2012) pelaksanaan tindakan HD terdiri 3 tahapan kegiatan yaitu sebelum HD, intra HD dan setelah
HD.
Tahap pertama yaitu sebelum HD merupakan tahap persiapan klien dan mesin termasuk penusukan atau pemasangan akses vaskular. Nyeri dan risiko gagal saat penusukan jarum atau fistula merupakan salah satu sumber kecemasan (John & Thomas, 2013). Tahap intra HD merupakan tahap dimana proses HD berlangsung biasanya selama 4-5 jam. Komplikasi yang mungkin terjadi pada intra HD dan merupakan sumber kecemasan pada klien (Leghari et al, 2015; Smeltzer & Bare, 2002). Tahap setelah HD adalah saat proses HD telah selesai dilakukan. Pada tahap ini luka bekas tusukan fistula di tutup untuk menghindari perdarahan dan klien persiapkan untuk pulang jika tidak ada komplikasi seperti perdarahan dan hipertensi.
Pada tahap setelah HD dilakukan evaluasi dari tindakan HD yaitu pemeriksaan adekuasi HD. Salah satu indikator dari adekuasi HD adalah tercapaikan durasi HD yang cukup (Barzegar H. , Moosazadeh, Jafari, & Esmaeili, 2016). Kecemasan yang terjadi pada tahapan sebelum HD dan intra HD akan berdampak terhadap pelaksanaan HD yaitu berkurangnya dosis dan durasi HD, padahal menurut Sukandar 2013 dan National Kidney Foundation (2006) menyebutkan bahwa adekuasi dialisis dapat dicapai dengan durasi HD 12-15 jam perminggu yang terbagi 3 sesi dengan 4-5 jam per sesi. Penurunan adekuasi HD akan berpengaruh terhadap kualitas hidup klien HD dan peningkatan mortalitas klien HD (Barzegar, Moosazadeh, Jafari, & Esmaeili, 2016; Mailani, 2015). Sehingga penilaian kecemasan pada tahap sebelum, intra dan setelah HD sangat penting dilakukan, karena kecemasan pada klien yang sedang menjalani tindakan HD akan beresiko menurunkan durasi HD yang berakibat adekuasi HD tidak tercapai.
Adanya dampak ganguan psikososial kecemasan yang terjadi pada klien yang menjalani HD maka peran perawat hemodialisa seharusnya
50 Jurnal Keperawatan ‘Aisyiyah
JKA | Volume 4 | Nomor 1 | Juni 2017
tidak hanya terfokus pada aspek biologis atau fisik dari klien saja tetapi juga aspek psikososialnya. Menurut Perry dan Potter (2010) peran perawat sebagai pemberi pelayanan keperawatan adalah membantu klien untuk memperoleh kembali kesehatan dan kehidupan yang optimal melalui proses pemulihan yang tidak saja melibatkan unsur fisik tapi juga meliputi pengembalian kesejahteraan psikososial dan spiritual dari klien.
Berdasarkan uraian di atas disebutkan bahwa kecemasan merupakan masalah psikososial yang sering terjadi pada klien HD yang akan berpengaruh terhadap proses pelaksanaan HD sedangkan penelitian-penelitian tentang kecemasan yang ada lebih fokus terhadap pasien yang menjalani HD serta kaitannya dengan kualitas hidup klien secara umumnya, sedangkan kecemasan pada tahapan pelaksanaan HD nya sendiri belum ada kajian yang lebih mendalam, padahal data ini penting untuk mendukung pencapaian adekuasi HD pada klien GGK yang menjalani HD. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat kecemasan klien gagal ginjal terminal pada setiap tahapan tindakan hemodialisa berdasarkan tahapan tindakan HD (sebelum-intra-setelah).
METODOLOGI
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Variabel dalam penelitian ini adalah tingkat kecemasan pada klien gagal ginjal terminal yang menjalani tindakan hemodialisis. Subvariabel penelitian ini adalah state anxiety dan trait anxiety disetiap tahapan tindakan HD.
Metode pengambilan sampel yang diambil dari penelitian ini adalah non probability sampling dengan accidental sampling dengan target 6 hari kerja. Hasil perhitungan dengan tingkat penyimpangan 5%, didapatkan besar sampel penelitian sebanyak 119 orang. Instrumen
penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner STAI (State trait anxiety inventory) for Adult Form Y yang terdiri dari dua bagian (Spielberger C., 1977). Bagian I yaitu bagian state anxiety (form Y-1) yang berisi 20 pernyataan yang menunjukkan bagaimana perasaan atau intensitas kecemasan saat ini dan bagian II yaitu bagian trait anxiety (form Y-2) yang juga berisi 20 pernyataan yang menunjukkan bagaimana perasaan yang responden rasakan ‘biasanya’atau pada ‘umumnya’. Pada instrumen STAI terdapat 4 pilihan jawaban pada setiap bagiannya dan setiap item pernyataan mempunyai rentang angka pilihan 1-4. Pada kuesioner ini rentang nilai minimumnya 20 dan nilai maksimumnya 80 untuk setiap bagian state anxiety dan trait anxiety, dimana skor yang lebih tinggi mengindikasikan kecemasan yang lebih berat. Tingkat kecemasan dibagi berdasarkan skor, yaitu : Skor 20-39 untuk setiap bagian menunjukkan kecemasan ringan, 40-59 menunjukkan kecemasan sedang, dan 60-80 mencerminkan kecemasan berat (Greco, 2013; Davaridolatabadi & Abdeyazdan, 2016)
Adapun pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Kuesioner diisi sendiri oleh responden. Untuk pengisian kuesioner pada tahap sebelum HD, responden diberikan kuesioner berupa data identitas diri responden dan kuesioner STAI pada saat klien berada di ruang tunggu dan kuesioner harus beres sebelum klien dilakukan akses vaskuler. Pada tahap intra HD responden diminta mengisi kuesioner STAI pada pertengahan intra HD atau 2 jam setelah HD berjalan berbarengan dengan pemeriksaan tanda-tanda vital oleh perawat HD. Untuk tahap setelah HD responden mengisi kuesioner STAI setelah fistula untuk akses vaskuler dicabut sampai dengan klien pulang.
Data dikategorikan ke dalam tingkat kecemasan ringan, sedang dan berat kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif yaitu
Tingkat Kecemasan Klien Gagal Ginjal Terminal pada Tindakan Hemodialisis 51
JKA | Volume 4 | Nomor 1 | Juni 2017 distribusi frekuensi dan persentase, selain itu
data kecemasan dianalisis juga menggunakan nilai mean serta standar deviasi.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dari hasil penelitian diketahui bahwa berdasarkan karakteristik klien yang menjalani HD di RS. Al-Islam Bandung sebagian besar (n=65; 54,6%) berada pada rentang usia 41 – 60 tahun atau dewasa madya dengan jumlah klien laki-laki
(n=59; 49,6%) dan perempuan (n=60; 50,4%) hampir sama. Lama klien menjalani HD sebagian besar (n=98; 82,3%) telah menjalani HD lebih dari 16 bulan dan hampir seluruhnya (n=109; 91,6%) dengan frekuensi 2 kali perminggu. Klien HD berpendidikan menengah (n=57; 47,9%) dan sebagian besar (n=73; 61,2%) bekerja serta sebagian besar (n=83; 69,7%) berpenghasilan diatas 2 juta rupiah. Status pernikahan hampir seluruhnya (n=98; 82,3%) menikah.
Tabel 1. Nilai mean STAI klien gagal ginjal terminal pada tindakan hemodialisis (n=119) Jenis kecemasan
Tingkat kecemasan Sebelum HD
Mean(SD) Mean(SD)Intra HD Setelah HDMean(SD) Mean(SD) State 37,7(11,2) 35,2(9,4) 36,3(10,7) 36,4(8,8) Trait 42,1(9,3) 41,6(9,5) 40,9(9,9) 41,5(8,4) Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa
secara umum tingkat kecemasan sesaat (state anxiety) klien HD pada tahap sebelum, intra dan
setelah HD termasuk kedalam kategori kecemasan ringan. Sedangkan kecemasan dasar (trait anxiety) termasuk kedalam katagori kecemasan sedang.
Tabel 2. Distribusi frekuensi tingkat kecemasan klien gagal ginjal terminal pada tindakan hemodialisis (n=119)
Tahap HD Jenis kecema-san Tingkat kecemasan
Ringan Sedang Berat Mean(SD)
Sebelum HD State 68 (57,1%) 47 (39,5%) 4 (3,4%) 37,7(11,2) Trait 46 (38,6%) 71 (59,7%) 2 (1,7%) 42,1(9,3) Intra HD State 80 (67,3%) 38 (31,9%) 1 (0,8%) 35,2(9,4) Trait 46 (38,7%) 70 (58,8%) 3 (2,5%) 41,6(9,5) Setelah HD State 77 (64,7%) 38 (31,9%) 4 (3,4%) 36,3(10,7) Trait 51 (42,8%) 64 (53,8%) 4 (3,4%) 40,9(9,9) Dari tabel 2 menggambarkan bahwa tahap
sebelum HD merupakan tahapan HD yang memiliki tingkat kecemasan paling berat dibandingkan dengan tahapan HD yang lainnya.
Pembahasan
Setelah dilakukan perhitungan total hasil
pengumpulan data dan di rata-ratakan di dapatkan hasil penelitian bahwa tingkat kecemasan klien HD berada pada kategori cemas ringan (36,4) untuk state anxiety dengan rincian frekuensi dan persentase yaitu cemas ringan 75 orang (63,0%), cemas sedang 41 orang (34,5%) dan cemas berat 3 orang (2,5%) sedangkan untuk trait anxiety
52 Jurnal Keperawatan ‘Aisyiyah
JKA | Volume 4 | Nomor 1 | Juni 2017
berada pada kategori cemas sedang (41,5) dengan rincian cemas ringan 48 orang (40,3%), cemas sedang 68 orang (57,2%) dan cemas berat 3 orang (2,5%).
Menurut Marnat (2010) semakin berat tingkat trait anxiety dan semakin ringan state
anxiety, meskipun orang tersebut saat ini
melaporkan tidak cemas, tetapi rentan terhadap berbagai situasi sehingga mudah menjadi cemas. Hal sama dikemukakan oleh Spielberger (1971; 1972) yang menyebutkan terdapat hubungan antara kecemasan dasar (trait anxiety) dan kecemasan sesaat (state anxiety). Semakin berat trait anxiety akan membuat state anxiety
yang dialami oleh klien lebih berat pula. Hasil penelitian ini menunjukkan tingkat state anxiety
dalam kategori cemas ringan sedangkan tingkat
trait anxiety berada dalam kategori cemas sedang. Berbeda dengan state anxiety yang keadaannya dapat berubah-ubah tergantung kondisi saat ini. Spielberger, (1971) tingkat trait anxiety cenderung tidak berubah karena trait anxiety menunjuk pada ciri atau sifat seseorang (personality trait) yang cukup stabil atau relatif menetap yang mengarahkan seseorang untuk menginterpresikan suatu keadaan sebagai suatu ancaman yang disebut dengan anxiety proness
(kecenderungan akan kecemasan). Trait anxiety
tidak langsung terlihat pada tingkah laku individu, tetapi dapat dilihat dari frekuensi state anxiety.
Trait Anxiety merupakan refleksi dari pengalaman masa lalu yang dipengaruhi oleh kejadian atau pengalaman masa anak-anak dan hubungan orang tua dengan anak (Spielberger C., 1971; 1972). Tetapi berdasarkan hasil penelitian tingkat trait
anxiety mengalami perubahan yaitu penurunan
pada tahap intra HD dan setelah HD. Hal ini kemungkinan terjadi karena adanya perubahan kondisi klien pada saat pengisian kuesioner dibuktikan pada saat pengumpulan data tidak ditemukan adanya komplikasi tindakan HD pada
tahap intra HD maupun setelah HD.
Hasil penelitian ini selain menunjukkan tingkat kecemasan klien HD secara umum tetapi juga melihat tingkat kecemasan berdasarkan tahapan tindakan HD. Berdasarkan tahapan HD tingkat kecemasan paling berat baik untuk state anxiety maupun trait anxiety teridentifikasi pada tahap sebelum HD. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian John dan Thomas (2013) dan Ngaropah dkk (2008) yang menyebutkan nyeri dan resiko gagal penusukan atau pemasangan akses vaskular merupakan stressor yang akan menyebabkan klien cemas. Selain itu berdasarkan hasil wawancara pada 7 klien HD di Bandung, menyebutkan bahwa sumber utama yang menyebabkan kecemasan pada klien HD adalah nyeri pada proses penusukan fistula dan kekhawatiran terjadinya kegagalan dalam proses penusukan fistula. Hasil studi lainnya menyebutkan bahwa stressor yang paling sering dirasakan oleh klien HD adalah perasaan letih (fatigue) (John & Thomas, 2013; Leghari,
et al, 2015), kondisi ini timbul karena terjadinya uremia dan kondisi uremia akan menimbulkan gejala keletihan (Corwin, 2009). Uremia akan mencapai puncak nya pada saat klien akan menjalani HD sehingga perasaan letih pun akan meningkat pada saat menjelang HD dan kondisi uremia akan menurun pada saat HD dan setelah dilakukan tindakan HD.
Jika dibandingkan dengan tahap sebelum HD maka tingkat State Anxiety pada tahap intra HD mengalami penurunan. Menurut Spielberger (1972) State Anxiety merupakan reaksi emosi sementara (transitory state) yang timbul bersifat subjektif pada situasi tertentu dan setiap saat berubah-ubah, yang dirasakan sebagai suatu ancaman di sertai dengan adanya peningkatan aktifitas sistem saraf pusat. Konsep tersebut sesuai dengan hasil penelitian tingkat kecemasan yang dilakukan pada klien HD yaitu adanya perubahan berupa penurunan tingkat state
Tingkat Kecemasan Klien Gagal Ginjal Terminal pada Tindakan Hemodialisis 53
JKA | Volume 4 | Nomor 1 | Juni 2017
anxiety pada tahap intra HD, hal ini kemungkinan terjadi karena berdasarkan hasil observasi selama proses pengumpulan data tidak ada klien HD yang mengalami komplikasi intra HD sedangkan menurut Kallenbach (2012), Dougirdas, Blake, dan Ing (2007) dan Inrig, et al., (2009) komplikasi intra HD merupakan stressor terjadinya kecemasan pada klien HD. Kondisi lain yang menyebabkan tingkat State Anxiety menurun pada tahap intra HD karena proses penusukan akses vaskuler yang merupakan stressor utama yang menyebabkan kecemasan sudah terlewati.
Pada tahap intra HD tingkat state anxiety
mengalami penurunan dibandingkan dengan sebelum HD, sedangkan pada tahap setelah HD terjadi peningkatan tingkat state anxiety
dibandingkan pada tahap intra HD. Hal ini terjadi karena adanya perubahan adaftasi fisiologi dan fungsi tubuh akibat adanya penurunan cairan tubuh akibat proses ultrafiltrasi dan penurunan ureum yang terjadi sangat cepat selama proses HD sehingga akan menyebabkan perubahan hemodinamik seperti hipertensi, hipotensi dan perubahan denyut jantung pada klien setelah tindakan HD. Seperti menurut NKF KDOQI (2012) dan Dougirdas, Blake dan Ing (2007) sekitar 14% klien HD mengalami kejadian hipertensi setelah HD dan penyebab yang sering terjadi adalah aktivasi renin-angiotensi atau perangsangan sistem saraf simpatis akibat adanya penarikan cairan tubuh klien karena proses ultrafiltrasi. Kondisi ini akan menimbulkan keluhan seperti perasaan tidak nyaman, pusing, mual dan lemah. Berdasarkan hasil wawancara pada beberapa klien HD setelah HD, klien mengatakan sesaat setelah tindakan HD selesai kondisi badan biasanya terasa tidak nyaman, pusing dan pegal-pegal serta keinginan untuk beristirahat sebelum klien pulang ke rumahnya, tetapi karena adanya klien lain yang akan menjalani tindakan HD selanjutnya maka klien tidak dapat melakukan istirahat setelah HD terlalu lama. Faktor lainnya yang bisa
menyebabkan tingkat state anxiety setelah HD meningkat karena setelah proses HD selesai klien akan kembali ke rumah dengan harus menjalani berbagai pembatasan seperti pembatasan cairan dan makanan serta pembatasan aktivitas. Menurut John dan Thomas (2013) dan Leghari, et al (2015) pembatasan cairan dan diet serta keterbatasan aktivitas merupakan stressor psikososial yang paling banyak dikeluhkan oleh klien HD yang akan menyebabkan keterbatasan klien dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari termasuk aktivitas sosial. Keterbatasan ini akan sangat klien rasakan saat kembali ke lingkungan rumah.
Tingkat kecemasan klien gagal ginjal terminal pada tindakan HD dapat digambarkan masih dalam kategori ringan. Tingkat state anxiety sangat dipengaruhi oleh kondisi klien saat pengisian kuesioner. Tingkat state anxiety
dapat berubah-ubah, selain itu melihat hasil trait
anxiety yang termasuk dalam kategori sedang
sehingga tingkat state anxiety klien HD rentan terjadi peningkatan. Karena trait anxiety dapat berpengaruh terhadap state anxiety seperti yang dikemukakan oleh Spielberger (1971) bahwa semakin berat kecemasan dasar (trait anxiety) akan membuat kecemasan sesaat (state anxiety) yang dialami oleh klien lebih berat pula. Hal ini dapat diantisipasi dengan melakukan pengkajian dan pengukuran yang fokus terkait tingkat kecemasan klien HD pada tahap sebelum HD dan di observasi atau dikaji ulang selama tahap intra dan setelah HD. Hasil penelitian juga memperlihatkan masih ada klien HD yang memiliki tingkat state anxiety dengan kategori sedang dan berat. Oleh karena itu diperlukan suatu strategi intervensi yang efektif dan efisien untuk mengurangi atau menghilangkan kecemasan pada klien HD sehingga diharapkan klien mampu beradaptasi terhadap stressor kecemasan yang ada karena stressor yang menyebabkan cemas pada pasien GGK cenderung persisten atau menetap (Patimah, Suryani, &
54 Jurnal Keperawatan ‘Aisyiyah
JKA | Volume 4 | Nomor 1 | Juni 2017
Nuraeni, 2015; Cukor, Jeremy, Brown, Peterson, & Kimmel, 2008). Hal ini akan berimplikasi terhadap praktek pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di unit HD, edukasi yang akan diberikan pada klien HD dan kebijakan serta regulasi yang ada di unit HD.
Berdasarkan tahapan tindakan HD hasil penelitian ini menunjukkan tingkat kecemasan yang memiliki nilai skor state anxiety dan trait anxiety paling berat yaitu pada tahap sebelum HD. Pada tahap intra HD terjadi penurunan tingkat kecemasan yang diakibatkan karena selama proses intra HD tidak terjadi komplikasi dari tindakan HD. Sedangkan pada tahap setelah HD terjadi kenaikan tingkat kecemasan dibandingkan dengan tahap intra HD, hal ini terjadi karena adanya proses adaptasi fisik klien setelah menjalani tindakan HD.
SIMPULAN DAN SARAN
Tingkat state anxiety sebagian besar klien HD termasuk dalam kategori cemas ringan, sedangkan tingkat trait anxiety sebagian besar klien termasuk dalam kategori cemas sedang, hal ini dapat menyebabkan kecemasan sesaat (state anxiety) menjadi lebih berat. Berdasarkan tahapan HD, skor tertinggi untuk state anxiety dan trait anxiety ditemukan pada tahap sebelum HD. Berdasarkan hasil penelitian, untuk mengurangi dan mencegah kecemasan klien HD diperlukan penatalaksanaan yang tepat antara lain dengan memodifikasi ruang HD untuk meningkatkan kenyamanan klien, serta penggunaan teknik relaksasi dan distraksi sebelum dan saat pelaksanaan tindakan akses vaskuler dengan baik. DAFTAR PUSTAKA
Barzegar, H., Moosazadeh, M., Jafari, H., & Esmaeili, R. (2016). Evaluation of Dialysis Adequacy in Hemodialysis Patients: A Systemic Review. Urology Journal, Vol 13 No 04 , 2744-2749.
Cohen, S., Cukor, D., & Kimmel, P. (2016). Anxiety In Patients Treated With Hemodialysis. Mini Review. Clinical Journal Of American Society Of Nephrology, DOI: 10.2215.
Corwin, E. (2009). Buku Saku Patofisiologi ( Handbook Pathophysiology). Jakarta: EGC. Cukor, D., Jeremy, C., Brown, c., Peterson, R., &
Kimmel, P. (2008). Course of Depression and Anxiety Diagnosis in Patients Treated with Hemodialysis : A 16-months Follow-up. American Society of Nephrology, 3: 1752– 1758. DOI : 10.2215
Davaridolatabadi, E., & Abdeyazdan, G. (2016). The Relation Between Perceived Social Support And Anxiety In Patients Under Hemodialysis. Electronic Physician, 8(3): 2144–2149. DOI : 10.19082
Dougirdas, J., Blake, P., & Ing, T. (2007). Handbook of Dialysis. Fourth Edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
FE, M., Hall, A., & IJ, H. (2007). The Prevalence Of Symtoms In End Stage Renal Disease: A Systematic Review. Advance In Chonic Kidney Disease, Vol 14, Issue 1, 82–99. DOI : 10.1053
Feroze, U., Martin, D., Patton, A., Zadeh, K., & Kopple, J. (2010). Mental Health Depression Anxiety In Patients On Maintenence Dialysis: Review. Iranian Journal Of Kidney Diseases. vol 4. no 3, 173-80
Greco, A. (2013). Effects Of Music On Anxiety And Pain In The Diagnosis And Treatment Of Patients With Breast Cancer Theses, Dissertations And Capstone Projects. School Of Physician Assistant Studies Pacific University Oregon, Paper 432
Inrig, J., Patel, U., Toto, R., & Szczech, L. (2009). Assosiation Of Blood Pressure Increase
Tingkat Kecemasan Klien Gagal Ginjal Terminal pada Tindakan Hemodialisis 55
JKA | Volume 4 | Nomor 1 | Juni 2017 During Hemodialysis With 2-Year Mortality In
Incident Hemodialysis Patients : A Secondary Analysis Of The Dialysis Morbidity And Mortality Wave 2 Study. American Journal Of Kidney Disease, Vol 54, Issue 5, 788-791. DOI : 10.1053
John, J., & Thomas, V. J. (2013). Research Article. The Psychosocial Experience Of Patients With End Stage Renal Disease And Its Impact On Quality Of Life; Finding From A Needs Assesment To Shape A Servis. Hindawi Publishing Corporation ISRN Nephrology, Vol 2013, 308986, 8 p. DOI : 10.5402
Kallenbach, j. (2012). Review of Hemodialysis for Nurses and dialysis Personel. St. Louis, Missouri: Elsevier Mosby.
Leghari, N. U., Amin, R., Akram , B., & Asadullah, M. A. (2015). Hemodialysis;Psychosocial Stressors In Patients Undergoing. The Professional Medical Journal, 22(6):762-766
Mailani, F. (2015). Kualitas Hidup Pasien Penyakit Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis:Systematic Review. Ners Jurnal Keperawatan. Vol 11,No1, 1-8.
Marnat, G. (2010). Handbook Of Psychological Assessment. Fifth Edition. (H. P. Soetjipto, & S. Soetjipto, Penerj.) New Jersey: Penerbit Pustaka Pelajar.
National Kidney Foundation-Kidney Disease Outcomes Quality Initiative (NKF-KDOQI). (2006). Update Clinical Practice Guidelines And Recommendations. National Kidney Foundation, Inc.
Ngaropah, Y., Handoyo, & Asti, A. (2008). Perbedaan Kecemasan Klien Pria dan Wanita Pre Hemodialisa. Jurnal Ilmiah Kesehatan Keparawatan, Vol 4, No 1, 1-8
Nursalam. (2013). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika.
Patimah, I., Suryani, & Nuraeni, A. (2015). Pengaruh Relaksasi Dzikir terhadap Tingkat Kecemasan pada Pasien Gagal Ginjal Kronis Yang Menjalani Hemodialisa. Jurnal Keperawatan Padjadjaran, Vol 3 No.1, 18-24 PERNEFRI. (2012). The 12th Jakarta Nephrology
and Hipertension Course. Jakarta: PERNEFRI. _______. (2014). 7th Annual Repport of Indonesian
Renal Registry. Bandung : IRR.
Perry, & Poter. (2010). Fundamental Keperawatan Edisi 7 Buku 1. Jakarta: Salemba Medika. Sinto, R., & Nainggolan, G. (2010). Acute Kidney
Injury : Pendekatan Klinis Dan Tata Laksana. Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. Majalah Kedokteran Indonesia, Vol 60, No 2 Smeltzer, & Bare. (2012). Keperawatan Medikal
Bedah Volume 1 edisi 8. Jakarta: EGC. Spielberger, C. (1971). Anxiety and Behavior. New
York: Academic Press, inc.
_______. (1977). State-Trait Anxiety Inventory for Adult. Self-Evaluation Questionnaire. Mind Garden.
_______. (2006). The State-Trait Anxiety Inventory. Dalam I. Mcdowel, Measuring Health : A Guide To Rating Scale And Questionnaires. New York: Oxford University Press.
_______. (1972). Needed Research On Stress And Anxiety. A Special Report Of The USOE Sponsored Grant Study:Critical Apprasia Of Research In The Personality-Emotions-Motivation Domain. IBR Report No.72-10 . Washington DC: Office Of Education.
56 Jurnal Keperawatan ‘Aisyiyah
JKA | Volume 4 | Nomor 1 | Juni 2017
Stuart, G. (2016). Prinsip Dan Praktik Keperawatan Kesehatan Jiwa Stuart. Jakarta: EGC.
Sudoyo, A., Setiyohadi, B., Alwi , I., K, M. S., & Setiati, S. (2006). Buku Ajar Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Sukandar, E. (2013). Gagal Ginjal dan Panduan Terapi Dialisis. edisi IV. Bandung: Pusat Informasi Ilmiah ( PII ) Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UNPAD.
Turkistani, I., Nuqali, A., Badawi, M., Taibah, O., Alserihy, O., Morad, M., et al. (2015). The Prevalence of AnxietyAnd Depression Among End Stage Renal Disease Patients on
Hemodialysis in Saudi Arabia. Renal Failure, 36(10): 1510–1515. DOI : 10.3109
Valsaraj, B. P., Bhat, S., & Latha, K. (2016). Cognitif Behaviour Therapy For Anxiety And Depression Among Undergoing Haemodialysis: A Randomized Control Trial. Journal Clinical And Diagnostic Research, Vol-10(8): VC06-VC10. DOI : 10.7860
Vitasari, P., Wahab, M., Herawan, T., Othman, A., & Sinnadurai, S. (2011). Re-Test Of State Trait Inventory ( STAI) Among Engineering Students In Malaysia : Reliability And Validity Test. Procedia Social and Behavioral Sciences. Elsevier, 15 , 3843–3848. DOI : 10.1016