NASKAH PUBLIKASI
GAMBARAN JUMLAH TROMBOSIT PADA PASIEN KANKER
SERVIKS DI RSU DOKTER SOEDARSO
TAHUN 2011-2012
BENYAMIN SURUNG INTOSIUS HUTAGAOL
I 111 070 50
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
NASKAH PUBLIKASI
GAMBARAN JUMLAH TROMBOSIT PADA PASIEN KANKER
SERVIKS DI RSU DOKTER SOEDARSO
TAHUN 2011-2012
BENYAMIN SURUNG INTOSIUS HUTAGAOL
I 111 070 50
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
GAMBARAN JUMLAH TROMBOSIT PADA PASIEN KANKER
SERVIKS DI RSU DOKTER SOEDARSO TAHUN 2011 - 2012
Benyamin Surung Intosius Hutagaol1; Pinda Hutajulu2; Andriani3 1 Program Studi Pendidikan Dokter
2 Departemen Obstetri dan Ginekologi 3 Departemen Biokimia dan Biologi Molekuler
Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura/ RSU DOKTER SOEDARSO
Pontianak Intisari
Latar Belakang: Rata – Rata satu koma empat juta wanita di-seluruh dunia hidup dengan kanker serviks. Kanker serviks termasuk dari sepuluh besar kanker penyebab kematian pada wanita di Indonesia. Hasil penelitian terkini mengindikasikan adanya hubungan antara tingginya jumlah trombosit dengan prognosis yang buruk dari kanker sistem ginekologi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana gambaran jumlah trombosit pada pasien kanker serviks. Metodologi: Penelitian adalah penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan di bagian rekam medis RSU DOKTER SOEDARSO pada tanggal 25 Maret sampai 3 Mei 2013. Data dikumpulkan dari buku registrasi rawat inap dan rawat jalan di poli obstetri dan ginekologi di RSU DOKTER SOEDARSO, sampel diambil secara consecutive sampling. Data dianalisis dengan statistik sederhana. Hasil: Ditemukan 39 sampel yang sesuai kriteria inklusi dan eksklusi dengan karakteristik sampel ; usia dengan 42 – 48 tahun (35.9%), pekerjaan ibu rumah tangga (87.2%), dan stadium III/a (43.6%) adalah frekuensi yang tertinggi. Jumlah trombosit yang ditemukan paling banyak adalah trombositosis (>400.000/ul) (64.1%). Rata-rata nilai trombosit tertinggi yang ditemukan ada di stadium IV (592.000/ul). Kesimpulan: Distribusi jumlah trombosit terbanyak adalah trombositosis. Keadaan trombositosis mulai ditemukan pada stadium III/a. Nilai trombosit meningkat secara linier dengan stadium kanker serviks.
Kata kunci: kanker serviks, jumlah trombosit
DESCRIPTION OF PLATELET COUNT IN CERVICAL
CANCER PATIENT AT RSU DOKTER SOEDARSO
2011 - 2012
Benyamin Surung Intosius Hutagaol1, Pinda Hutajulu2, Andriani3 1 Medical Education Courses
2 Department of Obstetric and Gynaecology 3 Department of Biochemistry and Molecular Biology
Faculty of Medicine Tanjungpura University / DOKTER SOEDARSO Hospital
Pontianak Abstract
Background: About one point four millions women living with cervical cancer around the world. Cervical cancer is the top ten of the highest cause of death for women in Indonesia. Results of recent studies, there is an association between high platelet counts with poor prognosis of cancer gynecologic system. Objective: The objective of this research to see the description of platelet count ini cervical cancer women at RSU DOKTER SOEDARSO 2011 - 2012. Method: This research was a descriptional observation study. Data was collected from medical record RSU DOKTER SOEDARSO on March 25 until May 3, 2013. Data was collected first from the in and out patient books in policlinics of obstetric and gynecology, taken by consecutive sampling. Data were analyzed by simple statistical. Result: There are 39 samples that fit to the inclusion and exclusion criteria. Age 42-48 years (35.9%), housewives (87.2%), and stage III / a (43.6%) was the highest frequency in characteristic of the samples. Platelet count is thrombocytosis found most (> 400.000/ul (64.1%)). The average value of the highest platelets found in stage IV (592.000/ul) Conclusion: Distribution of platelet count is thrombocytosis most. Thrombocytosis state began in the stage III / a. Trombsoit value increases linearly with late-stage cervical cancer.
Pendahuluan
Rata – rata satu koma empat juta wanita diseluruh dunia hidup dengan kanker serviks. Berdasarkan estimasi data terakhir secara global, ditemukan 493.000 kasus baru kanker serviks yang terjadi setiap tahun, dan 274.000 wanita meninggal karena penyakit ini. 2 Kanker serviks disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV). 2,3,4,5 Virus HPV yang memiliki risiko tinggi menyebabkan keganasan adalah tipe 16, 18, 31, 33, dan 45.5 Trombosit berperan penting dalam metastasis dari solid cancer melalui jalur hematogen dan angiogenesis. Sebuah penelitian di Jepang juga telah menyimpulkan bahwa jumlah trombosit dalam darah seorang penderita solid cancer berbanding lurus dengan stadium kanker tersebut.7
Metodologi
Studi deskriptif observasional. Jumlah trombosit dalam darah pasien kanker serviks dilihat dari rekam medis pasien. Persetujuan administrasi dan etik didapatkan dari Bagian Pendidkan dan Penelitian RSU dr. Soedarso serta dari Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura.
Didapatkan 39 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yaitu yang rekam medis dan hasil laboratorium darah rutin tercantun lengkap. Rekam medis pasien diteliti dan didapatkan karakteristik sampel, stadium dan nilai trombosit. Nilai trombosit diambil dari hasil pemeriksaan darah rutin yang pertama kali setelah pasien terdiagnosa kanker serviks oleh dokter spesialis obstetri dan ginekologi di RSU DOKTER SOEDARSO. Nilai trombosit dikelompokan menjadi trombositopenia (<150.000/ul)9, normositosis (200.000/ul – 400.000/ul)9, trombositosis (>400.000/ul). Data dianailsa dengan statistik sederhana untuk analisis univariat dan pengelompokan data, mencari nilai tengah, rata-rata nilai, njilai tertinggi, dan nilai terendah.
Hasil
Terdapat 39 kasus kanker serviks dengan rekam medis yang lengkap dan hasil pemeriksaan darah rutin yang terlampir.
Tabel 1 Karakteristik Sampel
KARAKTERISTIK SAMPEL FREKUENSI PERSENTASE (%) USIA 28 – 34 1 2.6 35 – 41 8 20.5 42 – 48 14 35.9 49 – 55 6 15.4 56 – 62 6 15.4 ≥63 4 10 JUMLAH 39 100.0 SUKU DAYAK 3 7.7 MELAYU 23 59.0 MADURA 11 28.2 TIONGHOA 2 5.1 JUMLAH 39 100 PEKERJAAN
IBU RUMAH TANGGA 34 87.2
PEGAWAI NEGERI 3 7.7 SWASTA 2 5.1 JUMLAH 39 100 STADIUM I 0 0.0 II/a 0 0.0 II/b 8 20.5 III/a 17 43.6 III/b 12 30.8 IV 2 5.1 JUMLAH 39 100
Kategori Frekuensi Persentase
Trombositopenia 0 0.00
Normal 14 35.90
Trombositosis 25 64.10
Jumlah 39 100
Tabel 3 Rata-rata nilai trombosit dan stadium
Stadium Nilai Trombosit
I 0 II/a 0 II/b 335.000 III/a 476.000 III/b 512.000 IV 592.000
Tabel 1 Menjelaskan tentang karakteristik sampel penelitian, didapatkan usia sampel berkisar antara 28 tahun sampai 65 tahun. Didapatkan kelompok usia terbanyak berada di kisaran 42- 48 tahun sebanyak 14 orang (35.9%) dan kelompok usia paling sedikit 28 - 34 tahun (2.6%). Ditemukan kelompok suku yang terbanyak adalah suku Melayu dengan frekuensi sebanyak 23 orang (59%). Suku sampel yang paling sedikit dari suku Tionghoa, dengan frekuensi sebanyak 2 orang (5.1%). Didapatkan pekerjaan sampel yang terbanyak adalah ibu rumah tangga sebanyak 34 orang (87.2%), selanjutnya diikuti pegawai negeri sebanyak 3 orang (7.7%) dan yang paling sedikit adalah karyawan swasta atau wirausaha sebanya 2 orang (5.1%). Data sekunder yang didapatkan maka stadium yang terbanyak ditemukan adalah stadium III/a dengan frekuensi sebanyak 17 sampel (43.6%).
Tabel 2 menjelaskan tentang distribusi sampel berdasarkan jumlah trombosit. Didapatkan jumlah trombosit yang terbanyak adalah
trombositosis (nilai trombosit lebih dari 400.000 k/ul). Trombositosis sebanyak 25 sampel (64.10%) dan yang normal sebanyak 14 sampel (35.90). Tidak ada sampel yang masuk kategori trombositopenia.
Tabel 3 menjelaskan tentang Rerata nilai trombosit pada tiap stadiumnya. Ditemukan nilai trombosit yang terendah adalah 218.000 k/ul, yang didapatkan pada sampel stadium II/b. Nilai trombosit yang tertinggi adalah 856.000 k/ul, yang didapatkan dari sampel stadium III/b. Nilai rata-rata trombosit dari keseluruhan sampel adalah 462.000 k/ul dengan standar deviasi sebesar 182.000 k/ul.
Pembahasan
Umumnya sel-sel mukosa baru matang setelah wanita berusia 20 tahun ke atas. Jadi, seorang wanita yang menjalin hubungan seks pada usia remaja, paling rawan bila dilakukan di bawah usia 16 tahun. Hal ini berkaitan dengan kematangan sel-sel mukosa pada serviks. Pada usia muda, sel-sel mukosa pada serviks belum matang. Artinya, masih rentan terhadap rangsangan. Sehingga tidak siap menerima rangsangan dari luar. Termasuk zat-zat kimia yang dibawa sperma. Karena masih rentan, sel-sel mukosa bisa berubah sifat menjadi kanker. Sifat sel kanker selalu berubah setiap saat yaitu mati dan tumbuh lagi. Dengan adanya rangsangan, sel bisa tumbuh lebih banyak dari sel yang mati, sehingga perubahannya tidak seimbang lagi. Kelebihan sel ini akhirnya bisa berubah sifat menjadi sel kanker. Lain halnya bila hubungan seks dilakukan pada usia di atas 20 tahun, dimana sel-sel mukosa tidak lagi terlalu rentan terhadap perubahan.28 Usia > 35 tahun mempunyai risiko tinggi terhadap kanker serviks. Semakin tua usia seseorang, maka semakin meningkat risiko terjadinya kanker serviks. Meningkatnya risiko kanker serviks pada usia lanjut merupakan gabungan dari meningkatnya
dan bertambah lamanya waktu pemaparan terhadap karsinogen serta makin melemahnya sistem kekebalan tubuh akibat usia.31
Suku dengan angka kejadian kanker serviks adalah suku Melayu sebanyak 23 sampel atau 59% dari populasi sampel. Suku Madura menempati urutan kedua dengan 11 sampel atau 28.2% dari total populasi. Peneliti tidak mencari hubungan antara kejadian kanker serviks dan suku bangsa tertentu. Peneliti hanya menjabarkan distribusinya saja. Dari penelitian ini, pekerjaan sampel yang terbanyak adalah ibu rumah tangga sebanyak 34 orang atau 87.9% dari total populasi sampel. Pegawai negeri sebanyak 3 orang dan swasta / wirausaha sebanyak 2 orang. Ibu rumah tangga menjadi pekerjaan dengan insidensi kanker serviks tertinggi, akan tetapi seharusnya ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang minim kontak dengan orang banyak.
Stadium kanker serviks yang paling banyak muncul pada penelitian ini adalah stadium III/a, dengan frekuensi sebanyak 17 sampel atau 43.6%. Penelitian yang dilakukan di RS Kariadi Semarang menunjukan bahwa frekuensi tertinggi ada pada stadium III/b, sebanyak 52.6% dari 137 sampel.31 Pada penelitian ini tidak didapatkan sampel dengan stadium I – II/a. Data diatas menunjukan masih kurangnya kesadaran dari para perempuan mengenai skrining berkala untuk kanker serviks seperti Pap-Smear. 28
Dari hasil yang didapatkan untuk nilai trombosit, nilai tertinggi yang didapatkan adalah 856.000 k/ul dan nilai terendah sebesar 218.000 k/ul dengan simpangan baku 182.000 k/ul dan rata-rata nilai trombosit 462.000 k/ul. Dapat dilihat pada diagram 4.2, bahwa pada stadium dua rata-rata nilai trombosit masih normal. Diagram terus meningkat secara linier antara nilai trombosit terhadap stadium kanker serviks dan sudah masuk kategori trombositosis pada stadium III/a dengan rata-rata nilai trombosit menjadi 476.000 k/ul. Grafik terus meningkat dan mencapai puncaknya pada
stadium IV dengan rata-rata nilai trombosit mencapai puncaknya pada 592.000 k/ul di stadium IV.
Peningkatan nilai trombosit pada pasien kanker serviks juga ditemukan pada beberapa penelitan di Eropa dan Asia. Gusfer18 dan Tukimo18 dari Turki menemukan pasien yang mengalami trombositosis meningkat sebanyak 17% seiring peningkatan stadium. Dari penelitian Gusfer dan Tukimo, sampel yang nilai trombositnya masuk kategori trombositosis terbanyak berada di stadium III-IV dan jarang pada stadium I-II.16 Trombositosis digunakan sebagai penanda prognosis yang buruk pada kanker serviks. Pasien dengan stadium Ib yang sudah mengalami terapi operatif, bila nilai trombositnya mengalami peningkatan juga dimasukkan kedalam prognosis yang buruk. Terdapat korelasi antara ukuran kanker serviks dengan trombositosis.32
Trombositosis berhubungan dengan prognosis yang buruk dari keganasan ginekologi, kanker esofageal, kanker lambung, kanker paru. Beberapa studi ini menggunakan batas nilai yang berbeda untuk menentukan trombositosis (berkisar dari 400.000 – 450.000/ul); bagaimanapun nilai trombosit yang tinggi selalu diidentikan dengan prognosis yang buruk pada pasien kanker. 28
Trombosit digunakan oleh sel tumor untuk memudahkan bermetastasis lewat jalur hematogen, tumbuh membesar dan angiogenesis. Sel tumor berikatan dengan trombosit dan membetuk coating agar tidak dapat terdeteksi oleh sistem imun. Kemampuan sel tumor untuk beraggregasi dengan trombosit dikenal dengan istilah tumour cell-induced platelet aggregation (TCIPA). Sel tumor juga akan terlindungi dari TNF-α karena coating dari trombosit. Peningkatan IL-6 yang signifikan ditemukan pada keadaan kanker serviks, dimana IL-6 adalah sitokin yang poten terhadap stimulasi megakariopoiesis dan pematangan megakariosit. Bertambahnya jumlah megakariosit yang diproduksi dan dimatangkan maka akan terjadi peningkatan jumlah trombosit yang beredar dalam sirkulasi. Keadaan ini
disebabkan trombosit adalah hasil fragmentasi dari membran megakariosit.16
Angiogenesis adalah tahap yang sangat penting bagi pertumbuhan, perkembangan, dan metastasis kanker. Vascular endothelial growth factor (VEGF) yang dikenal sebagai stimulator poten untuk angiogenesis dan sumber produksi VEGF adalah trombosit. Nilai trombosit yang meningkat pada pasien kanker menunjukan korelasi positif dengan peningkatan kadar VEGF dalam serum, dapat dikatakan prognosis dari pasien kanker dengan konsentrasi VEGF dan jumlah trombosit yang tinggi lebih buruk daripada pasien kanker serviks yang punya konsentrasi VEGF dan jumlah trombosit yang rendah.28
Kesimpulan
Frekuensi rentang usia pasien kanker serviks tertinggi di RSU DOKTER SOEDARSO Tahun 2011-2012 adalah 42 – 48 tahun.. Frekuensi pekerjaan pasien kanker serviks tertinggi di RSU DOKTER SOEDARSO tahun 2011 – 2012 adalah Ibu rumah tangga. Distribusi stadium terbanyak adalah stadium III/a dan distribusi stadium paling sedikit adalah stadium IV. Distribusi kategori trombosit terbanyak adalah trombositosis. Keadaan trombositosis mulai ditemukan pada stadium III/a.
Daftar Pustaka
1. Kasper, Dl., Fauci, AS., Longo, DL., Braunwald, E., Hauser, SL., Jameson, JL. Harrison’s. Principles of Internal Medicine. 16th Edition. Mc Graw-Hill. New York. 2005
2. Population Reference Bureu., Alliance for Cervical Cancer Prevention. Preventing Cervical Cancer Worldwide. New york. 2004
3. Wikojosastro, et al. Ilmu Kandungan, edisi ke-2, PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta. 2008
4. Arends, MJ., Buckley, CH., Wells, M. Aetiology, pathogenesi, and pathology of cervical neoplasia, Journal clinical phatology;51:96-103. 1998
5. Brilman, AR., Regts, J., Freyschmidt, E., Dontje, B., Wiltschut., Daemen, T. Induction of Human Papilloma virus E6/E7-specifi c cytotoxic T lymphocyte activity in immune-tolerant, E6/E7- transgenic mice by immunization with a recombinant Semliki Forest virus vector.Gene Thee. 1410 -4. South Korea. 2005
6. Tim Pentusun PFKI. Profil Kesehatan Indonesia 2008, Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. 2009
7. Kumar, R., Abbas, D., Fausto, L. Robbin & Cotran’s. Pathologic Basis of Disease. Sevent edition.Elsevier. W.B Sounders. New York. 2008 8. Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat. Data Jumlah Penyakit
Kanker Serviks Di Kalimantan Barat. Data Jumlah Penyakit Tidak Menular. 2011
9. Khasbiyah. Beberapa Faktor Resiko Pada Kanker Serviks. FK-UNDIP. Semarang. 2004.(Skripsi)
10. Sacher, RA., McPherson, RA. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Edisi 11. EGC. Jakarta. 2004
11. Didbiapertiene, J ., Kazbariene, B., Prasmicene, G., Krikotapoiene, A.,Surinaitte, B. The imune and antioxidative state of women with respect to cervical cancer.Acta Mwdica Lithuania, Vol 12 no. 3 p:65 – 70. 2005
12. Domingo, EJ., Victoria, A., Echo, VD. Epidemiology, prevention and treatment of cervical cancer in the Philipines, Journal of Gynecology Oncology, Vol 20, no.1 p:11-16. 2009
13. Bambace, NM., Holemes, CE. The platelet contribution to cancer progression, Journal of Thrombosit and Hemostasis, Vol 9, p:237-249. 2011
14. Beile, UE., Kleist, SV., Sauther, W., Gallati, H., Monting, J.S. Impaired cytokine production in whole blood cell cultures of patient with gynaecocal carcinoma in different state, br.j.cancer, 68: 32 – 36. 1993 15. Liu, A., Wei, Lixin. Leukocyte infiltrasion as a surogate marker for
diagnosis of invasion,International Journal of Biological Sciences. 225-227. 2010
16. Rodriguez, CL., Kluin-Nelesman, HC., Corbu, AL, AP-1 regulates the basal develompmentally induced transcription of the CD11c leukocyte intgrin gene, Hospital of The Princess, Madrid, Spain.2009
17. Gucer, F., Tamusino, K., Keil, F. Thrombocytosis in Gynecologic Malignancie. Faculty of medicine. Trakya University. Edeme turkey. 2004
18. Lazarenko, L., Spivak, M., Lakatosi, V., Kryvoknatska, L., Mikhajlenko, O., Rudenko, A., Tkacikova, l., Mikula, L. Production of interferon and change of thelimphocyte subpopulation phenotype in periperal blood at cervical papillomavirus infection,Zabulory Institute of Microbiology and Virology, National Academy of Sciences of Ukraine, Kiev, Ukraine. 2002
19. Ratray, M.C., Peterman, G.M., Altman, L.C., Corey, L., Holmes, K.K. Lymphocyte-derived chemotactic factor synthesis in initial genital herpesvirus infection:corelation with lymphocyte transformation, Journal of Infection and Imunity, p:110-116. 1980
20. Abbas, AK., Lichtman, AH., Pillai, S. Cellular and Molecular Imunology, Sixth edition, Saunders Elsevier, New York. 2007
21. Junqueira, LC., Carnerio, J. Histologi Dasar ; Teks dan Atlas, Edisi 10, EGC. Jakarta. 2007
22. Kanodia, S., Fahey, S.M., Kast, W.M. Mechanism Used by Human Papillomavirus to Escape the Host Immune Response. Seventh edition. Department of Molecular Microbiology and Immunology. University of Southern California. USA.p:79-89. 2007
23. Hoffbrand, AV., Pettit, JE., Moss, PAH. Essential Haematology. Blackwell Science Ltd. Oxford. UK. 2005
24. Gant, N.F., Cunningham, FG. Dasar-dasar Ginekologi dan obstetri. EGC. Jakarta. 2011
25. Doobrar, J. Molecular Biology of Human Papillomavirus Infection and Cervical Cancer. Division of Virology. National Institute for Medical Research. London.p:525-541. 2006
26. Fujimoto, J., Sakaguchi, H., Hirosi, R. Expression of platelet-derived endothelial cell growth factor (PD-ECGF) and its mRNA in uterine cervival cancer. British journal of cancer. London. 2004
27. Deutch, VR., Tomer, A. Megakaryocyte development and platelet production, British journal of haematology, vol 134, p:453-466. 2006 28. Bambace, NM., Holmes, CE. The Platelet Contribution to Cancer
Progression, Journal of Trombosis and Haematology, Vol 9, p; 237-249. 2011
29. Baratawidjaja, KG., Rengganis, I. Imunologi Dasar, Edisi ke-8, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. 2009
30. Wijayanti E. Perbandingan respons histopatologik dan klinik pasca terapi karsinoma serviks uteri tahun 2005-2006 berdasar karakteristik penderita. Semarang: Universitas Diponegoro; 2007.
31. Melva. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian kanker leher rahim pada penderita yang datang berobat di RSUP H. Adam Malik Medan tahun;2008
32. Hernandez E, Lavine M, Dunton CJ, Gracely E and Parker J. Poor prognosis associated with thrombocytosis in patients with cervical cancer. Cancer. London. 69: 2975-2977, 1992.