al-Husaini M. Daud Abstrak
Kajian ini mengetengahkan beberapa pokok pemikiran Abu al-Hasan Ali ibn Muhammad Khalaf al-Mu’afiri al-Qabisi (935-1014 M/324-403 H). khususnya mengenai kurikulum yang
ditulisnya dalam kitab “ar-Risalah Mufassilah li-Ahwal Muta’allimin wa Ahkam
al-Mu’allimin wa al-Muta’allimin”. Seluruh kajian dalam kajian ini menggunakan metode studi tokoh,
sedangkan dalam proses pengumpulan data, penulis menggunakan kajian kepustakaan (library
reseacrh).
Esensi kurikulum yang dibangun oleh al-Qabisi berorientasi pada ketercapaian kompetensi anak
dalam menguasai dan berpegang teguh pada nilai-nilai qur’ani dan pembentukan akhlak. Orientasi tersebut diaplikasikan melalui muatan mata pelajaran yang harus dikuasai oleh peserta didik, yakni meliputi mata pelajaran wajib dan pilihan. Mata pelajaran wajib terdiri dari al-Qur’an dan hadis, fiqh, akhlak dan bahasa Arab, menulis, mengeja dan membaca. Sedangkan rangkaian mata pelajaran pilihan adalah pendalaman bahasa Arab dan adab-adabnya (nahwu-shorof, syair dan retorika), ilmu hisab dan sejarah.
Kata kunci:pemikiran pendidikan, kurikulum.
A.Pendahuluan
Pendidikan sangat strategis dalam sebuah proses transformasi sosial. Karena pendidikan merupakan satu dari tiga etalase yang dapat dijadikan alat ukur maju-mundurnya suatu negara, di samping ekonomi dan kesehatan. Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai serta mencurahkan perhatian khusus kepada problematika dan dinamika pendidikan. Referensi sejarah membuktikan bahwa
pendidikan sangat kontributif dalam
memecahkan aneka permasalahan dan juga dalam menyikapi pluralitas secara bijak.
Kemajuan suatu bangsa sangat
ditentukan oleh kualitas pendidikan yang
diselenggarakan oleh negara yang
bersangkutan. Maka komitmen negara dalam menempatkan pendidikan pada posisi yang paling utama dan paling khusus merupakan sebuah keniscayaan. Komitmen tersebut akan menentukan dasar untuk membuat kebijakan yang berkualitas bagi pendidikan. Tetapi sebaliknya, ketika negara tidak pernah memberikan perhatian dalam bidang ini, maka akan sulit pula diharapkan pendidikan yang berkualitas. Dalam kondisi seperti ini, justeru sendi-sendi kehidupan
negara tersebut akan hancur secara berkelanjutan.
Definisi pendidikan sebenarnya
sangat beragam dikemukakan oleh para ahli
pendidikan. Dalam Undang-undang
Republik Indonesia No. 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional,
diungkapkan bahwa definisi pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.1
Sementara W.S. Winkel
mengungkapkan bahwa pendidikan adalah bantuan yang diberikan oleh orang dewasa kepada orang yang belum dewasa, agar dia mencapai kedewasaannya.2 Lain lagi dengan
Ainurrofiq yang memberi pengertian
pendidikan sebagai proses pengembangan sikap dan tata laku seseorang atau
kelompok orang dalam usaha
mendewasakan manusia melaui upaya pengajaran, pelatihan, proses, perbuatan dan cara-cara yang mendidik.3 Sementara
itu, Azyumardi Azra menyimpulkan bahwa
pendidikan merupakan suatu proses
penyiapan generasi muda untuk
menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efisien.4
Visi pendidikan yang sesungguhnya adalah meningkatnya kapasitas seseorang untuk berpartisipasi dalam segala aktifitas kehidupannya sehari-hari. Intinya mengarah kepada terciptanya satu kehidupan yang
harmonis, egalitarian, humanis dan
demokratis. Pendidikan bukanlah media indoktrinasi dan wahana introdusir dalam menginternalisasikan ajaran dan ideologi rezim sebuah penguasa, akan tetapi lebih merupakan sarana pengejawantahan cita-cita ideal guna melahirkan manusia seutuhnya, yakni utuh intelektual, utuh emosional dan utuh spiritual. Lebih lanjut hakikat manusia seutuhnya adalah realitas
manusia yang berhasil menggapai
keutamaan moral, serta secara total mampu mengubah sifat, prilaku dan tindakan mengejawantah.
Pendidikan Islam merupakan
pengenalan dan pengakuan mengenai tempat sesuatu sesuai dengan tatanan
penciptaan yang ditanamkan secara
progresif ke dalam diri manusia sehingga menggiringnya kepada pengenalan dan pengakuan terhadap eksistensi Allah s.w.t. Pendidikan Islam juga merupakan sarana terpenting yang diperlukan dalam usaha membangun sumber daya manusia dan
menanamkan nilai-nilai kemanusiaan.5
Ahmad Fuad al-Ahwani mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah perpaduan yang menyatu antara pendidikan jiwa, membersihkan roh, mencerdaskan akal dan menguatkan jasmani6.
Dja’far Siddik, dalam bukunya Konsep
Dasar Ilmu Pendidikan Islam, mengungkapkan
apa yang pernah diputuskan dalam Seminar Pendidikan Islam yang diadakan oleh Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam Swasta pada tanggal 13-16 Mei 1979 di Jakarta, bahwa definisi pendidikan Islam ialah usaha yang berlandaskan Islam untuk membantu
manusia dalam mengembangkan dan
mendewasakan kepribadiannya, baik
jasmaniah maupun rohaniah untuk memikul
tanggung jawab memenuhi tuntunan
zamannya dan masa depannya.7 Namun demikian, definisi yang tak kalah penting tentang pendidikan Islam adalah apa yang
dicetuskan oleh Syed Ali Asyraf,
sebagaimana juga dikutip oleh Dja’far Siddik, bahwa pendidikan Islam adalah suatu pendidikan yang melatih sensibilitas subyek didik dengan cara sedemikian rupa,
sehingga prilaku mereka terhadap
kehidupan, langkah-langkah dan
pengambilan keputusan serta pendekatan mereka terhadap semua ilmu pengetahuan dibimbing oleh nilai-nilai etis Islam.8 Namun, terlepas dari aneka definisi yang diutarakan oleh para pakar dapatlah diambil suatu konklusi global bahwa pendidikan adalah proses pendewasaan seseorang untuk menjadi manusia yang ideal atau manusia yang dicita-citakan.
Sejatinya, pendidikan Islam akan bermakna bila elemen dasar pendidikan itu yakni tujuannya teraktualisasi dan terealisasi sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Perangkat yang menentukan dalam batang tubuh pendidikan Islam adalah kurikulum, Kurikulum itu sendiri dalam pengertian yang luas, seperti diungkapkan Hasan Langgulung yang dikutip oleh Haidar Putra
Daulay, dimaknai sebagai sejumlah
pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olah raga, dan kesenian yang disediakan oleh sekolah untuk anak didiknya baik di dalam maupun di luar sekolah dengan
maksud menolongnya agar dapat
berkembang secara menyeluruh dalam semua aspeknya dan mengubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan.9
Namun, realitas yang terjadi ternyata
implementasi kurikulum kontemporer
tersebut belum terbukti mampu menjawab dan memberikan jalan keluar terhadap
permasalahan pendidikan sebagaimana
idealnya dalam dunia Islam. Barangkali referensi-referensi yang selama ini dikutip
oleh para cendekiawan Muslim cenderung bukan dari khazanah intelektual Islam itu sendiri, tetapi justeru merujuk dari belahan dunia Barat, sehingga kurikulum tersebut tidak sinergi dengan realitas kehidupan masyarakat Islam.
Salah satu solusi alternatif dalam mengatasi problematika tersebut, khususnya mengenai kurikulum pendidikan anak yang tepat, adalah mengkaji ulang hasil pemikiran salah satu tokoh pemikir dan intelektual Muslim abad X M dari Qairawan negeri Tunisia, yakni Abu al-Hasan ‘Ali ibn Muhammad Khalaf al-Mu’afiri al-Qabisi (935-1014 M/324-403 H), yang selanjutnya lebih populer dengan sebutan al-Qabisi. Ia telah memberikan andil besar terhadap perkembangan dunia pendidikan Islam, terutama terhadap pendidikan anak pada zamannya. Menurutnya, fokus kurikulum hendaknya mengarah kepada pembentukan akhlak anak-anak. Baginya, pendidikan anak merupakan azas yang paling hakiki untuk tegaknya sebuah negara. Dengan kata lain, mendidik anak-anak merupakan upaya strategis dalam menjaga kelangsungan
bangsa dan negara.10 Secara umum,
perhatiannya yang besar tersebut terlihat
pada pemikirannya tentang tujuan
pendidikan, yakni mengembangkan
kekuatan akhlak anak, menumbuhkan rasa cinta agama, dan berpegang teguh pada ajaran-ajarannya.
Al-Qabisi berpendapat bahwa anak adalah generasi penerus masa depan.11 Keberadaan mereka di masa yang akan datang ditentukan oleh tabungan perbekalan mereka saat ini. Agar mereka dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan irama pendidikan pada masanya, maka perhatian yang sungguh-sungguh dan cermat dalam mendidik mereka mutlak diperlukan.
B.Sekilas Tentang Al-Qabisi
Al-Qabisi terkenal sebagai ulama hadis, pendidik yang ahli dan penganut mazhab Maliki yang sangat setia. Mengenai nama lengkapnya, ada beberapa perselisihan pandangan antar para ilmuwan; Ibn ‘Imad
al-Hambali dalam kitabnya Syazarat
az-Zahab mengatakan bahwa nama lengkapnya
adalah Abu Hasan al-Qabisi Ali ibn Muhammad ibn Khalaf Mu’afiri al-Qairawani.12 Sementara dalam kitab Ma’alim al-Iman fi Ma’rifati Ahli al-Qairawani,
Abdurrahman Muhammad ad-Dibagh
mengatakan bahwa nama lengkap al-Qabisi adalah Abu Hasan Ali ibn Muhammad ibn
Khalaf al-Mu’afiri.13 Meski terdapat
perselisihan pendapat tentang nama lengkap
al-Qabisi, namun mayoritas pengkaji
sepakat bahwa al-Qabisi memiliki nama lengkap Abu al Hasan Ali ibn Muhammad ibn Khalaf al-Mu’afiri al-Qairawani yang masyhur dengan sebutan al-Qabisi. Ahli hadis negeri Tunis ini lahir pada bulan Rajab tahun 324 H, bertepatan dengan tanggal 31 Mei 935 M.14
Sematan nama al-Qabisi sebagai
laqabnya juga menuai perbedaan pandangan
antarpengkaji sejarah. Al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan bahwa Abu Hasan ini bukanlah berasal dari kabilah al-Qabisi, namun karena pamannya mengenakan surban di kepalanya rapat-rapat, dan ini bertentangan dengan kebiasaan orang-orang Qabis. Abdullah al-Amin al-Na’miy mengungkapkan bahwa nama al-Qabisi diambil daripada perkataan Qabis, salah sebuah Bandar di Tunisia. Dia dikenali dengan nama tersebut di celah-celah suasana ilmu dan sastera.15 Juga sebelumnya Ibn Khalikan mengutarakan bahwa al-Qabisi dinisbahkan dari nama sebuah kota di negeri Qairawan Afrika utara, yakni kota Qabis, berdekatan dengan daerah Mahdiyah.
Terlepas dari perbedaan tersebut, al-Qabisi dikenal sebagai ilmuan Islam yang tinggal dan mengabdikan ilmunya di negeri Qairawan. Para pengamat aliran al-Qabisi sepakat bahwa dia adalah seorang ulama hadis terkemuka dan seorang pendidik yang
andal. Ide-ide yang dilontarkannya
merupakan gagasan pembaharuan yang mudah dikonsumsi oleh masyarakat luas.
Mengenai waktu wafatnya,
sesungguhnya tidak ada silang pendapat di antara pengkaji sejarah. Al-Qadhi ‘Iyadh
tidak menyebutkan tanggal dan bulan meninggalnya, sedangkan Abdurrahman Muhammad ad-Dibagh menyatakan bahwa al-Qabisi meninggal dunia di Qairawan, pada malam Rabu tanggal 3 Rabi’ul Akhir 403 H dan dikuburkan pada hari kamis, bertepatan pada tanggal 23 Oktober 1012 M.16 Usianya pada waktu wafat adalah 80 tahun.
C.Klasifikasi Kurikulum Pendidikan Anak
Melacak istilah kurikulum dalam karya al-Qabisi bisa dipastikan tidak ada, hal ini
mungkin dikarenakan istilah tersebut
muncul di era belakangan. Namun
demikian, untuk mengetahui kurikulum yang dirancang oleh al-Qabisi terlihat pada butiran mata pelajaran yang disuguhkan untuk dipelajari oleh anak-anak. Esensi kurikulum tersebut kesemuanya mengacu kepada pemberdayaan generasi untuk lebih memahami agama sebagai landasan pijak dalam mengarungi kehidupan ini. Karena itu, al-Qabisi berpendapat bahwa agama akan mampu mempersiapkan anak untuk kehidupan yang serba lebih baik.
Setelah penulis menela’ah kitab risalah
al-Qabisi, maka dapat disimpulkan bahkan klasifikasi kurikulum pendidikan anak menurutnya adalah pertama, kurikulum wajib, berorientasi kepada mata pelajaran yang harus dipelajari oleh anak-anak sebagai
landasan pijak bagi mata pelajaran
selanjutnya. Sementara kedua, kurikulum pilihan, yakni sejumlah mata pelajaran yang terdiri dari ilmu-ilmu keduniaan untuk
mendukung kesempurnaan kurikulum
wajib. Memang, secara tersurat al-Qabisi tidak membagi secara tegas kurikulumnya kepada dua klasifikasi. Namun, paparannya dalam risalah tersebut menunjukkan adanya pelajaran-pelajaran yang wajib dipelajari oleh anak dan ada juga pelajaran yang tidak wajib dipelajari, tetapi boleh dipelajari hanya sekedar untuk mendukung pelajaran wajib. Kurikulum yang diusung oleh al-Qabisi
belum terstruktur dengan rapi dan
sistematis sebagaimana hari ini. Di sini,
penulis hanya berupaya mengklasifikasikan semua materi pelajaran yang berserakan dari
lembaran-lembaran risalah al-Qabisi
sehingga selaras dengan klasifikasi
kurilukum kontemporer sekaligus
memudahkan pemahaman kita terhadap kurikulum tersebut.
1. Kurikulum Wajib
Mata pelajaran yang dikategorikan wajib dipelajari oleh anak-anak adalah pelajaran al-Qur’an, fiqh, pendidikan akhlak, bahasa Arab, menulis, dan membaca.
a. Pelajaran al-Qur’an
Al-Qur’an selain sebagai sumber paling asasi ilmu pengetahuan sekaligus juga menjadi pedoman utama bagi umat Islam. Karena itu, al-Qabisi sangat anti dengan perilaku yang merendahkan dan melecehkan al-Qur’an. Menurutnya, kalau hal itu terjadi, maka bisa dipastikan akan terjadi kerusakan di mana-mana. Allah s.w.t. akan mencabut cahaya al-Qur’an dalam lubuk hati kaum muslimin bila mereka menghina dan
menginjak-injak keberadaannya. Untuk
itulah, al-Qabisi selalu memohon kepada Allah agar senantiasa mengabadikan al-Qur’an dalam hati setiap mukmin.
Penulis melihat bahwa kondisi di atas mengilhami al-Qabisi untuk menempatkan pelajaran al-Qur’an sebagai azas bagi ilmu-ilmu dan pelajaran-pelajaran yang lainnya. Maka, al-Qur’an dijadikan sebagai pelajaran
awal yang diajarkan kepada anak,
dikarenakan kemampuan membaca dan memahami al-Qur’an bagi anak-anak sangat menentukan bahkan sebagai alat untuk mengetahui agama dan peribadatan.
Muhammad Munir Mursi
mengungkapkan bahwa juga ada alasan lain
bagi al-Qabisi untuk menempatkan
pelajaran al-Qur’an sebagai landasan awal pijakan kurikulumnya. Menurutnya, dalam menunaikan ibadah, misalnya salat, tidak akan sempurna tanpa membaca al-Qur’an; sedangkan salat adalah salah satu rukun Islam yang wajib dikerjakan oleh setiap muslim. Dengan alasan ini, maka al-Qabisi dan juga para ulama semasanya sepakat bahwa tujuan pertama belajar anak harus
ditekankan pada ma’rifatu al-din baik dalam bentuk teori maupun praktik.17
Al-Qabisi yakin bahwa dengan
mempelajari al-Qur’an, anak-anak akan memperoleh kemudahan dalam aspek material dan immaterial. Untuk itu, menghafal al-Qur’an berarti mengabadikan petunjuk Allah bagi anak-anak dan sekaligus mengekalkan cahaya ilmu pengetahuan. Allah s.w.t. mengungkapkan dalam teks suci-Nya bahwa “Sesungguhnya al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh
bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”.18
Di sisi lain, al-Qur’an juga
menyimpan sumber ilmu yang tak ternilai harganya dan tak terhitung manfaat yang dapat digali oleh pembacanya, belum lagi ganjaran pahala yang akan diterima dari sisi Allah s.w.t. Janji tersebut diungkapkan Allah dalam firman-Nya yang mengandung arti sebagai berikut:
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca
Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penerima Syukur ”.19
Dengan demikian, maka orang-orang Islam ketika itu sangat gemar mengajari anak-anaknya membaca al-Qur’an dan dengan al-Qur’anlah mereka mendidik mereka, serta sekaligus menjadikannya di atas pelajaran-pelajaran yang lainnya.
b. Pelajaran Fiqh
Tata cara pelaksanaan ibadah sehari-hari terangkum semuanya dalam pelajaran fiqh. Isyarat adanya pelajaran ini tercermin dari anjuran al-Qabisi untuk mengajari anak-anak cara bersuci, cara salat dan cara wudu’ yang benar. Di samping mereka juga diajari tentang syahadat, salat fardhu, bilangan ruku’ dan sujud dalam salat, bacaan di dalamnya dan takbir. Selanjutnya
bagaimana cara ruku’ yang benar, cara duduk, cara takbiratu al-ihram dan cara salam dalam salat. Kemudian juga diajari sunat-sunat dalam salat, seperti duduk tasyahud dan qunut pada salat subuh. Di sisi lain, anak-anak diberikan juga pengetahuan tentang salat-salat sunat, seperti salat sunat fajar, salat witir, salat dua hari raya, salat istisqa’, dan salat khusuf.
Di samping itu, dalam kurikulum ala al-Qabisi juga dianjurkan untuk mempelajari tata cara pelaksanaan salat jenazah dan doa-doa. Hal ini semua mengacu pada pembentukan watak keagamaan pada diri anak-anak, sehingga ketika dewasa kelak mereka benar-benar paham bahwa hal tersebut adalah bagian dari pilar paling urgen dalam ajaran agama.
Lebih tegas lagi, al-Qabisi
menerangkan bahwa seorang guru wajib menyuruh anak-anak untuk melaksanakan salat apabila usia mereka sampai tujuh tahun dan memukul mereka bila tidak mau mengerjakan salat pada usia sepuluh tahun. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah s.a.w. yang artinya “perintahkan anakmu untuk salat bila telah berusia tujuh tahun dan pukullah mereka bila umurnya telah sampai sepuluh tahun”.٢٠ Selaras dengan hal ini,
Imam Malik mengungkapkan bahwa
seorang anak harus dipukul pada usia sepuluh tahun bila tidak mau melaksanakan salat dan juga dipisahkan antara laki-laki dan perempuan dalam pelaksanaan proses pembelajaran.21
Dalam teks yang lain pada kitab yang sama, al-Qabisi malah membubuhi pelajaran
fara’idh pada mata pelajaran yang harus
dipelajari oleh anak-anak.22 Isyarat ini mengilustrasikan bahwa sub-sub mata pelajaran yang dipaparkan tersebut dapat dimasukkan dalam rangkaian pelajaran ilmu fiqh.
c. Pelajaran Akhlak
Tidak dapat disangkal bahwa nilai-nilai moral dalam kurikulum pendidikan anak versi al-Qabisi sangat kentara. Realitas ini banyak didapatkan dari
pentingnya aktualisasi pesan moral dalam kenyataan hidup anak-anak sebagai penerus estafet generasi Islam yang terdahulu di masa yang akan datang. Di antaranya adalah
seruan kepada para guru untuk
membiasakan memberikan contoh teladan kepada anak-anak dalam proses transmisi ilmu.
Di sisi lain, juga terdapat anjuran kepada anak-anak agar senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai akhlak dalam praktik kehidupan sehari-hari sebagai manifestasi
ketaatan kepada Allah dan Rasul.
Keseharian bermain anak-anak sesamanya, baik di lingkungan kuttab maupun di
lingkungan tempat tinggal sangat
menentukan terhadap proses pembentukan tata budi yang baik. Di tempat belajar, misalnya, jika anak-anak bergaul dengan sesama anak yang berakhlak mulia, niscaya akan terjadi interaksi edukatif, satu sama lain akan saling meniru dan dengan demikian ia menjadi dasar budinya.
Kenyataan lain juga tercermin dari pendapat al-Qabisi bahwa sesungguhnya
mengajari adab susila kepada anak
merupakan kewajiban guru kepada Allah s.w.t. baik dalam hal memberikan nasihat maupun dalam hal menjaga mereka.23
Esensi pendidikan akhlak sebenarnya
terlihat pada arahan guru dalam
menanamkan jiwa istiqamah kepada anak-anak, sehingga tumbuh dalam diri mereka kebaikan dan akhlak dalam pergaulan sehari-hari dengan teman-temannya. Bila terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan etika ajaran agama, maka guru berhak menegur dan memberi wejangan agar tidak mengulangi lagi perbuatan tercela tersebut.24
Di sini, terlihat bahwa peran seorang
pendidik dalam pembentukan dan
pembinaan akhlak anak sangat besar. Jika mereka berbuat kesalahan atau melanggar etika moral, seorang pendidik secara spontan dan dengan kelemah-lembutan serta kehati-hatian memberikan pemahaman kepada anak tersebut.
Perlakuan seperti ini akan sangat membekas dan memberi pengaruh besar
dalam diri anak, terutama ketika mereka sudah mencapai usia dewasa. Bagi al-Qabisi, akhlak terpuji merupakan mercusuar di tengah samudera kehidupan yang selalu
memberi cahaya dan sinyal kepada
pengelana agar tidak tersesat, sehingga sampailah ia ke tempat yang dituju dengan selamat.
d. Pendidikan Bahasa Arab, Menulis,
Mengeja dan Membaca
Mata pelajaran bahasa Arab pun tak luput dari pandangan al-Qabisi, bahkan dianggap sebagai materi pelajaran yang cukup penting untuk diketahui dan dipelajari oleh anak-anak, sehingga pantas dimasukkan ke dalam kurikulum wajib.
Tujuan mata pelajaran ini adalah agar anak-anak mengetahui dan menguasai prinsip-prinsip ilmu nahwu walau tidak mendalam, tetapi mampu membedakan mana yang salah dan yang benar dalam membaca al-Qur’an.25 Hal ini seperti terungkap dalam dialog al-Qabisi dengan Yahya ibn ‘Atiq bahwa suatu saat Yahya bertanya bagaimana pendapat al-Qabisi mengenai tujuan seorang lelaki mempelajari bahasa Arab untuk membaguskan bacaan al-Qur’an, maka jawab al-Qabisi bahwa hendaknya dia mempelajarinya, karena sesungguhnya bila seseorang lemah dalam bacaan al-Qur’an, maka binasalah dia.
Menurut penulis, anjuran al-Qabisi untuk mempelajari bahasa Arab akan sangat membantu anak-anak dalam memahami al-Qur’an sekaligus dapat memperlancar bacaan mereka. Karena sesungguhnya bahasa Arab beserta ilmu nahwu dapat
mempermudah anak-anak dalam
mengucapkan kata demi kata dan juga dapat mengetahui bentuk-bentuk dan struktur ayat yang benar, dan ini semua dapat
menghilangkan kekhawatiran akan
kesalahan dalam membaca al-Qur’an. Sama halnya dengan belajar menulis, mengeja dan membaca, sudah menjadi kemestian bagi seorang pendidik dalam mengajar al-Qur’an, anak-anak disuruh mencatat dalam buku.26 Untuk mencatat dibutuhkan kemampuan dalam menulis,
untuk bisa menulis kata-kata harus bisa mengeja huruf demi huruf, dan setelah mampu mengeja, maka seorang anak pun dituntut mampu membaca. Para pendidik
dalam mengajar al-Qur’an wajib
memperhatikan kaedah baca yang benar, sehingga seorang anak dapat membaca al-Qur’an sesuai dengan prinsip-prinsip ilmu qira’at, seperti waqaf, makhariju al-huruf dan
tajwid.
Integralisasi antara kewajiban anak dalam mempelajari al-Qur’an dengan salat dan doa berarti juga mengintegralisasikan antara daya fikir (ranah kognitif), daya rasa (ranah afektif) dan daya amal (ranah psikomotorik). Dengan kata lain, menurut al-Qabisi, elemen fikir, zikir dan amal menyatu dalam kurikulum pendidikan anak bagaikan menyatunya air panas, kopi dan gula.di dalam satu gelas.
Gagasan al-Qabisi merilis kurikulum seperti ini sesuai dengan kondisi lingkungan sosial pada zaman tersebut yang religius murni.27 Karena sesungguhnya ciri-ciri kurikulum yang baik adalah jika elemen yang terdapat dalam kurikulum itu tidak melenceng dari tuntutan kondisi lingkungan suatu daerah. Selain itu, pada masa al-Qabisi hidup, mayoritas orang-tua menghendaki agar anaknya diajari al-Qur’an beserta ilmu-ilmu yang berhubungan dengan al-Qur’an.
Hal tersebut persis seperti
diungkapkan oleh Ibn Sina—sebagaimana dikutip oleh al-Jumbulati dan al-Tuwanisi—
bahwa anak yang telah memiliki
kemampuan berfikir analistis dan fasih ucapan, serta sudah siap untuk diajar, maka seyogyanya diajarkan pelajaran al-Qur’an, ditunjukkan huruf hijaiyah serta diajari ilmu-ilmu agama. Jika anak telah selesai belajar dan menghafal ushul fiqh, kemudian amatilah keadaan mereka dan berikan keterampilan sesuai dengan kemampuannya, lalu setelah itu arahkan mereka ke jalan yang benar dan pasti.28
2. Kurikulum Pilihan
Hakikat keberadaan kurikulum pilihan adalah sejumlah mata pelajaran yang
menguatkan kesempurnaan kurikulum
wajib, seperti ilmu hitung, syair, sejarah (termasuk di dalamnya kisah-kisah bangsa Arab), ilmu nahwu-saraf dan juga bahasa Arab lengkap. Pendek kata, kurikulum ini boleh saja dipelajari oleh anak itu sendiri atau diajarkan atas inisiatif guru yang bersangkutan ataupun diabaikan. Tidak ada anjuran dan tidak ada pula larangan bagi yang mau menelaahnya.
Al-Qabisi tidak melarang untuk
mempelajari ilmu hitung sebatas
kemaslahatannya dapat dipertanggung
jawabkan kepada agama dan masyarakat. Artinya, sejauh mana ilmu hitung itu dapat bermanfaat dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Misalnya, ilmu hitung dapat mendukung dan mempermudah proses pembagian harta warisan di kalangan masyarakat muslim. Untuk itulah, al-Qabisi berpendapat bahwa mengajarkan berhitung bukanlah suatu yang wajib kecuali bila guru tersebut mensyaratkannya.29
Begitupun tanggapan al-Qabisi
terhadap pelajaran syair. Dia hanya
menganjurkan mempelajarinya sebatas
untuk memperhalus tutur kata, meluruskan lisan (bacaan) dan juga dapat menghaluskan perasaan (budi pekerti). Bahkan dia mengatakan sesungguhnya di dalam setiap bait syair mengandung hikmah. Hal ini pernah diucapkan Nabi—diriwayatkan oleh Bukhari—bahwa syair itu adalah kalam (kalimat), ia menjadi baik jika yang menggunakannya baik dan ia akan menjadi jelek bila yang mengucapkannya buruk.30
Di sini, terlihat bahwa al-Qabisi mengizinkan mempelajari syair, selama isi dan tujuan mempelajari syair tersebut tidak menjurus kepada perkataan yang keji dan kotor, sehingga mengakibatkan kepada rusaknya moral dan sendi-sendi agama. Pendapat ini seirama dengan gagasan al-Ghazali yang mengatakan bahwa hendaknya anak menjadi sibuk dengan mempelajari al-Qur’an dan hadis yang mengandung cerita dan hikayat orang-orang yang saleh beserta contoh tingkah laku mereka sehingga akan tumbuh dalam jiwa anak rasa cinta kepada yang hal-hal baik dan jangan memberikan
hafalan syair yang berisi rasa rindu dan dendam (isyaq).31 Termasuk juga di dalamnya ilmu retorika,32 yakni bagaimana seseorang bisa berpidato dengan bahasa yang halus dan tidak menyakiti hati orang.
Keberadaan ilmu sejarah dan kisah bangsa Arab—temasuk juga
kisah-kisah para nabi—dalam klasifikasi
kurikulum non-wajib ala al-Qabisi adalah untuk memperkaya perbendaharaan teladan bagi anak-anak., dan pada saat yang sama, juga dapat melatih mereka berprilaku lurus seperti yang dicontohkan dalam pelajaran tersebut. Sebenarnya, ada harapan yang dikandung dari pemberian mata pelajaran sejarah kepada anak-anak, yaitu dapat membantu pembinaan akhlak bagi mereka, terutama via kisah para nabi dan para tokoh. Hal ini tergambar dari pernyataan Ibn Habib, yang disetujui oleh al-Qabisi, bahwa tidak mengapa mengambil upah dari hasil mengajar syair, nahwu, sejarah-sejarah Arab dan yang serupa dengannya, seperti pengetahuan mengenai tokoh-tokoh dan orang-orang yang berkepribadian mulia.33
Mata pelajaran lainnya yang masuk ke dalam kurikulum pilihan adalah pelajaran bahasa lengkap. Maksudnya, mengetahui prinsip-prinsip dari ilmu bahasa Arab merupakan pelajaran yang paling azas bagi anak-anak, akan tetapi memperdalam ilmu tersebut sampai kepada hal-hal sangat terperinci tidaklah menjadi keharusan. Hal itu diserahkan kepada kemauan anak-anak dan inisiatif pendidik.
Jadi, kalau dirunut, ilmu-ilmu yang masuk ke dalam kurikulum wajib menurut al-Qabisi terdiri dari pelajaran al-Qur’an, prinsip-prinsip ilmu fiqh, akhlak, tulisan dan bacaan, prinsip-prinsip dasar bahasa Arab dan kaedah-kaedah ilmu qira’at. Sedangkan mata pelajaran yang dikategorikan ke dalam kurikulum pilihan adalah pendalaman bahasa Arab dan adab-adabnya (nahwu-saraf, syair dan retorika), ilmu hisab dan sejarah.
D.Kajian Kritis Terhadap Kurikulum al-Qabisi
Materi mata pelajaran yang terangkum dalam kurikulum pendidikan anak versi al-Qabisi cenderung statis dan tidak up to date.
Barangkali ini dilatarbelakangi oleh suasana kehidupan intelektual pada masa al-Qabisi hidup saat itu. Ketergantungan ulama Qairawan terhadap nash-nash (baik nash al-Qur’an maupun al-sunnah) dan dalil-dalil yang berdasarkan perbuatan ahli Madinah terlihat sangat kental dan kentara. Hal ini disebabkan oleh mayoritas masyarakat Afrika Utara saat ini menganut mazhab Maliki, yang justeru cenderung tabu dalam melakukan pembaharuan pemikiran melalui penggunaan ra’yu dan qiyas sebagai metode berfikir.
Ada beberapa elemen mata pelajaran yang dipandang penting dan mestinya dimasukkan dalam sebuah kurikulum, tetapi malah diabaikan oleh al-Qabisi. Padahal banyak dalil syar’i (al-Qur’an dan hadis)
yang menceritakan tentang
kejadian-kejadian tersebut dan dianjurkan untuk dapat mengambil ‘ibrah dari peristiwa itu. Ilmu pengetahuan alam yang seyogyanya bisa menambah keimanan dan ketakwaan anak, justeru tidak diajarkan. Padahal Allah s.w.t. malah memerintahkan kita untuk mengkaji dan mengobservasi alam ini, agar dapat melihat betapa kekuasaan allah begitu dahsyat.
Dari realitas ayat kauniyah tersebut diharapkan manusia dapat mengambil pelajaran bahwa betapa banyak rahmat-Nya yang belum digali dan akhirnya menjadikan hamba tersebut lebih dekat kepada sang Khaliq. FirmanNya dalam surat Ali Imran ayat 190-191 yang artinya;
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (190) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan
sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka".34
Ternyata, bukan hanya ilmu
pengetahuan alam yang luput dari perhatian al-Qabisi, sepertinya dia juga tidak pernah membahas tentang pendidikan jasmani dalam kurikulumnya. Ini terbukti dengan tidak pernah disinggung-singgung dalam kitabnya mengenai konsep, materi, dan manfaat pendidikan ini. Padahal untuk melatih kemampuan psikomotorik anak, agar mereka tidak hanya sehat rohani dan akalnya, tetapi juga sehat jasmaninya, dibutuhkan pendidikan yang mengarahkan anak-anak untuk melatih keterampilan jasmaninya. Keseimbangan antara kesehatan rohani dan jasmani merupakan anjuran ajaran Islam yang sebenarnya tidak mungkin dipungkiri, sebagaimana seperti istilah kesehatan yang sering dikumandangkan oleh pemerhati kesehatan “al-‘Aql as-Salim fi
al-Jismi as-Salim”(akal yang sehat terdapat
pada tubuh yang sehat).
Keseimbangan antara keluasan ilmu dan keperkasaan tubuh adalah dua anugerah yang harus diperhatikan dan dipelihara, tidak boleh pincang atau berat sebelah. Karena pada dasarnya, keselarasan antar berbagai jenis materi pelajaran akan menentukan kualitas kompetensi out put
yang diproduk oleh sebuah kurikulum. Hal yang menarik adalah kritik Ali al-Jumbulati tentang kurikulum al-Qabisi yang meniscayakan aspek kejiwaan anak, padahal memperhatikan segi kejiwaan anak berarti juga memperhatikan kecenderungan anak dan tingkat-tingkat perkembangannya. Hal ini menurutnya sudah sesuai dengan
konsepsi pendidikan modern yang
menghargai kecenderungan dan dorongan-doronngan psikologi anak didik.35
Penulis melihat bahwa pendapat tersebut ada benarnya, yakni, al-Qabisi tidak secara konkrit mengekspresikan pendidikan ilmu jiwa dalam kurikulumnya. Namun, bila dicermati lebih dalam, al-Qabisi sebenarnya juga sangat memperhatikan aspek-aspek kejiwaan anak. Kenyataan ini terlihat dari
anjurannya dalam mendidik anak,
hendaknya memperhatikan kesesuaian
antara materi dengan tingkat usia anak. Lebih jelas lagi, materi al-Qur’an yang
diajarkan kepada anak-anak harus
disesuaikan dengan kemampuan anak dalam menghafal. Anak yang lemah hafalannya tidak boleh dipaksa harus sama dengan anak yang kuat hafalannya,36 bahkan anak-anak yang lemah kemampuan hafalannya tak disatukan kelompoknya dengan anak-anak
yang kuat hafalannya. Ini semua
membuktikan bahwa penafian aspek
kejiwaan dalam kurikulum pendidikan anak versi al-Qabisi sebagaimana diungkapkan oleh al-Jumbulati tidaklah beralasan.
Perilaku ketelitian al-Qabisi dalam memilih bahan-bahan pelajaran sesuai dengan kapasitas intelektual dan kesiapan anak dalam menerimanya adalah bukti bahwa dia secara implisit sangat telaten dan hati-hati dalam memberlakukan kurikulum. Hal ini selaras dengan prinsip pendidikan
yang dipegang oleh al-Qabisi yang
bermazhab ahli sunnah, bahwa kurikulum harus sesuai dengan kondisi anak, sehingga nantinya akan memudahkan pencapaian
tujuan yang dicita-citakan, yakni
mengembangkan kekuatan akhlak anak, menumbuhkan rasa cinta agama, berpegang
teguh kepada ajaran-ajarannya, serta
berperilaku sesuai dengan nilai-nilai agama yang murni.37
Selain hal tersebut di atas, al-Qabisi
menghendaki agar pendidikan dan
pengajaran haruslah dapat menumbuh-kembangkan pribadi anak sesuai dengan nilai-nilai Islam yang benar. Menyikapi hal ini, implementasi kurikulum yang sesuai dengan kemampuan anak-anak dari masa ke masa sangat menentukan keberhasilan pendidikan saat itu. Kurikulum tersebut tak lain adalah terdiri dari kurikulum wajib dan
kurikulum pilihan. Setelah anak-anak
menguasai kurikulum dimakud dan
menyelesaikan studinya, anak-anak akan dibekali dengan keterampilan bekerja agar mereka mampu membiayai hidupnya.
Sekilas, kurikulum yang dirilis oleh al-Qabisi terkesan sangat sederhana dan bukan sesuatu yang spektakuler. Namun, bila dicermati lebih tajam dan mendalam ternyata di sana tersimpan satu kekuatan nilai yang dikemas rapi dalam sebuah gugusan kurikulum. Kekuatan tersebut berupa nilai-nilai etis yang mengacu kepada menumbuhkembangkan nilai-nilai kebaikan dalam perilaku anak sebagai generasi Islam masa depan agar bisa menjadi matang dan cerdas.
Pendidikan etis yang dibangun dalam kurikulum ini bukan hanya terinspirasi dari
pengalaman otentik al-Qabisi dalam
penjelajahan intelektualnya di masa muda, seperti perkenalannya dengan semangat pendidikan Abu al-Abbas al-Abyani atau
peran intelektual Ibn Sahnun yang
dicurahkan lewat mega karyanya Risalah
Adab al-Mu’allimin (meskipun al-Qabisi tidak
pernah bertemu secara fisik dengan tokoh ini karena berlainan masa hidup) dan tokoh-tokoh ulama lainnya yang menjadi significant
persons bagi al-Qabisi, tetapi juga
pengalamannya sebagai pimpinan lembaga pendidikan Malikiyah yang cukup bonafit dan terkenal kala itu menjadikan bobot kurikulum yang diramunya sangat kental dengan nilai-nilai ilahiyah.
Inti utama kurikulum tersebut adalah pengintegralisasian pengembangan kekuatan akhlak anak, menumbuhkan rasa cinta agama, berpegang teguh kepada ajaran-ajaran-Nya serta berperilaku sesuai dengan nilai-nilai agama yang murni. Hal ini tergambar jelas dari materi-materi yang disuguhkan kepada peserta didik melalui pengklasifikasian materi kurikulum kepada kurikulum wajib (ijbari) dan kurikulum pilihan (ikhtiari).
Akhirnya, kearifan kurikulum yang dirakit oleh al-Qabisi tercernin pada semua perangkat mata pelajaran dimaksud untuk membentuk keperibadian muslim yang qur’ani dan akhlaqi (moralis) sesuai dengan karakteristik kurikulum yang diusungnya. Di sisi lain, al-Qabisi sepertinya menghendaki potensialitas dan aktualitas perkembangan
ilmu pengetahuan anak berjalan sejajar dan seirama dengan perkembangan akhlaknya. Dengan demikian, out-put yang dihasilkan oleh kurikulum ini dapat berkiprah dalam kehidupan kesehariannya sesuai dengan tuntunan agama.
Daftar Pustaka
al-Ahwani, Ahmad Fuad, at Tarbiyah fi
al-Islam, Cairo: Dar al Ma’arif, 1980.
al-Dibagh, Abdurrahman Muhammad,
Ma’alim Iman fi Ma’rifati Ahli
al-Qairawani, Kairo: Maktabah al-Khanji,
1968.
al-Hambali, Ibn ‘Imad, Syajarat az-Zahab,
Juz 2, Kairo: Dar Kutub al-Mishriyah, t.t.
al-Na’miy, Abdullah al-Amin, Kaedah dan Teknik Pengajaran menurut Ibn Khaldun
dan al-Qabisi, terj. Mohm. Ramzi
Omar, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia, 1994.
al-Qabisi, Abu al-Hasan Ali, ar-Risalah al-Mufa¡¡ilah li ahwali al-Muta’allimin wa Ahkam al-Mu’allimin wa al-Muta’allimin,
ed. Ahmad Khalid, Tunisia: Asy-Syirkah at-Tunisiyah li at-Tauzi, 1986. Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam, Tradisi
dan Modernisasi Menuju Milenium Baru,
cet. 3, Jakarta: Kalimah, 2001.
Daud, Wan Mohd Nor Wan, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M.
Naquib al Attas, terj. Hamid Fahmi, et.
al., Bandung: Mizan, 2003.
Daulay, Haidar Putra, Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia,
Jakarta: Prenada Media, 2004.
Dawam, Ainurrofiq, “Pendidikan Nilai Dalam Islam” dalam Suara Cendekia,
Ibn Hambal, Imam Ahmad, Musnad al-Imam
Ahmad bin Hambal, Juz 3., Bairut:
Maktabah al-Islami, t.t.
‘Iyadh, al-Qadhi, Tartibul al-Madarik wa at-Taqrib al-Masalik li-Ma’rifati A’lami
mahabi Malik, ed. Ahmad Bakir
Mahmud, Libya: Maktabah al-Fikr, t.t. Mulyasa, E., Kurikulum Berbasis Kompetensi,
Konsep, Karakteristik dan Implementasi,
cet. 7, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005.
Mursi, Muhammad Munir, at-Tarbiyah al-Islamiyah Ushuluha wa Tathawwuruha fi
al-Bilad al-‘Arab, Kairo: ‘Alam
al-Kitab, 1982.
Nata, Abuddin, Pemikiran Para Tokoh
Pendidikan Islam; Seri Kajian Filsafat
Pendidikan Islam, Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2001.
Saleh, Abdurrahman, Penddikan Agama dan Keagamaan: visi, misi dan aksi, Jakarta: Gemawindu Panca Perkasa, 2001. Siddik, Dja’far, Konsep Dasar Ilmu Pendidikan
Islam, Bandung: Citapustaka Media,
2006.
Suparyo, Yossi, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang
Sistem Pendidikan Nasiona, cet. I,
Yogjakarta: Media Abadi, 2005.
Winkel, W.S., Psikologi Pengajaran, Jakarta: Grasindo, 1996.
* Jurusan Tarbiyah STAIN Malikussaleh Lhokseumawe.
1Yossi Suparyo, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan
Nasional, cet. 1, (Yogjakarta: Media Abadi, 2005), p. 6.
2
W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran (Jakarta: Grasindo, 1996), p. 24.
3
Ainurrofiq Dawam, “Pendidikan Nilai dalam Islam” dalam Suara Cendekia (Agustus, 2005), p. 6.
4
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, cet. 3, (Jakarta: Kalimah, 2001), p. 3.
5
Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al Attas, terj. Hamid Fahmi, et al. (Bandung: Mizan, 2003), p. 255.
6Ahmad Fuad al Ahwani, at-Tarbiyah fi al-Islam, (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1980), p. 168
7Dja’far Siddik, Konsep Dasar Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Citapustaka Media, 2006), p. 23. 8
Ibid., p. 25.
9
Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia, (Jakarta: Prenada Media, 2004), p. 94.
10
Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam; Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), p. 26.
11Abu al-Hasan ‘Ali al-Qabisi, ar-Risalah al-Mufassilah li-Ahwal al Muta’allimin wa-Ahkam al-Mu’allimin wa
al Muta’allimin, ed. Ahmad Khalid (Tunis: Syirkah Tunisiah li-Tauzi, 1986), p. 128. lihat juga Ali al-Jumbulati dan Abdul Futuh al Tuwanisi, Perbandingan Pendidikan Islam, terj. M. Arifin, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), p. 81.
12
Ibn ‘Imad al-Hambali, Syazarat az-Zahab, Juz 2, (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyah, t.t.), p. 188.
13
Abdurrahman Muhammad ad-Dibagh, Ma’alim al-Iman fi al-Ma’rifati Ahli al-Qairawani, (Kairo: Maktabah al-Khanji, 1968), p. 158.
14
al-Ahwani, at-Tarbiyahi…, p. 25.
15Abdullah al-Amin al-Na’miy, Kaedah dan Teknik Pengajaran menurut Ibn Khaldn dan al-Qabisi, terj.
Mohd. Ramzi Omar, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia, 1994), pp. 177-178.
16
ad-Dibagh, Ma’alim al-Iman..., p.176. lihat juga al-Ahwani, at-Tarbiyah…, pp. 32-33. lihat juga al-Jumbulati, Perbandinagn Pendidikan…, p. 76.
17
Muhammad Munir Mursi, at-Tarbiyah al-Islamiyah; Ushuluha wa Tathawwuruha fi al-Bilad al-‘Arab, (Kairo: ‘Alam al-Kitab, 1982), p. 121.
18Q.S. al-Isra’/17: 9. 19
Q.S. Fathir/35: 29-30.
20
Imam Ahmad ibn Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, Juz 3, (Bairut: Maktabah al-Islami, t.t.), p. 404.
21
al-Qabisi, ar-Risalah al-Mufassilah…, p. 112.
22 Ibid., p. 110. 23Ibid., p. 175. 24Ibid., pp. 98-99. 25Ibid., p. 113. 26 Ibid., p. 118. 27
al-Jumbulati, Perbandingan Pendidikan…, p. 83.
28
Ibid., p. 91.
29
al-Qabisi, ar-Risalah al-Mufassilah…, p. 113.
30
Ibid., pp. 115 - 116.
31 al-Jumbulati, Perbandingan Pendidikan…, p. 151. 32 al-Qabisi, ar-Risalah al-Mufassilah…, p. 112. 33Ibid., p. 115.
34
Q.S. Ali Imran/3: 190-191.
35
al-Jumbulati, Perbandingan Pendidikan…, p. 90.
36
al-Qabisi, ar-Risalah al-Mufassilah…, p. 147.
37
Hal ini bila dibandingkan dengan pandangan pakar pendidikan zaman modern, barangkali tak jauh beda. Salah satunya misalnya apa menjadi acuan kurikulum pendidikan di negara kita sekarang, yaitu kurikulum berbasis kompetensi. Prinsip kurikulum berbasis kompetensi yang sering dikumandangkan oleh tokoh-tokoh pendidikan Indonesia, bahkan sudah menjadi icon pendidikan Indonesia dalam beberapa dasawarsa adalah antara lain, (1) keimanan, nilai dan budi pekerti luhur; (2) penguatan integritas nasional; (3) keseimbangan etika, logika, estetika dan kinestetika; (4) kesamaan memperoleh kesempatan; (5) abab pengetahuan dan teknologi informasi; (6) pengembangan keterampilan hidup; (7) belajar sepanjang hayat; (8) berpusat pada anak dengan penilaian yang berkelanjutan dan komprehensif; dan (9) pendekatan menyeluruh dan kemitraan. Selanjutnya baca, E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik dan Implementasi, cet. 7, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), p. 70.