• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KETERPADUAN STRATEGIS PENGEMBANGAN KABUPATEN/KOTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V KETERPADUAN STRATEGIS PENGEMBANGAN KABUPATEN/KOTA"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Bab V - 114 BAB V

KETERPADUAN STRATEGIS PENGEMBANGAN KABUPATEN/KOTA

Bab 5 RPI2-JM Bidang Cipta Karya berisikan keterpaduan strategi pengembangan kabupaten/kota berdasarkan arahan kebijakan Daerah yang ada, antara lain arahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung, Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RI-SPAM), Arahan Strategi Sanitasi Kota (SSK), Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL), Rencana Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman (RP2KP) Kabupaten/Kota, serta Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan diKawasan Strategis Kabupaten/Kota (RTBL KSK).

5.1 Arahan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota

Berdasarkan amanat Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, kabupaten/kota wajib menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota yang ditetapkan oleh Peraturan Daerah Kabupaten/kota. Dalam penyusunan RPI2-JM Bidang Cipta Karya, beberapa yang perlu diperhatikan dari RTRW Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut:

a. Penetapan Kawasan Strategis Kabupaten/Kota (KSK) yang didasari sudut kepentingan:

i. Pertahanan keamanan ii. Ekonomi

iii. Lingkungan hidup iv. Sosial budaya

v. Pendayagunaan sumberdaya alam atau teknologi tinggi

b. Arahan pengembangan pola ruang dan struktur ruang yang mencakup: i. Arahan pengembangan pola ruang:

a) Arahan pengembangan kawasan lindung dan budidaya

b) Arahan pengembangan pola ruang terkait bidang Cipta Karya seperti pengembangan RTH.

(2)

Bab V - 115

ii. Arahan pengembangan struktur ruang terkait keciptakaryaan seperti

pengembangan prasarana sarana air minum, air limbah, persampahan, drainase, RTH, Rusunawa, maupun Agropolitan.

a. Ketentuan zonasi bagi pembangunan prasarana sarana bidang Cipta Karya yang harus diperhatikan mencakup ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan lindung, kawasan budidaya, sistem perkotaan, dan jaringan prasarana.

b. Indikasi program sebagai operasionalisasi rencana pola ruang dan struktur ruang khususnya untuk bidang Cipta Karya.

Kawasan Strategis Kabupaten/Kota (KSK) diperlukan sebagai dasar pembangunan infrastruktur Bidang Cipta Karya. Pada pembangunan infrastruktur skala kawasan, pembangunan infrastruktur Bidang Cipta Karya diarahkan pada lokasi KSK, dan diharapkan keterpaduan pembangunan dapat terwujud. Tabel 5.1 memaparkan identifikasi arahan RTRW Kabupaten/Kota untuk Bidang Cipta Karya, Tabel 5.2 memaparkan identifikasi Kawasan Strategis Kabupaten/Kota (KSK), serta Tabel 5.3 memaparkan identifikasi indikasi program khusus untuk Bidang Cipta Karya. Jika RTRW di kabupaten/kota belum disahkan, maka

Tabel 5.1 Arahan RTRW Kabupaten/Kota untuk Bidang Cipta Karya

ARAHAN POLA RUANG ARAHAN STRUKTUR RUANG

(1) (2)

KABUPATEN SIGI 1. Kawasan Lindung :

- Hutan Lindung

- Kws. Perlindungan Setempat

 Sempadan Sungai Gumbasa, Sungai Lariang dan Sungai Miu

 Kws. Sekitar Danau Lindu

- Kws. Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya

 Taman Nasional Lore Lindu  Taman Wisata Alam

 Kawasan Cagar Budaya (Permukiman Tradisional)

- Kws. Rawan Bencana Alam  Kws. Rawan Tanah Longsor  Kws. Rawan Banjir

 Kws. Rawan Gempa

1. Rencana Pengembangan Sistem Perkotaan

- PKL - PKLp - PPK - PPL

2. Sistem Jaringan Prasarana Utama

- Sistem Transportasi Darat

3. Sistem Jaringan Prasarana Lainnya

- Sistem Jaringan Energi

- Sistem Jaringan Prasarana Sumber Daya Air - Sistem Jaringan Prasarana Telekomunikasi - Sistem Jaringan Prasarana Pengelolaan

(3)

Bab V - 116

2. Kawasan Budidaya :

- Kws. Peruntukan Hutan Produksi  Peruntukan Hutan Produksi Terbatas  Peruntukan Hutan Produksi Tetap - Kws. Peruntukan Pertanian

 Peruntukan Pertanian Tanaman Pangan  Peruntukan Pertanian Hortikultura  Peruntukan Perkebunan

 Peruntukan Perikanan Darat  Peruntukan Tanaman Palawija  Peruntukan Peternakan

- Kws. Peruntukan Pertambangan  Kws. Pertambangan Mineral Logam  Kws. Pertambangan Panas Bumi - Kws. Peruntukan Pariwisata

 Pengembangan Kawasan Wisata Alam  Pengembangan Kawasan Wisata Budaya  Pengembangan Kawasan Wisata Agro  Pengembangan Kawasan Wisata Kuliner  Pengembangan Kawasan Wisata Olahraga  Pengembangan Kawasan Wisata Edukasi - Kws. Peruntukan Permukiman

 Peruntukan Permukiman Perkotaan  Peruntukan Permukiman Perdesaan - Kws. Peruntukan Pertahanan dan

Keamanan

(4)

Bab V - 117 Tabel 5.2 Identifikasi Kawasan Strategis Kabupaten/Kota (KSK) berdasarkan RTRW

KAWASAN STRATEGIS KAB/KOTA SUDUT KEPENTINGAN LOKASI/BATAS KAWASAN

(1) (2) (3)

KAB. SIGI

1. KWS. STRATEGIS PROVINSI

2. KWS. STRATEGIS DARI ASPEK EKONOMI

- Kws. Agropolitan

- Kws. Pertambangan

- Kws. Perkotaan Bora

- Kws. Perkotaan Mpanau-Kalukubula dan

Tinggede-Baliase

- Kws. Perkotaan Kulawi

KWS. STRATEGIS PROVINSI

EKONOMI

- Kws. Strategis Provinsi adalah kawasan strategis

yang memiliki nilai strategis dari aspek ekonomi terdiri dari Kws. Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) PALAPAS (Palu-Donggala-Parigi Moutong-Sigi) dan Kws. Agrotourism Palolo.

- Kec. Sigi Biromaru, Kec. Palolo, Kec. Kulawi, Kec.

Pipikoro, Kec. Dolo, Kec. Dolo Barat dan Kec. Dolo Selatan;

- Kec. Sigi Biromaru untuk pertambangan mineral

logam serta Kec. Dolo dan Kec. Gumbasa, Kec. Tanambulava dan Kec. Sigi Biromaru untuk potensi pertambangan mineral non logam yaitu panas bumi

- Kws. Perkotaan Bora sebagai pusat pemerintahan

Kabupaten Sigi memiliki peran strategis dalam rangka pelayanan umum dan pemerintahan bagi masyarakat Kabupaten Sigi

- Kws. Perkotaan Mpanau-Kalukubula dan

(5)

Bab V - 118

3. KWS. STRATEGIS ASPEK SOSIAL BUDAYA

- Kws. Religi

- Kws. Cagar Budaya

4. KWS. STRATEGIS ASPEK LINGKUNGAN

HIDUP

- Kws. Hutan Lindung

- DAS Palu

- Kws. Pesisir Teluk Palu

- Taman Hutan Raya

SOSIAL BUDAYA

LINGKUNGAN HIDUP

Kab. Sigi yang berperan dalam menunjang aktivitas perdagangan dan jasa skala regional.

- Kws. Perkotaan Kulawi memiliki peran strategis

dalam rangka mengurangi kesenjangan antara Kws. Utara Kab. Sigi dengan Kws. Selatan Kab. Sigi

- Kws. yang masih memiliki desa tradisional yaitu

tersebar di seluruh wilayah kecamatan : Kulawi, Kulawi Selatan, Pipikoro, dan Lindu.

- Taman Nasional Lore Lindu, yang memiliki

kekayaan dan keunikan sumber daya alam hayati, taman nasional ini juga memiliki kumpulan batuan megalitik yang bagus

- WS Palu Lariang yang memegang peran ekologis

yang sangat penting dalam rangka pengelolaan sumber daya air di Prov. Sulawesi Tengah bagian utara.

- Kawasan Enclave di sekitar Danau Lindu, memiliki

nilai strategis karena letaknya yang berdekatan dengan Danau Lindu dan merupakan daerah enclave

(6)

Bab V - 119 Tabel 5.3 Identifikasi Indikasi Program RTRW Kabupaten/Kota terkait Pembangunan Infrastruktur Bidang Cipta Karya

NO USULAN PROGRAM UTAMA LOKASI

MERUPAKAN KSK (YA/TIDAK) SUMBER PENDANAAN INSTANSI PELAKSANA 1 2 3 4 5 6 I Sektor BANGKIM

1 Penataan Kawasan Kumuh Kec. Sigibiromaru Ya APBN/APBDI/APBDII Dinas PU &

Perumahan 2 Penataan Kawasan Agropolitan

Kwsn Kulawi Ya

APBN/APBDI/APBDII Dinas PU &

Pertanian

Kwsn Palolo Ya

Kwsn Dolo Ya

II Sektor PBL

1 Revitalisasi Kawasan Kota Bora Ya APBN/APBDI/APBDII Dinas PU &

Perumahan

Danau Lindu Ya

2 Penataan RTH Kota Bora Ya APBN/APBDI/APBDII Dinas Perumahan

3 Penangan Bahaya Kebakaran Sigibiromaru Ya APBN/APBDI/APBDII Dinas PU

III Sektor PLP

(7)

Bab V - 120

2 Penanganan Air Limbah Kota Bora Ya APBN/APBDI/APBDII Dinas PU

3 Penanganan Drainase Kota Bora Ya APBN/APBDI/APBDII Dinas PU

IV Sektor Air Minum

2 Penyediaan SPAM IKK Semua IKK Ya APBN/APBDI/APBDII Dinas PU

3 Penyediaan SPAM Perdesaan Semua Desa Ya APBN/APBDI/APBDII Dinas PU

(8)

Bab V - 121 5.2 Arahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) disusun berdasarkan Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Dalam undang-undang tersebut, RPJM Daerah dinyatakan sebagai penjabaran dari visi, misi, dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional, memuat arah kebijakan keuangan Daerah, strategi pembangunan Daerah, kebijakan umum, dan program Satuan Kerja Perangkat Daerah, lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah, dan program kewilayahan disertai dengan rencana- rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif.

Penyusunan RPI2-JM tentu perlu mengacu pada rencana pembangunan daerah yang tertuang dalam RPJMD agar pembangunan sektor Cipta Karya dapat terpadu dengan pembangunan bidang lainnya. Oleh karena itu, ringkasan dari RPJMD perlu dikutip dalam RPI2-JM CK.

5.3 Arahan Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung

Penyusunan Perda Bangunan Gedung diamanatkan pada Peraturan Pemerintah No. 36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, yang menyatakan bahwa pengaturan dilakukan oleh pemerintah daerah dengan penyusunan Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan kondisi kabupaten/kota setempat serta penyebarluasan peraturan perundang-undangan, pedoman, petunjuk, dan standar teknis bangunan gedung dan operasionalisasinya di masyarakat. Perda Bangunan Gedung mengatur tentang persyaratan administrasi dan teknis bangunan gedung. Salah satunya mengatur persyaratan keandalan gedung, seperti keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan. Persyaratan ini wajib dipenuhi untuk memberikan perlindungan rasa aman bagi pengguna bangunan gedung dalam melakukan aktifitas di dalamnya dan sebagai landasan operasionalisasi penyelenggaraan bangunan gedung di daerah. Utamanya untuk daerah rawan bencana, Perda Bangunan Gedung sangat penting sebagai payung hukum di daerah dalam menjamin keamanan dan keselamatan bagi pengguna. Ketersediaan Perda BG bagi

(9)

Bab V - 122 kabupaten/kota merupakan salah satu prasyarat dalam prioritas pembangunan bidang Cipta Karya di kabupaten/kota.yang berisikan :

i. Ketentuan Fungsi Bangunan Gedung

ii. Peryaratan Bangunan Gedung

iii. Penyelenggaraan bangunan Gedung

iv. Peren masyarakat dan Pembinaan dalam penyelenggaraan bangunan gedung

5.4 Arahan Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RI- SPAM)

Berdasarkan Permen PU No. 18 Tahun 2007, Rencana Induk Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum adalah suatu rencana jangka panjang (15-20 tahun) yang merupakan bagian atau tahap awal dari perencanaan air minum jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan berdasarkan proyeksi kebutuhan air minum pada satu periode yang dibagi dalam beberapa tahapan dan memuat komponen utama sistem beserta dimensi-dimensinya. RI-SPAM dapat berupa RI- SPAM dalam satu wilayah administrasi maupun lintas kabupaten/kota/provinsi. Penyusunan rencana induk pengembangan SPAM memperhatikan aspek keterpaduan dengan prasarana dan sarana sanitasi sejak dari sumber air hingga unit pelayanan dalamrangka perlindungan dan pelestarian air. Yang berisikan :

i. Rencana Sistem Pelayanaan

ii. Rencana Pengembangan SPAM

iii. Rencana Penurunan Kebocoran Air Minum

5.5 Arahan Strategi Sanitasi Kota (SSK)

Strategi Sanitasi Kota adalah dokumen rencana strategis berjangka menengah yang disusun untuk percepatan pembangunan sektor sanitasi suatu Kota/Kabupaten, yang berisi potret kondisi sanitasi kota saat ini, rencana strategi dan rencana tindak pembangunan sanitasi jangka menengah. SSK disusun oleh Pokja Sanitasi Kabupaten/Kota didukung fasilitasi dari pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Dalam menyusun SSK, Pokja Sanitasi Kabupaten/Kota berpedoman pada prinsip:

a. Berdasarkan data aktual (Buku Putih Sanitasi);

(10)

Bab V - 123 c. Disusun sendiri oleh kota dan untuk kota; dan

d. Menggabungkan pendekatan ‘top down’ dengan ‘bottom up’. Dalam arahan penyusunsn dokumen RPI2JM sub bab SSK berisikan :

i. Kerangka Pembangunan Sanitasi

ii. Tujuan, sasaran, dan strategi sektor sanitasi meliputi a). Sub sektor Air Limbah Domestik

b). Sub sektor Persampahan c). Sub sektor Drainase Perkotaan

d). Aspek higiene/ Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ( PHBS )

5.6 Arahan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL)

Berdasarkan Permen PU No. 6 Tahun 2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan, RTBL didefinisikan sebagai panduan rancang bangun suatu lingkungan/kawasan yang dimaksudkan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang, penataan bangunan dan lingkungan, serta memuat materi pokok ketentuan program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan pengendalian rencana, dan pedoman pengendalian pelaksanaan pengembangan lingkungan/kawasan. Dalam subbab Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan berisikan :

i. Program Bangunan dan Lingkungan

ii. Rencana Umum dan Panduan Rancangan iii. Rencana Investasi

5.7 Arahan Rencana Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman (RP2KP)

Rencana Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman merupakan suatu dokumen strategi operasional dalam pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan yang sinergi dengan arah pengembangan kota, sehingga dapat menjadi acuan yang jelas bagi penerapan program-program pembangunan infrastruktur Cipta Karya. RP2KP memuat

(11)

Bab V - 124 arahan kebijakan dan strategi pembangunan infrastruktur permukiman makro pada skala kabupaten/kota yang berbasis pada rencana tata ruang (RTRW) dan rencana pembangunan (RPJMD). RP2KP memiliki beberapa fungsi, yaitu:

a. sebagai acuan bagi implementasi program-program pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan, sehingga dapat terintegrasi dengan program-program pembangunan lainnya yang telah ada;

b. Sebagai dokumen induk dari semua dokumen perencanaan program sektoral bidang Cipta Karya di daerah;

c. Sebagai salah satu acuan bagi penyusunan RPI2-JM;

d. Sebagai sarana untuk integrasi semua kebijakan, strategi, rencana pembangunan dan pengembangan kawasan permukiman yang tertuang di berbagai dokumen; dan

e. Sebagai dokumen acuan bagi penyusunan kebijakan yang terkait dengan pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan.

Dalam Subbab Rencana Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman ( RP2KP ) bersisi:

i. Visi dan Misi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan ii. Rencana Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman iii. Penetapan Kawasan Permukiman

5.8 Arahan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan di Kawasan Strategis Kabupaten/Kota (RTBL KSK)

Dari RP2KP yang telah disusun kemudian diturunkan ke dalam suatu rencana operasional berupa Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan di Kawasan Strategis Kabupaten/Kota (RTBL KSK), dimana keduanya tetap mengacu pada strategi pengembangan kota yang sudah ada. RTBL KSK merupakan rencana aksi program strategis untuk penanganan permasalahan permukiman dan pembangunan infrastruktur bidang Cipta Karya pada kawasan prioritas di perkotaan. Dalam konteks pengembangan kota, RTBL KSK merupakan rencana terpadu bidang permukiman dan infrastuktur bidang Cipta Karya pada lingkup wilayah perencanaan

(12)

Bab V - 125 berupa kawasan dengan kedalaman rencana teknis yang dituangkan dalam peta 1:5000 atau 1:1000. RTBL KSK disamping berfungsi sebagai alat operasionalisasi dalam penanganan kawasan permukiman prioritas juga berfungsi sebagai masukan dalam penyusunan RPI2-JM. Oleh karena itu, dalam hal ini RPI2-JM perlu mengutip matriks rencana aksi program serta peta pengembangan kawasan dalam RTBL KSK yang didetailkan pada program tahunan. Tabel 5.4 memaparkan Matriks Strategi Pembangunan Kawasan Prioritas Berdasarkan RTBL KSK, sebagai masukan bagi penyusunan RPI2-JM Bidang Cipta Karya, khususnya dalam rangka analisis pengembangan Kawasan Strategis Kabupaten/Kota (KSK).

Tabel 5.4 Matriks Strategi Pembangunan Kawasan Prioritas Berdasarkan RTBL KSK

DOKUMEN RENCANA KAWASAN DELINIASI KAWASAN PRIORITAS STRATEGI PEMBANGUNAN KAWASAN PRIORITAS INDIKASI PROGRAM (1) (2) (3) (4) RTBL Kwsn Danau Lindu Kepulauan Togean Penataan Kawasan Wisata Pulau Togean

Penataan Akses Jalan, Sarana Sanitasi & Air Minum

RTBL RTH Kota Bora Penataan RTH Pembangunan RTH

RTBL Kota Bora Kota Bora Revitalisasi Kawasan Penataan Akses Jalan,

Sarana Sanitasi & Air Minum

(13)

Bab V - 126 5.9 Integrasi Strategi Pembangunan Kabupaten/Kota dan Sektor

Berdasarkan dokumen rencana yang telah dijabarkan sebelumnya, maka dapat disusun matriks strategi pembangunan pada skala kabupaten/kota yang meliputi:

a. RTRW Kabupaten/Kota sebagai acuan arahan spasial; b. RI-SPAM sebagai arahan pengembangan air minum; c. SSK sebagai arahan pengembangan sektor sanitasi;

d. RP2KP sebagai acuan arahan pengembangan permukiman; e. Rencana lainnya.

(14)

Bab V - 127 Tabel 5.5 Matriks Identifikasi Rencana Pembangunan Bidang Cipta Karya Kabupaten Sigi

NO PRODUK RENCANA STATUS (ADA/TIDAK) *) ARAHAN PEMBANGUNAN PROGRAM/

KEGIATAN LOKASI SEKTOR

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

1.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/ Kota (RTRWK)

ADA Kawasan Strategis

Kabupaten/Kota (KSK)

Penataan Kawasan Perkotaan

Kota Bora AM/PLP/Bangkim/PBL

Penataan Kawasan Lindung

DanauLindu AM/PLP/Bangkim/PBL

Indikasi Program

Bidang Cipta Karya Sesuai Tabel 5.1

AM/PLP/Bangkim/PBL

2

Rencana Induk Sistem

Penyediaan Air Minum (RI-SPAM)

ADA SPAM Jaringan

Perpipaan (Unit Air Baku, Unit Produksi, Unit Distribusi, dan Unit Pelayanan) Penyediaan SPAM Semua wilayah Kabupaten AM

SPAM Bukan Jaringan Perpipaan Pembangunan Sumur Dalam Kec. Marawola AM

(15)

Bab V - 128

(SSK) Domestik

Sektor Persampahan Pemb TPA Kota Bora PLP

Sektor Drainase Lingkungan

pemb Drainase Kota Bora PLP

4

Rencana Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman (RP2KP)

ADA Kawasan Permukiman

Prioritas

Penangan Kwsn Kumuh

Kota Bora AM/PLP/Bangkim/PBL

5

Rencana Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Perdesaan

ADA Kawasan Agropolitan Pemb.

Infrastruktur Perdesaan

sesuai tabel 5.1

Gambar

Tabel 5.1 Arahan RTRW Kabupaten/Kota untuk Bidang Cipta Karya
Tabel 5.2 Identifikasi Kawasan Strategis Kabupaten/Kota (KSK) berdasarkan RTRW
Tabel 5.3 Identifikasi Indikasi Program RTRW Kabupaten/Kota terkait Pembangunan Infrastruktur Bidang Cipta Karya
Tabel 5.4 memaparkan Matriks Strategi Pembangunan Kawasan Prioritas Berdasarkan RTBL  KSK,  sebagai  masukan  bagi  penyusunan  RPI2-JM  Bidang  Cipta  Karya,  khususnya  dalam  rangka analisis pengembangan Kawasan Strategis Kabupaten/Kota (KSK)
+2

Referensi

Dokumen terkait

Apabila suporter Persebaya mengangap bahwa menjadi suporter haruslah nekat dan berani maka akan timbul perasaan senang terhadap perilaku agresi, sebaliknya apabila

Setelah dilakukannya penelitian, penulis memberikan saran kepada perusahaan agar melakukan pengembangan dokumen dan catatan akuntansi yang digunakan berupa dokumen daftar

DS18B20, sensor ini menghasilkan pulsa digital sebagai indikator, jadi output dari sensor ini sudah berbentuk digital, maka dari itu perlunya program khusus untuk

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui posisi bersaing usaha baglog Alas Jamur dibandingkan pesaing-pesaing utamanya, mengidentifikasi faktor internal dan eksternal

Sebuah tag RFID selangkah lebih maju dengan mengemisikan sebuah nomor seri unik di antara jutaan obyek yang identik, sehingga ia dapat mengindikasikan “Ini

besi cor yang mana membuat kualitas produk rendah karena adanya bagian permukaan dari molten metal yang meleleh menempel pada permukaan pipa.. rendah dan umur

Simpulan : Tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kadar kortisol pada kedua kelompok yang diberi obat analgetik ketorolak ataupun kelompok yang diberi

Berdasarkan hasil yang diperoleh dan analisis yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa Sistem otomasi penyalaan lampu ruang kuliah berbasis Atmega8535 dengan