• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAGIAN I : POKOK-POKOK KEBIJAKAN PENGANGGARAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAGIAN I : POKOK-POKOK KEBIJAKAN PENGANGGARAN"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

BAGIAN I :

POKOK-POKOK

KEBIJAKAN

PENGANGGARAN

Pokok-pokok PMK Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-K/L dan

Pengesahan DIPA

Pokok-pokok PMK Tata Cara Pengajuan Persetujuan Kontrak Tahun Jamak

Dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Kepada Menteri Keuangan

Pokok-pokok PMK Tata Cara Perencanaan, Penelaahan dan Penetapan

Alokasi Anggaran Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara dan

Pengesahan DIPA BUN

Pokok-pokok PMK Revisi Anggaran TA 2016

(2)

RINGKASAN

POKOK-POKOK KEBIJAKAN PENGANGGARAN

2

(3)

Pokok-pokok PMK Petunjuk Penyusunan dan

Penelaahan RKA-K/L

Pokok-pokok PMK Kontrak Tahun Jamak

Pokok-pokok PMK BA BUN

Pokok-pokok PMK Revisi Anggaran TA 2016

POKOK BAHASAN

(4)

PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN

(5)

Dalam rangka penyusunan APBN, Menteri/Pimpinan Lembaga menyusun RKA-KL

untuk K/L yang dipimpinnya.

RKA-K/L sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:

a. RKA-K/L Pagu Anggaran;

b. RKA-K/L Alokasi Anggaran; dan/atau

c. RKA-K/L APBN Perubahan.

Menteri/Pimpinan Lembaga bertanggung jawab secara formal dan material atas

RKA-K/L untuk K/L yang dipimpinnya sesuai dengan kewenangannya.

Pejabat eselon I atau pejabat lain yang memiliki alokasi anggaran (portofolio)

dan sebagai penanggung jawab program bertanggung jawab secara formal dan

material atas RKA-K/L unit eselon I yang disusunnya sesuai dengan

kewenangannya.

PENYUSUNAN RKA-K/L (1)

(6)

Disusun dengan mengacu pada pedoman umum RKA-K/L, yang meliputi:

Pendekatan sistem penganggaran terdiri atas:

1. kerangka pengeluaran jangka menengah;

2. penganggaran terpadu; dan

3. penganggaran berbasis kinerja.

Klasifikasi anggaran terdiri atas:

1. klasifikasi organisasi;

2. klasifikasi fungsi; dan

3. klasifikasi jenis belanja.

Instrumen RKA-K/L terdiri atas:

1. indikator kinerja;

2. standar biaya; dan

3. evaluasi kinerja.

PENYUSUNAN RKA-K/L (2)

Pasal 3

RKA-KL

(7)

Dalam rangka peningkatan kualitas penerapan penganggaran berbasis kinerja,

K/L melakukan penataan Arsitektur dan Informasi Kinerja (ADIK) dalam RKA-K/L.

Hasil penataan ADIK digunakan dalam penyusunan RKA-K/L.

PENYUSUNAN RKA-K/L (3)

Pasal 3

ADIK

RKA-KL

Pasal 4

Pedoman penataan Arsitektur dan Informasi Kinerja (ADIK) dalam RKA-K/L

tercantum dalam Lampiran II pmk 196/2015.

(8)

Struktur Anggaran Penerapan PBK :

Standardisasi Output

Standardisasi Komponen

ADIK digunakan

untuk memperbaiki

redaksi sasaran

kinerja

(output-outcome) dan

melihat hubungan

logis antara

input-output-oucome.

PENATAAN ADIK DILAKUKAN UNTUK MENINGKATKAN

PENERAPAN PENGANGGARAN BERBASIS KINERJA

(9)

PBK

Aplikasi RKA-K/L

Monev APBN

Aplikasi ADIK Standar Biaya. Indikator Kinerja Evaluasi • Pagu • Komponen • Sub-Komponen • Detil Belanja

Rp

??

Kinerja • Output Satker • Vol Output • Satuan Output

• Outcome & Output Fungsi (k/l)

• Outcome & Output Program (es 1) • Indikator

Outcome&Output • AKtivitas

PENATAAN ADIK DIJEMBATANI DENGAN APLIKASI ADIK

(10)

YOU/WE

INPUT AKTIVI-TAS OUTPUT

Mengubah kesadaran Bisa Sadar Paham Tahu Mengubah kebiasaan Status Biasa Mau Mengubah kondisi OUTCOME Sumber daya yang tersedia Produk akhir yang dihasilkan COSTUMER/ BENEFICIARY Proses yang dlakukan Level Strategis & Perspektif Eksternal Perspektif Eksternal

Konsep dasar Logic Model (LM) digunakan untuk melihat benang

merah:

keterkaitan antara

input-output-outcome

keterkaitan

kinerja

antar level unit organisasi

Segala sesuatu pasti mempunyai fungsi

Yang mempunyai fungsi pasti mempunyai pasangan Hubungan pasangan

tersebut membentuk pola standar (universal) sebagai “hubungan sebab-akibat”

LM

KONSEP LOGIC MODEL DALAM PENATAAN ADIK

(11)

Sasaran Pembangunan Nasional (Impact) Sasaran Strategis (Outcome/Impact) Sasaran Program (Outcome) Sasaran Kegiatan (Output) Proses/Aktivitas (Activity) Input NASIONAL KEMENTERIAN/ LEMBAGA (K/L) UNIT ESELON I UNIT ESELON II/ SATKER Input Aktivitas Input Aktivitas Indikator Indikator Indikator Indikator Indikator Output

Output Sasaran Program (Outcome)

Input Aktivitas Output (Outcome/ImpactSasaran Strategis)

RENSTRA-RENJA K/L PENATAAN ADIK PADA RKA-K/L

Keterangan:

Informasi kinerja dan indikator kinerja dalam

penataan ADIK

konsisten

dengan Renstra/Renja K/L

yang disusun dengan pendekatan Logic Model.

PENATAAN ADIK DALAM PROSES PERENCANAAN

DAN PENGANGGARAN

(12)

FORM 1

Sasaran Strategis (=outcome K/L) Indikator Outcome K/L Output K/L Indikator Output K/L Aktivitas Input FORM 2

Sasaran Program (=outcome Es I) Indikator Outcome Es I Output Es I Indikator Output Es I Aktivitas Input FORM 3 Sasaran Kegiatan (=output Satker) Indikator Output Aktivitas Input FUNGSI K/L PROGRAM ES I KEGIATAN ES II/ SATKER KEGIATAN ES II/ SATKER

PROGRAM ES I KEGIATAN ES II/ SATKER

BENANG MERAH OUTPUT K/L – UNIT ESELON I –

UNIT ESELON II

(13)

Aplikasi ADIK Puslay/Anggaran I, II, III

http://rkakldipa.anggaran.depkeu.go.id Aplikasi RKAKL

Outut - Sub Output Komponen Output-SubOutput Komponen

Reviu

ADIK

INTEGRASI APLIKASI ADIK DAN APLIKASI RKA-K/L

(14)

K/L Pusat Layanan

Dit. AI/AII/AIII Dit. SP

Menyerahkan Hasil Penataan rumusan Kinerja ADIK yang dilampiri: 1. Surat usulan hasil penataan ADIK; 2. ADK ADIK; 3. Hasil Cetakan ADK ADIK. Mulai Menerima data dan surat usulan

Upload data ke DSW Melakukan Penelitian Lengkap ? Memperbaiki/ melengkapi dokumen Melakukan Penelaahan Tidak Telah sesuai? Tidak Update referensi RKA-K/L dan SPAN Publish Instaler Aplikasi RKA-K/L Menerima surat dan memberi arahan

Nota dinas usulan perubahan referensi RKA-K/L dan permintaan instaler aplikasi RKA-K/L yang

dilampiri “Daftar Sandingan Data Output” yang telah ditandatangani Selesai Ya 1 Lengkap? Ya Tidak 2 4 Ya Memperbaiki rumusan kinerja ADIK 3 9 8 7 6 5 10 11 *Mekanisme detil terdapat dalam referensi penelitian dan penelaahan hasil penataan ADIK K/L

*) Sesuai dengan Pedirjen No. 3/2015

MEKANISME PELAKSANAAN PENELITIAN DAN

PENELAAHAN HASIL PENATAAN ADIK K/L *)

(15)

Dalam rangka penerapan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah, K/L

menyampaikan RKA-K/L disertai dengan penyampaian prakiraan maju.

Prakiraan maju sebagaimana dimaksud pada ayat (4) harus dimutakhirkan oleh

K/L sesuai dengan substansi RKA-K/L yang disampaikan.

Pedoman perhitungan prakiraan maju tercantum dalam Lampiran III

PMK 196/2015

Pasal 3

Pasal 4

KPJM 196

PENYUSUNAN RKA-K/L (4)

15

(16)

Perubahan Target Layanan dan Harga Layanan

Perubahan Target Layanan

Prakiraan Maju Awal Baseline Penyesuaian Baseline

TATA CARA PENGHITUNGAN PRAKIRAAN MAJU

(17)

PENYESUAIAN Baseline

Perubahan Target Layanan dan Harga Layanan Perubahan Target Layanan

(18)

(6) Prakiraan maju yang telah dimutakhirkan oleh K/L menjadi bahan bagi

Kementerian Keuangan untuk melakukan reviu angka dasar

PENYUSUNAN RKA-K/L (5)

(3) Pedoman reviu angka dasar sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 ayat (6)

tercantum dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari

PMK ini.

Pasal 3

Pasal

4

Ketentuan dalam Perdirjen No. 1/2015 telah dinaikkan statusnya dalam Lampiran III PMK No. 196/PMK.02/2015.

(19)

PROSES PENYUSUNAN ANGKA DASAR

DJPB Realisasi APBN 2014 DSP Database RKA-K/L 2015 & KPJM 2016-2018 Reviu & Penyesuaian Angka Dasar Konsolidasi oleh koordinator Angka Final Dit. P-APBN: sinkronisasi dengan pagu indikatif Rapim DJA u/ Finalisasi

Angka dasar dan Pagu Indikatif 1 2 3 4 K/L: Pemutakhiran 6

Dit. P-APBN Asumsi Dasar Ekonomi Makro

DJPPR Realisasi PHLN, PDN, SBSN 2014 & Outlook

2015-2016

Dit. PNBP Realisasi PNBP 2014 & Outlook 2015-2016 Dit. A1 Dit. A2 Dit. A3 Akurat ? N Y 5 Angka Dasar < pagu

Indikatif

Angka Dasar > pagu Indikatif

(20)

KERTAS KERJA REVIU ANGKA DASAR

No Kode Kementerian Negara/ Lembaga

Non Ops. Non Ops. Non Ops. Non. Ops

Penda-patan BLU

PLN

HLN

PDN SBSN PBS

Total (003) (004) (005) (11)= (12)= (21)= (7)+(8)+(9)+( 10) (6)+(11) (12)+(15)+(1 6)+(17)+(18) +(19)+(20) 1 1 MPR Program... XX Program... XX Jumlah XX XX XX XX XX XX XX XX XX XX XX XX XX XX XX XX XX XXXX Jumlah (14) Rupiah Murni PNBP (19) (20) (10) (13) (15)= (13)+(14) (16) (17) (18) Ops. (1) (2) (3) (4) (5) (6) = (4)+(5) (7) (8) (9) Ops. Peg (001) Ops. Brg (002) Jumlah Non Ops.

Lainnya Jumlah Total

Hasil Reviu Angka Dasar Tahun Anggaran 2016

(21)

Okt-Nov 2015 RKA-K/L Alokasi Anggaran 2016 Jan-Feb 2016 Jan 2016 Realisasi APBNP 2015

PENYUSUNAN RESOURCE ENVELOPE & PAGU INDIKATIF 

PAGU ANGGARAN

• Update prakiraan maju 2017 • Update prakiraan maju 2018 • Update prakiraan maju 2019 • Update prakiraan maju 2017 • Update prakiraan maju 2018 • Update prakiraan maju 2019 Feb-Maret 2016 Reviu angka dasar 2017 Resource Envelope & Pagu

Indikatif 2017 Juni-Juli 2016 RKA-K/L Pagu Anggaran 2017 • Update prakiraan maju 2018 • Update prakiraan maju 2019 • Update prakiraan maju 2020 21

(22)

PEDOMAN DAN ACUAN DALAM PENYUSUNAN RKA-K/L (1)

Penyusunan RKA-KL Periode Penyusunan RKA-K/L Pedoman Umum dan Acuan Penyusunan RKA-K/L

a. RKA-K/L Pagu Anggaran; b. RKA-K/L Alokasi Anggaran;

dan/atau

c. RKA-K/L APBN Perubahan

PEDOMAN UMUM

a. Pendekatan Sistem Penganggaran: 1) Penganggaran terpadu

2) Penganggaran Berbasis Kinerja 3) Kerangkla Pengeluaran Jangka

Menengah

b. Klasifikasi Anggaran, yaitu: 1) Klasifikasi organisasi 2) Klasifikasi fungsi

3) Klasifikasi Jenis Belanja b. Instrumen RKA-K/L, meliputi:

1) Indikator Kinerja 2) Standar Biaya 3) Evaluasi Kinerja

Lampiran I

ACUAN PENYUSUNAN RKA-K/L

a. Penataan ADIK (Lampiran II)

b. Pemuktahiran prakiraan maju

(Lampiran III) Lampiran I Lampiran II dan III

Pasal 2

Pasal 3 & 4

22

(23)

Penyusunan RKA-KL

Referensi RKA-K/L

a. Pagu Anggaran K/L, Alokasi Anggaran K/L, dan Pagu

Perubahan APBN (khusus untuk APBN-P)

b. Renja K/L c. RKP

d. Hasil Kesepakatan Pemerintah dalam Pembicaraan Pendahuluan; e. Standar biaya; dan

f. Kebijakan pemerintah lainnya

Lampiran I

Dokumen yang disampaikan ke

DJA

a. Surat pengantar RKA-K/L yang di-ttd oleh Menteri/Pimpinan Lembaga yang ditunjuk;

b. Daftar Rincian Pagu Anggaran per Satker;

c. RKA Satker

d. Dan dokumen pendukung lainnya yang diperlukan

Lampiran IV

*) Tidak dipersyaratkan lagi SPTJM

PEDOMAN DAN ACUAN DALAM PENYUSUNAN RKA-K/L

(2)

Pasal 5

Pasal 14

(24)

PIHAK YANG TERLIBAT DALAM PENYUSUNAN RKA-K/L

a. Meneliti dan memastikan pagu anggaran per progam per jenis belanja berdasarkan Pagu Anggaran K/L;

b. Menetapkan sasaran kinerja untuk masing-masing Satker mengacu pada Dokumen RKP dan Renja K/L tahun berkenaan:

1) volume keluaran (output) kegiatan dalam kerangka Angka Dasar;

2) volume keluaran (output) kegiatan dalam kerangka Inisiatif Baru.

c. Menetapkan alokasi anggaran masing-masing Satker untuk:

1) alokasi anggaran dalam kerangka Angka Dasar; 2) alokasi anggaran dalam kerangka Inisiatif Baru. d. Menyiapkan Daftar Pagu Rincian per Satker yang

berfungsi sebagai batas tertinggi pagu satker.

e. Menyusun dokumen pendukung (a.l; TOR, RAB dan GBS);

f. Mengumpulkan dan menyatukan dokumen pendukung teknis dari satker (a.l: RBA BLU, perhitungan kebutuhan biaya pembangunan/ renovasi bangunan gedung negara atau yang sejenis, data dukung teknis lainnya, dsb).

a. Menyiapkan dokumen baik sebagai acuan maupun sebagai dasar pencantuman sasaran kinerja kegiatan dan alokasi anggarannya pada tingkat output kegiatan dalam RKA Satker, meliputi:

1) informasi kinerja yang terbagi dalam alokasi anggaran jenis angka dasar dan inisiatif baru; 2) peraturan perundangan mengenai struktur

organisasi K/L dan tusi-nya;

3) dokumen Renja K/L dan RKP tahun berkenaan; 4) petunjuk penyusunan RKA-K/L; dan

5) Standar Biaya tahun tahun yang direncanakan. b. Meneliti dan memastikan kesesuaian dengan

kebijakan unit eselon I dalam hal: 1) Besaran alokasi anggaran Satker;

2) Besaran Angka Dasar dan/atau Inisiatif Baru c. Menyusun KK Satker dan RKA Satker serta

menyimpan datanya dalam ADK;

d. Menyusun dokumen pendukung, seperti: KAK/TOR, RAB, GBS, dan khusus satker BLU dokumen RBA BLU;

e. Menyampaikandokumen pendukung teknis.

Unit Eselon I

Satker

(25)

PENYUSUNAN RKA-K/L …1/2)

Satker

• Menyusun Kertas Kerja Satker (KK Satker);

• Menyusun RKA-Satker; dan • Menyusun dan melengkapi

data/dokumen dukung.

Eselon I

• Menghimpun KK Satker & RKA Satker dalam lingkup unit eselon I berkenaan;

• Me-restore ADK yg disampaikan satker dalam aplikasi RKA-K/L DIPA;

• Memvalidasi kinerja & anggaran program;

• Meneliti & menyaring relevansi komponen dengan output; • Mengisi informasi pada formulir 2 dan formulir 3 RKA-K/L; • Mencetak RKA-K/L unit eselon I (formulir 2 dan 3);

• Menyampaikan RKA-K/L unit eselon I beserta data dukung kepada Biro Perencanaan/Unit Perencanaan K/L untuk diteliti dan APIP K/L untuk direviu.

1

Unit Perencanaan K/L

2

1. Melakukan penelitian RKA-K/L

• konsistensi pencantuman sasaran Kinerja meliputi volume Keluaran dan indikator Kinerja kegiatan dalam RKA-K/L sesuai dengan sasaran Kinerja dalam Renja K/L & RKP;

• kesesuaian total pagu dalam RKA-K/L dengan Pagu Anggaran K/L; • kesesuaian sumber dana dalam RKA-K/L dengan sumber dana yang

ditetapkan dalam Pagu Anggaran K/L;

• kepatuhan dalam pencantuman tematik APBN pada level Keluaran; dan • kelengkapan dokumen pendukung RKA-K/L

2. Menghimpun RKA-K/L unit eselon I & dokumen penelaahan lainnya; 3. Menyampaikan RKA-K/L beserta dokumen penelaahan lainnya kepada DJA

dan Bappenas untuk ditelaah.

Surat Pengantar Eselon I, Daftar Rincian Pagu Anggaran Per Satker, RKA-K/L Eselon I, RKA Satker, KK Satker, TOR/RAB beserta data/dokumen pendukung.

KK Satker, RKA Satker & data dukung

Surat Pengantar RKA-K/L, RKA-K/L Es. I, Daftar rincian Pagu Anggaran Per Satker, RKA Satker, ADK RKA-K/L.

APIP K/L 4

Reviu RKA-K/L difokuskan pada: 1. Kelayakan Anggaran utk

menghasilkan sebuah Keluaran; 2. kepatuhan dlm penerapan kaidah-kaidah perencanaan; 3. kelengkapan dokumen pendukung RKA-K/L; 4. rincian anggaran yang

digunakan untuk mendanai inisiatif baru dan/atau

rincian anggaran angka dasar yg mengalami perubahan pd level komponen.

3

(26)

PENYUSUNAN RKA-K/L …2/2)

Satker

1

Unit Perencanaan K/L 3

1. Meneliti RKA-K/L & dokumen pendukung yang mengalami perubahan/penyesuaian. 2. Menghimpun RKA-K/L unit eselon I dan

dokumen pendukung lainnya;

3. Menyampaikan RKA-K/L beserta dokumen penelaahan lainnya kepada Komisi terkait DPR untuk mendapat persetujuan.

Surat Pengantar Eselon I, Daftar Rincian Pagu Anggaran Per Satker, RKA-k/L Eselon I, RKA Satker, KK Satker, TOR/RAB beserta data/dokumen pendukung.

• Login aplikasi RKA-K/L DIPA;

• Mengidentifikasi & meneliti perubahan belanja sesuai dgn alokasi anggaran; • Melakukan penyesuaian pd KK Satker &

RKA Satker sesuai dgn alokasi anggaran (jika berubah);

• Mencetak & Menyampaikan KK Satker & RKA Satker beserta data dukung kpd es. I.

KK Satker, RKA Satker & Data Dukung

Surat Pengantar RKA-K/L, Persetujuan RKA-K/L oleh DPR, RKA-K/L Eselon I, Daftar rincian Alokasi Anggaran Per Satker, RKA Satker, ADK RKA-K/L.

APIP K/L 4

Reviu RKA-K/L difokuskan pada:

1. Kelayakan Anggaran utk menghasilkan sebuah Keluaran;

2. kepatuhan dlm penerapan kaidah-kaidah perencanaan;

3. kelengkapan dokumen pendukung RKA-K/L;

4. rincian anggaran yg digunakan utk mendanai inisiatif baru dan/atau rincian anggaran angka dasar yg mengalami perubahan pd level komponen.

Eselon I

• Menghimpun KK Satker dan RKA Satker dalam lingkup unit eselon I berkenaan yang telah disesuaikan;

• Menyesuaikan RKA-K/L unit Eselon I berdasarkan KK Satker & RKA Satker melalui aplikasi RKA-K/L-DIPA; • Memvalidasi kinerja dan anggaran program;

• Meneliti & menyaring relevansi komponen dgn output; • Menyampaikan RKA-K/L unit eselon I beserta data

dukung kepada Biro Perencanaan dan APIP K/L untuk diteliti.

2

(27)

PENERAPAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER

DALAM PENGANGGARAN

a.

Dalam sistem penganggaran, letak ARG berada pada

level

Output

Kegiatan;

b.

Perlu

metodologi, tools, indikator

untuk perencanaan

dan penganggaran yang responsif gender;

c.

Informasi ARG

tergambar pada dokumen Gender Budget

Statement

(GBS)

;

d.

Sistem Aplikasi penyusunan RKA-KL dilengkapi dengan

fasilitas pencantuman

tematik

, salah satunya tema ARG.

Gender Budget Statement (GBS)

dokumen yang menginformasikan suatu output kegiatan telah responsif terhadap isu gender yang ada, dan/atau suatu biaya telah dialokasikan pada output kegiatan untuk menangani permasalahan kesenjangan gender.

(28)

BUDGET TAGGING

V

(29)

CARA PENGISIAN BUDGET TAGGING

V

• Buka aplikasi tematik APBN;

• Pilih unit eselon I, tekan tombol ‘list’;

• Kemudian daftar output akan muncul secara otomatis;

• Tekan tombol ‘…..’ pada kolom PILIH, kemudian pilih jenis tema yang relevan

dengan output;

• Aplikasi Tema APBN akan menyimpan secara otomatis untuk data yang sudah

dipilih (jadi tidak terdapat tombol SIMPAN);

• Jika akan melakukan perubahan, tekan tombol ‘…..’ pada kolom pilih;

• Setelah pengisian selesai, tekan tombol ‘BACKUP UNTUK DJA’;

• Kirim ADK backup dimaksud ke alamat:

[email protected]

, dengan

subject ‘DATA TEMATIK K/L:….. Unit:…..’;

• Selanjutnya, proses untuk menyatukan data tema APBN ke dalam RKA-K/L

dilakukan oleh Direktorat Jenderal Anggaran.

(30)

SBK

SBM

/ Sub output

Detail/ input

Tahapan/

STANDAR BIAYA DALAM PENYUSUNAN RKA-K/L

SSB

(31)

PENGALOKASIAN DALAM RKA-K/L (1/2)

1. Kebutuhan mendasar Biaya operasional satker, seperti gaji dan

tunjangan (komponen 001) dan operasional perkantoran (komponen

002);

2. Kebutuhan dalam rangka memenuhi tugas dan fungsi satker;

3. Kebutuhan dana

pendamping

untuk

kegiatan-kegiatan

yang

anggarannya bersumber dari PHLN (Pinjaman dan Hibah Luar Negeri

(apabila ada));

4. Kebutuhan untuk kegiatan lanjutan yang bersifat tahun jamak

(apabila ada);

5. Kebutuhan untuk mendukung pencapaian Program dan Kegiatan

prioritas pembangunan (nasional, bidang dan/atau daerah) yang

tercantum dalam RKP (apabila ada);

6. Kebutuhan Penyediaan

dana

untuk

mendukung

pelaksanaan

program/kegiatan yang sesuai dengan peraturan perundangan

(apabila ada).

Yang harus dialokasikan:

(32)

PENGALOKASIAN DALAM RKA-K/L (2/2)

1. Penyelenggaraan rapat, (seperti: rapat dinas, seminar, pertemuan, lokakarya), peresmian kantor/proyek dan sejenisnya, dibatasi pada hal-hal yang sangat penting dan dilakukan sesederhana mungkin.

2. Pembangunan gedung baru yang sifatnya tidak langsung menunjang untuk pelaksanaan tugas dan fungsi satker, antara lain: mess, wisma, rumah dinas/rumah jabatan, gedung pertemuan. Kecuali bersifat pelayanan umum seperti rumah sakit, rumah tahanan, pos penjagaan dan gedung/bangunan khusus (laboratorium).

3. Pengadaan kendaraan bermotor, kecuali:

Kendaraan fungsional, seperti: Ambulan untuk RS, Cell wagon untuk rumah tahanan, dan Kendaraan roda dua untuk petugas lapangan;

• Pengadaan kendaraan bermotor untuk Satker baru (setelah ditetapkan Menpan RB), dilakukan secara bertahap sesuai dana yang tersedia;

• Penggantian kendaraan operasional yang rusak berat sehingga secara teknis tidak dapat dimanfaatkan lagi, dan/atau tidak ekonomis (biaya pemeliharaan yang tinggi). Pengganti kendaraannya harus sama jenis dan fungsinya;

• Kendaraan roda 4 dan atau roda 6 untuk antar jemput pegawai dapat dialokasikan secara sangat selektif (asas efisiensi dan kepatutan).

4. Penggunaan barang produksi impor..

Yang dibatasi:

(33)

KEGIATAN KONTRAK TAHUN JAMAK

Kontrak Tahun Jamak (KTJ) adalah kontrak yang pelaksanaan

pekerjaannya membebani dan APBN lebih dari 1 (satu) tahun

anggaran. Pekerjaan yang dapat di KTJ-kan adalah yang secara

karakteristik tidak bisa diselesaikan dalam waktu satu tahun anggaran.

Pembangunan kompleks perumahan dengan skema terpisah (tiap

tahun menyelesaikan sejumlah rumah dan dilanjutkan tahun

berikutnya) BUKAN merupakan pekerjaan dengan KTJ, karena

penyelesaian tahun pertama bisa dilakukan dengan kontrak tahunan.

Pekerjaan

pembangunan

gedung

bertingkat

dapat

menggunakan skema KTJ, karena secara karakteristik tidak bisa

diselesaikan dalam waktu satu tahun anggaran.

Contoh:

Pasal 1

(34)

PERSETUJUAN

Pengadaaan jasa cleaning service Layanan pembuangan sampah Pelayanan perintis darat/laut/udara Makanan/obat Rumah sakit Penanaman benih/bibit Penghijauan Pengadaan pita cukai Makanan untuk Narapidana

Untuk kegiatan yang sebagian atau seluruh kegiatan dibiayai dari PHLN dan/atau PHDN, tidak perlu mengajukan KTJ. Ranah KL Persetujuan atas perencanaan anggaran yang meliputi jangka waktu dan total

anggaran

(35)

PENGAJUAN PERMOHONAN

Pengajuan secara tertulis sebelum kegiatan KTJ dilakukan

Syarat minimal:

Memenuhi kelayakan teknis berdasarkan

penilaian/rekomendasi instansi/tim teknis fungsional yang

kompeten (i.e. BPPT)

Ketersediaan dana (bukan on top)

Dilengkapi dokumen mengenai cakupan jenis dan tahapan

kegiatan/pekerjaan, jangka waktu, ringkasan kebutuhan

anggaran pertahun.

KL

ON TOP

(36)

PENGADAAN TANAH/LAHAN

K/L dapat melakukan

pengadaan

lahan/tanah secara

simultan dengan

pengajuan

permohonan

persetujuan kontrak

tahun jamak

Persetujuan oleh

Menteri Keuangan

dapat diberikan

meskipun pengadaan

lahan/tanah belum

dituntaskan

Jika dalam waktu 6

bulan pengadaan

tanah/lahan belum

selesai, persetujuan KTJ

harus diperbaharui

Pelaksanaan

kegiatan Kontrak

Tahun Jamak

dilakukan setelah

pengadaan

tanah/lahan sudah

selesai dituntaskan

36

(37)

PERPANJANGAN ATAS PERSETUJUAN KTJ

Menteri/Pimpinan Lembaga dapat mengajukan perpanjangan atas persetujuan KTJ kepada

Menteri Keuangan bila terjadi keadaan kahar yang menyebabkan

tertundanya

penyelesaian pekerjaan.

Pengajuan secara tertulis kepada Menteri Keuangan disertai alasan dan dasar pertimbangan

yang dapat dipertanggung jawabkan serta dokumen pendukungnya Permohonan perpanjangan persetujuan KTJ dilakukan sebelum periode KTJ berakhir. Pekerjaan yang akan

dimohonkan harus direviu terlebih dahulu oleh APIP

K/L.

Hail reviu APIP K/L menjadi dasar bagi KL untuk meminta bantuan APIP

atau BPPK untuk melakukan audit dengan

tujuan tertentu atas sisa pekerjaan yang akan dimohonkan persetujuan

perpanjangan KTJ.

APIP

KL

BPPK

(38)

PERMOHONAN PERSETUJUAN KTJ PEKERJAAN

TERTENTU

Dalam rangka menjaga kesinambungan kualitas, efisiensi

dan efektivitas, serta menjaga kesatuan proses dan akuntabilitas

pelaksanaan pekerjaan, Menteri/Pimpinan Lembaga/PA dapat mengajukan permohonan

persetujuan KTJ terhadap pekerjaan-pekerjaan pengadaan layanan informasi, penjualan surat

berharga, layanan/lisensi perangkat lunak/keras, dan sewa

jaringan/bandwidth kepada Menteri Keuangan.

Pengajuan secara tertulis

sebelum kegiatan KTJ dilakukan Syarat minimal:

• Memenuhi kelayakan teknis berdasarkan

penilaian/rekomendasi

instansi/tim teknis fungsional yang kompeten (i.e. BPPT) • Ketersediaan dana (bukan

on top)

Dilengkapi dokumen mengenai cakupan jenis dan tahapan kegiatan/pekerjaan, jangka waktu, ringkasan kebutuhan anggaran pertahun.

(39)

PENAMBAHAN PAGU KTJ

Menteri/Pimpinan Lembaga dapat mengajukan permohonan penambahan pagu KTJ kepada Menteri Keuangan apabila terjadi keadaan kahar. (i.e. Bencana Alam, Proses Pengadaan yang berlarut, pemogokan)

Diajukan secara tertulis, syarat minimal:

Permohohan telah sesuai dengan hasil audit BPKP Bukan merupakan tambahan pagu (on top)

Sesuai dengan ketentuan mengenai pengadaan

barang/jasa pemerintah

ON TOP

BPKP

(40)

PERUBAHAN KOMPOSISI PENDANAAN KTJ

Menteri/Pimpinan Lembaga/PA dapat melakukan perubahan komposisi pendanaan antar tahun dalam periode KTJ Perubahan komposisi yang telah ditetapkan oleh Menteri/Pimpinan Lembaga/PA disampaikan secara tertulis oleh Menteri/Pimpinan Lembaga/PA kepada Menteri Keuangan c.q DJA Penetapan perubahan komposisi pendanaan antar tahun dalam KTJ digunakan sebagai bahan revisi anggaran 40

(41)

JANGKA WAKTU PENYELESAIAN

7

DJA

Pemrosesan penyelesaian persetujuan KTJ dilakukan oleh Direktorat Jenderal Anggaran Dilakukan paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak dokumen diterima secara lengkap

Untuk permohonan perpanjangan persetujuan KTJ,

pemenuhan kelengkapan dokumen dapat dilakukan melewati batas waktu penyelesaian persetujuan KTJ (bisa disusulkan)

>7

Persetujuan KTJ oleh Menteri Keuangan bukan merupakan pengakuan/pengesahan atas:

Proses pengadaan barang dan jasa Penunjukan pemenang penyedia barang/jasa

Kontrak yang dibuat KL atas pekerjaan yang dikontrakkan secara tahun jamak

(42)

MEKANISME PENELAAHAN RKA-K/L

BERDASARKAN PAGU ANGGARAN K/L

Setjen K/L

1

Bappenas

2

Kemenkeu c.q DJA

3

RKA-K/L Validasi ADK RKA-K/L

Dokumen

Penelaahan Penelaahan Instrumen

Instrumen Penelaahan

1. Penelaahan kriteria adminstratif 2. Penelaahan kriteria subtantif.

a. Kementerian Keuangan c.q. DJA

• kesesuaian data dalam RKA-K/L dengan Pagu Anggaran/Alokasi Anggaran K/L

• Kesesuaian antara kegiatan, keluaran dan anggarannya • Relevansi komponen/tahapan dengan keluaran (output). • Konsistensi pencantuman sasaran kinerja K/L dengan RKP

• konsistensi pencantuman prakiraan maju untuk 3 (tiga) tahun kedepan.

b. Kementerian Perencanaan/Bappenas berupa konsistensi sasaran

kinerja K/L dengan Renja K/L dan RKP, yaitu:

• Meneliti Program, Indikator Kinerja Utama serta Outcome K/L. • Meneliti kategori kegiatan, apakah termasuk kegiatan prioritas

nasional, prioritas bidang, atau prioritas K/L.

• Meneliti konsistensi rumusan Keluaran dalam dokumen RKA-K/L dengan Keluaran dalam dokumen Renja K/L dan RKP.

• Meneliti konsistensi Volume Keluaran dalam dokumen RKA-K/L dengan dokumen Renja K/L dan RKP tahun yang direncanakan. • Meneliti konsistensi Keluaran dengan indikator kinerja kegiatannya

(dalam dokumen RKA-K/L dengan Renja K/L dan RKP).1 Forum Penelaahan

Tindak Lanjut Penelaahan

4 5 Catlah Himpunan RKA-KL Nota Keuangan dan RAPBN 42

(43)

Setjen K/L

1

Bappenas

2

Kemenkeu c.q DJA

RKA-K/L yg disetujui DPR Validasi ADK RKA-K/L Dokumen

Penelaahan Penelaahan Instrumen

Instrumen Penelaahan

1. Memeriksa kelengkapan dokumen penelaahan.

2. Jika Alokasi Anggaran K/L tidak mengalami perubahan (sama dengan Pagu Anggaran K/L) maka K/L tetap menyampaikan RKA-K/L dan ADK utk ditelaah dan ditetapkan

3. Jika Pagu Alokasi Anggaran K/L lebih besar dari Pagu Anggaran K/L maka penelaahan difokuskan pada penambahan:

a. Jenis Keluaran (jenis dan volumenya bertambah); b. Komponen yang relevan untuk menghasilkan Keluaran.

3. Jika Pagu Alokasi Anggaran K/L lebih kecil dari Pagu Anggaran K/L maka penelahaan difokuskan pada pengurangan :

a. Keluaran (jenis dan volumenya berkurang) selain Keluaran dalam rangka penugasan;

b. Komponen untuk menghasilkan Keluaran yang sudah ada

selain Komponen Gaji dan Operasional Perkantoran.

Forum Penelaahan

4

Tindak Lanjut Penelaahan

5 Catatan Penelaahan DHP RKA-K/L Perpres RAPBN DIPA 3

MEKANISME PENELAAHAN RKA-K/L

BERDASARKAN ALOKASI ANGGARAN K/L

(44)

Perubahan Akibat Penelaahan

HAL-HAL KHUSUS DALAM PENELAAHAN RKA-K/L

Rumusan

Keluaran (Jenis

dan Satuan)

Rumusan di luar

Keluaran

1. Telah disepakati dalam proses penelaahan;

2. Tidak mengubah Keluaran Kegiatan Prioritas Nasional;

3. Relevan dengan Kegiatan dan Indikator Kinerja Kegiatan yang ditetapkan;

4. Adanya perubahan tugas dan fungsi pada unit yang bersangkutan;

5. Adanya tambahan penugasan.

1. Adanya reorganisasi yang mengakibatkan perubahan tugas dan fungsi serta struktur organisasi;

2. Reorganisasi tersebut sudah memiliki dasar hukum yang pasti (Perpres, Persetujuan Menpan dan RB, Keputusan

Menteri/Pimpinan Lembaga yang bersangkutan);

3. Perubahan yang diusulkan telah disepakati dalam Trilateral

Meeting;

4. Telah mendapat persetujuan dari Komisi terkait di DPR.

(45)

Keluaran/Output Cadangan

HAL-HAL KHUSUS DALAM PENELAAHAN RKA-K/L

Keluaran (Output) cadangan digunakan untuk menampung hal-hal sebagai berikut:

a. Alokasi anggaran untuk Kegiatan/Keluaran yang bukan merupakan tugas fungsi unit dan

belum ada dasar hukumnya;

b. Alokasi anggaran untuk Kegiatan/Keluaran yang sama dengan TA-1 (tahun sebelumnya)

namun alokasi anggarannya berlebih;

c. Alokasi

anggaran

untuk

Kegiatan/Keluaran

Inisiatif

Baru

yang

sejenis

dengan

Kegiatan/Keluaran yang sudah ada, namun alokasi anggarannya berlebih;

d. Alokasi anggaran untuk Komponen yang tidak berkaitan langsung dengan pencapaian

Keluaran;

e. Alokasi anggaran untuk Komponen yang alokasinya berlebih;

f.

Alokasi anggaran yang belum jelas peruntukkannya dan/atau kegiatan yang belum pernah

dianggarkan sebelumnya (unallocated).

Alokasi anggaran pada Keluaran (Output) cadangan baru dapat dilaksanakan/ dicairkan setelah

dilakukan revisi dengan berpedoman pada ketentuan mengenai tata cara revisi anggaran.

(46)

Pencantuman tanda “@” dan Catatan dalam DHP RKA-K/L

HAL-HAL KHUSUS DALAM PENELAAHAN RKA-K/L

Pencantuman tanda “@” dan pemberian “Catatan” dilakukan sebagai tindak

lanjut dari hasil penelaahan berdasarkan Alokasi Anggaran K/L, terhadap alokasi

yang sudah jelas peruntukannya, namun :

a. Belum ada dasar hukum pengalokasiannya;

b. Belum ada naskah perjanjian (PHLN/PHDN) dan nomor register;

c. Masih terpusat dan belum didistribusikan ke satker-satker daerah;

d. Masih memerlukan hasil reviu dan persetujuan dari Bappenas;

e. Masih memerlukan hasil reviu dari BPKP; dan/atau

f. Belum mendapatkan lembar persetujuan dari DPR.

(47)

TUJUAN

memastikan kelengkapan dan kebenaran RKA-K/L yang disusun sebelum disampaikan kepada APIP K/L dan Kementerian Keuangan c.q DJA untuk dilakukan penelaahan bersama dengan Bappenas;

DOKUMEN YANG DIPERSIAPKAN DALAM PENELITIAN RKA-K/L

Antara lain: Renja K/L dan RKP tahun anggaran yang direncanakan; Hasil kesepakatan trilateral meetings; Hasil reviu angka dasar (baseline); Hasil pembahasan proposal anggaran Inisiatif Baru (jika ada); Daftar Rincian Pagu Anggaran per Satker/Eselon I; KK Satker dan RKA Satker; ADK RKA-K/L; Target dan Pagu PNBP (jika ada); Gender Budget Statement/GBS (jika ada); Dokumen teknis lainnya yang disusun oleh Satker, seperti: RBA BLU, perhitungan kebutuhan biaya pembangunan/renovasi bangunan gedung Negara atau yang sejenis, dan data dukung teknis lainnya; dan Peraturan-peraturan terkait .

FOKUS PENELITIAN RKA-K/L

a. Konsistensi pencantuman sasara kinerja meliputi volume Keluaran dan Indikator Kinerja Kegiatan dalam RKA-K/L sesuai dengan sasaran kinerja dalam Renja K/L dan RKP;

b. Kesesuaian total pagu dalam RKA-K/L dengan pagu anggaran K/L yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan;

c. Kesesuaian sumber dana dalam RKA-K/L dengan sumber dana yang ditetapkan dalam pagu anggaran K/L;

d. Kepatuhan dalam pencantuman tematik APBN pada level Keluaran; dan kelengkapan dokumen pendukung RKA-K/L a.l: RKA Satker, TOR/RAB, dan dokumen pendukung terkait lainnya.

PENELITIAN RKA-K/L OLEH BIRO PERENCANAAN/

UNIT PERENCANAAN K/L

(48)

TUJUAN

memberi keyakinan terbatas (limited assurance) bahwa informasi dalam RKA-K/L sesuai dengan Pagu Anggaran K/L dan/atau Alokasi Anggaran K/L yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, Renja K/L, RKP hasil kesepakatan pemerintah dengan DPR dalam pembicaraan pendahuluan rancangan APBN, standar biaya, kebijakan pemerintah lainnya, dan memenuhi kaidah perencanaan penganggaran serta dilengkapi dokumen pendukung.

FOKUS PENELITIAN RKA-K/L

a. Kelayakan anggaran untuk menghasilkan suatu keluaran;

b. Kepatuhan dalam penerapan kaidah-kaidah penganggaran, antara lain: penerapan SBM dan SBK; reviu detail output (untuk output non SBK); penggunaan akun; hal-hal yang dibatasi; pengalokasian anggaran untuk kegiatan yang didanai dari PNBP, PHLN, PHDN, dan SBN; penganggaran BLU; kontrak tahun jamak; dan pengalokasian anggaran yang akan diserahkan menjadi PMN pada BUMN.

c. Kelengkapan dokumen pendukung RKA-K/L : RKA Satker, TOR/RAB dan/atau dokumen pendukung terkait lainnya;

d. Rincian anggaran yang digunakan untuk mendanai inisiatif baru dan/atau rincian anggaran angka dasar yang berubah pada level komponen;

Di samping itu, pereviu dapat melakukan reviu untuk memastikan:

e. Konsistensi pencantuman sasaran kinerja, meliputi volume keluaran dan IKK dalam RKA-K/L dengan sasaran kinerja dalam Renja RKA-K/L dan RKP;

f. Kesesuaian total pagu dan sumber dana dalam RKA-K/L dengan dalam Pagu Anggaran K/L; g. Kepatuhan dalam pencantuman tematik APBN pada level keluaran.

REVIU RKA-K/L OLEH APIP K/L

(49)

BA

NOMENKLATUR

UNIT

999.01 Pengelolaan Utang

DJPPR

999.02 Pengelolaan Hibah

DJPPR

*)

Pengelolaan Hibah Daerah yang Bersumber dari

Penerimaan DN

DJPK

999.03 Pengelolaan Investasi Pemerintah

DJKN

999.04 Pengelolaan Penerusan Pinjaman

DJPB

999.05 Pengelolaan Transfer Ke Daerah Dan Dana Desa

DJPK

999.07 Pengelolaan Belanja Subsidi

DJA

999.08 Pengelolaan Belanja Lainnya

DJA

999.99 Pengelolaan Transaksi Khusus

DJPPR, DJKN,

DJPB, DJA

*)

, BKF

PEMBANTU PENGGUNA ANGGARAN BA BUN

*)Catatan:

a. Selaku Koordinator

b. DJA merupakan koordinator PPA BUN dalam perencanaan, penelaahan, dan penetapan alokasi anggaran BA BUN.

(50)

SIKLUS PENGANGGARAN BA BUN…(1/4)

INDIKASI KEBUTUHAN DANA (IKD) BUN

• Awal tahun

anggaran

menyusunan IKD

BUN berkoordinasi

dengan KPA BUN

dan pihak terkait

lainnya

• Menyampaikan ke

DJA

PPA BUN

• IKD BUN sebagai bahan

penyusunan postur

resource envelope dan

Pagu Indikatif BUN

• Menghimpun dan menilai

IKD BUN berdasarkan

kapasitas fiskal

DJA

• Menetapkan

Pagu Indikatif

BUN pada

minggu terakhir

bulan Maret

MENKEU

Pasal 7 ayat (3)

Pengajuan usulan IKD BUN kepada PPA BUN dikecualikan untuk alokasi yang

diperoleh dari pergeseran anggaran belanja antar subbagian anggaran dalam BA 999

(51)

SIKLUS PENGANGGARAN BA BUN…(2/4)

PAGU ANGGARAN BUN

• Menyesuaikan IDP BUN

• Menyampaikan penyesuaian IKD BUN kepada DJA pd minggu ke-3 bln Juni PPA BUN

• Meneliti penyesuaian IKD BUN sesuai Pagu Indikatif BUN • Menghimpun IKD BUN yang telah disesuaikan

• Menyampaikan himpunan IKD kepada Menkeu DJA

• Pembicaraan pendahuluan RAPBN Pemerintah

dan DPR

• Menetapkan Pagu Anggaran BUN paling lambat akhir bulan Juni

Menkeu

• Menyampaikan Pagu Anggaran masing-masing BA BUN kpd PPA BUN DJA

• Menyusun rincian Pagu Anggaran BUN masing-masing KPA BUN PPA BUN

• Menyusun RKA BUN KPA BUN

• Mereviu RKA BUN APIP K/L

(52)

SIKLUS PENGANGGARAN BA BUN…(3/4)

PENYUSUNAN RDP BUN

• Menyampaikan RKA

BUN yang telah

direviu kepada PPA

BUN

KPA BUN

• Meneliti RKA BUN dan

digunakan sebagai dasar

penyusunan RDP BUN

PPA BUN

• Menandatang

ani RDP BUN

Pemimpin

PPA BUN

Pasal 18

RDP BUN untuk alokasi BA BUN terkait dana cadangan dan penyertaan modal

negara dapat disusun setelah Nota Keuangan disampaikan oleh Pemerintah kepada

DPR dan/atau setelah UU APBN tahun berkenaan ditetapkan.

(53)

SIKLUS PENGANGGARAN BA BUN…(4/4)

ALOKASI ANGGARAN BUN

• Menyampaikan RDP BUN yang telah ditandatangani Pemimpin

PPA BUN kepada DJA paling lambat minggu kedua bulan Juli

PPA BUN

• Menelaah RDP BUN bersama PPA BUN

• Menghimpun hasil penelaahan RDP BUN dan disampaikan

kepada Menkeu sebagai bahan penyusunan Nota Keuangan dan

RUU APBN

DJA

•Rapat kerja pembahasan RUU APBN

Pemerintah

dan DPR

•Menetapkan Alokasi Anggaran BUN paling lambat 2 minggu

setelah diperoleh kesimpulan rapat kerja pembahasan

Menkeu

•Menyesuaikan RDP BUN dengan Alokasi Anggaran BUN

•Dalam hal mengakibatkan perubahanan RDP BUN, PPA BUN

menyampaikan RKA BUN kepada KPA BUN untuk disesuaikan

•RKA BUN yang telah disesuaikan oleh KPA BUN direviu oleh

APIP K/L

PPA BUN

• Menetapkan DHP RDP BUN paling lambat minggu terakhir

bulan November

DJA

(54)

PENYUSUNAN DIPA

Dalam rangka pelaksanaan APBN, Pengguna Anggaran menyusun DIPA

menurut bagian anggaran yang dikuasainya.

DIPA adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang berfungsi sebagai dasar

pelaksanaan kegiatan bagi Satker dan dasar pencairan dana/pengesahan bagi

Bendahara Umum Negara/Kuasa Bendahara Umum Negara:

1.

DIPA BA K/L

2.

DIPA BA BUN

DIPA terdiri atas 2 (dua) bagian yaitu:

1.

DIPA yang disusun oleh Pengguna Anggaran,

2.

Surat Pengesahan DIPA yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Anggaran

atas nama Menteri Keuangan.

Jenis DIPA:

1.

DIPA Induk

2.

DIPA Petikan

(55)

LANGKAH PENDAHULUAN PELAKSANAAN

ANGGARAN…(1)

Setelah DIPA terbit:

KPA menetapkan POK

KPA/PPK dapat melakukan perikatan kontrak

Catatan: proses lelang sudah dapat dilakukan sebelum DIPA terbit (Pasal 59 PP

No. 45 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pelaksanaan APBN)

Proses pengadaan sebelum adanya penandatanganan perjanjian dapat

dilakukan sebelum tahun anggaran dimulai setelah RKA-KL disetujui oleh

DPR;

Penandatanganan perjanjian dilakukan setelah DIPA disahkan dan

berlaku efektif;

Pendanaan untuk proses sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat

dibebankan pada TA berjalan sepanjang dananya dialokasikan dalam

DIPA.

(56)

LANGKAH PENDAHULUAN PELAKSANAAN

ANGGARAN…(2)

Menyusun perencanaan pengadaan barang dan jasa: pemaketan pekerjaan,

jadwal pelaksanaan kegiatan, membentuk pejabat/panitia pengadaan,

menyusun harga perkiraan sendiri, menyusun dokumen pengadaan barang

dan jasa (dokumen pasca/pra kualifikasi, dokumen pemilihan penyedia

barang/jasa);

catatan: lelang dibatasi waktu

Menyusun rencana pengeluaran tiap bulan (penjabaran teknis Halaman 3

DIPA)  diupdate triwulanan

LANGKAH SELANJUTNYA:

Melakukan monitoring dan evaluasi

Menyusun laporan untuk monitoring  tabel sandingan real vs. rencana

Menyampaikan usulan revisi, jika diperlukan

(57)

RUANG LINGKUP REVISI ANGGARAN

Revisi Anggaran Pagu Berubah Pagu naik Pagu turun Pagu Tetap Pergeseran antar program Pergeseran dalam 1 program, Pergeseran antar Bagian Anggaran Revisi Administratif kesalahan administrasi

perubahan rumusan yang tidak terkait dengan

anggaran

pemenuhan persyaratan dalam rangka pencairan

anggaran

(58)

BATASAN REVISI ANGGARAN

Revisi Anggaran dilakukan sepanjang tidak mengakibatkan pengurangan

alokasi anggaran terhadap:

a. kebutuhan biaya pegawai operasional (komponen 001), kecuali untuk

memenuhi alokasi gaji dan tunjangan yang melekat pada gaji pada

Satker lain;

b. komponen

berkarakteristik

operasional

non-belanja

pegawai

(komponen 002, komponen 003, komponen 004, dan komponen 005),

kecuali untuk memenuhi alokasi gaji dan tunjangan yang melekat

pada gaji, dan/atau dalam peruntukkan yang sama;

c. pembayaran berbagai tunggakan;

d. Rupiah Murni Pendamping sepanjang paket pekerjaan masih berlanjut

(on-going); dan/atau

e. paket pekerjaan yang telah dikontrakkan dan/atau direalisasikan

dananya sehingga menjadi minus.

(59)

DAFTAR REVISI ANGGARAN YANG MENJADI

KEWENANGAN DJA DAN KANWIL DJPBN (1)

No.

URAIAN REVISI

KEWENANGAN

PASAL

DJA

Kanwil

DJPB

1 Perubahan Anggaran Belanja Yang Bersumber Dari PNBP. Pasal 2 ayat (2) huruf a a kelebihan realisasi atas target PNBP fungsional (PNBP yang dapat

digunakan kembali) yang direncanakan dalam APBN atau APBN Perubahan.

Pasal 7 ayat (2) huruf a √

b adanya PNBP yang berasal dari kontrak/kerjasama/nota kesepahaman.

Pasal 7 ayat (2) huruf b √ c adanya Peraturan Pemerintah mengenai jenis dan tarif atas jenis

PNBP baru.

Pasal 7 ayat (2) huruf c √ d adanya Satker PNBP baru. Pasal 7 ayat (2) huruf d √ e peningkatan persetujuan penggunaan sebagian dana PNBP

berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan mengenai persetujuan penggunaan sebagian dana PNBP.

Pasal 7 ayat (2) huruf e √

f adanya penetapan status pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum pada suatu Satker.

Pasal 7 ayat (2) huruf f √ g penggunaan anggaran belanja yang bersumber dari PNBP di atas

pagu APBN untuk Satker Badan Layanan Umum dan/atau penggunaan saldo Badan Layanan Umum dari tahun sebelumnya.

Pasal 7 ayat (2) huruf g √

(60)

DAFTAR REVISI ANGGARAN YANG MENJADI

KEWENANGAN DJA DAN KANWIL DJPBN (2)

No.

URAIAN REVISI

KEWENANGAN

PASAL

DJA

Kanwil

DJPB

h penurunan atas target PNBP fungsional (PNBP yang dapat digunakan kembali) yang tercantum dalam APBN atau APBN Perubahan.

Pasal 7 ayat (2) huruf h

i penurunan besaran persetujuan penggunaan sebagian dana PNBP berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan tentang persetujuan penggunaan sebagian dana PNBP.

Pasal 7 ayat (2) huruf i

j pencabutan status pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum pada suatu Satker.

Pasal 7 ayat (2) huruf j

2 Perubahan anggaran belanja yang bersumber dari pinjaman/hibah luar negeri dan dalam negeri, termasuk penerusan pinjaman/hibah.

Pasal 2 ayat (2) huruf b a lanjutan pelaksanaan kegiatan tahun lalu yang dananya bersumber

dari PHLN dan/atau PHDN.

Pasal 8 ayat (2) huruf a

√ b lanjutan pelaksanaan kegiatan tahun lalu yang dananya bersumber

dari penerusan pinjaman. Pasal 9

Pasal 8 ayat (2) huruf a

(61)

DAFTAR REVISI ANGGARAN YANG MENJADI

KEWENANGAN DJA DAN KANWIL DJPBN (3)

No.

URAIAN REVISI

KEWENANGAN

PASAL

DJA

Kanwil

DJPB

c percepatan penarikan PHLN dan/atau PHDN, termasuk penerusan pinjaman/hibah.

Pasal 8 ayat (2) huruf b

√ d penambahan hibah luar negeri atau hibah dalam negeri terencana

yang diterima oleh Pemerintah c.q. Kementerian Keuangan setelah Undang-Undang mengenai APBN/APBN Perubahan Tahun Anggaran 2016 ditetapkan dan kegiatannya dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga.

Pasal 8 ayat (2) huruf c Pasal 8 ayat (3)

e penambahan hibah luar negeri atau hibah dalam negeri langsung yang diterima setelah Undang-Undang mengenai APBN Tahun Anggaran 2016 ditetapkan dan kegiatannya dilaksanakan secara langsung oleh Kementerian/Lembaga.

Pasal 8 ayat (2) huruf d Pasal 8 ayat (4)

f pengurangan alokasi pinjaman proyek termasuk pengurangan alokasi Penerusan Pinjaman, pengurangan alokasi hibah luar negeri dan dalam negeri termasuk hibah luar negeri atau hibah dalam negeri yang diterushibahkan dan/atau pinjaman yang diteruspinjamkan.

Pasal 8 ayat (5) √

(62)

DAFTAR REVISI ANGGARAN YANG MENJADI

KEWENANGAN DJA DAN KANWIL DJPBN (4)

No.

URAIAN REVISI

KEWENANGAN

PASAL

DJA

Kanwil

DJPB

3 Penggunaan Rupiah Murni Pendamping untuk membiayai kegiatan/proyek lain.

Pasal 8 ayat (6) √

4 Lanjutan pelaksanaan kegiatan untuk proyek yang dananya bersumber dari SBSN.

Pasal 2 ayat (2) huruf c Pasal 10

5 Perubahan Anggaran Belanja Pemerintah Pusat berupa pagu untuk pengesahan belanja yang bersumber dari pinjaman/hibah luar negeri yang telah closing date.

Pasal 2 ayat (2) huruf d Pasal 11

6 Perubahan anggaran belanja dan/atau pembiayaan anggaran sebagai akibat dari penyesuaian kurs dan/atau perubahan parameter.

Pasal 2 ayat (2) huruf e Pasal 12

a perubahan anggaran kegiatan Kementerian/ Lembaga yang sumber dananya berasal dari pinjaman atau hibah luar negeri.

Pasal 12 ayat (1) huruf a Pasal 12 ayat (2)

√ b penambahan alokasi anggaran belanja pegawai berupa

penyesuaian besaran nilai rupiah belanja pegawai yang ditempatkan di luar negeri.

Pasal 12 ayat (1) huruf b √ c penambahan alokasi anggaran pembayaran kewajiban utang. Pasal 12 ayat (1) huruf c √

(63)

DAFTAR REVISI ANGGARAN YANG MENJADI

KEWENANGAN DJA DAN KANWIL DJPBN (5)

No.

URAIAN REVISI

KEWENANGAN

PASAL

DJA

Kanwil

DJPB

d penambahan alokasi anggaran subsidi energi. Pasal 12 ayat (1) huruf d Pasal 12 ayat (3)

√ e penambahan alokasi anggaran pembayaran cicilan pokok utang. Pasal 12 ayat (1) huruf e √

f penambahan alokasi anggaran dalam rangka PMN. Pasal 12 ayat (1) huruf f Pasal 12 ayat (4)

√ g perubahan pagu anggaran kewajiban penjaminan Pemerintah. Pasal 12 ayat (1) huruf g √

7 Perubahan Transfer Ke Daerah dan Dana Desa. Pasal 3 ayat (1) Pasal 33

8 Pengurangan volume Keluaran(Output).*)

*)Dengan persetujuan Menteri/Pimpinan Lembaga Pengusul untuk Keluaran (Output) Prioritas Kementerian/Lembaga.

Pasal 5 ayat (1) √

9 Pergeseran anggaran Bagian Anggaran 999.08 (Bendahara Umum Negara Pengelola Belanja Lainnya) ke Bagian Anggaran Kementerian Negara/Lembaga, atau antar subbagian anggaran dalam Bagian Anggaran 999 (BA BUN), termasuk yang terkait dengan pemberian penghargaan dan pengenaan sanksi atas pelaksanaan anggaran belanja kementerian/lembaga.

Pasal 2 ayat (3) huruf a Pasal 13

(64)

DAFTAR REVISI ANGGARAN YANG MENJADI

KEWENANGAN DJA DAN KANWIL DJPBN (6)

No.

URAIAN REVISI

KEWENANGAN

PASAL

DJA

Kanwil

DJPB

10 Pergeseran anggaran dalam 1 (satu) Program yang sama yang bersumber dari rupiah murni untuk memenuhi kebutuhan Biaya Operasional.

Pasal 2 ayat (3) huruf b Pasal 14

11 Pergeseran anggaran antar Program dalam 1 (satu) Bagian Anggaran yang bersumber dari rupiah murni untuk memenuhi kebutuhan Biaya Operasional. *)

*) Dengan persetujuan Eselon I

Pasal 12 ayat (1) huruf g

12 Pergeseran rincian anggaran untuk satuan kerja badan layanan umum yang sumber dananya berasal dari PNBP.

Pasal 15

Pasal 2 ayat (3) huruf c

13 Pergeseran anggaran dalam rangka penyelesaian sisa kewajiban pembayaran kegiatan yang dibiayai melalui SBSN yang melewati tahun anggaran sesuai hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.

Pasal 2 ayat (3) huruf d

Pasal 16

14 Pergeseran anggaran antar Program dalam 1 (satu) Bagian Anggaran untuk memenuhi kebutuhan Ineligible Expenditure atas kegiatan yang dibiayai dari pinjaman dan/atau hibah luar negeri. *)

*) Dengan persetujuan Eselon I

Pasal 2 ayat (3) huruf e

Pasal 13

(65)

DAFTAR REVISI ANGGARAN YANG MENJADI

KEWENANGAN DJA DAN KANWIL DJPBN (7)

No.

URAIAN REVISI

KEWENANGAN

PASAL

DJA

Kanwil

DJPB

15 Pergeseran anggaran antara Program lama dan Program baru dalam rangka penyelesaian administrasi DIPA sepanjang telah disetujui Dewan Perwakilan Rakyat.

Pasal 2 ayat (3) huruf f Pasal 18

16 Pergeseran anggaran dalam 1 (satu) Program yang sama dalam rangka penyediaan dana untuk penyelesaian restrukturisasi Kementerian/Lembaga.

Pasal 2 ayat (3) huruf g Pasal 19

17 Pergeseran anggaran dalam 1 (satu) Program dalam rangka memenuhi kebutuhan selisih kurs dalam wilayah kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang berbeda.

Pasal 2 ayat (3) huruf h Pasal 20

18 Pergeseran anggaran dalam 1 (satu) Program dalam rangka memenuhi kebutuhan selisih kurs dalam wilayah kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan.

Pasal 2 ayat (3) huruf h Pasal 20

19 Pergeseran anggaran dalam 1 (satu) program dalam rangka penyelesaian tunggakan tahun lalu dalam wilayah kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang berbeda.

Pasal 2 ayat (3) huruf i Pasal 21

20 Pergeseran anggaran dalam 1 (satu) Program dalam rangka penyelesaian tunggakan tahun lalu dalam wilayah kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan.

Pasal 2 ayat (3) huruf i Pasal 21

21 Pergeseran anggaran pembayaran kewajiban utang sebagai dampak dari

(66)

DAFTAR REVISI ANGGARAN YANG MENJADI

KEWENANGAN DJA DAN KANWIL DJPBN (8)

No.

URAIAN REVISI

KEWENANGAN

PASAL

DJA

Kanwil

DJPB

22 Pergeseran anggaran antarlokasi dan/atau antarkewenangan dalam rangka tugas pembantuan, urusan bersama, dan/atau dekonsentrasi.*)

*) Dengan persetujuan Eselon I

Pasal 2 ayat (3) huruf k Pasal 23

23 Pergeseran anggaran dalam rangka pembukaan kantor baru. Pasal 2 ayat (3) huruf l Pasal 24

24 pergeseran anggaran dalam rangka penanggulangan bencana. Pasal 2 ayat (3) huruf m Pasal 25

25 pergeseran anggaran dalam rangka penyelesaian putusan pengadilan yang

telah mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht). Pasal 2 ayat (3) huruf nPasal 26

26 Pergeseran anggaran dalam rangka rekomposisi pendanaan antar tahun terkait dengan kegiatan Kontrak Tahun Jamak. *)

*) Dengan penetapan dari Menteri K/L pengusul.

Pasal 2 ayat (3) huruf o Pasal 22

27 Pergeseran anggaran dari BA K/L ke BA BUN. Pasal 2 ayat (3) huruf p Pasal 28

28 Pergeseran anggaran antarjenis dalam 1 (satu) Program sepanjang pergeseran anggaran merupakan Sisa Anggaran Kontraktual atau Sisa Anggaran Swakelola dalam rangka membiayai hal-hal prioritas, mendesak, dan/atau kedaruratan. *)

*) Dengan persetujuan Menteri Keuangan.

Pasal 2 ayat (3) huruf q Pasal 29

(67)

DAFTAR REVISI ANGGARAN YANG MENJADI

KEWENANGAN DJA DAN KANWIL DJPBN (9)

No.

URAIAN REVISI

KEWENANGAN

PASAL

DJA

Kanwil

DJPB

29 Pergeseran anggaran antarjenis dalam 1 (satu) Program sepanjang pergeseran anggaran merupakan Sisa Anggaran Kontraktual atau Sisa Anggaran Swakelola dalam rangka meningkatkan volume Keluaran (Output).

Pasal 2 ayat (3) huruf q Pasal 29

30 Pemenuhan kewajiban negara sebagai akibat dari keikutsertaan sebagai

anggota organisasi internasional. Pasal 2 ayat (3) huruf r √

31 Penggunaan anggaran dalam BA BUN yang belum dialokasikan dalam DIPA

BUN. Pasal 2 ayat (3) huruf s √

32 Perubahan atas APBN Tahun Anggaran 2016. Pasal 3 ayat (1) √

33 Perubahan anggaran sebagai akibat dari kebijakan penghematan anggaran. Pasal 3 ayat (2) Pasal 5

34 Perubahan atas Kebijakan Prioritas Pemerintah Yang Telah Ditetapkan dalam Undang-Undang mengenai APBN atau Undang-Undang mengenai APBN Perubahan.

Pasal 3 ayat (3) √

35 Revisi dalam rangka pengesahan Kegiatan/Keluaran (Output) tahun sebelumnya. Pasal 51 √

36 Pagu minus belanja gaji dan tunjangan yang melekat pada gaji. Pasal 52

a dipenuhi dari pergeseran anggaran dalam 1 (satu) Program. √ b pergeseran anggaran dalam 1 (satu) Program. √

37 Pagu minus non belanja gaji dan tunjangan yang melekat pada gaji. Pasal 53

a dipenuhi dari pergeseran anggaran dalam 1 (satu) Program. √

(68)

DAFTAR REVISI ANGGARAN YANG MENJADI

KEWENANGAN DJA DAN KANWIL DJPBN (10)

No.

URAIAN REVISI

KEWENANGAN

DJA

Kanwil

DJPB

38 Pergeseran anggaran dengan persetujuan Eselon I untuk pengesahan revisi DIPA.

a apergeseran anggaran dalam 1 (satu) Keluaran (Output) yang sama, dalam 1 (satu) Kegiatan yang sama, dan antar Satker dalam wilayah kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang berbeda.

b pergeseran anggaran antar Keluaran (Output), dalam 1 (satu) Kegiatan yang sama, dan antar Satker dalam wilayah kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang berbeda.

√ c pergeseran anggaran antar Kegiatan yang sama, dan antar Satker dalam wilayah kerja Kantor

Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang berbeda.

d pergeseran anggaran dalam 1 (satu) Keluaran (Output) yang sama, dalam 1 (satu) Kegiatan

yang sama, dan antar satker dalam wilayah kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan.

√ e pergeseran anggaran antar Keluaran (Output) yang sama, dalam 1 (satu) Kegiatan yang

sama, dan antar Satker dalam wilayah kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan.

√ f pergeseran anggaran antar Kegiatan dalam 1 (satu) Satker yang sama dalam wilayah kerja

Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan. √ g pergeseran anggaran antar Kegiatan, dan antar Satker dalam wilayah kerja Kantor Wilayah

Direktorat Jenderal Perbendaharaan. √

(69)

DAFTAR REVISI ANGGARAN YANG MENJADI

KEWENANGAN DJA DAN KANWIL DJPBN (11)

No. URAIAN REVISI

KEWENANGAN

PASAL DJA Kanwil

DJPB

1 Ralat administrasi.

a ralat kode akun dalam rangka penerapan kebijakan akuntansi sepanjang dalam peruntukkan dan sasaran yang sama, termasuk yang mengakibatkan perubahan jenis belanja.

Pasal 2 ayat (5) huruf a

√ b ralat kode Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara. Pasal 2 ayat (5) huruf b √ c ralat kode kewenangan. Pasal 2 ayat (5) huruf c √ d ralat kode lokasi dan/atau lokasi Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara. Pasal 2 ayat (5) huruf d √ e ralat kode bagian anggaran dan/atau Satker. Pasal 2 ayat (5) huruf e √

f ralat volume, jenis, dan satuan Keluaran (Output) yang berbeda antara RKA-K/L dan Rencana Kerja Pemerintah atau hasil kesepakatan Dewan Perwakilan Rakyat dengan Pemerintah.

Pasal 2 ayat (5) huruf f

g ralat rencana penarikan dana/atau rencana penerimaan dalam halaman III DIPA. Pasal 2 ayat (5) huruf g √ h ralat cara penarikan PHLN/PHDN, termasuk penerusan pinjaman. Pasal 2 ayat (5) huruf h √ i ralat cara penarikan SBSN. Pasal 2 ayat (5) huruf i √ j ralat nomor register pembiayaan proyek melalui SBSN. Pasal 2 ayat (5) huruf j √ k ralat karena kesalahan aplikasi berupa tidak berfungsinya sebagian atau seluruh

fungsi matematis aplikasi RKA-K/L DIPA.

Pasal 2 ayat (5) huruf k

√ √

(70)

DAFTAR REVISI ANGGARAN YANG MENJADI

KEWENANGAN DJA DAN KANWIL DJPBN (12)

No. URAIAN REVISI

KEWENANGAN

PASAL DJA Kanwil

DJPB

2 Revisi administrasi yang disebabkan oleh perubahan rumusan yang tidak terkait dengan anggaran:

a perubahan/penambahan nomor register pinjaman dan/atau hibah luar negeri. Pasal 2 ayat (6) huruf a √ b perubahan/penambahan nomor register SBSN. Pasal 2 ayat (6) huruf b √ c perubahan pejabat perbendaharaan. Pasal 2 ayat (6) huruf c √ d perubahan nomenklatur bagian anggaran, Program/Kegiatan, dan/atau Satker. Pasal 2 ayat (6) huruf d √ e perubahan/penambahan cara penarikan PHLN/ PHDN, termasuk penerusan

pinjaman. *)

*) Dengan persetujuan Eselon I

Pasal 2 ayat (6) huruf e

√ f perubahan/penambahan cara penarikan SBSN. *)

*) Dengan persetujuan Eselon I

Pasal 2 ayat (6) huruf f √ g perubahan rumusan sasaran kinerja dalam database RKA-K/L DIPA. *)

*) Dengan persetujuan Eselon I

Pasal 2 ayat (6) huruf g Pasal 30

3 Disebabkan oleh pemenuhan persyaratan dalam rangka pencairan anggaran:

a penghapusan/pencantuman catatan dalam halaman IV DIPA. Pasal 2 ayat (7) huruf a

Pasal 31 √ b penggunaan dana Keluaran (Output) cadangan. Pasal 2 ayat (7) huruf b

Pasal 32 Pasal 49

(71)

ALUR MEKANISME REVISI ANGGARAN

PADA DJA UNTUK BA K/L

(72)

ALUR MEKANISME REVISI ANGGARAN

PADA DJA UNTUK BA BUN

(73)

ALUR MEKANISME REVISI ANGGARAN PADA KANWIL

DJPB

KPPN KPA

Meneliti usulan Revisi

Anggaran dan kelengkapan dokumen pendukung.

Kanwil DJPB

Revisi DIPA setuju? Surat penolakan Revisi

Anggaran.

Upload ADK

RKA-K/L-DIPA ke server.

Notifikasi dari sistem : pengesahan revisi; Kode digital stamp yang

baru. Surat pengesahan revisi,

dilampiri notifikasi sistem.

KPA

Y N

1

Surat usulan Revisi Anggaran; Data dan dokumen pendukung.

Eselon I

Meneliti usulan Revisi Anggaran dan menerbitkan persetujuan revisi anggaran. Persetujuan Eselon I Y N Surat Persetujuan Eselon I 7 1 2 4 5 6 3 73

(74)

USUL REVISI ANGGARAN REGULER

Batas akhir penerimaan usul Revisi Anggaran untuk TA 2016

ditetapkan sbb:

a. Tanggal 30 Oktober 2016, untuk Revisi Anggaran pada

DJA; dan

b. Tanggal 30 November 2016, untuk Revisi Anggaran pada

Kanwil DJPB.

Catatan :

Batas akhir penerimaan usul Revisi Anggaran di atas, termasuk

untuk penyelesaian revisi dalam rangka APBN-P TA 2016.

(75)

USUL REVISI ANGGARAN YG DIKECUALIKAN

Dalam hal Revisi Anggaran berkenaan dengan:

a. pergeseran anggaran untuk belanja pegawai;

b. pergeseran anggaran dari BA BUN (BA 999.08) ke BA K/L;

c. Kegiatan yang dananya bersumber dari PNBP, PLN, HLN

terencana

, HDN

terencana

, dan PDN; dan/atau

d. Kegiatan-kegiatan yang membutuhkan data/dokumen pendukung yang harus

mendapat persetujuan dari unit eksternal K/L seperti persetujuan DPR,

persetujuan Menteri Keuangan, hasil audit eksternal, dan sejenisnya.

batas akhir penerimaan usul Revisi Anggaran oleh DJA ditetapkan paling lambat

tanggal 15 Desember 2016.

(76)

USUL REVISI ANGGARAN S.D. AKHIR DESEMBER

Dalam hal Revisi Anggaran 2016 dilakukan dalam rangka pelaksanaan kegiatan

lingkup Bagian Anggaran 999.08 (BA BUN Pengelolaan Belanja Lainnya),

pergeseran anggaran untuk bencana alam dan revisi dalam rangka pengesahan,

batas akhir penerimaan usul Revisi Anggaran dan penyelesaiannya oleh

Direktorat Jenderal Anggaran ditetapkan paling lambat pada tanggal tanggal 30

Desember 2016.

Dalam hal Revisi Anggaran 2016 dilakukan dalam rangka pengesahan anggaran

belanja yang dibiayai dari

hibah langsung

, batas akhir penerimaan usul Revisi

Anggaran dan penyelesaiannya oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan

ditetapkan paling lambat pada tanggal 30 Desember 2016.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam hal usulan Revisi Anggaran yang disampaikan tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada angka 212, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN KANTOR WILAYAH PROVINSI JAWA TENGAH KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN NEGARA SRAGEN.. PANITIA

Panitia Pengadaan Barang/Jasa Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Makassar I Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kantor Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan Kementerian Keuangan R.I

menerapkan kebijakan penggunaan PNBP secara terpusat, antara lain pergeseran anggaran antar kegiatan dan/atau keluaran ( output ) dalam 1 (satu) satker atau antar satker

b) penggunaan anggaran belanja yang bersumber dari PNBP di atas pagu APBN untuk Satker BLU.. 3) Revisi Anggaran yang dilaksanakan pada Kantor Wilayah Direktorat

Penulis merasa sangat bersyukur selama melaksanakan Kerja Praktek di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Riau, karena dengan adanya pelaksanaan Kerja Praktek ini

Dokumen ini menyatakan tamatnya magang di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Jawa

Adendum dokumen pemilihan untuk renovasi rumah dinas di lingkup Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sulawesi Barat tahun anggaran