• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Hasil Ekspertise BNO IVP Pasien Rawat Inap Batu Saluran Kemih

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Gambaran Hasil Ekspertise BNO IVP Pasien Rawat Inap Batu Saluran Kemih"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Gambaran Hasil Ekspertise BNO IVP Pasien Rawat Inap Batu Saluran Kemih

1

Syafira Nurul Haque, 2Tjoekra Roekmantara, 3Ratna Dewi Indi Astuti 1,2,3

Pedidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung, Jl. Hariangbangga No.20 Bandung 40116

e-mail: [email protected] [email protected] 3

[email protected]

Abstrak. Batu saluran kemih merupakan proses terbentuknya kristal mineral atau kalkulus yang terletak

di ginjal, kandung kemih dan atau uretra. Pemeriksaan Blass Nier Overzicht Intravenous Pyelogram (BNO IVP) merupakan tindakan invasif minimal yang dapat memberikan informasi rinci kepada dokter untuk menunjang diagnosis dan terapi batu ginjal tanpa efek radiasi yang menetap di tubuh pasien dengan tingkat sensitifitas sebesar 98%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran hasil ekspertise BNO IVP pasien rawat inap batu saluran kemih di Rumah Sakit Al-Islam Bandung tahun 2013-2014 dengan melihat karakteristik berdasarkan lokasi, ukuran, sifat, aliran kontras dan komplikasi batu saluran kemih. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif observasional dengan metode cross sectional terhadap total sampling (studi populasi). Hasil penelitian didapatkan pada 38 pasien batu saluran kemih yang dirawat inap dan menggunakan BNO IVP, menunjukkan bahwa lokasi batu tersering adalah pada bagian ureteropelvic junction (58%), ukuran batu tersering berada pada kategori 5-10mm (58%), sifat batu tersering adalah dengan gambaran radiopak (89%), aliran kontras tersering adalah pada fase eksresi dan sekresi ginjal unilateral yang terlambat (50%) dan komplikasi tersering adalah hidronefrosis (42%).

Kata Kunci : Batu Saluran Kemih, BNO IVP, Ekspertise A. Pendahuluan

Batu saluran kemih merupakan masalah tersering pada bagian urologi.1 Batu saluran kemih merupakan proses terbentuknya kristal mineral atau kalkulus atau batu yang terletak di ginjal, kandung kemih dan atau uretra (pada sepanjang saluran kemih). Sebagian besar batu saluran kemih mengandung kalsium oksalat, sisanya terdiri dari campuran kalsium dan amonium fosfat, asam urat, sistin dan batu xantin.2

Obstruksi saluran kemih dapat meningkatkan kemungkinan infeksi dan pembentukan batu. Obstruksi yang terus-menerus menyebabkan kerusakan ginjal yang permanen, hydronephrosis dan obstructive uropathy.3

Kejadian batu saluran kemih di Amerika Serikat mencapai 13% pada laki-laki dan 7% pada wanita.1 Prevalensi puncak terjadi pada usia 20-50 tahun dengan predisposisi pria lebih sering dibandingkan wanita.4,12 Insidensi ini meningkat seiring dengan berubahnya pola hidup ke masyarakat industri, perubahan kondisi sosio-ekonomi, perubahan pola kebiasaan makan. Perubahan tersebut tidak hanya berpengaruh pada insidensi tetapi juga pada letak dan komposisi kimia dari batu.1

Angka kejadian batu ginjal di Indonesia pada tahun 2002 berdasarkan data estimasi yang dikumpulkan dari rumah sakit di seluruh Indonesia adalah sebesar 37.636 kasus baru, dengan jumlah kunjungan sebesar 58.959 orang, sedangkan jumlah pasien yang dirawat adalah sebesar 19.018 orang, dengan jumlah kematian adalah sebesar 378 orang.5

Berdasarkan data penelitian yang dilakukan oleh Talati JT, dkk menyatakan bahwa batu saluran kemih dapat dievaluasi dengan menggunakan berbagai pencitraan radiologi yaitu computed tomography (CT), foto x-ray atau Blass Nier Overzicht (BNO) dan ultrasound. Pemeriksaan penunjang foto polos BNO dapat mendeteksi sekitar 60-70% batu sedangkan pemeriksaan Blass Nier Overzicht Intravenous Pyelogram (BNO

(2)

IVP) dengan pemberian kontras intravena untuk memaksimalkan hasil pencitraan memiliki tingkat sensitifitas deteksi batu sebesar 98%.6 Meskipun sensitifitasnya tergolong tinggi dalam mendeteksi batu saluran kemih dibandingkan dengan pemeriksaan penunjang radiologi lainnya tetapi data penelitian di Indonesia mengenai batu saluran kemih yang menggunakan BNO IVP masih sangat jarang dilakukan.

Pemeriksaan BNO IVP merupakan tindakan invasif minimal yang menyediakan informasi rinci digunakan untuk membantu dokter dalam menunjang diagnosis dan terapi kondisi batu ginjal sampai kanker tanpa efek radiasi yang menetap di tubuh pasien. Namun, dosis efektif radiasi bervariasi tergantung kondisi seseorang dan bahan kontras yang digunakan dapat menyebabkan reaksi alergi serta meningkatkan resiko kanker akibat paparan berlebihan dari radiasi.7

Pemeriksaan BNO merupakan pembuatan foto polos abdomen tanpa kontras yang kemudian diikuti pembuatan BNO IVP abdomen setelah pemberian kontras urografik.8 Pemeriksaan ini dilakukan pada saluran kemih (ginjal, ureter dan kandung kemih) yang mengalami penyumbatan, penyempitan oleh tumor maupun kalkuli atau batu saluran kemih.9

Tujuan gambaran radiologi BNO IVP akan memperlihatkan batu dengan berbagai letak, ukuran, sifat batu yang mengandung kalsium terlihat sebagai gambaran radiopak, batu dengan jenis lain memberikan gambaran radiolusen sedangkan pada BNO IVP selain memperlihatkan karakteristik dan ukuran batu, juga memperlihatkan ekskresi pengisian jalur kontras yang terhambat dengan gambaran kaliks yang melebar dan mengumpul, sering disertai dengan dilatasi ureter di bawah level obstruksi.2

Gambaran hasil ekspertise yang tepat sangat diperlukan dalam menentukan diagnosis dan pengobatan yang akurat. Seringkali, batu tidak terlihat apabila hanya menggunakan pemeriksaan BNO, sehingga diperlukan penunjang lanjutan seperti BNO IVP untuk dapat memastikan keberadaan batu saluran kemih.

Rumah Sakit Al-Islam Bandung merupakan salah satu rekomendasi rumah sakit yang memiliki fasilitas lengkap di wilayah Bandung Timur. Selain itu, Rumah Sakit Al-Islam Bandung merupakan rumah sakit pendidikan Fakultas Kedokteran Unisba sehingga diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat langsung bagi kedua pihak. Hasil survei menunjukkan bahwa di Rumah Sakit Al-Islam Bandung tingkat kejadian batu saluran kemih cukup tinggi menjadi alasan utama penulis dalam pemilihan lokasi penelitian ini.

Berdasarkan latar belakang di atas, mengingat tingginya insidensi batu saluran kemih dan tingginya sensitifitas BNO IVP dalam mendeteksi batu saluran kemih, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul Gambaran Hasil Ekspertise BNO IVP pada Pasien Rawat Inap Batu Saluran Kemih di Rumah Sakit Al-Islam Bandung tahun 2013-2014.

Manfaat akademis dari penelitian ini adalah memberikan tambahan informasi dan wawasan ilmu untuk institusi dan masyarakat mengenai gambaran radiologi hasil pencitraan BNO IVP pada pasien dengan diagnosis batu saluran kemih, memperluas pengetahuan di bidang kesehatan dan ilmu-ilmu radiologi yang terkait dalam gambaran radiologi hasil pencitraan BNO IVP pada pasien dengan diagnosis batu saluran kemih, sebagai referensi bagi penelitian selanjutnya terkait radiologi dan urologi. Manfaat praktis dari penelitian ini adalah membantu dalam menegakkan diagnosis pasti terhadap pasien batu saluran kemih berdasarkan gambaran hasil ekspertise BNO IVP dan melihat keberhasilan pengobatan dan komplikasi batu saluran kemih berdasarkan ekskresi pengisian aliran kontras pada gambaran hasil ekspertise BNO IVP.

(3)

B. Metode

Subjek penelitian ini adalah pasien Batu Saluran Kemih di Rumah Sakit Al-Islam Bandung tahun 2013-2014. Subjek penelitian merupakan pasien rawat inap di Rumah Sakit Al-Islam Bandung tahun 2013-2014 yang didiagnosis Batu Saluran Kemih dibuktikan dari rekam medis hasil ekspertise BNO IVP. Subjek penelitian dipilih dari populasi terjangkau dengan metode pengambilan cross sectional terhadap total sampling yaitu mengambil seluruh populasi yang sesuai berdasarkan kriteria inklusi.

Bahan penelitian merupakan data sekunder yang diambil dari rekam medis hasil ekspertise BNO IVP pasien Batu Saluran Kemih di Rumah Sakit Al-Islam Bandung tahun 2013-2014. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari lokasi batu, ukuran batu, sifat pencitraan batu, aliran kontras dan komplikasi batu.

Prosedur penelitian terdiri dari proses studi pendahuluan, perizinan ke Rumah Sakit Al-Islam Bandung, pengambilan dan pengumpulan data, pengolahan dan interpretasi data. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Al-Islam Bandung tahun 2013-2014.

C. Hasil

Hasil penelitian yang didapat merupakan hasil pengolahan data rekam medis pasien rawat inap dengan diagnosis batu saluran kemih melalui ekspertise BNO IVP di Rumah Sakit Al-Islam Bandung tahun 2013-2014. Data rekam medis yang diambil sebanyak 38 pasien yang telah sesuai dengan kriteria inklusi.

Data yang dilihat direkam medis pasien adalah lokasi batu saluran kemih, ukuran batu saluran kemih, sifat batu saluran kemih, aliran kontras serta komplikasi batu saluran kemih.

Berikut gambaran hasil ekspertise BNO IVP batu saluran kemih berdasarkan lokasinya dapat dilihat pada gambar 1 :

Gambar 1 Gambaran Hasil Ekspertise BNO IVP Berdasarkan Lokasi Batu

Hasil penelitian didapatkan bahwa lokasi batu saluran kemih tersering terletak pada ureteropelvic junction dengan persentase sebesar 58%.

Ukuran batu saluran kemih dapat dilihat pada gambar 2 berdasarkan gambaran hasil ekspertise BNO IVP berikut :

(4)

Gambar 2 Gambaran Hasil Ekspertise BNO IVP Berdasarkan Ukuran Batu

Ukuran batu saluran kemih tersering pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada tahun 2013-2014 adalah 5-10 mm dengan persentase sebesar 58%.

Sifat batu saluran kemih dapat dilihat pada gambar 3 berikut :

Gambar 3 Gambaran Hasil Ekspertise BNO IVP Berdasarkan Sifat Batu

Sifat batu saluran kemih tersering tahun 2013-2014 pada pasien rawat inap di RSAI Bandung adalah pencitraan dengan gambaran radiopak sebesar 89%.

Aliran kontras ekspertise BNO IVP dapat dilihat pada gambar 4 berikut :

(5)

Aliran kontras pada pasien batu saluran kemih di Rumah Sakit Al-Islam Bandung paling banyak mengalami keterlambatan fase eksresi dan sekresi ginjal unilateral sebesar 50%.

Gambaran hasil ekspertise BNO IVP batu saluran kemih berdasarkan komplikasi dapat dilihat pada

gambar 5 berikut :

Gambar 5 Gambaran Hasil Ekspertise BNO IVP Berdasarkan Komplikasi Berdasarkan gambar 5 dapat dilihat bahwa komplikasi tersering pada batu saluran kemih adalah hidronefrosis sebesar 42%.

D. Pembahasan

Berdasarkan gambar 1 dapat diketahui bahwa letak batu saluran kemih tersering dari 38 pasien terletak pada ureteropelvic junction dengan proporsi sebesar 58%. Proporsi ini berbeda apabila dibandingkan dengan penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Chand RB di Nepal pada tahun 2012 bahwa letak batu saluran kemih tersering terletak pada ginjal. Pada penelitian ini, letak batu saluran kemih tersering terletak di ureteropelvic junction, hal ini disebabkan oleh posisi anatomis bahwa ureteropelvic junction merupakan saluran ureter yang memiliki penyempitan sehingga berpotensi tinggi mengalami obstruksi yang disebabkan oleh batu, sedangkan pada penyempitan yang lainnya pada ureterovesical junction jarang terjadi obstruksi karena letaknya lebih dekat dengan kandung kemih sehingga memudahkan batu untuk keluar secara spontan.16

Ukuran batu 5-10 mm menjadi ukuran tersering, yaitu sebanyak 22 pasien dengan proporsi 58%. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Radiological Society of North America bahwa kategori tersering adalah dengan ukuran 5-10 mm. Batu dengan ukuran <5 mm dapat keluar secara spontan sehingga pada penelitian ini jumlahnya lebih sedikit, sedangkan batu dengan ukuran ˃10 mm memerlukan rentang waktu yang cukup lama sehingga sebelum sumbatan batu tersebut semakin membesar, pasien telah merasakan nyeri pinggang hebat dan melakukan pengobatan maupun pembedahan .31

Berdasarkan sifat pencitraan batu, radiopak merupakan sifat batu yang tersering, yaitu 34 pasien dengan proporsi 89%. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Radiological Society of North America bahwa mayoritas batu saluran kemih bersifat radiopak sebesar 90%. Sifat batu radiopak ini disebabkan oleh banyaknya komposisi batu kalsium seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, struvite dan

(6)

sistein yang mendominasi dalam unsur pembentukan batu, sedangkan sifat batu radiolusen didapatkan dari komposisi batu antara lain batu sistein, asam urat, indinavir, dan pure matrix stone.31 Menurut Siroky MB dkk batu saluran kemih terbentuk akibat tingginya konsumsi makanan yang kaya akan garam, protein dan lemak hewani, sedangkan batu kalsium terbentuk akibat tingginya konsumsi makanan yang tinggi akan kandungan kalsium seperti makanan yang terbuat dari produk susu.19 Hal tersebut didukung pula oleh kebiasaan masyarakat Indonesia yang sering mengkonsumsi makanan-makanan yang dapat meningkatkan faktor resiko terbentuknya batu saluran kemih, terutama makanan mengandung kalsium yang menjadi komposisi terbanyak pada pembentukan batu radiopak.

Fase ekskresi dan sekresi yang terlambat pada salah satu ginjal merupakan aliran kontras yang tersering dengan proporsi 50% sebanyak 19 pasien. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Javed Altaf, dkk di Pakistan tahun 2013 bahwa aliran kontras tersering terletak pada ginjal unilateral terutama ginjal kiri dengan proporsi sebanyak 54%, hal ini menunjukan bahwa obstruksi batu ginjal paling banyak terjadi hanya pada salah satu ginjal terutama ginjal kiri sehingga aliran kontras yang terlihat pada BNO IVP adalah keterlambatan fase sekresi dan ekskresi ginjal unilateral.32

Berdasarkan komplikasi batu saluran kemih, hidronefrosis merupakan komplikasi yang tersering berjumlah 16 pasien dengan proporsi 42% diantara komplikasi lainnya yaitu hidroureter, infeksi saluran kemih, striktur uretra dan gagal ginjal kronis. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Muzio D.B dalam Radiopaedia-UMB Medica Network tahun 2015 bahwa komplikasi yang sering terjadi pada batu saluran kemih adalah hidronefrosis. Hal ini disebabkan oleh kondisi medis yang ditandai dengan peradangan pada salah satu atau kedua ginjal akibat terkumpulnya urin di dalam ginjal yang disebabkan oleh tersumbatnya saluran kemih.23

E. Simpulan

Hasil penelitian ini menyimpulkan gambaran hasil ekspertise BNO IVP pada pasien rawat inap batu saluran kemih di Rumah Sakit Al-Islam Bandung tahun 2013-2014 adalah sebagai berikut :

Letak batu tersering berdasarkan gambaran hasil ekspertise BNO IVP pada pasien rawat inap batu saluran kemih di Rumah Sakit Al-Islam Bandung tahun 2013-2014 terletak pada ureteropelvic junction dengan persentase pasien sebanyak 58%.

Ukuran batu tersering berdasarkan gambaran hasil ekspertise BNO IVP pada pasien rawat inap batu saluran kemih di Rumah Sakit Al-Islam Bandung tahun 2013-2014 sebesar 5-10 mm dengan persentase pasien sebanyak 58%.

Sifat batu tersering berdasarkan gambaran hasil ekspertise BNO IVP pada pasien rawat inap batu saluran kemih di Rumah Sakit Al-Islam Bandung tahun 2013-2014 adalah radiopak dengan persentase pasien sebanyak 89%.

Aliran kontras berdasarkan gambaran hasil ekspertise BNO IVP pada pasien rawat inap batu saluran kemih di Rumah Sakit Al-Islam Bandung tahun 2013-2014 adalah ekskresi sekresi ginjal unilateral terlambat dengan persentase pasien sebanyak 50%.

(7)

Komplikasi tersering berdasarkan gambaran hasil ekspertise BNO IVP pada pasien rawat inap batu saluran kemih di Rumah Sakit Al-Islam Bandung tahun 2013-2014 adalah hidronefrosis dengan persentase pasien sebanyak 50%

Daftar Pustaka

Longo DL, Kasper DL, Fauci AS. Urinary tract obstruction, Disorder of the kidney and urinary tract. In: Fauci AS, (ed). Harrison’s Principal of Internal Medicine. 18th Edition. United States of America: Mc Graw-Hill; 2012. p 4790.

Patel RP. Urinary tract. Lecture notes on radiologi. 2nd Edition. Blackwell Publishing; 2005

Charles KT. Elsevier Integrated Pathology. Philadelpia: Mosby; 2007 Anand CO. In Horton S.D, editor. Crash Course. 3rd Edition; 2007

Depkes RI-Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Statistik mortalitas dan morbiditas rumah sakit di indonesia. Seri 3. Jakarta; 2002

Talati JT , Tiselius HG, Albala DM. Urolithiasis basic and clinical practice; 2003. p 256.

Benefit and risk intravenous pyelogram. c 2015 Scottsdale medical imaging LTD

[Unduh 17 Februari 2015 ] Tersedia dari :

http://www.esmil.com/abdomen/intravenous-pyelogram/benefits-risks.php Aziz MF, Witjaksono J, Rasjidi I, Paduan pelayanan medik model interdisiplin

penatalaksanaan. Jakarta; 2008

Lindh W, Pooler M, Tamparo C. Delmar clinical medical assisting 5th Edition; 2009 Moore KL, Daley AF. Clinically oriented anatomy. 6th Edition. Baltimore: Lippincot

William and Wilkins; 2006. p 292-4 dan 362-8.

Tortora GJ, Derickson B. Principles of anatomy and physiology. 13th Edition. John wiley & Son, Inc;2011. p 1065.

Iambia. Abdoman clinical. [ Diunduh 17 Februari 2015 ] Tersedia pada : http://quizlet.com/10326515/abdoman-clinical-flash-cards/

Sherwood Lauralee. Urinary tract in human physiology: From cells to system. 6th Edition. Shenton Way; 2007. p 554.

Kumar V, Abbas AK, Fausto N, et al. Urolithiasis (calculi, stone), Kidney. In: Schmitt W, Editor. Robbins and Cotran pathologic basic of disease. 8th Edition. Philadelphia: Saunders Elsivier; 2004.

(8)

C.Türk, T. Knoll, A. Petrik, K Sarica, M. Straub, C.Seitz. Guidelines on urolithiasis. european association of urology; 2011. [ diunduh 29 Januari 2015 ]. Tersedia dari : http://www.uroweb.org/gls/pdf/18_Urolithiasis.pdf

Chand RB, Shah AK, Pant DK, Paudel S. Common site of urinary calculi. Pubmed. [update 2013 Maret 15, diunduh 30 Januari 2015] Tersedia dari : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24592784

Field MJ, Pallock CA, Harris DC. The renal system. Elsevier; 2001 Page 9.

Institute for study of urologic disease. Urolithiasis [homepage on the internet]. © 2012 [unduh 18 Februari 2015] Tersedia dari: http://www.imop.gr/en/uroinfo-urolithiasis%23

Siroky MB, Oates RD, Babayan RK. Handbook of urology diagnostic and therapy. 3rd Edition. Lippincot Williams & Wilkins; 2004.

Davey Patrick. Medicine at a glance. Blackwell Science Ltd; 2003. p 123.

Urology Care Foundation [homepage on the internet]. Kidney and ureteral stones surgical management. [Update 2011 May 7, diunduh 20 Desember 2014]. Tersedia dari : http://www.auanet.org/education/kidney-stones.cfm

NCBI. Ureteral expanding stent : A new device for urolithiasis. [diunduh 22 Desember 2014] Tersedia dari : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17523909

Muzio DB, Jones J, et al. Urolithiasis. Radiopaedia-UMB Medica Network. © 2005-2015 [Update 2011, Agustus 14, diunduh 20 Desember 2014]. Tersedia dari : http://radiopaedia.org/articles/urolithiasis

Hohenfellner M, Santucci RA. Heillman U, editor. Emergencies in urology. Springer-Verlag Berlin Heidelberg New York; 2007

Webmd.com [homepage on the internet]. WebMD Medical Reference from Healthwise. © 1995-2014 [update 2013 Juli 29, diunduh 25 Januari 2015] tersedia dari : http://www.webmd.com/a-to-z-guides/intravenous-pyelogram-ivp

Urologi malang. Pencitraan traktus urinarogenital. [diunduh 18 Februari 2015] Tersedia dari:

http://urologimalang.com/download/Pencitraan%20Traktus%20urogenital%282 %29.pdf

Portis A.J, Sundaram C.P. Diagnosis and initial management for kidney stone. American family phsycian. © 2001 by the American Academy of Family Physicians. St. Louis, Missouri [Update 2001, April 1, diunduh 17 Februari 2015] Tersedia pada : http://www.aafp.org/afp/2001/0401/p1329.html

Silbernagi S, Lang F. Pathology of kidney and urinary tract. In: Gay R, Rothenburger A, editors. Color atlas of pathophysiology. International Edition; 2005

(9)

Myhealth.alberta.ca [homepage on the internet]. © 1995-2014 Healthwise, Incorporated. [Update 2014 September 9, diunduh 22 Desember 2014] Tersedia dari : https://myhealth.alberta.ca/health/Pages/conditions.aspx?hwid=hw231427 Rubenstein D, Wayne D, Bradley J. Lecture notes kedokteran klinis. Edisi keenam.

EMS Jakarta; 2010

Tamm E.P, Silverman M.P, Shuman P.W. Evaluation of the Patient with Flank Pain and Possible Ureteral Calculus. © 2002 by RSNA Radiology. [Update 2002 Agustus

8, diunduh 22 Juli 2015] Tersedia pada :

http://pubs.rsna.org/doi/full/10.1148/radiol.2282011726

Altaf J, Arain A.H, Kella N.L, Rehman Shafique. Chemical Analysis of Urinary Stones and its Locations Associated to Urinary Tract. © 2013 by JLUMHS. [ diunduh

28 Juli 2015 ] Vol 12: No. 03. Tersedia pada :

Gambar

Gambar 1 Gambaran Hasil Ekspertise BNO IVP Berdasarkan Lokasi Batu
Gambar 2 Gambaran Hasil Ekspertise BNO IVP Berdasarkan Ukuran Batu
gambar 5 berikut :

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis antibiotik dan kuantitas penggunaan antibiotik pada pasien infeksi saluran kemih rawat inap di RSU Kartini Jepara tahun

Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien yang didiagnosis infeksi saluran kemih di Instalasi Rawat Inap RSPAU dr.. Hardjolukito

Infeksi saluran kemih adalah hasil diagnosa dokter bahwa pasien menderita Infeksi saluran kemih bagian bawah atau sistitis (kode N30.9) dan infeksi saluran kemih bagian atas

Dalam penelitian ini diperoleh berbagai data mengenai Hubungan Pemasangan Kateter dengan Kejadian Infeksi Saluran Kemih (ISK) Pada Pasien Rawat Inap Di RSUD Labuang Baji

Penggunaan antibiotik pada penderita dengan Infeksi Saluran Kemih Di Rawat Inap Klinik Utama Amanda Purwokerto dapat disimpulkan bahwa jenis antibiotik yang diguanakan

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui rasionalitas penggunaan antibiotik pada pasien Infeksi Saluran Kemih (ISK) di instalasi rawat inap RSUD Soe tahun 2018

Ringkasan laporan kasus seorang pasien dengan batu saluran kemih, termasuk presentasi klinis, diagnosis, dan

Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui kesesuaian biaya riil dengan tarif INA-CBG’s pada pasien JKN rawat inap, dan pola pengobatan pasien infeksi saluran kemih, serta faktor