• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal JARKOM Vol. 6 No. 1 Desember 2017 ISSN:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal JARKOM Vol. 6 No. 1 Desember 2017 ISSN:"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PERANCANGAN ALARM BASE TRANSCEIVER STATION (BTS) DENGAN SARANA E-MAIL DAN TELEGRAM DI PT. BROADBAND INDONESIA PRATAMA YOGYAKARTA

Siswanto1, Suwanto Raharjo2, Amir Hamzah3 1,2,3Teknik Informatika FTI, IST AKPRIND

massiswanto1906@gmail.com1, wa2n@akprind.ac.id2, amir@akprind.ac.id3

ABSTRACT

PT. Broadband Indonesia Pratama has many Base Transceiver Station (BTS) tower, in operation BTS tower is connected with other BTS tower in a special internet network scope. The network can only be accessed by internal parties. In practically every BTS tower is connected with electricity and UPS, but technically there are always factors that cause the interruption of the BTS tower as when the power goes out and monitoring the user host. The main thing to do is to design Alarm Base Transceiver Station (BTS) by means of E-mail and Telegram. The design of the alarm serves to minimize any disruption in the BTS tower.

In this study aims to facilitate the technician in getting information faster in case of interference and provide recommendations to improve the effectiveness and effectiveness in handling the existence of the BTS tower. From the two means on the alarm made a comparison to determine which means are more effective and efficient. From the two means, the comparison result of the information delivery process when there are disturbances in the BTS tower in realtime with based on the parameters that become the reference in the system Netwatch on the Mikrotik interval and timeout. Difference in time process resulting from the two means when information entered when there is a disturbance that is 5ms. A more effective and efficient means for handling the interruption of BTS tower is Telegram.

Keyword: Alarm, Base Transceiver Station, E-Mail, Telegram. INTISARI

PT. Broadband Indonesia Pratama memiliki banyak Base Transceiver Station (BTS) tower, dalam pengoperasinya BTS tower saling terhubung dengan BTS tower lainnya dalam sebuah lingkup jaringan internet khusus. Jaringan tersebut hanya dapat diakses oleh pihak internal. Pada praktisnya setiap BTS tower terhubung dengan listrik dan UPS, tetapi secara teknis selalu ada faktor yang menjadi penyebab adanya gangguan pada BTS tower seperti pada saat listrik padam dan monitoring host user. Hal utama yang harus dilakukan adalah melakukan Perancangan Alarm Base Transceiver Station (BTS) dengan sarana E-mail dan Telegram. Perancangan alarm berfungsi untuk meminimalisir adanya gangguan pada BTS tower.

Pada penelitian ini bertujuan untuk memudahkan teknisi dalam mendapatkan informasi lebih cepat apabila terjadi gangguan dan memberikan rekomendasi untuk meningkatkan efisien dan efektivitas dalam melakukan penanganan adanya ganggungan pada BTS tower. Dari ke dua sarana pada alarm dilakukan perbandingan untuk menentukan sarana mana yang lebih efektif dan efisien. Dari kedua sarana tersebut didapatkan hasil perbanding dari proses pengiriman informasi ketika adanya gangguan pada BTS tower secara realtime dengan berdasarkan parameter yang menjadi acuan dalam sistem Netwatch pada Mikrotik yaitu interval dan timeout. Selisih proses waktu yang dihasilkan dari ke dua sarana saat informasi masuk ketika terjadi adanya gangguan yaitu 5ms. Sarana yang lebih efektif dan efisien untuk melakukan penanganan adanya gangguan pada BTS tower adalah Telegram.

Kata kunci: Alarm, Base Transceiver Station, E-Mail, Telegram. PENDAHULUAN

Dewasa ini teknologi komunikasi dibidang internet semakin berkembang pesat. Hal ini diimbangi dengan bertambahnya kebutuhan masyakat akan jaringan internet yang memadahi. Kebutuhan akan paket data internet saat ini tidak lagi untuk para orang dewasa tapi juga para remaja saat ini. Instan dan praktis adalah kelebihan utama dari internet yang menjadi faktor

(2)

penyebab utama kenapa masyarakat semakin membutuhkan internet dalam kehidupan mereka sehari-hari. Ditambah dengan semakin populernya penggunaan smart

phone membuat akses ke internet menjadi lebih mudah. Dengan adanya kebutuhan masyarakat akan internet yang semakin meningkat menjadi peluang bagi para pengusaha di bidang jasa penyedia layanan internet untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang masih sangat minim sekali terpenuhi.

Penyedian jasa layanan internet dalam melakukan distribusi internet ke pelanggan memiliki banyak Base Transceiver Station (BTS) tower, dalam pengoperasinya Base Transceiver Station (BTS) tower saling terhubung dengan Base Transceiver Station (BTS) lainnya dalam sebuah lingkup jaringan internet khusus. Jaringan tersebut hanya bisa diakses oleh pihak internal. Base Transceiver Station (BTS) berfungsi menjembatani perangkat komunikasi pengguna dengan jaringan menuju jaringan lain. Pada praktisnya setiap Base Transceiver Station (BTS) tower terhubung dengan listrik dan UPS, tetapi secara teknis selalu ada faktor yang menjadi penyebab gangguan pada Base Transceiver Station (BTS) tower. Gangguan tersebut menjadi masalah yangsangat serius bagi setiap pengusaha penyedia jasa layanan internet. Untuk

meminimalisir adanya gangguan pada Base Transceiver Station (BTS) tersebut dapat dilakukan dengan cara melakukan “Perancangan Alarm Base Transceiver Station (BTS) dengan saranaE-mail dan Telegram”.

E-mail adalah Surat elektonik sebagai sarana menerima dan mengirim surat melalui jalur internet atau dapat juga diartikan surat dengan format digital dan dikirimkan melalui jaringan Internet. E-mail mampu mengirimkan informasi adanya gangguan pada Base Transceiver Station (BTS) tetapi disisi lain Telegram juga mampu mengirimkan informasi adanya gangguan pada Base Transceiver Station (BTS). Telegram adalah fasilitas yang digunakan untuk menyampaikan informasi jarak jauh dengan cepat, akurat dan terdokumentasi. Ke dua sarana tersebut akan memberikan hasil perbandingan yang dinilai mampu dikembangkan hasilnya agar lebih efektif dan efisien dalam mengatasi ganggungan pada Base Transceiver Station (BTS) khususnya listrik dan monitoring Host user. Hasil perbandingan dari ke dua sarana tersebut akan memberikan rekomendasi dan kemudahan bagi teknisi dalam mengetahui gangguan yang terjadi pada Base Transceiver Station (BTS) secara realtime untuk meningkatkan efisien dan efektivitas dalam melakukan penanganan adanya ganggungan. Tujuan dalam penelitian ini adalah Merancang AlarmBase Transceiver Station (BTS) dengan saranaE-maildan Telegram untuk mempermudah penanganan masalah gangguan pada BTS, yaitu: listrik padam dan monitoring host user dan Memberikan rekomendasi untuk meningkatkan efisien dan efektivitas dalam melakukan penanganan ganggungan (listrik) dan monitoring host user pada BTS milik PT. Broadband Indonesia Pratama.

TINJAUAN PUSTAKA

Suraya dan Novianta (2015), telah melakukan penelitian tentang Sistem Pergeseran Tanah Menggunakan Sensor Draw Wire. Penelitian diujicobakan secara simulasi di laboratorium dengan mengkalibrasi alat penelitian, jika terjadi fluktuasi nilai pergeseran tanah maka alat akan mendeteksinya dan hasilnya dikirimkan melalui SMS gateway. Dengan menggunakan sistem ini, optimalisasi penggunaan lahan tempat tinggal masyarakat dan juga mengantisipasi adanya korban dari ancaman bencana tanah longsor, waktu respon rata-rata SMS sekitar 4 detik tergantung kualitas sinyal dan traffic data dari suatu provider oleh pengguna.

Prasetyono (2016), juga pernah melakukan penelitian tentang Sistem Peringatan Luapan Air. Alat ini mengunakan sensor ultrasonik sebagai pengukur ketinggian air, Lyquid Crystal Display (LCD) sebagai monitor hasil pengukuran, buzzer dan Modem Wavecom Fastrack. Sistem peringatan luapan air dilakukan dengan mengirim pesan SMS melalui modem GSM ke nomer handphone yang dituju dan buzzer diaktifkan secara otomatis sesuai dengan pengaturan batas kritis pada air.

Setiawan dkk (2007), telah melakukan penelitian tentang Sistem Peringatan Kerusakan Perangkat Jaringan Base Transceiver Station (BTS). Penelitian tersebut memberikan visualisasi beserta informasi kepada operator-operator tentang kerusakan perangkat jaringan pada divisi NMC (Network Management Center). Metode penelitian yang digunakan adalah metode waterfall yang terdiri atas 6 tahapan. Sistem peringatan yang dirancang menghasilkan informasi

(3)

berupa simbol di layar peta. Dengan adanya sistem ini, maka operator akan lebih mudah dalam memantau dan mengendalikan perngkat jaringan khususnya dalam menangani kerusakan perangkat jaringan.

Mulyani dan Andika (2014), telah melakukan penelitian tentang Sistem Pengaman Rumah dan Pengendali Lampu. Metode yang digunakan dalam pembuatan sistem pengaman rumah dan pengendali yang lebih efektif dan efesien yaitu metode R&D (Penelitian dan Pengembangan) yang meliputi potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, validasi desain, revisi desain, uji coba produk dan revisi produk . Sistem yang telah dibuat memanfaatkan perkembangan teknologi dalam bidang komunikasi dan informasi yaitu fasilitas SMS dan dalam bidang elektronika yaitu mikrokontroler dan sensor. Dari hasil penelitian dapat di simpulkan sistem yang dibuat lebih efektif dan efesien dibandingkan dengan sistem yang telah dibuat sebelumnya.

Utomo dan Saputra (2016), telah melakukan penelitian tentang Sistem Pendeteksi Polusi Ruangan Menggunakan Sensor Asap. Penerapan memantau polusi ruangan dengan menggunakan SMS, sehingga memudahkan para pengguna untuk mengetahui keadaan ruangannya. Dalam penelitian tersebut menghasil sistem yang mampu mendeteksi polusi ruangan dengan menggunakan sensor asap dan dapat diatur atau dipantau dari jarak jauh dengan jaringan GSM untuk mepercepat proses pengiriman informasi melalui SMS.

Suraya dan Novianta (2016), telah melakukan penelitian tentang Sistem Informasi Data Base Multi-Node Pemantauan Pergeseran Tanah. Penelitian tersebut menghasilkan sistem pengukuran dari unit pantau ke data kolektor terintegrasi dengan perangkat lunak, data pengukuran yang tersimpan akan digunakan sebagai pengambil keputusan terhadap akumulasi besarnya pergeseran tanah yang terjadi sehingga ancaman bahaya tanah longsor dapat diketahui secara dini oleh masyarakat maupun pihak yang berwenang. Hasil informasi tertampil di PC dalam format teks yang berupa nilai hasil pemantauan pergeseran tanah dan pada alat pantau terdapat tiga kondisi keadaan dalam mendeteksi adanya pergeseran tanah dengan batas ambang bawah yang berbeda, nilai ambang batas bawah untuk kondisi SIAGA=100mm, WASPADA=180mm, dan AWAS=250mm, waktu respon rata-rata SMS sekitar 5 detik tergantung kualitas sinyal dan trafic data dari suatu provider oleh pengguna.

METODOLOGI PENELITIAN

Metode pengumpulan data digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan data yang sesuai kebutuhan, yaitu sebagai berikut:

a. Metode observasi

Metode observasi yaitu metode pengumpulan data dengan melakukan pengamatan dan pencatatan baik secara langsung maupun secara tidak langsungterhadap objek yang sedang diteliti.

b. Studi kepustakaan/literatur

Studi kepustakaan/literatur adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan mempelajari pustaka, dokumentasi dan gambar-gambar yang berhubungandengan yang diteliti. Metode ini digunakan dalam pengumpulan data pustaka danbahan-bahan penelitian yang dibutuhkan.

c. Motode Dokumentasi

Dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan mencari, menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen baik itu dokumen tertulis (catatan, transkrip, dan sebagainya), gambar maupun elektronik.

Pada tahap perancangan ini peneliti melakukan perancangan alarm yang akan digunakan pada BTS sebagai obyek penelitian. Berikut ini adalah gambar rancangan alarm pada BTS.

(4)

Gambar 1. Arsitektur Perancangan Jaringan

Internet adalah sumber dari NAP yang didistribusikan pada BTS, kemudian pada BTS yang telah terhubung UPS dipasangkan alarm dengan media komunikasi menggunakan Access Point. Apabila terjadi mati listrik, UPS akan menyala, secara otomatis alarm akan aktif dan mengirimkan informasi melalui media Access Point ke NOC (server). NOC (server) akan mencatat informasi yang dikirimkan alarm melalui media Acccess Point ke sistem record untuk kemudian dilanjutkan ke SMTP dan Bot (Telegram) server. SMTP server dan Bot server berfungsi sebagai mediator pengiriman informasi yang diterima dengan sarana e-mail dan telegram.

PEMBAHASAN

a. Implementasi alarm BTS dengan sarana E-mail

dilakukan pada sistem netwatch yang merupakan fitur pada mikrotik. Pada sistem netwatch peneliti meletakkan source code yang berfungsi untuk menjembatani program alarm pada BTS tower yang telah dikonfigurasikan apabila terjadi gangguan pada BTS tower untuk mengirimkan pemberitahuan kepada teknisi dengan sarana e-mail. Berikut ini adalah gambar source code untuk e-mail.

Gambar 2. Source Code E-mail pada Netwatch

Pada gambar 2 adalah source code e-mail pada Menu Netwat Host lakukan modifikasi isi pada body dan sesuaikan dengan kebutuhan /tool e-mail send to berfungsi untuk mengirimkan informasi ke e-mail tujuan atau penerima.

(5)

Gambar 3. Cara Kerja Alarm Dengan Sarana E-mail Berikut adalah hasil alarm BTS dengan sarana E-mail

Gambar 4. Hasil Alarm Dengan Sarana E-mail b. Implementasi alarm BTS dengan sarana Telegram

dilakukan pada system netwatch yang merupakan fitur pada mikrotik. Pada sistem netwatch peneliti meletakkan source code yang berfungsi untuk menjembatani program alarm pada BTS tower yang telah dikonfigurasikan apabila terjadi gangguan padaBTS tower untuk mengirimkan pemberitahuan kepada teknisi dengan sarana Telegram. Berikut ini adalah gambar source code untuk Telegram.

(6)

Pada gambar 5 adalah source code Telegrampada Menu Netwat Host lakukan modifikasi isi pada textdan sesuaikan dengan kebutuhan, /tool fetch url berfungsi untuk mengirimkan informasi ke Server Bot Telegram tujuan.

Gambar 6. Cara Kerja Alarm Dengan Sarana Telegram Berikut adalah hasil alarm BTS dengan sarana Telegram

Gambar 7. Hasil Alarm Dengan Sarana Telegram

Informasi yang disampaikan dari media antar muka tersebut adalah statis tetapi sebuah telegram mampu menampilkan informasi dengan berupa menu dan commands sehingga pada telegram informasi yang didapatkan tidak berupa informasi update yang dikirimkan ketika terjadi gangguan pada BTS tower tetapi dapat melihat informasi lain yang tersedia dalam menu bot telegram. Pada bot Telegram tersebut terdapat fasilitas broadcast, fasilitas tersebut sangat penting dalam penelitian ini karena infromasi gangguan yang di update akan difilter oleh bot dan kemudian informasi disebarkan ke teknisi melalui

(7)

Gambar 8. Menu pada Bot Telegram

Pada gambar 8 merupakan tampilan Menu Bot pada Telegram, ada dua menu bot pada Telegram, yaitu: InfoBTSTowerPatuk, DaftarHost, dan Bantuan. Dalam Bot telegram untuk pemanggilan informasi selain menggunakan menu dapat juga menggunakan /command. Pada bot Telegram terdapat dua /command, yaitu /infobts, /daftarhost dan /bantuan. Command /infobts berfungsi untuk menampilkan informasi pada BTS, command /daftarhost digunakan untuk menampilkan daftar host pada BTS tersebut dengan extensi .word dan command /bantuan berfungsi untuk melihat command yang terdapat pada Bot. Berikut adalah contoh gambar pemanggilan informasi dengan menggunakan /command.

Gambar 9. Informasi Berdasarkan /command pada Bot Telegram

Pada gambar 9 merupakan proses menampilkan informasi BTS dengan menggunakan mode command. Kelebihan lain dari Bot ini adalah dapat melakukan broadcast, broadcast dilakukan dengan cara pilih menu send new post to subscribers dilakukan forward pesan ke dalam sebuah group. Berikut ini adalah tampilan hasil broadcast pada sebuah group.

(8)

Gambar 10. Hasil Broadcast pada Group

Pada gambar 10 merupakan hasil dari broadcast yang dilakukan oleh Bot Telegram ke dalam group. Group bersifat private tidak public, bersifat private yaitu tidak sembarang member dapat masuk ke dalam group tersebut. Member dapat masuk ke dalam group jika admin mengizinkan dan melakukan addmember pada group.

c. Perbandingan Alarm BTS Dengan Sarana E-mail Dan Telegram

Pada bagian ini peneliti melakukan perbandingan alarm Base Transceiver Station (BTS) dengan sarana E-mail dan Telegram. Perbandingan dilakukan dengan menggunakan parameter sebagai acuan dalam perbandingan. Dalam sistem netwatch terdapat dua parameter ketika akan melakukan monitoring server. Dua parameter tersebut adalah interval dan timeout, kedua parameter terdapat pada netwatch host. Interval adalah berapa interval waktu untu setiap ping (default = 20ms) sedangkan untuk timeout adalah berapa besar waktu indikasi timeout (default = 1000ms) jika replay lebih dari sama dengan 1000ms maka akan dihitung RTO. Hasil perbandingan dari ke dua sarana tersebut didapat dari selisih proses waktu pengiriman informasi ketika terjadi gangguan pada BTS tower. Setelah dilakukan konfigurasi pada alarm dengan dua parameter yaituinterval dan timeout yang sama untuk ke dua sarana maka didapatkan hasil proses waktu tercepat dalam pengiriman informasi ketika adanya gangguan adalah Telegram. Selisih waktu dari ke dua sarana tersebut adalah 5ms sedangkan untuk e-mailmengalami keterlambatan dalam pengiriman informasi ketika terjadi adanya gangguan. Hasil perbandingan dari sisi lain dari ke dua sarana yaitu informasi yang disampaikan pada alarm BTS tower dengan sarana e-mail hanya statis sehingga untuk alarm BTS tower dengan sarana e-mail hanya dapat menerima informasi adanya gangguan saja. Alarm BTS dengan sarana Telegram merupakan sarana yang lebih efektif dan efisien. Telegram dapat mengirimkan informasi adanya gangguan pada BTS tower selain itu dalam sebuah Telegram dapat diletakan menu, /command dan dapat melakukan broadcast adanya gangguan pada BTS tower ke dalam sebuah group dengan nama Bipnet. Didalam group tersebut teknisi atau member dapat melihat informasi perangkat yang terpasang serta lokasi BTS tower dan daftar host pada BTS tower. Dari hasil perbandingan di atas dengan melihat perbandingan proses pengujian dan hasil pengujian dengan dua parameter sebagai acuan pada sistem netwatch maka dari ke dua saranatersebut sarana yang lebih efektif dan efisien dalampenanganan adanya gangguan pada BTS tower adalah Telegram.

(9)

KESIMPULAN

Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. BTS adalah kependekan dari Base Transceiver Station yang merupakan perangkat komunikasi pengguna dengan jaringan menuju jaringan lain. Satu cakupan pancaran BTS dapat disebut Cell. Komunikasi seluler adalah komunikasi modern yang mendukung mobilitas yang tinggi. Dari beberapa BTS kemudian dikontrol oleh satu Base Station Controller (BSC) yang terhubungkan dengan koneksi microwave ataupun serat optik.

b. Merancang AlarmBase Transceiver Station (BTS) dengan sarana E-mail dan Telegram dapat menggunakan Mikrotik versi 1U Rackmount [RB1100AHx2] dan menggunakan media komunikasi Access Point Wifi Router yang difungsikan sebagai modem. Bentuk informasi BTS yang diolah berupa E-mail dan Telegram yang dapat di update secara berkala ketika listrik padam dan monitoring host user.

c. Perancangan alarm Base Transceiver Station (BTS) bertujuan untuk mempermudah, dan memberikan rekomendasi untuk meningkatkan efisien dalam penanganan masalah gangguan pada BTS saat listrik padam dan monitoring host user saja.

d. Implementasi AlarmBase Transceiver Station (BTS) dengan sarana E-mail dan Telegram pada sistem netwatch yang merupakan fitur padamikrotik. Pada sistem netwatch peneliti meletakkan source code yang berfungsi untuk menjembatani program alarm pada BTS tower yang telah dikonfigurasikan apabila terjadi gangguan pada BTS tower untuk mengirimkan pemberitahuan kepada teknisi dengan sarana E-mail dan Telegram.

e. Hasil perbandingan dari ke dua sarana tersebut yang paling efisien dan efektif dalam penanganan gangguan pada BTS tower adalah Telegram.

DAFTAR PUSTAKA

Mulyani, E. D. S., & Andika, A. (2014). Sistem Pengamanan Rumah dan Pengendali Lampu Memanfaatkan Fasilitas SMS Berbasis Mikrokontroler Atmega16. Sisfoteknika, 4(2). Prasetyono, F. A. (2016). Perancangan Sistem Peringatan Luapan Air Dengan Mikrokontroler

Berbasis SMS. Jurnal Online Mahasiswa (JOM) Bidang Teknik Elektro, 1(1).

Suraya, M. A. N., & Novianta, M. A. (2015). Perancangan Sistem Pergeseran Tanah Menggunakan Sensor Draw Wire Berbasis Mikrokontroler Dengan Informasi SMS Gateway. Prosiding Senatek Fakultas Teknik UMP.

Suraya, S., & Novianta, A. (2016). Sistem Informasi Data Base Multi-Node Pemantauan Pergeseran Tanah Berbasis SMS Gateway dan Berorientasi Visual pada Komputer. Jurnal Informatika, 10(1).

Setiawan, A. H., Froleen, F., & Toto, E. S. (2007). Analisis Dan Perancangan Sistem Peringatan Kerusakan Perangkat Jaringan Base Transceiver Station PT. Indosat. TBK Berbasis Sistem Informasi Geografi Untuk Wilayah Jakarta (Doctoral dissertation, BINUS). Utomo, B. T. W., & Saputra, D. S. (2016). Simulasi Sistem Pendeteksi Polusi Ruangan

Menggunakan Sensor Asap Dengan Pemberitahuan Melalui SMS (Short Message Service) Dan Alarm Berbasis Arduino. Jurnal Ilmiah Teknologi Informasi Asia, 10(1), 56-68.

Gambar

Gambar 1. Arsitektur Perancangan Jaringan
Gambar 3. Cara Kerja Alarm Dengan Sarana E-mail  Berikut adalah hasil alarm BTS dengan sarana E-mail
Gambar 6. Cara Kerja Alarm Dengan Sarana Telegram  Berikut adalah hasil alarm BTS dengan sarana Telegram
Gambar 8. Menu pada Bot Telegram
+2

Referensi

Dokumen terkait

menjelaskan permasalahan teknis yang bisa terjadi dan yang menyebabkan permasalahan teknis itu terjadi, dimana dalam pembangunan sebuah kapal masih banyak permasalahan teknis

waktu kepada badan yang menangani tata operasi darat atau ground handling. yaitu Kokapura untuk mempersingkat waktu Ground

Hal tersebut membuat responden tidak mau terlibat dalam kegiatan sosial dalam masyarakat karena ia merasa bahwa masyarakat memandangnya rendah karena statusnya sebagai

Gambar 10 adalah tampilan daftar referensi, terdiri dari background berwarna putih, text bertuliskan daftar referensi di atas, text berwarnabiru sebagai isi dari tentang

Kebutuhan Institusi di berbagai unit kerja diharapkan membuat Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada berusaha semaksimal mungkin dalam mencapai kinerja yang diharapkan. Hal

Sumber penerimaan dana insidental berasal dari sumbangan masyarakat yang dititipkan baik yang berasal dari luar negeri maupun dalam negeri berupa perseorangan,

Apabila browser yang digunakan pengguna tidak terdapat sertifikat yang telah diverifikasi oleh Certificate Authority (CA) yang sama dengan yang juga memverifikasi

Model pembelajaran Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) sudah diperkenalkan dan diterapkan oleh Yayasan Kanisius hampir tiga tahun, tepatnya pada awal ajaran baru