SIMULASI POLA PENYEBARAN PARTICULATE MATTER
10 (PM10) DI AREA INDUSTRI PT SEMEN GRESIK DI
TUBAN
Oleh : Mashuda
LATAR BELAKANG
Udara merupakan faktor yang penting dalam kehidupan, namun
dengan meningkatnya pembangunan fisik kota dan pusat – pusat
industri, kualitas udara telah mengalami perubahan
Perubahan lingkungan pada umumnya disebabkan pencemaran
udara
Salah satu bahan pencemar udara adalah debu yang mempunyai
diameter kurang dari 10
μ
m biasanya disebut dengan
Particulate Matter 10 (PM10)
Salah satu sumber PM10 yaitu proses industri semen di area
industri PT Semen Gresik di Tuban
PM10 berbahaya bagi kesehatan manusia
PM10 juga dapat mengakibatkan kematian
LATAR BELAKANG
Perlu peneletian untuk mengetahui tingkat pencemaran dan
pola sebaran PM10 di area Industri PT semen Gresik di
Tuban
Dalam penelitian sebelumnya, sutini (2009) menggunakan
Gaussian Box models untuk memodelkan pola sebaran
SO
2.
Dalam penelitian tesis ini digunakan Gaussian Box models
untuk memodelkan pola sebaran PM10 di area industri
PT Semen Gresik di Tuban.
1. Bagaimana
model
Gaussian
Box
dapat
dikontruksikan dalam pemodifikasian
model
matematika dari pola penyebaran Particulate
Matter 10 (PM10) di kawasan industri PT
Semen Gresik di Tuban ?
Rumusan Masalah
2.
Bagaimana pola penyebaran Particulate Matter 10
(PM10) di kawasan industri PT Semen Gresik di
Tuban ?
Tujuan Penelitian
Mengetahui tingkat pencemaran dan pola
penyebaran Particulate Matter 10 (PM10) di
kawasan industri PT Semen Gresik di Tuban
Manfaat Penelitian
1. Memberikan informasi mengenai konsentrasi dan
pola penyebaran Particulate Matter 10 (PM10) di
kawasan industri PT Semen Gresik di kabupaten
Tuban.
KAJIAN PUSTAKA
1. Particulate Matter
10 (PM10
)
Particulate Matter 10 (PM10) merupakan partikulat yang
memiliki diameter kurang dari 10 µm.
Particulate Matter 10 (PM10) terdiri dari aluminosilikat
dan oksida lain dari unsur kerak dengan sumber utama
termasuk debu yang berasal dari jalan, industri,
pertanian, konstruksi, pembongkaran gedung, dan debu
terbang dari pembakaran bahan bakar fosil.
Particulate Matter 10 (PM10) menyebar pada jarak
2. Dipersi Partikulat
Pada dasarnya perpindahan massa partikulat merupakan
pengendapan secara gravitasi.
Kecepatan mengendap partikulat ditentukan oleh
karakteristik partikulat dan percepatan grafitasi dengan
rumus sebagai berikut (Nurhayati, 2000):
(
Dengan
= kecepatan mengendap partikulat (m/dt),
g =percepatan gravitasi (m/dt
2)
d
p= diameter partikel ( )
= densitas partikel (gr/cm)
3. Model Gaussian Box
Model Gaussian Box merupakan pendekatan model
disperse
dengan
membangun
model
matematika
berdasarkan persamaan konsentrasi polutan.
Model Gaussian Box menggunakan persamaan disperse
Gauss sebagai dasar algoritma dengan asumsi kondisi
tunak.
Dalam penerapannya, model Gaussian Box membutuhkan
data masukan yaitu data karakterisitik sumber emisi
yang
meliputi : koordinat sumber emisi, laju dan
percepatan emisi pencemar udara, ketinggian fisik
cerobong, temperatur gas keluar dan diameter cerobong
dan data metereologi meliputi : Eksponen p untuk
penentuan profil angin, stabilitas atmosfer, kecepatan dan
arah angin dan temperatur udara
Tahapan Penelitian
Identifikasi Masalah
Dalam tahap ini langkah yang dilakukan adalah
mencari topik yang akan dikaji, mencari
literatur-literatur yang berhubungan dengan penelitian
tesis.
Data
Dari PT Semen Gresik :
Banyaknya cerobong, data fisik cerobong, koordinat
emisi, laju emisi pencemar udara dan temperatur
partikel yang keluar.
Data dari BMKG Tanjung perak Surabaya:
MODIFIKASI MODEL
Persamaan Adveksi
Persamaan kontinuitas
Transportasi Reynold
Volume kendali
Model
Solusi Model
MODIFIKASI MODEL MATEMATIKA
Model
yang
digunakan
dalam penelitian
ini
merupakan pengembangan dari persamaan adveksi
berikut (Jerald, 1996):
Dengan J menyatakan laju perpindahan massa , adalah
kecepatan aliran rata – rata, A adalah luas penampang
melintang , dan C adalah laju alir konsentrasi polutan.
Laju
perubahan
massa yang
ada pada
volume
kendali
Massa bersih
fluks yang
masuk dan
keluar
melalui
permukaan
kendali
Massa yang
dihasilkan
oleh sumber
dalam volume
kendali.
+
=
Persamaan kontinuitas (Munson, 2004):
Teorema transportasi Reynold (Munson, 2004):
Dengan integral pertama di ruas kiri Persamaan (4.2)
menyatakan besarnya laju dari massa yang berada di
dalam volume kendali, integral kedua menyatakan laju
netto dari massa yang mengalir keluar melalui
permukaan kendali
MODIFIKASI MODEL MATEMATIKA
Penyebaran particulate matter 10 di area industri PT Semen
Gresik dapat dipresentasikan dalam bentuk volume kendali
dengan menggunakan prinsip kontinum yaitu :
Dengan laju massa adveksi yang masuk searah sumbu X adalah :
Cu
Laju Massa Masuk Laju Massa keluar X
Y Z
Gambar 1 . Proses Transportasi Massa
•
Laju massa adveksi yang masuk searah sumbu Z adalah :
Kemudian diperoleh laju massa adveksi yang keluar searah
sumbu X adalah :
Laju massa adveksi yang keluar searah sumbu Y adalah :
MODIFIKASI MODEL MATEMATIKA
Sementara itu , laju perubahan konsentrasi partikel dalam
volume kendali adalah :
Dari persamaan di atas diperoleh laju netto massa aliran
keluar searah sumbu X yaitu :
MODIFIKASI MODEL MATEMATIKA
Dengan cara yang sama, diperoleh laju netto massa aliran
keluar searah sumbu Y yaitu :
Dengan cara yang sama pula didapat laju netto massa aliran
keluar searah sumbu Z yaitu :
Dari (4.10), (4.11) dan (4.12) diperoleh laju netto massa
aliran keluar :
Dari persamaan (4.9), (4.13) sesuai dengan hukum kekekalan
massa dalam volume kendali didapat :
1. Sistem dalam keadaan tunak (steady), karena sistem ( daerah
penelitian) yang digunakan dalam modeling adalah tetap (
tidak bergerak), sehingga volume kendali tidak terikat
terhadap waktu. Karena itu
.
2. Polutan bersifat non reaktif.
3. Kecepatan angin pada arah X adalah konstan.
Selanjutnya diasumsikan :
Kemudian dibagi dengan
sehingga diperoleh
persamaan sebagai berikut :
Persamaan (15) diselesaikan dengan menggunakan syarat batas
sebagai berikut :
1. Pada kondisi dimana
untuk
2. Pada kondisi dimana
untuk
,
3. untuk x > 0,
Selanjutnya diperoleh solusi dari persamaan (4.15) sebagai
berikut:
Pada dasarnya perpindahan massa partikulat merupakan
pengendapan secara gravitasi. Kecepatan pengendapan
partkulat (V
t) merupakan parameter yang menentukan
pergerakan partikulat ke bawah.
,
Kecepatan mengendap partikulat ini akan mempengaruhi
dispersi partikulat di atmosfer karena kecepatan mengendap
ini akan memberikan pengaruh pada kemampuan angin untuk
mendispersi partikulat sehingga pada Persamaan (4.30),
elemen yang mengandung Z mendapat pengaruh dari
kecepatan . Dan dapat ditulis dengan :
MODIFIKASI MODEL MATEMATIKA
Persamaan 4.32 adalah persamaan yang digunakan dalam
menyusun program komputer untuk penelitian dalam tesis ini.
Hasil Simulasi Komputer
Gb.1 Pola sebaran pada bulan Januari Gb.2 Pola sebaran pada bulan Pebruari
Berdasarkan hasil running program diketahui bahwa untuk bulan Januari 2010 dengan kecepatan angin rata – rata 1,5432 m/s, arah angin rata – rata menuju ke arah barat dengan kelas stabilitas atmosfer A , konsentrasi tertinggi dari sebaran partikulat adalah 0,1056467 mg/m3 terletak pada
koordinat (-10,0)
Untuk bulan Pebruari 2010 dengan kecepatan angin rata – rata 1,0288 m/s, arah angin rata – rata menuju ke arah utara dengan kelas
stabilitas atmosfer A , konsentrasi tertinggi dari sebaran partikulat adalah 0,1038346mg/m3 terletak
Hasil Simulasi Komputer
Gb.3 Pola sebaran Bulan Maret Gb.4 Pola sebaran pada bulan April
Untuk bulan April 2010 dengan kecepatan angin rata – rata 1,0288 m/s, arah angin rata – rata menuju ke arah selatan dengan kelas stabilitas atmosfer A , konsentrasi tertinggi dari sebaran partikulat adalah 0.1038346 mg/m3 terletak pada koordinat (0,-11).
Untuk bulan Maret 2010 dengan kecepatan angin rata – rata 1,0288 m/s, arah angin rata – rata menuju ke arah utara dengan kelas stabilitas atmosfer A konsentrasi tertinggi dari sebaran partikulat adalah 0.1038346 mg/m3
Hasil Simulasi Komputer
Untuk bulan Mei 2010 dengan kecepatan angin rata – rata 1,0288 m/s, arah angin rata – rata menuju ke arah timur dengan kelas stabilitas atmosfer B , konsentrasi tertinggi dari sebaran partikulat adalah 0,1319726 mg/m3 terletak ada
koordinat (14,0)
Gb.5 Pola sebaran Bulan Mei Gb.6 Pola sebaran pada bulan Juni
Untuk bulan Juni 2010 dengan kecepatan angin rata – rata 1,0288 m/s, arah angin rata – rata menuju ke arah timur dengan kelas stabilitas atmosfer A , konsentrasi tertinggi dari sebaran partikulat adalah 0,1038346 mg/m3 terletak pada
Hasil Simulasi Komputer
Untuk bulan Juli 2010 dengan kecepatan angin rata – rata 1,5432 m/s, arah angin rata – rata menuju ke arah timur dengan kelas stabilitas atmosfer A , konsentrasi tertinggi dari sebaran partikulat adalah 0,1056467 mg/m3 terletak pada koordinat (10,0)
Untuk bulan Agustus 2010 dengan kecepatan angin rata – rata 1,5432 m/s, arah angin rata – rata menuju ke arah timur dengan kelas stabilitas atmosfer A , konsentrasi tertinggi dari sebaran partikulat adalah 0,1056467 mg/m3 terletak pada
koordinat (10,0).
Hasil Simulasi Komputer
Untuk bulan September 2010 dengan kecepatan angin rata – rata 1,0288 m/s, arah angin rata – rata menuju ke arah timur dengan kelas stabilitas atmosfer A konsentrasi tertinggi dari sebaran partikulat adalah 0,1038346 mg/m3
terletak pada koordinat (11,0).
Untuk bulan Oktober dengan kecepatan angin rata – rata 1,0288 m/s, arah angin rata – rata menuju ke arah tenggara dengan kelas stabilitas atmosfer A , konsentrasi tertinggi dari sebaran partikulat adalah 0,1021398 mg/m3 terletak pada koordinat (7,-8).
Hasil Simulasi Komputer
Untuk bulan Nopember dengan kecepatan angin rata – rata 1,0288 m/s, arah angin rata – rata menuju ke arah utara dengan kelas stabilitas atmosfer B , konsentrasi tertinggi dari sebaran partikulat adalah 0,1319726mg/m3
terletak pada koordinat (0,14).
Untuk bulan Desember dengan kecepatan angin rata – rata 1,0288 m/s, arah angin rata – rata menuju ke arah Barat dengan kelas stabilitas atmosfer B, konsentrasi tertinggi dari sebaran partikulat adalah 0,1319726 mg/m3
terletak pada koordinat (-14,0).
KESIMPULAN
Dari hasil simulasi komputer dapat disimpulkan bahwa
sebaran Partikulat Matter 10 di area industri PT Semen
Gresik pada bulan Januari sampai Desember 2010
mencapai konsentrasi tertinggi pada bulan Mei,
Nopember dan Desember yaitu sebesar 0,1319726
mg/m
3atau 131,972 µm. Konsentrasi tersebut masih di
bawah ambang batas baku mutu udara ambien nasional
untuk Particulate Matter 10 (PM10) sesuai Peraturan
Pemerintah No. 41 tahun 1999 yaitu sebesar 150 µm.
SARAN
Bagi peneliti selanjutnya di sarankan melakukan
penghitungan konsentrasi PM10 untuk daerah yang
tidak datar serta menggunakan data primer.
DAFTAR PUSTAKA
Agusgindo, S., Budi, H. H., (2007), Pengukuran Partikel Udara Ambien (TSP, PM-10, PM2,5) Di
Sekitar Calon Lokasi PLTN Semenanjung Lemah abang, Pusat Teknologi Limbah
Radioaktif-Batan
Atkinson, R., Bremner, S., Anderson, H., Strachan, D., Bland, J.M., (1999), “Short- term
Association between Emergency Hospital Admissions for Respiratory and Cardiovascular Disease and Outdoor Air Pollution in London”, Arch Environ health 54(6): 399-411
Baumbach, Gunter, (1996), Air Polution Control, Springer Verlag Berlin Haidelberg, New York. Catalano, (1987), User’s Guide for RAM (Regulatory Air Models), 2nd edition
Fierro, M., (2000), Particulate Matter, www.airinfonow.org/pdf/Particulate Matter, diakses tanggal 20 Januari 2011.
G Sriram, N Krishna Mohan, V Gopalasamy, “Sensitivity Study Gaussian Dispersion Models”,
Journal of scientific and industrial Research vol. 65 April 2006, pp. 321-324.
Heinson, R., J., Kabel, R., L., (1999), Source and Control Of Air Pollution, Prentice Hall, Upper Saddle River, New Jersey .
Jerald, L., Achooner, Zehnder, A., (1996), Enviromnetal Modeling, Fate And Transport Of Pollutans
In Water, Air And Soil, Departement of civil and enviromnetal engineering the university of
Munson, B,R., Young, D,F., Okishi, T,H.,(2004), Mekanika Fluida, Edisi keempat jilid1, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Nurhayati, U, 2000, Pemrograman Dispersi Pencemaran Partikulat (PM-10) Dari SumberTitik i
Tunggal Kontinu Berdasarkan Persamaan Gauss, Skripsi, JurusanTeknik Lingkungan, ITS,
Surabaya.
Roemer, W., Hoek, G., Brunekreef, B., (1993), “Effect of Ambient Winter Air Pollution on Respiratory Health of Children with Chronic Respiratory Symptoms”, Am Rev Respir Dis; 147: 1187-124.
Schwartz, J., (1996), “Air Pollution and Hospital Admissions for Respiratory Disease”,
Epidemiol, 7(1): 20-27.
Soedomo, M., (2001), Pencemaran Udara (Kumpulan Karya Ilmiah),Penerbit ITB, Bandung. Soenarmo, S, H., (1999), Diktat Kuliah Meteorologi Pencemaran Udara, Penerbit ITB, Bandung Sutini, (2009), Simulasi Model Matematika Dari Dispersi Pencemaran SO2 Di Kawasan Industri PT. Petrokimia Gresik, Tesis, Jurusan Matematika, ITS, Surabaya.
Tjasyono, B., 2004, Klimatologi,Penerbit ITB, Bandung
Wark, K.,Warner, C., F., 1976, Air Pollution, Harper & Row Publisher, New York