• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran oleh Guru PAI Kelas VII SMPN. 8 Lembah Gumanti Kabupaten Solok.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran oleh Guru PAI Kelas VII SMPN. 8 Lembah Gumanti Kabupaten Solok."

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran oleh Guru PAI Kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti Kabupaten Solok.

Keberhasilan sebuah pembelajaran Pendidikan Agama Islam tidak lepas dari peran pendidik. Seorang pendidik dalam hal ini hendaknya mempersiapkan segala kebutuhan yang terkait dengan pembelajaran yang akan dilakukannya. Disinilah dituntut peran pendidik untuk membuat perencanaan sebelum melaksanakan pembelajaran agar pembelajaran yang dilakukannya mempunyai arah dan tujuan yang akan dicapai dari kegiatan pembelajaran.

Perencanaan pengajaran merupakan persiapan yang dilakukan untuk dapat mengajar dengan baik yaitu merumuskan tujuan belajar, menentukan indikator, memilih bahan pengajaran, menentukan sumber belajar, memilih dan mempersiapkan metode, menyediakan atau mempersiapkan media serta membuat dan mempersiapkan evaluasi dan penilaian, secara operasional dikenal dengan istilah rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

Kurikulum yang digunakan oleh guru PAI di SMPN 8 Lembah Gumanti yaitu KTSP. Sebagaimana panduan penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang disusun oleh BSNP, KTSP ada

(2)

empat komponen, yaitu (1) tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, (2) struktur dan muatan KTSP, (3) kalender pendidikan, dan (4) silabus

dan Rencana Pelaksanaan Pengajaran (RPP).1

Dalam KTSP termuat persolaan tentang Rencaan Pelaksaan Pengajaran yang akan menentukan tercapai atau tidaknya suatu tujuan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran yang baik akan menghasilkan pembelajaran yang berkualitas. Sebaliknya perencanaan yang tidak baik atau tidak ada perencanaan sama sekali akan menghasilkan pembelajaran yang tidak berkualitas. Maksud penulis mencantumkan RPP dalam masalah pelaksanaan ibadah shalat adalah untuk mengetahui berbagai macam aspek yang termuat dalam RPP misalnya mengenai materi pembelajaran dan metode yang digunakan oleh guru dalam pelaksanaan praktik shalat wajib, dilihat dari realita dan faktanya itu berbeda.

Berdasarkan hasil dokumentasi yang penulis temukan yaitu melihat RPP yang dibuat oleh guru Pendidikan Agama Islam tidak sesuai dengan proses belajar mengajar. Faktanya dalam observasi, penulis melihat langsung guru Pendidikan Agama Islam menyampaikan materi tentang shalat dengan menggunakan metode ceramah, kelompok, demonstrasi, praktik. Sedangkan RPP yang dibuat oleh guru Pendidikan Agama Islam yaitu metode ceramah, kerja kelompok, diskusi, dan pameran. Proses pelaksanaan praktik shalat memakai dua metode yaitu

1 Masnur Muslich, KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual, (Jakarta:

(3)

metode ceramah dan kerja kelompok.2 Metode ceramah yang digunakan guru PAI ketika menyampaikan materi shalat kemudian membagi siswa kedalam enam kelompok, masing-masing kelompok memiliki 4 orang siswa. Tujuan guru mengelompokkan siswa yaitu untuk melakukan praktik shalat secara jama’ah dan membuat bacaan shalat.

Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan dengan kepala SMPN 8 Lembah Gumanti yaitu Bapak Alismizon, S.Pd, beliau mengatakan bahwa:

Setiap guru wajib membuat rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP) sebelum melaksanakan pengajaran, gunanya untuk melihat arah atau gambaran kegiatan yang akan dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran berdasarkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). RPP yang di rancang oleh keseluruhan guru di siapkan satu kali semester, supaya guru tersebut tidak berlalai-lalai dalam kegiatannya yang lain. Dokumen yang dirancang oleh guru PAI terutama itu RPP masih ada yang harus diperbaiki karena adanya kesalahan-kesalahan dalam

pengetikkan atau pengeditannya.3

Selanjutnya wawancara yang penulis lakukan dengan Ibu Era Fitri, S.Pd.I menuturkan bahwa:

Saya membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) satu kali dalam satu semester pada awal tahun ajaran. Rencana pelaksanaan pembelajaran tersebut saya konsultasikan dengan waka kurikulum dan kepala sekolah dengan ketentuan RPP tersebut harus berpedoman kepada silabus/kurikulum yang

dilengkapi dengan soal-soal dan disertai dengan kunci jawaban.4

2

Hasil Observasi di SMPN 8 Lembah Gumanti Kabupaten Solok, Selasa 09 Mei 2017

3Alismizon, S. Pd, Kepala SMPN 8 Lembah Gumanti, Wawancara, Lembah Gumanti:

Jum’at, 19 Agustus 2017

4Era Fitri, S.Pd.I Guru Pendidikan Agama Islam, Wawancara, Lembah Gumanti: Jum’at,

(4)

Kemudian Siti Adinda Rahmi yang penulis temui untuk wawancara mengenai persiapan guru sebelum pembelajaran mengatakan bahwa:

Sebelum belajar guru menyampaikan tujuan pembelajaran, tetapi tidak selalu karena guru tersebut menginginkan siswanya memahami sendiri tentang tujuan pembelajaran setelah guru

tersebut menerangkan materi pembelajaran.5

Yola Marta Siska juga beragumen:

Setiap kali kami belajar dengan guru PAI, di awali dengan berdoa, kemudian mengulangi pembelajaran sebelumnya, setelah itu baru menyampaikan materi yang baru. Ketika materi shalat Ibu memberikan motivasi dulu, menanyakan shalat yang kami

lakukan.6

Dion, Rudi, dan Hendra, mereka juga mengemukan pendapat tentang penerapan RPP dalam pembelajaran:

Ibu mengawali pembelajaran dengan berdoa bersama, kemudian menyampaikan materi dan memberikan motivasi. Terakhir guru sering memberikan PR dalam bentuk mengisi LKS dengan tujuan supaya kami mengulangi pelajaran dirumah. LKS itu akan dikumpulkan setelah selesai materi yang bersangkutan

disampaikan.7

Berdasarkan hasil wawancara dapat diungkapkan bahwa guru pendidikan agama Islam telah membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), guru pendidikan agama Islam membuat RPP dalam satu kali semester.

Dengan demikian berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi yang penulis temukan, dapat penulis simpulkan bahwa RPP

5Siti Adinda Rahmi, Peserta Didik Kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti,

Wawancara,Lembah Gumanti: Jum’at, 28 April 2017

6Yola Marta Siska, Peserta Didik kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti Kabupaten Solok,

Wawancara, 28 April 2017

7Dion, Rudi, Hendra, Peserta Didik Kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti, Wawancara,

(5)

yang dirancang oleh guru PAI tidak sesuai dengan pelaksanaan dalam proses pembelajaran tentang materi shalat terlihat dari metode yang digunakan guru dan kurangnya teori tentang materi yang akan disampaikan walaupun sebelumnya RPP yang di buat guru PAI telah mendapatkan persetujuan dari wakil kurikulum kemudian kepala SMPN 8 Lembah Gumanti, namun masih memiliki kekurangan dalam pelaksanaan proses pembelajaran.

2. Pelaksanaan Pembelajaran PAI di Kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti Kabupaten Solok.

Pelaksanaan berawal dari suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru terhadap suatu masalah yang akan diselesaikan dengan tujuan mendapatkan solusi dari hal tersebut. Pelaksaan ibadah yang penulis maksud disini terfokus kepada ibadah shalat wajib siswa. Dengan adanya materi fiqh yaitu masalah ibadah terutama ibadah shalat, guru menyesuaikan materi tersebut dengan siswanya. Setelah dipelajari materi terkait dengan shalat apakah ada perobahan ibadah yang diperoleh oleh siswa setelah disampaikan dan dilakukan praktik shalat oleh guru bahwa shalat yang sesungguhnya berdasarkan contoh shalat Rasulullah saw.

Pelaksanaan pembelajaran PAI tentang materi shalat yang diajarkan guru kepada siswa kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti, penulis dapatkan melalui wawancara kepada guru pendidikan agama Islam yaitu Ibu Era Fitri, S.Pd.I beliau mengatakan sebagai berikut:

Dalam pelaksanaan praktik shalat, Ibu mengatakan sebagian dari siswanya belum mampu melakukan shalat secara

(6)

sempurna. Bahkan ada satu diantara siswa yang tidak bisa melakukan shalat dikarenakan tidak terbiasa melaksanakan shalat. siswa yang satu ini juga takut untuk melaksanakan shalat bahkan ia menentang Ibu karena dipaksakan, disebabkan nilai praktik shalatnya masih kosong. Bentuk dari kegiatan dalam pelaksanaan praktik shalat pertama saya menjelaskan shalat tersebut secara

demonstrasi, misalnya minta salah satu siswa untuk

mempraktikkan gerakan shalat sesuai dengan pemahaman atau berdasarkan buku bacaan saya yaitu masalah gerakan takbir, Nabi takbir dengan membuka jari-jemarinya lalu mengangkat kedua tangannya hingga daun telinganya, tangannya yang bagian depan menghadap ke kiblat, setelah itu menempatkan kedua tangannya tersebut di atas dada dengan cara berlipat, tangan kanan di atas tangan kiri. Itu permulaan dari gerakan shalat dan gerakan itu dilaksanakan sampai salam. Hal yang sama Ibu praktikkan dari berdiri sampai salam. Terlihat sekali siswa yang sering shalat dengan siswa yang jarang shalat setelah dilakukan praktik shalat ini. Sedangkan untuk bacaan, Ibu membagi siswa kedalam

beberapa kelompok untuk menuliskan bacaan kemudian

dipraktikkan di akhir semester, dengan tujuan agar siswa menghafal dan alasan lainnya karena waktu yang tidak mencukupi. Untuk melakukan gerakan shalat saja untuk berlangsung selama 3

kali pertemuan belum lagi menjelaskan materinya.8

Ditambahkan juga oleh siswa yaitu siswa kelas VII, Alias Toni ia mengatakan:

Pelaksanaan ibadah shalat yang diajarkan oleh guru pendidikan agama Islam yaitu pertama memberikan motivasi, beliau mengatakan bahwa cara shalat yang baik dan benar itu shalat yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Kemudian memanggil salah satu dari siswa untuk mencobakannya. Setelah itu baru siswa melakukan praktik shalat secara berjemaah yang nilai yaitu gerakan shalat yang telah dicontohkan sebelumnya, nilai

yang didapatkan perindividu.9

Muhammad Riski beragumen:

Saat proses belajar mengajar, Ibu telah memberikan materi pembelajaran dengan berceramah, kemudian mengambil nilai

8Era Fitri, S.Pd.I, Guru Pendidikan Agama Islam, Wawancara, Lembah Gumanti: Jum’at,

28 April 2017

9Alis Toni dan Afdal Ilham Hidayat, Siswa kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti,

(7)

praktik pada minggu besoknya. Pada pelaksanaan praktik shalat kami diperintahkan untuk membawa perlengkapan shalat sendiri-sendiri tapi ada sebagian teman tidak membawa perlengkapan tersebut, kemudian Ibu meminta kepada mereka untuk meminjam kepada teman kelas lain sehingga kesemuanya memiliki peralatan

shalat tidak ada yang tidak membawa.10

Zaskia Rahma Zanda mengemukakan pendapatnya:

Ibu menerangkan pembelajaran menyenangkan, kami juga dibimbing dan diberi motivasi agar kami giat belajar dan berjanji untuk tidak meninggalkan shalat lagi dan akan memperbaikinya

serta melengkapi shalat yang sering ditinggalkan.11

Kemudian Rudi Anto mengemukan pendapatnya:

Selama kegiatan praktik shalat, Ibu memanggil secara pribadi tidak berdasarkan daftar hadir. Kemudian ibu menanyakan shalat yang kami lakukan di rumah. Ibu bertanya kepada saya, selama dirumah shalat apa yang sering lupa atau tidak dikerjakan? Saya menjawab: shalat subuh, zhuhur, asyar. Alasannya jika waktu subuh karena dingin bangun pagi, zuhur karena waktu main sampai asyar setelah itu main bola kaki sehingga shalat asyar juga tidak dilaksanakan. Kemudian Ibu memberikan nilai awal berdasarkan pelaksanaan shalat yang saya kerjakan selama di rumah. Setelah itu masuk pada pelaksaan praktik shalatnya terkait gerakan shalat. Pada saat giliran saya melakukan praktik shalat Ibu selalu memperbaiki gerakan yang saya lakukan seperti takbir, kemudian rukuk dan sujud. Takbir yang saya lakukan salah karena telapak tangan saya tidak sesuai dengan yang sebenarnya, begitu juga

dengan gerakan rukuk dan sujud yang saya lakukan.12

Hasil wawancara yang penulis dapatkan dari guru Pendidikan Agama Islam ditambah keterangan dari beberapa orang siswa di kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti Kabupaten Solok dapat penulis simpulkan pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam materi shalat yang diajarkan oleh guru yaitu pertama memotivasi siswa, kemudian guru PAI

10 Muhammad Riski, Sisawa Kelas VII-C, Wawancara Pribadi, Lokal, 09 Mei 2017 11 Zaskia Rahma Zanda, Siswa Kelas VII-C, Wawancara Pribadi, Lokal, Selasa 09 Mei

2017

(8)

menjelaskaan materi shalat, diakhir-akhir jam pelajaran guru membagi siswa ke beberapa kelompok. Untuk pelaksanaan praktiknya dilakukan minggu selanjutnya dengan memberikan saran kepada siswa untuk membawa perlengkapan shalat secara individu.

Sedangkan hasil observasi yang penulis lihat di lapangan masalah pelaksanaan pembelajaran PAI tentang materi shalat, yaitu:

Pertama, penulis melihat cara guru PAI menyampaikan materi shalat dengan berpatokan pada RPP yang telah dibuat oleh guru untuk dijadikan pedoman saat pembelajaran. Dalam RPP guru PAI tidak menjelaskan secara rinci tentang materi shalat, kemudian metode yang digunakan tidak sesuai dengan yang ada dalam RPP. Kedua, penulis melihat proses pelaksanaan praktik shalat yang diajarkan oleh guru PAI kepada siswanya. Proses pembelajaran yang berlangsung mengenai pelaksanaan praktik shalat yang dikerjakan oleh guru kepada siswa, penulis melihat guru memanggil beberapa orang siswa untuk melakukan shalat secara berjama’ah, akan tetapi penilaian yang dilakukan secara individu. Selama pelaksanaan shalat, ada beberapa siswa yang mendapatkan kritikan oleh guru masalah gerakan yang dilakukan oleh sisiwa masih belum sempurna, yaitu ketika siswa melakukan takbir, rukuk dan sujud. Pada gerakan inilah penulis melihat siswa kesulitan untuk mempraktikkannya. Shalat yang dilakukan oleh siswa ketika praktik banyak kesalahan-kesalahan yang ditemukan. Contohnya saja penulis melihat siswa takbir, ada sebahagian siswa yang takbir mengangkat tangan melampaui batas dan gerakan yang sangat cepat tidak beraturan. Seharusnya ketika takbir posisi telapak tangan menghadap kiblat dan merenggangkannya, penulis melihat

siswa tidak melakukan dengan cara yang demikian.13

Penulis melakukan wawancara kepada beberapa siswa ketika praktik shalat berlangsung. Dion dan Afdal Ilham Hidayat, mereka beragumen:

13 Hasil Observasi di kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti Kabupaten Solok, Selasa 09

(9)

Gerakan shalat yang sangat sulit untuk dilakukan itu adalah saat rukuk, sujud, dan duduk diantara dua sujud, karena terasa sakit pinggang dan pergelangan kaki. Dan ketika kami melakukan praktik shalat, hal itu pula yang berulang-ulang kali kami lakukan

karena gerakan shalat yang kami lakukan belum benar.14

Siti Adinda Rahmi juga mengemukan pendapat, ia mengatakan bahwa:

Gerakan shalat yang sulit dilakukan itu saat duduk pertama dan terakhir, karena antara keduanya itu sama saja saya lakukan, padahal itu memiliki perbedaan. Setelah dilakukannya praktik shalat dan saya juga berusaha untuk memperbaikinya, dan lama kelamaan saya bisa melakukannya seperti yang diajarkan oleh Ibu

guru agama”.15

Fauza Hardiansyah ia mengatakan:

Pelaksanaan shalat itu terdapat gerakan yang sulit untuk dikerjakan, contohnya saja ketika kita ruku’, saya tidak bisa meratakan antara kepala dan punggung, karena terasa sakit bagian punggung jika harus dipaksakan, karena menurut saya kebiasaan

melaksanakan shalat secara cepat.16

Wawancara disertai observasi yang penulis lakukan setelah melihat siswa mempraktikkan gerakan shalat di hadapan gurunya, berdasarkan argumen siswa di atas, shalat yang dilakukan oleh siswa belum sempurna. Karena gerakan shalat yang di kerjakan siswa masih ada kekurangan-kekurangan yang harus diperbaiki. Gerakan shalat akan berdampak baik dan benar jika dilakukan secara terus-menerus. Motivasi yang dilakukan oleh guru PAI merupakan suatu cara yang mendorong siswa untuk

14 Dion, Afdal Ilham Hidayat siswa kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti, Wawancara,

Selasa 09 Mei 2017

15 Siti Adinda Rahmi, Siswa Kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti, Wawancara, 09 Mei

2017

16 Fauza Hardiansyah, Siswa kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti, Wawancara, 09 Mei

(10)

berusaha melakukan shalat secara baik dan benar sesuai dengan yang telah diajarkan berdasarkan kepada cara shalat yang di contohkan oleh Rasulullah saw.

3. Kendala yang dihadapi Guru PAI serta Solusi yang diberikan Guru dalam Pelaksanaan Pembelajaran PAI Materi Shalat di kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti Kabupaten Solok.

Dalam pelaksanaan ibadah shalat ada beberapa kendala yang dihadapi oleh guru pendidikan agama Islam diantaranya: Kurangnya sarana dan prasarana. Prasarana meliputi gedung sekolah, ruang belajar, ruang ibadah seperti tidak adanya mushalla. Sedangkan sarana pembelajaran meliputi buku, buku bacaan, alat dan fasilitas laboratorium sekolah dan lainnya. Ketersediaan sarana dan prasarana pembelajaran berdampak pada terciptanya suasana pembelajaran yang kondusif. Terjadinya kemudahan bagi speserta didik untuk mendapatkan informasi

dan sumber belajar yang pada gilirannya dapat mendorong

berkembangnya motivasi untuk mencapai hasil belajar yang baik.

Berdasarkan hasil observasi, penulis melihat masih banyak kekurangan yang terdapat di SMPN 8 Lembah Gumanti, seperti mushalla tempat beribadah masih dalam pembangunan, perpustakaan yang belum ada, ruangan yang masih kurang, dan bangunan-bangunan lain yang masih

dalam proses pembangunan.17

17 Hasil Observasi di SMPN 8 Lembah Gumanti Kabupaten Solok, Lapangan: Sabtu 28

(11)

Ditambah dengan hasil wawancara, yaitu dengan Bapak Kepala SMPN 8 Lembah Gumanti, beliau mengatakan:

Bapak Alismizon, S.Pd, beliau mengatakan bangunan atau temapat ibadah yang masih terbangkalai semenjak dari awal dibangun sampai sekarang masih separoh berdirinya, selain itu wc (air) atau tempat berwudhu’ yang masih kurang. Di SMPN 8 Lembah Gumanti hanya memiliki tiga wc. Satu wc untuk guru, dua wc untuk siswa (satu untuk laki-laki dan satu lagi wc perempuan),

kemudian perpustakaan tempat baca siswa yang belum tersedia.18

Sejalan dengan masalah yang ditemukan, guru pendidikan agama Islam, beliau mengatakan:

Disaat akan melakukan praktik shalat yang menjadi masalahnya yaitu tempat untuk melaksanakan praktik shalat dikarenakan masjid/mushalla yang masih dalam pembangunan, selain tempat air juga menjadi kendala dalam pelaksanaan praktik shalat. Perlengkapan shalat di bawa oleh siswa masing-masing dari

rumah”.19

Ditambahkan oleh beberapa siswa kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti yang mana mereka mengatakan:

Pada saat melaksanakan praktik shalat kami diperintahkan untuk membawa air bersih, membawa mukena bagi perempuan, kain sarung untuk laki-laki, serta alas tempat shalat (sejadah) ditambah lagi membawa koran untuk alas awal sebelum ditempatkan sejadah tersebut. Pelaksanaan praktik shalat ini dilakukan pada waktu pagi, dilakukan secara sendiri-sendiri, sambil menunggu antrian kami diperintahkan untuk shalat dhuha

dua rakaat oleh guru pendidikan agama Islam.20

Dari penjelasan baik itu dari kepala SMPN 8 Lembah Gumanti, guru pendidikan agama Islam, di perkuat lagi oleh beberapa orang siswa

18 Alismizon, S.Pd, Kepala SMPN 8 Lembah Gumanti, Wawancara, Lembah Gumanti:

Jum’at, 28 April 2017 2017

19 Era Fitri, S.Pd.I, Guru Pendidikan Agama Islam SMPN 8 Lembah Gumanti,

Wawancara, Lembah Gumanti: Jum’at, 28 April 2017

20 Zaskia, Yola, dan Lusi, Peserta Didik Kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti,

(12)

kelas VII memalui wawancara, kemudian ditambah dengan hasil observasi yang penulis temukan dilapangan, dapat penulis simpulkan bahwa yang menjadi kendala dalam pelaksanaan praktik ibadah shalat di kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti yaitu sarana dan prasarana yang tidak memadai, seperti tempat untuk melaksanakan praktik shalat belum tersedia atau masih dalam pembangunan, selain itu air untuk mengambil wudhu’

juga belum ada.21

Dari kendala yang ditemukan oleh guru pendidikan agama Islam tidak menjadi suatu pengahalang terlaksananya praktik shalat yang terdapat dalam RPP. Agar materi sampai pada tujuan, solusi yang diberikan oleh guru pendidikan agama Islam dalam pelaksanaan praktik shalat yaitu guru bekerja sama dengan siswa seperti halnya yang penulis temukan dilapangan guru memerintahkan siswa untuk membawa perlengkapan shalat.

Dari hasil observasi yang penulis lihat di SMPN 8 Lembah Gumanti, pelaksanaan praktik memang terencana walaupun sarana dan prasarana yang tidak memadai akan tetapi mereka akan memikirkan atau mencari solusi dengan berbagai cara supaya pembelajaran itu tercapai dan terlaksana semaksimal mungkin. Masih banyak bangunan-bangunan yang kurang dalam melakukan kegiatan praktik baik itu praktik mata pelajaran umum maupun mata pelajaran agama. Penulis temukan di lapangan tempat praktik IPA seperti labor, di SMPN 8 Lembah Gumanti gedung atau

21 Hasil Observasi di SMPN 8 Lembah Gumanti Kabupaten Solok, Lapangan: Sabtu 28

(13)

ruangan labor dijadikan kantor karena kantor belum tersedia disana. Selain itu, penulis juga menemukan di lapangan untuk mata pelajaran pendidikan agama Islam kelas VIII materi tentang adat makan, guru pendidikan agama Islam juga melakukan praktik. Disini mereka memasak makanan untuk dijadikan praktik adat makan, memasak dirumah guru dengan mengunpulkan semua siswa, karena di sekolah tidak tersedianya rungan

untuk memasak.22

B. Pembahasan

Penelitian ini membuktikan bahwa “Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Materi Shalat di Kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti Kabupaten Solok telah sesuai dengan apa yang telah di programkan oleh guru selama satu semester, karena terlihat berdasarkan hasil instrumen yang penulis lakukan selama di lapangan yaitu terkait masalah RPP yang digunakan oleh guru, pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, serta kendala yang ditemukan dan solusi yang diberikan oleh guru demi kelancaran proses belajar mengajar di kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti Kabupaten Solok. Untuk mengetahui lebih lanjut, akan dibahas mengenai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) oleh guru PAI, pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti Kabupaten Solok, serta kendala dan solusi yang diberikan oleh guru PAI mengatasi kendala yang ada.

(14)

1. Pembahasan Hasil Temuan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran oleh Guru PAI di Kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti Kabupaten Solok

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rancangan pembelajaran mata pelajaran per unit yang akan diterapkan guru dalam

pembelajaran di kelas.23

Dengan demikian rencana pelaksanaan pembelajaran merupakan suatu pegangan atau pedoman guru dalam merancanag kegiatan selama proses belajar mengajar setiap kali pertemuan agar pembelajaran terarah dan memudahkan untuk mencapai tujuan. Rencana pembelajaran pada umumnya, rencana pembelajaran berbasis kompetensi melalui pendekatan, kontekstual dirancanag oleh guru yang akan melaksanakan pembelajaran di kelas yang berisi skenario tentang apa yang akan dilakukan siswanya sehubungan topik yang akan dipelajarinya.

Secara teknis rencana pembelajaran minimal mencakup komponen-komponen berikut:

a. Standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator pencapaian hasil belajar.

b. Tujuan pembelajaran. c. Materi pembelajaran.

d. Pendekatan dan metode pembelajaran. e. Alat dan sumber belajar.

f. Evaluasi pembelajaran.24

23 Masnur Muslich, Op.cit., h. 53

(15)

Sebagaimana contoh format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dirumuskan dalam sebuah buku yang berjudul KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) Dasar Pemahaman dan

Pengembangan karangan Masnur Muslich yang tertara pada lampiran.25

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) oleh guru PAI di kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti Kabupaten Solok belum sesuai dengan pembelajaran secara sempurna, karena ada bagian dalam RPP tidak sesuai dengan proses belajar mengajar. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat oleh guru PAI SMPN 8 Lembah Gumanti Kabupaten Solok yang dicantumkan pada lampiran. Penulis melihat dalam RPP tentang materi ibadah shalat fardhu, yang seharusnya dalam RPP tertara cara shalat yang dicontohkan oleh Rasulullah. Akan tetapi hal tersebut bertentangan dengan pembelajaran dan praktiknya, pendidik mengajarkan cara shalat yang dicontohkan oleh Rasulullah, seperti cara takbir. Padahal dalam RPP tidak dicantumkan teori tentang cara shalat yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Masalah lain yang penulis temukan yaitu tidak sesuainya metode yang digunakan oleh guru dengan metode yang dicantumkan dalam RPP.

Untuk itu diharapkan kepada guru Pendidikan Agama Islam menyesuaikan materi dengan apa yang telah diprogramkan terkait dengan RPP, supaya pembelajaran tercapai pada tujuan yang diharapkan, baik itu

24 Ibid., h. 54

25 Masnur Muslich, KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) Dasar Pemahaman

(16)

keberhasilan yang diperoleh untuk sekolah dan untuk peserta didik itu sendiri. Format RPP yang dibuat oleh guru pendidikan agama Islam berpatokan kepada buku Micro Teaching edisi kedua karangan Zainal

Asril yang memiliki kesamaan tentang cara penilaiannya.26

2. Pembahasan Hasil Temuan Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti Kabupaten Solok

Guru agama Islam mempunyai tanggung jawab terhadap siswanya untuk mendapatkan pendidikan agama Islam yang baik. Sebagaimana perintah Allah dalam Q.S. an-Nahl ayat 125:















































Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan

pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q.S.

an-Nahl:125)27

Pendidikan agama Islam di Sekolah Menengah Tingkat Pertama (SLTP) diupayakan mampu untuk meningkatkan pengetahuan dalam keimanan dan ketakqwaan, sehingga menjadikan siswa menjadi muslim

26

Zainal Asril, Micro Teaching: disertai dengan pedoman pengalaman lapangan, (Jakarta: Rajawali Press, 2015), edisi 2, Cet-Ke 6, h. 138-139

27 Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: Gema Risalah Pers,

(17)

yang baik dengan mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang diikuti akhlak siswa yang baik. Abdul Majid dan Dian Andayani mengatakan, bahwa Pendidikan agama Islam di sekolah bertujuan untuk:

“Menumbuhkan dan meningkatkan keimanan memulai pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan serta pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia

muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan,

ketaqwaannya, berbangsa dan bernegara, pada jenjang pendidikan

yang lebih tunggi”.28

Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut, peran guru dalam proses belajar mengajar masih sangat dibutuhkan. Tugas dan peran guru dalam pendidikan sangat penting, baik selaku pendidik ataupun selaku pengajar. Sebagaimana yang diungkapkan M. Arifin bahwa :

“Salah satu faktor yang paling menentukan berhasilnya proses belajar mengajar dalam kelas adalah guru. Karena itu, guru tidak saja mendidik melainkan juga berfungsi sebagai orang dewasa yang bertugas profesional memindahkan ilmu pengetahuan (transfer

knowledge) atau penyalur ilmu pengetahuan (trasmitter of knowledge) yang dikuasai kepada anak didik. Guru juga menjadi

pemimpin, atau menjadi pendidik, dan pembimbing di kalangan

anak didiknya”.29

Pendidikan agama mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting dalam upaya mewujudkan manusia yang berkualitas, khususnya manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dengan pendidikan agama diharapkan dapat meningkatkan pengamalan ibadah shalat peserta didik.

28 Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam (Konsep dan elmentai

Kurikulum 2004,), (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2004), h. 135

(18)

Berdasarkan pengertian kegiatan atau tugas guru kepada siswa diatas, disimpulkan bahwa guru merupakan penunjang keberhasilan dalam pembelajaran. Banyak cara yang dilakukan oleh guru dalam proses belajar mengajar dengan tujuan mencapai keberhasilan. Seperti guru sebagai tauladan, guru harus mampu memberikan motovasi dan perhatian kepada siswa, guru harus mampu menguasai materi dan menyampaikannya kepada siswa sesuai dengan pola pikir siswa dan perkembangan ilmu yang dimiliki oleh siswa tersebut.

Pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang dilakukan oleh guru tentang materi shalat yaitu guru berpedoman kepada beberapa sumber tata cara shalat Rasulullah yang merupakan pedoman bagi umat Islam sebagai patokan shalat yang sempurna. Hal ini sesuai dengan teori hadis Rasulullah sebagai panduan umat Islam dalam menyempurnakan shalat baik untuk diri sendiri dan untuk menyampaikan kepada orang lain, sebagai suatu kewajiban bagi umat Islam dalam menyampaikan kepada orang lain. Sesuai dengan tugas guru untuk menyampaikan kepada siswanya tentang tata cara shalat yang dicontohkan oleh Rasulullah.

Hasil observasi yang penulis lakukan di kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti tentang pelaksanaan pembelajaran PAI yaitu materi shalat yang diajarkan guru PAI kepada siswa dengan berpedoman kepada landasan teori tentang sifat shalat Nabi saw. mulai dari niat sampai salam yaitu sebagai berikut:

(19)

a. Niat

Guru PAI mengajarkan niat kepada siswanya ada yang berbahasa Arab dan Indonesia. Niat yang lakukan oleh siswa secara keseluruhan sudah sempurna, banyak dari peserta didik berbahasa Indonesia dalam mempraktikkannya.

b. Berdiri bagi yang Berkuasa

Selanjutnya guru mengajarkan cara berdiri, rukun shalat yang ke dua sudah tercapai dan terlaksana secara baik dilakukan oleh siswa. c. Takbiratul Ihram

Masalah rukun shalat yang ketiga ini, cara takbir yang baik dan benar itu sangat sulit dilakukan oleh siswa, seporah dari siswa tidak mampu melakukan gerakan tersebut. Cara yang dilakukan oleh siswa yang salah tersebut langsung dibantah oleh guru dengan memberikan arahan yang sesuai dengan pedoman.

d. Membaca Surat al-Fatihah

Masalah yang peneliti temukan di lapangan yang terkait dengan bacaan guru PAI memrintahkan siswanya untuk menuliskan secara kelompok kemudian dihafal, dan dipraktikkan diakhir-akhir semester, alasannya yaitu karena keterbatasan waktu dalam pembelajaran PAI. e. Ruku’

Cara ruku’ yang diajarkan oleh guru PAI yaitu dengan membimbing secara berlahan-lahan, kemudian dipraktikan oleh siswa. Dalam praktiknya masih terjadi beragam gerakan, ada posisi kepalanya

(20)

yang terlalu kebawah dan terlalu keatas. Disebabkan karena memposisikan tangan diatas lutut masih belum benar.

f. I’tidal

Cara yang dilakukan oleh peserta didik saat i’tidal yaitu dengan takbir dan berdiri tegak lurus seperti semula. I’tidal yang dipraktikan oleh peserta didik secara keseluruhan sudah terlaksana hampir sempurna secara keseluruhan. Siswa diberi arahan oleh guru secara tuma’ninah dan ditanya mengenai makna tuma’ninah. Hal ini terbukti bahwa pas ditanya mengenai tuma’ninah siswa belum tahu tantang hal tersebut. Kemudian guru menjalaskan untuk keseluruhan bahwa shalat itu harus jelas gerakannya antara berdiri, ruku’ sampai salam, shalat itu tidak dilakukan secara tergesa-gesa.

g. Sujud

Sujud yang dilakukan oleh peserta didik saat praktik shalat kelihatan bahwa peserta didik belum mampu melakukan gerakan sujud secara baik dan benar. Padahal sebelumnya peserta didik sudah diperlihatkan dengan contoh shalat yang benar, namun dalam praktiknya masih belum bisa melaksanakanny secara benar. Cara yang dilakukan oleh peserta didik saat sujud masih membutuhkan latihan serta arahan secara berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan. Sujud yang dilakukan oleh peserta didik rata-rata dengan cara merenggangkan kaki dengan tidak memposisikan ampu kaki pada tempatnya (mengharah kiblat), tangan peserta didik yang mendekap dengan

(21)

memposisikan pada wajah, kemudian terlalu menungging, dan bahkan seperti orang kedinginan.

h. Duduk antara Dua Sujud

Duduk diantara dua sujud yang dilakukan oleh peserta didik dengan berbeda cara, ada yang melakukan dengan cara memposisikan kedua kakinya seperti bertumpu dan duduk di atas tumitnya dan ada yang duduk seperti bersimpuh.

i. Tasyahud Awal

Antara tasyahud awal dengan tasyahud akhir sering terjadi kesalahan dalam gerakan yang dilakukan oleh siswa, bahkan siswa menyamakan duduk antara kedua tasyahud ini dan membolak balikan tata cara dalam gerakan tasyahud awal dan tasyahud akhir.

Gerakan shalat yang dilaksanakan oleh siswa yang paham tentang perbedaan antara tasyahud awal dengan tasyahud akhir hanya ada beberapa orang saja, peserta yang paham namun sulit bagi mereka dalam mempraktikan. Karena menurut sebagian peserta didik gerakan shalat yang paling sulit itu adalah tasyahud awal dan tasyahud akhir. Tidak mudah dalam melakukan setiap gerakan jika tidak kemauan sendiri untuk melakukan shalat. Padahal sebelumnya pendidik sudah memberikan arahan dalam pelaksanaan mengenai cara tasyahud.

j. Tasyahud Akhir

Masalah yang ditemukan dalam tasyahud akhir sama dengan halnya dengan cara yang dilakukan oleh peserta didik saat

(22)

mempraktikkan gerakan shalat tentang cara tasyahud awal. Hanya saja peserta didik lebih mudah dalam melakukan tasyahud awal dibandingkan dengan tasyahud akhir.

k. Membaca Shalawat atas Nabi saw.

Bacaan shalawat sebagai hafalan untuk siswa, nanti akan di praktikkan di akhir semester.

l. Mengucapkan Salam

Saat mengucapkan salam peserta didik hanya menoleh sekedarnya saja dan ada seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah yang terdapat dalam sabdanya pada halaman 38. Saat mengucapkan salam keseluruhan peserta didik memberikan isyarakat karena ajaran dari pendidik mereka sebelumnya, bahkan pendidiknya pada saat itu juga melakukan hal yang sama. Padahal Rasulullah melarang memberikan isyarat sesuai dengan hadis Nabi saw. di bawah ini:

“Para sahabat berisyarat dengan tangan-tangan mereka ke kanan dan ke kiri jika mereka mengucapkan salam. Lalu Nabi saw melihat hal itu, kemudia Nabi bersabda: “Mengapa kalian berisyarat dengan tangan-tangan kalian seperti ekor kuda yang lari tak terkendali? Jika salah seorang di antara kalian salam, hendaklah berpaling ke arah temannya dan tidak perlu berisyarat dengan tangannya. Dalam riwayat lain: “Sesungguhnya cukup bagi kalian meletakkan tangannya di atas pahanya, kemudian salam kepada saudaranya yang di sebelah kanan dan kiri (HR. Muslim, Abu Uwanah, as-Siraj, Ibnu Khuzamah, dan Thabrani). Wajibnya salam Rasulullah bersabda: “... dan penghalalnya (shalat) adalah

salam”. (Al-Hakim dan adz-Dzahabi).30

30 Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Sifat Shalat Nabi saw, (Surabaya: Duta Ilmu,

(23)

m. Menertibkan Rukun

Maksudnya yaitu mengerjakan shalat dengan cara berurutan sesuai dengan shalat yang dicontohkan oleh Rasulullah yang terdapat dalam hadis Nabi pada landasan teoritis.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran PAI materi shalat yang diajarkan oleh guru kepada siswa di kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti Kabupaten Solok sudah sempurna, tapi masih ada sebahagian siswa tidak bisa melaksakan shalat sesuai dengan yang diajarkan oleh guru. Gerakan shalat yang diajarkan oleh guru yaitu berdasarkan pada landasan teoritis yang terdapat pada bab sebelumnya yaitu bab II tentang rukun shalat dan cara shalat Rasulullah.

Gerakan serta bacaan shalat tidak cukup waktu untuk mempelajarinya, sehingga shalat yang kita lakukan itu kusyu’ dan sempurna. Apa lagi bagi siswa membutuhkan waktu dan motivasi agar shalat yang dilakukannya memperoleh suatu perobahan-perobahan kepada arah yang lebih baik.

Berdasarkan dari hasil observasi, pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam materi shalat yang diajarkan oleh guru kepada siswa di kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti Kabupaten Solok, guru telah menyampaikan sesuai dengan materi yang ada, namun peserta didik belum dapat memhami secara keseluruhannya dalam melakukan gerakan shalat secara baik dan benar.

(24)

3. Pembahasan Hasil Temuan Kendala yang dihadapi guru PAI serta solusi yang diberikan guru dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam materi shalat di kelas VII SMPN 8 Lembah Gumanti Kabupaten Solok.

Dalam kamus besar Indonesi Kendala adalah halangan, rintangan, faktor atau keadaan yang membatasi. Sedangkan menurut Munif Chatib solusi adalah jalan keluar atau jawaban dari suatu masalah. Pendapat lain solusi adalah cara atau jalan yang digunakan untuk memecahkan atau menyelesaikan masalah tanpa adanya tekanan.

Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa kendala adalah suatu halangan yang akan menghambat pekerjaan seseorang sehingga pekerjaan tersebut tidak tercapai. Sedangkan solusi adalah cara atau jalan yang akan dilakukan oleh seseorang disaat kendala itu ada.

Jadi, hasil penelitian diketahui bahwa kendala yang ditemukan oleh guru saat pelaksanaan praktik shalat yaitu masalah sarana dan prasarana, seperti mushalla sebagai tempat untuk melakukan praktik tidak tersedia. Dari kendala yang ada, penulis melihat di lapangan guru memberikan solusi kepada siswa untuk melakukan praktik di dalam kelas, dan siswa diminta untuk membawa perlengkapan shalat.

Referensi

Dokumen terkait

的打字员,也就是电脑录入人员。录入人员是一种职业,再复杂的字形输入

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Hubungan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran

Obesitas pada anak yang kurang beraktivitas fisik maupun berolahraga disebabkan oleh jumlah kalori yang dibakar lebih sedikit dibandingkan jumlah kalori yang diperoleh dari

2,3,5 Dalam reaksi redoks, bahan oksidator (seperti hidrogen peroksida) memiliki radikal bebas dengan electron yang tidak berpasangan yang akan tereduksi,.. sedangkan bahan

PESERTA PENDIDIKAN DAN LATIHAN PROFESI GURU SERTIFIKASI GURU AGAMA DALAM JABATAN PADA MADRASAH.. FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

- oksidasi - reduksi - hidrolisis - konjugasi - metilasi - asetilasi OBAT lipofil hidrofil sangat hidrofil sangat lipofil tidak dpt dimetabolisis tdk dpt diserap sgt hidrofil 12

Keanekaragaman pada manusia ter4entuk oleh siat8siat genetika yang di4a7a oleh gen dari orang tua. Siat8 siat genetika meliputi siat dominan dan siat resesi. Cjung

Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut di atas, maka tanggung jawab sosialisasi dan pendidikan pemilih bagi penyandang disabilitas menjadi beban bagi penyelenggara