6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Manajemen Keuangan
Ilmu manajemen bidang studi yang sulit untuk didefinisikan secara universal. Pengertian manajemen sederhana yang dikemukakan oleh beberapa para ahli:
Dalam manajemen klasik Henry Fayol dikutip dalam buku M. Hasibuan (2014) mengemukakan bahwa manajemen terdiri dari fungsi:
“Planning, organizing, coordinating, commanding dan controlling (biasa disingkat POC 3).”
Seiring perkembangan, sebahagian daripada ahli beranggapan bahwa staffing telah terdapat di dalam organizing. Menurut Robbins & Coulter dalam buku M.Hasibuan (2014):
“Fungsi-fungsi manajemen disusutkan menjadi empat fungsi mencangkup planning, organizing, leading/directing dan controlling.” Menurut Stoner dalam buku Ulber Silalahi (2011) pengertian manajemen adalah:
“Proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah dtetapkan.”
Sedangkan munurut Malayu Hasibuan (2014):
“Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu.”
Dari beberapa pengertian manajemen menurut para ahli dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah aktivitas pemanfaatan sumber daya yang dimiliki oleh perus ahaan dan menjalankan fungsi plannning, organizing, directing dan controlling untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Efektivitas dimaksudkan adalah rangkaian tindakan perusahaan untuk tercapainya tujuan
7
tersebut. Sedangkan efisiensi menunjukkan suatu penggunaan waktu secara optimal dengan sumber daya yang dimiliki perusahaan. Kegiatan manajemen dibutuhkan berbagai organisasi baik organisasi yang bersifat mencari laba (profit) maupun organisasi nonprofit, baik perusahaan berskala besar maupun kecil yang dapat mengarahkan perusahaan untuk mencapai tujuan dan menggunakan sumber daya melalui bantuan dari peranan seorang manajer organisasi.
2.1.1 Pengertian Manajemen Keuangan
Menurut Irham Fahmi (2013) pengertian manajemen keuangan merupakan:
“Penggabungan dari ilmu dan seni yang membahas dan menganalisis tentang bagaimana seorang manajer keuangan dengan mempergunakan seluruh sumberdaya perusahaan untuk mencari dana, mengelola dana, dan membagi dana dengan tujuan mampu memberikan profit atau kemakmuran bagi para pemegang saham dan suistainability (berkelanjutan) usaha bagi perusahaan.”
Semua elemen memiliki fungsi tersendiri namun saling berkaitan. Manajer keuangan bertugas mengelola fungsi-fungsi manajemen keuangan misal; mencari tambahan modal bagi perusahaan. Menurut Sutrisno (2012) manajemen keuangan dapat diartikan sebagai:
“Semua aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan usaha-usaha mendapatkan dana perusahaan dengan biaya yang murah serta usaha untuk menggunakan dan mengalokasikan dana tersebut secara efisien.”
Organisasi yang dimaksudkan tidak terbatas pada perbankan saja, termasuk juga perusahaan dan lembaga keuangan lainnya.
James Horne dan John Wachowicz (2013:terjemahan) berpendapat pengertian dari manajemen keuangan yakni:
“Segala akitvitas yang berhubungan dengan perolehan, pendanaan dan pengelolaan aktiva dengan beberapa tujuan menyeluruh.”
Bagi perusahaan, pendanaan dapat bersumber darimana saja karena tujuan dari manajemen keuangan adalah meningkatkan nilai perusahaan dengan meningkatkan nilai saham dan peningkatan kekayaan perusahaan. Dari beberapa
8
pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa manajemen keuangan adalah aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan perolehan, pengolahan dan pengalokasian dana secara efisien untuk peningkatan kekayaan perusahaan. Kinerja seorang manager keuangan dapat dilihat apakah pengambilan keputusan sudah dapat berjalan sesuai rencana yang telah dibuat melalui gambaran keuangan.
2.1.2 Pengertian Laporan Keuangan
Setiap perusahaan akan melaporkan keuangannya dalam bentuk laporan. Menurut Lukman (2009):
“Laporan perhitungan laba rugi atau lebih dikenal juga dengan income statement dari suatu bank umum adalah suatu laporan keuangan bank yang menggambarkan pendapatan dan biaya operasional dan nonoperasional bank untuk suatu periode tertentu.” Sedangkan menurut Kasmir (2012) berpendapat:
“Laporan keuangan bank menunjukkan kondisi bank secara keseluruhan. Dari laporan akan terbaca kekuatan dan kelemahan yang dimiliki suatu bank serta menunjukkan kinerja manajemen bank dalam satu periode.”
Penilaian kinerja manajemen akan menjadi sebuah acuan apakah manajemen telah melakukan kegiatan sesuai dengan keputusan yang telah diambil oleh perusahaan. Bagi para analis, laporan keuangan menjadi bahan sarana informasi dalam penilaian prestasi ekonomis ataupun dalam proses pengambilan keputusan. (Sofyan S. Harahap:2013):
“Laporan keuangan dapat mengambarkan posisi keuangan perusahaan, hasil usaha perusahaan dalam suatu periode, dan arus dana (kas) perusahaan dalam periode tertentu.”
Dengan demikian, laporan keuangan menjadi sarana informasi dan gambaran kondisi keuangan suatu perusahaan dalam jangka waktu tertentu. Selain laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan suatu perusahaan, juga menilai kinerja manajemen perusahaan yang bersangkutan.
9 2.1.3 Analisis Laporan Keuangan
Analisis laporan keuangan melibatkan penggunaan beberapa laporan keuangan. Pertama, melibatkan laporan neraca (balance sheet) yang berisikan ringkasan dari aset, liabilitas, dan ekuitas pada suatu periode, biasanya pada akhir tahun. Kedua, laporan laba rugi (income statement) yang memuat pendapatan dan pengeluaran perusahaan dalam periode tertentu.
Menganalisa laporan keuangan mempunyai tujuan untuk memahami kondisi keuangan melalui media laporan keuangan yang tersajikan. Beberapa pendapat para ahli antara lain:
Bagi Tondowidjojo dan Purwaningsih (2007) dalam jurnal Dyah Aristya (2010) :
“Laporan keuangan merupakan suatu ringkasan dari transaksi-transaksi yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan.”
Menurut Leopold dan Berstein John (1983) dalam buku Irham Fahmi (2013):
“Financial statement analysis applies analytical tools and techniques to general purpose financial statements and related data to derives estimates and inferences useful in business decision.”
“Analisis laporan keuangan mencakup penerapan metode dan teknik analitis atas laporan keuangan dan data lainnya untuk melihat dari laporan keuangan itu ukuran-ukuran dan hubungan tertentu yang sangat berguna dalam proses pengambilan keputusan.”
Secara umum tujuan utama laporan keuangan memberikan informasi yang berguna bagi pemakai laporan keuangan untuk pemambilan keputusan ekonomis.
Sedangkan Sofyan S. Harahap (2013) mengemukakan:
“Analisis laporan keuangan adalah menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau yang mempunyai makna antara satu dengan yang lain baik antara data kuantitatif maupun data non-kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat.”
10
Disimpulkan bahwa analisis laporan keuangan merupakan keterkaitan antar pos data agar dapat memberi informasi bagi manager tentang posisi keuangan perusahaan. Hasil analisis laporan keuangan dapat membantu menjelaskan berbagai hubungan dan memberikan dasar pertimbangan mengenai potensi keberhasilan perusahaan di masa yang akan datang. Analisis laporan keuangan bermanfaat bagi investor untuk dapat mengetahui tingkat keuntungan (return) yang diharapkan untuk masa mendatang terhadap risiko perusahaan, bagi manajer untuk menentukan perkembangan perusahaan dan bagi pemerintah untuk menentukan besaran pajak yang harus dibayar.
2.2 Perbankan Syariah 2.2.1 Pengertian Bank
Pengertian Bank menurut Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan adalah :
“Badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak.”
Pengertian bank dikemukakan beberapa para ahli antara lain: Menurut Zainul Arifin (2009):
“Perbankan adalah salah satu lembaga keuangan yang berfungsi memberikan jasa layanan keuangan dan berfungsi menjadi mediator antara masyarakat yang ‘kelebihan dana’ dan masyarakat yang ‘kekurangan dana’.”
Sebagai mediator, bank bertugas mengelola dana yang dititipkan masyarakat untuk kemudian disalurkan kembali kepada masyarakat.
Menurut Kasmir (2012):
“Bank adalah lembaga keuangan yang kegiatan utamanya menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuh simpanan dan menyalurkan kembali dana tersebut kepada masyarakat serta bentuk jasa lainnya.”
11 Kegiatan utama usaha perbankan: a) Menghimpun dana,
b) Menyalurkan dana, dan
c) Memberikan jasa bank lainnya.
Kegiatan menghimpun dana dan menyalurkan dana merupakan kegiatan pokok lembaga keuangan, sedangkan kegiatan lain merupakan pendukung dari kegiatan pokok tersebut khususnya pada perbankan.
“Bank merupakan lembaga yang dipercaya oleh masyarakat dari berbagai macam kalangan dalam penempatan dananya secara aman.” (Ismail,2011)
Bank merupakan bagian lembaga keuangan yang menghimpun dana, menyalurkan dana dan memberikan pelayanan pada masyarakat, sehingga kegiatan bank tidak hanya berkaitan dengan nasabah saja namun, juga berhubungan dengan keberadaan investor dan pemerintah untuk menaikkan taraf hidup. Peranan bank berpengaruh besar dalam kemajuan perekonomian Indonesia yang sebagian besar kegiatannya dipengaruhi kegiatan perbankan tersebut.
2.2.2 Pengertian Bank Syariah
Menurut Perundang-undangan RI Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan:
“Perbankan Syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.”
“Bank syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.”
Pendapat Ismail (2011):
“Bank syariah merupakan bank yang yang kegiatannya mengacu pada hukum Islam dan dalam kegiatannya tidak membebankan
12
bunga kepada nasabah Kegiatan operasional bank syariah diawasi oleh Dewan Pengawas Bank Syariah yang telah ditetapkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).”
Dapat disimpulkan bank syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan operasional sesuai syariah dengan prinsip system bagi hasil dengan tujuan menunjang kemaslahatan msyarakat banyak dibawah pengawasan badan yang berwenang.
2.2.3 Prinsip-Prinsip Operasional Perbankan Syariah
Berdasarkan Undang-Undang RI tentang perbankan syariah, prinsip syariah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah. Dalam pelaksanaan investasi, bank syariah memberi keyakinan bahwa dana perusahaan sendiri (equity) serta dana lain yang tersedia mendatangkan pendapatan yang sesuai dengan syariah dan bermanfaat bagi masyarakat. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 1998 pasal 1 (13) tentang Perbankan disebutkan bahwa:
”Prinsip syariah adalah sebagai aturan perjanjian berdasarkan hukum syariah antara bank dengan pihak lain untuk penyimpanan dana dan pembiayaan kegiatan usaha atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan syariah antara lain: pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (Mudharabah), pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (Musyarakah), pembiayaan berdasarkan prinsip jual-beli barang dengan memperoleh keuntungan (Murabahah), atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan (Ijarah), atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (Ijarah wa Istiqna)”.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat dijelaskan secara ringkas beberapa prinsip-prinsip operasional perbankan syariah menurut (Zainul Arifin,2009) adalah:
1. Prinsip Titipan/simpanan ( Al Wadiah)
Al wadiah dapat diartikan sebagai titipan dari satu pihak ke pihak lain, baik individu maupun badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja ketika menghendaki.
13
2. Prinsip Bagi Hasil (Profit and Lost Sharing) Prinsip bagi hasil yang sudah dikenal adalah:
a. Al Musyarakah adalah prinsip kontrak dua pihak atau lebih (termasuk bank) membentuk suatu usaha, setiap pihak memiliki bagian secara proposional sesuai dengan kontribusi modal dan berhak mengawasi. Keuntungan dan kerugian dibagikan sesuai proposional yang d sepakati. b. Al Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak, yaitu pihak yang satu (Shahibul Maal) yang menyediakan seluruh modal bukan pemberi modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola usaha (Mudharib). Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang ditentukan dalam kontrak yang disepakati sebelumnya. Apabila terjadi kerugian maka keseluruhannya dipikul oleh shahibul maal.
3. Prinsip Jual Beli
Prinsip jual beli dilakukan seperti jual beli pada umumnya yaitu perpindahan kepemilikan suatu barang dari pihak satu ke pihak lain. Transaksi jual beli dibedakan berdasarkan bentuk pembayarannya dan waktu penyerahan barang. Ada tiga jenis jual beli sebagai dasar dalam pembiayaan modal kerja dan investasi, yaitu:
a. Al Murabahah adalah akad jual beli antara bank (selaku penjual) dengan nasabah, keuntungan untuk bank yang sudah disepakati serta harga dan cara pembayaran sesuai kebijakan bank bersangkutan
b. Salam berarti pembelian yang dilakukan oleh bank dari nasabah dengan pembayaran dimuka dengan waktu penyerahan yang disepakati bersama.
c. Isthisna merupakan akad jual beli antara pembeli dengan penjual dimana barang yang diperjualbelikan harus di buat terlebih dahulu. Isthisna berbeda dengan salam dari cara pembayarannya.
4. Prinsip Sewa
Prinsip ini disebut juga dengan sebutan Al Ijarah yang mempunyai maksud akad pemindahan hak guna atas barang dan jasa. Dalam konteks
14
perbankan syariah, Ijarah adalah lease contract, yaitu suatu bank atau lembaga keuangan menyewakan kepada nasabah berdasarkan pembebanan biaya yang sudah ditentukan secara pasti sebelumnya (cicilan sewa termasuk cicilan harga pokok barang dan upah).
5. Prinsip Qard
Qard adalah meminjamkan harta kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Bank menggunakan akad ini untuk nasabah yang membutuhkan dana dalam waktu jangka pendek.
2.3 Risk Based Bank Rating (RBBR)
Menyadari pentingnya kesehatan suatu bank untuk pembentukan kepercayaan masyarakat serta untuk melaksanakan prinsip kehati-hatian (prudential banking) dalam dunia perbankan. Dengan peraturan tentang kesehatan bank, perbankan diharapkan selalu dalam kondisi sehat, sehingga tidak merugikan masyarakat. Aturan tentang kesehatan bank yang diterapkan oleh Bank Indonesia mencakup berbagai aspek dalam kegiatan bank, mulai dari penghimpunan dana sampai dengan penggunaan dan penyaluran dana (Totok B.Satoso & Sigit Triandaru,2009 dalam Dyah Arstya 2010).
Perkembangan metodologi penilaian kondisi bank bersifat dinamis, sehingga system penilaian tingkat kesehatan bank juga harus disesuaikan dengan kondisi yang senantiasa berubah agar lebih mencerminkan kondisi bank yang sesungguhnya baik pada saat ini maupun pada masa mendatang. Penilaian kondisi bank meliputi penyempurnaan pendekatan penilaian kuantitatif dan kualitatif serta penambahan beberapa penilaian faktor bilamana diperlukan.
Setelah tugas pengawasan terhadap perbankan oleh Bank Indonesia pindah kepada OJK maka analisis CAMEL digantikan dengan analisis RBBR (Risk Based Bank Rating) bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah. Dalam analisis RBBR meliputi beberapa penilaian faktor (ojk.go.id) yang diperhitungkan.
15 2.3.1 Penilaian Faktor Profil Risiko
Setiap keputusan investasi memiliki keterkaitan kuat dengan terjadinya resiko di masa mendatang (Irham Fahmi,2013). Penilaian faktor profil risiko merupakan penilaian terhadap risiko inheren dan kualitas penerapan manajemen risiko dalam aktivitas operasional bank. Dalam menilai profil risiko, bank wajib pula memperhatikan cakupan penerapan manajemen risiko sebagaimana diatur dalam ketentuan yang berlaku mengenai penerapan manajemen risiko bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah.
2.3.1.1 Penilaian Risiko Inheren
Penilaian risiko inheren merupakan penilaian atas risiko yang melekat pada kegiatan bisnis bank, baik yang dapat dikuantifikasikan maupun yang tidak, yang berpotensi mempengaruhi posisi keuangan bank. Karakteristik risiko inheren bank ditentukan oleh faktor internal maupun eksternal, antara lain strategi bisnis, karakteristik bisnis, kompleksitas produk dan aktivitas bank, industri dimana bank melakukan kegiatan usaha serta kondisi makro ekonomi. Berikut ini adalah beberapa parameter/indikator minimum yang wajib menjadi acuan
a. Risiko Kredit
Risiko Kredit adalah risiko akibat kegagalan nasabah atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada bank sesuai dengan perjanjian yang disepakati. Risiko kredit pada umumnya melekat pada seluruh aktivitas penanaman dana yang dilakukan oleh bank yang kinerjanya bergantung pada kinerja pihak lawan (counterparty), penerbit (issuer) atau kinerja peminjam dana (borrower). Risiko kredit juga dapat diakibatkan oleh terkonsentrasinya penyediaan dana pada debitur, wilayah geografis, produk, jenis pembiayaan, atau lapangan usaha tertentu. Risiko ini lazim disebut risiko konsentrasi pembiayaan dan wajib diperhitungkan pula dalam penilaian risiko inheren.
16
Parameter: Komposisi Portofolio Aset termasuk jenis akad yang digunakan dan Tingkat Konsentrasi
1) Pembiayaan kepada Debitur Inti Total Pembiayaan
Keterangan :
Pembiayaan kepada debitur inti meliputi pembiayaan kepada pihak ketiga bukan bank baik debitur individual maupun grup diluar pihak terkait dengan kriteria sebagai berikut : bagi bank yang memiliki total aset kurang dari atau sama dengan Rp. 1 triliun meliputi pembiayaan kepada 10 debitur besar. Bagi bank yang memiliki total aset lebih besar dari Rp. 1 triliun namun lebih kecil atau sama dengan Rp. 10 triliun meliputi pembiayaan kepada 15 debitur/grup besar. Bagi bank yang memiliki total aset lebih besar dari Rp10 triliun meliputi pembiayaan kepada 25 debitur/grup besar.
Total pembiayaan adalah pembiayaan kepada pihak ketiga bukan bank. 2) Pembiayaan per Sektor Ekonomi
Total Pembiayaan
Keterangan :
Pembiayaan per sektor ekonomi adalah pembiayaan kepada bank dan pihak ketiga bukan bank per kategori sektor ekonomi sebagaimana diatur dalam ketentuan yang berlaku mengenai laporan stabilitas moneter dan sistem keuangan bulanan Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah.
Total pembiayaan adalah pembiayaan kepada bank dan pihak ketiga bukan bank.
17 3) Pembiayaan per Kategori Portofolio
Total Pembiayaan
Keterangan :
Pembiayaan per kategori portofolio adalah pembiayaan kepada bank dan pihak ketiga bukan bank berdasarkan kategori portofolio sebagaimana diatur dalam ketentuan yang berlaku mengenai laporan stabilitas moneter dan sistem keuangan bulanan Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah.
Total pembiayaan adalah pembiayaan kepada bank dan pihak ketiga bukan bank.
4) Pembiayaan per Kategori Akad (Utang Piutang dan Bagi Hasil) Total Pembiayaan
Keterangan :
Pembiayaan per kategori akad utang piutang adalah pembiayaan kepada pihak ketiga bukan bank yang mempergunakan akad jual beli (murabahah, istishna dan salam), pinjaman (qardh) dan sewa (ijarah).
Pembiayaan per kategori akad bagi hasil adalah pembiayaan kepada pihak ketiga bukan bank yang mempergunakan akad bagi hasil (mudharabah dan musyarakah termasuk mudharabah mutanaqisah)
18
Parameter : Kualitas Penyediaan Dana dan Kecukupan Pencadangan 1) Aset dan TRA Kualitas Rendah
Total Aset Gross dan TRA
Keterangan :
Aset kualitas rendah adalah seluruh aktiva bank baik produktif maupun non produktif yang memiliki kualitas dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan dan macet.
Transaksi Rekening Administratif (TRA) terdiri dari irrevocable LC, garansi yang diberikan dan kelonggaran tarik (komitmen).
TRA kualitas rendah adalah TRA yang memiliki kualitas dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan dan macet.
Total aset gross adalah total aset secara gross yang terdiri dari total aset, total CKPN dan PPA non produktif.
2) Aset dan TRA Bermasalah (Total Aset Gross dan TRA) Kualitas Rendah
Keterangan :
Aset bermasalah adalah seluruh aktiva bank baik produktif maupun non produktif yang memiliki kualitas kurang lancar, diragukan dan macet sesuai ketentuan yang berlaku mengenai kualitas aktiva/aset.
TRA Bermasalah adalah TRA yang memiliki kualitas kurang lancar, diragukan dan macet.
Total aset gross kualitas rendah adalah total aset secara gross yang terdiri dari total aset, total CKPN dan PPA non produktif yang memiliki kualitas dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan dan macet.
TRA kualitas rendah adalah TRA yang memiliki kualitas dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan dan macet.
19 3) Pembiayaan Kualitas Rendah
Total Pembiayaan
Keterangan :
Pembiayaan kualitas rendah adalah seluruh pembiayaan kepada pihak ketiga bukan bank yang memiliki kualitas dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan dan macet.
Total pembiayaan adalah pembiayaan kepada pihak ketiga bukan bank. 4) Pembiayaan Bermasalah
Total Pembiayaan
Keterangan :
Pembiayaan bermasalah adalah pembiayaan kepada pihak ketiga bukan bank yang tergolong kurang lancar, diragukan dan macet.
Total pembiayaan adalah pembiayaan kepada pihak ketiga bukan bank. 5) Pembiayaan Bermasalah dikurangi CKPN Pembiayaan Bermasalah
Total Pembiayaan setelah dikurangi CKPN
Keterangan :
Pembiayaan bermasalah adalah pembiayaan kepada pihak ketiga bukan bank yang tergolong kurang lancar, diragukan dan macet.
CKPN pembiayaan bermasalah adalah cadangan kerugian penurunan nilai untuk pembiayaan yang tergolong kurang lancar, diragukan dan macet.
Perhitungan CKPN berpedoman pada ketentuan dan standar akuntansi yang berlaku.
20
6) Pembiayaan Bermasalah per Sektor Ekonomi Total Pembiayaan Bermasalah
Keterangan :
Pembiayaan bermasalah per sektor ekonomi adalah pembiayaan kepada pihak ketiga bukan bank per kategori sektor ekonomi sebagaimana diatur dalam ketentuan yang berlaku mengenai laporan stabilitas moneter dan sistem keuangan bulanan Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah yang tergolong kurang lancar, diragukan dan macet per sektor ekonomi.
Total pembiayaan bermasalah adalah pembiayaan kepada pihak ketiga bukan bank yang tergolong kurang lancar, diragukan dan macet per sektor ekonomi.
7) Total Pembiayaan yang Direstrukturisasi Total Pembiayaan
Keterangan :
Total pembiayaan yang direstrukturisasi adalah total pembiayaan kepada pihak ketiga bukan bank yang direstrukturisasi termasuk pembiayaan dengan kualitas lancar dan dalam perhatian khusus sebagaimana diatur dalam ketentuan yang berlaku mengenai restrukturisasi.
Total pembiayaan adalah pembiayaan kepada pihak ketiga bukan bank
21
8) Pembiayaan yang Direstrukturisasi dengan Kualitas Lancar dan dalam Perhatian khusus
Total Pembiayaan yang Direstrukturisasi
Keterangan :
Total pembiayaan yang direstrukturisasi dengan kualitas lancar dan dalam perhatian khusus adalah total pembiayaan kepada pihak ketiga bukan bank yang direstrukturisasi dengan kualitas lancar dan dalam perhatian khusus sebagaimana diatur dalam ketentuan yang berlaku mengenai restrukturisasi.
Total pembiayaan yang direstrukturisasi adalah pembiayaan kepada pihak ketiga bukan bank yang direstrukturisasi.
9) Aset yang Diambil Alih Total Aset
Keterangan :
Aset yang diambil alih sesuai dengan ketentuan yang berlaku mengenai kualitas aktiva/aset.
Total aset adalah total aset dalam laporan posisi keuangan sebagaimana tertera pada laporan stabilitas moneter dan sistem keuangan bulanan Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah.
10) CKPN atas Aset Produktif Neraca + PPA atas Aset Produktif TRA PPA Wajib Dibentuk atas Aset Produktif Neraca dan TRA
Keterangan :
Perhitungan CKPN berpedoman pada ketentuan dan standar akuntansi yang berlaku.
22
Perhitungan PPA wajib bentuk atas aset produktif neraca dan TRA berpedoman pada ketentuan yang berlaku mengenai kualitas aktiva/aset.
11) Seluruh CKPN dan PPA yang telah dibentuk Aset dan TRA dengan Kualitas Rendah
Keterangan :
Perhitungan CKPN berpedoman pada ketentuan dan standar akuntansi yang berlaku.
Perhitungan PPA wajib bentuk berpedoman pada ketentuan yang berlaku mengenai kualitas aktiva/aset.
Aset kualitas rendah adalah seluruh aktiva bank baik produktif maupun non produktif yang memiliki kualitas dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan dan macet.
TRA kualitas rendah adalah TRA yang memiliki kualitas dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan dan macet.
12) Seluruh CKPN dan PPA yang telah dibentuk__ ______ Aset Produktif Neraca, Aset Produktif TRA dan Aset Non
Produktif dengan Kualitas Rendah
Keterangan :
Perhitungan CKPN berpedoman pada ketentuan dan standar akuntansi yang berlaku.
Perhitungan PPA wajib bentuk berpedoman pada ketentuan yang berlaku mengenai kualitas aktiva/aset.
Aset produktif neraca, aset produktif TRA dan aset non produktif dengan kualitas rendah adalah aset produktif neraca, aset produktif TRA dan aset non produktif yang memiliki kualitas dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan dan macet.
23 13) CKPN atas Pembiayaan
Total Pembiayaan
Keterangan :
CKPN atas pembiayaan adalah CKPN yang dibentuk atas pembiayaan yang diberikan kepada pihak ketiga bukan bank.
Total pembiayaan adalah pembiayaan kepada pihak ketiga bukan bank. 14) Aset Produktif Kualitas Rendah (Earning Asset at Risk)
Aset Produktif (Earning Asset)
Keterangan :
Aset produktif kualitas rendah adalah aset produktif yang yang dikelompokkan berdasarkan kualitasnya dan dibobot dengan nilai prosentase tertentu (Bobot pengkalian : DPK =5%; KL = 15%; D = 50% dan M = 100%).
Aset produktif adalah sebagaimana dimaksud dalam ketentuan yang berlaku mengenai penilaian kualitas aktiva/aset bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah.
b. Risiko Pasar
Risiko Pasar adalah risiko pada posisi neraca dan rekening administratif akibat perubahan harga pasar, antara lain risiko berupa perubahan nilai dari aset yang dapat diperdagangkan atau disewakan. Risiko pasar meliputi antara lain risiko benchmark suku bunga (benchmark interest rate risk), risiko nilai tukar, risiko ekuitas dan risiko komoditas. Penerapan manajemen risiko untuk risiko ekuitas dan risiko komoditas wajib diterapkan oleh bank yang melakukan konsolidasi dengan perusahaan anak.
24
Parameter: Penilaian Volume dan Komposisi Portofolio 1) Aset Trading dan Tagihan Forward
Total Aset
Keterangan :
Aset Trading adalah surat berharga yang dimiliki dengan kategori pengukuran diperdagangkan (trading).
Tagihan Forward adalah tagihan yang diperoleh dari keuntungan Mark to Market (MTM) dari transaksi forward.
Total aset adalah total aset dalam laporan posisi keuangan. 2) Kewajiban Trading dan Kewajiban Forward
Total Liabilitas dan Ekuitas
Keterangan :
Kewajiban Trading adalah surat berharga yang diterbitkan dengan kategori pengukuran diperdagangkan (trading).
Kewajiban Forward adalah kewajiban yang diakibatkan dari kerugian (MTM) dari transaksi forward.
Total liabilitas dan ekuitas adalah liabilitas dan ekuitas bank dalam laporan posisi keuangan.
3) Potensi keuntungan/kerugian dari Aset Trading dan Tagihan Forward Pendapatan Operasional
Keterangan :
Potensi Keuntungan/Kerugian dari aset keuangan adalah total keuntungan/kerugian (net) dari Aset Trading.
Pendapatan Operasional adalah seluruh pendapatan yang diperoleh Bank dari kegiatan operasionalnya.
25
4) Potensi keuntungan/kerugian dari Aset Forward Pendapatan Operasional
Keterangan :
Potensi Keuntungan/Kerugian dari aset keuangan adalah total keuntungan/kerugian (net).
Pendapatan Operasional adalah seluruh pendapatan yang diperoleh Bank dari kegiatan operasionalnya.
5) Total Forward Total Aset
Keterangan :
Total Forward adalah seluruh transaksi forward yang dimiliki oleh Bank.
Total Aset adalah total aset dalam Laporan Posisi Keuangan. 6) PDN __
Total Modal
Keterangan :
Posisi Devisa Neto (PDN): Angka yang merupakan penjumlahan dari nilai absolut untuk jumlah dari; selisih bersih aktiva dan pasiva dalam neraca untuk setiap valuta asing; dan selisih bersih tagihan dan kewajiban baik yang merupakan komitmen maupun kontijensi dalam rekening administratif untuk setiap valas yang seluruhnya dinyatakan dalam rupiah dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku mengenai Posisi Devisa Neto.
Total Modal adalah total modal sesuai dengan ketentuan yang berlaku mengenai Posisi Devisa Neto.
26 7) PDN dalam Valuta Utama (USD)
Total Modal
Keterangan :
Posisi Devisa Neto (PDN) dalam valuta utama adalah angka yang merupakan penjumlahan dari nilai absolut untuk jumlah dari: selisih bersih aktiva dan pasiva dalam neraca untuk setiap valuta asing; dan selisih bersih tagihan dan kewajiban baik yang merupakan komitmen maupun kontijensi dalam rekening administratif untuk setiap valas yang seluruhnya dinyatakan dalam valuta utama (USD) sesuai dengan ketentuan yang berlaku mengenai Posisi Devisa Neto.
Total Modal adalah total modal sesuai dengan ketentuan yang berlaku mengenai Posisi Devisa Neto.
8) Ekuitas Kategori AFS Total Modal
Keterangan :
Ekuitas Kategori Available for Sale (AFS): Penyertaan dengan kriteria metode penyertaan diukur pada nilai wajar melalui ekuitas, tujuan penyertaan dalam rangka restrukturisasi dan lainnya, golongan emiten selain perusahaan asuransi dan bagian penyertaan kurang dari 50%.
Total Modal adalah total modal sesuai dengan ketentuan yang berlaku mengenai Posisi Devisa Neto.
27
9) Ekuitas dalam Rangka Restrukturisasi Pembiayaan
Total Modal
Keterangan :
Ekuitas dalam Rangka Restrukturisasi Pembiayaan adalah penyertaan yang ditujuan penyertaan dalam rangka restrukturisasi pembiayaan.
Total Modal adalah total modal sesuai dengan ketentuan yang berlaku mengenai Posisi Devisa Neto.
10) Kewajiban Keuangan Jangka Panjang dengan Tingkat Imbalan Tetap_ Aset Keuangan Jangka Panjang dengan Tingkat Imbalan Tetap
Keterangan :
Kewajiban Keuangan Jangka Panjang dengan Tingkat Imbalan Tetap adalah kewajiban keuangan dengan tingkat imbalan tetap jangka panjang (sisa jatuh tempo satu tahun atau lebih).
Aset Keuangan Jangka Panjang dengan Tingkat Imbalan Tetap adalah asset keuangan dengan tingkat imbalan tetap jangka panjang (sisa jatuh tempo satu tahun atau lebih).
Parameter: Potensi Kerugian (Potential Loss) dari risiko Benchmark suku bunga dalam Banking Book (BRBB)
Potensi Kerugian (Unrealized Loss) Surat Berharga kategori AFS Total Modal
Keterangan :
Potensi Kerugian (Unrealized Loss) Surat Berharga dengan kategori portofolio (AFS/Available for Sale).
28
Total Modal adalah total modal sesuai dengan ketentuan yang berlaku mengenai Posisi Devisa Neto.
c. Risiko Likuiditas
Risiko Likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan bank. Risiko ini disebut juga Risiko likuiditas pendanaan (funding liquidity risk). Risiko likuiditas juga dapat disebabkan oleh ketidakmampuan bank melikuidasi aset tanpa terkena diskon yang material karena tidak adanya pasar aktif atau adanya gangguan pasar (market disruption) yang parah. risiko ini disebut sebagai risiko likuiditas pasar (market liquidity risk).
Parameter: Komposisi dari Aset, Kewajiban dan Transaksi Rekening Administratif
1) Total Aset Likuid Total Aset
Keterangan :
Total Aset Likuid adalah Total Aset Likuid Primer dan Aset Likuid Sekunder.
Aset Likuid Primer adalah aset yang sangat likuid untuk memenuhi kebutuhan likuiditas atas penarikan dana pihak ketiga dan kewajiban jatuh tempo, yang terdiri dari: Kas; Penempatan pada Bank Indonesia; Penempatan pada bank lain; Surat berharga kategori tersedia untuk dijual (Available for Sale/AFS) atau trading; dan Seluruh surat berharga pemerintah (government sukuk) kategori trading dan AFS yang memiliki kualitas tinggi, diperdagangkan pada pasar aktif dan memiliki sisa jatuh waktu 1 tahun atau kurang.
29
Aset Likuid Sekunder adalah sejumlah aset likuid dengan kualitas lebih rendah untuk memenuhi kebutuhan likuiditas atas penarikan dana pihak ketiga dan kewajiban jatuh tempo, yang terdiri dari: surat berharga pemerintah (government sukuk) kategori trading dan AFS dengan kualitas baik, diperdagangkan pada pasar aktif dan memiliki sisa jatuh waktu lebih dari 1 tahun tapi kurang dari 5 tahun; surat berharga pemerintah (government sukuk) kategori HTM dan memiliki sisa jatuh waktu sampai dengan 1 tahun dan surat berharga pemerintah (government sukuk) kategori trading dan AFS dan memiliki sisa jatuh waktu lebih dari 5 tahun, dengan nilai haircut 25%.
Total Aset adalah total aset dalam Laporan Posisi Keuangan. 2) Total Aset Likuid
Pendanaan Jangka Pendek
Keterangan :
Total Aset Likuid adalah Total Aset Likuid Primer dan Aset Likuid Sekunder.
Pendanaan Jangka Pendek adalah seluruh dana pihak ketiga yang tidak memiliki jatuh tempo dan/atau dana pihak ketiga yang memiliki jatuh tempo 1 tahun atau kurang.
3) Aktiva Jangka Pendek Kewajiban Jangka Pendek
Keterangan :
Aktiva Jangka Pendek adalah aktiva likuid kurang dari 3 bulan selain kas, penempatan pada BI (SBIS) dan SBSN dalam laporan maturity profile sebagaimana dimaksud dalam Laporan Berkala Bank Umum Syariah.
30
Kewajiban Jangka Pendek adalah kewajiban likuid kurang dari 3 bulan selain kas, penempatan pada BI (SBIS) dan SBSN dalam laporan maturity profile sebagaimana dimaksud dalam Laporan Berkala Bank Umum Syariah.
4) Total Aset likuid Pendanaan Non Inti
Keterangan :
Total Aset Likuid adalah Total Aset Likuid Primer dan Aset Likuid Sekunder.
Pendanaan Non Inti (Non Core Funding) adalah pendanaan yang menurut Bank relatif tidak stabil atau cenderung tidak mengendap di Bank baik dalam situasi normal maupun krisis, meliputi: dana pihak ketiga yang jumlahnya di atas Rp. 2 milyar; seluruh transaksi antar Bank dan seluruh pinjaman (borrowing) tetapi tidak termasuk pinjaman subordinasi yang termasuk komponen modal.
5) Aset Likuid Primer Pendanaan Non Inti Jangka Pendek
Keterangan :
Aset Likuid Primer adalah aset yang sangat likuid untuk memenuhi kebutuhan likuiditas atas penarikan dana pihak ketiga dan kewajiban jatuh tempo.
Pendanaan Non Inti (Non Core Funding) jangka pendek adalah pendanaan yang menurut Bank relatif tidak stabil atau cenderung tidak mengendap di Bank baik dalam situasi normal maupun krisis dengan jangka waktu kurang dari 1 tahun.
31 6) Pendanaan Non Inti
Total Pendanaan
Keterangan :
Pendanaan Non Inti (Non Core Funding) adalah pendanaan yang menurut Bank relatif tidak stabil atau cenderung tidak mengendap di Bank baik dalam situasi normal maupun krisis, meliputi: dana pihak ketiga yang jumlahnya di atas Rp. 2 milyar; seluruh transaksi antar Bank dan seluruh pinjaman (borrowing) tetapi tidak termasuk pinjaman subordinasi yang termasuk komponen modal.
Total Pendanaan adalah seluruh sumber dana yang diperoleh oleh Bank baik berupa dana pihak ketiga maupun pinjaman yang diterima.
7) Pendanaan Non Inti – Total Aset Likuid Total Aset – Aset Likuid
Keterangan :
Pendanaan Non Inti (Non Core Funding) adalah pendanaan yang menurut Bank relatif tidak stabil atau cenderung tidak mengendap di Bank baik dalam situasi normal maupun krisis, meliputi: dana pihak ketiga yang jumlahnya di atas Rp. 2 milyar; seluruh transaksi antar Bank dan seluruh pinjaman (borrowing) tetapi tidak termasuk pinjaman subordinasi yang termasuk komponen modal.
Total Aset Likuid adalah Total Aset Likuid Primer dan Aset Likuid Sekunder.
32 8) DPK yang dijamin LPS
DPK
Keterangan :
DPK yang dijamin LPS adalah dana pihak ketiga yang nominalnya kurang dari Rp. 2 milyar dan dijamin oleh LPS.
DPK adalah seluruh dana pihak ketiga. d. Risiko Operasional
Risiko Operasional adalah risiko kerugian yang diakibatkan oleh proses internal yang kurang memadai, kegagalan proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional bank. Sumber risiko operasional dapat disebabkan antara lain oleh sumber daya manusia, proses, sistem dan kejadian eksternal.
e. Risiko Hukum
Risiko Hukum adalah risiko yang timbul akibat tuntutan hukum dan/atau kelemahan aspek yuridis. Risiko ini juga dapat timbul antara lain karena ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendasari atau kelemahan perikatan, seperti tidak dipenuhinya syarat sahnya perjanjian atau agunan yang tidak memadai.
f. Risiko Stratejik
Risiko Stratejik adalah risiko akibat ketidaktepatan dalam pengambilan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan stratejik serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis. Sumber risiko stratejik antara lain dapat berasal dari kelemahan dalam proses formulasi strategi dan ketidaktepatan dalam perumusan strategi, ketidaktepatan dalam implementasi strategi dan kegagalan mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis.
33 g. Risiko Kepatuhan
Risiko Kepatuhan adalah risiko akibat bank tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku, serta prinsip syariah. Sumber risiko kepatuhan antara lain dapat disebabkan oleh kurangnya pemahaman atau kesadaran hukum terhadap ketentuan, prinsip syariah maupun standar bisnis yang berlaku umum.
h. Risiko Reputasi
Risiko Reputasi adalah risiko akibat menurunnya tingkat kepercayaan stakeholder yang bersumber dari persepsi negatif terhadap bank. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam mengkategorikan sumber risiko reputasi bersifat tidak langsung (below the line) dan bersifat langsung (above the line).
i. Risiko Imbal Hasil
Risiko Imbal Hasil (Rate of Return Risk) adalah risiko akibat perubahan tingkat imbal hasil yang dibayarkan bank kepada nasabah, karena terjadi perubahan tingkat imbal hasil yang diterima bank dari penyaluran dana yang dapat mempengaruhi perilaku nasabah dana pihak ketiga bank.
Parameter: Komposisi Dana Pihak Ketiga Non Core Deposit .
Total Dana Pihak Ketiga
Keterangan :
Non Core Deposit adalah giro, tabungan dan deposito yang tidak dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (nominal lebih besar dari Rp. 2 miliar).
Total Dana Pihak Ketiga adalah seluruh dana pihak ketiga bukan bank berupa giro, tabungan dan deposito.
34
Parameter: Strategi dan Kinerja Bank dalam Menghasilkan Laba atau Pendapatan
1) Pembiayaan Berbasis Utang Piutang Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil
Keterangan :
Pembiayaan Berbasis Utang Piutang adalah pembiayaan kepada bank dan pihak ketiga bukan bank yang memiliki imbal hasil yang tetap antara lain murabahah, istishna dan ijarah (termasuk musyarakah mutanaqisah).
Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil adalah pembiayaan kepada bank dan pihak ketiga bukan bank yang memiliki imbal hasil yang volatile antara lain mudharabah dan musyarakah.
2) Pembiayaan Bermasalah Total Pembiayaan
Keterangan :
Pembiayaan Bermasalah adalah pembiayaan kepada pihak ketiga bukan Bank yang memiliki kualitas kurang lancar, diragukan dan macet.
Total Pembiayaan adalah pembiayaan kepada pihak ketiga bukan Bank.
3) Laba Sebelum Pajak Rata-rata Total Aset
Keterangan :
Laba sebelum pajak adalah laba sebagaimana tercatat dalam laba rugi Bank tahun berjalan yang disetahunkan.
35
Rata-rata Total Aset adalah rata-rata total aset dalam Laporan Posisi Keuangan.
j. Risiko Investasi
Risiko Investasi (Equity Investment Risk) adalah risiko akibat bank ikut menanggung kerugian usaha nasabah yang dibiayai dalam pembiayaan berbasis bagi hasil baik yang menggunakan metode net revenue sharing maupun yang menggunakan metode profit and loss sharing.
Parameter: Komposisi dan Tingkat Konsentrasi Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil
1) Total Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil Total Pembiayaan
Keterangan :
Total Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil adalah seluruh pembiayaan kepada pihak ketiga bukan Bank dengan akad bagi hasil (misalnya mudharabah dan musyarakah) baik yang menggunakan metode profit and loss sharing maupun revenue sharing.
Total Pembiayaan adalah pembiayaan kepada pihak ketiga bukan Bank.
2) Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil per Sektor Ekonomi Total Pembiayaan
Keterangan :
Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil per Sektor Ekonomi adalah seluruh pembiayaan kepada bank dan pihak ketiga bukan bank dengan akad bagi hasil per kategori sektor ekonomi sebagaimana diatur dalam ketentuan yang berlaku.
36
Total Pembiayaan adalah pembiayaan kepada pihak ketiga bukan Bank.
Parameter: Kualitas Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil 1) Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil Kualitas Rendah
Total Pembiayaan
Keterangan :
Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil Kualitas Rendah adalah seluruh pembiayaan kepada pihak ketiga bukan Bank dengan akad bagi hasil yang memiliki kualitas dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan dan macet.
Total Pembiayaan adalah pembiayaan kepada pihak ketiga bukan Bank.
2) Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil Bermasalah Total Pembiayaan
Keterangan :
Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil Bermasalah adalah seluruh pembiayaan kepada pihak ketiga bukan Bank dengan akad bagi hasil yang memiliki kualitas kurang lancar, diragukan dan macet.
Total Pembiayaan adalah pembiayaan kepada pihak ketiga bukan Bank.
3) Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil Bermasalah per Sektor Ekonomi Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil per Sektor Ekonom
Keterangan:
Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil Bermasalah per Sektor Ekonomi adalah seluruh pembiayaan kepada pihak ketiga bukan Bank dengan
37
akad bagi hasil yang memiliki kualitas kurang lancar, diragukan dan macet.
Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil per Sektor Ekonomi adalah seluruh pembiayaan kepada pihak ketiga bukan Bank dengan akad bagi hasil per kategori sektor ekonomi sebagaimana diatur dalam ketentuan yang berlaku.
4) Potensi Kerugian (CKPN Mudharabah dan Musyarakah) Total Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil
Keterangan :
Potensi Kerugian (CKPN Mudharabah dan Musyarakah) adalah CKPN yang dibentuk atas pembiayaan kepada pihak ketiga bukan bank dengan akad bagi hasil, misalnya mudharabah dan musyarakah.
Total Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil adalah seluruh pembiayaan kepada pihak ketiga bukan Bank dengan akad bagi hasil.
2.3.1.2 Penilaian Kualitas Penerapan Manajemen Risiko
Penilaian kualitas penerapan manajemen risiko mencerminkan penilaian terhadap kecukupan sistem pengendalian risiko yang mencakup seluruh pilar penerapan manajemen risiko dan bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penerapan manajemen risiko bank sesuai prinsip-prinsip sebagaimana diatur dalam ketentuan mengenai penerapan manajemen risiko bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah.
Penerapan manajemen risiko bank sangat bervariasi menurut skala, kompleksitas dan tingkat risiko yang dapat ditoleransi oleh bank. Dengan demikian, dalam menilai kualitas penerapan manajemen risiko perlu memperhatikan karakteristik dan kompleksitas usaha bank. Penilaiannya yaitu:
38 a. Tata Kelola Risiko
Tata kelola risiko mencakup evaluasi terhadap perumusan tingkat risiko yang akan diambil (risk appetite) dan toleransi risiko (risk tolerance) dan kecukupan pengawasan aktif oleh dewan komisaris, direksi, dan Dewan Pengawas Syariah termasuk pelaksanaan kewenangan dan tanggung jawab dewan komisaris, direksi dan Dewan Pengawas Syariah. b. Kerangka Manajemen Risiko
Kerangka manajemen risiko mencakup evaluasi terhadap strategi manajemen risiko yang searah dengan tingkat risiko yang akan diambil dan toleransi risiko, kecukupan perangkat organisasi dalam mendukung terlaksananya manajemen risiko secara efektif termasuk kejelasan wewenang dan tanggung jawab serta kecukupan kebijakan, prosedur dan penetapan limit.
c. Proses Manajemen Risiko, Kecukupan Sumber Daya Manusia dan Kecukupan Sistem Informasi Manajemen
Proses manajemen risiko, kecukupan sumber daya manusia dan kecukupan sistem informasi manajemen risiko mencakup evaluasi terhadap proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko, kecukupan sistem informasi manajemen risiko dan kecukupan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia dalam mendukung efektivitas proses manajemen risiko.
d. Kecukupan Sistem Pengendalian Risiko
Kecukupan sistem pengendalian risiko mencakup evaluasi terhadap kecukupan sistem pengendalian intern dan kecukupan kaji ulang oleh pihak independen (independent review) dalam bank baik oleh Satuan Kerja Manajemen Risiko maupun oleh Satuan Kerja Audit Intern. Kaji ulang oleh Satuan Kerja Manajemen Risiko antara lain mencakup metode, asumsi dan variabel yang digunakan untuk mengukur dan menetapkan limit risiko, sedangkan kaji ulang oleh Satuan Kerja Audit Intern antara lain mencakup keandalan kerangka manajemen risiko dan penerapan manajemen risiko oleh unit bisnis dan/atau unit pendukung. Penilaian
39
kualitas penerapan manajemen risiko dilakukan terhadap 10 (sepuluh) jenis Risiko yaitu Risiko Kredit, Risiko Pasar, Risiko Likuiditas, Risiko Operasional, Risiko Hukum, Risiko Stratejik, Risiko Kepatuhan, Risiko Reputasi, Risiko Imbal Hasil dan Risiko Investasi.
2.3.1.3 Penilaian Faktor Good Corporate Governance (GCG)
Penilaian faktor Good Corporate Governance bagi Bank Umum Syariah merupakan penilaian terhadap kualitas manajemen bank atas pelaksanaan 5 (lima) prinsip Good Corporate Governance yaitu transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, professional dan kewajaran. Kualitas manajemen dapat dilihat dari kualitas manusianya yang bekerja (Kasmir,2012). Prinsip-prinsip Good Corporate Governance dan fokus penilaian terhadap pelaksanaan prinsip-prinsip Good Corporate Governance tersebut berpedoman pada ketentuan Good Corporate Governance yang berlaku bagi Bank Umum Syariah dengan memperhatikan karakteristik dan kompleksitas usaha bank.
Dalam rangka memastikan penerapan 5 (lima) prinsip Good Corporate Governance sebagaimana dimaksud dalam angka 1), Bank Umum Syariah harus melakukan penilaian sendiri (self assessment) secara berkala yang paling kurang meliputi 11 (sebelas) faktor penilaian pelaksanaan Good Corporate Governance sebagaimana diatur dalam ketentuan Good Corporate Governance yang berlaku bagi Bank Umum Syariah.
2.3.3 Penilaian Faktor Rentabilitas
Penilaian faktor rentabilitas meliputi evaluasi terhadap kinerja Rentabilitas, sumber-sumber rentabilitas, kesinambungan (sustainability) rentabilitas, manajemen rentabilitas dan pelaksanaan fungsi sosial. Penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat, trend, struktur, stabilitas rentabilitas Bank Umum Syariah dan perbandingan kinerja Bank Umum Syariah dengan kinerja per grup, baik melalui analisis aspek kuantitatif maupun kualitatif. Rasio ini bertujuan mengukue efektivitas bank dalam mencapai tujuannya (Kasmir,2012). Dalam menentukan per grup, Bank Umum Syariah perlu
40
memperhatikan skala bisnis, karakteristik, dan/atau kompleksitas usaha Bank Umum Syariah serta ketersediaan data dan informasi yang dimiliki.
Parameter: Kinerja Bank dalam Menghasilkan Laba (Rentabilitas) 1) Return on Asset (ROA) = Laba Sebelum Pajak
Rata-rata Total Aset
Keterangan :
Laba Sebelum Pajak adalah laba sebagaimana tercatat dalam laba rugi Bank tahun berjalan.
Rata-rata Total Aset adalah rata-rata total aset dalam Laporan Posisi Keuangan.
2) Net Operation Margin (NOM) =
Pendapatan Penyaluran Dana Setelah Bagi Hasil – Beban Operasional Rata-rata Aktiva Produktif
Keterangan :
Pendapatan Penyaluran Dana Setelah Bagi Hasil adalah pendapatan penyaluran dana setelah dikurangi beban bagi hasil dan beban operasional (disetahunkan).
Pendapatan penyaluran dana meliputi seluruh pendapatan dari penyaluran dana, sedangkan beban bagi hasil meliputi seluruh beban bagi hasil dari penghimpunan dana
Beban Operasional adalah beban operasional termasuk beban bagi hasil dan bonus (disetahunkan).
Aktiva produktif yang diperhitungkan adalah aset yang menghasilkan bagi hasil, imbalan dan bonus baik di neraca maupun pada TRA.
41 3) Net Imbalan (NI) =
Pendapatan Penyaluran Dana Setelah Bagi Hasil – (Imbalan dan Bonus) Rata-rata Total Aktiva Produktif
Keterangan :
Pendapatan Penyaluran Dana Setelah Bagi Hasil – (Imbalan dan Bonus) adalah pendapatan penyaluran dana setelah dikurangi beban imbal hasil, imbalan dan bonus (disetahunkan).
Pendapatan penyaluran dana meliputi seluruh pendapatan dari penyaluran dana, sedangkan beban imbal hasil meliputi seluruh beban bagi hasil, imbalan dan bonus dari penghimpunan dana.
Aktiva produktif yang diperhitungkan adalah aset yang menghasilkan bagi hasil, imbalan dan bonus baik di neraca maupun pada TRA.
Parameter: Sumber-Sumber yang Mendukung Rentabilitas
1) Pendapatan Penyaluran Dana Setelah Bagi Hasil – (Imbalan dan Bonus) Rata-rata Total Aset
Keterangan :
Pendapatan Penyaluran Dana Setelah Bagi Hasil, Imbalan dan Bonus adalah pendapatan penyaluran dana setelah dikurangi beban imbal hasil, imbalan dan bonus (disetahunkan).
Pendapatan penyaluran dana meliputi seluruh pendapatan dari penyaluran dana, sedangkan beban imbal hasil meliputi seluruh beban bagi hasil, imbalan dan bonus dari penghimpunan dana.
Rata-rata Total Aset adalah rata-rata total aset dalam Laporan Posisi Keuangan.
42 2) Pendapatan Operasional lainnya
Rata-rata Total Aset
Keterangan :
Pendapatan Operasional lainnya adalah pendapatan operasional lainnya disetahunkan.
Rata-rata Total Aset adalah rata-rata total aset dalam Laporan Posisi Keuangan.
3) Beban Overhead Rata-rata Total Aset
Keterangan :
Beban overhead adalah seluruh biaya-biaya operasional yang bukan merupakan beban bagi hasil (disetahunkan).
Rata-rata Total Aset adalah rata-rata total aset dalam laporan keuangan.
4) Beban Pencadangan Rata-rata Total Aset
Keterangan :
Beban Pencadangan adalah seluruh biaya-biaya yang dikeluarkan untuk pencadangan berupa kerugian penurunan nilai aset keuangan dan PPA non produktif (disetahunkan).
Rata-rata Total Aset adalah rata-rata total aset dalam laporan keuangan.
43 5) Beban Operasional _
Pendapatan Operasional
Keterangan :
Beban Operasional adalah beban operasional termasuk beban bagi hasil dan bonus (disetahunkan).
Pendapatan Operasional adalah pendapatan penyaluran dana. Parameter: Stabilitas komponen- komponen yang mendukung Rentabilitas
Core ROA = Primary Core Net Income - Operating Discretionary Items
Rata-rata Total Aset
Keterangan :
Primary Core Net Income adalah primary core Income dikurangi dengan primary core expense (disetahunkan).
Primary Core Income adalah pendapatan penyaluran dana setelah bagi hasil, imbalan dan bonus ditambah dengan fee based income (disetahunkan).
Primary Core Expense adalah beban overhead yakni beban operasional selain beban bagi hasil imbalan dan bonus serta kerugian penurunan nilai (disetahunkan).
Operating Discretionary Items adalah kerugian penurunan nilai (disetahunkan).
2.3.4 Penilaian Faktor Permodalan
Penilaian faktor Permodalan meliputi evaluasi terhadap kecukupan modal dan kecukupan pengelolaan permodalan. Dalam melakukan perhitungan permodalan, Bank Umum Syariah mengacu pada ketentuan yang berlaku mengenai kewajiban penyediaan modal minimum bagi Bank Umum Syariah. Selain itu, dalam melakukan penilaian kecukupan modal, Bank Umum Syariah
44
juga harus mengaitkan kecukupan modal dengan profil risiko. Semakin tinggi risiko, semakin besar modal yang harus disediakan untuk mengantisipasi risiko tersebut. Perhitungan aspek permodalan bank dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan bank tersebut untuk menanggung risiko kerugian yang mungkin timbul dari pembiayaan yang diberikan bank kepada pihak lain (Yunanto A. Kusumo,2008 dalam Dyah Aristya 2010).
Dalam melakukan penilaian, Bank Umum Syariah perlu mempertimbangkan tingkat, trend, struktur dan stabilitas permodalan dengan memperhatikan kinerja per grup serta kecukupan manajemen permodalan Bank Umum Syariah. Penilaian dilakukan dengan menggunakan parameter/indikator kuantitatif maupun kualitatif. Dalam menentukan per grup, Bank Umum Syariah perlu memperhatikan skala bisnis, karakteristik dan/atau kompleksitas usaha Bank Umum Syariah serta ketersediaan data dan informasi yang dimiliki.
Parameter: Kecukupan Modal Bank Rasio Kecukupan Modal
1) Modal_ ATMR
Keterangan :
Perhitungan modal dan Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) berpedoman pada ketentuan yang berlaku.
Rasio dihitung per posisi penilaian termasuk memperhatikan trend KPMM.
2) Modal Inti (Tier 1) ATMR
45
Perhitungan modal inti berpedoman pada ketentuan yang berlaku mengenai Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum Berdasarkan prinsip syariah.
3) Modal Inti__ Total Modal
Keterangan :
Perhitungan modal inti berpedoman pada ketentuan yang berlaku.
Total Modal adalah modal sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 4) Critized Assets (Kualitas Rendah) – CKPN (Kualitas Rendah)
Modal Inti + Cadangan Umum
Keterangan :
Critized Assets adalah aset produktif neraca dengan kualitas rendah yaitu aset produktif yang memiliki kualitas dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan dan macet.
CKPN Kualitas Rendah adalah Cadangan Kerugian Penurunan Nilai untuk pembiayaan yang tergolong dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet.
Perhitungan Modal Inti dan Cadangan Umum berpedoman pada ketentuan yang berlaku.
5) Aset Produktif Bermasalah – CKPN Aset Produktif Bermasalah Modal Inti + Cadangan Umum
Keterangan :
Aset Produktif Bermasalah adalah aset produktif dengan kualitas kurang lancar, diragukan dan macet.
46
CKPN Aset Produktif Bermasalah adalah CKPN yang dibentuk atas aset produktif dengan kualitas kurang lancar, diragukan dan macet.
Perhitungan Modal Inti dan Cadangan Umum berpedoman pada ketentuan yang berlaku.
6) Aset Kualitas Rendah – CKPN untuk Aset Kualitas Rendah Modal Inti + Cadangan Umum
Keterangan :
Aset Kualitas Rendah adalah seluruh aktiva Bank baik produktif maupun non-produktif yang memiliki kualitas dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan dan macet.
CKPN untuk Aset Kualitas Rendah adalah CKPN yang dibentuk atas aset dengan kualitas dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan dan macet.
Perhitungan Modal Inti dan Cadangan Umum berpedoman pada ketentuan yang berlaku.