LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI DENGAN BRONKOPNEUMONIA
Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktik Klinik Keperawatan Anak di Ruang Melati RSUD Kartini Jepara
OLEH :
Intan Cahya Alfiana 22020111130053
Kelompok 12 A11.2
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG 2014
BRONKOPNEUMONIA A. DEFINISI BRONKOPNEUMONIA
Bronkopneumonia adalah salah satu jenis pneumonia yang mempunyai pola penyebaran bercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi di dalam bronchi dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya (Smeltzer & Suzanne C,2002).
Bronkopneumonia adalah peradangan pada parenkim paru yang disebabkan oelh bakteri, virus, jamur, atau benda asing dengan manifestasi klinis panas yang tinggi, gelisah, dispnea, napas cepat dan dangkal, muntah, diare, serta btuk kering dan produktif (Hidayat, 2008)
Bronkopnemonia disebut juga pneumonia lobularis, yaitu peradangan parenkim paru yang melibatkan bronkus /bronkiolus yang berupa distribusi bercak-bercak (patchy distribution. Konsolidasi bercak-bercak ini biasanya berpusat di sekitar bronkus yang mengalami peradangan multifocal atau bilateral (Putri, 2010).
Bronkopneumonia adalah peradangan pada parenkim paru yang meluas sampai bronkioli atau dengan kata lain peradangan terjadi pada jaringan paru melalui cara penyebaran langsung dari saluran pernapasan atau hematogen sampai ke bronkus )Sujono dan Sukarmin 2009 dalam Rufaedah 2010).
Bronkopneumonia adalah salah satu jenis pneumonia yang merupakan inflamasi akut pada parenkim paru yang dimulai pada ujung bronkiolus dan mengenai ,lobuslus terdekat (Muscari, 2005).
Bronkopneumonia merupakan infeksi bacterial atau varial yang disebbakan baik mikroorganisme gram-positif ataupun gram-negatif yang ditandai dengan bercak-bercak konsolidasi eksudatif pada parenkim paru (Mitchell et al, 2009).
Bronkopneumonia adalah suatu peradangan paru yang biasanya menyerang di bronkeoli terminal. Bronkopneumonia termasuk jenis infeksi paru yang disebabkan agen infeksius dan terdapat pada daerah bronkus dan sekitar alveoli (Nurarif dan Kusuma, 2013).
Jadi bronkopneumonia adalah salah satu jenis infeksi atau inflamasi pada paru (pneumonia) yang meluas ke daerah bronkus dan disebabkan oleh bakteri atau virus.
B. ETIOLOGI
Menurut perantaranya, bronkopneumonia dapat disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :
1. Bakteri
Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organisme gram posifif seperti : Steptococcus pneumonia, S. aerous, dan streptococcus pyogenesis. Bakteri gram negatif seperti Haemophilus influenza, klebsiella pneumonia dan P. Aeruginosa.
2. Virus
Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet. Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia virus.
3. Jamur
Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung, tanah serta kompos.
4. Protozoa
Menimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (CPC). Biasanya menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi. (Reeves, 2001).
Bronkopneumonia dapat juga dikatakan sebagai suatu peradangan pada parenkim paru yang disebabkan oleh bakteri, virus dan jamur. Penyebab paling sering adalah stafilokokus, streptococcus, H. influenza, Proteus sp dan pseudomonas aeruginosa (Putri, 2011).
C. MANIFESTASI KLINIS
Bronchopneumonia biasanya didahului oleh infeksi traktusrespiratoris bagian atas selama beberapa hari suhu tubuh naik sangat mendadak sampai 39-40 derajat
celcius dan kadang disertai kejang karena demam yang tinggi. Anak sangat gelisah, dispenia pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung serta sianosis sekitar hidung dan mulut, kadang juga disertai muntah dan diare. Batuk biasanya tidak ditemukan pada permulaan penyakit tapi setelah beberapa hari mula-mula kering kemudian menjadi produktif.
Pada stadium permulaan sukar dibuat diagnosis dengan pemeriksaan fisik tetapi dengan adanya nafs dangkal dan cepat, pernafasan cuping hidung dan sianosis sekitar hidung dan mulut dapat diduga adanya pneumonia. Hasil pemeriksaan fisik tergantung luas daerah auskultasi yang terkena, pada perkusi sering tidak ditemukan kelainan dan pada auskultasi mungkin hanya terdengar ronchi basah nyaring halus dan sedang. (Ngastiyah, 2005).
1. Kesulitan dan sakit pada saat pernafasan a. Nyeri pleuritik
b. Nafas dangkal dan mendengkur c. Takipnea
2. Bunyi nafas di atas area yang menglami konsolidasi a. Mengecil, kemudian menjadi hilang
b. Krekels, ronki,
3. Gerakan dada tidak simetris
4. Menggigil dan demam 38,8 ° C sampai 41,1°C, delirium 5. Diafoesis
6. Anoreksia 7. Malaise
8. Batuk kental, produktif Sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi kemerahan atau berkarat
9. Gelisah
10. Sianosis Area sirkumoral, dasar kuku kebiruan
D. PEMERIKSAAN FOKUS Pengkajian fokus
a. Demografi meliputi : nama, umur, jenis kelamin, dan pekerjaan. b. Keluhan utama
Saat dikaji biasanya penderita bronchopneumonia akan mengeluh sesak nafas, disertai batuk ada secret tidak bisa keluar.
c. Riwayat penyakit sekarang
Penyakit bronchitis mulai dirasakan saat penderita mengalami batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari terutama pada saat bangun pagi selama minimum 3 bulan berturut turut tiap tahun sedikitnya 2 tahun produksi sputum (hijau, putih/kuning) dan banyak sekali.
Penderita biasanya menggunakan otot bantu pernfasan, dada terlihat hiperinflasi dengan peninggian diameter AP, bunyi nafas krekels, warna kulit pucat dengan sianosis bibir, dasar kuku.
d. Riwayat penyakit dahulu
Biasanya penderita bronchopneumonia sebelumnya belum pernah menderita kasus yang sama tetapi mereka mempunyai riwayat penyakit yang dapat memicu terjadinya bronchopneumonia yaitu riwayat merokok, terpaan polusi kima dalam jangka panjang misalnya debu/ asap.
e. Riwayat penyakit keluarga
Biasanya penyakit bronchopneumonia dalam keluarga bukan merupakan faktor keturunan tetapi kebiasaan atau pola hidup yang tidak sehat seperti merokok. f. Pola pengkajian
1) Pernafasan
Gejala : Nafas pendek (timbulnya tersembunyi dengan batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari ( terutama pada saat bangun) selama minimum 3 bulan berturut- turut) tiap tahun sedikitnya 2 tahun. Produksi sputum (Hijau, putih/ kuning) dan banyak sekali. Riwayat pneumonia berulang, biasanya terpajanpada polusi kimia/ iritan pernafasan dalam jangka panjang (misalnya
rokok sigaret), debu/ asap (misalnya : asbes debu, batubara, room katun, serbuk gergaji) Pengunaaan oksigen pada malam hari atau terus menerus. Tanda : Lebih memilih posisi tiga titik ( tripot) untuk bernafas,
penggunaan otot bantu pernafasan ( misalnya : meninggikan bahu, retraksi supra klatikula, melebarkan hidung)
Dada : Dapat terlihat hiperinflasi dengan peninggian diameter AP ( bentuk barel), gerakan difragma minimal.
Bunyi : crackels lembab, kasar
Warna : Pucat dengan sianosis bibir dan dasar kuku abu- abu keseluruhan. 2) Sirkulasi
Gejala : Pembengkakan ekstremitas bawah
Tanda : Peningkatan tekanan darah. Peningkatan frekuensi jantung / takikardi berat, disritmia Distensi vena leher (penyakit berat) edema dependen, tidak berhubungan dengan penyakit jantung.
Bunyi jantung redup ( yang berhubungan dengan peningkatan diameter AP dada).
Warna kulit / membrane mukosa : normal atau abu-abu/ sianosis perifer. Pucat dapat menunjukan anemia.
3) Makanan / cairan
Gejala : Mual / muntah
Nafsu makan buruk / anoreksia ( emfisema)
Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernafasan Tanda : Turgor kulit buruk
Berkeringat
Palpitasi abdominal dapat menyebabkan hepatomegali. 4) Aktifitas / istirahat
Gejala : Keletihan, keletihan, malaise, Ketidakmampuan melakukan aktifitas sehari- hari karena sulit bernafas. Ketidakmampuan untuk tidur, perlu tidur dalam posisi duduk tinggi . Dispnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktifitas atau istirahat
Tanda : Keletihan, Gelisah/ insomnia, Kelemahan umum / kehilangan masa otot
5) Integritas ego
Gejala : Peningkatan faktor resiko
Tanda : Perubahan pola hidup, Ansietas, ketakutan, peka rangsang 6) Hygiene
Gejala : Penurunan kemampuan / peningkatan kebutuhan melakukan aktifitas sehari- hari
Tanda : Kebersihan buruk, bau badan. 7) Keamanan
Gejala : riwayat alergi atau sensitive terhadap zat / factor lingkungan. Adanya infeksi berulang.
E. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Nurarif dan Hardhi (2013), untuk dapat menegakkan diagnosa keperawatan dapat dilakukan pemeriksaan :
1. Pemeriksaan Laboratorium a. Pemeriksaan darah b. Pemeriksaan sputum c. Analisa gas darah d. Kultur darah
e. Sampel darah, sputum dan urin 2. Pemeriksaan Radiologi
a. Rontgen Thorax
b. Laringoskopi/ bronkoskopi
Sedangkan menurut Muscari (2005), temuan yang sering muncul pada saat pemeriksaan diagnostik dan laboratorium antara lain sebagai berikut :
1. Foto sinar-x dada akan menunjukkan infiltrasi difus atau bercak, konsolidasi, infiltrasi menyebar luas atau bercak berkabut, bergantung jenis pneumonia.
2. HDL dapat menunjukkan peningkatan SDP.
3. Kultur darah, pewarnaan Gram, dan kultur sputum dapat menentukan organisme penyebab.
4. Titer antistreptolisin-O (ASO) positif merupakan pemeriksaan diagnostik pneumonia streptokokus.
F. Patofisiologi
Kuman penyebab bronchopneumonia masuk ke dalam jaringan paru-paru melaui saluran pernafasan atas ke bronchiolus, kemudian kuman masuk ke dalam alveolus ke alveolus lainnya melalui poros kohn, sehingga terjadi peradangan pada dinding bronchus atau bronchiolus dan alveolus sekitarnya.
Kemudian proses radang ini selalu dimulai pada hilus paru yang menyebar secara progresif ke perifer sampai seluruh lobus. Dimana proses peradangan ini dapat dibagi dalam empat (4) tahap, antara lain :
1. Stadium Kongesti (4 – 12 jam)
Dimana lobus yang meradang tampak warna kemerahan, membengkak, pada perabaan banyak mengandung cairan, pada irisan keluar cairan kemerahan (eksudat masuk ke dalam alveoli melalui pembuluh darah yang berdilatasi) 2. Stadium Hepatisasi (48 jam berikutnya)
Dimana lobus paru tampak lebih padat dan bergranuler karena sel darah merah fibrinosa, lecocit polimorfomuklear mengisi alveoli (pleura yang berdekatan mengandung eksudat fibrinosa kekuningan).
3. Stadium Hepatisasi Kelabu (3 – 8 hari)
Dimana paru-paru menjadi kelabu karena lecocit dan fibrinosa terjadi konsolidasi di dalam alveolus yang terserang dan eksudat yang ada pada pleura masih ada bahkan dapat berubah menjadi pus.
4. Stadium Resolusi (7 – 11 hari)
Dimana eksudat lisis dan reabsorbsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali pada struktur semua (Sylvia Anderson Pearce, 1995 dalam putri 2011).
Menurut Muscari (2005) Bronkopneumonia berasal dari pneumonia yang meluas peradangannya sampai ke bronkus. Bronkopneumonia biasanya diawali dengan infeksi ringan pada saluran pernapasan atas, seiring dengan perjalanan penyakit maka hal itu akan menyebabkan peradangan parenkim.
G. Pathway
H. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis yang dapat dilakukan menurut Mansjoer (2000) :
1. Oksigen 1-2 liter per menit
2. Jika sesak tidak terlalu hebat, dapat dimulai makan eksternal bertahap melaui
selang nasogastrik dengan feeding drip
3. Jika sekresi lender berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin normal dan
beta agonis untuk transport muskusilier
4. Koreksi gangguan keseimbangan asam basa elektrolit
Sedangkan penatalaksanaan umum keperawatan pada klien bronkopneumonia adalah sebagai berikut menurut Hidayat (2008):
Jamur, virus, bakteri, protozoa - Penderita yang dirawat di
RS
- Penderita yang mengalami supresi sistem pertahanan
tubuh Saluran pernapasan
atas Kuman berlebih di
bronkus
Kuman terbawa di saluran cerna Infeksi saluran pernapasan bawah Proses peradangan Akumulasi secret di bronkus Kuman masuk melalui peredaran darah
Peningkatan flora normal dalam usus Peningkatan peristaltic Usus Malabsorbsi Mucus bronkus meningkat Ketidakefektifan bersihan jalan napas Suara napas tambahan (+)
Diare
Bau mulut tidak sedap Anoreksia Intake kurang
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
Resiko kekurangan volume cairan
Eksudat plasma masuk alveoli Gangguan difusi dalam
plasma
Dilatasi pembuluh darah
Gangguan pertukaran gas PaO2 pada bayi: 45-95 mmHg PaCO2 normal pada bayi : 27-40
mmHg Edema antara kapiler dan
alveoli Iritan PMN eritrosit
pecah Edema paru
Pergeseran dinding
paru Penurunan capilianceparu Suplai O2 menurun
Hiperventilasi Dispneu
Retraksi dada/ napas cuping hidung Ketidakefektifan pola napas RR normal : 40-60 x/menit Hipoksia Metabolic anaerob meningkat Akumulasi asam laktat
Fatique Intoleransi aktivitas Stimulasi leukosit oleh pirogen eksogen (bakteri/virus/jamu Hipertermi a (36,4-37,50
(Nurarif dan Hardhi, 2013)
Penge-luaran piroge n endog en Naikny a termo-stat Kehilangan cairan aktif Peningkatan metabolisme Pelepasan histamin
Rangsangan pada mukosa untuk memproduksi mukus
1. Latihan batuk efektif atau fisioterapi paru 2. Pemberian oksigenasi yang adekuat
3. Pemenuhan dan mempertahankan kebutuhan cairan 4. Pemberian nutrisi yang adekuat
5. Penatalaksanaan medis dengan medikasi, apabila ringan tidak perllu antibiotic. Tetapi, apabila penyakit masuk stadium berat klien harus dirawat inap. Makah al yang perlu diperhatikan adalah pemilihan antibiotic berdasarkan usia, keadaan umum, dan kemungkinan penyebab. Antibiotic yang mungkin diberikan adalah penosolin prokain dan kloramfenikol atau kombinasi ampisilin dan kloksasilin atau eritromisin dan kloramfenikol dan sejenisnya.
I. RENCANA KEPERAWATAN
No Dx.
Keperawatan
Tujuan dan
Kriteria Hasil Intervensi
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d mucus dalam jumlah berlebihan NOC Respiratory status : Ventilation (0403)
Respiratory status : Airway patency (0410)
Kriteria hasil :
1. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara napas yang bersih, tidak ada sianosis dan dispneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernapas dengan mudah, tidak ada pursed lip)
2. Menunjukkan jalan napas yang paten (Klien tidak merasa tercekik, irama
NIC
Airway suction (3160) 1. Pastikan kebutuhan
oral/tracheal suctioning 2. Auskultasi suara napas
sebelum dan sesudah suctioning
3. Informasikan kepada klien dan keluarga tentang suctioning
4. Minta klien napas dalam sebelum melakukan suctioning
5. Berikan O2 dengan menggunakan nasal 6. Anjurkan pasien untuk
napas, frekuensi
pernapasan dalam rentang normal, tidak ada suara napas abnormal)
3. Mampu mengidentifikasi dan mencegah factor yang dapat menghambat jalan napas.
setelah kateter dikeluarkan dari nasotrakeal
7. Monitor status oksigen pasien
8. Anjurkan keluarga bagaimana melakukan suction
9. Hentikan suction dan berikan oksigen apabila psien
menunjukkan bradikardi, peningkatan saturasi O2, dll Airway Management (3140)
1. Buka jalan napas
menggunakan teknik lift atau jaw thrust bila perlu.
2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi 3. Identifikasi pasien perlunya
pemasangan alat jalan napas buatan.
4. Lakukan fisioterapi dada bila perlu.
5. Keluarkan secret dengan batuk atau suction
6. Auskultasi suara napas, catat adanya suara tambahan. 7. Berikan bronkodilator bila
perlu
8. Atur intake cairan untuk mengoptimalkan
keseimbangan.
9. Monitor respirasi dan status O2
2. Gangguan
pertukaran gas b.d ventilasi-perfusi.
NOC
Respiratory status : Gas Exchange (0402)
Respiratory status : ventilation(0403) Vital sign status (0802) Kriteria hasil :
1. Klien mampu mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat 2. Memelihara kebersihan paru-paru dan bebas dari tanda-tanda distress pernapasan
3. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara napas yang bersih, tidak ada sianosis dan dispneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernapas dengan mudah, tidak ada pursed lip)
4. Tanda-tanda vital dalam rentang normal
NIC
Airway Management (3140) 1. Buka jalan napas
menggunakan teknik lift atau jaw thrust bila perlu.
6. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi 7. Identifikasi pasien perlunya
pemasangan alat jalan napas buatan.
8. Lakukan fisioterapi dada bila perlu.
9. Keluarkan secret dengan batuk atau suction
10. Auskultasi suara napas, catat adanya suara tambahan. 11. Berikan bronkodilator bila
perlu
12. Atur intake cairan untuk mengoptimalkan
keseimbangan.
13. Monitor respirasi dan status O2
Respiratory Monitoring (3350) 1. Monitor rata-rata kedalaman,
irama dan usaha respirasi. 2. Catat pergerakan dada, amati
otot tambahan, retraksi otot subklavikular dan
interkostal.
3. Monitor suara napas seperti dengkur
4. Monitor pula pola napas bradipneu, takipneu, hiperventilasi,cheyne stoke 5. Monitor otot diafragma
(gerakan paradoksis)
6. Auskultasi suara napas, catat area penurunan/ tidak adanya ventilasi dan suara tambahan. 7. Tentukan kebutuhan suction
dengan mengauskultasi crackels dan ronkhi pada jalan napas.
8. Auskultasi suara paru untuk mengetashui hasil tindakan 3. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbanga n antara suplai dan kebutuhan oksigen NOC Energy conservation (0002) Activity tolerance (0005) Self care: ADLs (0300) Kriteria hasil :
1. Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan RR
2. Mampu melakukan
NIC
Activity therapy (4310)
1. Kolaborasikan dengan tenaga rehabilitasi medik dengan merencanakan program yang tepat.
2. Bantu klien untuk
mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan. 3. Bantu memilih aktivitas yang
aktivitas sehari-hari (ADLs) secara mandiri. 3. Tanda-tanda vital normal 4. Energy psikomotor 5. Level kelemahan
6. Mampu berpindah: dengan atau tanpa bantuan alat 7. Status kardiopulmonari
adekuat
8. Sirkulasi status baik
9. Status respirasi: pertukaran gas dan ventilasi adekuat
kemampuan fisik, psikologi dan social
4. Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan. 5. Bantu klien membuat jadwal
latihan di waktu luang. 6. Bantu keluarga untuk
mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas
7. Monitor respon fisik, emosi, social dan spiritual.
4. Ketidakseimbang an nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan menelan makanan NOC
Nutritional status: food and fluid intake (1008)
Nutritional status: nutrient intake (1009)
Weight control (1006) Kriteria hasil :
1. Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
2. Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan 3. Mengidentifikasi
kebutuhan nutrisi
4. Tidak ada tanda-tanda mal nutrisi
5. Menunjukan peningkatan fungsi pengecapan dari
NIC
Nutrition Management (1100) 1. Kaji adanya alergi makanan 2. Kolaborasi dengan hali gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien. 3. Anjurkan pasien untuk
meningkatkan protein dan vitamin C
4. Berikan subtansi gula. 5. Yakinkan diit yang dimakan
mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi 6. Ajarkan pasien/keluarga
untuk membue=at catatan makanan harian
menelan.
6. Tidak terjadi penurunan BB yang berarti
kebutuhan nutrisi
8. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
Nutrition Monitoring(1160) 1. BB pasien dalam batas normal 2. Monitor adanya penurunan
berat badan
3. Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan 4. Monitor interaksi anak atau
orangtua selama makan 5. Monitor lingkungan selama
makan
6. Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi 7. Monitor turgor kulit
8. Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah. 9. Monitor mual dan muntah 10. Monitor kadar albumin, total
protein, Hb dan kadar Ht 11. Monitor pucat, kemerahan
dan kekeringan jaringan konjungtiva
12. Catat adanya edema, hipereremik, hipertonik papilla lidah dan cavitas oral. 13. Catat jika lidah berwarna
magenta, scarlet.
proses penyakit - Thermoregulation (0800) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam klien menunjukan
Thermoregulasi yang baik dengan criteria hasil sebagai berikut :
1. HR klien dalam rentang normal (Neonatus 120-140 rpm)
2. Suhu tubuh klien dalam batas normal (36,5 – 37,50 C untuk aksila) 3. Tidak ada perubahan
warna kulit
4. RR dalam batas normal (30-60 rpm)
Penanganan Demam (3740) 1. Monitor suhu setiap 4 jam
sekali
2. Monitor kehilangan cairan 3. Monitor warna kulit dan
suhu
4. Monitor tekanan darah, denyut jantung, dan respirasi, jike dibutuhkan 5. Monitor level kesadraan 6. Monitor nilai WBC, Hgb,
dan HCt
7. Monitor masukan dan keluaran cairan
8. Beri obat antiseptik, jika dibutuhkan
9. Beri obat penurun panas 10. Ganti pakaian pasien
dengan pakaian tipis 11. Kaji peningkatan
pengeluaran dan masukkan dari cairan
12. Beri cairan IV
13. Aplikasikan compress hangat dengan handuk di lipatan paha dan ketiak
6. Resiko Kekurangan Volume Cairan b.d kehilangan volume cairan aktif NOC : - Fluid Balance (0601) - Hydration (0602)
Setelah dilakukan intervensi selama 3 x 24 jam klien terbebas dari resiko kekurangan cairan dengan criteria hasil sebagai berikut :
1. Mempertahankan urine
output sesuai usia dan BB
2. Tanda-tanda vital dalam
Fluid Management (4120) 1. Kaji cairan yang disukai klien
dalam batasan diet.
2. Rencanakan target pemberian asupan cairan untuk setiap sif, misalnya siang 1000 ml, sore 800ml, dan malam 200ml. 3. Kaji pemahaman klien tentang
alasan atau pentingnya
mempertahankan hidrasi yang adekuat dan metode yang dapat digunakan untuk
batas normal
3. Tidak ada tanda-tanda
dehidrasi (elastisitas kulit baik, mukosa lembab, dan tidak ada rasa haus
berlebihan).
mempertahankan hidrasi yang adekuat.
4. Catat asupan dan haluaran. 5. Pantau asupan cairan per oral,
minimal 1500ml/24 jam. 6. Pantau haluaran cairan,
minimal 1000-1500ml/24 jam. Pantau penurunan berat jenis urine.
7. Timbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama dan dengan mengenakan pakaian yang sama. Penurunan BB 2% -4% menunjukkan dehidrasi ringan; penurunan BB 5% - 9% menunjukkan dehidrasi sedang. 8. Pantau kadar elektrolit urine
dan serum, BUN, dan osmolalitas, kreatinin, hematrokit, dan hemoglobin. 9. Jelaskan bahwa kopi, teh, dan
jus buah anggur merupakan diuretik dan dapat
menyebabkan kehilangan cairan.
10. Pertimbangkan pengeluaran cairan lain akibat demam, diare, dan drainase tubuh. 7. Ketidakefektifan pola napas b.d hiperventilasi NOC : - Respiratory Status : Airway Pattency(0410) - Vital Sign Status (0802) Setelah dilakukan intervensi
NIC :
- Airway Management (3140) 1. Buka jalan napas
selama 3 x 24 jam klien akan menunjukkan pola napas yang efektif, dengan KH :
1. TTV dalam batas normal 2. Irama dan frekuensi napas
dalam rentang normal
3. Tidak suara napas
tambahan
4. Tidak ada pernapasan bibir
dan cuping hidung
jaw thrust bila perlu. 2. Posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi 3. Identifikasi pasien perlunya
pemasangan alat jalan napas buatan.
4. Lakukan fisioterapi dada bila perlu.
5. Keluarkan secret dengan batuk atau suction
6. Auskultasi suara napas, catat adanya suara tambahan. 7. Berikan bronkodilator bila
perlu
8. Atur intake cairan untuk mengoptimalkan
keseimbangan.
9. Monitor respirasi dan status O2
Oxigen Therapy(3320)
1. Atur peralatan oksigenasi 2. Monitor aliran oksigen 3. Pertahankan posisi klien 4. Observasi adanya tanda tanda
hipoventilusi
5. Monitor adanya kecemasan
klien terhadap oksigenasi Vital Sign Monitoring (6680)
1. Monitor TD, nadi, suhu dan RR klien
2. Monitor kualitas nadi
3. Monitor frekuensi dan irama pernapasan
4. Monitor suara paru 5. Monitor pola pernapasan
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2013. Pocket Book of Hospital Care for Children: Guidelines for the
management of Common Childhood Illnesses 2th Edition. Switzerland: WHO. http://www.ichrc.org/sites/www.ichrc.org/files/pocket%20book%20high
%20res_0.pdf
Corwin, Elisabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi Corwin Ed.3. Jakarta: EGC.
Dwijaya, A. 2012. Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Ibu dalam Pemberian
Parasetamol kepada Anak sebagai Penatalaksanaan Awal Demam di Kelurahan Tegal Sari Mandala II Kecamatan Medan Denai Medan. Medan : Repository USU.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31365/4/Chapter%20II.pdf diakses
pada tanggal 30 Maret 2014 pukul 19.00 WIB.
Ghofarina, Ruffaedah. 2011. Asuhan Keperawatan Anak pada An.Z dengan
Bronkopneumonia di R.Lukman RS Roemani Muhammadiyah Semarang. Digilib
Unimus: Semarang. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-ruffaedahg-6294-2-babii.pdf diakses pada tanggal 25 Maret 2013 pukul 01. 50 am. Hertman, T.Heather. 2012. Nursing Diagnoses: Definitions and Classifications 2012-2014.
Jakarta: EGC.
Hidayat, A.Aziz Alimul. 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan
Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika
diakse pada tanggal 30 Maret 2014 pukul 20.00 WIB.
M., Gloria Bulechek & Joanne M. Dochterman. 2008. Nursing Interventions Classification
(NIC). Ed. 5. Mosby : United States of America
Mitchell, Richard N et al. 2009. Buku Saku Dasar Patologis Penyakit Robbins dan Cotran
ed.7. Jakarta : EGC.
Moorhead, Sue, dkk (ed). 2008. Nursing Outcomes Classification (NOC). Ed. 5 . Mosby : United States of America.
Muscari, Mary E. 2005. Panduan Belajar Keperawatan Pediatrik Ed.3. Jakarta : EGC. Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC.
Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA (North American Nursing Diagnosis Association) NIC – NOC. Yogyakarta : Mediaction Publishing.
Putri, ES. 2011.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20330/4/Chapter%20II.pdf
. diakses tanggal 25 Maret 2013 pukul 01.45 am.
Riyadi, Sujono dan Sukarmin. 2009. Asuhan Keperawatan pada Anak Ed.1. Graha Ilmu : Jogjakarta.
Soemantri, Irman. 2007. Keperawatan Medikal Bedah: Asuhan Keperawatan pada Pasien