Laporan Pendahuluan Fraktur Radius Ulna

23 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTUR RADIUS ULNA DI RUANG B. 20 RSUD dr. SAIFUL ANWAR MALANG

PROVINSI JAWA TIMUR

DI SUSUN OLEH :

MOCHAMMAD AKHIYANTO RISMAWAN NIM. 16143149011030

DEPARTEMEN BEDAH

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MAHARANI MALANG PROGRAM STUDI PROFESI NERS

(2)

A. DEFINISI FRAKTUR

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2010). Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur dapat disebabkan pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan punter mendadak, dan bahkan kontraksi otot ekstrem (Bruner & Sudarth, 2010).

Kebanyakan fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang, baik berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung (Sjamsuhidajat & Jong, 2010).

B. KLASIFIKASI

Klasifikasi fraktur secara umum :

1. Berdasarkan tempat (Fraktur humerus, tibia, clavicula, ulna, radius dan cruris dst). 2. Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur:

 Fraktur komplit (garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang).

 Fraktur tidak komplit (bila garis patah tidak melalui seluruh garis penampang tulang). 3. Berdasarkan bentuk dan jumlah garis patah

 Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan  Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan.  Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang

yang sama.

4. Berdasarkan posisi fragmen

 Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi kedua fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh.

 Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut lokasi fragmen

5. Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan).

 Fraktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi. Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:

(3)

- Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan lunak sekitarnya. - Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan. - Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam dan pembengkakan.

- Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak dan ancaman sindroma kompartement.

 Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit. Fraktur terbuka dibedakan menjadi beberapa grade yaitu :

Grade I : luka bersih, panjangnya kurang dari 1 cm.

Grade II : luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif.

Grade III : sangat terkontaminasi, dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif. 6. Berdasar bentuk garis fraktur dan hubungan dengan mekanisme trauma

 Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.

 Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasi juga.

 Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi.

 Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong tulang ke arah permukaan lain.

 Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada insersinya pada tulang..

7. Berdasarkan kedudukan tulangnya :  Tidak adanya dislokasi.

 Adanya dislokasi

o At axim : membentuk sudut.

o At lotus : fragmen tulang berjauhan. o At longitudinal : berjauhan memanjang.

o At lotus cum contractiosnum : berjauhan dan memendek. 8. Berdasarkan posisi frakur

(4)

9. Fraktur Kelelahan : Fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.

10. Fraktur Patologis : Fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang. 1. ANATOMI FISIOLOGI TULANG LENGAN

Lengan atas tersusun dari tulang lengan atas, tulang lengan bawah, dan tulang tangan (Sloane 2012). Fungsi tulang adalah sebagai kerangka tubuh, yang menyokong dan memberi bentuk tubuh,untuk memberikan suatu sistem pengungkit, yang digerakan oleh kerja otot-otot yang melekat pada tulang tersebut, sebagai reservoir kalsium, fosfor, natrium dan elemen-elemen lain, untuk menghasilkan sel-sel darah merah dan putih dan trombosit dalam sumsum merah tulang tertentu. (Watson, 2012).

1. Tulang - tulang lengan bawah

Adalah ulna sisi medial dan tulang radius disisi lateral (sisi ibu jari) yang di hubungkan dengan suatu jaringan ikat fleksibel, membrane interoseus.

a. Ulna

Ulna atau tulang hasta adalah tulang panjang berbentuk prisma yang terletak sebelah medial lengan bawah, sejajar dengan jari kelingking arah ke siku mempunyai taju yang disebut prosesus olekrani, gunanya ialah tempat melekatnya otot dan menjaga agar siku tidak membengkok kebelakang. Terdapat dua ekstremitas.

Gambar 1 Tulang Humerus

Gambar 2 Tulang Radius-Ulna

(5)

Ekstremitas proksima ulnaris, mempunyai insisura semilunaris, persendian dengan trokhlea humeri, dibelakang ujung terdapat benjolan yang disebut olekranon.Pada tepi distal dari insisura semilunaris ulna terdapat prosesus koroideus ulna, bagian distal terdapat tuberositas ulna tempat melekatnya M. brakialis, bagian lateral terdapat insisura radialis ulna yang berhubungan dengan karpi ulnaris.

Ekstremitas distalis ulna, yaitu kapitulum ulna yang mempunyai prosessus stiloideus ulnae.Pada permukaan dorsalis tempat melekatnya tendo M. ekstensor karpi ulnaris yaitu sulkus M. ekstensor karpi ulnaris.

b. Radius

Radius atau tulang pengumpil, letaknya bagian lateral, sejajar dengan ibu jari. Di bagian yang berhubungan humerus dataran sendinya berbentuk bundar yang memungkinkan lengan bawah dapat berputar atau telungkup.Terdapat dua ujung (ekstremitas).

Ekstremitas proksilis, yang lebih kecil, terdapat pada kaput radii yang terletak melintang sebelah atas dan mempunyai persendian dengan humeri.Sirkumferensia artikularis yang merupakan lingkaran yang menjadi tepi kapitulum radii dipisahkan dengan insisura radialis ulna.Kapitulum radii dipisahkan oleh kolumna radii dari korpus radii, bagian medial kolumna radii terdapat tuberositas radii tempat melekatnya M. biseps brakhii.Korpus radii berbentuk prisma mempunyai tiga permukaan (fasies).

Ekstremitas distalis radii, yang lebih besar dan agak rata daripada bagian dorsalis, terdapat alur (sulkus) M. ekstensor karpi radialis.Di sebelah lateral sulkus M. ekstensor kommunis dan diatara kedua sulkus ini terdapat sulkus M. ekstensor polisis longus.Sebelah lateralis ekstremitas lateralis radii terdapat tonjolan yang disebut prosesus stiloideus radii, bagian medial ditemukan insisura ulnaris radii untuk persendian dengan kapitulum.

A. Definisi Fraktur Radius Dan Fraktur Ulna

Fraktur Radius adalah fraktur yang terjadi pada tulang radius akibat jatuh dan tangan menyangga dengan siku ekstensi. (Brunner & Suddarth, Buku Ajar Medikal Bedah, 2010).

(6)

Fraktur antebrachii adalah terputusnya kontinuitas tulang radius ulna, pada anak biasanya tampak angulasi anterior dan kedua ujung tulang yang patah masih berhubungan satu sama lain. Gambaran klinis fraktur antebrachii pada orang dewasa biasanya tampak jelas karena fraktur radius ulna sering berupa fraktur yang disertai dislokasi fragmen tulang (Manjoer 2010).

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa ( Sjamsuhidajat& Dee Jong, 2011).

Fraktur radius dan ulna dapat terjadi pada 1/3 proksimal, 1/3 tengah, atau 1/3 distal.Fraktur dapat terjadi pada salah satu tulang ulna atau radius saja dengan atau tanpa dislokasi sendi.Fraktur radius ulna biasanya terjadi pada anak-anak (Muttaqin, 2008).

Fraktur os radius dan fraktus os ulna adalah trauma yang terjadi pada bagian tungkai depan. Kadang kala sering terjadi fraktur yang terbuka, hal ini sering terjadi karena trauma terjadi pada lapisan jaringan yang tipis dan lembut (Alex, 2011).

Fraktur radius ulna biasanya terjadi karena trauma langsung sewaktu jatuh dengan posisi tangan hiperekstensi. Hal ini dikarenakan adanya mekanisme refleks jatuh di mana lengan akan menahan badan dengan posisi siku agak menekuk (Busiasmita, Heryati & Attamimi,2012).

Kekhasan dari fraktur radius ulna dapat dipengaruhi oleh otot antar tulang, yaitu otot supinator, pronator teres, pronator kuadratus yang memuat gerakan pronasi-supinasi yang berinsersi pada radius dan ulna.

B. Etiologi

Penyebab yang paling sering adalah trauma misalnya jatuh, cidera, penganiayaan; terdapat riwayat fraktur sebelumnya atau memiliki riwayat fraktur saat yang tidak meyakinkan; atau diakibatkan oleh beberapa fraktur ringan karena kelemahan tulang, osteoporosis, individu yang mengalami tumor tulang bagian antebrachii, infeksi atau penyakit lainnya, hal ini dinamakan fraktur patologis; atau bisa juga diakibatkan oleh fraktur stress yaitu terjadi pada tulang yang normal akibat stress tingkat rendah yang berkepanjangan atau berulang misalnya pada atlet-atlet olahraga, karena kekuatan otot meningkat lebih cepat daripada kekuatan tulang, individu mampu melakukan aktifitas melebihi tingkat sebelumnya walaupun mungkin tulang tidak mampu menunjang

(7)

peningkatan tekanan (Corwin, 2009).

Dari faktor penyebab diatas, berpengaruh ketika terjadi tekanan dari luar ke tulang. Tulang itu bersifat rapuh hanya memiliki sedikit kekuatan dan gaya pegas untuk menahan. Suatu keadaan ketika apabila ada tekanan eksternal yang datang lebih besar dari kemampuan tahanan tulang dan resistensi tulang untuk melawan tekanan berpindah mengikuti gaya tekanan tersebut (Muscari, 2010). Disaat demikian itu, terjadilah trauma yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang.Setelah fraktur terjadi, peritoneum, pembuluh darah, saraf dalam korteks marrow dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak.Kemudian timbul pendarahan pada sekitar patahan dan dalam jaringan lunak yang ada di dalamnya sehingga terbentuk hematoma pada rongga medulla tulang, edema, dan nekrokrik sehingga terjadi gangguan hantaran ke bagian distal tubuh (Suratun, 2012).

Etiologi patah tulang menurut (Suratun, 2012) adalah : 1. Fraktur akibat peristiwa trauma

Jika kekuatan langsung mengenai tulang maka dapat terjadi patah pada tempat yang terkena, hal ini juga mengakibatkan kerusakan pada jaringan lunak disekitarnya. Jika kekuatan tidak langsung mengenai tulang maka dapat terjadi fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang terkena dan kerusakan jaringan lunak ditempat fraktur mungkin tidak ada.

Fraktur dapat disebabkan oleh trauma, antara lain : a. Trauma langsung

Bila fraktur terjadi ditempat dimana bagian tersebut terdapat ruda paksa, misalnya : benturan atau pukulan pada tulang yang mengakibatkan fraktur.

b. Trauma tidak langsung

Misalnya pasien jatuh dengan lengan dalam keadaan ekstensi, dapat terjadi fraktur pada pergelangan tangan, suprakondiskuler, klavikula.

c. Trauma ringan

Dapat menyebabkan fraktur bila tulang itu sendiri sudah rapuh.Selain itu fraktur juga disebabkan olehkarena metastase dari tumor, infeksi, osteoporosis, atau karena tarikan spontan otot yang kuat.

2. Fraktur akibat kecelakaan atau tekanan

Tulang jika bisa mengalami otot-otot yang berada disekitar tulang tersebut tidak mampu mengabsobsi energi atau kekuatan yang menimapnya.

(8)

Adalah suatu fraktur yang secara primer terjadi karena adanya proses pelemahan tulang akibat suatu proses penyakit atau kanker yang bermetastase atau ostepororsis.

C. Klasifikasi

Klasifikasi fraktur antebrachii :

1. Fraktur antebrachii, yaitu fraktur pada kedua tulang radius dan ulna

2. Fraktur ulna (nightstick fractur), yaitu fraktur hanya pada tulang ulna

3. Fraktur Montegia, yaitu fraktur ulna proksimal yang disertai dengan dislokasi sendi Radioulna proksimal. Gambar 5 Fraktur Radius-Ulna Gambar 6 fraktur Ulna

(9)

4. Fraktur radius, yaitu fraktur hanya pada tulang radius

5. Fraktur Galeazzi, yaitu fraktur radius distal disertai dengan dislokasi sendi radioulna distal

D. Patofisiologi Fraktur Radius Ulna

Mekanisme terjadinya fraktur radius dan ulna adalah tangan dalam keadaan outstretched, sendi siku dalam posisi ektensi, dan lengan bawah dalam posisi supinasi. Fraktur dapat terjadi akibat trauma langsung atau karena hiperpronasi (pemutaran lengan bawah kea rah dalam) dengan tangan dalam keadaan outstretched.

Gambar 7 Fraktur Montega

Gambar 8 Fraktur Rius

(10)

Fraktur pada batang radius dan ulna (pada batang lengan bawah) biasanya terjadi pada anak-anak usia 10 tahun (5-13 tahun) .Baik radius maupun ulna keduanya dapat mengalami patah. Pada setiap ketinggian, biasanya akan mengalami pergeseran bila kedua tulang patah.Adanya fraktur dapat menyebabkan atau menimbulkan kerusakan pada beberapa bagian.Kerusakan pada periosteum dan sumsum tulang dapat mengakibatkan keluarnya sumsum tulang terutama pada tulang panjang. Sumsum kuning yang keluar akibat fraktur terbuka masuk ke dalam pembuluh darah dan mengikuti aliran darah sehingga mengakibatkan emboli lemak. Apabila emboli lemak ini sampai padpat terjadia pembuluh darah yang sempit dimana diameter emboli lebih besar daripada diameter pembuluh darah maka akan terjadi hambatan aliran darah yang mengakibatkan perubahan perfusi jaringan.

Kerusakan pada otot atau jaringan lunak dapat menimbulkan nyeri yang hebat karena adanya spasme otot di sekitarnya.Sedangkan kerusakan pada tulang itu sendiri mengakibatkan perubahan sumsum tulang (fragmentasi tulang) dan dapat menekan persyaratan di daerah tulang yang fraktur sehingga menimbulkan gangguan syaraf ditandai dengan kesemutan, rasa baal dan kelemahan.

Pada tulang radius ulna juga dipersyarafi oleh nervus Medianus. Jika kerusakan terjadi pada otot sbb:

1. M. Pronator Teres : mengakibatkan ketidakmampuanpronasi lengan bawah.

2. M. fleksus kapi radialis : mengakibatkan ketidakmampuan fleksi dan abduksi pergelangan tangan.

3. M. Palmaris longus : mengakibatkan ketidakmampuan fleksi pergelangan tangan. 4. M. fleksor digitorum superfisialis: mengakibatkan ketidakmampuan fleksi dua falang

proksimal dan pergelangan tangan.

5. M. fleksor polisis longus : mengakibatkan ketidakmampuan fleksi semua sendi jempol.

6. M. pronator kuadratus : mengakibatkan ketidakmampuan pronator lengan bawah. 7. M. abductor polisisi brevis: mengakibatkan ketidakmampuan abduksi jempol.

8. M. oponens polisis : mengakibatkan ketidakmampuan fleksi falang proksimal jempol.

Pada tulang radius ulna juga dipersyarafi oleh nervus Ulnaris. Jika kerusakan terjadi pada otot

1. M.Fleksor karpi ulnaris: mengakibatkan ketidakmampuan fleksi dan adfuksi pergelangan tangan.

(11)

2. M. abductor polisis : mengakibatkan ketidakmampuan adduksi jempol.

3. M. abductor digiti minimi : mengakibatkan ketidakmampuan fleksi falang proksimal jempol.

4. M.oponenes digiti minimi: mengakibatkan ketidakmampuan oposisi terhadap kelingking.

E. Manifestasi klinis

Tanda dan gejala dari fraktur antara lain (Smeltzer & Bare, 2010): A. Nyeri hebat di tempat fraktur

Nyeri akan timbul selama fragmen tulang belum diimobilisasi. Nyeri ini timbul karena ketika tulang tersebut patah, otot akan mengalami spasme.

B. Adanya pemendekan tulang

Hal ini diakibatkan oleh kontraksi otot yang melekat di atas dan di bawah fraktur. C. Pembengkakan dan Perubahan Warna

Hal ini terjadi karena adanya respon inflamasi. Saat terjadi fraktur, fragmen tulang yang patah akan turut melukai jaringan sekitarnya sehingga terjadi respon inflamasi yang diawali dengan vasodilatasi pembuluh darah dan pelepasan mediator-mediator. D. Hilangnya fungsi radius-ulna

E. Deformitas F. Krepitasi

Pada anamnesis selalu ditemukannya deformitas pada daerah sekitar radius- ulna pada tangan klien(helmi,2013).

a. Look: pada fase awal trauma, klien akan meringis kesakitan. Terlihat adanya deformitas pada lengan bawah klien. Apabila didapatkan nyeri dan deformitas pada lengan bawah maka perlu dikaji adanya perubahan nadi, perfusi yang tidak baik(akral dingin pada lesi), dan CRT >3 detik dimana hal ini merupakan tanda-tanda peringatan tentang terjadinya kompartemen sindrom. Sering didapatkan kasus fraktur radius-ulna dengan komplikasi lebih lanjut.

b. Feel: adanya keluhan nyeri misal skala 6, nyeri tekan dan krepitasi, sensasi masih terasa di area distal.

c.Move:gerak fleksi ekstensi elbow terbatas, pronasi supinasi terbatas . F. Pemeriksaan Diagnostik

(12)

Pemeriksaan radiologi menggunakan sinar rongen (x-ray) digunakan untuk mendapatkan gambaran spesifik terkait keadaan dan kedudukan tulang, maka digunakan kedudukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral.Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan karena adanya patologi yang dicari berupa superposisi. Permintaan x-ray harus didasari pada adanya permintaan pemeriksaan penunjang. Pada pemeriksan ini didapatkan adanya garis patah pada tulang batang humerus pada foto polos.

Hal yang harus dibaca pada x-ray harus meliputi 6 A yaitu: 1. Anatomi 2. Articular 3. Alignment 4. Angulation 5. Apeks 6. Apposition

Selain foto polos x-ray ada kemungkinan perlu teknik kusus seperti Computed tomografi-scanning (CT-scan) : menggambarkan potongan secara transfersal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang yang rusak.

Hasil X-Ray Fraktur Antebranchii

Hasil CT-scan Radius Ulnaris 2. Pemeriksaan laboraturium

a. Kalsium serum dan fosfor serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang. b. Alkalin fosfat meningkat pada kerusakan tulang karena menunjukan bahwa

kegiatan osteoblast dalam membentuk tulang.

c. Enzyme otot seperti keratin kinase, laktat dehydrogenase (LDH-5) aspartate amino transferase (AST), aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan tualang.

(13)

a. Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitifitas yang mungkin mengindikasikan terjadinya infeksi oleh mikroorganisme.

b. Biopsy tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan diatas tapi lebih diindikasikan oleh dugaan terjadinya infeksi.

c. Arthroscopy: didapatkan trauma jaringan ikat yang rusak atau sobel karena trauma yang berlebihan.

d. Indium imaging: pada pemeriksaan ini akan diadapatkan infeksi pada tulang. e. MRI: menggambarkan kerusakan pada semua jaringan akibat oleh fraktur,

termasuk jaringan lunak, dan tulang. G. Penatalaksanaan

Fraktur dari distal radius adalah jenis fraktur yang paling sering terjadi.Fraktur radius dan ulna biasanya selalu berupa perubahan posisi dan tidak stabil sehingga umumnya membutuhkan terapi operatif.Fraktur yang tidak disertai perubahan posisi ekstra artikular dari distal radius dan fraktur tertutup dari ulnadapat diatasi secara efektif dengan primary care provider.Fraktur distal radius umumnya terjadi pada anak-anak dan remaja, serta mudah sembuh pada kebanyakan kasus.

Terapi fraktur diperlukan konsep ”empat R” yaitu : rekognisi, reduksi/reposisi, terensi/fiksasi, dan rehabilitasi.

1. Rekognisis atau pengenalan adalah dengan melakukan berbagai diagnosa yang benar sehingga akan membantu dalam penanganan fraktur karena perencanaan terapinya dapat dipersiapkan lebih sempurna.

2. Reduksi atau reposisi adalah tindakan mengembalikan fragmen-fragmen fraktur semirip mungkin dengan keadaan atau kedudukan semula atau keadaan letak normal.

3. Retensi atau fiksasi atau imobilisasi adalah tindakan mempertahankan atau menahan fragmen fraktur tersebut selama penyembuhan.

4. Rehabilitasi adalah tindakan dengan maksud agar bagian yang menderita fraktur tersebut dapat kembali normal.

(14)

Penatalaksanaan Keperawatan

1. Mitra : Membangun hubungan dengan klien, serupa dengan teman.memenuhi kebutuhan klien untuk memperoleh informasi tentang kondisi, pembedahan, dan penatalaksanaan yang akan dilakukan sehingga pasien dapat berbagi rasa takut dan memberi kepercayaan pada perawat

2. Pembimbing : Perawat berperan sebagai instruktur selama fase awal remobilisasi dan rehabilitasi klien

3. Peningkat rasa nyaman dengan cara pemeliharaan asupan cairan dan diet yang sesuai, pemeliharaan standar hygiene personal dan berpakaian.

4. Manajer Resiko : perawat mencegah terjadinya komplikasi tersering pada fraktur radius ulna yaitu emboli lemak ataupun sindrom kompartemen

5. Teknisi : Perawat melakukan strategi yang digunakan untuk menstabilkan fraktur radius ulna yang meliputi pemasangan dan asuhan gips dan alat bantu, pemasangan dan penatalaksanaan traksi.

Secara rinci proses penyembuhan fraktur dapat dibagi dalam beberapa tahap sebagai berikut:

1. Fase hematoma

Pada mulanya terjadi hematoma dan disertai pembengkakan jaringan lunak, kemudian terjadi organisasi (proliferasi jaringan penyambung muda dalam daerah radang) dan hematoma akan mengempis. Tiap fraktur biasanya disertai putusnya pembuluh darah sehingga terdapat penimbunan darah di sekitar fraktur.Pada ujung tulang yang patah terjadi ischemia sampai beberapa milimeter dari garis patahan yang mengakibatkan matinya osteocyt pada daerah fraktur tersebut.

2. Fase proliferatif

Proliferasi sel-sel periosteal dan endoosteal, yang menonjol adalah proliferasi sel-sel lapisan dalam periosteal dekat daerah fraktur.Hematoma

Gambar 10 Proses Penyembuhan

(15)

terdesak oleh proliferasi ini dan diabsorbsi oleh tubuh. Bersamaan dengan aktivitas sel-sel sub periosteal maka terjadi aktifitas sel-sel dari kanalis medularis dari lapisan endosteum dan dari bone marrow masing-masing fragmen. Prosesdari periosteum dan kanalis medularis dari masing-masing fragmen bertemu dalam satu proses yang sama, proses terus berlangsung kedalam dan keluar daritulang tersebut sehingga menjembatani permukaan fraktur satu sama lain. Pada saat ini mungkin tampak di beberapa tempat pulau-pulau kartilago, yang mungkinbanyak sekali, walaupun adanya kartilago ini tidak mutlak dalam penyembuhan tulang.Pada fase ini sudah terjadi pengendapan kalsium.

3. Fase pembentukan callus

Pada fase ini terbentuk fibrous callus dan disini tulang menjadi osteoporotik akibat resorbsi kalsium untuk penyembuhan. Sel-sel osteoblas mengeluarkan matriks intra selluler yang terdiri dari kolagen dan polisakarida,yang segera bersatu dengan garam-garam kalsium, membentuk tulang immature atau young callus, karena proses pembauran tersebut, maka pada akhir stadium terdapat dua macam callus yaitu didalam disebut internal callus dan diluar disebut external callus.

4. Fase konsolidasi

Pada fase ini callus yang terbentuk mengalami maturisasi lebih lanjut oleh aktivitas osteoblas, callus menjadi tulang yang lebih dewasa (mature) dengan pembentukan lamela-lamela). Pada stadium ini sebenarnya proses penyembuhan sedah lengkap. Pada fase ini terjadi pergantian fibrous callus menjadi primary callus.Pada saat ini sudah mulai diletakkan sehingga sudah tampak jaringan yang radioopaque.Fase ini terjadi sesudah 4 (empat) minggu, namun pada umur-umur lebih mudah lebih cepat.Secara berangsur-angsur primary bone callus diresorbsi dan diganti dengan second bone callus yang sudah mirip dengan jaringan tulang yang normal.

5. Fase remodeling

Pada fase ini secondary bone callus sudah ditimbuni dengan kalsium yang banyak dan tulang sedah terbentuk dengan baik, serta terjadi pembentukan kembali dari medula tulang.Apabila union sudah lengkap, tulang baru yang terbentuk pada umumnya berlebihan, mengelilingi daerah fraktur di luar maupun didalam kanal, sehingga dapat membentuk kanal medularis. Dengan mengikuti stress/tekanan dan tarik mekanis, misalnya gerakan, kontraksi otot dan

(16)

sebagainya, maka callus yang sudah mature secara pelan-pelan terhisap kembali dengan kecepatan yang konstan sehingga terbentuk tulang yang sesuai dengan aslinya.

Ilizarov, Bone lengthening, Bone distraction osteogenesis atau Callotaxis adalah suatu istilah yang sama dalam program pemanjangan tulang. Ilizarov dikembangkan pertama kali oleh seorang dari Siberia Rusia yang bernama Gabriel Abramovich Ilizarov. Ilizarov adalah suatu alat eksternal fiksasi yang berfungsi untuk menjaga agar tidak terjadi pergeseran tulang dan untuk membantu dalam proses pemanjangan tulang.

Indikasi pemasangan Ilizarov : 1. Menyamakan panjang lengan atau tungkai yang tidak sama.

2. Menyamakan dan menumbuhkan daerah tulang yang hilang akibat patah tulang terbuka yang hilang.

3. Membuang tulang yang infeksi dan diisi dengan cara menumbuhkan tulang yang sehat.

4. Menambah tinggi badan. Kontra indikasi pemasangan Ilizarov :

1. Open fraktur dengan soft tissue yang perlu penanganan lanjut yang lebih baik bila dipasang single planar fiksator.

2. Fraktur intra artikuler yang perlu ORIF.

3. Simple fraktur (bisa dengan pemasangan plate and screw nail wire). H. Komplikasi

Komplikasi fraktur radius ulna diklasifikasikan sebagai komplikasi cepat (saat cedera), awal (dalam beberapa jam atau hari), dan lambat (dalam beberapa minggu atau bulan). 1. Komplikasi Cepat Fraktur Radius Ulna, meliputi:

a) Perdarahan, kehilangan darah dari tulang yang mengalami fraktur, termasuk juga kehilangan darah dari kerusakan pada jaringan sekitar tulang yang mengalami fraktur.

Gambar 11 Callotaxis

(17)

b) Kerusakan arteri saraf brachialis yang terletak di dekat radius ulna 2. Komplikasi Awal Radius Ulna, meliputi:

a) Emboli lemak yang terjadi terutama pada bagian yang mengalami fraktur radius ulna

b) Masalah imobilisasi lokal (misalnya ulkus dekubitus, trombosis vena profunda, infeksi dada).

c) Sindrom kompartemen.

3. Komplikasi Lambat, meliputi: a) Deformitas.

b) Osteoarthritis sekunder (sendi).

c) Nekrosis asepsis dan atau avaskular dapat terjadi terutama setela fraktur pada tulang seperti radius ulna Terjadi akibat gangguan suplai darah ke tulang tersebut setelah fraktur (Brooker, 2011).

I. PROGNOSIS

Proses penyembuhan patah tulang adalah proses biologis alami yang akan terjadi pada setiap patah tulang, tidak peduli apa yang telah dikerjakan dokter pada patahan tulang tersebut. Pada permulaan akan terjadi perdarahan di sekitar patahan tulang, yang disebabkan oleh terputusnya pembuluh darah pada tulang dan periost yang disebut dengan fase hematoma, kemudian berubah menjadi fase jaringan fibrosis, lalu penyatuan klinis, dan pada akhirnya fase konsolidasi.

Waktu yang diperlukan untuk penyembuhan fraktur tulang sangat bergantung pada lokasi fraktur dan umur pasien. Rata-rata masa penyembuhan: Anak-anak (3-4 minggu), dewasa (4-6 minggu), lansia (> 8 minggu).

2. ASUHAN KEPERAWATAN 1) Pengkajian

(18)

 Pre Operasi

a.Pola persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan - Kegiatan yang beresiko cidera.

- Riwayat penyakit yang menyebabkan jatuh. - Kebiasaan beraktivitas tanpa pengamanan. b. Pola nutrisi metabolik

- Adanya gangguan pola nafsu makan karena nyeri.

- Observasi terjadinya perdarahan pada luka dan perubahan warna kulit di sekitar luka, edema.

c. Pola eliminasi

- Konstipasi karena imobilisasi d. Pola aktivitas dan latihan - Kesemutan, baal

- Ada riwayat jatuh atau terbentur ketika sedang beraktivitas - Tidak kuat menahan beban berat

- Keterbatasan mobilisasi

- Berkurangnya atau tidak terabanya denyut nadi pada daerah distal injury, lambatnya kapiler refill tim

e. Pola tidur dan istirahat

- Tidak bisa tidur karena kesakitan - Sering terbangun karena kesakitan f. Pola persepsi kognitif

- Nyeri pada daerah fraktur

- Kesemutan dan baal pada bagian distal fraktur - Paresis, penurunan atau kehilangan sensasi g. Pola persepsi dan konsep diri

- Rasa khawatir akan dirinya karena tidak dapat beraktivitas seperti keadaan sebelumnya h. Pola peran dan hubungan dengan sesama

- Merasa tidak ditolong

- Kecemasan akan tidak melakukan peran seperti biasanya  Post Operasi

a. Pola persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan - Kegiatan yang beresiko cidera.

(19)

- Pengetahuan pasien tentang perawatan luka di rumah b. Pola nutrisi metabolik

- Adanya gangguan pola nafsu makan karena nyeri. c. Pola eliminasi

- Konstipasi karena imobilisasi d. Pola aktivitas dan latihan - Keterbatasan beraktivitas

- Hilangnya gerakan atau sensasi spasme otot - Baal atau kesemutan

- Pembengkakan jaringan atau masa hematoma pada sisi cedera - Perdarahan, perubahan warna

e. Pola tidur dan istirahat

- Tidak bisa tidur karena kesakitan luka operasi - Sering terbangun karena kesakitan

f. Pola persepsi kognitif

- Keluhan lokasi, intensitas dan karakteristik nyeri - Nyeri pada luka operasi

- Tidak adanya nyeri akibat kerusakan saraf - Pembengkakan, perdarahan, perubahan warna g. Pola persepsi dan konsep diri

- Rasa khawatir akan dirinya Karena tidak dapat beraktivitas seperti keadaan sebelumnya h. Pola peran dan hubungan dengan sesama

- Merasa tidak tertolong

- Kecemasan akan tidak melakukan peran seperti 2) Diagnosa Keperawatan

 Pre Operasi

a.Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik (fraktur) b. Cemas berhubungan dengan proses operasi

 Post Operasi

a. Nyeri berhubungan dengan post pembedahan.

b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma jaringan post pembedahan. c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka operasi.

(20)

3) Rencana Keperawatan  Pre Operasi

No Dignosa NOC NIC

1 Nyeri akut b.d agen cidera fisik

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan nyeri pasien dapat berkurang dengan kriteria hasil : Skala nyeri berkurang menjadi 4 Klien mampu mengontrol nyeri

dengan tehnik nonfarmakologi TTV dalam batas normal

Kaji nyeri klien (P,Q,R,S,T)

Ajarkan tehnik

nonfarmakologi /tehnik relaksasi (tarik nafas dalam) Kolaborasi dengan dokter

pemberian analgetik Tingkatkan istirahat 2 Cemas berhubungan dengan kurangnya informasi (prosedur operasi)

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 30 menit, diharapkan cemas pasien dapat teratasi dengan kriteria hasil :

Kontak mata baik Pasien terlihat tenang Pasien tidak gelisah TD normal

Pasien dapat mengungkapkan keluhannya

Kaji faktor penyebab kecemasan pasien.

Berikan dukungan kepada pasien.

Jelaskan prosedur operasi

Observasi reaksi nonverbal pasien.

Temani pasien dan dengarkan keluhan pasien

Tunjukkan sikap empati kepada pasien

 Post Operasi

No Dignosa NOC NIC

1 Nyeri akut b.d post

pembedahan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan nyeri pasien dapat

Kaji nyeri klien (P,Q,R,S,T) Tingkatkan istirahat Kaji lokasi

(21)

berkurang dengan kriteria hasil : Intensitas nyeri 0-2.

Ekspresi wajah rileks.

Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit.

Tinggikan ekstremitas yang fraktur.

Anjurkan teknik relaksasi nafas dalam.

Kolaborasi dalam memberikan terapi analgetik. 2 Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma post pembedahan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, di harapkan penyembuhan luka sesuai waktu/penyembuhan lesi terjadi.

Kaji kulit pada luka terbuka, benda asing, kemerahan, perdarahan, perubahan warna, kelabu, memutih.

Observasi tanda-tanda vital. Masase kulit dan penonjolan

tulang. Pertahankan tempat tidur kering dan bebas kerutan. Letakkan bantalan pelindung di

bawah kaki dan di atas tonjolan tulang.

Ubah posisi tidur secara periodik tiap 2 jam. 3 Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka operasi.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan nyeri pasien dapat berkurang dengan kriteria hasil : Tidak ada tanda-tanda infeksi ditandai dengan:

- Suhu normal 36 - 37oC

- Tidak ada kemerahan, tidak ada edema, luka bersih.

Observasi TTV terutama suhu Jaga daerah luka tetap bersih dan

kering.

Tutup daerah yang luka dengan kasa steril/balutan bersih. Rawat luka dengan teknik

aseptik.

Kolaborasi dengan medik untuk pemberian antibiotik.

(22)
(23)

Brokker, 2011 Medical Surgical Nursing Clinical Management for Positive Outcomes.2004 Brunner and Suddarth , 2010. Buku Ajar Bedah, Ed. 6, EGC, Jakarta.

Carwin, 2009. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Mansjoer, A. dkk . 2010 . Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 3. Edisi 4. Jakarta: Media Aesculopius

North American Nursing Diagnosis Association. 2012. Nursing Diagnosis : Definition and Classification 2011-2012. NANDA International. Philadelphia.

Smeltze. 2010. Buku Ajar Keperawatan Medikal – Bedah. EGC: Jakarta.

Suratun. 2012. Anatomi Muskuloskeletal, Program Studi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga / RSUD. dr. Soetomo

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :