• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan_Pengendalian_Hayati_UJI_ANTAGONI.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan_Pengendalian_Hayati_UJI_ANTAGONI.docx"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

1 1

LAPORAN PRAKTIKUM

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGENDALIAN HAYATI

PENGENDALIAN HAYATI

ACARA III ACARA III UJI ANTAGONIS UJI ANTAGONIS

I N V I

I N V I T

TR O

R O

Oleh : Oleh : Kelas A Kelas A Kelompok 5 Kelompok 5 Muhammad

Muhammad Azka Azka Fardani Fardani A1L014153A1L014153 Nanda

Nanda Tri Tri Septi Septi A1D115041A1D115041 Novi

Novi Hervianti Hervianti Putri Putri A1D115047A1D115047

Nurjanah A1D015215

Nurjanah A1D015215

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGIPENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO PURWOKERTO 2017 2017

(2)

I.

I. PENDAHULUANPENDAHULUAN

A.

A. Latar BelakangLatar Belakang

Pengendalian terhadap patogen tanaman saat ini masih bertumpu pada Pengendalian terhadap patogen tanaman saat ini masih bertumpu pada  penggunaan pestisida

 penggunaan pestisida sintetik. sintetik. Namun penggunaan Namun penggunaan pestisida pestisida sintetik sintetik secara secara terus- terus-menerus dapat menimbulkan berbagai macam dampak

menerus dapat menimbulkan berbagai macam dampak negatif. Suwahyono (2009),negatif. Suwahyono (2009), menyatakan bahwa penggunaan pestisida sintetik dapat membahayakan menyatakan bahwa penggunaan pestisida sintetik dapat membahayakan keselamatan hayati termasuk manusia

keselamatan hayati termasuk manusia dan keseimbangan ekosistem. Oleh sebab itu,dan keseimbangan ekosistem. Oleh sebab itu, saat ini metode pengendalian telah diarahkan pada pengendalian secara hayati. saat ini metode pengendalian telah diarahkan pada pengendalian secara hayati.

Pengendalian hayati menggunakan agen antagonis dengan satu kali Pengendalian hayati menggunakan agen antagonis dengan satu kali  pemakaian dapat

 pemakaian dapat menekan pertumbuhan dan menekan pertumbuhan dan perkembangan patogen untuk perkembangan patogen untuk jangkajangka waktu yang relatif panjang tanpa menimbulkan pencemaran lingkungan (Achmad waktu yang relatif panjang tanpa menimbulkan pencemaran lingkungan (Achmad et al.

et al.  2009). Di Indonesia sendiri, hingga saat ini telah banyak ditemukan  2009). Di Indonesia sendiri, hingga saat ini telah banyak ditemukan mikroorganisme antagonis di berbagai wilayah namun belum banyak diketahui mikroorganisme antagonis di berbagai wilayah namun belum banyak diketahui  potensinya. Berdasarkan p

 potensinya. Berdasarkan penelitian tentang antagonis, enelitian tentang antagonis, maka pada maka pada akhir tahun 19akhir tahun 1990,90,  baru 5

 baru 5 antagonis yang antagonis yang dianggap sebagai agdianggap sebagai agen pengendali hayen pengendali hayati yang terdaftar pati yang terdaftar padaada EPA (

EPA ( Environmental  Environmental Production Production AgencyAgency) di Amerika Serikat yaitu Trichoderma) di Amerika Serikat yaitu Trichoderma spp.,

spp.,  Agrobacterium  Agrobacterium radiobacter, radiobacter, Pseudomonas Pseudomonas fluorescens, fluorescens, Gliocladium Gliocladium virens,virens, dan

dan Bacillus subtilis. Bacillus subtilis.

Introduksi antagonis untuk pengendalian hayati, suatu patogen tanaman dari Introduksi antagonis untuk pengendalian hayati, suatu patogen tanaman dari daerah atau Negara lain harus dipastikan bahwa antagonis yang diintroduksi daerah atau Negara lain harus dipastikan bahwa antagonis yang diintroduksi mempunyai

mempunyai kemampuan kemampuan beradaptasi beradaptasi dan dan berkembang berkembang dengan dengan baik. baik. SebagaiSebagai langkah awal, maka dilakukan dalam skala laboratorium dengan uji

(3)

3 3

 bertujuan

 bertujuan untuk untuk mengevaluasi mengevaluasi kemampuan kemampuan antagonis antagonis dalam dalam ruang ruang lingkup lingkup yangyang lebih sempit serta keadaan lingkungan yang terkendali (Alfizar

lebih sempit serta keadaan lingkungan yang terkendali (Alfizar et al.,et al., 2013).2013).

B.

B.

TujuanTujuan

Praktikum acara 3 bagian penyakit bertujuan sebagai berikut. Praktikum acara 3 bagian penyakit bertujuan sebagai berikut.

1.

1. Mengetahui daerah terang (hambatan) yaitu dengan mengukur jari-jari koloniMengetahui daerah terang (hambatan) yaitu dengan mengukur jari-jari koloni  patogen

 patogen yang yang berlawanan berlawanan dengan dengan pusat pusat koloni koloni antagonis antagonis (r (r 11) dan menuju) dan menuju

koloni antagonis (r  koloni antagonis (r 22).).

2.

(4)

II.

II. TINJAUAN PUSTAKATINJAUAN PUSTAKA

Sejauh ini upaya pengendalian jamur patogen telah banyak dilakukan, baik Sejauh ini upaya pengendalian jamur patogen telah banyak dilakukan, baik melalui teknik budidaya, mekanis, maupun kimiawi. Pengendalian secara kimia melalui teknik budidaya, mekanis, maupun kimiawi. Pengendalian secara kimia wiwi  pada

 pada umumnya umumnya masih masih mengandalkan mengandalkan penggunaan penggunaan fungisida fungisida sintetik, sintetik, namunnamun  penggunaan

 penggunaan secara secara berkepanjangan berkepanjangan dapat dapat berdampak berdampak negatif negatif bagi bagi ekosistemekosistem (Mahartha

(Mahartha et al et al ., 2013). Salah satu alternatif untuk mengantisipasi dampak tersebut., 2013). Salah satu alternatif untuk mengantisipasi dampak tersebut adalah melalui pengendalian biologi dengan memanfaatkan Agen Pengendali adalah melalui pengendalian biologi dengan memanfaatkan Agen Pengendali Hayati (APH). APH dapat dimanfaatkan karena mampu membatasi pertumbuhan Hayati (APH). APH dapat dimanfaatkan karena mampu membatasi pertumbuhan  patogen

 patogen untuk untuk waktu waktu yang yang lebih lebih lama, lama, tidak tidak meninggalkan meninggalkan residu residu dan dan menjagamenjaga keseimbangan ekosistem (Purnomo, 2010).

keseimbangan ekosistem (Purnomo, 2010).

Jamur antagonis yang sangat umum ditemukan dan biasa digunakan adalah Jamur antagonis yang sangat umum ditemukan dan biasa digunakan adalah Trichoderma spp. Perananya dalam menghambat pertumbuhan patogen telah Trichoderma spp. Perananya dalam menghambat pertumbuhan patogen telah  banyak

 banyak diteliti. Trichoderma diteliti. Trichoderma spp. mampspp. mampu mengu menghambat pertumbuhambat pertumbuhanhan Phytophthora Phytophthora infestans

infestans (Purwantisari dan Hastuti, 2009), (Purwantisari dan Hastuti, 2009), Phytium sp. Phytium sp. (Octriana, 2011), (Octriana, 2011), Diplodia Diplodia sp. (Sundari

sp. (Sundari et al.,et al., 2014), dan beberapa jamur patogen lainnya. Jamur Trichoderma 2014), dan beberapa jamur patogen lainnya. Jamur Trichoderma spp. selain dari hasil eksplorasi di daerah setempat, APH tersebut juga banyak spp. selain dari hasil eksplorasi di daerah setempat, APH tersebut juga banyak diintroduksi dari luar daerah.

diintroduksi dari luar daerah.

Introduksi antagonis untuk pengendalian hayati, dari luar daerah atau luar Introduksi antagonis untuk pengendalian hayati, dari luar daerah atau luar negeri sebaiknya dilakukan uji

negeri sebaiknya dilakukan uji in vitroin vitro terlebih terlebih dahulu. dahulu. UjiUji in vitroin vitro diawali dengan diawali dengan  persiapan

 persiapan biakan biakan murni murni jamur jamur dengan dengan cara cara menginokulasi menginokulasi biakan biakan jamur jamur patogenpatogen dan antagonis pada medium PDA dan diinkubasi pada suhu 25

dan antagonis pada medium PDA dan diinkubasi pada suhu 25oo-27-27ooC selama 7x24C selama 7x24  jam. Pengujian daya antagonisme secara

(5)

5 5

ganda (

ganda (dual culturedual culture) dengan cara memotong biakan murni jamur yang telah) dengan cara memotong biakan murni jamur yang telah dipersiapkan dengan bor gabus steril dan diletakkan pada permukaan medium PDA dipersiapkan dengan bor gabus steril dan diletakkan pada permukaan medium PDA secara berpasangan antara jamur patogen dan jamur antagonis (Gambar 1), secara berpasangan antara jamur patogen dan jamur antagonis (Gambar 1), selanjutnya diinkubasi pada suhu 25

selanjutnya diinkubasi pada suhu 25oo-27-27ooC selama 7x24 jam (NingsihC selama 7x24 jam (Ningsih et al.,et al., 2016).2016).

Gambar 1. Skema penempatan jamur antagonis dan jamur patogen dengan Gambar 1. Skema penempatan jamur antagonis dan jamur patogen dengan

metode dual culture (Ningsih

metode dual culture (Ningsih et al.,et al., 2016)2016) Keterangan : A = Potongan cakram miselium jamur antagonis Keterangan : A = Potongan cakram miselium jamur antagonis

P = Potongan cakram miselium jamur patogen P = Potongan cakram miselium jamur patogen

Data persentase daya antagonis diperoleh melalui pengukuran jari-jari koloni Data persentase daya antagonis diperoleh melalui pengukuran jari-jari koloni  jamur

 jamur patogen patogen yang yang mendekati mendekati dan dan menjauhi menjauhi koloni koloni jamur jamur antagonis antagonis dengandengan menggunakan jangka sorong setelah biakan diinkubasi selama 5 x 24 jam. Data menggunakan jangka sorong setelah biakan diinkubasi selama 5 x 24 jam. Data selanjutnya dihitung dengan menggunakan rumus berikut (Herliyana

selanjutnya dihitung dengan menggunakan rumus berikut (Herliyana et al.,et al., 2013):2013):

(6)

III.

III. METODE PRAKTIKUMMETODE PRAKTIKUM

A.

A. Bahan dan AlatBahan dan Alat

Bahan yang digunakan yaitu biakan murni patogen

Bahan yang digunakan yaitu biakan murni patogen  Fusarium Fusarium sp.,sp., Colletotrichum gloeosporioides

Colletotrichum gloeosporioides dandan Phytium Phytium sp., medium PDA, medium agar airsp., medium PDA, medium agar air 0,6% (4 mL), medium YPGA. Alat yang digunakan meliputi penggaris, cawan 0,6% (4 mL), medium YPGA. Alat yang digunakan meliputi penggaris, cawan  petri, jarum ose, bunsen, spatula, borgabu

 petri, jarum ose, bunsen, spatula, borgabus.s.

B.

B. Prosedur KerjaProsedur Kerja

Uji

Uji

iin v

n viittro

ro

 jamur dan  jamur dan bakteri antagonis dengan jamur patogenbakteri antagonis dengan jamur patogen 1.

1. Medium PDA yang digunakan untuk menguji penghambatan disiapkan padaMedium PDA yang digunakan untuk menguji penghambatan disiapkan pada cawan Petri.

cawan Petri. 2.

2. Isolat jamur patogen atau jamur antagonis yang berumur 3-5 hari pada mediumIsolat jamur patogen atau jamur antagonis yang berumur 3-5 hari pada medium PDA dilubangi dengan menggunakan bur gabus berdiameter 5 mm.

PDA dilubangi dengan menggunakan bur gabus berdiameter 5 mm. 3.

3. Isolat jamur patogen kemudian dipindahkan ke medium PDA denganIsolat jamur patogen kemudian dipindahkan ke medium PDA dengan menggunakan spatula steril dihadapkan dengan jamur antagonis atau bakteri menggunakan spatula steril dihadapkan dengan jamur antagonis atau bakteri antagonis (dengan penggoresan) dengan jarak ± 1 cm.

antagonis (dengan penggoresan) dengan jarak ± 1 cm. 4.

4. Pengamatan dilakukan dengan mengukur jari-jari koloni yang berlawananPengamatan dilakukan dengan mengukur jari-jari koloni yang berlawanan dengan pusat koloni antagonis (r 

dengan pusat koloni antagonis (r 11) dan yang menuju pusat koloni antagonis ) dan yang menuju pusat koloni antagonis (r (r 22))

setiap hari, kemudian dihitung tingkat penghambatannya. setiap hari, kemudian dihitung tingkat penghambatannya. 5.

5. Amati, foto, dan gambar dan beri keterangan selengkapnya penghambatanAmati, foto, dan gambar dan beri keterangan selengkapnya penghambatan  jamur atau bakteri antagonis tersebut terhadap patogen.

(7)

7 7

Uji

Uji

iin v

n viittro

ro

 bakteri antagonis dengan bakteri patogen bakteri antagonis dengan bakteri patogen 1.

1. Uji antibiosis dilakukan secara berlapis pada dua medium denganUji antibiosis dilakukan secara berlapis pada dua medium dengan menumbuhkan bakteri antagonis pada medium YPGA selama 48 jam dengan menumbuhkan bakteri antagonis pada medium YPGA selama 48 jam dengan cara inokulasi titik.

cara inokulasi titik. 2.

2. Setelah dua hari cawan petri kemudian dibalik dan ditetesi kloroform padaSetelah dua hari cawan petri kemudian dibalik dan ditetesi kloroform pada tutupnya sebanyak 0,5 ml, lalu dibiarkan 4-6 jam sampai kloroform habis tutupnya sebanyak 0,5 ml, lalu dibiarkan 4-6 jam sampai kloroform habis menguap.

menguap. 3.

3. Suspensi bakteri patogen (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) berumur dua hariSuspensi bakteri patogen (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) berumur dua hari  pada medium

 pada medium miring miring dipanen dipanen dalam dalam 10 10 ml ml air air steril, steril, kemudian sebanyak kemudian sebanyak 0,20,2 ml dihomogenkan pada 4 ml medium agar air 0,6%

ml dihomogenkan pada 4 ml medium agar air 0,6% yang masih mencair (suhuyang masih mencair (suhu 45

45ooC), lalu dituangkan secara perlahan pada medium YPGA tersebut, sehinggaC), lalu dituangkan secara perlahan pada medium YPGA tersebut, sehingga membentuk dua lapis medium.

membentuk dua lapis medium. 4.

4. Pengamatan hasil uji antagonisme dilakukan setelah 24 jam dengan melihatPengamatan hasil uji antagonisme dilakukan setelah 24 jam dengan melihat zone hambatan.

zone hambatan. 5.

5. Adanya zone penghambatan berupa zone bening di sekitar koloni bakteriAdanya zone penghambatan berupa zone bening di sekitar koloni bakteri antagonis menunjukkan mekanisme penghambatan dengan cara antibiosis. antagonis menunjukkan mekanisme penghambatan dengan cara antibiosis.

(8)

IV.

IV. HASIL DAN PEMBAHASANHASIL DAN PEMBAHASAN

A.

A. HasilHasil

Tabel 1. Uji

Tabel 1. Uji

II nv

nvitro

itro

  Jamur  Jamur

Colletotrichum gloeosporioides

Colletotrichum gloeosporioides

  dan Jamur  dan Jamur Trichoderma

Trichoderma

 harzianum

 harzianum

No Tanggal

No Tanggal FotoFoto

Pengamatan Pengamatan   II 1 1 9 Desember 2017 9 Desember 2017  0 0 0 0 00 2 2 10 Desember 201710 Desember 2017 15 15 mm mm 15 15 mm mm 00 3

3

11 D

11 De

esem

sembe

ber

r 2017 

2017 

45 45 mm mm 40 40 mm mm 11,111,1 Perhitungan:

Perhitungan:

 Hari ke-2 : I =Hari ke-2 : I =

 −−    x 100% x 100% = = 1−11−1 1 1  x 100% x 100% = = 0%0% 

 Hari ke-3 : I =Hari ke-3 : I =

 −−    x 100% x 100% = = −−    x 100% x 100% = 11,1% = 11,1% Kesimpulan:

Kesimpulan: Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa aplikasi TrichodermaDari hasil pengamatan didapatkan bahwa aplikasi Trichoderma harzianum

(9)

9 9

Tabel 2. Uji

Tabel 2. Uji

II nv

nvitro

itro

 Jamur Jamur

F

F us

usa

arriium

um

sp. dan Jamur Trichodermasp. dan Jamur Trichoderma

 harzianum

 harzianum

No Tanggal

No Tanggal FotoFoto

Pengamatan Pengamatan   II 1 1 8 Desember 2017 8 Desember 2017  0 0 0 0 00 2 2 9 Desember 2017 9 Desember 2017  0,7 0,7 0,4 0,4 42,942,9 3

3

10 D

10 De

esem

sembe

ber

r 2017 

2017 

1,5 1,5 0,9 0,9 4040

Perhitungan: Perhitungan:

 Hari ke-2 : I =Hari ke-2 : I =

 −−    x 100% x 100% = = ,7−,,7−, ,7 ,7  x 100% x 100% = = 42,9%42,9% 

 Hari ke-3 : I =Hari ke-3 : I =

 −−    x 100% x 100% = = 1,−,1,−, 1, 1,  x 100% x 100% = = 40%40% Kesimpulan:

Kesimpulan:  Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa jamur Trichoderma  Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa jamur Trichoderma sp.sp. menghambat pertumbuhn jamur

(10)

Tabel 3. Uji

Tabel 3. Uji

II nv

nvitro

itro

 Jamur Jamur

Phytium

Phytium

sp. dan Jamur Trichodermasp. dan Jamur Trichoderma

 harzianum

 harzianum

No Tanggal

No Tanggal FotoFoto

Pengamatan Pengamatan   II 1 1 8 Desember 2017 8 Desember 2017  0 0 0 0 00 2 2 9 Desember 2017 9 Desember 2017  1,6 1,6 1,2 1,2 25%25% 3 3 10 Desember 2017 10 Desember 2017  1,9 1,9 1,3 1,3 31,58%31,58% 4 4 11 Desember 2017 11 Desember 2017  2,4 2,4 1,5 1,5 37,5 37,5 %% 5 5 12 Desember 2017 12 Desember 2017  2,5 2,5 1,5 1,5 40%40% Perhitungan: Perhitungan: 

 Hari ke-2 : I =Hari ke-2 : I =

 −−    x 100% x 100% = = 1,6−1,1,6−1, 1,6 1,6  x 100% x 100% = = 25%25% 

 Hari ke-3 : I =Hari ke-3 : I =

 −−    x 100% x 100% = = 1,−1,31,−1,3 1, 1,  x 100% x 100% = 31,58% = 31,58% 

 Hari ke-4 : I =Hari ke-4 : I =

 −−

 x 100%  x 100%

(11)

11 11 = = ,−1,,−1, , ,  x 100% x 100% = 37,5% = 37,5% 

 Hari ke-5 : I =Hari ke-5 : I =

 −−    x 100% x 100% = = ,−1,,−1, , ,  x 100% x 100% = 40% = 40% Kesimpulan:

Kesimpulan:  Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa aplikasi Trichoderma  Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa aplikasi Trichoderma harzianum

harzianum menghambat pertumbuhn jamur menghambat pertumbuhn jamur Phytium Phytium sp.sp. Tabel 4. Uji

Tabel 4. Uji

II nv

nvitro

itro

 Jamur Jamur

 Scle

 Sclerro

ottiium

um

sp. dan Jamur Trichodermasp. dan Jamur Trichoderma

 har

 harzziia

anum

num

..

No Tanggal

No Tanggal FotoFoto

Pengamatan Pengamatan   II 1 1 9 Desember 2017 9 Desember 2017  1,8 1,8 1,8 1,8 0%0% 2 2 10 Desember 2017 10 Desember 2017  2,0 2,0 2,0 2,0 0%0% 3 3 11 Desember 2017 11 Desember 2017  2,4 2,4 2,0 2,0 40%40% Perhitungan: Perhitungan: 

 Hari ke-1 : I =Hari ke-1 : I =

 −−    x 100% x 100% = = 1,8−1,81,8−1,8 1,8 1,8  x 100% x 100% = = 0%0% 

 Hari ke-2 : I =Hari ke-2 : I =

 −−

(12)

= = ,−,,−, , ,  x 100% x 100% = 0% = 0% 

 Hari ke-3 : I =Hari ke-3 : I =

 −−    x 100% x 100% = = ,−,,−, , ,  x 100% x 100% = 40% = 40% Kesimpulan:

Kesimpulan:  Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa aplikasi Trichoderma  Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa aplikasi Trichoderma harzianum

harzianum menghambat pertumbuhn jamur menghambat pertumbuhn jamur SclerotiumSclerotium sp.sp.

B.

B. PembahasanPembahasan

Uji antagonis secara

Uji antagonis secara in vitroin vitro adalah suatu cara untuk mengevaluasiadalah suatu cara untuk mengevaluasi kemampuan antagonis (agensia pengendali hayati) dalam

kemampuan antagonis (agensia pengendali hayati) dalam ruang lingkup yang lebihruang lingkup yang lebih sempit serta keadaan lingkungan yang terkendali (

sempit serta keadaan lingkungan yang terkendali (in vitroin vitro). Tujuannya untuk). Tujuannya untuk mengetahui potensi atau efektifitas agensia pengendali hayati dalam menghambat mengetahui potensi atau efektifitas agensia pengendali hayati dalam menghambat  pertumbuhan dan perkembang

 pertumbuhan dan perkembangan patogen (Alfizaran patogen (Alfizar et al.,et al., 2 2013). 013). Menurut Menurut SoesantoSoesanto (2008) pengujian secara

(2008) pengujian secara in vitroin vitro mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagaimempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai  berikut.

 berikut.

Kelebihan uji antagonis secara

Kelebihan uji antagonis secara in vitroin vitro:: 1.

1. Pengujian secaraPengujian secara in vitroin vitro memberikan hasil yang tepat dan membutuhkanmemberikan hasil yang tepat dan membutuhkan waktu yang singkat untuk dapat diperoleh hasilnya (3-5 hari).

waktu yang singkat untuk dapat diperoleh hasilnya (3-5 hari). 2.

2. Biaya yang dikeluarkan untuk pengujian ini relative murah karena Biaya yang dikeluarkan untuk pengujian ini relative murah karena hanyahanya membutuhkan PDA atau NA sebagai media

membutuhkan PDA atau NA sebagai media pertumbuhan jamur maupunpertumbuhan jamur maupun  bakteri.

(13)

13 13

3.

3. Kondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban dan cahaya lebih mudah diKondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban dan cahaya lebih mudah di control karena berskala kecil (pengujian di laboraturium).

control karena berskala kecil (pengujian di laboraturium). 4.

4. Memungkinkan untuk dilakukan pengujian dalam jumlah yang banyakMemungkinkan untuk dilakukan pengujian dalam jumlah yang banyak karena tidak membutuhkan ruang yang besar untuk pengujian.

karena tidak membutuhkan ruang yang besar untuk pengujian. Kelemahan dari uji

Kelemahan dari uji in vitroin vitro yaitu hanya dapat mendeteksi antagonisme yang yaitu hanya dapat mendeteksi antagonisme yang  berdasarkan mekanisme antibiosis.

 berdasarkan mekanisme antibiosis. Selain itu metode iSelain itu metode ini tidak berlaku ni tidak berlaku bagi sistembagi sistem  patogen antagonis yang

 patogen antagonis yang bersifat parasit obligat (Djatmikobersifat parasit obligat (Djatmiko et al.,et al., 2016).2016). Uji antagonis secara

Uji antagonis secara in vitroin vitro sangat bermanfaat di bidang pertanian terutamasangat bermanfaat di bidang pertanian terutama untuk menyeleksi mikroba antagonis yang mempunyai potensi terbaik sebagai untuk menyeleksi mikroba antagonis yang mempunyai potensi terbaik sebagai agensia pengendali hayati. Pengujian secara

agensia pengendali hayati. Pengujian secara in vitroin vitro mudah dilakukan dan murah,mudah dilakukan dan murah, selain itu dapat pula diperoleh hasil yang tepat. Presentase kegagalan saat aplikasi selain itu dapat pula diperoleh hasil yang tepat. Presentase kegagalan saat aplikasi di lapangan dapat ditekan karena sudah dilakukan uji pendahuluan untuk di lapangan dapat ditekan karena sudah dilakukan uji pendahuluan untuk menyeleksi mikroba antagonis pada tahap awal

menyeleksi mikroba antagonis pada tahap awal (Soesanto, 2008).(Soesanto, 2008).

Mekanisme pengendalian dengan agen hayati terhadap jamur patogen Mekanisme pengendalian dengan agen hayati terhadap jamur patogen tumbuhan secara umum dibagi menjadi tiga macam, yaitu kompetisi terhadap tumbuhan secara umum dibagi menjadi tiga macam, yaitu kompetisi terhadap tempat tumbuh dan nutrisi, antibiosis, dan parasitisme (Baker dan Cook, 1982 tempat tumbuh dan nutrisi, antibiosis, dan parasitisme (Baker dan Cook, 1982 dalam

dalam BerlianBerlian et al.,et al., 2013). 2013). Trichoderma Trichoderma spp. spp. merupakan merupakan salah salah satu satu agenagen  pengendali ha

 pengendali hayati yati yang paling yang paling potensial potensial untuk untuk dikembangkan sebagai dikembangkan sebagai pengendalipengendali hayati jamur patogen

hayati jamur patogen tular tanah. tular tanah. Penelitian yang dilakukan Penelitian yang dilakukan oleh Widyastuti danoleh Widyastuti dan Hariani (2006) mengindikasikan bahwa Trichoderma efektif untuk menghambat Hariani (2006) mengindikasikan bahwa Trichoderma efektif untuk menghambat  patogen tular

 patogen tular tanah sepertitanah seperti Sclerotium rolfsii, FusariumSclerotium rolfsii, Fusarium sp., sp., Rhizoctonia solani Rhizoctonia solani dan dan  F.

 F. oxysporumoxysporum  dengan berbagai mekanisme yaitu kompetisi, antibiosis dan  dengan berbagai mekanisme yaitu kompetisi, antibiosis dan mikoparasit.

(14)

Umumnya kematian mikroorganisme di sebabkan kekurangan nutrisi, oleh Umumnya kematian mikroorganisme di sebabkan kekurangan nutrisi, oleh karena itu pengendalian dengan agen hayati salah satunya bertujuan untuk karena itu pengendalian dengan agen hayati salah satunya bertujuan untuk memenangkan kompetisi dalam mendapatkan nutrisi. Beberapa jenis Trichoderma memenangkan kompetisi dalam mendapatkan nutrisi. Beberapa jenis Trichoderma spp. menghasilkan siderofor yang mengkhelat besi

spp. menghasilkan siderofor yang mengkhelat besi dan menghentikan pertumbuhandan menghentikan pertumbuhan  jamur

 jamur lain. lain. Trichoderma Trichoderma spp. spp. adalah adalah jamur jamur saprofit saprofit tanah tanah yang yang secara secara alamialami merupakan parasite dan menyerang banyak jenis jamur penyebab penyakit tanaman merupakan parasite dan menyerang banyak jenis jamur penyebab penyakit tanaman atau memiliki spectrum pengendalian yang luas. Jamur Trichoderma spp. dapat atau memiliki spectrum pengendalian yang luas. Jamur Trichoderma spp. dapat menjadi hiperparasit pada beberapa jenis jamur penyebab penyakit tanaman dan menjadi hiperparasit pada beberapa jenis jamur penyebab penyakit tanaman dan  pertumbuhannya sangat cepat.

 pertumbuhannya sangat cepat.

Antibiosis adalah mekanisme antagonism yang melibatkan hasil metabolit Antibiosis adalah mekanisme antagonism yang melibatkan hasil metabolit  penyebab lisis,

 penyebab lisis, enzim, seenzim, senyawa folatil nyawa folatil dan non-folatil dan non-folatil atau toksin atau toksin yang dihasilkanyang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme. Meskipun mikoparasitisme dianggap sebagai oleh suatu mikroorganisme. Meskipun mikoparasitisme dianggap sebagai mekanisme antagonisme yang utama, tetapi penelitian

mekanisme antagonisme yang utama, tetapi penelitian lebih lanjut mengungkapkanlebih lanjut mengungkapkan  bahwa metabolit

 bahwa metabolit sekunder yang sekunder yang dihasilkan Trichoderma dihasilkan Trichoderma spp. juga spp. juga berperan pentingberperan penting dalam aktifitas anti jamurnya (Chet

dalam aktifitas anti jamurnya (Chet et al et al ., 2005). Beberapa metabolit sekunder ., 2005). Beberapa metabolit sekunder yangyang dihasilkan Trichoderma spp. yaitu:

dihasilkan Trichoderma spp. yaitu: a.

a.  Lytic  Lytic activityactivity yang berfungsi mendegradasi dinding sel jamur inangyang berfungsi mendegradasi dinding sel jamur inang (Howell, 2005).

(Howell, 2005).  b.

 b.  Alkyl  Alkyl pyronespyrones  yang dapat menghambat perkecambahan dan  yang dapat menghambat perkecambahan dan  pertumbuhan

 pertumbuhan miseliamiselia Colletotrichum capsiciColletotrichum capsici  (Rajeswari dan  (Rajeswari dan Kannabiran, 2011).

Kannabiran, 2011). c.

(15)

15 15

d.

d.  Polyketides, Polyketides, senyawa ini juga menekan perkecambahan sporasenyawa ini juga menekan perkecambahan spora  F. F. oxysporum

oxysporum f.sp.f.sp. melonismelonis,, G. graminisG. graminis,,  F.  F. culmorumculmorum,,  F.  F. moniliformemoniliforme Cladosporium herbarum

Cladosporium herbarum  dan klamidospora  dan klamidospora  F.  F. oxysporumoxysporum  f.sp.  f.sp. vasinfectum

vasinfectum (Sharma, 2011).(Sharma, 2011).

Mekanisme parasitisme merupakan fenomena menarik

Mekanisme parasitisme merupakan fenomena menarik yang berperan pentingyang berperan penting dalam proses pengendalian hayati. Trichoderma spp. biasanye menggunakan dalam proses pengendalian hayati. Trichoderma spp. biasanye menggunakan mekanisme ini bersama mekanisme lain yaitu kompetisi dan antibiosis. Menurut mekanisme ini bersama mekanisme lain yaitu kompetisi dan antibiosis. Menurut Baker dan Cook (1982)

Baker dan Cook (1982) dalamdalam BerlianBerlian et al., et al., (2013), pada umumnya mekanisme(2013), pada umumnya mekanisme antagonisme Trichoderma spp. dalam menekan patogen yaitu sebagai antagonisme Trichoderma spp. dalam menekan patogen yaitu sebagai mikoparasitik dan competitor yang agresif. Awalnya, hifa Trichoderma spp. mikoparasitik dan competitor yang agresif. Awalnya, hifa Trichoderma spp. tumbuh memanjang, kemudian membelit dan mempenetrasi hifa jamur inang tumbuh memanjang, kemudian membelit dan mempenetrasi hifa jamur inang sehingga hifa inang mengalami vakoulasi, lisis dan akhirnya hancur. Menurut sehingga hifa inang mengalami vakoulasi, lisis dan akhirnya hancur. Menurut Harjono dan Widiastuti (2001) Trichoderma spp. melakukan penetrasi ke dalam Harjono dan Widiastuti (2001) Trichoderma spp. melakukan penetrasi ke dalam dinding sel inang dengan bantuan enzim pendegradasi dinding sel yaitu kitinase, dinding sel inang dengan bantuan enzim pendegradasi dinding sel yaitu kitinase, glukanase, dan protease, selanjutnya menggunakan isi hifa inang sebagai sumber glukanase, dan protease, selanjutnya menggunakan isi hifa inang sebagai sumber makanan. Pada saat melilit dan menghasilkan enzim untuk menembus dinding sel makanan. Pada saat melilit dan menghasilkan enzim untuk menembus dinding sel inang, Trichoderma sp. juga menghasilkan antibiotik seperti

inang, Trichoderma sp. juga menghasilkan antibiotik seperti gliotoksin dan viridian.gliotoksin dan viridian. Hasil uji

Hasil uji in vitroin vitro menunjukkan bahwa agensia pengendali hayati Trichodermamenunjukkan bahwa agensia pengendali hayati Trichoderma harzianum

harzianum  mampu menekan pertumbuhan ke-4 jenis patogen dengan presentase  mampu menekan pertumbuhan ke-4 jenis patogen dengan presentase sebagai berikut;

sebagai berikut; Colletotrichum gloeosporioidesColletotrichum gloeosporioides (11,1%)(11,1%) ,  , FusariumFusarium  sp. (40%),  sp. (40%),  Phytium

 Phytium sp. (40%) dan sp. (40%) dan SclerotiumSclerotium sp. (40%). Pengujian yang dilakukan tersebutsp. (40%). Pengujian yang dilakukan tersebut sesuai dengan pernyataan Widyastuti dan Hariani (2006) yang mengindikasikan sesuai dengan pernyataan Widyastuti dan Hariani (2006) yang mengindikasikan

(16)

 bahwa

 bahwa Trichoderma Trichoderma spp. spp. efektif efektif untuk untuk menghambat menghambat patogen patogen tular tular tanah tanah sepertiseperti Sclerotium rolfsii, Fusarium

Sclerotium rolfsii, Fusarium spsp., Rhizoctonia solani., Rhizoctonia solani dandan F. oxysporum F. oxysporum.. Presentase hambatan Trichoderma

Presentase hambatan Trichoderma  harzianum  harzianum terhadap patogenterhadap patogen  Fusarium Fusarium sp.,

sp.,  Phytium Phytium  sp. dan  sp. dan SclerotiumSclerotium sp. menunjukkan presentase yang sama, didugasp. menunjukkan presentase yang sama, diduga karena ketiga patogen tersebut mempunyai umur biakan yang sama. Sedangkan karena ketiga patogen tersebut mempunyai umur biakan yang sama. Sedangkan hasil uji

hasil uji in vitroin vitro agensia pengendali hayati Trichodermaagensia pengendali hayati Trichoderma  harzianum  harzianum terhadapterhadap  patogen

 patogen Colletotrichum gloeosporioidesColletotrichum gloeosporioides mempunyai presentase yang kecil, didugamempunyai presentase yang kecil, diduga karena menurunnya virulensi dari Trichoderma

karena menurunnya virulensi dari Trichoderma  harzianum  harzianum. Agensia pengendali. Agensia pengendali hayati Trichoderma

hayati Trichoderma harzianum harzianum yang digunakan diperoleh dari BPHP Yogyakartayang digunakan diperoleh dari BPHP Yogyakarta sehingga jamur Trichoderma

sehingga jamur Trichoderma harzianum harzianum membutuhkan waktu untuk beradaptasi.membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Berbeda dengan isolate

Berbeda dengan isolate Colletotrichum gloeosporioidesColletotrichum gloeosporioides yang diperoleh dariyang diperoleh dari Purwokerto yang merupakan tempat dilakukan pengujian, sehingga waktu adaptasi Purwokerto yang merupakan tempat dilakukan pengujian, sehingga waktu adaptasi  patogen lebih

 patogen lebih cepat. Menurut cepat. Menurut Soesanto (2008Soesanto (2008), penggu), penggunaan agensia annaan agensia antagonis yangtagonis yang secara alami ada dan terdapat di lokasi atau daerah tersebut merupakan cara terbaik secara alami ada dan terdapat di lokasi atau daerah tersebut merupakan cara terbaik untuk dijadikan agensia hayati, mengingat agensia antagonis tersebut tidak untuk dijadikan agensia hayati, mengingat agensia antagonis tersebut tidak membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri

(17)

17 17

V.

V. KESIMPULAN DAN SARANKESIMPULAN DAN SARAN

A.

A. KesimpulanKesimpulan

1.

1. TrichodermaTrichoderma harzianum harzianum dapat menghambat pertumbuhan cendawan patogen dapat menghambat pertumbuhan cendawan patogen Colletotrichum gloeosporioides, Fusarium

Colletotrichum gloeosporioides, Fusarium sp., sp., Phytium Phytium sp. dan sp. dan SclerotiumSclerotium sp.sp. in vitro

in vitro.. 2.

2. Daya hambat TrichodermaDaya hambat Trichoderma  harzianum  harzianum yang paling tinggi terdapat padayang paling tinggi terdapat pada  Fusarium

 Fusarium  sp. (40%),  sp. (40%),  Phytium Phytium  sp. (40%) dan  sp. (40%) dan SclerotiumSclerotium sp.(40%) , diikutisp.(40%) , diikuti dengan daya hambat terhadap patogen

dengan daya hambat terhadap patogen Colletotrichum gloeosporioidesColletotrichum gloeosporioides (11,1%).

(11,1%).

B.

B. SaranSaran

1.

1. Peralatan seperti cawan petri, punsen, spatula dan borgabus sebaiknyaPeralatan seperti cawan petri, punsen, spatula dan borgabus sebaiknya diperbanyak untuk memperlancar kegiatan praktikum.

diperbanyak untuk memperlancar kegiatan praktikum. 2.

2. Mikroskop stereo sebaiknya diperbaiki sehingga bias digunakan untukMikroskop stereo sebaiknya diperbaiki sehingga bias digunakan untuk  pengamatan ketika praktikum.

 pengamatan ketika praktikum. 3.

3. Penerangan dan gedung lab sebaiknya diperbaharui karena sudah tidak nyamanPenerangan dan gedung lab sebaiknya diperbaharui karena sudah tidak nyaman untuk praktikum.

(18)

DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA

Achmad, S. Hadi, S. Harran, E. Gumbira Sa’id, B.

Achmad, S. Hadi, S. Harran, E. Gumbira Sa’id, B. Satiawihardja, M. Kosim Kardin. Satiawihardja, M. Kosim Kardin. 2009. Pengendalian Hayati Penyakit Lodoh Pada Semai Pinus Merkusii: 2009. Pengendalian Hayati Penyakit Lodoh Pada Semai Pinus Merkusii: Potensi Antagonistik

Potensi Antagonistik  In-vitro In-vitro  Trichoderma  Trichoderma  harzianum  harzianum  dan Trichoderma  dan Trichoderma  pseudokoningii.

 pseudokoningii. Jurnal Litbang TanamaJurnal Litbang Tanamann. Vol. 1 (1).. Vol. 1 (1).

Alfizar, Marlina, dan Fitri Susanti. 2013. Kemampuan Antagonis Trichoderma Alfizar, Marlina, dan Fitri Susanti. 2013. Kemampuan Antagonis Trichoderma sp.sp.

Terhadap Beberapa Jamur Patogen

Terhadap Beberapa Jamur Patogen In vitro In vitro.. J. Floratek  J. Floratek  8: 45 -51. 8: 45 -51.

Berlian, I., Budi Setyawan, dan Hananto Hadi. 2013. Mekanisme Antagonisme Berlian, I., Budi Setyawan, dan Hananto Hadi. 2013. Mekanisme Antagonisme

Trichoderma spp. Terhadap Beberapa Patogen Tular Tanah.

Trichoderma spp. Terhadap Beberapa Patogen Tular Tanah. WartaWarta  Perkaretan

 Perkaretan. 32(2): 74. 32(2): 74 –  –  82. 82.

Chet, I., N. Benhamou, and S. Haran. 2005.

Chet, I., N. Benhamou, and S. Haran. 2005.  Mycoparasitism and lytic enzy Mycoparasitism and lytic enzymes. Inmes. In  Harman,

 Harman, G. G. E. E. and and C. C. P. P. Kubicek Kubicek (Eds),(Eds), TrichodermaTrichoderma  and Gliocladium  and Gliocladium enzymes biological control and commercial applications Volume 2

enzymes biological control and commercial applications Volume 2 . Taylor. Taylor and Francis. London.

and Francis. London.

Harjono and Widiastuti. 2001. Antifungal activity of purified endochitinase Harjono and Widiastuti. 2001. Antifungal activity of purified endochitinase

 produced

 produced by by bio bio control control agent agent TrichodermaTrichoderma  reseei  reseei  againsts  againsts GanodermaGanoderma  philippii

 philippii.. Pakistan J. Biol. Sc Pakistan J. Biol. Sc. 4 (10) : . 4 (10) : 1232-1234.1232-1234.

Herliyana, Elis N., R. Jamilah, D. Taniwiryono dan M. Alam Firmansyah. 2013. Herliyana, Elis N., R. Jamilah, D. Taniwiryono dan M. Alam Firmansyah. 2013.

Uji

Uji  In-vitro In-vitro  Pengendalian Hayati oleh Trichoderma  Pengendalian Hayati oleh Trichoderma spp. Terhadapspp. Terhadap Ganoderma

Ganoderma  yang Menyerang Sengon.  yang Menyerang Sengon.  Jurnal  Jurnal Silvikultur Silvikultur TropikaTropika. Vol. 4. Vol. 4 (3): 190

(3): 190 –  –  195. 195.

Heru Adi Djatmiko, Loekas Soesanto dan Nur Prihatiningsih. 2016.

Heru Adi Djatmiko, Loekas Soesanto dan Nur Prihatiningsih. 2016.  Petunjuk Petunjuk  Praktikum

 Praktikum Pengendalian Pengendalian Hayati Hayati (Bagian (Bagian Penyakit Penyakit Tanaman).Tanaman).  Fakultas  Fakultas Pertanian. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.

Pertanian. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.

Mahartha, K.A., Khalimi, K. & Wirya, G.N.A.S. 2013. Uji Efektivitas

Mahartha, K.A., Khalimi, K. & Wirya, G.N.A.S. 2013. Uji Efektivitas RhizobakteriRhizobakteri sebagai Agen Antagonis terhadap

sebagai Agen Antagonis terhadap  Fusarium  Fusarium oxysporumoxysporum  f.sp.  f.sp. capsicicapsici Penyebab Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Cabai Rawit (

Penyebab Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Cabai Rawit (CapsicumCapsicum  frutescens

 frutescens L.). L.). E-Jurnal Agroekoteknologi Tropika E-Jurnal Agroekoteknologi Tropika. 2 (3): 145-154.. 2 (3): 145-154.

 Ningsih, H., Utami Sri Hastuti dan Dwi Listyorini. Kajian Antagonis Trichoderma  Ningsih, H., Utami Sri Hastuti dan Dwi Listyorini. Kajian Antagonis Trichoderma

spp. terhadap

spp. terhadap Fusarium Solani Fusarium Solani Penyebab Penyakit Layu Pada Daun Cabai Penyebab Penyakit Layu Pada Daun Cabai Rawit (

Rawit (Capsicum frutescensCapsicum frutescens) Secara) Secara in vitroin vitro.. Proceeding  Proceeding Biology Biology EducationEducation Conference

Conference. Vol 13(1): 814-817.. Vol 13(1): 814-817.

Octriana, L. 2011. Potensi Agen Hayati dalam Menghambat Pertumbuhan

Octriana, L. 2011. Potensi Agen Hayati dalam Menghambat Pertumbuhan  Phytum Phytum sp. secara

(19)

19 19

Purnomo, H. 2010.

Purnomo, H. 2010. Pengantar Pengenda Pengantar Pengendalian Hayatilian Hayati. Penerbit Andi. Yogyakarta.. Penerbit Andi. Yogyakarta. Purwantisari, S. & Hastuti, R.B. 2009. Uji Antagonisme Jamur Patogen Purwantisari, S. & Hastuti, R.B. 2009. Uji Antagonisme Jamur Patogen

 Phytophthora infetans

 Phytophthora infetans Penyebab Penyakit Busuk Daun & Umbi Tanaman Penyebab Penyakit Busuk Daun & Umbi Tanaman Kentang Dengan Menggunakan Trichoderma spp. Isolat Lokal.

Kentang Dengan Menggunakan Trichoderma spp. Isolat Lokal.  Bioma11 Bioma11 (1): 2432.

(1): 2432.

Rajeswari, P. and B. Kannabiran. 2011.

Rajeswari, P. and B. Kannabiran. 2011.  In  In vitrovitro  effects of antagonistic  effects of antagonistic microorganisms on

microorganisms on  Fusarium  Fusarium oxysporumoxysporum  [Schlecht. Emend. Synd and  [Schlecht. Emend. Synd and Hans] infecting

Hans] infecting Arachis hypogaea Arachis hypogaea L. L. Journal of  Journal of PhytologyPhytology 3(3): 83-85. 3(3): 83-85. Sharma, P. 2011. Complexity of Trichoderma

Sharma, P. 2011. Complexity of Trichoderma  Fusarium  Fusarium  interaction and  interaction and manifestation of biological control.

manifestation of biological control. Australian Journal Crop Science Australian Journal Crop Science 5 (8): 5 (8): 1027

1027 –  –  1038. 1038. Soesanto, L. 2008.

Soesanto, L. 2008.  Pengantar  Pengantar Pengendalian Hayati Pengendalian Hayati Penyakit Penyakit TanamanTanaman. PT Raja. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Grafindo Persada. Jakarta.

Sundari, A., Khotimah, S., & Linda, R. 2014. Daya Antagonis Jamur Trichoderma Sundari, A., Khotimah, S., & Linda, R. 2014. Daya Antagonis Jamur Trichoderma

sp. Terhadap Jamur

sp. Terhadap Jamur Diplofia Diplofia sp. Penyebab Busuk Batang Jeruk Siam (sp. Penyebab Busuk Batang Jeruk Siam (CitrusCitrus nobilis

nobilis).). Jurnal Protobiont Jurnal Protobiont 3 (2): 106-110.3 (2): 106-110. Suwahyono, U. 2009.

Suwahyono, U. 2009.  Biopestisida Biopestisida. PT. Niaga Swadaya. Jakarta.. PT. Niaga Swadaya. Jakarta. Widyastuti, S. M. 2006. The biological control of

Widyastuti, S. M. 2006. The biological control of GanodermaGanoderma  root rot by  root rot by Trichoderma.

(20)

BIODATA PRAKTIKAN

BIODATA PRAKTIKAN

 Nama L

 Nama Lengkap engkap : : MuhammMuhammad Azka Fardaad Azka Fardanini  Nama P

 Nama Panggilan anggilan : : DaniDani Tempat,

Tempat, Tanggal Tanggal Lahir Lahir : : Kab. Kab. SemaraSemarang, ng, 26 26 April April 19961996 Jenis

Jenis Kelamin Kelamin : : Laki-lakiLaki-laki Golongan

Golongan Darah Darah : : OO Alamat

Alamat : : Jl. Jl. Kenanga, Kenanga, RT RT 4 4 RW RW 6 6 KelKel Grendeng Kec. Purwokerto Grendeng Kec. Purwokerto Utara Banyumas Indonesia Utara Banyumas Indonesia Agama

Agama : : IslamIslam Visi

Visi Hidup Hidup : : Berakhlak Berakhlak mulia mulia dalam dalam PrestasiPrestasi Prima

Prima  No. Telp/HP

 No. Telp/HP : : 085-868-178-089085-868-178-089

Email :

Email : [email protected]@gmail.com

Keteram

Keterampilan pilan : : Kultur Kultur jaringanjaringan Identifikasi jamur Identifikasi jamur Operating tractor Operating tractor Operating mikroskope Operating mikroskope Penujian yang pernah

Penujian yang pernah dilakukan

dilakukan

:

: Uji Uji gramgram

Uji fisiologis bakteri Uji fisiologis bakteri

Uji DNAse, Kitinase, Selulase Uji DNAse, Kitinase, Selulase Uji Polymerace Chain Reaction Uji Polymerace Chain Reaction Uji ELISA

Uji ELISA Uji

Uji in vitroin vitro jamur vs jamu jamur vs jamurr Berhasil mengidentifikasi 36 Berhasil mengidentifikasi 36 species jamur

Gambar

Gambar 1. Skema penempatan jamur antagonis dan jamur patogen denganGambar 1. Skema penempatan jamur antagonis dan jamur patogen dengan
Tabel  1.  Uji II nv nvitro itro   Jamur   Jamur Colletotrichum  gloeosporioides Colletotrichum  gloeosporioides   dan  Jamur   dan  Jamur Trichoderma
Tabel 2. Uji
Tabel 3. Uji
+2

Referensi

Dokumen terkait