1 1
LAPORAN PRAKTIKUM
LAPORAN PRAKTIKUM
PENGENDALIAN HAYATI
PENGENDALIAN HAYATI
ACARA III ACARA III UJI ANTAGONIS UJI ANTAGONISI N V I
I N V I T
TR O
R O
Oleh : Oleh : Kelas A Kelas A Kelompok 5 Kelompok 5 MuhammadMuhammad Azka Azka Fardani Fardani A1L014153A1L014153 Nanda
Nanda Tri Tri Septi Septi A1D115041A1D115041 Novi
Novi Hervianti Hervianti Putri Putri A1D115047A1D115047
Nurjanah A1D015215
Nurjanah A1D015215
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGIPENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO PURWOKERTO 2017 2017
I.
I. PENDAHULUANPENDAHULUAN
A.
A. Latar BelakangLatar Belakang
Pengendalian terhadap patogen tanaman saat ini masih bertumpu pada Pengendalian terhadap patogen tanaman saat ini masih bertumpu pada penggunaan pestisida
penggunaan pestisida sintetik. sintetik. Namun penggunaan Namun penggunaan pestisida pestisida sintetik sintetik secara secara terus- terus-menerus dapat menimbulkan berbagai macam dampak
menerus dapat menimbulkan berbagai macam dampak negatif. Suwahyono (2009),negatif. Suwahyono (2009), menyatakan bahwa penggunaan pestisida sintetik dapat membahayakan menyatakan bahwa penggunaan pestisida sintetik dapat membahayakan keselamatan hayati termasuk manusia
keselamatan hayati termasuk manusia dan keseimbangan ekosistem. Oleh sebab itu,dan keseimbangan ekosistem. Oleh sebab itu, saat ini metode pengendalian telah diarahkan pada pengendalian secara hayati. saat ini metode pengendalian telah diarahkan pada pengendalian secara hayati.
Pengendalian hayati menggunakan agen antagonis dengan satu kali Pengendalian hayati menggunakan agen antagonis dengan satu kali pemakaian dapat
pemakaian dapat menekan pertumbuhan dan menekan pertumbuhan dan perkembangan patogen untuk perkembangan patogen untuk jangkajangka waktu yang relatif panjang tanpa menimbulkan pencemaran lingkungan (Achmad waktu yang relatif panjang tanpa menimbulkan pencemaran lingkungan (Achmad et al.
et al. 2009). Di Indonesia sendiri, hingga saat ini telah banyak ditemukan 2009). Di Indonesia sendiri, hingga saat ini telah banyak ditemukan mikroorganisme antagonis di berbagai wilayah namun belum banyak diketahui mikroorganisme antagonis di berbagai wilayah namun belum banyak diketahui potensinya. Berdasarkan p
potensinya. Berdasarkan penelitian tentang antagonis, enelitian tentang antagonis, maka pada maka pada akhir tahun 19akhir tahun 1990,90, baru 5
baru 5 antagonis yang antagonis yang dianggap sebagai agdianggap sebagai agen pengendali hayen pengendali hayati yang terdaftar pati yang terdaftar padaada EPA (
EPA ( Environmental Environmental Production Production AgencyAgency) di Amerika Serikat yaitu Trichoderma) di Amerika Serikat yaitu Trichoderma spp.,
spp., Agrobacterium Agrobacterium radiobacter, radiobacter, Pseudomonas Pseudomonas fluorescens, fluorescens, Gliocladium Gliocladium virens,virens, dan
dan Bacillus subtilis. Bacillus subtilis.
Introduksi antagonis untuk pengendalian hayati, suatu patogen tanaman dari Introduksi antagonis untuk pengendalian hayati, suatu patogen tanaman dari daerah atau Negara lain harus dipastikan bahwa antagonis yang diintroduksi daerah atau Negara lain harus dipastikan bahwa antagonis yang diintroduksi mempunyai
mempunyai kemampuan kemampuan beradaptasi beradaptasi dan dan berkembang berkembang dengan dengan baik. baik. SebagaiSebagai langkah awal, maka dilakukan dalam skala laboratorium dengan uji
3 3
bertujuan
bertujuan untuk untuk mengevaluasi mengevaluasi kemampuan kemampuan antagonis antagonis dalam dalam ruang ruang lingkup lingkup yangyang lebih sempit serta keadaan lingkungan yang terkendali (Alfizar
lebih sempit serta keadaan lingkungan yang terkendali (Alfizar et al.,et al., 2013).2013).
B.
B.
TujuanTujuanPraktikum acara 3 bagian penyakit bertujuan sebagai berikut. Praktikum acara 3 bagian penyakit bertujuan sebagai berikut.
1.
1. Mengetahui daerah terang (hambatan) yaitu dengan mengukur jari-jari koloniMengetahui daerah terang (hambatan) yaitu dengan mengukur jari-jari koloni patogen
patogen yang yang berlawanan berlawanan dengan dengan pusat pusat koloni koloni antagonis antagonis (r (r 11) dan menuju) dan menuju
koloni antagonis (r koloni antagonis (r 22).).
2.
II.
II. TINJAUAN PUSTAKATINJAUAN PUSTAKA
Sejauh ini upaya pengendalian jamur patogen telah banyak dilakukan, baik Sejauh ini upaya pengendalian jamur patogen telah banyak dilakukan, baik melalui teknik budidaya, mekanis, maupun kimiawi. Pengendalian secara kimia melalui teknik budidaya, mekanis, maupun kimiawi. Pengendalian secara kimia wiwi pada
pada umumnya umumnya masih masih mengandalkan mengandalkan penggunaan penggunaan fungisida fungisida sintetik, sintetik, namunnamun penggunaan
penggunaan secara secara berkepanjangan berkepanjangan dapat dapat berdampak berdampak negatif negatif bagi bagi ekosistemekosistem (Mahartha
(Mahartha et al et al ., 2013). Salah satu alternatif untuk mengantisipasi dampak tersebut., 2013). Salah satu alternatif untuk mengantisipasi dampak tersebut adalah melalui pengendalian biologi dengan memanfaatkan Agen Pengendali adalah melalui pengendalian biologi dengan memanfaatkan Agen Pengendali Hayati (APH). APH dapat dimanfaatkan karena mampu membatasi pertumbuhan Hayati (APH). APH dapat dimanfaatkan karena mampu membatasi pertumbuhan patogen
patogen untuk untuk waktu waktu yang yang lebih lebih lama, lama, tidak tidak meninggalkan meninggalkan residu residu dan dan menjagamenjaga keseimbangan ekosistem (Purnomo, 2010).
keseimbangan ekosistem (Purnomo, 2010).
Jamur antagonis yang sangat umum ditemukan dan biasa digunakan adalah Jamur antagonis yang sangat umum ditemukan dan biasa digunakan adalah Trichoderma spp. Perananya dalam menghambat pertumbuhan patogen telah Trichoderma spp. Perananya dalam menghambat pertumbuhan patogen telah banyak
banyak diteliti. Trichoderma diteliti. Trichoderma spp. mampspp. mampu mengu menghambat pertumbuhambat pertumbuhanhan Phytophthora Phytophthora infestans
infestans (Purwantisari dan Hastuti, 2009), (Purwantisari dan Hastuti, 2009), Phytium sp. Phytium sp. (Octriana, 2011), (Octriana, 2011), Diplodia Diplodia sp. (Sundari
sp. (Sundari et al.,et al., 2014), dan beberapa jamur patogen lainnya. Jamur Trichoderma 2014), dan beberapa jamur patogen lainnya. Jamur Trichoderma spp. selain dari hasil eksplorasi di daerah setempat, APH tersebut juga banyak spp. selain dari hasil eksplorasi di daerah setempat, APH tersebut juga banyak diintroduksi dari luar daerah.
diintroduksi dari luar daerah.
Introduksi antagonis untuk pengendalian hayati, dari luar daerah atau luar Introduksi antagonis untuk pengendalian hayati, dari luar daerah atau luar negeri sebaiknya dilakukan uji
negeri sebaiknya dilakukan uji in vitroin vitro terlebih terlebih dahulu. dahulu. UjiUji in vitroin vitro diawali dengan diawali dengan persiapan
persiapan biakan biakan murni murni jamur jamur dengan dengan cara cara menginokulasi menginokulasi biakan biakan jamur jamur patogenpatogen dan antagonis pada medium PDA dan diinkubasi pada suhu 25
dan antagonis pada medium PDA dan diinkubasi pada suhu 25oo-27-27ooC selama 7x24C selama 7x24 jam. Pengujian daya antagonisme secara
5 5
ganda (
ganda (dual culturedual culture) dengan cara memotong biakan murni jamur yang telah) dengan cara memotong biakan murni jamur yang telah dipersiapkan dengan bor gabus steril dan diletakkan pada permukaan medium PDA dipersiapkan dengan bor gabus steril dan diletakkan pada permukaan medium PDA secara berpasangan antara jamur patogen dan jamur antagonis (Gambar 1), secara berpasangan antara jamur patogen dan jamur antagonis (Gambar 1), selanjutnya diinkubasi pada suhu 25
selanjutnya diinkubasi pada suhu 25oo-27-27ooC selama 7x24 jam (NingsihC selama 7x24 jam (Ningsih et al.,et al., 2016).2016).
Gambar 1. Skema penempatan jamur antagonis dan jamur patogen dengan Gambar 1. Skema penempatan jamur antagonis dan jamur patogen dengan
metode dual culture (Ningsih
metode dual culture (Ningsih et al.,et al., 2016)2016) Keterangan : A = Potongan cakram miselium jamur antagonis Keterangan : A = Potongan cakram miselium jamur antagonis
P = Potongan cakram miselium jamur patogen P = Potongan cakram miselium jamur patogen
Data persentase daya antagonis diperoleh melalui pengukuran jari-jari koloni Data persentase daya antagonis diperoleh melalui pengukuran jari-jari koloni jamur
jamur patogen patogen yang yang mendekati mendekati dan dan menjauhi menjauhi koloni koloni jamur jamur antagonis antagonis dengandengan menggunakan jangka sorong setelah biakan diinkubasi selama 5 x 24 jam. Data menggunakan jangka sorong setelah biakan diinkubasi selama 5 x 24 jam. Data selanjutnya dihitung dengan menggunakan rumus berikut (Herliyana
selanjutnya dihitung dengan menggunakan rumus berikut (Herliyana et al.,et al., 2013):2013):
III.
III. METODE PRAKTIKUMMETODE PRAKTIKUM
A.
A. Bahan dan AlatBahan dan Alat
Bahan yang digunakan yaitu biakan murni patogen
Bahan yang digunakan yaitu biakan murni patogen Fusarium Fusarium sp.,sp., Colletotrichum gloeosporioides
Colletotrichum gloeosporioides dandan Phytium Phytium sp., medium PDA, medium agar airsp., medium PDA, medium agar air 0,6% (4 mL), medium YPGA. Alat yang digunakan meliputi penggaris, cawan 0,6% (4 mL), medium YPGA. Alat yang digunakan meliputi penggaris, cawan petri, jarum ose, bunsen, spatula, borgabu
petri, jarum ose, bunsen, spatula, borgabus.s.
B.
B. Prosedur KerjaProsedur Kerja
Uji
Uji
iin v
n viittro
ro
jamur dan jamur dan bakteri antagonis dengan jamur patogenbakteri antagonis dengan jamur patogen 1.1. Medium PDA yang digunakan untuk menguji penghambatan disiapkan padaMedium PDA yang digunakan untuk menguji penghambatan disiapkan pada cawan Petri.
cawan Petri. 2.
2. Isolat jamur patogen atau jamur antagonis yang berumur 3-5 hari pada mediumIsolat jamur patogen atau jamur antagonis yang berumur 3-5 hari pada medium PDA dilubangi dengan menggunakan bur gabus berdiameter 5 mm.
PDA dilubangi dengan menggunakan bur gabus berdiameter 5 mm. 3.
3. Isolat jamur patogen kemudian dipindahkan ke medium PDA denganIsolat jamur patogen kemudian dipindahkan ke medium PDA dengan menggunakan spatula steril dihadapkan dengan jamur antagonis atau bakteri menggunakan spatula steril dihadapkan dengan jamur antagonis atau bakteri antagonis (dengan penggoresan) dengan jarak ± 1 cm.
antagonis (dengan penggoresan) dengan jarak ± 1 cm. 4.
4. Pengamatan dilakukan dengan mengukur jari-jari koloni yang berlawananPengamatan dilakukan dengan mengukur jari-jari koloni yang berlawanan dengan pusat koloni antagonis (r
dengan pusat koloni antagonis (r 11) dan yang menuju pusat koloni antagonis ) dan yang menuju pusat koloni antagonis (r (r 22))
setiap hari, kemudian dihitung tingkat penghambatannya. setiap hari, kemudian dihitung tingkat penghambatannya. 5.
5. Amati, foto, dan gambar dan beri keterangan selengkapnya penghambatanAmati, foto, dan gambar dan beri keterangan selengkapnya penghambatan jamur atau bakteri antagonis tersebut terhadap patogen.
7 7
Uji
Uji
iin v
n viittro
ro
bakteri antagonis dengan bakteri patogen bakteri antagonis dengan bakteri patogen 1.1. Uji antibiosis dilakukan secara berlapis pada dua medium denganUji antibiosis dilakukan secara berlapis pada dua medium dengan menumbuhkan bakteri antagonis pada medium YPGA selama 48 jam dengan menumbuhkan bakteri antagonis pada medium YPGA selama 48 jam dengan cara inokulasi titik.
cara inokulasi titik. 2.
2. Setelah dua hari cawan petri kemudian dibalik dan ditetesi kloroform padaSetelah dua hari cawan petri kemudian dibalik dan ditetesi kloroform pada tutupnya sebanyak 0,5 ml, lalu dibiarkan 4-6 jam sampai kloroform habis tutupnya sebanyak 0,5 ml, lalu dibiarkan 4-6 jam sampai kloroform habis menguap.
menguap. 3.
3. Suspensi bakteri patogen (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) berumur dua hariSuspensi bakteri patogen (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) berumur dua hari pada medium
pada medium miring miring dipanen dipanen dalam dalam 10 10 ml ml air air steril, steril, kemudian sebanyak kemudian sebanyak 0,20,2 ml dihomogenkan pada 4 ml medium agar air 0,6%
ml dihomogenkan pada 4 ml medium agar air 0,6% yang masih mencair (suhuyang masih mencair (suhu 45
45ooC), lalu dituangkan secara perlahan pada medium YPGA tersebut, sehinggaC), lalu dituangkan secara perlahan pada medium YPGA tersebut, sehingga membentuk dua lapis medium.
membentuk dua lapis medium. 4.
4. Pengamatan hasil uji antagonisme dilakukan setelah 24 jam dengan melihatPengamatan hasil uji antagonisme dilakukan setelah 24 jam dengan melihat zone hambatan.
zone hambatan. 5.
5. Adanya zone penghambatan berupa zone bening di sekitar koloni bakteriAdanya zone penghambatan berupa zone bening di sekitar koloni bakteri antagonis menunjukkan mekanisme penghambatan dengan cara antibiosis. antagonis menunjukkan mekanisme penghambatan dengan cara antibiosis.
IV.
IV. HASIL DAN PEMBAHASANHASIL DAN PEMBAHASAN
A.
A. HasilHasil
Tabel 1. Uji
Tabel 1. Uji
II nv
nvitro
itro
Jamur JamurColletotrichum gloeosporioides
Colletotrichum gloeosporioides
dan Jamur dan Jamur TrichodermaTrichoderma
harzianum
harzianum
No Tanggal
No Tanggal FotoFoto
Pengamatan Pengamatan II 1 1 9 Desember 2017 9 Desember 2017 0 0 0 0 00 2 2 10 Desember 201710 Desember 2017 15 15 mm mm 15 15 mm mm 00 3
3
11 D
11 De
esem
sembe
ber
r 2017
2017
45 45 mm mm 40 40 mm mm 11,111,1 Perhitungan:Perhitungan:
Hari ke-2 : I =Hari ke-2 : I =
−− x 100% x 100% = = 1−11−1 1 1 x 100% x 100% = = 0%0%
Hari ke-3 : I =Hari ke-3 : I =
−− x 100% x 100% = = −− x 100% x 100% = 11,1% = 11,1% Kesimpulan:
Kesimpulan: Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa aplikasi TrichodermaDari hasil pengamatan didapatkan bahwa aplikasi Trichoderma harzianum
9 9
Tabel 2. Uji
Tabel 2. Uji
II nv
nvitro
itro
Jamur JamurF
F us
usa
arriium
um
sp. dan Jamur Trichodermasp. dan Jamur Trichodermaharzianum
harzianum
No Tanggal
No Tanggal FotoFoto
Pengamatan Pengamatan II 1 1 8 Desember 2017 8 Desember 2017 0 0 0 0 00 2 2 9 Desember 2017 9 Desember 2017 0,7 0,7 0,4 0,4 42,942,9 3
3
10 D
10 De
esem
sembe
ber
r 2017
2017
1,5 1,5 0,9 0,9 4040Perhitungan: Perhitungan:
Hari ke-2 : I =Hari ke-2 : I =
−− x 100% x 100% = = ,7−,,7−, ,7 ,7 x 100% x 100% = = 42,9%42,9%
Hari ke-3 : I =Hari ke-3 : I =
−− x 100% x 100% = = 1,−,1,−, 1, 1, x 100% x 100% = = 40%40% Kesimpulan:
Kesimpulan: Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa jamur Trichoderma Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa jamur Trichoderma sp.sp. menghambat pertumbuhn jamur
Tabel 3. Uji
Tabel 3. Uji
II nv
nvitro
itro
Jamur JamurPhytium
Phytium
sp. dan Jamur Trichodermasp. dan Jamur Trichodermaharzianum
harzianum
No Tanggal
No Tanggal FotoFoto
Pengamatan Pengamatan II 1 1 8 Desember 2017 8 Desember 2017 0 0 0 0 00 2 2 9 Desember 2017 9 Desember 2017 1,6 1,6 1,2 1,2 25%25% 3 3 10 Desember 2017 10 Desember 2017 1,9 1,9 1,3 1,3 31,58%31,58% 4 4 11 Desember 2017 11 Desember 2017 2,4 2,4 1,5 1,5 37,5 37,5 %% 5 5 12 Desember 2017 12 Desember 2017 2,5 2,5 1,5 1,5 40%40% Perhitungan: Perhitungan:
Hari ke-2 : I =Hari ke-2 : I =
−− x 100% x 100% = = 1,6−1,1,6−1, 1,6 1,6 x 100% x 100% = = 25%25%
Hari ke-3 : I =Hari ke-3 : I =
−− x 100% x 100% = = 1,−1,31,−1,3 1, 1, x 100% x 100% = 31,58% = 31,58%
Hari ke-4 : I =Hari ke-4 : I =
−−
x 100% x 100%
11 11 = = ,−1,,−1, , , x 100% x 100% = 37,5% = 37,5%
Hari ke-5 : I =Hari ke-5 : I =
−− x 100% x 100% = = ,−1,,−1, , , x 100% x 100% = 40% = 40% Kesimpulan:
Kesimpulan: Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa aplikasi Trichoderma Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa aplikasi Trichoderma harzianum
harzianum menghambat pertumbuhn jamur menghambat pertumbuhn jamur Phytium Phytium sp.sp. Tabel 4. Uji
Tabel 4. Uji
II nv
nvitro
itro
Jamur JamurScle
Sclerro
ottiium
um
sp. dan Jamur Trichodermasp. dan Jamur Trichodermahar
harzziia
anum
num
..No Tanggal
No Tanggal FotoFoto
Pengamatan Pengamatan II 1 1 9 Desember 2017 9 Desember 2017 1,8 1,8 1,8 1,8 0%0% 2 2 10 Desember 2017 10 Desember 2017 2,0 2,0 2,0 2,0 0%0% 3 3 11 Desember 2017 11 Desember 2017 2,4 2,4 2,0 2,0 40%40% Perhitungan: Perhitungan:
Hari ke-1 : I =Hari ke-1 : I =
−− x 100% x 100% = = 1,8−1,81,8−1,8 1,8 1,8 x 100% x 100% = = 0%0%
Hari ke-2 : I =Hari ke-2 : I =
−−
= = ,−,,−, , , x 100% x 100% = 0% = 0%
Hari ke-3 : I =Hari ke-3 : I =
−− x 100% x 100% = = ,−,,−, , , x 100% x 100% = 40% = 40% Kesimpulan:
Kesimpulan: Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa aplikasi Trichoderma Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa aplikasi Trichoderma harzianum
harzianum menghambat pertumbuhn jamur menghambat pertumbuhn jamur SclerotiumSclerotium sp.sp.
B.
B. PembahasanPembahasan
Uji antagonis secara
Uji antagonis secara in vitroin vitro adalah suatu cara untuk mengevaluasiadalah suatu cara untuk mengevaluasi kemampuan antagonis (agensia pengendali hayati) dalam
kemampuan antagonis (agensia pengendali hayati) dalam ruang lingkup yang lebihruang lingkup yang lebih sempit serta keadaan lingkungan yang terkendali (
sempit serta keadaan lingkungan yang terkendali (in vitroin vitro). Tujuannya untuk). Tujuannya untuk mengetahui potensi atau efektifitas agensia pengendali hayati dalam menghambat mengetahui potensi atau efektifitas agensia pengendali hayati dalam menghambat pertumbuhan dan perkembang
pertumbuhan dan perkembangan patogen (Alfizaran patogen (Alfizar et al.,et al., 2 2013). 013). Menurut Menurut SoesantoSoesanto (2008) pengujian secara
(2008) pengujian secara in vitroin vitro mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagaimempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut.
berikut.
Kelebihan uji antagonis secara
Kelebihan uji antagonis secara in vitroin vitro:: 1.
1. Pengujian secaraPengujian secara in vitroin vitro memberikan hasil yang tepat dan membutuhkanmemberikan hasil yang tepat dan membutuhkan waktu yang singkat untuk dapat diperoleh hasilnya (3-5 hari).
waktu yang singkat untuk dapat diperoleh hasilnya (3-5 hari). 2.
2. Biaya yang dikeluarkan untuk pengujian ini relative murah karena Biaya yang dikeluarkan untuk pengujian ini relative murah karena hanyahanya membutuhkan PDA atau NA sebagai media
membutuhkan PDA atau NA sebagai media pertumbuhan jamur maupunpertumbuhan jamur maupun bakteri.
13 13
3.
3. Kondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban dan cahaya lebih mudah diKondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban dan cahaya lebih mudah di control karena berskala kecil (pengujian di laboraturium).
control karena berskala kecil (pengujian di laboraturium). 4.
4. Memungkinkan untuk dilakukan pengujian dalam jumlah yang banyakMemungkinkan untuk dilakukan pengujian dalam jumlah yang banyak karena tidak membutuhkan ruang yang besar untuk pengujian.
karena tidak membutuhkan ruang yang besar untuk pengujian. Kelemahan dari uji
Kelemahan dari uji in vitroin vitro yaitu hanya dapat mendeteksi antagonisme yang yaitu hanya dapat mendeteksi antagonisme yang berdasarkan mekanisme antibiosis.
berdasarkan mekanisme antibiosis. Selain itu metode iSelain itu metode ini tidak berlaku ni tidak berlaku bagi sistembagi sistem patogen antagonis yang
patogen antagonis yang bersifat parasit obligat (Djatmikobersifat parasit obligat (Djatmiko et al.,et al., 2016).2016). Uji antagonis secara
Uji antagonis secara in vitroin vitro sangat bermanfaat di bidang pertanian terutamasangat bermanfaat di bidang pertanian terutama untuk menyeleksi mikroba antagonis yang mempunyai potensi terbaik sebagai untuk menyeleksi mikroba antagonis yang mempunyai potensi terbaik sebagai agensia pengendali hayati. Pengujian secara
agensia pengendali hayati. Pengujian secara in vitroin vitro mudah dilakukan dan murah,mudah dilakukan dan murah, selain itu dapat pula diperoleh hasil yang tepat. Presentase kegagalan saat aplikasi selain itu dapat pula diperoleh hasil yang tepat. Presentase kegagalan saat aplikasi di lapangan dapat ditekan karena sudah dilakukan uji pendahuluan untuk di lapangan dapat ditekan karena sudah dilakukan uji pendahuluan untuk menyeleksi mikroba antagonis pada tahap awal
menyeleksi mikroba antagonis pada tahap awal (Soesanto, 2008).(Soesanto, 2008).
Mekanisme pengendalian dengan agen hayati terhadap jamur patogen Mekanisme pengendalian dengan agen hayati terhadap jamur patogen tumbuhan secara umum dibagi menjadi tiga macam, yaitu kompetisi terhadap tumbuhan secara umum dibagi menjadi tiga macam, yaitu kompetisi terhadap tempat tumbuh dan nutrisi, antibiosis, dan parasitisme (Baker dan Cook, 1982 tempat tumbuh dan nutrisi, antibiosis, dan parasitisme (Baker dan Cook, 1982 dalam
dalam BerlianBerlian et al.,et al., 2013). 2013). Trichoderma Trichoderma spp. spp. merupakan merupakan salah salah satu satu agenagen pengendali ha
pengendali hayati yati yang paling yang paling potensial potensial untuk untuk dikembangkan sebagai dikembangkan sebagai pengendalipengendali hayati jamur patogen
hayati jamur patogen tular tanah. tular tanah. Penelitian yang dilakukan Penelitian yang dilakukan oleh Widyastuti danoleh Widyastuti dan Hariani (2006) mengindikasikan bahwa Trichoderma efektif untuk menghambat Hariani (2006) mengindikasikan bahwa Trichoderma efektif untuk menghambat patogen tular
patogen tular tanah sepertitanah seperti Sclerotium rolfsii, FusariumSclerotium rolfsii, Fusarium sp., sp., Rhizoctonia solani Rhizoctonia solani dan dan F.
F. oxysporumoxysporum dengan berbagai mekanisme yaitu kompetisi, antibiosis dan dengan berbagai mekanisme yaitu kompetisi, antibiosis dan mikoparasit.
Umumnya kematian mikroorganisme di sebabkan kekurangan nutrisi, oleh Umumnya kematian mikroorganisme di sebabkan kekurangan nutrisi, oleh karena itu pengendalian dengan agen hayati salah satunya bertujuan untuk karena itu pengendalian dengan agen hayati salah satunya bertujuan untuk memenangkan kompetisi dalam mendapatkan nutrisi. Beberapa jenis Trichoderma memenangkan kompetisi dalam mendapatkan nutrisi. Beberapa jenis Trichoderma spp. menghasilkan siderofor yang mengkhelat besi
spp. menghasilkan siderofor yang mengkhelat besi dan menghentikan pertumbuhandan menghentikan pertumbuhan jamur
jamur lain. lain. Trichoderma Trichoderma spp. spp. adalah adalah jamur jamur saprofit saprofit tanah tanah yang yang secara secara alamialami merupakan parasite dan menyerang banyak jenis jamur penyebab penyakit tanaman merupakan parasite dan menyerang banyak jenis jamur penyebab penyakit tanaman atau memiliki spectrum pengendalian yang luas. Jamur Trichoderma spp. dapat atau memiliki spectrum pengendalian yang luas. Jamur Trichoderma spp. dapat menjadi hiperparasit pada beberapa jenis jamur penyebab penyakit tanaman dan menjadi hiperparasit pada beberapa jenis jamur penyebab penyakit tanaman dan pertumbuhannya sangat cepat.
pertumbuhannya sangat cepat.
Antibiosis adalah mekanisme antagonism yang melibatkan hasil metabolit Antibiosis adalah mekanisme antagonism yang melibatkan hasil metabolit penyebab lisis,
penyebab lisis, enzim, seenzim, senyawa folatil nyawa folatil dan non-folatil dan non-folatil atau toksin atau toksin yang dihasilkanyang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme. Meskipun mikoparasitisme dianggap sebagai oleh suatu mikroorganisme. Meskipun mikoparasitisme dianggap sebagai mekanisme antagonisme yang utama, tetapi penelitian
mekanisme antagonisme yang utama, tetapi penelitian lebih lanjut mengungkapkanlebih lanjut mengungkapkan bahwa metabolit
bahwa metabolit sekunder yang sekunder yang dihasilkan Trichoderma dihasilkan Trichoderma spp. juga spp. juga berperan pentingberperan penting dalam aktifitas anti jamurnya (Chet
dalam aktifitas anti jamurnya (Chet et al et al ., 2005). Beberapa metabolit sekunder ., 2005). Beberapa metabolit sekunder yangyang dihasilkan Trichoderma spp. yaitu:
dihasilkan Trichoderma spp. yaitu: a.
a. Lytic Lytic activityactivity yang berfungsi mendegradasi dinding sel jamur inangyang berfungsi mendegradasi dinding sel jamur inang (Howell, 2005).
(Howell, 2005). b.
b. Alkyl Alkyl pyronespyrones yang dapat menghambat perkecambahan dan yang dapat menghambat perkecambahan dan pertumbuhan
pertumbuhan miseliamiselia Colletotrichum capsiciColletotrichum capsici (Rajeswari dan (Rajeswari dan Kannabiran, 2011).
Kannabiran, 2011). c.
15 15
d.
d. Polyketides, Polyketides, senyawa ini juga menekan perkecambahan sporasenyawa ini juga menekan perkecambahan spora F. F. oxysporum
oxysporum f.sp.f.sp. melonismelonis,, G. graminisG. graminis,, F. F. culmorumculmorum,, F. F. moniliformemoniliforme Cladosporium herbarum
Cladosporium herbarum dan klamidospora dan klamidospora F. F. oxysporumoxysporum f.sp. f.sp. vasinfectum
vasinfectum (Sharma, 2011).(Sharma, 2011).
Mekanisme parasitisme merupakan fenomena menarik
Mekanisme parasitisme merupakan fenomena menarik yang berperan pentingyang berperan penting dalam proses pengendalian hayati. Trichoderma spp. biasanye menggunakan dalam proses pengendalian hayati. Trichoderma spp. biasanye menggunakan mekanisme ini bersama mekanisme lain yaitu kompetisi dan antibiosis. Menurut mekanisme ini bersama mekanisme lain yaitu kompetisi dan antibiosis. Menurut Baker dan Cook (1982)
Baker dan Cook (1982) dalamdalam BerlianBerlian et al., et al., (2013), pada umumnya mekanisme(2013), pada umumnya mekanisme antagonisme Trichoderma spp. dalam menekan patogen yaitu sebagai antagonisme Trichoderma spp. dalam menekan patogen yaitu sebagai mikoparasitik dan competitor yang agresif. Awalnya, hifa Trichoderma spp. mikoparasitik dan competitor yang agresif. Awalnya, hifa Trichoderma spp. tumbuh memanjang, kemudian membelit dan mempenetrasi hifa jamur inang tumbuh memanjang, kemudian membelit dan mempenetrasi hifa jamur inang sehingga hifa inang mengalami vakoulasi, lisis dan akhirnya hancur. Menurut sehingga hifa inang mengalami vakoulasi, lisis dan akhirnya hancur. Menurut Harjono dan Widiastuti (2001) Trichoderma spp. melakukan penetrasi ke dalam Harjono dan Widiastuti (2001) Trichoderma spp. melakukan penetrasi ke dalam dinding sel inang dengan bantuan enzim pendegradasi dinding sel yaitu kitinase, dinding sel inang dengan bantuan enzim pendegradasi dinding sel yaitu kitinase, glukanase, dan protease, selanjutnya menggunakan isi hifa inang sebagai sumber glukanase, dan protease, selanjutnya menggunakan isi hifa inang sebagai sumber makanan. Pada saat melilit dan menghasilkan enzim untuk menembus dinding sel makanan. Pada saat melilit dan menghasilkan enzim untuk menembus dinding sel inang, Trichoderma sp. juga menghasilkan antibiotik seperti
inang, Trichoderma sp. juga menghasilkan antibiotik seperti gliotoksin dan viridian.gliotoksin dan viridian. Hasil uji
Hasil uji in vitroin vitro menunjukkan bahwa agensia pengendali hayati Trichodermamenunjukkan bahwa agensia pengendali hayati Trichoderma harzianum
harzianum mampu menekan pertumbuhan ke-4 jenis patogen dengan presentase mampu menekan pertumbuhan ke-4 jenis patogen dengan presentase sebagai berikut;
sebagai berikut; Colletotrichum gloeosporioidesColletotrichum gloeosporioides (11,1%)(11,1%) , , FusariumFusarium sp. (40%), sp. (40%), Phytium
Phytium sp. (40%) dan sp. (40%) dan SclerotiumSclerotium sp. (40%). Pengujian yang dilakukan tersebutsp. (40%). Pengujian yang dilakukan tersebut sesuai dengan pernyataan Widyastuti dan Hariani (2006) yang mengindikasikan sesuai dengan pernyataan Widyastuti dan Hariani (2006) yang mengindikasikan
bahwa
bahwa Trichoderma Trichoderma spp. spp. efektif efektif untuk untuk menghambat menghambat patogen patogen tular tular tanah tanah sepertiseperti Sclerotium rolfsii, Fusarium
Sclerotium rolfsii, Fusarium spsp., Rhizoctonia solani., Rhizoctonia solani dandan F. oxysporum F. oxysporum.. Presentase hambatan Trichoderma
Presentase hambatan Trichoderma harzianum harzianum terhadap patogenterhadap patogen Fusarium Fusarium sp.,
sp., Phytium Phytium sp. dan sp. dan SclerotiumSclerotium sp. menunjukkan presentase yang sama, didugasp. menunjukkan presentase yang sama, diduga karena ketiga patogen tersebut mempunyai umur biakan yang sama. Sedangkan karena ketiga patogen tersebut mempunyai umur biakan yang sama. Sedangkan hasil uji
hasil uji in vitroin vitro agensia pengendali hayati Trichodermaagensia pengendali hayati Trichoderma harzianum harzianum terhadapterhadap patogen
patogen Colletotrichum gloeosporioidesColletotrichum gloeosporioides mempunyai presentase yang kecil, didugamempunyai presentase yang kecil, diduga karena menurunnya virulensi dari Trichoderma
karena menurunnya virulensi dari Trichoderma harzianum harzianum. Agensia pengendali. Agensia pengendali hayati Trichoderma
hayati Trichoderma harzianum harzianum yang digunakan diperoleh dari BPHP Yogyakartayang digunakan diperoleh dari BPHP Yogyakarta sehingga jamur Trichoderma
sehingga jamur Trichoderma harzianum harzianum membutuhkan waktu untuk beradaptasi.membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Berbeda dengan isolate
Berbeda dengan isolate Colletotrichum gloeosporioidesColletotrichum gloeosporioides yang diperoleh dariyang diperoleh dari Purwokerto yang merupakan tempat dilakukan pengujian, sehingga waktu adaptasi Purwokerto yang merupakan tempat dilakukan pengujian, sehingga waktu adaptasi patogen lebih
patogen lebih cepat. Menurut cepat. Menurut Soesanto (2008Soesanto (2008), penggu), penggunaan agensia annaan agensia antagonis yangtagonis yang secara alami ada dan terdapat di lokasi atau daerah tersebut merupakan cara terbaik secara alami ada dan terdapat di lokasi atau daerah tersebut merupakan cara terbaik untuk dijadikan agensia hayati, mengingat agensia antagonis tersebut tidak untuk dijadikan agensia hayati, mengingat agensia antagonis tersebut tidak membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri
17 17
V.
V. KESIMPULAN DAN SARANKESIMPULAN DAN SARAN
A.
A. KesimpulanKesimpulan
1.
1. TrichodermaTrichoderma harzianum harzianum dapat menghambat pertumbuhan cendawan patogen dapat menghambat pertumbuhan cendawan patogen Colletotrichum gloeosporioides, Fusarium
Colletotrichum gloeosporioides, Fusarium sp., sp., Phytium Phytium sp. dan sp. dan SclerotiumSclerotium sp.sp. in vitro
in vitro.. 2.
2. Daya hambat TrichodermaDaya hambat Trichoderma harzianum harzianum yang paling tinggi terdapat padayang paling tinggi terdapat pada Fusarium
Fusarium sp. (40%), sp. (40%), Phytium Phytium sp. (40%) dan sp. (40%) dan SclerotiumSclerotium sp.(40%) , diikutisp.(40%) , diikuti dengan daya hambat terhadap patogen
dengan daya hambat terhadap patogen Colletotrichum gloeosporioidesColletotrichum gloeosporioides (11,1%).
(11,1%).
B.
B. SaranSaran
1.
1. Peralatan seperti cawan petri, punsen, spatula dan borgabus sebaiknyaPeralatan seperti cawan petri, punsen, spatula dan borgabus sebaiknya diperbanyak untuk memperlancar kegiatan praktikum.
diperbanyak untuk memperlancar kegiatan praktikum. 2.
2. Mikroskop stereo sebaiknya diperbaiki sehingga bias digunakan untukMikroskop stereo sebaiknya diperbaiki sehingga bias digunakan untuk pengamatan ketika praktikum.
pengamatan ketika praktikum. 3.
3. Penerangan dan gedung lab sebaiknya diperbaharui karena sudah tidak nyamanPenerangan dan gedung lab sebaiknya diperbaharui karena sudah tidak nyaman untuk praktikum.
DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA
Achmad, S. Hadi, S. Harran, E. Gumbira Sa’id, B.
Achmad, S. Hadi, S. Harran, E. Gumbira Sa’id, B. Satiawihardja, M. Kosim Kardin. Satiawihardja, M. Kosim Kardin. 2009. Pengendalian Hayati Penyakit Lodoh Pada Semai Pinus Merkusii: 2009. Pengendalian Hayati Penyakit Lodoh Pada Semai Pinus Merkusii: Potensi Antagonistik
Potensi Antagonistik In-vitro In-vitro Trichoderma Trichoderma harzianum harzianum dan Trichoderma dan Trichoderma pseudokoningii.
pseudokoningii. Jurnal Litbang TanamaJurnal Litbang Tanamann. Vol. 1 (1).. Vol. 1 (1).
Alfizar, Marlina, dan Fitri Susanti. 2013. Kemampuan Antagonis Trichoderma Alfizar, Marlina, dan Fitri Susanti. 2013. Kemampuan Antagonis Trichoderma sp.sp.
Terhadap Beberapa Jamur Patogen
Terhadap Beberapa Jamur Patogen In vitro In vitro.. J. Floratek J. Floratek 8: 45 -51. 8: 45 -51.
Berlian, I., Budi Setyawan, dan Hananto Hadi. 2013. Mekanisme Antagonisme Berlian, I., Budi Setyawan, dan Hananto Hadi. 2013. Mekanisme Antagonisme
Trichoderma spp. Terhadap Beberapa Patogen Tular Tanah.
Trichoderma spp. Terhadap Beberapa Patogen Tular Tanah. WartaWarta Perkaretan
Perkaretan. 32(2): 74. 32(2): 74 – – 82. 82.
Chet, I., N. Benhamou, and S. Haran. 2005.
Chet, I., N. Benhamou, and S. Haran. 2005. Mycoparasitism and lytic enzy Mycoparasitism and lytic enzymes. Inmes. In Harman,
Harman, G. G. E. E. and and C. C. P. P. Kubicek Kubicek (Eds),(Eds), TrichodermaTrichoderma and Gliocladium and Gliocladium enzymes biological control and commercial applications Volume 2
enzymes biological control and commercial applications Volume 2 . Taylor. Taylor and Francis. London.
and Francis. London.
Harjono and Widiastuti. 2001. Antifungal activity of purified endochitinase Harjono and Widiastuti. 2001. Antifungal activity of purified endochitinase
produced
produced by by bio bio control control agent agent TrichodermaTrichoderma reseei reseei againsts againsts GanodermaGanoderma philippii
philippii.. Pakistan J. Biol. Sc Pakistan J. Biol. Sc. 4 (10) : . 4 (10) : 1232-1234.1232-1234.
Herliyana, Elis N., R. Jamilah, D. Taniwiryono dan M. Alam Firmansyah. 2013. Herliyana, Elis N., R. Jamilah, D. Taniwiryono dan M. Alam Firmansyah. 2013.
Uji
Uji In-vitro In-vitro Pengendalian Hayati oleh Trichoderma Pengendalian Hayati oleh Trichoderma spp. Terhadapspp. Terhadap Ganoderma
Ganoderma yang Menyerang Sengon. yang Menyerang Sengon. Jurnal Jurnal Silvikultur Silvikultur TropikaTropika. Vol. 4. Vol. 4 (3): 190
(3): 190 – – 195. 195.
Heru Adi Djatmiko, Loekas Soesanto dan Nur Prihatiningsih. 2016.
Heru Adi Djatmiko, Loekas Soesanto dan Nur Prihatiningsih. 2016. Petunjuk Petunjuk Praktikum
Praktikum Pengendalian Pengendalian Hayati Hayati (Bagian (Bagian Penyakit Penyakit Tanaman).Tanaman). Fakultas Fakultas Pertanian. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.
Pertanian. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.
Mahartha, K.A., Khalimi, K. & Wirya, G.N.A.S. 2013. Uji Efektivitas
Mahartha, K.A., Khalimi, K. & Wirya, G.N.A.S. 2013. Uji Efektivitas RhizobakteriRhizobakteri sebagai Agen Antagonis terhadap
sebagai Agen Antagonis terhadap Fusarium Fusarium oxysporumoxysporum f.sp. f.sp. capsicicapsici Penyebab Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Cabai Rawit (
Penyebab Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Cabai Rawit (CapsicumCapsicum frutescens
frutescens L.). L.). E-Jurnal Agroekoteknologi Tropika E-Jurnal Agroekoteknologi Tropika. 2 (3): 145-154.. 2 (3): 145-154.
Ningsih, H., Utami Sri Hastuti dan Dwi Listyorini. Kajian Antagonis Trichoderma Ningsih, H., Utami Sri Hastuti dan Dwi Listyorini. Kajian Antagonis Trichoderma
spp. terhadap
spp. terhadap Fusarium Solani Fusarium Solani Penyebab Penyakit Layu Pada Daun Cabai Penyebab Penyakit Layu Pada Daun Cabai Rawit (
Rawit (Capsicum frutescensCapsicum frutescens) Secara) Secara in vitroin vitro.. Proceeding Proceeding Biology Biology EducationEducation Conference
Conference. Vol 13(1): 814-817.. Vol 13(1): 814-817.
Octriana, L. 2011. Potensi Agen Hayati dalam Menghambat Pertumbuhan
Octriana, L. 2011. Potensi Agen Hayati dalam Menghambat Pertumbuhan Phytum Phytum sp. secara
19 19
Purnomo, H. 2010.
Purnomo, H. 2010. Pengantar Pengenda Pengantar Pengendalian Hayatilian Hayati. Penerbit Andi. Yogyakarta.. Penerbit Andi. Yogyakarta. Purwantisari, S. & Hastuti, R.B. 2009. Uji Antagonisme Jamur Patogen Purwantisari, S. & Hastuti, R.B. 2009. Uji Antagonisme Jamur Patogen
Phytophthora infetans
Phytophthora infetans Penyebab Penyakit Busuk Daun & Umbi Tanaman Penyebab Penyakit Busuk Daun & Umbi Tanaman Kentang Dengan Menggunakan Trichoderma spp. Isolat Lokal.
Kentang Dengan Menggunakan Trichoderma spp. Isolat Lokal. Bioma11 Bioma11 (1): 2432.
(1): 2432.
Rajeswari, P. and B. Kannabiran. 2011.
Rajeswari, P. and B. Kannabiran. 2011. In In vitrovitro effects of antagonistic effects of antagonistic microorganisms on
microorganisms on Fusarium Fusarium oxysporumoxysporum [Schlecht. Emend. Synd and [Schlecht. Emend. Synd and Hans] infecting
Hans] infecting Arachis hypogaea Arachis hypogaea L. L. Journal of Journal of PhytologyPhytology 3(3): 83-85. 3(3): 83-85. Sharma, P. 2011. Complexity of Trichoderma
Sharma, P. 2011. Complexity of Trichoderma Fusarium Fusarium interaction and interaction and manifestation of biological control.
manifestation of biological control. Australian Journal Crop Science Australian Journal Crop Science 5 (8): 5 (8): 1027
1027 – – 1038. 1038. Soesanto, L. 2008.
Soesanto, L. 2008. Pengantar Pengantar Pengendalian Hayati Pengendalian Hayati Penyakit Penyakit TanamanTanaman. PT Raja. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Grafindo Persada. Jakarta.
Sundari, A., Khotimah, S., & Linda, R. 2014. Daya Antagonis Jamur Trichoderma Sundari, A., Khotimah, S., & Linda, R. 2014. Daya Antagonis Jamur Trichoderma
sp. Terhadap Jamur
sp. Terhadap Jamur Diplofia Diplofia sp. Penyebab Busuk Batang Jeruk Siam (sp. Penyebab Busuk Batang Jeruk Siam (CitrusCitrus nobilis
nobilis).). Jurnal Protobiont Jurnal Protobiont 3 (2): 106-110.3 (2): 106-110. Suwahyono, U. 2009.
Suwahyono, U. 2009. Biopestisida Biopestisida. PT. Niaga Swadaya. Jakarta.. PT. Niaga Swadaya. Jakarta. Widyastuti, S. M. 2006. The biological control of
Widyastuti, S. M. 2006. The biological control of GanodermaGanoderma root rot by root rot by Trichoderma.
BIODATA PRAKTIKAN
BIODATA PRAKTIKAN
Nama L
Nama Lengkap engkap : : MuhammMuhammad Azka Fardaad Azka Fardanini Nama P
Nama Panggilan anggilan : : DaniDani Tempat,
Tempat, Tanggal Tanggal Lahir Lahir : : Kab. Kab. SemaraSemarang, ng, 26 26 April April 19961996 Jenis
Jenis Kelamin Kelamin : : Laki-lakiLaki-laki Golongan
Golongan Darah Darah : : OO Alamat
Alamat : : Jl. Jl. Kenanga, Kenanga, RT RT 4 4 RW RW 6 6 KelKel Grendeng Kec. Purwokerto Grendeng Kec. Purwokerto Utara Banyumas Indonesia Utara Banyumas Indonesia Agama
Agama : : IslamIslam Visi
Visi Hidup Hidup : : Berakhlak Berakhlak mulia mulia dalam dalam PrestasiPrestasi Prima
Prima No. Telp/HP
No. Telp/HP : : 085-868-178-089085-868-178-089
Email :
Email : [email protected]@gmail.com
Keteram
Keterampilan pilan : : Kultur Kultur jaringanjaringan Identifikasi jamur Identifikasi jamur Operating tractor Operating tractor Operating mikroskope Operating mikroskope Penujian yang pernah
Penujian yang pernah dilakukan
dilakukan
:
: Uji Uji gramgram
Uji fisiologis bakteri Uji fisiologis bakteri
Uji DNAse, Kitinase, Selulase Uji DNAse, Kitinase, Selulase Uji Polymerace Chain Reaction Uji Polymerace Chain Reaction Uji ELISA
Uji ELISA Uji
Uji in vitroin vitro jamur vs jamu jamur vs jamurr Berhasil mengidentifikasi 36 Berhasil mengidentifikasi 36 species jamur