• Tidak ada hasil yang ditemukan

Telaah Nilai Pendidikan Karakter dalam Konsep Pendidikan Akhlak (Kajian Pendidikan Akhlak di Madrasah) Dina Marlina

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Telaah Nilai Pendidikan Karakter dalam Konsep Pendidikan Akhlak (Kajian Pendidikan Akhlak di Madrasah) Dina Marlina"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

Telaah Nilai Pendidikan Karakter dalam Konsep Pendidikan Akhlak (Kajian Pendidikan Akhlak di Madrasah)”

Dina Marlina

Abstraksi: Tujuan dari pendidikan Islam secara tersurat sudah memberikan kesan bahwa dalam pendidikan Islam, selain tercapainya keterampilan-keterampilan tertentu, juga yang menjadi fokus dari sebuah proses pendidikan itu sendiri adalah pembentukan karakter yang tercermin dalam perbuatan atau tingkah laku yang baik. Hal tersebut dapat dilihat dari tujuan akhir pendidikan Islam yang disebutkan yakni terwujudnya kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya merealisasikan atau mencerminkan ajaran Islam, yakni dalam sikap, keterampilan, dan perbuatan seseorang. Hal tersebut senada dengan apa yang diharapkan dari pencanangan pendidikan karakter oleh pemerintah. Inti dari pembangunan karakter adalah terwujudnya sikap hidup yang baik dari adanya seperangkat nilai yang diyakini, dan pendidikan Islam pun menghendaki hal serupa dengan tujuan pendidikan karakter tersebut. Berdasarkan pemaparan di atas, maka penulis tertarik untuk mengangkat tema tersebut dengan judul Bagaimana dasar normatif-filosofis pendidikan karakter perspektif Islam? Bagaimana implementasi nilai-nilai pendidikan karakter dalam pendidikan akhlak? Bagaimana implikasi pendidikan karakter terhadap pendidikan akhlak di madrasah?

Kata Kunci: Pendidikan, Pendidikan Islam, Pendidikan Karakter, Muslim, Pendidikan Akhlak, Madrasah.

endidikan merupakan sesuatu yang sangat penting bagi pertumbuhan suatu bangsa, sehingga sering terdengar ungkapan yang mengatakan, Jika ingin memajukan suatu bangsa maka majukanlah pendidikannya. Ungkapan tersebut terbukti dengan melihat bangsa yang lebih memprioritaskan pendidikan cenderung menjadi bangsa yang maju. Eropa mampu membuat kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dengan memprioritaskan pendidikan. Cina mampu menguasai teknologi

Penulis adalah Alumni Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas

P

(2)

dengan tidak meninggalkan budaya lokalnya. Negera-negara tetangga semisal Malaysia, Singapura maupun Brunei dapat memajukan secara kuantitas dan kualitas infrastruktur penunjang-pendidikan yang demikian dinamis. Padahal di era tahun 1960-an, mereka masih banyak “mengekspor” tenaga pendidik di negara ini. Kemajuan pun dapat dilihat ketika Islam telah menoreh sejarah peradaban yang panjang dengan masa kejayaannya di tanah Baghdad, Andalusia (Spanyol) dan sekitarnya. Pada saat itu ilmu pengetahuan mendapatkan ruang yang luas di kalangan masyarakat. Para tokoh dan cendikiawan muslim bermunculan, bahkan tidak jarang pada saat itu seorang ahli agama (alim-ulama) juga terkenal sebagai seorang saintis. Ilmu pengetahuan pada waktu itu berkembang sangat pesat karena pemerintah sangat memperioritaskan pendidikan, sehingga hasilnya bisa dilihat yakni kemajuan dalam segala bidang. Demikianlah sedikit gambaran kemajuan bahkan kejayaan yang dihasilkan karena memperioritaskan ilmu pengetahuan (baca: pendidikan).

Dalam masyarakat yang dinamis, pendidikan memegang peranan yang menentukan eksistensi dan perkembangan masyarakat tersebut. Oleh karena itu, pendidikan merupakan usaha melestarikan, mengalihkan serta mentransformasikan nilai-nilai kebudayaan dalam segala aspeknya dan jenisnya kepada generasi penerus. Demikian pula halnya dengan peranan pendidikan yang merupakan salah satu bentuk manifestasi dari cita-cita hidup Islam untuk melestarikan, mengalihkan dan menanamkan (internalisasi) dan mentransformasikan nilai-nilai Islam kepada pribadi generasi

penerusnya, sehingga nilai-nilai cultural-religious yang

dicita-citakan tetap berfungsi dan berkembang dalam masyarakat dari waktu-kewaktu.

Pendidikan dengan cita-citanya humanizing of human being

menjadi satu kunci untuk merubah segala bentuk keterbelakangan baik intelektual maupun moral. Pendidikan memiliki peran dalam meningkatkan kualitas manusia dalam segala aspeknya, karena itu tugas pendidikan adalah tugas kemanusiaan seperti yang

(3)

diungkapkan di atas, yaitu bagaimana memanusiakan manusia agar mencapai harkatnya secara utuh, maksudnya bagaimana mengembangkan potensi yang dimiliki oleh anak didik agar dapat hidup sesuai dengan fitrahnya. Hal tersebut senada dengan rumusan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam sistem pendidikan nasional (SISDIKNAS) UU RI No. 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 yang menyatakan:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”1

Namun belakangan cita-cita luhur tersebut hanya menjadi sebatas ungkapan pemenuh otak saja. Pendidikan yang idealnya diharapkan dapat membentuk seseorang menjadi pribadi-pribadi yang unggul secara mental dan spiritual ternyata tidak mampu menjalankan perannya tersebut.

Begitu banyaknya permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan. Dimulai dari profesionalisme guru dalam mengajar, sistem pendidikan, bahkan kurikulum yang terkesan bongkar-pasang. Semua problem yang terjadi membuat pendidikan saat ini menjadi carut-marut. Ketika disoroti semua elemen atau komponen pendidikan, maka setiap komponen tersebut akan menampakkan penyakitnya tersendiri.

Tilaar dalam sejarah Pendidikan Islam menyebutkan

sedikitnya ada delapan masalah pokok sistem pendidikan nasional, yakni:

“1) menurunnya moral dan akhlak peserta didik; 2) pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan pemerataan kualitas

1

Tim Penulis, UU RI Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen & UU RI

(4)

pendidikan; 3) rendahnya mutu pendidikan diberbagai jenjang dan jenis pendidikan; 4) masih rendahnya efisiensi internal sistem pendidikan nasional; 5) masih rendahnya efisiensi eksternal sistem pendidikan dan pelatihan; 6) kelembagaan pendidikan dan pelatihan; 7) manajemen pendidikan yang tidak sejalan dengan pembangunan nasional; dan 8) sumber daya yang belum profesional.”2

Sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Tilaar tersebut, sesuai dengan apa yang menjadi fokus kajian dalam penelitian ini yaitu merosotnya nilai-nilai moral dan akhlak peserta didik. Kemerosotan nilai-nilai moral yang berujung pada banyaknya tindakan-tindakan yang meresahkan seperti kenakalan remaja, budaya mabuk-mabukkan, free sex, tawuran antar pelajar, pembunuhan dan aksi-aksi kejahatan lainnya yang melibatkan para pelajar, menjadi kehawatiran tersendiri. Sehingga semua pihak baik lembaga pendidikan, orang tua, negara, dan lembaga kemasyarakatan mulai memandang betapa perlunya sebuah rekonstruksi dalam bidang pendidikan, sebab manusia dewasa ini yang dihasilkan dari hasil pendidikan formal ternyata tidak mampu menghidupi gerak dan dinamika masyarakat yang lebih membawa berkah dan kebaikan bagi semua orang. Berdasarkan realita di lapangan itulah pendidikan karakter menjadi isu yang sangat hangat diperbincangkan terlebih sejak dicanangkan oleh pemerintah Susilo Bambang Yudoyono (SBY) dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional, pada 2 Mei 2010. Asumsi yang mengatakan bahwa salah satu penyebab merosotnya moral bangsa tersebut adalah lemahnya pendidikan karakter.

Sisi lain dari pencangan pendidikan karakter adalah adanya kesan kegagalan dari pencanangan Pendidikan Agama Islam,

PKN/KWN/Civic, dan pendidikan akhlak yang telah berjalan

berpuluh-puluh tahun dalam sistem pembelajaran di sekolah.

Pendidikan karakter dalam penerapnnya di beberapa wilayah semisal Thailand, dapat dikatakan mampu membentuk

2

Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia (Jakarta: Kencana,2008), h. viii.

(5)

karakter/sikap hidup yang lebih baik bagi pelakunya. Namun, dengan tidak menapikan keberadaan konsep baru yang ditawarkan pemerintah, perlulah setidaknya merespon secara kritis mengenai isu pendidikan karakter dalam Islam. Hal tersebut mengingat dalam tradisi pendidikan Islam, pendidikan akhlak telah melampaui batas kesempurnaan dan keampuhannya dalam membentuk tatanan masyarakat yang harmonis pada masa profetik. Pendidikan akhlak merupakan konsep ideal untuk membangun pribadi dan masyarakat ke arah perbaikan moral. Namun, ternyata pemerintah menyuguhkan sesuatu yang baru untuk diterapkan dalam sistem pendidikan sekarang.

Dalam konteks kekinian, pelajaran Pendidikan Agama Islam atau Pendidikan Akidah Akhlak masih mewarnai kurikulum pendidikan, yang memfokuskan pada pembentukan karakter atau akhlak yang mulia. Namun, meskipun kedua mata pelajaran tersebut telah terintegral di sekolah-sekolah umum maupun madrasah, tetap saja mata pelajaran tersebut ternyata belum mampu menjawab dan tanggap terhadap berbagai persoalan yang ada. Hal ini dapat dilihat dari adanya upaya pemerintah untuk mencanangkan kembali sebuah konsep baru yang diharapkan dapat memperbaiki kerusakan-kerusakan yang ada yakni pendidikan karakter itu sendiri. Di sisi lain, seperti yang diketahui bahwa

dalam tradisi pendidikan di Indonesia, ada satu term yang cukup

populer di kalangan masyarakat yakni Pendidikan Islam, yang secara normatif sarat dengan nilai-nilai transendental-ilahiah di samping insaniah. Ahmad D. Marimba membagi tujuan Pendidikan Islam menjadi dua tujuan yaitu tujuan sementara dan tujuan akhir.

“Tujuan sementara di sini maksudnya adalah tercapainya berbagai kemampuan seperti kecakapan jasmaniah, pengetahuan membaca, menulis, pengetahuan ilmu-ilmu kemasyarakatan, kesusilaan, keagamaan, kedewasaan jasmani-rohani. Sedangkan tujuan akhir pendidikan Islam yaitu terwujudnya kepribadian muslim yakni

(6)

kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya merealisasikan atau mencerminkan ajaran Islam.”3

Tujuan dari pendidikan Islam tersebut secara tersurat sudah memberikan kesan bahwa dalam pendidikan Islam, selain tercapainya keterampilan-keterampilan tertentu, juga yang menjadi fokus dari sebuah proses pendidikan itu sendiri adalah pembentukan karakter yang tercermin dalam perbuatan atau tingkah laku yang baik. Hal tersebut dapat dilihat dari tujuan akhir pendidikan Islam yang disebutkan yakni terwujudnya kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya merealisasikan atau mencerminkan ajaran Islam. Seluruh aktifitas dalam kehidupan yang mencerminkan ajaran Islam, merupakan hasil akhir dari serangkaian kegiatan pendidikan yang menumbuhkembangkan potensi jasmani dan rohani seseorang. kegiatan atau proses pendidikan yang berjalan secara dinamis sesuai dengan perkembangan anak, menunjukkan adanya aspek-aspek dalam rangka pembentukan manusia ke arah yang lebih baik, yakni dalam sikap, keterampilan, dan perbuatan seseorang. kegiatan mendidik tidak hanya terbatas pada kegiatan didaktis yang mencerminkan pengajaran antara guru dan murid dalam kelas, tetapi kegiatan mendidik menyentuh hal-hal yang lebih substansial, yakni bagaimana seseorang dapat memiliki kepribadian muslim yang mampu menjadi motor penggerak dari setiap perbuatan baik yang dilakukan, yang mencerminkan keyakinan agama (Islam) yang kuat. Hal tersebut senada dengan apa yang diharapkan dari pencanangan pendidikan karakter oleh pemerintah. Inti dari pembangunan karakter adalah terwujudnya sikap hidup yang baik dari adanya seperangkat nilai yang diyakini, dan pendidikan Islam pun menghendaki hal serupa dengan tujuan pendidikan karakter tersebut.

3

Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam (IPI) 1 (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2005), h. 30.

(7)

Istilah Pendidikan Karakter, Pendidikan Akhlak, Pendidikan Etika, Pendidikan Agama Islam ataupun Pendidikan Budi Pekerti, pada dasarnya memiliki esensi tujuan yang sama, yakni untuk memperbaiki karakter atau memperbaiki akhlak seseorang. Namun, saat ini pemerintah menggunakan istilah pendidikan karakter dalam menjawab tantangan dari bobroknya moral bangsa. Tentunya program pemerintah ini dicanangkan dengan adanya landasan teoritik dan konsep yang jelas mengenai keabsahan atau keampuhan dari suatu teori pendidikan.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka penulis tertarik untuk

mengangkat tema tersebut dengan judul Bagaimana dasar

normatif-filosofis pendidikan karakter perspektif Islam? Bagaimana implementasi nilai-nilai pendidikan karakter dalam pendidikan akhlak? Bagaimana implikasi pendidikan karakter terhadap pendidikan akhlak di madrasah?

Analisis Silabus Pendidikan Akidah Akhlak dalam Sistem Pembelajaran di Sekolah

Analisis nilai dalam silabus yang digunakan dalam kurikulum pembelajaran di sekolah, bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai karakter yang tertuang dalam pendidikan akidah akhlak. Secara umum materi yang dibahas dalam pendidikan akidah akhlak, terdiri dari dua fokus pembahasan yakni tema akidah dan akhlak.

1. Analisis Nilai dalam Silabus Madrasah Ibtidaiyah (MI)

a. Silabus Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kelas I berdasarkan kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)4

Susunan materi pembahasan pada semester I terdiri dari:

1) Rukun iman;

2) Syahadat tauhid dan rasul;

4

Wiyadi, MODEL Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP): Membina Akidah dan Akhlak 1 Untuk Kelas I Madrasah Ibtidaiyah

(8)

3) Asmaul husna: al-wahid dan al-khaliq;

4) Berakhlak terpuji dan beradab islami meliputi: akhlak terpuji

bagi diri-sendiri (hidup bersih, kasih sayang, dan rukun), serta adab dalam mandi dan berpakaian dalam kehidupan sehari-hari;

5) Menghindari akhlak tercela: hidup kotor.

Susunan materi pembahasan pada semester II terdiri dari:

1) Memahami kalimat tayibah (basmallah);

2) Asmaul husna: ar-rahman, ar-rohim, as-sami’, melalui kisah

nabi sulaiman;

3) Berakhlak terpuji dan beradab islami yakni: akhlak kepada

orang tua, guru, dan teman. Serta pembahasan akhlak tentang cara berterima kasih, hormat, dan menyayangi;

4) Berakhlak terpuji dan beradab Islami yakni adab dalam

belajar, bermain, makan, dan minum;

5) Menghindari akhlak tercela: berbicara kotor dan bohong.

b. Silabus Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kelas II berdasarkan kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)5

Susunan materi pembahasan pada semester I terdiri dari:

1) Beriman kepada Allah melalui pemahaman terhadap kalimat

tayibah (hamdalah);

2) Asmaul husna (as-syakur, al-hamid, al-musni, dan ar-raziq);

3) Shalat 5 waktu sebagai wujud beriman kepada Allah;

4) Akhlak terpuji dan beradab islami yakni: akhlak syukur

nikmat, hidup sederhana, dan rendah hati. Serta adab dalam berpakaian, makan, minum, dan bersih;

5) Menghindari akhlak tercela (sombong), melalui kisah masa

kecil Nabi Muhammad.

5

Wiyadi, MODEL Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP): Membina Akidah dan Akhlak 2 Untuk Kelas II Madrasah Ibtidaiyah

(Solo: PT.Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2009), h. 1-13.

(9)

Susunan materi pembahasan pada semester II terdiri dari:

1) Memahami kalimat Tayibah (Lafaz tasbih);

2) Asmaul husna: qudus, as-somad, muhaimin, dan

al-badi’;

3) Akhlak terpuji dan beradab islami meliputi: jujur, rajin, dan

percaya diri serta pembahasan adab islami: adab dalam belajar, mengaji, dan bermain;

4) Mengindari akhlak tercela (malas) melalui kisah masa

remaja Nabi Muhammad.

c. Silabus Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kelas III berdasarkan kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)6

Susunan materi pembahasan pada semester I terdiri dari:

1) Memahami kalimat tayibah (maasya-Allah);

2) Sifat Allah dalam asmaul husna: karim, halim, dan

al-musyawir;

3) Mengenal malaikat Allah;

4) Membiasakan akhlak terpuji meliputi: rendah hati, santun,

ikhlas, dan dermawan, serta akhlak terhadap orang tua melalui kisah Nabi Ismail;

5) Menghindari akhlak tercela: bodoh, pemarah, kikir, dan

boros.

Susunan materi pembahasan pada semester II terdiri dari:

1) Memahami kalimat tayibah (taawuz);

2) Sifat Allah dalam asmaul husna: bathin, wahiy,

al-muhib, al-wahab;

3) Beriman kepada makhluk gaib selain malaikat (jin dan

setan);

6

Wiyadi, MODEL Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP): Membina Akidah dan Akhlak 3 Untuk Kelas III Madrasah Ibtidaiyah

(10)

4) Akhlak terpuji meliputi: rukun dan suka menolong, serta akhlak terpuji terhadap saudara;

5) Akhlak tercela: khianat, iri, dan dengki melalui kisah

kelicikan saudara nabi yusuf.

d. Silabus Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kelas IV berdasarkan kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)7

Susunan materi pembahasan pada semester I terdiri dari:

1) Kalimat tayibah (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un);

2) Asmaul husna: al-‘azim, al-hadi, al-adlu, dan al- hakam;

3) Beriman kepada kitab-kitab Allah;

4) Akhlak terpuji meliputi: hormat, patuh, sabar, dan tabah

dalam menghadapi cobaan;

5) Akhlak tercela melalui kisah Sa’labah.

Susunan materi pembahasan pada semester II terdiri dari:

1) Kalimat tayibah (asalamualikum warahmatullahi

wabarokatuh);

2) Asmaul husna: as-salam, al-mu’min, dan al-latif;

3) Beriman kepada rasul Allah;

4) Akhlak terpuji meliputi: siddiq, amanah, tablig, fatanah dan

Akhlak terpuji pada teman;

5) Akhlak tercela: munafik.

e. Silabus Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kelas V berdasarkan kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)8

Susunan materi pembahasan pada semester I terdiri dari:

7

Wiyadi, MODEL Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP): Membina Akidah dan Akhlak 4 Untuk Kelas IV Madrasah Ibtidaiyah

(Solo: PT.Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2009), h. 1-10.

8

Wiyadi, MODEL Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP): Membina Akidah dan Akhlak 5 Untuk Kelas V Madrasah Ibtidaiyah

(Solo: PT.Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2009), h. 1-10.

(11)

1) Memahai kalimat tayibah (allahu akbar);

2) Asmaul husna: ar-razaq, fatah, asy-syukur, dan

al-mughni;

3) Beriman kepada hari akhir (kiamat);

4) Akhlak terpuji meliputi: sikap optimis, qanaah, dan tawakal,

serta akhlak ketika di tempat ibadah dan umum;

5) Akhlak tercela: sifat pasimis, bergatung, dan putus asa

dalam hidup sehari-hari.

Susunan materi pembahasan pada semester II terdiri dari:

1) Akhlak tayibah (tarji’);

2) Asmaul husna: al-muhyi’, al-mumit, dan al-baqi;

3) Akhlak terpuji meliputi: teguh pendirian dan dermawan,

serta akhlak dalam bertetangga dan bermasyarakat;

4) Akhlak tercela (kikir dan serakah) melalui kisah Qarun.

f. Silabus Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kelas VI berdasarkan kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)9

Susunan materi pembahasan pada semester I terdiri dari:

1) Kalimat Tayibah (Astagfirullahal-‘azim);

2) Asmaul Husna: al-Qawiyy, al-Hakim, al-Musawwir;

3) Beriman kepada takdir Allah (Qada’ dan Qadar);

4) Akhlak terpuji: tanggung jawab, adil, dan bijaksana;

5) Akhlak tercela: Marah, fasiq, dan murtad.

Susunan materi pembahasan pada semester II terdiri dari:

1) Kalimat Tayibah (Tobat);

2) Asmaul Husna: al-Gafur, al-Afuww, as-Sabur, al-Halim;

3) Akhlak terpuji meliputi: sabar dan tobat, yang tertuang

dalam kisah Nabi Ayub dan Adam, serta akhlak terpuji terhadap binatang dan tumbuhan.

9

Wiyadi, MODEL Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP): Membina Akidah dan Akhlak 6 Untuk Kelas VI Madrasah Ibtidaiyah

(12)

Susunan materi yang tertuang dalam silabus MI pada kelas I-VI secara garis besar memuat masalah akidah dan akhlak. Aspek akidah banyak menyinggung tentang keimanan, baik keimanan kepada Allah, rasul, kitab, malaikat, hari akhir/alam gaib, qada’dan qadar, juga materi tentang kalimat-kalimat tayibah yang ditujukkan untuk meningkatkan keimanan seperti; kalimat tayibah basmallah, hamdalah, tasbih, maasya-Allah, taawuz, takbir, tarji’, salam, dan istighfar/taubat.

Aspek akhlak terbagi menjadi dua pembahasan, yakni akhlak terpuji dan tercela. Nilai-nilai karakter dapat ditemukan dalam pembahasan mengenai akhlak terpuji. Ruang lingkup materi pembahasan yang disajikan dalam aspek akhlak terpuji meliputi akhlak terpuji terhadap diri sendiri, orang lain (orang tua, saudara, guru, teman, tetangga, dan masyarakat), tumbuhan, dan binatang. Sedangkan kandungan isi akhlak terpuji yang menjadi nilai karakter adalah; kasih sayang, rukun, bersih, hormat, patuh, suka berterimakasih, hidup sederhana, rendah hati, syukur nikmat, jujur, rajin, percaya diri, santun, ikhlas, dermawan, suka menolong, optimis, qana’ah, tawakal, teguh pendirian, tanggung jawab, adil, bijaksana, sabar, siddiq, amanah, tablig, dan fatanah. Dalam pembahasan adab/etika, materi yang disajikan adalah; adab ketika mandi, berpakaian, makan, minum, bersin, belajar, mengaji, bermain, ketika ditempat ibadah, dan umum.

Sedangkan kandungan isi dalam pembahasan akhlak tercela meliputi; hidup kotor, berbicara kotor, bohong, sombong, malas, bodoh, pemarah, kikir, boros, khianat, iri, dengki, serakah, pesimis, putus asa, bergantung pada orang lain, munafik, marah, fasiq dan murtad.

Pembahasan asmaul husna yang ditujukkan untuk meningkatkan keimanan kepada Allah, dapat juga masuk dalam pembahasan akhlak, karena semua sifat/perilaku baik bersumber dari sifat-sifat Allah. Sebagaimana yang diyakini oleh Ari Ginanjar bahwa pada dasarnya semua sifat baik/perilaku baik bermuara pada sifat-sifat Allah dalam 99 asmaul husna. Kandungan isi dalam

(13)

pembahasan asmaul husna pada tingkat MI adalah; Rahman, ar-Rahim, as-Sami’, as-Syukur, Hamid, Mugni, ar-Raziq, Qudus, as-Somad, Muhaimin, Badi’, Karim, Halim, Musawwir, Bathin, Waliy, Muhib, Wahab, Fattah, al-Muhyi, al-Mumit, al-Baqi’, al-‘Azim, al-Hadi, al-Adlu, al-Hakam, as-Salam, Mu’min, Latif, Qowwiy, Hakim, Qodir, al-Gafur, al-‘Afuww, dan as-Sabur.

2. Analisis Nilai dalam Silabus Madrasah Tsanawiyah (MTs) a. Silabus Madrasah Tsanawiyah (MTs) Kelas VII

berdasarkan kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)10

Susunan materi pembahasan pada semester I terdiri dari:

1) Dasar dan tujuan akidah Islam: iman, Islam, ihsan;

2) Keimanan kepada Allah melalui sifat-sifat wajib Allah

(nafsiyah, salbiyah, ma’ani, ma’nawiyah, serta sifat-sifat mustahil dan jaiz;

3) Akhlak terpuji kepada Allah: Ikhlas, taat, khauf, dan tobat.

Susunan materi pembahasan pada semester II terdiri dari:

1) Asmaul Husna: al-‘Aziz, al-Ghaffar, al-Basit, an-Nafi’,

ar-Ra’uf, al-Barr, al-Hakim, al-Fattah, al-‘Adl, dan al-Qayyum;

2) Keimanan kepada malaikat Allah dan Makhluk Gaib selain

Malaikat seperti Jin, Iblis, dan setan;

3) Akhlak tercela kepada Allah: Ria’ dan Nifak.

10

T. Ibrahim & H. Darsono, MODEL Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP): Membina Akidah dan Akhlak 1 Untuk Kelas VII Madrasah Tsanawiyah (Solo: PT.Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2009), h.

(14)

b. Silabus Madrasah Tsanawiyah (MTs) Kelas VIII berdasarkan kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)11

Susunan materi pembahasan pada semester I terdiri dari:

1) Keiman kepada kitab-kitab Allah;

2) Akhlah terpuji kepada diri-sendiri: Tawakal, ikhtiar, sabar,

syukur, dan qanaah;

3) Akhlak tercela pada diri-sendiri: Ananiah, putus asa, gadab,

tamak, dan takabur.

Susunan materi pembahasan pada semester II terdiri dari:

1) Keimanan kepada Rasul-rasul Allah;

2) Mukjizat dan kejadian luar biasa lain: karamah, maunah, dan

irhas;

3) Akhlak terpuji kepada sesama: Husnuzan, tawaduk,

tasamuh, dan taawun;

4) Akhlak tercela kepada sesama manusia: Hasad, dendam,

gibah, fitnah, dan namimah.

c. Silabus Madrasah Tsanawiyah (MTs) Kelas IX berdasarkan kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)12

Susunan materi pembahasan pada semester I terdiri dari:

1) Iman kepada hari akhir dan alam ghaib yang berhubungan

dengan hari akhir;

11

T. Ibrahim & H. Darsono, MODEL Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP): Membina Akidah dan Akhlak 2 Untuk Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah (Solo: PT.Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2009), h. 1-8.

12

T. Ibrahim & H. Darsono, MODEL Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP): Membina Akidah dan Akhlak 3 Untuk Kelas IX Madrasah Tsanawiyah (Solo: PT.Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2009), h. 1-6.

(15)

2) Akhlak terpuji pada diri-sendiri: beriman, kerja keras, kreatif, dan produktif.

Susunan materi pembahasan pada semester II terdiri dari:

1) Iman kepada Qada’ dan Qadar;

2) Akhlak terpuji dalam pergaulan remaja.

Susunan materi yang tertuang dalam silabus MTs pada kelas VII-IX secara garis besar memuat masalah akidah dan akhlak.

Aspek akidah berbicara mengenai arkanul iman dengan perincian

pembahasan; materi tentang dasar dan tujuan akidah (iman, Islam, ihsan), sifat wajib, mustahil, dan ja’iz bagi Allah, iman kepada malaikat dan makhluk ghaib, iman kepada kitab Allah, iman kepada rasul Allah, pembahasan mengenai mukjizat, karamah, ma’unah, dan irhas, iman kepada hari kiamat, iman kepada qada’ dan qadar.

Pembahasan mengenai ruang lingkup akhlak terpuji dibagi menjadi empat yakni; akhlak terpuji kepada Allah, diri sendiri, sesama manusia, dan akhlak dalam pergaulan remaja.

Nilai-nilai karakter yang dapat ditemukan dalam aspek akhlak diantaranya; dalam pembasan akhlak kepada Allah terdiri dari ikhlas, taat, khauf dan tobat. Akhlak kepada diri sendiri meliputi tawakal, ikhtiar, sabar, syukur, qanaah, berilmu, kerja keras, kreatif, dan produktif. Akhlak kepada sesama manusia meliputi husnuzan, tawadu’, tasamuh, dan taawun.

Ruang lingkup pembahasan mengenai akhlak tercela terbagi menjadi tiga yakni akhlak tercela kepada Allah dengan pembahasan ria’ dan nifak. Akhlak tercela pada diri sendiri meliputi ananiah, putus asa, gadab, tamak, dan takabur. Akhlak tercela pada sesama manusia meliputi hasad, dendam, gibah, fitnah, namimah.

Pembahasan asmaul husna hanya diajarkan pada kelas VII semester I dengan materi pembahasan ‘Aziz, Ghaffar, al-Basit, an-Nafi’, ar-Ra’uf, al-Barr, al-Hakim, al-Fattah, al-‘adl, dan al-Qayyum.

(16)

a. Silabus Madrasah Aliyah (MA) Kelas X berdasarkan kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)13

Susunan materi pembahasan pada semester I terdiri dari:

1) Prinsip-prinsip dan metode peningkatan kualitas akidah;

2) Tauhid;

3) Syirik dalam Islam;

4) Akhlak dan metode meningkatkan kualitas akhlak.

Susunan materi pembahasan pada semester II terdiri dari:

1) Asmaul Husna: Muqsid, waris, an-nafi’, bashit,

al-hafidz, al-walyi, al-wadad, ar-rafi’, al-muis, al-afwaw;

2) Perilaku terpuji: husnuzan dan taubat;

3) Perilaku tercela: Riya’, aniaya, diskriminasi.

b. Silabus Madrasah Aliyah (MA) Kelas XI berdasarkan kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)14

Susunan materi pembahasan pada semester I terdiri dari:

1) Ilmu kalam;

2) Aliran ilmu kalam dan tokoh-tokohnya;

3) Perilaku terpuji: akhlak berpakaian, berhias, perjalanan,

bertamu, dan menerima tamu;

4) Menghindari perilaku tercela: dosa besar (mabuk-mabukan,

berjudi, berzina, mencuri, dan konsumsi narkoba).

Susunan materi pembahasan pada semester II terdiri dari:

1) Tasawuf;

2) Perilaku terpuji: adil, ridha, amal shalih, persatuan, dan

kerukunan;

3) Perilaku terpuji: akhlak terpuji dalam pergaulan remaja;

2) perilaku tercela: ishraf, tabdzir, dan fitnah.

13

Direktorat Pendidikan, Model Kurikulum…, h. 31-32.

14

Ibid., h. 33-34.

(17)

Kandungan isi materi pelajaran akidah akhlak dalam tingakt MA (Madrasah Aliyah) meliputi dua pokok pembahasan yakni akidah dan akhlak. dalam aspek akidah materi yang disajikan adalah; prinsip dan metode pningkatan kualitas akidah, tauhid, syirik, ilmu kalam dengan pembahasan aliran-aliran dan tokoh-tokohnya, dan terakhir membahas masalah tasawuf.

Ruang lingkup aspek akhlak terbagi menjadi dua, yakni akhlak terpuji dan tercela. Materi akhlak terpuji yang disajikan adalah husnuzan dan bertaubat, adil, ridha, amal shaleh, persatuan dan kerukunan. Adapun yang dapat dikategorikan sebagai adab Islami meliputi pembahasan adab dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu, menerima tamu, dalam pergaulan remaja. Materi mengenai akhlak tercela meliputi; riya’, aniaya, diskriminasi, mabuk-mabukan, berjudi, zina, mencuri, mengkonsumsi narkoba, ishraf, tabzir dan fitnah.

Demikianlah pemaparan mengenai content dari materi

pembelajaran akidah akhlak pada tingkat MI-MA. Adapun mengenai perincian nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan akidah akhlak yang tertuang dalam silabus sebagai berikut:

Tabel 3. Pemetaan nilai-nilai akhlak dalam silabus mata pelajaran akidah akhlak

SILABUS AKIDAH AKHLAK Ruang Lingkup

Akhlak

Kelas Nilai-nilai yang dikembangkan

1. Diri sendiri 2. Sesama manusia

(orang tua, guru, saudara, teman, tetangga, dan masyarakat MI/ I-VI 1. Kasih sayang 2. Rukun 3. Hidup bersih 4. Hormat 5. Santun 6. Patuh 7. Suka berterimakasih 8. Hidup sederhana 9. Rendah hati 10. Syukur

(18)

3. Tumbuhan dan binatang (alam) 11.Jujur 12.Rajin 13.Percaya diri 14. Ikhlas 15. Dermawan 16. Suka menolong 17. Optimis 18. Qana’ah 19. Tawakal 20. Teguh pendirian 21. Bertanggung jawab 22. Adil 23. Bijaksana 24. Sabar 25. Siddiq 26. Amanah 27. Tabligh 28. fathonah 1. Allah 2. Diri sendiri 3. sesama manusia MTs/ VII-IX 1. Ikhlas 2. Taat 3. Khauf 4. Tobat 5. Tawakal 6. Ikhtiar 7. Sabar 8. Syukur 9. Qana’ah 10. Berilmu 11. Kerja keras 12. Kreatif 13. Produktif 14. Husnuzan 15. Tawadu’ 16. Tasamuh 17. Ta’awun Allah Sesama manusia MA/ X-XI 1. Husnuzan 2. Bertobat 3. Ridha 4. Adil 5. Amal shaleh 6. Persatuan 7. Rukun

Berdasarkan pemetaan nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan akhlak, dapat ditemukan adanya persamaan nilai yang juga menjadi kandungan isi dari pengembangan nilai-nilai dalam pendidikan karakter. Dalam silabus mata pelajaran akidah akhlak terdapat 56 nilai yang dikembangkan, dalam kerangka yang

mengacu kepada pembentukan kepribadian yang baik (akhlakul

karimah) dari tingkat sekolaah MI-MA. Namun, walaupun

jumlahnya 56 ada beberapa nilai yang diajarakan sama pada tingkat MI, MTs, dan MA yakni 7 nilai (rukun, rendah hati/qana’ah, syukur, ikhlas, tawakal, adil, dan sabar) sehingga nilai tersebut berjumlah 37. Dari ke-37 nilai tersebut yang memiliki kesamaan dengan nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter

(19)

berjumlah 14 nilai yakni: adil, baik, bergaya hidup bersih/sehat, fathonah (berpikir inovatif, kritis, logis), bertanggung jawab, cinta/kasih sayang, dapat dipercaya/amanah, hormat, jujur, kerja keras, patuh, percaya diri, rendah/murah hati, dan toleransi/tasamuh.

Catatan akhir

Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan beberapa pokok permasalahan sebagai berikut:

1. Dalam tataran institusi/lembaga sekolah terdapat nilai-nilai

pendidikan karakter yang memiliki kesamaan dengan nilai yang dikembangkan dalam pendidikan Islam khususnya pendidikan akhlak. Berdasarkan hasil analisis silabus mata pelajaran akidah akhlak nilai tersebut hanya berjumlah 14 nilai, yakni: adil, baik, bergaya hidup bersih/sehat, fathonah (berpikir inovatif, kritis, logis), bertanggung jawab, cinta/kasih sayang, dapat dipercaya/amanah, hormat, jujur, kerja keras, patuh, percaya diri, rendah/murah hati, dan toleransi/tasamuh. Sedangkan jumlah nilai karakter berdasarkan pendapat para pakar pendidikan berjumlah 47 nilai, dan untuk nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan akhlak berjumlah 68 nilai. Hal ini berarti, wilayah kajian nilai yang menjadi fokus dalam pendidikan akhlak lebih luas daripada pendidikan karakter. Adapun secara

umum nilai-nilai akhlak yang sama dan juga menjadi content

dari pendidikan karakter berjumlah 20 nilai yakni: jujur, disiplin, adil, setia, baik, cinta/kasih sayang, kesucian diri, murah/rendah hati, sopan-santun, berani, persatuan, hormat, amanah, fathonah (berpikir inovatif, kritis, dan logis), bertanggung jawab, hidup sehat/bersih, patuh, percaya diri, kerja keras, dan toleransi.

2. Dasar normatif-filosofis pembangunan karakter dalam perspektif

Islam dapat ditemukan dalam ayat al-Qur’an surat al-Ahzab (33): 21 dan surat al-Qalam (68): 4, serta hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Sunannya. Ayat al-Qur’an tersebut

(20)

menjelaskan tentang sosok Nabi Muhammad SAW sebagai pribadi yang menjadi simpul akhlak mulia, yang dapat dipedomani umat muslim dalam menjalani kehidupannya. Sedangkan hadis riwayat Ahmad menginformasikan tentang misi diutusnya Nabi Muhammad sebagai penyempurna akhlak manusia.

3. Relevansi pendidikan karakter dengan pendidikan akhlak dapat

dilihat melalui dua sudut pandang. Pertama dilihat dari segi teori-konseptual, dan kedua dapat dilihat dari segi realita-empiris. Dari segi teori-konseptual menjelaskan bahwa antara istilah karakter dan akhlak yang digunakan dalam konteks pendidikan memiliki makna yang sama. Makna kedua istilah tersebut merujuk kepada seperangkat nilai-nilai yang tertanam dalam jiwa, yang menjadi dasar/pedoman dari setiap pikiran, perkataan, sikap, dan perbuatan seseorang. Tujuan dicanangkannya pendidikan karakter juga merupakan tujuan dari pendidikan akhlak yakni untuk menumbuhkembangkan karakter yang bermuara kepada pembentukan sikap hidup yang baik atau

dengan bahasa sederhana membentuk akhlakul karimah (akhlak

yang baik). Sedangkan pendidikan karakter pada tataran realita-empiris dapat dikatakan merupakan elaborasi dari pendidikan akhlak. Dalam arti, dalam praktik penerapannya di institusi/kelembagaan sekolah, pencanangan pendidikan karakter

tidak berbentuk mata pelajaran yang berdiri sendiri (otonom)

seperti mata pelajaran akidah akhlak. Melainkan spirit nilai-nilai dari pendidikan karakter masuk di semua jenis mata pelajaran, entah mata pelajaran umum/eksak maupun mata pelajaran keagamaan. Penerapanya yang lebih terstruktur dicanangkan melalui tiga wilayah sebagai medium dalam mengimplementasikan pendidikan karakter yakni melalui kegiatan pembelajaran dikelas, ekstrakurikuler, dan budaya sekolah. Pada kegiatan pembelajaran dikelas wujud pendidikan karakter dapat dilakukan dalam PBM, dengan menciptakan kegiatan didaktis yang memungkinkan peserta didik terlatih

(21)

untuk mengaktualisasikan seperangkat nilai yang sudah direncanakan guru akan diterapkan selama pembelajaran. Selain hal tersebut, wujud pendidikan karakter juga berupa keteladanan yang diberikan oleh guru. Dalam ekstrakurikuler diprogramkan kegiatan-kegiatan yang mampu menumbuhkan minat dan kepemilikan nilai-nilai karakter disiplin, hormat, percaya diri, tanggung jawab dan nilai karakter lainnya. Sedangkan pada wilayah budaya sekolah, pihak lembaga merancang budaya

akhlakul karimah yang melibatkan seluruh warga sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid & Dian Andayani. Pendidikan Karakter Perspektif

Islam. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011.

Achmadi. Ideologi Pendidikan Islam: Paradigma Humanisme

Teosentris. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.

Ahmad Tafsir. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung:

PT. Remaja Rosdakarya, 2000.

Alfaqih. Strategi Pendidikan Karakter: Mempertimbangkan Tradisi

Profetik. Mataram: Larispa, 2011.

Al-Ghazali. Mengobati Penyakit Hati: Membenttuk Akhlak Mulia.

Karisma: Bandung, 2000.

Beni Ahmad Saebani & Abdul Majid. Ilmu Akhlak. Bandung: CV.

Pustaka Setia, 2010.

Budi. Ono. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Karya

Agung, 2005.

“Definisi Komparatif” dalam http://www.artikata.com/arti-383319-uraian.html, diambil tanggal 26 Februari 2012.

Departemen Agama RI. al-Quran dan Terjemahnya. Jakarta:

Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al-Qur’an, 1971.

Direktorat Pendidikan Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan

(22)

Pendidikan (KTSP) Madrasah Aliyah. Jakarta: Dirjen Pendidikan Islam Direktorat Pendidikan Madrasah, 2007.

Doni Koesoema Albertus. Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik

Anak di Zaman Global. Jakarta: Grasindo, 2010.

Fatchul Mu’in. Pendidikan Karakter: Konstruksi Teoritik &

Praktik. Jogjakarta: Ar-Ruzz Madia, 2011.

Hendra, “Fungsi Bahasa Dan Kedudukan Bahasa Indonesia”, dalam http://sudrajathendra.wordpress.com/2011/09/30/pengertia n-dan-contoh-paragraf-induktif-deduktif-dan-campuran/), diambil tanggal 9 september 2012, pukul 10:00 WITA.

Ibrahim, T. & H. Darsono. MODEL Silabus dan Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran (RPP): Membina Akidah dan

Akhlak 1 Untuk Kelas VII Madrasah Tsanawiyah. Solo:

PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2009.

, MODEL Silabus dan Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP): Membina Akidah dan Akhlak 2

Untuk Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah. Solo: PT.Tiga

Serangkai Pustaka Mandiri, 2009.

, MODEL Silabus dan Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP): Membina Akidah dan Akhlak 3

Untuk Kelas IX Madrasah Tsanawiyah. Solo: PT.Tiga

Serangkai Pustaka Mandiri, 2009.

Imam Ahmad bin Hanbal. Musnad Ahmad bin Hanbal (Beirut:

Mu’asasatu ar-Risalah, 1995 M/1416 H.

Ismail Thoib. Wacana Baru Pendidikan: Meretas Filsafat

Pendidikan Islam. Mataram: Alam Tara Institute, 2009.

Istighfarotur Rahmaniyah. Pendidikan Etika: Konsep Jiwa dan

Etika Perspektif Ibnu Miskawaih dalam Kontribusinya di

Bidang Pendidikan. Malang: UIN-Maliki Press, 2010.

Jamal Ma’mur Asmani. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan

Karakter di Sekolah. Jogjakarta: DIVA Press, 2011.

Jujun S. Suriasumantri. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer.

(23)

Kementerian Agama RI. Pendidikan, Pembangunan Karakter, dan

Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Lajnah

Pentashihan Mushaf al-Qur’an, 2010.

Lexy J. Moleong. Metode Penelitian Kulaitatif. Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya, 2004.

Maulana Muhammad Ali. Islamologi (Dinul Islam). Jakarta: Darul

Kutubil Islamiyah, 1993.

Mulawarman. Eksistensi Kegiatan Ekstrakurikuler dalam

Membentuk Kepribadian Siswa di Madrasah Aliyah

Negeri 2 Mataram. Skripsi, IAIN Mataram, 2001.

Mulyasa, H. E. Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: Bumi

Aksara, 2011.

Nashruddin al-Albani, M. Ringkasan Shahih Muslim 1. Jakarta:

Pustaka Azzam, 2007.

, Ringkasan Shahih Muslim 2. Jakarta: Pustaka Azzam,

2006.

Nurdiana. Ilmu Alamiah Dasar. Mataram: LKIM, 2011.

Nur Uhbiyati. Ilmu Pendidikan Islam (IPI) 1. Bandung: CV.

Pustaka Setia, 2005.

Roli Abdul Rahman & M. Khamzah. Menjaga Akidah dan Akhlak.

Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2009.

Rosihon Anwar. Akidah Akhlak. Bandung: CV. Pustaka Setia,

2008.

Samsul Nizar. Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah

Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia. Jakarta:

Kencana,2008.

Sanapiah Faisal. Format-format Penelitian Sosial: Dasar-dasar

dan Aplikasi. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1995.

Statistics Center “Data dan Analisis Data” dalam http://pusatstatistik.blogspot.com/feeds/posts/default?order by=updated, diambil tanggal 26 Februari 2010, pukul 9:02 WITA.

Syarif Al-Qusyairi, H. Kamus Akbar: Arab-Indonesia Disertai

(24)

Syekh al-Zarnuji, Etika Belajar Bagi Penuntut Ilmu: Terjemah

Ta’liim al-Muta’allim Thariiq al-Ta’allum, terj. A. Ma’ruf

Asrori. Surabaya: Pelita Duia, 1996.

Umi Chulsum & Windy Novia. Kamus Besar Bahasa Indonesa:

Dilengkapi Panduan Kebahasaan. Surabaya: Kashiko,

2006.

UU RI Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen & UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS. Bandung: Citra Umbara, 2006.

Wirjani. Peranan Eksistensi Lingkungan Sekolah dalam

Menunjang Pembentukan Karakter Siswa di Mts NW Ketangga Kecamatan Suela Lombok Timur Tahun

2009/2010. Skripsi, IAIN Mataram, 2010.

Wiyadi. MODEL Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

(RPP): Membina Akidah dan Akhlak 1 Untuk Kelas I

Madrasah Ibtidaiyah. Solo: PT.Tiga Serangkai Pustaka

Mandiri, 2009.

, MODEL Silabus dan Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP): Membina Akidah dan Akhlak 2

Untuk Kelas II Madrasah Ibtidaiyah. Solo: PT. Tiga

Serangkai Pustaka Mandiri, 2009.

, MODEL Silabus dan Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP): Membina Akidah dan Akhlak 3

Untuk Kelas III Madrasah Ibtidaiyah. Solo: PT. Tiga

Serangkai Pustaka Mandiri, 2009.

, MODEL Silabus dan Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP): Membina Akidah dan Akhlak 4

Untuk Kelas IV Madrasah Ibtidaiyah. Solo: PT. Tiga

Serangkai Pustaka Mandiri, 2009.

, MODEL Silabus dan Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP): Membina Akidah dan Akhlak 5

Untuk Kelas V Madrasah Ibtidaiyah. Solo: PT. Tiga

(25)

, MODEL Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP): Membina Akidah dan Akhlak 6

Untuk Kelas VI Madrasah Ibtidaiyah. Solo: PT.Tiga

Serangkai Pustaka Mandiri, 2009.

Zainal Aqib. Pendidikan Karakter: Membangun Perilaku Positif

Anak Bangsa. Bandung: CV. Yrama Widya, 2011.

Zainuddin, A. & Muhammad Jamhari. Al-Islam 2: Muamalah dan

Akhlaq. Bandung: CV. Pustaka Setia, 1999.

Zubaedi. Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya

Gambar

Tabel 3. Pemetaan nilai-nilai akhlak dalam silabus  mata pelajaran akidah  akhlak

Referensi

Dokumen terkait

Kinerja aparatur di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Polewali Mandar, dalam hal melakukan pelayanan publik pada bidang pembuatan Kartu Tanda Penduduk

Dalam karya seni patung yang ciptakaan oleh penulis medium yang dipergunakan adalah polyester resin dengan teknik modeling tanah liat, hal ini bertujuan untuk

Identifikasi yang telah dilakukan menggunakan analisa 5W1H dan informasi juga diperoleh dengan berbagai media, baik melalui buku, internet, peninjauan langsung

Berdasarkan analisis, perancangan, implementasi dan pengujian yang telah dikemukakan sebelumnya maka dapat diambil kesimpulan dari hasil pengembangan Aplikasi Penentuan Rute

Spesies paling sedikit ditemukan pada suatu habitat disebabkan kurangnya tanaman inang yang menjadi sumber makanan dari kupu-kupu.. Faktor lain yang mempengaruhi

Pada steam boiler, ini akan menjadi reversible tekanan konstan pada proses pemanasan air untuk menjadi uap air, lalu pada turbin proses ideal akan menjadi reversible ekspansi

(1) Asisten Administrasi Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat mempunyai tugas pokok melaksanakan pembinaan dan mengkoordinasikan penyusunan pedoman dan petunjuk teknis

Pendekatan yang digunakan dalam dalam mendesain buku ini meliputi pendekatan secara isi atau konten yang ringan dan mudah dipahami.Pendekatan kedua adalah secara visual,