© Hak cipta ada pada Program Pascasarjana Universitas Dian Nuswantoro
Jl. Imam Bonjol 205-207 Lt.2 Semarang
Dilarang mengutip sebagian ataupun seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun tanpa seijin Program Pascasarjana Universitas Dian Nuswantoro Cetakan pertama : 2003 Cetakan kedua : 2008 Cetakan ketiga : 2011 Penyusun:
Mohamad Sidiq, S.Si, M.Kom (cetakan I) Dr. Stefanus S, M.Kom (cetakan II)
Dr. Stefanus S, M.Kom, Guruh Fajar Sidhik, M.C.S, dan Catur Supriyanto, M.C.S (cetakan III)
Tim Pembahas cetakan pertama: Tim Pembahas cetakan kedua: Dr. Ing. Tech. Vincent Suhartono Dr. Abdul Syukur, MM
Dr. Yuliman Purwanto Dr. -Ing. Tech. Vincent Suhartono Prof. Dr. Wahyu Hardiyanto M. Arief Soeleman, M.Kom Ir. Edi Noersasongko, M.Kom
Dr. St. Dwiarso Utomo, SE., M.Kom., Akt. Edi Mulyanto, S.Si, M.Kom.
Y. Tyas Catur Pramudi, S.Si, M.Kom. H. Himawan, M.Kom.
Dr. Stefanus, M.Kom
Tim Pembahas cetakan ketiga:
Dr. Abdul Syukur, MM Dr. Yuliman Purwanto
Dr. -Ing. Tech. Vincent Suhartono Romi Satria Wahono, M.Eng Y. Tyas Catur Pramudi, S.Si, M.Kom Edi Mulyanto, S.Si, M.Kom.
H. Himawan, M.Kom. Budi Wijayanto, M.Kom
Mulyono, M.Kom Ricardus Anggi P., M.C.S
KATA PENGANTAR Cetakan Pertama
Bagian kedua dari tiga seri buku Panduan Tesis ini adalah buku Petunjuk Penulisan Tesis. Buku ini berisi tentang petunjuk umum media penulisan Tesis, format penulisan Proposal Tesis, format penulisan Buku Tesis, petunjuk penulisan acuan Tesis dan format penulisan Tesis Digital.
Dengan diterbitkan buku Petunjuk Penulisan Tesis ini, diharapkan mahasiswa Program Pascasarjana UDINUS mempunyai gambaran yang jelas dalam menyusun Proposal Tesis maupun dalam menulis Buku Tesis. Bagi para pembimbing, buku ini diharapkan dapat membantu dalam memberikan pengarahan berkaitan dengan redaksional penulisan.
Disamping penjelasan-penjelasan penulisan tesis yang disusun secara sistematis dalam setiap bab, buku ini juga disertai contoh-contoh format penulisan, mulai dari format-format yang ada pada Proposal Tesis, format-format-format-format yang berada dalam Buku Tesis, maupun format-format penulisan Tesis Digital.
Semoga buku Petunjuk Penulisan ini benar-benar bermanfaat dan membantu mahasiswa Program Pascasarjana UDINUS dalam menyusun Tesis.
Semarang, Agustus 2003
Penyusun
KATA PENGANTAR Cetakan Kedua
Berkaitan dengan perkembangan iptek terutama yang berkaitan langsung dengan teknik informatika, perkembangan paradigma metodologi penelitian, dan tuntutan pengguna akan kemudahan penyusunan proposal dan laporan penelitian, maka diperlukan revisi buku petunjuk tesis ini. Bagian kedua dari tiga seri buku Panduan Tesis ini adalah buku Petunjuk Penulisan Tesis. Buku ini berisi tentang petunjuk umum media penulisan Tesis, format penulisan Proposal Tesis, format penulisan Buku Tesis, petunjuk penulisan acuan Tesis dan format penulisan Tesis Digital.
Perubahan tidak dilakukan secara total. Petunjuk yang berkaitan dengan media dan format penulisan tidak dilakukan perubahan karena sudah menjadi budaya selingkung penulisan Tesis di Udinus. Perubahan dilakukan terhadap petunjuk penyusunan proposal dan hasil penelitian yang berupa tesis dengan cara memberikan kejelasan konsep setiap unsurnya dengan disertai contoh. Selain itu terdapat satu bab tambahan di bagian awal buku petunjuk ini yang berupa paradigma metodologi penelitian teknik informatika. Diharapkan dengan terbitnya buku Petunjuk Penulisan Tesis cetakan kedua ini mahasiswa menjadi semakin mudah dalam menyusun proposal maupun membuat laporan hasil penelitiannya. Bagi para pembimbing, buku ini diharapkan dapat membantu dalam memberikan pengarahan dan melakukan kontrol berkaitan dengan konsep- konsep penelitian teknik informatika dan penulisan tesis.
Semarang, Nopember 2008
Penyusun
8
KATA PENGANTAR Cetakan Ketiga
Metodologi Penelitian suatu bidang ilmu selalu berkembang sesuai karakteristiknya, tak terkecuali bidang ilmu Teknik Informatika. Berkaitan dengan hal tersebut dan adanya perubahan konsentrasi pada program studi Teknik Informatika Program Pascasarjana Udinus menjadi Intelligent Systems dan Business Intelligence, maka diperlukan revisi Buku Petunjuk Penulisan Tesis ini. Buku ini berisi tentang petunjuk umum dan filosofi penelitian Teknik Informatika, format penulisan Proposal Tesis, format penulisan Buku Tesis, petunjuk penulisan acuan Tesis, dan format penulisan Tesis Digital.
Di bagian akhir buku ini disertakan pula lembar- lembar Bimbingan dan Konsultasi ke Pembimbing. Penyatuan buku Petunjuk Penulisan dan buku Bimbingan dan Konsultasi ini dimaksudkan agar setiap kali proses bimbingan dilakukan, baik mahasiswa maupun dosen pembimbing, dengan mudah melihat acuannya di buku ini.
Perubahan tidak dilakukan secara total. Petunjuk yang berkaitan dengan media dan format penulisan disesuaikan dengan format IEEE. Selain itu berkas yang dikumpulkan selain Tesis dan Preview Tesis adalah Artikel Ilmiah hasil ringkasan Tesis, Poster Tesis, File Executable Program, Source Code Program, Dokumentasi Program, dan Demo Tesis. Dengan demikian ditambahkan pula format dari berkas tersebut.
Diharapkan dengan terbitnya buku Petunjuk Penulisan Tesis cetakan ketiga ini mahasiswa menjadi semakin mudah dalam menyusun proposal maupun membuat laporan hasil penelitiannya. Bagi para pembimbing, buku ini diharapkan dapat membantu dalam memberikan pengarahan dan melakukan kontrol berkaitan dengan konsep- konsep penelitian teknik informatika dan penulisan tesis.
Pada kesempatan ini penyusun juga mengucapkan terimakasih kepada semua anggota Tim Pembahas yang telah meluangkan waktu dan menyumbangkan pemikirannya bagi kesempurnaan buku pedoman ini.
Semarang, Nopember 2011 Penyusun DAFTAR ISI Halaman HALAMAN SAMPUL 1 HALAMAN JUDUL 2 ACKNOWLEDGMENTS 5 KATA PENGANTAR 6 DAFTAR ISI 9 DAFTAR LAMPIRAN 12
BAB I PARADIGMA METODOLOGI PENELITIAN TEKNIK
INFORMATIKA 13
1.1 Definisi, Konsep, dan Terminologi 13
1.1.1 Teknik Informatika 13
1.1.2 Penelitian dan Kebenaran 13
1.1.3 Metodologi, Metode, dan Teknik Penelitian 14 1.1.4 Pemahaman, Penerapan, Pemutakhiran, dan Penemuan 14
1.2 Bidang Kajian 16
1.3 Metodologi Penelitian Teknik Informatika 18
1.4 Metode Penelitian, Kerangka Penelitian, dan Kerangka Teori 20
BAB II SUSUNAN PROPOSAL TESIS 22
2.1 [Halaman Sampul] 22
2.2 [Halaman Judul] 22
2.3 Pengesahan Proposal Tesis 23
2.4 Abstrak 23
2.5 [Bab-bab Isi Proposal Tesis] 23
A. LATAR BELAKANG 23 B. RUMUSAN MASALAH 26 C. TUJUAN PENELITIAN 26 D. MANFAAT PENELITIAN 26 E. TINJAUAN PUSTAKA 26 F. METODE PENELITIAN 31 2.6 Jadwal Penelitian 31 2.7 Daftar Pustaka 31
BAB III SUSUNAN TESIS 32
3.1 Bagian Kepala 32
a. [HALAMAN SAMPUL] 32
b. [HALAMAN JUDUL] 33
c. PENGESAHAN STATUS TESIS 33
d. PERNYATAAN PENULIS 34
e. PERSETUJUAN TESIS 34
g. ABSTRACT 34 h. ABSTRAK 35 i. ACKNOWLEDGMENTS 35 j. DAFTAR ISI 35 k. DAFTAR GAMBAR 35 l. DAFTAR TABEL 35 m. DAFTAR LAMPIRAN 36 n. DAFTAR ISTILAH 36 3.2 Bagian Tubuh 36 a. BAB PENDAHULUAN 36
b. BAB TINJAUAN PUSTAKA 36
c. BAB METODE PENELITIAN 37
d. [BAB-BAB PELAKSANAAN PENELITIAN] 37
e. BAB PENUTUP 37
3.3 Bagian Ekor 38
a. DAFTAR <PUSTAKA/ACUAN> 38
b. GAMBAR-GAMBAR (bila diperlukan) 38
c. TABEL-TABEL (bila diperlukan) 39
d. LAMPIRAN-LAMPIRAN (bila diperlukan) 40
e. RALAT (bila diperlukan) 40
BAB IV BENTUK FISIK TESIS 41
4.1 Kertas 41
4.2 Pengetikan 41
4.3 Pencetakan dan Penjilidan 42
BAB V PENULISAN ACUAN TESIS 43
5.1 Pengutipan Acuan di dalam Teks 43
5.2 Daftar Pustaka/Acuan 44
5.2.1 Penulisan Sumber Acuan untuk Buku 45
5.2.2 Pencantuman Sumber Acuan untuk Majalah 45
5.2.3 Pengarang Tidak Dikenal 46
5.2.4 Editor 46
5.2.5 Judul dalam Judul 47
5.2.6 Terjemahan 47
5.2.7 Tesis 47
5.2.8 Perangkat Lunak Komputer 48
5.2.9 Paten 48
5.2.10 Bahan yang Ditulis oleh Pengarang yang Sama 48
5.3 Daftar Acuan dari Internet 48
5.4 Tata Nama dan Sistem Pengacuan 48
BAB VI FORMAT TD 51
6.1 File Tesis Preview 51
6.2 File Tesis Lengkap 51
6.3 File Artikel Ilmiah 51
6.4 File Poster Tesis 52
6.5 File Demo Tesis 52
6.6 File Executable Program (jika ada) 52
6.7 File Source Program (jika ada) 52
6.8 File Dokumentasi (jika ada) 52
6.9 Penamaan File dan Direktori 53
6.10 Halaman Depan CD-TD 55
6.11 Halaman Belakang CD-TD 55
DAFTAR PUSTAKA 56
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1 Bidang Pengetikan 58
Lampiran 2 Contoh Halaman Sampul Proposal Tesis 59
Lampiran 3 Contoh Daftar Isi Proposal Tesis 60
Lampiran 4 Contoh Persetujuan Proposal Tesis (Pra-Seminar Tesis) 61 Lampiran 5 Contoh Pengesahan Proposal Tesis (Pasca-Seminar Tesis) 62
Lampiran 6 Contoh Halaman Sampul Tesis 63
Lampiran 7 Contoh Halaman Punggung Tesis 64
Lampiran 8 Lembar Pengesahan Status Tesis 65
Lampiran 9 Contoh Surat Pemberitahuan ke Perpustakaan 66
Lampiran 10 Contoh Pernyataan Penulis 67
Lampiran 11 Contoh Persetujuan Tesis 68
Lampiran 12 Contoh Pengesahan Tesis 69
Lampiran 13 Contoh Abstrak Dalam Bahasa Inggris 70
Lampiran 14 Contoh Abstrak Dalam Bahasa Indonesia 71
Lampiran 15 Contoh Acknowledgments 72
Lampiran 16 Contoh Daftar Isi Tesis 73
Lampiran 17 Contoh Daftar Gambar 74
Lampiran 18 Contoh Daftar Tabel 75
Lampiran 19 Contoh Daftar Lampiran 76
Lampiran 20 Contoh Daftar Istilah 77
Lampiran 21 Contoh Pengetikan Teks 78
Lampiran 22 Contoh Daftar Acuan 79
Lampiran 23 Format Penulisan Artikel Ilmiah 80
Lampiran 24 Contoh Poster Penelitian Rekayasa (R&D) 83
Lampiran 25 Contoh Halaman Depan CD-TD 84
Lampiran 26 Contoh Halaman Belakang CD-TD 85
Lampiran 27 Dosen Pascasarjana Konsentrasi Teknik Informatika 86
BAB I
PARADIGMA METODOLOGI PENELITIAN TEKNIK INFORMATIKA
1.1. Definisi, Konsep, dan Terminologi
Metodologi Penelitian Teknik Informatika mengandung tiga konsep penting yang memerlukan pengertian yang tepat agar peneliti memiliki landasan filosofis yang benar dalam melakukan penelitian.
1.1.1 Teknik Informatika
Istilah Informatika diturunkan dari bahasa Perancis informatique, yang dalam bahasa Jerman disebut Informatik. Sebenarnya, kata ini identik dengan istilah computer science di Amerika Serikat dan computing science di Inggris [1]. Di Indonesia istilah tersebut dikenal sebagai Teknik Informatika atau Ilmu Komputer. Istilah ini kedua-duanya dipakai di berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia untuk menamai fakultas, jurusan, atau program studi dalam menjalankan misi akademisnya [2, 3].
Teknik Informatika/ Ilmu Komputer merupakan ilmu yang mempelajari landasan teoritis komputasi dan informasi serta penerapannya dalam sistem komputer termasuk perangkat keras maupun perangkat lunak. Ilmu Komputer mencakup beragam topik yang berkaitan dengan komputer, mulai dari analisis abstrak algoritma sampai subjek yang lebih konkret seperti bahasa pemrograman, perangkat lunak, dan perangkat keras. Sebagai suatu disiplin ilmu, Ilmu Komputer lebih menekankan pada pemrograman komputer, dan rekayasa perangkat lunak [1].
1.1.2 Penelitian dan Kebenaran
Penelitian berasal dari kata „research’ (Inggris) atau „recherche’ (Prancis), „re’ (kembali), dan „to search’ (mencari) [4]. Penelitian memiliki arti mencari kembali kebenaran- kebenaran yang sudah diciptakan Tuhan (tersebar di alam semesta ini) yang belum diketahui manusia. Contoh: “Metode Pembelajaran Konvensional Quantum Learning terbukti dapat diterapkan dalam Pembelajaran Virtual” dan “Stego Encryptography sangat efektif digunakan untuk pengamanan data” adalah suatu kebenaran yang sudah diciptakan Tuhan sejak lama yang ditemukan kembali oleh seseorang peneliti dan menjadi pengetahuan baru bagi manusia. Originalitas merupakan aspek utama dan penting dalam penelitian. Dawson mengatakan bahwa
penelitian memiliki tujuan untuk menciptakan an original contribution to knowledge [5], sedangkan Berndtsson menyatakan: “… the objective of discovering or revising facts, theories, applications etc.”[6].
Hakekat kebenaran yang ditemukan manusia selalu bersifat relatif, tidak mutlak seperti kebenaran Tuhan, sehingga terdapat kemungkinan berubah menjadi „bukan kebenaran‟ saat peneliti lain menemukan hal yang sebaliknya. Manusia haruslah selalu mencari kebenaran tentang hakekat sesuatu (Ontologi), cara mendapatkan sesuatu/ metode (Epistemologi), dan manfaat sesuatu (Aksiologis).
Kebenaran merupakan realitas yang perlu digali dan ditemukan, meskipun sangat tidak mungkin untuk menemukan semua kebenaran yang ada. Kebenaran dalam Teknik Informatika meliputi kebenaran komputasi dan informasi serta penerapannya di dunia nyata. Kebenaran ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan adalah kebenaran yang diperoleh melalui pengkajian ilmiah (sekalipun terdapat banyak aliran seperti positivistik, rasionalistik, fenomenologik, dan sebagainya dalam merumuskan suatu kebenaran).
Pengkajian ilmiah (penelitian) menurut aliran positivistik atau postpositivistik yang banyak dianut peneliti dalam Teknik Informatika merupakan upaya sistematis, investigatif, objektif, logis, hati-hati, dan terencana yang selalu berusaha mencari kebenaran.
Salah satu cara untuk menemukan kebenaran adalah melalui penelitian ilmiah, sehingga muncul terminologi kebenaran ilmiah. Penelitian Ilmiah adalah penelitian yang menggunakan metode ilmiah. Menurut Davis dan Cosenza, metode ilmiah bersifat kritis dan analitis, logis, objektif (dapat dibuktikan kebenarannya oleh orang lain), konseptual dan teoritis, empiris (penulis: bukan olah pikir/ pengalaman transenden), dan sistematis [7].
1.1.3 Metodologi, Metode, dan Teknik Penelitian
Metodologi Penelitian dapat dipahami sebagai a science of studying how research is done scientifically. [8], lebih pada tataran paradigma dan filosofis [9] atau ilmu yang mempelajari metode-metode penelitian [11] sebagaimana neurologi, biologi, dan teologi merupakan ilmu yang mempelajari neuro, bio, dan teo.
Metode Penelitian merupakan tahapan dan instrumen yang digunakan untuk memilih dan menyusun teknik penelitian [8], berkaitan dengan prinsip penggunaan instrumen pengumpulan data dan analisisnya [9] sehingga lebih bersifat strategis. Teknik Penelitian merupakan tahapan dan instrumen yang digunakan dalam aktivitas penelitian seperti observasi, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, dan sebagainya [8, 9]. 1.1.4 Pemahaman, Penerapan, Pemutakhiran, dan Penemuan
Sering terjadi seseorang sulit membedakan jenjang penelitian setingkat Skripsi, Tesis, atau Disertasi. Hal tersebut memang tidak bisa ditentukan berdasarkan keluasan cakupan/ lokasi/ domain, metode, teknik, jumlah variabel/ aspek/ faktor kajian, atau ukuran sampel. Berdasarkan pengertian yang telah dijelaskan terdahulu bahwa pada hakekatnya penelitian adalah penemuan baru/ original, maka karya ilmiah tertinggi
dalam dunia akademis (disertasi) adalah yang berupa hasil penemuan (invention/ kreasi). Karya ilmiah lainnya dapat berupa hasil pemutakhiran (inovation/ updating), penerapan, atau pemahaman.
Selengkapnya berdasarkan Taksonomi Bloom tingkat kemampuan kognitif seseorang diawali dengan mengingat, memahami, kemudian menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta [12]. Matriks berikut ini diharapkan dapat memudahkan klasifikasi Skripsi, Tesis, dan Disertasi. Tahap Analisis dan Evaluasi tidak ditampilkan dalam kolom tersendiri karena tidak terjadi perubahan apa pun terhadap subjek yang dikaji sama seperti pada tahap Penerapan, namun demikian dalam konteks kajian ilmiah ditambahkan satu kolom Pemutakhiran (updating/ innovation) yang berarti terjadi perubahan terhadap subjek kajian.
Pemahaman merupakan awal proses penelitian. Menurut Anderson Pemahaman memiliki proses kognitif berupa Interpreting, Exemplifying, Classifying, Summarizing, Inferring, Comparing, dan Explaining. [13]. Peneliti perlu memahami Current State of The Art terkait hukum, dalil, teorema, aksioma, teori, formula, algoritma, metode, model, SW, HW, atau sistem yang menjadi fokus penelitiannya. Contoh proses pemahaman: menginterpretasikan suatu metode baru, mengklasifikasikan model- model asosiasi, membandingkan algoritma- algoritma optimasi, menjelaskan perilaku model transportasi, dan sebagainya.
Penerapan merupakan pemanfaatan hukum, dalil, teorema, aksioma, teori, formula, algoritma, metode, model, Software (SW), Hardware (HW), atau sistem yang sudah ada guna pemecahan suatu masalah. Misal Penerapan Fuzzy untuk Kendali Motor, Kohonen untuk Pemetaan Gaya Belajar, dan Metode Image Watermarking berbasis FWHT-DCT. Penerapan dapat tergolong Pemutakhiran, atau Penemuan bila belum ada penelitian tentang hal tersebut sehingga merupakan pengetahuan baru.
Pemutakhiran (inovation/ updating), merupakan upaya penyempurnaan hukum, dalil, teorema, aksioma, teori, formula, algoritma, metode, model, SW, HW, atau sistem pada tingkat yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Contoh proses pemutakhiran: Metode Penetapan Titik Pusat Awal dalam K-Mean(penyempurnaan K-Means), dan Peningkatan Unjuk Kerja Fuzzy Relational Clustering (FRC) Menggunakan Index Validasi Partition Coefficient(PC) dan Partition Entriphy Coefficient (PE), dan penyempurnaan FRC.
Penemuan (invention/ kreasi) merupakan tingkat pencapaian tertinggi dari proses kognitif seseorang, perwujudan dari sesuatu yang baru yang belum pernah diketahui orang. Penemuan dapat berupa menemukan hukum, dalil, teorema, aksioma, teori, formula, algoritma, metode, model, SW, HW, atau sistem. Contoh (bila belum pernah ditemukan): Sistem Rekomendasi Promosi Produk Berdasarkan Segmentasi Konsumen dengan Pendekatan Fuzzy C-Means dan Apriori, Alat Bantu Reverse Engineering untuk Observasi Java Script, Sistem Evaluasi Adaptif Berbasis Item Response Theory, dan sebagainya.
Tingkat kemampuan kognitif mulai dari pemahaman hingga penemuan tersebut tidak memiliki pemisah yang tegas melainkan terdapat irisan diantara keempatnya. Meskipun demikian perbedaan karya ilmiah akademis yang berbentuk Disertasi, Tesis, atau Skripsi dapat ditarik dari kolom paling kanan, sesuai hakekat penelitian, menuju kolom paling kiri, sebagai substansi yang semakin jauh dari hakekat penelitian.
Guna mencapai tingkat kemampuan tertinggi seseorang peneliti Teknik Informatika perlu menumbuhkan di dalam dirinya „sense of computing’, yakni suatu kecerdasan untuk memahami suatu proses/ fenomena/ problem dan memetakannya ke dalam model komputasi dan konstalasi kajian, melakukan analisis dan evaluasi, serta memberikan solusi. Keterampilan dalam pengumpulan, analisis data, dan pengukuran hasil hanya akan membentuk seorang Peneliti Tukang, bukan Peneliti Tulen. Bagi dunia akademis penumbuhan kecerdasan ini, sebagai proses, lebih penting daripada hasil.
1.2 Bidang Kajian (Research Field) Teknik Informatika/ Ilmu Komputer
Hubungan antara teknik informatika dan bidang rekayasanya jauh lebih kuat dibanding hubungan yang dimiliki disiplin ilmu lain terhadap bidang rekayasanya seperti ilmu dinamika fluida dengan rekayasa pesawat terbang, atau antara ilmu kimia dengan rekayasa plastik. Hal ini merupakan kelebihan yang perlu dimanfaatkan dalam pengembangan teknik informatika, khususnya dalam metodologi penelitiannya dengan
logika yang dapat mondar- mandir secara reflektif dari aspek teoritis, pemodelan, pembangunan dan sebaliknya.
Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (Aptikom) telah mengidentifikasi perkembangan Teknik Informatika setelah tahun 1990 terbagi menjadi enam subbidang, yakni Electrical Engineering, Computer Engineering, Computer Science, Software Engineering, Information Technology, dan Information System. Teknk Informatika/ Computer Science pada satu kutub lebih bersifat teoritis sementara di kutub lain Software Engineering lebih bersifat aplikatif. Pada domain lain terdapat Teknologi Informasi dan Sistem Informasi yang bermuatan keorganisasian baik profit maupun non-profit. Sistem Informasi berada pada sisi demand sedangkan Teknologi Informasi pada sisi Supply yang berfungsi sebagai infrastruktur. Berikut ini skema pembagian sub-subbidang tersebut yang diambil dari sudut pandang pendidikan [3].
Bidang kajian Teknik Informatika berkembang sangat pesat karena keterkaitan sisi hulu (teori) dan hilir (sistem aplikasi) yang sedemikian erat serta pengaruh bidang ilmu lain. Dennings memperkirakan terdapat 24 subbidang kajian Teknik Informatika seperti berikut ini [10].
artificial intelligence knowledge engineering
bioinformatics management information systems
cognitive science and learning theory multimedia design
computational science network engineering
computer science performance evaluation
database engineering professional education and training digital library science scientific computing
graphics software architecture
HCI (human computer interaction) software engineering
information science system security and privacy
information systems system administration
instructional design web service design
Subbidang kajian tersebut bersifat dinamis dan berkembang seiring dengan perkembangan teknologi komputer dan kebutuhan pemecahan masalah di masyarakat. Menurut Dennings terdapat tiga paradigma besar dalam penelitian teknik informatika atau ilmu komputer, yakni teori, eksperimen (merupakan ekplorasi terhadap model dari sistem/ arsitektur agar model dapat memprediksi perilaku baru dengan akurat; sering disebut pula sebagai abstraksi/ pemodelan), dan desain (penulis: rekayasa, yang menghasilkan produk/ sistem) [10]. Domain penelitian teknik informatika atau ilmu komputer adalah penciptaan algoritma, model, atau metode komputasi, bukan penggunaan. Analoginya sama dengan ilmu statistik yang fokus pada penemuan metode- metode statistik. Penggunaan algoritma, model, atau metode komputasi untuk menyelesaikan masalah tertentu dimaksudkan untuk menguji-cobakannya pada objek- objek yang diduga memiliki perbedaan parameter/ indikator yang signifikan dengan generalisasi hasil penelitian awal. Uji coba efektivitas Algoritma Semut yang sudah teruji untuk kunjungan Bupati ke daerah- daerah, tidak perlu diuji coba lagi untuk kunjungan anggota DPR ke daerah- daerah, karena perbedaan parameter/ indikatornya tidak terlalu signifikan.
Bidang kajian Teknik Informatika yang saat ini menjadi fokus kajian di Program Pascasarjana Universitas Dian Nuswantoro sesuai misi akademisnya adalah Intelligent Systems dan Business Intelligence.
Penelitian Business Intelligence mengarah ke aspek manusia, organisasi, dan manajemen, misalnya analisis pemanfaatan teori/ model/ metode/ sistem komputasi dan teknologi informasi untuk keperluan (manajemen) organisasi. Penelitian Intelligent Systems mengarah ke aspek teknis dari metode komputasi, misalnya berupa pengujian, pengembangan, dan penemuan teori/ model/ metode/ sistem komputasi.
Objek penelitian dapat berasal dari dunia usaha baik industri maupun jasa, sekolah/ perguruan tinggi baik formal/ nonformal/ informal, lembaga pemerintahan, lembaga hukum/ legislatif, lembaga audit/ keuangan/ asuransi, lembaga kesehatan/ kedokteran/ pharmasi, lembaga kepolisian/ pertahanan- keamanan, dan lembaga survey/ pemetaan/ kepustakaan.
1.3 Metodologi Penelitian Teknik Informatika
Seperti ilmu-ilmu yang lain Teknik Informatika akan berdiri kokoh dan berkembang bila memiliki metode kajiannya sendiri yang khas guna menemukan kebenaran. Namun perlu diakui bahwa tingkat maturitas Metodologi Penelitian Teknik Informatika tidak sematang Metodologi Penelitian Psikologi/ Pedagogi atau ilmu- ilmu sosial lainnya.
Banyak konsep metodologi lain yang perlu diadopsi dan diadaptasi namun harus dilakukan secara cermat agar tidak mengurangi kekokohan kajian ilmu komputasi. Selain itu juga untuk menghindari kesalahan penggunaan konsep/ terminologi yang sudah matang. Hal ini diperlukan misalnya untuk membedakan dengan jelas metodologi penelitian berbasis komputasi dengan metodologi penelitian ilmu sosial berbasis subjek informasi. Masalah ”Perilaku pelanggan yang sangat beragam sehingga
menyulitkan pemetaan .... ” dapat dikaji dari sudut pandang komputasi melalui penciptaan/ pengembangan algoritma klasterisasi, namun dapat pula dikaji dari sudut pandang ilmu sosial melalui aspek perilaku sosial dengan analisis klaster.
Kualitas suatu penelitian akan tampak melalui kontribusinya dalam pemecahan masalah yang dihadapi masyarakat dan bagi pengembangan iptek. Oleh sebab itu penentuan rumusan masalah perlu didasari aspek manfaat dari penelitian termasuk dari sudut pandang ekonomi dan kebijakan. Masalah yang berasal dari masyarakat diselesaikan dengan Penelitian Terapan, sedangkan masalah dari pengembangan ilmu diselesaikan melalui Penelitian Dasar. Menurut Kuncoro Penelitian Dasar juga untuk menguji kebenaran teori/ konsep tertentu secara lebih mendalam, sedangkan Penelitian Terapan merupakan penerapan teori tertentu untuk memecahkan masalah tertentu. Contoh Penelitian Terapan diantaranya adalah Penelitian Evaluasi (Evaluation Research), Penelitian dan Pengembangan (Research and Development/ Engineering Research), dan Penelitian Tindakan (Action Research) [14].
Penelitian Evaluasi bertujuan untuk memilih, memperbaiki, dan memantapkan hasil kebijakan atau program yang telah dijalankan. Hasil dari pengkajian ilmiah jenis ini berupa informasi guna mendukung pengambilan keputusan yang bersifat khusus sehingga kesimpulannya tidak bisa berlaku umum. Pendekatan yang digunakan bersifat sistemik dan berorientasi pada tujuan [14, 15].
Penelitian dan Pengembangan (Research and Development/ Engineering Research), bertujuan untuk mengembangkan produk agar memiliki kualitas yang lebih tinggi [14]. Hasil Penelitian dan Pengembangan dapat berupa: Rencana (Plan), Rancangan (Design), Bangunan/ kontruksi (Construct), atau Hasil Pengembangan (Development) dari suatu Model/ Metode/ Perangkat Lunak/ Perangkat Keras/ Sistem. Rencana, rancangan, atau konstruksi dari model, sistem, atau produk hasil penelitian rekayasa harus teruji berdasarkan metode komputasi (hard/ soft computing), maupun metode cleanroom lainnya. Oleh sebab itu Penelitian dan Pengembangan lebih kompleks dan memerlukan banyak waktu.
Penelitian dan Pengembangan/ Penelitian Rekayasa dapat berupa:
a. Forward Engineering Research: yang dilakukan mulai dari identifikasi masalah, pengumpulan data, penyusunan model, pengujian model, pembangunan, evaluasi, dan validasi. Penelitian dilakukan mulai dari abstraksi yang lebih tinggi menuju ke setingkat atau beberapa tingkat lebih rendah, sehingga dapat digunakan untuk menguji teori/ model/ formula (confirmatory research).
b. Reverse Engineering Research: merupakan upaya abstraksi dari produk, sistem, atau prototipe yang sudah ada menjadi blue print, formula, atau model, atau pada tahapan-tahapan pendek rekayasa, misal dari bentuk rancangan ke bentuk rencana saja. Penelitian dilakukan mulai dari abstraksi yang lebih rendah menuju ke setingkat atau beberapa tingkat lebih tinggi untuk megeksplorasi suatu sistem atau produk yang sudah ada (explanatory research).
c. Re-engineering merupakan: pengubahan dan pengorganisasian kembali komponen-komponen sistem yang dapat dilakukan terhadap hasil desain atau implementasi saja atau pada keseluruhan tahapan/ abstraksi sistem, tanpa menghilangkan keseluruhan komponen lama agar diperoleh metode, formula, model, prototipe, sistem, atau tools dengan tingkat kesempurnaan dan standar yang lebih tinggi. Penelitian ini sejenis dengan Penelitian Tindakan.
Penelitian Tindakan (Action Research) bertujuan untuk memecahkan masalah, namun bukan masalah/ kesenjangan dalam ilmu pengetahuan, agar segera dapat diambil tindakan perbaikan [14]. Penelitian ini biasanya terdiri dari beberapa siklus hingga dicapai kondisi perbaikan yang diinginkan. Oleh sebab itu penelitian ini juga memerlukan banyak waktu.
Dari penjelasan sebelumnya, maka penelitian dapat pula dikelompokkan menjadi dua, yakni Penelitian Rekayasa dan Penelitian Nonrekayasa. Hasil Penelitian Rekayasa dapat berupa metode, model, formula, algoritma, struktur, arsitektur, perangkat lunak, perangkat keras, maupun sistem yang telah teruji, sedangkan hasil Penelitian Nonrekayasa dapat berupa teori yang telah teruji pula secara empiris.
1.4 Metode Penelitian, Kerangka Penelitian, dan Kerangka Teori
Seperti dijelaskan di bagian awal bahwa Metode Penelitian merupakan tahapan dan instrumen yang digunakan untuk memilih dan menyusun teknik penelitian, maka setiap penelitian pasti memiliki metode yang khas sesuai masalah dan tujuan penelitiannya. Sesuai pandangan positivistik, bila suatu Metode Penelitian dilakukan ulang oleh peneliti lain, maka akan diperoleh hasil yang sama (prinsip objektivitas). Teknik pengumpulan data suatu penelitian mungkin bisa sama dengan penelitian lain, misal teknik wawancara, tetapi Metode Penelitiannya pasti tidak sama.
Namun demikian secara umum Metode Penelitian terdiri dari Metode Historis, Deskriptif, Korelasional, Kausal Komparatif, Eksperimental [14], dan Kasus [15]. Metode Historis meliputi kegiatan penyelidikan, pemahaman, dan penjelasan keadaan yang telah lalu. Tujuannya untuk menyimpulkan sebab- sebab, dampak, atau perkembangan dari kejadian yang telah lalu yang dapat dipergunakan untuk menjelaskan kejadian yang akan datang. Contohnya: penelitian tentang data mining.
Metode Deskriptif meliputi pengumpulan data untuk pengujian hipotesis atau menjawab pertanyaan mengenai status terakhir dari subjek penelitian. Tujuannya adalah untuk dasar pengambilan keputusan dan mengenali perilaku fakta yang ada saat ini.
Metode Korelasional/ Asosiasi digunakan untuk menentukan ada tidaknya hubungan antara dua variabel bebas atau lebih dan melihat kedalaman hubungan tersebut. Peneliti harus mencari teori- teori yang mendukung ada tidaknya hubungan antarvariabel, menyusun kerangka teori, dan hipotesis untuk pengujiannya..
Metode Kausal Komparatif selain mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih juga menunjukkan arah hubungan antara variabel bebas dengan
variabel terikat, sehingga metode ini dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan sebab- akibat. Metode ini melibatkan dua kelompok yang berbeda dan tanpa perlakuan pada variabel bebas dan membandingkannya pada variabel terikat. Dalam hal ini peneliti harus mencari teori- teori yang mendukung ada tidaknya hubungan dan arah hubungan antarvariabel, menyusun kerangka teori, dan hipotesis untuk pengujiannya..
Metode Eksperimen hampir sama dengan Metode Kausal Komparatif, namun pada metode ini pernyataan „sebab‟ yang terkandung dalam variabel bebas dikendalikan oleh peneliti. Oleh sebab itu peneliti harus mengumpulkan dan menyiapkan sampel pengujian secara random untuk dikenakan pada variabel bebas. Variabel ekstra juga harus terkontrol dengan baik dan harus ada kelompok kontrol (True Experiment). Bila sampel dipilih dan diuji secara purposive, maka metodenya disebut Quasi Experiment Selain itu peneliti juga harus mencari teori- teori yang mendukung ada tidaknya hubungan dan arah hubungan antarvariabel, menyusun kerangka teori, dan hipotesis untuk pengujiannya.
Metode Kasus digunakan untuk menemukan ide- ide baru mengenai hubungan antar-variabel yang kemudian diuji lebih mendalam dalam penelitian eksploratif[14]. Lubbe menyatakan ”The case study methodology's approach is about gathering data with which to develop grounded theory” [16] Jadi studi kasus bukan untuk sekedar menunjukkan lokasi penelitian.
Metode Penelitian merupakan penjabaran dari Kerangka Pemikiran atau Kerangka Teori yang telah tersusun sebelumnya. Kerangka Pemikiran merupakan rencana, tahapan, dan strategi peneliti, berdasarkan landasan teori, dalam menyelesaikan masalah agar tujuan penelitian tercapai. Penyajiannya dalam bentuk diagram proses dengan masukan berupa Rumusan Masalah, keluarannya adalah Tujuan Penelitian, sedangkan di tengah-tengahnya adalah rencana, tahapan, dan strategi peneliti untuk menyelesaikan masalah.
Kerangka Teori merupakan jaringan hubungan antarvariabel yang secara logis diterangkan, dikembangkan, dan dielaborasi dari perumusan masalah yang telah teridentifikasi. Kerangka ini disusun berdasarkan teori- teori yang telah ditemukan sebelumnya. Berdasarkan kerangka teori ini kemudian disusunlah hipotesis yang merupakan dugaan sementara yang harus diuji kebenarannya [14].
Seperti metode, kerangka pemikiran dan kerangka teori suatu penelitian bersifat khas, tidak ada yang sama antara penelitian satu dengan penelitian yang lain, kecuali untuk keperluan perulangan (replikasi).
BAB II PROPOSAL TESIS
Proposal Tesis hendaknya disusun berdasarkan sudut pandang metodologi penelitian teknik informatika seperti yang tercantum dalam Bab I.
2.1 [Halaman Sampul]
Halaman ini merupakan halaman sampul Proposal Tesis dan berisi keterangan yang menyatakan dengan urutan dari atas hingga ke bawah sebagai berikut.
Jenis dokumen PROPOSAL TESIS Judul Proposal Tesis secara lengkap
Kata Penyusun: ‘Oleh: ‘
Nama Lengkap Penyusun (Tanpa Gelar) Nomor Pokok Mahasiswa Lambang Universitas Dian Nuswantoro
Nama Program Studi dan Universitas PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER TEKNIK INFORMATIKA
UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO Tempat penyusunan
SEMARANG Tahun penyusunan
Semua huruf dicetak dengan huruf besar pada kertas buffalow warna orange dan tinta cetak warna hitam. Komposisi huruf dan tata letak masing-masing bagian diatur simetris (centered alignment), rapi, dan serasi. Lihat Lampiran 1 dan 2.
2.2 [Halaman Judul]
Halaman ini sama tepat dengan halaman sampul, tetapi dicetak pada kertas HVS-putih dengan tinta cetak warna hitam.
Judul Penelitian hendaknya spesifik, singkat dan padat (tidak lebih dari 20 kata) namun tetap komunikatif, mengacu pada hakekat penelitian, dan menarik (penelitian tersebut layak dan perlu). Unsur- unsurnya: 1) Bila penelitian berorientasi pada hasil sebutkan hasilnya. (Model/ Metode/ Algoritma/ Rancangan/ Software/ Alat Bantu/ Sistem). Bila penelitian berorientasi pada Proses, sebutkan jenis prosesnya (Analisis/ Uji Coba/ Perancangan/ Pengembangan/ Pemetaan/ Evaluasi). 2) Sebutkan pula Variabel/ Parameter/ Indikator/ Faktor/ Aspek yang diteliti. 3) Objek Penelitian. 4)
Pendekatan yang digunakan (Teori/ Teorema/ Model/ Metode/ Algoritma). 5) Tujuan Penelitian.
Hindari penggunaan subjudul untuk menuliskan lokasi/ ruang lingkup, karena ruang lingkup penelitian seharusnya sudah jelas di bagian „Latar Belakang‟, „Rumusan Masalah‟, atau ‟Tujuan‟. Hindari pula penggunaan ”Studi Kasus pada ...” jika penelitian ini bukan penelitian dengan metode Studi Kasus, atau dengan maksud hanya untuk menunjukkan lokasi penelitian.
2.3 Pengesahan Proposal Tesis
Lembar ini berisi pengesahan Proposal Tesis oleh pembimbing Tesis sebagai bukti bahwa penyusunan proposal tersebut telah melalui proses bimbingan dan konsultasi dengan para pembimbing, serta siap untuk dipertahankan di hadapan Komite Seminar pada Seminar Proposal Tesis. (lihat Lampiran 4 dan 5).
2.4 Abstrak
Halaman ini menyajikan intisari dari Proposal Tesis, yang mencakup: a. masalah utama yang diteliti dan ruang lingkupnya,
b. metode yang diusulkan, c. hasil yang diharapkan.
Dalam abstrak tidak diperkenankan mencantumkan informasi yang tidak dibahas dalam Proposal Tesis. Abstrak hendaknya tidak lebih dari 200 kata, terdiri dari satu paragraf, tidak menyebutkan acuan, dan dilengkapi kata kunci (lihat Lampiran 14; tanpa diikuti penjelasan halaman).
2.5 [Bab-Bab Isi Proposal Tesis]
Umumnya isi Proposal Tesis mencakup topik/bab di bawah ini. Judul dari setiap bab diperbolehkan disesuaikan dengan topik dan kreativitas mahasiswa, hanya substansi dan urutan setiap bab harus dipertahankan. Contoh daftar isi lihat di Lampiran 3.
A. LATAR BELAKANG 1. Identifikasi Masalah
Latar belakang berisi tentang studi pendahuluan yang telah dilakukan mahasiswa berkaitan dengan adanya masalah baik dari sisi masyarakat maupun sisi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Masalah muncul karena adanya kesenjangan, misal antara kebutuhan dengan ketersediaan, antara harapan dengan kenyataan, antara standar dengan ketercapaian, antara keingintahuan dengan jawaban dari iptek, dan sebagainya.
1.1 Masalah Umum
Kesenjangan pertama yang dijumpai dari sisi masyarakat atau pengguna perlu diperdalam pembahasannya agar dapat dipastikan tidak ada solusi lain selain melalui hasil penelitian ini nantinya dengan langkah- langkah sebagai berikut. 1) Tetapkan domain penelitian yang akan diterjuni, misal: Strategi Pembelajaran. 2) Masalah: strategi pembelajaran yang tidak menghargai keunikan karakteristik pemelajar. 3) Diskusi: meskipun bisa dikupas dari Psikologi/ Pedagogi, namun kupaslah dari paradigma Teknik Informatika. Yakinkan pembaca bahwa masalah tersebut penting, menarik, dan dapat diatasi melalui pendekatan Teknik Informatika. Masalah tersebut dapat dipertajam dengan menjalankan siklus pertanyaan ‘mengapa?’: “Mengapa strategi pembelajaran tidak menghargai keunikan karakteristik pemelajar?” Misal karena pemetaan karakteristik pemelajar masih sulit dilakukan. Bila masih kurang tajam, siklus bisa dilakukan beberapa kali lagi. Bila tidak memungkinkan dilakukan penajaman, segera ganti domain penelitian yang lain. 4) Sebutkan Variabel/ Parameter/ Indikator/ Faktor/ Aspek yang akan diteliti, misal Karakteristik Pemelajar.
Nilai tambah penelitian merupakan hal wajib yang harus ada pada suatu penelitian. Konversi proses manual menjadi proses yang berbasis komputer perlu dilandasi argumentasi yang kuat. Misal, proses pembelajaran „Sistem Tata Surya‟ atau „Fusi Nuklir‟ tidak mungkin dilaksanakan di kelas dalam skala nyata, namun dengan pendekatan sistem berbasis komputer hal tersebut dapat dilakukan. Berbeda dengan „Pembelajaran Instalasi LAN‟. Sistem pembelajaran berbasis komputer tak akan memiliki nilai lebih dibanding praktikum di laboratorium. Perlu diingat bahwa penelitian harus berangkat dari sesuatu yang general dan menghasilkan sesuatu yang bersifat general pula, sekalipun masalah yang diangkat sangat spesifik (Prinsip Ilmu Nomothetik).
1.2 Masalah Spesifik
Kesenjangan kedua yang berasal dari sisi pengembangan iptek merupakan titik berangkat yang tidak boleh diabaikan dalam penelitian. Kesenjangan ini dapat diperoleh melalui paper maupun proceeding. Sebutkan judul paper/ proceeding-nya, dan state of the art dari setiap paper tersebut, misalnya yang berkaitan dengan klasterisasi karakteristik pemelajar. Ada kalanya suatu penelitian tidak dapat dilakukan dengan tuntas, atau masih memiliki kelemahan. Lakukan studi guna melihat kemungkinan ada peneliti lain yang sudah menyempurnakan kelemahan tersebut. Rangkumlah hasil kajian dan kesenjangan yang telah teridentifikasi. Misal: hasil penelitian tentang klasterisasi karakteristik pemelajar dengan Jaringan Syaraf Tiruan Kohonen tingkat akurasinya hanya 60%.
Selain itu kesenjangan dari sisi iptek dapat diidentifikasi melalui pengujian atau evaluasi terhadap hasil- hasil iptek terbaik saat ini yang sesuai dengan topik penelitian. Pengujian dilakukan berdasarkan indikator/ parameter standar sesuai teori yang ada. Contoh parameter standar kualitas perangkat lunak dari sisi transisi produk menurut
McCall adalah interoperability, reusability, dan portability. Lakukan pengujian terhadap produk atau sistem berdasarkan parameter tersebut. Bila tidak ada satu pun perangkat lunak yang dapat memenuhi standar tersebut, maka ini peluang bagi mahasiswa untuk melakukan penelitian bagi penyempurnaannya. Mahasiswa dapat menciptakan algoritma/ model optimasinya atau menyusun rancangan yang efisien, dan sebagainya. Dengan demikian dapat dipastikan hasil penelitian ini nantinya akan memiliki nilai tambah dalam pengembangan iptek.
Pada sisi lain kesanggupan memaknai suatu fenomena berdasarkan empiri sensual (indera), lojik, dan etik serta penguasaan terhadap state of the art sesuai minat dan bidang keahlian perlu dimiliki oleh setiap mahasiswa. Telaah pustaka atau studi pustaka harus dilakukan sejak proses identifikasi masalah hingga penulisan latar belakang ini. Pustaka yang ditelaah sebaiknya berasal dari jurnal atau publikasi hasil- hasil penelitian terkini agar current state of the art diperoleh. Cantumkan referensi- referensi yang digunakan dalam pembahasan masalah baik dari sisi masyarakat pengguna maupun dari sisi pengembangan iptek.
2. Analisis Masalah
Masalah yang telah teridentifikasi perlu dibahas lebih mendalam terkait dengan pendekatan yang akan diusulkan. Masalah umum yang telah teridentifikasi sesuai contoh sebelumnya adalah “pemetaan karakteristik pemelajar masih sulit dilakukan” sedangkan masalah spesifiknya adalah “Jaringan Syaraf Tiruan Kohonen tingkat akurasinya hanya mencapai 60%”.
Lakukan kajian terhadap pemetaan karakteristik pemelajar dengan Jaringan Syaraf Tiruan (JST) Kohonen dapat ditingkatkan akurasinya atau tidak? Lakukan uji coba dengan alat bantu komputasi matematik maupun statistik untuk memperoleh penyebabnya. Bandingkan pula pendekatan- pendekatan lain yang memungkinkan untuk mengurangi atau menghilangkan penyebab kelemahan Kohonen tersebut.
Langkah berikutnya adalah memilih pendekatan terbaik untuk menyelesaikan masalah iptek tersebut, misal untuk meningkatkan tingkat akurasi Jaringan Syaraf Tiruan Kohonen dalam mengidentifikasi karakteristik pemelajar akan dilakukan dengan pendekatan efisiensi generasi neuron baru atau penetapan parameter yang lebih natural dari karakteristik otak manusia.
3. Argumentasi
Rangkum masalah umum dan masalah spesifik yang telah teridentfikasi dan telah dianalsis tersebut. Berikan argumentasi yang cukup untuk pilihan pendekatan yang telah ditetapkan, ungkapkan nilai tambah penelitian yang diusulkan dari sudut pandang masyarakat dan bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
B. RUMUSAN MASALAH
Keberhasilan dalam melakukan identifikasi masalah dan analisis masalah seperti yang tertuang dalam latar belakang sangat menentukan ketajaman rumusan masalah. Untuk memudahkan mahasiswa dalam menajamkan rumusan masalah, ungkapkan masalah dalam dua poin sesuai hasil identifikasi masalah, yakni 1) masalah umum (masyarakat) dan 2) masalah spesifik (Teknik Informatika).
Rumusan masalah umum: “pemetaan karakteristik pemelajar masih sulit dilakukan”, belum dapat dikategorikan sebagai rumusan masalah penelitian teknik informatika, namun dapat dimasukkan sebagai rumusan masalah umum.
Rumusan masalah yang berkaitan dengan belum adanya sistem, alat bantu, atau model tertentu yang dibutuhkan saat ini harus disertai data, argumentasi yang memadai, dan berlaku secara umum, tidak pada objek atau lokus tertentu. Misalnya “Belum tersedianya alat bantu perencanaan anggaran daerah”, maka perlu didukung oleh referensi yang menyatakan hal itu, bahwa di seluruh dunia alat bantu tersebut belum pernah diciptakan. Masalah ini termasuk masalah umum.
Rumusan masalah spesifik: hasil penelitian tentang klasterisasi karakteristik pemelajar dengan Jaringan Syaraf Tiruan Kohonen tingkat akurasinya hanya 60% merupakan masalah penelitian Teknik Informatika yang masih bisa dipertanjam lagi dengan siklus pertanyaan ‘mengapa?’
Bentuk rumusan masalah (problem statement) adalah dalam kalimat deklaratif tidak dalam bentuk kalimat tanya (research question) seperti pada penelitian ilmu-ilmu sosial (penelitian ilmu sosial pun tidak mengharuskan rumusan masalahnya dalam bentuk kalimat tanya) [17] melainkan dalam bentuk pernyataan (problem statement) yang merupakan rumusan dari masalah- masalah yang telah terindentifikasi.
Research Question sering digunakan dalam penelitian ilmu- ilmu sosial, biasanya untuk memudahkan penyusunan kalimat hipotesis, tetapi research question perlu diawali dengan rumusan masalah yang jelas terlebih dahulu.. Bila tidak ada kesulitan dalam menyususn hipotesis, maka research question tidak diperlukan.
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan Penelitian disusun berdasarkan rumusan masalah yang telah ditetapkan sehingga bila tujuan penelitian tercapai, maka akan diperoleh solusi bagi pengatasan masalah secara langsung. Seperti rumusan masalah, tujuan penelitian juga diungkapkan dalam bentuk 1) Tujuan Umum dan 2) Tujuan Spesifik.
Penelitian Nonrekayasa dapat bertujuan untuk menjajagi, menguraikan, membuktikan, memutakhirkan, atau menemukan hukum, dalil, teorema, aksioma, teori, formula, algoritma, atau metode. Pada sisi lain Penelitian Rekayasa dapat bertujuan utnuk memutakhirkan, mengembangkan, atau menemukan Model, Software, Hardware, atau Sistem.
Tujuan penelitian juga merupakan keluaran/ target yang terukur sehingga evaluasi hasil dapat diukur melalui ketercapaian tujuan penelitian ini. Hindari penggunaan kalimat aktif, misal: ”Menguji efektivitas teori ……..” atau “Membangun model…..” sebab proses menguji teori yang hanya sampai 50% saja sudah termasuk kategori menguji teori. Hal ini berbeda bila digunakan kalimat “Diperolehnya kesimpulan tentang efektivitas teori …..”. Kalimat ini lebih terukur karena bila tidak diperoleh kesimpulan tentang efektivitas suatu teori berarti tujuan penelitian tidak tercapai. D. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat penelitian merupakan perkiraan bila tujuan penelitian tercapai. Hal ini dapat diperkirakan melalui outcome/ dampaknya bagi masyarakat dan dunia iptek. Paling tidak terdapat tiga nilai tambah yang harus diberikan oleh suatu penelitian, yakni 1) bagi masyarakat, 2) bagi pengembangan iptek, dan 3) bagi peningkatan nilai ekonomi. Bila penelitian berkaitan dengan kebijakan, misalnya jenis penelitian evaluasi/ penelitian kebijakan (Policy Research), maka perlu diuraikan pula manfaat bagi kebijakan institusi, bila tidak, maka tidak perlu dicantumkan.
E. TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini terdiri dari 3 subbab besar, yakni 1) Penelitian yang Relevan, 2) Landasan Teori, dan 3) Kerangka Pemikiran dan atau Kerangka Teori dan Hipotesis (untuk metode korelasi, kausal komparatif, eksperimen). Pengembangan subbab yang lain diperbolehkan selama masih berkaitan erat dengan penelitian yang diajukan. Misalnya subbab tentang objek penelitian atau konten informasi yang diolah, dapat dicantumkan dengan maksud untuk menjelaskan parameter/ indikator yang akan dijadikan landasan bagi proses penelitian.
1. Penelitian Terkait
Tinjauan pustaka hasil penelitian yang dilakukan pada bab ini berbeda dengan yang dilakukan pada bab Pendahuluan. Pada bab Pendahuluan tinjauan pustaka dilakukan untuk mengidentifikasi kelemahan/ kesenjangan penelitian- penelitian sebelumnya, tetapi pada bab ini tinjauan pustaka dilakukan untuk menunjukkan konstelasi penelitian dan posisi penelitian yg diusulkan sesuai bidang kajian dan body of knowledge-nya.
Cantumkan kesamaan, perbedaan, posisi (di ranting atau cabang), sekuen, mata rantai, tujuan, nilai tambah, metode, objek, dan berbagai aspek dari penelitian yang diusulkan relatif terhadap penelitian- penelitian yang terdahulu.
2. Landasan Teori
Pada subbab Landasan Teori tinjauan pustaka dilakukan untuk mencari landasan penelitian yang berupa hukum, dalil, teorema, aksioma, teori, formula, algoritma, metode, atau model. Hasilnya dijadikan landasan untuk menyusun kerangka teori atau construct yang berupa hubungan antarvariabel/ objek yang mengacu pada rumusan masalah.
Pada penelitian rekayasa tinjauan terhadap penelitian- penelitian yang ada, teori- teori, model, formula, dan sebagainya digunakan untuk menyusun kerangka pemikiran yang dijadikan landasan dalam perencanaan, perancangan, pembangunan, penerapan, atau pengembangan model, metode, konstruksi, komponen, atau sistem.
Terdapat kemungkinan dimanfaatkannya teori dari bidang ilmu lain. Contoh: neuro science untuk pengembangan model JST, teori genetika untuk pengembangan algoritma genetika, teori kognitif untuk machine learning atau ontology engineering, teori-teori psikologi untuk model game atau elearning, dan sebagainya.
Landasan teori dapat diambil dari state of the art dari paper terbaru maupun teori- teori yang telah matang (dari buku teks) yang harus diupayakan asli dari sumbernya sehingga terdapat kemungkinan berasal dari tahun- tahun yang sudah lama berlalu. Kelompokkan hasil- hasil kajian tersebut ke dalam sub-subbab secara terstruktur (tidak linier) sesuai dengan kerangka yang disusun berdasarkan topik atau judul penelitian.
Bedakan secara tegas antara teori dan definisi atau terminologi. Definisi maupun terminologi yang sudah umum diketahui masyarakat TI tidak perlu diuraikan lagi, misal pengertian tentang informasi, perangkat lunak, data flow diagram, Unified Modelling Language, dan sebagainya.
3. Kerangka Teori/ Kerangka Pemikiran dan Hipotesis
Subbab Landasan Teori harus lebih sarat dengan hukum, dalil, teorema, aksioma, teori, formula, algoritma, metode, atau model sedemikian rupa hingga tercipta suatu karya ilmiah yang khas yang disebut kerangka teori dan atau kerangka pemikiran. Oleh sebab itu sebenarnya penelitian sudah dapat dikatakan selesai saat kerangka teori atau kerangka pemikiran diperoleh, sekalipun belum dibuktikan. Sebagai contoh Teori Bigbang dan Teori Relativitas sudah dikatakan sebagai teori sekalipun belum terbuktikan karena berbagai keterbatasan yang ada. Namun bila tidak ada alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, maka semua kerangka teori atau kerangka pemikiran harus dibuktikan secara empiris sebagai bagian dari kaidah ilmiah.
Kerangka teori disusun untuk memnjukkan hubungan yang ada antara variabel satu dengan yang lain baik yang bersifat kausalitas maupun tidak. Kerangka teori ini wajib disusun untuk penelitian- penelitian nonrekayasa seperti penelitian dengan metode korelasional, kausal komparatif, dan eksperimental. Contoh kerangka teori tercantum pada gambar berikut ini.
Kerangka ini disusun berdasarkan landasan teori pertama yang menyatakan bahwa panjang lintasan berpengaruh terhadap Transfer Rate pada jaringan komputer, dan teori kedua yang menyatakan bahwa Framming Model (Model Pengemasan Data) mempengaruhi Transfer Rate.
Kerangka tersebut walaupun secara teoritis sudah final, namun perlu dibuktikan kebenarannya melalui pengujian empiris. Pengujian dilakukan dengan menyusun hipotesis terlebih dahulu. Contoh hipotesis:
a. Korelasi: Ada hubungan yang signifikan antara Framming Model dan Transfer Rate. (tidak ada tanda panah pada diagram).
b. Eksperimen: Ada pengaruh yang signifikan dari Framming Model terhadap Transfer Rate. (Model pengemasan data untuk kelompok eksperimen divariasikan, misal model dari protokol X.25, DQDB, dan ATM; kelompok kontrol dengan model pengemasan TCP/IP).
c. Kausal Komparatif: Ada pengaruh yang signifikan dari Framming Model terhadap Transfer Rate. (Tidak ada manipulasi pada variabel Framming Model)
Pemilihan metode Korelasi, Eksperimen, Kausal Komparatif, atau yang lain dilakukan berdasarkan masalah penelitian yang akan dicarikan solusinya. Bila masalahnya adalah munculnya ketidakefisienan transfer rate karena diduga ada peran dari model pengemasan data, maka metode yang dipilih bisa Eksperimen atau Kausal Komparatif.
Pada penelitian rekayasa tidak selalu diperlukan kerangka teori tetapi kerangka pemikiran. Baik kerangka teori maupun kerangka pemikiran, keduanya bersifat khas. Suatu penelitian memiliki kerangka yang berbeda dengan penelitian yang lain karena masalah yang diangkat berbeda, bisa salah satu dari masalah umum (masyarakat) atau masalah spesifik (iptek), atau kedua- duanya berbeda. Bila masalah umum yang diangkat sama dengan peneliti lain (misalnya pengaturan pembebanan mesin produksi
Framming Model Transfer Rate Panjang lintasan
yang tidak optimal), maka masalah spesifiknya harus beda (misal kelemahan metode yang digunakan peneliti sebelumnya, sehingga diusulkan pendekatan lain).
Kerangka pemikiran penelitian rekayasa perlu dilengkapi dengan ringkasan rumusan masalah sebagai masukan pemikiran, dan ringkasan tujuan sebagai keluaran hasil pemikiran yang sekaligus menjadi solusi. Lihat contoh berikut ini.
Kerangka pemikiran ini merupakan rancangan penelitian guna penyelesaian masalah sulitnya memahami program sumber suatu sistem besar yang ditulis dengan Bahasa Fortran, dengan maksud untuk memahami dan memperoleh komponen- komponen, fungsi, struktur, dan data bagi keperluan penyempurnaan sistem (reengineering). Dokumen rancangan tidak tersedia (alien code), metode observasi belum ada, alat bantu observasinya pun juga belum pernah diciptakan orang, sementara program yang ditulis dengan Bahasa Fortran cenderung tidak terstruktur (spaghetti
code). Diperlukan metode dan alat bantu untuk mengobservasi program hingga diperoleh pemahaman dan komponen- komponen, fungsi, struktur, dan data untuk kemudian direpresentasikan ke dalam bentuk diagram (action diagram). Berdasarkan teori, model, dan metode tentang reverse engineering peneliti menyusun kerangka tersebut di atas. Dari kerangka pemikiran tersebut tampak bahwa masalah yang muncul dapat terselesaikan dengan pendekatan dan fungsi yang disusun sehingga dihasilkan metode dan alat bantu observasi struktur program [18].
F. METODE PENELITIAN
Metode penelitian dapat pula diartikan sebagai prosedur, alat-alat, dan bahan yang digunakan dalam penelitian yang bersifat khas dan khusus untuk penelitian yang dirancang. Sehingga apabila metode ini dilakukan sekali lagi oleh peneliti yang berbeda, maka akan diperoleh hasil yang sama dengan peneliti sebelumnya. Ini sesuai dengan prinsip objektivitas dalam pandangan positivisme. Apabila metode ini dapat digunakan juga oleh peneliti lain untuk menyelesaikan masalah yang berbeda (bukan objek atau lokus yang berbeda) sehingga kemudian menghasilkan sesuatu yang berbeda pula, maka metode tersebut tidak tepat, terlalu umum, tidak khas, dan tidak khusus.
Metode penelitian disusun dengan mengacu pada kerangka pemikiran atau kerangka teori yang telah dibentuk. Alat, bahan, dan prosedur yang dilakukan dalam penelitian perlu dicantumkan dengan jelas dan rinci. Demikian pula model, variabel, construct, definisi operasional, teknik pengumpulan data, teknik analisis, cara penafsiran, dan penyimpulan hasil penelitian harus khas untuk penelitian tersebut. Hal ini dapat diperoleh bila peneliti secara konsisten mengikuti kerangka pemikiran atau kerangka teori yang telah diperoleh, yang memiliki benang merah dengan landasan teori, tujuan, masalah, dan latar belakang penelitian.
2.6 Jadwal Penelitian
Jadwal penelitian disusun berdasarkan aktivitas yang terkandung dalam metode penelitian. Aktivitas ini adalah aktivitas yang direncanakan dilakukan bila proposal penelitian disetujui. Aktivitas „Penyusunan Proposal‟, „Seminar Proposal‟, „Ujian Tesis‟ dan aktivitas lain yang tidak terkandung dalam metode dan di luar kemampuan kontrol peneliti tidak perlu disebutkan. Lengkapi jadwal ini dengan waktu mulai dan berakhirnya setiap aktivitas.
2.7. Daftar Pustaka
Halaman ini berisi pustaka/acuan yang digunakan dalam penyusunan proposal yang tersebut di Pendahuluan hingga Metode Penelitian. Bila terdapat lampiran-lampiran, maka lampiran tersebut diletakkan setelah Daftar Pustaka.
BAB III SUSUNAN TESIS
Tesis Magister Teknik Informatika Universitas Dian Nuswantoro terdiri dari tiga bagian utama, yaitu:
1. Bagian kepala, yang meliputi
a. [HALAMAN SAMPUL]
b. [HALAMAN JUDUL]
c. PENGESAHAN STATUS TESIS
d. PERNYATAAN PENULIS e. PERSETUJUAN TESIS f. PENGESAHAN TESIS g. ABSTRACT h. ABSTRAK i. ACKNOWLEDGMENTS j. DAFTAR ISI k. DAFTAR GAMBAR l. DAFTAR TABEL m. DAFTAR LAMPIRAN n. DAFTAR ISTILAH 2. Bagian tubuh, yang meliputi
a. BAB PENDAHULUAN
b. BAB-BAB ISI c. BAB PENUTUP 3. Bagian ekor, yang meliputi:
a. DAFTAR <PUSTAKA/ACUAN> b. GAMBAR-GAMBAR (bila diperlukan) c. TABEL-TABEL (bila diperlukan)
d. LAMPIRAN-LAMPIRAN (bila diperlukan) e. RALAT (bila diperlukan)
3.1 Bagian Kepala
A. [HALAMAN SAMPUL]
Halaman ini merupakan kulit luar penjilidan Tesis, yang bahannya berupa karton tebal yang dilapisi linen warna orange dan selubung plastik transparan. Huruf-huruf pada sampul dicetak dengan tinta cetak warna merah tua (dark red), yang menyatakan dengan urutan dari atas hingga ke bawah:
Judul Tesis ditulis lengkap Kata Penyusun:
‘Oleh:’
Nama Lengkap Penyusun (Tanpa Gelar) Nomor Pokok Mahasiswa
Pernyataan Tujuan Tesis
Tesis diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Komputer
Lambang Universitas Dian Nuswantoro Nama Lengkap Program dan Universitas
PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER TEKNIK INFORMATIKA
UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO Tempat penyusunan
SEMARANG Tahun penyusunan
Huruf yang digunakan adalah Times New Roman, dan dicetak dengan huruf besar kecuali Kata Penyusun (hanya pada awal kata „Oleh‟) dan Pernyataan Tujuan Tesis (hanya pada awal kata „Tesis‟). Komposisi huruf dan tata letak masing-masing bagian diatur simetris, rapi, dan serasi. (lihat Lampiran 6)
Pada punggung halaman sampul dicetak nama familiar penulis, nomor pokok mahasiswa, judul Tesis, tahun Tesis disusun, nama program (MAGISTER KOMPUTER), nama universitas (UDINUS) dan logo universitas. Huruf yang digunakan Times New Roman dan huruf besar (balok) dengan pencetakannya mengikuti cara Anglo-Saxon, yaitu dari kiri ke kanan jika punggung buku menghadap pembaca dan halaman sampul menghadap ke atas.
Di bagian atas tengah pada punggung halaman sampul Tesis, diberi pita warna merah muda (untuk penanda halaman baca) sepanjang tingginya buku Tesis ditambah 5 (lima) cm. (lihat Lampiran 7)
B. [HALAMAN JUDUL]
Halaman ini sama tepat dengan halaman sampul, tetapi dicetak pada kertas HVS putih dengan tinta cetak warna hitam.
C. PENGESAHAN STATUS TESIS Status Tesis dikategorikan menjadi 3 yaitu: 1. Sangat Rahasia
Tesis dengan kategori ini mengandung isi tentang keselamatan atau kepentingan negara Indonesia.
2. Rahasia
Tesis dengan kategori ini mengandung isi tentang kerahasiaan dari suatu organisasi/badan/vendor tempat penelitian dikerjakan berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh organisasi tersebut.
3. Biasa
Selain kedua kategori di atas
Halaman ini boleh disertakan boleh tidak, jika tidak disertakan berarti status Tesis dianggap Biasa. Jika Status Tesis Sangat Rahasia atau Rahasia, maka wajib disertakan dengan disahkan oleh pembimbing utama dan dilampiri surat dari pihak yang berkuasa/organisasi yang menyatakan bahwa Tesis tersebut berkategori Sangat Rahasia atau Rahasia. (lihat Lampiran 8 dan 9)
D. PERNYATAAN PENULIS
Halaman ini mengandung pengakuan dari penulis tentang keaslian isi Tesis sebagai karya sendiri bukan hasil saduran dari karya ilmiah lainnya kecuali cuplikan dan ringkasan yang disertai dengan sumber yang jelas. (lihat Lampiran 10)
E. PERSETUJUAN TESIS
Sebelum Tesis diujikan dalam Sidang Tesis, maka harus mendapatkan tanda tangan persetujuan dari semua pembimbing dan diperkuat (diketahui) oleh direktur pascasarjana UDINUS. Halaman ini juga menandakan bahwa penyusunan Tesis ini telah melalui prosedur pembimbingan dan pembimbing menyetujui isi Tesis. (lihat Lampiran 11)
F. PENGESAHAN TESIS
Halaman ini akan ditandatangi dan disahkan oleh Dewan Penguji setelah mahasiswa lulus Sidang Tesis dan telah dilakukan perbaikan-perbaikan (jika ada) sesuai dengan masukan-masukan dari Dewan Penguji. (lihat Lampiran 12)
G. ABSTRACT
Halaman ini menyajikan intisari Tesis kepada pembaca dalam Bahasa Inggris, yang mencakup:
1. masalah utama yang diteliti dan ruang lingkupnya 2. metode yang digunakan
3. hasil yang diperoleh, dan
4. kesimpulan utama dan saran yang diajukan
Abstrak harus disertakan dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Abstrak dalam bahasa Inggris diletakkan di depan abstrak dalam bahasa Indonesia. Jangan sekali-kali mencantumkan informasi ataupun kesimpulan yang tidak
dibahas dalam Tesis. Abstrak hendaknya tidak lebih dari 200 kata dan tidak menyebutkan acuan. Pada akhir abstrak dicantumkan data jumlah halaman Tesis serta rincian ragam lampiran dan jumlah acuan yang digunakan serta kisaran tahun acuan tersebut. (Lampiran 13)
H. ABSTRAK (dalam bahasa Indonesia)
Halaman ini berisi intisari dari Tesis yang merupakan terjemahan dari abstrak Bahasa Inggris. (lihat Lampiran 14)
I. ACKNOWLEDGMENTS
Pada dasarnya halaman ini memuat ucapan terima kasih mahasiswa kepada mereka yang telah berjasa dalam penyusunan Tesis, misalnya, orang/lembaga yang memberikan ide, referensi, menyediakan peralatan penunjang Tesis atau yang memberikan biaya penulisan Tesis. Kalimat- kalimatnya pendek, terdiri dari beberapa alinea, namun tidak lebih dari ¾ halaman.
Judul ACKNOWLEDGMENTS diketik simetris di batas atas bidang pengetikan, tanpa penggarisbawahan dan tanpa pembubuhan titik akhir. Di akhir teks dicantumkan tempat, bulan dan tahun penyelesaian Tesis di kanan bawah, yang diikuti kata “Penulis” di bawahnya. Di bagian tengah bawah diketik nomor halaman dengan angka Romawi kecil. (lihat Lampiran 15)
J. DAFTAR ISI
Halaman ini memaparkan semua judul bab dan judul sub-bab dalam suatu daftar yang disusun secara vertikal. Semua judul bab diketik dengan huruf besar, sedangkan sub-bab, anak sub-bab dan rinciannya hanya huruf awalnya diketik dengan huruf besar.
Daftar Isi diawali dengan butir ABSTRACT, ABSTRAK, ACKNOWLEDGMENTS, DAFTAR ISI, DAFTAR GAMBAR, DAFTAR TABEL, DAFTAR LAMPIRAN (bila ada), yang diikuti keterangan halaman masing-masing (dalam angka Romawi kecil), kemudian diikuti rincian bab Bagian Tubuh Tesis, dan ditutup DAFTAR ACUAN. Tiap judul sub-bab dan anak sub-bab diketik makin ke dalam sesuai tingkatannya. (lihat Lampiran 16)
K. DAFTAR GAMBAR
Daftar ini memberikan kepada pembaca petunjuk yang memungkinkannya dengan cepat dan tepat mengetahui gambar apa saja yang ada dalam Tesis tersebut dan di halaman berapa kita dapat melihatnya. (lihat Lampiran 17)
L. DAFTAR TABEL
Daftar ini memberikan kepada pembaca petunjuk yang memungkinkannya dengan cepat dan tepat mengetahui tabel yang ada dalam Tesis tersebut dan letak halamannya. (lihat Lampiran 18)
M. DAFTAR LAMPIRAN
Daftar ini memberikan kepada pembaca petunjuk yang memungkinkannya dengan cepat dan tepat mengetahui lampiran yang ada dalam Tesis tersebut dan letak halamannya. (lihat Lampiran 19)
N. DAFTAR ISTILAH
Daftar ini berisi keterangan istilah-istilah yang digunakan dalam penulisan dan diperkirakan perlu untuk diterangkan/ dijelaskan. (lihat Lampiran 20)
3. 2 Bagian Tubuh
Dalam bagian ini tercantum teks yang secara ilmiah memaparkan penelitian yang dilakukan serta hasil- hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut. Penyajiannya lugas dan sistematis, menggunakan bahasa Indonesia sesuai kaidah tata bahasa yang berlaku, dan pengejaannya sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Pengindonesiaan istilah mengikuti Pedoman Umum Pembentukan Istilah, sedangkan ragam bahasa baku mengikuti Kamus Besar Bahasa Indonesia. (lihat Lampiran 21)
A. BAB PENDAHULUAN
BAB PENDAHULUAN, yang merupakan BAB I Tesis, berisi sama dengan proposal tesis yang telah di-review dalam Sidang Seminar Proposal dan sudah memperoleh pengesahan oleh pembimbing yang terdiri dari:
1. latar belakang 2. rumusan masalah 3. tujuan penelitian 4. manfaat penelitian 5. sistematika penulisan
B. BAB TINJAUAN PUSTAKA
Isi dari bab ini sama dengan bab landasan teori pada proposal tesis yang telah di-review dalam Sidang Seminar Proposal dan sudah memperoleh pengesahan oleh pembimbing. Penambahan atau perubahan isi bab ini dimungkinkan bila selama penelitian berlangsung dijumpai perkembangan teori, hukum, dalil, teorema, aksioma, formula, asumsi dan sebagainya sehingga kerangka teori atau kerangka pemikiran rekayasa pun berubah. Akibat pesatnya perkembangan iptek terutama yang berkaitan dengan teknik informatika menyebabkan state of the art juga terus berkembang. Perubahan ini perlu dilaporkan ke pembimbing dengan disertai argumentasi yang kuat, sebab hal ini akan mempengaruhi metode penelitian.
C. BAB METODE PENELITIAN
Isi bab ini sama dengan bab Metode Penelitian pada Proposal. Bila terjadi perubahan, maka peneliti harus dapat mempertanggung-jawabkan dan memberikan argumentasi yang cukup bahwa metode terpaksa dirubah, tidak sesuai rencana. Perbedaan yang boleh terjadi adalah bahwa kalau metode di dokumen proposal adalah metode yang akan dilaksanakan, sedangkan di dokumen tesis adalah yang sudah dilaksanakan.
D. BAB- BAB PELAKSANAAN PENELITIAN
Pada prinsipnya bahwa suatu penelitian bersifat khas, tidak ada duanya. Oleh sebab itu pengaturan sistematika tidak dilakukan pada keseluruhan bab. Bab ini dapat terdiri dari beberapa bab yang terpisah sesuai dengan karakteristik penelitian dan keperluan peneliti untuk menyampaikan kegiatan dan hasil penelitiannya. Pada prinsipnya peneliti harus melaksanakan seluruh tahapan yang tercantum dalam metode penelitiannya. Oleh sebab itu pembagian babnya dapat disusun berdasarkan tahapan atau gabungan dari beberapa tahapan yang tercantum dalam metode penelitian. Nama bab disesuaikan dengan isi bab, dalam arti tidak harus sama dengan yang tertulis dalam metode penelitian. Uraikan alat yang digunakan, data yang terlibat, pihak yang terlibat, waktu dan tempat yang digunakan, pengujian yang telah dilakukan, dan semua langkah- langkah yang dilakukan peneliti hingga diperoleh hasil penelitian. Hasil penelitian sebaiknya muncul sebagai bab tersendiri yang kemudian diikuti bab pembahasan hasil penelitian.
Bab yang berisi tentang pembahasan hasil penelitian perlu diarahkan pada diskusi- diskusi tentang ketercapaian tujuan penelitian yang berarti pula terselesaikannya masalah. Sebaliknya bila hasil penelitian tidak menyelesaikan seluruh masalah yang telah dirumuskan, maka penulis harus dengan jujur mengungkapkan hal ini beserta alasan- alasan kuat yang mendasarinya mulai dari ketidaktepatan pengambilan teori hingga kendala- kendala teknis.
E. BAB PENUTUP
Bab ini berisi ringkasan dari bab sebelumnya, yakni bab tentang pembahasan hasil penelitian yang membahas tentang ketercapaian tujuan penelitian. Melalui bab ini pembaca dengan mudah dapat memahami, bahwa penelitian telah menyelesaikan masalah yang telah dirumuskan atau belum. Oleh sebab itu sebaiknya cara penyajiannya disesuaikan dengan format penyajian di rumusan masalah maupun di tujuan penelitian. Jadi bab ini bukan merupakan ringkasan penelitian.
Apabila ternyata tidak semua masalah teratasi, atau banyak kendala yang dihadapi, maka penulis dapat menyampaikannya sebagai saran penelitian untuk ditindaklanjuti peneliti lainnya.