• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH KABUPATEN LABUHANBATU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH KABUPATEN LABUHANBATU"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

GAMBARAN UMUM DAERAH KABUPATEN LABUHANBATU

2.1. KONDISI GEOGRAFIS

Kabupaten Labuhanbatu dengan Ibukota Rantauprapat merupakan salah satu kabupaten yang berada pada kawasan pantai timur Propinsi Sumatera Utara yang terletak pada koordinat 1° 26’ - 2° 11’ Lintang Utara dan 91° 01’ - 95° 53’ Bujur Timur dengan batas wilayah sebagai berikut :

- Sebelah Utara dengan Kabupaten Asahan dan Selat Malaka.

- Sebelah Timur dengan Propinsi Riau.

- Sebelah Selatan dengan Kabupaten Tapanuli Selatan.

- Sebelah Barat dengan Kabupaten Toba Samosir dan Tapanuli Utara. Kabupaten ini mempunyai wilayah terluas di Propinsi Sumatera Utara yaitu 922.318 Ha (9.223,18 Km2) atau 12,87 % dari luas Provinsi Sumatera Utara. Secara administratif wilayahnya terdiri dari 22 Kecamatan, 209 Desa dan 33 Kelurahan.

Kabupaten Labuhanbatu mempunyai kedudukan yang cukup strategis, yaitu berada pada jalur lintas timur Sumatera dan berada pada persimpangan menuju Propinsi Sumatera Barat dan Riau, yang menghubungkan pusat-pusat perkembangan wilayah di Sumatera dan Jawa serta mempunyai akses yang memadai ke luar negeri karena berbatasan langsung dengan Selat Malaka.

Penggunaan lahan di Kabupaten Labuhanbatu didominasi oleh perkebunan baik perkebunan rakyat maupun perkebunan besar dengan luas sekitar 586.416 Ha (63,58%), hutan 14,753 %, pertanian tanaman pangan baik lahan sawah maupun lahan kering 11,40% dan penggunaan lain seperti permukiman, tambak, kolam, sementara tidak ditanami, rawa tidak ditanami dan lain-lain 10,23%.

Secara topografis sekitar 7.633,26 Ha atau 82,76% wilayahnya mempunyai tingkat kemiringan lahan 0 – 150. Kabupaten Labuhanbatu terbagi atas kawasan pantai dan kawasan lainnya yang terletak pada ketinggian 0 – s/d 2.151 m dari permukaan laut.

Secara hidrologi Labuhanbatu mempunyai 3 sungai besar yaitu Sungai Kualuh, Bilah dan Barumun dengan Daerah Aliran Sungai (DAS)-nya sebagai berikut :

DAS Barumun meliputi : Kecamatan Sungai Kanan, Kota Pinang, Torgamba, Silangkitang, Kampung Rakyat dan Kecamatan Panai Tengah.

(2)

DAS Bilah meliputi : Kecamatan Bilah Barat, Rantau Utara, Rantau Selatan, Bilah Hulu, Pangkatan, Bilah Hilir, Panai Hulu dan Kecamatan Panai Hilir.

DAS Kualuh meliputi : Kecamatan Kualuh Hulu, Kualuh Selatan, Aek Natas, Aek Kuo, Marbau, Na.IX-X, Kualuh Hilir dan Kecamatan Kualuh Leidong.

2.2. PEREKONOMIAN DAERAH

2.2.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

PDRB adalah jumlah nilai tambah seluruh sektor kegiatan ekonomi yang terjadi/muncul disuatu daerah pada periode tertentu. Secara umum data PDRB disajikan atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan. Perkembangan PDRB Kabupaten Labuhanbatu dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel. 2.1. PDRB Kabupaten Labuhanbatu

NO. TAHUN HARGA BERLAKU (Rp. Juta) HARGA KONSTAN 2000 (Rp. Juta) 1. 2000 5.665.018,40 5.665.018,40 2. 2001 6.405.502,92 5.936.474,95 3. 2002 7.331.083,99 6.195.833,10 4. 2003 8.325.972,49 6.485.545,82 5. 2004 9.443.928,49 6.731.696,49 6. 2005 10.918.368,82 7.010.749,57 Sumber : BPS Labuhanbatu 2005

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa selama periode tahun 2000 - 2005, PDRB Kabupaten Labuhanbatu mengalami perkembangan yang cukup pesat dan relatif tinggi. Pada tahun 2000, PDRB Kabupaten Labuhanbatu Atas Dasar Harga Berlaku sebesar Rp. 5.665.018,40 (juta), meningkat menjadi Rp. 10.918.368,82 pada tahun 2005.

Namun keadaan tersebut belum tentu mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Untuk mendapatkan gambaran rata-rata pendapatan yang diterima oleh penduduk dapat dilihat melalui PDRB Perkapita. Perkembangan PDRB Perkapita Kabupaten Labuhanbatu dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

(3)

Tabel. 2.2. PDRB Perkapita Kabupaten Labuhanbatu

NO. TAHUN HARGA BERLAKU

(Rp. Juta) PERTUMBUHAN (%) 1. 2000 6,80 - 2. 2001 7,62 12,00 3. 2002 8,61 13,03 4. 2003 9,14 6,15 5. 2004 9,99 9,34 6. 2005 11,47 14,73

Sumber : BPS Kabupaten Labuhanbatu 2005

Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa selama periode tahun 2001 - 2005 PDRB Perkapita kabupaten Labuhanbatu mengalami pertumbuhan rata-rata sekitar 11, 05 %.

Salah satu indikator untuk mengetahui kinerja perekonomian suatu daerah adalah pertumbuhan ekonomi. Selama periode tahun 2000-2005, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Labuhanbatu cukup menggembirakan dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 4,36 %. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Labuhanbatu dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 2.3. Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Labuhanbatu

NO. TAHUN PERTUMBUHAN EKONOMI(%)

1. 2001 4,79

2. 2002 4,37

3. 2003 4,68

4. 2004 3,80

4. 2005 4,14

Sumber : BPS Kabupaten Labuhanbatu 2005

Struktur ekonomi suatu daerah sangat tergantung dari seberapa besar kemampuan sektor-sektor dalam memproduksi barang dan jasa. Semakin besar nilai tambah yang dihasilkan oleh suatu sektor ekonomi, maka semakin besar pula tingkat ketergantungan suatu daerah terhadap sektor ekonomi tersebut.

Untuk melihat peranan masing-masing sektor dalam perekonomian suatu daerah, maka penyajian PDRB dalam bentuk persentase distribusi sektoral terhadap total PDRB sangat penting. Persentase distribusi sektoral terhadap total PDRB dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

(4)

Tabel 2.4. Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Labuhanbatu atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha

Tahun 2000 – 2005 (persen)

NO LAPANGAN USAHA 2000 2001 2002 2003r) 2004r) 2005*) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

1. PRIMER 28.62 28.17 28.00 26.41 26.05 25.40

a. PERTANIAN 27.86 27.16 26.88 25.40 24.74 24.04

b. PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN 0.76 1.01 1.12 1.01 1.31 1.36

2. SEKUNDER 46.60 46.84 46.72 47.58 47.62 47.82

a. INDUSTRI PENGOLAHAN 43.82 44.01 43.87 44.78 44.81 45.09

b. LISTRIK, GAS DAN AIR BERSIH 0.25 0.27 0.34 0.40 0.40 0.40

c. BANGUNAN 2.53 2.56 2.51 2.40 2.41 2.33

3. TERSIER 24.79 24.99 25.28 26.03 26.31 26.78

a. PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN 15.65 15.54 15.35 15.60 15.42 15.89

b. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI 2.29 2.53 2.89 2.79 3.26 3.46

c. KEUANGAN, PERSEWAAN DAN JASA

PERUSAHAAN 1.00 1.06 1.15 1.20 1.25 1.21

d. JASA-JASA 5.85 5.86 5.89 6.44 6.38 6.22

LABUHANBATU 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00

Catatan: r) Angka Perbaikan *) Angka Sementara

Bila dilihat secara sektoral, ada 3 (tiga) sektor yang cukup dominan dalam pembentukan PDRB Kabupaten Labuhanbatu yaitu: Sektor Industri Pengolahan dengan sumbangan sebesar 45,09 %, Sektor Pertanian 24,04 % dan Sektor Perdagangan, Hotel & Restoran 15,89 %.

2.2.2. Potensi ekonomi.

Potensi andalan Kabupaten Labuhanbatu sampai dengan saat ini adalah sektor perkebunan, hal ini dapat dilihat dari penggunaan lahan maupun dari nilai produksi yang dihasilkan. Hasil perkebunan merupakan bahan baku industri pengolahan yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku. Ini berarti perkebunan merupakan potensi pendukung dalam perkembangan ekonomi labuhanbatu.

Selain sektor perkebunan, Kabupaten Labuhanbatu juga memiliki potensi sumber daya alam yaitu berupa pertanian tanaman pangan, perikanan dan hasil hutan yang secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut :

(5)

2.2.2.1. Pertanian Tanaman Pangan.

Kabupaten Labuhanbatu merupakan salah satu lumbung padi di Propinsi Sumatera Utara dengan luas areal persawahan mencapai 70.704 Ha dan produksi padi yang dihasilkan mencapai 316.337 ton pertahun 2005. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 2.5. Produksi Padi Kabupaten Labuhanbatu

NO INDIKATOR LUAS PANEN

(Ha) PRODUKSI (TON) 1 Padi Sawah 2002 93.887 373.014 2003 81.490 339.338 2004 85.614 359.336 2005 67.142 307.365 2 Padi Ladang 2002 2.400 5.986 2003 6.834 7.568 2004 2565 6.227 2005 3562 8.972 3 Jumlah 2002 96.287 379.000 2003 88.333 356.906 2004 88.170 365.563 2005 70.704 316.337

Sumber : LPJ Bupati Labuhanbatu tahun 2005

2.2.2.2. Perkebunan.

Perkembangan sub sektor perkebunan dapat dilihat dari luas areal maupun produksi yang dihasilkan. Produksi perkebunan ini merupakan pilar utama dalam pengembangan sektor industri pengolahan. Hal ini terlihat dari 56 unit industri besar sedang yang ada, 45 unit diantaranya mempunyai bahan baku hasil tanaman perkebunan, yaitu 41 unit pabrik pengolahan kelapa sawit dan 8 unit pabrik pengolahan karet. Hal ini memberikan gambaran bahwa sub sektor perkebunan merupakan salah satu sub sektor unggulan di Kabupaten Labuhanbatu.

Jenis tanaman utama yang dibudidayakan adalah karet dan kelapa sawit. Komoditi sawit masih menjadi komoditi primadona didaerah ini dan merupakan bahan baku untuk industri oleo kimia dan minyak goreng. Luas areal dan produksi tanaman karet perkebunan rakyat dan besar dapat dilihat pada tabel 2.6 serta luas areal dan produksi tanaman kelapa sawit perkebunan rakyat dan besar dapat dilihat pada table 2.7.

(6)

Tabel 2.6. Luas Areal dan Produksi Tanaman Karet URAIAN LUAS (Ha) PRODUKSI (TON) Tahun 2000 Tahun 2001 Tahun 2002 Tahun 2003 Tahun 2004 Tahun 2005 118.799,24 120.065,69 115.484,58 113.589,08 103.667,89 97.381,08 117.875,90 117.706,00 117.615,00 116.683,00 105.003,60 110.324

Sumber : LPJ Bupati Labuhanbatu tahun 2005

Tabel 2.7. Luas Areal dan Produksi Tanaman Kelapa Sawit.

URAIAN LUAS (Ha) PRODUKSI (TON) Tahun 2000 Tahun 2001 Tahun 2002 Tahun 2003 Tahun 2004 Tahun 2005 291.182,70 291.245,48 291.722,74 295.093,74 303.040,00 342.441,74 4.394.895,53 4.463.794,00 4.568.517,00 4.590.733,00 4.487.964,00 5.149.191,00

Sumber : LKPJ Bupati Labuhanbatu 2000-2005

Dari table diatas, terlihat adanya penurunan luas areal tanaman karet, yang disebabkan adanya kecenderungan masyarakat meremajakan/merehabilitasi tanamannya dari tanaman karet menjadi tanaman kelapa sawit dan tanaman perkebunan lainnya yang diperkirakan dari segi pengolahan lebih cepat dengan biaya lebih murah. Untuk pertambahan areal tanaman kelapa sawit disebabkan adanya perluasan areal/ tanaman baru (new planting), peremajaan (replanting) dan rehabilitasi dari tanaman karet dan tanaman perkebunan lainnya menjadi tanaman kelapa sawit.

Produksi ersebut diatas belum optimal disebabkan penggunaan bibit yang tidak sesuai dengan standar, sebagian tanaman sudah tua dan masih adanya tanaman yang belum menghasilkan serta adanya tanaman yang kurang perawatan dan pengolahan lahan yang tidak sesuai dengan kultur teknis perkebunan.

2.2.2.3. Perikanan

Sub sektor perikanan merupakan salah satu komoditi unggulan daerah ini karena memiliki wilayah laut yang cukup luas dengan panjang garis pantai + 75 km serta berbatasan dengan perairan Internasional. Disamping itu, juga terdapat tiga sungai besar yang cukup potensial untuk sub sektor perikanan. Namun potensi tersebut masih dikelola secara tradisional (non teknologi) dan masih bisa ditingkatkan dan dioptimalkan, terutama pada kawasan pantai/laut yang cukup potensial untuk pembudidayaan Udang dan Ikan Kerapu. Produksi Perikanan Kabupaten Labuhanbatu dapat dilihat pada tabel berikut ini :

(7)

Tabel 2.8. Produksi Perikanan Kabupaten Labuhanbatu

PERIKANAN DARAT (TON) TAHUN

BUDIDAYA PER. UMUM

PERIKANAN LAUT (TON) JUMLAH (TON) 2001 702,9 565,8 30.270,2 31.538,9 2002 706,4 564,1 29.941,9 31.212,4 2003 209,0 494,9 29.150,9 30.448,8 2004 402,0 352,0 23,320,0 24.075,0 2005 648,62 309,38 22.214,43 23.172,43

Sumber : BPS Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2005

2.2.2.4. Kehutanan

Meskipun kawasan hutan di daerah ini semakin menurun luasnya karena beralih fungsi menjadi kawasan budidaya non kehutanan, namun potensi dibidang kehutanan masih cukup besar. Gambaran luas hutan tahun 2005 di Kabupaten Labuhanbatu sesuai SK Menteri Kehutanan No. 44/Menhut-II/2005 tanggal 16 Pebruari 2005 dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 2.9. Luas Hutan di Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2005

NO JENIS HUTAN LUAS (HA)

1 2 3 4 5 Hutan Lindung Hutan Produksi

Hutan Produksi Terbatas

Hutan Suaka Alam/ Hutan Wisata. Hutan Konversi 86.353,17 135.827,70 43.276,17 2.706,31 1.993,00 J U M L A H 270.156,35

Sumber : BPS Kabupaten Labuhanbatu 2005

2.2.2.5. Peternakan.

Sektor Peternakan sangat potensial untuk dikembangkan di Kabupaten Labuhanbatu, hal ini didukung dengan luasnya hamparan lahan perkebunan besar yang dapat dijadikan sumber pakan ternak dan pengembalaan. Peternakan juga memberikan kontribusi yang cukup besar sebagai sumber (Pemasok) kebutuhan sembilan bahan pokok. Perkembangan peternakan di Kabupaten Labuhanbatu dapat dilihat pada tabel berikut :

(8)

Tabel 2.10. Perkembangan Peternakan di Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2000-2005 TAHUN NO URAIAN 2000 2001 2002 2003 2004 2005 1. Populasi ternak (ekor) : y Sapi potong y Kerbau y Babi y Kambing/Domba y Ayam buras y Ayam petelur y Ayam pedaging y I t i k 12.500 520 4.270 67.178 530.652 15.000 17.000 99.387 12.760 541 7.091 69.134 597.300 20.000 24.500 101.857 12.842 597 7.137 69.777 599.341 20.000 24.500 101.784 14.490 691 7.140 73.855 602.789 20.000 24.350 86.431 15.885 502 7.656 75.308 622.572 15.000 -68.254 16.350 510 8.020 76.500 653.650 -20.000 60.250 2. Produksi hasil ternak (ton) y Telur y Daging 3.195,13 4.113,90 4.006,14 4.401,79 4.320,50 4.708,79 4.352,78 5.017,84 4.394,26 5.083,10 -5.214,20 Sumber : LKPJ Bupati Labuhanbatu 2000-2005

2.3. SOSIAL BUDAYA DAERAH

2.3.1. Kependudukan dan Ketenagakerjaan.

Masalah kependudukan dari tahun ke tahun selalu mendapat perhatian lebih, baik dari Pemerintah Pusat secara umum maupun Pemerintah Daerah secara khusus karena masalah ini berkaitan dengan pembangunan fasilitas-fasilitas publik diantaranya, pendidikan, kesehatan, dan ketenagakerjaan. Data kependudukan diperlukan untuk perencanaan maupun evaluasi pembangunan. Dari sisi perencanaan, data ini dapat menjadi dasar untuk merencanakan pemenuhan kebutuhan akan fasilitas penunjang kesejahteraan masyarakat, misalnya fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan masyarakat, tempat ibadah, tempat rekreasi, dan lainnya. Sedangkan dari sisi evaluasi, data ini dapat menjadi gambaran sampai sejauh mana program yang menyangkut hal kependudukan sudah berjalan, seperti: Program Keluarga Berencana yang bertujuan untuk menekan/mengurangi jumlah kelahiran, Program Wajib Belajar maupun program lain yang berkaitan dengannya.

(9)

Tabel 2.11. Indikator Kependudukan

INDIKATOR SATUAN 2000 2001 2002 2003 2004 2005

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

Jumlah Penduduk Ribu Jiwa 832 840 865 910 943 951

Pertumbuhan Penduduk Persen 1,68 0,95 1,27 6,99 3,62 0,88

Penduduk Miskin Ribu jiwa - - 130,4 143,7 131,3 -

Persentase Penduduk

Miskin Persentase - - 15,06 15,78 14,16 -

Angkatan Kerja (≥10 Thn) Jiwa 320.500 337.171 345.577 391.034 388.079 407.561

- Bekerja Jiwa 303.850 321.527 324.863 341.307 319.695 324.139

- Mencari Kerja Jiwa 16.650 15.644 20.714 49.647 68.384 103.232

Bukan Angkatan Kerja Jiwa 314.041 279.596 299.701 301.436 306.790 310.502

Catatan : - Data Tidak Tersedia Sumber : BPS Kabupaten Labuhanbatu

Berdasarkan hasil Pendaftaran Pemilih dan Pendataan Penduduk Berkelanjutan (P4B), jumlah penduduk Kabupaten Labuhanbatu pada tahun 2005 sebanyak 951.773 jiwa dengan pertumbuhan sebesar 0,88 % mengakibatkan kepadatan penduduk daerah Labuhanbatu meningkat dari 102,30 jiwa/Km2 menjadi 103,19 jiwa/Km2. Komposisi penduduk menurut gender Kabupaten Labuhanbatu terdiri dari 474.895 jiwa penduduk laki-laki (49,90%) dan 476.878 jiwa penduduk perempuan (50,10%). Jumlah rumah tangga yang ada di Kabupaten Labuhanbatu sebesar 203.752, yang rata-rata 5 jiwa per rumah tangga. Angka sex rasio sebesar 99,58 % yang berarti perkembangan penduduk perempuan hampir sama dengan penduduk laki-laki.

Permasalahan yang paling mendesak dan paling serius saat ini adalah masalah ketenagakerjaan. Pembangunan ketenagakerjaan diarahkan pada peningkatan kesempatan kerja dan penurunan tingkat pengangguran. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) selama tahun 2002 sampai 2005 memperlihatkan kecenderungan yang terus meningkat. Pada tahun 2002, TPT Labuhanbatu mencapai 5,99 persen, tahun 2003 meningkat menjadi sebesar 12,70 persen. Tahun 2004 juga mengalami peningkatan menjadi 17,62 persen. Pada tahun 2005 masih belum dihitung sehingga masih menggunakan angka sementara yaitu angka pada tahun 2004. Dengan TPT

(10)

sebesar 17,62 persen pada tahun 2004 ini, berarti terdapat sekitar 120 ribu jiwa penduduk usia kerja yang saat ini tidak bekerja dan sedang mencari pekerjaan. Meningkatnya tingkat pengangguran selain disebabkan oleh terbatasnya kesempatan kerja, bertambah penduduk usia kerja dan tamatan sekolah yang masuk ke pasar kerja karena tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Kabupaten Labuhanbatu dari tahun 2000-2004 berfluktuatif. Pada tahun 2004, TPAK labuhanbatu sebesar 55,85 persen. Persentase ini lebih besar dibandingkan pada tahun 2003 dan 2002 yang masing-masing sebesar 56,47 persen dan 53,55 persen. Peningkatan ini disebabkan karena peningkatan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Labuhanbatu sehingga menciptakan lapangan kerja baru.

2.3.2. Kesehatan.

Pembangunan sektor kesehatan bertujuan agar seluruh lapisan masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara mudah, murah dan merata. Dengan demikian diharapkan akan tercapai derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik.

Salah satu indikator derajat kesehatan penduduk adalah angka kesakitan (morbility rate) yaitu banyaknya penduduk yang mengalami keluhan kesehatan dalam sebulan berdasarkan jenis keluhan yang dideritanya. Pada tahun 2005 angka kesakitan penduduk sebesar 18,66 %.

Indikator lainnya adalah usia harapan hidup yaitu perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur. Pada tahun 2000 usia harapan hidup daerah ini 65,70 tahun, meningkat menjadi 66,2 % (angka Sementara) pada tahun 2005. Selain tingkat mortalitas (kematian) yang merupakan indikator juga mengalami penurunan dari tahun ke tahun, baik angka kematian kasar, angka kematian bayi, angka kematian balita maupun angka kematian ibu.

(11)

Tabel 2.12. Gambaran Derajat Kesehatan Masyarakat Kabupaten Labuhanbatu INDIKATOR SATUAN 2000 2001 2002 2003 2004 2005 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Tingkat Kelahiran (TFR) Rata-rata Kelahiran PUS 3,65 3,48 3,27 3,34 3,29* 3,09e

Tingkat Kematian Bayi (IMR)

Per Seribu Kelahiran

Hidup

52,3 51 51 52 48* 47,6e

Harapan Hidup Tahun 65,70 64,70 64,70 65 65,10* 66,2*

Tingkat Kesakitan Penduduk Persen 15,29 18,66 15,83 20,30 29,43 18,66

Catatan : e) Angka Estimasi Sumber : BPS Kabupaten Labuhanbatu *) Angka Sementara

Pada tahun 2005, TFR (banyaknya bayi yang dilahirkan oleh seorang wanita hingga akhir masa reproduksinya) di Kabupaten Labuhanbatu sebanyak 3,09 bayi. Jumlah ini menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Penurunan angka ini mengindikasikan bahwa program Keluarga Berencana yang dilaksanakan di Kabupaten Labuhanbatu terlaksana dengan baik. Selain itu, penurunan TFR juga menyebabkan penurunan jumlah kematian bayi (IMR). Pada tahun 2005, jumlah bayi yang meninggal sebanyak 47,6 jiwa per seribu kelahiran hidup dan mengalami penurunan dari tahun 2004 dan 2003 yang sebesar 48 dan 52 jiwa per seribu kelahiran hidup.

Dengan semakin baiknya kondisi kesehatan bayi dan rendahnya angka kematian bayi (IMR), maka peluang bayi untuk hidup lebih lama semakin tinggi. Pada tahun 2005 bayi yang lahir diharapkan akan hidup selama 66,2 tahun. Kemungkinan hidup umur bayi tersebut lebih lama dibandingkan dari tahun 2004 yang hanya 65,10 tahun dan 65 tahun pada tahun 2003.

Bangsa yang memiliki tingkat derajat kesehatan yang tinggi akan lebih berhasil dalam melaksanakan pembangunan. Upaya perbaikan kesehatan masyarakat dikembangkan melalui Sistem Kesehatan Nasional. Pelaksanaannya diusahakan dengan meningkatkan partisipasi aktif masyarakat yang diarahkan terutama kepada golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. Tingkat kesakitan penduduk pada tahun 2005 menunjukkan bahwa, jumlah penduduk yang mengeluh sakit mencapai 18,66 persen. Angka tersebut mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan dengan tahun 2004 sebesar 10,77 persen dan sebesar 1,64

(12)

persen dibandingkan dengan tahun 2003. Penurunan angka tingkat kesakitan penduduk berarti bahwa terjadi peningkatan derajat kesehatan penduduk secara menyeluruh. Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa tingkat derajat kesehatan masyarakat Labuhanbatu cukup baik dan terus meningkat setiap tahunnya.

Disisi lain upaya kesehatan masyarakat terus ditingkatkan baik fasilitas maupun pelayanannya. Sarana dan prasarana kesehatan di Kabupaten Labuhanbatu cukup memadai, sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2.13. Sarana dan Prasarana Kesehatan di Kabupaten Labuhanbatu

NO URAIAN JUMLAH

1. Rumah sakit :

- Rumah Sakit Pemerintah - Rumah Sakit Swasta dan BUMN

1 7 2. Puskesmas : - Puskesmas model - Puskesmas Keliling - Puskesmas - Puskesmas Pembantu 21 26 15 128 3. Polindes 215

4. Balai Pengobatan Swasta 35

5. Rumah Sakit Bersalin 9

Posyandu 2.149

6. Praktek Tenaga Kesehatan : - Dokter Umum

- Dokter Spesialis - Dokter Gigi - Apoteker - Bidan

- Paramedis (Akper, SPK, SPRG, SAA, APK Sanitarian, Gizi)

- Sarjana Kesehatan Masyarakat

80 20 21 21 406 414 14 9. Apotik 19 TOB 45 Jamban Keluarga 111.575 SPAL 113.230 Sumber : LKPJ Bupati Labuhanbatu Tahun Anggaran 2000-2005

2.3.3. Pendidikan.

Pendidikan mempunyai peran penting bagi suatu bangsa dan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kecerdasan dan keterampilan manusia. Kualitas sumber daya manusia sangat tergantung pada pendidikan. Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya menuntaskan program wajib belajar 9 tahun yang dimulai tahun 1994. Dengan demikian diharapkan

(13)

tingkat pendidikan penduduk akan lebih baik dan sebaliknya jumlah penduduk yang buta huruf akan berkurang.

Keadaan pendidikan penduduk secara umum dapat diketahui dari beberapa indikator antara lain angka partisipasi sekolah, tingkat pendidikan yang ditamatkan dan angka melek huruf.

Untuk mengetahui kondisi pendidikan dapat dilihat dari nilai Angka Partisipasi Sekolah (APS) yaitu perbandingan antara jumlah murid dengan jumlah penduduk usia sekolah. Pada tahun 2004 APS Kabupaten Labuhanbatu tingkat SD sebesar 102,08%, SLTP 84,51% dan SLTA sebesar 55,82%, yang lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2.14. Angka Partisipasi Sekolah Pendidikan Kabupaten labuhanbatu INDIKATOR SATUAN 2000 2001 2002 2003 2004 2005 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Partisipasi Sekolah - 7-12 tahun Persen 96,68 95,76 95,57 97,10 98,28 98,05 - 13-15 tahun Persen 76,81 77,85 78,39 81,99 90,62 86,53 - 7-15 tahun Persen - - - 92,17 96,00 94,48 Pendidikan yang Ditamatkan

- Tidak/belum tamat SD Persen 35,45 26,7 29,72 26,4 23,22 27,24 - Tamat SD Persen 33,00 32,44 33,19 35,22 29,60 29,05 - Tamat SLTP Persen 17,12 18,99 18,75 23,39 26,72 22,25 - Tamat SLTA Persen 13,27 19,73 17,40 13,98 19,39 19,15 - Tamat Diploma (I,II,III) Persen 0,56 1,18 1,01 0,71 0,50 1,24 - Tamat D-IV/S1 Persen 0,53 0,95 1,03 0,28 0,58 1,05

Tingkat Buta Huruf Persen 2,33 2,33 2,15 2,16 1,91 3,49

Catatan : - Data Tidak Tersedia Sumber : BPS Kabupaten Labuhanbatu

Tingkat partisipasi sekolah menunjukkan bahwa, penduduk berumur 7 s/d 12 tahun yang sekolah sebesar 98,05 persen pada tahun 2005. Persentase ini menurun dari 98,28 persen dibandingkan dengan tahun 2004 dan meningkat dari 97,10 persen pada tahun 2003. Sementara itu, angka partisipasi sekolah untuk penduduk umur 13 s/d 15 tahun yang sekolah sebesar 86,53 persen pada tahun 2005. Angka ini mengalami penurunan dari 90,62 persen pada tahun 2004 dan mengalami kenaikan dari 81,99 persen pada tahun 2003.

(14)

Dengan demikian, secara rata-rata angka partisipasi sekolah penduduk umur 7 s/d 15 tahun telah mencapai 94,48 persen pada tahun 2005. Terjadi penurunan angka partisipasi sekolah dari 96 persen pada tahun 2004. Penurunan ini mengindikasikan bahwa kurangnya kesadaran masyarakat terhadap program pemerintah tentang wajib belajar 9 tahun. Selain itu kondisi ekonomi yang serba sulit saat ini juga dapat menyebabkan ketidakmampuan masyarakat untuk membiayai pendidikan anak. Dengan adanya bantuan pemerintah ke dunia pendidikan yaitu dalam bentuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS) diharapkan untuk tahun depan tingkat partisipasi sekolah penduduk umur 7 s/d 15 tahun dapat ditingkatkan.

Tingkat pendidikan penduduk Kabupaten Labuhanbatu pada tahun 2005 sebagian besar (29,05 persen) tamatan SD, kemudian disusul yang tidak/belum tamat SD (27,24 persen), dan tamat SLTP (22,25 persen). Tamat SLTA sebesar 19,15 persen dan selebihnya tamat Akademi/Sarjana. Jika dibandingkan dengan tahun 2004 kondisi ini lebih baik di pendidikan tingkat tinggi karena terjadi kenaikan tamatan pendidikan Akademi/Sarjana dari 1,08 persen tahun 2004 menjadi 2,29 persen tahun 2005. Akan tetapi, kondisi lebih buruk terjadi pada penduduk yang tidak/belum tamat SD karena adanya kenaikan dari tahun 23,22 persen tahun 2004 menjadi 27,24 persen tahun 2005.

Dengan semakin menurunnya partisipasi sekolah dan meningkatnya angka penduduk yang belum/tamat SD menyebabkan meningkatnya angka buta huruf dari 1,91 persen pada tahun 2004 menjadi sebesar 3,49 persen tahun 2005.

Kemudian untuk indikator tingkat ketersediaan sarana pendidikan dalam proses belajar mengajar adalah rasio murid dengan guru. Untuk lebih jelasnya rasio murid dengan guru tahun 2004 dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.15. Rasio Guru dan Murid di kabupaten Labuhanbatu tahun 2004.

NO. TINGKAT

PENDIDIKAN SEKOLAH MURID GURU

RASIO GURU-MURID

1 SD 651 161.166 4.304 37

2 SLTP 45 31.029 687 45

3 SLTA 26 31.958 571 55

Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Labuhanbatu

(15)

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa rasio guru dengan murid untuk tingkat setara SD adalah 1 : 37, setara SLTP 1 : 45 dan setara SLTA 1 : 55. Hal ini memberikan pengertian bahwa untuk setara SD setiap guru melayani 37 murid. Berdasarkan ketetapan Departemen Pendidikan bahwa rasio standar atau ideal untuk tingkat setara SD adalah 1 : 25, SLTP 1 : 16 dan setera SLTA 1 : 13. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa rasio guru dan murid di Kabupaten Labuhanbatu untuk tingkat setara SD, tingkat setara SLTP dan SLTA belum memenuhi standard. Namun bila dilihat kondisi guru pada sekolah negeri masih belum memadai. Hal ini dapat dilihat pada tabel kebutuhan guru berikut:

Tabel 2.16. Tabel Kebutuhan Guru pada Sekolah Negeri di Kabupaten Labuhanbatu tahun 2004.

TAHUN 2004

NO TINGKAT

SEKOLAH GURU YANG

ADA (ORANG) KEBUTUHAN (ORANG) KURANG (ORANG) 1. SD 4.304 6.012 1.959 2. SLTP. 687 1.405 741 3. SMU/SMK 353 571 214 Jumlah……… 5.344 7.988 2.198

Sumber : Labuhanbatu Dalam Angka Tahun 2004

Dari tabel tersebut diatas, dapat digambarkan bahwa kebutuhan guru yang paling besar adalah pada tingkat sekolah dasar yaitu mencapai 1.959 orang atau 89,13% dari kebutuhan guru pada semua jenjang pendidikan.

Kemudian salah satu prasyarat agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan optimal adalah rasio ruang kelas dengan murid tahun 2004, sebagaimana dapat dilihat tabel berikut :

Tabel 2.17. Rasio Ruang Kelas dan Murid di Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2004.

NO TINGKAT

PENDIDIKAN SEKOLAH MURID

RUANG KELAS RASIO RUANG KELAS – MURID 1 SD Negeri 651 148.820 4.437 34 2 SLTP Negeri 45 19.572 562 35 3 SLTA Negeri 26 10.243 534 19

Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Labuhanbatu.

Dari tabel diatas, khusus untuk sekolah negeri dapat dilihat bahwa rasio ruang kelas dengan murid untuk tingkat SD adalah 1 : 34, SLTP 1 : 35 dan SLTA 1 : 19. Hal ini memberikan pengertian untuk tingkat SD setiap ruang kelas menampung sebanyak 35 murid. Jika dibandingkan dengan standart Departemen Pendidikan untuk setiap jenjang idealnya adalah 1 : 40. Maka dapat disimpulkan bahwa rasio ruang kelas dengan murid untuk tingkat SD dan SLTP sudah memenuhi standard. Khusus untuk sekolah negeri, kondisi sekolah-sekolah dapat dilihat pada tabel berikut :

(16)

Tabel. 2.18. Kondisi Sekolah Negeri di Kabupaten LabuhanbatuTahun 2004

NO. URAIAN JUMLAH SEKOLAH (Unit) JLH RUANG KELAS (Lokal) KONDISI RUSAK BERAT (lokal) 1. SD 651 4.437 1.357 2. SLTP 45 562 25 3. SMU/SMK 26 534 7

Sumber data : Dinas Pendidikan Kabupaten Labuhanbatu

Dengan demikian secara kualitas masih banyak sekolah yang perlu dilakukan perbaikan terutama pada tingkat Sekolah Dasar.

2.3.4. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

IPM merupakan suatu indeks komposit yang mencakup tiga bidang pembangunan masyarakat yang dianggap sangat mendasar yaitu bidang kesehatan yang diukur dengan angka harapan hidup, bidang pendidikan yang diukur dengan angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah serta ekonomi yang diukur dengan rata-rata pengeluaran per kapita. Berikut dapat digambarkan kriteria tingkatan status IPM suatu daerah, yaitu :

Tabel 2.19. Status indeks Pembangunan Manusia

Kabupaten Labuhanbatu

TINGKAT STATUS KRITERIA

Rendah IPM < 50

Menengah bawah 50 < IPM < 66 Menengah atas 66 < IPM < 80

Tinggi IPM > 80

Sumber : UNDP

Berdasarkan hasil perhitungan IPM oleh BPS, terlihat bahwa status pembangunan masyarakat di Kabupaten Labuhanbatu pada tahun 1996 sudah mencapai tingkat menengah sebesar 68,0 atau berada pada peringkat ke-13 dari 18 Kabupaten/Kota se-Sumatera Utara. Pada tahun 1999, IPM Labuhanbatu menjadi 64,0 atau turun sekitar 4 point dengan menduduki peringkat ke-13 dari Kabupaten/Kota lain di Sumatera Utara. Penurunan yang sangat signifikan ini terjadi karena turunnya indikator daya beli masyarakat yang merupakan salah satu komponen penting penyusunan IPM. Namun dengan adanya usaha kongkret untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, IPM tahun 2002 meningkat menjadi 67,3 dengan menduduki peringkat ke-10 dan kemudian meningkat menjadi 70,6 pada tahun 2004 dengan menduduki peringkat ke-13 dari 25 Kabupaten/Kota di Sumatera Utara.

(17)

2.3.5. Penduduk Miskin.

Kemiskinan merupakan suatu kondisi serba kekurangan sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan minimal hidupnya meliputi kebutuhan makanan dan non makanan yang harus dipenuhi.

Pada tahun 1999 jumlah penduduk miskin di Kabupaten Labuhanbatu sekitar 150.000 jiwa atau 16,94%. Kemudian selama 5 tahun berikutnya persentase penduduk miskin masih berfluktuatif. Pada tahun 2004, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Labuhanbatu diperkirakan sebesar 131,3 ribu orang (14,16 persen). Terjadi penurunan penduduk miskin dibandingkan dengan tahun 2003 yang sebesar 143,7 ribu orang (15,78 persen). Meningkatnya pertumbuhan ekonomi pada tahun 2005 diharapkan dapat menekan persentase penduduk miskin. Konsep penduduk miskin disini beda dengan penduduk miskin hasil Pendataan Sosial Ekonomi (PSE). Penduduk miskin disini didefinisikan berdasarkan jumlah kalori yang dikonsumsi penduduk setiap hari. Jika lebih kecil dari 2100 kilo kalori maka penduduk tersebut dapat dikatakan miskin.

2.4. PRASARANA DAN SARANA DAERAH

2.4.1. Transportasi.

Dapat dikemukakan bahwa panjang jaringan jalan secara keseluruhan pada tahun 2004 mencapai 1.774.075,30 Km yang terdiri dari Jalan Negara sepanjang 173,50 Km, Jalan Propinsi 217,80 Km dan Jalan Kabupaten 1.773.684 Km, yang secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Ruas Jalan Negara dengan kondisi sebagai berikut : Baik : 157,00 Km

Sedang : 16,50 Km Rusak : - Km Rusak berat : - Km

b. Ruas Jalan Propinsi dengan kondisi sebagai berikut : Baik : 1,20 Km

Sedang : 63,50 Km Rusak : 153,10 Km Rusak berat : - Km

c. Ruas Jalan Kabupaten yang tersebar diseluruh wilayah Kabupaten Labuhanbatu dengan kondisi sebagai berikut :

Baik : 637.456 Km Sedang : 615.088 Km Rusak : 739.040 Km Rusak berat : 82.100 Km

(18)

2.4.2. Pengairan.

Kabupaten Labuhanbatu dilalui 3 sungai besar dengan beberapa anak sungainya yang sebagian besar merupakan sumber air irigasi bagi persawahan di sekitarnya. Sebagai wilayah yang mempunyai potensi pertanian tentunya dilengkapi dengan prasarana pengairan, namun pada saat ini prasarana pengairan yang ada masih belum memadai. Prasarana pengairan yang terdapat di Kabupaten Labuhanbatu sampai dengan tahun 2002, panjangnya mencapai 135.341 m, terdiri dari saluran irigasi 91.191 m dan saluran pembuang 44.150m. Saluran irigasi sebagian besar berupa saluran tanah yaitu sepanjang 81.194m dan selebihnya saluran dengan lining sepanjang 9.997m.

Luas baku potensil lahan persawahan di Kabupaten Labuhanbatu adalah 90.638 Ha yang terdiri dari :

- Lahan beririgasi : 4.878 Ha.

- Lahan persawahan rawa : 51.568 Ha.

- Lahan persawahan tadah hujan, dll : 34.192 Ha.

Sebagaimana prasarana transportasi, prasarana pengairan di Kabupaten Labuhanbatu juga belum memadai. Hal ini terlihat dari masih kecilnya lahan persawahan beririgasi yaitu 5,38 % dari seluruh lahan sawah, dimana hanya 2.157 Ha yang merupakan irigasi teknis dan selebihnya semi teknis 572 Ha serta irigasi sederhana 1.387 Ha.

2.5. KONDISI KEUANGAN DAERAH 2.5.1. Pendapatan.

Pendapatan daerah baik yang bersumber dari daerah sendiri maupun dari pemerintah atasan merupakan sumber keuangan daerah untuk melaksanakan roda pemerintahan. Kondisi pendapatan daerah Kabupaten Labuhanbatu terus meningkat setiap tahunnya sebagaimana terlihat pada tabel berikut :

Tabel 2.20. Pendapatan Kabupaten Labuhanbatu.

REALISASI NAIK/

NO JENIS PENERIMAAN TAHUN

ANGGARAN (RP) TURUN (%) 2000 2,631,721,570.42 - 2001 8,999,046,764.69 241.95 2002 17,760,465,632.23 97.36 2003 - - 2004 - - 1 Sisa lebih perhitungan

anggaran yang lalu 2005 - - 2000 4,296,319,302.36 - 2001 8,383,321,813.00 95.13 2002 13,356,657,594.11 59.32 2003 27,095,501,522.39 102.86 2004 30,625,520,515.58 13.03 2 Pendapatan Asli Daerah 2005 5,178,207,558.91 -17.79 Bersambung ...

(19)

REALISASI NAIK/

NO JENIS PENERIMAAN TAHUN

ANGGARAN (RP) TURUN (%) 2000 100,440,090,565.56 - 2001 209,833,836,622.95 108.91 2002 249,375,806,735.86 18.84 2003 337,202,576,535.00 35.22 2004 345,195,069,917.00 2.37 3 Dana Perimbangan 2005 79,384,723,136.00 9.90 2000 -- - 2001 10,456,218,631.13 - 2002 22,261,599,233.04 112.90 2003 20,761,301,000.00 -6.74 2004 17,075,804,000.00 -17.75 4 Lain – lain penerimaan

yang sah 2005 8,141,060,000.00 6.24 2000 107,368,131,438.34 - 2001 237,672,423,831.77 121.36 2002 302,754,529,195.24 27.38 2003 385,059,379,057.39 27.19 2004 392,896,394,432.58 2.04 Jumlah Pendapatan Daerah… 2005 422,703,990,694.91 7.59 *)Sesuai Kepmendagri No. 29 Tahun 2002 tidak dihitung sebagai pendapatan, tetapi dihitung sebagai penerimaan daerah dalam pembiayaan.

Sumber : Perhitungan Anggaran Tahun Bersangkutan

Khusus untuk Pendapatan Asli Daerah yang merupakan gambaran kemampuan daerah juga terus meningkat. Kemampuan daerah dalam peningkatan PAD Kabupaten Labuhanbatu dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 2.21. Peningkatan PDS Kabupaten Labuhanbatu.

NO. TAHUN PAD PENDAPATAN PAD/PENDA

PATAN (%) 1. 2001 8,383,321,813.00 237,672,423,831.77 3.53 2. 2002 13,356,657,594.11 302,754,529,195.24 4.41 3. 2003 27,095,501,522.39 385,059,379,057.39 7.04 4. 2004 30,625,520,515.58 392,896,394,432.58 7.79 5. 2005 5,178,207,558.91 422,703,990,694.91 5.96

Sumber : Perhitungan Anggaran dan Hasil Olahan.

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa selama kurun waktu tahun 2001 – 2005 terdapat peningkatan PAD Kabupaten Labuhanbatu. Pada tahun 2001, andil PAD terhadap total pendapatan daerah sebesar 3,53%, kemudian meningkat menjadi 5,96 % pada tahun 2005. Hal ini menunjukkan bahwa Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu telah mampu meningkatkan PAD dengan melakukan penggalian sumber –sumber yang ada secara intensif serta menggali sumber-sumber baru yang potensial.

(20)

2.5.2. Belanja

Belanja Kabupaten Labuhanbatu sesuai dengan format KEPMENDAGRI No. 29 Tahun 2002 terdiri dari belanja aparatur dan belanja publik. Oleh karena itu untuk tahun 2000 sampai dengan 2002 dilakukan penyesuaian format. Ringkasan belanja dapat digambarkan pada tabel berikut:

Tabel 2.22. Belanja Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2000 - 2005

Jenis dan Realisasi Belanja (Rp) No TAHUN Belanja

Aparatur Belanja Publik

Bel Bagi Hasil /Bant Keu Bel Tidak Tersangka Jumlah Belanja (Rp) 1 2000 79,520,738,564 19,886,369,502 1,260,804,100 185,501,000 100,853,413,166 2 2001 165,196,562,034 49,341,559,808 4,794,046,902 146,259,800 219,478,428,544 3 2002 200,393,935,827 67,134,275,428 4,979,000,500 235,526,400 272,742,738,155 4 2003 218,887,494,188 117,087,695,552 18,366,987,160 266,574,800 354,608,751,700 5 2004 258,104,585,616 122,152,316,266 22,523,648,150 2,451,620,000 405,232,170,032 6 2005 257,541,604,544 86,990,528,994 22,203,675,750 306,881,191 367,042,690,478 Sumber : Perhitungan Anggaran Tahun Bersangkutan

2.6. BIDANG PEMERINTAHAN UMUM.

Dengan keluarnya Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2000 Tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah, maka pemerintah Kabupaten Labuhanbatu melaksanakan analisa kebutuhan serta volume cakupan beban kerja dengan tetap memperhatikan Asas Miskin Struktur dan Kaya Fungsi. Berdasarkan analisa dan pengkajian tersebut diterbitkan 3 (tiga) peraturan Daerah yaitu :

1. Peraturan Daerah Nomor 09 Tahun 2002 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Labuhanbatu Nomor 3 Tahun 2001 Tentang pembentukan Susunan Organisasi dan Kata Kerja Sekretariat Daerah Kabupaten dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Labuhanbatu.

2. Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 04 Tahun 2001 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas-Dinas Daerah Kabupaten Labuhanbatu. 3. Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2002 tentang Perubahan atas

Peraturan Daerah Kabupaten Labuhanbatu Nomor 05 Tahun 2001 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Labuhanbatu.

(21)

Dengan diterbitkannya ketiga peraturan ini, maka dibentuk lembaga-lembaga perangkat daerah terdiri dari :

- 2 (dua) Sekretariat.

- 15 (lima belas) Dinas Daerah

- 7 (tujuh) Badan

- 6 (enam) Kantor

- 22 (dua puluh dua) Kecamatan

- 33 (tiga puluh tiga) Kelurahan

- 209 (dua Ratus sembilan) Desa

Adapun kondisi aparatur daerah dapat digambarkan bahwa Jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) dilingkungan pemerintah kabupaten labuhanbatu dalam mendukung pelaksanaan tugas pokok dan fungsi pemerintahan sebanyak 10.834 orang, dengan rincian sebagaimana tabel berikut :

Tabel. 2.23. Kondisi Aparatur Daerah Kabupaten Labuhanbatu JUMLAH NO URAIAN (Orang) JUMLAH % Berdasarkan Golongan : - Gol. I 244 2.52 - Gol. II 2295 23.71 - Gol.III 6357 65.67 1 - Gol.IV 784 8.10

Berdasarkan Bidang Keahlian:

- Tenaga Strategis 3.847 36,08

- Tenaga Pendidik/ Guru 6.206 57,28

- Tenaga Kesehatan 719 6,64 2 Berdasarkan Pendidikan : - SD 273 2,52 - SLTP 305 2,82 - SLTA 5.75 53,07 - D1-D2 3.021 27,88 3 - S1-S2 1.485 13,71

Sumber : BKD Kabupaten Labuhanbatu.thn 2003

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa berdasarkan golongan jumlah terbesar adalah pada golongan III yaitu 65,67% dan terendah adalah golongan I yaitu 2,52 %, Sedangkan berdasar bidang keahlian jumlah terbanyak adalah tenaga guru yaitu 57,28 % dan menurut pendidikan adalah PNS dengan Pendidikan SLTA yaitu 53,07 %.

Gambar

Tabel 2.3. Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Labuhanbatu
Tabel 2.4. Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Labuhanbatu  atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha
Tabel 2.5. Produksi Padi Kabupaten Labuhanbatu
Tabel 2.7. Luas Areal dan Produksi  Tanaman Kelapa Sawit.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Optical Add Drop Multiplexing (OADM) merupakan perangkat yang digunakan untuk menambah ( add ) dan mengurangi (drop) panjang gelombang pada suatu link komunikasi.. Untuk

Sehubungan dengan pandangan fungsionalis ini, tiga fungsi leka main telah dikenal pasti – pertama, leka main yang menyumbang ke arah kestabilan sosial dan emosi seperti

ditarik kesimpulan bahwa Putusan Mahkamah Konstitusi bertentangan dengan perlindungan hukum dan keadilan sebagaimana yang dijaminkan oleh UUD 1945 Pasal 28 D ayat

Pilihlah salah satu jawaban dari empat pilihan jawaban yang tersedia dengan memberi tanda silang (X) pada pilihan yang sesuai dengan keadaan diri Anda. Pilihan jawaban yang

Merupakan cabang ventral dan lebih besar yang berjalan kearah medial melintasi tepi ventral dari m. styloglossus selanjutnya menuju kearah dorsal masuk kedalam

Dengan demikian, untuk dapat menyelenggarakan pendidikan berbasis komputer di Indonesia kita masih harus memikirkan banyak hal agar pemanfaatan teknologi informasi ini tidak

Kadar TSS dalam air limbah bekas pencucian jeans tergolong sangat tinggi, dengan menggunakan unit koagulasi flokulasi dibantu variasi koagulan, yakni tawas 50

Pengembangan Pertanian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Ungaran Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta. 25 BB.025 Salak Pondoh