PENGKAJIAN RESEP DALAM PELAYANAN KEFARMASIAN
PENGKAJIAN RESEP DALAM PELAYANAN KEFARMASIAN
BESERTA IDENTIFIKASI PROBLEMA TERAPI OBAT DAN
BESERTA IDENTIFIKASI PROBLEMA TERAPI OBAT DAN
PENGATASANNYA
PENGATASANNYA
DENGAN ANALISIS SOAP
DENGAN ANALISIS SOAP
MATA KULIAH FARMASI KOMUNITAS
MATA KULIAH FARMASI KOMUNITAS
Dosen : Prof. Dr. Suwaldi Martodihardjo, M. Sc., Apt. Dosen : Prof. Dr. Suwaldi Martodihardjo, M. Sc., Apt.
Oleh: Oleh: Alexxander
Alexxander (17/420234/SFA/1(17/420234/SFA/142)42) Muhammad Thesa Ghozali
Muhammad Thesa Ghozali (17/420240/SFA/14(17/420240/SFA/149)9) Ria Etikasari
Ria Etikasari (17/420245/SFA/15(17/420245/SFA/153)3) Yuhansyah Nurfauzi
Yuhansyah Nurfauzi (17/420249/SFA/1(17/420249/SFA/157)57)
PROGRAM STUDI S3 ILMU FARMASI
PROGRAM STUDI S3 ILMU FARMASI
FAKULTAS FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2017
2017
KASUS PELAYANAN KEFARMASIAN
Seorang laki-laki bernama Usaha Gede Marem (UGM) berumur 5 5 tahun datang ke tempat anda perpraktek. Pasien membawa resep yang berasal dari seorang dokter spesialis di kota ini.
Resep tersebut sebagai berikut.
Dr. Sukar Yo Mulyo SIP. 007/SP/2000 Jl. Mojopahit 88, Yogyakarta Yogyakarta, 17 Desember 2014 R/ Diamicron MR No.XXX S.s.d.d.I R/ Valsartan No.XXX S.s.d.d.I.p.c
R/ Adalat OROS No. XXX S.s.d.d.I.p.c.
R/ Simvastatin No.XXX S.s.d.d.I
R/ Meloxicam No.XXX S.t.d.d.I.a.c.
Pro: Tn. Usaha Gede Marem (UGM) Umur : 55 tahun
Alamat: Kompleks Mojopahit no. 13. Yogyakarta
Setelah pasien ini bertemu dengan anda sebagai apoteker, anda menawarkan pelayanan kefarmasian pada pasien dan pasien menyetujui. Selanjutnya, data pasien yang telah dapat dikumpulkan meliputi:
Hasil diagnosis dokter menyatakan pasien ini menderita penyakit DM type II dan hipertensi. Hasil cek tekanan darah oleh apoteker ternyata tekanan darahpasien 180/100 mmHg. Pasien juga menyatakan bahwa dia menderita penyakit DM kira-kira sudah 2 tahun yang lalu,sedangkan hipertensi diderita kira-kira satu tahun l alu.
Pasien menyatakan bahwa selama ini, dia meminum obat yang dia punyai untuk kedua penyakitnya tidak rutin dilakukan. Selain itu, pasien mulai mengalami nyeri pada sendi kaki.
Pasien telah melakukan uji laboratorium untuk beberapa hal dan hasil itu sebagai berikut.
Uji Laboratorium Nilai
HBA1c
Glukosa puasa (darah) Glukosa 2 jam p.c. (darah) Kolesterol total HDL-kolesterol LDL-kolesterol Trigliserida 7,1% 200 mg/dL Urin positif 1 300 mg/dL Urin positif 2 260 mg/dL 56mg/dL 170 mg/dL 130 mg/dL
Pasien juga menyatakan bahwa dia sering merasa nyeri uluhati sehingga dia sering mengkonsumsi antasida. Selain itu, pasien masih belum dapat meninggalkan kebiasaannya merokok dan minum kopi.
Tugas
Anda sebagai apoteker yang melakukan praktek pelayanan k efarmasian, lakukanlah tugas anda untuk mengidentifikasi problema terapi obat dan mengatasinya,serta mencegah terjadinya problema terapi obat pada masa yang akan datang untuk pasien anda ini.
Lakukanlah kerja anda dengan menentukan lima k unci kebutuhan pasien akan terapi obat terpenuhi dan apakah 8 problema terapi obat anda temui pada pasien UGM ini? Lakukanlah pengatasan
problema terapi obat.
Mahasiswa diminta membuat makalah dan presentasi. Tiap kelas dibagi 2 kelompok,masing-masing kelompok akan memresentasikan hasil diskusi di kelompoknya. Kelompok lain akan menyanggah dan memberi saran pada waktu diskusi.
Jika memerlukan data tambahan, mahasiswa dapat menambah sendiri sebagai data asumsi.
ANALISIS SOAP
Berdasarkan data awal pasien yaitu berjenis kelamin laki-laki dan usia 55 tahun, maka perlu data tambahan yang diasumsikan sebagai berikut:
Berat Badan 90 kg dan Tinggi Badan 155 cm.
I. SUBJECTIVE
1. Mulai merasa nyeri pada sendi kaki 2. Sering merasa nyeri pada ulu hati
II. OBJECTIVE
Berdasarkan pengukuran tekanan darah dan pemeriksaan laboratorium diperoleh data :
Pemeriksaan Nilai Rujukan Data Pasien Keterangan HBA1c <6,5% 7,1% Tinggi Glukosa puasa (darah) <126 mg/dL 200 mg/dL Tinggi Glukosa Urin (puasa)
negatif Urin positif 1 Abnormal Glukosa 2 jam
p.c. (darah)
<200 mg/dL 300 mg/dL Tinggi
Glukosa Urin (2 jam p.c)
negatif Urin positif 2 Abnormal Kolesterol total <200 mg/dL 260 mg/dL Tinggi HDL-kolesterol 30-70 mg/dL 56 mg/dL Normal LDL-kolesterol <130 mg/dL 170 mg/dL Tinggi Trigliserida 40-160 mg/dL 130 mg/dL Normal
HASIL PEMERIKSAAN TANDA-TANDA VITAL (TTV)
TTV Nilai Rujukan Data Pasien Keterangan
Tekanan Darah (mmHg)
120/80 mmHg 180/100 mmHg Hipertensi tingkat 2
adi (kali/menit) 0-100 kali/menit -espirasi
(kali/menit)
0 kali/menit -Suhu (oC) 6-37°C
III. ASSESSMENT
A. Assessment 1 :
Kadar HbA1C, Glukosa Darah Puasa dan 2 jam p.c yang terdata pada pasien masih tinggi. DM tipe 2 yang dialami oleh pasien belum bisa teratasi teratasi sehingga kadar gula darah dan HbA1C tidak terkendali (tinggi). Hal ini terkait dengan penggunaan obat antidiabetes (Gliclazid Modifed Release) yang tidak rutin/teratur. Selain itu, kebiasaan merokok dapat meningkatkan resistensi insulin sehingga pengobatan DM Tipe 2 tidak berhasil. Maka diperlukan edukasi tentang pentingnya minum obat secara rutin dan teratur disertai dengan edukasi untuk menghentikan merokok.
B. Assessment 2 :
Tekanan darah tidak terkendali, bahkan mencapai level hipertensi tingkat 2. Penggunaan obat antihipertensi (valsartan dan nifedipin) yang tidak rutin/teratur dan perlu edukasi untuk minum obat antihipertensi secara rutin dan teratur.
C. Assessment 3
Rasa nyeri di persendian kaki dapat merupakan gejala peradangan pada persendian. Perlu dicek lokasi nyeri dengan menanyakan kepada pasien bagian kaki yang spesifik seperti sendi lutut atau sendi yang lain. Farmasis dapat melakukan Review of System (ROS) dengan melihat terhadap kondisi nyeri di persendian kaki yang dimaksud. Apabila lokasi nyeri di sendi lutut, dapat terkait dengan berat badan yang berlebih sehingga membebani persendian lutut. Beban yang berat bersama dengan faktor usia pra lansia dapat menjadi resiko terjadinya inflamasi/peradangan pada sendi seperti
osteoarthritis. Gejala peradangan, yaitu rasa nyeri dapat diperberat dengan tidak terkendalinya glukosa darah/hiperglikemia dan hiperlipidemia karena pengaruh aliran darah yang tidak lancar akibat tingginya glukosa dan lemak darah.
D. Assessment 4
Adanya glukosa dalam urin dapat merupakan komplikasi dari DM tipe 2 dan hipertensi tingkat 2. Untuk melihat lebih lanjut tingkat gangguan ginjal, dapat disarankan pengecekan kadar kreatinin.
E. Assessment 5
Kemungkinan terjadinya problema terapi obat berupa interaksi obat yang potensial dengan obat, makanan maupun dengan penyakit. Ada interaksi obat potensial antara nifedipin dan simvastatin. Nifedipin dapat meningkatkan efek dari simvastatin dengan mekanisme mempengaruhi enzim pemetabolisme CYP3A4 di hepatik dan intestinal Selain itu, nifedipin dapat berinteraksi dengan makanan seperti grapefruit juice. Bioavailabilitas nifedipin dapat meningkat dengan penghambatan metabolisme dan menurunnya waktu pengosongan lambung. Selain itu, interaksi antara obat nifedipin dengan kondisi hiperglikemia karena dapat meningkatkan glukosa darah secara temporer
F. Assessment 6
Kemungkinan terjadinya problema terapi obat yaitu efek samping meloksikam terhadap saluran pencernaan apabila diminum 3 kali sehari sebelum makan. Pasien memiliki riwayat sering merasakan nyeri di ulu hati dan riwayat penggunaan obat antasida yang berkaitan dengan asam lambung. Maka diperlukan perubahan terhadap aturan minum obat menjadi setelah makan.
IV. PLAN
A. Plan 1 : Terkait dengan Assessment 1
Konseling pengobatan monoterapi untuk DM Tipe 2 yang sedang dijalani dengan gliclazid perlu diterapkan dengan rutin dan teratur. Pemantauan efektivitas gliclazid diperlukan untuk melihat keterkendalian glukosa darah dengan cek HbA1C, glukosa darah puasa dan glukosa darah 2 jam p.c apabila obat sudah digunakan dengan rutin dan teratur. Jika penggunaan sudah teratur dan kadar gula darah masih belum terkontrol disarankan untuk kombinasi dengan golongan biguanid seperti Metformin. Metformin selain memiliki mekanisme yang berbeda, agent ini juga meningkatkan sensitivitas insulin terutama pada pasien dengan hiperlipidemia dan kebiasaan merokok.
Selain terapi obat, pasien disarankan untuk menghentikan merokok sebagai upaya modifikasi gaya hidup yang dapat menunjang keberhasilan terapi. Selain menghentikan merokok, diperlukan perencanaan diet untuk kondisi DM misalnya dengan pengaturan kalori harian dan memberikan edukasi makanan dengan indeks glikemik rendah sebagai solusi.
B. Plan 2 : Terkait dengan Assessment 2
Hipertensi tingkat 2 yang dialami oleh pasien selain perlu penggunaan obat yang rutin dan teratur juga dengan terapi nonfarmakologi. Diet dengan pendekatan DASH ( Dietary Approach to Stop Hypertension) dapat diterapkan seperti memperbanyak konsumsi buah dan sayur, ikan, membatasi garam (1,5g per hari). Apabila pengobatan rutin dan diet DASH sudah diterapkan, tetapi belum dapat mencapai target tekanan darah yang diinginkan, maka dapat direkomendasikan kepada dokter terhadap kemungkinan terapi kombinasi.
Sesuai dengan JNC 8 untuk pasien HT dengan komorbid DM type II maka drug of choice adalah ACE/ARB, CCB, dan diuretik. Target tekanan darah adalah < 140 mmHg. Pasien ada keluhan nyeri sendi kaki yang belum dipastikan penyebabnya, namun jika disebabkan karena tingginya asam urat maka pilihan obat ARB nya adalah Losartan.
C. Plan 3 : Terkait dengan Assessment 3
Kondisi sebenarnya dari penyebab rasa nyeri perlu sendi kaki diperjelas. Apabila kemungkinan osteoarthritis, maka dapat disarankan pemeriksaan rontgen di daerah persendian yang nyeri. Hasilnya dapat disampaikan ke dokter sebagai informasi baru. D. Plan 4 : Terkait dengan Assessment 4
Merekomendasikan pasien untuk mengecek glukosa dalam urin setelah pengobatan dijalani. Apabila dapat dilakukan pengecekan kreatinin, maka dapat diperkirakan level gangguan ginjal yang terjadi.
E. Plan 5 : Terkait dengan Assessment 5
Memberikan edukasi tentang makanan yang dapat berinteraksi dengan obat yang sedang digunakan. Selain itu, mewaspadai efek samping akibat penggunaan jangka panjang simvastatin yang dapat muncul seperti rhabdomyolisis dengan mengenali
gejalanya. Selain itu, dapat direkomendasikan untuk melakukan pengecekan kadar glukosa darah secara rutin sebagai antisipasi terhadap munculnya efek samping penggunaan nifedipin yang dapat meningkatkan glukosa darah.
F. Plan 6 :
Edukasi terhadap pengatasan rasa nyeri dapat dilakukan melalui obat yang diperoleh. Meloksikam sebagai antiinflamasi dapat mengurangi gejala nyeri yang dirasakan oleh pasien. Keberhasilan terapi dapat dikaitkan dengan upaya untuk menurunkan berat badan agar beban persendian berkurang. Edukasi terhadap efek samping obat meloksikam dan perubahan aturan minumnya dapat mengurangi penggunaan antasida yang selama ini mungkin digunakan untuk mengatasi efek samping dari meloksikam.
V. REKOMENDASI LAINNYA
Sebagai monitoring keberhasilan terapi simvastatin, disarankan pengecekan kolesterol dan parameter lemak darah lainnya. Apabila pengobatan berhasil, maka kolesterol dan LDL akan turun ke rentang normal. Selain itu, dapat disarankan penggunaan suplemen yang mengandung koenzim Q10 untuk mencegah potensi efek samping rhabdomyolisis akibat penggunaan simvastatin jangka panjang.